Pengisian SPT Tahunan PPh Orang Pribadi Tahun Pajak 2012

advertisement
Kementerian Keuangan RI
Direktorat Jenderal Pajak
PJ.091/PL/S/006/2014-00
Apa yang dimaksud Emas Perhiasan?
• Emas perhiasan adalah perhiasan dalam
bentuk apapun yang bahannya sebagian
atau seluruhnya dari emas dan logam mulia
lainnya yaitu perak dan platina, maupun
kombinasi di antaranya, termasuk yang
dilengkapi dengan batu permata dan/atau
bahan lain yang melekat atau terkandung
dalam emas perhiasan tersebut.
Siapa yang tergolong Pedagang
Emas Perhiasan?
• Pedagang Emas Perhiasan adalah
Pengusaha
yang
semata-mata
melakukan kegiatan jual beli Emas
Perhiasan.
Kegiatan Usaha Emas Perhiasan
• Membuat dan menjual emas perhiasan;
• Membuat emas perhiasan berdasarkan pesanan;
• Menyuruh orang lain untuk membuat emas
perhiasan yang akan dijual;
• Jual beli emas perhiasan;
• Jual beli emas perhiasan dengan batu permata;
• Memperbaiki dan memodifikasi emas perhiasan;
• Jasa-jasa lain yang berkaitan dengan emas perhiasan.
PPN dan PPnBM
PPh Pasal 21
Pasal 23
PPh Pasal 25/29
• Usaha Utama:
• Penjualan
Eceran
Emas
Perhiasan
• Penjualan
Emas Koin
• Jasa pencucian
dan perbaikan
perhiasan
• Usaha
Sampingan:
• Persewaan
Harta Bergerak
• Persewaan
Harta
Tidak
Bergerak
• Usaha Lain:
• Perdagangan
• Jasa
• Industri
• Kegiatan
Membangun
Sendiri
• Atas
Gaji
Pegawai
• Atas Gaji Bukan
Pegawai
• Atas
Sewa
Barang Bergerak
• Usaha utama:
• Penjualan
Eceran
Emas
Perhiasan
• Penjualan
Emas Batangan
• Penjualan
Emas Koin
• Jasa Pencucian
dan Perbaikan
Emas
Perhiasan
• Usaha
sampingan:
• Persewaan
harta bergerak
• Usaha Lain:
• Perdagangan
• Jasa
• Industri
PPh Pasal 4 ayat
(2)
• Atas sewa tanah
dan bangunan
• Atas
jasa
konstruksi
apabila
ada
pembangunan
rumah
• Atas penghasilan
dari usaha yang
diterima
atau
diperoleh
WP
yang
memiliki
peredaran bruto
tertentu
(PP
Nomor 46 Tahun
2013)
Pengantar
• Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
adalah pajak yang dikenakan atas
penyerahan Barang Kena Pajak
(BKP) dan/atau Jasa Kena Pajak
(JKP) di dalam daerah pabean.
Termasuk dalam kategori ini adalah
penyerahan atas emas perhiasan
oleh pengusaha emas perhiasan
Pengusaha Emas
Perhiasan
Pabrikan Emas
Perhiasan
Pengusaha yang Menghasilkan
Emas Perhiasan dan melakukan
kegiatan antara lain jual beli, jasa
perbaikan/modifikasi, dan/atau
jasa lain yang berkaitan dengan
Emas Perhiasan
Pedagang Emas
Perhiasan
Pengusaha yang semata-mata
melakukan kegiatan jual beli
Emas Perhiasan
Dasar Pengenaan Pajak
(DPP) PPN
atas
Usaha Emas Perhiasan
Nilai
Lain
yang
ditetapkan sebesar 20%
(dua puluh persen) dari
harga
jual
Emas
Perhiasan
atau
nilai
penggantian.
20% dari selisih antara
Harga
Jual
Emas
Perhiasan
dikurangi
dengan
harga
emas
batangan kadar 24 karat
yang terkandung dalam
emas perhiasan tersebut.
