BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Kerangka Teori Kerangka teori

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1.
Kerangka Teori
Kerangka teori menggambarkan dari teori yang mana suatu problem riset
berasal (seperti dalam beberapa studi eksperimental), atau dengan teori yang mana
problem itu dikaitkan (seperti dalam beberapa survey). Mencari kerangka teori
untuk mengkaitkan dengan suatu problem, atau mengembangkan suatu teori guna
memberikan arah pada study merupakan salah satu tugas yang paling sulit bagi
seorang peneliti. Tetapi dengan latar belakang teori komunikasi atau teori-teori
psikologi dan sosiologi amat membantu dalam perumusan kerangka teori (Lubis,
1998: 107).
2.1.1 Komunikasi Politik
Komunikasi politik sangat kental dengan kehidupan sehari-hari. Sebab,
dalam aktivitas sehari-hari, tidak satupun manusia tidak berkomunikasi, dan
kadang-kadang sudah terjebak dalam analisis dan kajian komunikasi politik.
Berbagai penilaian dan analisis orang awam berkomentar tentang kenaikan BBM,
ini merupakan contoh kekentalan komunikasi politik. Komunikasi yang
membicarakan tentang politik terkadang diklaim sebagai studi tentang aspekaspek politik dari komunikasi publik, dan sering dikaitkan sebagai komunikasi
kampanye pemilu karena mencakup masalah persuasi terhadap pemilih, debat
antar kandidat dan penggunaan media massa sebagai alat kampanye (Cangara,
2009: 16).
Pengertian komunikasi politik dapat dirumuskan sebagai suatu proses
pengoperan lambang-lambang atau simbol-simbol komunikasi yang berisi pesanpesan politik dari seseorang atau kelompok kepada orang lain dengan tujuan untuk
membuka wawasan atau cara berpikir, serta mempengaruhi sikap dan tingkah laku
khalayak yang menjadi target politik. Komunikasi politik menurut Miriam
Budiardjo,dkk (dalam Damsar, 2010: 208) merupakan fungsi sosialisasi dan
budaya politik. Komunikasi yang berjalan baik menjadi prasyarat sosialisasi
Universitas Sumatera Utara
politik untuk dapat berjalan dengan baik pula, sehingga budaya politik dapat
dilangsungkan dengan baik. Komunikasi politik yaitu kegiatan komunikasi yang
dianggap komunikasi politik berdasarkan konsekuensi-konsekuensinya (aktual
maupun potensial) yang mengatur perbuatan manusia di dalam kondisi-kondisi
konflik (Nimmo, 2005: 9).
Sebagai komunikator politik politisi memang berada dalam posisi strategis
dalam memainkan peran politik dalam suatu setting politik tertentu. Menurut
Nimmo (1993: 72) “Politisi sebagai komunikator politik memainkan peran sosial
yang utama, terutama dalam pembentukan opini publik. Politisi atau politikus
berkomunikasi sebagai wakil suatu kelompok, sehingga jika dirangkum maka
politikus mencari pengaruh melalui komunikasi.”
2.1.2 Fungsi Komunikasi Politik
Komunikasi politik (Damsar, 2010: 270) sebagai suatu unsur dari sistem
politik, digerakkan oleh partai politik atau aktor politik dengan maksud untuk
meraih berbagai fungsi meliputi:
1.
Fungsi Informasi
Sebagai fungsi informasi, komunikasi politik ditujukan kepada target
sasaran, dalam hal ini penerima, dengan maksud agar penerima memperoleh
pengetahuan dan pengenalan tentang sesuatu yang dikomunikasikan. Pada sisi ini,
komunikasi politik lebih ditujukan pada aspek kognitif dari para penerima.
Misalnya ketika diseminasi visi, misi,tujuan, sasaran atau arah kebijakan dari
suatu partai politik pada suatu acara komunikasi politik dengan tujuan
memperoleh pengetahuan tentang visi, misi,tujuan, sasaran atau kebijakan dari
partai politik tersebut.
Universitas Sumatera Utara
2. Fungsi Pendidikan
Melalui komunikasi politik transmisi pendidikan politik dari partai politik
dan/atau aktor politik diharapkan bisa terjadi. Ada banyak isi pendidikan politik
yaitu ideologi (negara, partai politik, gerakan sosial dan sebagainya), nilai
(kebangsaan, patriotisme, demokrasi, kebebasan dan lain-lain), praksis (visi, misi,
tujuan sasaran program dan strategi partai politik atau aktor politik) atau
keterampilan (pidato, lobi, resolusi konflik dan lain-lain).
3. Fungsi Instruksi
Fungsi instruksi merupakan fungsi komunikasi politik yang berkaitan
dengan pemberia perintah berupa kewajiban, larangan, atau anjuran. Perintah
kewajiban berhubungan sesuatu yang mau atau tidak mau, suka atau tidak suka,
sukarela atau terpaksa harus dilaksanakan atau dilakukan. Sedangkan instruksi
larangan merupakan suatu perintah yang harus dilakukan dalam kondisi apapun.
Sedangkan instruksi anjuran merupakan suatu perintah untuk melakukan atau
menghindari sesuatu secara sukarela.
4. Fungsi Persuasi
Fungsi komunikasi politik yang berhubungan dengan kemampuan untuk
mempengaruhi orang lain sehingga melakukan, melaksanakan atau mengubah
sesuatu seperti yang diharapkan oleh pemberi pesan. Dapat dilakukan dengan
berbagai cara antara lain menyajikan mimpi masa depan yang indah melalui janji
implementasi visi, misi, tujuan, sasaran atau arah kebijakan.
5. Fungsi Hiburan
Fungsi hiburan merupakan fungsi komunikasi politik yang menyampaikan
pesan-pesan hiburan diantra berbagai rangkaian isi pesan yang dikomunikasikan.
Dalam realitas kampanye partai politik pada masa kampanye pemilihan umum,
misalnya kegiatan tersebut di pandang sebagai salah satu sarana hiburan lima
tahunan. Sebab ketika masa kampanye, partai politik berusaha mengajak massa
Universitas Sumatera Utara
sebanyak mungkin untuk menghadiri pelaksanaan kampanye politik yang mereka
lakukan.
2.1.3 Bentuk-Bentuk Komunikasi Politik
Bentuk-bentuk komunikasi politik yang dlakukan oleh komunikator
infrastruktur politik untuk mencapai tujuan politiknya antara lain (Arifin, 2003:
65-98):
1. Retorika, berasal dari bahasa yunani yaitu Rhetorica, yang berarti seni
berbicara, asalnya digunakan dalam perdebatan-perdebatan di ruang
sidang pengadilan untuk saling mempengaruhi sehingga bersifat kegiatan
antarpersona. Kemudian berkembang menjadi kegiatan komunikasi massa
yaitu berpidao kepada khalayak. Ada tiga jenis retorika menurut
Aristoteles dalam karyanya retorika:
a. Retorika Diliberitif yaitu dirancang untuk mempengaruhi khalayak
dalam kebijakan pemerintah yang difokuskan pada keuntungan atau
kerugian jika sebuah kebijakan diputuskan atau dilaksanakan.
b. Retorika Forensic, yang berkaitan dengan keputusan pengadilan.
c. Retorika Demonstratif yang mengembangkan wacana yang dapat
memuji atau menghujat.
2. Agitasi Politik, dari bahasa Agitare artinya bergerak atau menggerakkan,
dalam bahasa inggris Agitation. Menurut Herbert Blumer agitasi
beroperasi untuk membangkitkan rakyat kepada suatu gerakan politik, baik
lisan maupun tulisan dengan merangsang dan membangkitkan emosi
khalayak. Dimulai dengan cara membuat kontradiksi dalam masyarakat
dan menggerakkan khalayak untuk menentang kenyataan hidup yang
dialami selama ini (penuh ketidakpastian dan penuh penderitaan) dengan
tujuan menimbulkan kegelisahan di kalangan massa. Orang yang
melakukan agitasi disebut agitator oleh Nepheus Smith disebut sebagai
orang yang berusaha menimbulkan ketidakpuasan, kegelisahan atau
pemberontakan orang lain. Ada agitator yang sikapnya selalu gelisah dan
Universitas Sumatera Utara
agresif, ada juga yang lebih tenang, cenderung pendiam tetapi mampu
menggerakkan khalayak dengan ucapan dan tulisannya.
3. Propaganda, berasal dari kata latin Propagare (menanamkan tunas suatu
tanaman) yang pada awalnya sebagai bentuk kegiatan penyebaran agama
katolik pada tahun 1822 Paus Gregorius XV membentuk suatu komisi
cardinal yang bernama Congregatio de Propaganda Fide untuk
menumbuhkan keimanan kristiani diantara bangsa-bangsa. Propagandis
adalah orang yang melakukan propaganda yang mampu menjangkau
khalayak kolektif lebih besar, biasanya dilakukan politikus atau kader
partai politik yang memiliki kemampuan yang mudah terkena sugesti, di
negara demokratis menurut W.Dobb dipahami sebagai suatu usaha
individu atau kelompok yang berkepentingan untuk mengontrol sikap
kelompok individu lainnya dengan menggunakan sugesti. Sedangkan
Herbert Blumer, suatu kampanye politik dengan sengaja mengajak,
mempengaruhi guna menerima suatu pandangan sentimen atau nilai.
4. Public Relations Politics, yang tumbuh pesat di Amerika Serikat setelah
Perang Dunia II, sebagai suatu upaya alternatif dalam mengimbangi
propaganda yang dianggap membahayakan kehidupan sosial dan politik,
presiden Theodore Rossevelt (1945) mendeklarasikan pemerintahan
sebagai Square Deals (jujur dan terbuka) dalam melakukan hubungan
dengan masyarakat dan menjalin hubungan timbal balik secara rasional.
