LAPORAN AKHIR ANALISIS DAN EVALUASI HUKUM DALAM

advertisement
LAPORAN AKHIR
ANALISIS DAN EVALUASI HUKUM
DALAM RANGKA PENINGKATAN
KEDAULATAN PANGAN
PUSAT ANALISIS DAN EVALUASI HUKUM NASIONAL
BADAN PEMBINAAN HUKUM NASIONAL
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM RI
TAHUN 2016
KATA PENGANTAR
Dengan mengucap rasa syukur ke hadirat Allah SWT Tuhan
Yang Maha Esa atas izin dan kuasaNya, Analisis dan Evaluasi
Hukum dalam Rangka Peningkatan Kedaulatan Pangan tahun
2016 telah selesai dilaksanakan. Kegiatan ini dilaksanakan oleh
Kelompok Kerja (Pokja) Analisis dan Evaluasi Hukum dalam
Rangka Peningkatan Kedaulatan Pangan. Atas terselesaikannya
kegiatan
ini,
disusun
laporan
akhir
sebagai
bentuk
pertanggungjawaban sekaligus sebagai bahan masukan bagi
pelaksanaan reformasi bidang hukum secara umum, maupun bagi
dokumen perencanaan pembangunan hukum secara khusus.
Pokja Peningkatan Kedaulatan Pangan melaksanakan tugas
berdasarkan surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia Republik Indonesia Nomor PHN.07-LT.05.03 Tahun 2016
tentang Pembentukan Kelompok Kerja Analisis dan Evaluasi
Hukum dalam rangka Peningkatan Kedaulatan Pangan. Personalia
Pokja terdiri dari:
Penanggung Jawab
: Pocut Eliza, S.Sos., S.H., M.H
Ketua
: Aisyah Lailiyah, S.H., M.H.
Sekretaris
: Nunuk Febriananingsih, S.H., M.H.
Anggota
: 1. Heni Andayani, S.H., M.Si.
2. Lewinda Oletta, S.H
3. Nurdin Rudiono, S.H.
Sekretariat
: Yerrico Kasworo, S.H., M.H
Analisis dan evaluasi dilakukan untuk mengidentifikasikan
beberapa hal penting, pertama, mengidentifikasi kesesuaian antara
asas materi muatan peraturan perundang-undangan yang terkait
dengan masalah pangan. kedua, menganalisis dan mengevaluasi
peraturan perundang-undangan terkait pangan yang berpotensi
disharmoni/tumpang tindih. Ketiga, mengidentifikasi kendala
i
dan/atau efektivitas penerapan peraturan perundang-undangan di
lapangan yang terkait kedaulatan pangan.
Dalam melakukan analisis dan evaluasi tersebut, Pokja
Peningkatan
Kedaulatan
Pangan
mengundang
narasumber,
menyelenggarakan Focus Group Discussion, dan melaksanakan
Diskusi Publik di daerah guna memperoleh masukan dari para
pakar, praktisi, akademisi, serta para pemangku kepentingan,
baik LPNK, LPNS, maupun dari Pemerintah Daerah. Berdasarkan
hasil analisis dan evaluasi, Pokja Peningkatan Kedaulatan Pangan
memberikan
beberapa
rekomendasi
untuk
mendorong
peningkatan kedaulatan pangan, baik melalui revisi beberapa
peraturan perundang-undangan terkait, perbaikan kebijakan di
bidang perikanan, serta penegakan hukum yang tegas dari aparat
penegak hukum.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas
masukan dan saran-sarannya, baik tertulis maupun tidak tertulis,
khususnya kepada para narasumber yang telah memberikan
pemikirannya dalam berbagai forum Pokja ini. Kami menyadari
masih banyak kekurangan dan belum banyak memberikan
sumbangan
pemikiran
untuk
melakukan
evaluasi
hukum
mengenai kedaulatan pangan, mengingat keterbatasan waktu,
kemampuan dan sumber daya yang ada. Oleh karena itu, kritik,
saran dan masukan dari semua pihak sangat kami harapkan
dalam rangka menyempurnakan analisis dan evaluasi ini.
ii
iii
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
..........................................................................
i
Daftar Isi
..........................................................................
iv
BAB I
Pendahuluan .....................................................
1
A. Latar Belakang ............................................
1
B. Permasalahan ............................................
6
C. Tujuan Kegiatan .........................................
7
D. Ruang Lingkup Analisis dan Evaluasi .........
8
E. Metode Analisis dan Evaluasi Hukum .........
9
F. Sistematika Penulisan ..................................
15
BAB II
Politik Hukum dan Pemberantasan Kegiatan
Perikanan Liar (IUU Fishing) .............................
17
A. Politik Hukum Kedaulatan Pangan dalam
Undang-Undang Nomor 18 tahun 2011
tentang Pangan ...........................................
18
B. Politik Hukum Kedaulatan Pangan dalam
Peraturan Perundang-undangan Lain yang
Terkait ......................................................
BAB III
20
Analisis Dan Evaluasi Peraturan PerundangUndangan Terhadap Kesesuaian Asas-Asas
Peraturan Perundang-Undangan.......................
31
A. Penilaian terhadap Undang-Undang .............
31
1. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2011
tentang Pangan ........................................
32
iv
2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992
tentang Sistem Budidaya Tanaman .........
35
3. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999
tentang Kehutanan ..................................
40
4. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000
tentang Perlindungan Varietas
Tanaman .................................................
45
5. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009
tentang Perlindungan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan .............................
48
6. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013
tentang Perlindungan dan Pemberdayaan
Petani ......................................................
52
7. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014
tentang Perkebunan ................................
54
B. Penilaian Terhadap Peraturan
59
Pemerintah ................................................
1. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun
2004 tentang Keamanan, Mutu, dan Gizi
Pangan .................................................
59
2. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun
2005 tentang Kemanan Hayati Produksi
Rekayasa Genetika .................................
59
3. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun
2011 tentang Penetapan dan Alih Fungsi
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
60
4. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun
v
2012 tentang Insentif Perlindungan
Lahan Pertanian Pangan ........................
62
5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun
2012 tentang Sistem Informasi Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan ..........
65
6. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun
2012 tentang Pembiayaan Perlindungan
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan...
66
7. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun
2015 tentang Ketahanan Pangan dan
Gizi .......................................................
66
8. Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun
2006 tentang Dewan Ketahanan Pangan
BAB IV
67
Analisis dan Evaluasi Hukum Berdasarkan
Potensi Disharmoni Peraturan Perundang-
BAB V
BAB VI
Undangan ........................................................
68
A. Potensi Disharmoni Kewenangan ..............
68
Analisis Dan Evaluasi Berdasarkan Efektivitas
Implementasi Peraturan Perundang-Undangan
78
A. Masalah Substansi Hukum .....................
86
B. Masalah Struktur Hukum ........................
89
C. Masalah Budaya Hukum ..........................
96
D. Masalah Pelayanan dan Penegakan Hukum
98
Penutup ............................................................
101
A. Simpulan ....................................................
101
vi
B. Rekomendasi Umum .................................
106
C. Rekomendasi Khusus ..................................
107
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................
115
LAMPIRAN
Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI
vii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling
hakiki bagi penduduk suatu Negara. Karena itu, sejak berdirinya
Negara Republik Indonesia, UUD 1945 telah mengamanatkan bahwa
Negara wajib menjalankan kedaulatan pangan (hak rakyat atas
pangan) dan mengupayakan terpenuhinya kebutuhan pangan bagi
penduduk. Kewajiban dimaksud mencakup kewajiban menjamin
ketersediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan konsumsi pangan
yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi seimbang. Untuk bisa
melaksanakan kewajiban tersebut secara efektif, maka Negara wajib
menguasai sumber daya alam untuk digunakan sebesar-besarnya
bagi kemakmuran rakyat (UUD 1945 Pasal 33 ayat 3).
Disamping itu, pangan juga memiliki peran strategis bagi suatu
Negara karena dapat mempengaruhi kondisi sosial, ekonomi, dan
politik Negara tersebut. Sebut saja China, Jerman, Australia, dan
New Zealand yang merupakan negara-negara yang mampu berubah
menjadi negara maju karena kemajuan sektor pertaniannya. Saat
kelangkaan pangan terjadi, maka rakyat bisa bertindak anarkis dan
menurunkan
rezim
pemerintahan
yang
sedang
berkuasa
sebagaimana yang dialami di Mesir dan Aljazair.
Indonesia harus berdaulat atas pangannya. Berdaulat atas
pangan berarti berdaulat untuk memproduksi pangan secara mandiri
dan berdaulat untuk menetapkan sistem pertanian, peternakan, dan
perikanan
tanpa
adanya
subordinasi
dari
kekuatan
pasar
internasional. Pertanyaannya adalah, apakah Negara Indonesia
sudah
berhasil
mewujudkan
miningkatkannya
dalam
kedaulatan
memenuhi
pangan
kecukupan
dan
bahkan
pangan
bagi
penduduk Indonesia?
Dalam
satu
dekade
terakhir
kata
kedaulatan
pangan
merupakan salah satu kata yang kerapkali muncul dan disuarakan
oleh banyak kalangan di Indonesia. Namun, secara konsep, kata
kedaulatan pangan sendiri masih seringkali dipertukarkan, bahkan
disalahartikan dengan kata ketahanan pangan yang secara konsep
berbeda.
Mengutip
“Ketahanan
pernyataan
pangan
itu
Presiden
berbeda
Joko
dengan
Widodo,
kedaulatan
bahwa
pangan.
