Konsolidasi Bukan Basa-Basi

advertisement
No.117 l Tahun XXXII l Maret-Juni 2015
Raden Pardede
Konsolidasi Bukan Basa-Basi
Nita Ernawati:
Mengoptimalkan Kinerja Perbankan Sumut
Agar Tak Berlarut dan Makan Biaya
Dari Redaksi
Konsolidasi,
Kapan Terealisasi?
PENERBIT
Perhimpunan Bank Nasional
(Perbanas)
PELINDUNG
Pengurus Pusat Perbanas
PEMIMPIN REDAKSI
Danny Hartono,
Wakil Sekretaris Jenderal Perbanas
WAKIL PEMIMPIN REDAKSI
Rita Mirasari,
Ketua Bidang Humas Perbanas
REDAKTUR PELAKSANA
Eri Unanto
SIRKULASI
Wara Sri Indriani
Adrian Burhan
KONSULTAN
Infobank Communication
Redaksi menerima tulisan dari
pihak luar. Panjang tulisan 3.000–
6.500 karakter.
TARIF IKLAN
Cover
Depan dalam dan belakang
dalam/luar berwarna
rIBMBNBO3Q
Isi
rIBMBNBO3Q
r˜IBMBNBO3Q
Probank menerima pemasangan
iklan dalam bentuk laporan
keuangan, display produk, dan
suplemen profil perusahaan.
ALAMAT REDAKSI/IKLAN
(SJZB1FSCBOBT-BOUBJ
Jalan Perbanas, Karet Kuningan
4FUJBCVEJ+BLBSUB
5FMFQPO
'BLTJNJMF
XFCTJUFXXXQFSCBOBTPSH
FNBJMTFLSFUBSJBU!QFSCBOBTPSH
IZIN PENERBITAN KHUSUS
.&/1&//P4,%*5+&/11(
455
4FQUFNCFS
*44/
W
acana
konsolidasi
kembali
mencuat
beberapa waktu
belakangan ini. Sejatinya,
wacana itu telah
didengungkan pascakrisis
1997/1998. Saat itu
Indonesia tengah
disibukkan dengan
pelbagai langkah perbaikan di berbagai lini kehidupan, termasuk
perbankan. Hal yang sama juga dilakukan pemerintah Malaysia terhadap
industri perbankannya. Jika negeri jiran itu berhasil mengonsolidasikan
banknya, lain halnya dengan Indonesia. Di negeri ini, konsolidasi hingga
saat ini masih sekadar wacana.
Kini, di tengah persiapan menghadapi era pasar bebas Association of
Southeast Asian Nations (ASEAN) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN
(MEA) dan era persaingan bebas, wacana tentang konsolidasi kembali
menyeruak. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pemangku kebijakan industri
perbankan, menyuarakan bahwa konsolidasi merupakan hal yang
mendesak sebagai upaya untuk meningkatkan daya saing serta
membangun perbankan yang kuat dan sehat. Rencananya, kebijakan atau
roadmap konsolidasi perbankan akan dirampungkan pada semester kedua
2015.
Namun, jika menilik kesiapan perbankan nasional, rasanya konsolidasi
yang sebenarnya masih membutuhkan waktu yang cukup panjang.
Mengingat, para pelaku usaha dan segenap stakeholders di industri
perbankan masih belum siap.
Langkah konsolidasi sejatinya bisa dimulai di bank-bank milik
pemerintah, yakni Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia
(BNI), Bank Tabungan Negara (BTN), dan Bank Mandiri. Namun, ada
sinyalemen dari pemerintah, OJK, dan direksi bank-bank tersebut bahwa
dalam jangka pendek ini fokus yang dilakukan adalah kerja sama
strategis. Misalnya, dalam pengembangan teknologi informasi (TI),
infrastruktur, dan sumber daya manusia (SDM).
!"#"$$%"&' ()$*+#+' *,-)./"0#' *"$' .,)./"0#' 1$*)$,#+"' 2"(' #,3,/2+'
Singapura dan Malaysia yang notabene berhasil mengonsolidasikan
banknya. Alhasil, opsi penggabungan usaha bank-bank milik pemerintah
pun sulit direalisasikan karena mereka akan sulit melayani masyarakat
serta menghabiskan banyak waktu dan biaya.
Segala upaya perbaikan memang memerlukan waktu dan biaya. Yang
lebih utama lagi, membutuhkan komitmen dan perencanaan yang matang.
Konsolidasi merupakan hal mendesak dan tak bisa ditawar lagi demi
mewujudkan cita-cita Indonesia memiliki perbankan yang besar dan kuat.
Pertanyaannya, kapan konsolidasi terealisasi? n
No. 117 Tahun XXXII Maret-Juni 2015
PROBANK
1
Daftar Isi
Dari Redaksi.......................................................................1
Perbanas Utama
Konsolidasi Bukan Basa-Basi ........................................3
Daya saing menjadi hal penting pada era globalisasi dan
persaingan yang makin ketat. Salah satu upaya yang bisa
dilakukan ialah melakukan konsolidasi.
Agar Tak Berlarut dan Makan Biaya........................14
Kehadiran LAPSPI diharapkan mampu menyelesaikan
sengketa antara bank dan nasabah dengan baik. Selain
itu, penyelesaian sengketa diharapkan bisa lebih cepat,
!"#$%&#'()%&'#*&+,-(+*.
Liputan Khusus
Maritim Masih Minim ................................................16
Memilih Kerja Sama Strategis .......................................6
OJK Terus Dorong Konsolidasi .......................................8
/+-!#(& '+*0#*& 12*'(-(& 0+20"#,-& 3*'2*+-(#%& -+4#5(*6#&
sektor maritim memiliki potensi besar dalam
pembangunan ekonomi nasional. Namun, sayang, hingga
saat ini eksplorasi di sektor ini masih minim. Ke depan,
diharapkan perbankan nasional mampu mendorong
kemajuan sektor maritim.
Upaya Stakeholders Angkat Sektor Maritim .....18
Sekilas Berita
LAPSPI Resmi Berdiri .......................................................9
Kinerja
Menanti Energi Baru dari LTV ......................................10
Melambatnya pertumbuhan kredit dan meningkatnya dana
mahal berimbas pada menyusutnya pertumbuhan laba
perbankan. Kelonggaran aturan LTV menjadi angin segar
bagi pertumbuhan kredit.
!"#$
Nita Ernawati,
Ketua Perbanas Sumatera Utara................................20
Mengoptimalkan Kinerja Perbankan Sumut
Di tengah lesunya kondisi perekonomian dan jelang
era MEA, segenap stakeholders perbankan, baik di
tingkat pusat maupun daerah, harus bersinergi dan
mengoptimalkan kemampuan. Agar, kinerja dan daya
saing industri perbankan nasional terus meningkat.
Aktualita
Menjangkau Masyarakat yang Belum Tersentuh......12
Penetrasi dan jangkauan layanan perbankan terhadap
masyarakat Indonesia masih belum maksimal. Guna
mengatasi masalah itu, baru-baru ini regulator terkait
meluncurkan program Laku Pandai.
2
PROBANK No. 117 Tahun XXXII Maret-Juni 2015
Wacana
Perluasan Usaha Membawa Berkah ......................23
Perluasan usaha perusahaan pembiayaan mulai
dilakukan sejak akhir tahun lalu. Seperti apa langkah dan
peluangnya?
Perbanas Utama
Konsolidasi
Bukan Basa-Basi
Daya saing menjadi hal penting pada era globalisasi dan
persaingan yang makin ketat. Salah satu upaya yang bisa
dilakukan ialah melakukan konsolidasi.
S
ebagai negara yang memiliki potensi pasar paling
besar di kawasan ASEAN, tentunya Indonesia harus
memiliki bank besar yang bisa melayani seluruh
lapisan masyarakat. Hal itu penting mengingat masih
sangat besar masyarakat Indonesia yang belum tersentuh
layanan perbankan. Selain itu, menjelang dibukanya pasar
bebas ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
untuk sektor perbankan pada 2020, perbankan nasional
semestinya mempersiapkan diri dan meningkatkan daya saing.
Salah satu upaya yang bisa dilakukan ialah melakukan
konsolidasi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
konsolidasi artinya peleburan dua perusahaan atau lebih
menjadi satu perusahaan. Jika merujuk pada Undang-Undang
Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, konsolidasi
diartikan sebagai penggabungan.
Ketua Umum Perbanas, Sigit Pramono, menilai, Malaysia
jauh lebih siap dalam menghadapi MEA ketimbang Indonesia.
Hal tersebut sejalan dengan aksi merger yang dilakukan tiga
bank asal Malaysia, yakni CIMB Group, RHB Capital, dan
Malaysia Building Society dengan total aset lebih dari 614
miliar ringgit Malaysia atau lebih dari Rp2.300 triliun.
No. 117 Tahun XXXII Maret-Juni 2015
PROBANK
3
Perbanas Utama
Malaysia dinilai lebih agresif dalam
ucapnya.
konsolidasi antarbank daripada
Dia mengaku, sejauh ini roadmap
Indonesia yang dianggap masih
konsolidasi tersebut tengah dibahas dan
berlarut-larut dalam hal konsolidasi
belum rampung. Namun, OJK akan
perbankan. Padahal, industri perbankan
mengutamakan hal ini dan akan
nasional harus siap bersaing dalam era
dirampungkan dalam pertengahan 2015.
MEA.
ÒRoadmap-nya masih belum selesai,
Menurutnya, bank hasil konsolidasi
tapi intinya konsolidasi penting dalam
yang dilakukan oleh tiga bank Malaysia
rangka mewujudkan persaingan di MEA
itu akan menjadi bank terbesar di
ini,Ó tegas Muliaman.
Malaysia. ÒPadahal, kita sama-sama
Para pelaku usaha di sektor
menghadapi MEA. Tapi, Malaysia jauh
perbankan mendesak agar roadmap
lebih siap ketimbang kita. Mereka dua
konsolidasi perbankan bisa segera
langkah lebih maju daripada kita dalam
rampung. Pasalnya, roadmap tersebut
konsolidasi perbankan,Ó ujar Sigit.
secara terperinci akan memberikan arah
Walaupun memiliki struktur
yang lebih jelas dalam hal konsolidasi
permodalan yang kuat, regulator
perbankan di dalam negeri. Konsolidasi
maupun pelaku perbankan Tanah Air
dapat membesarkan ukuran (size) suatu
perlu mempercepat kesiapan dalam
bank, baik secara alami maupun market
menghadapi MEA. Pasalnya, sejumlah
driven. Konsolidasi perbankan bisa
negara lain telah mempersiapkan diri
menggunakan cara merger ataupun
menghadapi MEA sejak beberapa tahun
akuisisi.
Para pelaku usaha di sektor
yang lalu melalui mekanisme
Sementara itu, Anggota Komisi XI
konsolidasi perbankan.
DPR
RI, Andreas Eddy Susetyo,
perbankan mendesak agar
Dari sisi total aset, posisi bank
menyatakan, konsolidasi perbankan
roadmap konsolidasi
Indonesia dalam pasar ASEAN belum
nasional mendesak dilakukan untuk
cukup aman. Tiga bank dengan jumlah
menghadapi persaingan skala global
perbankan bisa segera
aset terbesar di Indonesia masih berada
untuk mengembangkan industri
rampung. Pasalnya, roadmap dan
di urutan 10 ke bawah. Apabila kita
perbankan dalam negeri itu sendiri.
tersebut secara terperinci
tidak melakukan aksi, bukan tidak
Selain bertujuan meningkatkan daya
mungkin bank-bank dari negara lain di
akan memberikan arah yang saing, konsolidasi perbankan dalam
ASEAN akan menyerbu Indonesia dan
lingkup nasional bisa meningkatkan
lebih jelas dalam hal
Indonesia hanya akan menjadi pasar.
!"# $"#% &'$()&'$(% $'"#*$'+% & ,-.'%
konsolidasi perbankan di
Sigit meyakini, salah satu upaya
turunnya suku bunga kredit. Dengan
mengatasinya ialah dengan memperkuat
suku bunga bank yang turun, aktivitas
dalam negeri.
aset perbankan Indonesia melalui upaya
perekonomian nasional pun akan
konsolidasi. Konsolidasi antarbank
meningkat dan fungsi intermediasi
dapat meningkatkan kapasitas aset bank
berjalan. Dalam lingkup global,
sehingga bank hasil konsolidasi akan memiliki modal dan aset
keunggulan konsolidasi dapat merambah pasar yang lebih luas
yang lebih besar untuk memudahkan ekspansi bisnis.
secara maksimal.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Dewan Komisioner
Namun, pemerintah harus mempunyai peta bank-bank
Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman D. Hadad,
terlebih dahulu sebelum melakukan konsolidasi. Pola aplikatif
mengaku, sejauh ini pihaknya tengah menyusun roadmap
dalam melakukan konsolidasi bank-bank nasional juga bisa
konsolidasi perbankan. Rencananya, roadmap tersebut akan
dilakukan melalui pembentukan rekayasa holding. ÒAtau,
selesai pada pertengahan 2015. Dalam roadmap, konsolidasi
dengan merger sungguhan, benar-benar digabung. Atau,
tidak hanya bisa dilakukan oleh sesama bank, tapi juga dapat
kemudian bank-bank kuat mengakuisisi bank-bank kecil,Ó ujar
dilakukan oleh bank dengan perusahaan asuransi maupun
Andreas.
dengan perusahaan pembiayaan ( !"#$%&'&()).
