BAB II

advertisement
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pola Asuh
1. Pengertian
Proses pendidikan yang berlangsung lama dan berkesinambungan
sehingga dapat mempengaruhi sikap, tingkah laku seseorang yang
dilakukan oleh orang tua ( Nurbiyati, 2005 ).
Pola asuh orang tua adalah suatu metode disiplin yang diterapkan
orang tua terhadap anaknya, metode disiplin meliputi dua konsep yaitu:
a. Konsep negatif disiplin, berarti pengendalian dengan kekuatan, ini
merupakan suatu bentuk pengekangan melalui cara yang tidak disukai
dengan cara yang tidak disukai dan menyakitkan.
b. Konsep positif disiplin berarti pendidikan dan bimbingan yang lebih
menekankan pada disiplin dan pengendalian diri ( Hurlock, 1999 ).
2. Fungsi Pola Asuh
Fungsi pokok dari pola asuh orang tua adalah untuk menganjurkan
anak
menerima
pengekangan-pengekangan
yang
diperlukan
dan
membantu mengarahkan emosi anak kedalam jalur yang berguna dan
diterima secara sosial ( Hurlock , 1999 ).
3. Jenis Pola Asuh (Nurbiyati, 2005).
a. Authoritarian ( otoriter )
Pola ini menggunakan pendekatan yang memaksakan kehendak,
suatu peraturan yang dicanangkan orang tua dan harus dituruti oleh
8
9
anak. Pendekatan semacam ini biasanya kurang responsif pada hak
dan keinginan anak.
Komunikasi yang dilakukan lebih bersifat satu arah dan lebih
sering berupa perintah, sang anak sebagai objek kurang didengar dan
biasanya cenderung diam serta menutup diri.
Hal ini membuat anak tidak memiliki pilihan dalam berperilaku,
karena anak terlalu khawatir dengan apa yang diperintahkan orang tua
dan biasanya takut membuat kesalahan.
b. Permisif
Pola pengasuhan ini menggunakan pendekatan yang sangat
responsif (bersedia mendengarkan) tetapi cenderung terlalu longgar.
Orang tua memiliki sikap yang relatif hangat dan menerima sang anak
apa adanya, kadang cenderung pada memanjakan. Anak terlalu dijaga,
dituruti keinginannya dan diberi kebebasan untuk melakukan apa saja
yang dia inginkan.
Tetapi tidak diikuti dengan tindakan mengontrol atau menuntut
anak untuk menampilkan perilaku tertentu, sehingga kadang-kadang
anak merasa cemas mereka melakukan sesuatu yang salah atau benar.
c. Authoritatif ( demokratis )
Pola asuh ini menggunakan pendekatan rasional dan demokratis.
Orang tua sangat memperhatikan kebutuhan anak dan mencukupinya
dengan pertimbangan faktor kepentingan dan kebutuhan yang realistis.
9
10
Orang tua melakukan pengawasan, kebebasan dan tanggung
jawab kepada anak dalam beraktifitas secara wajar dan rasional. Orang
tua menghargai minat anak dan mendorong keputusan anak untuk
mandiri, tetapi tetap tegas dan konsisten dalam menentukan standar,
kalau perlu menggunakan hukuman yang rasional sebagai upaya
memperlihatkan kepada anak konsekuensi suatu bentuk pelanggaran.
Orang tua dan anak saling menghargai hak-hak mereka satu
sama lain. Orang tua menawarkan berbagai kehangatan dan menerima
tingkah laku asertif anak mengenai peraturan, norma dan nilai-nilai.
B. Motivasi Belajar
4. Motivasi
a.
Pengertian
Motivasi adalah sesuatu yang menjadi pendorong tingkah laku
yang
menuntut
seseorang
untuk
memenuhi
kebutuhan
serta
mengarahkannya menuju tujuan tertentu (Chaplin, 2001).
b.
Teori-teori motivasi (Shaleh & Wahab, 2004).
1)
Teori Hedonisme
Suatu aliran di dalam filsafat yang memandang bahwa tujuan
hidup yang utama pada manusia adalah mencari kesenangan yang
bersifat duniawi.
