BAB IV HASIL PENELITIAN A. Hasil Penelitian a. Gambaran

advertisement
33
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Hasil Penelitian
a. Gambaran Karakteristik Responden
Penelitian yang dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni 2016 di RSUD dr.
Iskak Tulungagung. Data hasil penelitian didapatkan responden sebanyak 100
responden. Hasil penelitian ini menguraikan hubungan hubungan antara umur,
paritas, pekerjaan, usia Kehamilan, riwayat KPD dengan kejadian KPD.
1. Karakteristik Responden
Tabel 4.1 Karakteristik responden di RSUD dr Iskak Tulungagung
Variabel
Jumlah (n=100)
Umur
<20, >35 tahun(risiko
50
tinggi)
20-35 tahun (risiko
50
rendah)
Paritas
Primipara
46
multipara
54
Pekerjaan
Tidak bekerja
56
Bekerja
44
Usia Kehamilan
Preterm dan posterm
24
Aterm
76
Riwayat KPD
Tidak KPD
59
KPD
41
Sumber : Data Primer (2016)
Persentase (%)
50
50
46
54
56
44
24
76
59
41
Berdasarkan tabel 4.1 terlihat jumlah responden sebanyak 100, jumlah
responden berdasarkan usia yaitu antara usia <20, >35 tahun dan 20-35 tahun
33
34
adalah sama. Sebagian besar responden memiliki paritas multipara, responden
tidak bekerja, usia kehamilan aterm dan tidak memiliki riwayat KPD.
b. Hasil Penelitian Analitik
1. Analisis Bivariat
1) Hubungan Umur dengan kejadian KPD
Tabel 4.2Hubungan umur dengan kejadian KPD
Variabel
<20th, >35th
KPD
n
%
18
51
Tidak KPD Total
n
%
32
49
50
20-35th
17
49
33
jumlah
35
100
65
Sumber : Data Primer (2016)
51
100
OR
CI95%
p
1.09
(0.482.48)
0.834
50
100
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan kejadian KPD pada usia 20-35 tahun
0,94 dari usia <20 dan >25 tahun. Analisis Statistik menunjukkan bahwa
tidak ada hubungan antara umur dengan kejadian KPD dengan nilai p
=0,834, tetapi tidak siginifikasi secara statistik. Usia <20, >35 tahun dan
usia 20-35 tahun memiliki risiko mengalami kejadian KPD 1,09 kali
(CI95% : 0.48-2.48).
2) Hubungan Paritas dengan kejadian KPD
Tabel 4.3 Hubungan Paritas dengan kejadian KPD
Variabel
Primipara
KPD
n
14
%
40
Multipara
21
60
jumlah
35 100
Sumber : Data Primer (2016)
Tidak
KPD
n
%
32
49
33
65
51
100
Total
OR
CI95%
p
46
1.46
(0.633.35)
0.377
54
100
35
Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan kejadian KPD pada primipara 2/3
(0,67) dari multipara. Analisis Statistik menunjukkan bahwa tidak ada
hubungan antara paritas dengan kejadian KPD dengan nilai p =0.377.
Primipara memiliki risiko mengalami kejadian KPD 1,46 kali, tetapi tidak
signifikasi secara statistik (CI95% : 0.63-3.35).
3) Hubungan Pekerjaan dengan kejadian KPD
Tabel 4.4 Hubungan pekerjaan dengan kejadian KPD
Variabel
Tidak bekerja
KPD
n
25
%
71
Tidak
KPD
n
%
31
48
Bekerja
10
29
34
jumlah
35 100 65
Sumber : Data Primer (2016)
52
100
Total
OR
CI95%
p
56
2.74
(1.146.61)
0.023
44
100
Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan kejadian KPD pada ibu yang bekerja
½ dari ibu yang tidak bekerja. Analisis Statistik menunjukkan bahwa ada
hubungan antara pekerjaan dengan kejadian KPD dengan nilai p =0,023.
Ibu yang bekerja memiliki risiko mengalami kejadian KPD 2.74 kali
(CI95% : 1.14-6.61).
