BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep PNPM

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep PNPM-PISEW
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Pengembangan Infrastruktur
Sosial Ekonomi Wilayah (PNPM Mandiri PISEW) merupakan salah satu program
nasional yang ditujukan untuk mempercepat pembangunan sosial ekonomi
masyarakat yang berbasis sumberdaya lokal, mengurangi kesenjangan antarwilayah,
pengentasan kemiskinani daerah perdesaan, memperbaiki pengelolaan pemerintahan
(local governance) dan penguatan institusi di perdesaan dengan pendekatan
pembangunan kewilayahan di tingkat kabupaten yang telah menerapkan metode yang
diamanatkan Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 dan UU Nomor 32 Tahun 2004
tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.
Dalam pelaksanaannya PNPM mandiri PISEW juga telah menerapkan 5 (lima)
pendekatan Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional, yaitu : (i) Politik; (ii) Teknokratik; (iii) Partisipatif; (iv) topdown; dan (v) bottom-up yang diimplementasikan pada tahap perencanaan (T-1)
dimana dalam menentukan prioritas-prioritas Pemberdayaan Sosial Ekonomi
dipertemukan RPJMD Provinsi, RPJMD Kabupaten, Renstra Kecamatan, Rencana
Pembangunan Desa (RPJM Desa) dan Perencanaan Partisipatif yang dilaksanakan
oleh masyarakat di desa-desa penerima bantuan program.
Melalui proses
perencanaan
inilah
PNPM
Mandiri
PISEW
sebagai
salah
satu
program
penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat, disamping telah
memprakarsai penerapan 5 (lima) pendekatan Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional/SPPM juga telah menerapkan siklus program sesuai dengan sistem
Anggaran Nasional.
Berdasarkan pengalaman menerapkan motode dan pendekatan Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional/ SPPN sejak digulirkannya PNPM Mandiri
PISEW sejak tahun 2008, seharusnya telah menjadi pembekalan dan pembelajaran
bagi para pemangku kepentingan terkait/ Stakeholders di daerah (pemerintah daerah,
sektor swasta serta masyarakat) bagaimana seharusnya melaksanakan pembangunan
di daerah berbasis pemberdayaan masyarakat yang sekaligus sejalan dengan arah
kebijakan pemerintah daerah provinsi dan kabupaten dalam upaya mendukung
pembangunan sosial ekonomi daerah melalui pendekatan pengembangan Kawasan
Strategis Kabupaten (KSK) sebagai pusat kegiatan ekonomi di wilayah kabupaten
sasaran program.
Namun demikian dalam pelaksanaannya masih dirasakan berbagai kelemahan/
kekurangan, baik dari sisi kesiapan pemerintah daerah maupun pola pendampingan
masyarakat selaku penerima manfaat yang mengakibatkan belum sempurnanya
pelaksanaan program PNPM Mandiri PISEW di semua lokasi sasaran. Terutamanya
pada aspek penguatan kelembagaan PNPM Mandiri PISEW melalui pemahaman dan
kinerja Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP) di tingkat desa agar pasca
pelaksanaan program PNPM Mandiri PISEW, Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara
(KPP) dapat melanjutkan program secara berkesinambungan sehingga tercapai
peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin di lokasi sasaran sesuai dengan tujuan
program PNPM Mandiri PISEW maupun pembangunan nasional.
2.2.Pengertian Operasi dan Pemeliharaan
Pengertian operasi dan pemeliharaan sarana menurut Perencanaan dan
Monitoring Masyarakat Untuk Pelayanan Sarana (Depkes, 2004) adalah proses
memfungsikan dan mengoptimalkannya komponen-komponen sarana yang telah
dimanfaatkan. Sedangkan pemeliharaan adalah upaya-upaya untuk menjaga agar
sarana yang telah dibangun bermanfaat sepanjang waktu, menciptakan pemakaian
maksimum dari seluruh fasilitas yang ada melalui perawatan dan perbaikan serta
menjaga pencapaian umur manfaat sarana tanpa rehabilitasi besar-besaran. Operasi
dan pemeliharaan sarana yang telah dibangun dilaksanakan oleh masyarakat dan
dihitung secara rinci biaya yang harus ditanggung oleh masyarakat untuk
pengoperasian dan pemeliharaan dan tersusun organisasi pengelolanya serta dapat
dibuat tata cara operasi dan pemeliharaan dari sistem yang telah dibangun.
2.3.Pengertian Partisipatif
2.3.1 Definisi Partisipatif
Menurut Perencanaan Partisipatif Masyarakat Untuk Pelayanan Sarana
(Depkes, 2004), ada dua alternatif utama dalam penggunaan partisipasi berkisar pada
partisipasi
sebagai
tujuan
pada dirinya
sendiri
atau
sebagai
alat
untuk
mengembangkan diri. Logikanya, kedua interpretasi itu merupakan satu kesatuan.
Keduanya mewakili partisipasi yang bersifat instrumental dan transformasional.
Partisipasi instrumental terjadi ketika partisipasi dilihat sebagai suatu cara untuk
mencapai sasaran tertentu. Partisipasi transformasional terjadi ketika partisipasi itu
pada dirinya sendiri, dipandang sebagai tujuan yang lebih tinggi, misalnya dalam
operasional dan pemeliharaan sarana air bersih adalah keswadayaan dan dapat
berkelanjutan.
Sebagai suatu tujuan, partisipasi menghasilkan pemberdayaan yaitu setiap orang
berhak menyatakan pendapat dalam pengambilan keputusan yang menyangkut
kehidupannya. Partisipasi ditafsirkan sebagai alat untuk mencapai efisiensi dalam
manajemen untuk melaksanakan kebijakan.
2.3.2 Paradigma Pembangunan Partisipatif
Dalam rangka pencapaian hasil-hasil pembangunan yang dapat berkelanjutan,
banyak kalangan sepakat bahwa suatu pendekatan partisipatif perlu diambil. J Pretty
dan Gujit (Mikkelsen, Britha, Methods for Development Work and Research : A
Guide for Practitioners, 1995) menjelaskan implikasi praktis dari pendekatan ini yaitu
pendekatan pembangunan partisipatoris harus mulai dengan orang-orang yang paling
mengetahui tentang sistem kehidupan mereka sendiri. Pendekatan ini harus menilai
dan mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan mereka dan memberikan sarana
yang perlu bagi mereka supaya dapat mengembangkan diri. Ini memerlukan
perombakan dalam seluruh praktik dan pemikiran, disamping bantuan pembangunan.
Ringkasnya diperlukan suatu paradigma baru.Munculnya paradigmapembangunan
partisipatif mengindikasikan adanya dua prespektif :
1. Munculnya pelibatan masyarakat setempat dalam pemilihan, perancangan,
perencanaan dan pelaksanaan serta operasional dan pemeliharaan program
yang akan mewarnai hidup mereka, sehingga dapat dijamin bahwa persepsi
setempat, pola sikap dan pola pikir serta nilai-nilai dan pengetahuannya ikut
dipertimbangkan secara penuh.
2. Membuat umpan balik (feedback) yang pada hakekatnya merupakan bagian
tak terlepaskan dari kegiatan pembangunan.
