perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user 4 BAB II

advertisement
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Kajian Teori
A.1
Fraktur Collum Femur
Fraktur Hip sering dijumpai pada populasi berusia ≥ 60 tahun. Angka rata-rata fraktur
hip pada wanita di Inggris didistribusikan secara eksponensial 20 per 10.000, 38 per
10.000 dan 73 per 10.000 pada usia 65, 70 dan 75 tahun (Apley’s 9th, 2010). Hanya 5%
fraktur terjadi pada pria dan wanita di bawah usia 60 tahun. Karena semakin
meningkatnya populasi manula,maka jumlah fraktur hip diperkirakan akan meningkat
Hampir setengah dari seluruh fraktur hip adalah intrakapsular, yaitu fraktur yang tidak
stabil di mana suplai darah ke head femur akan terganggu, dan mempengaruhi proses
penyembuhan fraktur (Apley’s 9th, 2010).
Fraktur kolum femur sering tejadi pada wanita disebabkan oleh kerapuhan tulang
akibat kombinasi proses penuaan dan osteoporosis pasca menopause. Fraktur dapat
berupa fraktur subkapital, transervikal dan basal, yang kesemuannya terletak didalam
simpai sendi panggul atau intrakapsular, fraktur intertrokanter dan subtrokanter terletak
ekstra kapsuler.
A.2
Klasifikasi
Klasifikasi Garden berdasarkan atas sudut yang dibentuk oleh garis fraktur dan bidang
horizontal pada posisi tegak (Apley’s 9th, 2010).
a. Dislokasi atau tidak fragment ( menurut Garden’s) adalah sebagai berikut :
Grade I : Fraktur inkomplit ( abduksi dan terimpaksi)
commit to user
Grade II : Fraktur lengkap tanpa pergeseran
4
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Grade III : Fraktur lengkap dengan pergeseran sebagian (varus malaligment)
Grade IV : Fraktur dengan pergeseran seluruh fragmen tanpa ada bagian segmen yang
bersinggungan.
Gambar. 2.1 Klasifikasi Garden untuk Fraktur Collum Femur. Apley 9th ed, 2010
A.3
Manifestasi klinis dan pemeriksaan fisik.
Pada penderita muda ditemukan riwayat mengalami kecelakaan berat namun pada
penderita usia tua biasanya hanya dengan trauma ringan sudah dapat menyebabkan fraktur
collum femur. Penderita tidak dapat berdiri karena rasa sakit sekali pada pada panggul. Posisi
panggul dalam keadaan fleksi dan eksorotasi. Didapatkan juga adanya pemendekakan dari
tungkai yang cedera. Tungkai dalam posisi abduksi dan fleksi serta eksorotasi.pada palpasi
sering ditemukan adanya hematom di panggul. Pada tipe impacted, biasanya penderita masih
dapat berjalan disertai rasa sakit yang tidak begitu hebat. Posisi tungkai tetap dalam keadaan
posisi netral.
commit to user
5
perpustakaan.uns.ac.id
A.4
digilib.uns.ac.id
Diagnosis
Penegakan diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang didapatkan : adanya riwayat trauma/ jatuh yang diikuti nyeri pinggul, pada
pemeriksaan didapatkan posisi panggul dalam keadaan fleksi, eksorotasi dan abduksi dan
ROM hip sangat terbatas karena nyeri.
A.5
Pemeriksaan penunjang
Proyeksi AP dan lateral serta kadang juga dibutuhkan axial. Pada proyeksi AP kadang
tidak jelas ditemukan adanya fraktur pada kasus yang impacted, untuk ini diperlukan
pemerikasaan tambahan proyeksi axial.
A.6
Hip Hemiarthroplasty
Hip hemiarthroplasty merupakan prosedur operasi yang paling sering dilakukan
pada kasus - kasus rekonstruksi hip usia dewasa. Pada awalnya indikasi dilakukan hip
arthroplasty adalah untuk menghilangkan nyeri pada pasien yang mengalami arthritis pada
usia lebih dari 65 tahun, dimana nyeri ini tidak dapat dihilangkan dengan pengobatan
konservatif dan indikasi lainnya adalah memperbaiki dari fungsi hip joint (Apley’s 9th, 2010).
Setelah banyak operasi hip hemiarthroplasty yang berhasil maka indikasi operasi ini
berkembang semakin luas.
