7 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Penelitian

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Penelitian Sebelumnya (State of the Art)
Tabel 2.1. Penelitian Sebelumnya (State of the Art)
Judul
Teori
Metodologi
Rethinking
Public Service
Media and
Citizenship :
Digital Strategies
for News and
Current Affairs at
Australia’s
Broadcasting
Service
Teori
Programming,
Teori Media
Massa
Metode
Kualitatif
Media penyiaran ABC
dan SBS melakukan
evaluasi tentang konten
yang dibuat. Peneliti
mengidentifikasi
peluang yang dapat
membuka arus news
dan current affairs
untuk partisipasi
pengguna yang lebih
baik termasuk
memverifikasi materi
dan mengelola
pertanyaan.
The Challenges
of Digitization of
Broadcasting in
Nigeria
Teori
Programming,
Komunikasi
Massa, Media
Massa
Metode
Kualitatif
Broadcasting Industry
di Nigeria harus
merubah sistem dari
analog ke digital.
Banyak keuntungan
yang dihasilkan jika
memakai teknologi
digital, seperti gambar
dan suara yang jernih.
Strategi
Programming
pada program
“Kompas Siang”
di Kompas TV.
Strategi
Programming:
Selecting,
Schedulling,
Promoting,Eva
luating
Pendekatan
kualitatif
melalui
metode
wawancara,
metode
kepustakaan,
metode
observatif,
Jenis
Penelitian
naratif, Metode
kualitatif
Kompas Siang
memenuhi nilai berita
yaitu significance,
timeless, proximity,
prominence, dan
human interest,
Menampilkan feature,
Menerapkan strategi
head-to-head,
Menerapkan promo on
air dan off air,
Evaluasi belum efektif.
7
Hasil
8
Strategi
Programming
acara “Dealing
Room Direct” di
MNC Business”
Teori Strategi
Programming,
Komunikasi
Massa, Media
Massa
Metode
kualitatif,
Jenis
penelitian
deskriptif
analisis,
Teknik
pengumpulan
data :
observasi,
wawancara,
dokumentasi
Strategi programming
yang digunakan acara
“Dealing Room”
adalah :
- pemilihan berita
berdasarkan isu terbaru
dan pemilihan
narasumber yang
kompeten
- Penempatan program
pada saat pembukaan
perdagangan harga
saham.
- Melakukan promo on
air dan off air
- Evaluasi
menghasilkan
pemangkasan materi
yang dibawakan agar
pertanyaan dari
penonton bisa terjawab
semua.
Strategi
Programming
MNCTV dalam
mempertahankan
program dakwah
Program
Televisi,
Strategi
Programming
Metode
kualitatif,
Jenis
penelitian
berdasarkan
pendekatan
deskriptif
analisis
MNCTV sudah
menerapkan teori
strategi programming,
namun perlu
pembenahan dalam
perencanaan program
dakwah dan pemilihan
acara agar program
acara yang disajikan
benar-benar sesuai
dengan kebutuhan
pemirsa.
1. Penelitian sebelumnya yang pertama berjudul “Rethinking Public Service Media
and Citizenship : Digital Strategies for News and Current Affairs at Australia’s
Broadcasting Service” menggunakan teori programming dan teori media massa serta
menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian yang dihasilkan adalah Media
penyiaran ABC dan SBS melakukan evaluasi tentang konten yang dibuat. Peneliti
mengidentifikasi peluang yang dapat membuka arus news dan current affairs untuk
partisipasi pengguna yang lebih baik termasuk memverifikasi materi dan mengelola
9
pertanyaan. Jurnal Internasional ini menggunakan metode penelitian yang sama
dengan skripsi ini dan dapat menjadi acuan untuk hasil evaluasi yang akan
dihasilkan.
2. Penelitian sebelumnya yang kedua berjudul “The Challenges of Digitization of
Broadcasting in Nigeria” adalah penelitian tentang broadcasting industry di Nigeria
yang merubah teknologi dari analog ke digital. Teori yang digunakan adalah
programming, komunikasi massa dan media massa. Hasil penelitiannya adalah
keuntungan yang dihasilkan yaitu suara dan gambar yang jernih dan selain itu
Pemerintah Nigeria harus menemukan solusi untuk kebutuhan tenaga dan biaya yang
akan dikeluarkan. Yang bisa dijadikan acuan dalam penelitian ini adalah teori yang
digunakan dan evaluasi yang dilakukan untuk permasalahan yang muncul.
3. Penelitian sebelumnya yang ketiga yaitu “Strategi Programming pada Program
Kompas Siang di Kompas TV” menggunakan teori strategi yang meliputi 4 unsur
yaitu selecting, schedulling, promotion, dan evaluation. Penelitian ini adalah
penelitian kualitatif menggunakan metode wawancara, kepustakaan, dan observatif.
Hasil penelitian yang diperoleh adalah Kompas Siang telah memenuhi nilai-nilai
berita, menampilkan feature, menerapkan strategi head-to-head, menerapkan promo
on air dan off air. Penelitian sebelumnya ini menjadi acuan karena menggunakan
teori strategi programming dan metode kualitatif yang juga akan digunakan penulis
untuk penulisan skripsi ini.
4. Penelitian sebelumnya yang keempat adalah “Strategi Programming Acara
“Dealing Room Direct” di MNC Business”, teori yang digunakan adalah teori
komunikasi massa, media massa dan strategi programming. Metode yang digunakan
yaitu metode kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif, dan teknik pengumpulan
datanya dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian yang
di peroleh adalah program Dealing Room Direct telah menerapkan strategi
programming yang baik dari proses pemilihan topik, penjadwalan, melakukan
promosi dan evaluasi. Penelitian ini bisa menjadi acuan karena menggunakan teori
programming dan hasil penelitian yang sesuai dengan unsur-unsur strategi tersebut.
5. Penelitian sebelumnya yang ke lima adalah “Strategi Programming MNCTV
dalam mempertahankan program dakwah”. Teori yang digunakan adalah program
televisi dan strategi programming. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif
10
dan jenis penelitiannya pendekatan deskriptif. Hasil penelitian yang diperoleh adalah
MNCTV sudah menerapkan strategi programming dengan baik namun perlu
pembenahan di bagian perencanaan dan pemilihan acara. Perbandingan yang didapat
dari penelitian sebelumnya dan skripsi ini adalah teori programming dan metode
kualitatif yang di gunakan.
