pengaruh transaksi asing terhadap volatilitas harga

advertisement
PENGARUH TRANSAKSI ASING TERHADAP
VOLATILITAS HARGA SAHAM DI INDONESIA
RITA ANGGRIYANI
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis “Pengaruh Transaksi Asing
terhadap Volatilitas Harga Saham di Indonesia” adalah karya saya dengan arahan
dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada
perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya
yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam
teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, Oktober 2012
Rita Anggriyani
NRP. H 151104344
ABSTRACT
RITA ANGGRIYANI. The Effect of Foreign Transaction Stock Return Volatility
in Indonesia. Under direction of IMAN SUGEMA and TELISA AULIA
FALIANTY
This study considers component GARCH (CGARCH) model to
decompose the stock return volatility of composite stock price index and sectoral
stock price indices (three bigest market capitalization: finance sector, consumer
goods sector, and mining sector) into permanent and transitory component in
presence of foreign transaction. This study shows that an increase in stock returns
at net positive position will be followed by an increase in transitory volatility
components, but didn’t increase the volatility of the permanent components, both
in composite stock price index as well as sectoral stock price indices. The increase
in net position will result in increased volatilities (transitory component) is greater
than the increase stock returns, both in composite stock price index as well as
sectoral stock price indices. The effects of a shock that occured in previous stock
returns in the consumer goods sector will disapper faster than the effects of a
shock that occured in previous stock returns in the finance sector and mining
sector, both in the volatility of the permanent components and the volatility of the
transitory components.
Keywords: stock return, volatility, transitory component, permanent component,
CGARCH, half-life
RINGKASAN
RITA ANGGRIYANI. Pengaruh Transaksi Asing terhadap Volatilitas Return
Saham di Indonesia. Dibimbing oleh IMAN SUGEMA dan TELISA AULIA
FALIANTY
Penelitian ini mempergunakan model komponen GARCH (CGARCH)
untuk mendekomposisi volatilitas return saham dari indeks harga saham gabungan
dan indeks hargasaham sektoral (yang memiliki kapitalisasi pasar tiga terbesar:
sektor keuangan, sektor industri barang konsumsi, dan sektor pertambangan)
menjadi komponen permanen dan komponen transitory dengan adanya transaksi
asing.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa return saham gabungan, return
saham sektor keuangan dan return saham sektor industry barang konsumsi sangat
tergantung dengan return sebelumnya. Sedangkan return sektor pertambangan
tidak tergantung dengan return sebelumnya.
Kemudian pada saat transaksi asing bersih (net position) positif, akan
meningkatkan return saham gabungan, return saham sektor keuangan, return
saham sektor industri konsumsi dan return saham sektor pertambangan.
Peningkatan return saham pada saat net position positif akan diikuti
dengan peningkatan komponen volatilitas transitory, namun tidak meningkatkan
komponen volatilitas permanen, baik untuk return saham gabungan, return saham
sektor keuangan, return saham sektor industri barang konsumsi, maupun return
saham sektor pertambangan.
Peningkatan net position akan berdampak pada peningkatan volatilitas
(komponen transitory) yang lebih besar dibandingkan dengan peningkatan return
saham, baik untuk return saham gabungan, return saham sektor keuangan, return
saham sektor industri barang konsumsi, maupun return saham sektor
pertambangan.
Efek suatu guncangan yang terjadi pada return saham sebelumnya di
sektor industri barang konsumsi akan menghilang lebih cepat dibandingkan
dengan return saham sektor industri barang konsumsi dan return saham sektor
pertambangan, baik pada volatilitas komponen permanen maupun pada volatilitas
komponen transitory.
Kata Kunci:return saham, volatilitas, komponen transitory, komponen permanen,
CGARCH, half-life
© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya.
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan
karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu
masalah;
b. Pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya
tulis dalam bentukapapun tanpa izin IPB
PENGARUH TRANSAKSI ASING TERHADAP VOLATILITAS
RETURN SAHAM DI INDONESIA
RITA ANGGRIYANI
Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains pada
Program Studi Ilmu Ekonomi
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Muhammad Firdaus, S.P., M.Si., Ph.D.
Judul Penelitian
Nama
NRP
Program Studi
: Pengaruh Transaksi Asing terhadap Volatilitas Return
Saham di Indonesia
: Rita Anggriyani
: H 151104344
: Ilmu Ekonomi
Disetujui
Komisi Pembimbing
Dr. Ir. ImanSugema, M. Ec.
Ketua
Dr. TelisaAuliaFalianty, SE, ME
Anggota
Diketahui
Ketua Program Studi
Ilmu Ekonomi
Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr. Ir. R. Nunung Nuryartono, M.Si.
Dr. Ir. DahrulSyah, M.Sc.Agr.
Tanggal Ujian: 3 Oktober 2012 Tanggal Lulus:
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat
dan karunia-Nya sehingga tesis ini dapat diselesaikan. Tesis ini berjudul
“Pengaruh Transaksi Asing terhadap Volatilitas Return Saham di Indonesia”.
Penulis menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada Bapak Dr.
Ir. Iman Sugema, M.Ec. selaku ketua komisi pembimbing dan Ibu Dr. Telisa
Aulia Falianty, SE, ME. selaku anggota komisi pembimbing, yang dalam
kesibukannya masih meluangkan waktu dan kesabaran untuk memberikan
bimbingan, arahan, dan masukan yang sangat bermanfaat dalam penyusunan tesis
ini. Terima kasih juga disampaikan kepada Bapak Muhammad Firdaus, S.P.,
M.Si., Ph.D. selaku penguji luar komisi dan Ibu Dr. Wiwiek Rindayanti selaku
perwakilan dari Program Studi Ilmu Ekonomi.
Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
Kepala Badan Pusat Statistik Republik Indonesia dan Kepala Pusdiklat Badan
Pusat Statistik Republik Indonesia yang telah memberikan kesempatan kepada
penulis untuk melanjutkan pendidikan Program Magister pada Program Studi
Ilmu Ekonomi di Sekolah Pascasarjana (SPS) IPB. Ucapan terima kasih yang
sebesar-besarnya juga disampaikan kepada Bapak Dr. Ir. R. Nunung Nuryartono,
M.Si. beserta jajarannya selaku pengelola Program Studi Ilmu Ekonomi SPS
IPB,semua dosen yang telah mengajar penulis, dan rekan-rekan yangsenantiasa
membantu penulis selama perkuliahan dan penyelesaian tugas akhir ini.
Tak lupa penulismengucapkan terima kasih yang tak terkira kepada
suamiku tercinta Febri Wicaksono, kedua buah hatiku tercinta Muhammad Ilham
Haarits Wicaksono dan Faatih Abdullah Wicaksono, dan seluruh keluarga besar
yang telah memberikan do’a dan dukungan yang tak terkira sejak awal
perkuliahan.
Akhirnya, penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari sempurna
karena keterbatasan ilmu dan pengetahuan. Kesalahan yang terjadi merupakan
tanggung jawab penulis, sedangkan kebenaran yang ada merupakan karunia Allah
SWT. Dia jualah yang akan member balasan kepada pihak-pihak yang telah
banyak membantu penulis. Meskipun demikian, penulis berharap bahwa tesis ini
dapat memberikan kontribusi dalam proses pembangunan dan bermanfaat bagi
para pembaca sekalian.
Bogor, Oktober 2012
Rita Anggriyani RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahir di Tegal (Jawa Tengah) pada tanggal 22 Desember 1981.
Penulis merupakan sulung dari dua bersaudara pasangan Bapak Kaliman dan Ibu
Peni Sundari.
Pada tahun 1999, penulis diterima sebagai mahasiswa kedinasan Sekolah
Tinggi Ilmu Statistik Jakarta dan menyelesaikan pendidikan D-IVtersebut pada
tahun 2003.
Pada tahun 2010, penulis melanjutkan pendidikan Program Magister di
Program Studi Ilmu Ekonomi SPS IPByang merupakan kerjasama dengan
BPS,setelah sebelumnya menyelesaikan Program Alih Jenis S1 di Departemen
Ilmu Ekonomi Fakultas Ekomoni dan Manajemen IPB.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI .................................................................................................. xix
DAFTAR TABEL .......................................................................................... xxi
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xxiii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xxv
I.
PENDAHULUAN ...................................................................................
1.1 Latar Belakang ................................................................................
1.2 Perumusan Masalah ........................................................................
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................
1.4 Manfaat Penelitian ..........................................................................
1.5 Ruang Lingkup Penelitian ..............................................................
1
1
6
10
10
11
II. TINJAUAN PUSTAKA ..........................................................................
2.1 Tinjauan Teoritis ............................................................................
2.1.1 Saham ...................................................................................
2.1.2 Indeks Harga Saham .............................................................
2.1.3 Transaksi Asing ....................................................................
2.1.4 Return dan Volatilitas Saham ...............................................
2.1.5 Estimate of Volatility .............................................................
2.1.6 Arus Modal Asing dan Harga Aset .......................................
2.2 Tinjauan Empiris ............................................................................
2.3 Kerangka Pemikiran .......................................................................
2.4 Hipotesis Penelitian ........................................................................
13
13
13
14
16
20
21
23
25
27
29
III. METODE PENELITIAN .........................................................................
3.1 Sumber Data ...................................................................................
3.2 Definisi Operasional Peubah ..........................................................
3.3 Metode Analisis ..............................................................................
3.3.1 Analisis Deskriptif ................................................................
3.3.2 Analisis Kuantitatif ..............................................................
31
31
31
32
32
32
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ...............................................................
4.1 Statistik Deskriptif Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan
Indeks Sektoral Harian, 2007-2012 .................................................
4.2 Pemodelan Volatilitas ......................................................................
41
41
44
V. SIMPULAN DAN SARAN .....................................................................
5.1 Simpulan ...........................................................................................
5.2 Saran .................................................................................................
51
51
52
xix DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................
LAMPIRAN ....................................................................................................
xx 53
57
DAFTAR TABEL
Halaman
1
Ringkasan Statistik Return Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan
Indeks Sektoral Harian, 2007-2012 ........................................................
41
2
Deteksi Efek ARCH pada Model ARIMA ..............................................
45
3
Uji Model CGARCH(1,1) .......................................................................
46
4
CGARCH(1,1)-Dampak Guncangan Transaksi Asing terhadap Return
Saham Gabungan, Return Saham Sektoral dan Volatilitas .....................
48
xxi xxii DAFTAR GAMBAR
Halaman
1
Nilai Kepemilikan Saham oleh Asing/Lokal, 2010-2011 (Rp miliar) ....
2
2
Kapitalisasi Pasar per Sektor di Bursa Efek Indonesia, 2007-2012 .........
4
3
Pergerakan Transaksi Asing Bersih, 2007-2012 .....................................
6
4
Kerangka Pemikiran ................................................................................
29
5
Plot Data Runtun Waktu Return Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG), Return Sektor Keuangan, Sektor Industri Barang Konsumsi
dan Sektor Pertambangan, 2007-2012 .................................................
44
xxiii xxiv DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1
Uji Stasioneritas Data Return Indeks Harga Saham Gabungan ..............
57
2
Uji Stasioneritas Data Return Indeks Sektor Keuangan .........................
58
3
Uji Stasioneritas Data Return Indeks Sektor Industri Barang Konsumsi
...................................................................................................... ................ 59
4
Uji Stasioneritas Data Return Indeks Sektor Pertambangan ...................
60
5
Uji Stasioneritas Data Transaksi Asing Bersih/Foreign Net Purchase
(FNP) .......................................................................................................
61
Uji Stasioneritas Data Volume Perdagangan Saham di Bursa Efek
Indonesia (BEI) .......................................................................................
62
7
Correlogram Data Return Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ........
63
8
Correlogram Data Return Indeks Sektor Keuangan ................................
64
9
Correlogram Data Return Indeks Sektor Konsumsi ................................
65
10 Correlogram Data Return Indeks Sektor Pertambangan .........................
66
11 Model ARIMA(2,0,1) Data Return Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) .....................................................................................................
67
12 Correlogram Residual Model ARIMA(2,0,1) Data Return Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) ........................................................................
68
13 Correlogram Residual Kuadrat Model ARIMA(2,0,1) Data Return
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) .................................................
69
14 Uji ARCH-LM Model ARIMA(2,0,1) Data Return Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) ........................................................................
70
15 Model ARIMA(2,0,0) Data Return Indeks Sektor Keuangan .................
71
16 Correlogram Residual Model ARIMA(2,0,0) Data Return Indeks
Sektor Keuangan .....................................................................................
72
17 Correlogram Residual Kuadrat Model ARIMA(2,0,0) Data Return
Indeks Sektor Keuangan ..........................................................................
73
6
xxv 18 Uji ARCH-LM Model ARIMA(2,0,0) Data Return Indeks Sektor
Keuangan ..................................................................................................
74
19 Model ARIMA(2,0,1) Data Return Indeks Sektor Industri Barang
Konsumsi ..................................................................................................
75
20 Correlogram Residual Model ARIMA(2,0,1) Data Return Indeks
Sektor Industri Barang Konsumsi ............................................................
76
21 Correlogram Residual Kuadrat Model ARIMA(2,0,1) Data Return
Indeks Sektor Industri Barang Konsumsi ................................................
77
22 Uji ARCH-LM Model ARIMA(2,0,1) Data Return Indeks Sektor
Industri Barang Konsumsi ........................................................................
78
23 Model ARIMA(2,0,0) Data Return Indeks Sektor Pertambangan ...........
79
24 Correlogram Residual Model ARIMA(2,0,1) Data Return Indeks
Sektor Pertambangan ...............................................................................
80
25 Correlogram Residual Kuadrat Model ARIMA(2,0,1) Data Return
Indeks Sektor Pertambangan .....................................................................
81
26 Uji ARCH-LM Model ARIMA(2,0,1) Data Return Indeks Sektor
Pertambangan ...........................................................................................
82
27 Model Component GARCH(1,1) Data Return Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) ....................................................................................
83
28 Model Component GARCH(1,1) Data Return Indeks Sektor Keuangan
84
29 Model Component GARCH(1,1) Data Return Indeks Sektor Industri
Barang Konsumsi .....................................................................................
85
30 Model Component GARCH(1,1) Data Return Indeks Sektor
Pertambangan ...........................................................................................
86
31 Correlogram Residual Model CGARCH(1,1) Data Return Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) ........................................................................
87
32 Correlogram Residual Kuadrat Model CGARCH(1,1) Data Return
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ..................................................
88
33 Uji ARCH-LM Model CGARCH(1,1) Data Return Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) ........................................................................
89
34 Correlogram Residual Model CGARCH(1,1) Data Return Indeks
Sektor Keuangan ......................................................................................
90
xxvi 35 Correlogram Residual Kuadrat Model CGARCH(1,1) Data Return
Indeks Sektor Keuangan ..........................................................................
91
36 Uji ARCH-LM Model CGARCH(1,1) Data Return Indeks Sektor
Keuangan .................................................................................................
92
37 Correlogram Residual Model CGARCH(1,1) Data Return Indeks
Sektor Industri Barang Konsumsi ...........................................................
93
38 Correlogram Residual Kuadrat Model CGARCH(1,1) Data Return
Indeks Sektor Industri Barang Konsumsi ................................................
94
39 Uji ARCH-LM Model CGARCH(1,1) Data Return Indeks Sektor
Industri Barang Konsumsi .......................................................................
95
40 Correlogram Residual Model CGARCH(1,1) Data Return Indeks
Sektor Pertambangan ...............................................................................
96
41 Correlogram Residual Kuadrat Model CGARCH(1,1) Data Return
Indeks Sektor Pertambangan ...................................................................
97
42 Uji ARCH-LM Model CGARCH(1,1) Data Return Indeks Sektor
Pertambangan ..........................................................................................
98
xxvii I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kondisi likuiditas global telah diakui memiliki kontribusi yang besar
terhadap lonjakan arus masuk modal di negara-negara pasar berkembang atau
emerging markets. Pada saat yang sama, negara-negara emerging markets tersebut
telah melonggarkan aturan mengenai investasi portofolio asing melalui liberalisasi
pasar modal yang selanjutnya memacu arus masuk portofolio. Dan emerging
markets mempunyai peran besar dalam peningkatan portofolio internasional. Hal
ini berdasarkan pendapat bahwa prospek pertumbuhan ekonomi emerging markets
yang tinggi, average returns yang tinggi, volatilitas yang tinggi dan korelasi yang
rendah antara emerging markets dengan developed markets (Schill, 2006). Mollah
dan Mobarek (2009) juga menemukan volatilitas di emerging markets lebih tinggi
dibandingkan developed markets. Volatilitas yang tinggi di emerging markets
terkait dengan faktor makroekonomi seperti politik, sosial dan ekonomi.
Pasar modal memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan
perekonomian tergantung pada tingkat keterbukaan pasar modal terhadap pemodal
asing atau yang sering disebut sebagai liberalisasi pasar keuangan. Levine (1997)
mengatakan bahwa penghapusan hambatan investasi asing untuk masuk ke suatu
negara dapat meningkatkan fungsi dari pasar modal domestik negara tersebut
melalui peningkatan likuiditas pasar. Likuiditas pasar ini merupakan akibat dari
dua manfaat penting yang dihasilkan oleh liberalisasi pasar keuangan, yaitu
pengintegrasian pasar domestik ke pasar internasional dan peningkatan standar
keterbukaan informasi dan sistem akuntansi perusahaan domestik yang didorong
keinginan untuk menarik dana asing.
Keterbukaan atau liberalisasi pasar modal yang tinggi, selain dapat memacu
peningkatan indeks saham dan pertumbuhan ekonomi, dapat menjadi bumerang
bagi perekonomian Indonesia. Penelitian Simorangkir (2008) menemukan bahwa
financial openness yang diproksi dari foreign direct investment dan portfolio
investment inflow dibagi dengan GDP memberikan efek negatif terhadap output.
Keterbukaan sektor keuangan menyebabkan perekonomian Indonesia menjadi
lebih rapuh terhadap efek pembalikan modal yang kemudian menurunkan output. 2 Liberalisasi pasar modal telah mendorong keluar-masuknya modal secara
bebas pada negara-negara emerging markets, tidak terkecuali di Indonesia. Hal ini
menyebabkan banyaknya arus modal jangka pendek yang masuk ke Indonesia
yang berada di bawah kendali investor asing yang ingin mencari tingkat
pengembalian yang lebih tinggi.
Di Indonesia, liberalisasi pasar modal ditandai dengan keluarnya Keputusan
Menteri Keuangan Nomor 1055/KMK.013/1989 tentang Pembelian Saham oleh
Pemodal asing melalui Pasar Modal. Peraturan tersebut memperbolehkan
kepemilikan asing sampai 49% di pasar perdana maupun 49% kepemilikan saham
di bursa. Keran liberalisasi semakin terbuka lebar setelah pemerintah kemudian
memperbolehkan pemodal asing untuk memiliki 100% saham emiten Indonesia
yang diperdagangkan di bursa efek sejak tahun 1997. Hal ini membuat dana asing
Nilai kepemilikanAxis Title
Saham (Rp Miliar)
yang ke pasar modal Indonesia relatif menjadi cukup besar.
2,500,000.00
2,000,000.00
1,500,000.00
1,000,000.00
500,000.00
‐
Axis Title
Periode
Lokal
Asing
Sumber: BEI, berbagai tahun (diolah)
Gambar 1 Nilai Kepemilikan Saham oleh Asing/Lokal, 2010-2011 (Rp miliar)
Berdasarkan kewarganegaraannya, investor di pasar modal dibedakan dalam
dua kelompok besar, yakni investor dalam negeri atau lokal dan investor asing.
Gambar 1 menyajikan kepemilikan saham oleh investor asing dan domestik di
pasar modal Indonesia. Kepemilikan saham oleh investor asing selama tahun 2010
hingga 2011 menunjukkan tren meningkat dan berfluktuasi. Porsi kepemilikan
asing selama kurun waktu 2010-2011 lebih besar dibandingkan kepemilikan
3
saham oleh investor domestik, dimana kepemilikan saham oleh investor asing
selama 2010-2011 mencapai lebih dari 50 persen.
