BERITA TERKINI Blonaserin – antipsikotik atipikal S kizofrenia merupakan psikosis atau gangguan jiwa berat dan bersifat kronik, kebanyakan terjadi pada usia dewasa muda. Pada pasien skizofrenia terjadi perubahan yang bersifat fluktuatif, kemunduran yang bersifat gradual, gangguan pola pikir yang bersifat permanen, dsb. Penyakit ini ditandai dengan adanya apa yang disebut gejala positif seperti: delusi, halusinasi, perilaku yang gaduh gelisah, dsb. serta gejala-gejala yang bersifat negatif seperti afek yang datar, gangguan dalam perilaku sosial, dsb. Sesuai DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition), sindrom skizofrenia ini harus terjadi dalam kurun waktu minimal 6 bulan, dan dengan gejala aktif yang muncul minimal 1 bulan dalam kurun waktu tersebut. Insidensi skizofrenia di USA diperkirakan mencapai 1% atau sekitar 3 juta orang dan pada tahun 1990 biaya penanganan gangguan tersebut baik yang berhubungan langsung maupun yang tidak langsung diperkirakan mencapai 33 milyar dolar US, atau sekitar 2,5% dari total anggaran kesehatan. Antipsikotik merupakan terapi medikamentosa yang merupakan salah satu pilar dalam penatalaksanaan pasien skizofrenia. Sampai saat ini secara umum antipsikotik dibedakan atas jenis tipikal dan atipikal. Blonaserin merupakan antipsikotik baru yang saat ini masuk fase pre-registrasi dan mempunyai mekanisme kerja terutama berinteraksi dengan reseptor dopamin D2 dan serotonin 5-HT2A ; studi pada hewan coba menunjukkan efek ekstrapiramidal yang lebih kecil daripada haloperidol. AD-6048 532 yang merupakan metabolit utama blonaserin pada dosis (0.3–10 mg/kg, p.o.) tidak bermakna dalam mempengaruhi gejalagejala ekstrapiramidal dibandingkan dengan haloperidol dosis (0.3–3 mg/kg, p.o.) yang secara bermakna meningkatkan katalepsi dan bradikinesia. Data preklinis tersebut menunjukkan bahwa blonaserin lebih rendah efek gejala ekstrapiramidalnya dibandingkan haloperidol. Studi klinis membandingkan blonaserin dengan halodperidol dan juga dengan plasebo pada 307 pasien skizofrenia akut, menunjukkan hasil baik. Dalam studi ini blonaserin atau plasebo diberikan selama 6 minggu. Studi ini bersifat multisenter, acak tersamar ganda. Parameter yang dipakai untuk melihat perkembangan terapi adalah dengan PANSS (Positive and Negative Syndrome Scale) dan CGI-S (Clinical Global Impression), serta parameter lainnya yang berhubungan dengan keamanan yaitu meliputi: efek samping, kejadian gejala ekstrapiramidal, kenyamanan penderita yang dinilai dua kali setiap minggu. Kelompok intervensi dibagi menjadi 5 kelompok yang masing-masing mendapat blonaserin 2,5 mg; 5 mg; 10 mg dan haloperidol 10 mg atau plasebo sekali sehari. Dari 307 pasien, sebanyak 228 (74.3%) pasien menyelesaikan penelitian. Besar nilai perbaikan PANSS pada minggu ke-6 secara bermakna lebih baik pada kelompok blonaserin. Blonaserin 10 mg sekali sehari menunjukkan efek yang superior jika dibandingkan dengan blonaserin 2.5 mg (−30,18 vs −20,6; p<0,001), dan blonaserin 5 superior jika dibandingkan dengan haloperidol. Dari profil keamanan, blonaserin secara umum ditoleransi dengan baik pada semua dosis, dan tidak didapatkan efek samping yang bermakna maupun efek peningkatan berat badan, hipotensi ortostatik, ataupun perpanjangan interval QT, maupun peningkatan hormon prolaktin. Penggunaan blonaserin juga tidak menimbulkan perubahan nilai laboratorium yang bermakna. Insidensi gejala ekstrapiramidal pada kelompok blonaserin juga lebih rendah, pada pasien yang mendapatkan blonaserin dengan dosis 10 mg angka kejadian EPS adalah sebesar 26,6% jika dibandingkan dengan haloperidol 10 mg sebesar 53,3%. Blonaserin efektif sebagai antipsikotik untuk terapi skizofrenia dan efeknya lebih baik jika dibandingkan dengan haloperidol. Secara umum blonaserin ditoleransi dengan baik, dan dalam hal efek hiperprolaktinemia dan gejala EPS, blonaserin kelihatannya lebih menguntungkan dibandingkan dengan haloperidol. (KTW) REFERENSI: 1. Garcia E, Robert M, Peris F et al. The Efficacy and Safety of Blonanserin Compared with Haloperidol in Acute-Phase Schizophrenia: A Randomized, Double-Blind, Placebo-Controlled, Multicentre Study. CNS Drugs 2009;23(7):61525. 2. Ohno Y, Okano M, Imaki J. et al. Atypical antipsychotic properties of blonanserin, a novel dopamine D2 and 5-HT2A antagonist. Pharmacol. Biochemistry and Behavior 2010. May. CDK 188 / vol. 38 no. 7 / November 2011