III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka

advertisement
III
3.1.
KERANGKA PEMIKIRAN
Kerangka Pemikiran Teoritis
Hubungan antara kinerja koperasi, partisipasi dan manfaat bagi anggota
sangat berkaitan dengan kaidah-kaidah koperasi. Hal-hal yang berkaitan dengan
hubungan antara kinerja koperasi, partisipasi dan manfaat bagi anggota koperasi
yaitu konsep koperasi, keanggotaan, konsep kinerja, konsep partisipasi, dan
manfaat sosial dan ekonomi bagi anggota akan diuraikan pada sub bab berikut ini.
3.1.1. Konsep Koperasi
Koperasi merupakan organisasi yang berbeda dengan organisasi bisnis/
badan usaha lainnya. Hal ini dikarenakan organsisasi koperasi merupakan
kumpulan orang yang bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan bersama melalui
unit usaha yang dimiliki dan dikelola bersama. Koperasi merupakan badan usaha
yang berorientasi sosial dan ekonomi, yang bisa menghimpun usaha kecil di
sektor pertanian dan industri kecil dalam satu wilayah. Koperasi merupakan
bentuk perusahaan yang mengutamakan sistem demokratis. Sedangkan badan
usaha/organisasi bisnis (perusahaan) hanya berfokus orientasi ekonomi (profit
oriented) semata.
International Cooperative Alliance (1995) mendefinisikan koperasi
sebagai perkumpulan yang otonom dari orang-orang yang bergabung secara
sukarela untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi ekonomi, sosial dan budaya
yang sama melalui perusahaan yang dimiliki dan diawasi secara demokratis
(Baga, et al. 2011). Definisi ini menekankan karakteristik dari koperasi yaitu
koperasi sejauh mungkin bebas dari pemerintah dan perusahaan swasta, memiliki
kebebasan untuk mendefinisikan orang-orang sesuai dengan ketentuan hukum
yang dipilihnya, keanggotaan dalam koperasi tidak boleh merupakan keharusan,
diorganisasikan oleh anggota-anggota untuk kemanfaatan bagi diri sendiri dan
manfaat bersama, serta dalam pengendalian dibagi diantara anggota dalam
koperasi sekaligus pemiliknya. Konsep inilah yang disebut sebagai dual identity
of members. Hardjosoekarto (1994) menyatakan bahwa konsep tersebut
merupakan konsep dasar koperasi.
Tujuan koperasi dinyatakan dalam UU No. 25/1992 tentang perkoperasian
pasal 3 disebutkan bahwa, koperasi bertujuan memajukan kesejahteraan anggota
pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, serta ikut membangun tatanan
perekonomian nasional, dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil,
dan makmur berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Dikatakan
dalam tujuan tersebut bahwa, koperasi memajukan kesejahteraan anggota pada
khususnya dan masyarakat pada umumnya. Tujuan ini mengandung arti bahwa,
meningkatkan kesejahteraan anggota adalah menjadi program utama koperasi
melalui pelayanan usaha. Pelayanan anggota merupakan prioritas utama
dibandingkan dengan masyarakat umum. Keberhasilan koperasi dalam mencapai
tujuannya dapat diukur dari peningkatan kesejahteraan anggota.
Keberhasilan koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan sosial dan
ekonomi anggotanya akan lebih mudah diukur, dengan mengetahui aktivitas
ekonomi anggota dilakukan melalui koperasi. Kesejahteraan dalam pengertian
ekonomi dihitung dari tinggi rendahnya pendapatan riil. Kondisi seperti di
Indonesia, dimana pendekatan pembinaan dan pengembangan koperasi dengan
top down approach, berdampak pada keadaan koperasi dengan sejumlah anggota
yang kurang mempunyai hubungan ekonomi satu sama lain. Hal ini
mengakibatkan partisipasi anggota terhadap koperasinya masih relatif kecil
sehingga sukar untuk mengatakan bahwa peningkatan kondisi sosial ekonomi
anggota koperasi sebagai keberhasilan dari koperasi (Sitio & Tamba 2001).