Oleh karenanya, setiap menghadapi persoalan yang perlu
pemecahan, manusia cenderung memilih alternatif pemecahan
10
11
yang
dapat
mendatangkan
kesenangan
daripada
yang
mengakibatkan kesukaran, kesulitan dan penderitaan.
2) Teori Psikoanalisa ( Naluri )
Naluri merupakan suatu kekuatan biologis bawaan, yang
mempengaruhi anggota tubuh untuk berlaku dengan cara tertentu
dalam keadaan tepat.
Seseorang tidak memilih tujuan dan perbuatan, akan tetapi
dikuasai oleh kekuatan-kekuatan bawaan, yang menentukan tujuan
dan perbuatan yang akan dilakukan.
3)
Teori Reaksi yang dipelajari
Teori ini berdasarkan pola dan tingkah laku yang dipelajari dari
lingkungan kebudayaan di tempat orang itu hidup, oleh karena itu
disebut juga teori lingkungan kebudayaan.
Pemimpin atau seorang pendidik akan memotivasi anak buah atau
anak didiknya, hendaknya mengetahui
benar latar belakang
kehidupan dan kebudayaan orang-orang yang dipimpinnya.
4)
Teori Pendorong (Drive Theory)
Merupakan perpaduan antara teori naluri dengan teori reaksi yang
di pelajari. Daya pendorong adalah semacam naluri, tetapi hanya
suatu dorongan kekuatan yang luas terhadap suatu arah yang
umum.
Misalnya, suatu daya pendorong pada lawan jenis, semua orang
dalam semua kebudayaan mempunyai daya pendorong pada lawan
11
12
jenis. Namun, cara-cara yang digunakan berlainan bagi tiap
individu, menurut latar belakang dan kebudayaan masing-masing.
5)
Teori Kebutuhan
Teori ini beranggapan bahwa tindakan yang dilakukan oleh
manusia pada hakikatnya adalah untuk memenuhi kebutuhannya,
baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan psikis.
Menurut Maslow, manusia memiliki lima tingkat kebutuhan
fisiologis yaitu : kebutuhan dasar yang bersifat primer dan vital,
menyangkut fungsi-fungsi biologis, seperti kebutuhan akan
pangan, sandang, papan, kesehatan dan kebutuhan seks.
c.
Macam-macam motivasi (Chaplin, 2001).
1)
Motivasi intrinsik
Ialah motivasi yang berasal dari diri seseorang itu sendiri tanpa
dirangsang dari luar.
Misalnya : Orang yang gemar membaca tanpa adanya dorongan
dari orang lain.
2)
Motivasi ekstrinsik
Yaitu motivasi yang datang karena adanya rangsangan dari luar.
Misalnya : Seseorang murid rajin belajar karena takut pada orang
tua.
12
13
5. Belajar
a.
Pengertian
Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam
diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang
baru berkat pengalaman dan latihan (Morgan, 1978 ).
b.
Teori-teori belajar
1) Teori classical conditioning (Pavlov, 1849 – 1936).
Sebuah prosedur penciptaan reflek baru yaitu apabila stimulus
yang diadakan selalu disertai dengan stimulus penguat, maka
stimulus tadi cepat atau lambat akhirnya akan menimbulkan
respon atau perubahan yang dikehendaki.
Prinsip dan aplikasi classical conditioning :
a) Acquisition/ reinforcement : penggunaan penguatan.
b) Pemadaman dan pemulihan spontan.
c) Generalisasi dan diskriminasi.
d) Kondisi tanding (counter conditioning).
Kelemahan teori classical conditioning :
a) Proses belajar itu dapat diamati secara langsung, padahal
belajar adalah proses kegiatan mental yang tidak dapat
disaksikan dari luar, kecuali hanya sebagian gejalanya.
b) Peristiwa belajar itu bersifat otomatis-mekanis, sehingga
terkesan seperti kegiatan mesin dan robot, padahal seseorang
13
14
yang belajar itu memiliki self direction dan self control untuk
menolak atau merespon sesuatu bila tidak ia kehendaki.
c) Proses belajar manusia yang dianalogikan dalam perilaku
hewan itu sangat sulit diterima, mengingat ada perbedaan yang
tajam antar keduanya.
2)
Teori instrumental conditioning
(Skinner,
1904).