Penatalaksanaan untuk kasus fraktur intrakapsular saat ini tergantung dari mobilitas
pasien sebelum trauma dan permintaan dari pasien. Individu dengan fraktur intrakapsular
displace , mobilitas yang rendah, gangguan kognitif , dan rendahnya harapan dari pasien
biasanya dilakukan Hemiarthroplasty (Kenzora JE et all, 1984). Namun Hemiarthroplasty
sering dihubungkan dengan nyeri, infeksi, loosening dan erosi acetabulum. Oleh karena itu
commit to user
tingkat revisi lebih tinggi dibandingkan dengan Total Hip Arthroplasty. Belum ada
6
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
konsensus yang jelas antara Hemiarthroplasty atau Total Hip Arthroplasty untuk fraktur hip
intrakapsular.
A.7
Indikasi Hemiarthroplasty :
Pasien dengan fraktur collum femur yang memenuhi kriteria:
- kondisi umum pasien yang buruk
- fraktur patologis
- penyakit parkinson's, hemiplegia, defisit neurologis lainnya
- usia fisiologis pasien > 70th
- osteoporosis berat dengan kehilangan trabekula primer pada head femur
- gagal closed reduction;
- neglected fraktur collum yang displace
- penyakit dasar lainnya (DJD, RA, AVN)
A.8
Kontraindikasi:
- sepsis
- pasien usia muda
- internal fiksasi yang gagal
- penyakit pada acetabulum
A.9
Komplikasi pasca hemiarthroplasty:
A.9.1 mortalitas:
- Kenzora et. al.melaporkan : 14% mortalitas pada tahun pertama setelah fraktur
hip dibandingkan dengan 9% mortalitas pada populasi normal pada usia yang
sama
- mortalitas setelah hemiarthroplasty adalah 10 sampai 40%
commit to user
7
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
A.9.2 Fraktur femur:
- Hampir sebagian besar terjadi pada saat dilakukan reduksi prosthesa 4.5%
(Kenzora JE et all, 1984)
- Biasanya non displace dan mengenai greater trokanter
- Pada fraktur shaft
femur
digunakan
methyl methacrylate dan long stem
prosthesa
A.9.3 Dislokasi:
- kurang dari 10 % (Carter LW et all , 1995)
-biasanya terjadi karena terlalu besar derajat anteversion atau
retroversion,
posterior capsulectomy, & posisi pasien postoperative flexion atau rotasi dengan
adduksi hip yang berlebih
A.9.4 post op: sepsis:
- lebih sering dijumpai pada posterior surgical approach 2% to 20% ( Muller ME,
1992).
- infeksi dapat superficial atau deep
A.9.5 loosening dan migrasi:
- adanya gambaran zona radiolucent zone disekitar prosthesa
- jika secara klinis dan radiologis terbukti maka dipertimbangkan untuk revision
THR( Muller ME, 1992).
- erosi cenderung terjadi pada pasien yang aktif dengan cemented Thompson
hemiarthroplasty
A.9.6 pain:
- painful hemiarthroplasty - konversi ke THR ( Muller ME, 1992).
commit to user
8
perpustakaan.uns.ac.id
A.10
digilib.uns.ac.id
Post Operatif Rehabilitasi
 Pertahankan posisi dari hip joint: 15O abduksi, eksternal rotasi dengan
menggunakan bantal yang berbentuk segitiga
 Pasien diinstruksikan untuk melakukan latihan otot setiap beberapa menit dalam
beberapa jam begitu pasien sadar
 Drain diangkat dalam 24 – 48 jam
 Hari pertama atau hari kedua pasien dapat duduk disamping bed. Sebaiknya
dilakukan pemasangan abduction pillow
 Latihan berjalan sebaiknya dimualai pada hari pertama sebaiknya dengan walker
A.11
Rontgen preoperatif
Rencana preoperative selalu merupakan bagian integral dari hip arthroplasty. Baik
Charnley dan Muller menitikberatkan pada pentingnya rontgen preoperatif dalam
menentukan tipe dan ukuran prosthesa yang akan digunakan, agar mendapatkan posisi dan
orientasi implan yang benar sehingga tidak terjadi perbedaan panjang kaki dan mengurangi
komplikasi intraoperatif (Capello WN, 1986)
Sebelum operasi kita evaluasi tentang rontgen hip pasien, dan jika ada indikasi maka
kita lakukan pemeriksaan rontgen tulang belakang dan lutut pasien. Diperlukan minimal 2
proyeksi yaitu rontgen pelvis AP yang dapat melihat proximal femur dan rontgen pelvis
lateral . Rontgen pelvis ini perlu dievaluasi secara teliti untuk menilai integritas dari
acetabulum, agar dapat memperkirakan ukuran implan yang dibutuhkan dan seberapa banyak
reaming yang akan dilakukan. CT scan juga dapat bermanfaat pada kasus- kasus yang
kompleks. Lebarnya canal medula juga perlu dievaluasi oleh karena mungkin saja sempit
commit to user
terutama pada pasien usia muda, pasien dengan dysplasia dan kerdil. Pada kasus –kasus
9
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
seperti ini mungkin saja dibutuhkan komponen femoral dengan straight stem atau stem yang
dimodifikasi (Schwartz JT et all, 1989). Pada penyakit Paget , fraktur lama shaft femur dan
kelainan kongenital, rontgen lateral proximal femur dapat menunjukan adanya anterior
bowing , dimana hal ini dapat mempersulit preparasi canal . Jika terdapat bowing yang berat
dan terjadi rotasi maka perlu dilakukan osteotomi femur terlebih dahulu sebelum
arthroplasty.