2.2. Landasan Konseptual
2.2.1. Teori Komunikasi Massa
Pada dasarnya komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa
(media cetak dan elektronik). Sebab awal perkembangannya, komunikasi massa
berasal pengembangan kata media of mass communication (media komunikasi
massa) (Nurudin,2013). Menurut Josep A DeVito dalam Ardianto (2007) komunikasi
massa pada intinya merupakan penjelasan tentang yang dimaksud dengan massa
serta media yang digunakannya karena komunikasi massa disampaikan kepada
khalayak ramai melalui pemancar audio dan visual.
Selain itu Josep A. DeVito juga mengungkapkan dalam Nurudin (2013) yaitu
pertama, komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa, kepada
khalayak, yang luar biasa banyaknya. Ini tidak berarti bahwa khalayak meliputi
seluruh penduduk atau semua orang yang membaca, atau semua orang yang
menonton televisi, agaknya ini tidak berarti pula bahwa khalayak itu besar dan pada
umunya agak sukar untuk di definisikan.
Kedua, komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancarpemancar yang audio dan atau visual. Komunikasi massa barangkali akan lebih
mudah dan lebih logis bila didefinisikan menurut bentuknya (televisi, radio, surat
kabar, majalah, film, buku, dan pita).
Menurut Jay Black dan Frederick C. Whitney (1988) yang diterjemahkan
oleh Nurudin (2013) disebutkan, “Mass Communication is a process whereby massproduced message are transmitted to large anonymous, and heterogeneous masses of
receivers (Komunikasi massa adalah sebuah proses dimana pesan-pesan yang di
produksi secara massal atau tidak sedikit itu disebarkan kepada massa penerima
pesan yang luas, anonim, dan heterogen)”.
11
Large di sini berarti lebih luas dari sekedar kumpulan orang yang
berdekatan secara fisik, sedangkan anonymous berarti bahwa individu yang
menerima pesan cenderung menjadi asing satu sama lain atau tidak saling mengenal
satu sama lain, dan heterogeneous berarti bahwa pesan yang dikirim to whom it may
concern (kepada yang berkepentingan) yakni kepada orang-orang dari berbagai
macam atribut, status, pekerjaan, dan jabatan dengan karakteristik yang berbeda satu
sama lain dan bukan penerima pesan yang homogen.
Menurut Alexis S Tan dalam Nurudin (2013), dalam komunikasi massa itu
komunikatornya adalah organisasi sosial yang mampu memproduksi pesan dan
mengirimkannya secara serempak ke sejumlah orang banyak yang terpisah.
Komunikator dalam komunikasi massa biasanya media massa (surat kabar, majalah,
atau penerbit buku, stasiun atau jaringan TV).
Massa dalam arti komunikasi massa lebih menunjuk pada penerima pesan
yang berkaitan dengan media massa. Dengan kata lain, massa yang dalam sikap dan
perilakunya berkaitan dengan peran media massa. Oleh karena itu, massa di sini
menunjuk kepada khalayak, audience, penonton, pemirsa, atau pembaca.
Bittner dalam Nurudin (2013) mengungkapkan bahwa dalam komunikasi
massa kita membutuhkan gatekeeper (penapis informasi atau palang pintu) yakni
beberapa individu atau kelompok yang bertugas menyampaikan atau mengirimkan
informasi dari individu ke individu yang lain melalui media massa (surat kabar,
majalah, televisi, radio, video tape, compact disk, buku). Definisi tersebut
menekankan akan arti pentingnya gatekeeper dalam proses komunikasi massa, dalam
proses komunikasi massa di samping melibatkan unsur-unsur komunikasi
sebagaimana umumnya, ia membutuhkan peran media massa sebagai alat untuk
menyampaikan atau menyebarkan informasi.
Dari beberapa definisi komunikasi massa tersebut dapat disimpulkan bahwa
komunikasi massa merupakan suatu pesan yang disampaikan kepada audiens atau
khalayak yang luas melalui suatu media massa. Media yang digunakan dalam proses
komunikasi massa tersebut bisa berupa surat kabar, radio dan televisi.
12
2.2.2. Elemen - Elemen Komunikasi Massa
Elemen komunikasi pada komunikasi secara umum juga berlaku bagi
komunikasi massa (Nurudin,2013) Perbedaan komunikasi massa dan komunikasi
pada umumnya lebih berdasarkan pada jumlah pesan berlipat-lipat yang sampai pada
penerima. Dalam komunikasi massa pengirim sering di sebut sebagai sumber
(source) atau komunikator, sedangkan penerima pesan yang berjumlah banyak
disebut audience, komunikan, pendengar, pemirsa, penonton, atau pembaca. Elemenelemen komunikasi massa antara lain :
a. Komunikator
Berbeda dengan komunikator pada proses komunikasi biasa, komunikator
yang terdapat pada komunikasi massa berupa jaringan, stasiun lokal, direktur, dan
staf teknis suatu program. Jadi komunikator pada komunikasi massa adalah
gabungan individu dalam sebuah lembaga media massa. Karena komunikator
merupakan sekumpulan orang yang saling bekerja sama, sehingga pesan yang
disampaikan bukanlah atas nama masing-masing individu tersebut, tetapi atas
nama lembaganya.
Komunikator dalam komunikasi massa bersifat mencari keuntungan. Bukan
semata-mata mencari keuntungan, tetapi orientasi keuntungan menjadi dasar
pembentukan organisasi. Media massa tentu tidak sekedar menyiarkan informasi
semata, tetapi membutuhkan pemasukan bagi kelangsungan hidup ke lembaga itu
sendiri. Ada beberapa karakteristik yang dimiliki oleh komunikator dalam
komunikasi massa. Hiebert, Ungurait, dan Bohn pernah mengungkapkan setidaktidaknya ada lima karakteristik : 1) daya saing (competitiveness), 2) ukuran dan
kompleksitas, 3) industrialisasi, 4) spesialisasi, dan 5) perwakilan.
b. Isi
Setiap hari media massa memberikan informasi sehingga informasi adalah hal
pokok yang harus dimiliki oleh sebuah media massa. Masing-masing media massa
memiliki kebijakannya sendiri dalam mengelola isinya. Selain itu, media massa
tidak hanya memberikan informasi tetapi juga meneliti dan mengevaluasi
informasi tersebut.
