8 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Teori

advertisement
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1
Teori - Teori Umum
2.1.1
SAP
SAP didirikan di Waldorf, Jerman, pada tahun 1972 oleh lima mantan
insinyur IBM. SAP merupakan akronim dari Sistem, Anwendungen, Produkte in
der Datenverarbeitung (Sistem, Aplikasi, Produk di Data Processing). Berkantor
pusat di Waldorf, Jerman, SAP mempekerjakan 29.000 orang di lebih dari 50
negara. Para pendiri asli telah begitu sukses menggunakan SAP, sehingga
tumbuh menjadi pemain global seperti yang telah ditunjukkan SAP AG, menjadi
perusahaan terbesar ketiga pemasok perangkat lunak independen di dunia,
dengan lebih dari 19.300 pelanggan, 10 juta pengguna dan 60.100 instalasi,
termasuk lebih dari setengah dari top dunia 500 perusahaan. SAP memiliki
pendapatan € 7400000000 dan laba bersih sebesar € 509 juta tahun tahun 2002
[SAP Annual Report 2002] ( (Baloğlu, 2003, hal. 8-9).
SAP adalah perusahaan software terbesar yang ada di eropa berasal dari
walldorf, Germany. Dan juga sebuah pemimpin pasar dalam perangkat lunak dan
aplikasi internet (Anonim, SAP AC010 Business Processes in Financial
Accounting, 2006, hal. 449).
2.1.2
Enterprise Resource Planning (ERP)
Entreprise Resource Planning adalah sebuah aplikasi bisnis untuk
melaksanakan fungsi-fungsi bisnis paling umum, termasuk pengendalian
8
9
persediaan, buku besar akuntansi, utang, piutang, perencanaan kebutuhan
material, manajemen order, dan sumber daya manusia (Brown, 2009, hal. 211).
Entreprise Resource Planning adalah sistem lintas fungsi perusahaan yang
digerakkan oleh functionsoftwaresuite terintegrasi yang mendukung proses bisnis
dasar internal perusahaan (O'Brien, 2006, hal. 320).
2.1.3
SAP Business One
SAP Business One adalah sebuah aplikasi yang mudah digunakan dalam
solusi manajemen dan operasional bisnis yang ukuran bisnisnya dari ukuran
sepuluh sampai beberapa ratus karyawan. Solusi yang sederhana namun kuat,
yang memungkinkan pandangan langsung dan lengkap dari kedua operasi bisnis
dan aktivitas pelanggan (Anonim, SAP01 Fundamental, 2006, hal. 1-27).
2.1.4
Pengertian Proses Bisnis
Proses bisnis adalah tindakan yang dilakukan oleh bisnis untuk
memperoleh, memproduksi, dan menjual barang dan jasa. Terdapat cycle yang
umumnya terdapat di suatu perusahaan, cycle tersebut yaitu :
• Acquisition , mengacu kepada proses dari membeli barang dan jasa.
• Conversion , mengacu kepada proses mengubah sumber daya yang ada
menjadi barang dan jasa.
• Revenue , mengacu kepada proses menyediakan barang dan jasa kepada
customer.
10
Dapat disimpulkan bahwa proses bisnis merupakan satu set aktivitas atau
tindakan yang mengubah input, mengubahnya, lalu menghasilkan output berupa
jasa dan barang, dan juga nilai bagi perusahaan, partner bisnis dan atau
customer(Jones & Rama, 2006, hal. 18).
Proses bisnis merupakan aktivitas saling terkait yang menghasilkan jasa
berupa nilai kepada perusahaan, partner bisnis, dan atau kepada customer-nya.
Setiap proses mempunyai input dan output, serta setiap aktivitasnya dapat diukur
(Rainer & Cegielski, 2011, hal. 7).
2.2
Teori – Teori Khusus
2.2.1
Accelerated SAP (ASAP)
Accelerated SAPadalah sebuah standart metodologi untuk menerapkan
dan mengoptimalisasikan software SAP. ASAP juga mendukung dalam
mengimplementasikan SAP. ASAP menyediakan alat untuk membantu dalam
menyelesaikan semua tahapan project, dimulai dari proyek perencanaan sampai
proyek perbaikan sistem SAP (Anonim, SAP AC010 Business Processes in
Financial Accounting, 2006, hal. 433).
