analisis kemampuan berpikir kreatif siswa pada materi elektrokimia

advertisement
ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA PADA
MATERI ELEKTROKIMIA MELALUI MODEL
OPEN-ENDED PROBLEMS
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
untuk memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana
Oleh:
IKA HUMAEROH
NIM.1111016200016
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2016
i
ii
iii
ABSTRAK
Ika Humaeroh, NIM. 1111016200016. Analisis Kemampuan Berpikir Kreatif
Siswa pada Materi Elektrokimia melalui Model Open-Ended Problems.
Skripsi. Program Studi Kimia, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam,
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Penelitian ini bertujuan mengetahui ketercapaian aspek kemampuan
berpikir kreatif siswa dan mengetahui tingkat kemampuan berpikir kreatif siswa
pada materi elektrokimia melalui model open-ended problems. Metode penelitian
yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif. Sampel dalam penelitian ini
adalah siswa kelas XII IPA 4 SMA Negeri 3 Kota Tangerang Selatan yang
berjumlah 28 orang. Data penelitian diperoleh dari lembar observasi, tes, dan
wawancara. Pada penelitian ini, pencapaian kemampuan berpikir kreatif siswa
difokuskan pada tiga aspek berpikir kreatif yaitu fluency, flexibility, dan
originality. Hasil penelitian berdasarkan lembar observasi menunjukkan bahwa
aspek kemampuan berpikir kreatif siswa pada aspek fluency, flexibility dan
originality masing-masing mencapai kategori baik, kategori cukup, dan kategori
cukup. Sementara berdasarkan hasil tes open-ended, aspek fluency, flexibility dan
originality masing-masing dapat dicapai dengan kategori baik, cukup, dan cukup.
Tingkat kemampuan berpikir kreatif siswa hanya dapat dicapai pada kategori
sangat kurang, kurang, dan cukup. Jumlah siswa pada masing-masing tingkatan
kategori berpikir kreatif tersebut adalah 10 orang pada kategori sangat kurang, 17
orang pada kategori kurang dan 1 orang pada kategori cukup. Jika dikonversi ke
dalam bentuk presentase, 35,71% siswa mencapai kategori sangat kurang, 60,71%
siswa pada kategori kurang dan 3,57% siswa pada kategori cukup.
Kata Kunci: Kemampuan Berpikir Kreatif, Model Open-Ended Problems,
Elektrokimia
iv
ABSTRACT
Ika Humaeroh, NIM 1111016200016. The Analysis of Students’ Creative
Thinking Ability on Electrochemistry through Open-Ended Problems Model.
Skripsi. Chemistry Education Program. Science Department. Faculty of
Tarbiya and Teachers’ Training. Islamic State University Syarif Hidayatullah
Jakarta.
This research is aimed to find out students’ achievement in creative
thinking ability and to know the level of their ability in creative thinking on
electrochemistry through open-ended problems model. The method used in this
research is Descriptive Study. The sample of this research is 12 grade students of
IPA 4 of SMAN 3 South Tangerang that consists of 28 students. The data of this
research was acquired from observation sheet, test and interview. In this research
the achievement of students’ creative thinking ability was focused on three aspects
of creative thinking: fluency, flexibility and originality. The result of observation
sheet showed that students’ achievement on fluency is good, flexibility is sufficient
and originality is sufficient. Meanwhile, based on the open ended test result
showed that students’ achievement on fluency is good, flexibility is sufficient and
originality is also sufficient. Level of students’ ability in creative thinking only can
be achieved on very lower, lower and sufficient category. The amount of students
in every level of those categories are 10 students on very lower category, 17
students on lower category, and 1 student on sufficient category. If the result is
converted into percentage, it was 35,71% students on very lower category,
60,71% students on lower category and 3,57% student on sufficient category.
Keywords:
Creative Thinking
Electrochemistry
Ability,
v
Open-Ended
Problems
Model,
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim,
Alhamdulillahirobbil’alamiin, puji syukur penulis panjatkan kehadirat
Allah SWT. Shalawat serta salam senantiasa selalu tercurahkan kepada Nabi
Muhammad SAW, yang senantiasa menuntun kita menuju jalan yang diridhoi
oleh-Nya.
Atas segala rahmat, karunia dan pertolongan-Nya, serta bimbingan dan
dorongan dari berbagai pihak, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Oleh
karena itu, sebagai ungkapan rasa hormat yang tulus, penulis menyampaikan
ucapan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya MA. Selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ibu Baiq Hana Susanti, M.Sc. selaku Ketua Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatulaah Jakarta.
3. Bapak Burhanudin Milama, M.Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Kimia sekaligus Dosen Penguji I yang telah memberikan banyak pengarahan
serta bimbingan kepada penulis.
4. Bapak Dedi Irwandi, M.Si. selaku Dosen Pembimbing I yang telah
memberikan banyak pengarahan, bimbingan serta motivasi kepada penulis.
5. Ibu Nanda Saridewi, M.Si. selaku Dosen Pembimbing II yang telah
memberikan banyak pengarahan, bimbingan serta motivasi kepada penulis.
6. Ibu Evi Sapinatul Bahriah, M.Pd selaku validator yang telah memberikan
arahan, bimbingan dan saran kepada penulis.
7. Bapak Adi Riyadhi, M.Si selaku validator yang telah memberikan arahan,
bimbingan dan saran kepada penulis.
8. Ibu Luki Yunita, M.Pd. sebagai Dosen Penguji II yang telah memberikan
banyak pengarahan serta bimbingan kepada penulis.
vi
9. Staf Tata Usaha dan Guru-guru SMA Negeri 3 Kota Tangerang Selatan yang
telah banyak memberikan kontribusi selama penelitian.
10. Ibu Wiwin Purwi Indayati, M.Pd. selaku guru kimia SMA Negeri 3 Kota
Tangerang Selatan sekaligus Wakasek bidang Kurikulum yang selalu
memberikan semangat serta banyak membantu dalam keberlangsungan proses
penelitian.
11. Siswa dan siswi SMA Negeri 3 Kota Tangerang Selatan yang telah membantu
kelangsungan penelitian dan memberikan banyak pelajaran kepada penulis.
12. Kedua orangtua tercinta (Entong Haromaen, M.Pd dan Mutmainah, S.Pd)
yang tak henti-hentinya mengalirkan doa demi kelancaran penelitian dan
penyusunan skripsi.
13. Adik-adik tercinta (Tb. Zaki Baihaki dan Rt. Reva Nabilah) yang selalu
menghibur, membagi tawa serta candanya.
14. Dosen-dosen Pendidikan Kimia Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta yang telah memberikan ilmu pengetahuan, motivasi, serta
mengajarkan banyak hal untuk penulis.
15. Para Observer (Riska Fitriyani, Vivi Seftari, Sella Marselyana A, dan Amrina
Alhumaira) yang senantiasa meluangkan waktunya untuk membantu
kelangsungan proses penelitian yang dilakukan oleh penulis.
16. Sahabat-sahabat tercinta (Mira Rizki, Asih Kurniasari, Riska Fitriyani,
Maried Ayuningtyas, Vivi Seftari,
Dyah Indah Rini, Lenny Shintiawati,
Anisa Saida dan Rizka Juniar) yang selalu mendukung, menghibur dan
memberikan motivasinya kepada penulis dalam penyusunan skripsi.
17. Teman-teman kimia angkatan 2011 yang telah memberikan motivasi kepada
penulis.
vii
Dan semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi
yang tidak dapat disebutkan satu persatu oleh penulis. Semoga Allah
Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan yang telah kalian berikan. Akhir
kata semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi
para peneliti lain di dunia pendidikan sains pada umumnya.
Jakarta, 16 Desember 2015
Ika Humaeroh
NIM. 1111016200016
viii
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN .....................................
i
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING ........................................
ii
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI ......................................
iii
ABSTRAK ..........................................................................................
iv
ABSTRACT ........................................................................................
v
KATA PENGANTAR .........................................................................
vi
DAFTAR ISI .......................................................................................
ix
DAFTAR TABEL ...............................................................................
xi
DAFTAR GAMBAR ...........................................................................
xii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................
xiii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................
1
B. Identifikasi Masalah ........................................................
5
C. Pembatasan Masalah .......................................................
5
D. Rumusan Masalah ...........................................................
6
E. Tujuan Penelitian.............................................................
6
F. Manfaat Penelitian ...........................................................
6
BAB II KAJIAN TEORI
A. Deskripsi Teori ................................................................
8
1. Kemapuan Berpikir....................................................
8
2. Berpikir Kreatif .........................................................
9
3. Model Open-Ended Problems ....................................
18
4. Hubungan Model Open-Ended Problems dengan
Berpikir Kreatif .........................................................
24
5. Elektrokimia ..............................................................
25
B. Penelitian Relevan ..........................................................
30
C. Kerangka Berpikir ...........................................................
32
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian ..........................................
ix
36
B. Metode Penelitian ............................................................
36
C. Alur Penelitian ................................................................
36
D. Populasi dan Sampel........................................................
40
E. Instrumen Penelitian ........................................................
41
F. Validitas Instrumen .........................................................
53
G. Teknik Pengumpulan Data...............................................
53
H. Teknik Analisis Data .......................................................
55
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian ...............................................................
58
1. Hasi Observasi Aspek Kemampuan Berpikir Kreatif
Siswa secara Keseluruhan ........................................
58
2. Aspek Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa
Berdasarkan Hasil Tes Open-Ended secara
Keseluruhan..............................................................
59
3. Hasil Tes Open-Ended untuk Mengukur Tingkat
Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa..........................
60
4. Hasil Wawancara .....................................................
62
B. Pembahasan.....................................................................
65
Aspek Fluency .................................................................
65
Aspek Flexibilty ..............................................................
66
Aspek Originality ............................................................
67
Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif..............................
69
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan .....................................................................
73
B. Saran ...............................................................................
74
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................
75
LAMPIRAN-LAMPIRAN
x
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Karakteristik Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif .............
17
Tabel 3.1 Pembagian Kategori Kelompok Siswa ..................................
41
Tabel 3.2 Kisi-kisi Format Lembar Observasi ......................................
42
Tabel 3.3 Instrumen Tes Open-Ended .................................................
45
Tabel 3.4 Pedoman Wawancara ...........................................................
51
Tabel 3.5 Penskoran Tingkat Berpikir Kreatif ......................................
56
Tabel 3.6 Interpretasi Tingkat Berpikir Kreatif .....................................
57
Tabel 4.1 Ketercapaian Aspek Berpikir Kreatif Siswa secara
Keseluruhan Berdasarkan Lembar Observasi .......................
58
Tabel 4.2 Ketercapaian Aspek Berpikir Kreatif Siswa secara
Keseluruhan Berdasarkan Tes Open-Ended ..........................
59
Tabel 4.3 Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa secara
Keseluruhan .........................................................................
60
Tabel 4.4 Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa ........................
61
Tabel 4.5 Perbedaan Ketercapaian Aspek Berpikir Kreatif Siswa pada
Lembar Observasi dan Tes Open-Ended...............................
xi
65
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir ....................................................................
35
Gambar 3.1 Alur Penelitian ...........................................................................
39
Gambar 4.1 Tingkat Berpikir Kreatif Siswa secara Keseluruhan ...................
69
Gambar 4.2 Tingkat Berpikir Kreatif Siswa Berdasarkan Kelompok .............
70
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ................................
79
Lampiran 2 Lembar Observasi ...........................................................
96
Lampiran 3 Rubrik Penilaian Lembar Observasi ................................
99
Lampiran 4 Kisi-kisi Instrumen Tes ...................................................
118
Lampiran 5 Hasil Validasi Instrumen Tes...........................................
133
Lampiran 6 Hasil Uji Coba Instrumen Tes .........................................
141
Lampiran 7 Pedoman Penskoran Aspek Berpikir Kreatif ....................
148
Lampiran 8 Pedoman Penilaian Tingkat Berpikir Kreatif ...................
149
Lampiran 9 Jawaban Soal ..................................................................
151
Lampiran 10 Pedoman Wawancara ......................................................
159
Lampiran 11 Daftar Nilai Ulangan Harian Siswa .................................
161
Lampiran 12 Kedudukan Siswa dalam Kelompok ................................
162
Lampiran 13 Hasil Observasi ...............................................................
163
Lampiran 14 Hasil Jawaban Siswa pada Tes Open-Ended ....................
164
Lampiran 15 Hasil Tes Open-Ended ....................................................
167
Lampiran 16 Penilaian Tingkat Berpikir Kreatif Siswa ........................
170
Lampiran 17 Lembar Wawancara ........................................................
173
Lampiran 18 Hasil Wawancara ............................................................
174
Lampiran 19 Hasil Dokumentasi Jawaban Siswa Berdasarkan
Observasi ........................................................................
187
Lampiran 20 Hasil Dokumentasi Jawaban Siswa Berdasarkan Tes
Open-Ended....................................................................
194
Lampiran 21 Hasil Dokumentasi Kegiatan Penelitian ...........................
197
Lampiran 22 Ujian Referensi ...............................................................
200
Lampiran 23 Surat Izin Penelitian ........................................................
212
Lampiran 24 Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ................
213
xiii
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang menuntut siswa untuk
berperan aktif dalam proses pembelajaran, karena pada kurikulum ini
pembelajaran menitik beratkan pada siswa (student centered). Guru berperan
sebagai fasilitator atau mediator serta perancang pembelajaran agar siswa
aktif mencari pengetahuan baru (Sani, 2014, hlm. 3). “Mindset kurikulum
2013 adalah ingin menciptakan manusia Indonesia yang kreatif” (Yani, 2014,
hlm. 81). Sebagai seorang pendidik, guru juga harus bisa membuat siswa
menjadi pribadi yang kompeten, tidak sebatas membuat siswa tahu dan
mengerti saja melainkan bisa membuat siswa menjadi pribadi yang kreatif.
Hal ini dikarenakan perkembangan zaman yang menuntut individu untuk
dapat bersaing secara global. Sehingga diperlukan kemampuan untuk
menciptakan ide atau gagasan baru yang diperoleh dari kemampuan berpikir
kreatif seorang individu.
Kemampuan inovasi dan kreativitas ternyata juga dibutuhkan untuk
bekerja pada abad 21. Di dalam kerangka kompetensi abad 21 menunjukkan
bahwa siswa harus memiliki keterampilan hidup dan karir, keterampilan
belajar dan berinovasi (kritis dan kreatif), kemampuan memanfaatkan
informasi dan berkomunikasi (Partnership for 21st Century, 2009, hlm. 1).
Adapun menurut SCANS (The Secretary's Commission on Achieving
Necessary Skills) untuk memenuhi tantangan di masa mendatang, siswa harus
memenuhi keterampilan yang memadai diantaranya: (i) keterampilan dasar
yang mencakup membaca, menulis, aritmatik dan matematika, berbicara, dan
mendengar. (ii) keterampilan berpikir yang meliputi berpikir dengan kreatif,
membuat keputusan, menyelesaikan masalah, melihat gambaran ide,
mengetahui bagaimana belajar, dan menalar. (iii) kepribadian yang mencakup
1
2
aspek tanggung jawab, percaya diri, sikap sosial, managemen diri, dan
kejujuran (SCANS, 1991, hlm.13).
Kreativitas siswa juga dituntut dalam proses pembelajaran, karena
tujuan kurikulum 2013 yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan No. 69 tahun 2013 adalah “mempersiapkan manusia
Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara
yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu
berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan
peradaban dunia” (hlm. 4). Seorang pelajar yang duduk di bangku SMA telah
memiliki kematangan pengetahuan karena telah menempuh pendidikan
formal dari tingkat Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas, sehingga
sudah semakin banyak pengetahuan dan wawasan yang didapatkan. Diiringi
dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih, tidak ada alasan bagi
siswa merasa kesulitan dalam mencari pengetahuan lebih terkait dengan
pelajaran di sekolah. Paradigma pembelajaran harus diubah dengan cara
membekali siswa dengan kemampuan untuk belajar sepanjang hayat, belajar
dari aneka sumber, belajar bekerja sama, dan menyelesaikan masalah, karena
pembelajaran tradisional yang fokus pada penguasaan materi tidak dapat
digunakan untuk berkompetensi di masa depan (Sani, 2014, hlm. 3).
Jika siswa masih terpaku pada tingkat mengetahui dan memahami
konsep pelajaran saja, maka akan sulit untuk menghadapi persaingan global
yang tidak hanya menuntut seorang individu menjadi pintar dan cerdas saja
melainkan dituntut juga kreativitasnya. “Musuh utama kreativitas ialah
wawasan yang sempit dan insprasi yang dangkal” (Clegg, 2006, hlm. 8). Jika
wawasan yang dimiliki sempit, maka individu tersebut akan sulit
berkembang. Kemudian jika inspirasi dangkal, maka seorang individu akan
lebih mudah menjadi pengikut dan meniru sesuatu yang sudah ada. Hal ini
memicu terjadinya plagiarisme.
Pada kenyataannya, ada individu yang muncul sebagai pribadi yang
kreatif dan ada individu yang muncul sebagai pribadi yang kurang kreatif.
Seseorang yang kreatif mampu mengaktifkan kreativitasnya. Hal tersebut
3
dapat terjadi karena rangsangan lingkungan atau karena proses
pembelajaran. Sementara kreativitas yang tidak berkembang secara maksimal
dari seorang individu disebabkan oleh kurangnya mendapatkan lingkungan
yang menantang (Sudarma, 2013, hlm. 6).
Sejauh ini kreativitas siswa belum mendapat perhatian dalam proses
pembelajaran terutama pada mata pelajaran ilmu sains. Kreativitas siswa yang
kurang diperhatikan dan diapreasiasi dalam proses pembelajaran ini
menyebabkan siswa tidak mau bahkan takut untuk melakukan suatu hal yang
baru. Padahal kreatif bukan hanya kemampuan untuk menghasilkan produk
saja melainkan kemampuan menciptakan sebuah solusi yang tidak terpaku
pada satu jawaban benar pun dapat dikatakan kreatif. Hal ini selaras dengan
pernyataan Bono (2007) bahwa kebutuhan untuk selalu memberikan jawaban
yang benar di sekolah menghambat kemampuan berpikir kreatif siswa (hlm.
36). Jadi kemampuan berpikir kreatif siswa tidak akan terhambat jika siswa
terbiasa membuat solusi yang beragam atau tidak terpaku pada satu jawaban
benar.
Sains merupakan ilmu pasti yang identik dengan rumus, khususnya
pada pelajaran kimia. Soal-soal yang diberikan menuntut siswa untuk dapat
mengaplikasikan rumus, namun hal tersebut membuat siswa terpaku pada
rumus dan jawaban yang diberikannya pun merupakan jawaban yang pasti.
Akibatnya kemampuan berpikir kreatif siswa menjadi terbatas. Setiap
diberikan permasalahan yang baru, siswa akan sulit untuk menemukan
solusinya karena terbiasa dengan soal yang sifatnya tertutup.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Khairun Nisa dan Wasis
mengenai “Pengaruh Pendekatan Open-Ended terhadap Kemampuan Berpikir
Kreatif Siswa pada Materi Listrik Dinamis Kelas X di SMAN 1 Gondang
Tulungagung” terdapat keterkaitan antara kemampuan berpikir kreatif dengan
pendekatan open-ended. Dalam penelitian tersebut dihasilkan kemampuan
berpikir kreatif siswa yang lebih baik pada kelas eksperimen (kelas yang
diterapkan pendekatan open-ended) dibandingkan dengan kelas kontrol (Nisa
& Wasis, 2013, hlm. 145). Dengan menerapkan pendekatan open-ended siswa
4
dapat memecahkan suatu masalah dengan menghubungkan teori-teori yang
diketahuinya sehingga diperoleh berbagai alternatif penyelesaian yang benar
atau beberapa jawaban benar.
Kemampuan berpikir
memberikan
kreatif seseorang dapat diketahui dengan
soal open-ended yaitu soal yang sifatnya terbuka. Dengan
pemberian soal terbuka siswa mempunyai banyak pengalaman dalam
menafsirkan masalah, dan memungkinkan dapat membangkitkan gagasan
yang berbeda bila dihubungkan dengan penafsiran yang berbeda (Silver,
1997, hlm. 77).
Dengan pembelajaran open-ended siswa juga memiliki
kebebasan untuk mengekspresikan hasil eksplorasi daya nalar dan analisanya
secara aktif dan kreatif dalam menyelesaikan suatu permasalahan (Setiawan
dkk., tanpa tahun, hlm. 153).
Soal tes tradisional yang biasa diberikan pada siswa berisi pertanyaan
yang jawabannya luas dan bersifat penjelasan. Tipe pertanyaan ini terkadang
dijawab oleh siswa dengan mengingat penjelasan yang ada tanpa memiliki
pemahaman yang mendasari prinsip kimia tersebut (Education Scotland,
2012, hlm. 4). Dalam pertanyaan open-ended siswa diharuskan untuk
menggambarkan pemahamannya mengenai kunci dari prinsip dasar kimia
untuk menyelesaikan masalah.
Elektrokimia merupakan materi kelas XII yang dekat dengan kehidupan
sehari-hari, dengan Kompetensi Dasar pada Peraturan Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan No. 69 tahun 2013 yang berbunyi: “(3.3) mengevaluasi
gejala atau proses yang terjadi dalam contoh sel elektrokimia (sel volta dan
sel elektrolisis) yang digunakan dalam kehidupan dan (3.4) menganalisis
faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya korosi dan mengajukan
ide/gagasan untuk mengatasinya” (hlm. 171). Kompetensi dasar tersebut
dapat memfasilitasi kemampuan berpikir kreatif siswa karena berpikir kreatif
merupakan kunci dari berpikir untuk merancang, memecahkan masalah,
melakukan perubahan dan perbaikan serta memperoleh gagasan baru (Bono,
2007, hlm. 35).
5
Berdasarkan uraian di atas mengenai keterkaitan antara kemampuan
berpikir kreatif siswa dengan masalah open-ended maka peneliti memiliki
ketertarikan untuk menganalisis kemampuan berpikir kreatif siswa dengan
model open-ended. Oleh karena itu peneliti mengangkat judul peneletian
“Analisis Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa dalam Materi Elektrokimia
melalui Model Open-Ended Problems”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, dapat
diidentifikasi permasalahan sebagai berikut:
1. Kurikulum 2013 ingin menciptakan manusia yang kreatif, namun
kreativitas belum mendapatkan perhatian terutama dalam pembelajaran
pada bidang ilmu sains.
2. Soal tes yang diberikan pada siswa cenderung menuntut satu jawaban
benar (close-ended) sehingga sulit untuk mengetahui kedalaman
pemahaman materi yang telah dikuasai oleh siswa.
3. Soal yang diberikan di sekolah, secara umum menuntut siswa terpaku
pada ingatan dan kurang memfasilitasi kemampuan berpikir kreatif
siswa.
C. Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pembatasan masalah pada:
1. Analisis kemampuan berpikir kreatif siswa dalam aspek
fluency
(kelancaran), flexibility (keluwesan) dan originality (kebaruan).
2. Pertanyaan open-ended diberikan untuk mengetahui kemampuan berpikir
kreatif siswa
3. Pokok bahasan yang diteliti adalah elektrokimia pada kompetensi dasar
(3.3) mengevaluasi gejala atau proses yang terjadi dalam contoh sel
elektrokimia (sel volta dan sel elektrolisis) yang digunakan dalam
kehidupan dan (3.4) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya korosi dan mengajukan ide/gagasan untuk mengatasinya.
6
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah, maka rumusan permasalahan yang
akan diteliti adalah:
1. Bagaimana ketercapaian aspek kemampuan berpikir kreatif siswa pada
materi elektrokimia melalui model open-ended problems?
2. Bagaimana tingkat kemampuan berpikir kreatif siswa pada materi
elektrokimia melalui model open-ended problems.
E. Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:
1. Mengetahui ketercapaian aspek kemampuan berpikir kreatif siswa pada
materi elektrokimia melalui model open-ended problems.
2. Mengetahui tingkat kemampuan berpikir kreatif siswa pada materi
elektrokimia melalui model open-ended problems
F. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1. Bagi siswa
Siswa mampu menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri dan tidak
terpaku pada satu jawaban/solusi sehingga kemampuan berpikir kreatif
siswa juga dapat dikembangkan.
2. Bagi Guru
Sebagai bahan pertimbangan bagi guru untuk melihat sisi lain dari
kemampuan berpikir yang tidak sebatas pada ingatan saja, melainkan
dapat juga dilihat dari kemampuan berpikir kreatifnya. Selain itu guru
juga dapat melihat kedalaman pemahaman materi yang dimiliki oleh
siswa melalui soal yang sifatnya terbuka (open-ended problems).
3. Bagi peneliti
Menambah pengetahuan mengenai cara mengukur aspek kemampuan
berpikir kreatif yang terdiri atas aspek fluency, flexibility dan originality
serta tingkat kemampuan berpikir kreatif siswa melalui model open-ended
7
problems pada materi elektrokimia. Selain itu penelitian ini juga dapat
menjadi rekomendasi bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian
sejenis atau melanjutkan penelitian ini secara lebih luas dan mendalam.
8
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Deskripsi Teori
1. Kemampuan Berpikir
Situasi belajar dan mengajar yang dapat mendorong proses-proses
yang menghasilkan mental yang diinginkan dari suatu kegiatan disebut
kemampuan berpikir. Pernyataan tersebut diperkuat dengan penilaian
bahwa campur tangan seorang guru dapat meningkatkan pemikiran serta
dengan mensyaratkan adanya penggunaan proses mental untuk
merencanakan, mendeskripsikan, dan mengevaluasi proses berpikir dan
belajar (Sunaryo, 2011, hlm. 24).
Keterampilan berpikir penting dimiliki oleh setiap orang.
Keterampilan berpikir ini menjadi modal untuk dapat memecahkan
masalah yang terjadi di dalam kehidupan. Keterampilan berpikir atau
kemampuan berpikir yang terampil dapat membangun individu yang
demokratis (Sudarma, 2013, hlm. 34-35).
Ada beberapa makna berpikir menurut John Dewey:
a. Pertama, berpikir adalah stream of counsciousness. Arus kesadaran
ini muncul dan hadir setiap hari mengalir tanpa terkontrol.
b. Kedua, berpikir adalah imajinasi atau kesadaran. Pada umumnya
imajinasi ini muncul secara tidak langsung atau tidak bersentuhan
langsung dengan sesuatu yang sedang dipikirkan.
c. Ketiga, berpikir semakna dengan keyakinan yang dimiliki seseorang
sehingga dirinya bisa beropini, berpendapat atau bertindak.
d. Keempat, berpikir reflektif adalah rangkaian pemikiran yang
dianggap terbaik. Dalam hal ini, terdapat proses memahami masalah,
meneliti atau menggali informasi sampai memecahkan masalah
(Sudarma, 2013, hlm. 38-39).
Dalam pembelajaran yang menuntut keterampilan berpikir, guru
dapat merujuk pada pendekatan melalui strategi khusus dan prosedur
8
9
yang bisa dilaksanakan. Strategi dan prosedur menggunakan spontanitas
dan atau dirancang secara sistematis, serta spesifik, luas atau bersifat
umum. Ashman Conway mengemukakan bahwa kemampuan berpikir
melibatkan enam jenis berpikir, yaitu metakognisi, berpikir kritis,
berpikir kreatif, proses kognitif (pemecahan masalah dan pengambilan
keputusan),
kemampuan
berpikir
inti
(seperti
representasi
dan
meringkas), memahami peran konten pengetahuan. (Sunaryo, 2011, hlm.
24)
2. Berpikir Kreatif
a. Pengertian dan Karakteristik Berpikir Kreatif
“Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk membuat
sesuatu dalam bentuk ide, langkah, atau produk” (Sudarma, 2013,
hlm. 9). “Menurut Downing kreativitas dapat didefinisikan sebagai
“proses” untuk menghasilkan sesuatu yang baru dari elemen yang ada
dengan menyusun kembali elemen tersebut” (Sani, 2013, hlm. 13).
Terdapat tiga komponen utama yang terkait dengan kreativitas,
diantaranya: keterampilan berpikir kreatif, keahlian (pengetahuan
teknis, prosedural, dan intelektual), serta motivasi. Keterampilan
berpikir kreatif dalam memecahkan suatu permasalahan ditunjukkan
dengan pengajuan ide yang berbeda dengan solusi pada umumnya.
Pemikiran kreatif masing-masing orang akan berbeda dan terkait
dengan cara mereka berpikir dalam melakukan pendekatan terhadap
permasalahan. Pemikiran kreatif terkait dengan pengetahuan yang
dimiliki oleh seseorang dan relevan dengan ide atau upaya kreatif
yang diajukan (Sani, 2013, hlm. 13-14).
Sementara menurut Munandar (2012) kreativitas adalah:
Kemampuan untuk melihat atau memikirkan hal-hal yang
luar biasa, yang tidak lazim, memadukan informasi yang
tampaknya tidak berhubungan dan mencetuskan solusi atau
gagasan baru yang dicerminkan dari kelancaran, keluwesan
(fleksibilitas), dan orisinalitas dalam berpikir (hlm. 168).
10
Adapun definisi menurut Torrance (dalam Munandar, 2012,
hlm. 27), “kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati
adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan (masalah) ini,
menilai dan menguji dugaan atau hipotesis, kemudian mengubah dan
mengujinya lagi, dan akhirnya menyampaikan hasil-hasilnya”.
Tes berpikir kreatif Torrance (Torrance Test Creative
Thinking) adalah salah satu tes kreativitas yang terbaik, paling
mapan dan paling populer (Kaplan & Saccuzo, 2005, hlm. 300). Tes
Torrance secara terpisah mengukur aspek berpikir kreatif seperti
fluency
(kelancaran),
flexibility
(keluwesan),
dan
originality
(kebaruan) (Palaniappan & Torrance dalam Kaplan & Saccuzo,
2005, hlm. 300). Menurut Silver (1997, hlm. 76) tiga komponen dari
penilaian kreativitas berdasarkan TTCT adalah fluency, flexibility,
dan novelty.
Munandar (2012, hlm. 68) menyatakan bahwa
“kreativitas atau berpikir kreatif secara operasional dirumuskan
sebagai suatu proses yang tercermin dari kelancaran, kelenturan, dan
orisinalitas dalam berpikir”.
1) Fluency (Kelancaran)
Menurut Silver (1997, hlm. 76) “fluency refers to the
number of ideas generated in response to a prompt”. Fluency
mengacu
pada
menanggapi
banyaknya
dengan
tepat.
ide
yang
Individu
dihasilkan
yang
lebih
dalam
kreatif
semestinya memiliki fluency (kefasihan) yang lebih besar dari
gagasannya dibandingkan rata-rata dan pemikirannya lebih
mudah mengalir. Selain itu semakin banyak gagasan yang
diberikan oleh seseorang dalam suatu waktu, semakin banyak
kesempatan untuk mendapatkan jawaban yang terbaik (Henry,
1958,
hlm.
114-115).
Berpikir
lancar
artinya
mampu
menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan dan
memiliki arus pemikiran yang lancar (Munandar, 2012, hlm.
11
192). Dalam mengukur kelancaran, siswa diminta untuk
memikirkan banyak solusi yang berbeda untuk suatu masalah.
(Kaplan dan Saccuzo, 2005, hlm. 300). Perilaku siswa pada
aspek ini dapat dilihat dari kemampuan siswa menjawab dengan
sejumlah
jawaban
jika
ada
pertanyaan
dan
lancar
mengungkapkan gagasan-gagasannya (Munandar, 1992, hlm.
88).
2) Flexibility (Keluwesan)
“Flexibility to apparent shifts in approaches taken when
generating responses to a prompt” (Silver, 1997, hlm. 76).
Flexibility adalah perubahan cara atau pendekatan yang diambil
saat memberikan tanggapan dengan tepat. Menurut Henry
(1958, hlm. 115) individu yang kreatif harus bisa beradaptasi,
tidak tetap pada jalannya dan dapat mengambil alternatif solusi
pemecahan suatu masalah. Berpikir luwes (fleksibel) artinya
mampu menghasilkan gagasan-gagasan yang seragam, mampu
mengubah cara atau pendekatan dan memiliki arah pemikiran
yang berbeda-beda (Munandar, 2012, hlm. 192). Keluwesan
diukur dalam hal kemampuan individu dalam mencoba
pendekatan baru untuk memecahkan suatu masalah (Kaplan dan
Saccuzo, 2005, hlm. 300). Perilaku siswa pada aspek flexibility
saat diberikan suatu masalah adalah ketika siswa memikirkan
macam-macam cara yang berbeda untuk menyelesaikannya
(Munandar, 1992, hlm. 89).
3) Originality (Kebaruan)
Adapun unsur yang paling pokok dalam kreativitas pada
pemikiran banyak orang adalah originality (kebaruan). Ada tiga
perbedaan pendekatan yang digunakan untuk mengukur
kemampuan penting ini. Pendekatan pertama adalah dalam hal
12
menghasilkan ide yang tidak umum. Pendekatan kedua dalam
hal menghasilkan jawaban yang cakap. Pendekatan ketiga
adalah dalam hal kemampuan untuk membuat sedikit asosiasi
(Henry, 1958, hlm. 115-116). “Novelty to the originality of the
ideas generated in response to a prompt” (Silver, 1997, hlm.