Sesuai dengan
fakta-faktanya,
dan
keahlian dalam
menginterpretasikan, media massa mencoba untuk memberikan pesan yang
mudah dimengerti oleh audiensnya. Jakob Oetama (2001) dalam Nurudin (2013),
13
menggarisbawahi bahwa menulis sebuah berita tidaklah hanya sekedar berita,
tetapi perlu menunjang kemampuan untuk menumbuhkembangkan semangat dan
kegiatan kemanusiaan dalam kegiatan jurnalistik ketika pesan tersebut
disampaikan. Ketika media massa memberikan sebuah informasi maka secara
tidak langsung, media massa memfungsikan dirinya sebagai seorang pendidik,
oleh karena itu isi dari pesan yang disampaikan oleh media massa harus
mengandung unsur pendidikan.
c. Audience
Audience yang dimaksud dalam komunikasi massa sangat beragam, dari
jutaan penonton televisi, ribuan pembaca buku, majalah, koran atau jurnal
ilmiah.Masing-masing audiens berbeda satu sama lain di antaranya dalam hal
berpakaian, berpikir, menanggapi pesan yang diterimanya, pengalaman, dan
orientasi hidupnya. Akan tetapi, masing-masing individu bisa saling mereaksi
pesan yang diterimanya.
Menurut Hiebert dan kawan-kawan, terdapat lima karakteristik audiens pada
komunikasi massa :
(1) Audiens cenderung berisi individu-individu yang condong untuk berbagi
pengalaman dan dipengaruhi oleh hubungan sosial di antara mereka. Individuindividu tersebut memilih produk media yang mereka gunakan berdasarkan
seleksi kesadaran.
(2) Audiens cenderung besar. Besar disini berarti tersebar ke berbagai wilayah
jangkauan sasaran komunikasi massa. Meskipun begitu, ukuran luas ini sifatnya
bisa jadi relatif. Sebab, ada media tertentu yang khalayaknya mencapai ribuan,
ada yang mencapai jutaan. Baik ribuan maupun jutaan tetap bisa disebut audience
meskipun jumlahnya berbeda, tetapi perbedaan ini bukan sesuatu yang prinsip.
Jadi tak ada ukuran pasti tentang luasnya audiens itu.
(3) Audiens cenderung heterogen. Mereka berasal dari berbagai lapisan dan
kategori
sosial.
Beberapa
heterogenitasnya juga tetap ada.
media
tertentu
mempunyai
sasaran,
tetapi
14
(4) Audiens cenderung anonim yakni tidak mengenal satu sama lain. Tidak
mengenal tersebut tidak ditekankan satu kasus per kasus, tetapi meliputi semua
audiens.
(5) Audiens secara fisik dipisahkan oleh komunikator. Dapat juga dikatakan
audiens dipisahkan oleh ruang dan waktu.
d. Umpan Balik
Terdapat dua jenis umpan balik dalam komunikasi massa, yaitu umpan balik
langsung dan umpan balik tidak langsung. Umpan balik langsung dapat berupa
ketika pembaca menulis kepada surat pembaca. Sedangkan umpan balik tidak
langsung adalah ketika komunikan dengan komunikator dalam komunikasi massa
tidak bertemu secara langsung sehingga tidak mungkin terjadinya reaksi langsung
di antara kedua pihak. Umpan balik merupakan reaksi yang diberikan oleh
audiens ketika menerima pesan dari komunikator. Rating pada sebuah acara
televisi juga dapat disebut sebagai umpan balik atau feedback dari penontonnya
karena menunjukkan jumlah penonton yang menyaksikan acara tersebut.
e. Gangguan
Gangguan merupakan sesuatu yang dapat menghalang, menghambat atau
menganggu proses pengiriman pesan dari komunikator ke audiens. Dalam
komunikasi massa terdapat dua tipe gangguan yaitu gangguan saluran dan
gangguan semantik.
1) Gangguan saluran
Gangguan Saluran adalah gangguan seperti kesalahan cetak, kekurangan kata,
baterai yang habis, langganan majalah yang tidak datang atau sinyal televisi dan
radio yang buruk. Gangguan juga bisa disebabkan oleh faktor luar, misalnya
sepanjang menonton televisi ada dua pasang anak yang berkelahi. Salah satu
solusi untuk mengatasi gangguan saluran misalnya adalah dengan pengulangan
acara yang disajikan, cara lain untuk mengatasi gangguan adalah dengan
mempertajam saluran komunikasi massa.
2) Gangguan semantik
Gangguan yang berhubungan dengan bahasa, gangguan semantik yang paling
sering dijumpai dan dapat dikatakan bahwa gangguan ini diakibatkan oleh
pengirim pesan atau penerima pesan. Gangguan semantik sangat terasa sekali
15
dalam media elektronik. Misalnya, salah ucap yang dilakukan reporter di
lapangan. Termasuk juga kata-kata yang diucapkannya kadang terlalu cepat. Tak
terkecuali perbedaan kultur ikut memengaruhi munculnya gangguan semantik.
f. Gatekeeper
Gatekeeper adalah di mana ditunjuk satu orang atau organisasi yang
memiliki tugas untuk memantau masuk keluarnya informasi. Gatekeeper-lah yang
memiliki wewenang untuk memberikan ijin atas tersebarnya sebuah informasi
dari media massa. Dalam media massa, mereka dapat menghapus pesan yang akan
disampaikan atau bahkan memodifikasi pesan tersebut. Tidak hanya itu,
gatekeeper dapat saja menutup pintu atau benar-benar tidak memberikan ijin
untuk mengeluarkan informasi tersebut. Menurut John R. Bittner (1996),
gatekeeper memiliki empat fungsi yaitu (1) menyebarluaskan informasi, (2)
membatasi informasi yang akan disebarkan dengan memodifikasikannya terlebih
dahulu, (3) untuk memperluas kualitas informasi dengan menambahkan faktanya,
dan (4) untuk menginterpretasikan sebuah informasi.
g. Pengatur
Pengatur dalam media massa adalah mereka yang secara tidak langsung
dapat mempengaruhi aliran pengiriman pesan yang terjadi dalam media massa.