2.4 Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Sarana
Pengertian metode partisipatif yaitu mendorong keikutsertaan setiap individu
didalam suatu proses kelompok tanpa memandang usia, jenis kelamin, kelas sosial
dan latar belakang pendidikan yang tumbuh dari rasa kesadaran dan tanggung
jawabnya (Perencanaan Partisipatif Masyarakat Untuk Pelayanan Sarana Air Bersih
Dan Sanitasi, Ditjen PPM & PL Depkes 2004). Metode ini terbukti sangat berguna
untuk mendorong keikutsertaan perempuan (yang menurut adat setempat biasanya
dianggap kurang baik kalau perempuan terlalu banyak bicara atau karena tidak bisa
baca tulis). Metode partisipatif dirancang untuk membangun rasa percaya diri dan
rasa tanggung jawab atas keputusan yang diambilnya. Metode partisipatif mencoba
membuat proses pengambilan atas keputusan yang diambilnya. Metode partisipatif
mencoba membuat proses pengambilan keputusan sebagai pekerjaan yang mudah dan
menyenangkan hati. Para pesertanya belajar antar sesamanya dan mengembangkan
rasa saling menghargai atas pengetahuan dan keterampilan sejawatnya.
Metode partisipatif telah terbukti membuahkan keberhasilan. Azas-azas yang
mendasarinya adalah azas pendidikan orang dewasa yang telah mengalami pengujian
lapangan di banyak tempat. Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa metode
partisipatif dapat menuntun pekerja sosial ke pengalaman yang jauh lebih
mengesankan. Jika telah sekali mencoba metode ini dan hasilnya menggembirakan,
para pekerja sosial biasanya tidak lagi akan kembali ke metode yang lama.
2.4.1 Jenis-jenis Partisipasi Masyarakat
Berbagai bentuk keterlibatan masyarakat dapat berupa :
1.
Sumbangan pikiran/ gagasan/ ide yang disampaikan sewaktu rapat-rapat atau
pertemuan desa, pertemuan kelompok pemakai sarana didalam membahas
tentang operasional dan pemeliharaan termasuk pengembangan air bersih.
2.
Sumbangan keterampilan dan tenaga, dapat diwujudkan didalam kegiatan
gotong royong untuk pemeliharaan sarana, perbaikan sarana maupun
perlindungan dari pencemaran, contoh membuat saluran pembuang air limbah.
Juga pelaksanaan kegiatan peningkatan kualitas hidup hygienis di masyarakat
dan sekolah.
3.
Sumbangan material, wujudnya adalah ikut serta mengusahakan bahan-bahan
yang dibutuhkan dalam pemeliharaan, perbaikan maupun pengembangan sarana
air bersih. Contoh : pasir, batu kali, kerikil, sikat lantai, sapu lidi dan
sebagainya.
4.
Sumbangan dana/ uang, ini mutlak harus ada, karena kegiatan air bersih sudah
sepenuhnya menjadi tanggung jawab masyarakat termasuk pembiayaannya
untuk operasional dan pemeliharaan (100 %). Dalam hal ini, jika kesulitan
mengumpulkan iuran dalam bentuk uang maka dapat digantikan dengan
barang-barang (natura) hasil setempat. Contoh : kelapa, jagung, beras, daun
tembakau dan sebagainya. Dikumpulkan oleh pengurus KPS atau petugas yang
ditunjuk, setelah terkumpul kemudian dijual, uang dapat dimanfaatkan untuk
biaya operasional dan pemeliharaan.
2.4.2 Strategi dalam Menghimpun Partisipasi Masyarakat
Guna menghimpun peran serta (partisipasi) masyarakat diperlukan adanya
langkah-langkah pendekatan dan manajemen pengelolaan terhadap apa yang sudah
disumbangkan secara baik. Sekaligus untuk menumbuhkan rasa memiliki nantinya.
Langkah-langkah pendekatan yang perlu ditempuh :
1.
Memberikan informasi dan penjelasan tentang untuk apa sarana tersebut
dipelihara dan dikembangkan, sehingga akan dapat diketahui adanya tujuan dan
manfaat yang dirasakan oleh masyarakat. Hal ini bisa dilakukan melalui
pertemuan-pertemuan informal (arisan, pengajian, kenduri dan sebagainya) dan
rapat formal (musyawarah desa dan sebagainya).
2.
Memberikan penjelasan tentang siapa saja yang harus bertanggung jawab atas
kesinambungan
pembangunan
sarana
tersebut.
Tanggung
jawab
dari
masyarakat harus diberi penekanan yang jelas.
3.
Menerangkan
tentang
dari
mana
biaya
untuk
mengoperasionalkan,
memperbaiki dan merawat sarana tersebut dan juga biaya untuk kegiatan
peningkatan kualitas hidup hygienis dan sebagainya.
4.
Melibatkan masyarakat secara aktif dalam setiap pengambilan keputusan yang
menyangkut jenis kegiatan, sehingga partisipasi dalam semua jenisnya dapat
terwujud untuk operasional, pemeliharaan dan pengembangan sarana.
2.4.3 Langkah-langkah Mengorganisasikan Gotong Royong Pemeliharaan
Sarana
Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam mengorganisasikan gotong
royong didalam pemeliharaan sarana air bersih, urutannya meliputi :
1.
Menginventarisir dan menyepakati jenis kegiatan yang dapat dilaksanakan
secara gotong royong.
2.
Memberikan penjelasan secara rinci kepada masyarakat, baik melalui
kunjungan rumah ke rumah maupun dalam pertemuan-pertemuan (tingkat RT,
RW, Dusun dan Desa), tentang arti pentingnya air bersih bagi kesehatan
masyarakat serta memberikan pemahaman bahwa pembangunan tidak
sinambung apabila tanpa didukung kesediaan masyarakat untuk bergotong
royong secara sukarela.
3.
Mengadakan pendekatan kepada tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk
memobilisasikan masyarakat dalam pelaksanaan gotong royong, baik waktu
kunjungan rumah ke rumah maupun dalam pertemuan-pertemuan yang dihadiri
para warganya.
4.
Mengorganisasikan kegiatan gotong royong secara baik dengan membuat
jadwal kerja yang sebelumnya terlebih dahulu disepakati masyarakat maupun
pekerjaan yang sifatnya sukarela, tetapi harus diatur secara rapi pembagian
tugasnya agar tidak saling berbenturan/ berebut antara satu dengan yang lainnya
dan pemerataan pekerjaan sehingga akan jelas siapa melakukan apa dan kapan.
5.
Ikut ambil bagian didalam pelaksanaan gotong royong baik tokoh masyarakat,
tokoh agama maupun aparat desa diharapkan dapat memberi contoh/
menggerakkan kegiatan ini sehingga bisa tumbuh motivasi pada masyarakat
untuk melakukan gotong royong.
2.5
Pembentukan Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP)
2.5.1 Prinsip Pembentukan KPP
Menurut panduan teknis Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara
(Ditjen Cipta Karya Kementrian PU, 2010), sebagaimana prinsip
pengorganisasian masyarakat, KPP tetap mengacu pada prinsip :
1. Partisipatif : pembentukan lembaga harus melibatkan seluruh
warga masyarakat (perempuan, laki-laki, miskin, kaya) yang
didasari filosofi : dari-oleh-untuk masyarakat.
2. Demokrasi : pengambilan keputusan pembentukan lembaga
mempertimbangkan
suara
seluruh
warga
masyarakat
(perempuan, laki-laki, miskin, kaya).
3. Sensitive gender : pembentukan lembaga mempertimbangkan
kepentingan dan kebutuhan masyarakat (perempuan, laki-laki).
4. Sensitive
kemiskinan :
memperhatikan
kelembagaan
kepentingan
dan
yang
dibentuk
kemampuan
harus
masyarakat
golongan bawah (miskin).