Porsi kepemilikan saham yang tinggi oleh asing di pasar saham Indonesia
sangat terkait dengan nilai besar dan pertumbuhan kapitalisasi pasar perusahaan
karena kapitalisasi pasar seringkali menjadi ukuran penting bagi keberhasilan atau
kegagalan perusahaan. Hal ini dapat terlihat dari penurunan kapitalisasi pasar
saham Indonesia di seluruh sektor yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
mulai pertengahan 2008 hingga awal 2009 akibat krisis keuangan global yang
bermula dari kasus subprime mortgage yang terjadi di Amerika. Krisis keuangan
global tersebut telah memberikan tekanan di pasar modal Indonesia hingga
menyebabkan merosotnya likuiditas di sektor perbankan dan institusi keuangan
nonbank yang disertai berkurangnya transaksi keuangan. Hal ini dikarenakan
banyaknya investor dari institusi keuangan Amerika yang melepas kepemilikan
saham mereka di pasar modal Indonesia untuk menyelamatkan perusahaan mereka
sendiri yang terkena krisis keuangan (Kuncoro, 2009).
Gambar 2 menyajikan kapitalisasi pasar dari sembilan sektor yang terdaftar
di BEI, empat sektor diantaranya, yaitu sektor keuangan, infrastruktur,
pertambangan dan industri barang konsumsi memiliki kapitalisasi lebih dari 10
persen. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor-sektor tersebut lebih rentan
terhadap pergerakan investor asing dibandingkan dengan sektor yang memiliki
kapitalisasi pasar kurang dari 10 persen yang ditunjukkan dengan lebih
fluktuatifnya keempat sektor tersebut. Fluktuasi sektor-sektor tersebut berbeda
satu sama lain. Menurut Hammoudeh et al. (2009), sektor dengan tingkat
teknologi tinggi akan diminati oleh investor ketika perekonomian booming dan
sektor industri barang konsumsi yang memiliki sifat non-cyclical akan diminati
oleh investor ketika perekonomian lesu. Selain itu, sektor pertambangan lebih
fluktuatif dibandingkan sektor lainnya karena sektor ini lebih dipengaruhi oleh
faktor eksternal seperti regulasi lingkungan dan harga komoditas sektor ini juga
dipengaruhi oleh harga barang tambang dunia.
Dari Gambar 2 terlihat bahwa keempat sektor yang memiliki kapitalisasi
pasar lebih dari 10 persen adalah sektor keuangan dari tahun ke tahun memiliki
kapitalisasi pasar terbesar. Hal ini dikarenakan sektor keuangan berhubungan
4 dengan segala aktifitas transaksi masyarakat. Semakin banyak masyarakat
menabung, memanfaatkan layanan perbankan, dan aplikasi kredit dapat
meningkatkan kinerja perbankan yang pada akhirnya akan meningkatkan harga
saham sektor tersebut.
Sektor infrastruktur memiliki kapitalisasi pasar terbesar setelah sektor
keuangan. Berdasarkan persentase kapitalisasi pasar, mulai pertengahan 2009,
sektor infrastruktur mengalami penurunan kapitalisasi pasar yang cukup
signifikan. Sedangkan kapitalisasi pasar sektor industri barang konsumsi dari
tahun 2008 mengalami kenaikan (Gambar 2). Kenaikan kapitalisasi pasar sektor
industri barang konsumsi terkait dengan peningkatan pendapatan masyarakat yang
akhirnya meningkatkan kemampuan daya beli untuk mengkonsumsi makanan dan
minuman.
Selain ketiga sektor tersebut, sektor pertambangan juga memiliki
kapitalisasi pasar lebih dari 10 persen (Gambar 2). Hal ini dikarenakan sektor
pertambangan merupakan salah satu sektor yang membutuhkan dana sangat besar
dan teknologi tinggi serta tingkat pengembalian dari sektor tersebut juga relatif
tinggi sehingga sangat menarik bagi investor, terutama investor asing dengan
modal yang kuat.
Kapitalisasi Pasar per
Sektor (%)
30
25
20
15
10
5
2007:01
2007:04
2007:07
2007:10
2008:01
2008:04
2008:07
2008:10
2009:01
2009:04
2009:07
2009:10
2010:01
2010:04
2010:07
2010:10
2011:01
2011:04
2011:07
2011:10
2012:01
2012:04
0
Periode
Pertanian
Pertambangan
Industri Dasar
Aneka Industri
Barang Konsumsi
Properti
Infrastruktur
Keuangan
Perdagangan
Sumber: BEI, berbagai tahun (diolah)
Gambar 2 Kapitalisasi Pasar per Sektor di Bursa Efek Indonesia, 2007-2012
5
Aksi investor asing selalu menjadi perhatian. Irama pergerakannya di pasar
selalu memberikan kontribusi yang signifikan dalam menentukan arah pasar.
Ketika investor asing masuk, indikator perdagangan saham di BEI melompat naik.
Bahkan, masuknya mereka tidak jarang ikut membangunkan saham-saham lapis
dua yang dikenal sebagai saham tidur (sleeping stock). Sebaliknya, ketika investor
asing berbondong-bondong keluar, IHSG ikut terseret jatuh. Begitulah
kejadiannya selama bertahun-tahun di BEI, investor asing seolah-olah menjadi
faktor penentu dalam perubahan indeks dan arah pasar. Akibatnya, investor asing
seringkali tampil sebagai komandan lapangan. Dari Gambar 3 terlihat bahwa
transaksi yang dilakukan oleh investor asing di pasar modal Indonesia sangat
fluktuatif.
Pada Gambar 3 terlihat adanya peningkatan fluktuasi transaksi yang
dilakukan oleh investor asing di pasar saham Indonesia pada tahun 2008. Hal ini
diawali dengan adanya kredit macet di sektor properti Amerika Serikat tahun
2007 yang kemudian menyebar ke lembaga keuangan maupun lembaga
pembiayaan di Eropa. Krisis ini berlanjut hingga tahun 2008 dan menyebabkan
indeks bursa saham seluruh dunia berguguran. Meskipun demikian, tingkat
likuiditas global saat ini relatif masih sangat tinggi dan diperkirakan tujuan
investasi investor akan ditujukan ke berbagai bursa-bursa emerging markets yang
dapat memberikan potensi tingkat pengembalian/imbal hasil (expected return)
yang menarik bagi investor, tak terkecuali Indonesia. Inilah sebenarnya berkah
terselubung krisis keuangan AS untuk pasar modal Indonesia (Hadi, 2012).
Adanya krisis pada tahun 2008 memaksa bank sentral di Amerika dan Eropa
mengambil berbagai kebijakan untuk menyelamatkan perekonomian mereka
sehingga para investor kembali percaya bahwa perekonomian di negara-negara
tersebut dan dunia akan pulih. Hal ini kembali menurunkan fluktuasi di pasar
saham Indonesia. Sementara itu, pada tahun 2011 kembali terlihat adanya
peningkatan fluktuasi transaksi asing di pasar saham karena ketidakpastian
penyelesaian krisis di Eropa. Hal ini menyebabkan investor asing kembali
memasuki bursa saham negara-negara emerging markets seperti Indonesia
(Gambar 3).
6 Transaksi Asing Bersih (Miliar Rp)
Periode
Sumber: BEI, berbagai Tahun (diolah)
Gambar 3 Pergerakan Transaksi Asing Bersih, 2007-2012
1.2 Perumusan Masalah
Dari latar belakang di atas telah dijelaskan bahwa keterbukaan sektor
keuangan, selain dapat memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi
suatu negara, dapat juga menyebabkan perekonomian menjadi lebih rapuh.
Liberalisasi pasar modal telah menarik aliran modal asing. Hal ini dapat
meningkatkan likuiditas serta mengurangi cost of capital (Bekaert & Harvey,
2000), tetapi masih menjadi catatan bahwa mobilitas atau aliran modal dapat
menyebabkan extreme volatility bagi emerging market seperti yang pernah terjadi
pada tahun 1997 ketika terjadi krisis moneter di wilayah Asia. Hal ini dikarenakan
sebagian besar negara pasar berkembang merupakan negara dengan perekonomian
terbuka kecil, dimana pasar modal mereka memiliki kapitalisasi pasar dan tingkat
likuiditas yang relatif kecil dibandingkan pasar modal yang telah maju seperti
Amerika Serikat dan Eropa, oleh karena itu sangat rentan terhadap pergerakan
modal internasional. Dengan
dikeluarkannya
Keputusan
Menteri
Keuangan
Nomor
1055/KMK.013/1989 tentang Pembelian Saham oleh Pemodal asing melalui Pasar
Modal, keran investasi asing mulai terbuka sehingga semakin marak masuk ke
7
pasar modal Indonesia. Konsekuensinya, porsi kepemilikan asing di pasar modal
Indonesia terus meningkat secara signifikan. Dengan meningkatnya porsi kepemilikan asing di pasar modal Indonesia,
timbul perdebatan mengenai manfaat yang didapat dari hal tersebut serta
menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi perekonomian domestik. Di satu sisi
masuknya aliran modal asing dapat meningkatkan likuiditas dan mengurangi cost
of capital, namun di sisi lain mobilitas modal asing juga dapat menyebabkan
extreme volatility.
Derasnya modal asing yang masuk ke Indonesia sebagai dana jangka
pendek (hot money) yang sangat rentan terhadap sentimen dan gejolak di pasar
modal menimbulkan kekhawatiran akan penarikan dana secara besar-besaran dan
mendadak yang akan memberikan goncangan hebat bagi pasar modal domestik.
Hal ini dapat ditunjukkan pada saat IHSG melesat memecahkan rekor di posisi
4.193,44 pada 1 Agustus 2011 lalu, disebut-sebut bahwa fenomena ini
dikarenakan masuknya investor asing yang percaya bahwa perekonomian
Indonesia masih akan tumbuh di atas 6 persen, bahkan di tengah perekonomian
global yang diwarnai oleh krisis Eropa. Indonesia dinilai sebagai negara yang
layak investasi. Tapi, ketika IHSG kemudian turun ke titik 3.269,45 pada 4
Oktober 2011, disebut-sebut bahwa investor asing tengah lesu karena krisis di
Eropa yang semakin mengkhawatirkan. Fakta ini membuktikan bahwa investor
asing bisa keluar masuk pasar dengan alasan apapun.
Derasnya aliran modal asing yang masuk ke negara-negara berkembang
termasuk Indonesia telah menjadi fenomena umum sejak dua dekade terakhir.
Sebagai negara kecil yang terbuka, kebijakan moneter Indonesia, dalam hal ini
suku bunga yang relatif tinggi dibandingkan dengan negara maju, dianggap
menjanjikan imbal hasil (return) yang lebih besar bagi investor. Hal ini tentunya
menarik banyak investor asing untuk berinvestasi di Indonesia.
Besarnya investasi asing membuat Indonesia memiliki ketergantungan yang
semakin tinggi terhadap investor asing. Konsekuensinya adalah rentannya
perekonomian domestik atas gejolak yang ditimbulkan oleh investor asing. Dalam
konteks pasar modal, ketergantungan tersebut dikhawatirkan meningkatkan resiko
yang dihadapi Indonesia atau membuat volatilitas di pasar modal relatif tinggi.
8 Estimasi volatilitas di pasar saham sangatlah penting dalam perekonomian
dan keuangan. Hal ini dikarenakan volatilitas yang tinggi pada harga saham
memiliki efek negatif terhadap perekonomian serta juga dapat menyebabkan
perubahan keputusan investasi yang diambil investor, yang pada akhirnya pada
jangka panjang menyebabkan jatuhnya arus modal baik dari investor asing
maupun domestik (Rajput et al., 2012). Levine dan Zervos (1998) juga
mengemukakan bahwa volatilitas yang tinggi juga dapat menghambat
pertumbuhan dan perkembangan pasar keuangan, dimana pasar keuangan
memainkan peran penting dalam pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Volatilitas yang tinggi di pasar saham negara emerging markets juga sering
dikaitkan dengan ketidakstabilan finansial (Kaminsky & Reinhart, 2001).
Volatilitas merupakan indikator dari resiko relatif harga saham, dimana
semakin besar volatilitas maka semakin besar pula resikonya. Pada umumnya,
harga saham akan meningkat sejalan dengan meningkatnya volatilitas. Hal ini
disebabkan karena pergerakan tajam pada harga akan memberikan manfaat return
yang lebih besar bagi investor. Inilah yang kemudian banyak disebut sebagai
hubungan positif antara resiko dengan return yaitu semakin tinggi resiko maka
semakin tinggi pula imbal hasilnya.
Kecenderungan investor untuk mengandalkan pergerakan harga saham atau
volatilitas sebagai dasar dari pengambilan keputusan mencerminkan aliran dana
jangka pendek yang hanya berorientasi pada keuntungan dari margin perdagangan
harga saham. Hal inilah yang umumnya terjadi di pasar modal, sehingga
manfaatnya pada perekonomian selalu dipertanyakan. Jika investor asing yang
mendominasi pasar modal Indonesia lebih mengarah pada praktek semacam ini
dibandingkan dengan pertimbangan fundamental, maka hal ini jelas perlu
diwaspadai agar kinerja pasar modal domestik dapat dipertahankan dan stabil.
Perkembangan
ekonometrik
pada
pasar
keuangan
akhir-akhir
ini
menunjukkan bukti adanya hubungan nonlinier atau volatilitas pada return saham
di developed markets dan khususnya di emerging markets. Hal ini dikarenakan
investor di emerging markets pada umumnya menerima informasi tidak sempurna
dan tidak rasional dalam memprediksi harga saham sehingga menyebabkan harga
saham menyimpang dari nilai fundamentalnya.
9
Perdebatan mengenai pengaruh transaksi asing bagi tingkat resiko di BEI
menjadi fokus pada studi ini. Dan karena adanya arus informasi maupun pedagang
yang heterogen di pasar saham sehingga volatilitas harga saham berisi komponen
permanent dan komponen transitory (Zarour dan Siriopoulos, 2008), maka studi
ini mencoba untuk melihat keberadaan transaksi asing dalam komponen permanen
maupun komponen transitory volatilitas harga saham gabungan di Indonesia.
Kemudian akan dilihat juga bagaimana keberadaan transaksi asing dalam
komponen permanen maupun komponen transitory volatilitas harga saham
sektoral yang memiliki kapitalisasi terbesar yaitu sektor keuangan, sektor industri
barang konsumsi dan sektor pertambangan. Hal ini dikarenakan sektor dengan
kapitalisasi tebesar lebih rentan tehadap pergerakan investor asing sehingga lebih
fluktuatif.
Maka yang menjadi pertanyaan dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana pengaruh transaksi investor asing terhadap return saham gabungan,
dari tahun 2007-2012?
2. Bagaimana pengaruh transaksi investor asing terhadap return saham sektoral ,
dari tahun 2007-2012?
3. Bagaimana pengaruh transaksi investor asing terhadap komponen volatilitas
permanen (permanent volatility component) dari return saham gabungan, dari
tahun 2007-2012?
4. Bagaimana pengaruh transaksi investor asing terhadap komponen volatilitas
permanen (permanent volatility component) dari return saham sektoral, dari
tahun 2007-2012?
5. Bagaimana pengaruh transaksi investor asing terhadap komponen volatilitas
transitory (transitory volatility component) dari return saham gabungan, dari
tahun 2007-2012?
6. Bagaimana pengaruh transaksi investor asing terhadap komponen volatilitas
transitory (transitory volatility component) dari return saham gabungan, dari
tahun 2007-2012?
7. Berapa lama guncangan yang ditimbulkan oleh transaksi investor asing
terhadap komponen volatilitas permanen di pasar saham masing-masing
sektor?
10 8. Berapa lama guncangan yang ditimbulkan oleh transaksi investor asing
terhadap komponen volatilitas transitory di pasar saham sektor keuangan,
sektor industry barang konsumsi dan sektor pertambangan?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari apakah transaksi investor
asing berpengaruh terhadap:
1. Untuk mempelajari apakah transaksi investor asing berpengaruh terhadap
return saham gabungan maupun return saham sektoral dari tahun 2007-2012.
2. Untuk mempelajari apakah transaksi investor asing berpengaruh terhadap
komponen volatilitas permanen (permanent volatility component) dari return
saham di Indonesia, baik return saham gabungan maupun return saham
sektoral dari tahun 2007-2012.
3. Untuk mempelajari apakah transaksi investor asing berpengaruh terhadap
komponen volatilitas transitory (transitory volatility component) dari return
saham di Indonesia, baik return saham gabungan maupun return saham
sektoral dari tahun 2007-2012.
4. Dari ketiga sektor yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar yaitu sektor
keuangan, sektor industri barang konsumsi dan sektor pertambangan, sektor
manakah yang akan mengalami guncangan transaksi investor asing paling lama
atau paling cepat.
1.4 Manfaat Penelitian
Studi ini dilakukan dengan harapan dapat menambah khasanah literatur
yang mampu memberikan pedoman bagi penelitian atau studi selanjutnya. Selain
itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi otoritas pasar
saham yaitu Badan Pengawas Pasar Modal dalam menentukan kebijakan
khususnya mengenai transaksi investor asing di pasar saham Indonesia dan harga
saham.
11
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Guna menghindari terlalu luasnya cakupan permasalahan dan supaya tidak
menyimpang dari tujuan penelitian, maka dalam pembahasan penelitian ini
dibatasi pada hal-hal sebagai berikut:
1. Observasi yang dilakukan meliputi periode Januari 2007 sampai dengan Mei
2012.
2. Transaksi investor asing yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah nilai
perdagangan saham yang dilakukan oleh investor asing di Bursa Efek
Indonesia (BEI).
3. Kajian difokuskan pada perekonomian Indonesia.
12 II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
2.1 Tinjauan Teoritis
2.1.1 Saham
Saham merupakan salah satu instrumen pasar keuangan yang paling
populer. Saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal seseorang
atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas (Bursa
Efek Indonesia, 2012). Dengan penyertaan modal tersebut, maka pihak tersebut
memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas aset perusahaan dan
berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Saham menjadi salah satu instrumen yang menarik bagi para investor
dikarenakan dengan memiliki saham para investor memiliki dua keuntungan
(Bursa Efek Indonesia, 2012), yaitu:
1. Dividen
Dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan
dan berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan yang diberikan
setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS.
2. Capital Gain
Capital Gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual. Capital
Gain terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar
sekunder.
Namun, sebagai instrumen investasi, saham juga memiliki resiko antara
lain (Bursa Efek Indonesia, 2012):
1. Capital Loss
Merupakan kebalikan dari Capital Gain, yaitu suatu kondisi dimana
investor menjual saham lebih rendah dari harga beli.
2. Resiko Likuiditas
Perusahaan yang sahamnya dimiliki, dinyatakan bangkrut oleh pengadilan,
atau perusahaan tersebut dibubarkan. Dalam hal ini hak klaim dari
pemegang saham mendapat prioritas terakhir. Setelah seluruh kewajiban
perusahaan dapat dilunasi (dari hasil penjualan kekayaan perusahaan), jika
masih terdapat sisa dari hasil penjualan tersebut, maka sisa tersebut dibagi
14 secara proposional kepada seluruh pemegang saham. Namun, jika tidak
terdapat sisa kekayaan perusahaan, maka pemegang saham tidak akan
memperoleh hasil dari likuiditas tersebut. Kondisi ini merupakan resiko
terberat yang mungkin dialami oleh pemegang saham.
Menurut Bursa Efek Indonesia (2012), di dalam pasar sekunder atau dalam
aktivitas perdagangan saham sehari-hari, harga-harga saham mengalami fluktuasi
baik berupa kenaikan maupun penurunan. Pembentukan harga saham terjadi
karena adanya permintaan dan penawaran atas saham tersebut. Permintaan dan
penawaran atas saham tersebut terjadi karena banyak faktor, baik yang sifatnya
spesifik atas saham tersebut (kinerja perusahaan dan industri dimana perusahaan
tersebut bergerak) maupun faktor yang sifatnya makro seperti kondisi
perekonomian mau pun non perekonomian suatu negara dimana perusahaan
tersebut berada.