Fungsi koperasi di Indonesia dijelaskan dalam pasal 4 UU No. 25/1992
tentang Perkoperasian, yaitu:
1.
Membangun, mengembangkan potensi, dan kemampuan ekonomi anggota
pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya.
2.
Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan
manusia dan masyarakat.
3.
Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan
perekonomian nasional dengan koperasi sebagai sokogurunya.
4.
Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional
yang merupakan usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan dan
demokrasi ekonomi.
Koperasi melandaskan nilai-nilai menolong diri sendiri, bertanggungjawab
kepada diri sendiri, demokrasi, persamaan, keadilan dan solidaritas. Nilai-nilai
koperasi mengandung gagasan umum yang dilaksanakan dalam praktiknya
dengan prinsip-prinsip koperasi sebagai pedomannya.
Prinsip-prinsip koperasi adalah pedoman bagi koperasi-koperasi dalam
melaksanakan nilai-nilai koperasi dalam praktik. Prinsip-prinsip merupakan
jantung dari koperasi, tidak independen satu dengan yang lain, tetapi saling terkait
secara halus, bila yang satu diabaikan maka keseluruhan menjadi berkurang.
Koperasi seharusnya tidak dapat dinilai secara eksklusif berdasarkan salah satu
diantara prinsip-prinsip, tetapi harus dinilai seberapa jauh koperasi tersebut
sebagai satu keseluruhan (Nasution 2008; Baga 2011). Tujuh prinsip koperasi
yang disepakati di Manchaster tahun 1985, dimana tiga prinsip pertama esensial
dikaitkan dengan dinamika internal, tipikal bagi setiap koperasi, sedangkan empat
yang terakhir menyangkut operasi internal maupun hubungan eksternal oleh
koperasi. Berikut prinsip-prinsip koperasi:
1.
Keanggotaan yang sukarela dan terbuka.
Koperasi adalah organisasi yang bersifat sukarela, terbuka bagi semua orang
yang bersedia menggunakan jasa-jasanya dan bersedia menerima tanggung
jawab keanggotaan, tanpa membedakan jenis kelamin (gender), latar
belakang sosial, ras, politik, atau agama.
2.
Pengawasan demokrasi oleh anggota.
Koperasi adalah organisasi demokratis yang diawasi oleh para anggotanya,
yang secara efektif menetapkan kebijakan dan membuat keputusan. Pria dan
wanita yang dipilih sebagai wakil anggota bertanggungjawab kepada rapat
anggota. Anggota memiliki hak suara sama (satu anggota satu suara) pada
koperasi primer dan koperasi pada tingkat-tingkat lainnya juga dikelola secara
demokratis.
3.
Partisipasi anggota dalam kegiatan ekonomi.
Anggota memberikan kontribusi permodalan koperasi secara adil dan
melakukan pengawasan secara domokratis (terhadap modal tersebut).
Anggota biasanya menerima kompensasi yang terbatas atas modal yang
diisyaratkan untuk menjadi anggota.
4.
Otonomi dan kemandirian (independen).
Koperasi adalah organisasi otonom, menolong diri sendiri serta diawasi oleh
para anggotanya. Apabila koperasi mengadakan perjanjian dengan organisasi
lain, termasuk pemerintah atau menumpuk modal dari sumber luar, koperasi
melakukannya
berdasarkan
persyaratan
yang
menjamin
pengawasan
demokratis oleh para anggotanya dan yang mempertahankan otonomi mereka.
5.
Pendidikan, pelatihan, dan penerangan.
Koperasi memberikan pendidikan dan pelatihan bagi para anggota, wakilwakil anggota yang dipilih oleh rapat anggota serta para manajer dan
karyawan, agar mereka dapat melakukan tugasnya lebih efektif bagi
pengembangan koperasinya. Mereka memberikan penerangan kepada
masyarakat umum tentang hakekat perkoperasian dan manfaat berkoperasi.
6.
Kerjasama antar koperasi.