Ketahanan pangan itu "hanya" sekedar bahan pangan itu "ada" di
gudang-gudang logistik dan di pasar-pasar. Tapi bahan pangan itu
dari mana tidak jadi soal, dari impor atau lokal tak dipikirkan, yang
penting ada. Namun dalam konsep "kedaulatan pangan", bahan
pangan itu ada, kita produksi sendiri dan kita kuat dalam
pemasaran, bahkan pangan yang kita hasilkan dari pertanian kita
bisa menguasai pasar-pasar di luar negeri. Kita berdaulat atas
sumber pangan kita, bila terjadi kekacauan di luar negeri, cadangan
logistik kita masih kuat karena hasil pangan kita lebih dari cukup
memenuhi kebutuhan rakyat. Dalam pemerintahan Kabinet Kerja,
yang dituju adalah "peningkatan kedaulatan pangan". Visi terbesar
dari kedaulatan pangan adalah ketika hasil pangan dari bumi
2
Indonesia melimpah di pasar lokal maupun pasar luar negeri,
minimal di pasar Negara-negara ASEAN.1
Pemenuhan konsumsi pangan tersebut harus mengutamakan
produksi dalam negeri dengan memanfaatkan sumber daya dan
kearifan lokal secara optimal. Untuk mewujudkan hal tersebut, tiga
hal pokok yang harus diperhatikan adalah (i) ketersediaan pangan
yang berbasis pada pemanfaatan sumber daya lokal secara optimal,
(ii) keterjangkauan pangan dari aspek fisik dan ekonomi oleh seluruh
masyarakat, serta (iii) pemanfaatan pangan atau konsumsi pangan
dan gizi untuk hidup sehat, aktif, dan produktif. Perwujudan
ketersediaan pangan yang berbasis pada pemanfaatan sumber daya
lokal secara optimal dilakukan dengan penganekaragaman pangan
dan
pengutamaan
produksi
pangan
dalam
negeri.Pewujudan
keterjangkauan pangan dari aspek fisik dan ekonomi dilakukan
melalui pengelolaan stabilisasi pasokan dan harga pangan pokok,
pengelolaan cadangan pangan pokok, dan pendistribusian pangan
pokok. Pemanfaatan pangan atau konsumsi pangan dan gizi akan
menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas sebagai salah
satu faktor penentu keberhasilan pembangunan.
Definisi kedaulatan maupun ketahanan pangan juga dijelaskan
secara eksplisit pada UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan.
Pada Pasal 1 angka 2, dinyatakan bahwa kedaulatan pangan adalah
hak negara dan bangsa yang secara mandiri menentukan kebijakan
pangan yang menjamin hak atas pangan bagi rakyat dan yang
memberikan hak bagi masyarakat untuk menentukan sistem pangan
yang
sesuai
dengan
potensi
sumber
daya
lokal.
Sedangkan
1
http://www.fiskal.co.id/berita/fiskal-15/3674/ketahanan-pangan-versus-kedaulatan-pangan-menurutjokowi#.Vp3XyuaAqGU. Diakses pada 15 Januari 2016, pukul 14.05 WIB.
3
ketahanan pangan dijelaskan pada Pasal 1 angka 4 yaitu kondisi
terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang
tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun
mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak
bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat,
untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.
Sejumlah negara, seperti Ekuador, Bolivia dan Nepal, telah
menjadikan „kedaulatan pangan‟ sebagai norma hukum dalam
konstitusi mereka, sementara di negara lain „kedaulatan pangan‟
telah menjadi bagian dari kebijakan pertanian di tingkat nasional
(Brazil) dan kebijakan di tingkat daerah (Negara Bagian Maine, AS).2
Di Indonesia, melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang
Pangan dalam Pasal 3 dikatakan bahwa penyelenggaraan pangan
dilakukan
untuk
memberikan
berdasarkan
memenuhi
manfaat
secara
kedaulatan
kebutuhan
adil,
pangan,
dasar
merata
dan
kemandirian
manusia
yang
berkelanjutan
pangan
dan
ketahanan pangan, sehingga dapat dikatakan bahwa kedaulatan
adalah bagian dari penyelenggaraan pangan di Indonesia.
Di luar konsePasali tentang kedaulatan pangan dan ketahanan
pangan, UU Pangan juga mengenal istilah „Kemandirian Pangan‟ dan
„Keamanan Pangan‟. Kemandirian Pangan adalah kemampuan Negara
dan Bangsa dalam memproduksi pangan yang beraneka ragam dari
dalam negeri yang dapat menjamin pemenuhan kebutuhan pangan
yang cukup sampai di tingkat perseorangan dengan memanfaatkan
potensi sumber daya alam, manusia, sosial, ekonomi, dan kearifan
lokal
secara
bermartabat.
Sedangkan
yang
dimaksud
dengan
2
Wittman, H., A.A. Desmarais, N. Wiebe (2010), “The Origins and Potential of Food Sovereignty” in
H. Wittman, A.A. Desmarais, N. Wiebe (eds.), Food Sovereignty: Reconnecting Food, Nature and
Community, 1-14. Oxford: Pambazuka.
4
Keamanan Pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk
mencegah pangan dari kemungkinan pencemaran biologis, kimia,
dan
benda
lain
yang
dapat
menganggu,
merugikan,
dan
membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan
agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk
dikonsumsi”.
Dilihat dari pengertian-pengertian di atas, tampaknya yang
dimaksud dengan „kedaulatan pangan‟ oleh UU Pangan adalah
persoalan berdaulatnya negara dan bangsa dalam membentuk
kebijakan pangan, sementara pengertian „Ketahanan Pangan‟ di
undang-undang
tersebut
mengarah
pada
persoalan
keajegan
penyediaan pangan, dan pengertian „Kemandirian Pangan‟ mengarah
pada persoalan kemampuan dalam menghasilkan pangan, sedangkan
pengertian „Keamanan Pangan‟ mengarah pada soal kualitas pangan
yang dapat dikonsumsi masyarakat. Dengan demikian, pengertianpengertian „Kedaulatan Pangan‟ dan „Ketahanan Pangan‟ dalam
undang-undang itu sangat berbeda dengan perdebatan-perdebatan
wacana yang berkembang di seputusanar isu „kedaulatan pangan‟
(food sovereignty) dan „ketahanan pangan‟ (food security) seperti telah
diuraikan di atas.
Jika dikaitkan lagi dengan wacana mutakhir di
seputusanar hubungan antara hak atas pangan (right to food),
peningkatan kedaulatan pangan (food sovereignty), dan penataan
struktur penguasaan tanah (agrarian reform), maka UU Pangan tidak
memiliki pengaturan yang jelas yang mencerminkan pentingnya
ketiga hal tersebut diatur secara komprehensif dan terintegrasi dalam
peraturan
sesungguhnya
perundang-undangan.
hanya
suatu
aturan
Undang-Undang
mengenai
Pangan
penyelenggaraan
pangan (food management) dari sisi pengadaan/penyediaan pangan,
5
yang oleh penggagas konsePasali peningkatan kedaulatan pangan
(food sovereignty) telah dikritik.
Konsep kedaulatan pangan sebenarnya lebih penting dan lebih
strategis dari konsep swasembada pangan (self sufficiency), dan
bahkan dari ketahanan pangan (food security) yang lebih bersifat ke
dalam. Ketergantungan yang begitu tinggi terhadap pangan impor
adalah salah satu indikasi dari masalah keberdaulatan pangan.
Bentuk paling menakutkan dari buruknya keberdaulatan pangan
adalah “keterjebakan” pangan impor. Dalam arti, negara hanya
menggantungkan sepenuhnya pada pasokan pangan negara lain,
sementara cadangan devisa dan neraca pembayaran di dalam negeri
sangat
buruk.
Keberhasilan
pelaksanaan
UU
Pangan
dalam
menjamin ketahanan pangan, menjaga kemandirian pangan dan
menciptakan peningkatan kedaulatan pangan nasional, akan sangat
bergantung pada kinerja pemerintah sebagai lembaga eksekutif,
mulai dari tingkat pusat, provinsi hingga daerah. Apabila pemerintah
mampu konsisten dalam memperjuangkan aspek keberdaulatan
pangan,
tentu
prasyarat
yang
harus
diselesaikan
adalah
meningkatkan konsistensi strategi dasar kebijakan sektor pertanian
dan pembangunan peningkatan kedaulatan pangan.3
B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, dalam rangka
melakukan analisis dan evaluasi terhadap peraturan perundangundangan terkait kedaulatan pangan, maka perlu diajukan beberapa
3
Penjelasan Umum UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan.
6
permasalahan sebagai dasar pelaksanaan kegiatan analisis dan
evaluasi. Beberapa permasalahan tersebut adalah:
1. Bagaimana
kesesuaian
perundang-undangan
asas
yang
materi
terkait
muatan
dengan
peraturan
peningkatan
kedaulatan pangan?
2. Apakah peraturan perundang-undangan terkait peningkatan
kedaulatan pangan berpotensi disharmoni/tumpang tindih?
3. Apakah kendala penerapan peraturan perundang-undangan
terkait peningkatan kedaulatan pangan di lapangan?
4. Bagaimana efektivitas peraturan perundang-undangan terkait
peningkatan kedaulatan pangan di lapangan?
C. Tujuan
Tujuan dilaksanakannya kegiatan analisis dan evaluasi hukum
dalam rangka peningkatan kedaulatan pangan adalah:
1. Menilai kesesuaian antara asas materi muatan
perundang-undangan
dan
perundang-undangan
yang
indikator
terkait
peraturan
terhadap
dengan
peraturan
peningkatan
kedaulatan pangan;
2. Menilai
peraturan
perundang-undangan
yang
berpotensi
disharmoni/tumpang tindih terkait peningkatan kedaulatan
pangan.
3. Menganalisis kendala dalam penerapan peraturan perundangundangan terkait peningkatan kedaulatan pangan;
4. Menganalisis implementasi peraturan perundang-undangan
terkait peningkatan kedaulatan pangan.
7
D. Ruang Lingkup Analisis dan Evaluasi
Analisis dan evaluasi hukum ini dilakukan terhadap peraturan
perundang-undangan terkait dengan peningkatan kedaulatan
pangan berupa Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan
Presiden, Peraturan Menteri.
Peraturan Perundang-Undangan yang dijadikan obyek analisis
dan evaluasikan hukum yaitu:
1. Undang-Undang
1) UU Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman;
2) UU Nomor 41 Tahun 1999 Kehutanan;
3) UU Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas
Tanaman;
4) UU Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan;
5) UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan;
6) UU
Nomor
19
Tahun
2013
tentang
Perlindungan
dan
Pemberdayaan Petani;
7) Undang-UndangNomor 39 Tahun 2014 Tentang Perkebunan.