Pengatur bukanlah dari dalam media tetapi pihak yang berada di luar media
tersebut. Walaupun bukan bagian dari media, tetapi mereka memiliki akses dan
memiliki wewenang untuk menentukan kebijakan redaksional. Yang di maksud
pengatur adalah mereka yang secara tidak langsung ikut memengaruhi proses
aliran pesan media massa. Pengatur inib tidak berasal dari dalam media tersebut,
tetapi dluar media. Namun demikian, meskipun di luar media massa, kelompok itu
bisa ikut menentukan kebijakan redaksional. Pengatur tersebut antara lain
pengadilan, pemerintah, konsumen, organisasi professional, dan kelompok
penekan, termasuk narasumber, dan pengiklan. Semua itu berfungsi sebagai
pengatur.
h. Filter
Keadaan psikologis seseorang dapat mempengaruhi bagaimana ia bereaksi
terhadap pesan yang disampaikan oleh komunikator. Filter merupakan kerangka
berpikir bagaimana seorang audiens menerima pesan yang disampaikan. Dengan
16
kata lain, filter adalah jendela audiens karena setiap audiens memiliki reaksi
berbeda- beda terhadap pesan yang diterimanya. Filter dibagi menjadi tiga jenis
yaitu : 1) filter psikologis, 2) filter fisik, 3) filter budaya (warisan budaya,
pendidikan, pengalaman kerja, sejarah politik). Semua filter tersebut akan
memengaruhi kualitas dan kuantitas pesan yang diterima dan respons yang
dihasilkan.
2.2.3. Karakteristik Komunikasi Massa
Dari definisi Komunikasi Massa diatas maka kita dapat mengetahui pula
karakteristik komunikasi massa dalam sebagai berikut (Ardianto,2007) :
1. Komunikator Terlembagakan
Dengan mengingat kembali pendapat Wright, bahwa komunikasi massa itu
melibatkan lembaga, dan komunikatornya bergerak dalam organisasi yang kompleks,
dapat dibayangkan secara kronologis proses penyusunan pesan oleh komunikator
sampai pesan itu diterima oleh komunikan. Apabila media komunikasi yang
digunakan adalah televisi, akan lebih banyak orang yang terlibat seperti juru kamera
(lebih dari satu), juru lampu, pengarah acara, bagian makeup, floor, manager, dan
lain lain. Selain itu peralatan yang di gunakan lebih banyak serta dana yang
diperlukan lebih besar. Jadi, berapa orang yang terlibat dalam proses komunikasi
massa itu, berapa macam peralatan yang digunakan, dan berapa biaya yang
diperlukan, sifatnya relatif. Namun yang pasti, komunikasi massa itu kompleks, tidak
seperti komunikasi antarpersona yang begitu sederhana.
Komunikator dalam komunikasi massa merupakan lembaga karena elemen
utama komunikasi massa adalah media massa. Media massa hanya bisa muncul
karena gabungan kerja sama dengan beberapa orang. Hal demikian berbeda dengan
bentuk komunikasi yang lain, misalnya komunikasi antarpribadi. Orang yang terlibat
dalam komunikasi ini memiliki insiatif sendiri ketika mengadakan komunikasi tanpa
aturan tertentu seperti yang disyaratkan dalam komunikasi massa
Dengan demikian, komunikator dalam komunikasi massa setidak-tidaknya
mempunyai ciri sebagai berikut : 1) kumpulan individu, 2) dalam berkomunikasi
individu-individu itu terbatasi perannya dengan sistem dalam media massa, 3) pesan
yang disebarkan atas nama media yang bersangkutan dan bukan atas nama pribadi
unsur-unsur yang terlibat, 4) apa yang dikemukakan oleh komunikator biasanya
17
untuk mencapai keuntungan atau mendapatkan laba secara ekonomis (Nurudin,
2013).
2. Pesan Bersifat Umum
Komunikasi massa itu bersifat terbuka, artinya komunikasi massa itu
ditujukan untuk semua orang dan tidak ditujukan untuk sekelompok orang tertentu.
Oleh karenanya, pesan komunikasi massa bersifat umum. Pesan komunikasi massa
dapat berupa fakta, peristiwa atau opini. Namun tidak semua fakta dan peristiwa
yang terjadi di sekeliling dapat dimuat dalam media massa. Pesan komunikasi massa
yang dikemas dalam bentuk apapun harus memenuhi kriteria penting atau menarik,
atau penting sekaligus menarik, bagi sebagian besar komunikan. Dengan demikian,
kriteria pesan yang penting dan menarik itu mempunyai ukuran tersendiri, yakni bagi
sebagian besar komunikan.
3. Komunikannya Anonim dan Heterogen
Komunikan pada komunikasi massa bersifat anonim dan heterogen. Pada
komunikasi massa, komunikator tidak mengenal komunikan (anonim), karena
komunikasinya menggunakan media dan tidak tatap muka. Di samping anonim,
komunikan komunikasi massa adalah heterogen, karena terdiri dari berbagai lapisan
masyarakat yang berbeda, yang dapat dikelompokkan berdasarkan faktor : usia, jenis
kelamin, pendidikan, pekerjaan, latar belakang budaya, agama, dan tingkat ekonomi.
Herbert Blumer pernah memberikan ciri tentang karakteristik audience /
komunikan sebagai berikut (Nurudin,2013)
a. Audience dalam komunikasi massa sangatlah heterogen. Artinya, ia mempunyai
heterogenitas komposisi atau susunan. Jika ditinjau dari asalnya, mereka berasal dari
berbagai kelompok dalam masyarakat.
b. Berisi individu-individu yang tidak tahu atau mengal satu sama lain. Di samping
itu, antar individu itu tidak berinteraksi satu sama lain secara langsung.
c. Mereka tidak mempunyai kepemimpinan atau organisasi formal.
4. Media Massa Menimbulkan Keserempakan
Kelebihan komunikasi massa dibandingkan dengan komunikasi lainnya,
adalah jumlah sasaran khalayak atau komunikan yang dicapainya relatif banyak dan
tidak terbatas. Bahkan lebih dari itu, komunikan yang banyak tersebut secara
serempak pada waktu yang bersamaan memperoleh pesan yang sama pula.
18
5. Komunikasi Mengutamakan isi Ketimbang Hubungan
Dalam konteks komunikasi massa, komunikator tidak harus selalu kenal
sengan komunikannya dan sebaliknya. Yang penting, bagaimana seorang
komunikator menyusun pesan secara sistematis, baik, sesuai dengan jenis medianya,
agar komunikannya bisa memahami isi pesan tersebut.
6. Komunikasi Massa Bersifat Satu Arah
Selain
ada
ciri
yang
merupakan
keunggulan
komunikasi
massa
dibandingkan dengan komunikasi lainnya, ada juga ciri komunikasi massa yang
merupakan kelemahannya. Karena komunikasinya melalui media massa, maka
komunikator dan komunikannya tidak dapat melakukan kontak langsung.
Komunikator aktif menyampaikan pesan, komunikan pun aktif menerima pesan,
namun diantara keduanya tidak dapat melakukan dialog sebagaimana halnya terjadi
dalam komunikasi antarpersona. Dengan kata lain komunikasi massa itu bersifat satu
arah.