Koperasi melayani para anggotanya secara efektif dan memperkuat gerakan
koperasi dengan kerjasama melalui organisasi koperasi tingkat lokal,
nasional, regional, dan internasional. Kerjasama antar koperasi ini adalah
suatu keharusan jika koperasi ingin tetap hidup dan demi untuk pertumbuhan
gerakan koperasi dalam memperjuangkan kebebasan dan menjunjung
matrabat manusia (Hendrojogi 2000).
7.
Kepedulian terhadap masyarakat.
Koperasi melakukan kegiatan untuk pengembangan masyarakat sekitarnya
secara berkelanjutan, melalui kebijakan-kebijakan yang diputuskan oleh rapat
anggota.
3.1.1. Keanggotaan Koperasi
Keanggotaan koperasi didasarkan pada kesamaan kepentingan ekonomi
dalam lingkup usaha koperasi. Koperasi akan kuat jika anggotanya mempunyai
kepentingan ekonomi dan sosial yang sama (Hardjosoekarto 1994). Ketentuan
yang terdapat pada pasal 19 ayat (1) ini menunjukkan bahwa faktor kesamaan
kepentingan dalam usaha koperasi merupakan tolak ukur untuk menentukan
diterima atau tidaknya seseorang menjadi anggota koperasi. Anggota merupakan
faktor penentu dalam kehidupan koperasi, oleh karena itu penting bagi anggota
untuk mengembangkan dan memelihara kebersamaan.
Setiap anggota mempunyai kewajiban dan hak yang sama terhadap
koperasi sebagaimana diatur dalam pasal 19 ayat (1). Hal ini dimaksudkan untuk
menghindari adanya kecenderungan anggota hanya akan mementingkan
kepentingan pribadinya sendiri. Pasal 20 UU No. 25/1992 secara rinci mengatur
kewajiban dan hak anggota. Setiap anggota mempunyai kewajiban:
1.
Mematuhi Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) serta
keputusan yang telah disepakati dalam rapat anggota.
2.
Berpartisipasi dalam kegiatan usaha yang telah diselenggarakan oleh
koperasi.
3.
Mengembangkan dan memelihara kebersamaan berdasarkan atas asas
kekeluargaan.
Hak anggota koperasi seperti hal nya kewajiban koperasi sudah diatur
dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga koperasi. Hak anggota adalah
sebagai berikut:
1.
Menghadiri, menyatakan pendapat dan memberikan suara dalam rapat
anggota.
2.
Memilih dan atau dipilih menjadi anggota pengurus atau pengawas.
3.
Meminta diadakan rapat anggota menurut ketentuan dalam AD.
4.
Mengememukakan pendapat atau saran kepada pengurus di luar rapat anggota
baik diminta maupun tidak diminta.
5.
Memanfaakan koperasi dan mendapat pelayanan yang sama antar sesama
anggota.
6.
Mendapatkan keterangan mengenai perkembangan koperasi
menurut
ketentuan dalam AD.
Koperasi tidak akan mungkin terbentuk tanpa adanya anggota sebagai
penggerak koperasi. Jumlah anggota dalam koperasi menentukan besarnya modal
yang dimiliki (Firdaus & Susanto 2004). Kedudukan anggota dalam koperasi
secara hukum adalah suatu keharusan dan sebagai konsekuensinya anggota
tersebut memiliki hak serta kewajiban umum seperti yang terlihat pada Gambar 1.
Keanggotaan koperasi bersifat sukarela dan terbuka. Sukarela memiliki
makna bahwa menjadi anggota koperasi tidak boleh dipaksakan oleh siapapun.
Sifat sukarela juga dapat berarti seorang anggota dapat mengundurkan diri dari
koperasinya dengan syarat yang ditentukan dalam anggaran dasar koperasi. Sifat
terbuka memiliki arti bahwa dalam keanggotaannya tidak dilakukan pembatasan
atau diskriminasi dalam bentuk apapun.
Gambar 1. Paradigma Faktor Anggota sebagai Salah Satu Faktor yang
Mempengaruhi Kemampuan Berkembang KUD
Sumber: Suarta (1997)
Sesuai pasal 17 ayat (1) UU No. 25/1992 dinyatakan bahwa anggota
koperasi adalah pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi seperti pada Gambar 2.
