BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Manusia diciptakan

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial sangat membutuhkan benda dan
makhluk lain, baik benda mati seperti batu, tanah dan lainnya, maupun makhluk lain
seperti hewan dan manusia lainnya. Antara manusia satu dengan manusia lain, manusia
dengan alam dan manusia dengan Realitas Sejati selalu saling berhubungan satu dengan
yang lainnya. Hubungan tersebut tetap berjalan dan terjalin dalam sebuah komunikasi
baik verbal maupun non-verbal. Tidak tertutup kemungkinan komunikasi yang
dilakukan oleh manusia dengan alam dan Realitas Tertinggi adalah komunikasi bhatin.
Komunikasi yang terjadi di antara mereka menentukan keberadaan mereka di bumi ini.
Komunikasi, oleh karena itu, menjadi sangat penting di dalam kehidupan,
karena dengan komunikasi, seseorang bisa membentuk sebuah relasi antara individu
satu dan individu lain maupun antara individu dan kelompok lain. Dalam segala aspek
komunikasi ini sangat signifikan apakah dalam pendidikan, pergaulan, perdagangan,
dan yang lainnya. Melalui komunikasi dengan sesamanya, manusia bisa memperbanyak
sahabat, memperbanyak rejeki, memperbanyak dan memelihara pelanggan, dan juga
mempelihara hubungan yang baik antara bawahan dengan atasan atau sebaliknya dalam
suatu organisasi (Cangara, 2007: 59). Komunikasi juga penting dalam pembentukan
karakter dan pribadi seseorang, karena dengan berkomunikasi manusia bisa membentuk
pengalaman sehingga manusia bisa berkembang.
1
Komunikasi yang terjadi biasanya mengikuti pola-pola tertentu. Setiap pola
komunikasi selalu unik di dalam dirinya. Pengertian Pola komunikasi diartikan sebagai
bentuk atau pola hubungan dua orang atau lebih dalam proses pengiriman dan
penerimaan cara yang tepat, sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami (Djamarah,
2004). Dimensi pola komunikasi terdiri dari dua macam, yaitu pola yang berorientasi
pada konsep dan pola yang berorientasi pada sosial yang mempunyai arah hubungan
yang berlainan (Soenarto, 2006).
Pola komunikasi juga dapat diartikan sebagai suatu gambara yang sederhana
dari proses komunikasi dengan memperlihatkan kaitan antara satu komponen
komunikasi dengan komponen lainnya (Soejanto, 2001). Pola komunikasi ini menjadi
bentuk atau pola hubungan dua orang atau lebih dalam proses pengiriman dan
penerimaan cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.
Kitab suci Hindu, dalam beberapa bagiannya menyediakan pola dialog di dalam
menyampaikan pesannya kepada masyarakat. Pola dialog ini digunakan untuk
mempermudah masyarakat memahami isi ajaran, sebab orang yang membaca teks
seolah-olah diajak berdialog langsung. Seperti misalnya Teks Vijnana Bhairava Tantra
dalam menyampaikan konsepnya memiliki pola pola yang unik. Teks menyajikan
sebuah dialog yang intim antara pemberi ajaran dan penerimanya. Pemberi ajaran dalam
teks dinyatakan sebagai guru sedangkan penerima ajaran disebut sisya. Komunikasi
yang terjadi diantara mereka disebut dengan komunikasi guru-sisya.
Peneliti melihat bahwa komunikasi intens antara guru dan sisya memiliki
keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh jenis komunikasi lain. Meskipun terjadi
2
dialog sebagaimana halnya komunikasi umum lainnya, dalam beberapa aspek,
komunikasi gurus-sisya ini mengandung unsur-unsur yang khas yang menjadikan
proses komunikasi itu tidak hanya menyampaikan sekedar informasi, melainkan
memiliki aspek transformasi dan proses internalisasi. Hasilnya, komunikasi yang terjadi
tersebut tidak hanya melibatkan aspek kognisi saja, melainkan juga menyajikan dimensi
unik lainnya yang menarik peneliti untuk melakukan penelitian ini.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dipaparkan diatas, maka dapat
dirumuskan dua rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Pola Komunikasi Hubungan Guru-Sisya dalam Teks Vijnana
Bhairava Tantra?