Pasal 4 PMK Nomor 30/PMK.03/2014
Pajak Masukan yang berhubungan
dengan penyerahan Emas Perhiasan
dan/atau jasa yang terkait dengan Emas
Perhiasan oleh Pengusaha Emas
Perhiasan tidak dapat dikreditkan.
Pasal 5 PMK Nomor 30/PMK.03/2014
Tarif PPN
•sebesar 10% dari Dasar
Pengenaan Pajak.
Pasal 3 PMK Nomor 30/PMK.03/2014
Yang perlu diperhatikan
• Pajak Masukan yang berhubungan dengan penyerahan Emas Perhiasan dan/atau jasa
yang terkait dengan Emas Perhiasan oleh Pengusaha Emas Perhiasan tidak dapat
dikreditkan;
• Pengusaha Emas Perhiasan diwajibkan melaporkan usahanya ke KPP untuk dikukuhkan
menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP);
• Kewajiban tersebut berlaku juga bagi Pengusaha Emas yang memenuhi kriteria sebagai
Pengusaha Kecil;
• Pengusaha Emas Perhiasan yang telah dikukuhkan sebagai PKP wajib membuat Faktur
Pajak atas penyerahan Emas Perhiasan dan/atau jasa yang terkait dengan Emas
Perhiasan;
• Pengusaha Emas Perhiasan yang menggunakan mekanisme pengkreditan Pajak
Masukan dan Pajak Keluaran, wajib menggunakan media Surat Pemberitahuan (SPT)
Masa PPN dalam sarana pengadministrasiannya.
Pajak
Pasal 6 ayat (2) PMK Nomor 30/PMk.03/2014
PENYETORAN & PELAPORAN
• Penyetoran paling lambat akhir bulan
berikutnya sebelum pelaporan SPT Masa
• Kode MAP 411211 KJS 100
 Pelaporan :
 Form SPT Masa PPN 1111 untuk yg menggunakan
mekanisme PK-PM (mulai Maret 2014)
 Batas waktu pelaporan : akhir bulan berikutnya
SANKSI
• Terlambat atau tidak melaporkan SPT Masa PPN
 Sanksi administrasi : denda Rp. 500.000,00
• Kurang atau tidak menyetorkan PPN
 Sanksi administrasi : bunga 2% per bulan dari
pajak yang kurang atau tidak disetor
Pengusaha toko emas perhiasan
Omzet tidak lebih dari
Rp4,8M dalam 1 Tahun
Ketentuan WP dengan
Peredaran Bruto
Tertentu
(PP No. 46 Tahun 2013)
PPh
Ketentuan
WP OPPT
(PER-32/PJ/2010)
Omzet lebih dari Rp4,8M
dalam 1 Tahun
Aspek Perpajakan PPh
1.Pengusaha toko emas perhiasan sebagai WP
Yang Memperoleh Penghasilan dari Kegiatan
Usaha
a. Peredaran bruto tidak melebihi Rp4,8 miliar dalam 1
tahun.
• Peredaran bruto dihitung dengan menjumlahkan
omzet dari seluruh lokasi usaha;
• Tarifnya 1% dari jumlah peredaran bruto setiap bulan
dari setiap tempat usaha;
• PPh terutang dihitung berdasarkan tarif 1% dikalikan
Dasar Pengenaan Pajak (DPP) yaitu jumlah
peredaran bruto setiap bulan dari setiap tempat
usaha, bersifat final.
PP Nomor 46 Tahun 2013 & PMK Nomor 107/PMK.011/2013
PENYETORAN & PELAPORAN
PPh Pasal 4 ayat (2)
 Setoran bulanan merupakan PPh Pasal 4 ayat (2),
bukan PPh Pasal 25.
 Jika penghasilan semata-mata dikenai PPh final,
tidak wajib PPh Pasal 25.