Anggota sebagai pemilik dan pengguna jasa koperasi, anggota berpartisipasi aktif
dalam kegiatan koperasi. Koperasi dapat memberikan pelayanan kepada bukan
anggota sesuai dengan sifat kegiatan usahanya, untuk menarik yang bukan
anggota menjadi anggota koperasi.
Rapat Anggota
Sebagai Pemilik
Kebutuhan
ekonomi
Sebagai
Pengguna
Koperasi
Anggota
Koperasi
Pasar
Gambar 2. Status Ganda Anggota Koperasi
Sumber: Hendar & Kusnadi (2005)
Status ganda anggota dapat dilihat bahwa anggota-anggota koperasi secara
individu ataupun rumah tangga mempunyai kebutuhan ekonomi yang sama yang
mendasari pendirian koperasi. Perumusan program pengembangan perusahaan,
rencana kebutuhan anggaran, penetapan pengelola perusahaan, dan lainnya yang
sifatnya strategis ditetapkan dalam rapat anggota (Sitio & Tamba 2001).
Anggota sebagai pengguna jasa berhak berpartisipasi aktif dalam kegiatan
usaha koperasi. Kegiatan usaha koperasi pada dasarnya adalah kegiatan yang
diputuskan oleh anggota dan diselenggarakan untuk kepentingan anggota sendiri.
Hak suara dalam rapat anggota umumnya berlaku satu anggota satu suara dan
bahwa hak suara tersebut pada dasarnya tidak boleh diwakilkan (no voting no
proxy). Dasar satu orang satu suara yang tidak bisa diwakilkan tersebut adalah
untuk mendorong anggota menghadiri rapat anggota, yang berarti mereka ikut
berpartisipasi dalam manajemen koperasi secara tidak langsung (Baga 2011).
3.1.3. Konsep Kinerja
Kinerja organisasi atau kinerja perusahaan merupakan indikator tingkatan
prestasi yang dapat dicapai dan mencerminkan keberhasilan manajer/pengusaha
dalam melaksanakan suatu pekerjaan tertentu. Penilaian kinerja yang dilakukan
pada koperasi didasarkan pada jati diri koperasi yaitu nilai-nilai, prinsip, dan
koridor pengembangan koperasi.
Pengelolaan kinerja dalam suatu organisasi dapat dikatakan kerangka kerja
yang didalamnya terdapat faktor yang mempengaruhi bagaimana kinerja
dirancang, dikembangkan, diperkenalkan dan dievaluasi. Nawawi (2006)
mengungkapkan bahwa pengukuran kinerja organisasi baik finansial maupun
nonfinansial dapat digunakan dalam mengendalikan operasional organisasi baik
jangka pendek maupun jangka panjang. Indikator kinerja koperasi menurut
Soedjono (2003) terdiri dari dua segi yaitu segi usaha dan segi organisasi. Segi
usaha mencakup peningkatan jumlah anggota, modal koperasi, jumlah dan
volume usaha, pelayanan sosial kepada anggota, dan kesejahteraan anggota
dengan pembagian SHU.
Hasil pengukuran kinerja digunakan sebagai umpan balik yang akan
memberikan informasi tentang prestasi pelaksanaan suatu rencana dan titik
dimana
perusahaan
memerlukan
penyesuaian-penyesuaian
atas
aktivitas
perencanaan dan pengendalian (Yuwono et al, 2007). Menurut Yuwono et al.
(2007), ada dua pendekatan dalam mengukur kinerja perusahaan, yaitu:
a. Ukuran keuangan, yaitu ukuram kinerja yang berasal dari laporan keuangan
yang diterbitkan oleh perusahaan.
b. Ukuran non keuangan, yaitu ukuran kinerja yang tidak terlihat langsung dari
laporan keuangan, namun berhubungan dengan pencapaian ukuran keuangan
dan bersifak kualitatif seperti market share, market growth, dan tecnological
capability.