Hal senada disampaikan Telisa Aulia Falianty, pengamat
ÒKami (OJK) ingin konsolidasi diartikan dengan makna
ekonomi dari Universitas Indonesia. Menurutnya, konsolidasi
yang lebih luas karena bank sekarang sudah ada yang punya
memang menjadi hal yang mendesak, tapi perlu ada
perusahaan asuransi, punya anak perusahaan lainnya,Ó jelas
persiapan. Jadi, langkah awal konsolidasi harus dilakukan
Muliaman.
pada bank-bank yang siap, seperti bank-bank pemerintah.
Menurut Muliaman, konsolidasi dalam konsep OJK yang
Empat bank besar, yaitu Bank Mandiri, BNI, BRI, dan BTN,
baru ini bertujuan untuk mencapai industri keuangan yang
menurutnya, sudah diarahkan menuju konsolidasi. ÒSudah
lebih kompetitif dan memiliki daya tahan yang kuat
diarahkan, tapi ada ego instansi. Itu wajar, tapi kita
mengingat akan diberlakukannya MEA. ÒIni Ôkan salah satu
kedepankan kepentingan nasional yang lebih besar lagi,Ó kata
alatnya, yakni dengan konsolidasi, untuk dapat berdaya saing,Ó
Telisa.
4
PROBANK No. 117 Tahun XXXII Maret-Juni 2015
Masih Belum Siap?
Bank-bank BUMN diharapkan melakukan konsolidasi agar
bisa bersaing dengan bank-bank di kawasan ASEAN. Salah
satu langkah konsolidasi, seperti diungkapkan Ketua Umum
Perbanas, Sigit Pramono, yang juga penulis buku Mimpi
Punya Bank Besar, ialah merger antarbank BUMN, yaitu
merger BNI dengan Bank Mandiri, lalu dilanjutkan dengan
mengakuisisi BTN.
Sigit mengakui, konsolidasi bank-bank BUMN tidak mudah
karena akan menghadapi tantangan dari banyak stakeholders
dari bank BUMN. Dalam buku Mimpi Punya Bank Besar ada
tujuh skenario besar dalam penataan perbankan.
Pertama ialah merger BNI dengan Bank Mandiri. Kedua,
pendirian Bank Pembangunan Indonesia dengan modal Rp100
triliun yang diikuti merger dengan seluruh bank pembangunan
daerah (BPD) di Indonesia sebagai langkah ketiga. Keempat,
BRI tetap fokus pada UMKM. Kelima, penguatan permodalan
bank swasta nasional. Keenam, penggabungan bank-bank
syariah yang dimiliki BUMN. Ketujuh, pembentukan
perusahaan induk untuk menaungi bank-bank BUMN.
Hingga saat ini pemerintah belum menetapkan konsolidasi
bank-bank BUMN menjadi prioritas dalam jangka pendek ini.
Pemerintah lebih condong mendorong kerja sama strategis
atau sinergi antarbank BUMN.
Hal tersebut pernah disinggung Wakil Presiden Jusuf Kalla
(JK). Menurut JK, opsi penggabungan usaha bank-bank milik
negara sulit direalisasikan karena akan sukar melayani
masyarakat serta menghabiskan banyak biaya dan waktu. JK
menilai, konsolidasi bank pelat merah melalui merger
membutuhkan proses penyesuaian yang rumit.
/ $0'$% 1-2+'3% . $4-4-(% 5'$0% & "',% 4'$% 6#+'5'3% 0 *0,'!"%
yang luas, katanya, pelayanan jasa perbankan tidak mungkin
dilakukan oleh satu bank pemerintah saja. Indonesia tidak bisa
menerapkan konsolidasi perbankan seperti yang dilakukan
Singapura dan Malaysia. Hal yang perlu dilakukan bank-bank
pemerintah ialah fokus menjalankan usaha sesuai dengan
segmennya, misalnya
BRI fokus pada
segmen UMKM,
BTN berkonsentrasi
pada segmen
properti dan
perumahan,
sementara Bank
Mandiri dan BNI
berbisnis di segmen
industri dan
korporasi.
Saat ini
pemerintah lebih
fokus mendorong
sinergi bank-bank
BUMN, khususnya
dalam bidang
infrastruktur
teknologi, melalui
penyatuan '!#* '#$(+
#)""),+ '(-$&) (ATM) dan )")(#,*&$(+ .'#'+ ('/#!,) (EDC).
Skema sinergi tersebut ditargetkan rampung pada Juni.
Dengan demikian, bank-bank BUMN diharapkan makin
memiliki pijakan yang kuat di pasar Tanah Air dalam
implementasi MEA.
Hal itu pun diamini oleh para direksi bank-bank BUMN.
Bank-bank BUMN lebih memilih kerja sama strategis
ketimbang penggabungan. Menurut Direktur Utama BNI,
Achmad Baiquni, pola kerja sama atau sinergi antarbank
789:% 4#,'"'% + &#3% !"# $;
Baiquni mengungkapkan bahwa bentuk sinergi antarbank
BUMN tidak harus dilakukan dengan menyatukan dua atau
tiga bank. Sinergi bisa dilakukan melalui kerja sama seperti
dalam pemasaran bisnis bank, kredit maupun sharing
infrastruktur jaringan antarbank BUMN. Kerja sama atau
konsolidasi antarbank jauh lebih baik ketimbang harus
melakukan merger. ÒKarena merger ini Ôkan ada tindakan
hukumnya dan menyamakan kultur dari satu bank dengan
bank lainnya. Makanya, itu Ôkan memakan waktu lama,Ó tukas
Baiquni.
Menanggapi wacana merger antarbank BUMN, yakni Bank
BNI dan Bank Mandiri, OJK menilai, penggabungan atau
merger tidak harus dipaksakan. Deputi Komisioner Bidang
Perbankan OJK, Irwan Lubis, mengatakan, bank BUMN
tersebut ada baiknya terlebih dahulu fokus terhadap
konsolidasi strategis. ÒEnggak mesti (merger). Lebih bagus
fokus dulu konsolidasi strategis,Ó ujar Irwan.
Konsolidasi strategis, menurut Irwan, ialah bagaimana
2 $#$0('<('$% 4'5'% "'#$0% <#'.% &'$(% 2 +'+-#% & ,&'0'#% !"# $"#;%
Tiap bank, misalnya, bisa bekerja sama dalam pengembangan
teknologi informasi (TI), infrastruktur, SDM, penyediaan
mesin EDC, ATM, atau pengintegrasian pusat-pusat pelatihan
sehingga standar perbankan dalam negeri sama di MEA.
ÒMaping dulu saja. Sebenarnya kalau kaitannya MEA ialah
bagaimana mereka meningkatkan daya saing melalui
!"# $"#=>% <-('"% ?,6'$;% n
No. 117 Tahun XXXII Maret-Juni 2015
PROBANK
5
Perbanas Utama
Memilih Kerja Sama
Strategis
Industri perbankan nasional mendapatkan tantangan persaingan yang makin
tajam jelang era pasar bebas. Guna menghadapi tantangan tersebut, perbankan
nasional sudah semestinya mempersiapkan diri dengan baik.
S
egenap stakeholders perbankan nasional tengah sibuk
menyiapkan diri dan meningkatkan daya saing guna
menghadapi pasar bebas dan era globalisasi. Salah
satu upaya yang tengah didorong ialah konsolidasi.
Upaya ini dinilai mampu meningkatkan kualitas, kapasitas,
dan daya saing perbankan nasional. Alhasil, momentum pasar
bebas bisa dimaksimalkan dan menguntungkan para pelaku
usaha di Tanah Air.
Belakangan ini para pelaku usaha perbankan nasional,
termasuk pemerintah sebagai pemilik bank pelat merah atau
badan usaha milik negara (BUMN), tengah berupaya
meningkatkan kapasitas bisnis dan permodalan. Pemerintah
berencana memperkuat permodalan bank-bank pelat merah
6
PROBANK No. 117 Tahun XXXII Maret-Juni 2015
atau bank-bank BUMN
agar bisa bersaing di
kancah Masyarakat
Ekonomi ASEAN (MEA).
Untuk itu, pemerintah
melalui Otoritas Jasa
Keuangan (OJK) terus
mendorong upaya merger
antarbank BUMN. Bank
Negara Indonesia (BNI)
dan Bank Mandiri
merupakan dua bank besar
milik pemerintah yang
sebelumnya dikabarkan
akan segera melakukan
proses merger.
Namun, Direktur Utama
BNI, Achmad Baiquni,
tidak setuju jika penguatan
permodalan bank-bank pelat
merah harus dilakukan
dengan cara merger.
Baiquni lebih setuju kalau
bank-bank BUMN
melakukan kerja sama ketimbang merger.
Sebagai pemimpin bank milik pemerintah pertama di
Indonesia sejak masa kemerdekaan, Baiquni merasa, kerja
"'2'% '$<',&'$(% 789:% '('$% + &#3% !"# $% 4#&'$4#$0('$%
dengan menyatukan dua atau tiga bank. ÒKonsolidasi, BNI
pro. Namun, bentuknya tidak harus merger, tapi konsolidasi
kerja sama,Ó kata Baiquni.
Dia menyarankan beberapa bentuk kerja sama yang bisa
dilakukan antarbank BUMN, antara lain kerja sama dalam
pemasaran bisnis dan kredit atau sharing infrastruktur jaringan
antarbank BUMN. ÒMisalnya saja, ATM ('!#* '#$(+ #)""),+
'(-$&)) BNI bisa di-share atau dipakai nasabah-nasabah
bank BUMN lainnya,Ó tutur Baiquni.
Menurut Baiquni, sharing infrastruktur
ATM merupakan salah satu cara efektif
untuk memaksimalkan pangsa pasar di
seluruh Indonesia dengan biaya yang lebih
murah. Bank-bank milik pemerintah bisa
saling mengisi kebutuhan infrastruktur,
terutama di daerah yang masih minim
infrastruktur perbankan.
Selain itu, Baiquni menilai, konsolidasi
'$<',&'$(% 1'-3% + &#3% !"# $% ( <#2&'$0%
merger, yang membutuhkan proses dan
waktu cukup lama. Pasalnya, proses merger
membutuhkan tindakan hukum. Selain itu,
tidak mudah menyamakan kultur antara satu
bank dengan bank lainnya. ÒIni menyangkut
budaya dari satu bank dengan bank lainnya.
Ini memerlukan waktu juga,Ó ujar Baiquni.
Kendati tak setuju dengan skema merger, Baiquni
memahami pola pikir pemerintah. Menurutnya, memperkuat
permodalan perbankan melalui skema merger tidaklah salah
karena arahan pemerintah maupun regulator, yakni untuk
memperbesar pangsa pasar, sejalan dengan implementasi
MEA. ÒKonsolidasi tujuannya untuk perbesar pangsa pasar.
Namun, caranya enggak selalu dengan merger, melainkan
kerja sama bisnis saja atau kerja sama di bidang pelatihan
juga bisa dilakukan,Ó tukas Baiquni.
Hal senada juga disampaikan Direktur Utama Bank
Tabungan Negara (BTN), Maryono. Dia tidak
mempermasalahkan rencana pemerintah mengonsolidasikan
bank-bank BUMN. Menurutnya, konsolidasi adalah strategi
2 $-1-% !"# $"#;% @A-1-'$$5'% '4'+'3% -$<-(% !"# $"#% 4'$% B'0',%
bank) lebih fokus,Ó ujar Maryono.
9',5*$*% 2 $0-$0('.('$=% !"# $"#% 4'.'<% 4#C'.'#% ( <#('%
bank-bank milik pemerintah saling berbagi pengalaman dan
kompetensi serta infrastruktur. Sehingga, terjadi kesamaan
standar kualitas pelayanan dan kompetensi pada bank-bank
milik pemerintah.
Dalam hal infrastruktur, misalnya, keempat bank milik
pemerintah sama-sama memiliki ATM. Sebaiknya, tambah
Maryono, nasabah keempat bank milik pemerintah itu dapat
bertransaksi di seluruh ATM keempat bank tersebut. Apalagi,
Bank Rakyat Indonesia (BRI) bakal mempunyai teknologi
informasi (TI) yang kapasitasnya luar biasa dengan
meluncurkan satelit, sehingga TI bank-bank pemerintah dapat
bergabung dengan BRI. ÒKalau kita, misalnya, beli TI,
masing-masing berapa investasinya. Namun, kalau yang beli
satu, kita sewa, mungkin sewanya tidak mahal karena samasama bank pemerintah,Ó kata Maryono.