7. Stimulasi Alat Indra Terbatas
Ciri komunikasi massa lainnya yang dapat dianggap salah satu
kelemahannya, adalah stimulasi alat indra yang terbatas. Dalam komunikasi massa,
stimulasi alat indra bergantung pada jenis media massa. Pada media televisi dan film,
kita menggunakan indra penglihatan dan pendengaran.
8. Umpan Balik Tertunda (Delayed) dan Tidak Langsung (Indirect)
Komponen umpan balik atau yang lebih populer dengan sebutan feedback
merupakan faktor penting dalam proses komunikasi antarpersona, komunikasi
kelompok, dan komunikasi massa. Efektivitas komunikasi seringkali dapat dilihat
dari feedback yang disampaikan oleh komunikan.
2.2.4. Fungsi Komunikasi Massa
Berikut fungsi-fungsi komunikasi massa menurut Nurudin (2013) yaitu :
1. Entertainment (hiburan)
Fungsi hiburan untuk media elektronik menduduki posisi yang paling tinggi
dibandingkan dengan fungsi-fungsi yang lain. Sulit dibantah lagi bahwa pada
kenyataannya hampir semua media menjalankan fungsi hiburan. Mengenai hal ini
memang jelas tampak pada televisi, film, dan rekaman suara. Media massa
19
lainnya, seperti surat kabar dan majalah, meskipun fungsi utamanya adalah
informasi dalam bentuk pemberitaan, rubrik- rubrik hiburan selalu ada, apakah itu
cerita pendek, cerita bersambung, atau cerita bergambar.
2. Information (Informasi)
Fungsi ini merupakan fungsi paling penting dari komunikasi massa. Komponen
paling penting untuk mengetahui fungsi informasi adalah berita-berita yang
disajikan. Fakta-fakta yang dicari wartawan di lapangan kemudian dituangkannya
dalam tulisan juga merupakan informasi. Fakta yang di maksud adalah adanya
kejadian yang benar-benar terjadi di masyarakat. Dalam istilah jurnalistik, faktafakta tersebut biasanya di ringkas dalam 5W + 1H (What, Where, Who, When,
Why + How)
3. Transmission of values (transmisi budaya)
Transmisi budaya merupakan salah satu fungsi komunikasi massa yang paling
luas, meskipun paling sedikit dibicarakan. Fungsi ini tidak terlalu terlihat dan
disebut juga sosialisasi. Sosialisasi mengacu kepada cara, dimana individu
mengadopsi perilaku dan nilai sekelompok. Media massa memperlihatkan kepada
kita bagaimana mereka mewakili kita dengan model peran yang kita amati dan
harapan untuk menirunya. Transmisi budaya tidak dapat diletakkan selalu hadir
dalam berbagai bentuk komunikasi yang mempunyai dampak pada penerimaan
individu. Demikian juga, beberapa bentuk komunikasi menjadi bagian dari
pengalaman dan pengetahuan individu. Melalui individu, komunikasi menjadi
bagian dari pengalaman kolektif kelompok, publik, audience, berbagai jenis, dan
individu bagian dari suatu massa.
4. Persuasive (persuasif)
Fungsi persuasif komunikasi massa tidak kalah pentingnya dengan fungsi lainnya.
Banyak bentuk tulisan yang kalau diperhatikan sekilah hanya berupa informasi,
tetapi jika diperhatikan seksama ternyata memiliki fungsi persuasif. Bagi Josep A.
DeVito (1997) fungsi persuasi dianggap sebagai fungsi yang paling penting dari
komunikasi massa. Persuasi bisa datang dari berbagai macam bentuk : 1)
mengkukuhkan atau memperkuat sikap, kepercayaan, atau nilai seseorang, 2)
mengubah sikap, kepercayaan, atau nilai seseorang, 3) menggerakkan seseorang
untuk melakukan sesuatu, dan 4) memperkenalkan etika, atau menawarkan sistem
20
nilai tertentu. Media massa seringkali membuat atau mengkukuhkan nilai-nilai
yang sudah kita yakini sebelumnya. Media massa juga mampu menggerakkan
seseorang untuk berbuat sesuatu hal dan tidak berbuat hal lain.
5. Surveillance (Pengawasan)
Fungsi pengawasan dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu:
a. Pengawasan Peringatan (Warning or Beware Surveillance)
Fungsi ini terjadi ketika media massa menginformasikan tentang ancaman dari
angin topan, meletusnya gunung berapi, kondisi efek yang memprihatinkan,
tayangan inflasi, atau adanya serangan militer. Peringatan ini dengan serta merta
dapat menjadi ancaman. Kendati banyak informasi yang menjadi peringatan atau
ancaman serius bagi masyarakat yang dimuat oleh media, banyak pula orang yang
tidak mengetahui tentang ancaman itu.
b. Pengawasan Instrumental (Instrumental Surveillance)
Fungsi ini merupakan penyampaian atau penyebaran informasi yang memiliki
kegunaan atau dapat membantu khalayak dalam kehidupan sehari-hari. Berita
tentang film apa yang sedang diputar dalam kehidupan sehari-hari. Berita tentang
film apa yang sedang diputar di bioskop, bagaimana harga saham-saham di bursa
efek, produk-produk baru dan sebagainya, adalah contoh-contoh pengawasan
instrumental.
2.3. Media Massa
Media massa adalah alat yang di gunakan dalam penyampaian pesan dari
sumber kepada khalayak (penerima) dengan menggunakan alat-alat komunikasi
mekanis seperti surat kabar, film, radio, dan televisi (Cangara, 2008).
Media massa adalah alat-alat dalam komunikasi yang bisa menyebarkan pesab
secara serempak, cepat kepada audiens yang luas dan heterogen. Kelebihan media
massa dibanding dengan jenis komunikasi lain adalah ia bisa mengatasi hambatan
ruang dan waktu. Bahkan media massa mampu menyebarkan pesan hampir seketika
pada waktu yang tak terbatas (Nurudin, 2013).