2.5.2 Langkah-langkah Pembentukan KPP
Pembentukan Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP)dilakukan pada
waktu proses perencanaan atau setelah penandatanganan kontrak pekerjaan dan
paling lambat sebelum serah terima pekerjaan dari Lembaga Kemasyarakatan Desa
(LKD) kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).Untuk mengefektifkan kinerja
KPP, maka dalam pembentukannya perlu dilakukanpendekatan sebagai berikut :
1.
Memanfaatkan kelompok yang sudah ada, baik yang telah dibentuk program
lain maupun oleh program PNPM-PISEW tahun sebelumnya.
2.
KPP dibentuk di tingkat Desa dengan mengelola seluruh prasarana yang
dibangun di desa tersebut dan memiliki unit pengelola untuk masing-masing
prasarana.Satu KPP tidak bisa melintasi 2 desa, mengingat pengesahan
pembentukannya oleh kepala desa.
3.
KPP dibentuk berdasarkan jenis prasarana yang memiliki satu kesatuan fungsi
struktur bangunan yang sama (prasarana umum), contoh Jalan dan Drainase
dalam 1 wilayah (desa) menjadi 1 KPP atau Jalan, Jembatan dan Goronggorong dalam 1 wilayah (desa) menjadi 1 KPP.
4.
KPP dibentuk berdasarkan jenis prasarana yang hanya memiliki satu fungsi
struktur bangunan (prasarana kelompok), contoh Air Bersih, MCK, Saluran
Irigasi, Posyandu dll sehingga dalam 1 wilayah (desa) bisa lebih dari 1 KPP
5.
Khusus untuk prasarana yang berada atau melekat di instansi terkait maka
pemeliharaan diserahkan pada instansi bersangkutan (contoh : Meubeller,
Rehab Sekolah, Posyandu, Polindes, dan lain-lain).
Dalam hal prasarana yang dibangun lintas desa, maka KPP tetap dibentuk di
masing-masing desa. Untuk kepentingan pemeliharaan dan pembiayaannya, maka
harus dibentuk wadah kerja sama antar KPP tersebut.Pada dasarnya yang
membentuk KPP adalah warga pemanfaat. Dalam pelaksanaannya, pembentukan
KPP difasilitasi oleh Kepala Desa, dibantu oleh Fasilitator Desa (FD), Fasilitator
Kecamatan (FK) dan Pokja Kecamatan melalui Musyawarah Desa. Untuk
keberlanjutan KPP, aparat kecamatan perlu mendukung terwujudnya suasana
pembinaan yang kondusif guna mengembangkan keberadaan KPP di wilayah
tersebut.
Beberapa langkah yang harus dilakukan dalam proses fasilitasi pembentukan
KPP sebagai berikut :
1.
Melakukan Identifikasi terhadap hal-hal berikut :
a. Prasarana yang telah ada
b. KPP yang telah terbentuk, baik oleh PNPM-PISEW maupun dalam program
lain
c. Pemanfaat (jumlah, tempat tinggal, nama, jenis kelamin)
2.
Warga yang akan memanfaatkan dikumpulkan, pertemuan ini diisi dengan
agenda :
a. Penjelasan tentang perlunya dibentuk pengelola prasarana.
b. Penjelasan untung ruginya bila dibentuk dan bila tidak dibentuk.
c. Mengambil kesepakatan tentang persetujuan pembentukan KPP
3.
Setelah warga sepakat melakukan pembentukan, maka dilakukan musyawarah
pembentukan KPP dengan agenda :
a. Pemilihan pengurus
b. Pembahasan aturan KPP, meliputi bidang organisasi, administrasi,
pembiayaan, kegiatan serta usaha, dan mekanisme pemeliharaan, yang
selanjutnya akan dijadikan AD/ART KPP
c. Penyusunan Rencana Kerja, baik rencana terkait pengelolaan kelembagaan
kelompok maupun pemeliharaan infrastrukur.
4.
Pengesahan berita acara pembentukan oleh kepala desa
5.
Lakukan peresmian KPP, bisa mengundang Camat, Tim Teknis Lapangan (FK,
TtL), Kepala Desa, Aparat atau Tokoh Masyarakat, agar keberadaannya dapat
diakui dan diperhatikan.
Identifikasi yang dilakukan sebelum pembentukan KPP meliputi : prasarana,
Kelompok pemanfaat yang sudah ada dan jumlah warga pemanfaat. Identifikasi ini
dilakukan oleh Kepala Desa dibantu oleh FD. Sumber data yang digunakan adalah
data-data yang ada di Kantor Kepala desa, kemudian FD melakukan pengecekan
kembali sesuai dengan kondisi terakhir di lapangan. Untuk memudahkan identifikasi,
maka prasarana yang diidentifikasi difokuskan pada prasarana dasar saja yang sesuai
dengan 6 kategori PNPM PISEW.
2.6
Peran Serta Masyarakat dalam Mendukung Pengelolaan Sarana
Peran serta masyarakat yaitu pelibatan masyarakat dalam proses perencanaan,
konstruksi dan pengoperasian program. Ini termasuk melibatkan masyarakat dalam
menentukan tujuan program, pengumpulan sumber daya, mendapatkan keuntungan
program, menilai apakah program mencapai tujuannya dan mengelola kelanjutan
program dengan swadaya masyarakat.
Peran serta masyarakat tidak terjadi dengan sendirinya, karena masyarakat
belum pernah merencanakan suatu program. Kadang-kadang tidak ada kesadaran dari
masyarakat itu sendiri. Salah satu contoh, air bersih yang mereka minum sehari-hari
kebanyakan tidak memenuhi syarat. Demikian juga dengan fasilitas-fasilitas
kesehatan lainnya yang digunakan sehari-hari. Oleh karena itu masyarakat perlu
diberi motivasi dan dorongan untuk dapat berperan aktif pada setiap proyek yang
disediakan untuk mereka. Mereka akan turut bertanggung jawab karena merasa
memiliki. Bila hasil suatu proyek penyediaan air bersih dan sanitasi kurang baik,
tidak tepat sasaran atau tidak dapat berlanjut, perlu diketahui sebab-sebabnya.
Ada beberapa sebab yang perlu diperhatikan menurut Panduan Untuk Melaksanakan
Pendekatan Jender (Depkes, 2004) di antaranya :
a.
Perbedaan pandangan antara masyarakat dan pembuat rencana terhadap fasilitas
yang akan dibangun.
b.
Titik
berat
pada
bantuan
dan
bukan
pemakaian
fasilitas
yang
berkesinambungan.
c.
Bantuan penunjang yang efektif pada masyarakat sering kurang, terutama
sesudah proyek selesai.
Agar dapat berpartisipasi aktif perlu diketahui hal-hal apa yang dapat menjadi
pemicunya. Biasanya kebutuhan dan keadaan yang mendesak akan mendorong
masyarakat berperan serta dalam berbagai proyek bantuan. Misalkan kebutuhan akan
air bersih. Air bersih merupakan kebutuhan pokok manusia yang sangat penting dan
diperlukan setiap hari. Pengertian sanitasi (J. Sugito, 2005) yaitu pengawasan secara
fisik terhadap semua faktor lingkungan hidup manusia yang dapat menimbulkan efek
merusak bagi perkembangan fisik kesehatan dan lingkungan manusia, sedangkan
sumber air bersih disebut juga sebagai sumber air baku yaitu merupakan air baku
yang dapat berasal dari sumber air permukaan, air cekungan dari dalam tanah (air
tanah) dan air hujan yang memenuhi baku mutu sumber air baku sebagai sumber air
bersih/ minum. Secara kualitas fisik air bersih harus tidak berasa, tidak berbau dan
harus jernih, adapun secara kimia apakah telah memenuhi baku mutu air bersih
menurut ketentuan Permenkes No. 416/ Menkes/Sk/XI/1990.