ASAP
Roadmapmenyediakanmetodologiuntuk
danmengoptimalkansoftware
SAP.
ASAP
Roadmap
melaksanakan
membagiproses
implementasimenjadi limatahapdan menyajikanproject plans yang rinci(dalam
formatMicrosoft Project). Dokumentasiyang disimpanpada setiap tingkatdari
struktur pohonroadmapberisirekomendasipada pelaksanaanperangkat lunakSAP
danlink kealatmembantu danakselerator (Anonim, AcceleratedSAP, 2000, hal. 89).
11
Implementasi software SAP mengikuti beberapa fase :
•
Project Preparation : pada fase ini direncanakan mengenai
proyek dan meletakkan dasar bagi keberhasilan pelaksanaan. Fase
ini membuat keputusan strategis penting untuk proyek :
ƒ
Menentukan tujuan dan sasaran proyek,
ƒ
Memperjelas lingkup implementasi,
ƒ
Menentukan jadwal proyek, rencana anggaran, dan urutan
pelaksanaan, serta
ƒ
Menetapkan organisasi proyek dan komite yang relevan
dan menetapkan sumber daya.
•
Business Blueprint : Pada fase ini dibuat dokumen blueprint, yang
merupakan dokumen persyaratan dan kebutuhan perusahaan, serta
menetapkan bagaimana proses bisnis dan struktur organisasi
ditangani dalam perangkat lunak SAP. Dokumen blueprint juga
menyempurnakan tujuan proyek asli serta untuk merevisi proyek
secara keseluruhan sesuai dengan jadwal implementasi.
•
Realization : Pada tahap ini, dilakukan konfigurasi persyaratan
yang terdapat dalam business blueprint. Baseline konfigurasi
(major scope) diikuti dengan final configuration (remaining
scope), yang dapat terdiri sampai empat siklus. Fokus utama lain
dari fase ini adalah melakukan integrasi tes dan menyusun
dokumentasi pengguna akhir.
12
•
Final Preparation : Pada fase ini akan diselesaikan aktivitas
testing, end user training, system management dan aktivitas
cutover. Dalam fase ini juga perlu diselesaikan semua masalah
yang masih ada. Pada tahap ini akan dipastikan bahwa semua
prasyarat untuk sistem sudah dipenuhi.
•
Go Live &Support : Pada fase ini terjadi pergerakan dari
lingkungan
pra-produksi
diimplementasi.
mendukung
Elemen
produksi,
menuju
penting
pemantauan
sistem
dalam
fase
transaksi
baru
yang
ini
adalah
sistem,
dan
mengoptimalkan kinerja sistem secara keseluruhan.
Accelerated SAP methodology adalah suatu cara penerapan yang dapat
dibuktikan, berulang dan telah sukses dalam mengimplementasi banyak proyek
untuk mengimplementasikan solusi-solusi SAP, yang menghubungkan antara
lingkungan industri dan lingkungan customer dari industri itu sendiri (Anonim,
ASAP Implementation Roadmap, 2004, hal. 6).
Gambar 2.1 AcceleratedSAP – provenmethodology (Anonim, 2004, p8)
13
Menurut (Anonim, ASAP Implementation Roadmap, 2004, hal.
11)Accelerated SAP implementationmethodology, terdiri dari lima fase :
•
Project Preparation : selama tahap fase implementasi ini, anggota
tim proyek akan melakukan perencanaan dan persiapan awal dari
proyek implementasi SAP.
•
Business Blueprint : tujuan dari dilakukannya fase ini adalah
untuk mendapatkan pemahaman umum mengenai bagaimana
perusahaan dapat menjalankan software SAP untuk mendukung
aktivitas bisnis mereka. Hasil dari fase business blueprint, adalah
dokumentasi detil mengenai kebutuhan-kebutuhan perusahaan
terhadap SAP.
•
Realization : tujuan dari fase ini adalah mengimplementasikan
seluruh kebutuhan proses bisnis berdasarkan dari dokumentasi
business blueprint. Metodologi konfigurasi sistem ini memberikan
dua langkah kerja, yaitu baseline (major scope) dan final
configuration (remaining scope).