Kinerja keuangan dilakukan terhadap laporan keuangan KUD Puspa
Mekar. Hal ini dilakukan untuk menilai dan mengevaluasi tujuan koperasi secara
ekonomi. Pengukuran kinerja keuangan dilakukan dengan menganalisis rasiorasio keuangan yang terdapat dalam laporan keuangan koperasi. Analisis rasio
akan memudahkan untuk mengetahui dalam hal-hal apa saja KUD sedang
menghadapi masalah, sehingga dapat dilakukan pebaikan-perbaikan untuk
mencegah semakin buruknya kondisi keuangan organisasi. Analisis rasio yang
digunakan adalah rasio likuiditas, solvabilitas, rantabilitas, dan aktivitas.
Kinerja dapat direncanakan dengan baik dan diukur dengan kepuasan
anggota menggunakan parameter yang terukur seperti tingkat perolehan hasil
usaha, pembagian sisa hasil usaha kepada anggota dan promosi anggota (Tanjung,
2008). Indikator kinerja yang digunakan dalam melaksanakan suatu pekerjaan di
lingkungan sebuah organisasi mencakup lima unsur menurut Nawawi (2006) yaitu
kuantitas hasil kerja yang dicapai, kualitas hasil kerja yang dicapai, jangka waktu
mencapai hasil kerja tersebut, kehadiran dan kegiatan selama hadir di tempat kerja
dan kemampuan bekerjasama
3.1.4. Konsep Partisipasi
Partisipasi anggota adalah keterlibatan mental dan emosional terhadap
koperasi, memiliki motivasi berkontribusi kepada koperasi dan berbagai tanggung
jawab atas pencapian tujuan organisasi maupun usaha koperasi (Kementerian
Koperasi dan UKM 2010). Perkembangan dan pertumbuhan suatu koperasi sangat
tergantung pada kualitas dan partisipasi dari para anggotanya. Partisipasi anggota
sangat berpengaruh dan menentukan terhadap keberhasilan koperasi, karena
partisipasi anggota merupakan unsur utama dan paling penting dalam mencapai
keberhasilan koperasi (Hendar & Kusnadi 2005; Aini & Setiawan 2006). Melalui
partisipasi segala aspek yang berhubungan dengan pelaksanaan kegiatan
pencapaian tujuan dapat direalisasikan.
Mekanisme untuk menemukan informasi dibutuhkan untuk menyesuaikan
pelayanan yang diberikan oleh koperasi bagi kepentingan/ kebutuhan anggotanya
(Roepke 2000). Harapan yang diinginkan anggota ditunjang dengan memberikan
informasi, kontribusi permodalan, dan menentukan program-program yang harus
dilaksanakan pihak manajemen dan mengawasi jalannya koperasi. Informasi dari
luar organisasi koperasi juga penting untuk pengambilan keputusan, tetapi
informasi yang relevan sebagian besar berasal dari anggota koperasi itu sendiri.
Bila pihak manajemen (pengurus atau pengelola) tidak mampu menjalankan
program-program yang ditentukan oleh anggota, anggota berhak untuk
memberhentikannya dan mengganti atau memilih pengurus atau pengelola yang
baru.
Faktor utama yang mengharuskan koperasi meningkatkan pelayanan
kepada anggota yaitu tekanan persaingan dari organisasi lain dan perubahan
kebutuhan manusia akibat perubahan waktu seperti yang terlihat pada Gambar 3.
Perubahan kebutuhan ini akan menentukan pola kebutuhan anggota dalam
mengkonsumsi produk-produk yang ditawarkan oleh koperasi. Koperasi yang
mampu memberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan anggota lebih besar
dari pesaingnya, maka tingkat partisipasi anggota terhadap koperasinya
meningkat.
Keuntungan yang diperoleh dengan adanya partisipasi ini bagi pihak
manajemen adalah kemampuan dalam memperoleh informasi dari anggota
koperasi. Perubahan-perubahan kebutuhan yang ada pada para anggota dan
lingkungan terutama karena kekuatan-kekuatan dalam persaingan, maka jasa
pelayanan perusahaan koperasi harus terus-menerus disesuaikan. Hal ini dapat
direalisasikan jika para anggota memiliki keinginan dan kemampuan untuk
mempengaruhi dan mengendalikan manajemen (Hendar & Kusnadi 2005).
