BAB 2 Landasan Teori 2.1 Komunikasi Komunikasi adalah proses

advertisement
BAB 2
Landasan Teori
2.1
Komunikasi
Komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain
untuk memberitahu atau mengubah sikap pendapat atau perilaku, baik langsung secara lisan,
maupun tidak langsung melalui media (Effendy, 2003 : 79).
Definisi tersebut tersimpul tujuan, yakni memberitahu atau mengubah sikap (attitude), pendapat
(opinion), atau perilaku (behavior)
Lasswell mengatakan bahwa cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi adalah
dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.Who Says What in Which Channel to
Whom With What Effect?.Paradigma Lasswell tersebut menjelaskan bahwa komunikasi meliputi
lima unsur sebagai jawaban dan pertanyaan yang diajukan yakni komunikator, pesan, media,
komunikan dan efek. Jadi, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator
kepada komunikan melalui media massa yang menimbulkan efek tertentu (Effendy, 2003 : 10).
Menurut Edwin B. Filippo, komunikasi adalah kegiatan mendorong orang-orang lain
untuk menafsirkan suatu ide dengan cara yang diinginkan oleh si pembcara atau si penulis
(Moekijat, 2003:3).
2.2
Komunikasi Massa
10
2.2.1 Definisi Komunikasi Massa
Pada dasarnya komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa (media cetak
dan elektronik). Beberapa adalah definisi komunikasi massa menurut beberapa ahli:
MenurutJosep A. Devito yakni, “First, mass communication is communication is
addressed to masses, to an extremely large science. This does not mean that the audience
includes all people or everyone who reads or everyone who watches television; rather it means
an audience that is large and generally rather poorly defined. Second, mass communication is
communiaction mediated by audio and / or visual transmitter. Mass communiaction is perhaps
most easily and most logically defined by its forms: television, radio, newspaper, magazines,
films, books and tapes.” Pertama adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa, kepada
khayalak yang luar biasa banyaknya. Ini tidak berarti bahwa khayalak meliputi seluruh penduduk
atau semua orang yang membaca atau semua orang yang menonton televisi, agaknya ini tidak
berarti pula bahwa khayalak itu besar dan pada umumnya agak sukar untuk didefinisikan.Kedua,
komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar yang audio dan
atau visual. Komunikasi massa barangkali akan lebih mudah dan lebih logis bila didefinisikan
menurut bentuknya (televisi, radio, surat kabar, majalah, film, buku dan pita).
Menurut Jay Black dan Frederick C. Whitney (1988) disebutkan, “Mass communication
is a process whereby mass-produced message are transmitted to large, anonymous, and
heterogeneous masses of receivers(Komunikasi massa adalah sebuah proses dimana pesan-pesan
yang diproduksi secara massa / tidak sedikit itu disebarkan kepada massa penerima pesan yang
luas, anonim dan heterogen).”
Definisi komunikasi yang sebelumnya sudah cukup jelas. Komunikasi massa bisa
didefinisikan dalam tiga ciri yakni:
•
Komunikasi massa diarahkan kepada audiens yang relatif besar, heterogen dan anonim.
•
Pesan-pesan yang disebarkan secara umum, sering dijadwalkan untuk bisa mencapai
sebanyak mungkin anggota audiens secara serempak dan sifatnya sementara.
•
Komunikator cenderung berada atau beroperasi dalam sebuah organisasi yang kompleks
yang mungkin membutuhkan biaya yang besar (Wright, 1959, hlm. 15).
2.2.2
Fungsi-fungsi Komunikasi Massa
Fungsi komunikasi massa menurut Jay Black dan Frederick C. Whitney (1988) antara
lain:
•
To Inform (menginformasikan)
Fungsi informasi merupakan fungsi paling penting yang terdapat dalam
komunikasi massa. Komponen paling penting untuk mengetahui fungsi informasi ini
adalah berita-berita yang disajikan. Iklan pun dalam beberapa hal memiliki fungsi
memberikan informasi disamping fungsi-fungsi yang lain.
•
To Entertain (memberi hiburan)
Fungsi hiburan untuk media elektronik menduduki posisi yang paling tinggi
dibandingkan dengan fungsi-fungsi yang lain. Masalahnya, masyarakat kita masih
menjadikan televisi sebagai media hiburan. Dalam sebuah keluarga, televisi bisa sebagai
perekat keintiman keluarga itu karena masing-masing anggota keluarga mempunyai
kesibukan sendiri-sendiri, misalnya suami dan istri kerja seharian sedangkan anak-anak
sekolah. Setelah kelelahan dengan aktivitasnya masing-masing, ketika malam hari berada
dirumah, kemungkinan besar mereka menjadikan televisi sebagai media hiburan
sekaligus sarana untuk berkumpul bersama keluarga. Hal ini mendudukkan televisi
sebagai alat utama hiburan (untuk melepaskan lelah). Acara hebat itu juga dianggap
perekat keluarga karena dapat ditonton bersama-sama sambil bercanda.
Pentingnya aspek hiburan dalam komunikasi juga diakui Charles R. Wright
sehingga ia perlu membuat tabel untuk memperjelasnya.
Tabel 2.1
Aktivitas Komunikasi Massa: Hiburan
Masyarakat
Individu
Subkelompok
Tertentu (Mis:
Kebudayaan
Kel. Politik)
Pelepasan
Fungsi
bagi
lelah Pelepasan
Memperluas
kelompok- lelah.
kekuasaan,
mengendalikan
kelompok massa.
bidang
kehidupan
Disfungsi
Mengalihkan
Meningkatkan
Memperlemah
publik
kepastian,
estetik
menghindarkan
memperendah
“budaya pop”
aksi sosial.
cita
rasa,
memungkinkan
pelarian
/
pengasingan
diri.
•
To Persuade (membujuk)
Fungsi persuasif komunikasi massa tidak kalah pentingnya dengan fungsi
informasi dan hiburan. Banyak bentuk tulisan yang kalau diperhatikan sekilas hanya
berupa informasi, tetapi jika diperhatikan secara lebih jeli ternyata terdapat fungsi
persuasi. Tulisan pada Tajuk Rencana, artikel dan surat pembaca merupakan contoh
tulisan persuasif.