4) Hubungan Usia Kehamilan dengan kejadian KPD
Tabel 4.5 Hubungan usia kehamilan dengan kejadian KPD
Variabel
KPD
Tidak
KPD
n
%
21
32
n
%
Preterm dan
3
9
posterm
Aterm
32
91
44
jumlah
35 100 65
Sumber : Data Primer (2016)
68
100
Total
OR
CI95%
p
24
5.08
(1.4018.54)
0.008
76
100
36
Berdasarkan tabel 4.5 menunjukkan kejadian KPD pada usia kehamilan
preterm dan posterm 1/10 dari usia kehamilan aterm. Analisis Statistik
menunjukkan bahwa ada hubungan antara usia kehamilan dengan kejadian
KPD dengan nilai p =0.008. Ibu yang usia kehamilan Aterm memiliki
risiko mengalami kejadian KPD 5.081 kali (CI95% : 1.40-18.54).
5) Hubungan Riwayat KPD dengan kejadian KPD
Tabel 4.6 Hubungan riwayat KPD dengan kejadian KPD
Variabel
Tidak KPD
KPD
n
21
%
60
Tidak
KPD
n
%
38
58
KPD
14
40
27
jumlah
35 100 65
Sumber : Data Primer (2016)
42
100
Total
OR
CI95%
p
59
1.07
(0.462.46)
0.881
41
100
Berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan kejadian KPD pada ibu yang memiliki
riwayat KPD 2/3 dari ibu yang tidak memiliki riwayat KPD. Analisis
Statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara riwayat KPD
dengan kejadian KPD dengan nilai p =0.881. Ibu yang tidak memiliki
riwayat KPD memiliki risiko mengalami kejadian KPD 1.07 kali, tetapi
tidak signifikasi secara statistik (CI95% : 0.46-2.46).
37
2. Analisis Multivariat
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu regresi logistik.
Tabel 4.7 analisis regresi logistik Hubungan antara umur, paritas,pekerjaan,
usia kehamilan, riwayat KPD dengan kejadian KPD
Variabel
Umur (<20th, >35th dan
20-35 th)
Multipara
Ibu yang bekerja
Usia kehamilan aterm
Ibu yang memiliki Riwayat
KPD
N observasi
-2 Log likehood
Nagelkerke R Square
Sumber: Data Primer (2016)
OR
1.36
CI95%
Batas
bawah
0.53
p
Batas
atas
3.48
0.525
3.29
2.22
4.84
2.62
0.80
0.87
1.23
0.64
13.63
5.65
19.00
10.77
0.100
0.094
0.024
0.181
115
115
18,3%
Berdasarakan tabel 4.7 dari lima variabel setelah dilakukan analisis
multivariat didapatkan hasil variabel yang berhubungan dengan kejadian
KPD pada ibu yaitu usia kehamilan. Ibu dengan usia kehamilan aterm
berpeluang mengalami kejadian KPD 4.84 kali (CI95% : 1.23-19.00).
38
BAB V
PEMBAHASAN
B. Pembahasan
a. Hubungan Faktor Umur Dengan Kejadian KPD
Hasil analisis bivariat Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan kejadian KPD
pada usia 20-35 tahun 0,94 dari usia <20 dan >25 tahun. Analisis Statistik
menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara umur dengan kejadian KPD
dengan nilai p =0.525. Usia <20, >35 tahun dan usia 20-35 tahun memiliki risiko
mengalami kejadian KPD 1.36 kali (CI95% : 0.53-3.48).
Menurut hasil penelitian Kurniawati (2012) yang membuktikan bahwa
umur ibu <20 tahun organ reproduksi belum berfungsi secara optimal yang akan
mempengaruhi pembentukan selaput ketuban menjadi abnormal. Ibu yang hamil
pada umur >35 tahun juga merupakan faktor predisposisi terjadinya ketuban
pecah dini karena pada usia ini sudah terjadi penurunan kemampuan organorgan reproduksi untuk menjalankan fungsinya, keadaan ini juga mempengaruhi
proses embryogenesis sehingga pembentukan selaput lebih tipis yang
memudahkan untuk pecah sebelum waktunya.
Hasil penelitian Agu Pu at all (2014) menyatakan bahwa kejadian KPD
lebih banyak terjadi pada usia reproduktif yaitu usia 20-35 tahun. Jadi dapat
disimpulkan dalam penelitian ini bahwa tidak sesuai dengan penelitian terdahulu
yang menyatakan bahwa usia mempunyai hubungan terhadap kejadian KPD.
