Modul Psikologi Pendidikan [TM4]

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
Psikologi Pendidikan
Proses informasi dalam belajar
Fakultas
Program Studi
Psikologi
Psikologi
Tatap Muka
04
Kode MK
Disusun Oleh
MK61022
Ainul Mardiah, M.Sc
Abstract
Kompetensi
Dalam perkuliah ini dibahas tentang
system pendekatan pemrosesan
informasi seperti: perhatian, ingatan,
pemahaman konseptual, metakognisi,
lupa, problem solving dan transfer
Mahasiswa mampu memahami system
pendekatan
pemrosesan
informasi
seperti: perhatian, ingatan, pemahaman
konseptual, metakognisi, lupa, problem
solving dan transfer
Proses informasi dalam belajar
I.
Sistem Pendekatan Pemrosesan Informasi
a. Informasi, ingatan, dan berpikir
Pendekatan pemrosesan informasi merupakan pendekatan kognitif di mana
seseorang memanipulasi informasi, memonitor, dan strategi tentang hal tersebut.
Pusat untuk pendekatan ini adalah proses kognitif, memori dan berpikir. Menurut
pendekatan pemrosesan informasi, anak-anak mengembangkan kapasitas
meningkatkan
secara
bertahap
untuk
pengolahan
informasi,
yang
memungkingkan mereka untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang
semakin kompleks.
Pendekatan behaviorisme tida mampu menjelaskan pembelajaran anak-anak
yang mengacu pada proses mental, seperti memori dan berpikir. Istilah psikologi
kognitif
menjadi label untuk pendekatan yang berusaha untuk menjelaskan
perilaku yang memeriksa proses mental.
b. Sumber kognitif: kapasistas dan kecepatan pengolahan informasi
Seiring anak tumbuh dan matang, pengalaman mereka pun bertambah, dan
kemampuan mereka memproses informasi juga bertambah, dipengaruhi oleh
kapasitas dan kecepatan pemrosesan informasi secara bersamaan. Kedua hal ini
disebut sebagai sumber daya kognitif (cognitive resource) yang memiliki
pengaruh dalam hal memory dan problem solving.
Faktor biologis dan pengalaman berkontribusi pada pertumbuhan sumber
daya kognitif (cognitive resource. Sebagai contoh: ketika anak-naka tumbuh
dan matang, perkembangan biologis penting terjadi dalam struktur otak, seperti
perubahan dalma lobus frontal, dan pada tingkat neuron, seperti berkembanya
dan pemangkasan koneksi antara neuron menghasilkan koneksi yang lebih kuat.
Psikolog bidang proses informasi berpendapat bahawa peningkatan dalam
kapasistas dan kecepatan akan mempengaruhi dalam proses informasi. Sebagai
contoh: meningkatnya kapasitas proses informasi pada anak, memungkinkan
mereka untuk dapat menyimpan dalam pikiran beberapa dimensi dari topic atau
masalah secara bersamaan, sedangkan anak yang lebih muda rentan untuk
fokus pada satu dimensi. Remaja dapat mendiskusikan bagaimana pengalaman
bapak bangsa, sementara anak usia dasar cenderung lebih fokus pada faktafakta sederhana tentang kehidupan sang pendiri.
2014
2
Psikologi Pendidikan
Ainul Mardiah, S.Psi, M.Sc
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Terdapat banyak bukti bahwa kecepatan anak dalam menyelesaikan tugas
meningkat secara tajam di masa kanak-kanak, sebagai contoh: anak-anak usia
8-13 tahun mengungkapkan bahwa kecepatan pemrosesan meningkat dengan
usia, perubahan perkembangan dalam kecepatan pemrosesan didahului oleh
peningkatan
kapasitas
peningkatan
kecepatan
memori.
Kontroversi
pemrosesan
adalah
muncul
karena
mengenai
apakah
pengalaman
atau
pematangan biologis. Pengalaman jelas memainkan peranan penting. Pikiran
cepat anda memproses jawaban untuk masalah aritmatika sederhana sebagai
seorang remaja daripada sebagai seorang anak.
c. Mekanisme perubahan
Menurut Robert Siegler, tiga mekanisme bekerja sama untuk menciptakan
perubahan dalam keterampilan kognitif anak: pengodean, otomatisasi, dan
konstruksi strategi, yaitu:
1. Pengodean adalah proses di mana informasi akan disimpan dalam
memori. Misalnya: untuk anak 4 tahun, huruf S akan ditulis dalam tulisan
melengkung yang berbeda bentuknya dari S yang dicetak. Namun, anak
usia 10 tahun telah belajar untuk mengodekan fakta relevan bahwa
keduanya huruf s dan mengabaikan perbedaan relevan dalam bentuknya.