Sama halnya dengan sumber daya manusia (SDM) yang
dimiliki bank-bank milik pemerintah. Kendati keempat bank
tersebut memiliki strategi dan fokus yang berbeda, pada
dasarnya bisnis bank relatif serupa. Konsolidasi dapat
dilakukan untuk menyetarakan standar kualitas pelayanan
bankir-bankir bank pemerintah. Ò(Dengan begitu), akan terjadi
kesamaan kompetensi sehingga keahlian bankir bank
pemerintah sangat mumpuni dan sama rata,Ó tukas Maryono.
BTN adalah bank yang nyaris diakuisisi Bank Mandiri
pada 2014, walau proses akuisisi tersebut
pada akhirnya batal terlaksana. Salah
satunya karena ada penolakan yang kuat
dari serikat pekerja BTN. Namun, saat ini
proses konsolidasi bank milik pemerintah
terus berjalan, yang dimulai dari
penggunaan mesin ATM secara bersamasama antarbank pemerintah yang sebentar
lagi akan segera terwujud.
Kendati demikian, Maryono berharap,
proses konsolidasi tak hanya sebatas
penggunaan mesin ATM secara bersama,
tapi juga pada layanan-layanan perbankan
lainnya. Misalnya, pada program e-money,
e-payment, hingga pembiayaan kredit
bersama.
Sementara itu, Budi Gunadi Sadikin,
Direktur Utama Bank Mandiri, mendukung rencana
konsolidasi bank-bank BUMN. Menurutnya, konsolidasi
dibutuhkan untuk menciptakan bank dengan kapital yang besar
sebagai persiapan menghadapi era pasar bebas keuangan
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2020.
Bank dengan modal yang besar tak hanya diperlukan untuk
bersaing dengan bank-bank asing di kawasan ASEAN, tapi
juga untuk mendukung pendanaan proyek-proyek infrastruktur
yang membutuhkan dana sangat besar. Sementara, kemampuan
perbankan nasional untuk membiayai proyek jangka panjang,
seperti pembangunan infrastruktur, sangatlah terbatas.
Lihat saja, sepanjang 2014 Bank Mandiri menyalurkan
kredit infrastruktur sekitar Rp90 triliun. Sedangkan,
pemerintah membutuhkan dana sebesar Rp1.000 triliun untuk
mendanai proyek infrastruktur per tahunnya.
Menurut Budi, konsolidasi menjadi jalan terakhir untuk
memperkuat permodalan bank-bank BUMN. ÒUntuk
memperoleh permodalan yang besar, bank pelat merah
memiliki tiga jalan: pengurangan dividen, rights issue, dan
konsolidasi. Melalui rights issue, bank BUMN sangat terbatas
karena kepemilikan saham pemerintah rata-rata sudah 60%,Ó
terang Budi.
Selain itu, tambah Budi, untuk bisa melakukan rights issue,
Bank Mandiri membutuhkan penyertaan modal negara (PMN)
agar pemerintah bisa mempertahankan porsi kepemilikannya
sebesar 60% di Bank Mandiri. Namun, rencana rights issue
Bank Mandiri pun kandas karena Bank Mandiri tak
mendapatkan dana PMN.
Pengurangan dividen menjadi opsi berikutnya yang dapat
ditempuh untuk memperkuat permodalan. Menurut Budi,
pemotongan dividen dapat menjadi penambah modal, selain
dari dana PMN. Pemerintah pun telah memangkas setoran
dividen bank-bank BUMN, dari 30% menjadi 20%.
Kendati demikian, bank-bank BUMN masih belum bisa
menyusul ketertinggalannya dari bank-bank lain di kawasan
ASEAN dalam hal permodalan. Lihat saja Bank Mandiri,
bank terbesar di Indonesia. Di kawasan ASEAN, Bank
Mandiri hanya menempati peringkat ketujuh dari sisi
permodalan. ÒKalau cara itu sudah tidak mungkin atau tidak
cukup, konsolidasi harus dilakukan,Ó tegas Budi. n
No. 117 Tahun XXXII Maret-Juni 2015
PROBANK
7
Perbanas Utama
OJK Terus Dorong
Konsolidasi
Rendahnya tingkat permodalan menjadi salah satu permasalahan krusial yang membayangi industri
perbankan nasional. Salah satu upaya yang tengah digencarkan otoritas terkait ialah mendorong
konsolidasi. Ke depan, perbankan nasional diharapkan memiliki daya saing yang lebih mumpuni.
O
toritas Jasa Keuangan (OJK)
sebagai regulator industri
perbankan di Tanah Air terus
menyuarakan agar perbankan
$'"#*$'+% &#"'% 2 +'(-('$% !"# $"#% 4#% " 0'+'%
sisi dan meningkatkan daya saingnya.
Mengingat, persaingan bisnis akan makin
ketat menjelang dibukanya pasar bebas
ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN
(MEA) untuk perbankan pada 2020. Guna
mewujudkan hal itu, segenap stakeholders
industri perbankan nasional, termasuk OJK,
tengah gencar mendorong konsolidasi.
Muliaman D. Hadad, Ketua Dewan
Komisioner OJK, mengatakan, rencana
konsolidasi perbankan memang harus terus
dilanjutkan, tapi mesti dilakukan dengan
hati-hati. Menurutnya, melalui konsolidasi,
permodalan bank yang sebelumnya rendah
akan jadi lebih baik dan meningkat.
Terutama, untuk bank-bank yang masih berada di kelompok
bank umum kegiatan usaha (BUKU) 1 yang notabene
kesulitan naik kelas. Bank yang masuk dalam kategori ini
akan dipaksa meningkatkan permodalannya dengan cara
konsolidasi, baik melalui merger maupun akuisisi, selain
dengan penambahan modal sendiri oleh pemegang sahamnya.
ÒKalau lembaga keuangan kami lihat lebih baik
konsolidasi, maka kami akan dorong mereka untuk
konsolidasi,Ó kata Muliaman. Dorongan konsolidasi tak hanya
untuk lembaga keuangan bank, tapi juga lembaga keuangan
nonbank.
Melalui konsolidasi, jumlah perbankan nasional diharapkan
bisa jauh berkurang. Pihak OJK berharap, dengan mendorong
perbankan melakukan konsolidasi, jumlah maksimal
perbankan yang beroperasi di Tanah Air hanya sebanyak 60
bank dalam tempo 10 tahun ke depan. Sementara, saat ini
jumlah perbankan di Indonesia mencapai 119 bank, yang
dinilai otoritas masih terlalu banyak.
Konsolidasi yang akan dilakukan tak hanya menyasar bank
umum. Bank-bank syariah pun akan mengalami hal sama.
8
PROBANK No. 117 Tahun XXXII Maret-Juni 2015
Setidaknya, OJK sudah menyarankan agar
bank-bank syariah pelat merah melakukan
konsolidasi terlebih dahulu sebelum
akhirnya melakukan penggabungan usaha
atau merger. Konsolidasi yang dimaksud
antara lain untuk menyamakan strategi
perusahaan, terutama untuk menghadapi
era MEA. Selain itu, untuk meningkatkan
kemampuan teknologi informasi (TI) dan
sumber daya manusia (SDM) setiap bank.
Sementara itu, menurut Deputi
Komisioner Bidang Pengawasan
Perbankan OJK, Mulya E. Siregar,
dengan melakukan konsolidasi,
kemampuan setiap perbankan, khususnya
perbankan syariah, yang digabungkan
akan menjadi setara. Sebaliknya, jika tak
ada konsolidasi sebelum penggabungan,
pangsa pasar perbankan syariah yang
telah ada bisa jadi justru direbut
perbankan konvensional.
Sebelumnya, wacana penggabungan bank umum syariah
sudah didengungkan. Namun, hal itu belum dapat
direalisasikan tahun ini. Menurut Mulya, penundaan ini
diperlukan karena bank-bank tersebut membutuhkan waktu
yang tak sebentar untuk melakukan sinkronisasi.
Sebelum melakukan penggabungan, tambah Mulya,
perbankan harus menyamakan level strategis, baik nilai
maupun visi mereka ke depan dalam menghadapi MEA.
Setelah itu, penyamaan berikutnya dilakukan ke tingkat
/"'0$&1+ %)"., SDM, dan TI.
ÒKalau (merger dilakukan) sekarang, agak timpang. ItÕs take
time, makan waktu sampai dua-tiga tahun. Makanya, dilakukan
bertahap. Setelah itu, business plan-nya. Kalau langsung
digabung dan sinergi dilakukan setelahnya, akan repot dan
lama,Ó ungkapnya kepada wartawan, beberapa waktu lalu.
Meski begitu, Mulya sepakat bahwa merger bank syariah
juga sangat penting sehingga pengawasan OJK terhadap
industri tersebut lebih mudah. Namun, ia mengingatkan, proses
merger mesti dilakukan dengan hati-hati. n
Sekilas Berita
LAPSPI Resmi Berdiri
Pada 28 April 2015 dilakukan penandatanganan dan
penyerahan akta pendirian Lembaga Alternatif
Penyelesaian Sengketa Perbankan Indonesia (LAPSPI)
untuk sektor perbankan, penjaminan, pembiayaan dan
pergadaian serta modal ventura di Gedung Radius
Prawiro, lantai 25, Bank Indonesia, Jakarta. Lembagai ini
didirikan atas inisiatif enam asosiasi sektor perbankan,
yakni Himpunan Bank Milik Negara (Himbara),
Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), Perhimpunan
Bank-Bank Internasional Indonesia (Perbina), Asosiasi Bank
Daerah (Asbanda), Asosiasi Bank Syariah Indonesia
(Asbisindo), dan Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat
Indonesia (Perbarindo).
Hadir dalam acara tersebut Kusumaningtuti
Sandriharmy Soetiono, Anggota Dewan Komisioner
Otoritas Jasa Keuangan (OJK); Irwan Lubis, Deputi
Komisioner Bidang Pengawasan Perbankan OJK; Firdaus
Djaelani, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan
Nonbank OJK; serta pengurus enam asosiasi perbankan.
Dalam sambutannya, Kusumaningtuti menandaskan
bahwa lembaga ini harus mampu melayani penyelesaian
sengketa konsumen dan harus bertindak profesional
dalam menjalankan tugasnya. Lembaga yang akan
beroperasi pada awal Januari 2016 ini menyediakan
mediator, ajudikator, dan arbiter dalam penyelesaian
sengketa. n
No. 117 Tahun XXXII Maret-Juni 2015
PROBANK
9
Kinerja
Menanti Energi Baru
dari LTV
Melambatnya pertumbuhan kredit dan meningkatnya dana mahal berimbas
pada menyusutnya pertumbuhan laba perbankan. Kelonggaran aturan LTV
menjadi angin segar bagi pertumbuhan kredit.
M
edio Mei lalu Bank Indonesia (BI) memutuskan
untuk menahan BI Rate di level 7,5%.
Keputusan tersebut diambil untuk mencapai
!"#$ % &'(!)&% *!'#% +&,!)!'#% ,$-$"&' !.% )$/$)!"%
4% plus minus 1% pada 2015. Langkah yang diambil BI itu
sebetulnya sudah dapat diprediksi, mengingat aneka
$0),$0 !)&% &'(!)&% ,$'*1-/!'#% &'(!)&% /&)!% +&0$232!% +$'#!'%
baik.
Agus D.W. Martowardojo, Gubernur BI, mengatakan, selain
memutuskan untuk menahan BI Rate di level 7,5%, BI
menahan suku bunga !"#$%&' ()*%+%&, (Fasbi) di level 5,5% dan
+!- %-.' ()*%+%&, di level 8%. Penetapan BI Rate tentu
berimplikasi pada sektor perbankan. Sebelumnya, ketika BI
menurunkan BI Rate dari level 7,75%, suku bunga simpanan
pun bergerak turun. Pada Januari 2015 suku bunga kredit
modal kerja dan kredit investasi menurun masing-masing
menjadi 12,29% dan 12,78%.
Perbankan kemudian mengalihkan beban bunganya ke
kredit konsumsi yang permintaannya cenderung masih lebih
baik dibandingkan dengan kredit produktif. Terbukti, tingkat
suku bunga kredit konsumsi pada Januari 2015 justru
meningkat menjadi 13,40%.
10
PROBANK No. 117 Tahun XXXII Maret-Juni 2015
Melambatnya ekonomi domestik pada
awal 2015 memang telah mengoreksi
kinerja perbankan. Hingga Februari 2015,
aset perbankan secara year on year (yoy)
hanya tumbuh 16,25% menjadi
Rp5.683,17 triliun. Kredit pun tumbuh di
bawah pencapaian 2014, yakni sebesar
12,18% menjadi Rp3.665,69 triliun.