Bagi Josep A. Devito (1997) fungsi persuasi dianggap sebagai fungsi yang paling
penting dari komunikasi massa. Persuasi bisa datang dari berbagai macam bentuk: (1)
mengukuhkan atau memperkuat sikap, kepercayaan atau nilai seseorang; (2) mengubah
sikap, kepercayaan, atau nilai seseorang; (3) menggerakkan seseorang untuk melakukan
sesuatu; dan (4) memperkenalkan etika, atau menawarkan sistem nilai tertentu.
•
Transmission of the culture (transmisi budaya)
Transmisi budaya merupakan salah satu fungsi komunikasi massa yang paling
luas, meskipun paling sedikit dibicarakan. Transmisi budaya tidak dapat dielakkan selalu
hadir dalam berbagai bentuk komunikasi yang mempunyai dampak pada penerimaan
individu. Demikian juga, beberapa bentuk komunikasi menjadi bagian dari pengalaman
dan pengetahuan individu. Melalui individu, komunikasi menjadi bagian dari pengalaman
kolektif kelompok, publik, audience berbagai jenis, dan individu bagian dari suatu massa.
Hal ini merupakan pengalaman kolektif yang direfleksikan kembali melalui bentuk
komunikasi, tidak hanya melalui media massa, tetapi juga dalam seni, ilmu pengetahuan
dan masyarakat sebelumnya yang telah menjadi bagian dari hak asasi manusia. Hal itu
ditransmisikan oleh individu, orang tua, kawan sebaya, kelompok primer atau sekunder,
dan proses pendidikan. Budaya komunikasi tersebut secara rutin dimodifikasi oleh
pengalaman yang baru didapat.
Transmisi budaya mengambil tempat dalam dua tingkatan, kontemporer dan
historis. Dua tingkatan tersebut tidak dipisahkan, tetapi terjalin secara konstan. Apalagi,
media massa merupakan alat utama didalam transmisi budaya pada kedua tingkatan
tersebut. Didalam tingkatan kontemporer media massa memperkuat konsensus nilai
masyarakat dengan selalu memperkenalkan bibit perubahan secara terus-menerus. Hal ini
merupakan faktor yang memberi petunjuk teka-teki yang mengitari media massa, mereka
secara serempak pengukuh status quo dan mesin peubahan. Televisi, sebagai contoh,
tidak hanya cermin tetapi juga sebagai pengikat waktu. Sebagaimana program televisi
atau film yang mempertontonkan tema-tema tabu seperti telanjang dan seks,
merefleksikan perubahan didalam struktur sosial (perubahan dimana televisi bertanggung
jawab terhadap semua sebab itu).
Ada dua hal tentang komunikasi sebagai sesuatu yang unik, misalnya dalam teori
semantik umum dari
menamakannya
Ilmu Pengetahuan dan Kesehatan. Alfred Korzybski (1962)
kemampuan
“pengikatan
waktu
(time-binding)”
manusia
yang
didasarkan pada ingatan. Manusia sebagai makhluk dibumi telah dapat menyimpan secara
sadar dan melupakannya dari generasi ke generasi selanjutnya. Kemudian, perkembangan
dari spesies lebih atau kurang tetap. Kemampuan ini membimbing transmisi budaya
sebagaimana fungsi media massa dan seluruh lembaga pendidikan, dan banyak sekali
bagian dari fungsi ini.
Pendapat dari Charles R. Wright dalam tabel berikut.
Tabel 2.2
Aktivitas Komunikasi Massa: Transmisi Budaya
Masyarakat
Individu
Subkelompo
k
Kebudayaan
Tertentu
(Mis:
Kel.
Politik)
Fungsi
Meningkatka Meningkatka
n kohesivitas n
Memperluas
integritas kekuatan
sosial.
penekanan
Memperluas
pada norma- untuk
dasar norma norma umum.
bersama,
pengalaman
bersama.
Mengurangi
anomia.
Melanjutkan
sosialisasi;
mencapai
kedewasaan
bahkan
setelah
mereka
Mengurangi
idiosinkratik.
Mengurangi
anomia.
Menstandarisasikan
.
Memelihara
lembaga lain konsensus budaya.
sosialisasi.
keluar
dari
lembaga
misalnya
lembaga
sekolah
Disfungsi
Memperbesa
r
mendeperson
massa alisasikan
masyarakat.
Mengurangi
berbagai
macam
subkultur.
2.2.3 Elemen-elemen Komunikasi Massa
Beberapa elemen dalam komunikasi massa, antara lain:
•
Komunikator
Komunikator dalam komunikasi massa sangat berbeda dengan komunikator dalam
bentuk komunikasi yang lain. Komunikator disini meliputi jaringan, stasiun lokal, direktur
dan staf teknis yang berkaitan dengan sebuah acara televisi. Jadi komunikator merupakan
gabungan dari berbagai individu dalam sebuah lembaga media massa.
Ada beberapa karakteristik yang dimiliki oleh komunikator dalam komunikasi massa.
Hiebert, Ungurait dan Bohn (HUB) pernah mengemukakan setidak-tidaknya lima
karakteristik: 1) daya saing (competitiveness), 2) ukuran dan kompleksitas (size and
complexity), 3) industrialisasi (industrialization), 4) spesialisasi (specialization), dan 5)
perwakilan (representation).
•
Isi
Masing-masing
media
massa
mempunyai
kebijakan
sendiri-sendiri
dalam
pengelolaan isinya. Sebab, masing-masing media melayani masyarakat yang beragam juga
menyangkut individu atau kelompok sosial. Bagi Ray Eldon Hiebert dkk (1985) isi media
setidak-tidaknya bisa dibagi ke dalam lima kategori yakni; 1) berita dan informasi, 2)
analisis dan interpretasi, 3) pendidikan dan sosialisasi, 4) hubungan masyarakat dan
persuasi, 5) iklan dan bentuk penjualan lain, dan 6) hiburan.