•
Final Preparation : tujuan dari fase ini adalah menyelesaikan
persiapan implementasi akhir (termasuk aktivitas testing, end user
training, system management dan aktivitas cutover) untuk
mengakhiri kesiapan menuju go live. Pada fase final preparation
juga dilakukan pemecahan masalah kembali atas masalah-masalah
kritis yang masih ada. Jika fase ini telah diselesaikan dengan
14
sukses, maka perusahaan sudah dapat menjalankan bisnisnya
dengan menggunakan sistem SAP.
•
Go Live &Support : tujuan dari fase ini adalah menjembatani
aktivitas-aktivitas proyek implementasi dan lingkungan awal
produksi menuju aktivitas operasi produksi.
Menurut Arzu Baloğlu (p23-24) Accelerated SAP mereka (ASAP)
dikembangkan untuk metodologi implementasi sebagai peta standar untuk
penyebaran SAP, pada awalnya digunakan untuk implementasi SAP dalam skala
kecil. Namun, pendekatan tersebut terbukti berhasil dalam penyebaran dan
implementasi SAP dalam skala lebih besar. Lima tahap fase implementasi
dengan metodologi ASAP :
•
Project Preparation,
•
Business Blueprint,
•
Realization,
•
Final Preparation, dan
•
Go Live&Support.
Accelerated SAP (ASAP) adalah penerapan yang dibangun secara
spesifik oleh SAP untuk membantu pengguna SAP dalam mengimplementasi
software SAP secara cepat dan seefisien mungkin. ASAP menyediakan konten,
cara dan pengalaman dari berbagai implementasi yang telah sukses dilakukan,
yang dapat digunakan kembali untuk memastikan kesuksesan implementasi
(Jithin, 2007, hal. 3).
15
• SAP SolutionComposer: dapat digunakan untuk memetakan kebutuhan
bisnis pelanggan untuk disesuaikan dengan solusi SAP.
• SAP Road Maps: menawarkan serangkaian pemetaan pendahuluan
untuk berbagai implementasi (mencakup lintas berbagai teknologi), yang dapat
digunakan dengan mudah untuk setiap proyek tertentu.
• SAP Solution Manager: dapat digunakan untuk memberikan desain
solusi yang efisien, dokumentasi, dan konfigurasi serta tujuan pengujian.
Accelerated SAP Roadmap terdiri dari beberapa fase. Aktivitas-aktivitas
yang ada di dalam fase-fase tersebut akan berubah mengikuti perencanaan dan
disesuaikan dengan jalannya implementasi itu sendiri dan juga mengubah
pilihan-pilihan dari teknologi. Lima fase tahapan Accelerated SAP Roadmap :
2.2.2
•
ProjectPreparation,
•
BusinessBlueprint,
•
Realization,
•
FinalPreparation, dan
•
GoLive&Support.
Project Preparation
Selama fase project preparation,semua persiapanyang diperlukan
disiapkan, termasuk menyiapkan perencanaan awal, menyelesaikan organisasi
proyek, merumuskan rencana proyek secara terperinci, danmemulaiprogram
pelatihan
untukanggota
menyiapkanperangkat
tim
kerasdan
proyek,
memetakan
infrastruktur,
sistemlandscape,
mempersiapkan
wilayah
16
proyekdanmenetapkanperjanjian kerjadan standaruntuk proyek tersebut.Proyek
iniresmidimulai dengan diadakannya kick-off-meeting. Semua anggotaproyek,
termasuktokoh-tokoh pentinglainnya dalam perusahaanwajib hadirpada kick-offmeeting. Proyek dan perencanaanawaldisajikandalam pertemuanini (Jithin, 2007,
hal. 4).
2.2.3
Business Blueprint
Menurut (Baloğlu, 2003, hal. 65-66) dalam business blueprint, aktivitas-
aktivitas yang dilakukan :
1. Menyiapkan Business Process Workshops : tujuan dari kegiatan ini
adalah untuk memastikan efisiensi dari business process workshops. Hal ini
berarti menentukan siapa yang hadir, saat proses bisnis dibahas, dan topik lain
yang berlaku.
2. Melakukan persyaratan umum dari workshops : tujuan dari kegiatan ini
adalah untuk menganalisis standarisasi dan kendala. Kegiatan ini bersinggungan
dengan menentukan standardisasi yang seharusnya, dan tujuan. Beberapa hal
yang harus distandardisasi meliputi:
• Penomoran sistem untuk pencatatan data,
• Chart of accounts,
• Statistik,
• Unit dan pengukuran,
• Neraca dan analisis keuntungan, dan
• Prosedur penanganan, aturan dan standar untuk transfer data antara
aplikasi dan sistem.