Terbukti dari hasil penelitian didapatkan bahwa usia reproduktif dan usia yang
memiliki risiko tinggi sama-sama tidak mempengaruhi kejadian KPD. Pada
38
39
penelitian ini yang mengakibatkan angka kejadian umur <20 dan>35 tahun, 2035 tahun hasilnnya sama dikarenakan pada kelompok umur bisa melakukan
akses pelayanan kesehatan secara optimal sehingga kehamilannya bisa dilakukan
monitoring secara tepat, disebabkan karena akses pelayanan kesehatan sudah
termasuk dalam pembiayaan kesehatan nasional dimana pemeriksaan kehamilan
sudah ditanggung dalam program tersebut sehingga semua umur bias mendapat
pelayanan kesehatan yang baik.
Hamil yang sehat dianjurkan paling muda pada umur 20 tahun karena pada
umur 20 tahun alat kandungan sudah cukup matang. Kehamilan juga tidak boleh
terjadi setelah usia 35 tahun, kemungkinan membuahkan anak yang tidak sehat.
Komplikasi yang dapat terjadi jika usia hamil berisiko antara lain: anemia
keguguran, prematuritas, BBLR, pre eklamsia-eklamsia, persalinan operatif,
perdarahan pasca persalinan, mudah terjadi infeksi dan ketuban pecah dini.
Salah satu kesiapan fisik bagi seorang ibu hamil dan melahirkan bayi yang sehat
adalah menyangkut faktor usia pada saat hamil (BKKBN, 2005).
Usia ibu hamil yang terlalu muda atau terlalu tua mempunyai risiko lebih
besar untuk melahirkan bayi kurang sehat. Hal ini dikarenakan pada umur usia
kurang dari 20 tahun dari segi biologis fungsi reproduksi seorang wanita belum
berkembang secara sempurna untuk menerima keadaan janin dan segi psikis
belum matang dalam menghadapi tuntutan beban moril , mental dan emosinal.
Pada usia diatas 35 tahun dan sering melahirkan fungsi reproduksi seorang
wanita sudah mengalami kemunduran atau degenarasi dibandingkan fungsi
reproduksi normal sehingga kemungkinan untuk terjadinya komplikasi pasca
persalinan terutama ketuban pecah dini (Susilowati, 2011).
40
b. Hubungan Faktor Paritas Dengan Kejadian KPD
Hasil analisis bivariat Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan kejadian KPD
pada primipara 2/3 (0,67) dari multipara. Analisis Statistik menunjukkan bahwa
tidak ada hubungan antara paritas dengan kejadian KPD dengan nilai p =0.100.
Multipara memiliki risiko mengalami kejadian KPD 3.29 kali (CI95% : 0.8013.63).
Paritas 2-3 merupakan paritas yang dianggap aman ditinjau dari sudut
insidensi kejadian ketuban pecah dini. Paritas satu dan paritas tinggi (lebih dari
tiga) mempunyai resiko terjadinya ketuban pecah dini lebih tinggi. Pada paritas
yang rendah (satu), alat-alat dasar panggul masih kaku (kurang elastik) daripada
multiparitas. Uterus yang telah melahirkan banyak anak (grandemulti)
cenderung bekerja tidak efisien dalam persalinan (Cunningham, 2006).
Menurut hasil penelitian Supriyatiningsih (2014) menyatakan bahwa
paritas tidak ada hubungannya dengan kejadian KPD, Faktor risiko paritas tidak
menjadi faktor risiko utama kejadian ketuban pecah dini di RSKIA Sadewa dan
kemungkinan ada faktor penyebab lain yang lebih kuat yang menyebabkan
ketuban pecah dini. Pada penelitian ini yang menyebabkan faktor paritas bukan
merupakan faktor risiko terjadinya KPD disebabkan karena penelitian ini banyak
responden yang termasuk dalam kehamilan multipara. Responden yang termasuk
dalam kehamilan multipara yaitu responden hamil yang kedua bukan merupakan
kehamilan ketiga atau lebih sehingga uterus bekerja efisien dalam persalinan.