2.1.2 Indeks Harga Saham
Seperti halnya kebanyakan variabel perekonomian lainnya, perubahan harga
saham mengalami fluktuasi yang tinggi dan cepat. Bean (2003) menjelaskan
bahwa harga ekuitas dapat berubah-ubah karena adanya komponen gelembung
eksogen dan stokastik, yang tumbuh secara eksponensial tetapi dapat runtuh.
Selama munculnya gelembung yang terjadi karena suku bunga (premi)
pembiayaan eksternal rendah, maka investasi, permintaan agregat dan output
potensial meningkat, sedangkan bila gelembung runtuh maka proses berbalik.
Detken dan Smets (2004) menemukan bahwa harga saham dan real estate
meningkat kuat selama periode boom atau kenaikan harga yang cepat dan jatuh
setelah periode boom. Pertumbuhan riil PDB sangat kuat selama boom, yang
terutama didorong oleh investasi swasta total dan juga tercermin dalam investasi
perumahan. Dan untuk melihat perubahan atau untuk memperbandingkan suatu
keadaan dengan keadaan sebelumnya, suatu formula statistik yang dapat
digunakan adalah angka indeks.
Indeks
harga
saham
sering
dipakai
sebagai
barometer
kondisi
perekonomian di berbagai negara yang didasarkan pada kondisi pasar terkini. Hal
ini karena indeks harga saham dapat menjadi konklusi dari pengaruh simultan
15
berbagai faktor, khususnya fenomena yang terjadi dalam perekonomian (BEI,
2012).
Penggunaan indeks harga saham memiliki manfaat sebagai berikut (BEI,
2012):
1. Memudahkan pemantauan atas perubahan harga saham setiap hari.
2. Memberikan gambaran mengenai perkembangan dari pasar modal secara
keseluruhan bahkan dapat menjadi indikator perkembangan perekonomian
suatu Negara.
3. Untuk
memperkirakan
keuntungan/kerugian
yang
akan
diperoleh
berdasarkan ramalan atas gejala harga saham di waktu yang akan datang.
Salah satu indeks harga saham yang dikeluarkan oleh Bursa Efek
Indonesia (BEI) adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG merupakan
indikator pasar saham yang dihitung secara menyeluruh dari total saham yang
tercatat di BEI. IHSG mulai diperkenalkan tanggal 1 April 1983 untuk seluruh
saham preferen dengan tahun dasar tanggal 10 Agustus 1982, dimana saat itu
IHSG dihitung dengan nilai 100 dengan total saham yang tercatat sebanyak 13
saham. IHSG dihitung dengan menggunakan rata-rata tertimbang dari nilai pasar
(market value weighted average index). Secara matematis dapat ditulis:
100
(2.1)
Dimana:
NPt : rata-rata tertimbang nilai pasar (jumlah lembar tercatat di bursa dikalikan
dengan harga pasar per lembar) dari saham-saham pada hari ke-t
ND : rata-rata tertimbang nilai pasar saham-saham pada tanggal 10 Agustus
1982
Selain IHSG yang bersifat umum, BEI juga mengeluarkan Indeks Saham
Sektoral yang merupakan sub indeks dari IHSG. Indeks Saham Sektoral ini
dikenal dengan nama IDX Sectoral Indices. Indeks ini mulai diperkenalkan
tanggal 2 Januari 1996. Indeks ini sangat berguna bagi para analis maupun
investor untuk menelaah sektor mana saja yang sedang tumbuh dan sedang turun.
IDX Sectoral Indices diklasifikasikan menjadi 9 sektor, yaitu sektor pertanian,
sektor pertambangan, sektor industri dasar dan kimia, sektor aneka industri, sektor
16 industri barang konsumsi, sektor properti, sektor infrastruktur, sektor keuangan,
dan sektor perdagangan.
2.1.3 Transaksi Asing
Sebagai akibat dari liberalisasi pasar modal menyebabkan transaksi di pasar
modal Indonesia semakin berkembang dan tanpa batasan negara. Jika sebelum era
liberalisasi transaksi hanya dapat dilakukan antar investor domestik, namun
setelah era liberalisasi transaksi dapat dilakukan antar investor domestik, antar
investor asing, maupun dari investor domestik ke investor asing atau sebaliknya.
Hal ini punya pengaruh positif bagi investor, baik lokal maupun asing, karena
para investor dapat membentuk suatu portofolio sekuritas optimal yang
merupakan kombinasi saham domestik maupun asing, sehingga akan mereduksi
tingkat resiko dari suatu portofolio saham. Aliran modal antar negara tidak akan
berhenti karena investasi dalam konteks global berbasis internasional akan
meningkatkan return dan mengurangi tingkat resiko bagi investor.
Teori mengenai pembatasan kepemilikan saham oleh investor asing
dikemukakan oleh Stulz dan Wasselfallen (1995) sebagai berikut:
“under certain condition, such restriction maximaze firm value”.
Hal ini terjadi karena adanya perbedaan fungsi permintaan saham domestik antara
investor lokal investor asing, dimana permintaan investor asing kurang elastis
dibandingkan permintaan investor lokal. Kondisi ini dapat dimanfaatkan oleh
perusahaan untuk menjual saham dengan premium pada investor asing, sehingga
perusahaan dapat dikatakan akan menciptakan nilai (Haryanto, 1998).
Ketertarikan investor asing untuk ikut berpartisipasi dalam suatu bursa,
terutama bursa yang relatif baru berkembang disebabkan oleh tingkat efisiensi
bursa yang masih rendah. Penyebabnya antara lain adalah pertama, adanya
asymmetric information, dimana investor asing umumnya mempunyai banyak
akses pada informasi sehingga mereka lebih banyak memanfaatkan peluang ini
untuk memperoleh keuntungan. Kedua, adanya sikap dari emiten, terutama Chief
Executive Officer (CEO)-nya yang lebih tanggap pada kebutuhan investor asing
juga memberikan angin segar bagi investor asing.
17
Transaksi asing selama ini telah menjadi leader dalam transaksi
perdagangan di bursa, sehingga mereka menjadi benchmark bagi investor lokal.
Bahkan banyak di antara investor lokal yang menjadi follower dalam mengambil
keputusan transaksi di bursa. Hal ini tidak lain disebabkan oleh berbagai faktor
seperti pengetahuan bursa dan jaringan informasi yang dimiliki.
Investor asing yang pada umumnya institusi memang memiliki karakter
yang berbeda jika dibandingkan dengan investor individu maupun lokal. Secara
umum, karakteristik investor asing adalah sebagai berikut:
1. Ukuran perusahaan.
Investor institusi asing dengan pertimbangan ketersediaan informasi yang
lebih banyak akan lebih memilih saham dari emiten/perusahaan besar.
2. Penguasaan informasi.
Investor institusi asing rata-rata lebih well informed dibandingkan dengan
investor individu dan lokal. Hal ini karena rendahnya marginal cost yang
dipikul oleh investor institusi dalam memperoleh informasi.
3. Analisis sekuritas.
Sebagai perusahaan multinasional, investor asing memiliki analis sekuritas
sendiri yang berpengalaman, sehingga mereka mendapatkan rekomendasi
yang realible.
4. Transaksi sekuritas.
Bagi investor asing institusi, efisiensi transaksi dan lembaga kliring bukan
masalah kritis karena mereka memakai jasa global custodian untuk
menangani transfer sekuritas dan kegiatan transaksi yang lain.
Terdapat dua hipotesis mengenai transaksi beli investor asing melalui
pasar modal (portfolio investment). Hipotesis pertama disebut dengan feedback
trading menyatakan bahwa transaksi beli investor asing disebabkan oleh adanya
ekspektasi perubahan harga pasar saham (return). Return yang lebih tinggi akan
mendorong lebih besar transaksi beli investor asing, sehingga terdapat hubungan
positif antara transaksi beli investor asing dengan return masa lalu di pasar saham.
Tetapi sebaliknya, transaksi beli investor asing berhubungan negatif dengan
volatilitas return saham, karena diasumsikan para investor asing adalah risk
averse. Oleh karena itu, volatilitas return saham yang tinggi – berimplikasi pada
18 resiko yang besar – cenderung akan menurunkan aliran modal masuk (Lin dan
Swanson, 2004).
Hipotesis kedua menyatakan bahwa transaksi beli investor asing yang
menyebabkan perubahan harga saham. Hipotesis ini dikenal dengan information
dissemination. Dalam hal ini, peningkatan transaksi oleh investor asing akan
meningkatkan harga saham (Froot et al, 2001). Peningkatan harga saham dapat
bersifat temporer maupun permanen. Jika peningkatan harga terjadi secara
temporer, maka hal ini dapat disebabkan karena adanya tekanan harga (excess
demand). Sedangkan jika peningkatan harga saham bersifat permanen, maka hal
ini mungkin disebabkan karena cerminan penurunan biaya modal jangka panjang
yang berhubungan dengan benefit dan adanya risk sharing.
Masuknya investor asing ke dalam bursa saham juga dapat menurunkan
volatilitas harga saham, hal ini terjadi jika diasumsikan investor asing yang
berinvestasi dalam bursa saham merupakan well-informed traders, bukan noise
traders atau spekulan. Meningkatnya partisipasi well-informed traders dalam
pasar saham akan meningkatkan kualitas dan reliabilitas informasi sehingga pasar
saham menjadi lebih efisien yang pada akhirnya dapat menurunkan volatilitas
harga saham. Peningkatan investor asing yang diasumsikan well-informed traders
sehingga menurunkan volatilitas harga saham ini dikenal dengan teori investorbase (Holmes dan Wong, 2001).
Dibalik besarnya manfaat dari integrasi sistem keuangan dunia dan
meningkatnya global financial flows, terdapat resiko-resiko yang perlu
diwaspadai, khususnya oleh negara-negara emerging markets yang infrastruktur
sektor keuangannya masih lemah. Kecenderungan derasnya aliran modal jangka
pendek ke negara-negara emerging markets seringkali didasari oleh motif
spekulasi. Dampak buruk dari aliran modal jangka pendek yang sering dihadapi
oleh negara-negara tersebut adalah fenomena arus balik modal (capital reversal)
secara mendadak dalam jumlah besar. Hal ini dapat mengganggu stabilitas
keuangan dan membuat perekonomian terpuruk ke dalam krisis keuangan dan
perbankan (Kurniati, 2000).
Terdapat dua penjelasan atau teori mengenai dampak dari aktivitas
penjualan saham oleh investor asing terhadap bursa saham. Pertama adalah
19
leverage effect, penjualan saham oleh investor asing kepada investor domestik
lebih disebabkan faktor price direction (profit oriented), yang kemudian tindakan
investor asing tersebut cenderung akan diikuti oleh investor domestik. Hal ini
didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Wang (2007) di Indonesia dan
Thailand yang menemukan bahwa setelah era liberalisasi bursa saham, investor
domestik tidak lagi menjadi price setter tetapi cenderung menjadi price follower
yang dalam terminologi lain disebut dengan herding behavior. Hal tersebut
mengakibatkan semakin memperbesar supply saham sehingga terjadi penurunan
harga saham akibat excess supply. Selain mengakibatkan penurunan harga saham,
juga berdampak pada peningkatan volatilitas, hal ini terjadi karena harga saham
yang sedang tinggi pada saat investor asing melakukan penjualan berubah menjadi
lebih rendah dalam waktu singkat akibat excess supply. Sementara penjualan antar
investor asing cenderung lebih dimotivasi oleh faktor likuiditas dan sedikit
disebabkan oleh faktor price direction sehingga tidak mengakibatkan volatilitas
bursa saham.
Penjelasan kedua dikemukakan oleh Merton (1987), memperbesar
investor-base akan meningkatkan risk sharing dan harga saham. Meningkatkan
investor-base akan meningkatkan keakuratan informasi bursa saham dan
menurunkan volatilitas. Dengan demikian pembelian saham oleh investor asing
cenderung menurunkan volatilitas dengan meningkatkan investor-base. Keadaan
sebaliknya jika terjadi penjualan saham oleh investor asing akan menurunkan
investor-base dan cenderung meningkatkan spekulan atau noise traders sehingga
meningkatkan volatilitas. Sementara transaksi antar investor asing ataupun antar
investor domestik tidak merubah jumlah investor-base sehingga cenderung tidak
memengaruhi volatilitas.
Tetapi jika diasumsikan bahwa investor asing adalah bersifat noise traders
maka justru keberadaan investor asing akan menyebabkan ketidakstabilan pasar
saham dan membuat harga saham semakin volatile. Untuk itu, Holmes dan Wong
(2001) menyebutkan bahwa investor asing merupakan sumber dari volatilitas dan
membahayakan perekonomian akibat dari pembalikan modal yang tiba-tiba.
20 2.1.4 Return dan Volatilitas Saham
Ang (1997) mengatakan bahwa return saham adalah tingkat keuntungan
yang dinikmati oleh investor atas suatu investasi yang dilakukan. Return saham
memungkinkan seorang investor untuk membandingkan keuntungan aktual
ataupun keuntungan yang diharapkan yang disediakan oleh berbagai saham pada
tingkatan pengembalian yang diinginkan. Di sisi lain, return pun memiliki peran
yang amat signifikan di dalam menentukan nilai dari sebuah saham.
Jogiyanto (1998) menjelaskan bahwa terdapat dua unsur pokok return
total saham, yaitu capital gain dan yield. Capital gain merupakan hasil yang
diperoleh dari selisih antara harga pembelian (kurs beli) dengan harga penjualan
(kurs jual). Artinya jika kurs beli lebih kecil dari pada kurs jual maka investor
dikatakan memperoleh capital gain, dan sebaliknya disebut dengan capital loss.
Yield merupakan persentase penerimaan kas periodik terhadap harga investasi
periode tertentu dari suatu investasi. Untuk saham, yield adalah persentase dividen
terhadap harga saham periode sebelumnya.
Menurut Jorion (2007), return aset finansial merupakan random variable.
Ada dua metode untuk pengukuran return :
1. The aritmetic atau discrete
Pada metode ini rate of return merupakan penjumlahan dari capital gain dan
pembayaran dividen atau kupon dimana mempunyai persamaan sebagai
berikut:
(2.2)
2. Geometric rate of return
Pada metode ini rate of return merupakan logaritma dari rasio harga, yaitu:
(2.3)
Dalam penyederhanaan rumus maka untuk pembayaran dividen diasumsikan
nol (Dt = 0) sehingga persamaan diatas menjadi:
(2.4)
Dimana:
rt
= rate of return pada hari t
Pt
= harga aset/saham pada saat t
21
Pt-1 = harga aset/saham pada saat t-1
Dt = pembayaran deviden pada saat t
2.1.5 Estimate of Volatility
Volatilitas return ditunjukan dengan varian atau standar deviasi return.
Volatilitas adalah pengukuran statistik variasi harga suatu instrumen (Butler,
1999). Dengan kata lain, volatilitas adalah kecepatan naik turunnya return.
Semakin tinggi volatilitasnya, maka kepastian return suatu saham semakin
rendah, begitu juga sebaliknya. Dalam melakukan forecasting, volatilitas
umumnya diasumsikan konstan dari waktu ke waktu, walaupun kenyataannya
tidak. Menurut Watsham (1997), volatilitas yang konstan dari waktu ke waktu
disebut homoskedastic, sedangkan volatilitas yang tidak konstan disebut
heteroskedastic.
Volatilitas Konstan (Constant Volatility) dapat diukur menggunakan Standar
Deviasi (Standard Deviation), rata-rata bergerak sederhana (Simple Moving Average)
dan Historical Simulation. Standar deviasi dapat digunakan untuk mengukur
volatilitas data yang memiliki distribusi normal. Standar deviasi mengukur
penyebaran atau distribusi yang merupakan jarak rata-rata perubahan harga terhadap
mean sebagai puncak.
Asumsi volatilitas dan korelasi biasanya konstan, tetapi kenyataannya
volatilitas dan korelasi pada data keuangan adalah tidak konstan, kadang
menunjukan ketidakteraturan. Bisa saja pada suatu periode volatilitasnya rendah
namun berikutnya diikuti dengan volatilitas tinggi. Hal ini disebut dengan
volatility clustering. Volatilitas tidak konstan (Non-Constant Volatility) dapat diukur
menggunakan metode Generalized Autoregresive Conditional Heteroskedastic
(GARCH).
2.1.6
Permanent Component dan Transitory Component Volatility
Setiap data runtun waktu (time series) dapat didekomposisi menjadi dua
komponen additive, yaitu sebuah series yang stasioner dan sebuah random
walk. Bagian yang stasioner disebut sebagai komponen cyclical, didefinisikan
sebagai momentum yang dapat diproyeksikan di setiap titik waktu dalam
22 series. Sedangkan bagian yang random walk merupakan nilai tengah dari
distribusi yang diduga untuk jalur (model) masa depan dari series yang
sebenarnya.
Beveridge dan Nelson (1981) menyebutkan bahwa komponen permanen
ditunjukkan sebagai random walk dengan drift. Perbedaan antara komponen
permanen dan nilai sebenarnya dari series data merupakan momentum yang
terkandung dalam series pada suatu titik tertentu dan hal tersebut secara alami
mengukur komponen transitory atau cyclical-nya. Komponen transitory
merupakan proses stasioneritas dengan rata-rata nol. Pergerakan transitory atau
cyclical dapat diamati dalam data runtun waktu ekonomi dan dapat dipisahkan
dari komponen permanen atau trend yang memiliki peran penting dalam
membentuk pemikiran kita mengenai fenomena yang terjadi dalam perekonomian.
Dalam pasar saham juga terdapat dekomposisi komponen-komponen volatilitas.
Hal ini disebabkan agen-agen dalam pasar saham yang heterogen memiliki
horizon waktu perdagangan yang berbeda sehingga mengindikasikan adanya
volatilitas jangka pendek (short-run volatility) dan volatilitas jangka panjang
(long-run volatility) (Muller et al.,1997).
Andersen dan Bollerslev (1997) menunjukkan bahwa volatilitas pasar
mencerminkan agregasi dari berbagai komponen volatilitas yang saling bebas,
dimana masing-masing komponen tersebut memiliki struktur yang berbeda karena
perbedaan datangnya informasi. Informasi yang heterogen ini akan masuk ke
pasar sehingga menciptakan efek volatilitas jangka pendek (short-run) dan jangka
panjang (long-run). Lisenfeld (2001) juga menjelaskan bahwa sejumlah
kedatangan informasi dan sensitifitas berita merupakan faktor penting yang dapat
menjelaskan pergerakan dalam volatilitas perubahan harga saham. Volatilitas
jangka pendek utamanya disebabkan oleh proses kedatangan informasi,
sedangkan volatilitas jangka panjang disebabkan oleh sensitifitas berita baru.
Muller et al.(1997) berpendapat bahwa pedagang dalam jangka pendek akan
bereaksi terhadap komponen volatilitas transitory dengan meningkatkan aktivitas
perdagangan mereka, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan volatilitas. Park
et al. (2007) menyebutkan bahwa informasi yang memengaruhi seluruh pasar
dicerminkan oleh komponen permanen dari conditional variance. Informasi ini
23
berkaitan dengan fundamental makroekonomi. Di sisi lain, komponen transitory
dari conditional variance berasal dari noise traders atau market friction yang
didasarkan pada efek mikroekonomi dari struktur pasar keuangan.
2.1.7 Arus Modal Asing dan Harga Aset
Secara teoritis, pemodal asing dapat memengaruhi kinerja pasar modal
domestik secara positif maupun negatif. Menurut pandangan ekonom mainstream,
salah satu manfaat arus modal asing adalah mendorong kenaikan harga saham.