Templating secara teliti sebelum operasi akan mengurangi pekerjaan – pekerjaan
yang tidak perlu selama operasi sehingga dapat mempersingkat lama operasi. Perkiraan
ukuran dan orientasi implan yang baik akan mempermudah fitting implan intraoperatif
A.12
Landmark anatomis
Landmark secara anatomis seharusnya dapat dengan mudah diidentifikasi pada
rontgen pelvis AP, bahkan jika sudah tidak jelas lagi oleh karena suatu patologi. Pada regio
femur dapat digunakan sebagai landmark yaitu canal medula, trokanter mayor (2) dan minor.
Pada pertemuan antara batas superior collum femur dan trokanter mayor disebut sebagai “
saddle “(3). Pada regio acetabulum dapat diidentifikasi acetabular roof dan gambaran “
teardrop” yaitu superposisi antara medial wall acetabulum dengan tip anterior dan posterior
horn acetabulum.
Gambar. 2.2 Landmark pada rontgen pelvis AP (Sumber: Merrill’s Atlas Of Radiographic
commit
user
Positions And Radiologic Procedures.
Edto10,
2003)
10
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Untuk mendapatkan rontgen dengan kualitas yang baik pada hip templating,
dibutuhkan ekspose dan orientasi yang baik dalam proses pengambilan rontgen. Walaupun
hal ini sepertinya mudah namun dalam prakteknya sulit. Kami biasanya memfokuskan beam
rontgen pada pubis untuk hip templating, dengan proyeksi ini dapat terlihat femur 1/3
proksimal. Untuk mengevaluasi leg length discrepancies dan pelvic tilting pada bidang
frontal dan sagital foto rontgen pelvis AP diambil pada posisi berdiri dengan jarak kedua
spina iliaca sama terhadap film.
A.13
Mekanisme terjadinya Sinar-X
A.13.1 Potensial listrik pada tabung
Aspek-aspek kuantitatif dari energi potensial listrik dapat diselidiki dengan
menggunakan alat bantu seperti tersaji pada Gambar 2.3
Gambar 2.3. Diagram potensial listrik (Sumber: Reitz, Milford and Christy, Foundations of
Electromagnetic Theory, 4th Edition, 1993)
commit to user
11
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Keterangan gambar:
Diagram yang menggambarkan usaha yang dilakukan untuk menggerakkan suatu muatan
antara dua titik dengan potensial yang berbeda dalam medan listrik.
Muatan + Q menimbulkan medan listrik yang tersebar ke semua arah dengan sama rata,
sedangkan muatan + q diperlukan untuk menyelidiki medan listrik yang ditimbulkan oleh Q.
Jika muatan q berada pada titik a, dan berjarak ra dari Q, maka muatan tersebut akan
memiliki sejumlah energi potensial yang tergantung pada besarnya Q, q dan ra. Jika muatan q
harus dipindahkan ke titik b, yang semakin dekat.
terhadap titik Q maka harus dilakukan usaha untuk menggerakkan muatan dari titik a ke titik
b karena adanya gaya tolak antara kedua muatan tersebut. Besamya usaha yang harus
dilakukan untuk menggerakkan muatan q dari titik a ke titik b adalah :
W= Fr
(2.1)
dengan:
W = usaha (joule)
F = gaya (newton)
-
r = jarak yang ditempuh (meter)
F merupakan gaya luar yang dibutuhkan untuk melawan gaya Coulomb :
F = k Qq/r 2
(2.2)
dengan:
k
= konstanta listrik di ruang hampa = 9 x 109 N m2 C "2
Q dan q = besar muatan di titik a dan b (coulomb)
r
= jarak antara muatan (meter)
Gaya tidak selalu konstan, tetapi berubah secara berkebalikan dengan kuadrat jarak antara
commit to
user cepat jika muatan q mendekati Q.