Sementara, dana pihak ketiga (DPK),
meski tumbuh 15,20% menjadi
Rp4.151,45 triliun, banyak bergeser ke
dana-dana mahal, seperti deposito atau
tabungan ÒrasaÓ deposito yang menekan
net interest margin (NIM). Laba setelah
pajak perbankan pun hanya tumbuh
tipis, yakni 4,20% menjadi Rp18,07
triliun.
Hal itu menggambarkan tekanan yang
dihadapi industri pada awal 2015. Bankbank jumbo, seperti Bank Mandiri dan Bank Rakyat Indonesia
(BRI), pun menghadapi tekanan NIM yang memangkas laba
mereka. Hingga Maret 2015, Bank Mandiri mencatatkan laba
bersih sebesar Rp5,1 triliun atau tumbuh tipis 4,3% bila
dibandingkan dengan perolehan laba bersih pada periode yang
sama 2014. Hal sama dialami BRI yang labanya hanya
tumbuh 3,38%, dari Rp5,9 triliun pada Maret 2014 menjadi
Rp6,1 triliun pada Maret 2015. Pada periode tersebut margin
bunga bersih (NIM) BRI turun dari 9,06% menjadi 7,57%.
Menurut Asmawi Syam, Direktur Utama BRI, tertekannya
NIM BRI disebabkan oleh upaya BRI dalam menjaring
likuiditas. Dana mahal yang dijaring BRI telah menggerus
NIM dan berimbas pada labanya. Senada dengan Asmawi,
Budi G. Sadikin, Direktur Utama Bank Mandiri, pun
mengakui bahwa Bank Mandiri bertahan di ruang sempit
untuk mencetak pertumbuhan. ÒTahun ini masih tahun yang
cukup challenging untuk perbankan. Kami akan lakukan
langkah-langkah konservatif. Namun, kami juga harus bisa
memastikan pertumbuhan kredit bisa tetap terjaga,Ó ujar Budi.
Tidak demikian halnya dengan Bank Negara Indonesia
(BNI). Meski mengaku dihadapkan pada tantangan yang sulit
di tengah perlambatan ekonomi, BNI masih berhasil
KINERJA PERBANKAN 2013 - 2015 *)
(Dalam Rp Miliar)
,FUFSBOHBO
,SFEJUZBOH%JCFSJLBO
%BOB1JIBL,FUJHB
(JSP
5BCVOHBO
%FQPTJUP
"TFU5PUBM
(%)
Maret
Maret
4VNCFS#BOL*OEPOFTJBEJPMBILFNCBMJPMFI#JSP3JTFU*OGPCBOLCJS*
Dalam persen
Capital Adequacy Ratio (CAR
Return on Asset (ROA
#FCBO0QFSBTJPOBM
Pendapatan Operasional (BO/PO)
Net Interest Margin (NIM
Loan to Deposit Ratio (LDR
,FUFSBOHBO
TBNQBJEFOHBO.BSFU
QFSUVNCVIBO
membukukan pertumbuhan laba double digit, yakni sebesar
17,7% pada Maret 2015.
Achmad Baiquni, Direktur Utama BNI, mengatakan,
kenaikan laba BNI didorong oleh pertumbuhan kredit yang
mencapai 9,1%. Selain itu, BNI berhasil mengantongi
pertumbuhan pendapatan nonbunga sebesar 23,8%. Kedua hal
itu menjadi penyumbang perolehan laba BNI pada triwulan
pertama 2015.
Hal serupa dialami Bank Central Asia (BCA), yang labanya
juga tumbuh double digit. Hingga triwulan pertama 2015,
/!'0% *!'#% /$"!42&!)&% +$'#!'% 5"1,% 67!"1-% &'&% -$-/1010!'%
laba bersih Rp4,1 triliun atau tumbuh 10,7% dibandingkan
dengan periode yang sama 2014. Pertumbuhan laba BCA
didorong oleh pendapatan operasionalnya yang naik 13,2%.
ÒPertumbuhan yang kami raih berkat keunggulan (kami)
dalam transaksi perbankan dan posisi likuiditas yang sangat
kuat,Ó terang Jahja Setiaatmadja, Direktur Utama BCA.
8$'1"1''*!% ,"34 !/&2& !)% ,$"/!'0!'% -$'7!+&% 9$"-&'% /$ !,!%
perbankan sangat terpengaruh perlambatan ekonomi yang
terjadi. Sebab, melambatnya ekonomi disertai dengan
meningkatnya risiko pada beberapa skala bisnis yang dibiayai
bank. Tingginya suku bunga akibat tekanan likuiditas
berakibat pada menurunnya permintaan kredit dan
meningkatnya risiko. Kedua hal itu praktis mengoreksi laba
perbankan.
Di tengah kerentanan ekonomi yang terjadi, perbankan
dituntut untuk lebih selektif dalam mengucurkan kredit.
Berdasarkan data BI per Januari 2015, ada tiga sektor
lapangan usaha yang menjadi primadona perbankan, yakni
perdagangan besar dan eceran, industri pengolahan, serta
pertanian, perburuan, dan kehutanan.
Program pemerintah untuk mendorong penyaluran kredit ke
sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pun terus
berjalan. Berdasarkan data BI, untuk penyaluran kredit ke
(%)
segmen tersebut, Pulau Jawa masih mendominasi dengan porsi
57%, diikuti Sumatera dan Kalimantan.
Ryan Kiryanto, pengamat perbankan, mengatakan, ke depan
perbankan masih akan dihadapkan pada kondisi yang
menantang di tengah perlambatan ekonomi, ketidakpastian
politik, dan lambatnya pemulihan ekonomi global. Namun,
masih ada peluang yang dapat dimanfaatkan sektor perbankan
bila program-program yang dicanangkan pemerintah benarbenar berjalan. Pembangunan infrastruktur, mega proyek
sektor energi (kelistrikan) 35.000 megawatt, dan
pemberdayaan ekonomi maritim diharapkan dapat kembali
menggerakkan sektor riil dan berkontribusi pada pertumbuhan
ekonomi nasional.
Sektor maritim, misalnya. Sektor ini memiliki potensi yang
sangat besar dengan luas laut mencapai 5,9 juta kilometer
persegi dan panjang pantai 95.000 kilometer persegi. Agus
D.W. Martowardojo mengatakan bahwa ekonomi maritim
memiliki potensi sebesar US$1,2 triliun per tahun. Sektor itu,
lanjutnya, lebih besar daripada produk domestik bruto (PDB)
Indonesia. ÒNamun, sektor kelautan sendiri baru menyumbang
2,3% dari PDB,Ó imbuh Agus.
Untuk mendorong kredit perbankan, BI berencana untuk
melonggarkan aturan loan to value (LTV), dari 70% menjadi
80%. Dengan begitu, uang muka atau down payment (DP)
yang harus dikeluarkan turun menjadi 20% dari sebelumnya
30%. ÒAturan ini akan selesai pada Juni mendatang, dan ini
akan memengaruhi pertumbuhan kredit sekitar 1%,Ó tambah
Agus.
:*!'% -$-,"$+&0)&;% +$'#!'% &'(!)&% *!'#% +&,"3*$0)&0!'%
berada di kisaran 4,0%-5,0% dan pertumbuhan ekonomi
sekitar 5,0%-5,4% pada 2015, maka pertumbuhan kredit
diperkirakan berada di kisaran 15%-17% pada 2015.
Sementara, pertumbuhan dana diprediksi berada di kisaran
14%-16%. n
No. 117 Tahun XXXII Maret-Juni 2015
PROBANK
11
Aktualita
Menjangkau Masyarakat
yang Belum Tersentuh
Penetrasi dan jangkauan layanan perbankan terhadap masyarakat
Indonesia masih belum maksimal. Guna mengatasi masalah itu, baru-baru
ini regulator terkait meluncurkan program Laku Pandai.
M
asyarakat Indonesia yang belum tersentuh
layanan perbankan dan keuangan lainnya masih
sangat banyak. Hal tersebut tentunya akan
berpengaruh terhadap pembangunan ekonomi
nasional ke depan. Karena itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
pun meluncurkan sebuah program untuk memperluas
jangkauan perbankan terhadap masyarakat yang masih belum
mengenal dan tersentuh layanan serta produk perbankan.
Program yang dimaksud ialah Layanan Keuangan Tanpa
Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif atau dikenal dengan
sebutan Laku Pandai.
Melalui program yang dimulai sejak akhir Maret lalu itu,
nantinya nasabah perbankan tidak hanya terpusat di kota-kota
12
PROBANK No. 117 Tahun XXXII Maret-Juni 2015
besar, tapi juga mencakup semua
yang ada di pelosok Nusantara.
Saat ini atau pada tahap awal baru
ada empat bank yang sudah
mendapat persetujuan untuk bisa
menjalankan program tersebut.
Keempat bank tersebut ialah Bank
Rakyat Indonesia (BRI), Bank
Mandiri, Bank Tabungan Pensiunan
Nasional (BTPN), dan Bank
Central Asia (BCA). Nantinya akan
ada lagi 13 bank yang siap
menyusul untuk menjalankan
program tersebut sehingga totalnya
mencapai 17 bank sampai dengan
akhir tahun ini.
Dengan layanan tersebut, pihak
perbankan dalam memasarkan
produknya tidak lagi melalui kantor
cabang, tapi bisa melalui agen-agen
yang sudah ditunjuk. Agen Laku
Pandai bisa berupa pedagang warung
dan toko kelontong ataupun individu.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D. Hadad,
mengatakan, dari keempat bank yang sudah siap menjalankan
program tersebut, setidaknya akan direkrut 128.309 agen. Jika
ke-13 bank lainnya juga menjalankan program Laku Pandai
pada tahun ini, diperkirakan jumlahnya akan mencapai
350.000 agen sepanjang tahun ini dengan cakupan 75%
wilayah Indonesia.
ÒDalam tiga tahun ke depan, saya perkirakan agen-agen
Laku Pandai akan ada di semua wilayah Indonesia. Laku
Pandai akan menyediakan produk-produk keuangan yang
sederhana, mudah dipahami, dan sesuai dengan kebutuhan
masyarakat yang belum dapat terjangkau layanan keuangan
saat ini,Ó ujarnya.
Diluncurkannya program Laku
Pandai ini diharapkan dapat mendukung
program keuangan inklusif sesuai
dengan tujuan pemerintah Indonesia
yang dicanangkan dalam Strategi
Nasional Keuangan Inklusif (SNKI)
pada 2012 lalu. Diberlakukannya
program ini dikarenakan banyaknya
anggota masyarakat yang belum
mengenal, menggunakan, atau
mendapatkan layanan perbankan dan
layanan keuangan lainnya karena
terhambat lokasi yang jauh atau adanya
biaya dan persyaratan yang
memberatkan.
Awalnya, pada program Laku Pandai
ini masyarakat akan diberikan layanan
perbankan dalam bentuk simpanan.
Jadi, masyarakat bisa menyimpan dan
memanfaatkan uang yang dimilikinya
dengan lebih mudah, aman, dan cepat.
Setelah menabung secara berkala dan
dinilai baik oleh pihak perbankan,
nasabah bisa mengajukan kredit atau pembiayaan mikro untuk
tujuan produktif dan mendukung keuangan inklusif tadi.
Produk awal yang disediakan melalui program Laku Pandai
ini ialah tabungan dengan karakteristik /)$%*' $)0%-.' )**#1-&
(BSA), kredit/pembiayaan kepada nasabah mikro, dan produk
keuangan lainnya seperti asuransi mikro.
Tabungan berkarakteristik BSA merupakan produk yang pas
untuk dikenalkan melalui program ini karena memiliki
beberapa kelebihan. Kelebihan yang dimaksud di antaranya
tidak adanya minimum saldo maupun transaksi setor tunai,
batas maksimum saldo tiap saat ialah Rp20 juta dan batas
penarikan kumulatif selama sebulan Rp5 juta, dan tidak
adanya administrasi bulanan yang dikenakan untuk pembukaan
dan penutupan rekening serta transaksi pengkreditan rekening.
Dengan beberapa keuntungan tersebut, masyarakat
diharapkan dapat menyimpan uangnya tanpa khawatir
saldonya berkurang karena biaya administrasi, bahkan tetap
terus bertambah karena memperoleh bunga yang dijamin oleh
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Selain itu, nasabah tidak
perlu pergi ke kantor cabang untuk melakukan transaksi,
cukup mengunjungi agen yang lebih dekat dengan rumah saja.
Targetkan 500.000 Nasabah
Bank Mandiri sebagai salah satu bank yang memulai
program Laku Pandai menetapkan target yang tinggi untuk
menarik nasabah baru. Direktur Utama (Dirut) Bank Mandiri,
Budi Gunadi Sadikin, mengatakan, setidaknya Bank Mandiri
akan memiliki 500.000 nasabah baru dari program ini
sepanjang 2015. ÒSecara nasional kami target 500.000 nasabah
baru tahun ini, tapi dari OJK targetnya 50 juta dalam empat
sampai dengan lima tahun,Ó katanya kepada wartawan,
beberapa waktu lalu.