Sehingga tujuannya untuk menciptakan hubungan saling percaya,
harmonis, terbuka atau akomodatif antara politikus, profesional atau
aktivis (komunikator) dengan khalayak (kader, simpatisan, masyarakat
umum).
5. Kampanye Politik adalah bentuk komunikasi politik yang dilakukan orang
atau kelompok (organisasi) dalam waktu tertetu untuk memperoleh dan
memperkuat dukungan politik dari rakyat atau pemilih. Menurut Rogers
dan Storey (1987) merupakan serangkaian tindakan komunikasi yang
terencana dengan tujuan menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar
khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu,
sehingga berbeda dengan propaganda, dimana kampanye cirinya sumber
Universitas Sumatera Utara
yang melakukannya jelas, waktu pelaksanaan terikat dan dibatasi, sifat
gagasan terbuka untuk diperdebatkan khalayak, tujuannya tegas, variatif
serta spesifik, modus penerimaan pesan sukarela dan persuasi, modus
tindakannya diatur
kaidah dan kode etiknya,
sifat
kepentingan
mempertimbangkan kepentingan kedua belah pihak.
6. Lobi Politik, istilah lobi sendiri sesungguhnya tempat para tamu
menunggu untuk berbincang-bincang di hotel, karena yang hadir para
politikus yang melakukan pembicaraan politik terjadi dialog dengan tatap
muka secara informal namun penting. Karena hasil lobi itu biasanya ada
kesepahaman dan kesepakatan bersama yang akan diperkuat melalui
pembicaraan formal dalam rapat atau sidang politik yang akan
menghasilkan keputusan dan sikap politik tertentu. Dalam lobi politik
pengaruh dari pribadi seorang politikus sangat berpengaruh seperti
kompetensinya, penguasaan masalah dan karisma. Lobi politik adalah
gelanggang terpenting bagi pembicaraan para politikus atau kader tentang
kekuasaan, pengaruh, otoritas, konflik dan konsensus.
7. Lewat Media Massa, menurut McLuhan sebagai perluasan panca indra
manusia (sense extention theory) dan sebagai media pesan dalam hal pesan
politik untuk mendapatkan pengaruh, kekuasaan otoritas, membentuk dan
merubah opini publik atau dukungan serta citra politik, untuk khalayak
yang lebih luas atau yang tidak bisa terjangkau oleh bentuk komunikasi
yang lain.
2.1.4 Retorika
2.1.4.1 Pengertian Retorika
Ditinjau dari segi bahasa (Effendy, 1997: 53), retorika berasal dari bahasa
yunani “Rhetor” yang berarti seorang juru pidato yang mempunyai sinonim
“orator” dalam bahasa inggris “Rhetoric” bersumber dari perkataan “Rhetorica”
yang berarti ilmu berbicara. Berbicara yang akan dapat meningkatkan kualitas
eksistensi (keberadaan) di tengah-tengah orang lain, bukanlah sekedar berbicara,
tetapi berbicara yang menarik (atraktif), bernilai informasi (informatif),
Universitas Sumatera Utara
menghibur (rekreatif) dan berpengaruh (persuasif). Dengan kata lain, manusia
mesti berbicara berdasarkan seni berbicara yang dikenal dengan istilah retorika.
Sejalan dengan perkembangan retorika, pengertian retorika juga mengalami
perkembangan. Beberapa ahli Barat, seperti D. Beckett, Donald Bryant dan
Bishop Whately sampai abad ke-20 mendefinisikan retorika. Definisi yang
diberikan pada hakikatnya sama dengan pengertian yang diberikan oleh
Aristoteles. Akan tetapi penafsiran yang berbeda-beda menimbulkan keragaman
pengertian (Abidin, 2013: 52).
Selain itu, pengertian retorika dapat dikatakan mencakup semua pengertian
yang ada. Hal ini disebabkan setiap periode retorika melahirkan konsep retorika
yang berbeda setiap periode dan zamannya.
Adapun ragam pengertian retorika (Abidin, 2013: 53) antara lain adalah:
1. Menurut Plato, retorika yang tidak memandang kemanfaatan dan
kebenaran bukanlah retorika. Menurutnya
retorika merupakan seni
bertutur untuk memaparkan kebenaran.
2. Menurut Aristoteles (peletak dasar retorika ilmiah dan disebut bapak
retorika), retorika adalah ilmu dan seni yang mengajarkan kepada orang
unuk terampil menyusun dan menyampaikan tuturan secara efektif untuk
mempersuasi pihak lain. Tuturan yang efektif adalah memaparkan
kebenaran, disiapkan dan ditata secara sistematis dan ilmiah, mengolah
dan menguasai topik tutur, serta mempunyai alasan pendukung atau
argumen.
3. Menurut Becket, retorika adalah seni yang mengafeksi pihak lain dengan
tutur, yaitu memanipulasi unsur-unsur tutur dan respons pendengar.
Tindakan manipulasi ini dilakukan dengan perhitungan yang matang
sebelumnya.
4. Donal C. Bryant memandang retorika sebagai suatu tutur yang
mempersuasi dan memberikan informasi rasional kepada pihak lain.
5. Bishop Whately memandang retorika sebagai masalah bahasa. Karena itu,
kita dapat memahami bahasa jika membatasi retorika. Retorika adalah seni
yang mengajarkan orang tentang kaidah dasar pemakaian bahasa yang
efektif .
Universitas Sumatera Utara
Littlejohn dalam bukunya Teori Komunikasi: Theories of Human
Communication menyebutkan bahwa pada awalnya, retorika berhubungan dengan
persuasi, sehingga retorika adalah seni penyusunan argumen dan pembuatan
naskah pidato. Kemudian, berkembang sampai meliput proses “adjusting ideas to
people andpeople to ideas” dalam segala jenis pesan. Fokus dari retorika telah
diperluas bahkan lebih mencakup segala cara manusia dalam menggunakan
simbol untuk mempengaruhi lingkungan di sekitarnya dan untuk membangun
dunia tempat mereka tinggal (Little John,2009: 73).
Jadi, retorika bisa didefinisikan sebagai bentuk komunikasi di mana
seseorang menyampaikan buah pikirannya baik lisan maupun tertulis kepada
hadirin yang relatif banyak dengan pelbagai gaya dan cara bertutur, serta selalu
dalam situasi tatap muka (face to face) baik langsung maupun tidak langsung
(Suhandang, 2009: 28).
Teori retorika berpusat pada pemikiran mengenai retorika yang disebut
Aristoteles sebagai alat persuasi yang tersedia. Maksudnya seorang pembicara
yang tertarik untuk membujuk khalayaknya harus mempertimbangkan tiga bukti
retoris: logika (logos), emosi (pathos) dan etika/kredibilitas (ethos). Khalayak
merupakan kunci dari persuasi yang efektif dan silogisme retoris, yang
memandang khalayak untuk menemukan sendiri potongan-potongan yang hilang
dari suatu pidato digunakan dalam persuasi. Sehingga, dapat diambil kesimpulan
bahwa retorika adalah teori yang memberikan petunjuk untuk menyusun sebuah
presentasi atau pidato persuasif yang efektif dengan menggunakan alat-alat
persuasi yang tersedia.
Universitas Sumatera Utara
Ethos
Credibility-trust
RHETORICAL
TRIANGLE
Logos
Pathos
Consistency-logic
emotions- imaginations
Gambar 2.1.4.1 Segitiga Retorika
(Burgoon, 1974: 32)
2.1.4.2 Sejarah Perkembangan Retorika
Dasar utama dari retorika adalah berbicara atau penuturan kata-kata dalam
bentuk lisan maupun tulisan. Dengan demikian usia retorika sama tuanya dengan
peradaban manusia itu sendiri. Menelusuri sejarah retorika,menurut De
Vito(dalam Suhandang, 2009:35), teori-teori retorika mulai dikenal pada tahun
3000-an SM, yakni dengan adanya sebuah esai yang berisi saran atau anjuran
mendasar untuk berbicara yang efektif kepada para Fira’un (penguasa Mesir).
Menurut Suhandang (2009: 35), retorika dikenalsejak tahun 465 SM melalui
makalah Coraxyang berjudul “Techne Logon”(seni kata-kata),dimana pada waktu
itu seni berbicara atau ilmu berbicara hanya digunakan untuk membela diri dan
mempengaruhi orang lain. Dengan kata lain pada waktu itu retorikaatau ilmu
komunikasi
digunakan
untuk
membeladiri
yang
berhubungan
dengan
kepentingansesaat dan praktis (http://nesaci.com/).
Universitas Sumatera Utara
Corax membagi pidato dalam lima bagian yaitu:
a. Pembukaan
b. Uraian
c. Argumen
d. Penjelasan tambahan
e. Kesimpulan
Di Yunani, retorika yang efektif mulai berkembang pada abad ke-5
SM, yakni pada masa kejayaan filsafat Sophisme yaitu aliran yang
mendahului zaman filsafat klasik atau dikenal juga dengan sebutan
zaman pra-klasik (Suhandang,2009: 36).
Georgias (480-370 SM) dari kaum sofisme mengatakan bahwa kebenaran
suatu pendapat hanya dapat dibuktikan jika tercapai kemenangan dalam
pembicaraan. Georgias ini merupakan guru retorika yang pertama. Ia membuka
sekolah retorika yang mengajarkan dimensi bahasa yang puitis dan teknik
berbicara impromptu (berbicara tanpa persiapan). Ia meminta bayaran mahal,
sekitar 10.000 dollar per mahasiswa. Georgias bersama Protagoras menjadi
“dosen terbang” yang mengajar berpindah dari satu kota ke kota lain (Rakhmat,
2008: 4). Sekolah tersebut dibuka dalam rangka memenuhi pasar akan
kemampuan berrpikir yang jernih dan logis serta berbicara yang jelas dan
persuasif.