muatan-muatan. Besarnya gaya akan meningkat
secara
12
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Pengeluaran energi total atau naiknya energi potensia! dari muatan q merupakan jumlah dari
semua penambahan usaha yang sangat kecil. Pertambahan energi yang sangat kecil
dinyatakan dengan ( Bushong, 2009 ):
dW = - F . dr
(2.3)
dengan:
dW = pertambahan energi yang kecil
~ = tanda minus karena bertambahnya energi potensial diakibatkan
oleh berkurangnya jarak antara kedua muatan.
F
= gaya Coulomb (newton)
dr = vektor perubahan posisi
Jika nilai F dari persamaan (2.2) dimasukkan ke dalam persamaan (2.3) maka
didapatkan:
(2.4)
Integrasi persamaan (2.5) memberikan 4,19 :
(2.6)
dengan:
W
= energi (jouie)
r», ^ = jarak a dan b (meter)
Q, q = muatan (coulomb)
k
commit to user
= konstanta listrik di ruang hampa = 9 x 109 Nm2C-2
13
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Potensial listiik di titik manapun yang disebabkan oleh medan listrik dari suatu
titik Q didefinisikan sebagai energi potensial yang akan dimiliki oleh suatu medan positif
+q jika muatan tersebut dibawa dari titik yang berjarak tak berhingga dari Q ke titik yang
sedang dibicarakan. Potensial listrik pada titik b pada Gambar 1 dapat dihitung dari
persamaan (2.5) dengan memasang jarak ra sama dengan tak berhingga, sehingga potensial
pada titik b, Vb didefinisikan sebagai energi potensial per satuan muatan positif yaitu ;
(2.7)
dengan :
Vb = potensial listrik di titik b (volt)
W = energi potensial (joule)
q = muatan (coulomb)
2.1.2. Arus dan tegangan listrik pada tabung
Arus listrik I didefinisikan sebagai laju pengangkutan muatan melalui permukaan
tertentu dari sistem hantar. Kuat arus dirumuskan (Reitz, 1993 ) :
(2.8)
dengan:
I = arus (ampere)
q = muatan (coulomb)
t =waktu(detik)
Di dalam konduktor padat sebagai pembawa muatan adalah elektron bebas dan di dalam konduktor
cair atau elektrolit pembawa muatannya adalah ion. Elektron bebas dan ion dalam konduktor
bergerak karena pengaruh medan listrik dengan rapat arus:
j = I/A
commit to user
14
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
dengan:
j =rapat arus (A/m2)
A = Iuas penampang konduktor (meter2)
I = arus tabung (ampere)
Jika rapat arus sebanding dengan medan listrik yang menimbulkannya maka (Reitz, 1993 ):
(2.10)
dengan:
j = rapat arus (A/m 2)
σ= konduktifitas listrik (siemens / meter)
E = medan listrik
Di dalam logam yang berarus listrik, pembawa muatan bergerak dan bertumbukan dengan atom-atom
logam. Akibat dari tumbukan pembawa muatan kehilangan sejumlah energinya sehingga bergerak
dengan kecepatan tetap dan atom-atom logam makin cepat sehingga menimbulkan panas. Bila
sejumlah muatan dq bergerak di bawah pengaruh beda potensial V, muatan ini harus mendapatkan
tambahan energi sebesar:
du = V dq
(2.11)
dengan:
du = tambahan energi
dq = pertambahan muatan (coulomb)
V = tegangan (volt)
Karena arus I tetap, maka kecepatan tetap dan energi kinetik pun tidak berubah. Energi ini hilang
sebagai panas dan diterima logam dengan daya disipasi:
commit to user
15
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
dengan:
P = daya (watt)
I = arus (ampere)
V = tegangan (volt)
Karena beda potensial V = IR maka persarnaan (2.12) menjadi :
P = I
2
R
(2.13)
Persamaan (2.13) menyatakan daya yang hilang atau daya disipasi pada konduktor dengan
hambatan R bila dialiri arus listrik l Kalor disipasi dalam waktu dt adalah :
dQ = I2 R dt
(2.14)
dengan:
dQ = kalor yang terdisipasi (joule)
I
= aras (ampere)
R = hambatan (ohm)
dt = waktu (detik j
A.14
Pembangkitan sinar-X
Sinar-X dihasilkan jika filamen (katoda) dalam tabung rontgen dipanaskan dengan
arus listrik sampai lebih 2000°C sehingga terjadi awan-awan elektron di sekitamya yang
disertai emisi termionik. Bila antara anoda dan katoda diberi beda potensial yang tinggi,
maka elektron-elektron itu akan bergerak dengan kecepatan tinggi dari katoda melalui ruang
hampa menuju anoda. Elektron yang bergerak dengan kecepatan tinggi itu menumbuk target
sehingga tenaga gerak elektron akan berubah menjadi sinar-X (lebih kurang 1%) dan
selebihnya berubah menjadi panas ( Meredith, 1977). Tabung sinar-X dibuat dalam keadaan
hampa, dengan tujuan untuk menghindari gesekan molekul udara dan elektron katoda yang
commit to user
16
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
terpancar. Sehingga elektron yang terpancar akan melaju tanpa hambatan sehingga tidak ada
energi yang hilang aelama perjalanannya dari katoda ke anoda.