Program yang lebih menyasar wilayah timur Indonesia ini
akan merekrut banyak agen untuk bisa mencapai target
nasabah tadi. Menurut Budi, sepanjang
tahun ini Bank Mandiri akan memiliki
9.000 agen Laku Pandai.
Budi juga menegaskan, program
Laku Pandai ini akan memberikan
berbagai manfaat dan kemudahan
bagi masyarakat. Salah satu
kemudahannya, nasabah tidak perlu
pergi ke bank untuk melakukan
transaksi tabungan, tapi cukup ke
warung atau toko yang sudah
menjadi agen yang lokasinya dekat
dari rumah. ÒSelain itu, kita tidak
perlu mengisi form seperti jika
bertransaksi di bank, cukup dengan
handphone, transaksi bisa dilakukan
semudah mengirim SMS (short
2!$$).!' $!30%*!),Ó jelas Budi.
Program Laku Pandai dari Bank
Mandiri dengan layanan dasar
tabungan ini memang berbasis layanan
bergerak untuk melakukan transfer dan
pembayaran. Selain lebih mudah secara
operasional, belum ada yang menggunakan layanan setor dan
tarik tunai menggunakan handphone.
Bank Mandiri sangat mendukung program Laku Pandai ini
karena diyakini dapat mendorong akses perbankan yang
merata di seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya akses
perbankan, nantinya melalui Laku Pandai ini, seluruh akses ke
layanan keuangan juga akan terbuka bagi seluruh rakyat
Indonesia.
Data riset Mandiri Institute menyebutkan, baru sekitar 52%
penduduk Indonesia yang memiliki akses ke layanan
keuangan, jauh lebih rendah dibandingkan dengan Malaysia
yang telah mencapai 66% dan Thailand yang tercatat sebanyak
73%. Rendahnya akses terhadap layanan keuangan ini dapat
/$"&-/!)% ,!+!% 03' "&/1)&% )$0 3"% 4'!')&!2% ,!+!% ,$" 1-/1.!'%
ekonomi Indonesia yang juga rendah.
Sementara itu, bagi BRI, program Laku Pandai
memberikan nilai tambah yang menguntungkan perusahaan.
Bagaimana tidak, sampai dengan saat ini, agen Laku Pandai
yang dimiliki BRI mencapai 24.713 orang yang sudah
bekerja sama dalam program BRILink. Dirut BRI, Asmawi
Syam, mengatakan, dengan total agen sebanyak itu, pihaknya
mengakui sudah ada 21 juta transaksi dengan nilai mencapai
Rp7,8 triliun.
Menurut Asmawi, penambahan agen masih akan terus
dilakukan agar total transaksi dan volume transaksi dapat
meningkat lebih banyak lagi sepanjang tahun ini. Setidaknya
perseroan sudah menargetkan penambahan agen menjadi
50.000 agen. Selain itu, total transaksi ditargetkan mencapai
84 juta transaksi dengan nominal mencapai Rp22,4 triliun.
ÒSaya (mengucapkan) terima kasih karena perbankan
Indonesia, termasuk BRI, diberi peluang baru yang sangat
$4)&$';% &+!0% ,$"21% &'<$) !)&% 0!' 3"% 2!#&=% >!+&;% .!2?.!2% & 1%
menguntungkan buat kami,Ó ujar Asmawi kepada Infobank,
beberapa waktu lalu. n
No. 117 Tahun XXXII Maret-Juni 2015
PROBANK
13
Aktualita
Agar Tak Berlarut
dan Makan Biaya
Kehadiran LAPSPI diharapkan mampu menyelesaikan sengketa antara
bank dan nasabah dengan baik. Selain itu, penyelesaian sengketa
!"#$#%&#'()!*#(+,)!"(-,%#./(01$#"/(# !+/( #'(,2*!,'3
L
engkap sudah Lembaga Alternatif Penyelesaian
Sengketa Perbankan Indonesia (LAPSPI) pada tujuh
sektor keuangan. Enam asosiasi perbankan, yaitu
Himpunan Bank Milik Negara (Himbara),
Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), Perhimpunan BankBank Internasional Indonesia (Perbina), Asosiasi Bank Daerah
(Asbanda), Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo), dan
Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo),
telah menandatangani akta pendirian Lembaga Alternatif
Penyelesaian Sengketa Perbankan Indonesia (LAPSPI) di
hadapan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Selasa, 28 April
2015.
Pendirian LAPSPI merupakan amanat dari Peraturan OJK
Nomor 1/POJK.07/2014 tentang Pembentukan LAPS di sektor
perbankan sebelum 2016, sebagai infrastruktur penyelesaian
sengketa di sektor jasa keuangan, yang mampu menyelesaikan
)$'#0$ !% )$9!"!% 9$,! ;% -1"!.;% !+&2;% +!'% $4)&$'=%
Ketua Umum Perbanas, Sigit Pramono, menyambut baik
kehadiran LAPSPI. Menurut Sigit, kehadiran LAPSPI
merupakan bentuk kemajuan bagi industri karena sesuai
14
PROBANK No. 117 Tahun XXXII Maret-Juni 2015
dengan /!$&' %-&!3-)&%#-)+' "3)*&%*!$4 penyelesaian
sengketa dilakukan oleh lembaga independen, bukan
oleh regulator.
Sementara itu, menurut Anggota Dewan
Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan
Konsumen OJK, Kusumaningtuti S. Setiono, dengan
!+!'*!% 2$-/!#!% $")$/1 ;% ,$'*$2$)!&!'% 03'(&0%
perbankan akan mudah diakses, lebih terjangkau, dan
$4)&$'% 0!"$'!% -!)*!"!0! % &+!0% ,$"21% 2!#&%
mengajukan gugatan kepada pengadilan. ÒWadah ini
juga bertujuan untuk memberikan perlindungan bagi
03')1-$'% !#!"% -$"!)!% !-!'% 0$ &0!% )$+!'#% /$"03'(&0%
dengan perbankan, di mana nanti lembaga
independen juga akan mempertimbangkan kerugian
yang dikeluhkan konsumen,Ó jelas Kusumaningtuti.
Proses pelimpahan penyelesaian sengketa kepada
LAPSPI nantinya akan melalui seleksi oleh OJK
terlebih dahulu. Pengurus bidang hukum Perbanas,
Arief Tjahjono, menjelaskan bahwa pengaduan yang
dilakukan oleh konsumen atau nasabah akan masuk
ke OJK untuk kemudian diseleksi apakah pengaduan tersebut
merupakan sengketa atau bukan. Jika pengaduan tersebut
merupakan sengketa yang harus diselesaikan, selanjutnya OJK
akan menyerahkan sengketa tersebut untuk ditangani secara
internal antara bank dan nasabah terlebih dahulu.
LAPSPI akan menyediakan mediator profesional
/$")$" &40! % )$)1!&% +$'#!'% )$'#0$ !% ,$"/!'0!'% *!'#% +&.!+!,&=%
Kasus terkait dengan bank syariah akan ditangani oleh
mediator yang menguasai perbankan syariah, kasus mengenai
BPR akan ditangani oleh mediator yang menguasai BPR, dan
seterusnya.
Sebelum ada LAPSPI, lebih dari 90% pengaduan yang
berujung sengketa dapat diselesaikan secara internal antara
pihak bank dan nasabah. Menurut data OJK, sepanjang 2014
jumlah pengaduan mencapai 2.197. Sebagian besar ialah
pengaduan terkait dengan perbankan. Hingga Maret 2015,
jumlah pengaduan telah mencapai 308 kasus.
Kendati demikian, LAPSPI tidak menjamin sengketa yang
ditanganinya pasti akan mencapai kata sepakat antara nasabah
dan bank. Masih ada potensi sengketa tersebut tidak
terselesaikan melalui proses mediasi. Karena itu, ada dua proses
penyelesaian sengketa lanjutan, yakni ajudikasi dan arbitrase.
Putusan ajudikasi dan arbitrase tidak berdasarkan pada
kesepakatan bersama. Jadi, ada potensi pihak yang merasa
dirugikan tidak mau melaksanakan keputusan yang telah
ditetapkan dan membawa sengketa tersebut ke pengadilan.
Namun, OJK telah menetapkan kebijakan bahwa LAPSPI
harus memiliki peraturan yang mengatur tentang jangka waktu
pelaksanaan putusan serta memonitor pelaksanaan putusan
tersebut. LAPSPI akan melaporkan lembaga jasa keuangan
yang tidak melaksanakan putusan LAPSPI kepada OJK.
Berdasarkan laporan tersebut, OJK dapat mengenakan sanksi
administratif kepada lembaga jasa keuangan tersebut.
Setelah terbentuk, fokus berikutnya ialah melengkapi struktur
organisasi LAPSPI yang baru saja terbentuk beserta aturanaturan pendukungnya. Kepengurusan LAPSPI nantinya akan
independen, tidak diisi oleh pelaku industri perbankan. Dewan
pengawas akan terdiri atas ketua-ketua asosiasi perbankan.
Namun, Arief menekankan, yang terpenting ialah sosialisasi
kepada konsumen atau nasabah bahwa di sektor perbankan
telah ada LAPSPI sehingga konsumen dapat menyelesaikan
sengketa yang terjadi melalui proses mediasi. n
Anika Faisal, Sekretaris Jenderal Perbanas
Lebih Efektif dan Efisien
Lembaga Alternatif
Penyelesaian Sengketa
Perbankan Indonesia
(LAPSPI) diharapkan bisa
menjadi wadah
penyelesaian sengketa yang
efektif dan efisien. Selain itu,
lembaga tersebut bisa
dijadikan sebagai upaya/
langkah dalam menciptakan
market conduct terkait
dengan hubungan antara
bank dan nasabah. Seperti
apa dan bagaimana LAPSPI
itu bekerja? Berikut petikan
wawancara dengan Anika
Faisal, Sekretaris Jenderal
Perbanas.
Apa pentingnya keberadaan LAPSPI bagi industri
perbankan?
LAPSPI ini diutamakan untuk yang kecil-kecil. Bayangkan
kalau orang sengketa urusan yang kecil-kecil harus ke
pengadilan: biaya mahal, prosesnya relatif lebih lama.
Sengketa itu ada tahapannya. Tapi, kadang kalau udah
namanya marah, ketemu muka juga tidak mau, nah di sini ada
alternatifnya. Mediasinya oleh orang-orang yang independen,
profesional, dan mengerti, dengan biaya yang sangat
terjangkau.
Kalau dibawa ke pengadilan, belum tentu mereka paham
sekali produk bank. Kalau LAPSPI, kita bisa menunjuk mediator
yang sudah bersertifikasi. Jadi, memang mengerti bank, tapi
juga bisa independen. Maka, (itu) penting buat industri
keuangan dan konsumen.
Kenapa tidak dimediasi oleh OJK atau BI saja?
Ini masalah ownership. Regulator seharusnya tidak ikut
campur dalam penyelesaian konflik. Tapi, mereka tetap
mendampingi. LAPSPI merupakan bagian dari tanggung
jawab industri untuk memberikan alternatif penyelesaian
sengketa bagi konsumen di mana biayanya dari industri.
Untuk menciptakan market conduct hubungan antara
produsen dan konsumen yang baik. Ini juga mendisiplinkan
penyedia jasa keuangan agar semakin baik dalam
pelayanannya kepada konsumen. Naungannya adalah
perlindungan nasabah.
Mekanisme penyelesaian mulai dari pengaduan
hingga LAPSPI?
Pengaduan tetap melalui OJK. Ada proses penyaringan di
OJK. Cuma yang benar-benar butuh mediasi nanti baru masuk
LAPSPI. Semua pengaduan konsumen langkah pertama OJK
ialah pasti suruh banknya menyelesaikan dulu. Bank diberi
batasan waktu 20 hari untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Kalau memang akhirnya tidak terselesaikan, baru mediasi. Kalau
dari statistik tahun lalu yang akhirnya sampai proses mediasi
hanya sekitar 10-15 kasus.
Bagaimana mekanismenya jika tidak selesai di
LAPSPI?
Karena itu, saya bilang harus ada iktikad baik. Di mana pun
kalau penyelesaian di luar pengadilan, kalau para pihak sudah
sepakat, itu jadi mengikat kepada semua pihak. Tapi, kalau
pihak yang bersengketa tidak punya iktikad baik, ya bisa saja
dibawa ke pengadilan lagi. Kalau mediasi, lalu tidak sepakat
juga, ya silakan mencari jalur hukum.
Dari mana biaya operasional LAPSPI?
Dari industri. Terlepas apakah nanti ada sumbangsih dari
regulator atau tidak. Sekarang ini memang harus kita pikirkan
bagaimana mekanismenya. Bisa saja bank yang kasusnya
dibawa ke LAPSPI, dia yang harus membayar biayanya. Ini
juga melatih bank untuk menyelesaikan sengketanya dengan
baik.
Di awalnya memang menjadi beban bagi industri. Tapi,
bukan bank yang bayar iuran, melainkan asosiasi. Ini untuk
menjaga independensinya. Karena, orang mesti lihat ini
memang independen, bukan karena ada bank yang iuran
paling besar jadi seolah dia yang paling memengaruhi, bisa
menguasai, atau menentukan keputusan.