76). Kebaruan adalah keaslian ide-ide yang dihasilkan dalam
menanggapi ide dengan tepat. Berpikir orisinal berarti
memberikan jawaban yang tidak lazim, lain dari yang lain, dan
jawaban jarang diberikan oleh kebanyakan orang (Munandar,
2012, hlm. 192). Aspek kebaruan diukur dengan mengevaluasi
solusi yang tidak biasa atau solusi baru yang diberikan oleh
siswa (Kaplan dan Saccuzo, 2005, hlm. 300). Perilaku siswa
dalam aspek originality terlihat saat siswa mampu memikirkan
masalah-masalah atau hal-hal yang tidak pernah terpikirkan oleh
orang lain (Munandar, 1992, hlm. 89).
Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan,
dapat
disimpulkan bahwa berpikir kreatif adalah bagian dari kreativitas
yang merupakan kemampuan pengajuan ide atau gagasan dalam
menyelesaikan suatu permasalahan. Ada tiga aspek berpikir kreatif
didasarkan pada Tes Berpikir Kreatif Torrance yaitu fluency,
flexibility, dan originality. Aspek fluency menuntut banyaknya
jawaban yang dihasilkan. Aspek flexibility menuntut seseorang untuk
menghasilkan gagasan yang bervariasi sehingga tidak ada kekakuan
dalam berpikir. Sementara pada aspek originality, seseorang dituntut
untuk memberikan jawaban yang berbeda dari yang lain.
b. Dimensi Kreativitas
Empat dimensi dalam kreativitas antara lain person, process,
press, dan product. Pada dimensi person, kreativitas dikembangkan
dari bakat” (Yani, 2014, hlm. 82). “Kreativitas adalah kecerdasan
13
yang berkembang dalam diri individu, dalam bentuk sikap,
kebiasaan dan tindakan dalam melahirkan sesuatu yang baru dan
orisinal untuk memecahkan suatu masalah” (Sudarma, 2013, hlm.
21). Munculnya tindakan kreatif seseorang adalah dari keunikan
keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya
(Munandar, 2012, hlm. 20).
Dalam dimensi process, kreativitas adalah proses berpikir
sehingga memunculkan ide-ide yang unik atau kreatif. Sebagai suatu
proses, ada empat tahap dalam proses kreatif menurut Wallas yaitu:
1) Persiapan yaitu individu melakukan percobaan-percobaan dan
melakuan
proses
berpikir
untuk
mencari
kemungkinan
pemecahan masalah yang dialami.
2) Inkubasi yaitu tahap pematangan dan atau pemahaman terhadap
masalah yang dihadapi. Proses inkubasi dapat berlangsung
berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun tetapi bisa juga
hanya sebentar saja.
3) Iluminasi yaitu munculnya gagasan kreatif dan inspirasi untuk
memecahkan masalah. Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat
mengamati proses iluminasi ketika ada cetusan spontan, “ya
sekarang, aku tahu!”
4) Verifikasi yaitu penyesuaian gagasan baru (hasil iluminasi)
dengan realita kehidupannya (Yani, 2014, hlm. 82-83)
Kreativitas dalam dimensi press (dorongan) merupakan
kreativitas yang muncul dari faktor internal dan eksternal. Dorongan
berupa keinginan atau hasrat seseorang untuk mencipta adalah
kreativitas yang muncul dari faktor internal, sedangkan dorongan
dari lingungan sosialnya adalah kreativitas yang muncul dari faktor
eksternal (Yani, 2014, hlm. 83).
Dalam dimensi product, menurut Haefele (1962)
(dalam
Munandar, 2012, hlm. 21) “kreativitas adalah kemampuan untuk
membuat kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna
14
sosial”. Dari definisi ini menunjukkan bahwa produk tidak harus
baru, tetapi dapat dilihat dari kombinasinya. Kreativitas dinilai dari
produk yang dihasilkan oleh seseorang baik yang bersifat produk
baru (original) maupun hasil dari elaborasi dan penggabungan yang
inovatif (Yani, 2014, hlm. 83).
c. Pengembangan Kreativitas
1). Makna dari Pengembangan Kreativitas
a) Dengan berkreasi orang dapat mengaktualisasikan dirinya
karena kreativitas merupakan manifestasi dari individu yang
berfungsi sepenuhnya.
b) Berpikir
kreatif
sebagai
kemampuan
untuk
melihat
bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu
masalah.
c) Dengan berpikir kreatif akan memberikan kepuasan kepada
individu itu sendiri.
d) Kreativitas dapat memungkinkan manusia meningkatkan
kualitas
hidupnya
karena
kesejahteraan
masyarakat
bergantung pada sumbangan kreatif yang berupa gagasan, dan
penemuan baru (Munandar, 2012, hlm. 31-32).
2). Tahapan Pengembangan Kreativitas
Tahapan pengembangan kreativitas siswa yang dilakukan
adalah dapat melatih siswa untuk hal-hal sebagai berikut:
a) Merasakan ketidaksesuaian. Guru perlu melatih siswa untuk
mencari elemen yang mengganggu keseimbangan dari sebuah
kondisi yang belum sesuai dan mengajak mereka untuk
menghilangkan bagian yang mengganggu tersebut.
b) Mengumpulkan. Elemen-elemen yang akan dikembangkan
secara kreatif harus dikumpulkan tanpa harus diorganisasikan
15
terlebih dahulu. Hal-hal yang terkait dengan proses
mengumpulkan elemen mencakup:
(1) Imajinasi
(2) Intuisi
(3) Pengalaman
(4) Pengetahuan
(5) Bertanya
(6) Berpikir fleksibel
(7) Berpikir lancar
(8) Berpikir beragam
c) Modifikasi elemen. Dilakukan setelah siswa memiliki ide-ide
yang akan dilakukan. Misalnya, jika ide siswa adalah
memasang sebuah elemen baru berupa gambar pada sebuah
ruang, modifikasi yang dilakukan adalah memikirkan
ukurannya dan gambar yang cocok untuk ruangan tersebut.
d) Mencari sintesis. Beberapa elemen mungkin merupakan satu
kelompok dan dapat disatukan. Siswa perlu berusaha mencari
elemen yang dapat dikelompokkan.
e) Melakukan inkubasi. Tahapan ini merupakan kesempatan
istirahat dari upaya mengumpulkan elemen dan mencari
sintesis yang dilakukan untuk menghindari kejenuhan dan
meningkatkan produktivitas.
f) Inspirasi (menemukan hal baru). Pada tahap ini istirahat yang
cukup
dibutuhkan
setelah
melakukan
upaya
mengombinaksikan elemen-elemen menjadi sebuah karya
kreatif.
g) Melakukan verifikasi. Perlu dilakukan pengujian untuk
mengetahui kelayakan karya yang telah diciptakan
(Sani, 2014, hlm. 18-21).
16
3) Mengembangkan Kreativitas Siswa dalam Pembelajaran
Upaya yang dapat dilakukan oleh guru untuk membuat peserta
didik berperilaku kreatif menurut Sani (2014, hlm. 25) adalah
sebagai berikut:
a) Memberikan tugas yang tidak hanya memiliki satu jawaban
benar.
b) Menoleransi jawaban yang nyeleneh.
c) Menekankan pada proses bukan hasil saja.
d) Membuat siswa berani untuk mencoba, menentukan sendiri
informasi yang kurang jelas/lengkap, dan memiliki
interpretasi sendiri terkait pengetahuan/kejadian.
e) Memberikan keseimbangan antara kegiatan terstruktur dan
spontan/ekspresif.
d. Pola Perkembangan Kreativitas
Davis melihat tiga penggunaan utama tes kreativitas, yaitu
“untuk mengidentifikasi siswa berbakat kreatif untuk program anak
berbakat, untuk tujuan penelitian, dan untuk tujuan konseling”.
1) Identifikasi Anak Berbakat Kreatif
Tes kreativitas paling sering digunakan untuk mengidentifikasi
siswa berbakat kreatif untuk program anak berbakat.
2) Penelitian
Penelitian dapat membantu dalam memahami konsep kreativitas,
orang-orang
kreatif,
dan
membantu
dalam
memahami
perkembangan kreativitas.
3) Konseling
Tes kreativitas dapat membantu konselor, guru, orang tua, dan
siswa sendiri untuk mengenali dan memahami bakat kreatif
siswa yang terpendam. Hal ini memungkinkan bagi guru untuk
dapat merancang kegiatan yang menantang bagi siswa kreatif
(Munandar, 2012, hlm. 57-58).
17
e. Karakteristik Tingkat Kemapuan Berpikir Kreatif
Karakteristik
dari
tingkat
kemampuan
berpikir
kreatif
ditunjukkan pada Tabel 2.1. Tabel tersebut berisi perbedaan
kemunculan aspek berpikir kreatif pada tiap tingkatan.
Tabel 2.1 Karakteristik Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif
Karakteristik
Tingkatan
Kemampuan
Siswa dapat menyelesaikan masalah dengan lebih dari
satu solusi dan dapat mengembangkan cara lain untuk
Tingkat 4
menyelesaikannya. Salah satu solusi memenuhi aspek
(Sangat
originality
Kreatif)
dibangun memenuhi aspek originality, flexibility, dan
(kebaruan).
Beberapa
masalah
yang
fluency.
Siswa dapat menyelesaikan masalah dengan lebih dari
satu solusi, tetapi tidak bisa mengembangkan cara lain
untuk menyelesaikannya. Satu solusi memenuhi aspek
Tingkat 3
originality.
Pada tingkat ini juga siswa dapat
(Kreatif)
mengembangkan
cara
lain
untuk
memecahkan
permasalahan (flexibility), namun tidak memiliki cara
yang berbeda dari yang lain (originality)
Siswa dapat memecahkan permasalahan dengan satu
solusi
yang
sifatnya
berbeda
dari
yang
lain
(originality) namun tidak memenuhi aspek fluency dan
Tingkat 2
flexibility
atau
siswa
(Cukup
permasalahan
Kreatif)
(flexibility) namun bukan hal yang baru dan bukan
dengan
pula jawaban lancar.
dapat
menyelesaikan
mengembangkan
solusinya
18
Karakteristik
Tingkatan
Kemampuan
Siswa dapat menyelesaikan permasalahan dengan lebih
Tingkat 1
dari
satu
solusi
(fluency)
tetapi
tidak
dapat
(Kurang
mengembangkan solusinya dan tidak memenuhi aspek
Kreatif)
kebaruan.
Siswa tidak dapat menyelesaikan permasalahan dengan
lebih dari satu solusi dan tidak dapat mengembangkan
Tingkat 0
(Tidak Kreatif)
cara lain untuk menyelesaikannya. Dia juga tidak bisa
menimbulkan solusi baru.
(Siswono, 2011, hlm. 551).
3. Model Open Ended Problems
a. Pengertian Model Open-Ended Problems
Open-Ended
Problems
adalah
masalah-
masalah
yang
dirumuskan memiliki banyak jawaban benar. Pembelajaran dimulai
dengan menampilkan permasalahan. Kemudian dilanjutkan dengan
menyediakan banyak jawaban benar terhadap masalah yang
diberikan berdasarkan pengalaman dalam menemukan sesuatu yang
baru. Hal ini dapat diselesaikan dengan mengkombinasikan
pengetahuan siswa, keterampilan, atau cara berpikir
yang telah
dipelajari sebelumnya (Becker & Shimada, 1997, hlm. 1).
Pembelajaran dengan menggunakan masalah terbuka adalah
pembelajaran yang menampilkan suatu permasalahan yang memiliki
berbagai cara pemecahan (flexibility) dan beragam solusi (fluency).
Orisinalitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasiinteraksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisasi dapat tumbuh dan
19
terlatih melalui pembelajaran ini karena siswa dituntut untuk
mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang bervariasi
dalam memperoleh jawaban terhadap pemecahan masalah yang
diajukan.
Oleh
karena
itu,
model
pembelajaran
ini
lebih
mengutamakan proses daripada produk yang akan membentuk pola
pikir keterpaduan, keterbukaan, dan ragam berpikir (Shoimin, 2014,
hlm. 109).
Masalah open-ended adalah permasalahan yang dibentuk
sedemikian agar memiliki kemungkinan variasi jawaban benar baik
dari aspek cara maupun hasil yang didapatkan (Tim Pengembang
Ilmu Pendidikan FIP-UPI, 2007, hlm. 180). Pertanyaan open-ended
dapat digunakan untuk menilai apakah siswa sudah benar-benar
menguasai konsep. Pertanyaan open-ended memberikan tantangan
pada siswa untuk menunjukkan kedalaman pemahaman dari materi
yang telah didapatkan. Pertanyaan open-ended yang baik adalah
sebagai berikut:
1) Menampilkan konteks kehidupan nyata yang relevan
2) Harus memiliki lebih dari satu jawaban
3) Siswa seharusnya dapat menjawab pertanyaan dalam waktu 5
menit
4) Jawaban yang diberikan siswa lebih dari mengingat fakta
(Education Scotland, 2012, hlm. 5)
Adapun tipe masalah open-ended yang dapat diberikan antara
lain:
1) Menemukan hubungan. Soal ini diberikan agar siswa dapat
menemukan beberapa aturan atau hubungan
2) Mengklasifikasi.
Siswa
diminta
mengklasifikasikan
berdasarkan karakteristik yang berbeda dari suatu objek
tertentu
20
3) Pengukuran. Siswa diminta untuk menentukan ukuran-ukuran
numerik dari suatu kejadian (Becker & Shimada, 1997, hlm.
27).
b. Mengembangkan Rencana Pembelajaran dalam Open-Ended
Problems
Untuk mengembangkan rencana pembelajaran yang baik, guru
harus mempertimbangkan hal berikut:
1) Daftar respon siswa yang diharapkan terhadap masalah
Siswa diharapkan untuk menanggapi masalah terbuka
dengan
cara
yang
berbeda.
Kemampuan
siswa
untuk
mengekspresikan ide-ide atau pemkiran mereka mungkin terbatas.
Penting bahwa guru membuat daftar respon siswa, meskipun
respon mungkin direduksi menjadi proporsi umum yang lebih
sedikit.
2) Membuat tujuan menggunakan masalah yang jelas
Guru harus memahami peran masalah dalam RPP secara
keseluruhan.
Masalah
dapat
diperlakukan
sebagai
topik
independen, sebagai pengantar konsep baru, atau sebagai
ringkasan belajar siswa.
3) Merancang metode pengajuan masalah sehingga siswa dapat
dengan mudah memahami makna dalam masalah atau hal yang
diharapkan dari siswa
Masalah harus diungkapkan agar siswa dapat dengan
mudah
memahami
dan
mencari
pendekatan
untuk
menyelesaikannya. Guru harus memperhatikan cara masalah
tersebut diajukan untuk menghindari kebingungan siswa.
4) Membuat masalah semenarik mungkin
Masalah harus konkret dan akrab bagi siswa, juga harus
mencakup aspek yang membangkitkan rasa ingin tahu mereka.
21
5) Memungkinkan
cukup
waktu
untuk
menjelajahi
masalah
sepenuhnya
Guru perlu memberikan waktu yang cukup untuk siswa
mengeksplorasi masalah. Guru dapat menggunakan dua periode
untuk satu masalah terbuka. Pada periode pertama para siswa
dapat
bekerja
secara
individu
maupun
kelompok
untuk
memecahkan masalah. Kemudian pada periode kedua, seluruh
kelas membahas pendekatan dan solusi untuk memecahkan
masalah (Becker & Shimada, 1997, hlm. 32-33).
c. Langkah-langkah Model Open-Ended Problems
1) Persiapan
Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan
pertanyaan open-ended.
2) Pelaksanaan:
a) Pendahuluan
b) Kegiatan inti yaitu pelaksanaan pembelajaran dengan
langkah sebagai berikut:
(1) Siswa membentuk kelompok.
(2) Siswa mendapatkan pertanyaan open-ended.
(3) Setiap perwakilan kelompok mengemukakan pendapat.
(4) Siswa menganalisis jawaban yang telah dikemukakan
dan menentukan jawaban-jawaban yang benar dan
efektif.
(5) Kegiatan akhir yaitu siswa membuat kesimpulan.
c) Evaluasi
Siswa mendapatkan tugas perorangan atau ulangan
harian yang berisi pertanyaan open-ended (Shoimin, 2014,
hlm. 111).
22
d. Gagasan tentang Pengajaran Masalah
Guru
harus
mempertimbangkan
hal-hal
berikut
ketika
mengajarkan masalah:
1) Pengajuan masalah
Dalam membantu siswa memahami maksud dari suatu
masalah, berikut merupakan pendekatan yang efektif:
a) Mendorong siswa untuk fokus pada persoalan yang sama
dengan menampilkan masalah pada proyektor.
b) Menambahkan lebih banyak data untuk generalisasi,
misalnya dengan menunjukkan data konkret.
c) Memberikan contoh yang tidak membatasi cara siswa
berpikir tentang masalah.
d) Memanfaatkan penggunaan materi yang konkret sebagai
model.
2) Mengorganisir pengajaran
Gaya mengajar seperti mengajar biasa terdiri dari
kombinasi antara dua hal yaitu kerja individu dan diskusi
seluruh kelas. Karena yang dicari bukan solusi tunggal,
diharapkan sudut pandang yang belum terjadi pada siswa
akan muncul pada tahap pembelajaran dengan diskusi kelas.
3) Merekam tanggapan siswa
Penting untuk memiliki catatan tertulis dari tanggapan
siswa. lembar kerja siswa mungkin cara yang nyaman bagi
siswa untuk mencatat informasi. Dengan dikumpulkannya
lembar kerja siswa
setelah pembelajaran,
guru dapat
menggunakannya dalam mengevaluasi pembelajaran. Aktivitas
pada tahap ini sangat penting untuk pengembangan lebih
lanjut. Guru harus mencoba untuk mengidentifikasi para siswa
yang tidak mengerti masalah dan memberikan lebih banyak
contoh atau saran untuk merangsang mereka untuk berpikir
dengan cara yang relevan tentang masalah ini.
23
4) Meringkas materi yang telah dipelajari siswa
Siswa harus didorong untuk mengkonfirmasi pekerjaan
mereka. Bahkan ketika beberapa pekerjaan mereka tidak
lengkap ataupun salah, guru harus menanggapi mereka dengan
cara yang positif. Ketika kontribusi siswa dalam meringkas
terlalu banyak, guru harus berkonsentrasi pada satu poin dan
membuat kesimpulannya (Becker & Shimada, 1997, hlm. 3334).
e. Kriteria Evaluasi dalam Open-Ended Problems
Karena ada kemungkinan akan terjadi berbagai tanggapan atau
reaksi siswa terhadap suatu masalah terbuka, maka kemungkinan
akan sulit bagi guru untuk mengevaluasi siswa tersebut. Oleh karena
itu guru menggunakan metode untuk mengevaluasi aktivitas siswa.
Sebelumnya, guru menyiapkan tabel berisi tanggapan yang
diharapkan dari siswa yang diklasifikasikan dan disusun. Kemudian
respon siswa diperiksa dan dimasukkan ke dalam sel kosong sesuai
tabel, yang selanjutnya dievaluasi sesuai dengan kriteria berikut:
a) Fluency: berapa banyak solusi yang dapat dihasilkan setiap
siswa?
b) Flexibility: berapa banyak ide-ide berbeda yang ditemukan
oleh siswa?
c) Originality: sampai pada tingkat mana gagasan siswa dapat
dikatakan baru?
(Becker & Shimada, 1997, hlm. 34-35).
24
f. Keuntungan dan Kerugian dari Model Open-Ended Problems
1) Keuntungan
a) Siswa berpartisipasi lebih aktif dalam pembelajaran dan
mengemukakan ide lebih sering.
b) Siswa
memiliki
banyak
kesempatan
untuk
membuat
pemahaman menggunakan pengetahuan dan keterampilan
matematisnya.
c) Bahkan siswa yang prestasinya kurang dapat merespon
masalah dalam beberapa cara yang signifikan.
d) Pada hakekatnya siswa termotivasi untuk memberikan buktibukti.
e) Siswa memiliki banyak pengalaman dalam menemukan dan
menerima persetujuan dari siswa lainnya
2) Kerugian
a) Sulit untuk membuat atau menyiapkan situasi masalah.
b) Sulit bagi guru untuk mengajukan masalah dengan berhasil.
Terkadang siswa memiliki kesulitan dalam memahami
bagaimana merespon dan memberikan jawaban.
c) Beberapa siswa dengan kemampuan yang lebih tinggi mungkin
mengalami kecemasan tentang jawaban mereka.
d) Siswa dapat merasakan ketidakpuasan dalam pembelajaran
karena kesulitan dalam merangkum secara jelas.
(Becker & Shimada, 1997, hlm. 23-24)
4. Hubungan Model Open-Ended Problems dengan Berpikir Kreatif
Tugas open-ended adalah kegiatan dalam pembelajaran yang
memiliki banyak jawaban tepat atau hasil yang bergantung pada
kreativitas siswa (Conklin, 2012, hlm. 258). Kreativitas atau berpikir
kreatif menurut Munandar (1992, hlm. 48) adalah kemampuan
menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah,
dimana penekanannya terdapat pada kuantitas, ketepagunaan, dan
25
keragaman jawaban. Masalah yang diformulasikan untuk menghasilkan
banyak jawaban benar disebut masalah open-ended (Tim Pengembang
Ilmu Pendidikan FIP-UPI, 2007, hlm. 180). Berdasarkan pendapat para
ahli mengenai pengertian open-ended serta berpikir kreatif, dapat
ditemukan hubungan antara masalah open-ended dengan kemampuan
berpikir kreatif, yaitu maslaah open-ended merupakan bagian dari berpikir
kreatif. Berpikir kreatif menurut Tes Berpikir Kreatif Torrance meliputi
tiga aspek yaitu
fluency (kelancaran), flexibility (keluwesan), dan
originality (kebaruan).
Perkembangan
berpikir
lancar
(fluency)
didorong
melalui
penggunaan masalah terbuka (open-ended problems) yang dinyatakan
dengan cara yang memungkinkan untuk menghasilkan banyak jawaban
khusus dan banyak solusi yang benar (Silver, 1997, hlm. 77). Penggunaan
masalah yang memungkinkan siswa untuk menghasilkan banyak solusi ini
terkait dengan perkembangan representasional siswa dan keluwesan
dalam berpikir (flexibility) (Silver, 1997, hlm. 78). Dalam hubungannya
dengan aspek originality adalah bahwa pembelajaran open-ended
problems ini melatih dan menumbukan orisinalitas ide (originality),
kreativitas,
kognitif
tinggi,
kritis,
komunikasi-interaksi,
sharing,
keterbukaan dan sosialisasi (Shoimin, 2014, hlm. 109).
5. Elektrokimia
a. Sel Elektrokimia
Ilmu
yang
mempelajari
perubahan
energi,
khususnya
perubahan energi kimia menjadi energi listrik atau perubahan energi
listrik menjadi energi kimia disebut dengan elektrokimia (Sukardjo,
2009, hlm. 45). Ada dua macam sel elektrokimia, yaitu:
1) Sel Volta (Sel Galvani)
Sel volta merupakan perubahan energy kimia menjadi
energi listrik. Ada beberapa sel volta yang dapat dijumpai dalam
26
kehidupan sehari-hari, misalnya aki (accu) dan baterai (Sukardjo,
2009, hlm. 45).
a) Aki (accu)
Aki merupakan sel sekunder, karena aki dapat diisi arus
listrik kembali. Aki merupakan sel yang terdiri dari elektroda
Pb (anoda) dan Pb yang dilapisi PbO2 (katoda) dengan
elektrolit H2SO4 (Sukardjo, 2009, hlm. 52). Pada saat aki
menghasilkan arus listrik, elektron dilepaskan dari anoda Pb
ke katoda Pb yang dilapisi PbO2. Sebaliknya pada saat
pengisian aki dengan arus listrik, anoda Pb mengalami reaksi
reduksi dan katoda Pb dilapisi PbO2 mengalami reaksi
oksidasi sehingga Pb dilapis PbO2 menjadi anoda dan Pb
menjadi katoda (Sukardjo, 2009, hlm. 54).
b) Baterai
(1) Baterai Biasa
Jenis baterai biasa yang ada di pasaran tersusun atas
kutub positif yang merupakan batang karbon yang
dikelilingi oleh campuran mangan dioksida dan bubuk
karbon. Lain halnya dengan kutub negatif yang berupa
lembaran logam seng, yang memiliki fungsi sebagai
wadah atau kontainer. Elektrolit yang digunakan dalam
baterai ini yaitu pasta dari seng klorida dan ammonium
klorida dalam pelarut air (Rahmawati, 2013, hlm. 48).
Reaksi pada baterai berlangsung searah (irreversible),
artinya tidak dapat dilakukan pengisian ulang jika arus
listrik searah habis. Oleh sebab itu, baterai biasa disebut
juga dengan sel primer (Sukardjo, 2009, hlm. 55).
(2) Baterai alkalin
Baterai alkalin termasuk pada jenis baterai primer
yang bergantung pada reaksi antara seng dengan mangan
(IV) oksida. Zat elektrolit yang digunakan dalam baterai
27
ini adalah basa kalium hidroksida. Elektrolit tersebut
berfungsi sebagai konduktor untuk memindahkan ion-ion
hidroksida dari elektroda yang satu ke elektroda yang lain.
Baterai alkalin dirancang dengan daya tahan lama, tahan
terhadap goncangan, tidak mengeluarkan gas yang bisa
menyebabkan korosi, memiliki densitas energi tinggi dan
mampu bekerja pada suhu rendah, sehingga sesuai untuk
perangkat-perangkat elektronik portable (Rahmawati,
2013, hlm. 49).
(3) Baterai Litium
Baterai litium-mangan dioksida adala baterai litium
sekali pakai yang paling umum. Pada baterai ini
digunakan batang logam Li (anoda) dan MnO2 (katoda).
Elektrolit yang digunakan adalah garam litium terlarut
dalam propilen karbonat dan dimethoxyetana (Rahmawati,
2013, hlm. 49).
(4) Baterai Ion-Litium
Baterai litium jenis ini tidak menggunakan logam Li
namun menggunakan ion Li+. Proses perpindahan ion Li+
terjadi dari elektroda satu ke elektroda yang lain melalui
elektrolit. Ion litium bergerak dari anoda yang bermuatan
negatif ke katoda yang bermuatan positif saat digunakan,
kemudian akan bergerak kembali dari katoda ke anoda
saat proses charging. Dalam baterai ion litium komersial,
litium kobalt oksida digunakan sebagai elektroda positif
(katoda) dan high crystallized karbon sebagai elektroda
negatif (anoda) (Rahmawati, 2013, hlm. 49-50).
28
2) Sel Elektrolisis
Sel elektrolis adalah perubahan energi listrik menjadi energi
kimia (Sukardjo, 2009, hlm. 45). Reaksi pada sel elektrolisis
merupakan reaksi yang tidak spontan karena hanya berproses
apabila memperoleh arus dari sumber arus. Elektrolisis banyak
digunakan untuk penyepuhan dan pemurnian logam.
a) Penyepuhan (Electroplating)
Contoh produk industri yang berasal dari pelapisan
logam adalah sendok tembaga yang dilapisi perak. Tujuan
utama dari penyepuhan adalah untuk keindahan dan
mencegah korosi. Proses penyepuhan suatu logam dengan
logam lain menggunakan prinsip elektrolisis yaitu sebagai
berikut:
Katoda
: logam yang akan disepuh
Anoda
: logam penyepuh
Elektrolit
: larutan garam yang mengandung ion
logam penyepuh
b) Pemurnian logam
Tujuan proses pemurnian logam secara elektrolisis
adalah untuk memperoleh logam murni dari logam yang tidak
murni atau logam kotor dengan cara elektrolisis. Misalnya
pemurnian tembaga dari tembaga tidak murni (Sukardjo,
2009, hlm. 67-68).
b. Korosi
Korosi merupakan penurunan mutu logam akibat adanya reaksi
elektrokimia dengan lingkungannya. Reaksi tersebut terjadi karena
adanya perbedaan karakter yang terkandung dalam material tersebut
(Rahmawati, 2013, hlm. 69). Benda-benda yang mengandung logam
seperti besi, cenderung mengalami kerusakan di alam. Hal itu ditandai
29
dengan adanya bercak-bercak besi yang berwarna merah cokelat, yang
umumnya disebut karat besi.
1) Konsep Dasar Terjadinya Korosi
a) Kereaktifan Logam
Cepat lambatnya proses korosi yang berlangsung dapat
dilihat dari kereaktifan logam dengan asam. Daftar deret
logam yang yang mengurutkan kereaktifan logam terhadap
asam dinamakan deret volta. Dalam deret volta, dari kiri ke
kanan kereaktifan logam terhadap asam akan berkurang.
K - Ba – Sr - Ca - Na - Mg - Al - Zn - Cr- Fe – Ni - Sn – Pb - H – Cu- Hg- Ag- Pt - Au
b) Proses Elektrokimia
Adanya debu karbon (C), hasil pembakaran batu bara
dan kayu berpeluang besar menyebabkan terjadinya korosi.
Apabila karbon menempel pada besi atau baja maka yang
terjadi sebagai berikut:
(1) Logam besi akan berfungsi sebagai anode (-).
(2) Karbon akan berfungsi sebagai katode (+).
(3) Gas O2 yang terlarut dalam air akan berfungsi sebagai
elektrolit.
(4) Pada proses korosi besi berlangsung reaksi elektrokimia
seperti pada sel Volta.
c) Zat-zat yang mempercepat korosi besi
Selain H2O dan O2, ada zat-zat lain yang aktif
mempercepat korosi, yaitu zat-zat yang dapat berfungsi
sebagai elektrolit. Misalnya NaCl dan zat pembentuk asam
(CO2, SO2) (Sukardjo, 2009, hlm. 70-71).
2) Beberapa Cara Mencegah Korosi Logam
a) Mencegah kontak langsung logam dengan zat-zat kimia
korosif (H2O, CO2, O2, asam-asam, NaCl, dan sebagainya).
Caranya adalah melapisi logam dengan cat.
30
b) Melapisi logam dengan logam lain, dengan cara penyepuhan.
c) Membuat aloi (campuran logam-logam secara homogen)
misalnya stainless steel yang merupakan campuran homogen
logam-logam Fe, Ni, Cr.
d) Memberi perlindungan katode (proteksi katodik). Contohnya
pemasangan pipa besi dalam tanah yang dilindungi dengan
magnesium untuk mencegah korosi (Sukardjo, 2009, hlm. 7172). Cara yang dilakukan dalam proteksi katodik adalah
logam yang akan dilindungi dikondisikan berada dalam
daerah katodik dengan memberikan potensial atau arus
katodik (Rahmawati, 2013, hlm. 76).
B. Penelitian Relevan
Ada beberapa penelitian terdahulu yang mendasari penelitian ini. Salah
satu penelitian tersebut adalah penelitian yang dilakukan oleh Dini Kinati
Fardah dari Universitas Negeri Semarang dengan Judul “Analisis Proses dan
Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa dalam Matematika melalui Tugas OpenEnded”.
Penelitian
yang
dilakukan
oleh
Fardah
bertujuan
untuk
mengidentifikasi kemampuan berpikir kreatif siswa melalui pertanyaan openended dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui
wawancara berbasis tugas dan pengambilan sampel dilakukan dengan
menggunakan teknik snowball sampling. Kemampuan berpikir kreatif
menekankan pada kritera kelancaran, keluwesan, keaslian dan keterincian
(Fardah, 2012). Hasil dari penelitian ini adalah berupa pola berpikir kreatif
siswa kategori tinggi sebanyak 20%, sedang 33,33% dan rendah sebanyak
46,67% dari jumlah siswa (Fardah, 2012).
Adapun penelitian yang dilakukan oleh Tatag Yuli Eko Siswono dari
Universitas Surabaya dengan judul “Level of Student’s Creative Thinking in
Classroom Mathematics”. Penelitian yang dilakukan oleh Tatag Yuli Eko
Siswono untuk mengetahui perbedaan level dalam berpikir kreatif yang
didasarkan pada kefasihan, keluwesan, dan kebaruan dalam penyelesaian dan
31
pengajuan masalah matematika. Pendekatan dalam penelitian ini adalah
pendekatan kualitatif dan sampel diambil dari kelas VIII SMP dan
pengambilan sampel dilakukan dengan teknik snowball (Siswono, 2011, hlm.
550). Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah siswa pada level 4
memenuhi tiga komponen dari indikator berpikir kreatif, siswa pada level 3
memenuhi dua komponen (keluwesan dan kefasihan serta kebaruan dan
kefasihan), siswa pada level 2 hanya memenuhi satu aspek (keluwesan atau
kebaruan) dan pada level 1 hanya memenuhi aspek kefasihan saja sementara
pada level 0 semua aspek tidak terpenuhi (Siswono, 2011, hlm. 552).
Penelitian dengan judul “Pengaruh Pendekatan Open-Ended terhadap
Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa pada Materi Listrik Dinamis Kelas X di
SMAN 1 Gondang Tulungangung” dilakukan oleh Nisa & Wasis dari
Universitas Negeri Surabaya. Penelitian yang dilakukan oleh Nisa & Wasis
(2013,
hlm.