Protagoras (500-432 SM) dari Abdeira berpendapat bahwa kecakapan
berbicara bukannya untuk mencari kemenangan, melainkan untuk keindahan
bahasa. Baginya retorika bukan sekedar ilmu berpidato, melainkan di dalamnya
juga mencakup pengetahuan tentang sastra, gramatika dan logika. Sokrates (469399 SM) juga menentang pendapat Georgias, ia berpendapat bahwa retorika harus
dipergunakan untuk menemukan kebenaran. Tekniknya adalah dialog, dengan
dialog orang akan mencapai dasar dan inti keterangan. Namun Sokrates dianggap
menyimpang karena dialog digunakan untuk mempengaruhi, bukan untuk
mengumpulkan fakta atau data.
Universitas Sumatera Utara
Sementara menurut Isokrates hakikat pendidikan adalah kemampuan
membentuk pendapat yang tepat tentang masyarakat. Isokrates percaya bahwa
retorika dapat meningkatkan kualitas masyarakat, retorika tidak boleh dipisahkan
dari politik dan sastra. Berbeda pendapat dengan Isokrates, Plato (427-347 SM)
mempunyai pendapat bahwa inti pendidikan adalah ilmu pasti dan ilmu
pengetahuan pada umumnya. Bagi Plato yang menjadi murid Sokrates pula,
retorika adalah penting sebagai metode pendidikan, alat untuk mencapai
kedudukan dalam pemerintahan dan untuk mempengaruhi rakyat. Sebagai metode
pendidikan, menurut Plato retorika bertujuan memiliki dan menggunakan bahasa
yang baik serta memberikan kemampuan menyusun kalimat-kalimat yang
sempurna disamping merupakan dasar dan jalan bagi orang untuk memperoleh
ilmu pengetahuan yang luas dan mendalam terutama dalam bidang politik. Dalam
hal ini ia sepakat dengan Isokrates yang menggunakan retorika demi persiapan
para muridnya untuk menjadi negarawan, namun sebaliknya Plato mengecam para
pengikut Georgias yang membuat teks pidato secara profesional untuk para
penyelenggara negara demi uang.
Teori-teori retorika
yang efektif selanjutnya dikembangkan oleh
Aristoteles (384-322 SM) dengan mengajarkan bentuk-bentuk retorika yang jelas,
singkat dan meyakinkan. Zaman pun beralih pada era klasik di mana pendidikan
retorika lebih dikembangkan serta ditekankan kepada cara berpikir dalam
mempelajari retorika. Aristoteles merupakan murid dari Plato. Ia menulis tiga jilid
buku berjudul De ArteRhetorica, yang diantara berisi lima tahap penyusunan
suatu pidato yang dikenal sebagai “Lima Hukum Retorika” seperti Inventio
(penemuan), Dispositio (penyusunan),Elocutio (gaya), Memoria (mengingat) dan
Pronuntiatio (penyampaian).
Setelah mengalami perkembangannya di Yunani,retorika kemudian
menyebar ke Romawi. Di Romawi pun retorika mengalami pengkajian lebih
sempurna lagi, terutama dilakukan oleh salah seorang pengikut Aristoteles yang
bernama Marcus Tulius Cicero (106 SM-43 M). Cicero berusaha megembangkan
retorika melalui buku karangannya yang diberi judul De Oratore. Ia menjelaskan
Universitas Sumatera Utara
bahwa retorika pada hakikatnya memiliki dua tujuan yaitu suasio (anjuran) dan
dissuasio (penolakan). Dalam hal ini Cicero menyadarkan publiknya akan
pentingnya retorika dalam sidang pengadilan. Cicero juga mengajarkan bahwa
dalam mempengaruhi khalayak, seorang orator harus meyakinkan mereka akan
kejujuran dan kebenarannya. Puncak kejayaan retorika di Romawi adalah pada
masa Cicero. Dialah orang pertama yang memperkenalkan metode retorika.
Dalam pelaksanaannya, Cicero membagi kegiatan retorika dalam dua tahap.
Pertama, investio yang berarti mencari bahan dan tema yang akan diuraikan dalam
pidato. Pada tahap ini bahan-bahan dan bukti harus dibahas sesingkat mungkin
dengan memperhatikan kewajiban si pembicara untuk mendidik, membangkitkan
kepercayaan dan menggerakkan isi hati khalayaknya. Kedua, orde cellocatio yang
mengandung arti menyusun teks, atau isi pidato dengan menuntut kecakapan si
pembicara dalam memilih mana yang lebih penting didahulukan penyampaiannya
dan mana yang kurang penting. Urutan penyampaian isi pidato pun meminta
perhatian si pembicara akan exordium (pendahuluan), narratio (pemaparan),
confirmatio (pembuktian), refutatio (bandingan serta bantuan pendapat lain) dan
pexoratio (penutup).
Plutarch (46-120 SM) berpendapat bahwa si pembicara harus memiliki
keyakinan pada dirinya sendiri, menguasai bahan, percaya akan diri sendiri,
menggunakan teknik bahasa yang; merupakan peningkatan, aliterasi dan susunan
kalimatnya baik. Mula-mula pendidikan retorika dilakukan dengan cara membawa
murid ke ruang pengadilan untuk mendengarkan persoalan-persoalan yang sedang
digelar dalam proses peradilan disana atau membawanya ke forum sidang senat
untuk mendengarkan argumentasi-argumentasi yang dinyatakan terhadap pelbagai
persoalan yang sedang dibahas. Jadi tujuan tertinggi dari mempelajari retorika
pada saat itu adalah untuk menjadi anggota perwakilan atau pemimpin negara.
Selanjutnya, Tacitus (55 SM-116 M) dalam bukunya yang berjudul
Agricela dan Dialogus Oratorebus secara jelas mengatakan bahwa retorika akan
hilang nilainya seiring dengan berkurang atau memudarnya demokrasi, seperti
pada saat bertambah buruknya situasi politik Romawi di bawah pemerintahan
Universitas Sumatera Utara
Konsul Domitinius. Masa kemunduran Romawi di abad pertengahan itu turut
melanda pula pada anggapan masyarakat Eropa terhadap retorika. Ketika
keyakinan Nasrani berkuasa, semua ilmu pengetahuan didominasi oleh dogma
gereja, retorika dianggap sebagai kesenian jahiliyah, malah disamakan dengan
berhala (Suhandang, 2009: 37-43).
Retorika modern (dalam Jurnal Komunikasi Rajiyem, 2005: 148-149)
ditandai dengan munculnya Renaissance atau abad pencerahan sekitar tahun
1200-an. Menurut Jalaluddin Rakhmat, ada tiga aliran retorika modern:
1. Aliran epistemologis
Epistemologis membahas teori pengetahuan, asal-usul, sifat, metode dan
batas-batas pengetahuan manusia. Pemikiran epistemologis berusaha
mengkaji retorika klasik dalam sorotan perkembangan psikologi kognitif
yakni yang membahas proses mental.
2. Aliran belles lettres
Retorika dalam aliran ini sangat mengutamakan keindahan bahasa dan segi
estetis pesannya, sehingga tidak jarang mengabaikan aspek informatifnya.
3. Aliran elokusionis
Aliran ini menekankan teknik penyampaian pidato.
Terakhir, pada abad 20 retorika mengambil manfaat dari perkembangan
ilmu pengetahuan modern, khususnya ilmu perilaku seperti psikologi dan
sosiologi. Istilah retorika pun bergeser menjadi speech, speech communication
atau oral communication atau public speaking (Suhandang, 2009: 48).
Universitas Sumatera Utara
2.1.4.3 Unsur-Unsur Dalam Proses Retorika
Adapun yang termasuk unsur-unsur dalam proses retorika (Suhandang,
2009: 52-73) antara lain:
1. Komunikator
Pembicara atau komunikator merupakan pusat transaksi. Meskipun secara
fisik ia selalu berhadapan baik langsung maupun tidak langsung dengan hadirin,
pembicara bertindak sebagai komunikator yang tampil sebagai sentral kegiatan
yang menggambarkan terpusatnya jiwa para hadirin dengan “memandang” si
pembicara tampil sebagai alasan untuk berkumpulnya mereka di tempat itu.
Pembicara yang cerdas adalah orang yang selalu memperhatikan reaksi yang
timbul dari audiensnya, sehingga ia dengan segera akan mengubah strategi dan
gaya pidato jika mengetahui bahwa respons yang muncul dari audiens bersifat
negatif atau menentang.
2. Pendengar (hadirin)
Para pendengar atau hadirin (audiens) yang terlibat dalam proses kegiatan
retorika pada hakikatnya merupakan insan-insan yang jelas masing-masing
berbeda dan memiliki kekhasan sendiri. Meskipun kita sering mengatakan hadirin
sebgai kumpulan orang-orang secara tidak langsung dinyatakan tidak memiliki
keanekaragaman namun kita tidak lupa bahwa itu merupakan campuran dari
insan-insan yang berbeda dan satu sama lain terpisah. Masing-masing insan
pendengar dimaksud masuk dalam situasi retorika dengan pelbagai maksud,
berbeda motif, berlainan harapan, berbeda pengetahuan, berlainan sikap,
kepercayaan dan nilai. Pendek kata, mereka hadir dengan berbeda predisposisi.
Fraser bond menggolongkan pendengar menjadi 3 yaitu, golongan intelek,
golongan praktisi dan golongan non intelek.
a. Golongan intelek cirinya menghargai orang lain menerima masukan
orang yang berilmu.
b. Golongan praktisi orang-orang yang lebih menyukai kegiatan praktek
daripada teori.