Tingkah laku adalah perbuatan yang dilakukan seseorang pada
situasi tertentu dan dapat diubah karena terletak diantara dua
pengaruh, yaitu pengaruh yang mendahuluinya (Antecendent) dan
pengaruh yang mengikutinya (konsekuensi).
Prinsip dan aplikasi instrumental conditioning :
a) Penguatan/ reinforcement ( positif dan negatif).
b) Pembentukan/ shaping.
c) Pemadaman dan pemulihan spontan.
d) Generalisasi dan diskriminasi.
e) Hukuman/ punishment (positif dan negatif)
Kelemahan Teori instrumental conditioning yaitu pada dasarnya
teori ini adalah kelanjutan dari teori pertama, sehingga
kelemahannya sama dengan teori pertama.
3)
Teori cognitif learning (Mischel).
14
15
Perpaduan konsep-konsep dari kognitif dan psikologi sosial ke
konsep tingkah laku didalam hubungannya dengan interaksi
seseorang dengan situasi
Secara khusus ada lima kategori variabel seseorang yang
membatasi bagaimana seseorang menerima dan mempersatukan
perangsang di dalam lingkungan untuk membantu menerangkan
tingkah laku, kategori yang dimaksud adalah :
a) Kemampuan penyusun, kecakapan menyusun (menghasilkan
kognisi dan tingkah laku tertentu).
b) Menyusun strategi dan membentuk pribadi, ini merupakan
bagian untuk mengkategorisasikan kejadian-kejadian serta
untuk pernyataan diri.
c) Harapan hasil tingkah laku dan hasil stimulus dalam situasi
tertentu.
d) Nilai stimulus yang subjektif, motivasi dan timbulnya
stimulus, intensif dan keengganan.
e) Sistem pengaturan diri dan perencanaan, aturan-aturan dan
kegiatan-kegiatan
untuk
kepentingan
penampilan
dan
organisasi urutan tingkah laku kompleks.
4)
Teori belajar sosial (Bandura)
Kemampuan seseorang untuk mengabstraksikan informasi dari
perilaku orang lain, mengambil keputusan mengenai perilaku mana
15
16
yang akan ditiru dan kemudian melakukan perilaku-perilaku yang
dipilih.
Asumsi dasar teori ini ada tiga macam, yaitu:
a) Hakikat proses belajar.
b) Hubungan antar individu dengan lingkungan.
c) Hasil belajar.
c.
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
1) Faktor yang ada pada diri seseorang itu sendiri (faktor individual).
Antara lain : faktor kematangan/ pertumbuhan, kecerdasan latihan,
motivasi dan faktor pribadi.
2) Faktor yang ada diluar individual (faktor sosial). Antara lain :
faktor keluarga, guru, sekolah, lingkungan dan kesempatan yang
tersedia.
6. Motivasi belajar
Motivasi belajar adalah kekuatan penggerak yang membangkitkan
seseorang yang berupa kekuatan-kekuatan yang kompleks, dorongandorongan, kebutuhan-kebutuhan, pernyataan-pernyataan, mekanisme dan
aktivitas lain yang memulai seseorang untuk lebih bersemangat agar
tercapai tujuan-tujuan belajar yang lebih baik.
Menurut M. Utsman Najati, motivasi memiliki tiga kekuatan/
komponen pokok, yaitu :
16
17
a.
Menggerakkan
Dalam hal ini motivasi menimbulkan kekuatan pada individu,
membawa seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu.
b.
Mengarahkan
Berarti motivasi mengarahkan tingkah laku dengan menyediakan suatu
orientasi tujuan.
c.
Menopang
Artinya, motivasi digunakan untuk menopang dan menjaga tingkah
laku, lingkungan sekitar harus menguatkan intensitas dan arah
dorongan dan kekuatan individu.
Menurut Maslow, manusia memiliki lima tingkat kebutuhan yaitu :
1)
Kebutuhan fisiologis dasar
2)
Kebutuhan rasa aman dan perlindungan
(safety and security)
3)
Kebutuhan sosial, yang meliputi kebutuhan
dicintai, diperhitungkan sebagai pribadi, diakui kelompok, rasa
setia kawan dan kerja sama.
4)
Kebutuhan akan penghargaan, termasuk
kebutuhan dihargai karena prestasi, kemampuan, status, pangkat.