143)
bertujuan
untuk
mendeskripsikan
keterlaksanaan
pembelajaran, kemampuan berpikir kreatif, kemampuan psikomotor, dan
afektif serta respon siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan Open-Ended. Dalam proses pembelajarannya siswa dilatih untuk
menyelesaikan soal/masalah dengan beberapa cara penyelesaian. kuantitatif
true experimental adalah jenis penelitian yang digunakan (Nisa & Wasis,
2013, hlm. 144). Berdasarkan hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran
didapatkan presentase sebesar 83,6% yang artinya pembelajaran dengan
pendekatan open-ended terlaksana dengan sangat baik. Selama proses
pembelajaran berlangsung, siswa
di dalam kelas eksperimen lebih aktif
daripada siswa kelas kontrol. Oleh karena itu, pendekatan open-ended
menuntut siswa lebih aktif terutama dalam menyampaikan pendapat (Nisa,
2013, hlm. 145).
Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Marina Putriyani dengan
judul “Peningkatan Keaktifan dan Prestasi Belajar melalui Penerapan
Pendekatan Open-Ended Siswa Kelas VI Sekolah Dasar”. Hasil yang didapat
dalam penelitian ini yaitu kenaikan presentase keaktifan siswa dalam
pembelajaran menggunakan pendekatan open-ended dari 72% pada siklus I
32
menjadi 82% pada siklus II serta peningkatan prestasi belajar siswa dengan
pendekatan open-ended dari 68% pada siklus I menjadi 90% pada siklus II
(Marina, tanpa tahun, hlm. 7).
Penelitian yang dilakukan oleh Nahadi, Wiwi Siswaningsih dan Iga
Maliga dengan judul “Pengembangan dan Analisis Tes Kimia Berbasis OpenEnded Problem untuk Mengukur Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa
menghasilkan 15 soal open-ended yang diujicobakan. Dari 15 soal uraian
yang disiapkan, diuji coba terbatas di lapangan selama dua kali. Setelah
didapatkan data, kemudian dilanjutkan dengan proses analisis sehingga
diketahui butir soal yang kurang memenuhi syarat sehingga dapat diperbaiki
(Nahadi dkk., 2015).
Pada soal open-ended yang dikembangkan dalam
penelitian ini tidak hanya disesuaikan dengan indikator pembelajaran akan
tetapi disesuaikan pula dengan indikator berpikir kreatif. Hal ini ditujukan
untuk mengetahui ketercapaian kemampuan berpikir kreatif dengan
menggunakan soal open-ended problems tersebut. Hasil uji coba I, perolehan
siswa dalam masing-masing indikator berpikir kreatif adalah sebesar 23,93%
untuk fluency, 25,66% untuk flexibility, 18,03% untuk elaboration, dan
19,18% untuk originality. Sementara hasil yang didapat pada uji coba II
adalah kemampuan fluency sebesar 59,46%, flexibility sebesar 50,13%,
elaboration sebesar 53,76%, dan originality sebesar 31,91% (Nahadi dkk.,
2015).
C. Kerangka Berpikir
Materi kimia adalah materi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Hal ini dapat menunjang pengetahuan siswa yang semakin luas. Materi kimia
yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari salah satunya terdapat pada
materi elektrokimia khususnya pada kompetensi dasar yang tercantum dalam
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 69 tahun 2013 yaitu (3.3)
mengevaluasi gejala atau proses yang terjadi dalam contoh sel elektrokimia
(sel volta dan sel elektrolisis) yang digunakan dalam kehidupan dan (3.4)
menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya korosi dan
33
mengajukan ide/gagasan untuk mengatasinya. Kompetensi dasar tersebut
menuntut siswa untuk dapat mengevaluasi gejala atau proses yang terjadi
dalam contoh sel elektrokimia (sel volta dan sel elektrolisis) yang digunakan
dalam kehidupan dan menganalisis faktor-faktor terjadinya korosi dan
mengajukan ide/gagasan untuk mengatasinya. Hal ini dapat membuat siswa
menjadi lebih aktif dan kreatif karena pembelajaran tidak hanya terpaku pada
hafalan dan ingatan tentang teori serta rumus saja, melainkan dapat dikaitkan
dengan kehidupan nyata yang ada di sekitar.
Jika materi sudah mendukung siswa untuk dapat berpikir kreatif,
selanjutnya diperlukan dorongan dari guru untuk menggali potensi
kemampuan berpikir kreatif siswa tersebut, yaitu dengan menerapkan model
pembelajaran yang cocok. Model open-ended problems merupakan model
yang cocok untuk menggali kemampuan berpikir kreatif siswa. Pada model
open-ended problems guru memberikan soal yang sifatnya terbuka sehingga
siswa akan lebih terbuka juga dalam mengemukakan pemikirannya. Suatu
soal dapat dikatakan terbuka jika menghasilkan jawaban benar lebih dari satu.
Tiga komponen yang dinilai dalam kemampuan berpikir kreatif adalah:
1. Kelancaran (fluency)
Kelancaran atau kefasihan dalam berpikir yang dimaksud adalah
kemampuan mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian
masalah. Penekanannya adalah dalam waktu yang singkat dapat
menghasilkan gagasan atau ide tentang objek tertentu dalam jumlah yang
banyak.
2. Keluwesan (flexibility)
Fleksibel yang dimaksud adalah kemampuan menghasilkan
gagasan, yang bervariasi. Penekanannya pada segi keragaman gagasan,
kaya akan alternatif dan bukan kekakuan dalam berpikir.
3. Kebaruan (originality)
Orisinalitas yang dimaksud adalah kemampuan untuk melihat
hubungan-hubungan baru atau kombinasi baru antar bermacam-macam
unsur atau bagian. Semakin banyak unsur-unsur yang digabung menjadi
34
satu gagasan atau produk kreatif, maka semakin orisnil pula pemikiran
individu tersebut.
Untuk menganalisis kemampuan berpikir kreatif, siswa dapat
diberikan soal open-ended. Ketercapaian aspek kemampuan berpikir
kreatif tersebut dapat dilihat dari jawaban yang diberikan oleh siswa
terhadap permasalahan pada soal open-ended. Di dalam penelitian ini,
peneliti menggunakan aspek berpikir kreatif
menurut Tes Berpikir
Kreatif Torrance yaitu fluency, flexibility, dan originality.
35
Kurikulum 2013
Menuntut
kemampuan
berpikir kreatif
siswa
Kompetensi Dasar:
(3.3) Mengevaluasi gejala atau proses yang terjadi
dalam contoh sel elektrokimia (sel volta dan sel
elektrolisis) yang digunakan dalam kehidupan
(3.4)
Menganalisis
faktor-faktor
yang
mempengaruhi terjadinya korosi dan mengajukan
ide/gagasan untuk mengatasinya

Model pembelajaran yang selama ini diterapkan kurang
memfasilitasi kemampuan berpikir kreatif siswa

Kemampuan berpikir kreatif kurang mendapat perhatian dalam
proses pembelajaran
Berpikir kreatif
Model Open-Ended Problems
Soal Open-Ended
Tipe Masalah Open-Ended
Mengklasifikasi
Masing-masing
tipe masalah dapat
dihubungkan
dengan ketiga
aspek berpikir
kreatif
Fluency
Menemukan
hubungan
Flexibility
Pengukuran
Originality
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir
36
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada 21 Oktober s.d 28 Oktober 2015 di
SMA Negeri 3 Tangerang Selatan yang beralamat di Jl. Benda Timur XI,
Komplek Perumahan Pamulang Permai 2, Pamulang, Tangerang, Banten
15416, Telp. (021) 74633772.
B. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif.
Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang memusatkan perhatian pada
masalah aktual seperti apa adanya yang terjadi saat penelitian berlangsung
(Noor, 2011, hlm. 335). Penelitian ini bertujuan untuk membuat deskripsi,
gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifatsifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki (Nazir, 2009, hlm. 54).
Dapat dikatakan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang
menggambarkan secara tepat fakta dari objek yang diteliti (Darmadi, 2011,
hlm. 145). Penelitian ini dilakukan untuk melihat kemampuan berpikir kreatif
siswa pada materi elektrokimia dalam aspek kelancaran (fluency), keluwesan
(flexibility), dan kebaruan (originality) melalui model open-ended problems.
C. Alur Penelitian
Langkah-langkah dalam melaksanakan penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Diawali dengan adanya masalah
Penelitian yang dilakukan didasarkan pada masalah yang sedang
dihadapi pendidikan di masa sekarang yaitu kemampuan berpikir kreatif
siswa yang kurang mendapat perhatian dalam proses pembelajaran.
Model pembelajaran yang diterapkan pun kurang memfasilitasi
kemampuan berpikir kreatif siswa.
36
37
2. Menentukan jenis informasi yang diperlukan
Pada tahap ini peneliti mengumpulkan literatur terkait hal yang
akan diteliti yaitu buku, jurnal serta referensi lain yang diperlukan dari
situs internet.
3. Menentukan prosedur pengumpulan data
Prosedur pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti diawali
dengan pembuatan RPP Kurikulum 2013 pada materi elektrokimia
dengan kompetensi dasar “mengevaluasi gejala atau proses yang terjadi
dalam contoh sel elektrokimia (sel volta dan sel elektrolisis) yang
digunakan dalam kehidupan dan kompetensi dasar menganalisis faktorfaktor
yang
mempengaruhi
terjadinya
korosi
dan
mengajukan
ide/gagasan untuk mengatasinya.” Peneliti kemudian melakukan proses
penelitian di kelas selama dua kali pertemuan. Pada pertemuan pertama,
peneliti menerapkan RPP yang telah dibuat untuk proses belajar
mengajar. Dalam proses belajar mengajar, pengumpulan data dilakukan
dengan lembar observasi. Kemudian pada pertemua kedua, siswa
diberikan evaluasi berupa soal open-ended elektrokimia untuk mengukur
tingkat kemampuan berpikir kreatif siswa. Setelah proses evaluasi
peneliti mengumpulkan data tambahan dari wawancara terhadap
beberapa orang siswa.
4. Pengolahan informasi atau data
Data yang diperoleh berupa hasil observasi, hasil tes dan
wawancara. Berdasarkan hasil observasi, peneliti melakukan penskoran
dan menghitung ketercapaian aspek berpikir kreatif yang didapatkan oleh
siswa.
Sementara dari hasil tes, analisis jawaban siswa dilakukan untuk
mengkategorisasi tingkat berpikir kreatif siswa. Lalu data wawancara
digunakan untuk melengkapi data sebelumnya.
38
5. Menarik kesimpulan penelitian
Pada tahap ini peneliti menarik kesimpulan mengenai tingkat
kemampuan berpikir kreatif siswa pada materi elektrokimia dalam aspek
kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility), dan kebaruan (originality).
(Noor, 2011, hlm. 35). Langkah penelitian lebih rinci dapat dilihat pada
Gambar 3.1.
39
Adanya suatu
permasalahan
Membuat
rumusan masalah
Menentukan prosedur pengumpulan data
Membuat instrumen penelitian (Soal, lembar
observasi dan pedoman wawancara)
Revisi
Validasi instrumen penelitian
Observasi di lapangan
Menganalisis jawaban siswa dengan berpatokan pada rubrik
penilaian
Pengolahan data dengan mengkategorisasi tingkat berpikir kreatif siswa
Wawancara secara mendalam
Analisis hasil wawancara
Menyimpulkan hasil analisis mengenai kemampuan berpikir kreatif siswa
Gambar 3.1 Alur Penelitian
40
D. Populasi dan Sampel
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa SMA kelas XII IPA,
sementara sampel yang diambil untuk penelitian adalah siswa kelas XII IPA 4
yang berjumlah 28 orang di SMA Negeri 3 Tangerang Selatan dengan jumlah
siswa laki-laki sebanyak 8 orang dan siswa perempuan sebanyak 20 orang.
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian menggunakan teknik purposive
sampling yang merupakan teknik dalam menentukan sampel dengan
membuat pertimbangan secara
khusus sehingga layak dijadikan sampel
(Noor, 2011, hlm. 155). Sampel yang diambil merupakan siswa kelas XII dari
kelas pilihan yang memiliki nilai rata-rata ulangan harian yang lebih tinggi
dibandingkan terhadap empat kelas XII IPA lainnya. Hal ini dilakukan untuk
memudahkan proses pembelajaran dan penerapan model open-ended
problems dalam penelitian ini.
Sampel penelitian dikelompokkan menjadi tiga kategori kelompok,
yaitu kelompok tinggi, kelompok sedang dan kelompok rendah untuk
mengetahui
perbedaan
kemampuan
berpikir
kreatif
siswa.
Siswa
dikelompokkan berdasarkan hasil standar deviasi yang diolah dari data
ulangan harian melalui pengelompokan 3 ranking menurut Arikunto (1999,
hlm. 263-264), yaitu sebagai berikut:
1. Kelompok atas adalah semua siswa yang mempunyai skor diatas skor
rata-rata +1 SD
2. Kelompok sedang adalah semua siswa yang mempunyai skor antara -1
SD dan +1 SD
3. Kelompok bawah adalah semua siswa yang mempunyai skor -1 SD dan
yang kurang dari itu.
41
Berdasarkan hasil perhitungan (Lampiran 12)
diperoleh data
penggolongan kelompok sebagai berikut:
Tabel 3.1 Pembagian Kategori Kelompok Siswa
Kelompok
Kriteria
Jumlah Siswa
Tinggi
≥ 93,28
4 orang
Sedang
60,08 ˂ nilai ˂ 93,28
21 orang
Rendah
≤ 60,08
3 orang
E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan yaitu lembar observasi, soal tes
open-ended dan pedoman wawancara.
1. Lembar Observasi
Observasi atau pengamatan langsung dapat dilakukan melalui
penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba dan pengecap. Dalam
penelitian, observasi dapat dilakukan dengan memberikan tes, kuesioner,
rekaman gambar dan rekaman suara (Arikunto, 2010, hlm. 199-200).
Cara yang paling efektif dalam metode observasi melengkapinya dengan
format atau blanko pengamatan. Format yang disusun berisi item-item
tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi
(Arikunto, 2010, hlm. 272).
Lembar observasi yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan
untuk melihat proses atau kegiatan siswa dalam menyelesaikan soal
open-ended yang dikaitkan dengan aspek berpikir kreatif. Lembar
observasi divalidasi sampai layak digunakan untuk proses pengambilan
data. Pada penelitian ini lembar observasi menggunakan skala 0-4.
Ketentuan perolehan untuk tiap skornya terdapat pada rubrik penilaian
lembar observasi (Lampiran 3).
42
Berikut ini merupakan format lembar observasi yang digunakan
dalam penelitian untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif siswa
melalui model open-ended problems.
Tabel 3.2 Kisi-kisi Format Lembar Observasi
No
Tipe Masalah
Open-Ended
Kegiatan Siswa
Aspek
Berpikir
Kreatif
Mengemukakan pendapat
1
Mengklasifikasi
mengenai perbedaan baterai
sekali pakai dengan baterai isi
Fluency
ulang
Mengemukakan pendapat
Menemukan
2
hubungan
mengenai cara kerja aki
sehingga dapat menggerakkan
Fluency
mesin pada mobil
Menemukan
3
hubungan
Menjawab pertanyaan mengenai
hubungan sel volta dengan
Flexibility
baterai
Memberikan jawaban mengenai
cara menyalakan sebuah lampu
4
Pengukuran
dengan elektroda Ag dalam
Flexibility
AgNO3 dan elektroda Mg dalam
Mg(NO3)2
Menemukan
5
hubungan
Mengemukakan pendapat
mengenai contoh sel volta
dalam kehidupan
Originality
43
No
Tipe Masalah
Open-Ended
Kegiatan Siswa
Aspek
Berpikir
Kreatif
Mengemukakan pendapat
Menemukan
6
hubungan
mengenai cara untuk
mendapatkan tembaga murni
Fluency
dengan proses pemurnian
Mengemukakan pendapat
mengenai cara untuk
Menemukan
7
hubungan
mendapatkan uang berlapis
perak dari uang yang berbahan
Fluency
dasar tembaga dengan proses
penyepuhan
Memberikan jawaban mengenai
Menemukan
8
hubungan
hubungan antara pemurnian
tembaga, pelapisan perak pada
Flexibility
tembaga, dan sel elektrolisis
Menemukan cara untuk
mendapatkan larutan KOH dan
Menemukan
9
hubungan
padatan I2 dengan cara
elektrolisis, jika disediakan zat
Flexibility
elektrolit berupa KI serta
elektroda C pada katoda dan
anoda
Menemukan
10
11
hubungan
Mengklasifikasi
Mengemukakan pendapat
mengenai contoh sel elektrolisis
Originality
dalam kehidupan
Mengemukakan pendapat
Fluency
44
No
Tipe Masalah
Open-Ended
Kegiatan Siswa
Aspek
Berpikir
Kreatif
mengenai perbedaan sel volta
dan sel elektrolisis
Menemukan
12
hubungan
Siswa memberikan jawaban
proses galvanisasi dalam
Flexibility
pencegahan karat
Siswa menjawab cara lain untuk
mencegah korosi (selain cara
13
Mengklasifikasi
Fluency
yang telah disebutkan dalam
video: pengecatan, melumuri
dengan oli, dan galvanisasi)
Menemukan
14
hubungan
Siswa mengajukan pendapat
mengenai cara mengatasi
Originality
perkaratan pada paku
Siswa menjawab pertanyaan
15
Pengukuran
mengenai pengaruh posisi
logam dalam volta dan E0
Fluency
standar terhadap perkaratan
2. Soal Tes Open-Ended
Tes adalah sejumlah pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk
mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat
yang dimiliki individu atau kelompok (Arikunto, 2010, hlm. 193)
Pada penelitian ini, tes yang digunakan bertujuan untuk mengukur
kemapuan berpikir kreatif siswa yang berupa pemberian tes open-ended.
Soal open-ended question yang diberikan kepada siswa merupakan soal
45
yang jawabannya bersifat terbuka. Soal dibuat untuk melihat ketiga
aspek dalam berpikir kreatif siswa berdasarkan jawaban yang
diberikan yaitu aspek kefasihan (fluency), keluwesan (flexibility), dan
kebaruan (originality). Masing-masing aspek memiliki acuan dalam hal
penilaiannya (terdapat pada Lampiran 7). Adapun instrumen soal tes
open-ended untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif dapat dilihat
pada Tabel 3.3.
Tabel 3.3 Instrumen Tes Open-Ended
Aspek
No
Berpikir
Soal
Butir Soal
Kreatif
Fluency,
1*
Saat
ini
handphone
sudah
bukan
Flexibility,
menjadi barang asing lagi. Setiap orang
Originality
dapat
berkomunikasi
melalui
handphone. Jika handphone mati akibat
kehabisan baterai, cukup mencharger
handphone
tersebut
sehingga
handphone dapat menyala kembali.
Berbeda dengan baterai pada jam
dinding yang tidak dapat diisi ulang
ketika jam mati. Berikan tanggapanmu
mengenai perbedaan dari kedua jenis
baterai tersebut!
Fluency,
2*
Mesya memiliki hobi mengoleksi
Flexibility,
anting-anting yang terbuat dari emas.
Originality
Suatu hari Mesya merasa gatal pada
telinganya dan muncul ruam merah.
Setelah mengecek di toko emas,
ternyata anting Mesya terbuat dari emas
46
Aspek
No
Berpikir
Soal
Butir Soal
Kreatif
yang tidak murni (emas imitasi). Emas
imitasi ini merupakan campuran emas
dengan logam lain. Mengapa emas
imitasi dapat menyebabkan iritasi pada
kulit?
Fluency,
3*
Pak Budi mempunyai toko emas di
Flexibility,
sebuah pasar. Suatu hari,
pelanggan
Originality
Pak Budi ingin cincin emasnya terlihat
seperti baru dengan warna emas yang
lebih berkilau. Apa yang seharusnya
dilakukan
oleh
Pak
Budi
untuk
membuat cincin emas menjadi seperti
yang diinginkan oleh pelanggannya
tersebut?
Fluency,
4*
Budi memiliki sebuah kunci yang sudah
Flexibility,
tidak menarik lagi karena pada kunci
Originality
tersebut terdapat banyak goresan dan
warna yang sudah pudar. Jika Budi
ingin membuat kunci tersebut menjadi
lebih menarik, apa cara yang dapat
dilakukan oleh Budi?
Fluency,
5*
Bagaimana
cara
membuat
lampu
Flexibility,
menyala jika disediakan bahan-bahan
Originality
seperti: jeruk nipis, paku seng, uang
logam tembaga, kabel, lampu kecil dan
multitester
(jika
dibutuhkan)?
47
Aspek
No
Berpikir
Soal
Butir Soal
Kreatif
Bagaimana potensial sel pada reaksi
tersebut?
Fluency,
6*
Fuel cell merupakan bahan bakar
Flexibility,
pengganti
BBM
yang
dampak
Originality
negatifnya terhadap lingkungan sangat
kecil karena dapat mengurangi polusi
udara. Berbeda dengan bahan bakar
pada umumnya yang mengakibatkan
polusi udara. Apa penyebab bahan
bakar fuel cell berbeda dengan bahan
bakar pada umumnya?
Fluency,
7*
Tembaga murni adalah salah satu bahan
Flexibility,
penyusun kabel. Berdasarkan proyeksi
Originality
Kementrian
Perindustrian,
Indonesia
membutuhkan sedikitnya 1,68 juta ton
tembaga murni pertahun. Kebanyakan
tembaga yang tersedia adalah tembaga
dalam bentuk bijih atau tembaga yang
tidak murni (mengandung campuran
logam lain). Bagaimana proses yang
dilakukan untuk mendapatkan tembaga
murni?
Fluency,
8*
senyawa
Cl2
memiliki
Flexibility,
kegunaan,
Originality
digunakan untuk karet sintesis. Ada
banyak
salah
cara
untuk
satunya
banyak
yaitu
memproduksi
48
Aspek
No
Berpikir
Soal
Butir Soal
Kreatif
senyawa Cl2 secara kimiawi . Apa
sajakah cara yang bisa dilakukan untuk
menghasilkan senyawa Cl2 tersebut?
Fluency,
9*
Logam emas (Au) merupakan logam
Flexibility,
yang dapat bertahan dalam jangka
Originality
waktu
panjang
tanpa
mengalami
kerusakan. Berbeda dengan pagar besi
(Fe) yang sangat mudah mengalami
perubahan
pada
tampilannya.
Berikanlah
pendapat
mengenai
penyebab terjadinya perbedaan pada
kedua jenis logam tersebut!
Fluency,
10*
Ibu Aida memiliki hobi memasak
Flexibility,
makanan sendiri untuk keluarganya.
Originality
Dalam hal memotong bahan makanan,
Bu Aida selalu menggunakan sebuah
pisau yang disimpan di dapur. Namun
ketika akan digunakan, terdapat bercak
karat pada pisau tersebut. Apa yang
menjadi
penyebab
pisau
tersebut
berkarat?
Fluency,
11
Badan kapal yang terbuat dari besi
Flexibility,
selalu bersentuhan dengan air laut,
Originality
sehingga
menyebabkan
terjadinya
perkaratan dengan cepat. Namun, ketika
komposisi badan kapal ditambahkan
49
Aspek
No
Berpikir
Soal
Butir Soal
Kreatif
material logam seng, proses perkaratan
menjadi terhambat. Berikan gagasan
mengenai penyebab badan kapal dapat
terlindungi oleh logam seng tersebut!
Fluency,
12*
Pak Andi merupakan lulusan teknik
Flexibility,
elektro. Ketika Dia akan menggunakan
Originality
paku untuk memajang lukisan,
paku
tersebut berkarat. Karat pada paku harus
dihilangkan terlebih dahulu sebelum
digunakan. Jika tersedia alat dan bahan
sebagai berikut: catu daya, kabel, logam
timah,
larutan soda kue,
minuman
bersoda, amplas, sikat kawat, kentang,
jeruk lemon. Apa yang dapat dilakukan
oleh Pak Andi?
Fluency,
13*
Engsel
pintu
yang
menghasilkan
Originality
ataupun ditutup. Agar tidak mengulangi
serupa
ketika
akan
Flexibility,
kejadian
bunyi
berkarat
kita
dibuka
harus
mengantisipasi hal tersebut. Apa yang
harus dilakukan untuk menghindari
perkaratan pada engsel pintu tersebut?
Fluency,
14*
Pada saat hujan, pagar yang terbuat dari
Flexibility,
besi akan mengalami kontak langsung
Originality
dengan oksigen dalam air hujan. Hal ini
dapat mempercepat proses perkaratan.
50
Aspek
No
Berpikir
Soal
Butir Soal
Kreatif
Menurutmu, bagaimana cara mencegah
perkaratan pada pagar tersebut?
Fluency,
15*
Ema
mendapatkan
sebuah
tugas
untuk
kertas
putih.
Flexibility,
menggunting
Originality
Namun gunting yang dimiliki Ema
sangat berkarat. Jika digunakan untuk
menggunting
kertas,
maka
akan
meninggalkan
bekas
pada
kertas
tersebut.
Jika Ema memanfaatkan
bahan-bahan
atau
peralatan
yang
mungkin tersedia di rumah atau di
lingkungan sekitar Apa yang dapat Ema
lakukan untuk menghilangkan karat
pada gunting tersebut?
Fluency,
16*
Sebuah kursi di taman seharusnya dapat
Flexibility,
menjadi tempat istirahat atau tempat
Originality
yang nyaman untuk menikmati udara
segar. Namun saat ini, kursi tersebut
sudah tidak tersentuh lagi oleh manusia.
Hal ini disebabkan oleh penurunan
tampilan pada kursi yang memiliki
bercak karat dan warna yang kusam.
Agar
kursi
tersebut
dimanfaatkan
kembali, apa saja cara yang bisa
dilakukan untuk mengatasi hal tersebut?
*Soal yang valid
51
3. Pedoman Wawancara
Pedoman waancara berisi sejumlah pertanyaan atau pernyataan
untuk dijawab atau direspon oleh responden. Bentuk pertanyaan bisa
sangat terbuka, sehigga dalam memberikan jawaban dan penjelasannya,
responden mempunyai keleluasaan (Sukmadinata, 2006, hlm. 216).
Wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi lebih dalam
mengenai hasil jawaban tes yang diberikan oleh siswa serta respon siswa
mengenai pembelajaran dengan model open-ended terhadap kemampuan
berpikir kreatif. Pedoman wawancara yang dibuat oleh peneliti terdiri
dari 8 pertanyaan seperti pada Tabel 3.4 berikut:
Tabel 3.4 Pedoman Wawancara Siswa
Indikator
Respon siswa terhadap
pembelajaran open-ended
Pertanyaan
1. Apakah
Anda
pembelajaran
mengetahui
open-ended?
(jika
siswa tidak tahu, beri tahu siswa
tersebut bahwa pembelajaran open
ended adalah
pembelajaran yang
dimulai dengan memberikan soal
yang memiliki
banyak jawaban
benar atau pendekatan ini dilakukan
pada
saat
pembelajaran
oleh
peneliti)
2. Apa
pendapat
pembelajaran
Anda
mengenai
open-ended
jika
dibandingkan dengan pembelajaran
yang dilakukan sebelumnya ?
3. Apakah ada kesulitan pada saat
pembelajaran
berlangsung?
Jika
52
“Ya” apa kesulitan yang dialami?
Dan
bila
“tidak”
sebutkan
alasannya!
4. Apakah
ditemukan hal-hal yang
baru dengan mempelajari materi
elektrokimia
menggunakan
pembelajaran open-ended?
Respon siswa akibat
1. Apakah pembelajaran open-ended
pembelajaran open-ended
dapat
terhadap kemampuan
kreatif? Jelaskan alasannya!
berpikir kreatif
memotivasi
untuk
lebih
2. Apakah pembelajaran open-ended
dapat membuka wawasan untuk
memberikan
solusi
yang
lebih
variatif terhadap permasalahan di
sekitar kita?
Mengetahui gambaran
1. Bagaimana
langkah
dalam
berpikir kreatif siswa dalam
menyelesaikan soal yang telah
tahap menyelesaikan soal
diberikan
open-ended
jawaban?
sampai
mendapatkan
2. Adakah permasalahan dalam soal
yang
pernah
dialami
secara
langsung? Tunjukan soal nomor
berapa!
53
F. Validitas Instrumen
Validitas/kesahihan adalah suatu indeks yang menunjukkan bahwa alat
ukur atau instrumen yang disusun tersebut benar-benar mengukur apa yang
diukur. Validitas berhubungan dengan akurasi instrumen (Noor, 2011, hlm.
132).
Di dalam mengukur validitas hal utama yang menjadi pusat perhatian
terletak pada isi dan kegunaan insrumen (Margono, 2010, hlm. 186). Di
dalam penelitian ini, validitas instrumen menggunakan content validity, yaitu
merujuk pada suatu instrumen yang memiliki kesesuaian isi dalam
mengungkap hal yang akan diukur. Validitas isi biasanya dapat didasarkan
pada penilaian para ahli dalam bidang tersebut (Margono, 2010, hlm. 187188). Validasi terhadap instrumen penelitian
yang berupa soal, lembar
observasi dan pedoman wawancara ini dilakukan oleh ahli bidang kimia,
yaitu dosen kimia sebanyak 2 orang serta 1 orang guru kimia. Adapun uji
validitas soal dilakukakan pada siswa yang telah mempelajari materi
elektrokimia agar dapat mengetahui soal yang layak untuk digunakan sebagai
instrumen penelitian yang akan diberikan kepada sampel penelitian.
Tingginya validitas tes dapat dilihat dari kemampuan siswa menangkap apa
yang sudah diajarkan guru atau yang diketahui siswa tersebut dari pertanyaan
yang diajukan (Margono, 2010, hlm. 188). Karena materi yang digunakan
dalam penelitian terdapat di jenjang kelas XII SMA, maka validasi akhir
ditujukan pada mahasiswa semester I UIN Jakarta tahun 2015/2016 yang
berjumlah 38 orang.
G. Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi
Mengumpulkan data dengan cara observasi dilakukan apabila
penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala
alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar (Sugiyono,
2011, hlm. 203). Dalam penelitian ini, observasi dilakukan oleh 4 orang
54
observer. Pada prosesnya, observer bertindak sebagai pengamat
independen (nonpartisipan) yang tidak terlibat langsung dengan aktivitas
orang-orang yang sedang diamati. Observasi dilakukan secara terstruktur
artinya observasi telah dirancang secara sistematis (Sugiyono, 2011, hlm.
203-205).
2. Tes
Tes adalah seperangkat rangsangan (stimuli) yang diberikan
kepada seseorang dengan maksud untuk mendapat jawaban (Margono,
2013, hlm. 170). Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis tes
esai yang bersifat open-ended pada materi elektrokimia. Tes esai yaitu tes
yang menuntut jawaban dalam bentuk uraian atau kalimat-kalimat yang
disusun sendiri (Margono, 2013, hlm. 170).
Tes yang diberikan pada siswa mencakup 15 soal. Pada setiap soal
yang diajukan, siswa dituntut untuk menjawab dalam waktu kurang dari
atau sama dengan 5 menit.
3. Wawancara
Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang
dilakukan dengan orang yang diwawancarai dan berhadapan secara
langsung. Wawancara digunakan sebagai alat pembuktian terhadap
informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya (Noor, 2011, hlm.
138-139).
Wawancara tidak terstruktur dapat digunakan untuk mendapatkan
informasi yang lebih dalam tentang responden. Dalam wawancara tidak
terstruktur ini, peneliti belum mengetahui secara pasti data yang akan
diperoleh, sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan apa yang
diceritakan oleh responden (Sugiyono, 2013, hlm. 198).
Pengambilan sampel wawancara dilakukan secara
random
sampling yaitu memberikan hak yang sama kepada setiap subjek untuk
memperoleh kesempatan dipilih menjadi sampel (Arikunto, 2010, hlm.
55
177). Sampel wawancara diambil masing-masing 2 orang dari setiap
kategori kelompok tinggi, sedang dan rendah. Cara menentukan sampel
dilakukan dengan undian. Pada kertas kecil dituliskan nomor absen
subjek kemudian digulung (Arikunto, 2010, hlm. 180). Setelah itu
diambil masing-masing 2 gulungan kertas dari tiap kategori. Nomor
absen yang terpilih dijadikan sebagai responden untuk pengambilan data
wawancara.
H. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil penelitian, yaitu dari lembar observasi,
tes open-ended dan wawancara kemudian diolah lebih lanjut. Berikut ini
langkah-langkah yang dilakukan dalam mengolah data hasil penelitian:
1. Lembar Observasi
Data yang diperoleh dari lembar observasi dianalisis dengan cara:
a. Memberi tanda ceklis (√) pada kolom skor sesuai hasil observasi
terhadap siswa dengan merujuk pada rubrik keterlaksaan aspek
berpikir kreatif.
b. Menjumlahkan skor dari tiap-tiap aspek kemampuan berpikir kreatif
yang terdapat pada lembar observasi
c. Mencari presentase
dari masing-masing aspek yang muncul
berdasarkan rumus:
NP =
SM
x 100
Keterangan:
NP
= Nilai Presentase
R
= Skor mentah yang diperoleh siswa
SM
= Skor maksimum ideal
(Purwanto, 2010, hlm. 102)
d. Menginterpretasikan secara deskriptif data presentase tiap-tiap aspek
indikator keterampilan berpikir kreatif yang muncul selama proses
pembelajaran.