 Jika ada penghasilan lain selain yang dikenai PPh
Pasal 4 ayat (2) sesuai ketentuan PP ini, maka atas
penghasilan tersebut dikenai PPh sesuai dengan
ketentuan umum.
 Jika ada angsuran PPh Pasal 25 atau PPh yang
dipotong/dipungut pihak lain boleh dikreditkan
terhadap PPh terutang tahun pajak ybs. kecuali
untuk penghasilan yang pengenaan pajaknya
bersifat final.
Angsuran Masa
Angsuran pajak pada Tahun Pajak pertama Wajib Pajak
tidak dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final:
 bagi Wajib Pajak bank, BUMN, BUMD, Wajib Pajak
masuk bursa, dan Wajib Pajak lainnya yang harus
membuat laporan keuangan berkala, dan WP OPPT
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (7) huruf
b dan huruf c UU PPh; dan
 bagi selain Wajib Pajak di atas, angsuran pajak
diperlakukan seperti Wajib Pajak Baru sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 25 ayat (7) huruf a UU PPh,
besaran angsuran pajak adalah sesuai dengan besarnya
angsuran pajak sebagaimana diatur dalam PMK
255/PMK.03/2008 std PMK 208/PMK.03/2009.
Cara Pembayaran Pajak
Wajib Pajak
melalui:
dapat
melakukan
Pembayaran
Pajak
1. Loket Bank/Pos Persepsi (Agustus 2013)
a.Wajib Pajak datang ke Loket Bank/Pos Persepsi
dengan membawa SSP yang telah diisi.
b.Bukti Pembayaran adalah dokumen Bukti Penerimaan
Negara (BPN).
2. Anjungan Tunai Mandiri (ATM) (November 2013 cfm PER37/PJ/2013)
a. Wajib Pajak datang ke ATM Bank/Pos Persepsi dan
memilih menu pembayaran “PPh Final Bruto Tertentu”.
b. Bukti Pembayaran adalah Struk ATM.
Simulasi Pengisian SSP
0 4 1
4 2 0
PPh Pasal 4 ayat (2) Bulan Agustus 2013
Diisi dengan:
• Kode Akun
Pajak 411128
(Untuk Jenis
Pajak PPh Final)
dan
• Kode Jenis
Setoran 420
(untuk
pembayaran
PPh Final
peredaran bruto
tertentu)
Pengisian SPT Tahunan PPh
Wajib Pajak Orang Pribadi
Diisi dengan Jumlah PPh
Pasal 4 ayat (2) yang Telah
Disetor
Diisi Jumlah Peredaran Bruto
Selama Satu Tahun Pajak
FORMULIR
SPT TAHUNAN
1771
IDENTITAS
TAHUN PAJAK
PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN
PERHATIAN :
NPWP
:
NAMA WAJIB PAJAK
:
JENIS USAHA
:
NO. TELEPON
:
PERIODE PEMBUKUAN
:
• BERI TANDA "X" PADA
SPT PEMBETULAN
KE-…
(KOTAK PILIHAN) YANG SESUAI
KLU :
NO. FAKS :
-
-
s.d.
NEGARA DOMISILI KANTOR PUSAT (khusus BUT)
PEMBUKUAN / LAPORAN KEUANGAN
:
NAMA KANTOR AKUNTAN PUBLIK
:
NPWP KANTOR AKUNTAN PUBLIK
:
NAMA AKUNTAN PUBLIK
:
N P W P AKUNTAN PUBLIK
:
NAMA KANTOR KONSULTAN PAJAK
:
N P W P KANTOR KONSULTAN PAJAK
:
NAMA KONSULTAN PAJAK
:
NPWP KONSULTAN PAJAK
:
:
DIAUDIT
OPINI AKUNTAN
TIDAK DIAUDIT
A. PENGHASILAN
KENA PAJAK
B. PPh TERUTANG
C. KREDIT PAJAK
D. PPh KURANG/ LEBIH BAYAR
Pengisian SPT Tahunan
PPh Wajib Pajak Badan
RUPIAH *)
*) Pengisian kolom-kolom yang berisi nilai rupiah harus tanpa nilai desimal (contoh penulisan lihat buku petunjuk hal. 3)
(1)
2 0
• SEBELUM MENGISI, BACA DAHULU BUKU PETUNJUK PENGISIAN
• ISI DENGAN HURUF CETAK/DIKETIK DENGAN TINTA HITAM
KEMENTERIAN KEUANGAN RI
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
(2)
(3)
1.