Setelah terbentuk, apa fokus LAPSPI berikutnya?
Sekarang kita sedang melengkapi organ-organnya dan
menyiapkan infrastruktur. Kita akan melakukannya step by step.
Kemudian, mengarah pada bisnis ke depannya. Karena, ini
tidak bisa direncanakan bisnisnya, tergantung pada yang
datang. Tapi, tetap yang paling penting mengembangkan
infrastruktur, proses kerja, dan lain lain. n
No. 117 Tahun XXXII Maret-Juni 2015
PROBANK
15
Liputan Khusus
Maritim Masih Minim
!"#$%&'!()$(&*+('%"%&)!+),$-"&.('+(!"%$/&"!0$1%(2$&"!*1+,&3$,%1%3&3!3%4%*%&5+1!("%&6!"$,&'$4$3&
pembangunan ekonomi nasional. Namun, sayang, hingga saat ini eksplorasi di sektor ini masih minim.
Ke depan, diharapkan perbankan nasional mampu mendorong kemajuan sektor maritim.
Ò
Indonesia bukan pulau-pulau yang dikelilingi
laut, melainkan laut yang ditaburi pulaupulau,Ó begitulah konsepsi dari sejarawan
ternama, A.B. Lapian, mengungkapkan
!"#$%$& '(!')*+%& ,"#!"(%$*-& .*/& 0()%(120& %*"'*0& )(/(3*"&
dengan kehidupan masyarakat Indonesia pada masa lampau.
Laut menjadi kehidupan dan merupakan salah satu sumber
utama perekonomian bagi masyarakat kita. Begitu pentingnya
laut telah dibuktikan oleh Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit
yang tersohor karena menguasai laut atau sektor maritim
dengan baik.
Atas dasar itu, pemerintah Joko Widodo dan Jusuf Kalla
kembali mendengungkan sektor maritim dalam programprogram pembangunan nasional. Guna mengejawantahkan
program tersebut, segenap stakeholders negeri ini pun
mencoba membangun sinergi. Mulai dari kementerian terkait,
16
PROBANK No. 117 Tahun XXXII Maret-Juni 2015
para pelaku usaha melalui Kamar
Dagang dan Industri (Kadin),
Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
sebagai pemangku kebijakan
industri perbankan, hingga
industri perbankan.
Beberapa waktu lalu disepakati
bahwa perbankan nasional akan
menyalurkan kredit baru sebesar
Rp43 triliun untuk sektor maritim.
Dalam kesepakatan tersebut,
Kadin akan melakukan
pengawalan. Kadin akan
melakukan evaluasi berkala guna
memastikan bahwa penyaluran
kredit perbankan tidak
menemukan kendala.
ÒKami akan kawal
disbursement-nya (penyalurannya).
Kalau sambil jalan ditemukan
kesulitan, kami akan lihat apa
yang perlu diubah lagi,Ó ujar
Wakil Ketua Umum Bidang
Kelautan dan Perikanan Kadin,
Yugi Prayanto, dalam acara dialog
Kadin dengan Menteri Koordinator
Bidang Kemaritiman, di Jakarta, Senin, 6 April 2015.
Selain itu, Kadin tengah mendorong Kementerian Koperasi,
Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Desa,
Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi,
Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan,
Kementerian Keuangan, OJK, dan para pelaku jasa perikanan
untuk merevitalisasi sektor perikanan dari hulu ke hilir. Untuk
melakukan revitalisasi itu dibutuhkan dukungan pembiayaan
dari sektor perbankan.
Namun, sergah Yugi, hingga saat ini kepercayaan pihak
perbankan pada sektor maritim memang masih relatif rendah
karena secara historis terdapat kredit bermasalah yang tinggi.
Hal itu disebabkan legalitas usaha dan besarnya faktor alam
pada bisnis perikanan.
Kendati demikian, menurut Yugi, tidak semua sektor
maritim memiliki risiko tinggi dan menyebabkan kredit macet,
misalnya saja subsektor perikanan yang
memiliki potensi sangat bagus. Pada 2014
lalu nilai ekspor komoditas perikanan
mencapai US$4,63 miliar dan 2019 nanti
ditargetkan mencapai US$9,54 miliar.
ÒMasih banyak industri kelautan dan
perikanan yang prospektif dan
disayangkan bisa tidak dikembangkan
tanpa bantuan kredit perbankan,Ó
ungkapnya.
Karena itu, Yugi berharap OJK
mengeluarkan regulasi khusus yang dapat
mengatur kemudahan syarat kredit,
lengkap dengan porsi kredit yang harus
disalurkan ke sektor perikanan serta
kemudahan lainnya terkait dengan waktu
pembayaran kredit. Dengan begitu, pelaku
usaha kelautan dan perikanan dapat lebih
mudah menikmati kucuran pembiayaan
dari bank.
Selain mendorong akses perbankan bagi nelayan dan
pengusaha, Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan,
menurutnya, tengah mendorong penguatan organisasi koperasi
nelayan dan pembudi daya ikan untuk optimalisasi produksi
perikanan budi daya nasional dan produksi perikanan tangkap.
Kadin juga akan memfasilitasi 10 proposal usaha perikanan
dari berbagai provinsi yang lolos seleksi untuk mendapatkan
pinjaman dari BRI, BNI, dan Bank Mandiri.
Tentu saja kerja sama dan sinergi antarsektor akan lebih
memudahkan pengembangan. Hal ini disambut baik pelaku
industri perbankan. Menurut Kepala Divisi Bisnis Program
dan Kemitraan BRI, Teten Djaka Triana, evaluasi berkala akan
dilakukan Kadin untuk memastikan penyaluran kredit
perbankan di sektor kemaritiman itu. ÒEvaluasi setiap tiga
bulan ini kami rasa sangat baik dan belum banyak dilakukan,Ó
ujar Teten dalam kesempatan yang sama.
Teten juga mengatakan, perbankan bersama dengan OJK
telah membangun forum komunikasi, yaitu tim jaring maritim
untuk mengembangkan pembiayaan perbankan di sektor
tersebut. Dia berharap keberadaan tim itu akan direspons
kementerian terkait agar memudahkan penyaluran kredit
perbankan. Tim gabungan tersebut terdiri atas perbankan,
perusahaan pembiayaan, asuransi, penjaminan, dan modal
ventura. Dengan adanya tim gabungan tersebut, diharapkan
industri keuangan dapat berkontribusi dalam meningkatkan
kinerja industri kemaritiman.
ÒDi kementerian ada lembaga yang mengurusi bisnis tapi
eselon dua. Kalau ada eselon satunya, itu akan cepat karena
banyak subsektor di sana dan kami kebingungan. Kalau
ditangani satu direktorat, tentu akan memudahkan,Ó
tambahnya.
Dorongan OJK
OJK mengakui, bank enggan mengucurkan kredit ke sektor
maritim, selain karena kurangnya pemahaman bank terhadap
bisnis kemaritiman, kredit bermasalah atau non performing loan
(NPL) di sektor maritim cukup tinggi, meski sudah membaik.
Selama ini kebanyakan bank membiayai
sektor maritim untuk kredit modal kerja
(KMK). Pada 2010 NPL sektor tersebut
bahkan melebihi 5%, meski saat ini sudah
turun di level 3%-3,5%.
Sementara itu, Deputi Komisioner
Bidang Pengawasan Perbankan OJK,
Irwan Lubis, mengatakan, OJK telah
menginisiasi akselerasi pertumbuhan kredit
perbankan untuk sektor maritim dan
kelautan. Hasilnya, perbankan sepakat
untuk memberikan kredit ke sektor
tersebut hingga Rp43 triliun atau tumbuh
50% dibandingkan dengan tahun lalu.
ÒJadi, kami menginisiasi, makanya kami
buat database dan tahun ini melalui rencana
bisnis bank (RBB) disepakati tumbuh 50%
dan ini luar biasa. Sebelumnya pertumbuhan
hanya satu digit,Ó ujarnya pada acara dialog
Kadin dengan Menteri Koordinator Bidang
Kemaritiman, di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Menurut Irwan, selama ini pembiayaan perbankan pada
sektor maritim dan kelautan serta perikanan memang masih
sangat kecil. Akhir tahun lalu outstanding kredit untuk sektor
tersebut hanya Rp85 triliun atau 2,83% dari total kredit
perbankan. Penyebabnya ialah pengetahuan serta pemahaman
pihak perbankan terhadap sektor tersebut masih minim.
Karena itu, OJK telah membuat database pemetaan untuk
enam subsektor kemaritiman. Untuk tahap awal, OJK baru akan
mendorong bank-bank BUKU 3 dan BUKU 4 untuk terlibat
dalam pembiayaan sektor kemaritiman. ÒPotensi Rp43 triliun,
yang ingin dikucurkan, itu angka kecil, karena kredit perbankan
rencana pertumbuhannya tahun ini Rp600 triliun,Ó tambah Irwan.
Selain itu, OJK berharap pelaku perbankan meningkatkan
kuantitas dan kualitas !!"#$% "&'!() (AO) untuk menggarap
sektor maritim dan pangan. Untuk bank di kelompok BUKU
1 dan BUKU 2 akan dibuatkan buku panduan. ÒBUKU
1-BUKU 2 masih kecil. Kalau mau masuk, kami kasih
guideline dengan buku kami,Ó tandas Irwan.
Memang dorongan dan sinergi yang tengah dilakukan
segenap stakeholders disambut baik oleh para pelaku usaha
perbankan nasional. Kendati demikian, para pelaku usaha
perbankan harus terlebih dulu mempersiapkan infrastruktur
dan sumber daya manusia (SDM) yang ahli di sektor maritim.
Presiden Direktur BII, Taswin Zakaria, mengungkapkan,
pihaknya bakal ikut berkontribusi dalam meningkatkan kinerja
industri kemaritiman, khususnya untuk pemberian kredit.
Dalam hal pemberian kredit, BII terlebih dahulu melihat
kemampuan perusahaan dalam membiayai sektor maritim.
ÒKami tentu sesuaikan dengan kemampuan kami. Maritim itu
Ôkan besar, ada subsektornya. Jadi, nanti kami lihat di mana
yang kami dapat masuk,Ó ujar Taswin.
Taswin menambahkan, keterbatasan infrastruktur menjadi
kendala BII dalam membiayai sektor maritim. Karena itu, BII
akan sesuaikan terlebih dahulu sektor maritim mana saja yang
dapat dibiayai BII. ÒAda keterbatasan )(*"#)!(*. Jadi, kami
sesuaikan. Tetapi, sebagian subsektor ada,Ó tukasnya. n
No. 117 Tahun XXXII Maret-Juni 2015
PROBANK
17
Liputan khusus
Upaya Stakeholders
Angkat Sektor Maritim
S
ektor maritim memiliki risiko yang relatif tinggi. Itulah salah satu penyebab industri perbankan nasional enggan
mengucurkan kreditnya ke sektor maritim. Menurut catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio kredit bermasalah atau
non performing loan (NPL) di sektor maritim mencapai 11%.
Kredit yang disalurkan perbankan ke sektor maritim memang tak sebesar sektor-sektor lainnya. Dari total kredit
perbankan di Indonesia pada 2014 yang mencapai Rp3.600 triliun, kredit yang disalurkan perbankan ke sektor maritim hanya
2,36% atau senilai Rp85 triliun. Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) perbankan yang memahami sektor maritim juga
menjadi kendala.
Kini OJK mendorong industri perbankan nasional untuk meningkatkan pembiayaan ke sektor maritim. Sebab, sektor tersebut
ternyata memiliki potensi besar. Sejumlah bank pun bersiap untuk memperbesar guyuran kreditnya ke sektor maritim. Seperti
apa peluang dan tantangan pemberian kredit ke sektor maritim? Berikut pandangan para bankir dan pelaku usaha sektor maritim.
Achmad Baiquni,
Direktur Utama BNI
Besar di Pengangkutan
dan Pelayaran
Bank Negara Indonesia (BNI) mempersiapkan sejumlah rencana untuk mendukung program
pembangunan nasional yang dicanangkan pemerintahan Joko Widodo. Salah satunya, dengan
meningkatkan kredit ke sektor maritim. Tahun ini BNI menargetkan kredit ke sektor maritim
sebesar Rp1,6 triliun atau tumbuh 18% dari tahun lalu.
Menurut Achmad Baiquni, Direktur Utama BNI, sektor maritim memiliki potensi sangat besar.
Beberapa subsektor kemaritiman yang selama ini sudah mendapat kredit BNI, antara lain sektor
koperasi perikanan, industri balok es dan pembekuan ikan, industri perkapalan, serta infrastruktur
dan perhubungan laut.