Arus modal asing membawa dampak pada price earning ratio (P/E ratio)
perusahaan. P/E ratio yang tinggi membuat ongkos pembiayaan menjadi lebih
rendah yang selanjutnya akan meningkatkan nilai investasi perusahaan. Biaya
modal yang rendah dan pasar modal yang sedang booming juga dapat mendorong
perusahaan untuk melakukan emisi saham. Harga premium emisi baru menjadi
pendorong perusahaan lain untuk melakukan emisi saham (BAPEPAM-LK,
2008). Namun, peningkatan harga saham yang tidak masuk ke perusahaan –
hanya meningkatkan P/E ratio – tidak akan membawa multiplier pada
peningkatan output karena investasi hanya terjadi di pasar sekunder yang hanya
memengaruhi harga saham dan tidak terjadi aliran masuk modal ke perusahaan.
Hal inilah yang menjadi perhatian serius dalam transaksi di pasar sekunder.
Wang (2007) berpendapat bahwa peran asing dalam pasar sekunder dapat
dilihat dari dua aspek yaitu aktivitas perdagangan (trading) dan kepemilikan efek
(ownership). Keduanya akan akan memberikan dampak berbeda bagi volatilitas di
bursa. Peningkatan harga saham dalam jangka pendek akan meningkatkan
transaksi di pasar bursa sehingga memberikan dampak peningkatan volatilitas.
Sebaliknya peningkatan kepemilikan saham justru akan membawa pada
penurunan volatilitas. Hubungan negatif tersebut dinamakan sebagai dampak yang
menenangkan (calming effect) terhadap volatilitas harga saham yang akan datang.
Hubungan antara lonjakan modal dan booming harga aset domestik juga
cukup relevan dalam ekonomi negara-negara emerging markets. Negara-negara
emerging markets telah sering mengalami serangkaian siklus boom-bust yang
menghasilkan krisis ekonomi. Ini dimulai dengan tahap booming ekspansi kredit,
24 peningkatan investasi, harga aset naik, dan arus modal masuk meningkat, dan
berakhir dengan tahap meledak ketika semua berbalik (Kim & Yang, 2009).
Arus masuk modal dapat membantu ekonomi domestik dengan berbagai
cara, tetapi arus masuk modal yang besar juga dapat menghasilkan keadaan
ekonomi makro yang tidak diinginkan. Sejarah mencatat bahwa perekonomian di
negara-negara emerging markets sering mengalami periode arus masuk modal
yang cepat diikuti dengan arus keluar yang cepat juga, menghasilkan siklus boombust. Periode awal aliran modal sering ditandai dengan apresiasi nilai tukar riil,
ekspansi kredit domestik, booming konsumsi dan/atau investasi, dan gelembung
harga aset. Seiring waktu, proses tersebut cenderung untuk membalikkan sendiri:
arus modal masuk bersih berubah menjadi arus keluar bersih dan ternyata boom
berubah menjadi bust, dengan konsekuensi yang merugikan bagi harga aset lokal
dan, sering, ekonomi riil. Bahkan, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa
krisis Asia pada tahun 1990-an terkait dengan arus modal yang berlebihan (Kim &
Yang, 2009).
Kim dan Yang (2009) menyebutkan bahwa arus masuk modal dapat
memengaruhi harga aset dalam tiga cara. Pertama, arus masuk portofolio asing
langsung dapat memengaruhi permintaan untuk aset. Sebagai contoh, arus masuk
modal ke pasar saham meningkatkan permintaan dan, oleh karena itu, harga
saham. Selain itu, arus masuk portofolio kemudian dapat memengaruhi pasar lain.
Misalnya, sebagai arus modal ke pasar saham, adanya kenaikan harga saham tidak
serta-merta akan meningkatkan hasil (return) yang diharapkan dari saham
tersebut, tetapi hasil yang diharapkan dari saham dapat juga menurun. Investor
mungkin akan mencari keuntungan yang lebih tinggi di pasar aset lainnya, seperti
real estate dan obligasi, sehingga menempatkan tekanan terhadap harga aset
lainnya.
Kedua, arus masuk modal dapat mengakibatkan peningkatan jumlah uang
beredar dan likuiditas, yang pada gilirannya dapat meningkatkan harga aset. Arus
masuk modal cenderung menyebabkan nilai tukar nominal dan riil menjadi
terapresiasi. Jika otoritas moneter ingin menghindari hal tersebut, mereka harus
melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk mengimbangi kelebihan
permintaan untuk mata uang lokal dengan membeli mata uang asing. Hal ini
25
menyebabkan akumulasi cadangan devisa dan karenanya, pasokan uang domestik.
Ketika hal ini mengarah ke peningkatan aliran likuiditas ke pasar aset, harga aset
mungkin akan melonjak. Intervensi mata uang asing dapat disterilkan dengan
menjual surat berharga pemerintah melalui operasi pasar terbuka. Namun, jika
sterilisasi parsial, kemudian likuiditas dan aset harga dapat meningkat.
Ketiga, arus masuk modal cenderung mendorong pertumbuhan ekonomi
yang kuat dan mengarah pada peningkatan harga aset dalam beberapa cara.
Ekspansi moneter mengikuti arus modal masuk dapat menyebabkan ledakan
ekonomi. Tingkat suku bunga dunia yang jatuh dapat menyebabkan ledakan
konsumsi dan ledakan investasi, dan juga penurunan suku bunga domestik, yang
pada gilirannya dapat meningkatkan investasi. Dan, untuk negara debitur,
penurunan tingkat suku bunga dunia akan menyebabkan efek pendapatan dan efek
substitusi, yang juga dapat menyebabkan ledakan konsumsi.
2.2 Tinjauan Empiris
Studi tentang bagaimana dampak transaksi investor asing dan volatilitas di
pasar modal telah banyak dilakukan, Neely dan Fawley (2012) melakukan
penelitian mengenai persistensi guncangan capital flows terhadap volatilitas di
pasar keuangan Jepang dengan menggunakan data harian 1 Januari 2005 hingga 3
Desember 2010. Peubah transaksi yang dilakukan oleh investor asing maupun
domestik sebagai proksi capital flows serta volume perdagangan merupakan
peubah eksogen. Penelitian ini menggunakan metode GARCH dan CGARCH dan
hasil penelitian menunjukkan bahwa guncangan capital flows terhadap volatilitas
asset yang bersifat transitory lebih besar dibandingkan permanen. Guncangan
capital flows terhadap komponen transitory akan meningkatkan volatilitas,
sedangkan guncangan capital flows terhadap komponen permanen akan
menurunkan volatilitas di pasar saham maupun pasar uang Jepang.
Hammoudeh et al. (2010) antara lain ingin melihat dampak dari peubah
harga minyak dunia, Morgan Stanley Capital Index (MSCI), Federal Funds Rate
(FFR) terhadap volatilitas harga saham sektoral di Amerika. Selain itu, penelitian
ini juga ingin melihat apakah terdapat hubungan yang signifikan antara volatilitas
dan volume perdagangan saham pada komponen permanen dan komponen
26 transitory volatilitas. Hasil penelitian menujukkan bahwa harga minyak dunia dan
MSCI memiliki dampak lebih besar terhadap volatilitas harga saham di Amerika
dibandingkan FFR. Sektor Konstruksi dan Industri Metal yang merupakan sektor
yang bersifat cyclical lebih responsif terhadap guncangan harga minyak dunia.
Sektor Industri Metal merupakan sektor yang paling responsif terhadap
peningkatan volatilitas MSCI. Guncangan harga minyak dunia dan MSCI akan
meningkatkan volatilitas transitory di semua sektor, kecuali Tembakau.
Sedangkan FFR justru menurunkan volatilitas transitory. Volume perdagangan
merupakan faktor penting dalam estimasi volatilitas. Pada model CGARCH
menunjukkan bahwa volatilitas transitory memiliki persistensi lebih rendah dan
durasi yang lebih pendek dibandingkan dengan permanen volatilitas di semua
sektor.
Hammoudeh et al. (2009) menggunakan teknik multivariate yang terbaru
yaitu VAR-GARCH untuk melihat transmisi guncangan dan volatilitas di antara
sektor perbankan, industri dan jasa untuk Kuwait, Qatar dan Saudi Arabia.
Sedangkan sektor keuangan, asuransi dan jasa untuk Uni Emirates Arab (UEA).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa volatilitas masa lalu lebih besar
pengaruhnya terhadap volatilitas saat ini dibandingkan guncangan masa lalu dan
terjadi spillover volatilitas di antara ketiga sektor dalam masing-masing negara,
kecuali Qatar. Sektor perbankan lebih sensitif terhadap volatilitas masa lalu dan
sektor industri merupakan sektor yang paling volatil terhadap guncangan masa
lalu atau berita. Untuk para investor sebaiknya memilih sektor perbankan untuk
berinvestasi di Saudi Arabia, Qatar dan UEA. Sedangkan di Kuwait, sebaiknya
investor berinvestasi di sektor industri.
Penelitian yang dilakukan oleh Lai et al. (2008) bertujuan mempelajari
dampak perdagangan investor asing terhadap volatilitas saham di pasar saham
Taiwan. Dengan menggunakan GJR-GARCH, Lai et al. (2008) menemukan
bahwa perdagangan investor asing berhubungan positif dengan return saham saat
ini dan perdagangan investor asing juga dapat meningkatkan conditional
volatility.
Selanjutnya, Deo et al. (2008) menguji hubungan antara return saham,
volume perdagangan, dan volatilitas di beberapa negara Asia Pasifik dengan
27
menggunakan VAR dan EGARCH menemukan bahwa return saham dipengaruhi
oleh volume perdagangan dan begitu juga sebaliknya. Deo et al. (2008) juga
menemukan bahwa volume perdagangan berkontribusi terhadap informasi yang
terdapat pada return saham dan volatilitasnya.
Zarour dan Siriopoulos (2008) ingin mengetahui keberadaan dekomposisi
volatilitas return saham di sembilan negara emerging markets Asia Tengah
dengan menggunakan model komponen varians transitory dan permanen yang
dikembangkan oleh Lee dan Engle. Keberadaan struktur komponen volatilitas
disumbang oleh komponen volatilitas yang bersifat transitory dan volatilitas
permanen yang menurun secara perlahan dalam waktu lebih lama di Jordan,
Oman dan Saudi Arabia.
Studi yang dilakukan oleh Wang (2007) memfokuskan pada dampak
perdagangan harian yang dilakukan oleh investor asing setelah liberalisasi pasar
dan menjelaskan dinamika perubahan volatilitas di pasar karena perdagangan
investor asing di pasar saham Indonesia dan Thailand. Hasil penelitian yang
dilakukan Wang (2007) menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara
perdagangan saham yang dilakukan oleh investor asing dan volatilitas di pasar
saham Indonesia dan Thailand. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan adanya
hubungan yang negatif antara perdagangan yang dilakukan oleh investor asing
maupun investor lokal dengan volatilitas.
Clark dan Berko (1997) meneliti mengenai hubungan antara harga saham
di Mexico dengan pembelian bersih oleh investor asing dengan menggunakan data
bulanan dari Januari 1989 sampai dengan Maret 1996. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa peningkatan 1 persen kapitalisasi pasar yang diakibatkan
oleh arus masuk modal asing akan meningkatkan harga saham secara
contemporaneous sebesar 13 persen. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan baseboardening hypothesis, yaitu hipotesis yang menyatakan bahwa risk sharing yang
lebih besar dan peningkatan likuiditas akibat arus masuk modal asing akan
meningkatkan harga saham secara permanen.
28 2.3 Kerangka Pemikiran
Indonesia sebagai salah satu negara emerging markets sangat merasakan
lonjakan arus masuk modal asing. Keadaan tersebut semakin diperkuat dengan
peraturan investasi yang semakin longgar. Hal ini menyebabkan banyaknya arus
modal jangka pendek yang keluar/masuk ke pasar modal Indonesia di bawah
kendali investor asing yang ingin mencari tingkat pengembalian lebih tinggi.
Aliran modal asing yang tinggi bagi emerging markets dapat menyebabkan
extreme volatility seperti krisis 1997.
Di satu sisi, kita perlu tetap menjaga keterbukaan Indonesia pada modal
asing yang masuk. Perekonomian yang sedang berkembang tetap memerlukan
asing. Namun di sisi lain, kita perlu mencermati jenis modal yang masuk. Modal
asing, terutama yang sifatnya portfolio dan berjangka pendek, apabila masuk
dalam jumlah besar dan waktu singkat akan menyebabkan kondisi yang tidak
sehat pada transaksi berjalan (unsustainable current account).
Aturan investasi di pasar modal Indonesia yang semakin longgar
menyebabkan porsi kepemilikan saham oleh investor asing terus mengalami
peningkatan.
Besarnya
investasi
asing
membuat
Indonesia
memiliki
ketergantungan yang semakin tinggi terhadap investor asing. Selain tingginya
kepemilikan saham oleh asing, dana jangka pendek (hot money) yang masuk ke
pasar modal Indonesia juga sangat tinggi. Hal ini perlu diwaspadai karena danadana tersebut rentan terhadap gejolak yang ditimbulkan oleh sentimen dan gejolak
di pasar modal sehingga menimbulkan kekhawatiran akan penarikan dana secara
besar-besaran dan mendadak yang akan memberikan goncangan hebat bagi pasar
modal domestik.
Dalam konteks pasar modal, ketergantungan terhadap investor asing
tersebut dikhawatirkan meningkatkan resiko yang dihadapi Indonesia atau
membuat volatilitas di pasar modal relatif tinggi. Volatilitas yang tinggi di pasar
modal memiliki efek negatif terhadap perekonomian dan sering dikaitkan dengan
ketidakstabilan finansial. Di sinilah perlunya otoritas masing-masing negara di
Asia melakukan langkah-langkah pengamanan. Upaya otoritas moneter untuk
mencermati dan menempuh kebijakan yang tepat dalam menghadapi arus modal
29
asing berjangka pendek yang sifatnya spekulatif dianggap semakin penting,
khususnya di tengah krisis global yang berkepanjangan seperti saat ini.
Berdasarkan uraian di atas, pergerakan harga saham yang diakibatkan oleh
transaksi yang dilakukan investor asing sangatlah penting untuk dipelajari, maka
kerangka pemikiran dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Permasalahan:
 Tren kepemilikan saham oleh investor asing di pasar modal Indonesia
yang tinggi membuat perekonomian Indonesia rentan terhadap gejolak
yang ditimbulkan oleh investor asing. Hal ini menyebabkan volatilitas di
pasar modal Indonesia relatif tinggi.  Volatilitas yang tinggi di pasar modal memiliki efek negatif terhadap
perekonomian dan sering dikaitkan dengan ketidakstabilan finansial.
Arus masuk modal asing
mempengaruhi volatilitas
harga saham di Indonesia
Peubah kontrol:
Volume
perdagangan
saham
Bagaimana pengaruh transaksi investor asing
terhadap volatilitas harga saham di Indonesia?
Kesimpulan dan Implikasi Kebijakan
Gambar 4 Kerangka Pemikiran
2.4 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan permasalahan, tujuan, dan alur kerangka pemikiran di atas,
maka hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Transaksi investor asing diduga memengaruhi return harga saham
gabungan.
2. Transaksi investor asing diduga memengaruhi return harga saham
sektoral.
3. Transaksi investor asing diduga memengaruhi permanent volatility
harga saham gabungan.
4. Transaksi investor asing diduga memengaruhi transitory volatility
harga saham gabungan.
30 5. Transaksi investor asing diduga memengaruhi permanent volatility
harga saham per sektor.
6. Transaksi investor asing diduga memengaruhi transitor volatility
harga saham per sektor.
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Sumber Data
Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari BEI. Data
yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data harian yang dimulai dari 3
Januari 2007 sampai dengan 31 Mei 2012. Peubah yang digunakan dalam
penelitian adalah sebagai berikut: return Indeks Saham Sektoral yang terdiri dari
3 sektor yaitu sektor keuangan, sektor industri barang konsumsi dan sektor
pertambangan; total pembelian asing bersih di pasar modal Indonesia (Foreign
Net Purchase/FNP) serta volume perdagangan saham.
3.2 Definisi Operasional Peubah
Berikut ini definisi operasional peubah yang digunakan dalam penelitian:
a. Return Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Tingkat pengembalian dari perubahan harga saham setiap hari. Tingkat
pengembalian dihitung dari pembedaan logarithma natural dari harga
penutupan saham hari ini dan hari sebelumnya. Secara matematis, tingkat
pengembalian dapat dituliskan sebagai berikut:
ln
(3.1)
Dimana rt merupakan return dari harga saham pada hari ke-t.
b. Foreign Net Purchase (FNP)
FNP merupakan nilai pembelian bersih (pembelian dikurangi pejualan)
pemodal asing di pasar modal Indonesia. Dalam studi ini transaksi investor
asing pada host country seperti Indonesia dianggap merupakan tujuan akhir
investasi untuk menghindari measurement error. Hal ini dikarenakan aliran
modal investor asing ke negara emerging markets seperti Indonesia, umumnya
datang dari negara antara (intermediary source) dimana kantor regional atau
pusat dari Perusahaan Efek cabang yang menjadi anggota bursa di PT Bursa
Efek Indonesia seperti Hong Kong dan Singapura. Untuk memperkecil
kesalahan maka data yang terpenting dalam penelitian ini adalah data dimana
pemodal asing tersebut melakukan transaksi dan dianggap menjadi final
investment destination dan tidak menggunakan data asal usul pemodal asing
32 tersebut sehingga dapat dilakukan penelitian dampak transaksi pemodal asing
terhadap pasar domestik seperti pasar modal Indonesia.
c. Volume perdagangan saham
Volume perdagangan saham merupakan volume saham yang ditransaksikan di
pasar modal Indonesia baik yang dilakukan oleh investor domestik maupun
investor asing.
3.3 Metode Analisis
3.3.1 Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif menyajikan analisis mengenai deskripsi data return
saham gabungan, return saham sektor keuangan, return saham sektor industri
barang konsumsi dan return saham sektor pertambangan selama periode
penelitian.
3.3.2 Analisis Kuantitatif
Berdasarkan tujuan penelitian yang telah dijelaskan sebelumnnya, yaitu
ingin mengetahui dampak dari pembelian bersih investor asing di pasar saham
Indonesia terhadap volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), termasuk
didalamnya persistensi dari dampak tersebut, maka digunakan metode Component
GARCH (CGARCH) yang merupakan perluasan dari model GARCH.
Tahapan dalam identifikasi pemodelan volatilitas yaitu sebagai berikut:
1. Uji Normalitas
Uji normalitas untuk melihat apakah data time series terdistribusi normal
atau tidak, dilakukan dengan menggunakan Jarque-Bera (JB) test. Nilai JB
diformulasikan sebagai berikut:
(3.2)
Dimana:
N : jumlah observasi
k : jumlah parameter estimasi
S : skewness
K : kurtosis
33
Semakin besar nilai JB, maka semakin kecil kemungkinan series terdistribusi
normal. Uji JB adalah distribusi  dengan derajat bebas 2.
Prosedur dalam JB Test adalah sebagai berikut:
H0 : Distribusi return saham normal
H1 : Distribusi return saham tidak normal
Jika nilai JB lebih besar dari nilai distribusi  dengan derajat kepercayaan 5%,
maka null hypothesis ditolak, hal ini berarti series return saham tidak terdistribusi
normal.
2. Uji Kestasioneran Data
Dalam melakukan analisis time series, data harus berada dalam keadaan
stationer. Data yang sudah stasioner tidak mengandung unsur tren, artimya data
memiliki mean yang konstan. Dengan demikian data cenderung bergerak atau
berfluktuasi di sekitar nilai mean yang konstan.
Menurut Enders (2004), time series yt adalah stasioner jika:
(3.3)
(3.4)
(3.5)
(3.6)
,
Dimana ,
,
(3.7)
, adalah konstan.
Untuk mengamati data time series stationer atau tidak, dapat dilakukan
secara grafis melalui pola autokorelasi (correlogram) data tersebut. Nilai fungsi
autokorelasi yang turun dengan lambat seiring dengan bertambah besarnya lag
mengindikasikan bahwa data tidak stasioner. Pemeriksaan kestationeran melalui
pengamatan pola grafik data runtun waktu maupun melalui pola autokorelasi data
awal adalah pemeriksaan yang bersifat informal.