PENGHASILAN NETO FISKAL
1
(Diisi dari Formulir 1771-I Nomor 8 Kolom 3) ………………………………………………………………….
2.
KOMPENSASI KERUGIAN FISKAL
(Diisi dari Lampiran Khusus 2A Jumlah Kolom 8)
3.
PENGHASILAN KENA PAJAK (1-2) ……...…..…………………………………….…………………..…………
4.
PPh TERUTANG (Pilih salah satu sesuai dengan dengan kriteria Wajib Pajak. Untuk lebih jelasnya, lihat Buku Petunjuk Pengisian SPT)
2
…………………………………
3
a.
Tarif PPh Ps. 17 ayat (1) Huruf b X Angka 3 ………….
b.
Tarif PPh Ps. 17 ayat (2b) X Angka 3 …………………….
c.
Tarif PPh Ps. 31E ayat (1)
4
(Lihat Buku Petunjuk)
5.
PENGEMBALIAN / PENGURANGAN KREDIT PAJAK LUAR NEGERI
5
(PPh Ps. 24) YANG TELAH DIPERHITUNGKAN TAHUN LALU ……………………………………….
6.
JUMLAH PPh TERUTANG (4 + 5) …..………………………………….…………………..…………
7.
PPh DITANGGUNG PEMERINTAH (Proyek Bantuan Luar Negeri) ……..………………..………………..………
8.
a.
KREDIT PAJAK DALAM NEGERI
8a
(Diisi dari Formulir 1771-III Jumlah Kolom 5) ……….……………..…....………………..………………..………………..……
b.
KREDIT PAJAK LUAR NEGERI
8b
(Diisi dari Lampiran Khusus 7A Jumlah Kolom 8) ……….………………..………………..………………..………………..…
6
7
8c
c. JUMLAH ( 8a + 8b ) ……...……………..….…………………………………………………………………………..………
9.
10.
11.
12.
13.
a.
PPh YANG HARUS DIBAYAR SENDIRI
b.
PPh YANG LEBIH DIPOTONG / DIPUNGUT
(6 – 7 – 8c)….
9
PPh YANG DIBAYAR SENDIRI
10a
a. PPh Ps. 25 BULANAN ….……..………………..…………………………………..…………………..…………
10b
b.
STP PPh Ps. 25 (Hanya Pokok Pajak) …….….…..……….…………………………………………………
c.
JUMLAH (10a + 10b) …….……………………...………………
a.
PPh YANG KURANG DIBAYAR (PPh Ps. 29)
b.
PPh YANG LEBIH DIBAYAR (PPh Ps. 28A)
(9 – 10c)…..
10c
11
PPh YANG KURANG DIBAYAR PADA ANGKA 11.a DISETOR TANGGAL ………
PPh YANG LEBIH DIBAYAR PADA ANGKA 11.b MOHON :
a.
DIRESTITUSIKAN
Khusus Restitusi untuk Wajib Pajak dengan Kriteria Tertentu :
TGL
b.