Kasus-kasus KPD meningkat pada multipara disebabkan karena serviks
yang inkompeten sehingga selaput ketuban bagian bawah langsung menerima
tekanan inta uteri yang dominan. Ketuban pecah dini disebabkan karena
41
berkurangnya kekuatan membran atau meningkatnya tekanan intra uterus atau
oleh kedua faktor tersebut. Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa
penelitian ini sejalan dengan penelitian-penelitian yang terdahulu yaitu paritas
bukan merupakan faktor yang menyebabkan terjadinya KPD.
c. Hubungan Pekerjaan Dengan Kejadian KPD
Dari hasil analisis yang dilakukan Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan
kejadian KPD pada ibu yang bekerja ½ dari ibu yang tidak bekerja. Analisis
Statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara pekerjaan dengan kejadian p
=0.094. Ibu yang bekerja memiliki risiko mengalami kejadian KPD 2.22 kali
(CI95% : 0.87-5.65).
Menurut penelitian Abdullah (2012) Pola pekerjaan ibu hamil berpengaruh
terhadap kebutuhan energi. Kerja fisik pada saat hamil yang terlalu berat dan
dengan lama kerja melebihi tiga jam perhari dapat berakibat kelelahan.
Kelelahan dalam bekerja menyebabkan lemahnya korion amnion sehingga
timbul ketuban pecah dini. Pekerjaan merupakan suatu yang penting dalam
kehidupan, namun pada masa kehamilan pekerjaan yang berat dan dapat
membahayakan kehamilannya sebaiknya dihindari untuk mejaga keselamatan
ibu maupun janin. Hasil penelitian yang dilakukan Atia et all (2015) didapatkan
hasil bahwa wanita yang tidak bekerja lebih rentan terjadi KPD, hal ini
disebabkan bahwa ibu yang tidak bekerja atau ibu rumah tangga memiliki
pekerjaan fisik yang lebih berat daripada ibu yang bekerja.
Setiap manusia yang hidup harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya, dan tidak dapat lepas dari pekerjaan baik pekerjaan ringan maupun
berat. Begitu juga dengan ibu yang sedang hamil harus bekerja walaupun
42
pekerjaan itu ringan harus tetap dikerjakan misalnya mengerjakan pekerjaan
rumah tangga. Berdasarkan hasil forum diskusi tentang penyebab air ketuban
pecah sebelum waktunya dikarenakan kelelahan ibu dalam bekerja (Susilowati,
2011).
Pada trimester pertama berlangsung sejak wanita dinyatakan positif hamil
sampai 12 minggu, merupakan usia kehamilan yang paling rawan terutama
sebelum usia kehamilannya mencapai 8 minggu, sebaiknya tidak terlalu banyak
melakukan aktivitas tetapi kondisi setiap ibu hamil memang berbeda-beda ada
yang kuat ada juga yang lemah. Kembali lagi pada kondisi masing-masing hanya
dikhawatirkan apabila ibu hamil banyak melakukan aktivitas akan kelelahan.
Akibat kelelahan biasanya timbul keluhan berupa sakit perut bagian bawah atau
kontraksi yang bisa menyebabkan ketuban pecah sebelum waktunya (Susilowati,
2011).
Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan
sejalan dengan penelitian-penelitian terdahulu dimana pekerjaan mempunyai
pengaruh terhadap kejadian KPD.
d. Hubungan Usia Kehamilan Dengan Kejadian KPD
Dari hasil penelitian Berdasarkan tabel 4.5 menunjukkan kejadian KPD
pada usia kehamilan preterm dan posterm 1/10 dari usia kehamilan aterm.
Analisis Statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara usia kehamilan
dengan kejadian KPD dengan nilai p =0.024. Ibu yang usia kehamilan preterm
dan posterm memiliki risiko mengalami kejadian KPD 4.84 kali (CI95% : 1.2319.00).
43
Usia kehamilan pada saat kelahiran merupakan satu-satunya alat ukur
kesehatan janin yang paling bermanfaat dan waktu kelahiran sering ditentukan
dengan pengkajian usia kehamilan. Pada tahap kehamilan lebih lanjut,
pengetahuan yang jelas tentang usia kehamilan mungkin sangat penting karena
dapat timbul sejumlah penyulit kehamilan yang penanganannya bergantung
pada usia janin. Periode waktu dari KPD sampai kelahiran berbanding terbalik
dengan usia kehamilan saat ketuban pecah. Jika ketuban pecah trimester III
hanya diperlukan beberapa hari saja hingga kelahiran terjadi dibanding dengan
trimester II. Makin muda kehamilan, antar terminasi kehamilan banyak
diperlukan waktu untuk mempertahankan hingga janin lebih matur. Semakin
lama menunggu, kemungkinan infeksi akan semakin besar dan membahayakan
janin serta situasi maternal (Astuti, 2012).