Masyarakat sangat mengharapkan kemudahan mengakses sumber air bersih dan
mudah timbul kesadaran untuk membantu setiap usaha dalam membangun fasilitasfasilitas air bersih. Demikian juga terhadap fasilitas-fasilitas sanitasi. Misalkan
dengan terjadinya wabah penyakit menular karena kebiasaan yang buruk dari
masyarakat, kebutuhan akan fasilitas-fasilitas kesehatan menjadi sangat mendesak.
Kondisi-kondisi seperti itu perlu diperhatikan bagi perencana proyek-proyek bantuan
untuk masyarakat. Dalam hal ini, Pemerintah telah menyediakan perbaikan kesehatan
lingkungan, seperti air untuk minum, mandi, mencuci, kakus maupun perbaikan
rumah telah dilaksanakan. Tetapi bagaimanakah pemakaiannya ? Apakah memuaskan
penduduk ? Dapatkah mereka mengelola selanjutnya ? Maka penting kiranya
memastikan kelangsungan tujuan proyek. Apakah berhenti setelah fasilitas fisik
dibangun atau dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan dan dapat dijadikan
contoh bagi daerah lainnya. Setelah proyek selesai dan keperluan untuk laporan serta
publikasi selesai biasanya fasilitas fisik diserahkan langsung kepada masyarakat
untuk dikelola. Pemanfaatan dan pengelolaan fasilitas-fasilitas tersebut sering timbul
masalah mulai dari lembaga yang akan menangani, biaya operasional, cara
pengoperasian alat, sampai kebutuhan akan suku cadang alat.
Dari awal masyarakat harus dilibatkan dalam pembentukan lembaga atau
oganisasi yang akan mengelola fasilitas-fasilitas tersebut. Apakah diserahkan kepada
perangkat Desa, karang taruna, RT setempat, atau dibentuk lembaga baru khusus
untuk mengelola. Ini untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama. Setelah
lembaga pengelola terbentuk, masyarakat juga harus dilibatkan untuk menanggung
biaya operasional. Kesadaran dan rasa tanggung jawab yang telah tumbuh akan
mempermudah menarik iuran dari masyarakat. Sebelum fasilitas fisik selesai
dibangun masyarakat perlu diberi pengetahuan cara-cara untuk mengoperasikan alatalat yang digunakan seperti pompa tangan, pompa listrik, tangki septik, jamban, dan
lain-lain.
2.7
Pengelolaan yang Berkesinambungan
Pada masa pemerintahan orde baru banyak dibangun fasilitas-fasilitas untuk
masyarakat menengah ke bawah di seluruh pelosok tanah air. Mulai dari penyediaan
air bersih, sanitasi, sumur gali, pompa tangan, jalan desa, persampahan dan lain-lain.
Tetapi sampai saat ini hampir semua fasilitas tersebut tidak dapat dimanfaatkan.
Bahkan fasilitas-fasilitas yang dibangun, khususnya untuk penyediaan air bersih dan
sanitasi dikenal dengan sebutan "monumen" karena tak lagi berfungsi. Banyak dana
yang telah dikeluarkan. Sebagian besar dana berasal dari pinjaman luar negeri.
Kegagalan proyek atau program tersebut disebabkan oleh kegunaan yang tidak tepat
(teknologi tidak sesuai), tidak ada partisipasi masyarakat dan akibat ketiadaan rasa
memiliki masyarakat.
Sarana air bersih yang berkesinambungan adalah air bersih yang dapat
memuaskan sebagian besar pengguna termasuk mereka yang berpenghasilan rendah.
Pelayanan dianggap memuaskan apabila dapat dirasakan manfaatnya dan penggunaan
yang efektif dan hal ini terjadi karena sebagian besar masyarakat memiliki akses
(paling tidak 80 %). Pelayanan yang sinambung dan penggunaan yang efektif ada
kaitannya satu sama lain dengan program yang tanggap terhadap kebutuhan
masyarakat. Hal ini dapat terjadi kalau dari awal para pengguna dilibatkan dalam
perencanaan untuk memberikan suara dan mempunyai hak pilih. Selain itu terdapat
kesetaraan dalam pengelolaan sarana dan berbagi beban kerja serta manfaat.
Kesemuanya mensyaratkan partisipasi masyarakat dalam berkontribusi, pengawasan
pada pelaksanaan proyek dan berbagi tanggung jawab secara transparan.
2.7.1 Aspek-aspek Kesinambungan Pengelolaan
Pelayanan sarana yang berkesinambungan secara efektif adalah sarana yang
dapat berfungsi terus menerus, sehingga pengguna mendapatkan kepuasan yang
tinggi dan bersedia untuk menggunakan dan memelihara sarana tersebut. Pelayanan
sarana air bersih dan sanitasi yang digunakan secara efektif adalah sarana yang oleh
sebagian besar masyarakat digunakan dengan tujuan untuk meningkatkan kesehatan
dan melestarikan lingkungan. Berdasarkan Panduan Teknis Pengelolaan Air Bersih
Pasca Konstruksi (Ditjen PPM & PL Depkes, 2005), ada 5 (lima) aspek dalam
kesinambungan proyek meliputi :
1.
Kesinambungan teknis terjadi kalau kemampuan perbaikan sarana dilakukan
oleh masyarakat dan mempertimbangkan jenis teknologi yang dimanfaatkan
sesuai dengan kondisi masyarakat.
a) Apakah dalam perencanaan oleh masyarakat telah mempertimbangkan
jenis teknologi yang ada (disesuaikan) dengan kondisi di masyarakat.
b) Hal ini mencakup tentang keberfungsiannya secara benar dan dapat
diandalkan terhadap teknologi serta pelayanan sistem air bersih dan
dapat memberikan pelayanan dengan jumlah air yang memadai secara
kontinyu dengan kualitas air yang memenuhi standar kesehatan.
c) Equity/ kesetaraan mencakup pelayanan diberikan kepada seluruh
kelompok masyarakat dengan prioritas orang miskin.
2.
Kesinambungan financial/ keuangan didapatkan jika masyarakat terlibat dalam
perencanaan. Selain itu, dalam menetapkan biaya operasi dan pemeliharaan
serta iuran telah melibatkan semua kelompok masyarakat (kaya/ miskin, laki/
perempuan). Iuran ditarik berdasarkan tingkat pelayanan yang didapatkan
pengguna atau jumlah konsumsi air bersih setiap KK.
a) Apakah dalam perencanaan oleh masyarakat telah mempertimbangkan biaya
Operasi dan pemeliharaan dan iuran telah melibatkan semua kelompok strata
sosial (kaya/ miskin, laki-laki/ perempuan).
b) Suatu Sistem hanya dapat berfungsi bila sumber pendanaan/financial paling
tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk operasional, pemeliharaan dan
perbaikan.
c) Equity/ kesetaraan berhubungan dengan siapa yang akan menjadi sumber
pendanaan, secara adil asal sumber pendanaan ini akan ditanggung secara
bersama diantara para pemanfaat yang mempunyai tingkat kesejahteraan yang
berbeda.
3.