5)
Kebutuhan akan aktualisasi diri, seperti
kebutuhan mempertinggi potensi yang dimiliki, mengembangkan
diri secara maksimum, kreativitas dan ekspresi diri.
Pada dasarnya, manusia memiliki 3 dorongan pokok/ naluri (Najati) :
17
18
1)
Dorongan naluri mempertahankan diri
Berfungsi melayani dorongan cinta keabadian, sebab dengan
memenuhi
kebutuhan
fisiologis,
tubuh
sebenarnya
telah
mengusahakan kelangsungan hidup seseorang.
2)
Dorongan naluri mengembangkan diri
Dorongan ingin tahu dan mempelajari sesuatu yang belum
diketahui, pada manusia inilah yang menjadikan budaya makin
maju dan tinggi.
3)
Dorongan naluri mempertahankan jenis
Manusia secara sadar maupun tidak selalu menjaga agar jenis atau
keturunannya tetap berkembang dan hidup.Dalam kasus anak didik
misalnya, ketika seorang anak didik menjadi tekun dalam belajar,
hampir dipastikan dia termotivasi dengan sesuatu, seperti ingin
pintar atau ingin menjadi juara kelas dan mendapat hadiah. Anak
didik yang memiliki motivasi yang kuat dan jelas, pasti akan tekun
dan berhasil dalam belajarnya.
C. Hubungan Pola Asuh dengan Motivasi Belajar
Faktor-faktor motivasi belajar antara lain :
7.
Faktor intern
a.
Sebab yang bersifat fisik
1) Karena sakit
18
)
)
19
Seseorang yang sakit akan mengalami kelemahan fisiknya,
sehingga saraf sensoris dan motorisnya lemah, akibatnya
rangsangan yang diterima melalui inderanya tidak dapat
diteruskan ke otak.
2) Karena kurang sehat
Anak yang kurang sehat dalam mengalami kesulitan belajar,
sebab ia mudah capai, mengantuk, pusing, daya konsentrasinya
hilang, kurang semangat dan pikiran terganggu.
3) Karena cacat tubuh
Cacat tubuh dibedakan atas cacat tubuh yang ringan seperti
kurang pendengaran, penglihatan dan gangguan psikomotor.
Sedangkan cacat tubuh yang tetap seperti buta, tuli, bisu dan
hilang tangan/ kaki.
b.
Sebab psikologis
Intelegensi
Anak yang IQ nya tinggi dapat menyelesaikan segala persoalan
yang dihadapi, anak yang normal 90-110, anak yang cerdas 110140, 140 ke atas tergolong genius sedangkan mereka yang
mempunyai IQ kurang dari 90 tergolong lemah mental, anak
inilah yang banyak mengalami kesulitan belajar dan digolongkan
atas debil, embisil, idiot.
Bakat
19
)
)
)
20
Bakat adalah potensi/ kecakapan dasar yantg dibawa sejak lahir,
setiap individu mempunyai bakat yang berbeda-beda.
Minat
Tidak adanya minat seorang anak terhadap suatu pelajaran akan
timbul kesulitan belajar, belajar yang tidak ada minatnya mungkin
tidak sesuai dengan bakatnya, kebutuhan, kecakapan, tipe-tipe
khusus anak. Sehingga banyak menimbulkan problema pada
dirinya
Motivasi
Motivasi sebagai faktor inner (batin) berfungsi menimbulkan,
mendasari, mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat
menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan sehingga
makin besar motivasinya akan semakin besar kesuksesan
belajarnya.
Kesehatan mental
Dalam belajar tidak hanya menyangkut segi intelek, tetapi juga
menyangkut segi kesehatan mental dan emosional. Hubungan
kesehatan mental dengan belajar adalah timbal balik, kesehatan
mental dan ketenangan emosi akan menimbulkan hasil belajar
yang baik demikian juga belajar yang selalu sukses akan
membawa harga diri seseorang.
8.
Faktor keluarga
a.