Universitas Sumatera Utara
c. Golongan non intelek orang yang lebih memperhatikan apa yang
menjadi kebutuhannya atau kepentingan pribadi.
3. Suara (bunyi-bunyian)
Bunyi apa saja yang bisa didengar ataupun tidak di sekitar kegiatan retorika
itu akan mengganggu dalam penyampaian dan penerimaan pesan.Bunyi itu
mungkin berasal dari luar konteks yang paling dekat seperti, suara mobil, teriakan
anak-anak, hembusan angin ataupun hujan. Maupun suara yang berasal dari dalam
konteks yang bersangkutan seperti audiens yang mengobrol, gangguan udara pada
mikropon, gemersik kertas, kata-kata klise dan prasangka dalam pikiran
pembicara atau pendengar, kacamata hitam yang dipakai untuk menghalangi
pandangan hadirin terhadap mata kita yang melihat teks saat pembacaan pesan
yang dikomunikasikan, podium yang menghalangi penglihatan audiens terhadap
gerak kita dan kecemasan yang timbul pada diri pembicara juga bisa dianggap
sebagai suatu gangguan bunyi (noise band).
4. Pesan dan salurannya
Pesan yang kita sampaikan selalu mengandung makna yang dibangun oleh
adanya isi (content) dan lambang (symbol). Isi komunikasi dimaksud tidak lain
adalah apa yang kita pikirkan atau buah pkiran yang akan kita sampaikan,
sedangkan lambang yang paling utama untuk melukiskan buah pikiran iu adalah
bahasa, dan umumnya bahasa dikemukakan dalam bentuk untaian kata-kata.
Dalam hal pemilihan kata perlu diketahui bahwa setiap kata selalu mengandung
dua pengertian, yaitu: pengertian denotatif yang mengandung arti sebagaimana
tercantum dalam kamus (arti kata) dan pengertian konotatif yang mengandung
pengertian emosional atau mengandung penilaian tertentu (makna buah pikiran
atau maksud penyampaian). Sedangkan saluran yang dimaksud adalah medium
yang meneruskan pesan bermakna dari pengirim kepada penerimanya. Dalam hal
ini kita bisa membayangkan adanya saluran abstrak yang meneruskan suara,
saluran yang menghubungkan hal-hal yang berkenaan dengan pembicaraan dan
pendengaran. Namun demikian ada juga saluran yang tampak dan penting adanya,
Universitas Sumatera Utara
seperti kontak mata, gerakan badan, tangan serta cara berpakaian dapat
menyalurkan pesan yang mengandung arti tertentu.
5. Akibat
Berhasil atau tidaknya suatu pidato tergantung pada interaksi
pembicara dan informasi lain
yang
dimiliki audiens.
antara
Karenanya jika
menginginkan menjadi pembicara yang efektif maka harus mengetahui informasi,
sikap dan kepercayaan yang dimiliki hadirin terhadap tema pidato. Kredibilitas
akan mempengaruhi cara hadirin dalam memahami pidato kita dan dalam hal ini
Carl Hovland menyatakan bahwa berhasil atau tidaknya orator dalam berpidato
tergantung pada:
a. Maksud si pembicara berpidato
b. Kejujuran si pembicara
c. Kedudukan dan tanggungjawab sosial pembicara
d. Pengalaman si pembicara
e. Pandangan si pembicara mengenai hal-hal yang aktual.
Dengan demikian akibat dari proses retorika itu merupakan feedback pidato
yang belum tentu sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai pembicara. Dalam hal
ketidaksesuaian ini diperlukan perubahan strategi, teknik dan taktik.
6. Konteks
Antara pembicara dan pendengar, beroperasi dalam suatu konteks yang
meliputi dimensi lingkungan sosial secara fisik dan psikis. Konteks sangat
berperan dalam kegiatan retorika. Konteks selalu menimbulkan pengaruh yang
berarti bagi berlangsungnya retorika dan karena perlu dianalisis serta diatur
adanya dalam setiap situasi retorika (Suhandang, 2009: 52-73).
Universitas Sumatera Utara
2.1.4.4 Pembagian Retorika
Pembagian retorika (Hendrikus, 1993: 16-17) antara lain:
1. Monologika
Adalah ilmu tentang seni berbicara secara monolog, yaitu hanya seorang yang
berbicara. Bentuk-bentuk yang tergolong dalam monologika adalah pidato, kata
sambutan, kuliah, makalah, ceramah dan deklamasi.
2. Dialogika
Adalah ilmu tentang seni berbicara secara dialog, di mana dua orang atau lebih
berbicara atau mengambil bagian dalam satu proses pembicaraan. Bentuk
dialogika yang penting adalah diskusi, tanya jawab, perundingan, percakapan dan
debat.
3. Pembinaan Teknik Bicara.
Efektivitas monologika dan dialogika tergantung pada teknik bicara. Oleh
karena itu teknik bicara ini merupakan bagian yang penting dalam retorika.
Perhatian ini lebih diarahkan pada pembinaan teknik bernafas, teknik mengucap,
bina suara, teknik membaca dan bercerita.
2.1.4.5 Tujuan dan Fungsi Retorika
a.
Tujuan Retorika
Retorika pada awalnya berkaitan dengan persuasi, sehingga retorika adalah
seni penyusunan argumentasi dan pembuatan naskah pidato. Persuasi dapat
diartikan sebagai metode komunikasi sebagai ajakan, permohonan atau bujukan
yang lebih menyentuh emosi, yaitu aspek afeksi dari manusia (Arifin, 2011: 261)
Sedangkan menurut Erwin P. Bettinghaus (1973), persuasi merupakan suatu
usaha yang disadari untuk mengubah sikap, kepercayaan atau perilaku orang
melalui transmisi pesan (Okta, 1976: 63). Meskipun demikian persuasi dapat
dipahami bahwa selain mengajak atau membujuk khalayak dengan menggugah
Universitas Sumatera Utara
emosi, tetapi juga dapat dilakukan dengan cara logis dengan menyentuh aspek
kognitif individu, yaitu dengan menggugah khalayak berdasarkan situasi dan
kepribadian khalayak (Arifin, 2011: 263).
Secara massa, retorika bertujuan (Tasmara, 1987: 156) sebagai berikut:
a. To inform, memberikan penerangan dan pengertian kepada massa, guna
memberikan penerangan yang mampu menanamkan pengertian dengan
sebaik-baiknya.
b. To Confise, meyakinkan dan menginsafkan.
c. To Inspire, menimbulkan inspirasi dengan teknik sistem penyampaian
yang baik dan bijaksana.
d. To Entertain,
menggembirakan, menghibur atau menyenangkan dan
memuaskan.
e. To Ectuate (to put into action), menggerakkan dan mengarahkan mereka
untuk
berindak
menetralisir
dan
melaksanakan
ide
yang
telah
dikomunikasikan oleh orator di hadapan massa.
b. Fungsi Retorika
I Gusti Ngurah Okta (1976: 65) menjelaskan retorika adalah:
1. Menyediakan gambaran yang jelas tentang manusia terutama dalam
hubungan kegiatan bertuturnya, termasuk ke dalam gambaran ini antara
lain gambaran proses kejiwaan ketika ia terdorong untuk bertutur dan
ketika ia mengidentifikasi pokok persoalan dan retorika bertutur
ditampilkan.
2. Menampilkan gambaran yang jelas tentang bahasa atau benda yang biasa
diangkat menjadi topik tutur. Misalnya saja gambaran tentang hakikatnya,
strukturnya, fungsi dan sebagainya.
3. Mengemukakan gambaran terperinci tentang masalah tutur misalnya
dikemukakan gambaran tentang hakikatnya, strukturnya, bagian-bagiannya
dan sebagainya.
Universitas Sumatera Utara
Berdasarkan dengan penampilan gambaran ketiga hal tersebut disiapkan pula
bimbingan tentang:
a. Cara-cara memilih topik
b. Cara-cara
memandang
dan
menganalisa
topik
tutur
dengan
menentukan sasaran ulasan yang persuasif dan edukatif
c. Penulisan jenis tutur yang disesuaikan dengan tujuan yang hendak
dicapai.
Pemilihan materi bahasa serta penyusunan menjadi kalimat-kalimat yang
padat, utuh dan bervariasi. Pemilihan gaya bahasa dan tutur dalam penampilan
bertutur kata.
2.1.4.6 Lima Hukum Retorika
Dari Aristoteles dan ahli retorika klasik, memperoleh lima tahap penyusunan
pidato yang terkenal sebagai lima hukum retorika (The Five Canons of Rhetoric),
limahukum tersebut adalah:
1. Invention (penemuan bahan).
Dalam
bahasa
Indonesia
diartikan
sebagai
penemuan.
Invention
didefinisikan sebagai konstruksi atau pengembangan dari sebuah argument yang
relevan dengan sebuah tujuan dari pidato (West &Turner, 2007: 343). Seorang
speaker tidak asal berbicara saja, namun harus secara sistematis mencari isi dan
secara sadar memutuskan apa yang harus disertakan bagi audience yang mereka
tuju. Canon yang pertama ini berhubungan erat dengan critical thinking serta
argumentasi. Dalam canon pertama ini didukung dengan faktor pendukung agar
bersifat lebih persuasif. Faktor-faktor tersebut antara lain :
1.
Ketika dapat memilih topik, pilih sesuatu yang bermakna
2. Kenali subject nya
3.
Ketahui apa yang kita inginkan dari audience kita.
4.
Berikan argument terbaik yang dapat kita berikan.