Terjadinya perubahan dalam pengodean informasi yang relevan dan
mengabaikan informasi yang tidak relevan.
2. Otomatisasi adalah kemampuan untuk memproses informasi dengan
sedikit usaha atau tidak. praktik memungkinkan anak-anak untuk
mengodekan peningkatan jumlah informasi secara otomatis. Contoh,
sekali anak-anak belajar membaca dengan baik, mereka tidak berpikir
tentang setiap huruf dalam kata sebagai huruf, melainkan mereka
mengodekan seluruh kata. Akibatnya, ketika pengolahan informasi
menjadi lebih otomatis, kita dapat menyelesaikan tugas dengan lebih
cepat dan menangani lebih banyak tugas dalam satu waktu.
3. Pengembangan
strategi
adalah
penciptaan
prosedur
baru
untuk
memproses informasi. Misalnya, kegiatan membaca anak yang dilakukan
akan menguntungkan ketika mereka mengembangkan strategi berhenti
secara periodik untuk memeriksa apa yang telah dibacanya sejauh ini.
II. Perhatian
a. Pengertian perhatian
2014
3
Psikologi Pendidikan
Ainul Mardiah, S.Psi, M.Sc
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Perhatian adalah pemusatan sumber daya mental, perhatian di bagi menjadi tiga
kategori:

Perhatian selektif: berfokus pada hal yang relevan dan mengabaikan halhal yang tidak relevan

Perhatian terbagi: konsentrasi pada lebih dari satu aktivitas sekaligus.
Contoh: mendengarkan musik sambil membaca dan mengetik.

Perhatian berkelanjutan: kemampuan untuk mempertahankan perhatian
selama jangka waktu tertentu. Perhatian terus-menerus juga disebut
kewaspadaan.

Perhatian eksekutif: perencanaan tindakan, mengalokasikan perhatian
dan tujuan, deteksi kesalahan dan kompensasi, memantau kemajuan
pada tugas-tugas, dan berurusan dengan kondisi yang baru atau sulit.
Sebagai contoh: perhatian eksekutif adlah secara eektif menyebarkan
perhatian untuk secara efektif terlibat dalam tugas-tugas kognitif saat
menulis makalah 10 halaman dalam pelajaran sejarah.
Salah satu trend yang melibatkan perhatian terbagi adalah anak-anak dan
remaja yang multitasking, yang dalam beberapa kasus melibatkan tidak hanya
membagi perhatian natara dua kegiatan, namun tiga atau lebih.
b. Perubahan perkembangan
Lamanya waktu bagi anak-anak untuk dapat memperhatikan meningkata
ketika usia mereka bertambah. Balita yang tidak bisa diam, mengalihkan
perhatian dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya, dan tampaknya menghabiskan
sedikit waktu berfokus pada salah satu objek atau kejadian. Sebaliknya, anak
prasekolah mungkin menonton televise selama setengah jam pada satu waktu.
Rangsangan eksternal cenderung menentukan target perhatian anak-anak
prasekolah. Misalnya: badut yang terlihat menarik, menyajikan petunjuk untuk
menyelesaikan masalah aritmatika, maka anak prasekolah akan memperhatikan
badutnya daripada cara menyelesaikan masalah aritmatika karenamreka
dipengaruhi kuat oleh fitur penting dari lingkungan. Setelah usia 6 atau 7, anakanak lebih memperhatikan fitur yang relevan untuk melakukan tugas atau
memecahkan masalah. Jadi, bukannya dikendalikan oleh rangsangan yang
paling mencolok di lingkungan mereka, anak-anak dapat mengarahkan perhatian
mereka terhadap rangsangan yang lebih penting. Perubahan ini mencerminkan
perhatian kontrol kognitif, sehingga anak kurang impulsive dan lebih reflektif.