2. Peraturan Pemerintah
1) PP Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu, dan Gizi
Pangan;
2) PP Nomor 21 Tahun 2005 tentang Keamanan Hayati Produk
Rekayasa Genetika;
8
3) PP Nomor 1 Tahun 2011 tentang Penetapan dan Alih Fungsi
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan;
4) PP Nomor 12 Tahun 2012 tentang Insentif Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan;
5) PP Nomor 25 Tahun 2012 tentang Sistem Informasi Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan;
6) PP Nomor 30 Tahun 2012 tentang Pembiayaan Perlindungan
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan;
7) PP Nomor 17 Tahun 2015 Tentang Ketahanan Pangan dan Gizi;
3. Peraturan Presiden
1) Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2006 tentang Dewan
Ketahanan Pangan.
E. Metode Analisis dan Evaluasi Hukum
Analisis dan evaluasi hukum dalam rangka peningkatan
kedaulatan pangan dilakukan dengan menggunakan metode yuridis
normatif. Metode ini dilakukan melalui studi pustaka dengan
menelaah
data
undangan
sekunder,
atau
yaitu
dokumen
berupa
hukum
Peraturan
lainnya,
hasil
perundangpenelitian,
pengkajian, serta referensi lainnya yang berkaitan dengan masalah
yang diidentifikasi.
Pengumpulan data dalam penelitian kepustakaan dilakukan
dengan menggunakan studi kepustakaan, yang sumber datanya
diperoleh dari:
1) Bahan
hukum
primer,
yaitu
bahan-bahan
hukum
yang
mengikat berupa UUD NRI Tahun 1945, peraturan perundang-
9
undangan, putusanusan Mahkamah Konstitusi serta dokumen
hukum lainnya yang berkaitan dengan kedaulatan pangan.
2) Bahan
hukum
sekunder,
yang
memberikan
penjelasan
mengenai bahan hukum primer seperti risalah sidang, dokumen
penyusunan peraturan yang terkait dengan penelitian ini dan
hasil-hasil penelitian, kajian, jurnal dan hasil pembahasan
dalam berbagai media yang terkait dengan kedaulatan pangan.
3) Bahan hukum tersier atau bahan hukum penunjang, seperti
kamus hukum dan bahan lain di luar bidang hukum yang
dipergunakan untuk melengkapi data penelitian.
Untuk mendukung analisis terhadap data sekunder, maka
kegiatan analisis dan evaluasi hukum ini juga dilengkapi dengan
diskusi (focus group discussion/FGD), rapat dengan Narasumber dan
pemangku kepentingan. Selain itu, juga dilaksanakan Diskusi Publik
di Provinsi Nusa Tenggara Timur, dalam rangka mempertajam
analisis.
Instrumen Analisis dan Evaluasi empiris berupa matriks
masalah-masalah
yang
terkait
dengan
efektifitas
pelaksanaan
Peraturan Perundang-undangan dan aspek budaya hukum.
Analisis dan evaluasi hukum ini menggunakan beberapa
dimensi penilaian, yaitu: 1) penilaian ketentuan pasal berdasarkan
kesesuaian
asas
peraturan
perundang-undangan;
2) penilaian
berdasarkan potensi disharmoni, baik antar peraturan perundangundangan, maupun antar pasal dalam satu peraturan perundangundangan; dan 3) penilaian berdasarkan efektivitas implementasi
peraturan perundang-undangan.
10
Penggunaan
penilaian
ketiga
dimensi
tersebut
dapat
diuraikan sebagai berikut:
1. Penilaian berdasarkan kesesuaian asas
Setiap
ketentuan
pasal
dinilai
kesesuaiannya
dengan
asas
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan Pasal 6 UU Nomor 12
Tahun
2011
tentang
Pembentukan
Peraturan
Perundang-
Undangan. Adapun asas-asas yang digunakan dalam analisis dan
evaluasi ini adalah:
a. asas kejelasan rumusan, bahwa setiap Peraturan Perundangundangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan
Peraturan Perundang-Undangan, sistematika, pilihan kata atau
istilah, serta bahasa hukum yang jelas dan mudah dimengerti
sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi
dalam pelaksanaan;
b. asas materi muatan. Materi muatan Peraturan perundangundangan
harus
mencerminkan
asas
materi
muatan
sebagaimana yang diatur dalam Pasal 6 UU Nomor 12 Tahun
2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan,
yaitu:
a. Pengayoman
Materi
berfungsi
muatan
peraturan
memberikan
perundang-undangan
perlindungan
untuk
harus
ketentraman
masyarakat.
b. Kemanusiaan
Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus
11
mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak asasi
manusia serta harkat dan martabat setiap warga negara dan
penduduk Indonesia secara proporsional.
c. Kebangsaan
Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus
mencerminkan
sifat
dan
watak
bangsa
Indonesia
yang
majemuk dengan tetap menjaga prinsip Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
d. Kekeluargaan
Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus
mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam
setiap pengambilan keputusanusan.
e. Kenusantaraan
Setiap
materi
senantiasa
muatan
peraturan
memperhatikan
perundang-undangan
kepentingan
seluruh
wilayah
Indonesia dan materi muatan peraturan perundang-undangan
yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem hukum
nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
f. Bhineka Tunggal Ika
Materi
muatan
peraturan
perundang-undangan
harus
memperhatikan keragaman penduduk, agama, suku dan
golongan,
kondisi
khusus
daerah
serta
budaya
dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
12
g. Keadilan
Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus
mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga
negara.
h. Kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan
Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan tidak
boleh memuat hal yang bersifat membedakan berdasarkan
latar belakang, antara lain, agama, suku, ras, golongan,
gender, atau status sosial.
i. Ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau
Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus
dapat mewujudkan ketertiban dalam masyarakat melalui
jaminan kepastian hukum.
j.
Keseimbangan, keserasian dan keselarasan
Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus
mencerminkan keseimbangan, keserasian, dan keselarasan,
antara kepentingan individu, masyarakat dan kepentingan
bangsa dan negara.
2. Penilaian Berdasarkan Potensi Disharmoni
Penilaian ini dilakukan dengan pendekatan normatif, terutama
untuk mengetahui adanya disharmoni pengaturan
13
3. Penilaian Berdasarkan Efektivitas Implementasi Peraturan
Perundang-undangan
Setiap
pembentukan
mempunyai
peraturan
kejelasan
tujuan
perundang-undangan
yang
hendak
dicapai
harus
serta
berdayaguna dan berhasilguna sebagaimana dimaksud dalam
asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik
yang tercantum dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 12 Tahun
2011. Penilaian ini perlu dilakukan untuk melihat sejauh mana
manfaat dari pembentukan suatu peraturan perundang-undangan
terkait kedaulatan pangan sesuai dengan yang diharapkan.
Penilaian ini perlu didukung dengan data empiris yang terkait
dengan
implementasi
peraturan
perundang-undangan
yang
berhubungan dengan kedaulatan pangan.
Pelaksanaan
analisis
dan
evaluasi
hukum
dilaksanakan
dengan kegiatan meliputusani:
1. Melakukan inventarisasi peraturan perundang-undangan yang
terkait
kedaulatan
terhadap
data
pangan.
dukung
Inventarisasi
berupa
juga
Putusanusan
dilakukan
Mahkamah
Konstitusi mengenai hasil pengujian undang-undang yang
terkait.
Putusanusan
pengujian
Mahkamah
Agung
mengenai
hasil
peraturan perundang-undangan di bawah Undang-
Undang yang terkait, dan perjanjian internasional yang terkait;
2. Melakukan analisis terhadap pemenuhan indikator asas pada
masing-masing
peraturan
perundang-undangan
terkait
kedaulatan pangan;
3. Menginventarisir secara normatif dan empiris potensi tumpang
tindih dan disharmoni;
14
4. Melakukan
analisis
Implementasi
dan
peraturan
penilaian
terhadap
perundang-undangan
efektivitas
berdasarkan
temuan normatif dan empiris terkait kedaulatan pangan;
5. Menyusun simpulan dan rekomendasi.
F. Sistematika Penulisan
Analisis dan Evaluasi ini akan disusun dengan sistematika
penulisan sebagai berikut :
Bab I memuat Pendahuluan yang didalamnya menguraikan
beberapa aspek, mulai dari latar belakang, pemilihan isu, paparan
isu aktual disertai data awal serta permasalahan yang dihadapi
masyarakat. Selain itu, didalam pendahuluan berisikan tujuan,
ruang lingkup dan metode analisis dan evaluasi.
Bab II
dalam
mengenai
Peraturan
Politik Hukum Kedaulatan Pangan
Perundang-Undangan.
Bab
ini
akan
menguraikan mengenai politik hukum yang tertuang dalam
peraturan
perundang-undangan,
yang
mencerminkan
arah
kebijakan dari pemerintah atau Negara dalam rangka peningkatan
kedaulatan pangan.
Bab III
mengenai
Analisis
dan
Evaluasi
Peraturan
Perundang-undangan terhadap kesesuaian Asas-asas. Bab ini
akan menguraikan kesesuaian ketentuan pasal-pasal dalam suatu
peraturan
perundang-undangan
terhadap
asas
peraturan
perundang-undangan berdasarkan kejelasan rumusan dan asas
materi muatan. Untuk memudahkan dalam membaca, bab ini
divisualisasikan dalam bentuk tabel.
15
Bab IV mengenai Analisis dan Evaluasi Berdasarkan Potensi
Disharmoi
Peraturan
menguraikan
analisis
Perundang-undangan.
dan
evaluasi
Bab
ini
berdasarkan
akan
potensi
disharmoni, baik antarpasal maupun antarperaturan perundangundangan.
Bab V
mengenai
Analisis
dan
Evaluasi
Berdasarkan
Efektivitas Implementasi Peraturan Perundang-undangan. Analisis
dan evaluasi terkait efektivitas dapat terkait dengan substansi
hukum, struktur hukum, budaya hukum, maupun pelayanan
hukum.
Bab VI memuat Simpulan dan Rekomendasi dari hasil
analisis dan evaluasi. Rekomendasi terdiri dari rekomendasi
umum, yang berisi saran terkait dengan substansi hukum,
struktur
hukum,
ataupun
budaya
hukum,
sedangkan
rekomendasi khusus berisi saran normatif, yang didasarkan pada
hasil analisis pada Bab III, Bab IV, dan Bab V.