Sikap seorang individu merupakan dasar/landasan yang diambil oleh
perusahaan termasuk koperasi. Kegunaan atau manfaat dipakai sebagai suatu
ukuran derajat kepuasan seorang individu (konsumen, manajer, pemegang saham,
anggota). Jika manfaat atau keunggulan yang diberikan oleh koperasi bagi
seseorang lebih tinggi dari utility yang dapat diperoleh/ dicapai pada saat tidak
menjadi anggota koperasi, maka orang tersebut akan masuk menjadi anggota
koperasi dan melakukan usaha dengan koperasinya atau dengan kata lain, koperasi
dapat menarik anggota, begitu sebaliknya, jika manfaat atau yang diberikan
koperasi lebih rendah dari utility yang dicapai saat menjadi anggota koperasi,
maka orang tersebut akan meninggalkan koperasi atau menurunkan tingkat
kegiatannya dalam koperasi (Roepke 2000; Hendar & Kusnadi 2005).
Kebutuhan
(Kepentingan)
Owners
Pemilik
≡
Pengguna
(Users)
Informasi
Partisipasi dalam
memberikan dan
menikmati pelayanan
Pelayanan
Kebutuhan/kepentingan
yang berubah-ubah
Kekuatan kompetitif
(pesaing)
Gambar 3. Pengertian partisipasi
Sumber: Roepke (2000)
Anggota
akan terus mempertahankan keanggotaannya
dan
terus
mengadakan transaksi dengan perusahaan apabila mereka ingin memperoleh
manfaat, selain itu, anggota harus memiliki hak, kemungkinan bertindak,
motivasi, rasa ingin memiliki terhadap koperasi, dan kesanggupan berpartisipasi
dalam menentukan tujuan, mengambil keputusan, dan pengawasan terhadap
usaha-usaha koperasi (Hendar & Kusnadi 2005). Partisipasi anggota koperasi
bersifat kesadaran, namun koperasi harus mampu memberikan rangsangan
tertentu tehadap anggota agar partisipasi selalu efektif. Keterlibatan anggota
terhadap koperasi sangat tergantung pada manfaat ekonomi dan manfaat sosial
yang diterima oleh anggota. Tingkat partisipasi anggota secara individual akan
berbeda atau akan bervariasi karena adanya perbedaan kondisi sosial ekonomi
masing-masing anggota (Kusumah 1987).
Partisipasi diperlukan untuk mengatasi penampilan buruk dari koperasi,
menghilangkan salah tindak pihak manajemen dan membuat kebijaksanaan
pengelola diperhitungkan. Partisipasi sering dipandang sebagai suatu jalan ke arah
pengembangan koperasi atau suatu akhir dari sebuah koperasi. Partisipasi dapat
dipandang dari beberapa dimensi yaitu dipandang dari sifatnya, bentuknya,
pelaksanaan, dan segi kepentingannya (Hendar dan Kusnadi 2005).
Roepke (2000) menyebutkan bahwa kualitas partisipasi tergantung pada
interaksi variabel para anggota, manajemen koperasi dan program. Partisipasi
dalam melaksanakan pelayanan yang disediakan koperasi akan berhasil apabila
ada kesesuaian (fit) antara anggota, program dan manajemen seperti yang terlihat
pada Gambar 4.