Kesinambungan lingkungan akan terjadi bila perencanaan oleh masyarakat telah
memperhatikan aspek lingkungan dalam kaitannya dengan sumber air yang
dimanfaatkan dan pembuangan air limbah.
a) Apakah dalam perencanaan oleh masyarakat telah memperhatikan aspek
lingkungan terutama sumber air yang ada.
b) Sumber air akan menghadapi banyak ancaman, seperti terlalu besarnya
penyadapan, kontaminasi, penggundulan hutan dan fasilitas/ sarana air bersih
dan sanitasi sendiri juga akan menjadikan ancaman terhadap lingkungan
seperti tidak tersedianya drainase yang memadai sehingga minimbulkan
genangan yang memungkinkan tempat berkembang biaknya serangga
pembawa penyakit seperti malaria dsb. Hal-hal tersebut diatas yang harus
diperhatikan untuk dilaksanakan atau dihindari.
c) Aspek equity/ kesetaraan mencakup pembagian tanggung jawab secara adil
diantara pemanfaat untuk melindungi sumber air dan lingkungan
4.
Kesinambungan institusi/ kelembagaan merupakan proses pembentukan badan
pengelola yang telah memperhatikan kesetaraan gender dan pelibatan kelompok
miskin, serta mewujudkan nilai-nilai demokrasi dan transparansi.
a) Apakah dalam proses pembentukan badan pengelola telah memperhatikan
kesetaraan gender dan pelibatan kelompok miskin, serta mewujudkan nilainilai demokratis dengan mengembangan kemampuan melalui kelompok
miskin dan kesetaraan jender.
b) Kelembagaan yang ada harus mempunyai karakteristik lokal, aturan dan
akuntabilitas.
c) Equity/ kesetaraan mempertimbangkan suara semua golongan, terutama
masyarakat miskin dan wanita didalam organisasi yang akan mengelola dan
mengkontrol sistem. Selain itu dalam kaitannya dengan pengembangan
kemampuan melalui pelatihan juga harus melibatkan kelompok miskin dan
kesetaraan gender, baik dalam menentukan jenis pelatihan maupun peserta
pelatihan.
5.
Kesinambungan sosial akan terjadi kalau seluruh kelompok masyarakat
diberikan kesempatan menetapkan pilihan teknologi, jenis sarana, tingkat
pelayanan, jenis pelatihan termasuk kelompok masyarakat yang disertakan
dengan memperhatikan nilai-nilai Demand Responsive Approach (DRA).
Seluruh kelompok masyarakat telah menyumbangkan suaranya dalam
pengambilan keputusan (suara dimaksudkan sebagai kondisi ketika seseorang
dapat mengeluarkan pendapatnya dan didengar) mengenai bentuk dan besarnya
kontribusi dan iuran, penetapan mekanisme pengelolaan sarana, serta pemilihan
anggota badan pengelola sarana.
a) Apakah dalam perencanaan seluruh kelompok masyarakat (kaya/ miskin,
laki-laki/ perempuan) diberi pilihan seperti opsi teknologi, jenis sarana,
tingkat pelayanan, jenis pelatihan, telah memperhatikan demand responsive
approach (DRA) dari masyarakat.
b) Pemanfaat akan mendukung kesinambungan sistem bila harapan mereka
dapat terpenuhi, ini berarti bahwa pelayanan yang ada harus mudah mereka
akses, pemanfaat diberikan pilihan untuk teknologi pelayanan sesuai
dengan kemampuan pembiayaan, budaya dan tata cara keseharian.
c) Aspek equity/ kesetaraan melihat bagaimana keuntungan dari pemanfaatan
sistem dapat dibagi secara adil sesuai dengan perbedaan kondisi sosioekonomi, gender dan kemisikinan.
Dengan menggunakan kelima aspek ini agar dapat meningkatkan proses
perencanaan yang tanggap pada kebutuhan. Masyarakat dapat mencocokkan
kebutuhannya dengan pilihan teknis, kemampuan dan kemauan untuk membayar di
antara kelompok yang berbeda serta menilai tingkat kebutuhannya sendiri.
TEKNIS
FINANCIAL
SOSIAL
KESINAMBUNGAN
Gambar 2.1. Pentagonal
Kesinambungan Pengelolaan Air Bersih
LINGKUNGAN
INSTITUSI
(Sumber : Pengelolaan Sarana Pasca Konstruksi Ditjen PPM & PL Depkes, 2005)
2.7.2 Penilaian Kesinambungan Pengelolaan
Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP) sebagai wadah masyarakat
mengorganisir dirinya. Pada prosesnya akan terjadi perkembangan kelembagaan.
Perkembangan
diidentifikasi
melalui
faktor
Teknis,
Financial/
Keuangan,
Lingkungan, Institusi/ Kelembagaan dan Sosial.
Penilaian kesinambungan pengelolaan air bersih indikator-indikator dalam
kuestioner penelitian mengacu pada Petunjuk Teknis Pelaksanaan Monitoring
Kesinambungan dan Efektifitas Penggunaan Sarana (Outcome and Process
Monitoring, Depkes 2004).
Adapun penilaian kesinambungan pengelolaannya
menggunakan skor-skor yang terdapat dalam lembar skor dan catatan monitoring
partisipatif masyarakat untuk pelayanan sarana. Dari keseluruhan indikator dilakukan
skoring, sehingga nilai rata-rata mencerminkan kesinambungan pengelolaan.
Tabel 2.1 Indikator penilaian
Faktor
Indikator Penilaian
Tingkat perbaikan yang dilakukan oleh KPP.
2. Jangka waktu perbaikan saat terjadi kerusakan.
1. Tanggung jawab masyarakat terhadap iuran.
2. Kecukupan biaya yang diterima dari iuran para pengguna.
Kesinambungan
3. Perencanaan keuangan yang telah dilakukan untuk pelayanan.
Finansial
4. Tingkat keterbukaan dalam pembukuan keuangan.
5. Kesetaraan biaya dalam sistem iuran.
6. Pengalaman ketetapan dalam sistem pembayaran.
1. Jenis kontaminasi pada sumber air.
Kesinambungan
2. Kualitas sumber air.
Lingkungan
3. Pengamatan kondisi drainase.
1. Pelaporan tentang keuangan dan pelaksanaan lainnya.
Kesinambungan
2. Jenis pertemuan pengurus.
Institusi/ Kelembagaan
3. Aturan-aturan tentang pengelolaan sarana.
1. Kesetaraan dalam pengelolaan.
Kesinambungan Sosial
2. Keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan untuk
pengelolaan.
Sumber : Pedoman Kesinambungan dan Efektifitas Penggunaan Sarana (Outcome
Kesinambungan Teknis
1.
and Process Monitoring, Depkes 2004).
Sedangkan kesinambungan pengelolaan air bersihdapat diklasifikasikan 3
kategori yaitu :
a.
Tumbuh, apabila nilai rata-rata skor indikator ∑ 50 - 74.
b.
Kembang, apabila nilai rata-rata skor indikator ∑ 75 - 89.
c.
Mandiri, apabila nilai rata-rata skor indicator ∑ 90 - 100.
2.7.3 Faktor Yang Mempengaruhi Kesinambungan Pengelolaan
Faktor yang mempengaruhi kesinambungan oleh masyarakat tergantung :
1.
Tingkat dimana semua masyarakat (kaya/ miskin, laki-laki/ perempuan)
mempunyai akses dan sesuai dengan kebutuhan terhadap sarana.
2.
Cara dimana beban kerja dan manfaat dari perencanaan, pembangunan sarana
dibagi kesemua masyarakat (kaya/ miskin, laki-laki/ perempuan).
3.
Tingkat partisipasi penggunaan yang memperhatikan aspek jender dan
kemiskinan dalam pembangunan dan pengelolaan sarana.
4.
Bentuk
dukungan
kelembagaan
yang
memberikan
kemudahan
dalam
berpartisipasi bagi masyarakat (kaya/ miskin, laki-laki/ perempuan) dalam
pembangunan dan penggunaan sarana.
5.