Faktor orang tua
20
21
Yang termasuk faktor ini adalah :
1)
Pola asuh
Orang tua yang bersifat kejam, otoriter, akan menimbulkan mental
yang tidak sehat pada anak. Hal ini akan berakibat anak tidak
tenteram, tidak senang dirumah, pergi mencari teman sebaya
hingga lupa belajar. Sedangkan orang tua yang lemah, suka
memanjakan anak, ia tidak rela anaknya bersusah payah belajar,
menderita, berusaha keras, akibatnya anak tidak mempunyai
kemampuan dan kemauan, bahkan sangat bergantung pada orang
tua, sehingga malas belajar dan prestasinya turun.
2)
Hubungan Orang Tua dan Anak
Kasih sayang dari orang tua, perhatian atau penghargaan kepada
anak menimbulkan mental yang sehat bagi anak. Sedangkan
kurangnya kasih sayang dan sikap keras/ acuh tak acuh akan
menimbulkan emosional insecurity.
3)
Contoh/ bimbingan dari orang tua
Belajar memerlukan bimbingan dari orang tua agar sikap dewasa
dan tanggung jawab belajar tumbuh pada diri anak. Orang tua yang
sibuk bekerja/ berorganisasi, terlalu banyak anak, berarti anak tidak
mendapatkan
pengawasan/
bimbingan
mengalami kesulitan belajar.
b.
Suasana rumah atau keluarga
21
sehingga
anak
akan
)
22
Keadaan yang berpengaruh seperti suasana rumah yang sangat ramai/
gaduh dan suasana rumah yang selalu tegang/ selalu banyak cekcok.
Anak akan tidak tahan dirumah, akhirnya mengeluyur diluar bersama
anak yang menghabiskan waktunya untuk hilir mudik kesana kemari,
sehingga tidak mustahil kalau prestasi belajar menurun. Untuk itu
hendaknya suasana di rumah selalu dibuat menyenangkan, tentram,
damai, harmonis, agar anak betah di rumah dan menguntungkan bagi
kemajuan belajar anak.
c.
Keadaan ekonomi keluarga
Ekonomi yang kurang/ miskin:
Keadaan ini akan menimbulkan:
a) kurangnya alat-alat belajar.
Keadaan peralatan seperti pensil, tinta, penggaris, buku tulis,
buku pelajaran, jangka, dan lain-lain akan membantu
kelancaran dalam belajar. Kurangnya alat-alat itu akan
menghambat kemajuan belajar anak.
b) Kurangnya biaya yang disediakan oleh orang tua.
Faktor biaya merupakan faktor yang sangat penting karena
belajar dan kelangsungannya sangat memerlukan biaya-biaya
lainnya. Maka keluarga yang miskin akan merasa berat untuk
mengeluarkan biaya yang bermacam-macam itu, karena
keuangan dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan anak
22
)
23
sehari-hari. Lebih-lebih keluarga itu dengan banyak anak,
maka hal ini akan merasa lebih sulit lagi.
c) Tidak mempunyai tempat belajar yang baik.
Keluarga yang miskin juga tidak dapat menyediakan tempat
untuk belajar yang memadai, di mana tempat belajar itu
merupakan salah satu sarana terlaksananya belajar secara
efisien dan efektif.
Ekonomi yang berlebihan (kaya).
Keadaan ini sebaliknya dari keadaan yang pertama, di mana
ekonomi keluarga berlimpah ruah. Mereka akan menjadi segan
belajar karena ia terlalu banyak bersenang-senang. Mungkin juga ia
dimanjakan oleh orang tuanya, orang tua tidak tahan melihat
anaknya belajar dengan bersusah payah. Keadaan seperti ini akan
dapat menghambat kemajuan belajar.
9.
Faktor sekolah
a.
Guru
Guru dapat menjadi sebab kesulitan belajar, apabila:
1)
Guru
pengambilan metode yang
tidak
kualified,
baik
dalam
digunakan atau dalam mata
pelajaran yang dipegangnya. Hal ini bisa saja terjadi, karena vak
yang dipegangnya kurang sesuai, hingga kurang menguasai lebihlebih kalau kurang persiapan, sehingga cara menerangkan kurang
jelas dan sukar di mengerti oleh murid-muridnya.
23
24
2)
Hubungan guru dan murid kurang baik. Hal
ini bermula pada sifat dan sikap guru yang tidak disenangi oleh
murid-muridnya, seperti:
a.
Kasar, suka marah, mengejek, tak pernah senyum, tak suka
membantu anak, suka membentak.