Berita dan informasi merupakan hal pokok yang harus dimiliki oleh media massa.
• Audience
Audience yang dimaksud dlam komunikasi massa sangat beragam, dari jutaan
penonton televisi, ribuan pembaca buku, majalah, koran atau jurnal ilmiah. Masing-masing
audience berbeda satu sama lain diantaranya dalam hal berpakaian, berpikir, menanggapi
pesan yang diterimanya, pengalaman, dan orientasi hidupnya. Akan tetapi, masing-masing
individu bisa saling mereaksi pesan yang diterimanya.
Menurut Hiebert dan kawan-kawan, audience dalam komunikasi massa setidaktidaknya mempunyai lima karakteristik sebagai berikut.
1.
Audience cenderung berisi individu-individu yang condong untuk berbagi
pengalaman dan dipengaruhi oleh hubungan sosial diantara mereka.
2.
Audience cenderung besar, maksudnya berarti tersebar ke berbagai wilayah
jangkauan sasaran komunikasi massa.
3.
Audience cenderung heterogen. Mereka berasal dari berbagai lapisan dan kategori
sosial.
•
4.
Audience cenderung anonim, yakni tidak mengenal satu sama lain.
5.
Audience secara fisik dipisahkan dari komunikator.
Umpan Balik
Ada dua umpan balik (feedback) dalam komunikasi, yakni umpan balik langsung
(immediated feedback) dan tidak langsung (delayed feedback). Umpan balik langsung
terjadi jika komunikator dan komunikan berhadapan langsung atau ada kemungkinan bisa
berbicara langsung. Misalnya dalam komunikasi antarpersonalyang melibatkan dua orang
atau komunikasi kelompok. Di dalam komunikasi massa umpan balik biasanya terjadi secara
tidak langsung. Artinya, antara komunikator dengan komunikan dalam komuikasi massa
tidak terjadi kontak langsung yang memungkinkan mereka mengadakan reaksi langsung satu
sama lain.
Umpan balik secara tidak langsung, misalnya bisa ditunjukkan dalam letter to the
editor / surat pembaca / pembaca penulis.
•
Gangguan
1.
Gangguan Saluran
Gangguan dalam saluran komunikasi massa biasanya selalu ada. Di dalam media
gangguan berupa sesuatu hal, seperti kesalah cetak, kata yang hilang atau paragraf yang
dihilangkan dari surat kabar. Hal itu juga termasuk gambar tidak jelas dipesawat televisi,
gangguan gelombang radio, baterai yang sudah aus, atau langganan majalah yang tidak
datang. Kenyataannya, semakin kompleks teknologi yang digunakan masyarakat,
semakin besar peluang munculnya gangguan. Semakin banyak variasi program acara
yang disajikan, semakin meningkat munculnya gangguan.
2.
Gangguan Semantik
Gangguan yang berhubungan dengan saluranmungkin ada dimana-mana dan menjadi
penghambat dalam komunikasi massa, tetapi tidak demikian hal nya dengan gangguan
semantik (kata). Semantik bisa diartikan sebagai ilmu bahasa yang mempelajari tentang
tata kalimat. Oleh karena itu, gangguan semantik berarti gangguan yang berhubungan
dengan bahasa. Gangguan semantik lebih rumit, komplek, dan sering kali muncul. Bisa
dikatakan, gangguan semantik adalah gangguan dalam proses komunikasi yang
diakibatkan oleh pengirim atau penerima pesan itu sendiri.
•
Gatekeeper
Istilah gatekeeper ini pertama kali dikenalkan oleh Kurt Lewin dalam bukunya
Human Relation (1947), seorang ahli psikologi dari autralia pada tahun 1947. Kata tersebut
merupakan sebuah istilah yang berasal dari lapangan sosiologi, tetapi kemudian digunakan
lapangan penelitian komunikasi massa. Menurut Bittner Gatekeeper (penapis informasi atau
palang pintu) yakni beberapa individu atau kelompok yang bertugas menyampaikan atau
mengirimkan informasi dari individu ke individu yang lain melalui media massa (surat
kabar, majalah, televisi, radio, video tape, compact disk, buku). Bittner menekankan akan
arti pentingnya gatekeeper dalam proses komunikasi massa disamping melibatkan unsurunsur komunikasi sebagaimana umumnya, ia membutuhkan peran media massa sebagai alat
untuk menyampaikan atau menyebarkan informasi. Media massa itu tidak berdiri sendiri. Di
dalamnya ada beberapa individu yang bertugas melakukan pengolahan informasi sebelum
informasi itu sampai kepada audience nya. Mereka yang bertugas itu sering disebut sebagai
gatekeeper. Jadi, informasi yang diterima audience dalam komunikasi massa sebenarnya
sudah diolah oleh gatekeeper dan disesuaikan dengan misi, visi media yang bersangkutan,
khayalak sasaran dan orientasi bisnis atau ideal yang menyertainya. Dengan demikian,
mereka yang disebut sebagai gatekeeper antara lain reporter, editor berita, bahkan editor film
atau orang lain dalam media massa yang ikut menentukan arus informasi yang disebarkan.
Semua saluran media massa mempunyai sejumlah gatekeeper. Mereka memainkan
peranan dalam beberapa fungsi. Mereka dapat menghapus pesan atau mereka bahkan bisa
memodifikasi dan menambahkan pesan yang akan disebarkan. Mereka pun bisa
menghentikan sebuah informasi dan tidak membuka “pintu gerbang” (gate) bagi keluarnya
informasi yang lain.
•
Pengatur
Ada pola hubungan yang saling terkait antara media massa dengan pihak
Lain. Pihak lain yang dimaksud adalah pemerintah dan masyarakat. Hubungan ini biasanya
selalu berjalan tidak harmonis sebab masing-masing pihak berbeda tuntutan dan saling
menguasai satu sama lain. Hal itu pulalah mengapa hubungan ketiganya bisa disebut sebagai
hubungan trikotomi, yakni hubungan yang tidak serasi antara ketiganya.