ÒPenyaluran kredit ke sektor maritim mencakup sektor pengangkutan dan pelayaran dengan
kredit terbesar, yakni Rp5,4 triliun. Disusul terbesar kedua, kredit untuk sektor industri pengolahan
perikanan dan galangan kapal sebesar Rp2,2 triliun,Ó kata Baiquni, April lalu.
Untuk menyiasati tingginya risiko penyaluran kredit ke sektor maritim, BNI menggandeng
perusahaan penjaminan kredit. Dalam hal ini, BNI menjalin kerja sama dengan perusahaan
penjaminan kredit milik negara, yakni Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Perum
Jamkrindo).
Menurut Baiquni, kerja sama tersebut dilakukan untuk memperluas penyaluran kredit ke sektor usaha mikro, kecil, dan
menengah (UMKM), khususnya sektor kemaritiman yang dinilai memiliki potensi besar. ÒDengan kerja sama ini, BNI dapat
menyalurkan kredit ke debitor yang berpotensi, tapi belum tersentuh industri perbankan,Ó tandas Baiquni.
18
PROBANK No. 117 Tahun XXXII Maret-Juni 2015
Budi G. Sadikin,
Direktur Utama Bank Mandiri
Kembangkan Pola Kemitraan
Penyaluran pembiayaan ke sektor maritim dengan pola kemitraan dinilai Budi G. Sadikin,
Direktur Utama Bank Mandiri, sangat tepat untuk meningkatkan akses nelayan terhadap
pembiayaan perbankan. Sehingga, nelayan dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan hasil
tangkapan. Budi mengatakan, dengan pola kemitraan, perusahaan mitra dapat menjadi
penanggung jawab atau penjamin bagi nelayan binaannya.
Budi menambahkan, Bank Mandiri terus berkomitmen untuk menyalurkan kredit ke sektor
maritim. Sejauh ini pembiayaan telah diberikan kepada pelaku usaha penangkapan ikan,
pembudidayaan ikan, dan pengolahan ikan. ÒKomitmen ini akan senantiasa kami perkuat
sejalan dengan keinginan Bank Mandiri untuk dapat terus berperan aktif dalam
mengembangkan sektor kemaritiman nasional,Ó tutur Budi, April lalu.
Bank Mandiri terus meningkatkan pembiayaan bagi nelayan, baik melalui skema Kredit
Usaha Rakyat (KUR) maupun Kredit Ketahanan Pangan-Energi (KKP-E). Hingga akhir 2014,
Bank Mandiri telah memberikan kredit kepada para nelayan sebesar Rp1,76 triliun atau tumbuh
15% dari tahun sebelumnya.
Budi menegaskan, penerapan pola kemitraan juga terbukti berhasil menjaga rasio kredit
bermasalah Bank Mandiri di sektor perikanan pada level yang rendah, yakni sebesar 0,58%.
Sementara, jumlah nasabah Bank Mandiri tercatat sebanyak 462 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang
didominasi usaha pengolahan ikan.
Menurut Budi, salah satu tantangan terbesar perbankan dalam memperkuat pembiayaan kepada UMKM nelayan selama ini
adalah kesulitan calon debitor untuk memenuhi persyaratan kredit umum, antara lain agunan, perizinan, kemampuan arus kas,
dan pendapatan usaha yang bersifat musiman. ÒUntuk itu, kami juga mencoba memberikan edukasi agar mereka dapat
memenuhi kriteria bankable,Ó tukas Budi.
Carmelita Hartoto,
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pelayaran Indonesia (INSA)
Butuh Kredit Rp57 Triliun
Asosiasi Pengusaha Pelayaran Indonesia atau Indonesian National Shipowners Association
(INSA) meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong perbankan agar mau memberikan
pembiayaan kepada industri pelayaran. Hal itu dilakukan agar industri pelayaran di Tanah Air
dapat berkembang sehingga sejalan dengan misi Presiden Joko Widodo, yakni menjadikan
Indonesia sebagai poros maritim.
Menurut Carmelita Hartoto, Ketua INSA, industri pelayaran sangat sulit mendapatkan
pembiayaan. Ini terjadi lantaran masih ada anggapan bahwa kredit di sektor maritim memiliki
risiko tinggi.
ÒKatanya pemerintah mau menjadikan Indonesia sebagai poros maritim, tapi kami para
pengusaha pelayaran tidak dikasih pembiayaan. OJK harus mendorong,Ó ujar wanita yang juga
menjabat Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Logistik
dan Bendahara ini, beberapa waktu lalu.
Carmelita menambahkan, industri pelayaran setidaknya membutuhkan kredit sebesar Rp57
triliun. Itu dibutuhkan untuk pengadaan 26 unit kapal perintis berbobot 260 TEUs, pengadaan
46 kapal peti kemas 1.000 TEUs, pengadaan 37 kapal peti kemas 3.000 TEUs, dan pengadaan
500 unit kapal pelayaran rakyat.
Peningkatan jumlah kapal dibutuhkan agar kapal-kapal nasional bisa bersaing dengan kapal asing. Menurut Carmelita,
pelayaran di perairan Indonesia masih dikuasai kapal asing. ÒSalah satu buktinya adalah muatan ekspor-impor hampir 90%
dilakukan oleh kapal asing,Ó pungkas Carmelita. n
No. 117 Tahun XXXII Maret-Juni 2015
PROBANK
19
Profil
Nita Ernawati,
Ketua Perbanas Sumatera Utara
Mengoptimalkan Kinerja
Perbankan Sumut
Di tengah lesunya kondisi perekonomian dan jelang era MEA, segenap
stakeholders perbankan, baik di tingkat pusat maupun daerah, harus
bersinergi dan mengoptimalkan kemampuan. Agar, kinerja dan daya saing
industri perbankan nasional terus meningkat.
K
inerja industri perbankan sepanjang 2014 menurun
jika dibandingkan dengan kinerja tahun
sebelumnya. Tak terkecuali, perbankan di daerah
Sumatera Utara (Sumut). Lihat saja, pada triwulan
keempat 2014 kredit perbankan di Sumut hanya Rp159,3
triliun atau hanya tumbuh 7,26%. Padahal, tahun sebelumnya
pertumbuhan kredit perbankan di daerah tersebut mencapai
9,09%. Dana pihak ketiga (DPK)-nya juga hanya tumbuh
15,11% pada 2014.
Kondisi tersebut tentu harus ditangani secara tepat. Salah
satunya, dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia
(SDM). SDM yang mumpuni dan berkualitas bisa menjadi
salah satu kunci sukses bisnis perusahaan ke depan.
Peningkatan SDM menjadi salah satu program kerja
Pengurus Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Sumut.
Menurut Nita Ernawati, Ketua Perbanas Sumut, sejauh ini
kualitas SDM perbankan Sumut cukup kompetitif. ÒUntuk
kegiatan pendidikan, dilakukan seminar-seminar leadership,
motivasi, dan seminar pendidikan lainnya yang bermanfaat
untuk pengembangan wawasan dan pengetahuan seluruh
anggota Perbanas Sumut,Ó terangnya.
Tak hanya kegiatan pendidikan, Perbanas Sumut pun
memiliki program kerja lainnya. Lantas, seperti apa program
kerja Perbanas Sumut? Bagaimana pula potensi perbankan di
daerah tersebut? Berikut ini wawancara Nita Ernawati dengan
Majalah Probank. Petikannya:
Bagaimana peran Perbanas Sumut dalam meningkatkan
kualitas SDM perbankan di Sumut?
Kualitas SDM perbankan Sumut sudah kompetitif, di mana
20
PROBANK No. 117 Tahun XXXII Maret-Juni 2015
terlihat setiap tahunnya perkembangan aset perbankan
mengalami pertumbuhan. Peran Perbanas Sumut untuk
meningkatkan kualitas SDM, yaitu mengadakan seminar/talk
show dengan narasumber atau motivator yang terbaik.
Bagaimana kinerja industri perbankan Provinsi Sumut
pada 2014 dan prediksinya pada 2015?
Kinerja industri perbankan Sumut mengalami perlambatan
dari 6,08% pada 2013 menjadi 5,23% pada 2014, terutama
disebabkan oleh tertahannya aktivitas investasi seiring dengan
sikap wait and see investor terkait dengan pelaksanaan
pemilihan umum (pemilu) serta tertekannya harga komoditas.
Pada 2015 kinerja industri perbankan Sumut diprediksi
tumbuh stabil dibandingkan dengan triwulan keempat 2014
seiring dengan meningkatnya kinerja kategori pertanian,
industri pengolahan pada sisi penawaran.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada
2014 DPK industri perbankan Sumut tumbuh 15,11%.
Bagaimana persaingan dalam meningkatkan DPK? Berapa
target pertumbuhan DPK tahun ini?
Persaingan sangat ketat untuk menaikkan DPK karena
fungsi intermediasi yang tercermin dari LDR (loan to deposit
ratio) mengalami peningkatan dari 90,33% menjadi 92,5%.
Target pertumbuhan DPK pada 2015 diperkirakan sekitar 17%.
Dari sisi kredit, berapa persen pertumbuhan kredit
perbankan Sumut pada 2014 dan berapa target
pertumbuhan pada 2015?
Hingga akhir triwulan keempat 2014, posisi kredit perbankan
tercatat Rp159,3 triliun, tumbuh melambat dari 9,09% secara year
on year (yoy) pada posisi yang sama tahun lalu menjadi 7,26%.
Diperkirakan 9,50% target pertumbuhan (kredit) pada 2015.
Di Sumut, sektor potensial apa saja yang layak
dibiayai?
Perekonomian Sumut tumbuh sepanjang triwulan keempat
2014Ñlaju pertumbuhan ekonomi masih ditopang kuat oleh
konsumsi. Dari sisi neraca perdagangan, Sumut belum dapat
berharap banyak dari pertumbuhan nilai ekspor. Terlebih lagi,
harga komoditas !)#+(, - ./, "0. (CPO) dan karet yang
terkoreksi menyebabkan ekspor Sumut mengalami tekanan,
baik dari sisi volume maupun nilai atau harga satuannya. Dari
sisi penawaran, peningkatan laju pertumbuhan ekonomi Sumut
yang potensial lebih banyak ditopang sektor perdagangan,
hotel, dan restoran.
Jumlah anggota Perbanas Sumut cukup besar. Lalu,
bagaimana Perbanas Sumut mengoptimalkan keanggotaan
ini untuk meningkatkan kinerja industri perbankan
Sumut?
Mengoptimalkan anggota untuk meningkatkan kinerja
industri perbankan Sumut, di mana setiap anggota berpedoman
pada rencana bisnis masing-masing bank. Berdasarkan data
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Sumatera Utara, aset
perbankan mengalami peningkatan.
Perbanas Sumut tentu sudah memiliki program kerja
2015. Apa saja prioritas dalam program kerja Perbanas
Sumut tahun ini?
Program kerja 2015 Perbanas Sumut di dalam setiap bidang
ada persentasenya. Untuk itu, kami banyak memfokuskan pada
kegiatan atau aktivitas sosial dan bidang pendidikan. Untuk
kegiatan aktivitas sosial, komunikasi, gathering, kami banyak
melakukan kegiatan, seperti dalam bentuk bantuan operasi
mata katarak gratis, pemberian paket bantuan kepada keluarga
prasejahtera, panti jompo, panti asuhan dan anak-anak telantar,
donor darah, dan sebagainya yang secara rutin ada di dalam
agenda kerja. Untuk kegiatan pendidikan, dilakukan seminarseminar leadership, motivasi, dan seminar pendidikan lainnya
yang bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan
pengetahuan seluruh anggota Perbanas Sumut.
Bagaimana Perbanas Sumut meningkatkan perannya
dalam kehidupan sosial masyarakat Sumut?
Perbanas Sumut meningkatkan perannya untuk kehidupan
sosial masyarakat dengan aktif memberikan bantuan dan
peduli terhadap bencana meletusnya Gunung Sinabung yang
menimpa masyarakat di sekitarnya. (Perbanas Sumut juga)
bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI)
melakukan donor darah, di mana peserta donor adalah anggota
Perbanas Sumut beserta staf masing-masing bank. (Selain itu),
memberikan bantuan berupa operasi katarak mata secara gratis
bagi masyarakat Medan dan sekitarnya yang kurang mampu.
Bagaimana sinergi Perbanas Sumut dengan Perbanas
Pusat?
Selama ini sinergi antara Perbanas Sumut dengan Perbanas
Pusat terjalin komunikasi dua arah yang sangat baik dan
berkoordinasi dalam menjalankan program kerja daerah.
Bagaimana Perbanas Sumut menyikapi implementasi
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015 dan pada
2020 untuk sektor keuangan?
Industri keuangan dinilai masih memerlukan banyak tenaga
*4/$& 5*"'& 1()%()0$+ *0& #*/*6& 6("'4*#*7$& ()*& 89:-& ;*/*6&
No. 117 Tahun XXXII Maret-Juni 2015
PROBANK
21
Profil
kurun waktu lima tahun ke depan, industri keuangan,
khususnya di bidang perbankan, masih membutuhkan tenaga
!"#$% &!'($'% !$)*+$'% ,$'(% -!-+*+ +% .!"/+0 $/% .! +/$"% 12*2)$'%
ribu karena meningkatnya perkembangan aset perbankan.