16
BAB II
POLITIK HUKUM KEDAULATAN PANGAN
Politik hukum yang dimaksud dalam laporan ini adalah arah
kebijakan pemerintah atau negara mengenai arah pengaturan hukum
dalam rangka Kedaulatan Pangan, yang dituangkan dalam peraturan
perundang-undangan4.
Dengan
kata
lain,
bahwa
salah
satu
perwujudan dari politik hukum kedaulatan pangan di antaranya
berupa peraturan perundang-undangan. Bab ini akan menguraikan
politik hukum kedaulatan pangan yang terkandung dalam Undangundang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, sebagai Undangundang utama (terkait langsung) dengan bahasan laporan, dan juga
politik hukum UU lain yang terkait dengan kedaulatan pangan.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)
2015-2019 yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 2
Tahun 2015 mengedepankan Kedaulatan Pangan sebagai salah satu
agenda prioritas nasional sebagai amanat Trisakti dan Nawacita,
khususnya
pada
Agenda
Prioritas
ke-7,
yaitu:
“mewujudkan
kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis
ekonomi domestik.” Untuk tetap meningkatkan dan memperkuat
kedaulatan pangan, sasaran utama prioritas nasional bidang pangan
periode 2015-2019 pada intinya ditempuh untuk memperkuat pilarpilar ketahanan pangan. Pilar ketahanan pangan pada prinsipnya
adalah upaya menjaga produktivitas pangan, mempertahankan
stabilitas harga pangan dan keterjangkauan masyarakat dalam
4
[1] http://ditjenpp.kemenkumham.go.id/htn-dan-puu/480-politik-perundang-undangan.html
17
mendapatkan pangan, serta melindungi masyarakat yang rentan
terhadap
krisis
pangan
melalui:
1)
Tercapainya
peningkatan
ketersediaan pangan yang bersumber dari produksi dalam negeri; 2)
Terwujudnya peningkatan distribusi dan aksesibilitas pangan; 3)
Tercapainya
peningkatan
kualitas
konsumsi
pangan
dan
gizi
masyarakat; 4) Mitigasi gangguan terhadap ketahanan pangan; 5)
Peningkatan kesejahteraan pelaku utama penghasil bahan pangan;
dan 6) Tersedianya sarana dan prasarana irigasi (ketahanan air).
A. Politik Hukum Kedaulatan Pangan dalam Undang-Undang
Nomor 18 tahun 2011 tentang Pangan
Dalam konsiderans menimbang disebutkan bahwa negara
berkewajiban
mewujudkan
ketersediaan,
keterjangkauan,
dan
pemenuhan konsumsi Pangan yang cukup, aman, bermutu, dan
bergizi seimbang, baik pada tingkat nasional maupun daerah hingga
perseorangan secara merata di seluruh wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia sepanjang waktu dengan memanfaatkan sumber
daya, kelembagaan, dan budaya lokal. Selanjutnya ditegaskan bahwa
dengan sumber daya alam dan sumber pangan yang beragam,
Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara berdaulat
dan mandiri.
Kedaulatan pangan yang dimaksud UU ini adalah sebagaimana
yang disebutkan dalam Pasal 1 angka 2, yaitu: hak negara dan
bangsa yang secara mandiri menentukan kebijakan Pangan yang
menjamin hak atas Pangan bagi rakyat dan yang memberikan hak
bagi masyarakat untuk menentukan sistem Pangan yang sesuai
dengan potensi sumber daya lokal.
18
Kemudian, dalam Penjelasan Umum UU ini secara umum
menyebutkan
bahwa
pengaturan
mengenai
pangan
ini
untuk
mewujudkan suatu sistem Pangan yang memberikan pelindungan,
baik bagi pihak yang memproduksi maupun yang mengonsumsi
pangan.
Penyelenggaraan
Pangan
dilakukan
untuk
memenuhi
kebutuhan dasar manusia yang memberikan manfaat secara adil,
merata, dan berkelanjutan dengan berdasarkan pada Kedaulatan
Pangan, Kemandirian Pangan, dan Ketahanan Pangan. Hal itu berarti
bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumsi Pangan
masyarakat sampai pada tingkat perseorangan, negara mempunyai
kebebasan untuk menentukan kebijakan Pangannya secara mandiri,
tidak dapat di dikte oleh pihak mana pun, dan para Pelaku Usaha
Pangan
mempunyai
melaksanakan
dimilikinya.
kebebasan
usahanya
Pemenuhan
mengutamakan
produksi
sesuai
untuk
dengan
konsumsi
dalam
menetapkan
sumber
Pangan
negeri
dan
daya
yang
tersebut
dengan
harus
memanfaatkan
sumber daya dan kearifan lokal secara optimal.
Berdasarkan uraian konsiderans menimbang, batang tubuh
dan penjelasan umum UU ini terdapat arah pengaturan pangan yaitu
untuk
tercukupinya
pangan
masyarakat
sampai
tingkat
perseorangan dengan tata kelola yang diatur oleh pemerintah secara
berdaulat
dan
mandiri.
Namun
demikian,
di
samping
ada
kemandirian Negara sebagai penentu kebijakan, juga ada pelaku
usaha pangan yang diberi kebebasan untuk menetapkan dan
melaksanakan usahanya sesuai dengan sumber daya yang dimiliki.
Arah pengaturan yang member „kebebasan‟ kepada pelaku usaha
pangan ini bisa mengandung arti yang positif, namun juga dapat
19
membawa akibat yang negatif, jika kebebasan ini diasalah artikan
untuk kepentingan golongan/pihak tertentu saja.
B. Politik
Hukum
Kedaulatan
Pangan
dalam
Peraturan
Perundang-undangan Lain yang Terkait
Politik hukum kedaulatan pangan dalam UU tentang Pangan
sebagai UU utama yang dievaluasi dan dianalisis, perlu disandingkan
dengan politik hukum yang terkandung dalam undang-undanga
terkait lainnya, untuk dapat menilai apakah saling mendukung satu
sama lain. Untuk mengukur apakah politik hukum undang-undang
terkait lainnya mendukung kedualatan pangan atau tidak, maka Pokja
menentukan beberapa kriteria yang diambil dari kata kunci arah
kedaulatan pangan yang terkandung dalam Konsiderans Menimbang
dan Penjelasan Umum dari UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan,
yang merupakan politik hukum dari pengaturan pangan itu sendiri.
Beberapa kriteria tersebut adalah:
-
Kewajiban negara mewujudkan ketersediaan, keterjangkauan,
dan
pemenuhan
konsumsi
Pangan
yang
cukup,
aman,
bermutu, dan bergizi seimbang, baik pada tingkat nasional
maupun daerah hingga perseorangan;
-
Mengutamakan produksi dalam negeri dengan memanfaatkan
sumber daya, kelembagaan dan kearifan lokal secara optimal;
-
Hak negara dan bangsa yang secara mandiri menentukan
kebijakan Pangan tanpa didikte oleh pihak mana pun;
-
Menjamin hak atas Pangan bagi rakyat;
-
Memberikan hak bagi masyarakat untuk menentukan sistem
Pangan yang sesuai dengan potensi sumber daya lokal;
20
-
Memberikan manfaat secara adil, merata, dan berkelanjutan
dengan berdasarkan pada Kedaulatan Pangan, Kemandirian
Pangan, dan Ketahanan Pangan;
-
Memberikan pelindungan, baik bagi pihak yang memproduksi
maupun yang mengonsumsi pangan;
-
Pelaku
usaha
menetapkan
pangan
dan
mempunyai
melaksanakan
kebebasan
usahanya
untuk
sesuai
dengan
tentang
Sistem
disebutkan
bahwa
sumber daya yang dimilikinya.
1. Undang-Undang
Nomor
12
Tahun
1992
Budidaya Tanaman
Dalam
Penjelasan
Umum
UU
ini
pengaturan ini ditujukan untuk meningkatkan hasil dan mutu
produksi, meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani,
peternak,
dan
nelayan,
memperluas
lapangan
kerja
dan
kesempatan berusaha, menunjang pembangunan industri serta
meningkatkan ekspor, mendukung pembangunan daerah, dan
mengintensifkan kegiatan transmigrasi. Sistem budidaya tanaman
diadakan
untuk
meningkatkan
dan
memperluas
penganekaragaman hasil tanaman, guna memenuhi kebutuhan
pangan, sandang, papan, kesehatan, industri dalam negeri, dan
memperbesar ekspor.
Masalah
yang
timbul
adalah
terjadinya
perubahan
peruntukan atau konversi lahan budidaya tanaman menjadi lahan
untuk keperluan bukan budidaya tanaman. Masalah tersebut
dapat mengancam lahan budidaya tanaman terutama untuk
penghasil pangan yang pada gilirannya dapat mempengaruhi
ambang batas tingkat produksi secara nasional. Maka apabila
21
terjadi perubahan tata ruang yang mengakibatkan perubahan
lahan budidaya tanaman guna keperluan lain di luar budidaya
tanaman, perlu secara arif dan cermat mempertimbangkan
ketersediaan lahan usaha budidaya tanaman.
Berdasarkan
uraian
tersebut,
dapat
dikatakan
bahwa
walaupun UU ini diberlakukan sebelum lahirnya UU Nomor 18
Tahun 2012 tentang Pangan, namun pada hakikatnya arah
pengaturan dalam UU ini juga dalam rangka mengamankan
ketersediaan pangan, dengan meningkatkan mutu produksi.
Namun perlu dilihat lagi, apakah batang tubuh dari UU ini
memenuhi
kriteria
politik
kedaulatan
pangan,
sebagaimana
dijelaskan di atas. Oleh karena rezim kedaulatan pangan yang
ditekankan pada UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang pangan di
antaranya menekankan masalah:
- pengutamaan produksi dalam negeri dengan memanfaatkan
sumber daya, kelembagaan dan kearifan lokal secara optimal;
- penegasan hak negara dan bangsa yang secara mandiri
menentukan kebijakan Pangan tanpa didikte oleh pihak mana
pun;
- pemberian hak bagi masyarakat untuk menentukan sistem
Pangan yang sesuai dengan potensi sumber daya lokal.