Elektron yang diberi tegangan sangat tinggi akan meradiasikan gelombang
elektromagnetik dan elektron yang bergerak cepat dan tiba-tiba dihentikan oleh target akan
mengalami suatu perubahan kecepatan. Radiasi yang ditimbulkan dalam keadaan demikian
disebut "Bremsstrahlung" atau radiasi pengereman ( Bushong, 2009 ). Peristiwa
"Bremsstrahlung" yang menghasilkan sinar-X ini disajikan pada Gambar 2.2
Gambar 2.4. Sinar-X Bremsstrahlung hasil interaksi antara proyektil elektron dengan inti
atom . Bushong, Stewart, Radiologic Science for Technologists, 9th ed. 2009.
Untuk menafsirkan bahaya Bremsstrahlung dapat dipergunakan perumusan sebagai berikut :
f = 3,5x10 -4 ZE
(2.15)
dengan :
f = fraksi energi beta yang menyertai yang diubah rnenjadi foton
Z = nomor atom penguap
;
E = energi maksimum partikel beta, MeV commit to user
17
perpustakaan.uns.ac.id
A.15
digilib.uns.ac.id
Karakteristik Sinar-X
Sinar-X yang dihasilkan dari focal spot dengan panjang gelombang yang berbeda
akan memancar secara divergen ke segala arah. Pada saat sebagian dari radiasi ini mengenai
suatu materi akan menyebabkan ionisasi dengan materi tersebut. Ionisasi adalah
pembentukan sepasang ion yaitu ion positif dan ion negatif. Kemampuan sinar-X untuk
menimbulkan ionisasi inilah yang dimanfaatkan daiam radio diagnostik khususnya pada
radiografi ( Meredith, 1977).
A.16
Variabel Geometri yang Mempengaruhi Kualitas Gambar Rontgen
Variabel geometri yang mempenganihi kualitas Gambar Rontgen dapat menimbulkan :
1. Magnifikasi.
2. Distorsi.
A.16.1 Distorsi
Distorsi adalah perubahan bentuk bayangan dari obyek yang disebabkan karena
perbedaan letak atau posisi dari obyek, focal spot dan film. Distorsi dapat terjadi pada
perubalian posisi focal spot, yang dapat dilihat pada Gambar 2.5
Gambar 2.5. Perubahan bentuk bayangan tergantung pada posis focal spot . Meredith dan
Massey, 1977
commit to user
18
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Keterangan gambar:
Fi
= posisi focal spot 1
F2
= posisi focal spot 2
K
= obyek (bola)
Si.Sz = bayangan
AB
= permukaan iilm
Pada obyek padat, setiap bagian mendapat perbesaran yang berlainan, tergantung pada jarak
obyek ke film sehingga bentuk keseluruhan akan berubah. Proses ini disajikan pada Gambar
2.6.