Pada pemerintahan otoriter, pemerintah akan menguasai keduanya (masyarakat dan
media massa). Akan tetapi, ada kalanya muncul otoritarianisme massa dimana kekuasaan
masyarakat berada diatas keduanya (pemerintah dan media massa). Hal ini bisa disaksikan
pada saat terjadi pergantian kepemimpinan otoriter ke pemerintahan demokratis, masyarakat
justru merasa memiliki kekuasaan mutlak atas pemerintahan dan pers. Di sinilah,
masyarakat sering mengontrol keberadaan media massa.
Yang dimaksud pengatur dalam media massa adalah mereka yang secara tidak
langsung ikut mempengaruhi proses aliran pesan media massa. Pengatur ini tidak berasal
dari dalam media tersebut, tetapi diluar media massa. Namun demikian, meskipun diluar
media massa, kelompok itu bisa ikut menentukan kebijakan redaksional. Pengatur tersebut
antara lain pengadilan, pemerintah, konsumen, organisasi professional dan kelompok
penekan, termasuk narasumber dan pengiklan. Semua itu berfungsi sebagai pengatur.
•
Filter
Filter adalah kerangka piker melalui mana audience menerima pesan. Filter ibarat
sebuah bingkai kacamata tempat audience bisa melihat dunia. Hal ini berarti dunia riil yang
diterima dalam memori sangat tergantung dari bingkai tersebut.
Filter dibagi menjadi tiga jenis: 1) filter psikologis, 2) filter fisik, dan 3) filter budaya
(warisan budaya, pendidikan, pengalaman kerja, sejarah politik). Semua filter tersebut akan
memengaruhi kuantitas dan kualitas pesan yang diterima dan respons yang dihasilkan.
Sementara itu, audience memiliki perbedaan filter satu sama lain. (Hiebert, Ungurait dan
Bohn, 1985).
2.2.4
Efek-efek Komunikasi Massa
Efek komunikasi massa bisa dibagi menjadi beberapa bagian. Secara sederhana Keith R.
Stamm dan John E. Bowes (1990) membagi kedua bagian dasar yaitu:
1.
Efek Primer
Efek primer meliputi terpaan, perhatian, dan pemahaman. Bisa dikatakan secara
sederhana bahwa efek primer terjadi jika ada orang mengatakan telah terjadi proses
komunikasi terhadap objek yang dilihatnya.
2.
Efek Sekunder
Efek sekunder meliputi perubahan tingkat kognitif (perubahan pengetahuan dan
sikap), dan perubahan perilaku (menerima dan memilih).
Menurut John R. Bittner (1996), focus utama efek ini adalah tidak hanya bagaimana
media memengaruhi audience, tetapi juga bagaimana audience mereaksi pesan-pesan
media yang sampai pada dirinya. Faktor interaksi yang terjadi antar individu akan ikut
memengaruhi pesan yang diterima.
2.3
Media Massa
2.3.1 Definisi Media Massa
Media massa adalah alat-alat dalam komunikasi yang bisa menyebarkan pesan secara
serempak, cepat kepada audience yang luas dan heterogen. Kelebihan media massa disbanding
dengan jenis komunikasi lain adalah ia bisa mengatasi hambatan ruang dan waktu. Bahkan media
massa mampu menyebarkan pesan hampir seketika pada waktu yang tak terbatas.
Media massa (mass media) merupakan berbagai macam media atau wahana komunikasi
massa seperti pers (secara sempit diartikan sebagai surat kabar, sedangkan secara luas sebagai
media pemberitahuan), media-media cetak pada umumnya (majalah dan jurnal), dan berbagai
media elektronik seperti radio, bioskop dan televisi yang mampu menjangkau masyarakat luas
(Jeffkins, 2004: 420).
2.3.2 Bentuk-Bentuk Media Massa
Media massa terbagi atas 3 bagian utama, yaitu media cetak, media elektronik dan media
internet (media online):
1.
Media Cetak
Media cetak adalah suatu media yang statis yang mengutamakan pesan-pesan visual
dalam melaksanakan fungsinya sebagai media penyampaian informasi, maka media cetak
terdiri dari lembaran dengan sejumlah kata, gambar atau foto dalam tata warna dan
halaman putih, dengan fungsi utama adalah memberikan informasi atau menghibur.Media
cetak juga adalah suatu dokumen atas segala hal yang dikatakan orang lain dan rekaman
peristiwa yang ditangkap oleh sang jurnalis dan diubah dalam bentuk kata-kata, gambar,
foto dan sebagainya.
Media cetak tergolong jenis media massa yang paling populer. Media cetak
merupakan media komunikasi yang bersifat tertulis atau tercetak. Jenis media cetak dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
a.
Surat Kabar
Surat kabar adalah media komunikasi yang berisikan informasi aktual dari
berbagai aspek kehidupan seperti politik, ekonomi, sosial, kriminal, budaya, seni,
olahraga, luar negeri, dalam negeri, dan sebagainya.
Boleh dikatakan bahwa surat kabar adalah media massa tertua sebelum
ditemukannya film, radio dan televisi. Surat kabar lebih menitikberatkan pada
penyebaran informasi (fakta ataupun peristiwa) agar diketahui publik.
Kelebihan surat kabar anttara lain mampu menyajikan informasi / berita
secara komprehensif, bisa dibawa kemana-mana, bisa didokumentasikan, bisa
dibaca berulang-ulang, dan mudah diperoleh jika diperlukan. Cukup dengan
mengeluarkan sejumlah uang, pembaca bisa menikmati sajian berita.
Dari segi periode terbit, ada surat kabar harian dan surat kabar mingguan.
Surat kabar harian adalah surat kabar yang terbit setiap hari , baik dalam edisi pagi
maupun edisi sore. Sedangkan surat kabar mingguan adalah surat kabar yang terbit
paling sedikit satu kali dalam seminggu.
b.
Tabloid
Tabloid adalah media komunikasi yang berisikan informasi aktual yang
disajikan secara lebih mendalam dan dilengkapi ketajaman analisis. Hanya saja
informasi yang disajikan lebih sebagai penunjang bagi bidang profesi atau gaya
hidup tertentu.