Program
Tugas (task)
Hasil (output)
Keberhasilan
Partisipasi
Kebutuhan
(need)
Kemampuan
(ability)
Para
Anggota
Kepentinga
n
Keputusan
Manajemen Koperasi
Alat-Alat Partisipasi
Gambar 4. Model Kesesuaian (fit) Partisipasi
Sumber: Roepke (2000)
Partisipasi dalam organisasi yang ditandai oleh hubungan identitas dapat
diwujudkan jika pelayanan yang diberikan oleh perusahaan koperasi sesuai
dengan kepentingan dan kebutuhan anggotanya. Kesesuaian antara anggota dan
program adalah adanya kesepakatan antara kebutuhan anggota dan keluaran
(output) program koperasi. Program dimaksudkan sebagai kegiatan usaha utama
yang dipilih atau ditentukan manajemen. Kesesuaian antara anggota dan
manajemen akan terjadi apabila anggota mempunyai kemampuan (kompetensi)
dan kemauan (motivasi) dalam mengemukakan kebutuhannya (permintaan) yang
kemudian harus direalisasikan dalam keputusan manajemen. Kesesuaian antara
program dan manajemen sangat diperlukan, dimana tugas dari program harus
sesuai
dengan
kemampuan
manajemen
untuk
melaksanakan
dan
menyelesaikannya. Efektivitas partisipasi merupakan fungsi dari tingkat
kesesuaian antara anggota, manajemen dan program.
3.1.5. Manfaat Sosial dan Ekonomi Koperasi
Manfaat diartikan sebagai nilai yang subjektif dari suatu alternatif yang
terbuka bagi seseorang. Manfaat atau value merupakan nilai yang menunjukkan
kapasitas potensial dari suatu objek atau aksi untuk memuaskan kebutuhan
manusia yang dipandang dari sudut ekonomi dan nonekonomi (Hendar & Kusnadi
2005). Kebutuhan anggota koperasi dapat dilihat dari kebutuhan sosial dan
ekonomi. Setiap orang yang menjadi anggota koperasi pasti didasari oleh
kebutuhan-kebutuhan tertentu yang dapat diraih dalam koperasi tersebut. Bagi
orang yang secara ekonomi cukup kuat, mungkin kebutuhan sosial yang menjadi
motivasi bergabung menjadi anggota. Bagi orang yang lemah kondisi
ekonominya, motivasi ekonomi lebih dominan menjadi alasan bergabung kedalam
koperasi.
Manfaat keanggotaan pada suatu koperasi dapat dihitung dengan jalan
melihat perbedaan dari hasil usaha anggota jika menjadi anggota dengan tidak
menjadi anggota koperasi tersebut atau menjadi anggota organisasi lain. Manfaat
dapat berupa peningkatan jumlah hasil (expected return), berupa peningkatan
jumlah kestabilan dari hasil (standard deviation of return) atau kombinasi
keduanya (Hendar & Kusnadi 2005).
Kebutuhan sosial yang diinginkan oleh anggota KUD dilihat dari seluruh
kegiatan dan program yang dilakukan oleh koperasi. Kebutuhan sosial terkait
dengan hubungan anggota dengan sesama anggota maupun hubungan anggota
dengan pengurus koperasi. Kebutuhan sosial lainnya dilihat dari pelayanan dan
pembinaan pengurus kepada anggota koperasi. Manfaat sosial yang dirasakan oleh
anggota menunjukkan terjalinnya hubungan kekeluargaan dan gotong royong
dalam KUD. Manfaat sosial lainnya yang diinginkan oleh anggota adalah adanya
jaminan pendidikan bagi anggota maupun keluarga dan adanya jaminan
kesehatan.
Manfaat ekonomi merupakan alasan dasar bagi sebagian besar masyarakat
bergabung menjadi anggota koperasi dan merupakan kebutuhan yang harus segera
dipenuhi (Hendar & Kusnadi 2005). Pendapatan merupakan faktor yang sangat
dominan dalam memenuhi kebutuhan seseorang, maka alasan ekonomi untuk
menjadi anggota koperasi menjadi alasan dasar bergabungnya anggota dalam
koperasi. Kebutuhan ekonomi disesuaikan dengan kegiatan-kegiatan baik jasa
maupun usaha KUD. Nasution (2008) menyatakan bahwa motivasi anggota untuk
membangun jati diri dan otonomi koperasi akan semakin besar jika koperasi
memiliki kemampuan untuk mempromosikan manfaat ekonominya kepada
anggota dan masyarakat disekitarnya.