Menurut penelitian Udofia et all (2015) menunjukkan bahwa usia
kehamilan sangat berpengaruh terhadap kejadian KPD dimana usia kehamilan
dibawah 34 minggu sangat berisiko terjadi infeksi sehingga dapat mengancam
keselamatan ibu dan janin, sedangkan untuk usia kehamilan antara 34-36
minggu kejadian KPD disebebakan stres fisik sehingga menyebabkan membran
menurun dan penurunan konsentrasi relatif kolagen sehingga mengakibatkan
membran kelemahan dan akan menyebabkan terjadinya KPD.
Usia kehamilan diatas 36 minggu akan menyebabkan janin yang
dikandung oleh ibunya semakin besar atau terjadi makrosomia sehingga tekanan
inta uterine akan semakin besar dan bisa menyebabkan lemahnya membrane
pada selaput ketuban sehingga menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini.
44
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penelitian ini sejalan
dengan penelitian-penelitian yang terdahulu dimana usia kehamilan merupakan
factor risiko yang sangat berpengaruh terhadap kejadian KPD.
e. Hubungan Riwayat KPD dengan kejadian KPD
Dari hasil penelitian didapatkan Berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan
kejadian KPD pada ibu yang memiliki riwayat KPD 2/3 dari ibu yang tidak
memiliki riwayat KPD. Analisis Statistik menunjukkan bahwa tidak ada
hubungan antara riwayat KPD dengan kejadian KPD dengan nilai p =0.181. Ibu
yang memiliki riwayat KPD memiliki risiko mengalami kejadian KPD 2.62 kali,
tetapi tidak signifikasi secara statistik (CI95% : 0.64-10.77).
Riwayat KPD sebelumnya berisiko 2-4 kali mengalami KPD kembali.
Patogenesis terjadinya KPD secara singkat ialah akibat adanya penurunan
kandungan kolagen dalam membran sehingga memicu terjadinya KPD aterm
dan KPD preterm terutama pada pasien risiko tinggi. Wanita yang mengalami
KPD pada kehamilan atau menjelang persalinan maka pada kehamilan
berikutnya akan lebih berisiko mengalaminya kembali antara 3-4 kali dari pada
wanita yang tidak mengalami KPD sebelumnya, karena komposisi membran
yang menjadi mudah rapuh dan kandungan kolagen yang semakin menurun pada
kehamilan berikutnya (Cunningham, 2006).
Hasil penelitian Abdullah (2013) menunjukkan bahwa ibu yang
mengalami KPD proporsinya lebih kecil (22,8%) pada ibu yang pernah
mengalami KPD sebelumnya dibandingkan dengan yang tidak pernah
mengalami KPD sebelumnya (77,2%).
45
Dari hasil penelitian ini sehingga dapat disimpulkan bahwa penelitian yang
dilakukan sejalan dengan penelitian-penelitian terdahulu dimana riwayat KPD
tidak berpengaruh terhadap kejadian KPD, hal ini disebabkan karena responden
sebagian besar primipara sehingga riwayat KPD tidak berpengaruh terhadap
kejadian KPD.
f. Hubungan umur, paritas, pekerjaan, usia kehamilan, riwayat KPD dengan
kejadian KPD
Hasil analisis multivariat Berdasarakan tabel 4.7 menunjukkan variabel
yang berhubungan dengan kejadian KPD pada ibu yaitu usia kehamilan. Ibu
dengan usia kehamilan preterm dan posterm berpeluang mengalami kejadian
KPD 4.84 kali (CI95% : 1.23-19.00).