Universitas Sumatera Utara
5. Analisa audience
6. Tailor the message to the audience
7. Pastikan bahwa audience tahu bahwa subject kita bermanfaat.
8. Gunakan bukti yang berkualitas tinggi.
9. Sebutkan sumber bukti yang kita gunakan.
10. Be Organized
11. Respon to protential objections
12. Beradaptasi terhadap gangguan yang kita hadapi
Invention berhubungan erat dengan logos. Dalam invention dapat
dimasukkan beberapa argument enthymematic. Sebagai tambahannya invention
dimaknai secara luas sebagai body ofinformation dan pengetahuan yang dibawa
pembicara dalam situasi saat pidato disampaikan (West & Turner, 2007: 343)
Dalam invention terdapat topics dan civic spaces. Topics merupakan
bantuan yang digunakan dalam invention yangmengacu pada argument yang
digunakan oleh pembicara. Topic (yang mengacu pada argument tersebut)
membantu menguatkan persuasi pembicara. Civic spaces merupakan makna yang
tersedia dari persuasi atau lokasi metafora di mana retorika memiliki kesempatan
untuk membawa efek perubahan (West & Turner, 2007: 344).
2. Dispositio/Arrangement (penyusunan bahan/materi).
Disposisi merupakan penataan ide. Yang dimaksud penataan ide adalah
urutan ide dalam speech yang kita lakukan. Penataan ide akan membantu
pendengar memahami hubungan antar ide serta menghindari kebingungan.
Penataan ide yang efektif juga akan membuat pesan lebih persuasif dengan
membiarkan setiap ide membangun di atas apa yang telah dipresentasikan lebih
dahulu dan membuat argumen lebih kuat. Menurut West dan Turner (2007: 343),
Aristoteles merasa bahwa seorang pembicara harus mencari pola penataan pesan
yang meningkatkan efektivitas pidato mereka. Dalam penataan pidato ini, dibagi
dalam tiga bagian, yakni: introduction, body dan conclusion.
Universitas Sumatera Utara
Introduction merupakan bagian dari penataan strategi dalam pidato yang
bertujuan untuk mendapatkan perhatian audience, menghubungkan diri dengan
audience dan menyediakan garis besar tujuan pembicara berpidato (West &
Turner, 2007: 345).Body sebagai kelanjutan dari introduction, body merupakan
bagian dari penataan pidato yang berisi arguments, examples, dan detil-detil
penting untuk membuat sebuah poin. Aristoteles menyatakan bahwa audience
harus dibimbing dari satu poin ke poin yang lainnya (West &Turner, 2007: 345).
Sebagai penutup dari pidato, conclusion atau kesimpulan merupakan sebuah
rangkuman yang berisi poin-poin utama pembicara dan merangsang emosi
audience (West & Turner, 2007: 345).
3. Style/Elocutio (gaya/pemilihan bahasa yang indah).
Style adalah cara penggunaan bahasa dalam mengekspresikan ide.
Penggunaan style yang efektif akan membuat pesan lebih jelas, menarik dan
powerful. Sebagai persuader yang efektif, diharapkan dapat menggunakan bahasa
yang secara efektif menyuarakan argument. Penggunaan bahasa harus sungguhsungguh diperhatikan sehingga tidak menimbulkan pemahaman yang salah.
Menurut West dan Turner (2007: 346), penggunaan istilah yang aneh atau
sudah ketinggalan jaman sebaiknya dihindari. Selain itu, Aristoteles juga
menyarankan penggunaan metafora untuk membantu audience memahami halhal yang kurang jelas sehingga lebih mudah dipahami.
4. Memory (mengingat materi).
Memory berhubungan dengan kemampuan untuk mengingat mengenai apa
yang akan kita katakan. Pada zaman dahulu, hal ini berarti mempelajari cara untuk
mengingat ide dalam urutan untuk kita mempresentasikan mereka dengan bahasa
yang kita rencanakan. Pada masa kini, hal ini lebih kepada bagaimana
menggunakan catatan atau manuskrip dari pada menghapal secara keseluruhan.
Universitas Sumatera Utara
5. Pronountiatio/Delivery (penyampaian).
Delivery merupakan canon final dari retorika. Delivery melibatkan secara
vokal dan fisik dalam mempresentasikan speech kita. Delivery sangat penting
karena orang lebih memperhatikan ideyang dipresentasikan secara menarik dan
powerful. Delivery seharusnya mempresentasikan ide sesuai bobotnya dan tidak
untukmembuat ide lemah tampil lebih kuat.
Menurut West dan Turner (2007: 347), delivery merupakan presentasi non
verbal dari seorang pembicara. Di dalamnya terdapat kontak mata, tekanan suara,
pengucapan, dialek, gerakan tubuh dan penampilan fisik. Pembicara disarankan
untuk menggunakan tingkatan pitch, ritme, volume dan emosi yang pantas.
Aristoteles meyakini bahwa cara sesuatu diucapkan mempengaruhi kejelasannya.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 2.1.4.6 Kanon Retorika Aristoteles
KANON
Penemuan
DEFINISI
DESKRIPSI
Integrasi cara
Menggunakan logika dan bukti di dalam
berpikir dan
pidato membuat sebuah pidato menjadi
argumen di dalam
lebih kuat dan persuasif.
pidato
Pengaturan
Organisasi dari
Mempertahankan struktur suatu pidato
pidato
Pengantar, Batang Tubuh, Kesimpulan.
Mendukung kredibilitas pembicara,
menambah tingkat persuasi dan
mengurangi rasa frustasi pada
pendengar.
Gaya
Penggunaan bahasa
Penggunaan gaya memastikan bahwa
dalam pidato
suatu pidato dapat diingat dan bahwa
ide-ide dari pembicara diperjelas
Penyampaian
Presentasi dalam
Penyampaian yang efektif mendukung
pidato
kata-kata pembicara dan membantu
mengurang ketegangan pembicara
Ingatan
Penyimpanan
Mengetahui apa yang akan dikatakan
informasi di dalam
dan kapan mengatakannya, meredakan
benak pembicara
ketegangan pembicara dan
memungkinkan pembicara untuk
merespons hal-hal yang tidak terduga
Sumber : (West and Turner, 2008: 11)
Universitas Sumatera Utara
2.1.4.7 Model Komunikasi Aristoteles
Model komunikasi yang digunakan oleh Aristoteles pada dasarnya adalah
model komunikasi paling klasik, model ini disebut model retoris (rhetorical
model). Inti dari komunikasi ini adalah persuasi, yaitu komunikasi yang terjadi
ketika seorang pembicara menyampaikan pembicaraannya kepada khalayak dalam
mengubah sikap mereka. Ilmu retorika pada awalnya dikembangkan di Yunani
berkaitan dengan ilmu tentang seni berbicara (Techne Rhetorike).
Aristoteles dalam bukunya tentang retorika mengkaji mengenai ilmu
komunkasi itu sendiri dan merumuskan ke dalam model komunikasi verbal.
Model komunikasi verbal dari Aristoteles ini merupakan model komunikasi
pertama dalam ilmu komunikasi. Ia juga menuliskan bahwa suatu komunikasi
akan berjalan apabila ada 3 unsur utama komunikasi yaitu pembicara, pesan dan
pendengar. Aristoteles memfokuskan komunikasi pada komunikasi retoris atau
yang lebih dikenal saat ini dengan komunikasi publik (public speaking) atau
pidato, sebab pada masa itu seni berpidato terutama persuasi merupakan
keterampilan penting yang dibutuhkan pada bidang hukum seperti pengadilan dan
teori retorika berpusat pada pemikiran mengenai retorika (mempersuasif). Perlu
diingat bahwa ada model komunikasi ini semakin lama semakin berkembang, tapi
akan selalu ada 3 aspek yang sama dari masa ke masa yaitu: sumber pengirim
pesan, pesan yang dikirimkan dan penerima pesan.
Kelemahan dari model komunikasi Aristoteles ini adalah bahwa komunikasi
dianggap fenomena yang statis. Seseorang berbicara, pesannya berjalan kepada
khalayak, dan khalayak mendengarkan. Model ini juga berfokus pada komunikasi
yang bertujuan (disengaja) yang terjadi ketika seseorang berusaha membujuk
orang lain untuk menerima pendapatnya. Kelemahan lain adalah tidak dibahasnya
aspek-aspek nonverbal dalam persuasi (Mulyana, 2011: 146).
Universitas Sumatera Utara
Gambar 2.1.4.5 Model Komunikasi Aristoteles
(Mulyana, 2011: 146)
Ada 2 tradisi retorika yaitu:
a. Kebenaran haruslah logis, realistis dan rasional
b. Kebenaran itu absolut, tidak peduli apakah kebenaran ini punya nilai
praktis.
Aristoteles mengasumsikan retorika menjadi dua asumsi, yaitu:
1. Pembicara yang efektif harus mempertimbangkan khalayak mereka.
Asumsi yang pertama ini berkaitan dengan komunikasi merupakan proses
transaksional. Aristoteles menyatakan bahwa hubungan antara pembicarakhalayak harus dipertimbangkan. Para pembicara tidak boleh menyusun
atau menyampaikan pidato mereka tanpa mempertimbangkan khalayak
mereka. Para pembicara harus, dalam hal ini, berpusat pada khalayak.
Mereka harus memikirkan khalayak sebagai sekelompok orang yang
memiliki motivasi, keputusan, dan pilihan dan bukannya sebagai
sekelompok besar orang yang homogen dan serupa. Yang lebih penting
lagi pembicara harus terlibat dalam analisis khalayak, dimana proses
mengevaluasi suatu khalayak dan latar belakangnya (seperti usia, jenis
kelamin, tingkat pendidikan, dan sebagainya).
2. Pembicara yang efektif menggunakan beberapa bukti dalam presentasi
mereka.