Berbeda dengan surat kabar yang terbit harian, umumnya tabloid terbit
mingguan. Selain itu, format tabloid pun relatif berbeda dari surat kabar ataupun
majalah. Tabloid yang kini beredar lebih banyak mengacu pada penyajian informasi
yang bersifat segmented, berorientasi pada bidang profesi atau gaya hidup tertentu,
seperti ekonomi, keuangan, tenaga kerja, peluang usaha, kesehatan, ibu dan anak,
kuliner dan sebagainya.
c.
Majalah
Majalah adalah media komunikasi yang menyajikan informasi secara dalam,
tajam dan memiliki nilai aktualitas yang lebih lama dibandingkan dengan surat
kabar dan tabloid serta menampilkan gambar / foto yang lebih banyak. Selain itu,
halaman muka (cover) dan foto dalam majalah lebih memiliki daya tarik, dan ciri
lainnya, majala dapat diterbitkan secara mingguan, dwi mingguan, bulanan bahkan
dwi atau triwulan.
Majalah adalah media yang paling sedehana organisasinya, relatif lebih
mudah mengelolanya dan tidak membutuhkan modal yang banyak.Ini karena
majalah terbit secara berkala dibandingkan dengan surat kabar yang harus terbit
setiap harinya. Sehingga, dari segi jumlah, orang yang terlibat dalam penyajian
informasi disurat kabar jauh lebih banyak dibandingkan dengan majalah.
Dominick (1999) mengklasifikasikan majalah ke dalam lima kategori yaitu:
1) general consumer magazine (majalah konsumen umum); 2) business publication
(majalah bisnis); 3) literacy reviews and academic journal (kritik sastra dan
majalah ilmiah); 4) newsletter (majalah khusus terbitan berkala); dan 5) public
relations magazines (majalah humas).
2.
Media Elektronik
Media elektronik merupakan salah satu jenis media massa yang memiliki
kekhususan. Kekhususannya terletak pada dukungan elektronik dan teknologi yang
menjadi ciri dan kekuatan dari media berbasis elektronik. Dukungan elektronik ini pula
yang membedakannya dengan media cetak. Salah satu kelebihan media elektronik adalah
sifatnya yang real time, disiarkan secara langsung saat kejadian berlangsung. Hal ini
menyebabkan media elektronik lebih digandrungi oleh publik. Media elektronik lebih
instan dibandingkan dengan media cetak.
Namun, sifat media elektronik yang real time pun terkadang menjadi kendala bagi
pendengar / pemirsa karena berita yang disajikan belum tentu diketahui. Pendengar atau
pemirsa yang pada saat berita disiarkan tidak dalam keadaan mendengar radio atau
menonton televisi, maka tidak dapat mengikuti perkembangan berita yang disajikan.
Kendala ini memberi konsekuensi kepada stasiun radio atau televisi untuk melakukan
pengulangan informasi atau siaran.Jenis media elektronik terdiri dari sebagai berikut:
a.
Radio
Radio adalah media massa elektronik tertua dan paling luwes. Keunggulan
radio siaran ini adalah berada dimana saja: ditempat tidur (ketika orang akan tidur
atau bangun tidur), di dapur, di dalam mobil, dan berbagai tempat lainnya. Apabila
surat kabar memperoleh julukan sebagai kekuatan ke empat, maka radio mendapat
julukan kekuatan kelima atau the fifth estate. Hal ini disebabkan radio siaran juga
dapat melakukan fungsi kontrol sosial seperti surat kabar, disamping empat fungsi
lainnya yakni memberi informasi, menghibur, mendidik dan melakukan persuasi
(Elvinaro, 2004: 115)
Radio merupakan media komunikasi yang bersifat auditif (dengar). Penyajian
beritanya mengandalkan sistem gelombang elektronik. Kecepatannya merupakan
ciri utama dari media elektronik berbentuk radio. Penyebaran informasi dan berita
melalui radio dapat berlangsung cepat dan lebih luas. Lebih jelasnya beberapa
keunggulan radio antara lain sebagai berikut:
•
Bersifat Langsung
Karena penyusunan dan penyajian beritanya tanpa melalui proses yang
rumit bila dibandingkan dengan proses penyajian berita dimedia cetak,
sehingga dapat disiarkan secara langsung (live) dan cepat.
•
Jangkauan Luas
Karena didukung oleh sistem gelombang suara sehingga informasiyang
disajikan dapat menembus ke berbagai wilayah di dunia.
•
Bersifat Interaktif
Karena proses komunikasinya bersifat dua arah (two way traffic of
communication), pedengar radio dapat memberi komentar atau respons
terhadap informasi / berita yang disiarkan. Berbeda dengan media cetak yang
bersifat one way of communication, sehingga umpan balik pesan bersifat
tertunda ( delayed feedback).
•
Nilai Aktualitas Berita Lebih Tinggi
Karena penyiaran berita bisa dilakukansecara langsung (live) kepada
khayalaknya, sehingga peristiwa yang sementara terjadi atau peristiwa yang
baru saja terjadi bisa langsung disiarkan. Tak heran, jika radio bisa
memperbarui (meng-update) beritanya setiap satu jam. Berbeda dengan media
cetak yang butuh waktu sehari untuk menyajikan berita terbarunya kepada
pembaca.
•
Menarik
Karena bersifat lebih dinamis dengan dukungan unsur musik, kata-kata
dan efek suara.
•
Informasi atau berita melalui radio dapat merangsang imajinasi
pendengarnya. Bersifat lebih akrab karenasifat siarannya yang mudah,
ringan dan terkesan dialogis.
•
Pendengar radio bisa menikmati sajian informasi serta hiburan sembari
melakukan aktivitas lainnya.
b.
Televisi
Televisi adalah media massa yang menggunakan alat-alat elektronis dengan
memadukan radio (broadcast) dan film (moving picture). Para penonton dirumahrumah tak mungkin menangkap siaran televisi, kalau tidak ada unsur-unsur
radio.Dan tak mungkin dapat melihat-lihat gambar yang bergerak pada layar
pesawat televisi, jika tidak ada unsur-unsur film (Fransiscus, 2012: 22).