Usia kehamilan pada saat kelahiran merupakan satu-satunya alat ukur
kesehatan janin yang paling bermanfaat dan waktu kelahiran sering ditentukan
dengan pengkajian usia kehamilan. Pada tahap kehamilan lebih lanjut,
pengetahuan yang jelas tentang usia kehamilan mungkin sangat penting karena
dapat timbul sejumlah penyulit kehamilan yang penanganannya bergantung pada
usia janin. Periode waktu dari KPD sampai kelahiran berbanding terbalik dengan
usia kehamilan saat ketuban pecah. Jika ketuban pecah trimester III hanya
diperlukan beberapa hari saja hingga kelahiran terjadi dibanding dengan
trimester II. Makin muda kehamilan, antar terminasi kehamilan banyak
diperlukan waktu untuk mempertahankan hingga janin lebih matur. Semakin
lama menunggu, kemungkinan infeksi akan semakin besar dan membahayakan
janin serta situasi maternal (Astuti, 2012).
46
Hasil uji secara bersama-sama menunjukkan Negelkerke R Square sebesar
18,3% berarti variabel independen tersebut mempunyai pengaruh 18% dan 82%
sisanya merupakan pengaruh lain yang dapat mengakibatkan terjadinya kejadian
KPD. Nilai Negelkerke R Square akan semakin baik bila mendekati angka 1.
C. KETERBATASAN PENELITIAN
Penelitian ini hanya menggunakan data sekunder sehingga tidak melakukan
observasi secara mendalam tentang faktor penyebab terjadinya KPD. Banyak faktor
lain yang mempengaruhi kejadian KPD yang tidak diteliti seperti kelainan letak,
infeksi, gemelli.
47
BAB V
KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Hubungan umur dengan kejadian KPD
Umur bukan merupakan faktor risiko kejadian KPD dan secara statistik
tidak signifikan dengan nilai OR = 1.36 (CI95% : 0.53-3.48, p= 0.525).
2. Hubungan paritas dengan kejadian KPD
Paritas bukan merupakan faktor risiko kejadian KPD dan secara
statistik tidak signifikan dengan nilai OR =3.29 (CI95% : 0.80-13.63, p=
0,100).
3. Hubungan pekerjaan dengan kejadian KPD
Pekerjaan bukan merupakan faktor risiko kejadian KPD dan secara
statistic tidak signifikan dengan nilai OR = 2.22 (CI95% : 0.87 -5.65, p=
0,094).
4. Hubungan usia kehamilan dengan kejadian KPD
Usia kehamilan merupakan faktor risiko kejadian KPD dan secara
statistik signifikan dengan nilai OR = 4,84 (CI95% : 1.23-19.00, p= 0,024).
5. Hubungan riwayat KPD dengan kejadian KPD
Riwayat KPD merupakan faktor risiko sangat lemah terhadap kejadian
KPD dan secara statistik tidak signifikan dengan nilai OR = 2.62 (CI95% :
0.64-10.77, p= 0,181).
47
48
B. Implikasi
1. Implikasi teori
Teori tentang faktor risiko kejadian KPD dapat digunakan untuk menurunkan
angka kejadian KPD. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa dari
kelima variabel yang mempengaruhi kejadian KPD yang terdapat hubungan
secara langsung yaitu usia kehamilan.
2. Implikasi Praktis
Hasil penelitian hubungan umur,paritas, pekerjaan, usia kehamilan, riwayat
KPD dengan kejadian KPD dapat dijadikan dasar bagi tenaga kesehatan dalam
memberikan pemahaman masyarakat tentang faktor risiko kejadian KPD
sebagai upaya pencegahan kejadian KPD pada ibu.faktor risiko yang sangat
berpengaruh terhadap kejadian KPD yaitu usia kehamilan, sehingga
diharapkan pelayanan kesehatan lebih memperhatikan usia kehamilan
sehingga bias melakukan pencegahan terhadap kejadian KPD.
3. Implikasi metodologi
Penelitian ini hanya menggunakan data sekunder tanpa melakukan observasi
yang mendalam terhadap faktor risiko kejadian sehingga dalam penelitian ini
hanya membahas tentang metode statistik.
C. Saran
1. Bagi Pelayanan Kesehatan
Dari hasil penelitian ini bias menjadikan masukan untuk lebih
mensosialisasikan tentang faktor risiko terjadinya KPD terutama faktor risiko
usia kehamilan.
49
2. Bagi Peneliti selanjutnya
Disarankan peneliti selanjutnya meneliti faktor-faktor lain yang
mempengaruhi terjadinya KPD dan mnelakukan observasi yang mendalam
tentang faktor risiko kejadian KPD serta bisa menggunakan metode penelitian
yang berbeda.
Download