2. Apa yang dikomunikasikan antara Guru dan Sisya dalam Teks Vijnana Bhairava
Tantra
3. Apa Makna Komunikasi Hubungan Guru-sisya dalam Teks Vijnana Bhairava
Tantra?
1.3 Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tentang
sistem komunikasi yang berlangsung antara Guru dan sisya khususnya sebagaimana
yang diuraikan dalam teks Vijnana Bhairava Tantra. Secara khusus penelitian ini
bertujuan untuk:
3
1. Mengatahui bentuk pola komunikasi hubungan guru-sisya dalam teks Vijnana
Bhairava Tantra
2. Mengatahui makna komunikasi hubungan guru-sisya dalam teks Vijnana
Bhairava Tantra
1.4 Manfaat Penelitian
Secara Teoretis penelitian ini dapat bermanfaat sebagai pengayaan bagi ilmu
pengetahuan serta dapat menjadi rujukan baru bagi penelitian sejenis lainnya.
Sementara secara praktis penelitian ini dapat bermanfaat luas bagi masyarakat
khususnya mengenai bagaimana pola komunikasi yang terjadi antara guru dan sisya
dalam teks Vijnana Bhairava Tantra.
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kajian Pustaka
Osho dalam discourse yang diberikan kepada muridnya sepanjang tahun 1972,
yang telah dibukukan ke dalam 2 volume dengan judul Vigyan Bhairav Tantra
menjelaskan secara detail tentang signifikasi dari ajaran tantra. Baginya teks tantra
bukanlah teks religious tetapi murni science, yang bisa dipraktekkan oleh siapapun, dari
manapun asal kepercayaannya. Osho mengandaikan teknik tantra ini seperti science
tentang listrik. Siapapun yang menggunakannya akan merasakan manfaatnya, terlepas
dari apapun keyakinan dan kepercayaannya. Karya ini mengandung penjelasan yang
spektakuler sebab dijabarkan dari berbagai sudut pandang, apakah filsafat, psikologi,
science, esoterik dan yang lainnya. Tentu hal ini menjadi sangat bermanfaat bagi
penelitian ini, terutama bagaimana Osho mampu mengkomunikasikan teks yang
demikian rigid menjadi sesuatu yang mengalir, bisa dipahami dari berbagai perspektif
yang berbeda-beda.
Karya dengan judul “Vijnana Bhairava Tantra” yang disediakan dalam bentuk
PDFoleh: https://archive.org menampilkan teks devanagari dan terjemahan dalam
bahasa Inggris. Karya ini tidak menampilkan tentang penerjemahnya, namun jika
disandingkan dengan apa yang disampaikan secara detail oleh Osho, maka terjemahan
tersebut hampir mendekati. Teks Sanskrit dan terjemahan ini tertuang ke dalam buku
berjumlah sebanyak 71 halaman. Dalam analisis penelitian ini, peneliti menggunakan
5
teks ini sebagai rujukan disamping buku karya Osho itu sendiri. Dalam jumah halaman
yang relative sedikit bila dibandingkan dengan uraian interpretasi Osho (sebanyak
kurang lebih 1200 halaman), namun teks ini dapat dijadikan rujukan utama, sebab apa
yang ditampilkan adalah terjemahan apa adanya terhadap teks tersebut, sehingga belum
mengalami distorsi interpreter.
Pola atau model adalah representasi atau suatu fenomena, baik nyata atau
abstrak, dengan menonjolkan unsur-unsur penting fenomena tersebut. Komunikasi
adalah suatu proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima
dengan maksud untuk mengubah tingkah laku. Definisi ini dikembangkan menjadi
suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran
informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling
pengertian yang mendalam (Effendy, 2001: 10). Pola komunikasi adalah bentuk atau
pola hubungan antara dua orang atau lebih dalam proses mengkaitkan dua komponen
yaitu gambaran atau rencana yang menjadi langkah-langkah pada suatu aktivitas dan
komponen-komponen yang merupakan bagian penting atas terjadinya hubungan antar
organisasi ataupun juga manusia.
Penelitian mengenai pola komunikasi yang dihubungkan teks-teks Hindu sampai
saat ini masih sangat jarang sehingga penelitian ini bisa dikatakan sebagai perintis.