Televisi bersifat dengar-lihat (audio-visual) dengan penyajian berita yang
berorientasi pada reproduksi dari kenyataan. Kekuatan utama dari media televisi
adalah suara dan gambar, televisi lebih menarik daripada radio. Dampak
pemberitaan melalui televisi bersifat power full, karena melibatkan aspek suara dan
gambar, sehingga lebih memberi pengaruh yang kuat kepada pemirsa. Media
televisi memiliki fungsi yang lebih dominan pada hiburan dibandingkan dengan
fungsi memberi informasi dan mendidik.
•
Karakteristik Televisi
Peran media massa penyiaran amat menonjol, hal ini karena media massa
penyiaran, khususnya media massa televisi mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut (Darwanto, 2007: 42):
•
a.
Keserempakan
b.
Mampu meliput daerah yang tidak terbatas
c.
Bisa dimengerti yang buta huruf
d.
Bisa diterima mereka yang cacat tubuh.
Program Televisi
Ada beberapa jenis progra acara televisi, yaitu:
a.
Program Drama
Program siaran drama berisi cerita fiksi. Istilah ini juga disebut
sinetron cerita. Untuk membedakannya dengan sinetron noncerita adalah:
format sinetron yang terdiri dari beberapa jenis, yaitu: sinetron drama
modern, sinetron drama legenda, sinetron drama komedi, sinetron drama
saduran dan sinetron yang dikembangkan dari cerita atau buku novel,
cerita pendek dan sejarah (soenarto, 2007: 62-63)
b.
Program non Drama
Program non drama merupakan bentuk acara yang tidak disertai
bumbu cerita. Acara non drama diolah seperti apa adanya. Program jenis
dokumenter termasuk program non dramatik ini bisa didapatkan dari
keadaan senyatanya, bisa mengenai alam, budaya manusia, ilmu
pengetahuan dan kesenian (Soenarto, 2007: 62). Program non drama
ditelevisi menurut Sony Set adalah acara terbanyak yang kita tonton
selama hidup kita. Dari tayangan reality show, talk show, kuis, games,
features, star talent search, audisi para bintang, kombinasi program
televisi dan sebagainya menghiasi hari-hari kita dengan wacana (Set, 2008:
20).
•
Desain Produksi Acara Televisi
Pada prinsipnya penyelenggaraan siaran stasiun televisi umum terbagi
menjadi dua, yakni siaran karya artistik dan karya jurnalistik. Siaran karya
jurnalistik merupakan produksi acara televisi dengan pendekatan jurnalistik
yang mengutamakan kecepatan penyampaian informasi dari sumber pendapat,
realitas atau peristiwa yang terjadi (Muda, 2005: 59).
a.
Program jurnalistik yaitu program yang diproduksi melalui
pendekatan jurnalistik, yaitu proses produksi yang mengutamakan
segi kecepatan, termasuk ke dalam proses penyajian kepada
khayalak. Menurut Roland E. Wolesly dan Lawrence R. Campbell di
dalam exploring journalism, yang dikutip oleh Askurifai Baskin
dalam bukunya, “jurnalistik ialah tindakan diseminasi informasi,
opini dan hiburan untuk orang ramai yang sistematik dan dapat
dipercaya kebenarannyamelalui media komunikasi massa modern”
(Wahyudi, 1991: 148). Program jurnalistik antara lain:
o Berita aktual (news bulletin) yang bersifat timeconcern
o Berita non-aktual (news magazine) yang bersifat timeless
o Penjelasan masalah hangat (current affairs), seperti:
2.3.3 Efek Media Massa
Seperti yang diungkapkan oleh Donald K. Robert (Robert dalam Rakhmat 2005:218),
efek media massa hanyalah “perubahan perilaku manusia setelah diterpa pesan media massa”.
Apabila fokus pada pesan, maka efek haruslah berkaitan dengan pesan yang disampaikan media
massa. Selain itu, terdapat tiga pendekatan yang disampaikan oleh Steven M. Chaffee yaitu
pendekatan yang pertama adalah kecenderungan kita dalam melihat efek media massa, baik yang
berkaitan dengan pesan maupun media itu sendiri. Pendekatan yang kedua adalah ketika kita
melihat jenis perubahan yang terjadi pada khyalak. Pendekatan yang ketiga adalah meninjau
satuan observasi yang dikenai efek komunikasi massa, baik itu individu, kelompok, hingga
bangsa sekalipun (Chaffee dalam Rakhmat, 2005:218)
Berkaitan dengan tipe pendekatan yang kedua, terdapat tiga efek perubahan yaitu
penerimaan informasi, perubahan perasaan atau sikap dan perubahan perilaku. Dengan istilah
lain, ketiga efek tersebut adalah:
1.
Efek Kognitif
Efek ini terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui, dipahami atau
dipersepsi oleh khayalak. Efek ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan, keterampilan,
kepercayaan atau informasi.Pembentukan dan perubahan citra terjadi karena realitas yang
sudah terseleksi.Akibatnya muncullah stereotipe. Berkaitan dengan ‘Agenda Setting’,
media mempegaruhi khayalaknya mengenai apa yang dianggap penting, sehingga hal lain
menjadi terabaikan. Efek prososial kognitif membicarakan bagaimana media massa
memberikan manfaat seperti apa yang dikehendaki oleh khyalaknya.
2.
Efek Afektif
Efek afektif timbul apabila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi atau
dibenci khayalak. Efek ini berhubungan dengan emosi, sikap atau nilai. Beberapa faktor
yang mempengaruhi intensitas rangsangan emosional media massa antara lain suasana
emosional (mood), skema kognitif, suasana terpaan, predisposisi individual, serta tingkat
identifikasi.
3.
Efek Behavioral
Efek ini merajuk pada perilaku yang dapat diamati; yang meliputi pola-pola
tindakan, kegiatan, atau kebiasaan berperilaku. Hal ini disebabkan karena khayalak
belajar dari apa yang disampaikan oleh media massa. Masyarakat cenderung meniru
perilaku yang mereka amati.