Dukungan kebijakan atau bentuk sektor kebijakan dalam program memberikan
kemudahan bagi partisipasi masyarakat (kaya/ miskin, laki-laki/ perempuan)
dalam pembangunan sarana.
Sangat baik
Cukup baik
TAHAP
PERENCANAAN
TAHAP
KONTRUKSI
TAHAP PASCA
KONTRUKSI
Kurang baik
(Sumber : Pedoman Kesinambungan dan Efektifitas Penggunaan Sarana, Depkes
2004).
Gambar 2.2. Kondisi kesinambungan pengelolaan air bersih
2.8
Kebijakan Nasional Pembangunan Air Bersih dan Sanitasi Berbasis
Masyarakat
Buruknya pelayanan air bersih dan penyehatan lingkungan merupakan kendala
serius dalam mengurangi tingkat kemiskinan dan meningkatkan kesehatan
masyarakat. Akibatnya masyarakat harus menanggung beban berupa menurunya
kualitas
lingkungan,
mahalnya biaya untuk
mendapatkan
air
bersih
dan
memburuknya tingkat kesehatan. Dalam hal ini Pemerintah telah mengambil langkah
penting dengan menetapkan Kebijakan Nasional Pembangunan Air Bersih Dan
Sanitasi Berbasis Masyarakat. Pada hakikatnya pembangunan sarana air bersih dan
sanitasi adalah untuk masyarakat, tanpa upaya melibatkan mereka dalam tingkat yang
cukup signifikan, maka akseptabilitas dan keberlanjutan hasil pembangunan akan
sangat sulit dicapai. Sebelas butir Kebijakan Nasional Pembangunan Air Bersih Dan
Sanitasi Berbasis Masyarakat (Bappenas, Depdagri, Depkeu, Depkimpraswil dan
Depkes, 2004) antara lain :
1.
Air merupakan benda sosial dan benda ekonomi
Hingga saat ini sebagian anggota masyarakat masih berpandangan bahwa air
sebagai sumber kehidupan semata-mata merupakan benda sosial (public goods) yang
dapat diperoleh secara cuma-cuma serta tidak mempunyai nilai ekonomi. Dampaknya
adalah masyarakat tidak mempunyai keinginan untuk melestarikan lingkungan dan
sumber daya air (kualitas dan kuatitas) dan mengeksploitasi air sebagai benda bebas
dan berlebihan serta stagnasi (kemacetan) dalam pengembangan ilmu dan teknologi
untuk penggunaan kembali (reuse) dan pendaurulangan (recycle) air. Untuk
mengubah pandangan tersebut diperlukan upaya kampanye publik kepada seluruh
lapisan masyarakat bahwa air merupakan benda langka yang mempunyai nilai
ekonomi dan memerlukan pengorbanan untuk mendapatkannya, baik berupa uang
maupun waktu. Sesuai dengan sifat sebagai benda ekonomi, maka prinsip utama
dalam pelayanan air bersih dan sanitasi adalah pengguna harus membayar atas
pelayanan yang diperolehnya.
2.
Pendekatan tanggap kebutuhan
Pendekatan tanggap kebutuhan menempatkan masyarakat pada posisi teratas
dalam pengambilan keputusan, baik dalam hal pemilihan sistem yang akan dibangun,
pola pendanaan, maupun tata cara pengelolaannya. Untuk meningkatkan efektivitas
pendekatan tanggap kebutuhan, pemerintah sebagai fasilitator harus memberikan
pilihan yang diinformasikan (informed choice) yang menyangkut seluruh aspek
pembangunan air bersih dan sanitasi, seperti aspek tenologi, pembiayaan, lingkungan,
sosial dan budaya serta kelembagaan pengelolaan.
3.
Pembangunan berwawasan lingkungan
Pembangunan air bersih, mulai dari pengambilan sumber air, pengaliran air
baku, pengolahan air bersih, jaringan distribusi air bersih sampai dengan sambungan
rumah dilaksanakan dengan mempertimbangkan kaidah dan norma kelestarian
lingkungan. Demikian juga pembangunan prasarana dan sarana sanitasi juga
dilaksanakan mengikuti kaidah dan norma kelestarian lingkungan. Dengan demikian
diharapkan adanya sinergi antara upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat
dengan upaya peningkatan kelestarian lingkungan.
4.
Pendidikan perilaku hidup bersih dan sehat
Agar pelayanan air bersih dan sanitasi dapat memberikan manfaat secara
berkelanjutan, maka pembangunan air bersih dan sanitasi harus mampu mengubah
perilaku masyarakat dalam menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan sebagai
dasar menuju kualitas hidup yang lebih baik. Upaya yang dilakukan adalah
menjadikan komponen pendidikan perilaku hidup bersih dan sehat sebagai komponen
utama selain komponen fisik dalam pembangunan air bersih dan sanitasi.
5.
Keberpihakan pada masyarakat miskin
Pada prinsipnya seluruh masyarakat Indonesia berhak untuk mendapatkan
pelayanan air bersih dan sanitasi yang layak dan terjangkau. Oleh sebab itu, dengan
melihat keterbatasan yang dimiliki maka pembangunan air bersih dan sanitasi harus
memperhatikan dan melibatkan secara aktif kelompok masyarakat miskin dan
kelompok masyarakat tidak beruntung lainnya dalam proses pengambilan keputusan
sehingga kebutuhan mereka dapat terpenuhi secara layak, adil dan terjangkau.
6.
Peran perempuan dalam pengambilan keputusan
Peranan perempuan untuk memenuhi kebutuhan air bersih dan sanitasi untuk
kepentingan sehari-hari sangat dominan, sehingga sudah sewajarnya perempuan
diikutsertakan secara aktif dalam pembangunan air bersih dan sanitasi. Pelibatan
perempuan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pengelolaan prasarana dan
sarana air bersih dan sanitasi terbukti meningkatkan keberlanjutan pelayanan
prasarana dan sarana yang dibangun.
7.
Akuntabilitas proses perencanaan
Dalam era desentralisasi dan keterbukaan maka pembangunan air bersih dan
sanitasi harus menempatkan masyarakat sasaran tidak lagi sebagai objek
pembangunan namun sebagai subjek pembangunan. Kebijakan ini bertujuan
meningkatkan rasa memiliki masyarakat terhadap prasarana terbangun serta
meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengenali lebih dini sistem
pengelolaannya. Untuk itu, pembangunan air bersih dan sanitasi harus lebih terbuka,
transparan serta memberikan peluang kepada semua pelaku untuk memberikan
kontribusi sesuai dengan kemampuan sumber daya yang ada pada seluruh tahapan
pembangunan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, operasi dan pemeliharaan dan
pengembangan pelayanan
8.
Peran Pemerintah sebagai fasilitator
Fasilitasi tidak diartikan sebagai pemberian prasarana dan sarana fisik maupun
subsidi langsung, namun pemerintah harus memberikan bimbingan teknis dan non
teknis secara terus menerus kepada masyarakat yang sifatnya mendorong dan
memberdayakan masyarakat agar mereka dapat merencanakan, membangun dan
mengelola sendiri prasarana dan sarana bersih dan sanitasi serta melaksanakan secara
mandiri kegiatan pendukung lainnya.
9.
Peran aktif masyarakat
Seluruh masyarakat harus terlibat secara aktif dalam setiap tahapan
pembangunan bersih dan sanitasi. Namun demikian, mengingat keterbatasan ruang
dan waktu maka keterlibatan tersebut melalui mekanisme perwakilan yang
demokratis serta mencerminkan dan merepresentasikan keinginan dan kebutuhan
mayoritas masyarakat.
10.