56
2. Tes open-Ended
Pada tes open-ended, kemampuan berpikir kreatif dianalisis
melalui jawaban siswa dari permasalahan dalam soal. Data yang diperoleh
kemudian dianalisis dengan cara:
a. Memberikan kode pada jawaban siswa.
b. Memberikan skor mentah pada setiap jawaban siswa berdasarkan
rubrik penilaian.
c. Menghitung skor total tes untuk setiap aspek berpikir kreatif
d. Menentukan nilai presentase kemampuan berpikir kreatif untuk setiap
aspek yang muncul pada seluruh siswa, dengan rumus sebagai berikut:
NP =
SM
x 100
Keterangan:
NP
= Nilai Presentase
R
= Skor mentah yang diperoleh siswa
SM
= Skor maksimum ideal
(Purwanto, 2010, hlm. 102)
e. Untuk menentukan tingkatan berpikir kreatif
siswa, peneliti
menganalisis ketercapaian tiga aspek berpikir kreatif menurut
Siswono (2011, hlm. 551).
Tabel 3.5 Penskoran Tingkat Berpikir Kreatif
Kriteria Kreativitas
fluency
flexibility
originality
√
√
√
√
√
-
√
-
√
-
√
-
-
Ket
Skor
Sangat
4
Kreatif
Kreatif
3
-
Cukup
2
√
Kreatif
57
√
-
-
-
-
-
Kurang
1
Kreatif
Tidak
0
Kreatif
f. Memberikan skor berdasarkan jawaban siswa yang diberikan dengan
melihat ketercapaian tiga aspek berpikir kreatif seperti yang tertera
pada Tabel 3.5.
g. Menjumlahkan skor yang didapat setiap siswa dari seluruh soal yang
dikerjakan.
h. Mengkonversi skor yang didapat ke dalam bentuk presentase dan
mengkategorikan kemampuan berpikir kreatif siswa seperti pada tabel
di bawah ini (Riduwan, 2010, hlm. 41).
Tabel 3.6 Interpretasi Tingkat Berpikir Kreatif Siswa
Presentase pencapaian
Kategori Tingkat Berpikir
aspek berpikir kreatif
Kreatif
81% - 100%
Sangat Baik
61% - 80%
Baik
41% - 60%
Cukup
21% - 40%
Kurang
0% - 20%
Sangat Kurang
3. Wawancara
Hasil wawancara yang dilakukan terhadap 6 orang responden,
diubah ke dalam bentuk tulisan yang kemudian dihubungkan dengan hasil
observasi dan hasil tes. Data yang diperoleh dibuat dalam bentuk transkrip
kemudian diterjemahkan secara deskriptif.
58
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini berupa data hasil observasi
pada saat pembelajaran dan tes untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif
pada aspek fluency, flexibility, dan originality, serta data hasil wawancara
sebagai data pendukung.
1. Hasil Observasi Aspek Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa secara
Keseluruhan
Pengamatan terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa yang
muncul pada materi elektrokimia melalui model Open-Ended Problems
terdiri dari tiga aspek yaitu fluency, flexibility dan originality. Pencapaian
kemampuan berpikir kreatif ini dilihat dari jawaban siswa yang diberikan
pada saat pembelajaran. Jawaban siswa tersebut kemudian dianalisis
sesuai dengan rubrik penilaian lembar observasi sehingga mendapatkan
hasil seperti yang tertera pada Lampiran 13.
Tabel 4.1 Ketercapaian Aspek Berpikir Kreatif Siswa secara
Keseluruhan Berdasarkan Lembar Observasi
Aspek Berpikir Kreatif
Pencapaian
Kategori
Fluency
Flexibility
Originality
68,62%
54,82%
60,41%
Baik
Cukup
Cukup
58
59
Berdasarkan Tabel 4.1, pencapaian rata-rata aspek fluency yang
muncul selama pembelajaran berlangsung sebesar 68,62% yang termasuk
pada kategori baik, sementara aspek flexibility hanya mencapai 55% yang
artinya cukup dan aspek originality mencapai 60,41% dengan kategori
cukup.
Aspek fluency merupakan aspek berpikir kreatif yang dominan
muncul pada saat pembelajaran, sementara kemunculan aspek flexibility
adalah yang paling rendah.
2. Aspek Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Berdasarkan Hasil Tes
Open-Ended secara Keseluruhan
Data hasil tes open-ended didapatkan setelah penerapan model
pembelajaran open-ended problems. Data ini didapatkan dari jawaban
siswa yang telah dianalisis sesuai dengan rubrik jawaban dan pedoman
penskoran yang mencakup aspek fluency, flexibility dan originality.
Hasil perhitungan ketercapaian aspek berpikir kreatif tersebut tercantum
pada Lampiran 15.
Tabel 4.2 Ketercapaian Aspek Berpikir Kreatif Siswa secara
Keseluruhan Berdasarkan Tes Open-Ended
Aspek Berpikir Kreatif
Pencapaian
Kategori
Fluency
Flexibility
Originality
63,30%
54,10%
48%
Baik
Cukup
Cukup
Berdasarkan Tabel di 4.2, pencapaian rata-rata aspek fluency
yang muncul dari hasil tes sebesar 63,30% yang berarti baik, sementara
aspek flexibility hanya mencapai 54,34% yang berarti cukup dan aspek
originality mencapai 48% yang berarti cukup.
60
Aspek fluency merupakan aspek berpikir kreatif yang dominan
muncul berdasarkan hasil tes open-ended, sementara kemunculan aspek
originality adalah yang paling rendah.
3. Hasil Tes Open-Ended
untuk Mengukur Tingkat Kemampuan
Berpikir Kreatif Siswa
Kemampuan berpikir kreatif menurut Siswono mencakup lima
tingkatan yaitu: sangat kreatif, kreatif, cukup kreatif, hampir tidak
kreatif dan tidak kreatif. Tingkat berpikir kreatif siswa diperoleh dari
hasil analisis jawaban siswa pada tes open-ended dan dilihat dari
kemampuan siswa dalam memenuhi aspek-aspek berpikir kreatif. Skor
rata-rata
yang
diperoleh
dari
tingkat
berpikir
kreatif
siswa
diinterpretasikan ke dalam bentuk presentase menurut Riduwan (2010,
hlm. 41) dengan kategori sangat baik, baik, cukup, kurang dan sangat
kurang (terdapat pada Lampiran 17).
Tabel 4.3 Tingkat Berpikir Kreatif Siswa secara Keseluruhan
Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa
Sangat
Baik
Jumlah
Siswa
0
Baik
Cukup
Kurang
0
1
17
Sangat
Kurang
10
Ketercapaian tingkat berpikir kreatif siswa yang dominan muncul
terdapat pada kategori kurang dengan jumlah 17 siswa, selanjutnya
pada kategori sangat kurang dengan jumlah 10 siswa dan pada kategori
cukup mampu dicapai oleh 1 orang siswa. Pada kategori baik dan
sangat baik, tidak ada satu orang pun siswa yang mampu mencapainya.
Jika dibuat dalam bentuk presentase, tingkat kemampuan berpikir
61
kreatif dari 28 orang siswa adalah 3,57% mencapai kategori cukup,
60,71% mencapai kategori kurang dan 35,71% siswa mencapai kategori
sangat kurang. Jika dilihat berdasarkan kelompok siswa (tinggi, sedang
dan rendah) ketercapaian tingkat berpikir kreatif siswa dapat dilihat
pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4 Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa
Jumlah Siswa dalam
Jumlah
Tingkat Berpikir Kreatif
Kelompok Siswa
Siswa
SB
B
C
K
SK
Kelompok Tinggi
0
0
0
3
1
4
Kelompok Sedang
0
0
1
13
7
21
Kelompok Rendah
0
0
0
1
2
3
Keterangan:
SB
: Sangat Baik
B
: Baik
C
: Cukup
K
: Kurang
SK
: Sangat Kurang
Berdasarkan Tabel 4.4, siswa pada kelompok tinggi hanya mampu
mencapai kategori kurang, dengan 3 orang siswa yang mencapai
kategori kurang, sementara 1 orang siswa mencapai kategori sangat
kurang. Pada siswa kelompok sedang, tingkat berpikir kreatif sampai
pada kategori cukup. Jumlah setiap kategori adalah 7 orang pada
kategori sangat kurang, 13 orang pada kategori kurang dan 1 orang
siswa mampu mencapai kategori cukup. Sementara pada siswa
kelompok rendah, tingkat berpikir kreatif mencapai kategori kurang,
62
dengan jumlah siswa pada kategori sangat kurang sebanyak 2 orang dan
siswa pada kategori kurang adalah 1 orang.
4. Hasil Wawancara
Dalam penelitian ini data hasil wawancara digunakan untuk
memperkuat data hasil observasi dan tes akhir open-ended. Wawancara
ini bertujuan untuk mengetahui respon siswa mengenai model
pembelajaran open-ended terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa.
Berdasarkan hasil wawancara, seluruh responden memberikan respon
positif terhadap pembelajaran dengan model open-ended problems. Hal
ini dibuktikan dengan pernyataan siswa sebagai berikut:
“Menurut aku, pembelajaran open-ended
itu bagus soalnya
diawalnya kita tuh disuruh buat mengeksplore dulu sendiri. Trus
habis mengeksplore sendiri kan kita jadi tahu tuh setelah tau itu
didiskusiin lagi sama temen. Jadinya kita makin tahu apa yang
kita cari tuh ternyata misalnya ada yang kurang, trus saling
melengkapi sama temen-temennya. Nah abis tuh setelah
didiskusiin nanti dapet kesimpulan yang bisa dijadiin hasilnya
itu” (Siswa kelompok tinggi 1).
“Enakan open-ended sih kak soalnya ga cuma dari teori, ga
mentok di teori tapi pengalaman juga kan bisa” (Siswa kelompok
sedang 1).
Dalam proses pembelajaran dengan model open-ended problems, 4
orang siswa menemukan hal-hal baru yang didapatkan dari materi
elektrokimia. Sementara 2 orang siswa lainnya tidak menemukan hal
yang baru. Tanggapan siswa mengenai pertanyaan Apakah ditemukan
hal-hal yang baru dengan mempelajari materi elektrokimia menggunakan
pembelajaran open-ended adalah sebagai berikut:
“Iya. Soalnya kan biasanya kalo misalkan belajar normal kan
cuma dari guru ngejelasin atau ngga dari slide. Kalo ini kan kita
63
cari sendiri, jawabannya tau sendiri, tau penjelasannya gimana.
Trus ada internet juga”(Siswa kelompok tinggi 2).
Selain itu peneliti juga menanyakan mengenai kesulitan yang
didapatkan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Hasil yang
didapatkan dari responden adalah seimbang. 3 orang siswa menemui
kesulitan dalam penerapan model open-ended problems sementara 3
siswa lainnya tidak mengalami kesulitan. Tanggapan mengenai kesulitan
yang dihadapi siswa adalah sebagai berikut:
“Sulitnya, nyari tau dulu sedikit. Nyari tau materinya” (Siswa
kelompok rendah 1).
Dari beberapa tanggapan mengenai kesulitan yang ditemui pada
saat pembelajaran, sebagian besar menemui kesulitan saat mengeksplore
jawaban dari permasalahan yang diberikan. Adapun responden yang
tidak merasa kesulitan saat pembelajaran berlangsung disebabkan oleh
tersedianya sumber belajar seperti buku dan internet.
Selanjutnya adalah tanggapan positif siswa terhadap pembelajaran
open-ended problems yang dapat memotivasi siswa untuk lebih kreatif.
Hal ini diarenakan seluruh siswa setuju dengan pernyataan tersebut dan
dapat dibuktikan dengan respon siswa sebagai berikut:
“Iya. Alasannya ya karena pembelajaran yang ini lebih
membuka pikiran aja. Jadinya memotivasi membuat apa gitu
jadi penasaran buat prakteknya” (Siswa kelompok rendah 2).
“Iya. Soalnya kan itu kayak soal essay gitu kan jadinya lebih
menuntut kita untuk berkreatif untuk menjawab jawabannya”
(Siswa kelompok sedang 2).
Kunci utama dari pembelajaran open-ended problems adalah
pertanyaan yang memunculkan banyak jawaban benar. Oleh karena itu
peneliti ingin mengetahui pendapat responden mengenai dampak
pembelajaran open-ended terhadap solusi yang diajukan oleh siswa
dengan pertanyaan “Apakah pembelajaran open-ended dapat membuka
64
wawasan untuk memberikan solusi yang lebih variatif terhadap
permasalahan di sekitar kita?”. Tanggapan yang diberikan oleh beberapa
responden adalah sebagai berikut:
“Iya, yang dikasih soal jawabannya bisa ada banyak. Kan yang
tadinya ga tau bisa jadi tau lagi.” (Siswa kelompok rendah 2).
“Iya, soalnya kan jawaban masing-masing orang beda-beda kan
kak. Nanti didiskusiin lagi. Nanti yang variasi itu digabungin
satu-satu trus dapet deh jawaban yang jelas sama yang apa sih
namanya, yang cocok lah gitu” (Siswa kelompok tinggi 2).
Dari soal tes akhir yang diberikan, siswa diharapkan dapat
memberikan penjelasan mengenai cara ia mendapatkan jawaban/solusi
dari permasalah yang diberikan. Berikut ini adalah respon dari salah satu
responden:
“Yang pertama sebelumnya aku kan belajar dulu kayak bacabaca di rumah trus abis itu aku kaitin juga sama aku pernah ga
sih ngalamin kayak gini gitu kan. Misalnya aku pernah nguji
waktu kelas X tentang larutan elektrolit juga kayak gitu-gitu trus
jadinya dihubungin sama kegiatan yang pernah aku lakuin sama
apa yang udah aku baca di rumah” (Siswa kelompok tinggi 1).
Materi elektrokimia ini dihubungkan dengan aplikasinya dalam
kehidupan sehari-hari. Untuk itu peneliti ingin mengetahui sejauh mana
siswa dapat menghubungkan pengalaman responden yang pernah dialami
dengan permasalahan yang terdapat pada soal. Tanggapan yang diberikan
oleh responden adalah sebagai berikut:
“Besi karat, yang pager deh kalo ga salah. Pernah liat di cat”
(Siswa kelompok tinggi 2).
“Yang prakteknya cara melihat potensial sel dari jeruk nipis,
paku seng dan uang logam” (Siswa kelompok rendah 2).
65
B. Pembahasan
Berpikir kreatif erat kaitannya dengan pemecahan masalah. Hal ini
disebabkan oleh pemecahan masalah yang memerlukan aktivitas berpikir,
yaitu berpikir kreatif (Sunarya, 2013, hlm. 713). Kemampuan berpikir kreatif
dapat ditingkatkan dengan mendesain pembelajaran yang dapat memberikan
kesempatan lebih bagi siswa untuk mengeksplorasi permasalahan yang
memberikan banyak solusi (Silver dalam Fardah, 2012).
Dalam penelitian ini, model pembelajaran yang diterapkan untuk
mengetahui kemampuan berpikir kreatif siswa adalah model open-ended
problems, dalam hal ini siswa diberikan permasalahan yang dapat
diselesaikan dengan beragam solusi. Tiga aspek kemampuan berpikir kreatif
(fluency, flexibility, dan originality) yang dianalisis didasarkan pada lembar
observasi dan tes akhir yang dijelaskan pada Tabel 4.7.
Tabel 4.5 Perbedaan Ketercapaian Aspek Berpikir Kreatif Siswa pada
Lembar Observasi dan Tes Open-Ended
Ketercapaian Aspek Berpikir Kreatif
Instrumen
fluency
flexibility
originality
Lembar Observasi
68,62%
54,82%
60,41%
Tes Open-Ended
63,30%
54,34%
48%
Aspek Fluency
Fluency (kefasihan) dalam memecahkan suatu masalah mengacu pada
keberagaman (bermacam-macam) jawaban masalah yang dibuat siswa
dengan benar. Jawaban yang beragam ini belum tentu berbeda. Beberapa
jawaban dikatakan beragam tetapi tidak berbeda bila jawaban-jawaban itu
tidak sama satu dengan yang lain, namun tampak didasarkan pada suatu
pola atau urutan tertentu.
66
Berdasarkan Tabel 4.5, presentase ketercapaian aspek fluency pada
lembar observasi dan tes open-ended menduduki posisi paling tinggi dan
masing-masing termasuk dalam kategori baik dengan nilai presentase
68,62% dan 63,30%. Hal ini menandakan bahwa siswa memiliki
kemampuan yang baik dalam memberikan berbagai macam solusi dari
permasalah open-ended yang diberikan. Aspek fluency ini merupakan aspek
berpikir kreatif yang berada di urutan terendah jika dibandingkan dengan
aspek flexibility dan originality (Siswono, 2011, hlm. 549). Oleh karena itu
ketercapaian siswa pada aspek ini menduduki posisi paling tinggi.
Siswa lebih cenderung dominan memiliki aspek fluency. Hal ini dapat
dibuktikan dengan tanggapan siswa pada saat wawancara dan diberikan
pertanyaan mengenai hal baru yang ditemukan melalui pembelajaran openended problems. Berikut tanggapan yang diberikan responden:
“Lebih tau ternyata baterai tuh ga cuma satu. Trus kayak baterai tuh
macem-macem ada yang primer ada yang sekunder”(Siswa kelompok
tinggi 1).
Dari pertanyaan yang diajukan tersebut siswa berpendapat bahwa
macam-macam baterai seperti baterai primer dan sekunder merupakan hal
baru baginya. Ini membuktikan siswa memiliki aspek fluency yang lebih
dominan. Karena macam-macam baterai bukan merupakan hal baru yang
dapat diketahui oleh siswa pada tingkatan pengetahuannya sekarang ini.
Aspek Flexibility
Flexibility (keluwesan) dalam pemecahan masalah mengacu pada
kemampuan siswa memecahkan masalah dengan berbagai cara yang
berbeda. Berdasarkan Tabel 4.5, ketercapaian aspek flexibility pada lembar
observasi berada di posisi terendah dan termasuk ke dalam kategori cukup
dengan presentase sebesar 54,82%, sementara ketercapaian aspek flexibility
berdasarkan tes open-ended menduduki posisi kedua dengan presentase
54,34% dan termasuk ke dalam kategori cukup juga.
67
Aspek flexibility merupakan aspek terpenting kedua setelah aspek
originality karena aspek flexibility ini menunjukkan produktivitas ide yang
digunakan untuk menyelesaikan suatu masalah (Siswono, 2011, hlm. 549).
Pada aspek flexibility siswa dituntut untuk dapat memberikan solusi yang
bervariasi.
Aspek Originality
Originality (kebaruan) dalam pemecahan masalah mengacu pada
kemampuan siswa menjawab masalah dengan beberapa jawaban yang
berbeda-beda tetapi bernilai benar atau satu jawaban yang tidak biasa
dilakukan oleh individu (siswa) pada tahap perkembangan mereka atau
tingkat pengetahuannya. Berdasarkan Tabel 4.5, presentase ketercapaian
aspek originality pada lembar observasi sebesar 60,41% termasuk ke dalam
kategori cukup sementara pada tes open-ended, aspek originality juga
mencapai kategori cukup dengan presentase sebesar 48%.
Aspek originality ditempatkan pada posisi tertinggi diantara dua
aspek berpikir kreatif lainnya, karena originality merupakan ciri utama
dalam menilai suatu produk pemikiran kreatif yang harus berbeda dengan
sebelumnya (Siswono, 2011, hlm. 549). Oleh karena itu aspek originality
dinilai sangat penting dalam mengetahui kemampuan berpikir kreatif siswa.
Namun pada tes open-ended, ketercapaian aspek berpikir kreatif ini berada
di posisi paling rendah karena jika dibandingkan dengan aspek berpikir
kreatif lainnya seperti
flexibility dan fluency. Karena aspek originality
berada di posisi paling atas, siswa masih mengalami kesulitan untuk
mencapai aspek tersebut.
Lebih tingginya ketercapaian aspek berpikir kreatif pada hasil
observasi disebabkan oleh penyediaan sumber belajar seperti buku dan
internet pada saat pembelajaran berlangsung. Sementara saat pelaksanaan
tes, sumber belajar tidak diperbolehkan untuk digunakan. Pengembangan
potensi peserta didik yang terkait dengan pengembangan kreativitas dapat
dilakukan melalui pembelajaran dengan menggunakan sumber belajar.
68
Melalui sumber belajar peserta didik terdorong untuk ingin tahu terhadap
sesuatu (Wardani, 2013, hlm. 54).
Pada tes open-ended siswa menyelesaikan permasalahan yang
terdapat pada soal tanpa bantuan sumber belajar, hanya mengingat
pengetahuan sebelumnya atau menghubungkan pengalamannya dengan
permasalahan pada soal tersebut. Penurunan ketercapaian aspek berpikir
kreatif terjadi karena pengaruh sumber belajar. Dengan sumber belajar siswa
dapat mengeksplorasi pengetahuan serta memfasilitasi siswa untuk
menjawab rasa ingin tahunya sehingga siswa dapat memunculkan banyak
solusi dari permasalahan yang diberikan. Sehingga ketercapaian aspek
berpikir kreatif ini lebih baik jika menggunakan sumber belajar.
Berdasarkan uraian dari ketiga aspek berpikir kreatif, dapat
disimpulkan bahwa ketercapaian aspek berpikir kreatif siswa dengan
presentase tertinggi dan kategori baik dari hasil observasi serta tes openended terdapat pada aspek fluency. Sementara aspek berpikir kreatif dengan
pencapaian sangat rendah adalah pada aspek flexibility jika dilihat dari
lembar observasi dan pada aspek originality jika dilihat dari hasil tes openended.
Urutan ketercapaian aspek berpikir kreatif berdasarkan hasil tes openended
adalah sebagai berikut:
aspek fluency pada urutan pertama,
kemudian aspek flexibility pada urutan kedua dan terakhir aspek originality.
Urutan ketercapaian tiga aspek ini sama seperti hasil uji coba II pada tes
open-ended untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif yang dilakukan
oleh Nahadi, dkk (2015). Menurutnya, ketercapaian aspek berpikir kreatif
masih kurang. Kurangnya kemampuan siswa dalam berpikir kreatif tak lepas
dari proses pembelajaran yang berlangsung dalam pendidikan formal.
69
Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif
Tingkat kemampuan berpikir kreatif dipengaruhi oleh ketiga aspek
berpikir kreatif antara lain: fluency, flexibility, dan originality. Data hasil
penelitian kemudian dianalisis dengan menggunakan rumus kriteria berpikir
kreatif, sehingga kemampuan berpikir kreatif siswa berada pada kategori
yang berbeda-beda dapat diketahui (Utomo, dkk., 2014, hlm. 7).
Berdasarkan data penskoran dari hasil jawaban tes open-ended setiap siswa
diperoleh skor total yang kemudian dikonversi ke dalam bentuk presentase
untuk dapat menentukan kategori tingkat berpikir kreatif siswa. Dapat
dilihat pada Gambar 4.1 mengenai kategori tingkat kemampuan berpikir
kreatif siswa secara keseluruhan.
18
16
14
Jumlah Siswa
12
Sangat Baik
10
Baik
8
Cukup
6
Kurang
4
Sangat Kurang
2
0
Siswa
Gambar 4.1 Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Secara
Keseluruhan
Berdasarkan Gambar 4.1, tidak ada siswa yang mampu mencapai
kategori baik dan sangat baik pada tingkat kemampuan berpikir kreatif.
Artinya siswa tidak mampu menyelesaikan permasalahan yang diberikan
70
dengan memenuhi ketiga aspek berpikir kreatif untuk mencapai kategori
sangat baik. Kemudian siswa juga tidak dapat memenuhi aspek fluency dan
originality atau aspek fluency dan flexiblity dalam menyelesaikan seluruh
permasalahan yang diberikan untuk mencapai kategori baik.
Berdasarkan pengelompokkan siswa (tinggi, sedang dan rendah),
tingkat kemampuan berpikir kreatif siswa dapat dilihat pada Gambar 4.2.
16
14
Jumlah Siswa
12
Sangat Baik
10
Baik
8
Cukup
6
Kurang
Sangat Kurang
4
2
0
Kelompok Tinggi
Gambar
4.2
Kelompok
Sedang
Kelompok
Rendah
Tingkat Kemampuan Berpikir
Berdasarkan kelompok
Kreatif
Siswa
Pada Gambar 4.2, kategori cukup hanya dapat tercapai oleh 1 orang
siswa pada kelompok sedang dan tidak mampu dicapai oleh siswa pada
kelompok tinggi. Menurut Philip dalam Kuspriyanto (2013, hlm. 136)
kreativitas atau kemampuan berpikir kreatif tidak dapat dipaksakan, namun
diharuskan untuk tumbuh. Pembiasaan atau pembudayaan berpikir kreatif
dapat dilakukan sebagai upaya mengembangkan kemampuan berpikir dan
kemampuan siswa dalam memecahkan masalah (Kuspriyanto, 2013, hlm.
138). Model open-ended problems merupakan suatu model pembelajaran
yang baru dan belum dikenal oleh siswa. Sehingga model pembelajaran ini
71
belum dapat membiasakan siswa untuk mengembangkan kemampuan
berpikir kreatifnya. Hal ini terlihat dari Gambar 4.1 yang menunjukkan
bahwa tingkat kemampuan berpikir kreatif dengan jumlah siswa terbanyak
terdapat pada kategori kurang dengan jumlah 17 orang siswa. Kurangnya
kemampuan berpikir kreatif siswa akibat kurangnya pembiasaan proses
pembelajaran dengan model open-ended problems yang juga diperkuat
dengan tanggapan salah satu siswa pada saat wawancara sebagai berikut:
“Apakah pembelajaran open-ended dapat memotivasi untuk lebih
kreatif? Alasannya apa?” (Peneliti)
“Iya Soalnyaa, ini kan hal baru ya kak. Gimana ya alesannya . Yaa
baru aja gitu loh. Ga biasa maksudnya, ini kan kita berkelompok juga
nanti baru pendapat satu-satu di didiskusiin yang paling bagus baru
disampein” (Siswa kelompok tinggi 2).
Pada cuplikan wawancara di atas, siswa tersebut mengatakan bahwa
pembelajaran open-ended merupakan hal yang baru dialami dalam proses
belajar selama ini. Oleh karena itu, siswa belum terbiasa dengan proses
pembelajaran seperti yang dilakukan oleh peneliti.
Siswa juga mengalami kesulitan dalam penerapan model open-ended
problems yang menyebabkan rendahnya tingkat berpikir kreatif siswa. Hal
ini dapat teridentifikasi dari beberapa responden yang mengalami kesulitan
saat proses pembelajaran berlangsung, berikut adalah pendapat beberapa
responden tersebut saat ditanya perihal “apakah ada kesulitan yang dialami
saat pembelajaran berlangsung?”
“Kan kita kan gak tau semuanya gitu kak. Jadi ya ada
kesulitannya”(Siswa Kelompok Sedang 1).
“Sulitnya, ya itu. Nyari tau dulu sedikit. Nyari tau materinya”(Siswa
Kelompok Rendah 1).
Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Setiawan &
Harta. (2014, hlm. 253) yang menghasilkan sikap negatif siswa terhadap
pembelajaran open-ended karena tidak terbiasa dan sering mengalami
kesulitan. Berdasarkan pengamatan pada saat awal pembelajaran pun
72
sebagian siswa kebingungan dalam menghadapi soal open-ended. Adapun
menurut Mustikasari, dkk (2010, hlm. 58), siswa belum terbiasa diberikan
soal dalam bentuk open-ended, sehingga siswa masih canggung dan kurang
kepercayaan diri untuk mengerjakan soal open-ended yang diberikan.
Berdasarkan 15 butir soal open-ended yang diajukan, kemampuan
berpikir kreatif beberapa siswa mampu mencapai tingkat sangat kreatif pada
nomor soal tertentu. Pada tingkat sangat kreatif ini, siswa mampu mencapai
ketiga aspek berpikir kreatif yaitu fluency, flexibility dan originality dalam
menjawab soal yang diajukan. Soal nomor 3 yang berisi pertanyaan
mengenai cara membuat cincin emas terlihat baru, mampu dijawab oleh 1
orang siswa dengan tingkatan sangat kreatif dan soal nomor 9 yang berisi
pertanyaan mengenai penyebab perbedaan logam emas dan logam besi pun
mampu dijawab oleh 1 orang siswa dengan sangat kreatif. Tes open-ended
mampu mengukur aspek berpikir kreatif dan tingkat berpikir kreatif siswa,
namun rendahnya tingkat kemampuan berpikir kreatif siswa yang
didapatkan dalam penelitian ini disebabkan oleh model open-ended
problems yang masih baru dan belum dikenal oleh siswa.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil temuan penelitian dan pembahasan pada bab IV
mengenai kemampuan berpikir kreatif siswa kelas XII pada pembelajaran
elektrokimia melalui model pembelajaran open-ended problems, diperoleh
kesimpulan sebagai berikut:
1. Secara keseluruhan berdasarkan hasil observasi, aspek fluency dapat
tercapai dengan kategori baik, aspek flexibility dapat tercapai dengan
kategori cukup dan aspek originality dapat tercapai dengan kategori
cukup.
2. Secara keseluruhan berdasarakan hasil tes open-ended, aspek fluency
dapat tercapai dengan kategori baik, aspek flexibility dapat dicapai
dengan kategori cukup dan aspek originality dapat tercapai dengan
kategori cukup.
3. Tingkat kemampuan berpikir kreatif dari 28 orang siswa secara
keseluruhan tercapai oleh 1 orang siswa pada kategori cukup, 17 orang
siswa pada kategori kurang dan 10 orang siswa pada kategori sangat
kurang. Jika dikonversi ke dalam bentuk presentase, kategori cukup
mencapai 3,57%, kategori kurang mencapai 60,71% dan kategori sangat
kurang tercapai dengan presentase 35,71% .
4. Aspek kemampuan berpikir kreatif yang mampu dicapai oleh siswa
dengan presentase tertinggi ialah aspek fluency.
73
74
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka peneliti merekomendasikan
beberapa saran sebagai berikut:
1. Bagi Guru
a. Pembelajaran dengan menggunakan model Open-Ended problems
disarankan lebih sering diterapkan untuk melatih kemampuan berpikir
kreatif siswa
b. Guru disarankan untuk memperhatikan jumlah pertanyaan yang
diajukan dengan alokasi waktu yang tersedia dalam penerapan model
Open-Ended Problems agar siswa dapat mendiskusikan jawaban dari
semua pertanyaan tanpa terburu-buru.
2. Bagi Peneliti Selanjutnya
a. Perlu dilakukan penelitian selanjutnya yang berpotensi untuk
meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa.
b. Dapat dikembangkan soal Open-Ended pada materi kimia lainnya agar
siswa tidak terdoktrin dengan sistem pembelajaran saat ini yang hanya
menuntut satu jawaban benar.
75
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. (1999). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan dan Praktik. Jakarta:
PT Rineka Cipta.
A.S, Ruslan & Santoso, B. (2013). Pengaruh Pemberian Soal Open-Ended
Terhadap Kemampuan Penalaran Matematis Siswa. Jurnal Kreano, 4 (2):
138-150.
Becker, J. P & Shimada, S. (1997). The Open-Ended Approach: A New Proposal
for Teaching Mathematics. Virginia: National Council Of Teachers of
Mathematics.
Bono, Ed. (2007). Diterjemahkan oleh Ida Sitompul dan Fahmy Yamani. Revolusi
Berpikir. Bandung: PT Mizan Pustaka.
Clegg, B. diterjemahkan oleh
Jakarta: Erlangga.
Zulkifli Harahap. (2006).
Instan Creativity.
Conklin, W. (2012). Higher Order Thinking Skills. Huntington Beach: Shell
Education.
Darmadi, H. (2011). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Education Scotland. (2012). Chemistry Open-Ended Question Support Materials.
Diakses dari www.educationscotland.gov.uk.
Fardah, D.K. (2012). Analisis Proses dan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa
dalam Matematika melalui Tugas Open-Ended. Jurnal Kreano, 3 (2).
Henry, N.B. (1958). Education For The Gifted. Chicago: The University of
Chicago Press.
Herdiansyah, H. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-ilmu Sosial.
Jakarta: Salemba Humanika.
Kaplan, R. M dan Saccuzo, D. P. (2005). Psychological Testing. Canada:
Wadsworth Cengange Learniing.
Kuspriyanto, B. (2013). Strategi Pembelajaran dan Kemampuan Berpikir Kreatif
Terhadap Hasil Belajar Fisika. Jurnal Teknologi Pendidikan, 6 (2): 126140.
75
76
Margono, S. (2013). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Munandar, U. (1992). Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah.
Jakarta: PT Gramedia.
Munandar, U. (2012).
Rineka Cipta.
Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta:
Marina. (Tanpa Tahun). Peningkatan Keaktifan dan Prestasi Belajar Matematika
melalui Penerapan Pendekatan Open-Ended Siswa Kelas VI Sekolah
Dasar. E-Jurnal Dinas Pendidikan Kota Surabaya, 6: 1-7.
Mustikasari, Zulkardi & Aisyah, N. (2010). Pengembangan Soal-soal Open-Ended
Pokok Bahasan Bilangan Pecahan di Sekolah Menengah Pertama. Jurnal
Pendidikan Matematika, 4 (1): 45-60.
Nahadi, Siswaningsih, W & Maliga, I. (2015). Pengembangan dan Analisis Tes
Kimia Berbasis Open-Ended Problem untuk Mengukur Kemampuan
Berpikir Kreatif Siswa. Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan Kimia
VII.
Nazir, M. (2009). Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia.
Nisa, K & Wasis. (2013). Pengaruh Pendekatan Open-Ended Terhadap
Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa pada Materi Listrik Dinamis Kelas X
di SMAN 1 Gondang Tulungagung. Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika, 02
(03): 143- 146.
Noor, J. (2011). Metodologi Penelitian. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.
Partnership for 21st Century. (2009). Framework for 21st Century Learning. Dapat
diakses pada http://www.p21.org/about-us/p21-framework.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 69. (2013). Kerangka Dasar
dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah.
Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Purwanto, N. (2010). Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.
Putriyani, M. (Tanpa Tahun). Peningkatan Keaktifan dan Prestasi Belajar
Matematika Melalui Penerapan Pendekatan Open-Ended Siswa Kelas VI
Sekolah Dasar. E-Jurnal Pendidikan Kota Surabaya, 6: 1-7.
Rahmawati, F. (2013). Elektrokimia Transformasi Energi Kimia-Listrik.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
77
Riduwan. (2010). Dasar-dasar Statistika. Bandung: Alfabeta.
Sani, R. A. (2013). Pembelajaran Saintifik untuk Implementasi Kurikulum 2013.
Jakarta: PT Bumi Aksara.
SCANS. (1991). What Work Requires of Schools. America: U.S. Departement of
Labor.
Setiawan, Saragih, S & Siagian, P. (Tanpa Tahun). Pengaruh Pendekatan
Pembelajaran dan Locus Of Control Terhadap Kemampuan Penalaran
Matematika Siswa SMP. Jurnal Pendidikan Matematika PARADIKMA, 5
(2): 151-164.
Setiawan, R.H & Harta, I. (2014). Pengaruh Pendekatan Open-Ended dan
Pendekatan Kontekstual Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah dan
Sikap Siswa Terhadap Matematika. Jurnal Riset Pendidikan Matematika,
1 (2): 240-256.
Shoimin, A. (2014). 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013.
Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Silver, E. A. (1997). Fostering Creatvity through Instruction Rich in Mathematical
Problem Solving and Problem Posing. International Reviews on
Mathematical Education, 29 (3): 75-80.
Siswono, T.Y.E. (2011). Level Student’s Creative Thinking in Classroom.
Academic Journal, 6 (7): 548-553.
Sudarma, M. (2013). Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kreatif. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif
Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sukardjo. (2009). Kimia SMA/MA Kelas XII. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Sukmadinata, N. S. (2006). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Sunarya, L, Kusmayadi, T.A & Iswahyudi, G. (2013). Profil Tingkat Berpikir
Kreatif Siswa Kelas VII SMP Negeri 16 Surakarta dalam Pemecahan
Masalah Aritmatika Sosial Ditinjau dari Motivasi dan Gender. Jurnal
Elektronik Pembelajaran Matematika, 1 (7): 712-720.
Sunaryo, W. (2011). Taksonomi Berpikir. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
78
Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI. (2007). Ilmu dan
Pendidikan. Bandung: PT Imperial Bakti Utama.
Aplikasi
Utomo, T, Wahyuni, D & Hariyadi, S. (2014). Pengaruh Model Pembelajaran
Berbasis Masalah (Problem Based Learning) Terhadap Pemahaman
Konsep dan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa (Siswa Kelas VIII
Semester Gasal SMPN 1 Sumbermalang Kabupaten Situbondo Tahun
Ajaran 2012/2013). Jurnal Edukasi UNEJ, I (1): 5-9.
Wardani, N. S. (2013). Pengaruh Penggunaan Sumber Belajar Terhadap
Kreativitas Belajar Tema Lingkungan Mahasiswa PGSD Angkatan 2012.
Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan
Fakultas MIPA Universitas Negeri Yogyakarta.
Wirawan. (2011). EVALUASI: Teori, Model, Standar, Aplikasi dan Profesi.
Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Yani, A. (2014). Mindset Kurikulum 2013. Bandung: Alfabeta CV.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
79
Lampiran 1
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Nama Sekolah
: SMA Negeri 3 Tangerang Selatan
Mata Pelajaran
: Kimia
Kelas/Semester
: XII/1
Materi Pokok
: Elektrokimia
Alokasi waktu
: 1 x 4 JP
A. Kompetensi Inti
KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
KI 2: Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab,
peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan
pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai
permasalahan dalamberinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial
dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam
pergaulan dunia.
KI 3 : Memahami,menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan
kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian
yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan
masalah.
KI 4 :Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak
terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara
mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan
B. Kompetensi Dasar
1.1 Menyadari adanya keteraturan dalam sifat koligatif larutan, reaksi redoks,
keragaman sifat unsur, senyawa makromolekul sebagai wujud kebesaran
Tuhan YME dan pengetahuan tentang adanya keteraturan tersebut sebagai
hasil pemikiran kreatif manusia yang kebenarannya bersifat tentatif
80
2.1 Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu, disiplin, jujur,
objektif, terbuka, mampu membedakan fakta dan opini, ulet, teliti,
bertanggung jawab, kritis, kreatif, inovatif, demokratis, komunikatif) dalam
merancang dan melakkukan percobaan serta berdiskusi yang diwujudkan
dalam sikap sehari-hari
2.2 Menunjukkan perilaku kerjasama, santun, toleran, cinta damai dan peduli
lingkungan serta hemat dalam memanfaatkan sumber daya alam
2.3 Menunjukkan perilaku responsif dan proaktif serta bijaksana sebagai wujud
kemampuan memecahkan masalah dan membuat keputusan
3.3 Mengevaluasi gejala atau proses yang terjadi dalam contoh sel elektrokimia
(sel volta dan sel elektrolisis) yang digunakan dalam kehidupan
3.4 Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya korosi dan
mengajukan ide/gagasan untuk mengatasinya
4.3 Menciptakan ide/gagasan/produk sel elektrokimia
4.4 Mengajukan ide/gagasan untuk mencegah dan mengatasi terjadinya korosi
C. Indikator Pencapaian Kompetensi
1. Indikator KD pada KI 1
1.1.1
Menyadari adanya keteraturan dalam reaksi redoks sebagai wujud
kebesaran Tuhan YME
2. Indikator KD pada KI 2
2.1.1
Membiasakan berperilaku disiplin dengan hadir di kelas tepat waktu
2.1.2
Membiasakan perilaku sungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas
yang diberikan
2.2.1
Membangun kerjasama dengan anggota kelompok dalam
memecahkan masalah
2.3.1
Membiasakan diri menghargai pendapat orang lain dalam diskusi
3. Indikator KD pada KI 3
3.3.5
Menghubungkan proses yang terjadi dalam sel volta dengan
kehidupan sehari-hari
3.3.6
Menghubungkan proses yang terjadi dalam sel elektrolisis dengan
kehidupan sehari-hari
3.4.1
Menganalisis faktor-faktor penyebab korosi
3.4.2
Menganalisis cara untuk mengatasi korosi
81
4. Indikator KD pada KI 4
4.3.1
Menemukan gagasan mengenai produk sel volta
4.3.2
Menemukan gagasan mengenai produk sel elektrolisis
4.4.1
Membangun gagasan untuk mencegah korosi pada besi
4.4.2
Membangun gagasan untuk mengatasi korosi pada besi
D. Materi Pembelajaran
1. Fakta
Baterai
Penyepuhan
Aki
Karat
2. Konsep
a. Contoh Elektrokimia dalam Kehidupan
Elektrokimia adalah disiplin ilmu yang mempelajari tentang
perubahan energi kimia menjadi energi listrik atau perubahan energi
listrik menjadi energi kimia (Sukardjo, 2009: 45-46). Ada dua macam
sel elektrokimia, yaitu sebagai berikut:
82
1) Sel Volta (Sel Galvani)
Dalam sel ini energi kimia diubah menjadi energi listrik atau
reaksi redoks menghasilkan arus listrik. Ada beberapa sel volta yang
dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, misalnya aki (accu) dan
baterai.
2) Sel Elektrolisis
Dalam sel ini energi listrik diubah menjadi energi kimia atau
arus listrik menghasilkan reaksi redoks. Reaksi pada sel elektrolisis
tidak spontan karena hanya berproses apabila memperoleh arus dari
sumber arus. Elektrolisis banyak digunakan untuk penyepuhan dan
pemurnian logam.
b. Korosi
Korosi merupakan penurunan mutu logam akibat adanya reaksi
elektrokimia dengan lingkungannya. Reaksi tersebut terjadi karena
adanya perbedaan karakter yang terkandung dalam material tersebut
(Rahmawati, 2013: 69). Benda-benda yang mengandung logam seperti
besi, cenderung mengalami kerusakan di alam. Hal itu ditandai dengan
adanya bercak-bercak besi yang berwarna merah cokelat, yang
umumnya disebut karat besi.
1) Konsep Dasar Terjadinya Korosi
a) Kereaktifan Logam
Korosi logam ada yang berlangsung cepat dan ada pula
yang berlangsung lambat. Adapun yang tidak mengalami
korosi sama sekali. Hal ini dapat dilihat dari kereaktifan logam
tersebut dengan asam. Daftar deret logam yang yang
mengurutkan kereaktifan logam terhadap asam dinamakan
deret volta. Dalam deret volta, dari kiri ke kanan kereaktifan
logam terhadap asam akan berkurang.
K - Ba – Sr - Ca - Na - Mg - Al - Zn - Cr- Fe – Ni - Sn – Pb - H – Cu- Hg- Ag- Pt - Au
83
b) Proses Elektrokimia
Adanya debu karbon (C), hasil pembakaran batu bara
dan kayu berpeluang besar menyebabkan terjadinya korosi.
Apabila karbon menempel pada besi atau baja maka yang
terjadi sebagai berikut:
(a) Logam besi akan berfungsi sebagai anode (-).
(b) Karbon akan berfungsi sebagai katode (+).
(c) Gas O2 yang terlarut dalam air akan berfungsi sebagai
elektrolit.
(d) Pada
proses
korosi
besi
berlangsung
reaksi
elektrokimia seperti pada sel Volta.
c) Zat-zat yang mempercepat korosi besi
Selain H2O dan O2, ada zat-zat lain yang aktif
mempercepat korosi, yaitu zat-zat yang dapat berfungsi
sebagai elektrolit. Misalnya NaCl dan zat pembentuk asam
(CO2, SO2) (Sukardjo, 2009: 70-71).
2) Beberapa Cara Mencegah Korosi Logam
a) Mencegah kontak langsung logam dengan zat-zat kimia
yang korosif seperti H2O, CO2, O2, asam-asam, NaCl, dan
sebagainya. Caranya adalah melapisi logam dengan cat.
b) Melapisi
logam
dengan
logam
lain,
dengan
cara
penyepuhan.
c) Membuat aloi (campuran logam-logam secara homogen)
misalnya stainless steel yang merupakan campuran
homogen logam-logam Fe, Ni, Cr.
d) Memberi
perlindungan
katode
(proteksi
katodik).
Contohnya pemasangan pipa besi dalam tanah yang
dilindungi dengan magnesium untuk mencegah korosi
(Sukardjo, 2009: 71-72). Pada metode proteksi katodik,
logam yang akan dilindungi dikondisikan berada dalam
daerah katodik dengan cara memberikan potensial atau arus
katodik (Rahmawati, 2013: 76).
84
3) Prosedural
-
Langkah kerja praktikum korosi di rumah
E. Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Keempat
Langkah
Open-Ended
Kegiatan Guru
Kegiatan Siswa
Problem
Alokasi
waktu
Kegiatan Pendahuluan
Pendahuluan
-
Mempersilahkan
-
Siswa berdoa
siswa untuk berdoa
bersama sebelum
terlebih dahulu
memulai kegiatan
sebelum memulai
pembelajaran
15 menit
pembelajaran
-
Guru
-
Siswa mendapatkan
menyampaikan
informasi mengenai
tujuan
tujuan pembelajaran
pembelajaran dan
dan materi yang
materi yang akan
akan dipelajari
diajarkan
-
Mengingat materi
sebelumnya
-
Mengingatkan
mengenai sel volta
siswa mengenai
dan sel elektrolisis
materi sebelumnya
mengenai sel volta
dan sel elektrolisis
Langkah
Open-Ended
Kegiatan Guru
Kegiatan Siswa
Problem
Alokasi
waktu
Kegiatan Inti
Membentuk
Kelompok
-
Guru
menginstruksikan
-
Siswa membuat
kelompok dan
5 menit
85
siswa untuk
berkumpul bersama
membuat kelompok
kelompoknya
30 menit
Mengamati
-
Menampilkan
-
gambar baterai dan
komponennya
-
Mengamati gambar
baterai
-
Menampilkan video
Mengamati video
yang ditampilkan
mengenai baterai
dan cara kerjanya
-
Menampilkan video
mengenai cara
kerja pemurnian
tembaga dan
pelapisan perak
pada tembaga
-
Menampilkan
gambar mengenai
Pertanyaan
perkaratan
Open-Ended
-
Siswa mengajukan
pertanyaan terkait
Menanya
-
video yang telah
Memberi
ditayangkan
kesempatan kepada
(bagaimana cara
siswa untuk
kerja baterai? Apa
mengajukan
yang menjadi anoda
pertanyaan terkait
dan katoda pada
video yang
baterai? Zat apa
ditayangkan
yang mengendap
pada proses
pemurnian tembaga?
Bagaimana jika
proses pelapisan
dibalik menjadi
perak yang dilapisi
86
tembaga? Mengapa
bisa terjadi
perkaratan? Reaksi
apa yang terjadi
pada korosi?)
Mengumpulkan Data
-
Guru
menginstruksikan
-
-
Siswa membaca
literatur
-
Siswa menjawab
siswa untuk
pertanyaan yang
membaca literatur
diajukan guru
Guru mengajukan
secara mandiri di
pertanyaan
kertas yang telah
mengenai:
disediakan
1. Apa saja
-
Mengumpulkan
perbedaan
jawaban di tengah
baterai sekali
meja kelompok
pakai dan
baterai isi
ulang?
2. Bagaimana cara
kerja aki pada
mobil sehingga
dapat
menggerakkan
mesin pada
mobil?
3. Bagaimana cara
untuk
menyalakan
sebuah lampu
dengan
elektroda Ag
87
dalam larutan
Ag(NO3) dan
Mg dalam
larutan
Mg(NO3)2?
4. Bagaimana
hubungan
antara sel volta
dengan baterai?
5. Apa saja contoh
sel volta dalam
kehidupan
sehari-hari?
6. Bagaimana
cara
mendapatkan
tembaga murni?
7. Bagaimana cara
mendapatkan
uang berlapis
perak dari uang
berbahan dasar
tembaga?
8. Bagaimana
hubungan
antara
pemurnian
tembaga,
pelapisan perak
pada tembaga,
dan sel
elektrolisis?
9. Bagaimana kita
88
bisa
mendapatkan
larutan KOH
dan I2 dengan
cara
elektrolisis?
10. Apa saja contoh
dari proses
elektrolisis
dalam
kehidupan?
11. Bagaimana
perbedaan sel
volta dengan sel
elektrolisis?
12. Bagaimana
proses
galvanisasi
dapat mencegah
karat pada besi?
13. Bagaimana cara
untuk
mencegah
korosi (selain
cara yang telah
disebutkan
dalam video)?
14. Apa sajakah
cara yang dapat
dilakukan untuk
menghilangkan/
mengatasi karat
pada paku yang
89
sudah terlanjur
berkarat ini?
(menunjukkan
paku berkarat)
15. Bagaimana
pengaruh posisi
logam dalam
deret volta dan
pengaruh E0
standar
terhadap proses
perkaratan?
175
Mengasosiasi
-
Menginstruksikan
-
Mendiskusikan
siswa untuk
jawaban yang paling
berdiskusi
efektif dengan cara
membandingkan
jawaban tiap orang
dalam kelompoknya
-
Menghubungkan
prinsip sel volta
dengan cara kerja aki
Diskusi
-
Memecahkan
permasalahan dengan
reaksi sel volta dan
membuktikannya
dengan potensial sel
-
Menghubungkan
prinsip sel volta
dengan baterai
-
Memberikan contoh
sel volta dalam
kehidupan
menit
90
-
Menghubungkan sel
elektrolisis dengan
pemurnian tembaga
dan pelapisan
-
Memecahkan
masalah dengan
reaksi elekrolisis
-
Memberikan contoh
elektrolisis dalam
kehidupan
-
Membedakan sel
elektrolisis dan sel
volta
-
Menganalisis fakorfaktor yang
menyebabkan korosi
-
Menyimpulkan
bahwa proses korosi
melibatkan reaksi
redoks
-
Menyimpulkan
beberapa upaya
untuk mencegah dan
mengatasi korosi
Mengkomunikasikan
-
Guru
-
Menyampaikan hasil
mempersilahkan
diskusi kelompok
siswa untuk
terkait pertanyaan
menyampaikan hasil
yang diberikan
diskusi kelompok
terkait pertanyaan
yang diberikan
91
Langkah Open-
Kegiatan Guru
Ended Problem
Kegiatan Siswa
Alokasi
waktu
Kegiatan Penutup
-
Menyimpulkan
Menginstruksikan
-
Menyimpulkan
siswa untuk
prinsip sel volta
menyimpulkan
dan sel elekrolisis
materi yang telah
dalam kehidupan
disampaikan
sehari-hari
-
15 menit
Menyimpulkan
proses terjadinya
korosi dan cara
pencegahannya
F. Penilaian, Pembelajaran Remedial dan Pengayaan
Aspek yang dinilai
Teknik Penilaian
Instrumen Penilaian
Sikap
-
Observasi
-
Lembar Observasi
Keterampilan
-
Laporan praktikum
-
Format laporan
praktikum
Pengetahuan
-
Tes Mandiri
-
Soal Open-Ended
-
Observasi
-
Lembar Observasi
G. Media/Alat, Bahan dan Sumber Belajar
Media/Alat
: Proyektor, Laptop
Bahan
: Alat Tulis, buku cetak, bahan untuk praktikum korosi
Sumber Belajar
: Sukardjo. 2009. Kimia SMA/MA Kelas XII. Jakarta: PT Bumi
Aksara.
Rahmawati, F. 2013. Elektrokimia Transformasi Energi
Kimia-Listrik. Yogyakarta: Graha Ilmu.
92
Mengetahui,
Tangsel, 20 November 2015
Wiwin Purwi I, M.Pd
NIP. 19691119 199201 2 001
Ika Humaeroh
NIM.1111016200016
93
Lembar Observasi mengenai Penilaian Sikap saat Diskusi
Indikator:
2.1.3
Membiasakan perilaku sungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas yang
diberikan
2.2.2
Membangun kerjasama dengan anggota kelompok dalam memecahkan
masalah
2.2.1
Membiasakan diri menghargai pendapat orang lain dalam diskusi
Responsif
Nama Siswa
Kerjasama
No
Tanggug
jawab
A. Berilah skor dari rentang 1-4 untuk setiap aspek pada tabel di bawah ini!
1.
2.
3.
4.
5.
...
B. Rubrik Penskoran
Aspek yang
dinilai
4
Tanggung
Jawab
siswa
mengerjakan
sendiri tugas
yang diberikan
dalam
kelompoknya
dengan
membaca
literatur, dan
menyampaikan
hasil
temuannya
3
siswa
mengerjakan
sendiri tugas
yang diberikan
dalam
kelompoknya
dengan
membaca
literatur, dan
tidak
menyampaikan
hasil temuannya
pada teman
kelompoknya
2
siswa
mengerjakan
tugas tetapi
mencontek
pekerjaan
temannya di
luar
kelompoknya
1
Tidak
mengerjakan
tugas yang
diberikan
dalam
kelompoknya
94
Kerjasama
Memecahkan
masalah
bersama dengan
membagi tugas
dan
mendiskusikann
ya
Menghargai
Mampu
memberikan
pendapat dan
menerima
pendapat orang
lain
Tidak ada
pembagian tugas
dalam
pemecahan
masalah dan
langsung
berdiskusi
kelompok
Tidak
memberikan
pendapat dan
menerima
pendapat orang
lain
Mengganggu
konsentrasi
teman
kelompoknya
saat berdiskusi
(mengobrol,
berdiskusi
sambil
melakukan
kegiatan lain)
tidak
menerima
pendapat orang
lain dengan
alasan yang
logis
Tidak mau
bekerja sama
tidak
menerima
pendapat orang
lain tanpa
alasan
95
PENILAIAN ASPEK KETERAMPILAN
Penilaian Laporan Praktikum
Indikator:
4.4.3
Membangun gagasan untuk mencegah korosi pada besi
Contoh Instrumen Laporan Praktik
No.
1.
Aspek yang dinilai
Sesuai tujuan
2.
Sesuai dengan data
3.
Benar/sesuai teori
4
Sistematika
5
Tata bahasa
Predikat
-
Sangat baik jika 5 aspek terpenuhi (90)
-
Baik jika 4 aspek terpenuhi (80)
-
Cukup jika 3 terpenuhi (70)
-
Kurang jika 2 terpenuhi (60)
-
Tdk ada (50)
96
Lampiran 2
LEMBAR OBSERVASI
KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA
Nama Siswa
:
Petunjuk Penilaian
: 1. Berilah tanda ceklis pada skor angka sesuai pengamatan
Anda
2. Untuk menentukan skor kegiatan siswa, dapat dilihat pada
rubrik keterlaksanaan kemampuan berpikir kreatif
No
1
2
3
4
5
6
7
Tipe Masalah
Open-Ended
Kegiatan Siswa
Mengemukakan pendapat
mengenai perbedaan
Mengklasifikasi
baterai sekali pakai dengan
baterai isi ulang
Mengemukakan pendapat
mengenai cara kerja aki
Menemukan
sehingga dapat
hubungan
menggerakkan mesin pada
mobil
Menjawab pertanyaan
Menemukan
mengenai hubungan sel
hubungan
volta dengan baterai
Memberikan jawaban
mengenai cara menyalakan
sebuah lampu dengan
Pengukuran
elektroda Ag dalam
AgNO3 dan elektroda Mg
dalam Mg(NO3)2
Mengemukakan pendapat
Menemukan
mengenai contoh sel volta
hubungan
dalam kehidupan
Mengemukakan pendapat
mengenai cara untuk
Menemukan
mendapatkan tembaga
hubungan
murni dengan proses
pemurnian
Mengemukakan pendapat
Menemukan
mengenai cara untuk
hubungan
mendapatkan uang berlapis
perak dari uang yang
Aspek
Berpikir
Kreatif
Fluency
Fluency
Flexibility
Flexibility
Originality
Fluency
Fluency
4
Skor
3 2 1
0
97
No
8
9
10
11
12
13
14
15
Tipe Masalah
Open-Ended
Kegiatan Siswa
berbahan dasar tembaga
dengan proses penyepuhan
Memberikan jawaban
mengenai hubungan antara
Menemukan
pemurnian tembaga,
hubungan
pelapisan perak pada
tembaga, dan sel
elektrolisis
Menemukan cara untuk
mendapatkan larutan KOH
dan padatan I2 dengan cara
Menemukan
elektrolisis, jika disediakan
hubungan
zat elektrolit berupa KI
serta elektroda C pada
katoda dan anoda
Mengemukakan pendapat
Menemukan
mengenai contoh sel
hubungan
elektrolisis dalam
kehidupan
Mengemukakan pendapat
Mengklasifikasi mengenai perbedaan sel
volta dan sel elektrolisis
Siswa memberikan
Menemukan
jawaban proses galvanisasi
hubungan
dalam pencegahan karat
Siswa menjawab cara lain
untuk mencegah korosi
(selain cara yang telah
Mengklasifikasi disebutkan dalam video:
pengecatan, melumuri
dengan oli, dan
galvanisasi)
Siswa mengajukan
Menemukan
pendapat mengenai cara
hubungan
mengatasi perkaratan pada
paku
Siswa menjawab
pertanyaan mengenai
Pengukuran
pengaruh posisi logam
dalam volta dan E0 standar
terhadap perkaratan
Aspek
Berpikir
Kreatif
Flexibility
Flexibility
Originality
Fluency
Flexibility
Fluency
Originality
Fluency
4
Skor
3 2 1
0
98
Pelajaran yang diperoleh dari hasil pengamatan/observasi :
.………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………
Nama Observer
:………………………………..
Tangerang Selatan,
Oktober 2015
Observer
(……………………………)
NIM.
Lampiran 3
RUBRIK PENILAIAN LEMBAR OBSERVASI
No
Tipe Masalah
Open-Ended
1
Mengklasifikasi
Kemampuan
Sub Definisi Aspek
Berpikir
Kemampuan
Kreatif
Berpikir Kreatif
Siswa
Fluency
Dalam waktu yang
singkat dapat
menghasilkan gagasan
atau ide tertentu dalam
jumlah yang banyak
Kegiatan Siswa
Mengemukakan pendapat
mengenai perbedaan
baterai sekali pakai dan
baterai isi ulang
Skor
4 : menjawab lebih dari satu perbedaan baterai
sekali pakai dan baterai isi ulang dalam
waktu kurang dari 5 menit dengan tepat
- jika arus listrik yang terdapat pada
baterai sekali pakai habis maka baterai
tidak bisa digunakan kembali sementara
baterai isi ulang dapat digunakan
kembali dengan menchargernya
- reaksi yang terjadi pada baterai isi ulang
adalah reaksi reversible sementara reaksi
yang terjadi pada baterai sekali pakai
adalah reaksi irreversible
- baterai sekali pakai disebut sel primer
sementara baterai yang dapat diisi ulang
disebut sel sekunder
- pada baterai isi ulang, elektron bergerak
dari anoda ke katoda saat digunakan dan
kembali ke anoda saat proses charging.