2.4
Konsep dan Definisi Respon
Respon adalah Setiap tingkah laku pada hakekatnya merupakan tanggapan atau balasan
(respon) terhadap rangsangan atau stimulus (Sarlito, 1995). Menurut Gulo (1996), respon adalah
suatu reaksi atau jawaban yang bergantung pada stimulus atau merupakan hasil stimulus
tersebut. Individu manusia berperan serta sebagai pengendali antara stimulus dan respon
sehingga yang menentukan bentuk respon individu terhadap stimulus adalah stimulus dan faktor
individu itu sendiri (Azwar, 1988).Interaksi antara beberapa faktor dari luar berupa objek, orangorang dan dalam berupa sikap, mati dan emosi pengaruh masa lampau dan sebagiannya akhirnya
menentukan bentuk perilaku yang ditampilkan seseorang.
Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Steven M. Caffe, respon dibagi menjadi tiga
bagian, yaitu :
A. Kognitif
Yaitu respon yang berkaitan erat dengan pengetahuan keterampilan dan informasi
seseorang mengenai sesuatu.Respon ini timbul apabila adanya perubahan terhadap yang
dipahami atau dipersepsi oleh khalayak.
B. Afektif
Yaitu respon yang berhubungan dengan emosi, sikap, dan menilai seseorang terhadap
sesuatu.Respon ini timbul apabila ada perubahan yang disenangi oleh khalayak terhadap
sesuatu.
C. Konatif
Yaitu respon yang berhubungan dengan perilaku nyata yang meliputi tindakan atau
perbuatan.Skiner seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon
atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). (Sembiring, 2011)
2.5Teori S-O-R
Teori S-O-R singkatan dari Stimulus-Organism-Response. Objek material dari psikologi
dan ilmu komunikasi adalah sama yaitu manusia yang jiwanya meliputi komponen-komponen :
sikap, opini, perilaku, kognisi afeksi dan konasi.
Asumsi dasar dari model ini adalah: media massa menimbulkan efek yang terarah,
segera dan langsung terhadap komunikan. Stimulus Response Theory atau S-R theory. Model ini
menunjukkan
bahwa
komunikasi
merupakan
proses
aksi-reaksi.
Artinya
model
ini
mengasumsikan bahwa kata-kata verbal, isyarat non verbal, simbol-simbol tertentu akan
merangsang orang lain memberikan respon dengan cara tertentu. Pola S-O-R ini dapat
berlangsung secara positif atau negatif; misal jika orang tersenyum akan dibalas tersenyum ini
merupakan reaksi positif, namun jika tersenyum dibalas dengan palingan muka maka ini
merupakan reaksi negatif. Model inilah yang kemudian mempengaruhi suatu teori klasik
komunikasi yaitu Hypodermic Needle atau teori jarum suntik. Asumsi dari teori inipun tidak jauh
berbeda dengan model S-O-R, yakni bahwa media secara langsung dan cepat memiliki efek yang
kuat tehadap komunikan. Artinya media diibaratkan sebagai jarum suntik besar yang memiliki
kapasitas sebagai perangsang (S) dan menghasilkan tanggapan ( R) yang kuat pula.
Menurut stimulus response ini, efek yang ditimbulkan adalah reaksi khusus terhadap
stimulus khusus sehingga seseorang dapat mengharapkan dan memperkirakan kesesuaian antara
pesan dan reaksi komunikan. Jadi unsur-unsur dalam model ini adalah;
•
Pesan (stimulus, S)
•
Komunikan (organism, O)
•
Efek (Response, R)
Hosland, et al (1953) mengatakan bahwa proses perubahan perilaku pada hakekatnya
sama dengan proses belajar. Proses perubahan perilaku tersebut menggambarkan proses belajar
pada individu yang terdiri dari :
•
Stimulus (rangsang) yang diberikan pada organisme dapat diterima atau ditolak. Apabila
stimulus tersebut tidak diterima atau ditolak berarti stimulus itu tidak efektif
mempengaruhi perhatian individu dan berhenti disini. Tetapi bila stimulus diterima oleh
organisme berarti ada perhatian dari individu dan stimulus tersebut efektif.
•
Apabila stimulus telah mendapat perhatian dari organisme (diterima) maka ia mengerti
stimulus ini dan dilanjutkan kepada proses berikutnya.
•
Setelah itu organisme mengolah stimulus tersebut sehingga terjadi kesediaan untuk
bertindak demi stimulus yang telah diterimanya (bersikap).
•
Akhirnya dengan dukungan fasilitas serta dorongan dari lingkungan maka stimulus
tersebut mempunyai efek tindakan dari individu tersebut (perubahan perilaku).
Selanjutnya teori ini mengatakan bahwa perilaku dapat berubah hanya apabila stimulus
(rangsang) yang diberikan benar-benar melebihi dari stimulus semula.Stimulus yang dapat
melebihi stimulus semula ini berarti stimulus yang diberikan harus dapat meyakinkan
organisme.Dalam meyakinkan organisme ini, faktor reinforcement memegang peranan penting.
Dalam proses perubahan sikap tampak bahwa sikap dapat berubah, hanya jika stimulus
yang menerpa benar-benar melebihi semula. Mengutip pendapat Hovland, Janis dan Kelley yang
menyatakan bahwa dalam menelaah sikap yang baru ada tiga variabel penting yaitu :
(a) perhatian,
(b) pengertian, dan
(c) penerimaan.
Stimulus atau pesan yang disampaikan kepada komunikan mungkin diterima atau
mungkin ditolak. Komunikasi akan berlangsung jika ada perhatian dari komunikan. Proses
berikutnya komunikan mengerti. Kemampuan komunikan inilah yang melanjutkan proses
berikutnya. Setelah komunikan mengolahnya dan menerimanya, maka terjadilah kesediaan untuk
mengubah sikap.