2014
4
Psikologi Pendidikan
Ainul Mardiah, S.Psi, M.Sc
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
III. Ingatan
a. Pengertian ingatan
Ingatan adalah penyimpanan informasi dari waktu ke waktu, yang melibatkan
pengkodean, penyimpanan, dan pengambilan
b. Pengkodean
Pengkodean adalah proses di mana informasi masuk ke dalam memori.
Pengkodean terdiri atas sejumlah proses: latihan, pengolahan mendalam,
elaborasi, gambar konstruksi, dan organisasi. Latihan adalah pengulangan
informasi secara sadar dari waktu ke waktu untuk meningkatkan panjangnya
waktu untuk informasi itu ada di dalam memori. Contoh: mengingat bahan ujian
ketika akan ujian, atau janji ketemu pacar.
Pengolahan mendalam adalah
memproses informasi secara mendalam, karena proses pengkodeaan informasi
tidak hanya dilakukan melalui latihan, akan tetapi juga pemrosesan ingatan
terjadi dari kontinum dangkal sampai dalam. Contoh: ketika seorang anak melihat
kata perahu, pada tingkat dangkal ia akan berpikir tentang karakteristik kata,
pada tingkat menengah ia mungkin berpikir tentang karakteristik dari kata
(contohnya bahwa kata boat itu memiliki irama yang sama dengan coat), dan
pada tingkat terdalam ia mungkin berpikir tentang kapan terakhir kali ia pergi
memancing dengan ayahnya di perahu dan jenis perahu itu.
Psikolog kognitif menemukan terdapat lebih banyak pengodean yang lebih
baik dari sekedar kedalaman pengolahan. Mereka menemukan manfaat memori
dari penggunaan elaborasi. Elaborasi adalah penyajian konsep dengan
memberikan banyak contoh-contoh terutama yang berkaitan langsung dengan
kehidupan pribadi. Satu eksperimen pada anak
kelas 2 dan kelas 5 yang diminta untuk membuat
suatu kalimat bermakna dari sebuah kata (contoh:
keranjang). Hasil studi menunjukkan bahwa mereka
lebih mengingat kata tersebut karena kalimat
bermakna
yang
sudah
disusun
(grup
1)
dibandingkan dengan sebuah kata dan definisi
diberikan secara langsung kepada si anak (grup 2).
Membangun gambar (citra), Allan Paivio (1971, 1986) berpendapat bahwa
memori disimpan dengan salah satu dari dua cara: sebagai kode verbal atau
sebagai kode gambar. Semakin unik gambar tersebut maka akan semakinmudah
mengingat informasi yang disediakan. Anak yang lebih tua cenderung lebih
mengingat lebih mudah dengan gambar untuk memproses informasi verbal
dibandingkan dengan anak yang lebih muda. Dalam sebuah eksperimen yang
2014
5
Psikologi Pendidikan
Ainul Mardiah, S.Psi, M.Sc
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
dilakukan oleh Schneider & Pressley (1997) pada anak kelas 1 sampai kelas 6
untuk mengingat
20 kalimat. Kelompok eksperimen
dan kontrol dibagi secara acak, dimana anak pada
kelompok
eksperimen
diberikan
instruksi
untuk
membuat gambar di kepala mereka untuk setiap
kalimat
yang diberikan, sementara untuk kelompok
kontrol instruksi yang diberika adalah: anak diminta
untuk mengingat saja. Dari hasil penelitian ditemukan
bahwa instruksi citra meningkatkan memori lebih untuk
anak-anak yang lebih tua (kelas 4-6) dibandingkan untuk anak-anak yang lebih
muda (kelas 1-3). Para peneliti telah menemukan bahwa anak-anak sekolah
dasar dapat menggunakan citra untuk mengingat gambar dengan lebih baik
dibandingkan melisankan materi. Organisasi adalah mengatur informasi ketidka
mereka melakukan pengkoodean, akan sangat bermanfaat bagi memori mereka.
c. Penyimpanan
Penyimpanan adalah menjaga informasi dari waktu ke waktu. 3 jenis memori
dengan kerangka waktu yang
berbeda,
yaitu:
memori sensorik
(yang
berlangsung sepersekian detik hingga beberapa detik), memori jangka pendek
berlangsung sekitar 30 detik), dan memori jangka panjang (berlangsung sampai
seumur hidup).