Pemeriksaan formal dilakukan melalui uji yang lebih baik, yaitu Unit Root
Test dengan menggunakan statistik uji Augmented Dickey Fuller (ADF). Apabila
terdeteksi adanya unit root pada tahap pengujian awal maka harus dilakukan
diferensi terhadap data awal. Jika diferensi orde pertama data masih belum
keadaan stasioner, dilakuan diferensi orde kedua. Selain diferensi terhadap data
34 awal, metode detrending juga dapat digunakan untuk menghilangkan unit root
pada data.
Prosedur dalam ADF Test adalah sebagai berikut:
H0 : ada unit root/data belum stationer
H1 : tidak ada unit root/data stationer
Parameter yang digunakan untuk menentukan bahwa data memiliki unit root atau
tidak adalah nilai ADF Test dibandingkan dengan critical value MacKinnon.
3. Pembentukan Persamaan Rata-Rata
Pembentukan model volatilitas memerlukan pembentukan persamaan ratarata untuk menghasilkan residual yang akan diestimasi sebelumnya. pembentukan
persamaan rata-rata memegang peranan penting dalam pemodelan volatilitas.
Persamaan rata-rata dibentuk berdasarkan persamaan Autoregressive Moving
Average (ARMA).
Pembentukan model ARMA terbaik dapat dilakukan dengan menggunakan
metode Box-Jenkins. Metode Box-Jenkins mempunyai beberapa tahapan, yaitu
identifikasi, estimasi, dan evaluasi model. Identifikasi model dapat dilakukan
dengan melihat pola data yang dapat dilkukan dengan melihat fungsi autokorelasi
(ACF) dan fungsi autokorelasi parsial (PACF) dari data. Kemudian estimasi
model dapat dilakukan dengan menduga secara trial and error dengan menguji
beberapa nilai yang berbeda dan memilih model yang memiliki nilai jumlah
kuadrat error yang terkecil. Selanjutnya dalam tahap evaluasi, uji kedekatan
model dengan data. Uji ini dilakukan dengan menguji nilai residual dan dengan
menguji signifikansi dan hubungan-hubungan antar parameter.
Jika return saham yang terbentuk diasumsikan mengikuti proses
autoregressive (AR) maka return mengikuti model AR(p) dapat ditulis dalam
persamaan berikut (Alexander, 2001):
∑
Dimana:
yt
: peubah bebas y pada waktu ke-t
c
: parameter konstanta conditional mean
i
: parameter conditional mean
yt-i
: peubah y pada waktu ke-(t-i)
(3.8)
35
t
: error/residual pada waktu ke-t
Jika return dari model yang terbentuk diasumsikan mengikuti proses moving
average maka return mengikuti model MA(q) dapat dituliskan dalam persamaan
berikut (Alexander, 2001):
∑
(3.9)
Jika return dari model yang terbentuk diasumsikan mengikuti proses ARMA
maka return mengikuti model ARMA(p,q) dapat dituliskan dalam persamaan
berikut (Alexander, 2001):
∑
∑
(3.10)
Ketiga persamaan di atas merupakan persamaan conditional mean komponen
residual dapat ditulis sebagai berikut (Enders, 2004):
(3.11)
Dimana:
ht
: conditional variance
t
: error/residual
vt
: independent identically distributed/iid (0,1) yang berupa bilangan random
dengan mean 0 dan standar deviasi 1
4. Identifikasi Efek ARCH-GARCH
Setelah mendapatkan model ARMA, langkah selanjutnya dalam pemodelan
ARCH-GARCH
adalah
dengan
identifikasi
apakah
data
mengandung
heteroskedastisitas atau tidak. Engel telah mengembangkan uji untuk mengetahui
masalah heteroskedastisitas dalam data time series, dikenal dengan nama uji
ARCH-LM. Ide dasar dari uji ini adalah bahwa varians residual (σt2) bukan hanya
merupakan fungsi dari variabel independen, tetapi tergantung dari residual kuadrat
pada periode sebelumnya (σt-12).
Prosedur dalam uji ARCH-LM adalah sebagai berikut:
H0 : tidak ada unsur ARCH
H1 : terdapat unsur ARCH
Bila nilai parameter uji lebih besar dari nilai kritis chi-square (χ2) pada derajat
kepercayaan tertentu (α), maka H0 dapat ditolak, yang artinya terdapat unsur/efek
ARCH dalam data.
36 5. Uji Autokorelasi Residual
Setelah mendapatkan model mean (mean equation), langkah selanjutnya
adalah memeriksa keberadaan autokorelasi residual. Statistik uji yang digunakan
adalah Q-Stat atau Ljung-Box Stat dengan hipotesis:
H0 : Tidak ada autokorelasi residual hingga lag k, jika p-value dari nilai QStatistics kurang dari 5%.
H1 : Sekurang-kurangnya terdapat autokorelasi residual pada sebuah lag k tertentu,
jika p-value dari nilai Q-Statistics lebih besar dari 5%.
Dimana‘k : Lag tertinggi yang dipilih untuk penelitian ini adalah 12 sesuai dengan
penelitian Wei (2009). Apabila ditemukan spike, yaitu nilai autokorelasi residual
yang melewati batas standar yang dibatasi oleh 2/√T dan probabiltas (p-value)
yang besarnya kurang dari 0.05 pada sebuah lag tertentu, maka hal ini
mengindikasikan diperlukan nilai return di masa lalu untuk diikutsertakan dalam
model mean (mean equation) tentatif yang telah diperoleh sebelumnya.
6. Uji Autokorelasi Kuadrat Residual
Jika dari uji residual di atas berakhir pada penerimaan H0 yang berarti tidak
ditemukan lagi indikasi adanya autokorelasi residual pada setiap lag, maka
langkah selajutnya adalah menguji keberadaan autokorelasi kuadrat residual. Uji
autokorelasi kuadrat residual analog dengan uji autokorelasi residual di atas,
hanya saja data runtun waktu yang digunakan untuk melakukan pengujian adalah
kuadrat residual. Statistik uji yang digunakan sama, yaitu Q (Ljung-Box Stat),
dengan hipotesis:
H1 : Sekurang-kurangnya terdapat autokorelasi residual pada sebuah lag k
tertentu, jika p-value dari nilai statistik uji Q lebih besar dari 5%.
Dimana k = 1,2,...,k.
7. Pemodelan ARCH/GARCH
Permodelan dengan ARCH/GARCH dilakukan jika terdapat autokorelasi
pada residual, sehingga model yang dihasilkan bersifat heteroskedastisitas atau
menunjukan adanya conditional variance yang signifikan. Proses estimasi
dilakukan untuk mencari parameter-parameter GARCH yang signifikan di dalam
residual. Dalam proses estimasi ini perlu diperhatikan adanya batasan-batasan
agar diperoleh model yang stasioner dengan unconditional variance tertentu
37
dimana gerakan conditional variance akan menuju nilai tersebut. Proses estimasi
tersebut dihentikan bila residual telah bersifat homoskedastis.
1. Conditional variance
Dalam proses residual terdapat dua jenis variance, yaitu conditional
variance
dan
unconditional
variance.
Kata
conditional
menunjukan
ketergantungan nilai varian tersebut pada data sebelumnya dalam suatu
observasi. Sedangkan unconditional menjelaskan karakteristik jangka panjang
data time series dengan asumsi tidak ada pengaruh informasi masa lalu. Model
GARCH mengkarakteristikan distribusi conditional tersebut, dapat dilihat p =
q = 0 , maka proses varian tersebut adalah white noise dengan varian α.
2. Homoskedastisitas dan Unconditional variance
Untuk memenuhi kondisi homoskedastisitas, model ARCH/GARCH
yang dibentuk harus memenuhi batasan-batasan parameter sebagai berikut
(Alexander, 2001):
Σαi + Σβj < 1
(3.12)
‘i=1 j=1
Batasan ini diperlukan agar terpenuhi kondisi stasioner. Dengan
demikian akan dihasilkan conditional variance pada residual yang memiliki
mean tertentu dan tidak bergantung pada waktu. Sedangkan batasan α ≥ 0, αi ≥
0, βj ≥ 0 digunakan untuk memastikan bahwa varian yang dihasilkan memiliki
nilai yang selalu positif.
8. Analisis nilai Akaike Info Criterion (AIC) dan Schwarz Criterion (SC)
Pengujian Akaike Info Criterion dan Schwarz Criterion dilakukan untuk
memeriksa validitas dari model yang dibentuk. Dengan menggunakan
pengkukuran-pengukuran ini dapat diuji pengaruh variabel bebas dan lag terhadap
variabel tak bebas dalam model yang dibentuk.
Akaike Info Criterion (AIC) dan Schwarz Criterion (SC) adalah alternatif
lain dari adjusted R-squared yang digunakan untuk mengukur validitas model
yang dihasilkan. Semakin kecil nilai yang dihasilkan dari kedua parameter
tersebut berarti semakin baik model yang dibentuk.
38 Pemodelan Component GARCH (CGARCH)
Model GARCH secara umum lebih disukai dalam memodelkan conditional
variance daripada model ARCH karena model GARCH memberikan model yang
lebih parsiomious, artinya, lebih mudah untuk mengestimasi sehingga dalam
praktek lebih banyak digunakan (Strydom dan Charteris, 2011).
Secara umum, model GARCH dapat dipisahkan menjadi model persamaan
rata-rata (mean equation) dan model persamaan varians bersyarat (conditional
variance equation).
Persamaan rata-rata dari model GARCH(1,1):
(3.13)
Persamaan varians dari model GARCH(1,1):
(3.14)
dimana:
rt
:
return saham
rt-1 : autoregressive lag pertama dari return saham
et-1 : moving average lag pertama dari return saham

: unconditional variance atau varians dari rata-rata
: conditional variance atau volatilitas
Conditional variance pada persamaan (3.14) menunjukkan
bahwa
conditional variance saat ini dimodelkan sebagai rata-rata tertimbang dari varians
jangka panjang, informasi atau berita baru pada masing-masing periode dan
varians pada periode sebelumnya (Bollerslev, 1986).
Sedangkan model CGARCH merupakan perluasan dari model GARCH
yang mendekomposisi volatilitas ke dalam komponen transitory dan komponen
permanen. Model ini dapat menangkap efek yang bersifat transitory dan efek yang
bersifat permanen dari sebuah guncangan pada suatu data runtun waktu serta
dapat mengetahui persistensi efek sebuah guncangan dalam jangka pendek dan
jangka panjang (Hammoudeh & Yuan, 2008). Samouilhan (2007) menyebutkan
bahwa kegunaan dari CGARCH adalah sebagai alat yang digunakan untuk
memahami perilaku saham pada momen kedua.
Model CGARCH yang dikembangkan oleh Engle dan Lee (Fawley &
Neely, 2012) menjelaskan adanya proses difusi volatilitas yang bergerak dengan
39
lambat kembali ke rata-rata sebagai komponen jangka panjang (permanen) dari
conditional variance, qt, dan yang lebih volatil sebagai komponen jangka pendek
(transitory), ht-qt.
Dari persamaan (3.14), dalam persamaan varians bersyarat dari model
GARCH terlihat bahwa rata-rata akan kembali ke
dengan konstan sepanjang
waktu. Sebaliknya, persamaan varians bersyarat dari model CGARCH
memperbolehkan rata-rata kembali dengan tingkat
yang berbeda-beda atau
tidak konstan yang dimodelkan sebagai berikut:
(3.15)
(3.16)
dimana:
: volatilitas transitory
: volatilitas permanen
: guncangan akibat adanya informasi atau berita baru pada periode
sebelumnya

: efek suatu guncangan terhadap komponen volatilitas permanen

: efek suatu guncangan terhadap komponen volatilitas transitory
Persamaan (3.15) merupakan komponen volatilitas transitory yang
konvergen ke nol dengan kekuatan sebesar (+). Sedangkan persamaan (3.16)
merupakan komponen volatilitas permanen yang konvergen ke  dengan
kekuatan sebesar , di mana nilai  berkisar antara 0,9 sampai dengan 1 sehingga
mendekati unconditional variance dengan sangat lambat. Jika 1 >  > (+)
maka komponen transitory lebih cepat menghilang dibandingkan dengan
komponen permanen.
Lamanya waktu yang dibutuhkan oleh pengaruh efek guncangan untuk
menghilang dapat diukur dengan half-life (Samouilhan, 2007). Ukuran ini
biasanya digunakan untuk membandingkan beberapa series data yang berbeda.
Secara umum formula penghitungan half-life untuk komponen permanen dapat
ditulis sebagai berikut:
iHL () = ln(0.5) / ln()
(3.17)
Sedangkan formula penghitungan half-life untuk komponen transitory dapat
ditulis sebagai berikut:
40 iHL (+) = ln(0.5) / ln(+)
(3.18)
dimana: i merupakan lamanya waktu yang dibutuhkan oleh pengaruh efek
guncangan untuk berkurang sebesar separuhnya.
Untuk menganalisa pengaruh transaksi asing terhadap volatilitas return
saham, dalam penelitian ini digunakan model CGARCH (1,1) dengan
menggunakan variabel transaksi asing bersih dan volume perdagangan saham
sebagai variabel eksogen dalam persamaan CGARCH (1,1). Model yang
digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Persamaan rata-rata:
∑
∑
(3.19)
Persamaan varians bersyarat:
(3.20)
(3.21)
dimana:
rit
: return saham gabungan maupun return saham sektoral pada periode ke-t
: unconditional mean
a dan b : koefisien autoregressive dan moving average return saham gabungan
maupun retun saham sektoral periode ke-(t-1) yang menunjukkan
bahwa return saham periode ke-t dipegaruhi oleh return saham
sebelumnya.
: koefisien besarnya pengaruh transaksi asing bersih terhadap return saham
pada periode ke-t
: koefisien besarnya pengaruh volume perdagangan terhadap return saham
pada periode ke-t
: error atau residual
FNP : transaksi saham yang dilakukan oleh investor asing bersih
VOL : volume perdagangan saham
Untuk penentuan lag order dari ARMA, ditentukan dengan metode Box-Jenkins,
sehingga lag order untuk setiap jenis return saham dapat berbeda tergantung dari
nature datanya.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Statistik Deskriptif Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Indeks
Sektoral Harian, 2007-2012
Tabel 1 menyajikan deskripsi statistik dari Indeks Harga Saham Gabungan
dan Indeks Sektoral dari sektor keuangan, industri barang konsumsi dan
pertambangan selama periode Januari 2007 hingga Mei 2012. Dari Tabel 1
diketahui bahwa rata-rata return dari indeks harian ketiga sektor tersebut lebih
besar dari return Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta bervariasi antar
sektor. Sektor industri barang konsumsi memberikan rata-rata return lebih besar
dibandingkan dengan dengan kedua sektor lainnya. Hammoudeh et al. (2009)
menyebutkan bahwa keadaan seperti ini adalah wajar bagi negara dengan
perekonomian besar. Indonesia juga merupakan negara dengan perekonomian
besar, yang dibuktikan dengan Produk domestik Bruto (PDB) mencapai 846,8
miliar US$ pada tahun 2011 dan menjadikannya masuk ke dalam 20 negara
dengan perekonomian terbesar di dunia (World Bank, 2012).
Tabel 1
Ringkasan Statistik Return Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) dan Indeks Sektoral Harian, 2007-2012
Statistik
rIHSG
rKeu
rKonsumsi
rTambang
Mean (%)
0.056
0.062
0.095
0.058
Std. Deviasi (%)
1.659
1.880
1.533
2.613
Skewness
-0.623
-0.065
-0.172
-0.733
Kurtosis
9.275
6.566
8.009
11.779
2251.262
(0.000)
700.455
(0.000)
1386.598
(0.000)
4357.043
(0.000)
-32.693
(0.000)
-32.618
(0.000)
-33.838
(0.000)
-32.865
(0.000)
Jarque-Bera
ADF
Sumber: BEI, berbagai tahun (diolah)
Nilai-nilai dalam standar deviasi menunjukan adanya variasi dalam series
masing-masing return saham dari waktu ke waktu. Hal ini berarti bertentangan
dengan syarat bahwa suatu aset harus bebas resiko atau dengan kata lain, aset-aset
42 tersebut mengandung resiko. Sektor pertambangan memiliki nilai standar deviasi
relatif paling tinggi dibandingkan dengan sektor keuangan dan sektor industri
barang konsumsi (Tabel 1). Seperti yang dikemukakan oleh Hammoudeh et al.
(2009), nilai standar deviasi yang tinggi mengindikasikan bahwa sektor tersebut
memiliki resiko paling besar dibandingkan kedua sektor lainnya karena harga
barang tambang sangat fluktuatif mengikuti harga tambang dunia.
Return sektor keuangan, industri barang konsumsi dan pertambangan
memiliki nilai skewness negatif. Hal ini berimplikasi return ketiga sektor tersebut
memiliki kesempatan yang lebih besar untuk turun daripada naik selama periode
waktu tertentu. Nilai kurtosis yang merupakan ukuran kemencengan (peakedness)
dari Tabel 1 lebih dari 3. Hal ini berarti bahwa distribusi return IHSG, return
sektor keuangan, sektor industri barang konsumsi dan sektor pertambangan pada
ketiga periode tersebut memiliki ekor yang lebih padat dibandingkan dengan
sebaran normal. Hasil tersebut didukung oleh nilai Jarque-Bera Test yang sangat
signifikan menolak hipotesis nol dari normalitas pada tingkat kepercayaan 5
persen. Nilai kurtosis yang lebih dari 3 juga merupakan gejala awal adanya
heteroskedastisitas.
Augmented Dickey Fuller (ADF) Test pada data level return IHSG, return
sektor keuangan, sektor industri barang konsumsi dan sektor pertambangan
menunjukkan bahwa ketiga data runtun waktu tersebut tidak mengandung akarakar unit (unit roots). Hal ini berarti data return IHSG, return sektor keuangan,
sektor industri barang konsumsi dan sektor pertambangan sudah stasioner (Tabel
1).
Gambar 5 menyajikan plot data runtun waktu return IHSG, return sektor
keuangan, sektor industri barang konsumsi dan sektor pertambangan yang
menunjukkan fluktuasi di sekitar nol, tetapi pada beberapa periode terdapat
kenaikan atau penurunan yang tajam. Data seperti ini mengindikasikan adanya
unsur heteroskedastisitas. Hal ini berarti pada jangka panjang varians dari return
IHSG konstan, tetapi ada beberapa periode di mana varians dari return IHSG
relatif tinggi (Firdaus, 2011).
43
rIHSG
8
4
0
-4
-8
-12
250
500
750
1000
1250
(a) Plot Data Return
IHSG
rkeuangan
12
8
4
0
-4
-8
-12
250
500
750
1000
1250
(b) Plot Data Return Sektor Keuangan
rtambang
12
8
4
0
-4
-8
-12
-16
-20
-24
-28
250
500
750
1000
(c) Plot Data Return Sektor Pertambangan
1250
44 rkonsumsi
10.0
7.5
5.0
2.5
0.0
-2.5
-5.0
-7.5
-10.0
250
500
750
1000
1250
(c) Plot Data Return Sektor Industri Barang Konsumsi
Gambar 5: (a), (b), (c) dan (d)
Sumber: BEI, berbagai tahun (diolah)
Gambar 5 Plot Data Runtun Waktu Return Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG), Return Sektor Keuangan, Sektor Industri Barang
Konsumsi dan Sektor Pertambangan, 2007-2012
4.2 Pemodelan Volatilitas
Langkah
pertama
dalam
pembentukan
model
volatilitas
adalah
pengidentifikasian mean equation secara tepat. Pengidentifikasian mean equation
yang tepat diperlukan karena varians yang digunakan dalam pembentukan model
volatilitas diukur berdasarkan rataannya, sehingga kesalahan dalam spesifikasi
rataan suatu model akan berimplikasi pada mis-spesifikasi dari variansnya.
Setelah itu, juga diperlukan tes terhadap efek ARCH/GARCH untuk memastikan
bahwa data dapat diestimasi dengan menggunakan model ARCH/GARCH dan
turunannya.