17
Dalam business process workshops, tujuan dari kegiatan ini adalah
melakukan business workshops untuk menentukan dan menyelesaikan semua
persyaratan termasuk :
• Proses bisnis,
• Pelaporan,
• Interface,
• Konversi,
• Perangkat Tambahan, dan
• Otorisasi.
Dalam business process workshops, tugas utama adalah :
• Menentukan kebutuhan dari fungsi tambahan,
• Menentukan bentuk persyaratan,
• Menentukan persyaratan pelaporan,
• Menentukan interface yang diperlukan,
• Menentukan persyaratan konversi,
• Menentukan perangkat tambahan yang diperlukan, dan
• Memperjelas area-area yang bermasalah.
Menurut (Jithin, 2007, hal. 4) tujuan utama dari business blueprint adalah
untuk meningkatkan pemahaman mengenai tujuan bisnis dari perusahaan dan
menentukan proses bisnis dan komponen SAP mana yang dibutuhkan untuk
mendukung tujuan tersebut. Hasil dari tahap ini adalah business blueprint, yang
merupakan dokumentasi yang rinci dari hasil yang didapat selama workshop
mengenai kebutuhan perusahaan. Business blueprint mendokumentasikan
kebutuhan proses bisnis dari perusahaan. Dengan ini, pengguna dapat lebih
18
mengerti bagaimana perusahaan menjalankan bisnisnya dengan sistem software
SAP.
2.2.4
Realization
Menurut (Baloğlu, 2003, hal. 74) tujuan dari tahap ini adalah untuk
mengimplementasikan ke dalam sistem SAP kebutuhan proses bisnis dan
validasi model bisnis yang sesuai dengan kebutuhan. Serta melakukan
implementasi akhir dalam sistem, tes secara keseluruhan, dan merilis sistem
operasional produksi. Tim proyek yang membutuhkan akan mendapatkan
pelatihan di bagian ini.
Dalam tahap realization meliputi :
• Manajemen proyek,
• Manajemen perubahan organisasi,
• Pelatihan dalam tahap realisasi,
• Menetapkan lingkungan produksi,
• Mengembangkan rencana sistem uji,
• Menetapkan kualitas lingkungan,
• Baseline configuration,
• Final configuration,
• Integrasi,
• Workflow, ABAP, konversi dan program interface, peran pengguna dan
pengarsipan.
19
Menurut (Jithin, 2007, hal. 5) pada tahap ini, kebutuhan yang terdapat
pada Business Blueprint dikonfigurasi. Secara khusus, ada objektif utama dalam
tahap ini, yaitu :
•
Konfigurasi akhir sistem : konfigurasi baseline dan konfigurasi final
dalam siklus yang berbeda dan
•
2.2.5
Pengujian keseluruhan Integration Testing.
Final Preparation
Menurut (Jithin, 2007, hal. 5) pada tahap ini segala persiapan akan
diselesaikan, termasuk pengujian, pelatihan end-user, pengaturan sistem, dan
aktivitas cutover. Semua masalah yang masih belum terselesaikan harus
diselesaikan pada tahap ini. Pada tahap ini harus dipastikan bahwa semua
prasyarat sistem untuk go live telah dipenuhi.
Menurut (Baloğlu, 2003, hal. 84-85) tujuan bagian ini adalah untuk
mengidentifikasi baik mengenai tes sistem yang diperlukan sebelum cutover dan
dukungan SAP yang dapat digunakan untuk cutover dan pengujian akhir.
Ditambah juga dengan menyelesaikan persiapan akhir, termasuk pengujian,
pelatihan user, manajemen sistem dan kegiatan-kegiatan yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan implementasi. Fase ini berfungsi untuk menyelesaikan semua
masalah kritis yang masih ada.
Fase ini meliputi kegiatan sebagai berikut :
• Pelatihan pengguna,
• Manajemen sistem,
20
• User Manual dan dukungan,
• Transfer data,
• Integrasi akhir dan pengujian sistem, dan
• Pemeriksaan kualitas tahap persiapan akhir.