Penelitian yang berhubungan dengan hubungan sosial keagamaan dan sistem
komunikasi pada komunitas-komunitas Hindu banyak telah dilaksanakan tetapi tidak
relevan apabila ditampilkan sebagai tinjauan pustaka pada penelitian ini, sehingga
6
definisi tentang pola komunikasi menjadi signifikan untuk memberikan batasan dan
ruang lingkup yang jelas dari penelitian ini.
2.2 Konsep Vijnana Bhairava Tantra
Vijnana Bhairava Tantra adalah salah satu bab dari teks Rudrayamala Tantra,
yang merupakan teks agama Bhairava. Prase Vijnana Bhairava Tantra berasal dari
Bahasa Sanskerta. Vijnana artinya kesadaran, Bhairava artinya sebuah keadaan di atas
kesadaran, dan Tantra berarti teknik atau metode. Jadi Vijnana Bhairava Tantra artinya
metode yang digunakan untuk mencapai keadaan di atas kesadaran (Osho, 1972: 2).
Devi bertanya kepada Siwa agar menyampaikan esensi dari cara merealisasikan
realitas tertinggi. Siwa menjawab dengan menguraikan 112 teknik untuk memasuki
alam kesadaran transcendental (Reps, 2015). Teks ini merupakan kitab rujukan utama
dari Siwaisme Khasmir. Siwa berbicara tentang teknik (dharana) yang meliputi
beberapa variasi nafas, konsentrasi pada beberapa bagian tubuh tertentu, kesadaran non
dual, chanting, imajinasi, visualisasi dan konsentrasi pada indra tertentu (Osho, 1998).
Terhadap 112 teknik ini, Osho menyatakan:
These one hundred and twelve methods of meditation constitute the whole
science of transforming mind. Nothing can be added; there is no possibility to
add anything. It is exhaustive, complete. It is the most ancient and yet the latest,
yet the newest. Old like old hills – the methods seem eternal – and they are new
like a dewdrop before the sun, because they are so fresh. These methods do not
belong to any religion. This is not religion, this is science. No belief is needed.
Tantra is pure science. Tantra says that religion is a social affair. So belong to
any religion; it is irrelevant. But you can transform yourself, and that
transformation needs a scientific methodology.
Teks ini diperkirakan telah berumur sekitar 5000 tahun dan oleh Osho
dinyatakan sebagai kata terakhir dari meditasi. Dari sekian teknik meditasi yang ada di
7
dunia ini bagi Osho hanyalah pengembangan dari ke-112 teknik meditasi ini. Tidak ada
teks yang mengandung metode meditasi lebih lengkap dari Vijnana Bhairava Tantra ini.
Setiap metode yang dipraktekkan oleh setiap orang di seluruh di dunia merujuk dan
modifikasi dari jenis metode teks ini.
2.3
Teori
2.3.1 Teori Hermeneutika
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori hermeneutika. Bahasa
tidak hanya dipahami sebagai struktur dan makna serta penggunaannya dalam
kehidupan. Fungsi bahasa adalah untuk melukiskan seluruh realitas hidup manusia.
Dalam persfektif hermaneutik, bahasa dilihat sebagai pusat gravitasi (Kaelan,
2009:264).
Pengunaaan bahasan dalam suatu karya sastra menyaratkan akan kehalusan
budhi dari pembuat karya sastra tersebut, serta bagaimana keadaan zaman saat karya
tersebut disusun. Keadaan lingkungan (kehidupan sosial masyarakat) dan situasi politik,
sering menjadi topik yang dituangkan dalam suatu karya sastra. Hermeneutika mampu
membantu penikmat sasatra dalam mengetahui ajara-ajran yang terkandung dalam suatu
naskah dan juga sebagai sebuah ajang rekreasi ke zaman dahulu.
Penggunaan hermeneutika sebagai metode penafsiran semakin meluas dan
berkembang, baik dalam cara analisisnya maupun objek kajiannya. Hermeneutika
sangat erat berkaitan dengan kitab suci dan digunakan untuk menafsirkan komentarkomentar aktual atas kitab suci (Mulyono, 2012:30). Hermeneutika menafsirkan ajaran
yang terkandung dalam naskah (kitab suci) dengan mempergunakan analogi-analogi,
8
yang mengacu pada fungsi transformatif dari bahasa, serta perbandingan-perbandingan
atas status yang sudah diketahui. Berdasarkan pada hal tersebut, maka teori
hermeneutika akan mampu untuk melihat tentang totalitas dari pemikiran manusia serta
keagungan kebudayaan ketika naskah ini dibuat.