Gambar 2.6. Perubahan bentuk bayangan karena letak lateralnya Meredith dan Massey, 1997
Keterangan gambar:
ab = cd = ef AB < CD < EF
Distorsi dari bentuk dan posisi dapat dibuat sekecil mungkin dengan pemakaian
jarak focal spot film yang besar dan jarak obyek - film yang kecil dan berkas sinar-X yang
tegak hinis film ditunjukkan pada bagian yang akan diperiksa Distorsi dapat terjadi pada
penempatan obyek yang tidak sejajar dengan film . Bentuk dan ukuran bayangan tergantung
dari sudut 8 dari obyek terhadap film.
commit to user
19
perpustakaan.uns.ac.id
B.
digilib.uns.ac.id
Magnifikasi
Magnifikasi merupakan gambar yang dihasilkan oleh sinar rontgen pada film dan
selalu sedikit lebih besar dari gambar aslinya, dan efek ini disebut sebagai magnifikasi
(Battiato, 2007). Faktor magnifikasi adalah derajat pembesaran yang dapat dihitung dengan:
M = SID / SOD
Dimana M adalah faktor magnifikasi
Gambar 2.7. Faktor magnifikasi. Principles of Radiographic Imaging: An Art and A
Science, 5th ed , 2013
Faktor magnifikasi dapat digunakan untuk memperkirakan ukuran sebenarnya dari sebuah
benda yang diproyeksikan sinar rontgen dengan menggunakan rumus:
O=I/M
Dimana
O = ukuran dari objek
I = ukuran gambar
M = Faktor magnifikasi
Dari rumus diatas didapatkan
O = I / (SID/SOD)
commit to user
20
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Pada foto rontgen polos magnifikasi bergantung pada jarak antara pasien dengan film, dan
jarak antara pasien dengan fokus sinar rontgen. Pembesaran minimum dihasilkan jika film
diletakkan dekat dengan pasien dan jarak pasien dengan fokus tube sinar rontgen jauh
(Battiato, 2007).
Magnifikasi pada rontgen pelvis AP adalah bervariasi. Untuk meningkatkan akurasi
template, diperlukan metode yang praktis dan sederhana. Suatu benda yang sudah diketahui
ukurannya diletakkan pada film sehingga dapat ditentukan besarnya magnifikasi. Uang koin
10 cent dengan diameter 24.50mm dengan toleransi ± 0.125mm dan ketebalan 1.85 mm,
digunakan untuk mengetahui besarnya magnifikasi, koin ini diletakkan pada plate film.
Semakin jauh jarak antara sumber dengan plate film maka magnifikasi yang terjadi
semakin kecil tetapi magnifikasi akan semakin besar jika jarak antara objek dengan plate film
semakin jauh . Faktor yang mempengaruhi jarak pada rontgen hip adalah besarnya ukuran
tubuh pasien dan rotasi dari pelvis. Gambar skematis dapat dilihat pada Gambar 2.8 ,
besarnya magnifikasi pada koin akan sesuai dengan besarnya magnifikasi pada femur.
Besarnya magnifikasi akan bertambah 2x lipat dari 10 % menjadi 20% jika jarak antara femur
ke plate film bertambah dari 90mm menjadi 170mm.
Gambar 2.8. Kalkulasi faktor magnifikasi .J Bone Joint Surg [Br] 2002;84-B:269-72.
commit to user
21
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Metode Conn dengan meletakkan suatu objek yang sudah diketahui ukurannya
disamping paha pasien pada level femur telah banyak digunakan pada berbagai studi dan
diakui sebagai salah satu metode yang akurat. Tetapi dalam prakteknya, metode ini kurang
familier dan sulit bagi radiografer dan kurang disukai oleh pasien. Kami memodifikasi
metode ini dengan cara melakukan rontgen pelvis AP preoperatif dan mengatur jarak sumber
dengan plate film konstan 100cm, kemudian menghitung perbedaan antara ukuran head
femur pada rontgen preoperatif dan ukuran sebenarnya pada intraoperatif.
Sebanyak 47 pasien yang dilakukan operasi menjalani hemiarthroplasty dari pinggul atau
penggantian panggul total yang terdaftar dalam penelitian ini. Keakuratan metode
pengukuran ini dinilai dengan membandingkan diameter sebenarnya dari kepala prosthesis
dengan diameter pada foto rontgen preoperatif.
Gambar 2.9. Variasi faktor magnifikasi berdasarkan height of hip joint . Journal of Digital
Imaging, Vol 20, No 4 December, 2007.
commit to user
22
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Gambar 2.10. Variasi faktor magnifikasi berdasarkan bentuk objek. Journal of Digital
Imaging, Vol 20, No 4 December, 2007.
C.
Kerangka Konsep Teori
commit to user
23
perpustakaan.uns.ac.id
D.
digilib.uns.ac.id
Hipotesis
1. Terdapat perbedaan perkiraan besar magnifikasi diameter head femur pada rontgen pelvis
AP hip hemiarthroplasty di RS Ortopedi Prof Soeharso Surakarta.
commit to user
24
Download