Pelayanan optimal dan tepat sasaran
Yang dimaksud dengan optimal adalah kualitas pelayanan sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuan masyarakat, pemerataan akses untuk semua lapisan
masyarakat dan kenyamanan dalam mendapatkan pelayanan. Sedangkan tepat sasaran
diartikan sebagai cakupan pelayanan prasarana dan sarana air bersih dan sanitasi yang
dibangun sesuai dengan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat.
11.
Penerapan prinsip pemulihan biaya
Kapasitas dan kemampuan anggaran pemerintah (pusat dan daerah) yang ada
tidak mencukupi untuk terus membangun dan mengelolaprasarana dan sarana air
bersih dan sanitasi bagi masyarakat. Untuk menunjang keberlanjutan pelayanan maka
pembangunan dan pengelolaan pelayanan air bersih dan sanitasi perlu memperhatikan
prinsip pemulihan biaya. Sehubungan dengan hal tersebut, penerapan prinsip
pemulihan biaya tersebut harus dikomunikasikan secara terbuka, agar semua pihak
yang berkepentingan (stakeholder) terutama masyarakat pengguna, agar mereka
mengetahui besarnya investasi dalam pembangunan prasarana dan sarana tersebut.
Kebijakan tentang pembangunan air bersih dan sanitasi berbasis masyarakat yang
ingin dicapai adalah bangsa yang maju dan mandiri, sejahtera lahir batin. Salah satu
ciri bangsa Indonesia maju adalah mempunyai derajat kesehatan yang tinggi, karena
derajat kesehatan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kualitas sumber
daya manusia. Hanya dengan sumber daya yang sehat akan lebih produktif dan
meningkatkan daya saing yang sehat akan lebih produktif dan meningkatkan daya
saing bangsa.
2.9
Pelestarian Lingkungan Sumber-sumber Air
2.9.1 Generasi Sekarang Perlu Menjaga Kelestarian Hutan Demi Generasi
Mendatang
Tiada kehidupan tanpa hutan karena hutan penghasil oksigen terbesar. Maka
untuk kehidupan generasi berikutnya, generasi sekarang perlu menjaga kelestarian
hutan tersebut. Demikian pendapat Cecep Kusmana, Dekan Fakultas Kehutanan IPB
dalam kesempatan seminar tingkat nasional bertema Realisasi, Rehabilitasi
Lingkungan Hidup dan Kemanusian Untuk Masa Depan Indonesia beberapa waktu
yang lalu.
Laju kerusakan hutan Indonesia mencapai 3.8 juta hektar per tahun, ini
tergolong parah karena dampak lingkungan yang dirasakan seperti terjadinya banjir,
tanah longsor, kebakaran hutan dan asap dan lain-lain. Untuk pemulihan kualitas
lingkungan dan mengembalikan fungsi hutan tidak cukup hanya menanam pohon per
pohon. Rehabilitasi hutan di daerah tropis pada dasarnya adalah membangun
ekosistem dengan melibatkan dan memperhitungkan semua komponen terkait. Ketika
merehabilitasi dan mereboisasi perlu diperhatikan hutan sebagai kawasan
perlindungan aspek hidrologi yaitu :
1.
Kondisi curah hujan dan ketersediaan air musiman.
2.
Kepekaan sungai terhadap banjir.
3.
Kepekaan kawasan DAS terhadap erosi.
4.
Kepentingan sosial, ekonomi dan kelembagaan.
Dari aspek ekologi, unsur hara terbesar ada di hutan hujan tropis dan tersimpan
dalam pohon di atas tanah dalam bentuk biomassa, bukan pada lapisan tanah. Maka
hilangnya pohon sama dengan hilangnya gudang hara. Hasil penelitian Fakultas
Kehutanan IPB dari tahun 1978 sampai tahun 2004 di berbagai wilayah dan kondisi
menunjukkan bahwa erosi terkecil terdapat di hutan alam yang masih utuh (0.02 - 0.5
ton/ ha/ tahun).
2.9.2 Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup
Menurut Djunardi Djohan Djoekardi (Deputi Bidang Pengembangan Peran
Serta Masyarakat Kementrian Lingkungan Hidup), upaya pelestarian lingkungan
tidak dapat dilakukan oleh pemerintah saja tetapi juga masyarakat dan seluruh
pemangku kepentingan. Kerusakan hutan akan diiringi kerusakan fungsi lingkungan
yang berasal dari pencemaran udara, air dan tanah serta perubahan alih fungsi lahan
yang tidak sesuai dengan peruntukannya.
Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) telah menyusun strategi pelestarian
lingkungan hidup untuk beberapa tahun ke depan, seperti :
1.
Memberdayakan masyarakat, supaya masyarakat bukan saja sadar tapi juga
berperan dalam proses pengambilan keputusan untuk kepentingan publik di
bidang lingkungan hidup. Misalnya mengajak lembaga lain yang peduli
lingkungan, berpartisipasi mengadakan pembagian bibit tanaman keras.
Sehingga mendorong masyarakat agar turut melestarikan sumber daya air
melalui penanaman pohon di lingkungan tempat tinggal masing-masing karena
tanaman selain berfungsi sebagai produsen oksigen juga berperan penting
dalam proses penyerapan air.
2.
Meningkatkan kekuatan kepentingan pelestarian lingkungan dengan cara
memperkuat dan memperluas aliansi strategis dengan organisasi massa, partai
politik dan lembaga swadaya masyarakat. Pendekatan ke aliansi ini diharapkan
dapat meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pelestarian lingkungan dan
memunculkan keberpihakan pada pelestarian lingkungan.
3.
Mengembangkan good governance dalam pelestarian lingkungan hidup
khususnya di kalangan pemerintah kabupaten dan kota.
4.
Meningkatkan ketaatan melalui instrumen hukum serta instrumen alternatif
seperti Proper, Superkasih.
5.
Mengembangkan kelembagaan dan meningkatkan kapasitas, misalnya upaya
melengkapi peraturan perundang-undangan, pengembangan sumber daya
manusia, pengembangan sistem informasi dan sebagainya.
2.10. Kerangka konseptual
1. Defenisi Pembangunan kesejahterahan sosial
Pembangunan adalah karya terstruktur yang mempunyai implikasi luas
terhadap kualitas hidup manusia. Hal ini karena konstruksi pembangunan terdiri
atas serangkaian aktivitas yang direncanakan untuk memajukan kondisi
kehidupan manusia. Analogi ini menyiratkan bahwa karya terstruktur yang
dilakukan melalui pembangunan dalam berbagai bidang kehidupan selama ini,
ternyata telah mengantarkan bangsa Indonesia memasuki millenium ketiga
dengan berbagai konsekuensinya. Pembangunan kesejahteraan sosial sebagai
bagian tak terpisahkan dari pembangunan nasional, juga mengambil peran aktif
dalam meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia. Terdapat indikasi bahwa
selama empat tahun belakangan ini, Indonesia ternyata berhasil menata dan
meningkatkan kualitas hidup rakyat setahap lebih maju dari tatanan kehidupan
yang diwarisi menjelang akhir millenium yang lalu.
Seiring dengan kemajuan di bidang kesejahteraan sosial yang dicapai
dalam kurun waktu empat tahun terakhir ini, disadari pula bahwa keberhasilan
bangsa Indonesia ternyata masih diwarnai aneka permasalahan sosial yang
belum terselesaikan. baik masalah yang bersifat primer maupun akibat/dampak
non sosial. yang belum sepenuhnya terjangkau oleh proses pembangunan
kesejahteraan sosial.