BLN
THN
DIPERHITUNGKAN DENGAN UTANG PAJAK
Pengembalian Pendahuluan (Pasal 17C atau Pasal 17D UU KUP)
Diisi dengan Jumlah PPh
Pasal 4 ayat (2) yang Telah
Disetor
Diisi Jumlah Peredaran Bruto
Selama Satu Tahun Pajak
Diisi dengan “Penghasilan
Usaha WP yang Memiliki
Peredaran Bruto Tertentu”
Penghasilan Usaha WP yang
Memiliki Peredaran Bruto Tertentu
CARA PEMBAYARAN PAJAK MELALUI ATM
DALAM RANGKA PELAKSANAAN PERATURAN
PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013
Cara Pembayaran Pajak
Contoh Menu Pembayaran Pajak PPh Final dengan
Peredaran Bruto Tertentu melalui ATM :
1. Pilih BAYAR / BELI
2. Pilih LAINNYA
Cara Pembayaran Pajak
Contoh Menu Pembayaran Pajak PPh Final dengan
Peredaran Bruto Tertentu melalui ATM :
1. Pilih PAJAK
2. Pilih PPh FINAL BRUTO TERTENTU
Cara Pembayaran Pajak
Contoh Menu Pembayaran Pajak PPh Final dengan
Peredaran Bruto Tertentu melalui ATM :
1. Masukkan NPWP
2. Konfirmasi NPWP
Cara Pembayaran Pajak
Contoh Menu Pembayaran Pajak PPh Final dengan
Peredaran Bruto Tertentu melalui ATM :
3. Masukkan Masa Pajak
4. Masukkan Pajak Terutang
Cara Pembayaran Pajak
Contoh Menu Pembayaran Pajak PPh Final dengan
Peredaran Bruto Tertentu melalui ATM:
2. Konfirmasi Pembayaran
Cara Pembayaran Pajak
Contoh Struk ATM Pembayaran Pajak PPh Final dengan
Peredaran Bruto Tertentu :
PPh PASAL 25 BAGI WP OP PENGUSAHA TERTENTU
b. Untuk peredaran bruto dari seluruh lokasi usaha yang
lebih dari Rp4,8 miliar dalam 1 tahun.
TARIF
0,75% dari jumlah peredaran bruto
setiap bulan dimasing-masing tempat usaha
Dibayar menggunakan
SSP dengan NPWP
terdaftar
Bank / Kantor Pos yang dapat
menerima pembayaran pajak
Merupakan kredit pajak atas
PPh terutang pada akhir Tahun
Pajak
• Penjelasan Pasal 25
ayat (7) huruf c UU
36/2008
• PMK Nomor
208/PMK.03/2009
• Per Dirjen Pajak
Nomor PER32/PJ/2010
PENYETORAN & PELAPORAN
PPh Pasal 25
• Penyetoran paling lambat tgl 15 bulan berikutnya
• Kode MAP 411125 KJS 101
 Pelaporan :
 Untuk WP yang melakukan pembayaran PPh Pasal
25 dan telah mendapatkan NTPN, SSP yang
disampaikan merupakan laporan SPT PPh Pasal 25.
 Untuk WP yang pembayaran PPh Pasal 25 = NIHIL, wajib
melaporkan SSP lembar ke-3 ke KPP/KP2KP
 Batas waktu pelaporan :
 Tanggal 20 bulan berikutnya
Perdirjen No 22/PJ/2008
SANKSI
• Terlambat atau tidak melaporkan SPT Masa
PPh Pasal 25 dan PPh Pasal 4 ayat (2)
 Sanksi administrasi : denda Rp.
100.000,00
• Kurang atau tidak menyetorkan PPh Pasal
25 dan PPh Pasal 4 ayat (2)
 Sanksi administrasi : bunga 2% per bulan
dari pajak yang kurang atau tidak disetor
PENYETORAN & PELAPORAN
SPT TAHUNAN
• Penyetoran PPh Pasal 29 khusus untuk WP
yang mempunyai penghasilan bruto melebihi
4,8 M dalam 1 tahun : paling lambat sebelum
menyampaikan SPT Tahunan PPh OP
• Kode MAP 411125 KJS 200
 Pelaporan : menggunakan formulir SPT Tahunan PPh OP Form
1770
 Batas waktu pelaporan : 31 Maret setelah akhir tahun pajak
2. Pengusaha toko emas perhiasan
Pemberi Kerja/Pengguna Jasa OP
sebagai
A. Kewajiban melakukan pemotongan PPh Pasal 21 atas karyawan yang
dipekerjakan.