Sementara pada baterai sekali pakai,
99
No
Tipe Masalah
Open-Ended
Kemampuan
Berpikir
Kreatif
Siswa
Sub Definisi Aspek
Kemampuan
Berpikir Kreatif
Kegiatan Siswa
Skor
elektron bergerak dari anoda dan
berhenti di katoda
- baterai isi ulang dapat digunakan dalam
jangka waktu panjang sementara baterai
sekali pakai digunakan dalam jangka
waktu pendek
3: menjawab lebih dari satu perbedaan baterai
sekali pakai dan baterai isi ulang dalam
waktu kurang dari 5 menit namun salah satu
jawaban tidak tepat atau
menjawab lebih dari satu poin dalam waktu
kurang dari 5 menit namun jawaban tidak
lengkap
2 : menjawab lebih dari satu perbedaan baterai
sekali pakai dan baterai isi ulang dalam
waktu kurang dari 5 menit namun tidak ada
jawaban yang tepat atau
menjawab satu perbedaan baterai sekali
pakai dan baterai isi ulang dalam kurang
dari 5 menit dengan tepat
1 : menjawab satu perbedaan baterai sekali
100
No
2
Tipe Masalah
Open-Ended
Menemukan
hubungan
Kemampuan
Berpikir
Kreatif
Siswa
Fluency
Sub Definisi Aspek
Kemampuan
Berpikir Kreatif
Dalam waktu yang
singkat dapat
menghasilkan gagasan
atau ide tertentu dalam
jumlah yang banyak
Kegiatan Siswa
Mengemukakan pendapat
mengenai cara kerja aki
sehingga dapat
menggerakkan mesin pada
mobil
Skor
pakai dan baterai isi ulang dalam waktu
kurang dari 5 menit namun jawaban tidak
tepat
0 : tidak menjawab
4 : menjawab lebih dari satu gagasan tentang
cara kerja aki dalam waktu kurang dari 5
menit dengan tepat
- Di dalam aki terdapat larutan kimia
(H2SO4) yang dapat menggerakkan
mesin mobil,
- Terdapat lempeng Pb sebagai anoda dan
lempeng Pb yang dilapisis PbO sebagai
katoda
- Anoda Pb melepaskan elektron ke
katoda Pb yang dilapisi PbO. Pergerakan
elektron ini yang menghasilkan arus
listrik sehingga menyebabkan mobil
bergerak
3 : menjawab lebih dari satu gagasan tentang
cara kerja aki dalam waktu kurang dari 5
menit namun salah satu jawaban tidak tepat
101
No
3
Tipe Masalah
Open-Ended
Menemukan
hubungan
Kemampuan
Berpikir
Kreatif
Siswa
Flexibility
Sub Definisi Aspek
Kemampuan
Berpikir Kreatif
Kemampuan
menghasilkan
gagasan, jawaban,
atau pernyataan yang
bervariasi. Dapat
melihat suatu masalah
dari sudut pandang
yang berbeda
Kegiatan Siswa
Menjawab pertanyaan
mengenai hubungan sel
volta dengan baterai
Skor
atau
menjawab lebih dari satu poin dalam waktu
kurang dari 5 menit namun jawaban tidak
lengkap
2 : menjawab lebih dari satu gagasan tentang
cara kerja aki dalam waktu kurang dari 5
menit namun tidak ada jaaban tepat atau
menjawab satu gagasan tentang cara kerja
aki dalam waktu kurang dari 5 menit
dengan tepat
1: menjawab satu gagasan tentang cara kerja
aki dalam waktu kurang dari 5 menit namun
jawaban tidak tepat
0 : tidak menjawab
4 : menjawab pertanyaan dengan lengkap dan
tepat
- Dalam reaksi sel volta dan baterai,
elektron mengalir dari anoda ke katoda
atau
- Pada baterai anoda merupakan kutub
negatif dan mengalami oksidasi
102
No
4
Tipe Masalah
Open-Ended
Pengukuran
Kemampuan
Berpikir
Kreatif
Siswa
Flexibility
Sub Definisi Aspek
Kemampuan
Berpikir Kreatif
Kemampuan
menghasilkan
gagasan, jawaban,
atau pernyataan yang
bervariasi. Dapat
melihat suatu masalah
dari sudut pandang
yang berbeda
Kegiatan Siswa
Skor
sedangkan katoda merupakan kutub
positif dan mengalami reduksi sama
halnya seperti pada sel volta
3 : menjawab dengan tepat namun tidak
lengkap
2 : memberikan jawaban selain yang terdapat
pada poin dan jawaban tepat
1 : jawaban tidak tepat
0 : tidak memberikan jawaban
Memberikan jawaban
4 : dapat membuat reaksi sel volta dengan
mengenai cara menyalakan
tepat dan lengkap dalam waktu kurang dari
sebuah lampu dengan
5 menit
elektroda Ag dalam
A (-) : Mg  Mg2+ + 2e- E0 = 2,37
AgNO3 dan elektroda Mg
K (+) : 2Ag+ + 2e-  2Ag E0 = 0,80
dalam Mg(NO3)2
E0sel = 3,17 V
Karena potensial sel bernilai positif, reaksi
berlangsung spontan dan menghasilkan arus
sehingga lampu dapat menyala
3 : dapat membuat reaksi sel volta dengan
tepat namun kurang lengkap
2 : dapat membuktikan dengan reaksi spontan
103
No
Tipe Masalah
Open-Ended
Kemampuan
Berpikir
Kreatif
Siswa
5
Menemukan
hubungan
Originality
6
Menemukan
hubungan
Fluency
Sub Definisi Aspek
Kemampuan
Berpikir Kreatif
Kegiatan Siswa
Memberikan gagasan
yang langka,
kemampuan untuk
melihat hubunganhubungan baru atau
kombinasi baru antar
bermacam-macam
unsur atau bagian
Mengemukakan pendapat
mengenai contoh sel volta
dalam kehidupan
Dalam waktu yang
singkat dapat
Mengemukakan pendapat
mengenai cara untuk
Skor
berdasarkan deret volta (Mg|Mg2+|| Ag+|Ag)
atau memposisikan Mg sebagai anoda
(oksidasi) dan Ag sebagai katoda (reduksi)
1 : jawaban tidak tepat
0 : tidak membuat reaksi
4 : mengemukakan gagasan yang jarang
dikemukakan oleh kebanyakan siswa tetapi
sesuai dengan prinsip sel volta (contoh:
mobil listrik atau sel surya)
3 : mengemukakan gagasan yang umum
dengan tepat (jawaban dikemukakan oleh
banyak siswa) namun tidak terpaku pada
buku teks
2 : mengemukakan jawaban tentang prinsip sel
elektrolisis yang terpaku pada buku teks
(contoh: aki, baterai, sel merkuri oksida-Zn,
dan bahan bakar fuel cell/sel bahan bakar)
1 : jawaban tidak tepat
0 : tidak mengemukakan gagasan
4 : menjawab lebih dari satu gagasan untuk
mendapatkan tembaga murni dengan proses
104
No
Tipe Masalah
Open-Ended
Kemampuan
Berpikir
Kreatif
Siswa
Sub Definisi Aspek
Kemampuan
Berpikir Kreatif
Kegiatan Siswa
menghasilkan gagasan mendapatkan tembaga
atau ide tertentu dalam murni dengan proses
jumlah yang banyak
pemurnian
Skor
pemurnian kurang dari 5 menit dan jawaban
tepat
- Pemurnian tembaga dilakukan dengan
menggunakan larutan CuSO4
- Menempatkan Cu tidak murni sebagai
anoda dan Cu murni sebagai katoda
- Cu tidak murni ditempatkan pada kutub
(+) dan Cu murni ditempatkan pada
kutub (-)
- Ion Cu2+ dari larutan bereaksi dengan
elektron di katoda membentuk Cu
3: menjawab lebih dari satu gagasan untuk
mendapatkan tembaga murni dengan proses
pemurnian dalam waktu kurang dari 5
menit namun salah satu jawaban tidak tepat
atau
menjawab lebih dari satu poin dalam waktu
kurang dari 5 menit namun jawaban tidak
lengkap
2 : menjawab lebih dari satu gagasan untuk
mendapatkan tembaga murni dengan proses
105
No
7
Tipe Masalah
Open-Ended
Menemukan
hubungan
Kemampuan
Berpikir
Kreatif
Siswa
Fluency
Sub Definisi Aspek
Kemampuan
Berpikir Kreatif
Dalam waktu yang
singkat dapat
menghasilkan gagasan
atau ide tertentu dalam
jumlah yang banyak
Kegiatan Siswa
Mengemukakan pendapat
mengenai cara untuk
mendapatkan uang
berlapis perak dari uang
yang berbahan dasar
tembaga dengan proses
penyepuhan
Skor
pemurnian dalam waktu kurang dari 5
menit namun tidak ada jawaban yang tepat
atau
menjawab satu gagasan untuk mendapatkan
tembaga murni dengan proses pemurnian
dalam kurang dari 5 menit dengan tepat
1 : menjawab satu gagasan untuk mendapatkan
tembaga murni dengan proses pemurnian
dalam waktu kurang dari 5 menit namun
jawaban tidak tepat
0 : tidak menjawab
4 : menjawab lebih dari satu gagasan untuk
mendapatkan uang berlapis perak dari uang
yang berbahan dasar tembaga dalam waktu
kurang dari 5 menit dengan tepat
- Pelapisan perak pada tembaga
menggunakan larutan AgNO3
- Menempatkan Ag pada kutub (+) dan
Cu pada kutub (-)
- Menempatkan Ag sebagai anoda dan
Cu sebagai katoda
- Ion Ag+ dari larutan AgNO3 akan
106
No
Tipe Masalah
Open-Ended
Kemampuan
Berpikir
Kreatif
Siswa
Sub Definisi Aspek
Kemampuan
Berpikir Kreatif
Kegiatan Siswa
Skor
bereaksi dengan elektron dan melapisi
Cu pada katoda
3: menjawab lebih dari satu gagasan untuk
mendapatkan uang berlapis perak dari uang
yang berbahan dasar tembaga dalam waktu
kurang dari 5 menit namun salah satu
jawaban tidak tepat atau
menjawab lebih dari satu poin dalam waktu
kurang dari 5 menit namun jawaban tidak
lengkap
2 : menjawab lebih dari satu gagasan untuk
mendapatkan uang berlapis perak dari uang
yang berbahan dasar tembaga dalam waktu
kurang dari 5 menit namun tidak ada
jawaban yang tepat atau
menjawab satu gagasan untuk mendapatkan
uang berlapis perak dari uang yang
berbahan dasar tembaga dalam kurang dari
5 menit dengan tepat
1 : menjawab satu gagasan untuk mendapatkan
uang berlapis perak dari uang yang
107
No
8
Tipe Masalah
Open-Ended
Menemukan
hubungan
Kemampuan
Berpikir
Kreatif
Siswa
Flexibility
Sub Definisi Aspek
Kemampuan
Berpikir Kreatif
Kemampuan
menghasilkan
gagasan, jawaban,
atau pernyataan yang
bervariasi. Dapat
melihat suatu masalah
dari sudut pandang
yang berbeda
Kegiatan Siswa
Mengemukakan pendapat
mengenai hubungan
pemurnian tembaga,
pelapisan perak oleh
tembaga, dan prinsip sel
elektrolisis
Skor
berbahan dasar tembaga dalam waktu
kurang dari 5 menit namun jawaban tidak
tepat
0 : tidak menjawab
4 : menjelaskan dengan lengkap dan tepat
mengenai hubungan antara pemurnian
tembaga dan pelapisan logam dengan sel
elektrolisis
- Sama-sama membutuhkan sumber arus
listrik atau
- prinsip sama dengan sel elektrolisis
karena kutub positif bertindak sebagai
anoda dan kutub negatif bertindak
sebagai katoda
- ion positif dari larutan/zat elektrolit
bereaksi di katoda
3 : menjawab dengan tepat namun tidak
lengkap
2 : memberikan jawaban selain yang terdapat
pada poin dan jawaban tepat
1 : jawaban tidak tepat
108
No
Tipe Masalah
Open-Ended
Kemampuan
Berpikir
Kreatif
Siswa
Sub Definisi Aspek
Kemampuan
Berpikir Kreatif
Kegiatan Siswa
9
Menemukan
hubungan
Flexibility
Kemampuan
menghasilkan
gagasan, jawaban,
atau pernyataan yang
bervariasi. Dapat
melihat suatu masalah
dari sudut pandang
yang berbeda
Menemukan cara untuk
mendapatkan larutan KOH
dan padatan I2 dengan cara
elektrolisis, jika
disediakan zat elektrolit
berupa KI serta elektroda
C pada katoda dan anoda
10
Menemukan
hubungan
Originality
Memberikan gagasan
yang langka,
kemampuan untuk
melihat hubunganhubungan baru atau
kombinasi baru antar
bermacam-macam
Mengemukakan pendapat
mengenai contoh sel
elektrolisis dalam
kehidupan
Skor
0 : tidak memberikan jawaban
4 : menuliskan reaksi sel elektrolisis dalam
waktu kurang dari 5 menit dengan reaksi
sebagai berikut:
KI(aq)  K+ + IK (-) : 2H2O + 2e-  2OH- + H2
A (+): 2I-  I2 + 2eReaksi sel: 2KI + 2H2O  2K+ + 2OH- + H2
+ I2 atau
2KI + 2H2O  2KOH-+ H2 + I2
3 : dapat membuat reaksi sel elektrolisis
dengan tepat namun kurang lengkap
2 : dapat membuat reaksi yang lengkap namun
kurang tepat
1 : jawaban tidak tepat
0 : tidak membuat reaksi
4 : mengemukakan gagasan yang jarang
dikemukakan oleh kebanyakan siswa tetapi
masuk dalam konteks contoh sel elektrolisis
dalam kehidupan (contoh: elektrolisis air
laut untuk menghasilkan klorin dan NaOH,
menghilangkan karat dengan proses
109
No
Tipe Masalah
Open-Ended
Kemampuan
Berpikir
Kreatif
Siswa
Sub Definisi Aspek
Kemampuan
Berpikir Kreatif
Kegiatan Siswa
unsur atau bagian
11
Mengklasifikasi
Fluency
Dalam waktu yang
Mengemukakan pendapat
singkat dapat
mengenai perbedaan sel
menghasilkan gagasan volta dan sel elektrolisis
atau ide tertentu dalam
jumlah yang banyak
Skor
elektrolisis)
3 : mengemukakan gagasan yang umum
dengan tepat (jawaban dikemukakan oleh
banyak siswa) namun tidak terpaku pada
buku teks (contoh: proses Hall Heroult)
2 : mengemukakan jawaban tentang prinsip sel
elektrolisis yang terpaku pada buku teks
1 : jawaban tidak tepat
0 : tidak mengemukakan gagasan
4 : menjawab lebih dari satu perbedaan sel
volta dan sel elektrolisis dalam waktu
kurang dari 5 menit dengan tepat
- pada sel volta terjadi perubahan energi
kimia menjadi energi listrik sementara
pada sel elektrolisis terjadi perubahan
energi listrik menjadi energi kimia
- pada sel volta anoda merupakan kutub
negatif dan katoda merupakan kutub
positif sementara pada sel elektrolisis
anoda merupakan kutub positif dan
katoda merupakan kutub negatif
110
No
Tipe Masalah
Open-Ended
Kemampuan
Berpikir
Kreatif
Siswa
Sub Definisi Aspek
Kemampuan
Berpikir Kreatif
Kegiatan Siswa
Skor
-
reaksi pada sel volta merupakan reaksi
spontan sementara reaksi pada sel
elektrolisis merupakan reaksi tidak
spontan
- pada sel volta terdapat jembatan garam
sementara pada tidak terdapat sel
elektrolisis
3: menjawab lebih dari satu perbedaan sel
volta dan sel elektrolisis dalam waktu
kurang dari 5 menit namun salah satu
jawaban tidak tepat atau
menjawab lebih dari satu poin dalam waktu
kurang dari 5 menit namun jawaban tidak
lengkap
2 : menjawab lebih dari satu perbedaan sel
volta dan sel elektrolisis dalam waktu
kurang dari 5 menit namun tidak ada
jawaban yang tepat atau
menjawab satu perbedaan sel volta dan sel
elektrolisis dalam waktu kurang dari 5
menit dengan tepat
111
No
Tipe Masalah
Open-Ended
Kemampuan
Berpikir
Kreatif
Siswa
12
Menemukan
hubungan
Flexibility
13
Mengklasifikasi
Fluency
Sub Definisi Aspek
Kemampuan
Berpikir Kreatif
Kegiatan Siswa
Skor
1 : menjawab satu perbedaan sel volta dan sel
elektrolisis dalam waktu kurang dari 5
menit namun jawaban tidak tepat
0 : tidak menjawab
Kemampuan
Siswa memberikan
4 : menjawab pertanyaan dengan lengkap dan
menghasilkan
jawaban proses galvanisasi
tepat
gagasan, jawaban,
dalam pencegahan karat
- Pada proses galvanisasi, logam yang
atau pernyataan yang
lebih mudah teroksidasi misalnya Zn
bervariasi. Dapat
menjadi anoda dan Fe menjadi katoda
melihat suatu masalah
sehingga Zn yang akan mengalami
dari sudut pandang
perkaratan
yang berbeda
3 : menjawab dengan tepat namun tidak
lengkap
2 : memberikan jawaban selain yang terdapat
pada poin dan jawaban tepat
1 : jawaban tidak tepat
0 : tidak memberikan jawaban
Dalam waktu yang
Siswa menjawab cara lain 4 : menjawab lebih dari satu cara lain untuk
singkat dapat
untuk mencegah korosi
mencegah korosi dalam waktu kurang dari
menghasilkan gagasan (selain cara yang telah
5 menit dan jawaban tepat
atau ide tertentu dalam disebutkan dalam video:
- Pelapisan dengan timah melalui proses
jumlah yang banyak
pengecatan, melumuri
112
No
Tipe Masalah
Open-Ended
Kemampuan
Berpikir
Kreatif
Siswa
Sub Definisi Aspek
Kemampuan
Berpikir Kreatif
Kegiatan Siswa
dengan oli, dan
galvanisasi)
Skor
elektrolisis
- Pelapisan dengan kromium melalui
proses elektrolisis
- Pengorbanan anoda
- Mengubah kondisi lingkungan
3: menjawab lebih dari satu cara lain untuk
mencegah korosi dalam waktu kurang dari
5 menit namun salah satu jawaban tidak
tepat atau
menjawab lebih dari satu poin dalam waktu
kurang dari 5 menit namun jawaban tidak
lengkap
2 : menjawab lebih dari satu cara lain untuk
mencegah korosi dalam waktu kurang dari
5 menit namun tidak ada jawaban yang
tepat atau
menjawab satu cara untuk mencegah korosi
dalam waktu kurang dari 5 menit dengan
tepat
1 : menjawab satu cara untuk mencegah
korosi dalam waktu kurang dari 5 menit
113
No
14
Tipe Masalah
Open-Ended
Menemukan
hubungan
Kemampuan
Berpikir
Kreatif
Siswa
Originality
Sub Definisi Aspek
Kemampuan
Berpikir Kreatif
Memberikan gagasan
yang langka,
kemampuan untuk
melihat hubunganhubungan baru atau
kombinasi baru antar
bermacam-macam
unsur atau bagian
Kegiatan Siswa
Siswa mengajukan
pendapat mengenai cara
mengatasi perkaratan pada
paku yang ditunjukkan
oleh guru
Skor
namun jawaban tidak tepat
0 : tidak menjawab
4 : menemukan cara baru untuk
menghilangkan karat
- menghilangkan karat dengan cara
elektrolisis
- menghilangkan karat dengan
mencampurkan lemon dengan soda kue
dan mengoleskan pada paku
3 : menemukan cara untuk menghilangkan
karat dengan proses
- merendam paku dalam larutan cuka
- merendam paku dalam larutan bersoda
2 : menemukan cara untuk menghilangkan
karat dengan
- menggunakan cairan penghilang karat
- menggunakan amplas/sikat untuk
menghilangkan karat
- mengecat kembali paku
1 : jawaban yang diberikan tidak tepat
0 : tidak menjawab
114
No
Tipe Masalah
Open-Ended
15
Pengukuran
Kemampuan
Sub Definisi Aspek
Berpikir
Kemampuan
Kreatif
Berpikir Kreatif
Siswa
Fluency
Dalam waktu yang
singkat dapat
menghasilkan gagasan
atau ide tertentu dalam
jumlah yang banyak
Kegiatan Siswa
Siswa menjawab
pertanyaan mengenai
pengaruh posisi logam
dalam deret volta dan E0
standar terhadap
perkaratan
Skor
4 : menjawab lebih dari satu gagasan pengaruh
posisi logam dalam deret volta terhadap
perkaratan dalam waktu kurang dari 5 menit
dan jawaban benar
- dalam deret volta logam yang terletak
sebelah kiri memiliki potensial reduksi
lebih kecil dari logam di sebelah kanan
sehingga logam sebelah kiri lebih
mudah mengalami karat (E0Zn = -0,76
lebih kecil dari E0Fe = -0,44)
- potensi reduksi yang lebih kecil pada
logam sebelah kiri membuat logam
lebih mudah teroksidasi sehingga logam
mudah berkarat
- dalam deret volta dari kiri ke kanan
kereaktifan logam terhadap asam
semakin kecil sehingga logam sebelah
kanan lebih sulit mengalami perkaratan
3: menjawab lebih dari satu gagasan
pengaruh posisi logam dalam deret volta
terhadap perkaratan dalam waktu kurang
115
No
Tipe Masalah
Open-Ended
Kemampuan
Berpikir
Kreatif
Siswa
Sub Definisi Aspek
Kemampuan
Berpikir Kreatif
Kegiatan Siswa
Skor
dari 5 menit namun salah satu jawaban
tidak tepat atau
menjawab lebih dari satu poin dalam waktu
kurang dari 5 menit namun jawaban tidak
lengkap
2 : menjawab lebih dari satu gagasan pengaruh
posisi logam dalam deret volta terhadap
perkaratan dalam waktu kurang dari 5 menit
namun tidak tepat
1 : menjawab hanya satu gagasan pengaruh
posisi logam dalam deret volta terhadap
perkaratan dalam waktu kurang dari 5 menit
dan jawaban tidak tepat
0 : tidak menjawab
116
Tangerang Selatan, 21 Oktober 2015
Validator
(
)
117
Lampiran 4
KISI-KISI INSTRUMEN SOAL
Jenis Sekolah
: SMA
Mata Pelajaran
: Kimia
Materi
: Elektrokimia
Alokasi waktu
: 180 menit
Jumlah Soal
: 16
Bentuk Soal
: Essay
Kompetensi
Indikator
Dasar
Pembelajaran
Indikator Soal
Tipe Masalah
Open-Ended
Aspek
Masalah
Berpikir
Open-Ended
Kreatif
mengklasifika
Fluency,
No
Butir Soal
Soal
3.3 Mengevaluasi
Menghubungkan Membedakan
gejala atau proses
proses yang
baterai sekali
sikan
Flexibility,
bukan
yang terjadi
terjadi dalam sel
pakai dan baterai
berdasarkan
Originality
asing lagi. Setiap orang
dalam contoh sel
volta dengan
isi ulang
karakteristik
dapat
elektrokimia (sel
kehidupan
yang berbeda
melalui handphone. Jika
volta dan sel
sehari-hari
dari
handphone
elektrolisis) yang
Mengklasifikasi
Definisi Tipe
suatu
objek tertentu
1
Saat ini handphone sudah
menjadi
barang
berkomunikasi
mati
akibat
kehabisan baterai, cukup
118
Kompetensi
Indikator
Dasar
Pembelajaran
Indikator Soal
Tipe Masalah
Open-Ended
Definisi Tipe
Aspek
Masalah
Berpikir
Open-Ended
Kreatif
No
Butir Soal
Soal
digunakan dalam
mencharger
kehidupan.
tersebut
handphone
sehingga
handphone dapat menyala
kembali. Berbeda dengan
baterai pada jam dinding
yang
tidak
dapat
diisi
ulang ketika jam mati.
Berikan
tanggapanmu
mengenai perbedaan dari
kedua
jenis
baterai
tersebut!
Menjelaskan
Menemukan
menemukan
Fluency,
2
Mesya memiliki hobi
penyebab iritasi
hubungan
beberapa
Flexibility,
mengoleksi anting-anting
kulit akibat emas
aturan atau
Originality
yang terbuat dari emas.
imitasi
hubungan
Suatu hari Mesya merasa
gatal pada telinganya dan
119
Kompetensi
Indikator
Dasar
Pembelajaran
Indikator Soal
Tipe Masalah
Open-Ended
Definisi Tipe
Aspek
Masalah
Berpikir
Open-Ended
Kreatif
No
Soal
Butir Soal
muncul ruam merah.
Setelah mengecek di toko
emas, ternyata anting
Mesya terbuat dari emas
yang tidak murni (emas
imitasi). Emas imitasi ini
merupakan campuran
emas dengan logam lain.
Mengapa emas imitasi
dapat menyebabkan iritasi
pada kulit?
Menghubungkan Menemukan
Menemukan
menemukan
proses yang
gagasan untuk
hubungan
beberapa
Flexibility,
emas di sebuah pasar.
terjadi dalam sel
merawat logam
aturan atau
Originality
Suatu hari, pelanggan Pak
elektrolisis
emas
hubungan
dengan
Fluency,
3
Pak Budi mempunyai toko
Budi ingin cincin emasnya
terlihat seperti baru dengan
120
Kompetensi
Indikator
Dasar
Pembelajaran
Indikator Soal
Tipe Masalah
Open-Ended
Definisi Tipe
Aspek
Masalah
Berpikir
Open-Ended
Kreatif
No
Butir Soal
Soal
kehidupan
warna emas yang lebih
sehari-hari
berkilau.
Apa
yang
seharusnya dilakukan oleh
Pak Budi untuk membuat
cincin
emas
menjadi
seperti
yang
diinginkan
oleh
pelanggannya
tersebut?
Menemukan cara
Menemukan
menemukan
Fluency,
4
Budi
untuk
hubungan
beberapa
Flexibility,
kunci yang sudah tidak
meningkatkan
aturan atau
Originality
menarik lagi karena pada
kualitas logam
hubungan
kunci
memiliki
tersebut
sebuah
terdapat
banyak goresan dan warna
yang sudah pudar. Jika
Budi ingin membuat kunci
tersebut
menjadi
lebih
121
Kompetensi
Indikator
Dasar
Pembelajaran
Indikator Soal
Tipe Masalah
Open-Ended
Definisi Tipe
Aspek
Masalah
Berpikir
Open-Ended
Kreatif
No
Butir Soal
Soal
menarik, apa cara yang
dapat
dilakukan
oleh
Budi?
4.3 Menciptakan
Menemukan
Merancang alat
Pengukuran
menentukan
Fluency,
5
Bagaimana cara membuat
ide/gagasan/produ gagasan
untuk membuat
ukuran-
Flexibility,
lampu
menyala
jika
k sel elektrokimia
mengenai
sebuah lampu
ukuran
Originality
disediakan
produk sel volta
menyala dan
numerik dari
seperti: jeruk nipis, paku
menentukan
suatu
seng,
potensial selnya
kejadian
tembaga,
bahan-bahan
uang
logam
kabel, lampu
kecil dan multitester (jika
dibutuhkan)?
Bagaimana
potensial sel pada reaksi
tersebut?
Membuat gagasan Mengklasifikasi
mengklasifika
Fluency,
6
Fuel cell merupakan bahan
mengenai
sikan
Flexibility,
bakar
penyebab
berdasarkan
Originality
yang dampak negatifnya
pengganti
BBM
122
Kompetensi
Indikator
Dasar
Pembelajaran
Indikator Soal
Tipe Masalah
Open-Ended
Definisi Tipe
Aspek
Masalah
Berpikir
Open-Ended
Kreatif
No
Butir Soal
Soal
perbedaan fuel
karakteristik
terhadap
cell dengan bahan
yang berbeda
sangat kecil karena dapat
bakar biasa
dari
mengurangi polusi udara.
suatu
objek tertentu
lingkungan
Berbeda
dengan
bahan
bakar pada umumnya yang
mengakibatkan
udara.
Apa
bahan
bakar
berbeda
polusi
penyebab
fuel
dengan
cell
bahan
bakar pada umumnya?
Menemukan
Mengemukakan
gagasan
gagasan mengenai hubungan
beberapa
Flexibility,
salah satu bahan penyusun
mengenai
proses pemurnian
aturan atau
Originality
kabel.
Berdasarkan
produk sel
tembaga
hubungan
proyeksi
Kementrian
elektrolisis
Menemukan
menemukan
Fluency,
7
Tembaga
murni
adalah
Perindustrian,
Indonesia
membutuhkan
sedikitnya
123
Kompetensi
Indikator
Dasar
Pembelajaran
Indikator Soal
Tipe Masalah
Open-Ended
Definisi Tipe
Aspek
Masalah
Berpikir
Open-Ended
Kreatif
No
Butir Soal
Soal
1,68 juta ton
murni
tembaga
pertahun.
Kebanyakan tembaga yang
tersedia adalah tembaga
dalam bentuk bijih atau
tembaga yang tidak murni
(mengandung
campuran
logam lain). Bagaimana
proses
untuk
yang
dilakukan
mendapatkan
tembaga murni?
Mengemukakan
Menemukan
menemukan
Fluency,
8
senyawa
Cl2
memiliki
gagasan mengenai hubungan
beberapa
Flexibility,
banyak kegunaan, salah
cara mendapatkan
aturan atau
Originality
satunya yaitu digunakan
gas Cl2 secara
hubungan
kimiawi
untuk karet sintesis. Ada
banyak
cara
untuk
124
Kompetensi
Indikator
Dasar
Pembelajaran
Indikator Soal
Tipe Masalah
Open-Ended
Definisi Tipe
Aspek
Masalah
Berpikir
Open-Ended
Kreatif
No
Butir Soal
Soal
memproduksi senyawa Cl2
secara
kimiawi
.
Apa
sajakah cara yang bisa
dilakukan
untuk
menghasilkan senyawa Cl2
tersebut?
3.4 Menganalisis
Menganalisis
Membandingkan
faktor-faktor yang faktor-faktor
logam emas dan
sikan
Flexibility,
merupakan
mempengaruhi
besi serta
berdasarkan
Originality
dapat
bertahan
terjadinya korosi
pengaruhnya
karakteristik
jangka
waktu
dan mengajukan
terhadap korosi
yang berbeda
tanpa
ide/gagasan untuk
dari
kerusakan.
mengatasinya
objek tertentu
penyebab korosi
Mengklasifikasi
mengklasifika
suatu
Fluency,
9
Logam
emas
(Au)
logam
yang
dalam
panjang
mengalami
Berbeda
dengan pagar besi (Fe)
yang
sangat
mengalami
pada
mudah
perubahan
tampilannya.
125
Kompetensi
Indikator
Dasar
Pembelajaran
Indikator Soal
Tipe Masalah
Open-Ended
Definisi Tipe
Aspek
Masalah
Berpikir
Open-Ended
Kreatif
No
Butir Soal
Soal
Berikanlah
pendapat
mengenai
penyebab
terjadinya perbedaan pada
kedua
jenis
logam
tersebut!
Mengemukakan
Menemukan
menemukan
penyebab karat
hubungan
beberapa
Flexibility,
memasak makanan sendiri
aturan atau
Originality
untuk keluarganya. Dalam
pada pisau
hubungan
Fluency,
10
Ibu Aida memiliki hobi
hal
memotong
bahan
makanan, Bu Aida selalu
menggunakan
sebuah
pisau yang disimpan di
dapur. Namun ketika akan
digunakan, terdapat bercak
karat pada pisau tersebut.
Apa
yang
menjadi
126
Kompetensi
Indikator
Dasar
Pembelajaran
Indikator Soal
Tipe Masalah
Open-Ended
Definisi Tipe
Aspek
Masalah
Berpikir
Open-Ended
Kreatif
No
Butir Soal
Soal
penyebab pisau tersebut
berkarat?
Menganalisis
Menghubungkan
Menemukan
menemukan
cara untuk
proses
hubungan
beberapa
Flexibility,
dari
mengatasi
elektrokimia
aturan atau
Originality
bersentuhan
korosi
dengan cara
hubungan
mengatasi korosi
Fluency,
11
Badan kapal yang terbuat
besi
selalu
dengan
laut,
air
sehingga
menyebabkan
terjadinya
perkaratan dengan cepat.
Namun, ketika komposisi
badan kapal ditambahkan
material
logam
seng,
proses perkaratan menjadi
terhambat.
gagasan
penyebab
Berikan
mengenai
badan
kapal
127
Kompetensi
Indikator
Dasar
Pembelajaran
Indikator Soal
Tipe Masalah
Open-Ended
Definisi Tipe
Aspek
Masalah
Berpikir
Open-Ended
Kreatif
No
Butir Soal
Soal
dapat
terlindungi
oleh
logam seng tersebut!
Menganalisis cara
Menemukan
menemukan
untuk mengatasi
hubungan
beberapa
Flexibility,
lulusan
teknik
elektro.
karat dengan alat
aturan atau
Originality
Ketika
Dia
akan
dan bahan yang
hubungan
tersedia
Fluency,
12
Pak
Andi
merupakan
menggunakan paku untuk
memajang lukisan,
paku
tersebut
berkarat.
Karat
pada
paku
harus
dihilangkan
terlebih
dahulu
sebelum
digunakan. Jika tersedia
alat dan bahan sebagai
berikut: catu daya, kabel,
logam timah, larutan soda
kue,
minuman bersoda,
128
Kompetensi
Indikator
Dasar
Pembelajaran
Indikator Soal
Tipe Masalah
Open-Ended
Definisi Tipe
Aspek
Masalah
Berpikir
Open-Ended
Kreatif
No
Butir Soal
Soal
amplas,
sikat
kawat,
kentang, jeruk lemon. Apa
yang dapat dilakukan oleh
Pak Andi?
4.4 Mengajukan
Membangun
Membangun ide
Menemukan
menemukan
ide/gagasan untuk
gagasan untuk
untuk mencegah
hubungan
beberapa
Flexibility,
akan menghasilkan bunyi
mencegah dan
mencegah
perkaratan
aturan atau
Originality
ketika
mengatasi
korosi pada besi
terjadinya korosi
hubungan
Fluency,
13
Engsel pintu yang berkarat
dibuka
ditutup.
Agar
mengulangi
serupa
ataupun
tidak
kejadian
kita
mengantisipasi
harus
hal
tersebut. Apa yang harus
dilakukan
menghindari
untuk
perkaratan
pada engsel pintu tersebut?
129
Kompetensi
Indikator
Dasar
Pembelajaran
Indikator Soal
Tipe Masalah
Open-Ended
Definisi Tipe
Aspek
Masalah
Berpikir
Open-Ended
Kreatif
Fluency,
No
Butir Soal
Soal
Membangun ide
Menemukan
menemukan
untuk mencegah
hubungan
beberapa
Flexibility,
yang terbuat dari besi akan
aturan atau
Originality
mengalami
perkaratan
14
hubungan
Pada saat
hujan, pagar
kontak
langsung dengan oksigen
dalam air hujan. Hal ini
dapat mempercepat proses
perkaratan.
Menurutmu,
bagaimana cara mencegah
perkaratan
pada
pagar
tersebut?
Membangun
Menciptakan cara
Menemukan
menemukan
gagasan untuk
untuk mengatasi
hubungan
beberapa
Flexibility,
untuk menggunting sebuah
mengatasi
korosi dengan
aturan atau
Originality
kertas
korosi pada besi
benda-benda di
hubungan
sekitar
Fluency,
15
Ema mendapatkan tugas
putih.
Namun
gunting yang dimiliki Ema
sangat
digunakan
berkarat.
Jika
untuk
130
Kompetensi
Indikator
Dasar
Pembelajaran
Indikator Soal
Tipe Masalah
Open-Ended
Definisi Tipe
Aspek
Masalah
Berpikir
Open-Ended
Kreatif
No
Butir Soal
Soal
menggunting kertas, maka
akan meninggalkan bekas
pada kertas tersebut. Jika
Ema
memanfaatkan
bahan-bahan
atau
peralatan yang mungkin
tersedia di rumah atau di
lingkungan
sekitar
Apa
yang dapat Ema lakukan
untuk
karat
menghilangkan
pada
gunting
tersebut?
Membuat solusi
Menemukan
menemukan
Fluency,
16
Sebuah kursi di taman
untuk
hubungan
beberapa
Flexibility,
seharusnya dapat menjadi
permasalahan
aturan atau
Originality
tempat
mengenai
hubungan
istirahat
atau
tempat yang nyaman untuk
131
Kompetensi
Indikator
Dasar
Pembelajaran
Indikator Soal
Tipe Masalah
Open-Ended
Definisi Tipe
Aspek
Masalah
Berpikir
Open-Ended
Kreatif
No
Butir Soal
Soal
penurunan
menikmati
kualitas tampilan
Namun
kursi akibat karat
tersebut
udara
saat
ini,
segar.
kursi
sudah
tidak
tersentuh
lagi
oleh
manusia.
Hal
ini
disebabkan
oleh
penurunan tampilan pada
kursi
yang
memiliki
bercak karat dan warna
yang kusam.
tersebut
Agar kursi
dimanfaatkan
kembali, apa saja cara
yang bisa dilakukan untuk
mengatasi hal tersebut?
132
Lampiran 5
HASIL VALIDASI INSTRUMEN SOAL
Judul Penelitian
Tujuan
Nama Peneliti
: Analisis Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa pada Materi Elektrokimia melalui Model Open-Ended Problems
: Mengetahui kemampuan berpikir kreatif siswa pada materi elektrokimia melalui Model Open-Ended Problems
: Ika Humaeroh
Petunjuk:
1. Jawab pertanyaan tersebut dengan jelas dan lengkap!
2. Waktu yang digunakan untuk menjawab setiap soal maksimal 5 menit
Kompetensi Dasar
3.3 Mengevaluasi gejala
Aspek
No
Indikator
Soal
Soal
Menghubungkan
1*
Berpikir
Kreatif
Saat ini handphone sudah bukan menjadi barang
Fluency,
atau proses yang terjadi
proses
yang
terjadi
asing lagi. Setiap orang dapat berkomunikasi
Flexibility,
dalam contoh sel
dalam
sel
volta
melalui handphone. Jika handphone mati akibat
Originality
elektrokimia (sel volta
dengan
dan sel elektrolisis)
sehari-hari
kehidupan
kehabisan
baterai,
cukup
mencharger
handphone tersebut sehingga handphone dapat
yang digunakan dalam
menyala kembali. Berbeda dengan baterai pada
kehidupan.
jam dinding yang tidak dapat diisi ulang ketika
133
jam mati. Berikan tanggapanmu mengenai
perbedaan dari kedua jenis baterai tersebut!
Mesya memiliki hobi mengoleksi anting-anting
yang terbuat dari emas. Suatu hari
2*
Mesya merasa gatal pada telinganya dan muncul
ruam merah. Setelah mengecek di toko emas,
Fluency,
ternyata anting Mesya terbuat dari emas yang
Flexibility,
tidak murni (emas imitasi). Emas imitasi ini
Originality
merupakan campuran emas dengan logam lain.
Mengapa emas imitasi dapat menyebabkan iritasi
pada kulit?
Menghubungkan
proses
yang
Pak Budi mempunyai toko emas di sebuah pasar.
Flexibility,
dalam sel elektrolisis
emasnya terlihat seperti baru dengan warna emas
Originality
dengan
yang lebih berkilau. Apa yang seharusnya
kehidupan
Suatu hari,
Fluency,
pelanggan Pak Budi ingin cincin
sehari-hari
terjadi
3*
dilakukan oleh Pak Budi untuk membuat cincin
emas
menjadi seperti yang diinginkan oleh
pelanggannya tersebut?
134
4*
Tembaga
murni
penyusun
adalah
kabel.