Teks suci selalu dikaitkan dengan hermeneutika karena ajaran yang diperagakan
adalah interpretasi dari kitab suci (Howard, 2001:23). Berdasarkan teori ini peneliti
akan melakukan penafsiran dan berusaha menjabarkan pada aspek komunikasi dari teks
Vijnana Bhairava Tantra. Hal-hal yang berhubungan dengan pola komunikasi guru
sisya dalam teks tersebut akan digali dan disajikan secara ilmiah agar memberikan
pemahaman yang komperhensif.
2.2.2 Teori Semiotik
Teori kedua yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori semiotik. Di
antara sistem tanda, bahasa merupakan sistem tanda yang paling kompleks dan
mendasar untuk berkomunikasi antar manusia (Teeuw, 1988:46). Dalam karya sastra/
teks, asfek kebahasaan merupakan suatu hal yang fundamental. Suatu karya sastra/ teks
suci merupakan satuan yang dibangun atas hubungan antara tanda dengan makna, antara
ekspresi dengan pikiran, antara asfek luar dan asfek dalam (Faruk, 2014:77).
Sebagai asfek semiotik, karya sastra/ teks suci mempunyai eksistensi ganda,
yakni sekaligus berada dalam dunia indrawi (empirik) dan dunia kesadaran
(consciousness) yang non empirik. Asfek keberadaannya yang pertama dapat ditangkap
oleh indra manusia, sedangkan aspek keberadaannya yang kedua tidak dapat dialami
oleh indra. Suatu karya sastra dapat dilihat atau didengar lewat asfek tulisan atau
9
bunyinya. Aspek bunyi dan tulisan itulah yang menjadi aspek empirik karya sastra
(aspek yang dapat dialami indra manusia).
Kata-kata dipakai sebagai tanda dari suatu konsep atau ide (Berger, 2010:1),
sehingga semiotika pada prinsipnya hendak mempelajari bagaimana manusia
(humanity) memaknai hal-hal dan segala sesuatunya dengan kata-kata. Memaknai
berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam arti bahwa objekobjek itu tidak hanya hendak berkomunikasi, melainkan juga mengkonstitusi sistem
terstruktur dari tanda.
Suatu tanda menandakan sesuatu selain dirinya sendiri dan makna adalah
hubungan antara sesuatu objek atau idea dengan suatu tanda (Littlejohn dalam Kaelan,
2009:163).
Konsep dasar ini mengikat bersama seperangkat teori yang amat luas
berurusan dengan simbol, bahasa, wacana dan bentuk-bentuk nonverbal. Teori ini
menjelaskan bagaimana tanda berhubungan dengan maknanya dan bagaimana tanda
disusun. Teori Semiotika yang dinyatakan oleh Littlejhon ini akan dipergunakan untuk
membahas makna komunikasi yang terdapat dalam teks Vijnana Bhairava Tantra.
10
2.4 Model Penelitian
Tradisi Hindu
Guru-sisya
Komunikasi
Vijnana Bhairava
Tantra
Pola Komunikasi
Hubungan GuruSisya
Materi yang
dikomunikasikan dalam
hubungan guru sisya
Teori
Hermeneutika
Makna Komunikasi
Hubungan Gurusisya
Teori Semiotik
Pemahaman tentang Pola
Komunikasi dalam teks
Vijnana Bhairava Tantra
11
Keterangan Bagan:
Dalam Tradisi Hindu terdapat sebuah pengajaran dengan memfokuskan pada aspek
tertentu dari ajaran Hindu yang luas, yang disebut Sampradaya. Keberlangsungan
Sampradaya ini dikenal dengan Parampara, yakni tongkat estapet ajaran dari satu
generasi ke generasi berikutnya. Tongkat estapet ini bisa berjalan dengan baik karena di
dalamnya terdapat sistem hubungan khusus yang kuat, yakni guru-sisya.