2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan
United Nations Convention on Biological Diversity (Konvensi
Perserikatan Bangsa Bangsa tentang Keanekaragaman Hayati)
Konvensi Keanekaragaman Hayati (selanjutnya disebut KKH)
ini
memuat
kewajiban-kewajiban
Negara
anggota
untuk
melindungi keanekaragaman hayati di wilayahnya. Secara rinci,
22
misalnya
KKH
memuat
kewajiban
Negara
anggota
untuk
melakukan konservasi in-situ dan untuk melengkapinya, juga
diwajibkan melakukan konservasi ex-situ. Selain itu, KKH juga
mewajibkan
Negara
anggota
untuk
selalu
memadukan
pertimbangan konservasi dan pemanfaatan secara bekelanjutan
sumber
daya
alam
hayati
dalam
setiap
pengambilan
keputusanusan nasional, kewajiban memajukan dan mendorong
pemahaman
masyarakat
keanekaragaman
hayati,
akan
pentingnya
mendorong
negara
konservasi
pihak
untuk
melakukan pengkajian dampak dan pengurangan dampak yang
merugikan lingkungan pada setiap proyek-proyek pembangunan.
Juga ada kewajiban Negara anggota untuk melakukan kerjasama
internasional
secara
langsung
(atau
melalui
organisasi
internasional) mengenai konservasi keanekaragaman hayati. KKH
ini tidak memberikan peluang reservasi (keberatan) bagi Negara
anggota.
Berdasarkan substansi dari konvensi ini, maka dengan
meratifikasi KKH maka dapat mendukung arah poilitik hukum
kedaulatan pangan, karena mendorong perwujudan dari kriteria:
„memberikan manfaat secara adil, merata, dan berkelanjutan‟
dalam hal ini terhadap sumber daya tanaman pangan.
3. Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan,
Sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19
Tahun
2004
tentang
Penetapan
Peraturan
Pemerintah
Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang
Perubahan
Atas
Undang-Undang
Nomor
41
Tahun
1999
Tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang
23
Dalam konsiderans menimbang disebutkan bahwa hutan
sebagai salah satu penentu sistem penyangga kehidupan dan
sumber kemakmuran rakyat, cenderung menurun kondisinya.
Oleh karena itu keberadaannya harus dipertahankan secara
optimal, dijaga daya dukungnya secara lestari, dan diurus dengan
akhlak mulia, adil, arif, bijaksana, terbuka, profesional, serta
bertanggung-gugat. Oleh karenanya, pengaturan penyelenggaraan
hutan dalam UU ini ditekankan pada masalah konservasi hutan
yang sudah semakin menurun kualitasnya. Namun demikian, UU
ini juga mengatur masalah hasil hutan yang terkait dengan
masalah pangan masyarakat, yaitu pemanfaatan hasil hutan
bukan kayu. Seperti pemanfaatan hasil hutan berupa obatobatan, madu, buah-buahan (penjelasan Pasal 26). Di samping
itu,
UU
ini
juga
menekankan
pentingnya
memperhatikan
kepentingan masyakat dan kelembagaan adat, kelestarian dan
terpeliharanya ekosistem hutan.
Tekait dengan politik hukum kedaulatan pangan, UU ini
mendukung, karena sejalan dengan kriteria arah pengaturan
pangan, yaitu: „mengutamakan produksi dalam negeri dengan
memanfaatkan sumber daya, kelembagaan dan kearifan lokal
secara optimal‟ dan menjamin hak atas pangan bagi rakyat.‟
4. Undang-Udang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan
Varietas Tanaman
Dalam
konsiderans
menimbang
ini
disebutkan
arah
pengaturan dari UU ini dimaksudkan untuk melestarikan dan
memanfaatkan plasma nutfah sebagai bahan utama pemuliaan
tanaman, secara optimal dalam rangka merakit dan mendapatkan
24
varietas unggul tanaman tanpa merugikan pihak manapun, untuk
mendorong pertumbuhan industri perbenihan. Dengan adanya
perlilndungan varietas tanaman diharapkan dapat meningkatkan
minat dan peran serta perorangan dan badan hukum melakukan
pemuliaan
tanaman
untuk
menghasilkan
varietas
unggul
tanaman, dengan memberikan hak tertentu dan perlindungan
hukum.
UU
ini
dibuat
karena
menyesuaikan
konvensi
internasional bahwa hak kekayaan intelekstual, temasuk hak
penemu varietas tanaman, perlu diatur dengan UU.
Penjelasan Umum UU ini menunjukkan bahwa UU ini dibuat
sebagai akibat dari arus globalisasi di segala bidang. Disebutkan
pada alinea kedua: “Globalisasi perekonomian di satu pihak akan
membuka peluang pasar produk dari dalam negeri ke pasar
internasional secara kompetitif, sebaiknya juga membuka peluang
masuknya produk-produk global ke dalam pasar domestik.”
Perlinduangan
hukum
terhadap
pemulia
tanaman
yang
menemukan varietas tanaman pada hakekatnya merupakan
pelaksanaan dari berbagai kewajiban internasional yang harus
dilakukan oleh Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan
Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Keanekaragaman
Hayati (United Nations Convention on Biological Diversity), Konvensi
Internasional
tentang
Perlindungan
Varietas
Baru
Tanaman
(International Convention for the Protection of New Vanetzes of
Plants), dan World Trade Organization/trade Related Aspects of
Intellectual Property Rights yang antara lain mewajibkan kepada
negara anggota seperti Indonesia mempunyai dan melaksanakan
peraturan perundang-undangan di bidang Hak atas Kekayaan
Intelektual (HKI) termasuk pedindungan varietas tanaman.
25
Berdasarkan
penjelasan
dari
konsiderans
menimbang
maupun penjelasan umum tersebut dapat dipahami bahwa
penyusunan UU ini akibat adanya kewajiban Indonesia sebagai
Negara anggota UN Convention on Biological Diversity untuk
membuat
UU
bidang
HKI
teramsuk
perlindungan
varietas
tanaman.
Terkait dengan arah politik hukum kedaulatan pangan, UU
ini memiliki keterkaitan walaupun tidak secara langsung, dalam
artian perlindungan varietas tanaman ini hanya merupakan
komponen pendukung dari politik kedaulatan pangan, terutama
terkait dengan kriteria: „memberikan pelindungan, baik bagi pihak
yang memproduksi‟. Karena jika meninjau pada batang tubuh dari
UU ini, lebih menekankan masalah pranata, syarat dan ketentuan
hak perlindungan varietas tanaman, yang masih perlu dievaluasi
hasil gunanya bagi para pemulia tanaman khususnya yang
perorangan.
5. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2004 tentang Pengesahan
Cartagena Protocol On Biosafety To The Convention On
Biological Diversity (Protokol Cartagena Tentang Keamanan
Hayati Atas Konvensi Tentang Keanekaragaman Hayati)
Dalam konsiderans menimbang disebutkan bahwa UU ini
dibentuk sebagai lanjutan dari disahkannya UN Convention on
Biological
Diversity
(Konvensi
Keanekargaman
Hayati/KKH)
dengan UU Nomor 5 Tahun 1994. Yaitu bahwa pada saat itu di
dunia internasional mulai pesat perkembangan penelitian dan
bioteknologi
yang
mampu
menghasilkan
organisme
hasil
modifikasi genetic (OHMG) yang dimanfaatkan untuk pangan,
26
pertanian, kehutanan farmasi dan industi. Oleh karena OHMG ini
mengandung
resiko
bagi
lingkungan
hidup
dan
kesehatan
manusia, maka perlu dijamin tingkat keamanan hayati dalam hal
pemindahan, penanganan dan pemanfaatannya.
Dalam Penjelasan UU ini, disebutkan beberapa manfaat
Indonesia mengesahkan Protocol Cartagena ini, di antaranya: a)
meningkatkan pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman
hayati secara berkelanjutan; dan b) memperoleh manfaat secara
optimal dari penggunaan bioteknologi modern secara aman yang
tidak merugikan keanekaragaman hayati dan kesehatan manusia.
UU ini merupakan komponen pendukung bagi arah politik hokum
kedaulatan pangan, karena sejalan dengan criteria: „memberikan
manfaat secara adil, merata, dan berkelanjutan,‟ dalam hal ini
terhadap pemanfaatan bioteknologi di bidang pangan.
6. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
Dalam konsiderans menimbang dan Penjelasan Umum UU ini
menjelaskan
bahwa
perlindungan
lahan
pertanian
panga
perkelanjutan adalah untuk menunjang pembangunan ketahanan
dan
kedaulatan
pangan.
Dalam
konsiderans
menimbang
disebutkan bahwa pengaturan ini dibuat dengan tujuan untuk
menjamin
penyediaan
lahan
pertanian
pangan
secara
berkelanjutan sebagai sumber pekerjaan dan penghidupan yang
layak
bagi
kemanusiaan
dengan
mengedepankan
prinsip
kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan
lingkungan,
dan
kemandirian,
serta
dengan
menjaga
keseimbangan, kemajuan, dan kesatuan ekonomi nasional. Makin
27
meningkatnya
pertambahan
penduduk
serta
perkembangan
ekonomi dan industri mengakibatkan terjadinya degradasi, alih
fungsi, dan fragmentasi lahan pertanian pangan telah mengancam
daya
dukung
wilayah
secara
nasional
dalam
menjaga
kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan. Oleh karena itu
perlu diselenggarakan pembangunan pertanian berkelanjutan.
Kemudian pada Penjelasan Umum disebutkan bahwa dalam
upaya membangun ketahanan dan kedaulatan pangan untuk
mewujudkan kesejahteraan rakyat adalah hal yang sangat penting
untuk direalisasikan. Dalam rangka mewujudkan ketahanan dan
kedaulatan
pangan
perlu
diselenggarakan
pembangunan
pertanian berkelanjutan. Dengan demikian, dapat dikatakan
bawha UU ini adalah salah satu komponen terpenting dari politik
hukum kedaulatan pangan, selain UU tentang Pangan.
7. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan
dan Pemberdayaan Petani
Dalam konsiderans menimbang disebutkan bahwa tujuan
pengaturan dalam UU ini adalah untuk
menyelenggarakan
perlindungan dan pemberdayaan masyarakat, khususnya petani
secara terencana, terarah, dan berkelanjutan. Hal ini diperlukan
karana
ada kecenderungan
meningkatnya
perubahan
iklim,
kerentanan terhadap bencana alam dan risiko usaha, globalisasi
dan gejolak ekonomi global, serta sistem pasar yang tidak
berpihak kepada petani. Selanjutnya dalam Penjelasan Umum UU
ini ditegaskan bahwa selama ini Petani telah memberikan
kontribusi
yang
pembangunan
nyata
ekonomi
dalam
pembangunan
perdesaan.