Kementrian
salah
satu
Berdasarkan
Perindustrian,
bahan
Fluency,
proyeksi
Flexibility,
Indonesia
Originality
membutuhkan sedikitnya 1,68 juta ton tembaga
murni pertahun. Kebanyakan tembaga yang
tersedia adalah tembaga dalam bentuk bijih atau
tembaga
yang
tidak
murni
(mengandung
campuran logam lain). Bagaimana proses yang
dilakukan untuk mendapatkan tembaga murni?
4.3 Menciptakan
Menemukan gagasan
5*
Bagaimana cara membuat lampu menyala jika
Fluency,
ide/gagasan/produk sel
mengenai produk sel
disediakan
bahan-bahan seperti: 6 buah jeruk
Flexibility,
elektrokimia
volta
nipis, paku seng, uang logam tembaga, kabel,
Originality
lampu kecil dan multitester (jika dibutuhkan)?
6*
Bagaimana potensial sel pada reaksi tersebut?
Fluency,
Fuel cell merupakan bahan bakar pengganti
Flexibility,
BBM
Originality
yang
dampak
negatifnya
terhadap
135
lingkungan
sangat
kecil
karena
dapat
mengurangi polusi udara. Berbeda dengan bahan
bakar pada umumnya yang mengakibatkan polusi
udara. Apa penyebab bahan bakar fuel cell
berbeda dengan bahan bakar pada umumnya?
Menemukan gagasan
7*
Budi memiliki sebuah kunci yang sudah tidak
Fluency,
mengenai produk sel
menarik lagi karena pada kunci tersebut terdapat
Flexibility,
elektrolisis
banyak goresan dan warna yang sudah pudar.
Originality
Jika Budi ingin membuat kunci tersebut menjadi
lebih menarik, apa cara yang dapat dilakukan
oleh Budi?
8*
Gas Cl2 bila direaksikan dengan senyawa
Fluency,
hidrokarbon akan menghasilkan zat serbaguna,
Flexibility,
salah satunya yaitu digunakan untuk karet
Originality
sintesis. Ada banyak cara untuk memproduksi
gas Cl2 secara kimiawi . Apa sajakah cara yang
bisa dilakukan untuk menghasilkan gas Cl2
tersebut?
136
3.4
Menganalisis
faktor
faktor- Menganalisis
yang faktor
mempengaruhi
faktor-
9*
penyebab
korosi
Logam emas (Au) merupakan logam yang dapat
Fluency,
bertahan dalam jangka waktu panjang tanpa
Flexibility,
mengalami kerusakan. Berbeda dengan pagar
Originality
terjadinya korosi dan
besi
mengajukan
perubahan
pada
pendapat
mengenai
ide/gagasan
untuk
mengatasinya.
(Fe)
yang sangat
mudah mengalami
tampilannya.
penyebab
Berikanlah
terjadinya
perbedaan pada kedua jenis logam tersebut!
10*
Ibu Aida memiliki hobi memasak makanan
Fluency,
sendiri untuk keluarganya. Dalam hal memotong
Flexibility,
bahan makanan, Bu Aida selalu menggunakan
Originality
sebuah pisau yang disimpan di dapur. Namun
ketika akan digunakan, terdapat bercak karat
pada pisau tersebut. Apa yang menjadi penyebab
pisau tersebut berkarat?
Menganalisis
untuk
korosi
cara
mengatasi
11
Badan kapal yang terbuat dari besi selalu
bersentuhan
menyebabkan
dengan
air
terjadinya
laut,
perkaratan
Fluency,
sehingga
Flexibility,
dengan
Originality
cepat. Namun, ketika komposisi badan kapal
137
ditambahkan
material
logam
seng,
proses
perkaratan menjadi terhambat. Berikan gagasan
mengenai
penyebab
badan
kapal
dapat
terlindungi oleh logam seng tersebut!
Pak Andi merupakan lulusan teknik elektro.
Ketika Dia akan menggunakan paku untuk
memajang lukisan, paku tersebut berkarat.
12*
Karat pada paku harus dihilangkan terlebih
Fluency,
dahulu sebelum digunakan. Jika tersedia alat dan
Flexibility,
bahan sebagai berikut: catu daya, kabel, logam
Originality
timah,
larutan soda kue,
minuman bersoda,
amplas, sikat kawat, kentang, jeruk lemon. Apa
yang dapat dilakukan oleh Pak Andi?
4.4 Mengajukan ide/gagasan Membangun gagasan
untuk mencegah dan
untuk
mengatasi terjadinya
korosi pada besi
korosi
mencegah
13*
Engsel pintu yang berkarat akan menghasilkan
Fluency,
bunyi ketika dibuka ataupun ditutup. Agar tidak
Flexibility,
mengulangi
Originality
kejadian
serupa
kita
harus
mengantisipasi hal tersebut. Apa yang harus
dilakukan untuk menghindari perkaratan pada
138
engsel pintu tersebut?
14*
Pada saat hujan, pagar yang terbuat dari besi
Fluency,
akan mengalami kontak langsung dengan oksigen
Flexibility,
dalam air hujan. Hal ini dapat mempercepat
Originality
proses perkaratan. Menurutmu, bagaimana cara
mencegah perkaratan pada pagar tersebut?
Membangun gagasan
untuk
mengatasi
korosi pada besi
15*
Ema mendapatkan tugas untuk menggunting
Fluency,
sebuah kertas putih. Namun gunting yang
Flexibility,
dimiliki Ema sangat berkarat. Jika digunakan
Originality
untuk
menggunting
kertas,
maka
akan
meninggalkan bekas pada kertas tersebut. Jika
Ema memanfaatkan bahan-bahan atau peralatan
yang mungkin tersedia di rumah atau di
lingkungan sekitar. Apa yang dapat Ema lakukan
untuk
menghilangkan
karat
pada
gunting
tersebut?
139
16*
Sebuah kursi di taman seharusnya dapat menjadi
Fluency,
tempat istirahat atau tempat yang nyaman untuk
Flexibility,
menikmati udara segar. Namun saat ini, kursi
Originality
tersebut sudah tidak terjamah lagi oleh manusia.
Hal ini disebabkan oleh penurunan tampilan pada
kursi yang memiliki bercak karat dan warna yang
kusam.
Agar kursi tersebut diminati kembali,
apa saja cara yang bisa dilakukan untuk
mengatasi hal tersebut?
Keterangan : *Soal yang valid
140
Lampiran 6
HASIL UJI COBA SOAL OPEN-ENDED
Kode jawaban seperti AL, IR, PS, dll merujuk pada Lampiran 9
NO RESPONDEN
1
2
NOMOR SOAL
4
3
5
6
7
AL IR PS EL IK KB LI AN NK ER KS CD CS CP PE RC TP TE ET PP PC PT KE RE KA PN HS PM RP SP KF NP RF HF CL KP PC LT DK
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
AN
AH
ARA
BP
DME
DRF
EK
ES
FN
GPM
HP
IM
KZ
LO
LA
MR
NF
ND
NMP
NB
NK
PMS
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
141
NO RESPONDEN
1
2
NOMOR SOAL
4
3
5
6
7
AL IR PS EL IK KB LI AN NK ER KS CD CS CP PE RC TP TE ET PP PC PT KE RE KA PN HS PM RP SP KF NP RF HF CL KP PK LT DK
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
RW
RAM
RF
RAU
RYH
SRH
SWT
SD
SM
SA
SP
TZ
TN
UFN
WW
YIO
Jumlah poin
terjawab
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
6 0 1 1 0 6 11 4 0
2
2
2
1 0 17 0 4
√
0
7
√
3
0
1 0 0 0
5
0
0
0
√
0 12 1
0
9 13 6
0
Responden jawab
benar
14
17
19
14
6
14
20
Persentase (%)
37
45
50
37
16
37
53
0
2
142
HASIL UJI COBA SOAL OPEN-ENDED
NOMOR SOAL
NO RESPONDEN
8
9
10
11
12
13
EG EL RR MA DV TR BO ES IO EB BE PO PA BJ TB ZA GM PW JA BS KZRE BT PL PR FH RS GA OL EP TK CE OE ME EE EB EA
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
AN
AH
ARA
BP
DME
DRF
EK
ES
FN
GPM
HP
IM
KZ
LO
LA
MR
NF
ND
NMP
NB
NK
PMS
RW
RAM
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
143
NOMOR SOAL
NO RESPONDEN
8
9
10
11
12
13
EG EL RR MA DV TR BO ES IO EB BE PO PA BJ TB ZA GM PW JA BS KZRE BT PL PR FH RS GA OL EP TK CE OE ME EE EB EA
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
RF
RAU
RYH
SRH
SWT
SD
SM
SA
SP
TZ
TN
UFN
WW
YIO
Jumlah poin
terjawab
Responden jawab
benar
Persentase (%)
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
6
0
5
0
2
1
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
3 15 2
1 0 8 20
7
0 1
√
√
√
5 17 0 0 8 16 15 1
√
0
9
1
0
2 3 0 0
0
0
0
0
11
22
36
0
21
29
29
58
95
0
55
76
2
144
HASIL UJI COBA SOAL OPEN-ENDED
NO RESPONDEN
NOMOR SOAL
15
14
16
CP OP AK MM PG UP LP MAMI MO GO MS CA EG LB TG AS CK OK MP RC SC MD
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
AN
AH
ARA
BP
DME
DRF
EK
ES
FN
GPM
HP
IM
KZ
LO
LA
MR
NF
ND
NMP
NB
NK
PMS
RW
RAM
RF
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
145
NO RESPONDEN
NOMOR SOAL
15
14
16
CP OP AK MM PG UP LP MAMI MO GO MS CA EG LB TG AS CK OK MP RC SC MD
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
RAU
RYH
SRH
SWT
SD
SM
SA
SP
TZ
TN
UFN
WW
YIO
Jumlah poin
terjawab
Responden jawab
benar
Persentase (%)
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
30
√
√
√
√
√
√
√
√
1
1
√
√
√
0
6
√
√
√
√
√
√
√
√
0
0 17 9
0
0
1
6
0
0
0
2
30
1
1
2
35
33
34
92
87
89
3
0
146
147
Tabel Interpretasi Hasil Uji Coba Soal Open-Ended
Nomor
Soal
Jumlah
Responden
Menjawab
Benar
Persentase (%)
1
14
37
2
17
45
3
19
50
4
14
37
5
6
16
6
14
37
7
20
53
8
11
29
9
22
58
10
36
95
11
0
0
12
21
55
13
29
76
14
35
92
15
33
87
16
34
89
Keterangan
Soal dapat
digunakan
Soal dapat
digunakan
Soal dapat
digunakan
Soal dapat
digunakan
Soal dapat
digunakan
Soal dapat
digunakan
Soal dapat
digunakan
Soal dapat
digunakan
Soal dapat
digunakan
Soal dapat
digunakan
Soal tidak dapat
digunakan
Soal dapat
digunakan
Soal dapat
digunakan
Soal dapat
digunakan
Soal dapat
digunakan
Soal dapat
digunakan
Lampiran 7
PEDOMAN PENSKORAN ASPEK BERPIKIR KREATIF
Aspek Berpikir Kreatif
Fluency
Skor 4: jika mampu memberikan lebih dari
satu jawaban yang lengkap dan
tepat (jawaban benar bisa terdapat
pula pada poin flexibility dan
originality)
Skor 3 : jika mampu memberikan jawaban
lebih dari satu poin, namun salah
satu jawaban tidak tepat atau
menjawab lebih dari satu poin
dalam waktu kurang dari 5 menit
namun jawaban tidak lengkap
Skor 2 : jika mampu memberikan jawaban
lebih dari satu, namun tidak ada
jawaban yang tepat atau
memberikan satu jawaban yang
tepat
Skor 1 : jika mampu memberikan satu
jawaban dan tidak tepat
Skor 0 : jika tidak memberikan jawaban
Flexibility
Originality
Skor 4 : jika mampu menjawab dengan
Skor 4 : mengemukakan gagasan yang jarang
lengkap dan tepat
dikemukakan oleh kebanyakan siswa
Skor 3 : jika mampu menjawab dengan tepat
tetapi masuk dalam konteks soal
namun tidak lengkap
dengan lengkap
Skor 2 : memberikan jawaban selain yang
terdapat pada poin dan jawaban tepat Skor 3 : mengemukakan gagasan yang jarang
dikemukakan oleh kebanyakan siswa
(termasuk pada poin fluency atau
dengan tepat namun tidak lengkap
originality)
Skor 1 : jawaban tidak tepat
Skor 2 : mengemukakan jawaban sesuai
Skor 0 : jika tidak memberikan jawaban
dengan konteks soal yang terpaku
pada buku teks / memberikan jawaban
yang ada pada kolom fluency atau
flexibility
Skor 1 : jawaban tidak tepat
Skor 0 : tidak mengemukakan gagasan
148
Lampiran 8
PEDOMAN PENILAIAN TINGKAT BERPIKIR KREATIF
Kriteria Kreativitas
Ket
Skor
Sangat Kreatif
4
Kreatif
3
Cukup Kreatif
2
-
Kurang Kreatif
1
-
Tidak Kreatif
fluency
flexibility
originality
√
√
√
√
√
-
√
-
√
-
√
-
-
-
√
√
-
-
-
0
149
KRITERIA INTERPRETASI SKOR
Persentase (%)
Kategori
100 - 81
Sangat Baik
80 – 61
Baik
60 – 41
Cukup
40 – 21
Kurang
20 - 0
Sangat Kurang
(Riduwan, 2010, hlm. 41)
150
Lampiran 9
JAWABAN INSTRUMEN SOAL
No
1
Fluency
Flexibility
Originality
- Reaksi kimia yang terjadi pada baterai
- Pada baterai isi ulang, dalam proses charging, ion
- Komponen penyusun baterai sekali pakai
jam dinding adalah reaksi irreversible.
dari katoda berpindah ke anoda, sementara selama
tidak dapat difungsikan lagi ketika sudah
Sementara reaksi pada baterai isi ulang
proses pemakaian ion dari anoda kembali lagi ke
habis terpakai sementara komponen
adalah reversible (IR)
katoda sementara pada baterai sekali pakai, reaksi
dalam baterai isi ulang dapat difungsikan
kimia yang terjadi di dalam baterai menghasilkan
lagi dengan cara diisi ulang (charge)
primer sementara baterai isi ulang
ion positif yang mengalir dari anoda ke katoda
(KB)
merupakan baterai sekunder (PS)
(IK)
- Baterai sekali pakai merupakan baterai
- Prinsip kerja baterai isi ulang adalah mengubah
energi listrik menjadi energi kimia saat proses
pengisian ulang, dan mengubah energi kimia
menjadi energi listrik saat dipakai sementara pada
baterai sekali pakai prinsipnya hanya mengubah
energi kimia menjadi energi listrik (EL)
- Pada saat jam dinding mati, tidak ada reaksi kimia
lagi yang terjadi dalam baterai sementara jika
151
baterai handphone mati, baterai tersebut dapat
menerima arus listrik sehingga reaksi kimia dapat
terjadi lagi (AL)
2
- Terdapat kandungan logam lain yang
- Dalam deret volta emas terletak di posisi paling
menjadi penyebab iritasi pada kulit (LI)
- Kulit sensitif terhadap zat yang
kanan (sulit teroksidasi). Jika telah tercampur
- Emas imitasi mengandung nikel yang
dengan logam lain yang posisinya di sebelah kiri
menjadi zat alergen (AN)
terkandung dalam emas imitasi (KS)
- Keringat yang dihasilkan oleh tubuhn
emas/E0 standarnya rendah, maka emas tidak
dapat berinteraksi dengan logam dalam
dapat mempertahankan sifatnya yang sulit
emas imitasi sehingga menyebabkan
teroksidasi (ER)
iritasi (KG)
- Nikel dalam emas imitasi menyebabkan
peradangan atau iritasi ketika kontak langsung
dengan kulit (NK)
3
- Merendam cincin dengan air dan sedikit
-
Dilakukan proses penyepuhan yang prinsipnya
-
Merendam cincin di dalam larutan
deterjen lalu digosok menggunakan sikat
sama dengan elektrolisis. Cincin emas yang
ammonia (jangan terlalu lama).
lembut (CD)
ingin disepuh menjadi katoda dan emas murni
Kemudian dibilas dengan air yang
menjadi anoda (PE)
mengalir (RA)
- Menggosok cincin dengan kain yang
sudah dibasahi dengan air sabun (CS)
- Membersihkan cincin dengan
menggunakan pasta gigi yang dicampur
152
air lalu digosok dengan sikat lembut (CP)
4
- Untuk mendapatkan tembaga murni
-
dilakukan proses pemurnian dengan cara
elektrolisis (TP)
-
- Tembaga kotor dijadikan sebagai anoda,
Dilakukan proses ekstraksi dari bijih tembaga
-
Hidrometalurgi merupakan proses
(ET)
pengolahan logam menggunakan
Pirometalurgi atau proses pemurnian dengan
pelarut cair sebagai pengekstraknya
cara pemanasan (PP)
(PC)
sedangkan katoda adalah tembaga murni
(TE)
5
-
Paku seng dan uang logam tembaga
Paku yang terbuat dari seng menjadi anoda dan
masing-masing di tusukkan ke dalam
uang logam tembaga berperan sebagai katoda
jeruk nipis dan dihubungkan dengan
(KA)
kabel yang terhubung dengan lampu
-
-
-
Elektroda Zn melepas elektron dan
elektroda Cu menangkap elektron (EJ)
-
Melihat potensial sel menggunakan
Potensial sel yang dihasilkan bernilai positif
multitester. Sehingga lampu yang
(PT)
sehingga menghasilkan arus listrik dan
digunakan dapat disesuaikan dengan
Zn menjadi kutub (-) dan Cu menjadi
membuat lampu menyala (PN)
voltase yang dihasilkan dari multitester
kutub (+) (KE)
-
-
(PM)
Eosel = Eokatoda – Eoanoda
= 0,34 – (-0,76) = 1,10 V (RE)
6
-
-
Bahan bakar pada umumnya
-
Hasil dari reaksi fuel cell adalah energi listrik,
- Bahan bakar fuel cell tidak
menggunakan reaksi pembakaran (RP)
panas dan air. Sehingga tidak menghasilkan
menghasilkan polusi karena tidak
Senyawa yang dihasilkan dari proses
polusi udara (HF)
terjadi proses pembakaran dalam
153
pembakaran adalah senyawa kimia
-
- Terdapat reaksi di anoda dan katoda pada fuel
yang menyebabkan polusi udara seperti
cell. Reaksi yang terjadi pada fuel cell adalah
gas CO2 dan CO (SP)
sebagai berikut:
Fuel cell mengandung senyawa kimia
A : 2H2  4H+ + 4e¯
O2 dan H2 yang ramah lingkungan
K : O2 + 4H+ + 4e¯  2H2O (RF)
reaksinya (NP)
(KF)
7
- Dapat menggunakan cat logam (CL)
- Dapat menggunakan logam Cu sebagai anoda dan -
- Kunci dapat dilapisi logam lain dengan
larutan CuSO4 sebagai zat elektrolit. Kunci yang
cara electroplating (penyepuhan) (KP)
akan dilapisi berperan sebagai katoda. Maka
Mendupikasi kunci (DK)
reaksi yang terjadi:
CuSO4  Cu2+ + SO42¯
K : Cu2+ + 2e¯  Cu
A: Cu  Cu2+ + 2e¯
Terbentuk lapisan Cu pada katoda (kunci)
(PK)
8
-
-
Elektrolisis larutan NaCl, KCl, MgCl2
-
Dibuat dengan cara reaksi redoks (RR)
(EG)
Contoh reaksi:
Elektrolisis lelehan NaCl (EL)
2KMnO4 + 16HCl  2KCl + 2MnCl2 + 8H2O +
Contoh reaksi
5Cl2
-
Mengalirkan arus listrik melalui larutan
natrium klorida dalam air (MA)
154
NaCl(aq)  Na+ + Cl¯
Atau reaksi redoks lain yang menghasilkan Cl2
K : 2H2O + 2e¯  2OH¯ + H2
A : 2Cl¯  Cl2 + 2e¯
Reaksi sel: 2NaCl(aq) + 2H2O + Cl¯ 
2NaOH + H2 + Cl2
9
- Emas tidak reaktif (TR)
- Dalam deret volta besi berada di sebelah
kiri emas. Sehingga jika dibandingkan
10
- Nilai potensial reduksi emas lebih besar dari Fe
- Unsur emas jarang berikatan dengan
(ES)
oksigen membentuk karat (IO)
- Karena letaknya berada di posisi paling kanan
- Elektron pada besi sangat mudah
dengan emas, besi akan lebih mudah
dalam deret volta, mengakibatkan emas memiliki
melepaskan diri, hal ini yang
mengalami korosi (BO)
sifat sulit teroksidasi (DV)
menyebabkan karat cepat terjadi (EB)
- Pisau terbuat dari besi (BE)
- Adanya interaksi dengan zat asam (misalnya
-
Pisau tersimpan di dekat washtafle yang
- Berinteraksi dengan oksigen (PO)
sering digunakan untuk memotong buah yang
sering mengalirkan air (PW)
- Berinteraksi dengan air (PA)
memiliki kadar asam tinggi). pH <7 menyebabkan -
Pisau jarang diasah (JA)
- Pisau terbuat dari baja (BJ)
karat pada pisau tersebut (ZA)
Suhu udara di dapur lembab sehingga
- Setelah digunakan, pisau tidak langsung
dibersihkan. Sehingga zat pengotor di
- Memotong bahan makanan yang mengandung
-
menyebabkan pisau berkarat (UL)
getah (GM)
permukaan logam dapat menyebabkan
terjadinya reduksi tambahan dan lebih
banyak logam yang terkorosi (TB)
155
-
Dibiarkan tersimpan dalam keadaan
basah (BS)
11
- Logam besi terlindungi oleh seng
dengan cara perlindungan katodik (KZ)
- Logam seng yang melapisi besi menjadi anoda
-
Seng akan bereaksi dengan oksigen
untuk besi sementara besi menjadi katoda. Anoda
dalam lingkungan yang mengandung
mengalami oksidasi sehingga seng tersebut yang
CO2. Hasil reaksi tersebut (seng
lebih reaktif dari pada besi dalam deret
akan mengalami perkaratan dan besi akan
karbonat) berfungsi melindungi seng itu
volta (RE)
terlindungi (PL)
sendiri dari korosi sehingga proses
- Logam seng lebih elektronegatif atau
- Logam besi tidak bereaksi sehingga
tidak mengalami korosi (BT)
- Potensi reduksi seng adalah -0,76, lebih negative
perkaratan pun menjad terhambat (FH)
dari pada potensi reduksi besi sebesar -0,44
menyebabkan besi terlindungi (PR)
12
- Merendam paku berkarat dalam
minuman bersoda (RS)
- Melakukan proses elektrolisis dengan
-
menggunakan soda kue sebagai larutan elektrolit,
- Menggosok paku dengan amplas (GA)
besi berkarat dijadikan sebagai katoda dan timah
- Mengoleskan jeruk lemon pada paku
dijadikan sebagai anoda (EP)
Menusukkan paku pada kentang selama
semalaman (TK)
-
Cara menghilangkan karat dapat
menggunakan sari lemon yang
(OL)
dicampur dengan baking soda.
Campuran tersebut dapat dioleskan
pada bagian yang berkarat (SL)
13
- Melapisi engsel dengan cat (CE)
- Pelapisan besi/engsel dengan tembaga karena
- Diberi oli pada permukaan engsel
potensi reduksi dari tembaga lebih positif dari
-
Menjaga engsel agar tetap bersih,
karena benda dapat terkontaminasi oleh
156
tersebut (OE)
- Engsel diolesi dengan minyak (ME)
pada besi. Tembaga memiliki potensial reduksi
zat-zat yang mempercepat korosi tanpa
+0,34. Hal ini menyebabkan besi dengan
disadari. Contoh zat yang mempercepat
potensial reduksi -0,44 akan terlindungi (EE)
korosi adalah larutan garam, dan zat-zat
yang bersifat asam (EB)
-
Menjaga engsel agar tidak terkena air
hujan (EA)
14
- Mengecat pagar tersebut (CP)
- Melakukan proses galvanisasi pada pagar besi
- Mengubah bahan dasar dari pagar besi
- Melapisi pagar dengan oli (OP)
dengan cara mencelupkan bagian-bagian pagar
menjadi bahan yang tidak mudah
- Memberi lapisan cat anti karat pada
besi ke dalam bak berisi zink cair (pelapisan
berkarat (UP)
pagar (AK)
dengan zink) (PG)
- Merawat pagar dengan dengan cara
- Melindungi dengan plastik (LP)
- Melapisi dengan fiberglass (FG)
mengoleskan minyak (MM)
15
- Menggosok gunting yang terkena karat
dengan amplas (AG)
- Karat pada gunting dapat dihilangkan dengan cara
-
Cara menghilangkan karat dapat
elektrolisis. Elektrolisis dilakukan dengan cara
menggunakan sari lemon yang
memanfaatkan besi berkarat (yang akan
dicampur dengan baking soda.
dibersihkan) sebagai katoda dan logam lain yang
Campuran tersebut dapat dioleskan
- Mengoleskan gunting dengan oli (MO)
yang tidak mudah terkorosi sebagai anoda.
pada bagian yang berkarat (LB)
- Menggosok bagian yang berkarat dengan
Kemudian celupkan kedua benda tersebut ke
- Mengoleskan gunting dengan minyak
(MI)
obeng (GO)
dalam larutan elektrolit (soda kue) (EG)
-
Menusukkan gunting ke dalam kentang
selama semalaman. Karena kentang
157
- Menghilangkan karat dengan
mengandung asam oksalat yang dapat
menggunakan soda cola (MS)
membantu menghilangkan karat (TG)
- Karat bisa dihilangkan dengan larutan
-
Mengasah gunting (AS)
-
Memodifikasi kursi dengan cara
cuka apel. Rendam bagian yang berkarat
tersebut dengan cuka selama semalam,
lalu gosok dengan alumunium foil (CA)
- Mengoleskan jeruk nipis (JN)
16
- Cara mengatasinya yaitu dengan
- Mengelupaskan karat terlebih dahulu (menyikat
mengecat kembali kursi taman tersebut
karat dengan sikat kawat) setelah itu mengecatnya
dilapisi papan bersih yang sudah dicat
(CK)
kembali (SC)
(MD)
- Mengoleskan oli pada kursi (OK)
- Mengoleskan pernis (MP)
- Menyemprotkan rust converter (RC)
158
159
Lampiran 10
PEDOMAN WAWANCARA SISWA
Judul Penelitian
: Analisis Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa pada Materi
Elektrokimia melalui Model Open-Ended Problem
Hari/Tanggal
:
Alat Bantu
: Alat perekam suara
Indikator
Respon siswa terhadap pembelajaran
open-ended
Respon siswa akibat pembelajaran
open-ended terhadap kemampuan
berpikir kreatif
Pertanyaan
1. Apakah
Anda
mengetahui
pembelajaran open-ended? (jika
siswa tidak tahu, beri tahu siswa
tersebut bahwa pembelajaran open
ended adalah pembelajaran yang
dimulai dengan memberikan soal
yang memiliki banyak jawaban
benar atau pendekatan ini dilakukan
pada saat pembelajaran oleh
peneliti)
2. Apa pendapat Anda mengenai
pembelajaran
open-ended
jika
dibandingkan dengan pembelajaran
yang dilakukan sebelumnya ?
3. Apakah ada kesulitan pada saat
pembelajaran berlangsung? Jika
“Ya” apa kesulitan yang dialami?
Dan
bila
“tidak”
sebutkan
alasannya!
4. Apakah ditemukan hal-hal yang
baru dengan mempelajari materi
elektrokimia
menggunakan
pembelajaran open-ended?
1. Apakah pembelajaran open-ended
dapat memotivasi untuk lebih
kreatif? Jelaskan alasannya!
2. Apakah pembelajaran open-ended
dapat membuka wawasan untuk
memberikan solusi yang lebih
variatif terhadap permasalahan di
sekitar kita?
160
Mengetahui gambaran berpikir kreatif
siswa dalam tahap menyelesaikan soal
open-ended
1. Bagaimana
langkah
dalam
menyelesaikan soal yang telah
diberikan sampai mendapatkan
jawaban?
2. Adakah permasalahan dalam soal
yang pernah dialami secara
langsung? Tunjukan soal nomor
berapa!