Beberapa ahli lainnya mengatakan bahwa memori tidak selalu bekerja dalam
urutan tiga tahap yang dikemas rapi, ahli kontemporer menekankan bahwa
memori kerja menggunakan isi memori jangka panjang dalam cara yang lebih
fleksibel dari sekadar mengambil informasi lainnya. Barlett (2010) membagi
memori jangka panjang memori deklaratif dan non-deklaratif, dan salah satu
subtype, memori deklaratif, dibagi ke dalam memori episodic dan memori
semantik.
Memori deklaratif ingatan sadar akan informasi, seperti fakta-fakta tertentu
atau peristiwa yang dapat dikomunikasikan secara verbal. Selanjutnya memori ini
disebut memori eksplisit atau “mengetahui bahwa” contoh siswa dapat
2014
6
Psikologi Pendidikan
Ainul Mardiah, S.Psi, M.Sc
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
menceritakan acara yang telah mereka saksiskan atau jelaskan prinsip dasar
matematika. Namun, siswa tida perlu berbicara bila akan menggunakan memori
deklaratif. Jika siswa hanya duduk dan merenungkan pengalamannya, memori
deklaratif mereka terlibat.
Memori non-deklaratif pengetahuan procedural
dalam bentuk keterampilan dan operasi kognitif. Memori non-deklaratif tidak
dapat diingat secara sadar, setidaknya tidak dalam bentuk peristiwa atau fakta
tertentu. Contoh: ketika kita berbicara kalimat dengan tata bahasa yang benar
tanpa harus memikirkan bagaimana melakukannya.
Memori episodik
adalah retensi informasi tentang di mana dan kapan
kejadian hidup, contoh: kenangan siswa tentang hari pertama sekolah, dengan
siapa mereka makan siang bersama. Memori semantik adalah pengetahuan
umum dunia, memori ini meliputi: pengetahuan geometrik, pengetetahuan “setiap
hari” tentang makna kata-kata, hal-hal umum dll.
Memori semantic adalah
independen dari identitas orang tersebut dengna masa lalu. Sebagai contoh,
siswa dapat mengakses fakta-seperti” “Lima adalah ibu kota Peru”.
Karakteristik
Memori episodik
Memori semantik
Unit
Kejadian, episode
Fakta, ide, konsep
Organisasi
Waktu
Konsep
Emosi
Lebih penting
Kurang penting
Proses pengambilan
Disengaja (ada usaha)
Otomatis
Laporan pengambilan
“Aku ingat”
“Aku tahu”
Pendidikan
Tidak relevan
Relevan
Kecerdasan
Tidak relevan
Relevan
Kesaksian Umum
Diterima di pengadilan
Tidak dapat diterima di
pengadilan
Menggambarkan Informasi dalam memori
Teori jaringan adalah teori yang menggambarkan bagaimana informasi dalam
memori di ataur dan terhubung, mereka menekankan simpul dalam jaringan
memori. Teori Skema adalah teori didasarkan pada premis bahwa ketika kita
membangun informasi, kita menyatukannya dengan informasi yang sudah ada
dalam pikiran kita. Skema adalah informasi konsep, pengetahuan, informasi
tentang peristiwa yang sudah ada dalam pikiran seseorang. Teori Jejak kabur
adalah pernyataan bahwa memori yang paling baik dipahami dengan
mempertimbangkan dua jenis representasi memori: 1) jejak memori verbatim dan
2014
7
Psikologi Pendidikan
Ainul Mardiah, S.Psi, M.Sc
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
2) jejak kabur, atau inti. Dalam teori ini, memori anak-anak lebih baik dikatikan
dengan jejak kabur yang dibuat dengan mengekstraksi inti dari informasi.
d. Pengambilan dan melupakan
Pengambilan adalah penjemputan inforamsi dari penyimpanan. Ketika kita
mengambil sesuatu dari “bank data” pikiran kita, kita mencari penyimpanan
memori kita untuk menemukan informasi yang relevan. Sama seperti dengan
pengodean, pencarian ini dapat otomatis atau dapat memerlukan usaha. Sebagai
contoh, jika anda meminta siswa anda bulan apakah sekarang, jawabnya akan
segera bangkit dari bibir mereka. Artinya, pengambilan akan terjadi otomatis.