Petani
Pertanian
sebagai
dan
pelaku
28
pembangunan
Pertanian
perlu
diberi
Perlindungan
dan
Pemberdayaan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pangan
yang merupakan hak dasar Setiap Orang guna mewujudkan
kedaulatan pangan, kemandirian pangan, dan ketahanan pangan
secara berkelanjutan.
Berdasarkan pada uraian Penjelasan Umum ini, maka
sangat jelas bahwa UU ini dibuat dalam rangka mendukung
kedaulatan pangan.
8. Undang-Undang Nomor 39 tahun 2014 tentang Perkebunan
Dalam
Penjelasan
Umum
disebutkan
bahwa
tujuan
penyelenggaraan perkebunan dimaksudkan untuk meningkatkan
kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, meningkatkan sumber
devisa negara, menyediakan lapangan kerja dan kesempatan
usaha, meningkatkan produksi, produktivitas, kualitas, nilai
tambah, daya saing, dan pangsa pasar, meningkatkan dan
memenuhi kebutuhan konsumsi serta bahan baku industri dalam
negeri,
memberikan
pelindungan
kepada
pelaku
usaha
perkebunan dan masyarakat, mengelola dan mengembangkan
sumber daya perkebunan secara optimal, bertanggung jawab, dan
lestari,
dan
meningkatkan
pemanfaatan
jasa
perkebunan.
Penyelenggaraan perkebunan tersebut didasarkan pada asas
kedaulatan,
kemandirian,
kebermanfaatan,
keberlanjutan
keterpaduan, kebersamaan, keterbukaan, efisiensi-berkeadilan,
kearifan lokal, dan kelestarian fungsi lingkungan hidup.
29
Berdasarkan uaraian tersebut, pengaturan penyelenggaraan
perkebunan lebih ditekankan pada industri perkebunan. Hanya
sebagian kecil saja yang berbicara perkebunan yang terkait
dengan masalah pangan. Hanya satu butir ketentuan yang
menyinggung
masalah
pangan
dalam
penyelenggaraan
perkebunan, yaitu Pasal 67 ayat 3 huruf b, mengenai syarat
memperoleh izin usaha perkebunan bagi perusahaan perkebunan.
Bahwa dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan hidup,
perusahaan
perkebunan
yang
memproduksi
dan/atau
memasarkan benih hasil rekayasa genetik wajib memiliki analisis
dan manajemen risiko, agar memenuhi kaidah-kaidah keamanan
hayati dan keamanan pangan atau pakan.
Maka dapat dikatakan bahwa UU ini mendukung politik
hukum kedaulatan pangan, karena memberikan ketentuan yang
berprinsip kehati-hatian bagi perusahaan perkebunan di bidang
pangan, hal ini dengan salah satu kriteria arah pengaturan
pangan, yaitu: „pelaku usaha pangan mempunyai kebebasan
untuk menetapkan dan melaksanakan usahanya sesuai dengan
sumber daya yang dimilikinya‟.
30
BAB III
ANALISIS DAN EVALUASI
BERDASARKAN KESESUAIAN ASAS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
A. PENILAIAN TERHADAP UNDANG -UNDANG
1. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2011 tentang Pangan
Undang-Undang Pangan terdiri dari 154 pasal dan berlaku seluruhnya. Berikut tabel
penilaian terhadap pasal-pasal yang bermasalah berdasarkan kesesuaian indikator asas:
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
1.
Pasal 2
Dalam teknik penulisan norma, penyebutan asas tidak
diperlukan, karena tidak akan operasional (tidak memiliki
operator norma). Asas adalah nilai-nilai yang menjiwai seluruh
norma yang berisi pengaturan. Hal ini sejalan dengan petunjuk
Nomor 98 Lampiran II UU Nomor12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan PUU. Oleh karena itu sebaiknya norma
yang menyebutkan asas-asas dicabut, cukup elaborasi asas ada
dalam naskah akademik. Jika memang ada suatu asas yang
penting untuk dinormakan/normaisasi asas, maka perlu kalimat
norma yang standar dan operasional, dan dimasukan dalam
Cabut
√
31
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
Cabut
salah satu butir dalam pasal 1, yang berisi ketentuan umum.
2.
Pasal 3
Ketentuan ini pada dasarnya juga pernyataan mengenai tujuan
penyelenggaraan pangan, yang seharusnya temuat dalam
penjelasan umum UU dan dalam naskah akademiknya. Jika
ketetentuan mengenai tujuan ini dibtuhkan dalam suatu PUU,
maka dirumuskan dalam salah satu butir pasa1 tentang
ketentuan umum (baca petunjuk Nomor 98 huruf c, Lampiran II
UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan).
√
3.
Pasal 4
Penyebutan tujuan penyelenggaraan pangan tidak diperlukan
dalam norma, karena tidak akan ope`rasional (tidak memiliki
operator norma). Tujuan dapat dituangkan dalam penjelasan
umum dan naskah akademiknya. Jika ada tujuan yang penting
untuk dinormakan, maka harus menggunakan kalimat norma
yang standar dan operasional.
√
4.
Pasal 5
Lingkup pengaturan tidak perlu dicantumkan dalam norma
ketentuan
√
5.
Pasal
14
Impor untuk menutupi kekurangan bahan pangan bertentangan
dengan arah kedaulatan pangan sebagaimana diatur dalam Pasal
6. Perlu ada ketentuan yang lebih tegas dalam pembatasan
kebolehan impor, sebagai pilihan terakhir.
√
32
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
6.
Pasal
17
Ketentuan ini mewajibkan pemerintah dan Pemda untuk
melindungi petani, nelayan dan pembudi daya ikan dan pelaku
usaha pangan, karena semua adalah pridusen pangan. Namun
demikian, untuk memenuhi asas keadilan, maka ketentuan ini
idealnya memberi pedoman untuk kebijakan yang memberikan
disparitas perlindugan terhadap petani, nelayan dan
pembudidaya ikan kecil. Sebab tidak mungkin petani, nelayan
dan pembudidaya ikan kecil dipersamakan perlakuannya dengan
pelaku usaha pangan besar. Oleh karenanyaCatat ketentuan ini
perlu disempurnakan.
√
7.
Pasal
36
Pada dasarnya ketentuan ini memiliki jiwa yang mencerminkan
prinsip NKRI. Namun jika diliihat dari ketegasan ketentuan ini,
masih sangat tergantung dari penerapannya di lapangan, karena
masih menimbulkan celah penyelundupan hukum. Celah hukum
ini dapat diakibatkan oleh kelemahan pada bunyi pasal pada
ayat (1) yang menyatakan: "Impor Pangan hanya dapat dilakukan
apabila Produksi Pangan dalam negeri tidak mencukupi dan/atau
tidak dapat diproduksi di dalam negeri". Kata “dan/atau tidak
dapat diproduksi didalam negeri” ini dapat diartikan bahwa:
suatu produk pangan yang tidak dapat diproduksi di dalam
negeri saja sudah dapat menjadi alasan diperbolehkannya impor
pangan. Karena kata "dan/atau" memiliki makna alternatif dan
kumulatif. Sehingga alasan "tidak mencukupi produksi pangan
dalam negeri" dan alasan "tidak dapat diproduksi di dalam negeri"
√
Cabut
33
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
Cabut
dapat berdiri sendiri-sendiri. Oleh karenanya bunyi ketentuan ini
perlu disempurnakan agar impor pangan tidak marak dan justru
merugikan produksi pangan yang berbasis sumber daya lokal.
8.
Pasal
123
Catatan:
Untuk itu, perlu pengaturan lebih lanjut mengenai pelarangan
dan/atau pembatasan impor pangan, yang terkoordinir antar
sektor pertanian, perdagangan, perindustrian dan BUMN.
Belum sepenuhnya mencerminkan NKRI dengan indikator
pembatasan keikutsertaan pihak asing, sebab orang asing dapat
melakukan penelitian di wilayah NKRI, dan pemerintah
memfasilitasi dan melindungi hak kekayaan intelektual hasil
penelitiannya itu tanpa ada criteria atau syarat-syarat tertentu.
Untuk itu perlu diperkuat lagi untuk menutupi lemahnya asas
kebangsaan/prinsip NKRI pada ketentuan ini. Meskipun ada
kewajiban peneliti asing untuk memberikan royalti kepada
pemerintah, namuan ketentuan ini perlu memberikan rujukan
ketentuan dan syarat peneliti asing di Indonesia. Rujukan
peraturan sebaiknya disebutkan dalam penjelasan pasal ini,
misalnya merujuk pada PP Nomor 41 Tahun 2006 tentang
Perizinan Melakukan Kegiatan Penelitaian dan Pengembangan
Bagi Perguruan Tinggi Asing, Lembaga Penelitian dan
Pengembangan Asing, Badan Udaha Asing dan Orang Asing.
√
34
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
9.
Pasal
124
10. Pasal
132
Belum sepenuhnya mencerminkan NKRI dengan indikator
pembatasan keikutsertaan pihak asing karena orang asing dapat
melakukan penelitian di wilayah NKRI dan pemerintah
memfasilitasi dan melindungi hak kekayaan intelektual atas hasil
penelitiannya itu tanpa ada kriteria atau syarat-syarat tertentu.
Untuk itu perlu diperkuat lagi untuk menutupi lemahnya asas
kebangsaan/prinsip NKRI pada ketentuan ini.
√
Penyidikan bidang pangan, penyidik Polri, PPNS.
Sebaiknya ketentuan yang berhubungan dengan hukum acara
diletakan setelah ketentuan materiilnya (ketentuan pidana).
√
Cabut
2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman
Undang-Undang Sistem Budidaya Tanaman terdiri dari 66 (enam puluh enam), dengan
status pasal 9 dan pasal 12 dinyatakan bertentangan dengan konstitusi oleh Putusanusan MK
Nomor 99/PUU-X/2012. Berikut tabel penilaian terhadap pasal-pasal yang bermasalah
berdasarkan kesesuaian indikator asas:
35
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
Cabut
1.