Asumsi kedua ini berkatian dengan apa yang dilakukan pembicara dalam
persiapan pidato mereka dan dalam pembuatan pidato tersebut. Bukti-bukti
yang dimaksudkan oleh Aristoteles ini merujuk pada cara-cara persuasi
dan bagi Aristoteles terdapat tiga bukti: ethos, pathos, dan logos.
Ethosmerujuk pada karakter, intelegensi, dan niat baik yang dipersepsikan
dari seorang pembicara ketika hal-hal ini ditunjukkan melalui pidatonya.
Universitas Sumatera Utara
Logosadalah bukti-bukti logis yang digunakan oleh pembicara (argumen
mereka, rasionalisasi, bahasa yang jelas dan wacana).Pathosberkaitan
dengan emosi yang dimunculkan dari parapendengar. Aristoteles
beragumen bahwa para pendengarmenjadi alat pembuktian ketika emosi
mereka digugah, parapendengar menilai dengan cara berbeda ketika
merekadipengaruhi oleh rasa bahagia, sakit, benci, atau takut (West
danTurner, 2008: 6 – 8).
Menurut Dori Wuwur Hendrikus (1991: 42-45), terdapat tiga hal yangdapat
mempengaruhi efektivitas komunikasi retoris atau retorika:
1. Komunikator
a. Pengetahuan tentang komunikasi dan keterampilanberkomunikasi.
Yang dimaksudkan adalah penguasaan bahasa danketerampilan
mempergunakan bahasa, keterampilanmenggunakan media komunikasi
untuk mempermudahproses pengertian pada resipiens, kemampuan
untukmengenal dan menganalisis situasi pendengar sehinggadapat
memberikan sesuatu yang sesuai dengankebutuhan mereka.
b. Sikap komunikator.
Sikap komunikator seperti agresif (menyerang) ataucepat membela
diri, sikapyang mantap danmeyakinkan, sikap rendah hati, rela
mendengar danmenerima anjuran dapat memberi dampak yang
besardalam proses komunikasi retoris.
c. Pengetahuan umum.
Komunikator sebaiknya memiliki pengetahuan umumyang luas, karena
dengan begitu komunikator dapatmengenal dan menyelami situasi
pendengar dan dapat mengerti mereka secara lebih baik. Komunikator
harusmengetahui dan menguasai bahan yang dibeberkansecara
mendalam, teliti dan tepat. Komunikator jugahendaknya mengetahui
dan mengerti hal-hal praktisdari kehidupan harian para pendengarnya,
supaya dapatmenyampaikan sesuatu
yang
mampu
menggugah
hatimereka.
Universitas Sumatera Utara
d. Sistem sosial.
Setiap komunikator berada dan hidup didalam sistemmasyarakat
tertentu. Posisi, pangkat, atau jabatan yangdimiliki komunikator dalam
masyarakat
sangat
mempengaruhi
efektivitas
komunikasi
retoris(misalnya: sebagai pemimpin atau bawahan, sebagaiorang yang
berpengaruh atau tidak).
e. Sistem kebudayaan.
Di samping sistem sosial, sistem kebudayaan yangdimiliki seorang
komunikator juga dapatmempengaruhi efektivitas komunikasi retoris.
Tingkahlaku, tata adab dan pandangan hidup yang diwarisinyadari
suatu kebudayaan tertentu akan juga mempengaruhi efektivitas dalam
proses komunikasiretoris dengan manusia lain.
2. Resipiens atau khalayak
a. Pengetahuan tentang komunikasi dan keterampilan berkomunikasi.
Resipiens harus dapat saling berkomunikasi dan saling mengerti
apabila resipiens dan komunikator menggunakan bahasa atau kode
yang dimengerti oleh kedua belah pihak. Komunikasi tidak akan
terjadi apabila bahasa yang dipergunakan oleh komunikator tidak
dimengerti oleh resipiens. Dalam hubungan ini, perlu diperhatikan
bahwa pendengar mempunyai cara mendengar dan mengerti sendiri,
yang dapat berbeda dari apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh
komunikator.
b.
Sikap resipiens atau khalayak.
Sikap-sikap positif seperti terbuka, senang, tertarik dan simpatik akan
memberi pengaruh positif dalam proses komunikasi, sebaliknya sikap
negatif seperti tertutup, jengkel, tidak simpatik terhadap komunikator
akan mendatangkan pengaruh negatif.
c. Sistem sosial dan kebudayaan.
Universitas Sumatera Utara
Sistem sosial dan kebudayaan dapat menghasilkan sifat dan karakter
khusus pada resipiens. Oleh karena
itu, komunikator harus
memperhatikan segala faktor ini,apabila komunikator mengharapkan
efek yang besardalam proses komunikasi dengan pendengarnya.
3. Pesan dan Media
a. Elemen-elemen pesan.
Dalam proses ini, komunikator harus memperhatikanelemen-elemen
yang membentuk pesan, supayakomunikasi dapat membawa efek yang
besar. Elemen-elemenitu berupa kata-kata dan kalimat, pikiran atauide
yang dibeberkan, alat peraga yang dipakai untukmengkonkretisasi
pesan, suara, tekanan suara,artikulasi, mimik dan gerak-gerik untuk
memperjelaspesan yang disampaikan.
b. Struktur pesan.
Susunan pesan yang ingin disampaikan juga dapat mempengaruhi
efektivitas komunikasi retoris. Yang perlu diperhatikan adalah susunan
organis
dimana
elemen-elemen
itu
dikedepankan
untuk
mengungkapkan pesan. Pada prinsipnya struktur atau susunan pesan
harus jelas dan mudah dimengerti.
c. Isi pesan.
Isi pesan seharusnya mudah ditangkap, tidak bolehterlalu sulit, dan
tidak
mengandung
terlalu
banyakkebenaran,
karena
dapat
membingungkan resipiens.Sebaiknya isi pesan dibatasi pada satu atau
dua pokokpikiran yang diuraikan secara jelas, terinci dan tepat.
d. Proses pembeberan.
Yang dimaksudkan adalah cara membawakan danmengemukakan
pesan dari komunikator. Ada tigakemungkinan yang dapat dipilih,
yaitu membawakansecara bebas, tanpa teks, terikat pada teks.
2.1.5 Tipologi Pidato
Universitas Sumatera Utara
Rakhmat
dalam
bukunya
berjudul
“Retorika
Modern:
Pendekatan
Praktis”tahun 2008 menyatakan bahwa dalam retorika, terdapat sejumlah tipe
pidato yang menentukan pendekatan dan proses yang berbeda-beda dalam
penyelenggaraannya yaitu:
1. Tipe impromptu.
Tipe ini biasanya merupakan ungkapan perasaan pembicara, karena
pembicara
tidak
memikirkan
terlebih
dahulu
pendapat
yang
disampaikannya. Gagasan dan pendapatnya datang secara spontan, meski
memungkinkan orator untuk terus berpikir.
2. Tipe manuskrip.
Orasi dilakukan dengan cara membawa naskah. Kelebihannya, kata-kata
dapat dipilih sebaik-baiknya, pernyataan dapat dihemat dan dapat
diterbitkan atau diperbanyak. Kelemahannya, interaksi dengan pendengar
kurang, umpan balik kurang diperhatikan dan bersifat monoton.
3. Tipe memoriter.
Pesan pidato ditulis kemudian diingat kata demi kata. Kelebihannya,
memungkinkan ungkapan yang tepat, organisasi pesan yang terencana dan
pemilihan bahasa yang tepat, serta gerak dan isyarat yang terintegrasi.
Kelemahannya, kurang terjalinnya hubungan antara pembicara dan
pendengar, memerlukan waktu dalam persiapan dan kurang spontan.
4. Tipe ekstemporer.
Jenis pidato yang paling baik dan paling sering dilakukan oleh juru pidato
yang mahir. Orasi telah dipersiapkan sebelumnya berupa outline dan
pokok-pokok penunjang pembahasan. Outline hanya merupakan pedoman
untuk mengatur gagasan yang ada dalam pikiran, terjadi interaksi dengan
pendengar, fleksibel dan lebih spontan.
Menurut Jalaluddin Rakhmat (2000) (Jurnal Ilmu Komunikasi, Sutrisno
dan Ida Wiendijarti, 2014: 84)pidato dapat dibedakan dalam tiga bentuk
Universitas Sumatera Utara
berdasarkan isi pesan dan tujuannya, yaitu pidato informatif, pidato persuasif dan
pidato rekreatif.
1. Pidato Informatif
Pidato informatif ditujukan untuk menambah pengetahuan pendengar.
Komunikan diharapkan mendapatkan penjelasan, menaruh minat dan
memiliki pengertian tentang persoalan yang dibicarakan.
Jenis-jenis pidato informatif:
a. Kuliah, yakni cara menyajikan biasanya dengan membaca teks
yang sudah dipersiapkan
b.
Ceramah. Ceramah harus menampilkan disposisi yang jelas, bahasa
yang padat dan berisi.
c.
Referat/makalah atau pengantar singkat. Referat dapat dibawakan
di konferensi. Pada dasarnya referat dibatasi uraiannya pada hal-hal
yang esensial, sehingga lebih mengenai budi dan bukan perasaan
manusia.
d.
Pengajaran, uraian yang di susun secara pedagogis, bentuk
penyampaian bermacam-macam sehingga tidak membosankan.
e.
Wejangan Informatif, ceramah santai di depan sekelompok
pendengar dalam jumlah kecil, bentuk penyampaian sering
menggunakan slide.
2. Pidato Persuasif
Pidato
persuasif
mempengaruhi
merupakan
pidato
pendengardengan
yang
membujuk
bertujuan
untuk
pendengar
agar
mengubahpilihan atau sikapnya. Pidato ini ditujukan agar orang
mempercayai sesuatu,melakukannyadengan rasa antusias. Keyakinan
dantindakan semangat adalah bentuk reaksi yangdiharapkan.