21
2.3.1. Jenis Media Massa
Media massa pada umumnya dibagi menjadi dua jenis yaitu media cetak dan
media elektronik. Media cetak terdiri dari surat kabar dan majalah sedangkan media
elektronik berupa siaran radio dan televisi (Ardianto,2007).
a. Media Cetak
Media Cetak adalah suatu media yang statis dimana media ini mengutamakan
fungsinya sebagai media penyampaian informasi. Media cetak terdiri dari lembaran
dengan sejumlah kata, gambar, foto dalam tata warna dan halaman putih, dengan
fungsi utama untuk memberikan informasi atau menghibur. Media cetak adalah suatu
dokumen yang dapat dikatakan oleh orang lain dan rekaman suatu peristiwa yang
dilakukan oleh jurnalis dan diubah dalam bentuk kata-kata, gambar, dan foto.
b. Media Elektronik
Media elektronik terdiri dari :
1. Radio
Radio merupakan media massa elektronik tertua dan paling fleksibel. Radio bisa
didengarkan dimana saja dan kapan saja. Fungsi radio adalah memberikan
informasi, menghibur, mendidik, dan melakukan persuasi.
2. Televisi
Televisi adalah sebuah media telekomunikasi terkenal yang berfungsi sebagai
penerima siaran gambar yang bergerak beserta suara, baik itu monochrome
(hitam-putih) maupun berwarna.
2.3.2. Efek Kehadiran Media Massa
Menurut Steven M. Chaffee, media massa mempunyai efek yang berkaitan
dengan perubahan sikap, perasaan dan perilaku Dampak Pesan Media dalam proses
komunikasi, pesan dalam media massa dapat menerpa seseorang baik secara
langsung maupun tidak langsung, secara sengaja maupun tidak sengaja,. Oleh karena
itu Stamm menyatakan “efek komunikasi massa terdiri atas primary effect (efek
primer) dan secondary effect (efek sekunder) (Stamm & Bowes, 1990). Efek primer
adalah efek media massa pda khalayak pada tataran terpaan, perhatian dan
pemahaman. Efek sekunder yaitu efek yang pada perubahan tingkat kognitif
(pengetahuan dan sikap) dan perubahan perilaku (menerima dan memilih). Steven M.
22
Chaffee dalam (Ardianto, 2007) mengungkapkan ada 5 jenis efek kehadiran media
massa sebagai benda fisik, yaitu :
a. Efek Ekonomi
Kehadiran Media Massa ditengah kehidupan dapat menumbuhkan berbagai
usaha produksi, distribusi, dan konsumsi jasa media massa.
b. Efek Sosial
Efek Sosial berkaitan dengan perubahan pada struktur atau interaksi sosial
sebagai akibat dari kehadiran media massa. Sebagai contoh, misalnya kehadiran
televisi dapat meningkatkan status sosial dari pemiliknya.
c. Penjadwalan Kegiatan Sehari-hari.
Hadirnya acara-acara televisi umumnya mengubah kegiatan sehari-hari
orang-orang, misalnya masyarakat kota sebelum ke kantor pada umumnya membaca
koran terlebih dahulu.
d. Efek Hilangnya Perasaan Tidak Nyaman
Orang menggunakan media untuk memuaskan kebutuhan psikologinya
dengan tujuan untuk menghilangkan perasaan tidak nyaman, misalnya untuk
menghilangkan perasaan kesepian, marah, kesal, kecewa dan sebagainya.
e. Efek Menumbuhkan perasaan tertentu
Kehadiran Media Massa bukan saja dapat menghilangkan perasaan tidak
nyaman pada diri seseorang, tetapi dapat juga menumbuhkan perasaan tertentu.
Terkadang, seseorang akan mempunyai perasaan positif atau Negatif.
Sedangkan Donald K. Robert mengungkapakan “efek hanyalah perubahan
perilaku manusia setelah diterpa pesan media massa”. Oleh karena itu fokusnya
adalah pesan, maka efek harus berkaitan dengan pesan yang disampaikan oleh media
massa (Vera, 2010).
1. Efek Media Massa Sebagai Objek Fisik
Menurut Steven M. Chaffee, efek media massa dapat dilihat dari dua pendekatan.
Pendekatan pertama adalah efek dari media massa yang berkaitan dengan pesan
ataupun media itu sendiri. Pendekatan kedua adalah dengan melihat jenis
perubahan yang terjadi pada diri khalayak komunikasi massa yang berupa
perubahan sikap, perasaan dan perilaku atau dengan istilah lain dikenal sebagai
23
observasi terhadap khalayak (individu, kelompok, organisasi, masyarakat atau
bangsa) yang dikenal sebagai efek komunikasi massa (Ardianto, Komala, &
Karlinah, 2007).
Adapun efek pesan media massa meliputi dampak kognitif, dampak afektif
serta dampak konatif.
a. Dampak Kognitif
Dalam dampak kognitif ini akan membahas bagaimana media massa dapat
membantu khalayak dalam mempelajari informasi yang bermanfaat dan
mengembangkan keterampilan kognitifnya.
Dampak prososial kognitif adalah bagaimana media massa memberikan
manfaat yang dikehendaki oleh masyarakat. Bila televisi menyebabkan kita
lebih mengerti mengenai bagaimana bahasa Indonesia yang baik dan benar,
maka televisi telah menimbulkan efek prososial kognitif.
b. Dampak Afektif
Ketika dampak kognitif hanya sampai pada tahap pengetahuan, maka dampak
afektif sudah melibatkan perasaan atau emosi.Dampak ini kadarnya lebih tinggi
daripada dampak kognitif. Tujuan dari komunikasi massa bukan sekedar
memberitahu khalayak tentang sesuatu, tetapi lebih dari itu, khalayak
diharapkan dapat turut merasakan perasaan iba, terharu, sedih, senang dan
sebagainya.
c. Dampak Konatif
Dampak pesan media massa yang berupa pola-pola tindakan, kegiatan atau
perilaku yang dapat diamati, adalah dampak pesan media massa yang telah
sampai pada tahap konatif. Dampak ini timbul pada diri khalayak dalam bentuk
perilaku, tindakan atau kegiatan.
2. Efek Sosial Media Massa
Media massa secara pasti mempengaruhi pemikiran dan tindakan khalayak. Media
membentuk opini public untuk membawakannya pada perubahan yang signifikan.
Dominick menyebutkan mengenai dampak komunikasi massa pada pengetahuan,
persepsi dan sikap orang-orang. Media massa, terutama televisi yang menjadi
agen sosialisasi (penyebaran nilai-nilai) memainkan peranan penting dalam
transmisi sikap, persepsi dan kepercayaan (Nurudin, 2007).