Pembangunan kesejahteraan sosial yang telah dilaksanakan pada umumnya
telah memberi kontribusi peran pemerintah dan masyarakat di dalam
mewujudkan kesejahteraan sosial yang makin adil dan merata. Sasaran utama
program pembangunan kesejahteraan sosial adalah manusia, maka perubahanperubahan yang secara langsung terkait dengan sasaran program tersebut
terutama
permasalahan
dan
kebutuhannya,serta
ukuran-ukuran
taraf
kesejahteraan sosialnya sangat berpengaruh terhadap arah,tujuan dan kegiatankegiatan program pemerintah pusat maupun pemerintah daerah
Permasalahan dan kebutuhan-kebutuhan manusia tidak terlepas dari
kondisi dan perubahan lingkungan baik fisik maupun non-fisik; dalam kawasan
lokal, nasional dan global. Maka perencanaan yang lebih cermat perlu
dilakukan dengan memperhatikan aspek manusia, lingkungan fisik, sosial dan
lingkungan strategisnya. Hal-hal ini akan mengkaitkan pembangunan
kesejahteraan sosial dengan bidang pembangunan yang lain; ekonomi,
pendidikan,kesehatan, politik, sosial-budaya, pertahanan dan keamanan. Di
dalam konteks inilah sesungguhnya posisi pembangunan kesejahteraan sosial
dapat diperhitungkan sebagai bagian integral dan bagian strategis pembangunan
nasional.
Definisi diatas menunjukkan konsep kesejahteraan sosial sebagai suatu
sistem yang berintikan lembaga-lembaga dan pelayanan sosial. Tujuan sistem
adalah untuk mencapai tingkat kehidupan yang sejahtera dalam arti tingkat
kebutuhan pokok dan juga relasi-relasi sosial dengan lingkungannya. Tujuan
tersebut dapat dicapai dengan cara meningkatkan kemampuan individu baik
dalam memecahkan masalah maupun dalam memenuhi kebutuhannya, untuk itu
pengertian kesejahteraan sosial adalah suatu aktifitas yang terorganisasi yang
ditujukan untuk membantu tercapainya suatu penyesuaian timbal balik antara
individu dengan lingkungan sosialnya.
2.Program PISEW
Program PISEW
merupakan salah satu program nasional yang
ditujukan untuk mempercepat pembangunan sosial ekonomi masyarakat
yang berbasis sumberdaya lokal, mengurangi kesenjangan antar wilayah,
pengentasan kemiskinan daerah perdesaan, memperbaiki pengelolaan
pemerintahan (local governance) dan penguatan institusi di perdesaan
dengan pendekatan pembangunan kewilayahan di tingkat kabupaten
3. Konsep Program
a. Pembangunan
Manusia dalam hidup selalu mempunyai kebutuhan, dan di dalam
memenuhi kebutuhan itu selalu ada rasa tidak puas, ingin lebih baik dan
lebih baik lagi. Rasa tidak puas inilah yang mendorong manusia
senantiasa belajar dan berusaha terus untuk mencapai sesuatu lebih baik
dari sebelumnya. Itulah hakekat dari pembangunan.
Jadi pembangunan adalah proses yang dilakukan manusia untuk
meningkatkan tingkat kehidupannya, baik yang berupa kebutuhan
material maupun nonmaterial. Ada tiga unsur dalam pembangunan, yaitu
sebagai berikut.
1. Proses, yang merujuk pada waktu yang terus menerus secara
kesinambungan.Untukmemudahkan sejauh mana tingkat kemajuannya,
seringkali diberi batasan.
2. Hasil, yaitu keinginan-keinginan yang harus dicapai, misalnya secara
material berupa perolehan uang tiap bulan, perolehan nilai tiap
pelajaran di sekolah. Secara nasional sering diukur dari tingkat
pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan perkapita. Secara
nonmaterial misalnya dilihat dari perbaikan moral, prestasi belajar.
Seseorang dikatakan bermoral, apabila perilakunya mengikuti kaidahkaidah kehidupan yang dikehendaki atau dibenarkan oleh agama,
masyarakat
dan
hati
nuraninya.
Pembangunan
yang
bersifat
nonmaterial memang lebih sulit untuk diukur. Umumnya hanya dapat
dilihat dari perilaku. Contoh moral yang meningkat usaha yang
disengaja dan direncanakan, dalam mencapai sesuatu yang diinginkan
harus selalu ada cara atau strategi yang dibuat sebelumnya. Strategi ini
dibuat
dengan
memperhitungkan
tantangan-tantangan
yang dihadapi
kemampuan
dan
yang
dimiliki,
peluang-peluang
yang
mungkin timbul. Semua diperhitungkan dan disusun secara terencana
dan sistematis.
3. Misalnya kerukunan kehidupan beragama, meningkatnya kesadaran
dalam menjalankan ibadah, tingkat kriminalitas menurun, dan
sebagainya.
b. Dampak
Pengertian Dampak
secara umum
adalah segala sesuatu yang
ditimbulkan akibat adanya ‘sesuatu’. Dampak itu sendiri juga bisa berarti,
konsekwensi sebelum dan sesudah adanya ‘sesuatu’.
Analisa dampak sosial adalah suatu kajian yang dilakukan
terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat sebagai akibat
dari pelaksanaan suatu kegiatan pembangunan di suatu wilayah atau area.
Kajian
dilakukan
untuk
menelaah dan menganalisa
berbagai
dampak yang terjadi baik positif maupun negatif dari setiap tahapan
kegiatan mulai dari tahap pra konstruksi, konstruksi, sampai tahap
operasi.
c. Dampak Sosial Ekonomi
Pembangunan selain memberikan banyak manfaat tidak jarang
menimbulkan berbagai dampak negatif bagi masyarakat dikarenakan di
dalam proses perencanaan kurang memperhatikan kebutuhan dan
permasalahan yang ada di masyarakat. Kajian terhadap berbagai dampak
rencana pembangunan maupun kegiatan pembangunan yang sudah
berjalan sangat diperlukan agar masyarakat sebagai penerima dampak,
langsung dapat merasakan manfaat dari keberadaan pembangunan yang
dilaksanakan. Dalam hal ini Program PISEW terhadap perekonomian
masyarakat. Memastikan adanya manfaat ekonomi dari pengeluaranpengeluaran lokal yang disebabkan kehadiran kegiatan pembangunan itu
sendiri. Ini juga sangat penting karena keuntungan utama pendekatan
Program
PISEW
adalah
untuk
memaksimalkan
partisipasi
lokal.
“Partisipasi” semacam ini juga termasuk jumlah dana yang betul-betul
diperoleh masyarakat langsung yang seharusnya menerima bantuan tersebut,
dan sejauhmana dana itu diputarkan dalam perekonomian wilayah.
d. Hambatan
Hambatan adalah suatau hal yang bersifat melemahkan atau
menghalangi secara tidak konsepsional yang berasal dari dalam.
Gangguan atau hambatan itu secara umum dapat dikelompokkan menjadi
hambatan internal dan hambatan eksternal , yaitu:
1.
Hambatan internal, adalah hambatan yang berasal dari dalam sistem itu
sendiri yang terkait kondisi fisik dan psikologis suatu sistem. Contohnya, jika
suatu sistem mengalami gangguan komunikasi maka ia akan mengalami
hambatan dalam mengakses informasi.
2.
Hambatan eksternal, adalah hambatan yang berasal dari luar sistem yang
terkait dengan lingkungan fisik dan lingkungan sosial budaya. Contohnya,
perbedaan latar belakang sosial budaya dapat menyebabkan salah pengertian
atau ketidak sepahaman dalam suatu sistem.
Download