Tak pandai menerangkan, sinis, sombong.
c.
Menjengkelkan, tinggi hati, pelit dalam memberi angka, tak
adil.
3)
Guru menuntut standar pelajaran diatas
kemampuan anak, hal ini biasa terjadi pada guru yang masih
muda yang belum berpengalaman hingga belum dapat mengukur
kemampuan murid, sehingga hanya sebagian kecil muridnya
dapat berhasil dengan baik.
4)
Guru tidak memiliki kecakapan
dalam
usaha diagnosis kesulitan belajar. Misalnya dalam bakat, minat,
sifat, kebutuhan anak-anak dan sebagainya.
5)
Metode mengajar guru yang dapat
menimbulkan kesulitan belajar, antara lain :
a)
Metode mengajar yang mendasarkan diri pada latihan
mekanis tidak didasarkan pada pengertian.
b)
Guru dalam mengajar tidak menggunakan alat peraga yang
memungkinkan semua alat inderanya berfungsi.
c)
Metode mengajar yang menyebabkan murid pasif, sehingga
anak tidak ada aktifitas.
24
25
d)
Metode mengajar tidak menarik, kemungkinan materinya
tinggi atau tidak menguasai bahan.
e)
Guru hanya menggunakan satu metode saja dan tidak
bervariasi.
b.
Alat pelajaran
Kemajuan teknologi membawa perkembangan pada alat-alat pelajaran
sebab dulu tidak ada sekarang menjadi ada misalnya : mikroskop,
teleskop, gelas ukur, proyektor dan lain-lain. Timbulnya alat itu akan
menentukan perubahan metode mengajar guru, segi dalamnya ilmu
pengetahuan pada pikiran anak, memenuhi tuntutan dari bermacammacam tipe anak.
c.
Kondisi gedung
Ruangan harus memenuhi syarat kesehatan seperti :
1) Ruangan harus berjendela, ventilasi cukup, udara segar dapat
masuk ruangan, sinar dapat menerangi ruangan.
2) Dinding harus bersih, putih, tidak terlihat kotor.
3) Lantai tidak becek, licin atau kotor.
4) Keadaan gedung yang jauh dari tempat keramaian (pasar, bengkel,
pabrik dan lapangan) sehingga anak mudah konsentrasi dalam
belajarnya.
d.
Kurikulum
Kurikulum yang kurang baik
misalnya bahannya terlalu tinggi,
pembagian bahan yang tidak seimbang, adanya pendataan materi dan
disiplin/ waktu sekolah yang kurang.
25
26
10.
Faktor massa media dan lingkungan sosial
a.
Massa media
Faktor massa media meliputi bioskop, TV, surat kabar, majalah dan
buku-buku komik yang ada di sekeliling kita.
b.
Lingkungan sosial
1) Teman bergaul
Teman bergaul pengaruhnya sangat besar dan lebih cepat masuk
dalam jiwa anak.
2) Lingkungan tetangga
Corak kehidupan tetangga akan mempengaruhi anak yang
bersekolah, minimal ada tidaknya motivasi bagi anak untuk belajar.
3) Aktivitas dalam masyarakat
Terlalu banyak berorganisasi, kursus, akan menyebabkan belajar
anak menjadi terbengkalai.
B. Kerangka Teori
Faktor-faktor
motivasi belajar :
Faktor internal
Faktor eksternal
Pola asuh
Sosial
Ekonomi
Sekolah
Media massa dan
lingkungan
Motivasi belajar
26
Hasil belajar :
Baik
Cukup
Kurang
27
Sumber : Maslow, A. H., & Clelland, D.M. (1997). Psikologi Umum, Jakarta :
PT. Gramedia Pustaka Utama.
D. Kerangka Konsep
Variabel bebas
Variabel terikat
Pola asuh keluarga
Motivasi belajar anak
C. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian terdiri dari variabel dependen (tergantung)
dan variabel independen (bebas).
1.
Yang dimaksud dengan variabel dependen dalam penelitian ini
adalah motivasi belajar anak usia sekolah.
2.
Yang dimaksud dengan variabel independen dalam penelitian ini
adalah pola asuh keluarga.
D. Hipotesa
Ada hubungan antara pola asuh keluarga dengan motivasi belajar anak
usia sekolah.
27
Download