24
2.4. Karakteristik Televisi
Didalam buku Ardianto, Komala & Karlinah (2007) terdapat tiga macam
karakteristik televisi yaitu :
1. Audiovisual
Televisi memiliki kelebihan, yakni dapat di dengar sekaligus dapat dilihat
(audiovisual). Jadi apabila khalayak radio siaran hanya mendengar kata-kata,
musik dan efek suara, maka khalayak televisi dapat melihat gambar yang
bergerak. Namun demikian, tidak berarti gambar lebih penting dari kata-kata,
keduanya harus ada kesesuaian secara harmonis. Betapa menjengkelkan bila acara
televisi hanya terlihat gambarnya tanpa suara, atau suara tanpa gambar.
2. Berpikir dalam gambar
Ada dua tahap yang dilakukan dalam proses berpikir dalam gambar. Pertama
adalah
visualisasi
(vizualization)
yakni
menerjemahkan
kata-kata
yang
mengandung gagasan yang menjadi gambar secara individual. Kedua,
penggambaran
(picturization)
yakni
kegiatan
merangkai
gambar-gambar
individual sedemikian rupa sehingga kontinuitasnya mengandung makna tertentu.
3. Pengoperasian lebih kompleks
Dibandingkan dengan radio, pengoperasian televisi siaran jauh lebih kompleks,
dan lebih banyak melibatkan orang. Peralatan yang digunakanpun lebih banyak
dan untuk mengoprasikannya lebih rumit dan harus dilakukan oleh orang-orang
yang terampil dan terlatih.
2.4.1. Program Televisi
Menurut Morissan (2008) program televisi dibagi menjadi dua bagian yaitu :
1. Program Informasi
Program informasi adalah program yang memberikan banyak informasi dan
memiliki rasa ingin tahu untuk menarik sebanyak mungkin audiens. Program
informasi ini termasuk jenis siaran yang bertujuan untuk memberikan tambahan
pengetahuan (informasi) kepada khalayak audien, daya tarik dari jenis program ini
adalah informasi, dan informasi itulah yang “dijual” kepada audien. Program
informasi dapat dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu :
25
a. Berita keras (Hard News)
Berita keras atau hard news adalah segala informasi penting dan menarik
yang harus segera disiarkan oleh media penyiaran karena sifatnya yang harus segera
ditayangkan agar dapat diketahuickhalayak audien secepatnya. Berita keras dapat
dibagi menjadi ke dalam beberapa bentuk yaitu :
1. Straight News
Straight News berarti berita langsung (straight), maksudnya suatu berita yang
singkat (tidak detail) dengan hanya menyajikan informasi terpenting saja yang
mencangkup 5W+1H (who, what, where, when, why, dan how) terhadap suatu
peristiwa yang diberitakan. Berita jenis ini sangat terkait waktu (deadline)
karena informasinya sangat cepat basi jika terlambat disampaikan kepada
audien.
2. Feature
Program berita yang menampilkan berita-berita ringan seperti liputan mengenai
tempat makan yang enak atau tempat liburan yang menarik. Feature merupakan
berita ringan yang dikemas dengan menarik. Menarik di sini berarti memiliki
informasi yang lucu, unik, aneh dan dapat menimbulkan kekaguman. Berita
semacam ini dapat dikatakan sebagai softnews, namun karena tidak terikat
dengan waktu penayangan, dan memiliki durasi yang pendek (kurang dari lima
menit), feature menjadi bagian dari hard news.
3. Infotainment
Infotainment berasal dari dua kata, yaitu information yang berarti informasi
dan entertainment yang berarti hiburan, namun infotainment bukanlah berita
hiburan atau berita yang memberikan hiburan. Infotainment adalah berita yang
mneyajikan informasi mengenai kehidupan orang-orang yang dikenal
masyarakat dan merupakan salah satu bentuk berita keras karena memuat
informasi yang harus segera ditayangkan.
b. Berita Lunak (Soft News)
Berita lunak atau soft news adalah segala informasi yang penting dan
menarik yang disampaikan secara mendalam (indepth) namun tidak bersifat harus
segera ditayangkan. Program yang masuk dalam kategori berita lunak ini adalah :
26
1. Current Affair
Current affair adalah ‘persoalan kekinian’. Current affair ialah program
yang muncul sebelumnya namun dibuat secara lengkap dan mendalam.
Dengan demikian current affair cukup terikat dengan waktu dalam hal
penayangan namun tidak seketat hard news. Batasannya adalah bahwa
selama isu yang dibahas masih mendapat perhatian khalayak, maka current
affair dapat disajikan.
2. Magazine
Nama magazine digunakan karena topik atau tema yang disajikan mirip
dengan topik-topik atau tema yang terdapat dalam suatu majalah
(magazine). Magazine adalah program yang menampilkan informasi ringan
namun mendalam atau dengan kata lain magazine adalah feature
dengandurasi yang lebih panjang. Magazine ditayangkan sendiri pada
program tersendiri yang terpisah dari program berita.
3. Dokumenter
Dokumenter adalah program informasi yang bertujuan untuk pembelajaran
dan pendidikan, namun disajikan dengan menarik. Misalnya program
dokumenter yang menceritakan mengenai suatu tempat, kehidupan atau
sejarah seorang tokoh, atau kehidupan atau sejarah suatu masyarakat
(misalnya suku terasing) atau kehidupan hewan di padang rumput dan
sebagainya.
4. Talk Show
Program talk show atau perbincangan adalah program yang menampilkan
satu atau beberapa orang untuk membahas topik tertentu yang dipandu oleh
seorang pembawa acara (host). Mereka yang diundang adalah orang-orang
yang berpengalaman langsung dengan peristiwa atau topik yang
diperbincangkan atau mereka yang ahli dalam masalah yang tengah dibahas.
2. Program Hiburan
Program hiburan adalah segala bentuk siaran yang bertujuan untuk
menghibur audien dalam bentuk musik, lagu, cerita, dan permainan. Program yang
27
termasuk dalam kategori hiburan adalah drama, permainan (game), musik, dan
pertunjukan.
2.5. Program Dokumenter
Menurut Wibowo (2009) Program dokumenter adalah program yang
menyajikan suatu kenyataan berdasarkan pada fakta objektif yang memiliki nilai
esensial dan eksistensial, artinya menyangkut kehidupan, lingkungan hidup dan
situasi nyata. Program dokumenter berusaha menyajikan sesuatu sebagaimana
adanya, meskipun tentu saja menyajikan sesuatu secara objektif itu hampir tidak
mungkin.
Menurut Gerzon.R.Ayawaila (2008) Dokumenter Televisi secara umum
cerita non fiksi dalam format siaran televisi, merupakan gaya bertutur jurnalistik
yang dibagi dalam 5 kategori :
1. Berita Aktual (Reportase)
Bentuk ini dipakai dalam laporan berita report/news. Sebagai contoh pada acaran
siaran televisi swasta, Liputan 6, Seputar Indonesia. Dimana ditayangkan sejumlah
reportase dokumenter berdurasi pendek dari beberapa peristiwa.