3. Pidato Rekreatif
Pidato Rekreatif merupakan pidato yang tujuan utamanya adalah
menyenangkan atau menghibur orang lain. Reaksi yang diinginkan
adalah terhiburnya pendengar sehingga muncul suatu kegembiraan.
Universitas Sumatera Utara
Pidato rekreatif ini biasanya terdapat dalam jamuan-jamuan, pestapesta dan perayaan-perayaan.
2.1.6 Analisis Retorika Sebagai Salah Satu Bentuk Analisis Teks Media
Retorika merupakan salah satu elemen dalam proses komunikasi. Robert
L. Root Jr. (1987) lewat bukunya The Rhetoric Of Popular Culture: Advertising,
Advocacy, and Entertainment, menuliskan bahwa retorika Aristoteles merupakan
retorika umum yang dapat digunakan untuk menganalisis teks media (Berger,
2000: 81). Root kemudian menggambarkan secara umum elemen-elemen retorika
yang dapat digunakan dalam penelitian, sebagai berikut:
Tabel 2.1.6 Elemen-elemen Analisis Retorika Aristoteles
Term
Defenisi
Ethos
Karakter dari speaker dalam meyakinkan
Pathos
Emosi yang dimunculkan dari pendengar
Logos
Bukti logis dari pembicara dalam berargumen
Aim
Tujuan dari pidato/presentasi
Mode
Media yang digunakan (radio,televisi, film dan lain-lain)
Sumber : (Berger, 2000: 81)
Universitas Sumatera Utara
2.1.7 Teori Analisis Wacana
Barbara Johnstone (2000: 8) menuliskan bahwa “What distinguishes
discourse analysis from other sorts of study that bearon human language and
communication lies in the question discourse analyst ask but in the ways they try
to answer them: by analyzing discourse that is, by examining aspects of the
structure and function of the language in use”. Maksudnya adalah analisis wacana
meneliti wacana dengan melihat bahasa dan struktur yang digunakan dalam
menyampaikan maksud penulis karena bahasa digunakan oleh penuturnya untuk
atau dengan maksud tertentu. Jadi, dengan kata lain, bahasa bisa dijadikan
“kendaraan” untuk menyampaikan maksud yang diinginkan.
Universitas Sumatera Utara
Wacana didefinisikan oleh para ahli pada tabel di bawah ini:
Wacana: 1. komunikasi verbal, ucapan, percakapan; 2. Sebuah perlakuan formal
dari subjek dalam ucapan atau tulisan; 3. Sebuah unit teks yang digunakan oleh
linguis untuk menganalisis satuan lebih dari kalimat (Collins Concise English
Dictionary, 1998)
Wacana:
1.
Sebuah
percakapan
khusus
yang
alamiah
formal
dan
pengungkapannya diatur pada ide dalam ucapan dan tulisan; 2. Pengungkapan
dalam bentuk sebuah nasihat risalah dan sebagainya; 3. Sebuah unit yang
dihubungkan ucapan atau tulisan (Longman Dictionary Of The English
Language, 1984)
Wacana: 1. Rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi
yang satu dengan proposisi yan lainnya, membentuk suatu kesatuan, sehingga
terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat-kalimat itu; 2. Kesatuan bahasa
yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan
koherensi dan kohesi yang tinggi yang berkesinambungan, yang mampu
mempunyai awal dan akhir yang nyata, disampaikan secara lisan atau tertulis
(J.S. Badudu, 2000)
Analisis wacana memfokuskan pada struktur yang secara alamiah terdapat pada
bahasa lisan, sebagaimana banyak terdapat dalam wacana seperti percakapan,
wawancara, komentar dan ucapan-ucapan (Crystal, 1987)
Wacana adalah komunikasi kebahasaan yang terlihat sebagai sebuah pertukaran
diantara pembicara dan pendengar, sebagai aktivitas personal dimana bentuknya
ditentukan oleh tujuan sosialnya (Howthorn, 1992)
Wacana adalah komunikasi lisan atau tulisan yang terlihat dari titik pandang
kepercayaan, nilai dan kategori yang masuk didalamnya; kepercayaan di sini
mewakili pandangan dunia; sebuah organisasi atau representasi dari pengalaman
(Roger Fowler,1977)
Wacana: kadangkala sebagai bidang dari semua penyataan (statement), kadang
kala sebagai sebuah individualisasi kelompok penyataan, dan kadang kala
sebagai praktik regulatif yang dlihat dari sejumlah pernyataan (Foucault,1972)
Sumber:( Eriyanto, 2001: 2)
Universitas Sumatera Utara
2.1.8 Model Analisis Wacana Kritis Van Djik
Analisis Wacana Kritis (AWK) akan menyoroti bagaimana seorang tokoh
secara ideologis memakai kata dan kalimat tertentu serta bagaimana ia
menekankan makna tertentu di balik kata-katanya. AWK adalah studi tentang
struktur pesan dalam komunikasi (LittleJohn, 1996: 85). Secara sederhana analisis
wacana dapat diartikan studi tentang struktur pesan dalam komunikasi, lebih
tepatnya lagi analisis wacana adalah telaah mengenai aneka fungsi atau prakmatik
bahasa (Sobur 2004:48). Yang mana bahasa itu dipakai untuk tujuan dan praktik
tertentu, termasuk di dalamnya praktik kekuasaan.
Analisis wacana kritis atau (Critical Discourse Analysis/CDA) Analisis
wacana dalam paradigma ini menekankan pada kekuatan yang terjadi pada proses
produksi dan reproduksi makna. Individu tidak dianggap sebagai subjek yang
netral yang bisa menafsirkan secara bebas sesuai dengan pikirannya, karena
sangat berhubungan dan dipengaruhi oleh kekuatan sosial yang ada dalam
masyarakat. Bahasa disini tidak dipahami sebagai medium netral diluar diri si
pembicara bahasa dalam pandangan kritis dipahami sebagai representasi yang
berperan dalam membentuk subyek tertentu, tema-tema wacana tertentu atau
strategi-strategi di dalamnya. Oleh karena itu analisis wacana dipakai untuk
membongkar kuasa yang menjadi wacana perspektif yang mesti dipakai topik apa
yang dibicarakan (Eriyanto, 2001:6)
Model analisis wacana Van Djik adalah model yang paling banyak
dipakai. Mungkin karena Van Djik mengelaborasi elemen-elemen wacana
sehingga bisa diaplikasikan secara praktis.Model analisis Van Dijk kerap disebut
sebagai kognisi sosial. Nama pendekatan semacam ini tidak dapat dilepaskan dari
karakteristik yang diperkenalkan oleh Van Dijk. Menurut Van Dijk, penelitian
atas wacana tidak cukup hanya didasarkan pada analisis atas teks semata, karena
teks hanya hasil dari suatu produksi, sehingga kita memiliki suatu pengetahuan
kenapa teks bisa semacam ini. Menurut Van Dijk, teks bukan sesuatu yang datang
dari langit, bukan pula ruang hampa yang mandiri, akan tetapi teks dibentuk
dalam suatu diskursus, suatu praktik wacana (Eriyanto, 2001:221-222).
Universitas Sumatera Utara
Wacana oleh Van Dijk memiliki tiga dimensi atau bangunan kewacanaan:
dimensi teks, kognisi sosial dan konteks sosial.Sedangkan inti dari analisis
wacana Van Dijk adalah menggabungkan ketiga dimensi wacana tersebut tersebut
ke dalam satu kesatuan. Suatu wacana terdiri atas tiga struktur/tingkatan yang
masing-masing bagian saling mendukung, (Sobur, 2004: 73-74)yaitu:
1) Struktur makro. Ini merupakan makna global/umum dari suatu teks yang dapat
dipahami dengan melihat topik dari suatu teks. Tema wacana ini bukan hanya
isi, tetapi juga sisi tertentu dari suatu peristiwa.
2) Superstruktur adalah kerangka suatu teks, bagaimana struktur dan elemen
wacana itu disusun dalam teks secara utuh.
3) Struktur mikro adalah makna wacana yang dapat diamati dengan menganalisis
kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, parafrase yang dipakai dan sebagainya.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 2.1.8 Struktur/Elemen Wacana AWK Van Djik
Struktur Wacana
Hal Yang Diamati
Elemen
Struktur Makro
Tematik
Topik
Makna global dari suatu
teks yang dapat diamati
dari topik/tema yang
diangkat oleh suatu teks
Super Struktur
Tema wacana bukan
hanya isi, tetapi juga sisi
tertentu
dari
suatu
perisiwa
Skema
Skematik
Kerangka suatu teks,
seperti
bagian
pendahuluan, isi, penutup
dan kesimpulan
Struktur Mikro
Bagaimana struktur dan
elemen wacana disusun
dalam teks secara utuh
Merupakan
makna
wacana
yang
dapat
diamati
dengan
menganalisis
kata,
kalimat, proposisi, anak
kalimat, parafrase dan
sebagainya
Latar, detail
praanggapan,
Makna
yang
ingin nomunalisasi
ditekankan dalam teks,
misal
denganmemberi
detailpada suatu sisi atau
membuat satu eksplisit
satu sisi dan mengurangi
detail sisi lain.