Dalam
hubungan guru-sisya ini terjadi sebuah komunikasi yang intens antara guru sebagai
transmitter pengetahuan dan sisya sebagai penerima pengetahuan tersebut. Komunikasi
yang terjadi di dalamnya biasanya berhubungan dengan proses transmisi pengetahuan
tersebut. Hampir sebagian besar penyajian isi teks upanisad dan tantra adalah berbentuk
dialog, sebiah komunikasi intens antara guru dan sisya tersebut. Salah satu teks yang
menguraikan ajaran Kebenaran tertinggi ke dalam bentuk dialog adalah Vijnana
Bhairava Tantra. Teks ini menguraikan tentang percakapan antara Parvati (Bhairavi)
yang dalam hal ini berperan sebagai murid dan Siwa (Bhairava) sebagai guru. Dalam
penelitian ini akan digali tentang pola dan makna komunikasi hubungan guru-sisya
dalam teks Vijnana Bhairava Tantra ini. Kedua permasalahan ini akan dibedah melalui
dua teori yakni hermeneutika dan semiotik. Melalui pisau bedah kedua teori ini
diharapkan mampu memberikan gambaran secara komprehensif tentang pola dan
makna komunikasi hubungan guru-sisya yang terdapat dalam teks Vijnana Bhairava
Tantra.
12
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ‘Pola Komunikasi Hubungan Guru-sisya dalam Teks Vijnana
Bhairava Tantra’ adalah jenis penelitian kualitatif, karena hasil-hasil temuannya tidak
diperoleh melalui prosedur statistik atau hitungan lainnya (Strauss & Corbin dalam
Maleong, 2003: 4). Penelitian ini lebih banyak membutuhkan jenis data dalam bentuk
rangkaian kata-kata, dan bukan dalam bentuk angka-angka. Prosedur penelitian ini
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis, lisan, dan perilaku orang-orang
yang dapat diamati. Oleh karena itu penelitian ini dapat disebut sebagai jenis penelitian
kualitatif (Bogdan & Taylor dalam Maleong, 2002: 3).
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan tidak berdasarkan lokasi, karena ruang lingkup
penelitian tidak dalam koridor wilayah tertentu, melainkan pada teks. Teks yang dikaji
adalah teks Tantra. Dari sekian banyak teks Tantra yang ada, peneliti memilih satu teks
yang berjudul Vijnana Bhairava Tantra. Teks ini telah secara luar diterjemahkan dan
dipublikasikan, baik melalui media cetak (berupa buku) maupun media elektronik
(dalam bentuk pdf). Hal yang ingin dikaji dari teks ini adalah pola komunikasi yang ada
di dalamnya antara Siwa dengan Parwati. Apa isi yang dikomunikasikan tidak menjadi
bahan kajian penelitian ini, melainkan hanya terfokus pada pola komunikasinya saja.
13
Dengan meneliti hanya pada salah satu sudut teks, diharapkan mendapatkan hasil yang
maksimal.
3.3 Jenis dan Sumber Data
Secara umum jenis data dalam suatu penelitian ada dua, yaitu data kuantitatif
dan data kualitatif. Data kulitatif adalah data-data yang berbentuk kata-kata dan
gambar-gambar, sedangkan data kuantitatif adalah data yang diperoleh dalam bentuk
angka-angka. Dalam penelitian ini, jenis data yang diperlukan adalah jenis data
kualitatif dengan pertimbangan bahwa data-data yang diperoleh berupa kata-kata dan
gambar-gambar yang kemudian akan dianalisis dan diinterpretasi kembali oleh peneliti
dalam bentuk uraian berupa kata-kata guna memperjelas data yang diperoleh dari
penelitian.
Data dalam penelitian dibagi dua yaitu: Pertama data Primer adalah data yang
diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan alat pengukuran atau
alat pengambilan data langsung pada subjek sebagai sumber informasi yang dicari.
Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah bersumber pada teks langsung yang
telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris Kedua, data sekunder adalah data yang
diperoleh melalui pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subjek
penelitiannya, adapun data lain yang digunakan adalah buku-buku refrensi yang dapat
menunjang penyelesaian penelitian ini.
3.4 Instrumen Penelitian
Data yang diambil dalam penelitian ini sebagian besar diperoleh atau diambil
oleh peneliti ditunjang dengan pedoman wawancara. Berdasarkan teknik tersebut yang
14
menjadi instrumen utama dalam penelitian ini adalah analisis konten teks, dengan
memperhatikan secara seksama percakapan yang ada di dalam teks. Disamping itu
untuk mendukung penelitian ini juga diadakan wawancara dengan sejumlah pertanyaan
yang sifatnya terbuka kepada beberapa ahli di bidangnya.