Koperasi yang memberikan tingkat kepuasan dan manfaat yang lebih
tinggi kepada seseorang daripada organisasi lain, berarti koperasi lebih tinggi
kemampuannya dalam memuaskan keinginan anggota tersebut. Anggota akan
membandingkan manfaat yang diterima dari koperasi dengan organisasi lain yang
merupakan saingannya. Hendar & Kusnadi (2005) menyatakan manfaat utama
yang diharapkan dari keanggotaan koperasi adalah dukungan terhadap kelancaran/
kestabilan usaha dan kebutuhan konsumsi para anggota. Manfaat keanggotaan
sering disebut sebagai efek koperasi (cooperative effect). Efek koperasi tidak akan
terjadi secara otomatis, tetapi harus dihasilkan dan diperjuangkan oleh koperasi.
3.2.
Kerangka Pemikiran Operasional
KUD Puspa Mekar yang berlokasi di Kecamatan Parongpong, Kabupaten
Bandung Barat bergerak di bidang usaha sapi perah. KUD Puspa Mekar pernah
mengalami masa kebangkrutan dan mengatasi hal tersebut KUD Puspa Mekar
berasosiasi dengan KPSBU Jawa Barat. Hal ini membatu permodalan,
operasional, manajemen, dan teknologi KUD Puspa Mekar dalam menjalankan
usaha ternak sapi perah.
Terbatasnya kemampuan KUD Puspa Mekar untuk mengembangkan
usaha juga menjadi permasalahan. KUD Puspa Mekar belum mampu mendirikan
unit usaha disebabkan oleh kurangnya permodalan dan masih sangat bergantung
pada asosiasi dengan KPSBU. Keputusan pengembangan unit usaha sepenuhnya
berada ditingkat KPSBU sehingga KUD Puspa Mekar memiliki keterbatasan
dalam hal pengembangan usaha. Pengembangan usaha mutlak diperlukan oleh
koperasi untuk meningkatkan kesejahteraan anggota melalui SHU yang diterima
oleh anggota. Pengembangan usaha tersebut juga diperlukan dukungan penuh dari
anggota yang terlihat dari tingkat partisipasi anggota terhadap KUD Puspa Mekar.
Menganalisis hubungan antara kinerja, partisipasi dan manfaat bagi
anggota menjadi hal penting dalam rangka mengembangan koperasi. Kinerja
koperasi menurut Soedjono (2003) dipengaruhi oleh visi, kapasitas, jaringan kerja,
dan sumberdaya. Faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi anggota adalah
manfaat sosial dan ekonomi yang dirasakan anggota. Manfaat sosial dilihat dari
hubungan, pelayanan, dan pelatihan. Manfaat ekonomi dilihat dari penambahan
pendapatan dan kegiatan pembelian anggota terhadap barang dan jasa yang
disediakan KUD. Menganalisis hubungan antara kinerja, partisipasi dan manfaat
bagi anggota dilakukan melalui analisis jalur (path analysis). Mengetahui
hubungan antara kinerja, partisipasi dan manfaat akan memudahkan KUD Puspa
Mekar untuk membuat kebijakan yang dapat menyejahterakan anggota dan
pengembangan koperasi. Bagan kerangka pemikiran operasional dalam penelitian
ini dapat dilihat pada Gambar 5.
KUD Puspa Mekar
 KUD Puspa Mekar pernah mengalami masa kebangkrutan
 KUD Puspa Mekar mengalami keterbatasan pengembangan unit usaha
Keragaan dan pengembangan koperasi dilihat dari kinerja koperasi,
partisipasi anggota, dan manfaat yang diterima oleh anggota.
Karakteristik
Demografi:
 Jenis Kelamin
 Usia
 Tingkat Pendidikan
 Pengalaman Beternak
 Lama Menjadi
Anggota
 Jumlah Ternak

Analisis
Deskriptif
Partisipasi
Anggota
Manfaat Sosial
dan Ekonomi
Kinerja
Koperasi
Analisis
Rasio
Analisis
Korelasi
Keuangan
Analisis Jalur
Analisis mengenai hubungan antara kinerja koperasi, partisipasi anggota, dan
manfaat sosial dan ekonomi.
Implikasi Manajerial
Gambar 5. Kerangka Pemikiran Operasional
Download