2.2.6
Go Live & Support
Menurut (Jithin, 2007, hal. 6) setelah produksi start-up, sistem harus
diperiksa lagi dan melakukan perbaikan di mana yang diperlukan untuk
menjamin bahwa semua aspek dari lingkungan bisnis dapat direpresentasikan
dalam sistem. Untuk tujuan ini tidak hanya diperlukan untuk memeriksa
ketepatan transaksi bisnis, tetapi juga untuk memeriksa apakah pengguna akhir
sistem tersebut memenuhi persyaratan. Selama fase ini tim proyek mendukung
organisasi dan ada helpdesk operasional yang dapat digunakan oleh pengguna
untuk melaporkan masalah mereka.
Selama langkah terakhir sistem akan dipindahkan ke organisasi
manajemen dan proyek ini secara resmi ditutup. Dengan menggunakan
kemampuan yang maksimal dan fleksibilitas dari sistem SAP menjadi jelas
melalui dukungan yang dilakukan terus-menerus untuk proses perbaikan. Dengan
cara ini dapat ditingkatkan penyebaran sistem dengan customer, untuk terus
meningkatkan akses ke data yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan, dan
mengontrol penggunaan tambahan fungsi.
21
2.3 Kerangka Pikir
Gambar 2.2 Kerangka Pikir
22
Aktivitas pertama yang dilakukan dalam project preparation adalah
menentukan pihak-pihak yang terlibat, dari kedua belah pihak baik pihak
konsultan maupun dari pihak client-nya. Hal ini bertujuan untuk menentukan
siapa saja yang bertanggung jawab mengenai data-data yang diperlukan dalam
implementasi, dan yang bertanggung jawab secara keseluruhan dalam proyek
tersebut. Setelah diketahui siapa saja yang terlibat dalam proyek implementasi
ini, maka dibuat struktur organisasi dari pihak konsultan dan pihak client sebagai
hasil pengesahan pembagian tugas dalam proyek implementasi tersebut.
Aktivitas selanjutnya adalah perancangan jadwal awal implementasi sampai
dengan implementasi berakhir. Setelah jadwal perancangan untuk implementasi
telah disepakati, maka akan disusun project schedule yang berisikan jadwal
implementasi secara utuh, yang menunjukkan pembagian jadwal sesuai tahaptahap implementasi dan kegiatan-kegiatan yang akan dikerjakan dalam
implementasi.
Mendapatkan requirement dari pihak client adalah aktivitas berikutnya
yang dikerjakan, setelah tahap implementasi project preparation diselesaikan,
yang dinyatakan dengan adanya kick-off project.Requirement yang telah
didapatkan dari pihak client, akan disusun menjadi minute of meeting yang
dipisahkan sesuai dengan function-function yang ada pada SAP Business One
dan digunakan oleh PT. HFD.Dengan minute of meeting yang telah didiskusikan
dan disetujui, maka pihak konsultan akan memberikan solusi proses bisnis yang
sesuai dengan proses bisnis ideal sesuai SAP Business One.Dalam pemberian
solusi, digambarkan secara utuh proses bisnis untuk setiap function dari SAP
Business One yang digunakan oleh PT. HFD.Setelah solusi dari proses bisnis
23
disetujui oleh pihak client, maka akan disusun blueprint document yang
menggabungkan antara requirement dari client dengan solusi bisnis tersebut.Dari
keseluruhan blueprint document tersebut, dirangkum untuk menunjukkan
seberapa besar kegunaan sistem SAP Business One terhadap proses bisnis yang
dijalankan pada PT. HFD.
Setelah blueprint document disetujui oleh pihak client, maka client harus
memberikan data-data (berupa master data) kepada pihak konsultan yang
dibutuhkan dalam tahap realization.Master data (struktur Chart of Account,
Business Partner, dan Item) yang telah dikirimkan oleh client, akan diperiksa dan
disesuaikan kembali dengan template dari SAP Business One, kemudian akan diimport ke SAP Business One.Aktivitas selanjutnya adalah merancang UDF, yang
ditambahkan ke setiap dokumen yang diperlukan oleh PT. HFD.Sesuai dengan
ruang lingkup pada penulisan skripsi ini, maka aktivitas implementasi ini
berakhir pada melakukan customizing.
Download