161
Lampiran 11
NILAI ULANGAN HARIAN SISWA
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
RESPONDEN
AM
AAP
ARB
AFN
AHR
DR
EAD
GAN
GK
HR
HK
HM
IA
JSS
KTE
KL
KG
ML
MR
MZA
MS
QY
RRN
RI
RAM
SA
WNN
WK
JUMLAH
RATA-RATA
SKOR (x)
77
92
80
83
88
63
92
95
100
75
92
62
75
75
60
75
75
85
20
75
75
97
100
52
83
63
63
75
2147
76.68
x2
5929
8464
6400
6889
7744
3969
8464
9025
10000
5625
8464
3844
5625
5625
3600
5625
5625
7225
400
5625
5625
9409
10000
2704
6889
3969
3969
5625
172357
6155.61
162
Lampiran 12
KEDUDUKAN SISWA DALAM KELOMPOK
Mencari Mean x = ∑𝑥
𝑁
Mencari Standar Deviasi
SD =
∑𝑥 2
∑𝑥
−
𝑁
𝑁
2
x=
Keterangan:
SD = Standar Deviasi
N = Jumlah Siswa
SD =
1723572
2147
−
28
28
SD =
6155 − 5880
SD =
275
2147
28
= 76.68
2
SD = 16.6
x + SD = 76.68 + 16.6 = 93.28
x - SD = 76.68 - 16.6 = 60.08
Kelompok Tinggi = nilai ≥ x + SD
( nilai ≥ 93.28)
Kelompok Sedang = x - SD ˂ nilai ˂ x + SD
(60.08 ˂ nilai ˂ 93.28)
Kelompok Rendah = nilai ≤ x - SD
( nilai ≤ 60.08)
Jadi :
Kelompok Tinggi sebanyak 4 orang
Kelompok Sedang sebanyak 21 orang
Kelompok Rendah sebanyak 3 orang
163
Lampiran 13
Aspek Berpikir Kreatif Siswa Berdasarkan Lembar Observasi
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
RESPONDEN
AM
AAP
ARB
AFN
AHR
DR
EAD
GAN
GK
HR
HK
HM
IA
JSS
KTE
KL
KG
ML
MR
MZA
MS
QY
RRN
RI
RAM
SA
WNN
WK
Jumlah
Skor Maksimal
Persentase
Kategori
1 2
3 1
4 4
3 4
2 4
4 4
2 1
4 4
3 2
3 4
3 1
4 3
4 1
2 1
2 3
2 3
3 3
4 4
4 2
2 1
3 1
4 1
4 1
4 4
2 1
3 4
2 1
4 1
2 0
86 64
Nomor Pernyataan
Fluency
Flexibility
Originality
6 7 11 13 15 3 4 8 9 12 5 10 14
3 3 3 4 2 2 2 1 0 2 2 4 3
4 4 4 4 2 2 4 1 3 4 2 4 3
4 4 3 2 2 2 4 2 0 2 3 2 3
2 3 4 4 3 4 4 4 1 1 2 4 3
2 2 4 4 2 4 4 4 2 4 1 2 3
1 1 4 4 2 2 2 4 0 2 4 2 4
4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 2 4 3
4 4 4 4 2 2 4 2 2 4 3 2 3
3 3 3 4 2 3 4 2 4 3 2 2 3
1 1 3 0 2 2 4 2 0 3 3 2 3
2 3 4 4 3 1 4 2 3 4 2 2 3
1 1 4 0 0 3 2 1 0 1 3 3 0
2 1 2 3 2 2 3 1 0 2 2 2 4
3 2 4 4 1 1 4 3 0 2 1 2 1
2 3 4 4 1 2 3 3 0 1 1 2 1
1 2 4 4 1 2 4 2 3 1 1 2 1
1 3 3 4 3 2 4 4 3 1 2 4 3
1 1 4 4 2 1 0 1 0 2 4 2 3
1 1 3 4 2 3 2 2 0 2 2 2 4
1 1 4 4 1 2 1 1 0 2 2 2 4
4 1 4 4 1 2 2 1 0 2 1 2 3
4 4 4 2 3 2 2 4 0 1 2 2 3
3 4 4 4 4 4 4 4 4 2 2 3 3
3 4 4 3 2 2 4 4 0 1 1 2 3
4 1 3 4 2 4 2 2 0 3 2 2 4
1 3 4 3 3 1 2 1 0 2 1 2 3
4 1 4 4 1 2 2 1 0 2 1 2 3
2 1 2 4 2 2 3 4 0 3 1 2 3
68 66 101 97 56 65 84 67 28 63 55 68 80
784
560
336
68.62%
54.82%
60.41%
Baik
Cukup
Cukup
Lampiran 14
HASIL TES OPEN-ENDED SISWA
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
RESPONDEN
AM
AAP
ARB
AFN
AHR
DR
EAD
GAN
GK
HR
HK
HM
IA
JSS
KTE
KL
KG
ML
MR
MZA
MS
QY
RRN
RI
RAM
SA
WNN
WK
NOMOR SOAL
1
2
3
4
5
6
Flu
Fle
Ori
Flu
Fle
Ori
Flu
Fle Ori Flu
Fle Ori
Flu
Fle
Ori
Flu
Fle
Ori
IR PS EL IK AL KB LI AN ER KS NK KG CD CS CP PE RA TP TE ET PP PC PT KE RE KA PN EJ PM RP SP KF RF HF NP
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
Kode jawaban seperti IR, PS dan lain-lain merujuk pada Lampiran 9
164
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
RESPONDEN
AM
AAP
ARB
AFN
AHR
DR
EAD
GAN
GK
HR
HK
HM
IA
JSS
KTE
KL
KG
ML
MR
MZA
MS
QY
RRN
RI
RAM
SA
WNN
WK
NOMOR SOAL
7
8
9
10
11
Flu Fle Ori
Flu
Fle
Ori
Flu
Fle
Ori
Flu
Fle
Ori
Flu Fle Ori
CL KP PC LT DK EG EL RR MA TR BO ES DV IO EB BE PO PA BJ TB BS ZA GM JA PW UL RS GA OL EP TK SL
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
165
NOMOR SOAL
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
RESPONDEN
AM
AAP
ARB
AFN
AHR
DR
EAD
GAN
GK
HR
HK
HM
IA
JSS
KTE
KL
KG
ML
MR
MZA
MS
QY
RRN
RI
RAM
SA
WNN
WK
12
13
14
15
Flu
Fle Ori
Flu
Fle
Ori
Flu
Fle
Ori
Flu
Fle
CE OE ME EE EB EA CP OP AK MM PG UP LP FG AG MI MO GO MS CA JN EG LB TG AS CK OK MP RC SC
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
Ori
MD
√
√
√
√
√
√
166
167
Lampiran 15
ASPEK BERPIKIR KREATIF FLUENCY BERDASARKAN TES OPEN-ENDED
1
2
3
4
5
NOMOR SOAL
Fluency
6
7
8 9 10
3
4
2
4
3
2
4
4
3
2
3
3
2
3
3
1
3
2
1
2
2
4
3
1
3
1
3
1
72
2
2
2
2
2
2
2
1
1
2
2
4
1
2
1
1
1
2
1
4
3
3
2
2
1
2
1
2
53
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
4
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
3
2
2
59
1
4
2
1
3
1
1
2
4
0
2
3
1
4
2
1
4
2
1
1
4
2
2
1
1
3
3
1
57
0
4
4
2
4
3
4
2
3
1
3
1
2
1
1
0
3
1
2
4
1
1
1
2
4
1
1
2
58
2
2
1
3
2
1
2
2
2
1
1
4
1
2
2
1
2
4
1
1
2
1
2
2
2
1
2
2
51
NO RESPONDEN
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
AM
AAP
ARB
AFN
AHR
DR
EAD
GAN
GK
HR
HK
HM
IA
JSS
KTE
KL
KG
ML
MR
MZA
MS
QY
RRN
RI
RAM
SA
WNN
WK
Jumlah
Skor Maksimal
Rata-rata
Persentase
Kategori
2 4 2
2 2 4
4 2 2
2 2 2
4 2 4
2 2 2
3 2 4
4 4 4
2 2 4
3 2 0
3 2 2
2 0 4
4 2 2
2 1 1
2 4 4
3 1 1
4 2 2
3 0 4
2 2 3
2 2 2
2 1 2
3 2 4
4 4 4
1 4 4
4 3 4
4 1 2
2 1 2
2 2 2
77 58 77
1680
0.63
63.30%
Baik
Skor
Total
11
4
1
4
4
1
4
4
4
2
2
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
2
4
2
4
4
4
4
3
4
4
4
4
2
4
4
4
4
4
4
4
4
2
4
4
4
3
4
4
4
4
4
4
2
4
99 103
12
13
14 15
2
2
1
4
4
4
4
4
3
2
4
2
1
4
2
2
4
2
3
4
2
4
4
2
4
4
2
2
82
2
2
2
2
3
2
4
2
4
2
3
2
3
1
2
2
4
2
2
3
2
2
2
2
4
1
2
2
66
3
3
4
4
4
3
4
4
3
4
4
2
4
4
2
2
4
2
4
1
2
4
4
3
4
3
2
2
89
2
2
2
2
2
4
2
2
3
2
3
2
2
2
2
2
3
2
4
2
2
3
2
2
3
2
2
2
65
2.13
2.87
2.33
2.67
2.87
2.53
3.07
3.00
2.93
2.07
2.80
2.47
2.20
2.60
2.40
1.80
3.07
2.27
2.40
2.53
2.33
2.73
2.93
2.33
3.13
2.40
2.20
2.00
71.07
168
ASPEK BERPIKIR KREATIF FLEXIBILITY BERDASARKAN TES OPEN-ENDED
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
NOMOR SOAL
Flexibility
RESPONDEN
AM
AAP
ARB
AFN
AHR
DR
EAD
GAN
GK
HR
HK
HM
IA
JSS
KTE
KL
KG
ML
MR
MZA
MS
QY
RRN
RI
RAM
SA
WNN
WK
Jumlah
Skor Maksimal
Rata-rata
Persentase
Kategori
1
2
2
1
4 2
4 2
2 2
3 4
4 2
3 2
2 1
2 1
3 2
2 4
2 2
2 1
2 2
2 1
1 1
2 1
1 2
1 1
2 2
4 2
2 2
2 4
1 1
3 1
1 2
1 1
1 2
61 51
3
4
5
6
7
3
1
0
2
2
3
3
3
3
3
4
4
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
3
3
2
3
4
4
4
2
3
3
88
2
2
1
2
1
1
2
2
0
2
2
1
3
2
1
2
2
1
1
2
2
2
1
1
3
2
1
45
2
2
2
2
4
4
2
4
1
4
1
2
1
1
0
4
1
2
3
1
1
1
2
2
1
1
2
53
2
1
3
1
1
2
2
2
1
1
3
1
2
2
1
4
3
1
1
2
1
2
2
1
1
2
2
49
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
55
Skor Total
8
9
10 11 12 13 14 15
4
3
2
2 4 2
2 4 1
2 4 2
2 4 4
2 3 3
2 4 2
4 4 2
2 4 2
2 0 3
3 2 2
0 1 2
2 4 2
1 1 2
4 4 2
1 1 2
2 2 2
0 1 2
2 3 2
2 4 2
1 2 4
2 4 2
4 4 2
4 3 2
2 4 2
1 1 2
1 2 2
2 3 2
58 80 61
1680
0.54
54.10%
Cukup
1
2
2
3
4
2
3
2
2
2
2
2
2
2
2
2
3
2
2
2
2
2
2
3
3
2
2
2
62
2
2
2
3
2 2 2 2
1 2 2 3
2 2 2 2
2 2 2 2
2 2 2 3
2 2 2 2
2 2 2 4
2 3 2 4
2 2 2 4
2 3 2 2
2 2 2 2
1 2 2 3
2 1 2 2
2 2 2 2
2 2 2 2
2 3 2 2
2 2 2 2
2 2 2 4
2 2 1 4
2 2 2 3
2 2 2 2
2 2 2 4
2 2 2 3
2 2 2 3
2 1 2 2
2 2 2 4
2 2 2 3
54 57 55 78
2.00
2.33
2.20
2.27
2.60
2.40
2.47
2.47
2.47
1.93
2.40
1.87
2.00
1.87
2.20
1.53
2.47
1.80
2.00
2.20
2.20
2.07
2.60
2.20
2.27
1.67
1.93
2.07
60.47
169
ASPEK BERPIKIR KREATIF ORIGINALITY BERDASARKAN TES OPEN-ENDED
NO
NOMOR SOAL
Originality
RESPONDEN
1
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
AM
AAP
ARB
AFN
AHR
DR
EAD
GAN
GK
HR
HK
HM
IA
JSS
KTE
KL
KG
ML
MR
MZA
MS
QY
RRN
RI
RAM
SA
WNN
WK
Jumlah
Skor Maksimal
Rata-rata
Persentase
Kategori
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
4
2
2
1
2
1
1
2
2
2
2
1
2
1
2
1
52
2
3
4
5
6
7
8
9
Skor
Total
10
11
12
13
14
15
1
2
1
0
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
1.67
2 2 2 4 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
2.13
2 2 2 2 1 2 2 2 1 2 1 2 2 2
1.80
2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
1.93
2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2
1.93
4 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2
2.00
2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
1.93
1 2 2 2 2 2 2 4 2 2 2 2 2 2
2.07
1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
1.93
4 2 0 1 1 2 2 0 2 2 2 2 2 2
1.73
2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 3 2
2.00
4 2 2 1 2 2 0 4 2 2 2 2 2 2
2.07
1 2 1 2 1 2 2 2 2 4 1 2 2 2
2.00
2 4 2 1 2 2 1 1 4 2 2 1 2 2
2.00
1 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
1.87
1 2 1 0 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2
1.47
1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
1.93
2 2 2 1 2 2 0 4 2 2 2 2 2 2
1.87
1 2 1 2 1 2 2 2 4 2 2 2 2 2
1.87
4 2 1 2 1 2 2 2 4 2 2 2 1 2
2.07
2 2 2 1 2 2 1 4 2 2 2 2 2 2
2.00
2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2
1.87
2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
1.93
1 2 1 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2
1.73
1 2 1 4 1 2 2 2 4 2 2 4 2 2
2.20
2 4 2 1 1 2 1 1 4 2 2 1 2 2
1.87
1 2 2 1 2 2 1 4 2 2 2 2 2 2
1.93
2 2 1 2 4 2 2 2 2 2 2 2 2 2
2.00
53 60 43 46 46 55 47 61 65 57 54 56 56 56 53.80
1680
0.48
48%
Cukup
Lampiran 16
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
RESPONDEN
GAN
GK
QY
RRN
AM
AAP
ARB
AFN
DHR
DR
EAD
HR
HKW
HM
IA
JSS
KL
KG
ML
MZA
MS
RAM
SA
WNN
WK
KTE
MR
RI
Kategori
Siswa
Kelompok
Tinggi
Kelompok
Sedang
1
Flu Fle
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
Kelompok
Rendah
√
√
√
LEMBAR PENILAIAN TINGKAT BERPIKIR KREATIF SISWA
NOMOR SOAL
2
3
4
5
Ori Skor Flu Fle Ori Skor Flu Fle Ori Skor Flu Fle Ori Skor Flu Fle Ori
1
0
√
2
0
1
0
√
2
√
√
3
√
√
1
√
1
√
2
0
1
√
2
√
2
0
1
0
√
2
0
3
0
√
2
√
1
√
√
2
0
√
2
0
√
1
0
√
2
0
3
√
2
√
2
√
1
√
2
√
1
√
2
0
√
√
3
0
√
2
0
√
√
2
√
2
√
2
0
1
√
2
√
2
0
√
√
1
√
√
3
√
2
√
1
√
2
0
√
2
0
1
0
√
√
√
4
√
√
3
0
0
√
2
0
1
0
√
2
√
1
√
√
0
0
√
2
0
0
√
√
3
√
2
0
√
√
2
√
1
0
√
1
3
0
√
2
0
√
√
0
0
√
√
3
√
√
3
1
0
√
2
√
1
0
0
√
2
0
1
0
√
2
0
0
0
√
2
0
0
0
√
2
0
6
Skor Flu Fle Ori Skor
0
3
0
0
0
3
1
0
1
3
3
0
3
0
0
0
0
3
0
3
0
3
0
0
0
0
0
0
√
√
√
√
√
√
√
√
0
0
0
0
0
0
0
3
0
0
0
0
0
3
0
0
0
2
3
0
0
0
0
0
2
0
0
0
170
LEMBAR PENILAIAN TINGKAT KREATIVITAS SISWA
NOMOR SOAL
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
RESPONDEN
GAN
GK
QY
RRN
AM
AAP
ARB
AFN
DHR
DR
EAD
HR
HKW
HM
IA
JSS
KL
KG
ML
MZA
MS
RAM
SA
WNN
WK
KTE
MR
RI
Kategori
7
8
9
10
11
12
13
Skor
Skor
Skor
Skor
Skor
Skor
Skor
Siswa
Flu Fle Ori
Flu Fle Ori
Flu Fle Ori
Flu Fle Ori
Flu Fle Ori
Flu Fle Ori
Flu Fle Ori
√
Kelompok
Tinggi
√
√
√
√
√
√
√
Kelompok
Sedang
√
√
√
√
√
√
Kelompok
Rendah
1
0
1
1
0
0
1
0
1
0
1
1
1
0
1
0
1
1
1
0
0
1
1
0
0
0
0
0
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
3
0
0
3
3
0
0
0
0
0
0
0
2
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
3
0
3
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
4
3
3
3
2
3
2
2
3
2
3
0
0
3
2
0
0
0
3
2
2
3
0
2
2
3
0
3
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
1
1
1
1
1
1
0
1
2
3
1
3
1
0
0
3
1
1
0
3
3
1
1
1
0
1
3
1
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
1
1
0
1
0
1
1
3
2
1
3
1
1
1
3
1
1
3
1
1
1
3
1
1
1
1
1
3
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
1
1
1
1
0
0
0
1
1
1
1
0
1
0
0
1
0
1
0
1
0
1
1
0
0
0
1
0
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
0
3
0
0
0
0
0
0
1
0
1
0
3
0
1
0
0
3
0
1
0
3
0
0
0
0
0
0
171
LEMBAR PENILAIAN TINGKAT KREATIVITAS SISWA
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
RESPONDEN
GAN
GK
QY
RRN
AM
AAP
ARB
AFN
DHR
DR
EAD
HR
HKW
HM
IA
JSS
KL
KG
ML
MZA
MS
RAM
SA
WNN
WK
KTE
MR
RI
NOMOR SOAL
TOTAL
15
% KETERANGAN
Skor Flu Fle Ori Skor SKOR
1
√
2
17
28.33
Kurang
1
√
√
3
22
36.67
Kurang
1
√
1
12
20
Sangat Kurang
1
√
2
18
30
Kurang
1
√
2
12
20
Sangat Kurang
1
0
15
25
Kurang
1
√
2
12
20
Sangat Kurang
1
0
14
23.33
Kurang
1
0
20
33.33
Kurang
1
√
√
3
19
31.67
Kurang
1
0
19
31.67
Kurang
1
√
2
14
23.33
Kurang
√
3
√
1
21
35
Kurang
0
0
14
23.33
Kurang
1
√
2
14
23.33
Kurang
1
0
14
23.33
Kurang
0
0
5
8.33 Sangat Kurang
1
√
1
20
33.33
Kurang
0
0
10
16.67 Sangat Kurang
0
√
2
18
30
Kurang
0
√
2
12
20
Sangat Kurang
1
√
√
3
26
43.33
Cukup
1
0
13
21.67
Kurang
0
√
2
10
16.67 Sangat Kurang
0
√
2
9
15
Sangat Kurang
0
0
11
18.33 Sangat Kurang
1
√
√
3
11
18.33 Sangat Kurang
1
√
2
15
25
Kurang
Kategori
14
Siswa Flu Fle Ori
Kelompok
Tinggi
Kelompok
Sedang
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
Kelompok
Rendah
√
√
172
173
Lampiran 17
LEMBAR WAWANCARA
1. Apakah Anda mengetahui pembelajaran open-ended? (jika siswa tidak tahu,
beri tahu siswa tersebut bahwa pembelajaran open ended adalah pembelajaran
yang dimulai dengan memberikan soal yang memiliki banyak jawaban benar
atau pendekatan ini dilakukan pada saat pembelajaran oleh peneliti)
2. Apa pendapat Anda mengenai pembelajaran open-ended jika dibandingkan
dengan pembelajaran yang dilakukan sebelumnya ?
3. Apakah ada kesulitan pada saat pembelajaran berlangsung? Jika “Ya” apa
kesulitan yang dialami? Dan bila “tidak” sebutkan alasannya!
4. Apakah ditemukan hal-hal yang baru dengan mempelajari materi elektrokimia
menggunakan pembelajaran open-ended?
5. Apakah pembelajaran open-ended dapat memotivasi untuk lebih kreatif?
Jelaskan alasannya!
6. Apakah
pembelajaran
open-ended
dapat
membuka
wawasan
untuk
memberikan solusi yang lebih variatif terhadap permasalahan di sekitar kita?
7. Bagaimana langkah dalam menyelesaikan soal yang telah diberikan sampai
mendapatkan jawaban?
8. Adakah
permasalahan dalam soal yang pernah dialami secara langsung?
Tunjukan soal nomor berapa!
174
Lampiran 18
HASIL WAWANCARA
Siswa Kelompok Tinggi 1
Pertanyaan
1. Apakah Anda mengetahui
Jawaban
-
Ngga
-
Menurut aku, pembelajaran open-
pembelajaran open-ended?
Pembelajaran open-ended itu adalah
pembelajaran yang diterapkan pada
pertemuan minggu kemarin dengan
membentuk kelompok dan diberikan
soal-soal yang memiliki banyak
jawaban benar
2. Apa pendapat Anda mengenai
pembelajaran open-ended jika
ended itu bagus soalnya diawalnya
dibandingkan dengan pembelajaran
kita tuh disuruh buat, mmm apasih.
yang dilakukan sebelumya ?
Mengeksplore dulu sendiri. Trus
habis mengeksplore sendiri kan kita
jadi tahu tuh setelah tau itu
didiskusiin lagi sama temen. Jadinya
kita makin tahu apa yang kita cari tuh
ternyata misalnya ada yang kurang,
trus saling melengkapi sama tementemennya. Nah abis tuh setelah
didiskusiin nanti dapet kesimpulan
yang bisa dijadiin hasilnya itu.
3. Apakah ada kesulitan pada saat
pembelajaran berlangsung?
-
Mmm sebenernya sih lebih kayak
yang ke eksplorenya aja sih kak
misalnya kayak buku. Misalnya juga
di buku kurang lengkap trus kan jadi
kita perlu internet. Nah sedangkan
175
koneksi internetnya juga kadang
kurang kaan. Gitu aja sih.
4. Apakah ditemukan hal-hal yang baru
-
Mmm iya kayaknya
-
Mm kayak aku lebih tau gitu ternyata
dengan mempelajari materi
elektrokimia menggunakan
pembelajaran open-ended?
-
baterai tuh ga cuma satu gitu. Trus
Apa?
kayak baterai tuh macem-macem ada
yang primer ada yang sekunder
kurang lebih gitu kak.
5. Apakah pembelajaran open-ended
-
Iyaa
-
Yaa, kan kita bisa eksplore sendiri
dapat memotivasi untuk lebih kreatif?
-
Kenapa?
jadi kita bisa terus nyari-nyari-nyari
di buku sumber yang bisa dijadiin
referensi dari apa yang ditanyain.
Udah itu aja
6. Apakah pembelajaran open-ended
-
Iya, soalnya kan itu kan kita
dapat membuka wawasan untuk
perkelompok gitu kan kak. Trus yang
memberikan solusi yang lebih variatif
dari sumber, misalkan perorang cari
terhadap permasalahan di sekitar kita?
sumber tuh nah kalo yang satunya ga
lengkap pasti dilengkapin sama yang
lain. Jadinya saling melengkapi.
7. Berdasarkan soal evaluasi yang telah
-
Yang pertama sebelumnya aku kan
diberikan, bagaimana langkah dalam
belajar dulu kayak baca-baca di
menyelesaikan soal tersebut sampai
rumah trus abis itu aku kaitin juga
mendapatkan jawaban?
sama aku pernah ga sih ngalamin
kayak gini gitu kan. Misalnya aku
pernah nguji waktu kelas X tentang
176
larutan elektrolit juga kayak gitu-gitu
trus jadinya dihubungin sama
kegiatan yang pernah aku lakuin
sama apa yang udah aku baca di
rumah
8. Adakah permasalahan dalam soal yang
pernah dialami secara langsung?
-
Waktu ini, cara membuat lampu
menyala sama udah sih kak gitu aja.
177
Siswa Kelompok Tinggi 2
Pertanyaan
1. Apakah Anda mengetahui
Jawaban
-
Ya tau
-
Lebih seru sih kak. Soalnya itu
pembelajaran open-ended?
2. Apa pendapat Anda mengenai
pembelajaran open-ended jika
jawabannya sendiri-sendiri dulu kan
dibandingkan dengan pembelajaran
trus nanti dipilih yang bener tuh yang
yang dilakukan sebelumya ?
mana nanti baru didiskusiin dan
dijelasin di depan kelas
3. Apakah ada kesulitan pada saat
-
Iya kesulitan
-
Kan itu.. eeee… ngga deh kak ngga
pembelajaran berlangsung?
-
Kenapa?
sebenernya. Ngga ngga ngga, soalnya
ada via internet, ada dari buku jadi
lebih gampang
4. Apakah ditemukan hal-hal yang baru
-
He’em
-
Soalnya kan biasanya kalo misalkan
dengan mempelajari materi
elektrokimia menggunakan
pembelajaran open-ended?
-
Apa contohnya?
belajar normal kan cuma dari guru
ngejelasin atau ngga dari slide. Kalo
ini kan kita cari sendiri, jawabannya
tau sendiri, tau penjelasannya
gimana. Trus ada internet juga
5. Apakah pembelajaran open-ended
-
Iya
-
Soalnyaa, ini kan hal baru ya kak. Ee
dapat memotivasi untuk lebih kreatif?
-
Alasannya apa?
gimana ya alesannya . ee yaa baru aja
178
gitu loh. Ga biasa maksudnya, ini kan
kita berkelompok juga nanti baru
pendapat satu-satu di didiskusiin
yang paling bagus baru disampein.
6. Apakah pembelajaran open-ended
-
Iya, soalnya kan jawaban masing-
dapat membuka wawasan untuk
masing orang beda-beda kan kak.
memberikan solusi yang lebih variatif
Nanti didiskusiin lagi. Nanti yang
terhadap permasalahan di sekitar kita?
variasi itu digabungin satu-satu trus
dapet deh jawaban yang jelas sama
yang apa sih namanya, yang cocok
lah gitu
7. Berdasarkan soal evaluasi yang telah
-
Dari open-endednya itu, kan
diberikan, bagaimana langkah dalam
sebelumnya kita open-ended dulu kan
menyelesaikan soal tersebut sampai
kak. Trus dijelasin dulu ini kenapa
mendapatkan jawaban?
bisa kayak gini, trus ditayangin dulu
ada videonya trus ada pertanyaan.
Trus kita boleh lagi cari di buku jadi
sumbernya ga dari itu doang kaka.
-
Kalau yang ketika evaluasi gimana?
itu kan udah individu ngerjainnya
8. Adakah permasalahan dalam soal yang
Ada dari internet sama dari buku.
-
Nginget-nginget yang kemaren
-
Ada
-
Besi karat, yang pager deh kalo ga
pernah dialami secara langsung?
-
Yang mana?
salah. Pernah liat di cat
179
Siswa Kelompok Sedang 1
Pertanyaan
1. Apakah Anda mengetahui
Jawaban
-
Ya
-
Enakan open-ended sih kak soalnya
pembelajaran open-ended?
2. Apa pendapat Anda mengenai
pembelajaran open-ended jika
ga cuma dari teori, ga mentok di teori
dibandingkan dengan pembelajaran
tapi pengalaman juga kan bisa
yang dilakukan sebelumya ?
3. Apakah ada kesulitan pada saat
-
Ada
-
Ya kayak, kan kita kan gak tau
pembelajaran berlangsung?
-
Kenapa?
semuanya gitu kak. Jadi ya ada
kesulitannya. Trus juga trus ya
gitulah kak ya pokoknya kita kan ga
semuanya tau trus kan ada yang dari
pengalaman ada yang dari teori
sedangkan kita kan ga inian teori juga
tapi pengalaman juga kan kadang
ngga inian kak. Gitu yaudah
4. Apakah ditemukan hal-hal yang baru
-
Menemukan sih
-
Eh ngga tau deh kak
-
Iya
-
Soalnyaa, kita lebih banyak kayak
dengan mempelajari materi
elektrokimia menggunakan
pembelajaran open-ended?
-
Apa contohnya?
5. Apakah pembelajaran open-ended
dapat memotivasi untuk lebih kreatif?
-
Alasannya apa?
180
harus percobaannya juga trus sama
teorinya juga kan kita
6. Apakah pembelajaran open-ended
-
iya soalnya lebih banyak kan itu kan
dapat membuka wawasan untuk
dari pendapat orang juga kan kak jadi
memberikan solusi yang lebih variatif
lebih banyak dan variatif
terhadap permasalahan di sekitar kita?
7. Berdasarkan soal evaluasi yang telah
-
Dari pikiran saya sendiri kak
-
Ada
-
Yang pisau sama gunting
diberikan, bagaimana langkah dalam
menyelesaikan soal tersebut sampai
mendapatkan jawaban?
-
Kalau yang ketika evaluasi gimana?
itu kan udah individu ngerjainnya
8. Adakah permasalahan dalam soal yang
pernah dialami secara langsung?
-
Yang mana?
181
Siswa Kelompok Sedang 2
Pertanyaan
1. Apakah Anda mengetahui
Jawaban
-
Eee tidak
-
Eee lebih, menurut saya
pembelajaran open-ended?
Pembelajaran open-ended itu adalah
pembelajaran yang diterapkan pada
pertemuan minggu kemarin dengan
membentuk kelompok dan diberikan
soal-soal yang memiliki banyak
jawaban benar
2. Apa pendapat Anda mengenai
pembelajaran open-ended jika
pembelajaran open-ended itu lebih
dibandingkan dengan pembelajaran
bisa mengeksplore pikiran siswa atau
yang dilakukan sebelumya ?
siswi juga. Trus bisa lebih dipahami
juga daripada belajar-belajar biasa.
Ya kayak gitu
3. Apakah ada kesulitan pada saat
-
Eeee, ngga sih
-
Soalnya mudah dipahami juga trus
pembelajaran berlangsung?
-
Kenapa?
juga soal-soalnya mudah dipahami,
trus juga kakanya ngejelasinnya enak
gitu.
4. Apakah ditemukan hal-hal yang baru
-
Iya
-
Penyepuhan pada. Penyepuhan…
dengan mempelajari materi
elektrokimia menggunakan
pembelajaran open-ended?
-
Apa contohnya?
182
5. Apakah pembelajaran open-ended
-
Iya
-
Soalnya kan itu kayak soal essay gitu
dapat memotivasi untuk lebih kreatif?
-
Alasannya apa?
kan jadinya lebih meem mee
menuntut kita untuk berkreatif untuk
menjawab jawabannya.
6. Apakah pembelajaran open-ended
-
Iya
-
Kan itu soalnya jadi kayak dalam
dapat membuka wawasan untuk
memberikan solusi yang lebih variatif
terhadap permasalahan di sekitar kita?
-
Kenapa ?
kehidupan sehari-hari kan jadi kita
jadi kayak lebih tahu ee aplikasi
pada kehidupan sehari-hari. Jadinya
kan ya gitu.
7. Berdasarkan soal evaluasi yang telah
-
Belajar dulu sebelum tes
-
Oh iya ada
-
Misalnya kayak pisau berkarat terus
diberikan, bagaimana langkah dalam
menyelesaikan soal tersebut sampai
mendapatkan jawaban?
8. Adakah permasalahan dalam soal yang
pernah dialami secara langsung?
-
Yang mana?
eeh yaudah itu aja
183
Siswa Kelompok Rendah 1
Pertanyaan
1. Apakah Anda mengetahui
Jawaban
-
Ngga
-
Lebih cepet tanggep. Kalo
pembelajaran open-ended?
Pembelajaran open-ended itu adalah
pembelajaran yang diterapkan pada
pertemuan minggu kemarin dengan
membentuk kelompok dan diberikan
soal-soal yang memiliki banyak
jawaban benar
2. Apa pendapat Anda mengenai
pembelajaran open-ended jika
sebelumnya kan mesti dijelasin dulu
dibandingkan dengan pembelajaran
jadi masih belum ngerti konsepnya.
yang dilakukan sebelumya ?
Kalo yang itu jadi tau konsepnya
dulu gitu
3. Apakah ada kesulitan pada saat
-
pembelajaran berlangsung?
4. Apakah ditemukan hal-hal yang baru
Sulitnya, …mm ya itu. Nyari tau
dulu sedikit. Nyari tau materinya
-
Mmmm, sama aja sih kayaknya.
dengan mempelajari materi
Soalnya kan dari sumbernya juga kan
elektrokimia menggunakan
buku sama internet jadi sama aja.
pembelajaran open-ended?
5. Apakah pembelajaran open-ended
-
Iya
-
Eee bisa kayak bagaimana caranya
dapat memotivasi untuk lebih kreatif?
-
Alasannya apa?
buat penyampaian materi jadi biar
lebih nangkep lagi. Kalo yang
sebelumnya kan paling materinya aja
184
lagi dijelasin kayak ngebaca buku
trus dibacain lagi bukunya. Kalo
yang kemaren kan kayak ada gimana
caranya buat paham konsepnya gitu
deh beda
6. Apakah pembelajaran open-ended
-
bisa
-
kayak penyampaian materi gitu atau
dapat membuka wawasan untuk
memberikan solusi yang lebih variatif
terhadap permasalahan di sekitar kita?
-
Bagaimana ?
kayak lagi ngejelasin masalahmasalah. Ntar kan jadi kayak ga
terlalu kaku gitu pelajarannya
7. Berdasarkan soal evaluasi yang telah
-
diberikan, bagaimana langkah dalam
Karna konsepnya udah dijelasin jadi
apa ya pake logika sendiri mikirnya
menyelesaikan soal tersebut sampai
mendapatkan jawaban?
8. Adakah permasalahan dalam soal yang
-
Iya
-
Yang soal yang kayak besi berkarat,
pernah dialami secara langsung?
-
Yang mana?
pagar, pisau kan dalam lingkungan
kehidupan sehari-hari
185
Siswa Kelompok Rendah 2
Pertanyaan
1. Apakah Anda mengetahui
Jawaban
-
Tau
-
Ya sebenernya ga beda jauh sih
pembelajaran open-ended?
2. Apa pendapat Anda mengenai
pembelajaran open-ended jika
Cuma mendingan yang sekarang ini.
dibandingkan dengan pembelajaran
Saya juga jadi lebih tau lah dari yang
yang dilakukan sebelumya ?
tadinya belum tau
3. Apakah ada kesulitan pada saat
-
Ngga
-
Ada sih
-
Eee apa ya. Dari praktek-prakteknya
pembelajaran berlangsung?
4. Apakah ditemukan hal-hal yang baru
dengan mempelajari materi
elektrokimia menggunakan
pembelajaran open-ended?
-
Apa contohnya?
dari teori-teorinya juga banyak sih.
Ya kayak yang solar sel yang baterai
isi ulang sama baterai yang langsung
habis
5. Apakah pembelajaran open-ended
-
Iya
dapat memotivasi untuk lebih kreatif?
-
Alasannya apa?
- Alesannya ya karena pembelajaran
yang ini lebih membuka pikiran aja.
Jadinya gimana ya jadi memotivasi
membuat apa gitu jadi penasaran buat
prakteknya
186
6. Apakah pembelajaran open-ended
-
Iya
-
Ya itu yang kayak tadi. Yang dikasih
dapat membuka wawasan untuk
memberikan solusi yang lebih variatif
terhadap permasalahan di sekitar kita?
-
Bagaimana ?
soal jawabannya bisa ada banyak.
Kan yang tadinya ga tau bisa jadi tau
lagi.
7. Berdasarkan soal evaluasi yang telah
-
Ya, pertama sih pake pemikiran
diberikan, bagaimana langkah dalam
sendiri. Ya kalo udah aga mentok apa
menyelesaikan soal tersebut sampai
masih kurang gitu bisa nanya kalo ga
mendapatkan jawaban?
sharing aja jawabannya ama temen.
8. Adakah permasalahan dalam soal yang
-
Ada sih
-
Yang ini, yang prakteknya cara
pernah dialami secara langsung?
-
Yang mana?
melihat potensial sel dari jeruk nipis,
paku seng dan uang logam.
187
Lampiran 19
HASIL DOKUMENTASI JAWABAN SISWA
BERDASARKAN OBSERVASI
1. Contoh Jawaban pada Aspek Fluency
Skor 4
Skor 3
188
Skor 2
Skor 1
189
Skor 0
2. Contoh Jawaban pada Aspek Flexibility
Skor 4
190
Skor 3
Skor 2
191
Skor 1
3. Contoh Jawaban pada Aspek Originality
Skor 4
192
Skor 3
Skor 2
193
Skor 1
194
Lampiran 20
HASIL DOKUMENTASI JAWABAN SISWA BERDASARKAN
TES OPEN-ENDED
1. Jawaban Siswa pada Tingkat Sangat Kreatif (Skor 4)
2. Jawaban Siswa pada Tingkat Kreatif (Skor 3)
195
3. Jawaban Siswa pada Tingkat Cukup Kreatif (Skor 2)
4. Jawaban Siswa pada Tingkat Kurang Kreatif (Skor 1)
196
5. Jawaban Siswa pada Tingkat Tidak Kreatif (Skor 0)
197
Lampiran 21
HASIL DOKUMENTASI KEGIATAN PENELITIAN
198
199
200
201
202
203
204
205
206
207
208
209
210
211
212
Lampiran 23
213
Lampiran 24
Download