Perhitungan :
Penghasilan Neto/gaji setahun
: Rp. XX.XXX.XXX
PTKP
: Rp. XX.XXX.XXX (-)
Penghasilan Kena Pajak
: Rp.
XXX.XXX
PPh Terutang (x%) selama 1 th
: Rp.
XX.XXX
PPh terutang perbulan (: 12 bulan) : Rp.
X.XXX
B. Kewajiban selaku pengguna Jasa oleh Orang Pribadi
Pengusaha toko emas yang menggunakan jasa pembuatan emas perhiasan
dari pihak lain (orang pribadi) wajib memotong PPh Pasal 21 atas jasa
tersebut.
Perhitungan :
Dasar Pengenaan = 50 % x Penghasilan Bruto (PER-31/PJ/2012)
Tarif
= Pasal 17 UU PPh
Jika penerima penghasilan tidak mempunyai NPWP tarif lebih tinggi 20%
PENYETORAN & PELAPORAN
PPh Pasal 21
• Penyetoran PPh Pasal 21 paling lambat tgl 15
bulan berikutnya
• Kode MAP 411121 KJS 100
 Pelaporan : menggunakan formulir SPT Masa 1721
 Batas waktu pelaporan : tanggal 20 bulan berikutnya
SANKSI
• Terlambat atau tidak melaporkan SPT Masa PPh
Pasal 21
 Sanksi administrasi : denda Rp. 100.000,00.
• Kurang atau tidak menyetorkan PPh Pasal 21
 Sanksi administrasi : bunga 2% per bulan dari
pajak yang kurang atau tidak disetor
3. Pengusaha toko emas perhiasan
sebagai
pengguna jasa dari pihak lain (WP Badan)
Kewajiban melakukan pemotongan PPh Pasal 23
atas pembayaran jasa kepada pihak lain (WP
Badan) contoh : jasa pembuatan perhiasan oleh
pihak lain
Perhitungan :
Dasar Pengenaan : Penghasilan Bruto
Tarif
: 2%
Jika pemberi jasa tidak mempunyai NPWP tarif
lebih tinggi 100% atau menjadi 4%
PENYETORAN & PELAPORAN
PPh Pasal 23
• Penyetoran PPh Pasal 23 paling lambat tgl 15
bulan berikutnya
• Kode MAP 411124 KJS 100
 Pelaporan : menggunakan formulir SPT Masa PPh Pasal
23 (JIKA ADA TRANSAKSI PEMBAYARAN JASA)
 Batas waktu pelaporan : tanggal 20 bulan berikutnya
SANKSI
• Terlambat atau tidak melaporkan SPT Masa PPh
Pasal 23
 Sanksi administrasi : denda Rp. 100.000,00.