Dari hasil identifikasi model dengan menggunakan metode Box-Jenkins,
diperoleh model terbaik yaitu ARIMA(2,0,1) untuk data return harga saham
gabungan dan data return sektor industri barang konsumsi. Sedangkan untuk data
return sektor keuangan dan data return sektor pertambangan diperoleh model
ARIMA(2,0,0).
Pada Tabel 2 menyajikan deteksi efek ARCH dengan menggunakan
menggunakan uji Ljung-Box pada residual kuadrat. Uji ini lebih disukai
dibandingkan dengan menggunakan standar deviasi (seperti halnya uji Ljung-Box
45
pada residual) karena uji ini lebih mendekati definisi volatilitas yang sebenarnya
(Strydom dan Charteris, 2011). Dalam mendeteksi efek ARCH ini digunakan
panjang lag 12, penggunaan lag ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh
Engle (1982), Wei (2009) serta Strydom dan Charteris (2011). Berdasarkan nilai
Ljung-Box, autokorelasi tidak terdeteksi pada residual hingga lag 12. Sedangkan
dari residual kuadrat hingga lag 12 signifikan. Hal ini mengindikasikan adanya
autokorelasi. Uji ARCH-LM sangat kuat menolak hipotesis nol pada tingkat
kepercayaan 1 persen. Hasil tersebut memperkuat adanya efek ARCH pada data
return harga saham gabungan, return sektor keuangan, sektor industri barang
konsumsi dan sektor pertambangan.
Tabel 2
Deteksi Efek ARCH pada Model ARIMA
Uji
rIHSG
rKeu
rKonsumsi
rTambang
20.8388*
19.6068*
22.8637*
8.1475*
LB-Q (12)
11.167
9.9998
11.705
11.621
LB-Q2 (12)
463.34*
510.32*
498.11*
135.56*
ARCH-LM (12)
*, ** dan *** berturut-turut merupakan tingkat kepercayaan 1 persen, 5 persen dan 10 persen
Sebelum melakukan analisis lebih lanjut dalam pemodelan volatilitas,
diperlukan uji diagnostik untuk mengetahui apakah model GARCH dan
turunannya yang diestimasi dengan menggunakan peubah transaksi asing sudah
layak digunakan atau belum. Berdasarkan Tabel 3, uji efek ARCH dengan
menggunakan uji ARCH-LM untuk uji heteroskedastisitas dan uji Ljung-Box
untuk mengetahui ada atau tidaknya serial korelasi dalam level maupun kuadrat,
diketahui bahwa tidak ada satu pun uji yang signifikan. Hal ini dapat disimpulkan
bahwa efek ARCH dan autokorelasi sudah hilang. Atau dengan kata lain, model
yang diestimasi telah menghasilkan residual yang bersifat white noise.
Pada pengujian conditional mean equation, nilai π11 dan π21 pada data
return harga saham gabungan maupun harga saham sektor keuangan dan sektor
industri barang konsumsi terlihat bahwa struktur autoregresif sangat kuat yang
ditunjukkan dengan koefisien AR maupun MA (π11, π12, π13 dan π21 memiliki
tingkat signifikansi yang tinggi (Tabel 4). Hal ini menunjukkan bahwa return
harga saham gabungan maupun return sektor keuangan dan industri barang
46 konsumsi saat ini sangat tergantung dengan return sebelumnya. Sedangkan pada
sektor pertambangan, koefisien autoregresif tidak signifikan. Hal ini dikarenakan
pertambangan juga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti fluktuasi pasar, biaya
transportasi, regulasi lingkungan serta politik (Buchanan, 2012). Sektor
pertambangan juga sangat rentan terhadap pergerakan harga minyak bumi karena
batu bara merupakan produk substitusi dari minyak bumi. Turunnya harga minyak
dipastikan akan menekan harga komoditas batu bara dan selanjutnya berpengaruh
terhadap kinerja saham perusahaan pertambangan (Anwar, 2012).
Tabel 3
Uji Model CGARCH(1,1)
Uji
rIHSG
rKeu
rKonsumsi
rTambang
ARCH-LM (12)
0.0705
0.3096
1.2686
0.6203
LB-Q (12)
10.084
10.311
12.972
10.035
LB-Q2 (12)
0.8287
36.075
16.071
50.359
*, ** dan *** berturut-turut merupakan tingkat kepercayaan 1 persen, 5 persen dan 10 persen
Hasil estimasi pada Tabel 4 menunjukkan bahwa efek dari guncangan yang
terjadi pada return saham gabungan maupun return saham sektor keuangan,
sektor industri barang konsumsi dan sektor pertambangan sebelumnya memiliki
tingkat persistensi tinggi pada komponen volatilitas permanen atau efek suatu
guncangan akan bertahan untuk periode yang lama, ditunjukkan oleh nilai ρ yang
mendekati 1 pada tingkat kepercayaan 1 persen, masing-masing sebesar 0.9968,
0,9951, 0.9667 dan 0.9965. Hal ini menunjukkan bahwa return saham sektor
pertambangan lebih persisten dibandingkan return saham sektor keuangan dan
sektor industri barang konsumsi. Hasil seperti itu wajar terjadi karena sektor
pertambangan memang lebih dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi dunia
maupun domestik, sehingga ketika terjadi guncangan maka komponen permanen
sektor pertambangan akan lebih persisten.
Pada komponen permanen, nilai half-life dari return saham sektor industri
barang konsumsi sebesar 20.449, lebih kecil dibandingkan nilai half-life dari
return saham sektor keuangan dan return saham sektor tambang yang masingmasing sebesar 140.165 dan 197.639. Hal ini berarti efek suatu guncangan yang
terjadi pada return saham sebelumnya di sektor industri barang konsumsi akan
menghilang dalam waktu 20 hari, lebih cepat dibandingkan dengan return kedua
47
sektor lainnya yang akan menghilang dalam waktu 140 hari dan 198 hari.
Sedangkan nilai half-life dari return saham gabungan sebesar 218.796 berarti
bahwa guncangan pada return saham gabungan akan menghilang dalam waktu
219 hari (Tabel 4). Hasil ini didukung oleh nilai standar deviasi return sektor
industri barang konsumsi yang paling rendah dibandingkan nilai standar deviasi
dari return saham gabungan, return saham sektor keuangan dan sektor
pertambangan. Hal ini dikarenakan produk sektor industri barang konsumsi
merupakan produk yang akan selalu dibutuhkan oleh siapa pun sehingga tidak
terkena imbas ketika terjadi gejolak perekonomian di Indonesia maupun dunia.
Selain itu, sektor industri barang konsumsi mendekati pasar persaingan sempurna
di mana banyak industri yang bergerak di sektor tersebut.
Koefisien persistensi pada komponen transitory volatilitas (α+ β) return
saham gabungan maupun return saham sektor keuangan, sektor industri barang
konsumsi serta sektor pertambangan masing-masing sebesar 0.871, 0.860, 0.746
dan 0.856. Nilai koefisien komponen transitory tersebut lebih kecil dibandingkan
dengan nilai koefisien persistensi komponen permanen, hal ini berimplikasi return
saham gabungan maupun return saham ketiga sektor tersebut akan kembali ke
rata-rata dengan sangat lambat dan dalam jangka waktu yang lama. Dari koefisien
persistensi komponen volatilitas transitory dapat diketahui bahwa return saham
sektor keuangan lebih persisten daripada return dari kedua sektor lainnya (Tabel
4). Hal ini menunjukkan bahwa ketika terjadi guncangan akibat faktor
mikroekonomi dari struktur pasar keuangan maka sektor keuangan akan
mengalami guncangan lebih lama, oleh karena itu, faktor mikroekonomi sektor
keuangan sangat penting dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.
Dari Tabel 4 dapat diketahui bahwa return saham sektor industri barang
konsumsi akan lebih cepat kembali ke rata-rata dibandingkan kedua sektor lainnya
yang ditunjukkan oleh nilai half-life sebesar 2 hari. Hal ini sejalan dengan nilai
half-life komponen permanen yang lebih kecil dibandingkan kedua sektor lainnya.
Menurut Hammoudeh et al. (2009), sektor industri barang konsumsi adalah sektor
non-cyclical yang tetap bertahan meskipun perekonomian dalam kondisi resesi
sehingga ketika terjadi resesi akan banyak investor yang berinvestasi di sektor ini.
48 Efek suatu guncangan pada return saham sektor keuangan dan sektor
pertambangan, masing-masing akan menghilang dalam waktu 5 dan 4 hari.
Tabel 4
CGARCH(1,1)-Dampak Guncangan Transaksi Asing terhadap
Return Saham Gabungan, Return Saham Sektoral dan Volatilitas
Parameter
rIHSG
rKeu
rKonsumsi
rTambang
Conditional Mean Equation
λ0
π11
0.03903700***
-0.00186800
0.07214000*
0.04445400
0.65842300*
-0.00119000
0.58769700*
0.00827100
-0.06493400**
-0.01202300
π 12
π 13
-0.02972900
π 21
-0.72945700*
λ1
0.00102800*
0.00094100*
0.00055800*
0.00036500*
λ2
0.00000023
0.00000049***
-0.00000008
0.00000065
1.14024800
1.18067400
2.77313100*
3.48564500
0.99683700*
0.99506700*
0.96667100*
0.99649900*
0.04150900***
0.07806000**
0.01951900
0.10520400**
-0.00021000**
-0.00025700**
-0.00025400*
-0.00040700*
0.21139500*
0.15842400*
0.22247900*
0.16814100*
0.66000700*
0.70157300*
0.52379200*
0.68831800*
0.00019800**
0.00028300**
0.00028600*
0.00044700*
0.871
0.860
0.746
0.856
218.796
140.165
20.449
197.639
5.036
4.596
2.368
4.473
-0.08953900*
-0.59422900*
Conditional Variance Equation
θ1
θ2
(α + β)
Half-life (ρ)
Half-life (α + β)
*, ** dan *** berturut-turut merupakan tingkat kepercayaan 1 persen, 5 persen dan 10 persen
Keterangan:
λ0 : unconditional mean
π11, π12 dan π13: koefisien autoregressive
π21 : koefisien moving average
: koefisien besarnya pengaruh transaksi asing bersih terhadap return saham
: koefisien besarnya pengaruh volume perdagangan terhadap return saham
: efek suatu guncangan terhadap komponen volatilitas permanen
: efek suatu guncangan terhadap komponen volatilitas transitory
 : kekuatan persistensi komponen volatilitas permanen
(+) : kekuatan persistensi komponen volatilitas transitory
49
Guncangan yang terjadi pada return saham gabungan, return sektor
keuangan dan return sektor industri barang konsumsi lebih dominasi oleh
guncangan yang terjadi pada komponen transitory yang ditunjukkan oleh nilai α
yang lebih besar dibandingkan oleh nilai φ.Hal ini menunjukkan bahwa volatilitas
return sektor keuangan dan sektor pertambangan didominasi oleh komponen
transitory. Sementara itu, sektor pertambangan lebih didominasi oleh guncangan
yang terjadi pada komponen permanen yang ditunjukkan oleh nilai φ sebesar
0.168. Hal ini menunjukkan bahwa volatilitas return sektor pertambangan lebih
disebabkan oleh faktor makroekonomi seperti kondisi perekonomian dunia, biaya
transportasi, regulasi lingkungan maupun politik. Sedangkan volatilitas return
sektor keuangan dan sektor industri barang konsumsi lebih disebabkan oleh faktor
mikroekonomi perusahaan maupun struktur pasar dari sektor tersebut. Nilai λ1
yang bernilai positif dan signifikan dalam taraf 1% untuk semua model
menunjukkan bahwa pada saat transaksi asing bersih atau foreign net purchase
(net position) positif, yang dapat diakibatkan oleh meningkatnya pembelian
investor asing di pasar saham Indonesia, akan meningkatkan return saham
gabungan, return saham sektor keungan, return saham sektor industri konsumsi
dan return saham sektor pertambangan. Nilai λ1 sebesar 0.001028 pada data
return saham gabungan berarti bahwa pada saat net position meningkat sebesar 1
miliar rupiah maka akan meningkatkan harga saham gabungan sebesar 0.001 basis
point. Nilai λ1 sebesar 0.000941 pada data return saham sektor keuangan berarti
bahwa pada saat net position meningkat sebesar 1 miliar rupiah maka akan
meningkatkan harga saham sektor keuangan sebesar 0.0009 basis point. Nilai λ1
sebesar 0.000558 pada data return saham sektor industri barang konsumsi berarti
bahwa pada saat net position meningkat sebesar 1 miliar rupiah maka akan
meningkatkan harga saham sektor industri barang konsumsi sebesar 0.0006 basis
point. Dan Nilai λ1 sebesar 0.000365 pada data return saham sektor pertambangan
berarti bahwa pada saat net position meningkat sebesar 1 miliar rupiah maka akan
meningkatkan harga saham sektor saham sektor pertambangan sebesar 0.0004
basis point.
Nilai λ 1 yang positif dan signifikan yang diikuti dengan nilai θ2 yang juga
positif dan signifikan namun diikuti oleh nilai θ1 yang negatif dan signifikan untuk
50 semua model menunjukkan bahwa peningkatan return saham pada saat net
position positif akan diikuti dengan peningkatan komponen volatilitas transitory,
namun tidak meningkatkan komponen volatilitas permanen atau dengan kata lain
menstabilkan volatilitas permanen, baik untuk return saham gabungan, return
saham sektor keuangan, return saham sektor industri barang konsumsi, maupun
return saham sektor pertambangan. Perbedaan pengaruh guncangan transaksi
investor asing terhadap komponen permanen dan komponen transitory ini serupa
dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Neely dan Fawley (2012). Hal ini
dikarenakan investor pada mulanya hanya memiliki sebagian informasi mengenai
harga saham di suatu pasar, jadi ketika ada suatu guncangan maka investor asing
akan cepat merespon dengan mengurangi atau meningkatkan transaksinya dan hal
itu akan diikuti oleh investor domestik. Keadaan tersebut akan memicu volatilitas
harga saham. Akan tetapi, karena setiap investor asing hanya memiliki informasi
mengenai nilai dari suatu saham secara parsial, maka setelah beberapa waktu,
semakin banyak investor asing yang memiliki saham di pasar domestik, akan
memperbaiki informasi yang mereka miliki yang kemudian akan dapat
mengurangi volatilitas harga saham.
Peningkatan net position akan berdampak pada peningkatan volatilitas
(komponen transitory) 13,69 kali lebih besar dibandingkan dengan peningkatan
return saham gabungan. Sementara itu, peningkatan net position akan berdampak
pada peningkatan volatilitas (komponen transitory) return saham sektor keuangan,
return saham sektor industri barang konsumsi, maupun return saham sektor
pertambangan masing-masing sebesar 17.88 kali , 30.31 kali, dan 57.92 kali
dibandingkan dengan peningkatan returnnya. Hal ini dapat dikatakan bahwa
investor asing lebih banyak bergerak di sektor pertambangan dibandingkan
dengan kedua sektor lainnya karena sektor pertambangan merupakan sektor yang
memerlukan investor dengan modal kuat serta teknologi tinggi, dimana pada
umumnya investornya berasal dari negara maju.
V. SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Dari hasil pembahasan sebelumnya diperoleh simpulan sebagai berikut:
1.
Return saham gabungan, return saham sektor keuangan dan return saham
sektor industri barang konsumsi sangat tergantung dengan return sebelumnya.
Sedangkan return sektor pertambangan tidak tergantung dengan return
sebelumnya.
2.
Pada saat transaksi asing bersih atau foreign net purchase (net position)
positif, yang dapat diakibatkan oleh meningkatnya pembelian investor asing
di pasar saham Indonesia, akan meningkatkan return saham gabungan, return
saham sektor keuangan, return saham sektor industri konsumsi dan return
saham sektor pertambangan.
3.
Peningkatan return saham pada saat net position positif akan diikuti dengan
peningkatan komponen volatilitas transitory, namun tidak meningkatkan
komponen volatilitas permanen atau dengan kata lain menstabilkan volatilitas
permanen, baik untuk return saham gabungan, return saham sektor keuangan,
return saham sektor industri barang konsumsi, maupun return saham sektor
pertambangan.
4.
Peningkatan net position akan berdampak pada peningkatan volatilitas
(komponen transitory) yang lebih besar dibandingkan dengan peningkatan
return saham, baik untuk return saham gabungan, return saham sektor
keuangan, return saham sektor industri barang konsumsi, maupun return
saham sektor pertambangan.
5.
Pada komponen permanen, efek suatu guncangan yang terjadi pada return
saham sebelumnya di sektor industri barang konsumsi akan menghilang
dalam waktu 20 hari, lebih cepat dibandingkan dengan return kedua sektor
lainnya yang akan menghilang dalam waktu 140 hari dan 198 hari.
Sedangkan guncangan pada return saham gabungan akan menghilang dalam
waktu 219 hari.
6.
Pada komponen transitory, efek suatu guncangan pada return saham sektor
industri barang konsumsi akan menghilang dalam 2 hari, lebih cepat
52 dibandingkan dengan sektor keuangan dan sektor pertambangan, masingmasing akan menghilang dalam waktu 5 dan 4 hari.
5.2 Saran
Adanya pengaruh transaksi investor asing yang menyebabkan peningkatan
volatilitas return saham, baik gabungan maupun sektoral yang lebih besar
dibandingkan dengan peningkatan return sahamnya, maka diperlukan peningkatan
transaksi investor domestik sebagai penyeimbang di pasar saham. Hal ini dapat
dilakukan dengan cara meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat Indonesia
mengenai pentingnya pasar modal bagi pembangunan nasional, sehingga investor
domestik dapat lebih berperan dalam transaksi pasar modal di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Alexander C. 2006. Market Models: A Guide to Financial Data Analysis.
Chichester: John Wiley & Son Inc.
Andersen TG, Bollerslev T. 1997. Heterogeneous information arrivals and return
volatility dynamics: Uncovering the long-run in high frequency returns.
Journal of Finance 52: 975–1005.
Ang R. 1997. Buku Pintar Pasar Modal Indonesia. Jakarta: Mediasoft.
Anwar T. 2008. Harga Minyak Turun, Kenapa IHSG Ikut Turun?. [terhubung
berkala].
http://lipsus.kompas.com/grammyawards/read/2008/08/13/08325517/Harga.
Minyak.Turun..Kenapa.IHSG.Ikut.Turun [12 September 2012].
[BI] Bank Indonesia. 2000. Laporan Tahunan Bank Indonesia Tahun 1999.
Jakarta: Bank Indonesia.
[Bapepam-LK] Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan. Keputusan
Menteri KeuanganRepublik Indonesia Nomor 455 Tahun 1997 tentang
Pembelian Saham oleh Pemodal Asing melalui Pasar Modal. Jakarta:
Bapepam-LK.
[Bapepam-LK] Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan. 2008. Analisis
Hubungan Kointegrasi dan Kausalitas serta Hubungan Dinamis antara
Aliran Modal Asing, Perubahan Nilai Tukar, dan Pergerakan IHSG di
Pasar Modal Indonesia. Jakarta: Bapepam-LK.
Bean C. 2003. Asset Prices, Financial Imbalances and Monetary Policy: Are
Inflation Targets Enough?. BIS Working Papers 140.
Bekaert G, Harvey CR. 2003. Emerging Markets Finance. Journal of Empirical
Finance 10: 3 -55.
Borio C, Lowe P. 2002. Asset Prices, Financial and Monetary Stability: Exploring
the Nexus. BIS Working Papers 114.
[BEI] Bursa Efek Indonesia. 2012. Pengantar Pasar Modal dan Ekuitas.
[terhubung
berkala].
http://www.idx.co.id/home/information/forInvestor/defaults.aspx [19 Mei
2012].
Buchanan R. 2012. External Factors Affecting Mining. [terhubung berkala].
http://www.ehow.com/info_8557112_external-factors-affectingmining.html [12 September 2012].
54 Butler C. 1999. Mastering Value at Risk, A Step-by Step Guide to Understanding
and Applying VaR. Great Britain: Pearson Education Limited.