Pasal 2
Dalam teknik penulisan norma, penyebutan asas tidak
diperlukan, karena tidak akan operasional (tidak memiliki
operator norma). Asas adalah nilai-nilai yang menjiwai seluruh
norma yang berisi pengaturan. Hal ini sejalan dengan petunjuk
Nomor 98 Lampiran II UU Nomor12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Oleh karena itu
sebaiknya norma yang menyebutkan asas-asas dicabut, cukup
elaborasi asas ada dalam naskah akademik. Jika memang ada
suatu asas yang penting untuk dinormakan/normaisasi asas,
maka perlu kalimat norma yang standar dan operasional, dan
dimasukan dalam salah satu butir dalam pasal 1, yang berisi
ketentuan umum.
√
2.
Pasal 3
Ketentuan ini pada dasarnya juga pernyataan mengenai tujuan
penyelenggaraan pangan, yang seharusnya temuat dalam
penjelasan umum UU dan dalam naskah akademiknya. Jika
ketetentuan mengenai tujuan ini dibtuhkan dalam suatu PUU,
maka dirumuskan dalam salah satu butir pasa1 tentang
ketentuan umum (baca petunjuk Nomor 98 huruf c, Lampiran II
UU Nomor 12 Tahun 2011 ttg P3).
√
3.
Pasal 4
Ruang lingkup cukup dimasukan dalam salah satu butir pada
pasal 1 tentang ketentuan umum.
√
4.
Pasal 6
Memenuhi asas dan mencerminkan indikator
pertanggungjawaban petani maupun pemerintah. Secara umum
√
36
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
Cabut
ketentuan ini ideal, namun demikian perlu kiranya dikaji,
apakah ketentuan ini sudah benar-benar berpihak pada petani
kecil, yang diwajibkan untuk mengikuti rencana pengembangan
dan produksi budidaya tanaman yang dicanangkan pemerintah.
Agar tidak memberatkan, sebaiknya ayat (2) dihilangkan dan
menghindari konflik dengan ayat (1).
5.
6.
Pasal 8
Pasal 9
Ketentuan ini merupakan gerbang awal yang membuka peluang
bagi introduksi benih dari luar negeri, sangat rentan pada
pemodal asing yang berorientasi keuntungan, sehingga sangat
lemah pada pemenuhan Asas Kebangsaan. Jika petani membeli
benih impor akan memberatkan dari segi biaya. Oleh karenanya
ketentuan ini perlu direvisi untuk memperkuat Asas
Kebangsaan.
Catatan:
Pasal ini idem dengan pasal 26 UU 39/2014 tentang
Perkebunan.
Ketentuan ini tidak berpihak pada petani kecil (perorangan),
karena tidak mengatur disparitas antara petani kecil dengan
badan hukum (perusahaan) dan pemerintah. Petani yang sedari
awal atau secara turun temurun melakukan pencarian
plasmanutfah kemudian diharuskan memakai ijin, dan kalau
tidak maka menjadi terlarang.
√
√
37
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
Cabut
Pasal ini juga telah dinyatakan bertentangan dengan konstitusi
oleh MK dalam putusanusan MK Nomor 99/PUU-X/2012.
Putusanusan MK memberi pengecualian kepada petani kecil.
7.
Pasal 10
Ayat (2) tidak mencerminkan keberpihakan pada petani
(perorangan) yang melakukan pemuliaan tanaman. Karena
disamakan kedudukan petani dengan pemerintah dan badan
hukum (perusahaan). Disparitas dibutuhkan dibutuhkan modal
untuk melakukan hak introduksi benih
√
8.
Pasal 11
Idem
√
9.
Pasal 12
Ketentuan ini berpotensi membertkan petani kecil, karena
melarang pengedaran hasil karya petani yang melakukan
pemuliaan tanaman, walaupun peredaraannya dilakukan hanya
di lingkungan kelompok/ komunal.
√
Perlu ada disparitas antara beban yang harus dipikul oleh
petani kecil, perusahaan dan keperluan
penelitian/laboratorium. Untuk itu perlu direvisi agar
ketentuan ini benar-benar melindungi petani local khususnya
petani kecil yang membutuhkan dukungan.
Pasal ini juga telah dinyatakan bertentangan dengan konstitusi
oleh MK dalam putusanusan MK Nomor 99/PUU-X/2012.
Putusanusan MK memberi pengecualian kepada petani kecil.
38
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
10.
Pasal 13
Perlu diatur mengenai disparitas dari varietas hasil pemuliaan
yang dilakukan oleh perorangan (petani) yang sudah dilakukan
secara turnun temurun, karena sertifikasi, pengemasan,
pelebelan memerlukan prosedur dan mekanisme dan biaya
sehingga harus dipermudah untuk petani kecil.
√
11.
Pasal59
Penyidikan merupakan hukum formil yang melaksanakan
hukum materiil. Idealnya diletakkan setelah ketentuan pidana
(hukum materiilnya).
√
12.
Pasal 60
Sistem sanksi pidana maksimum khusus
√
Sebab
Penjara
Denda
kualifikasi
Penjatuhan
sanksi
sengaja
5 thn
250 jt
kejahatan
kumulatif
lalai
1 thn
50 jt
pelanggaran
alternatif
Cabut
Perlu dipertimbangkan agar penjatuhan sanksi pidana
dilakukan secara alternatif, penjara atau denda. hal ini sebagai
pertimbangan bagi sistem hukum pemidanaan yang efektif dan
efisien.
39
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
13.
Pasal 61
Sistem sanksi pidana maksimum khusus
Cabut
√
Sebab
Penjara
Denda
kualifikasi
Penjatuhan
sanksi
sengaja
3 thn
150 jt
kejahatan
kumulatif
lalai
1 thn
50 jt
pelanggaran
alternatif
Perlu dipertimbangkan agar penjatuhan sanksi pidana
dilakukan secara alternatif, penjara atau denda. hal ini sebagai
pertimbangan bagi sistem hukum pemidanaan yang efektif dan
efisien .
3. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
Undang-Undang Perkebunan terdiri dari 84 (delapan puluh empat) dengan status: pasal 1
angka 6, pasal 4 ayat(3) dan Pasal 5 ayat(1), (2), dan (3) dibatalkan oleh MK (Putusanusan MK
Nomor 35/PUU-X/2012), dan ada penambahan 2 pasal sisipan, yaitu Pasal 83A dan Pasal 83B
berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang
40
Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang. Berikut tabel penilaian
terhadap pasal-pasal yang bermasalah berdasarkan kesesuaian indikator asas:
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
Cabut
1.
Pasal 1
Kata “Negara” pada Pasal 1 Angka 6 dibatalkan oleh MK
(putusan. MK. Nomor 35/PUU-X/2012). Sehingga perlu diubah
dengan bunyi “Hutan adat adalah hutan yang berada dalam
wilayah masyarakat hukum adat”.
2.
Pasal 2
Dalam teknik penulisan norma, penyebutan asas tidak
diperlukan, karena tidak akan operasional (tidak memiliki
operator norma). asas adalah nilai-nilai yang menjiawai seluruh
norma yang berisi pengaturan. Hal ini sejalan dengan petunjuk
Nomor 98 Lampiran II UU Nomor12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan PUU. Oleh karena itu sebaiknya norma
yang menyebutkan asas-asas dicabut, cukup di elaborasi asas
dalam naskah akademik. Jika memang ada suatu asas yang
penting untuk dinormakan/normaisasi asas, maka perlu kalimat
norma yang standar dan operasional.
√
3.
Pasal 3
Ketentuan ini pada dasarnya juga pernyataan mengenai tujuan
penyelenggaraan pangan, yang seharusnya temuat dalam
penjelasan umum UU dan dalam naskah akademiknya. Jika
sangat diperlukan, maka harus dituangkan dalam bentuk
penulisan norma yang benar agar dapat dioperasionalkam.
√
√
41
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
Cabut
Misalnya rumusan diganti dengan: penyelenggaraan kehutanan
harus ditujukan untuk:...... “ (Kata “harus” di sini berfungsi
sebagai operator norma, dan dengan demikian memiliki
konsekwensi jika penyelenggaraan kehutanan tidak ditujukan
sebagaimana yang dimaksud)
4.
Pasal 4
5.
Pasal 5
Pasal 4 ayat (3) dibatalkan oleh MK (putusan. MK. Nomor
35/PUU-X/2012). Pasal 4 ayat (3) bertentangan dengan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak
mempunyai kekuatan hukum sepanjang tidak dimaknai
“penguasaan hutan oleh negara tetap memperhatikan hak
masyarakat hukum adat, sepanjang masih hidup dan sesuai
dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang
Pasal 5 ayat (1), (2), (3) dibatalkan oleh MK (putusan. MK. Nomor
35/PUU-X/2012).
√
√
- Pasal 5 ayat (1) bertentangan dengan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai
kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai “Hutan
negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, tidak
termasuk hutan adat
- Penjelasan Pasal 5 ayat (1) bertentangan dengan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan
tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat
42
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
Cabut
- Pasal 5 ayat (2) bertentangan dengan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai
kekuatan hukum mengikat
- Pasal 5 ayat (3), Frasa “dan ayat (2) bertentangan dengan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat, sehingga
pasal dimaksud menjadi “Pemerintah menetapkan status hutan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1); dan hutan adat
ditetapkan sepanjang menurut kenyataannya masyarakat
hukum adat yang bersangkutan masih ada dan diakui
keberadaannya”;
6.
Pasal 54
Pada ayat (3) dinyatakan bahwa izin melakukan penelitian
kehutanan Indonesia dapat diberikan pekada peneliti asing
dengan mengacu pada peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Dan pada ayat (2) dinyatakan bahwa Pemerintah wajib
melindungi hasi penemuan ilmiah pengetahuan dan teknologi di
bidang kehutanan sesuai dengan PUU yang berlaku.
Catatan:
Dalam penjelasan perlu disebutkan rujukan PUU nya, yaitu :
- Pasal 17 UU 18 /2002 Tentang Sistem Nasional Penelitian,
Pengembangan, Dan Penerapan Ilmu Pengetahuan Dan
Teknologi;
- PP 41/2006 Tentang Perizinan Melakukan Kegiatan Penelitian
√
(penjel
asan
pasal
54
ayat
(3))
43
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
7.