• Kurang atau tidak menyetorkan PPh Pasal 23
 Sanksi administrasi : bunga 2% per bulan dari
pajak yang kurang atau tidak disetor
4. Pengusaha toko emas perhiasan
yang
melakukan sewa tempat kegiatan usaha
Kewajiban melakukan pemotongan PPh Pasal 4
ayat (2) atas pembayaran sewa tempat kegiatan
usaha
Perhitungan :
Dasar Pengenaan : Penghasilan Bruto
Tarif
: 10 % (FINAL)
PENYETORAN & PELAPORAN
PPh Pasal 4 ayat (2) selain terkait
PP No. 46 Tahun 2013
• Penyetoran PPh Pasal 4 ayat (2) paling lambat
tgl 15 bulan berikutnya
• Kode MAP 411128 KJS 403
 Pelaporan : menggunakan formulir SPT Masa PPh Pasal 4
ayat (2) (JIKA ADA TRANSAKSI /PEMBAYARAN SEWA)
 Batas waktu pelaporan : tanggal 20 bulan berikutnya
SANKSI
• Terlambat atau tidak melaporkan SPT Masa PPh
Pasal 4 ayat (2)
 Sanksi administrasi : denda Rp. 100.000,00
• Kurang atau tidak menyetorkan PPh Pasal 4 ayat (2)
 Sanksi administrasi : bunga 2% per bulan dari
pajak yang kurang atau tidak disetor
CARA PENGHITUNGAN PPN
PKP Usaha Kegiatan Tertentu
Contoh:
PKP Y seorang penjual emas perhiasan eceran, membeli emas perhiasan dari
PKP Z sebagai barang modal dengan harga beli Rp 15.000.000, kemudian PKP Y
menjual kembali emas perhiasan tersebut dengan harga jual Rp25.000.000
PPN yang dipungut PKP Z = 10% x Rp15.000.000 = Rp1.500.000
 PPN sebesar Rp1.500.000 tersebut merupakan Pajak Masukan (PM) bagi PKP
Y namun TIDAK DAPAT DIKREDITKAN.
PPN yang dipungut PKP Y dari pembeli emas di tokonya =10 %X Rp25.000.000
= Rp 2.500.000
Pajak Masukan yang dapat dikreditkan = 80% x Rp2.500.000 = Rp2.000.000
PPN yang harus dibayarkan ke Kas Negara= Rp2.500.000-Rp2.000.000=
Rp500.000
CARA PENGHITUNGAN PPh PASAL 25
Untuk peredaran bruto yang melebihi Rp4,8 miliar dalam 1 tahun.
Daftar Jumlah Penghasilan dan Pembayaran PPh Pasal 25
Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu
Nama
NPWP
: Dian Widyanto
: 48.999.666.2-035.000
Alamat
: Jalan Budhi No.20 Jakarta
Bulan
NPWP tempat
usaha KPP Lokasi
Alamat
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
48.999.666.2-035.001
48.999.666.2-035.001
48.999.666.2-035.001
48.999.666.2-035.001
48.999.666.2-035.001
48.999.666.2-035.001
48.999.666.2-035.001
48.999.666.2-035.001
48.999.666.2-035.001
48.999.666.2-035.001
48.999.666.2-035.001
48.999.666.2-035.001
Jalan Sakti No. 18 Jakarta
Jalan Sakti No. 18 Jakarta
Jalan Sakti No. 18 Jakarta
Jalan Sakti No. 18 Jakarta
Jalan Sakti No. 18 Jakarta
Jalan Sakti No. 18 Jakarta
Jalan Sakti No. 18 Jakarta
Jalan Sakti No. 18 Jakarta
Jalan Sakti No. 18 Jakarta
Jalan Sakti No. 18 Jakarta
Jalan Sakti No. 18 Jakarta
Jalan Sakti No. 18 Jakarta
Jumlah
Dian Widyanto
Dian Widyanto
Peredaran Bruto
Pedagang Pengecer
58,792,000
78,540,000
905,470,000
1,187,450,000
878,940,000
95,845,000
798,540,000
89,588,000
95,481,500
60,145,500
65,841,000
500,000,000
4,814,633,000
Angsuran PPh Pasal 25=
0,75% X Peredaran Bruto
setiap bulan
PPh Pasal 25
dibayar
440,940
589,050
6,791,025
8,905,875
6,592,050
718,838
5,989,050
671,910
716,111
451,091
493,808
3,750,000
36,109,748
PER-32/PJ/2010
CARA PENGHITUNGAN PPh Final
Untuk peredaran bruto yang tidak melebihi Rp4,8 miliar dalam 1 tahun.
PPh Final =
1% X Peredaran Bruto
setiap bulan
PP No. 46 Tahun 2013
Isilah SPT Masa dan
Tahunan Anda
dengan
 BENAR,
 LENGKAP, dan
 JELAS
Download