Namun, jika anda bertanya kepada siswa siapakah nama pembicara tamu yang
datang ke kelas dua bulan lalu, proses pengambilan kemungkinan akan
membutuhkan usaha lebih.
Efek posisi serial adalah ingatan untuk tahapan awal dan akhir lebih mudah
diingat daripada di tengah. Prinsip kekhususan pengodean
adalah prinsip
bahwa asosiai yang terbentuk pada saat pengodean atau pembelajaran
cenderung isyarat pengambilan efektif.
Melupakan
isyarat bergantung
adalah kegagalan pengambilan yang
disebabkan oleh kurangnya petunjuk pengambilan efektif. Gagasan melupakan
isyarat bergantung dapat menjelaskan mengapa siswa mungkin gagal untuk
menambil fakta yang dibutuhkan untuk ujian, bahkan ketika ia yakin ia “tahu”
informasi tersebut. Misalnya, jika anda belajar untuk tes dalam kursus ini dan
mengajukan pertanyaan tentang perbedaan antara mengingat dan pengakuan
dalam pengambilan, anda mungkin akan mengingat perbedaan lebih baik jika
anda memiliki isyarat “isi bagian yang kosong” dan “pilihan berganda” secara
beraturan. Teori melupakan isyarat-bergantung sejalan dengan teori gangguan
dimana teori ini percaya bahwa kita lupa bukan karena kita benar-benar
kehilangan kenangan dari penyimpanan, tetapi karena informasi lainnya berada
pada jalan di mana kita mencoba untuk mengingat.
Sumber lain dari melupakan adalah pembusukan memori. Menurut teori
peluruhan, pembelajaran baru yang melibatkan penciptaan jejak memori
neurokimia, pada akhirnya akan luruh. Dengan demikian, teori peluruhan
menunjukkan bahw aperjalanan waktu bertanggung jawab pada proses lupa.
IV. Metakognisi
a. Perubahan perkembangan
2014
8
Psikologi Pendidikan
Ainul Mardiah, S.Psi, M.Sc
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Metamemori anak meningkat jauh selama tahun-tahun sekolah dasar. Pada usia
5 tahun, mayoritas anak-anak memahami bahwa orang dapt memiliki keyakinan
yang salah, dan dalam masa pertengahan dan akhir kanak-kanak mereka
memahami bahwa orang secara aktif membangun pengetahuan. Remaja
memiliki peningkatkan kapasitas untuk memonitor dan mengelola sumber daya
untuk secara efektif memenuhi tuntutan tugas belajar, meskipun ada variasi
individu yang cukup besar dalam metakognisi selama masa remaja.
b. Model pemrosesan informasi yang baik
Dikembangkan oleh Michael Pressley dan rekan-rekannya, model pemrosesan
informasi yang baik menekankan bahwa hasil kognisi yang kompeten dari
beberapa factor yang saling berinteraksi termasuk strategi, pengetahuan konten,
motivasi, dan metakognisi.
c. Strategi regulasi metakognitif
Dalam padangan Pressley dan rekan-rekannya, kunci pendidikan adalah untuk
membantu siswa belajar repertoar kaya strategi yang menghasilkan solusi untuk
masalah. Kebanyakan anak mendapatkan keuntungan dari menggunakan
beberapa strategi dan menjelajahi mana yang bekerja dengan baik, kapan, dan
di mana. Sebagai contoh, guru dapat memperagakan strategi untuk siswa dan
mengajukan pertanyaan yang membantu pemikiran panduan siswa dalam
berbagai bidang konten.
V. Problem Solving
Problem solving adalah tipe berpikir yang diaplikasikan untuk menghasilkan
sesuatu yang diinginkan yang berbeda dari awalnya. Well-defined problems adalah
permasalahan yang mudah diselesaikan karena masalah tersebut memiliki struktur
yang mudah dipahami dan informasi yang cukup untuk menyelesaikannya (contoh:
dipelajaran algebra). Ill-defined problems adalah permasalahan yang solusinya tidak
hanya satu akan tetapi lebih banyak strategi untuk menyelesaikannya (contoh: dalam
ilmu social).