Dalam penggalian dan
pengambilan data, peneliti sendiri langsung membaca teks dan pada saat yang
bersamaan peneliti melakukan proses pengolahan, yakni meliputi reduksi data,
klasifikasi data, dan interpretasi data.
3.5 Teknik Penentuan Informan
Informan merupakan sumber data. Sebagai sumber data maka informan harus
dipilih atau ditentukan berdasarkan berbagai pertimbangan. Cara penentuannya
berdasarkan purposive atau sistem “gethok tular” atau snow ball sampling (Suprayogo
dan Tobroni, 2001). Dalam penelitian ini akan digunakan cara purposive atau
“ditentukan”, hal ini dilakukan karena informan diharapkan mampu memberikan
informasi atau data sesuai dengan tujuan penelitian ini. Mereka yang menjadi informan
adalah para praktisi Tantra.
Setelah informan ditentukan, kemudian dilaksanakan kunjungan atau diundang
dengan maksud untuk melakukan suatu wawancara dalam rangka pengambilan data.
Setelah ada suatu kesepakatan tentang hari, tanggal dan jam wawancara, maka
wawancara mulai dilaksanakan. Wawancara dilaksanakan dengan suatu acuan atau
pedoman agar tidak menyimpang dari tujuan penelitian dan juga demi efektivitas dan
efisiensi waktu yang digunakan dalam wawancara.
15
3.6 Informan Kunci
Informan kunci adalah orang-orang yang dianggap memiliki wawasan atau
pendapat mengenai pokok masalah yang diteliti. Orang-orang ini mungkin orang biasa,
tidak harus orang yang memiliki spesialisasi atau pendidikan tinggi dan jabatan tinggi.
Penentuan siapa sebagai informan kunci ditentukan setelah didefinisikan lewat beberapa
sumber (Mikkelsen, 1999: 85).
Dalam penelitian ini informan kunci ditetapkan kepada Ida Wayan Jelantik Oka
selaku pinisepuh dan pendiri dari Komunitas Bahung Teringan yang paham dengan
praktek Tantra.
3.7 Teknik Pengumpulan Data
Strategi pengumpulan data di lapangan menggunakan teknik observasi,
wawancara, kepustakaan, dan studi dokumen. Observasi atau pengamatan merupakan
suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk mengamati suatu objek dengan panca indra
sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Metode wawancara melibatkan adanya objek
dan subjek yang membentuk komunikasi. Metode ini dilakukan dengan kegiatan tanya
jawab antara penanya dengan responden atau informan. Studi kepustakaan menurut
Sukardi (2008: 33) merupakan sebuah metode yang digunakan untuk menelusuri dan
mencari dasar-dasar acuan yang erat kaitannya dengan masalah penelitian yang hendak
dilakukan. Pengumpulan data dengan menggunakan sumber kepustakaan ada beberapa
cara diantaranya termasuk: hasil penelitian, abstrak penelitian, majalah ilmiah, surat
kabar, jurnal, buku yang relevan, hasil-hasil seminar, artikel ilmiah, narasumber, suratsurat keputusan, dan internet. Metode dokumentasi adalah cara mengumpulkan data
16
dengan cara mencatat data-data yang sudah ada. Kumpulan data berbentuk tulisan ini
disebut dokumen dalam arti luas termasuki monument, artefak, foto, disc, CD, hardisk,
fladisk, dan lain-lainnya (Bungin, 2007: 123). Dalam penelitian ini dokumen yang
dimaksud adalah berupa catatan-catatan, arsip, teori-teori yang berhubungan dengan
penelitian ini.
3.8 Teknik Analisis Data
Analisis data dalam riset ini menggunakan; 1) Teknik kajian deskriptif yang
digunakan untuk memahami objek secara apa adanya serta pola pengembangan yang
selama ini dilakukan; 2) Teknik analisis isi (content analysis), yang berusaha untuk
mengkaji muatan paradigmatik subjek. Prosedur yang dilakukan dalam proses analisis
data ini dilakukan dengan langkah sesuai dengan pendapat Kaelan (2005: 2011-2012)
yang terdiri atas tiga tahapan, yaitu: (1) reduksi data, (2) klasifikasi dan display data,
dan (3) mengambil kesimpulan dan verifikasi.