Clark J, Berko E. 1997. Foreign Investment Fluctuations and Emerging Market
Stock Returns: The Case of Mexico. Federal Reserve Bank of New York
Staff Report 24.
Deo M, Srinivasan K, Devanadhen K. 2008. The Empirical Relationship between
Stock Returns, Trading Volume, and Volatility: Evidence from Select AsiaPasific Stock Market. European Journal of Economics, Finance, and
Administrative Sciences 12: 58-68.
Enders W. 2004. Applied Econometric Time Series. Ed ke-2. New York: John
Wiley & Son Inc.
Engle R. 1982. Autoregressive Conditional Heteroscedasticity with Estimates of
the Variance of United Kingdom Inflation. Econometrica 50: 987-1007.
Firdaus M. 2011. Aplikasi Ekonometrika untuk Data Panel dan Time Series.
Bogor: IPB Press.
Gerdesmeier D, Reimers HE, Roffia B. 2010. Asset Price Misalignment and The
Role of Money and Credit. International Finance 13: 377-407.
Hammoudeh SM, Yuan Y. 2008. Metal Volatility in Presence of Oil and Interest
Rate Shocks. Energy Economics 30: 606-620.
Hammoudeh SM, Yuan Y, Mcaleer M. 2009. Shock and Volatility Spillovers
among Equity Sectors of The Gulf Arab Stock Markets. The Quarterly
Review of Economics and Finance 49: 829-842.
Haryanto R. 1998. Analisis Minat Investor terhadap Saham-Saham di Bursa Efek
Jakarta dengan Metode Diskriminan [tesis]. Depok: Program Pascasarjana
Ilmu Ekonomi, Universitas Indonesia.
Jansen WJ. 2003. What Do Capital Inflows Do? Dissecting the Transmission
Mechanism for Thailand, 1980–96. Journal of Macroeconomics 25(4): 457480.
Jogiyanto. 1998. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Yogyakarta: BPFE.
Jorion P. 2007. Value at Risk: The New Benchmark for Managing Financial Risk.
New York: McGraw-Hill.
Kaminsky G. Reinhart C. 2002. Financial Markets in Times of Stress. Journal of
Development Economics 69(2): 451–470.
55
Kim S, Yang DY. 2009. Do Capital Inflows Matter to Asset Prices? The Case of
Korea. Asian Economic Journal 23: 323-348.
Kuncoro M. 2009. Urgensi Stimulan Kebijakan di Tengah Krisis Global.
Dayasaing 10(1): 78-100.
Lai CJ, Lou KR, Shiu CY. 2008. Foreigner Investors and Stock Volatility:
Evidence from Taiwan. Information and Management Sciences 19: 315328.
Levine R. 1997. Stock Markets, Economic Development and Capital Control
Liberalization. Perspective 3.
Levine R, Zervos S. 1998. Stock Markets, Banks, and Economic Growth.
American Economic Review 88: 537-58.
Mollah S, Mobarek A. 2009. Volatility difference across Countries: Evidence
from International Financial Markets. Studies in Economics and Finance
26(4).
Müller UA et al. 1997. Volatilities of different time resolutions –analyzing the
dynamics of market components. Journal of Empirical Finance 4, 213–239.
Nelson DB. 1991. Conditional Heteroscedasticity in Asset Returns: A New
Approach. Econometrica 59: 347-370.
Neely CJ, Fawley BW. 2012. Capital Flows and Japanese Asset Volatility.
Federal Reserve Bank of St. Louis Working Paper Series 034B.
Park JH, Nam SK, Eom K . 2007. Market efficiency in KOSDAQ: A volatility
comparison between main boards and new markets using a permanent and
transitory component model. Asia-Pacific Journal of Financial Studies 36:
533-566.
Rajput N, Chopra P, Rajput A. 2012. FII and Its Impact on Stock Market: A
Study on Lead-Lag and Volatility Spillover. Asian Journal of Finance &
Accounting 4: 18-38.
Samouilhan N. 2007. The Persistence of SA Equity Volatility: A Component
ARCH Perspective. Journal of the Study of Economics and Econometrics
31(1): 99-117.
Schill MJ. New Perspectives on Investing in Emerging Markets. 2006. The
Research Foundation of CFA Institute Literature Review.
Stulz RM, Wasselfallen W. 1995. Foreign Equity Investment Restriction, Capital
Flight and Shareholder Wealth Maximization: Theory and Evidence. Review
of Financial Studies.
56 Wang J. 2007. Foreign Equity Trading and Emerging Market Volatility: Evidence
from Indonesia and Thailand. Journal of Development Economics 84:798811.
Watsham JT, Parramore K. 1997. Quantitative Methodes in Finance. Ed ke-1.
London: Thomson Learning.
Wei C. 2009. Using The Component GARCH Modelling and Forecasting Method
to Determine The Effect of Unexpected Exchange Rate Mean and Volatility
Spillover on Stock Markets. International Research Journal of Finance and
Economics 23: 62- 74.
Zarour BA, Siriopoulos CP. 2008. Transitory and Permanent Volatility
Components: The Case of the Middle East Stock Markets. Review of Middle
East Economics and Finance 4(2).
57
Lampiran 1
Uji Stasioneritas Data Return Indeks Harga Saham Gabungan
Null Hypothesis: RIHSG has a unit root
Exogenous: Constant, Linear Trend
Lag Length: 0 (Automatic based on SIC, MAXLAG=22)
Augmented Dickey-Fuller test statistic
Test critical values:
1% level
5% level
10% level
t-Statistic
Prob.*
-32.69261
-3.965018
-3.413221
-3.128631
0.0000
*MacKinnon (1996) one-sided p-values.
Augmented Dickey-Fuller Test Equation
Dependent Variable: D(RIHSG)
Method: Least Squares
Date: 10/01/12 Time: 02:54
Sample (adjusted): 2 1320
Included observations: 1319 after adjustments
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
RIHSG(-1)
C
@TREND(1)
-0.897052
0.040036
1.50E-05
0.027439
0.091029
0.000119
-32.69261
0.439819
0.125616
0.0000
0.6601
0.9001
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.448174
0.447336
1.651937
3591.228
-2532.149
534.4059
0.000000
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
-0.001590
2.222096
3.844046
3.855838
3.848468
2.006450
58 Lampiran 2
Uji Stasioneritas Data Return Indeks Sektor Keuangan
Null Hypothesis: RKEU has a unit root
Exogenous: Constant, Linear Trend
Lag Length: 0 (Automatic based on SIC, MAXLAG=22)
Augmented Dickey-Fuller test statistic
Test critical values:
1% level
5% level
10% level
t-Statistic
Prob.*
-32.61779
-3.965018
-3.413221
-3.128631
0.0000
*MacKinnon (1996) one-sided p-values.
Augmented Dickey-Fuller Test Equation
Dependent Variable: D(RKEU)
Method: Least Squares
Date: 09/05/12 Time: 10:48
Sample (adjusted): 2 1320
Included observations: 1319 after adjustments
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
RKEU(-1)
C
@TREND(1)
-0.894806
0.039529
2.49E-05
0.027433
0.103156
0.000135
-32.61779
0.383201
0.184126
0.0000
0.7016
0.8539
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.447042
0.446202
1.872049
4612.010
-2697.135
531.9637
0.000000
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
-0.001534
2.515598
4.094216
4.106008
4.098637
1.999514
59
Lampiran 3
Uji Stasioneritas Data Return Indeks Sektor Industri Barang
Konsumsi
Null Hypothesis: RKONSUMSI has a unit root
Exogenous: Constant, Linear Trend
Lag Length: 0 (Automatic based on SIC, MAXLAG=22)
Augmented Dickey-Fuller test statistic
Test critical values:
1% level
5% level
10% level
t-Statistic
Prob.*
-33.83766
-3.965018
-3.413221
-3.128631
0.0000
*MacKinnon (1996) one-sided p-values.
Augmented Dickey-Fuller Test Equation
Dependent Variable: D(RKONSUMSI)
Method: Least Squares
Date: 09/05/12 Time: 10:49
Sample (adjusted): 2 1320
Included observations: 1319 after adjustments
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
RKONSUMSI(-1)
C
@TREND(1)
-0.932150
0.030785
8.75E-05
0.027548
0.084331
0.000111
-33.83766
0.365054
0.789978
0.0000
0.7151
0.4297
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.465258
0.464445
1.530440
3082.398
-2431.386
572.5000
0.000000
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
-0.002020
2.091291
3.691260
3.703052
3.695681
1.989209
60 Lampiran 4
Uji Stasioneritas Data Return Indeks Sektor Pertambangan
Null Hypothesis: RTAMBANG has a unit root
Exogenous: Constant, Linear Trend
Lag Length: 0 (Automatic based on SIC, MAXLAG=22)
Augmented Dickey-Fuller test statistic
Test critical values:
1% level
5% level
10% level
t-Statistic
Prob.*
-32.86489
-3.965018
-3.413221
-3.128631
0.0000
*MacKinnon (1996) one-sided p-values.
Augmented Dickey-Fuller Test Equation
Dependent Variable: D(RTAMBANG)
Method: Least Squares
Date: 09/05/12 Time: 10:49
Sample (adjusted): 2 1320
Included observations: 1319 after adjustments
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
RTAMBANG(-1)
C
@TREND(1)
-0.901924
0.239304
-0.000281
0.027443
0.143453
0.000188
-32.86489
1.668174
-1.491755
0.0000
0.0955
0.1360
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.450777
0.449943
2.600468
8899.363
-3130.635
540.0568
0.000000
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
-0.001137
3.506288
4.751532
4.763324
4.755953
2.007550
61
Lampiran 5
Uji Stasioneritas Data Transaksi Asing Bersih/Foreign Net
Purchase (FNP)
Null Hypothesis: FNP has a unit root
Exogenous: Constant, Linear Trend
Lag Length: 0 (Automatic based on SIC, MAXLAG=22)
Augmented Dickey-Fuller test statistic
Test critical values:
1% level
5% level
10% level
t-Statistic
Prob.*
-32.81149
-3.965018
-3.413221
-3.128631
0.0000
*MacKinnon (1996) one-sided p-values.
Augmented Dickey-Fuller Test Equation
Dependent Variable: D(FNP)
Method: Least Squares
Date: 10/01/12 Time: 03:50
Sample (adjusted): 2 1320
Included observations: 1319 after adjustments
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
FNP(-1)
C
@TREND(1)
-0.901018
90.66429
-0.021180
0.027460
38.35753
0.050217
-32.81149
2.363664
-0.421761
0.0000
0.0182
0.6733
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.449971
0.449135
694.3924
6.35E+08
-10500.34
538.3000
0.000000
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
-0.964787
935.5829
15.92622
15.93802
15.93064
2.005239
62 Lampiran 6
Uji Stasioneritas Data Volume Perdagangan Saham di Bursa Efek
Indonesia (BEI)
Null Hypothesis: VOL has a unit root
Exogenous: Constant, Linear Trend
Lag Length: 21 (Automatic based on SIC, MAXLAG=22)
Augmented Dickey-Fuller test statistic
Test critical values:
1% level
5% level
10% level
t-Statistic
Prob.*
-5.731452
-3.965131
-3.413277
-3.128663
0.0000
*MacKinnon (1996) one-sided p-values.
Augmented Dickey-Fuller Test Equation
Dependent Variable: D(VOL)
Method: Least Squares
Date: 10/01/12 Time: 03:50
Sample (adjusted): 23 1320
Included observations: 1298 after adjustments
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
VOL(-1)
D(VOL(-1))
D(VOL(-2))
D(VOL(-3))
D(VOL(-4))
D(VOL(-5))
D(VOL(-6))
D(VOL(-7))
D(VOL(-8))
D(VOL(-9))
D(VOL(-10))
D(VOL(-11))
D(VOL(-12))
D(VOL(-13))
D(VOL(-14))
D(VOL(-15))
D(VOL(-16))
D(VOL(-17))
D(VOL(-18))
D(VOL(-19))
D(VOL(-20))
D(VOL(-21))
C
@TREND(1)
-0.088244
-0.023696
-0.240437
-0.237893
0.065538
0.068647
0.390620
-0.215960
0.324512
0.052732
0.129530
0.087283
-0.024879
0.146658
-0.339279
0.159642
-0.082488
-0.033866
0.046216
-0.009331
0.073121
-0.164224
1065.113
0.803004
0.015396
0.028974
0.028979
0.029625
0.030343
0.030205
0.029886
0.031764
0.030034
0.031337
0.031211
0.031422
0.031496
0.031488
0.031058
0.031341
0.030505
0.030587
0.030595
0.029227
0.027739
0.027637
2299.153
2.990516
-5.731452
-0.817842
-8.296987
-8.030025
2.159898
2.272688
13.07046
-6.798946
10.80485
1.682714
4.150100
2.777779
-0.789923
4.657636
-10.92418
5.093743
-2.704107
-1.107194
1.510569
-0.319249
2.636014
-5.942119
0.463263
0.268517
0.0000
0.4136
0.0000
0.0000
0.0310
0.0232
0.0000
0.0000
0.0000
0.0927
0.0000
0.0056
0.4297
0.0000
0.0000
0.0000
0.0069
0.2684
0.1311
0.7496
0.0085
0.0000
0.6433
0.7883
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.439957
0.429846
40304.09
2.07E+12
-15593.93
43.51415
0.000000
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
1.146701
53376.87
24.06461
24.16018
24.10047
1.976226
63
Lampiran 7
Correlogram Data Return Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
64 Lampiran 8
Correlogram Data Return Indeks Sektor Keuangan
65
Lampiran 9
Correlogram Data Return Indeks Sektor Konsumsi
66 Lampiran 10 Correlogram Data Return Indeks Sektor Pertambangan
67
Lampiran 11 Model ARIMA(2,0,1) Data Return Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG)
Dependent Variable: RIHSG
Method: Least Squares
Date: 10/01/12 Time: 04:24
Sample (adjusted): 4 1320
Included observations: 1317 after adjustments
Convergence not achieved after 500 iterations
MA Backcast: 3
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
AR(1)
AR(3)
MA(1)
0.059663
0.733359
-0.086275
-0.645864
0.045647
0.168317
0.023069
0.176289
1.307057
4.357019
-3.739831
-3.663661
0.1914
0.0000
0.0002
0.0003
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
Inverted AR Roots
Inverted MA Roots
0.017597
0.015353
1.647835
3565.270
-2524.531
7.839651
0.000035
.51+.19i
.65
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
.51-.19i
-.29
0.056028
1.660632
3.839835
3.855577
3.845738
1.978945
68 Lampiran 12 Correlogram Residual Model ARIMA(2,0,1) Data Return Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG)
69
Lampiran 13 Correlogram Residual Kuadrat Model ARIMA(2,0,1) Data Return
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
70 Lampiran 14 Uji ARCH-LM Model ARIMA(2,0,1) Data Return Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG)
Heteroskedasticity Test: ARCH
F-statistic
Obs*R-squared
20.83881
211.6225
Prob. F(12,1292)
Prob. Chi-Square(12)
0.0000
0.0000
Test Equation:
Dependent Variable: RESID^2
Method: Least Squares
Date: 10/01/12 Time: 04:33
Sample (adjusted): 16 1320
Included observations: 1305 after adjustments
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
RESID^2(-1)
RESID^2(-2)
RESID^2(-3)
RESID^2(-4)
RESID^2(-5)
RESID^2(-6)
RESID^2(-7)
RESID^2(-8)
RESID^2(-9)
RESID^2(-10)
RESID^2(-11)
RESID^2(-12)
0.910139
0.119964
0.259860
0.002094
0.071633
0.031168
-0.048587
0.060906
0.015077
-0.039539
0.095474
0.077292
0.018684
0.239278
0.027819
0.027936
0.028735
0.028714
0.028780
0.028743
0.028729
0.028766
0.028696
0.028686
0.027899
0.027779
3.803682
4.312299
9.301937
0.072880
2.494690
1.082969
-1.690368
2.120039
0.524107
-1.377830
3.328233
2.770476
0.672605
0.0001
0.0000
0.0000
0.9419
0.0127
0.2790
0.0912
0.0342
0.6003
0.1685
0.0009
0.0057
0.5013
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.162163
0.154381
7.045788
64138.92
-4393.103
20.83881
0.000000
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
2.709242
7.662001
6.752649
6.804190
6.771984
2.000011
71
Lampiran 15 Model ARIMA(2,0,0) Data Return Indeks Sektor Keuangan
Dependent Variable: RKEU
Method: Least Squares
Date: 10/01/12 Time: 04:35
Sample (adjusted): 4 1320
Included observations: 1317 after adjustments
Convergence achieved after 3 iterations
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
AR(1)
AR(3)
0.061393
0.106570
-0.077589
0.052996
0.027372
0.027370
1.158445
3.893372
-2.834778
0.2469
0.0001
0.0047
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
Inverted AR Roots
0.017064
0.015568
1.867515
4582.724
-2689.850
11.40590
0.000012
.25+.37i
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
.25-.37i
-.39
0.061501
1.882224
4.089370
4.101177
4.093797
2.007959
72 Lampiran 16 Correlogram Residual Model ARIMA(2,0,0) Data Return Indeks
Sektor Keuangan
73
Lampiran 17 Correlogram Residual Kuadrat Model ARIMA(2,0,0) Data Return
Indeks Sektor Keuangan
74 Lampiran 18 Uji ARCH-LM Model ARIMA(2,0,0) Data Return Indeks Sektor
Keuangan
Heteroskedasticity Test: ARCH
F-statistic
Obs*R-squared
19.60685
201.1061
Prob. F(12,1295)
Prob. Chi-Square(12)
0.0000
0.0000
Test Equation:
Dependent Variable: RESID^2
Method: Least Squares
Date: 10/01/12 Time: 04:37
Sample (adjusted): 13 1320
Included observations: 1308 after adjustments
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
RESID^2(-1)
RESID^2(-2)
RESID^2(-3)
RESID^2(-4)
RESID^2(-5)
RESID^2(-6)
RESID^2(-7)
RESID^2(-8)
RESID^2(-9)
RESID^2(-10)
RESID^2(-11)
RESID^2(-12)
1.074470
0.221677
0.042570
0.093727
0.062795
0.030096
-0.005381
0.050466
0.009648
-0.017562
0.087212
0.027740
0.087354
0.271959
0.027686
0.028354
0.028270
0.028368
0.028421
0.028397
0.028367
0.028389
0.028339
0.028221
0.028303
0.027635
3.950854
8.006964
1.501385
3.315425
2.213600
1.058920
-0.189510
1.779040
0.339838
-0.619721
3.090361
0.980101
3.161010
0.0001
0.0000
0.1335
0.0009
0.0270
0.2898
0.8497
0.0755
0.7340
0.5356
0.0020
0.3272
0.0016
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.153751
0.145909
7.517448
73183.08
-4487.972
19.60685
0.000000
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
3.473476
8.134267
6.882220
6.933666
6.901517
2.004172
75
Lampiran 19 Model ARIMA(2,0,1) Data Return Indeks Sektor Industri Barang
Konsumsi
Dependent Variable: RKONSUMSI
Method: Least Squares
Date: 10/01/12 Time: 04:42
Sample (adjusted): 3 1320
Included observations: 1318 after adjustments
Convergence achieved after 14 iterations
MA Backcast: 2
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
AR(1)
AR(2)
MA(1)
0.098552
0.801790
-0.128199
-0.738891
0.033597
0.107528
0.028035
0.106324
2.933395
7.456556
-4.572908
-6.949433
0.0034
0.0000
0.0000
0.0000
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.018283
0.016042
1.520907
3039.488
-2420.804
8.157178
0.000022
Inverted AR Roots
Inverted MA Roots
.58
.74
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
.22
0.096230
1.533254
3.679521
3.695253
3.685419
2.004527
76 Lampiran 20 Correlogram Residual Model ARIMA(2,0,1) Data Return Indeks
Sektor Industri Barang Konsumsi
77
Lampiran 21 Correlogram Residual Kuadrat Model ARIMA(2,0,1) Data Return
Indeks Sektor Industri Barang Konsumsi
78 Lampiran 22 Uji ARCH-LM Model ARIMA(2,0,1) Data Return Indeks Sektor
Industri Barang Konsumsi
Heteroskedasticity Test: ARCH
F-statistic
Obs*R-squared
22.86368
228.6129
Prob. F(12,1293)
Prob. Chi-Square(12)
0.0000
0.0000
Test Equation:
Dependent Variable: RESID^2
Method: Least Squares
Date: 10/01/12 Time: 04:45
Sample (adjusted): 15 1320
Included observations: 1306 after adjustments
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
RESID^2(-1)
RESID^2(-2)
RESID^2(-3)
RESID^2(-4)
RESID^2(-5)
RESID^2(-6)
RESID^2(-7)
RESID^2(-8)
RESID^2(-9)
RESID^2(-10)
RESID^2(-11)
RESID^2(-12)
0.797591
0.248866
0.156802
0.026947
0.047636
0.035764
-0.009074
-0.012579
-0.016265
0.014351
0.129682
-0.033937
0.067796
0.191438
0.027771
0.028607
0.028712
0.028719
0.028746
0.028761
0.028762
0.028746
0.028682
0.028673
0.028567
0.027738
4.166314
8.961233
5.481316
0.938531
1.658721
1.244157
-0.315497
-0.437370
-0.565831
0.500354
4.522760
-1.187967
2.444149
0.0000
0.0000
0.0000
0.3481
0.0974
0.2137
0.7524
0.6619
0.5716
0.6169
0.0000
0.2351
0.0147
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.175048
0.167392
5.530347
39546.06
-4080.188
22.86368
0.000000
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
2.310436
6.060830
6.268282
6.319792
6.287604
1.987742
79
Lampiran 23 Model ARIMA(2,0,0) Data Return Indeks Sektor Pertambangan
Dependent Variable: RTAMBANG
Method: Least Squares
Date: 10/01/12 Time: 07:36
Sample (adjusted): 3 1320
Included observations: 1318 after adjustments
Convergence achieved after 3 iterations
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
AR(1)
AR(2)
0.060526
0.095165
0.044422
0.083267
0.027568
0.027565
0.726893
3.451957
1.611551
0.4674
0.0006
0.1073
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.011851
0.010348
2.600974
8896.058
-3128.517
7.885368
0.000394
Inverted AR Roots
.26
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
-.17
0.060834
2.614536
4.751922
4.763722
4.756346
2.000191
80 Lampiran 24 Correlogram Residual Model ARIMA(2,0,0) Data Return Indeks
Sektor Pertambangan
81
Lampiran 25 Correlogram Residual Kuadrat Model ARIMA(2,0,0) Data Return
Indeks Sektor Pertambangan
82 Lampiran 26 Uji ARCH-LM Model ARIMA(2,0,0) Data Return Indeks Sektor
Pertambangan
Heteroskedasticity Test: ARCH
F-statistic
Obs*R-squared
8.147524
91.81954
Prob. F(12,1295)
Prob. Chi-Square(12)
0.0000
0.0000
Test Equation:
Dependent Variable: RESID^2
Method: Least Squares
Date: 10/01/12 Time: 07:38
Sample (adjusted): 13 1320
Included observations: 1308 after adjustments
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
RESID^2(-1)
RESID^2(-2)
RESID^2(-3)
RESID^2(-4)
RESID^2(-5)
RESID^2(-6)
RESID^2(-7)
RESID^2(-8)
RESID^2(-9)
RESID^2(-10)
RESID^2(-11)
RESID^2(-12)
3.462048
0.085961
0.167180
0.006489
0.023802
0.008134
-0.037879
0.106187
0.051211
-0.013460
0.024577
0.080539
-0.016635
0.735504
0.027781
0.027792
0.028170
0.028167
0.028137
0.027982
0.027968
0.028123
0.028151
0.028153
0.027777
0.027764
4.707042
3.094280
6.015337
0.230341
0.845031
0.289081
-1.353687
3.796668
1.820972
-0.478129
0.872980
2.899530
-0.599173
0.0000
0.0020
0.0000
0.8179
0.3982
0.7726
0.1761
0.0002
0.0688
0.6326
0.3828
0.0038
0.5492
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.070198
0.061583
21.24933
584736.6
-5847.113
8.147524
0.000000
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
6.747827
21.93548
8.960417
9.011863
8.979714
1.999077
83
Lampiran 27 Model Component GARCH(1,1) Data Return Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG)
Dependent Variable: RIHSG
Method: ML - ARCH (Marquardt) - Student's t distribution
Date: 10/01/12 Time: 11:17
Sample (adjusted): 4 1320
Included observations: 1317 after adjustments
Convergence achieved after 50 iterations
MA Backcast: 3
Presample variance: backcast (parameter = 0.7)
Q = C(7) + C(8)*(Q(-1) - C(7)) + C(9)*(RESID(-1)^2 - GARCH(-1)) + C(10)
*FNP
GARCH = Q + C(11) * (RESID(-1)^2 - Q(-1)) + C(12)*(GARCH(-1) - Q(-1)) +
C(13)*FNP
Variable
Coefficient
Std. Error
z-Statistic
Prob.