3!'$($% $)*+% /!".!"/+0 $.+% &+42/2) $'% 2'/2 % -!'+'( $/ $'%
daya saing dengan tenaga asing yang akan masuk ke Tanah
Air. Daya saing ini dinilai sangat penting agar posisi
penting di industri perbankan tidak banyak diisi oleh
/!'$($5/!'$($% $.+'(6% 7'/2 % +/2*$)8% .!"/+0 $.+% 9-1!/!'.+%
Integritas Itu Penting
Perjalanan karier Nita Ernawati, Ketua Perbanas
Sumut di industri perbankan cukup panjang. Ibu
tiga anak dan istri Martinus Tjipto, SH, MKn, Notaris
/PPAT ini memulai kariernya di industri tersebut
pada 1991. Ketika itu ia bekerja di Overseas Express
Bank Cabang Medan. Setelah itu, Nita pindah ke
Bank Danamon Cabang Medan pada 1993. Kariernya
makin moncer saat pindah ke Bank Dharmala
Cabang Medan dan dipercaya sebagai wakil
pemimpin cabang bidang marketing pada 19971999. Nita sempat kembali lagi ke Bank Danamon
pada 2001.
Dari Business Manager Bank Danamon Cabang
Medan, pada 2007 Nita pindah ke Bank Tabungan
Pensiunan Nasional (BTPN) Cabang Medan. Di bank
ini jabatan terakhirnya adalah area business leader,
dipercaya untuk membawahi area Sumatera Utara
(Sumut). Sejak 2011 sampai dengan saat ini Nita
berkarier di Bank Pundi Cabang Medan sebagai
Regional Funding Head Sumatera.
Selama menjalani karier di industri perbankan,
Nita selalu berusaha terus menimba ilmu dan
membangun kompetensi. Nita menilai, itu penting
untuk menghadapi setiap tantangan zaman—
sepanjang kariernya Nita dihadapkan dengan
beberapa krisis, seperti krisis 1997/1998 dan 2008.
“Di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi saat
ini, saya berharap, para profesional muda perbankan
tetap selalu menjaga semangat, optimistis, fokus,
dan menjunjung tinggi nilai-nilai integritas dalam
berkarya,” tutur perempuan yang hobi memasak
dan travelling ini.
Nita juga mengaku, ia menjalani hidup seperti air
mengalir. Itulah yang membuatnya selalu ikhlas dan
bersyukur. Dengan begitu, Nita bisa menjalani hidup
tanpa beban dan stres.
22
PROBANK No. 117 Tahun XXXII Maret-Juni 2015
kerja merupakan salah satu pilar penting dalam
meningkatkan kualitas SDM.
Pada era MEA nanti, tenaga kerja dari masing-masing 10
negara Asia Tenggara tidak akan dihambat untuk bekerja di
negara anggota ASEAN karena masing-masing negara memiliki
kesepakatan standar atau saling pengakuan kesetaraan. Dalam
pengakuan kesetaraan ini, seorang tenaga kerja yang telah
/!".!"/+0 $.+% &+% '!($"$% $.$*% $ $'% -!'&$1$/% 1!"*$ 2$'% ,$'(% .$-$%
bila dia bekerja di salah satu negara ASEAN. n
Wacana
Perluasan Usaha
Membawa Berkah
Perluasan usaha perusahaan pembiayaan dilakukan sejak akhir tahun lalu.
Seperti apa langkah dan peluangnya?
O
toritas Jasa Keuangan (OJK) telah merilis
Peraturan OJK Nomor 29/POJK.05/2014 tentang
Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan
yang terbit pada kuartal/triwulan keempat tahun
lalu. Peraturan baru yang dikeluarkan regulator kali ini untuk
menggantikan peraturan sebelumnya yang tertuang dalam
Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 84/PMK.012/2006
tentang Perusahaan Pembiayaan. Disebutkan pada POJK yang
baru ini, perusahaan pembiayaan ( !"#$%&'&()) bisa lebih
leluasa dari sebelumnya dalam menyalurkan pembiayaan.
Dalam peraturan baru ini diterangkan bahwa pembiayaan yang
dapat dilakukan oleh perusahaan pembiayaan terbagi menjadi
empat jenis, yakni pembiayaan investasi, pembiayaan modal
kerja, pembiayaan multiguna, dan kegiatan berbasis fee atau
jasa.
Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Nonbank
(IKNB) OJK, Dumoly F. Pardede, mengatakan, regulator
bersama dengan para pelaku industri sudah menyiapkan
peraturan ini sejak dua tahun lalu. Menurutnya, hal itu
dilakukan sebagai bentuk antisipasi perlambatan usaha
perusahaan pembiayaan yang diperkirakan
akan terjadi dalam beberapa tahun ke
depan. Dengan adanya peraturan baru ini,
para pelaku usaha harus bisa mencermati
perkembangan usaha yang sedang terjadi.
Portofolio yang selama ini banyak terjadi
di pembiayaan otomotif mulai mendapat
pukulan berat akibat melambatnya
penjualan kendaraan sejak tahun lalu.
ÒSaya tahu betul, perubahan portofolio
2.$)$% +'+% $ $'% 4!"&$-1$ % .+('+0 $'%
terhadap perusahaan pembiayaan. Tahun
ini merupakan tahun konsolidasi menurut
hemat saya. Adanya POJK ini merupakan
momentum untuk perbaikan internal, baik
dari sisi skill, infrastruktur, manajerial, tata
kelola, maupun permodalan,Ó jelasnya
pada acara seminar yang diselenggarakan
Infobank.
Dumoly menambahkan, kegiatan
pembiayaan yang dilakukan pelaku
perusahaan pembiayaan sudah menyamai
kegiatan pembiayaan yang dilakukan perbankan. Menurutnya,
pelaku industri pembiayaan harus jeli melihat hal itu sebagai
peluang/kesempatan untuk membuktikan diri dan
mempersiapkan bisnis yang lebih besar ke depannya.
Selain itu, salah satu alasan regulator menerapkan peraturan
tersebut ialah untuk mendukung perkembangan keuangan
inklusif di Tanah Air. Melalui peraturan tersebut, perusahaan
pembiayaan bisa melakukan kerja sama dengan perbankan,
perusahaan asuransi, dan manajer investasi. Pasalnya, selain
menjual produk-produk pembiayaan, produk dari perbankan,
asuransi, dan pasar modal bisa dijual melalui perusahaan
pembiayaan.
ÒOJK sudah melakukan sosialisasi di beberapa kota bekerja
sama dengan perbankan, asuransi, manajer investasi, dan
perusahaan pembiayaan untuk bisa masuk ke semua sektor
pembiayaan. Jangan khawatir dengan kondisi yang terjadi saat
ini karena tahun depan pasti kita akan bisa lebih maju lagi,Ó
ungkap Dumoly.
Perubahan peraturan tersebut ternyata mendapat tanggapan
positif dari para pelaku industri. Pasalnya, perusahaan
No. 117 Tahun XXXII Maret-Juni 2015
PROBANK
23
Wacana
pembiayaan yang biasanya menyalurkan pembiayaan ke sektor
otomotif sudah makin tertekan dengan perlambatan penjualan
produk otomotif yang terjadi belakangan ini.
Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI)
memberikan respons positif terhadap perluasan bisnis ini. Hal
itu diyakini akan makin menguatkan setiap bisnis yang
dilakukan perusahaan pembiayaan ke depannya.
Ketua APPI, Suwandi Wiratno, mengatakan, perluasan
usaha ini memang sudah pantas dilakukan karena banyaknya
sektor yang bertumbuh berkat peran perusahaan pembiayaan.
Bisa dikatakan, pembiayaan yang diberikan perusahaan
pembiayaan banyak didominasi oleh pembiayaan produktif,
bukan konsumtif.
ÒKita mendukung. Apalagi !"#$%&'&() ini benar-benar
membantu sektor-sektor yang mampu mendukung
pertumbuhan perekonomian. Industri melalui asosiasi selalu
mendukung kebijakan yang dikeluarkan regulator. Kita harus
mendukung secara positif,Ó jelasnya ketika ditemui Infobank,
beberapa waktu lalu.
Sementara itu, Direktur Utama Bank DKI, Eko
Budiwiyono, mengatakan, adanya peraturan baru tersebut akan
makin membesarkan penetrasi perusahaan pembiayaan.
Menurutnya, pihak perbankan tidak perlu merasa tersaingi
dengan hal ini, pasalnya pendanaan yang didapatkan dari
perusahaan pembiayaan masih didominasi dari pinjaman
perbankan.
Dia melanjutkan, hal itu justru ikut mengembangkan bisnis
perbankan melalui penyaluran pinjaman makin besar karena
perusahaan pembiayaan bisa mendistribusikannya dengan
merata. Ini juga yang membuat perbankan ingin memperluas
usahanya dengan memiliki anak perusahaan di sektor
pembiayaan seperti yang sudah dilakukan Bank Danamon
melalui Adira dan Bank Mandiri melalui Mandiri Tunas
Finance.
ÒAdanya peraturan baru tersebut, saya kira malah lebih
bagus. Perbankan justru ingin punya anak perusahaan
!"#$%&'&(), jadi perbankan tinggal memformulasikan apa
yang sudah ada Ôkan. Saya kira, perubahan mendasar yang
ada di industri keuangan ialah bukan hanya bank dan
!"#$%&'&(), melainkan ke arah %&'&($'" industri. Di luar
sana, semuanya sudah mengarah ke %&'&($'"* +),-$()+,Ó
ungkapnya ketika ditemui di kantor OJK, di Jakarta. n
Efrinal Sinaga, Sekjen APPI
Bersiap Diri dan Konsolidasi
Sekjen APPI, Efrinal Sinaga, menyambut baik Peraturan OJK
/PNPS 10+, .FOVSVUOZB QFSBUVSBO UFSTFCVU
akan memberi dampak baik bagi industri pembiayaan
maupun industri lainnya. Berikut ini petikan pernyataannya.
Seperti apa dampak dari peraturan baru yang diterbitkan OJK?
Akan lebih menguntungkan, khususnya untuk perusahaan
pembiayaan yang segmennya menengah ke bawah dan kecilkecil. Penyaluran pembiayaan lebih terasa pada modal kerja
dan konsumtif (multiguna).
Untuk pembiayaan investasi, akan lebih banyak dirasakan
oleh perusahaan pembiayaan yang besar-besar atau justru
lari ke perbankan. Tapi, kalau ada perbankan yang tidak bisa
dan ini masuk ke kredit investasi dengan akad sewa guna
usaha, bisa masuk ke perusahaan pembiayaan syariah atau ke
perbankan syariah.
Sektor mana yang lebih menguntungkan?
Ya tetap dari yang menengah karena bisa lebih tebal
untungnya. Dilihat dari risikonya, ini tidak terlalu besar
risikonya, kemungkinan macetnya juga kecil. Makanya, untuk
bisa mencegah hal yang macam-macam, harus punya sistem
yang mumpuni, cabang yang banyak, supaya tidak terasa.
Seperti apa persiapan dan langkah yang dilakukan?
Konsolidasi ke internal dulu. Sepanjang jualan tidak naik,
yuk beres-beres dulu di dapur. Kalau ada yang batuk-batuk, ya
diobatin. Kalau ada masalah, coba lebih cepat lagi diberesinnya.
24
PROBANK No. 117 Tahun XXXII Maret-Juni 2015
Jaringan coba ditata ulang,
SDM
disiapkan
dengan
melakukan training supaya
begitu waktunya tiba, semuanya
siap untuk take off.
Konsolidasi internal ini tidak
perlu waktu yang lama. Satu
semester juga selesai. Semester
depan, kita juga sudah siap
masuk ke maritim. Toh, persiapannya juga sudah dilakukan
dari semester lalu. Bukan barubaru ini dilakukan.
Kapan dampak peraturan
ini bisa dirasakan?
Paling cepat kelihatan profitnya itu baru semester kedua
tahun ini. Karena, dengan adanya peraturan baru ini,
semuanya berbeda dengan sebelumnya. Multifinance harus
konsolidasi dengan mengubah semua akadnya, kontraknya.
Dulu namanya lain, sekarang juga namanya lain. Ini tidak
sebentar.
Semuanya harus dibuat, diubah, dimintakan legal opinion,
harus minta persetujuan dari OJK. Kalau ini semua selesai,
harus setting ulang lagi di sistem dan ini perlu waktu.
Pengelompokan laporannya juga perlu penyesuaian. Jadi,
transisinya masih banyak. Jadi, tahun ini memang tahun konsolidasi, baik di multifinance maupun di regulator. n
Segenap Pengurus dan Anggota
PERBANAS
Mengucapkan
g
p
SELAMAT IDUL FITRI
1 SYAWAL 1436 H
MohonÊMaafÊLahirÊdanÊBatin
Download