2. Feature
Suatu bentuk dokumenter berita yang menyuguhkan suatu tema / topik tertentu,
dengan mengadakan wawancara, dilengkapi dengan komentar atau narasi.
3. Magazine
Ini merupakan suatu paket berita pada acara televisi, yang menyuguhkan minimal 3
tema/topik. Magazine atau biasanya disebut majalah udara pada radio, adalah
gabungan uraian fakta dan opini, yang dirangkai dalam satu mata acara.
4. Dokumenter Televisi
Suatu tema / topik tertentu, disuguhkan dengan gaya bercerita sesuai dengan
keinginan pembuatnya. Memakai narasi dan ilustrasi musik sebagai penunjang
gambar visual picture story. Perbedaan dokumenter dan reportase ialah dokumenter
menampilkan suatu peristiwa tidak secara garis besarnya saja, seperti haya reportase.
Dokumenter televisi memiliki nuansa serta orientasi luas, dari mulai sebab sampai
28
akibat, serta proses kejadian atau peristiwa dari tema tersebut sampai hal ini sama
dengan dokumenter film
5. Dokumenter Seri
Suatu penyuntingan dokumenter berdurasi panjang, dibagi dalam beberapa sub tema
atau episode. Di dalam dokumenter seri sebuah tema disuguhkan dengan memakai
gaya bertutur suatu perbandingan atau kontradiksi. Contoh : tema ‘kriminalitas’,
dalam setiap seri diambil kasus-kasus kriminalitas dari beberapa daerah atau negara.
Dari penjelasan tentang program dokumenter diatas maka program Indonesia
Membangun di TVRI termasuk pada jenis program dokumenter feature karena
program ini sifatnya menyajikan tayangan sesuai dengan kenyataan tentang apa yang
terjadi lalu diikuti dengan narasi dan ada wawancara dengan narasumber dari daerah
yang diliputnya.
2.6. Strategi Programming
Eastman dan Ferguson (2009) mengatakan bahwa “The processes of
selecting, scheduling, promoting, and evaluating programs define the work of a
programmer.”Artinya, tugas seorang programmer adalah memilih, menjadwalkan,
mempromosikan dan mengevaluasi.
“Programming can be seen as largely a matter of choosing materials and
building a schedule. These two processes followed by promotion and evaluation”.
Programming dapat dilihat sebagai kegiatan memilih materi acara dan mengatur
jadwalnya. Kedua proses ini diikuti dengan promosi dan evaluasi. (Eastman dan
Fergusson, 2009).
Strategi Programming terdiri dari empat bagian, yaitu :
a. Selection
Menurut Eastman dan Ferguson (2009) Proses selection atau pemilihan dalam
sebuah program dipengaruhi oleh beberapa unsur yaitu, yaitu :
-
Audience Habits, yaitu kebiasaan penonton. Dalam membuat sebuah
program, pembuat program harus mengetahui apa yang ingin dilihat
penonton, hal apa yang dapat menarik mereka untuk menonton, kegiatan
29
rutin yang umumnya dilakukan penonton pada jam-jam tertentu untuk
menentukan jenis acara yang akan disiarkan.
-
Cost, yaitu harga pembuatan program.
-
Compatibility, yaitu memilih konten-konten yang sesuai untuk
dimasukkan ke dalam acara.
-
Talent availability, yaitu ketersediaan pengisi acara untuk membawakan
acara.
-
Differentiation, yaitu apa yang membedakan acara tersebut dari acara
lain yang sejenis atau dari acara lain secara keseluruhan.
-
Trendiness, yaitu seberapa populer acara tersebut nantinya.
-
Novelty, yaitu unsur kebaruan dalam acara, apakah jenis acaranya sudah
umum atau belum.
b. Schedulling
Menurut Eastman dan Fergusson (2009) Dalam schedulling, hal yang harus di
perhatikan adalah
-
Hammocking adalah menempatkan program di antara dua program yang
sudah lebih terkenal agar dapat dilihat penonton.
-
Blocking adalah jam penempatan program.
-
Compatibility adalah kesesuaian materi program dengan jam tayangnya.
-
Ranking, tingkat popularitas acara yang ditampilkan, bila acara tersebut
semakin populer kemungkinan akan ada pergantian jadwal tayang ke
jam prime-time atau waktu lain di mana penonton banyak menonton
televisi.
-
Inherited viewing, seberapa banyak penonton yang menonton suatu
program karena melanjutkan menonton siaran di channel yang sama.
-
Competition, saingan acara dari channel lain yang ditampilkan di
program yang sama.
c. Promotion
Eastman dan Fergusson (2009) menyebutkan hal-hal yang harus diperhatikan
dalam promosi :
-
Clutter, adalah seberapa besar pengaruh iklan terhadap konsumen setiap
harinya.
30
-
Location, yaitu di mana saja atau di media apa saja iklan ditempatkan.
-
Frequency, adalah seberapa sering iklan ditampilkan di media-media
tersebut.
-
Construction, adalah konstruksi dari iklan.
-
Distance, adalah jarak antara penyebaran iklan program dengan waktu
tayang program.
-
Familiarity, adalah keakraban penonton dengan program yang
dipromosikan. Apakah penonton mengenal program tersebut atau tidak.
d. Evaluation
Menurut Eastman dan Fergusson (2009) Evaluasi adalah tahap di mana
pembuat program menilai efektivitas dari ketiga tahap yang digunakan. Penilaian
dilakukan menggunakan tingginya rating acara atau langkah-langkah lain, yang
kemudian di tafsirkan oleh sang pembuat program. Misalnya, bila rating acara
tersebut rendah, adakah hal yang membuatnya demikian, atau bila rating acara
tersebut tinggi, apa yang harus dilakukan untuk mempertahankannya. Evaluasi dapat
menghasilkan revisi bila ada strategi yang dianggap tidak efektif. Revisi tersebut bisa
mengenai materi acara, penjadwalan ulang program, atau modifikasi dalam cara
promosi program.
31
2.7.
Kerangka Pikiran
Gambar 2.1. Kerangka Pikiran
Dari kerangka pikiran diatas, penulis akan menganalisis ke empat unsur strategi
programming yang terdiri dari Selection, Schedulling, Promotion dan Evaluation
yang mempengaruhi Program “Indonesia Membangun” di TVRI.
Download