C
FNP
VOL
AR(1)
AR(3)
MA(1)
0.039037
0.001028
2.28E-07
0.658423
-0.029729
-0.729457
0.020409
4.89E-05
1.60E-07
0.110019
0.027825
0.104391
1.912682
21.00413
1.427074
5.984608
-1.068416
-6.987766
0.0558
0.0000
0.1536
0.0000
0.2853
0.0000
Variance Equation
C(7)
C(8)
C(9)
C(10)
C(11)
C(12)
C(13)
11.40248
0.996837
0.041509
-0.000210
0.211395
0.660007
0.000198
21.95691
0.006130
0.025538
8.47E-05
0.043367
0.069420
8.72E-05
0.519312
162.6129
1.625412
-2.476192
4.874591
9.507485
2.271888
0.6035
0.0000
0.1041
0.0133
0.0000
0.0000
0.0231
T-DIST. DOF
3.672330
0.361622
10.15515
0.0000
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.001669
-0.008291
1.667502
3623.076
-2160.927
0.167556
0.999628
Inverted AR Roots
Inverted MA Roots
.57
.73
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
.28
-.19
0.056028
1.660632
3.302850
3.357948
3.323510
1.754708
84 Lampiran 28 Model Component GARCH(1,1) Data Return Indeks Sektor
Keuangan
Dependent Variable: RKEU
Method: ML - ARCH (Marquardt) - Student's t distribution
Date: 10/01/12 Time: 11:20
Sample (adjusted): 4 1320
Included observations: 1317 after adjustments
Convergence achieved after 32 iterations
Presample variance: backcast (parameter = 0.7)
Q = C(6) + C(7)*(Q(-1) - C(6)) + C(8)*(RESID(-1)^2 - GARCH(-1)) + C(9)
*FNP
GARCH = Q + C(10) * (RESID(-1)^2 - Q(-1)) + C(11)*(GARCH(-1) - Q(-1)) +
C(12)*FNP
Variable
Coefficient
Std. Error
z-Statistic
Prob.
C
FNP
VOL
AR(1)
AR(3)
-0.001868
0.000941
4.88E-07
-0.001190
-0.089539
0.032575
5.62E-05
2.58E-07
0.030728
0.027730
-0.057331
16.72525
1.895929
-0.038718
-3.228973
0.9543
0.0000
0.0580
0.9691
0.0012
Variance Equation
C(6)
C(7)
C(8)
C(9)
C(10)
C(11)
C(12)
11.80674
0.995067
0.078060
-0.000257
0.158424
0.701573
0.000283
19.45894
0.008585
0.037011
0.000103
0.045079
0.080095
0.000116
0.606751
115.9067
2.109105
-2.503563
3.514365
8.759252
2.438943
0.5440
0.0000
0.0349
0.0123
0.0004
0.0000
0.0147
T-DIST. DOF
5.688455
0.732872
7.761866
0.0000
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
Inverted AR Roots
0.031835
0.022925
1.860524
4513.860
-2444.810
3.573115
0.000029
.22-.39i
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
.22+.39i
-.45
0.061501
1.882224
3.732437
3.783599
3.751621
1.886595
85
Lampiran 29 Model Component GARCH(1,1) Data Return Indeks Sektor
Industri Barang Konsumsi
Dependent Variable: RKONSUMSI
Method: ML - ARCH (Marquardt) - Student's t distribution
Date: 10/01/12 Time: 11:23
Sample (adjusted): 3 1320
Included observations: 1318 after adjustments
Convergence achieved after 56 iterations
MA Backcast: 2
Presample variance: backcast (parameter = 0.7)
Q = C(7) + C(8)*(Q(-1) - C(7)) + C(9)*(RESID(-1)^2 - GARCH(-1)) + C(10)
*FNP
GARCH = Q + C(11) * (RESID(-1)^2 - Q(-1)) + C(12)*(GARCH(-1) - Q(-1)) +
C(13)*FNP
Variable
Coefficient
Std. Error
z-Statistic
Prob.
C
FNP
VOL
AR(1)
AR(2)
MA(1)
0.072140
0.000558
-7.70E-08
0.587697
-0.064934
-0.594229
0.026782
4.96E-05
2.73E-07
0.194442
0.032036
0.194174
2.693644
11.25546
-0.281772
3.022475
-2.026889
-3.060283
0.0071
0.0000
0.7781
0.0025
0.0427
0.0022
Variance Equation
C(7)
C(8)
C(9)
C(10)
C(11)
C(12)
C(13)
2.773131
0.966671
0.019519
-0.000254
0.222479
0.523792
0.000286
0.561860
0.016382
0.016769
8.80E-05
0.055304
0.097899
0.000104
4.935629
59.00653
1.163939
-2.887665
4.022839
5.350301
2.736321
0.0000
0.0000
0.2444
0.0039
0.0001
0.0000
0.0062
T-DIST. DOF
5.333999
0.865752
6.161119
0.0000
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.049957
0.040485
1.501897
2941.424
-2198.119
5.274539
0.000000
Inverted AR Roots
Inverted MA Roots
.44
.59
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
.15
0.096230
1.533254
3.356781
3.411845
3.377427
1.908400
86 Lampiran 30 Model Component GARCH(1,1) Data Return Indeks Sektor
Pertambangan
Dependent Variable: RTAMBANG
Method: ML - ARCH (Marquardt) - Normal distribution
Date: 10/01/12 Time: 11:28
Sample (adjusted): 3 1320
Included observations: 1318 after adjustments
Convergence achieved after 49 iterations
MA Backcast: 2
Presample variance: backcast (parameter = 0.7)
Q = C(7) + C(8)*(Q(-1) - C(7)) + C(9)*(RESID(-1)^2 - GARCH(-1)) + C(10)
*FNP
GARCH = Q + C(11) * (RESID(-1)^2 - Q(-1)) + C(12)*(GARCH(-1) - Q(-1)) +
C(13)*FNP
Variable
Coefficient
Std. Error
z-Statistic
Prob.
C
FNP
VOL
AR(1)
AR(2)
MA(1)
0.043919
0.000366
6.49E-07
-0.778034
0.007469
0.786555
0.052032
4.79E-05
5.24E-07
0.351030
0.028986
0.349928
0.844081
7.646207
1.237716
-2.216432
0.257677
2.247766
0.3986
0.0000
0.2158
0.0267
0.7967
0.0246
3.032349
187.8337
7.026052
-6.999716
2.944093
12.37444
5.034101
0.0024
0.0000
0.0000
0.0000
0.0032
0.0000
0.0000
Variance Equation
C(7)
C(8)
C(9)
C(10)
C(11)
C(12)
C(13)
10.56837
0.984854
0.108743
-0.000387
0.071648
0.690549
0.000423
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.032033
0.023133
2.584119
8714.360
-2864.560
3.598917
0.000026
Inverted AR Roots
Inverted MA Roots
.01
-.79
3.485207
0.005243
0.015477
5.53E-05
0.024336
0.055804
8.39E-05
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
-.79
0.060834
2.614536
4.366556
4.417686
4.385727
1.843733
87
Lampiran 31 Correlogram Residual Model CGARCH(1,1) Data Return Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG)
88 Lampiran 32 Correlogram Residual Kuadrat Model CGARCH(1,1) Data Return
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
89
Lampiran 33 Uji ARCH-LM Model CGARCH(1,1) Data Return Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG)
Heteroskedasticity Test: ARCH
F-statistic
Obs*R-squared
0.070493
0.853869
Prob. F(12,1292)
Prob. Chi-Square(12)
1.0000
1.0000
Test Equation:
Dependent Variable: WGT_RESID^2
Method: Least Squares
Date: 10/01/12 Time: 11:35
Sample (adjusted): 16 1320
Included observations: 1305 after adjustments
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
WGT_RESID^2(-1)
WGT_RESID^2(-2)
WGT_RESID^2(-3)
WGT_RESID^2(-4)
WGT_RESID^2(-5)
WGT_RESID^2(-6)
WGT_RESID^2(-7)
WGT_RESID^2(-8)
WGT_RESID^2(-9)
WGT_RESID^2(-10)
WGT_RESID^2(-11)
WGT_RESID^2(-12)
1.172206
-0.011601
-0.005898
-0.004805
-0.007138
-0.011797
-0.008043
-0.004087
-0.007080
-0.012483
-0.000514
-0.003254
-0.003701
0.202395
0.027820
0.027822
0.027823
0.027821
0.027821
0.027822
0.027822
0.027824
0.027824
0.027817
0.027817
0.027816
5.791663
-0.416982
-0.211987
-0.172697
-0.256567
-0.424034
-0.289086
-0.146914
-0.254458
-0.448650
-0.018478
-0.116965
-0.133046
0.0000
0.6768
0.8322
0.8629
0.7976
0.6716
0.7726
0.8832
0.7992
0.6538
0.9853
0.9069
0.8942
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.000654
-0.008628
6.162566
49066.57
-4218.316
0.070493
0.999994
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
1.085020
6.136153
6.484775
6.536317
6.504110
2.000071
90 Lampiran 34 Correlogram Residual Model CGARCH(1,1) Data Return Indeks
Sektor Keuangan
91
Lampiran 35 Correlogram Residual Kuadrat Model CGARCH(1,1) Data Return
Indeks Sektor Keuangan
92 Lampiran 36 Uji ARCH-LM Model CGARCH(1,1) Data Return Indeks Sektor
Keuangan
Heteroskedasticity Test: ARCH
F-statistic
Obs*R-squared
0.309581
3.741534
Prob. F(12,1295)
Prob. Chi-Square(12)
0.9879
0.9877
Test Equation:
Dependent Variable: WGT_RESID^2
Method: Least Squares
Date: 10/01/12 Time: 11:38
Sample (adjusted): 13 1320
Included observations: 1308 after adjustments
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
WGT_RESID^2(-1)
WGT_RESID^2(-2)
WGT_RESID^2(-3)
WGT_RESID^2(-4)
WGT_RESID^2(-5)
WGT_RESID^2(-6)
WGT_RESID^2(-7)
WGT_RESID^2(-8)
WGT_RESID^2(-9)
WGT_RESID^2(-10)
WGT_RESID^2(-11)
WGT_RESID^2(-12)
1.196423
-0.027015
-0.022232
-0.008977
-0.013314
-0.015601
0.001311
-0.015340
-0.010222
-0.024071
0.013382
-0.005849
-0.013681
0.143498
0.027785
0.027795
0.027799
0.027791
0.027791
0.027791
0.027788
0.027791
0.027790
0.027798
0.027793
0.027789
8.337541
-0.972293
-0.799851
-0.322928
-0.479073
-0.561381
0.047183
-0.552022
-0.367830
-0.866158
0.481405
-0.210458
-0.492312
0.0000
0.3311
0.4239
0.7468
0.6320
0.5746
0.9624
0.5810
0.7131
0.3866
0.6303
0.8333
0.6226
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.002860
-0.006379
3.378538
14781.80
-3441.855
0.309581
0.987918
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
1.048045
3.367813
5.282652
5.334098
5.301949
2.000395
93
Lampiran 37 Correlogram Residual Model CGARCH(1,1) Data Return Indeks
Sektor Industri Barang Konsumsi
94 Lampiran 38 Correlogram Residual Kuadrat Model CGARCH(1,1) Data Return
Indeks Sektor Industri Barang Konsumsi
95
Lampiran 39 Uji ARCH-LM Model CGARCH(1,1) Data Return Indeks Sektor
Industri Barang Konsumsi
Heteroskedasticity Test: ARCH
F-statistic
Obs*R-squared
1.268633
15.19772
Prob. F(12,1293)
Prob. Chi-Square(12)
0.2310
0.2308
Test Equation:
Dependent Variable: WGT_RESID^2
Method: Least Squares
Date: 10/01/12 Time: 11:42
Sample (adjusted): 15 1320
Included observations: 1306 after adjustments
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
WGT_RESID^2(-1)
WGT_RESID^2(-2)
WGT_RESID^2(-3)
WGT_RESID^2(-4)
WGT_RESID^2(-5)
WGT_RESID^2(-6)
WGT_RESID^2(-7)
WGT_RESID^2(-8)
WGT_RESID^2(-9)
WGT_RESID^2(-10)
WGT_RESID^2(-11)
WGT_RESID^2(-12)
0.963565
-0.033374
0.022398
0.014681
0.004082
-0.020304
-0.029527
-0.004714
-0.002831
-0.020707
0.085715
-0.005045
0.015532
0.113823
0.027820
0.027834
0.027738
0.027737
0.027739
0.027745
0.027746
0.027745
0.027682
0.027685
0.027782
0.027769
8.465452
-1.199663
0.804697
0.529263
0.147153
-0.731978
-1.064245
-0.169897
-0.102027
-0.748050
3.096026
-0.181577
0.559333
0.0000
0.2305
0.4211
0.5967
0.8830
0.4643
0.2874
0.8651
0.9188
0.4546
0.0020
0.8559
0.5760
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.011637
0.002464
2.151792
5986.860
-2847.390
1.268633
0.231046
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
0.989466
2.154448
4.380383
4.431893
4.399705
1.998454
96 Lampiran 40 Correlogram Residual Model CGARCH(1,1) Data Return Indeks
Sektor Pertambangan
97
Lampiran 41 Correlogram Residual Kuadrat Model CGARCH(1,1) Data Return
Indeks Sektor Pertambangan
98 Lampiran 41 Uji ARCH-LM Model CGARCH(1,1) Data Return Indeks Sektor
Pertambangan
Heteroskedasticity Test: ARCH
F-statistic
Obs*R-squared
0.688790
8.295501
Prob. F(12,1295)
Prob. Chi-Square(12)
0.7636
0.7616
Test Equation:
Dependent Variable: WGT_RESID^2
Method: Least Squares
Date: 10/01/12 Time: 11:50
Sample (adjusted): 13 1320
Included observations: 1308 after adjustments
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
WGT_RESID^2(-1)
WGT_RESID^2(-2)
WGT_RESID^2(-3)
WGT_RESID^2(-4)
WGT_RESID^2(-5)
WGT_RESID^2(-6)
WGT_RESID^2(-7)
WGT_RESID^2(-8)
WGT_RESID^2(-9)
WGT_RESID^2(-10)
WGT_RESID^2(-11)
WGT_RESID^2(-12)
0.979476
0.002160
0.007475
0.018797
-0.006198
-0.005075
-0.042397
0.027420
-0.004188
-0.019384
0.023450
0.039909
-0.027090
0.115606
0.027767
0.027745
0.027740
0.027740
0.027740
0.027729
0.027646
0.027660
0.027661
0.027660
0.027658
0.027659
8.472540
0.077800
0.269406
0.677613
-0.223414
-0.182967
-1.528989
0.991831
-0.151425
-0.700773
0.847806
1.442953
-0.979433
0.0000
0.9380
0.7877
0.4981
0.8232
0.8549
0.1265
0.3215
0.8797
0.4836
0.3967
0.1493
0.3275
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.006342
-0.002866
2.371190
7281.193
-2978.756
0.688790
0.763612
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
0.994437
2.367800
4.574550
4.625996
4.593847
2.000705
Download