Semantik
maksud
Sintaksis
Bagimana
kalimat Bentuk
kalimat,
(bentuk susunan yang koherensi, kata ganti
dipilih)
Leksikon
Stilistik
Bagaimana pilihan kata
yang dipakai dalam teks
berita
Grafis, metafora, ekspresi
Retoris
Bagaimana dan dengan
cara penekanan dilakukan
Sumber: (Eriyanto, 2001: 228-229)
Universitas Sumatera Utara
a) Temantik
Tema/topik berarti sesuatu yang telah diuraikan atau sesuatu yang telah
ditempatkan atau gambaran umum dari suatu teks. Dapat disebut juga
gagasan inti, ringkasan atau yang utama dari suatu teks. Topik menunjukkan
apa yang ingin disampaikan oleh komunikator. Menurut Van Djik umumnya
dibentuk dalam tata aturan umum. Teks tidak hanya didefinisikan
mencerminkan suatu pandangan tertentu atau topik tertentu tetapi suatu
pandangan umum yang koheren (koherensi global), yakni bagian-bagian teks
jika diurut saling mendukung satu dengan yang lain mendukung membentuk
gambaran topik umum. Topik tersebut akan didukung oleh sub-sub topik
(Eriyanto, 2001: 230).
b) Skematik
Skema merupakan alur penyajian berita atau wacana. Alur tersebut
menunjukkan bagian-bagian teks itu disusun dan diurutkan sehingga
membentuk satu kesatuan. Ada bagian yang didahulukan, ada bagian yang
mengikutinya dan ada bagian yang disembunyikan (Eriyanto, 2001: 231).
c) Semantik
Yang termasuk dalam elemen semantik adalah latar, detail maksud,
praanggapan. Latar adalah bagian teks yang dapat mempengaruhi semantik.
(arti kata) yang ingin ditampilkan. Latar yang dipilih menentukan ke arah
mana pandangan khalayak akan dibawa. Latar umumnya ditampilkan di awal
sebelum pendapat komunikator yang sebenarnya muncul dengan maksud
mempengaruhi dan memberi kesan bahwa pendapat komunikator sangat
beralasan.
Detail berkaitan dengan kontrol informasi yang disampaikan komunikator,
apa
komunikator
menampilkan
informasi
secara
berlebihan
yang
menguntungkan dirinya atau citra yang baik, atau akan menampilkan
informasi dengan jumlah sedikit bila tidak menguntungkan atau tidak
Universitas Sumatera Utara
mendukung citra baik. Elemen maksud adalah elemen yang menunjukkan
apakah informasi disampaikan secara telanjang atau tidak, eksplisit atau
implisit. Praanggapan merupakan pernyataan
yang digunakan untuk
mendukung suatu teks, upaya mendukung pendapat dengan menggunakan
premis yang dipercaya kebenarannnya. Berbeda dengan latar, latar berupaya
mendukung pendapat dengan jalan memberikan latar belakang (Sobur, 2004:
79).
d) Sintaksis
Segi sintaksis berhubungan dengan penataan bentuk dan susunan kalimat
untuk membangun pengungkapan gagasan, ide yang logis. Bagian kalimat
kalimat yang satu dijalin dengan bagian atau kalimat lainsehingga membentuk
suatu kesatuan yang padu. Bentuk kalimat aktif atau pasif yang sering
digunakan untuk menonjolkan objek atau pelaku peristiwa atau kejadian,
sering digunakan untuk menyembunyikan pelaku peristiwa yang diberitakan.
Dalam analisis wacana koherensi pertalian atau jalinan antarkata,
proposisi, atau kalimat. Koherensi digunakan untuk menghubungkan dua buah
kalimat atau paragraf sehingga yang berbeda gagasannya menjadi selaras
mendukung gagasan utama yang disampaikan. Koherensi dapat ditandai
dengan penunjuk hubungan (atau yang disebut kohesi) dalam kalimat.
Penunjukan hubungan
itu diantaranya: 1) kata penghubung, dan, sebab
akibat, meskipun 2) kata ganti, 3) pemindahan gagasan/transisi, 4) bentuk
kalimat aktif dan pasif (Sobur, 2004: 81).
e) Stilistik
Dari segi stilistika adalah gaya yaitu carayang digunakan penulis atau
pembicara yang menyatakan maksudnya dengan menggunakan gaya bahasa.
Gaya bahasa mencakup diksi atau pilihan kata unuk membentuk citra makna
tertentu. Melalui pemilihan kata peristiwa yang sama dapat digambarkan
dengan kata yang berbeda. Hal itu berkaitan dengan sikap dan pandangan
penulis atau pembicara dalam memaparkan suatu informasi atau persoalan
Universitas Sumatera Utara
tertentu. Dengan demikian melalui penggunaan gaya bahasa dapat diketahui
sikap dan pandangan penulis atau pembicara (Sobur, 2004: 82).
f) Retoris
Retoris merupakan gaya interaksi pembicara/penulis ketika menyampaikan
tulisan
atau
pembicaraannya
yakni
bagaimana
pembicara
menempatkan/memposisikan dirinya di depan khalayak apakah formal atau
informal. Bagian ini berkaitan dengan ekspresi untuk menonjolkan atau
menghilangkan bagian tertentu dari suatu teks. Bagian retoris ini merupakan
bagian untuk menampilkan citra visual misal, mengenai suatu kelompok yang
ditonjolkan dengan kelompok yang dimarginalkan. Yang termasuk ke dalam
elemen ini adalah ekspresi, grafis dan metafora. Grafis adalah bentuk tulisan,
apakah penulisan itu huruf kapital atau huruf kecil, ukuran besar atau kecil,
cetak miring, tebal atau bergaris bawah, berwarna atau tidak. Bentuk tulisan
tersebut digunakan untuk meyampaikan bagian yang ditonjolkan atau
dipentingkan dan bagian yang tidak dipentingkan atau dimarginalkan (Sobur,
2004: 83-84).
Universitas Sumatera Utara
2.2.
Kerangka Pemikiran
Pidato pelantikan perdana Donald Trump sebagai seorang Presiden tentu menjadi
sorotan bagi publik dan media. Sebagai seorang Presiden, tentu Trump akan
berusaha menyampaikan hal-hal yang baik dalam pidatonya. Isi pidato yang
Trump sampaikan menarik untuk diteliti, karena pidato seorang presiden
merupakan cerminan keadaan sosial politik saat itu dan momentum untuk
mengekspresikan semangat moral seorang presiden kepada seluruh rakyatnya
dalam program kerja yang akan dilaksanakannya.
Teori Retorika Aristoteles:
Ethos: karakter, intelegensi, dan niat baik yang
dipersepsikan dari seorang pembicara ketika hal-hal ini
ditunjukkan melaluipidatonya.
Logos:bukti-bukti logis yang digunakan olehpembicara
(argumen mereka, rasionalisasi, bahasa yang jelas
danwacana).
Pathos:emosi yang dimunculkan dari parapendengar.
Isi pidato menggunakan
Analisis Wacana Kritis
Teun Van Djik
Universitas Sumatera Utara
2.3
Hasil Penelitian Sebelumnya
No
Judul Penelitian
Metode Yang
Digunakan
PERBANDINGAN
1.
RETORIKA PRABOWO
SUBIANTO DAN JOKO
WIDODO DALAM
DEBAT CALON
Hasil Penelitian
Hasil penelitian
Metodologi
kualitatif dengan
pendekatan
deskriptif
menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan
dalam beretorika antara
Prabowo, dan Jokowi.
PRESIDEN 2014
a) ethos dari Prabowo
(Kasus Retorika Debat
terlihat keras, tegas,
Calon Presiden 2014
berwibawa,
Mengenai Pembangunan
sedangkan Jokowi
Ekonomi dan
terlihat sederhana,
Kesejahteraan Sosial)
bekerja keras, dan
Oleh: Heru Ricky
penyabar. b) pathos dari
Program Studi Ilmu
Prabowo menekankan
Komunikasi Universitas
kepada data yang ia
Atma Jaya Yogyakarta
dapat dari ketua KPK,
2014
sedangkan
Jokowi dengan
pengalamannya
‘blusukan’ untuk
menarik perhatian dari
khalayaknya. c) logos
dari Prabowo tetap
menggunakan pendapat
mengenai
kebocoran kekayaan
Universitas Sumatera Utara
Negara untuk semakin
memperkuat buktinya,
pada akhirnya
hal tersebut terlalu
berlebihan, sedangkan
Jokowi tetap
memberikan bukti logis
berdasarkan
pengalamannya.
Kanon-kanon retorika
antara kedua calon
presiden
ini pun juga tidak sama,
tetapi tujuan mereka
hanya satu,
mendapatkan suara atau
perhatian dari
masyarakat Indonesia.
RETORIKA
2.
DENNY
PIDATO Metode
penelitian Hasil penelitian ethos,
SUMARGO deskriptif kuantitatif
DALAM
SEMINAR
pathos, dan logos
Denny Sumargo sudah
PENGEMBANGAN DIRI
mampu melakukan
Oleh:
retorika yang baik dan
H.
Hermawatin,
Fakultas Ilmu Komunikasi
mampu membuat
Universitas Islam Bandung
khalayak merasa
2016
terpersuasi dengan baik.
Retorika yang
dilakukan Denny
Sumargo sudah mampu
memotivasi dan
menginspirasi peserta
Universitas Sumatera Utara
seminar dengan baik.
PENCITRAAN POLITIK Metode
3.
penelitian Hasil penelitian
PRESIDEN SBY (Analisis kualitatif
Retorika
Terhadap
dengan menunjukkan bahwa
Aristoteles menggunakan
SBY berhasil dalam
pidato pendekatan
Kenegaraan Presiden SBY)
Aristoteles
Oleh: Hendrianti Mellisa
analisis
membangun ethos,
dan pathos dan logos serta
wacana berhasil membangun
Fakultas Ilmu Komunikasi versi Teun Van djik
pencitraan atas dirinya
Jurusan
terhadap audiens.
Universitas
Broadcasting,
Mercubuana
2015
Universitas Sumatera Utara
Download