Menurut Nasution dalam Kaelan (2010: 119) menyatakan bahwa reduksi data
merupakan kegiatan merangkum, memilih hal-hal yang pokok selanjutnya difokuskan
pada hal-hal yang penting, dicari tema atau polanya. Klasifikasi data merupakan
tahapan pengelompokan data yang diperoleh berdasarkan tekniki pengumpulan data
selama menggali data di lapangan. Setelah data terdisplay dilanjutkan dengan mencari
pola, tema, hubungan, persamaan, hal-hal yang sering timbul, hipotesis, dan sebagainya.
Kegiatan ini dilakukan untuk mencari makna data yang dikumpulkan dalam upaya
mengambil kesimpulan.
17
3.9 Teknik Penyajian Hasil Analisis Data
Hasil analisis data yang telah diuraikan di atas secara umum akan disajikan
melalui dua cara, yaitu secara informal dan secara formal. Penyajian data secara
informal merupakan data kualitatif divandra melalui narasi, uraian serta dikuatkan oleh
suatu argumentasi. Data secara formal yang merupakan data kuantitatif disajikan untuk
memperjelas dan memudahkan dalam pemahaman hasil penelitian disajikan dalam
bentuk tabel dan matriks sesuai dengan jenis dan bentuk data. Dalam penelitian ini data
yang sudah terkumpul disajikan dalam bentuk laporan penelitian.
18
Daftar Pustaka
Berger, Arthur Asa. 2010. Pengantar Semiotika. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Bungin, Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana.
Cangara Nafied, 2007. Pengantar Ilmu Komunikasi (Edisi Revisi), Raja Grafindo
Persada: Jakarta.
Djamarah, Bahri, Syaiful. 2004. Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak dalam
Keluarga. Jakarta : PT. Reneka Cipta
Faruk. 2014. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Howard, Roy J. 2001. Hermeneutika. Jakarta : Nuansa.
Kaelan, 2005. Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat. Yogyakarta: Paradigma.
Kaelan. 2009. Filsafat Bahasa Semiotika Dan Hermeneutika. Yogyakarta : Pradigma.
Maleong, Lexy J., 2002. Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosda Karya.
Mikkelsen, Britha, 1999. Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-upaya
Pemberdayaan, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Mulyono, Edi. Dkk. 2012. Belajar Hermeneutika. Jogjakarta : IRCiSoD.
Osho, 1972. Vigran Bhairav Tantra. PDF.
Osho, 1998. The Book of the Secrets, vols. 1-5, St. Martin's Griffin, 1998,
Reps, Paul. 2015. Zen Flesh, Zen Bones, A Collection of Zen and Pre-Zen Writings
Soejanto, Agoes, 2001. Psikologi Komunikasi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Soenarto, 2006, Metodologi Penelitian Pengembangan Untuk Peningkatan Kualitas
Pembelajaran (Research Methodoloyto The Improvement of Instruction), Jakarta:
Depdiknas, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Direktorat Ketenagaan
Sukardi (2008). Metodologi Penelitian Pendidikan, Kompetensi dan Praktiknya.
Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Suprayogo, Iman dan Tobroni, 2001. Metodologi Penelitian Sosial-Agama, Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Teeuw, A. 1988. Sastra Dan Ilmu Sastra. Jakarta : PT Girimukti Pasaka.
19
JADWAL PENELITIAN
No
Kegiatan
jan
1
Penyusunan
Proposal
Pengumpulan
Data
Analisis Data
V
2
3
4
Penyajian
Penelitian
feb
mar apr
mei jun
V
V
V
V
V
V
V
hasil
jul
ags
spt
V
V
V
V
20
okt
V
RANCANGAN ANGGARAN BIAYA
NO
URAIAN
JUMLAH
1
Jasa Peneliti
Rp. 12.000.000,00
2
Jasa Pembantu Peneliti
Rp.
3.000.000,00
3
Biaya Beli Buku Penunjang
Rp.
3.000.000,00
4
Biaya Konsumsi
Rp.
5
Biaya Snack
Rp.
5
Biaya ATK
Rp.
4.000.000,00
6
Biaya Foto Copy dan Penjilidan
Rp.
4.000.000,00
7
Biaya Transportasi
Rp.
7.000.000,00
7
Biaya Publikasi
Rp
5.000.000,00
8
Biaya Dokumentasi
Rp.
2.000.000,00
JUMLAH
21
7.000.000,00
3.000.000,00
Rp. 50.000.000,00
Download