Teori ini mendasarkan asumsi bahwa penyebab terjadinya perubahan perilaku tergantung
kepada kualitas rangsang (stimulus) yang berkomunikasi dengan organisme. Artinya kualitas dari
sumber komunikasi (sources) misalnya kredibilitas, kepemimpinan, gaya berbicara sangat
menentukan keberhasilan perubahan perilaku seseorang, kelompok atau masyarakat.
Senada dengan yang diungkapkan oleh Hovland, Janis dan Kelley diatas (pada uraian
teori S-O-R) yang menyatakan ada tiga variabel penting dalam menelaah sikap yang dirumuskan
dalam teori S-O-R, secara interpretatif iklan televisi merupakan stimulus yang akan ditangkap
oleh organisme khalayak. Komunikasi akan berlangsung jika ada perhatian dari komunikan.
Proses berikutnya komunikan mengerti. Kemampuan komunikan inilah yang melanjutkan proses
berikutnya. Setelah komunikan mengolahnya dan menerimanya, maka terjadilah kesediaan untuk
mengubah sikap.Dalam hal ini, perubahan sikap terjadi ketika komunikan memiliki keinginan
untuk membeli atau memakai produk yang iklannya telah disaksikan di televisi.
Pendekatan teori S-O-R lebih mengutamakan cara-cara pemberian imbalan yang efektif
agar komponen konasi dapat diarahkan pada sasaran yang dikehendaki.Sedangkan pemberian
informasi penting untuk dapat berubahnya komponen kognisi.Komponen kognisi itu merupakan
dasar untuk memahami dan mengambil keputusan agar dalam keputusan itu terjadi
keseimbangan.Keseimbangan inilah yang merupakan system dalam menentukan arah dan
tingkah laku seseorang.Dalam penentuan arah itu terbentuk pula motif yang mendorong
terjadinya tingkah laku tersebut.Dinamika tingkah laku disebabkan pengaruh internal dan
eksternal.
Dalam teori S-O-R, pengaruh eksternal ini yang dapat menjadi stimulus dan memberikan
rangsangan sehingga berubahnya sikap dan tingkah laku seseorang.Untuk keberhasilan dalam
mengubah sikap maka komunikator perlu memberikan tambahan stimulus (penguatan) agar
penerima berita mau mengubah sikap. Hal ini dapat dilakukan dalam barbagai cara seperti
dengan pemberian imbalan atau hukuman. Dengan cara demikian ini penerima informasi akan
mempersepsikannya sebagai suatu arti yang bermanfaat bagi dirinya dan adanya sanksi jika hak
ini dilakukan atau tidak. Dengan sendirinya penguatan ini harus dapat dimengerti, dan diterima
sebagai hal yang mempunyai efek langsung terhadap sikap. Untuk tercapainya ini perlu cara
penyampaian yang efektif dan efisien.
Jika kita amati dari sisi keterpengaruhan, maka secara pragmatis iklan televisi mudah
mempengaruhi kelompok remaja dibandingkan kelompok dewasa. Artinya, jika teori S-O-R kita
hubungkan dengan keberadaan remaja, maka kekuatan rangsangan iklan televisi begitu kental
dalam memantulkan respon yang sebanding. Sistem seleksi yang semestinya melalui proses
penyaringan yang ketat terkalahkan oleh sifat mudah dipengaruhi. Akibatnya terjadi pergeseran
implementasi toritikal dari teori S-O-R menjadi teori S-R.Artinya, respon yang ditimbulkan
sebagai konsekuensi adanya stimulus iklan televisi yang diterima remaja tanpa melalui filter
organisme yang ketat.
Kontribusi Teori S-O-R begitu terlihat dalam iklan televisi. Dilihat dari sudut pandang
target sasaran, secara kondisional yang gampang dipersuasi adalah remaja. Remaja.Remaja yang
masih berada pada masa transisi memiliki tingkat selekivitas yang lebih rendah di bandingkan
dengan dengan orang dewasa.Konsekuensinya, wajar jika remaja menjadi kelompok sasaran
utama iklan televisi.Akibatnya, tanpa disadari remaja telah memposisikan diri sebagai kelompok
hedonis dengan rating tinggi.Keinginan yang selalu menggebu-gebu dalam memenuhi kebutuhan
hidup adalah indikasi yang pas sekaligus menggambarkan betapa remaja begitu sukar untuk
menunda desakan kebutuhan emosinya.Membeli dan mencoba seakan menjadi bagian hidup
remaja yang sejalan dengan mengkristalnya kognisi tentang aneka ragam kebutuhan yang
ditawarkan televisi melalui iklannya yang akomodatif dan fantastis.
2.6
Kerangka Pikir
Dalam penelitian ini, terdapat dua variabel yaitu variabel independen (X) dan variabel
dependen (Y)
Gambar 2.1
Kerangka Pikir
Program Suka-suka
Nizam ANTV
Respon Anak
(Y)
(X)
1.
Variabel Independen (X)
Dalam penelitian ini variabel independennya adalah (X) Program ”Suka-suka Nizam”
ANTV
2.
Variabel Dependen (Y)
Dalam penelitian ini variabel dependennya adalah (Y) Respon Anak
2.7
Hipotesis
Penelitian yang merumuskan hipotesis adalah penelitian yang menggunakan pendekatan
kuantitatif. Pada penelitian kualitatif, tidak dirumuskan hipotesis, tetapi justru diharapkan dapat
ditemukan hipotesis. Selanjutnya hipotesis tersebut akan diuji oleh peneliti dengan menggunakan
pendekatan kuantitatif. Untuk mengetahui pengaruh program Suka-suka Nizam ANTV terhadap
respon anak (studi kasus siswa/i Sekolah Dasar Budaya Tambora Jakarta Barat) hipotesisnya
adalah:
Ho
=
Tidak adanya pengaruh program “Suka-suka Nizam” terhadap respon dikalangan
siswa-siswi di SD Budaya, Tambora Jakarta Barat.
Ha
=
Adanya pengaruh program “Suka-suka Nizam” terhadap respondikalangan siswasiswi di SD Budaya, Tambora Jakarta Barat.
Download