Model problem solving menurut John Dewey (1910):
1. Identifikasi permasalahan
2. Representasi permasalahan
3. Memilih strategi
4. Implementasi strategi
5. Evaluasi hasil pengimplementasian strategi
2014
9
Psikologi Pendidikan
Ainul Mardiah, S.Psi, M.Sc
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Ada beberapa hal yang membuat siswa menghambat siswa untuk
menyelesaikan permasalahan, yaitu: 1) Cognitive rigidity adalah kurang fleksibelnya
seseorang dalam berpikir dan menerima perspetif yang berbeda dari mereka dan 2)
Functional fixedness: kurang mampu berpikir untuk menggunakan objek selain objek
yang sudah ditetapkan dari awal, 3) response set atau mental set, kecenderungna
untuk menyelesaikan permasalahan sesuai dengan cara yang sudah ketinggalan
zaman.
Para ahli yang memang pakar dibidangnya yang membutuhkan waktu 5
sampai 10 tahun, terlepas dari kemampuan intelektual dan talentanya. Untuk
menjadi seorang ahli dibidangnya bukan hanya permasalahan waktu, akan tetapi
Bloom (1995) mengidentifikasikan, ada 3 tahapan untuk mengembangkannya:
1. Tahap awal, ditandai dengan keterlibatan yang menyenangkan dan
banyaknnya dukungan dari keluarga dan orang tua.
2. Tahap tengah, tahapan mulai berkembangnya keahlian seseorang
dengan bantuan mentor seseorang bias berkembang dan bertambah
mandiri. Hasil observasi Bloom para ahli akan menghabiskan waktu untuk
mempraktikkan dan ikut perlombaan yang akan mendapat masukan dari
teman dan para mentor.
3. Tahap akhir, masukan dari teman dan interaksi dengan teman semakin
penting, dan menjadi ahli dalam bidang tertentu memainkan peranan
penting dalam membantu individu untuk menjadi ahli yang sebenarnya.
Para ahli selalu terkait dengan pemecahan masalah di bidangnya, oleh
karenanya ada perbedaan cara penyelesaian masalah antara ahli dengan orang
biasa.
1. Para ahli menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengidentifikasikan
permasalahan dan rencana untuk menyelesaikannya.
2. Para ahli memahami permasalahan yang dihadapinya karena mereka
memilik skema dalam bidangnya
3. Para ahli memiliki banyak strategi pemecahan masalah, sehingga ia
memiliki banyak pilihan untuk menyelesaikan satu permasalahan.
4. Para ahli sudah menghasilkan strategi dan mengimplementasikan startegi
tersebut sehingga otomatis dan efisien.
5. Para ahli memiliki keahlian metakognisi yang lebih baik dari pada orang
biasa.
2014
10
Psikologi Pendidikan
Ainul Mardiah, S.Psi, M.Sc
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
VI. Transfer
Transfer adalah kemampuan untuk menyebar luaskan apa yang sudah dipelajari
ke dalam konteks yang baru. Tipe-tipe transfer :1) transfer positif: ketika
menggunakan apa yang sudah dipelajari sebelumnya yang membantu mempelajari
sesuatu yang baru dan menyelesaikan permasalahan yang baru. 2) transfer negatif:
menggunakan apa yang sudah dipelajari sebelumnya yang menghalangi untuk
mempelajari
sesuatu
yang
baru
dan menghalangi
untuk
menyelesaikan
permasalahan yang baru.
Faktor-faktor yang mempengaruhi transfer positif yaitu: level pengetahuan siswa,
kebermaknaan pelajaran, kesamaan antara hal-hal yang awal (original) dengan halhal yang baru, konteks dari pembelajaran yang asli, keahlian dari metakognisi,
transfer instruksi.
Daftar Pustaka
1. Gage, N.L & Berliner, David C. (1998). Educational Psychology (6th ed). Boston, New
York: Houghton Mifflin Company.
2. Moreno, R. (2010). Educational Psychology. United State of America: John Wiley & Son,
Inc
3. Santrock, J.W. (2007). Educational Psychology(5the edition). NY, America: McGraw- Hill
Company Inc.
4. Slavin, R.E (2006). Educational psychology: theory and practice (8th edition). Boston,
MA: Pearson.
2014
11
Psikologi Pendidikan
Ainul Mardiah, S.Psi, M.Sc
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download