Pasal 80
8.
Pasal
83A,
Pasal
83B
Dan Pengembangan Bagi Perguruan Tinggi Asing, Lembaga
Penelitian Dan Pengembangan Asing, Badan Usaha Asing, Dan
Orang Asing;
- PP 12/2010 ttg Penelitian dan Pengembangan, Serta
Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan.
anksi adminsitratif seharusnya diatur secara terintegrasi dengan
pasal yang dikenai sanksi.
Petunjuk Nomor 64 Lampiran II UU Nomor 12/2011:
“Substansi yang berupa sanksi administratif atau sanksi
keperdataan atas pelanggaran norma tersebut dirumuskan
menjadi satu bagian (pasal) dengan norma yang memberikan
sanksi administratif atau sanksi keperdataan”.
Petunjuk Nomor 65:
“Jika norma yang memberikan sanksi administratif atau
keperdataan terdapat lebih dari satu pasal, sanksi administratif
atau sanksi keperdataan dirumuskan dalam pasal terakhir dari
bagian (pasal) tersebut. Dengan demikian tidak merumuskan
ketentuan sanksi yang sekaligus memuat sanksi pidana, sanksi
perdata, dan sanksi administratif dalam satu bab.”
Penambahan oleh Perpu 1/2004 Jo. UU 19/2004. Tambahan
pasal ini bertentangan ketentuan pasal 38, yang melarang
penambangan terbuka di kawasan hutan lindung.
Cabut
√
√
44
4. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman
Undang-Undang Perlindungan Varietas Tanaman terdiri dari 76 pasal dimana status
pasalnya berlaku seluruhnya. Berikut tabel penilaian terhadap pasal-pasal yang bermasalah
berdasarkan kesesuaian indikator asas:
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
1.
Pasal 1
Perlu penyesuaian definisi dan nomenklatur
√
2.
Pasal 7
Harus disesuaikan dengan konsePasali PVT. Maka apa yang
dimaksud dengan “dikuasai oleh Negara”, seharuasnya dijabarkan
lebih lanjut, termasuk apa sanksinya apabila ketentuan Pasal 7
tersebut dilanggar. Untuk itu, perlu penjelasan dan pengaturan
lebih lanjut mengenai konsep“dikuasai oleh Negara”, mekanisme
penggunaannya dan sanksi bagi pelanggarnya, termasuk
kompensasi atau insentif bagi pemerintah, atau komunitas yang
melestarikan sumber daya genetika lokal. Hak SDG milik Negara
tidak serta merta bisa digunakan oleh sembarangan orang. Selain
itu, perlu ditegaskan bentuk peraturan pelaksanaan bagi
mekanisme penggunaan, penyebaran dan konservasi varietas lokal
tersebut. Pilihannya adalah dengan PP atau Perpres.
√
3.
Pasal 9
Perlu pengaturan yang mengecualikan pemegang hak PVT
perorangan, mengingat petani di Indonesia pada umumnya
merupakan petani kecil. Karena pada ketentuan Pasal 60 Ayat (2)
huruf a menegaskan pencabutan hak PVT apabila pemegang hak
√
Cabut
45
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
Cabut
PVT tidak memenuhi kewajiban membayar biaya tahunan dalam
jangka waktu enam bulan.
Masalahnya, ketentuan Pasal 9 Ayat (1) huruf b tersebut dalam
pelaksanaannya akan memberatkan para pemulia perorangan.
Oleh karena itu disarankan agar dalam ketentuan Pasal 9 Ayat (1)
huruf b, diatur pengecualianterhadap pemegang hak PVT
perorangan dan golongan UMKM
Arahnya, agar biaya tahunan bagi pemohon hak PVT perorangan
dan golongan UMKM ditetapkan untuk ditanggung oleh Negara.
Norma teknis dan administratifnya dapat diatur lebih lanjut dalam
Peraturan Pemerintah atau Peraturan Presiden.
4.
Pasal
10
Dalam penjelasan pasal tersebut dinyatakan : “Yang di maksud
dengan tidak untuk tujuan komersial adalah kegiatan perorangan
terutama para petani kecil untuk keperluan sendiri dan tidak
termasuk kegiatan menyebarluaskan untuk keperluan
kelompoknya. Hal ini perlu ditegaskan agar pangsa pasar bagi
varietas yang memiliki PVT tadi tetap terjaga dan kepentingan
pemegang hak PVT tidak dirugikan.”
√
Harus diakui, dengan ketentuan seperti itu maka budaya gotong
royong dan nilai-nilai kekeluargaan yang hidup dalam masyarakat
Indonesia dapat terganggu atau terancam. Oleh karena itu perlu
dirumuskan definisi yang lebih tegas mengenai tujuan komersial
46
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
Cabut
dan tidak mencakup untuk keperluan kelompok. Kejelasan
mengenai masalah ini dapat membantu mewujudkan cita-cita dan
komitmen untuk melindungi petani.
5.
Pasal
11
Berpotensi disharmoni dengan pasal 9, 12 dan 17 UU Nomor 12
Tahun 1992 ttg Sistem Budidaya Tanaman (SBT) yang
mengharuskan adanya mekanisme pelepasan dan ijin benih.
√
Konsep PVT memang memiliki perbedaan dengan konsep SBT,
sehingga kedua UU ini perlu diharmoniskan untuk kepentingan
petani Indonesia.
6.
Pasal
58
Belum ada pengaturan mengenai pencegahan tindakan yang
bersifat abusive. Artinya, dalam ketentuan Pasal 58 ini belum
diatur mengenai kemungkinan pembatalan hak PVT jika dalam
tahap pelaksanaan komersialnya, pemegang hak PVT mengambil
keuntungan yang sangat besar.Ketentuan seperti ini diberlakukan
di Amerika Serikat. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika
Indonesia juga mengatur hal yang sama.
√
Untuk pelaksanaannya, perlu pengaturan mengenai margin
keuntungan yang wajar bagi pemegang hak PVT untuk
mengkomersialkan haknya. Sejalan dengan itu, dalam hal Negara
memiliki kepentingan, maka negara dapat melakukan tindakan
untuk “menjaga kepentingan umum dan pemanfaatan PVT secara
lebih luas”. Prinsipnya, negara dapat mencabut perlindungan
47
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
Cabut
PVTdengan memberikan remunerasi yang adil kepada pemilik,
yakni setelah tidak lebih dari dua tahun setelah lisensi diberikan
ternyata terdapat kepentingan yang mendesak untuk menjamin
pasokan pangan, pakan dan serat, serta terdapat cukup bukti
bahwa pemilik PVT tidak bersedia atau tidak mampu memenuhi
kebutuhan masyarakat dengan harga yang wajar dan dapat
dianggap adil.
5. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan
Undang-Undang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan terdiri dari 77 (tujuh
puluh tujuh) pasal dan berlaku seluruhnya. Berikut tabel penilaian terhadap pasal-pasal yang
bermasalah berdasarkan kesesuaian indikator asas:
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
1.
Pasal 2
Dalam teknik penulisan norma, penyebutan asas tidak diperlukan,
karena tidak akan operasional (tidak memiliki operator norma).
asas adalah nilai-nilai yang menjiawai seluruh norma yang berisi
pengaturan. Hal ini sejalan dengan petunjuk Nomor 98 Lampiran II
UU Nomor12 Tahun 2011 ttg Pembentukan Peraturan PUU.
Cabut
√
48
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
Cabut
Sehingga sebaiknya norma yang menyebutkan asas-asas dicabut,
cukup elaborasi asas ada dalam naskah akademik. Jika memang
ada suatu asas yang penting untuk dinormakan/normaisasi asas,
maka perlu kalimat norma yang standar dan operasional, dan
dimasukan dalam salah satu butir dalam pasal 1, yang berisi
ketentuan umum.
2.
Pasal 3
Ketentuan ini pada dasarnya juga pernyataan mengenai tujuan
penyelenggaraan pangan, yang seharusnya temuat dalam
penjelasan umum UU dan dalam naskah akademiknya. Jika
ketetentuan mengenai tujuan ini dibtuhkan dalam suaut PUU,
maka dirumuskan dalam salah satu butir pasa1 ttg ketentuan
umum (baca petunjuk Nomor 98 huruf c, Lampiran II UU Nomor 12
Tahun 2011 ttg P3).
√
3.
Pasal 4
Ruang lingkup cukup dimasukan dalam salah satu butir pada
pasal 1 ttg ketentuan umum.
√
4.
Pasal 8
Redundant dengan pasal 7 ayat (1)
√
5.
Pasl 10 – Berisi tentang pedoman perencanaan LP2B. Namun pelanggaran
terhadap ketentuan perencanaan ini tidak memiliki konsekwensi
16
atau sanksi, sehingga berpotensi tidak efektif.
6.
Pasal 17
Berisi pedoman bahwa LP2B dimuat dalam RPJP, RPJMN dan RKP.
Namun tidak memiliki konsekwensi apapun jika ketentuan ini
√
√
49
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
Cabut
tidak dilaksanakan. Sehingga ketentuan ini berpotensi tidak efektif.
Untuk itu perlu dipertimbangkan kembali rumusannya.
7.
Pasal 18
– 25
Berisi pedoman mengenai penetapan, namun tidak memiliki
konsekwensi, sehingga berpotensi tidak efektif .
√
8.
Pasal 64
Tidak menyebutkan secara tegas, jenis PUU yang akan mengatur
lebih lanjut. Hal ini sebagaimana petunjuk Nomor 200 dalam
Lampiran II UU Nomor 12 Tahun 2011, bahwa pendelegasian
kewenangan mengatur harus menyebutkan dengan tegas jenis
PUU nya.
√
Dengan tidak disebutkannya dengan jelas jenis PUU yang
didelegasikan, telah terbit UU Nomor 19 Tahun 2013 tentang
Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, yang secara teknis cukup
diatur dalam PUU di bawah UU.
9.
Pasal 70
Sanksi adminsitratif seharusnya diatur secara terintegrasi dengan
pasal yang dikenai sanksi.
√
Petunjuk Nomor 64 Lampiran II UU Nomor 12/2011:
“Substansi yang berupa sanksi administratif atau sanksi
keperdataan atas pelanggaran norma tersebut dirumuskan menjadi
satu bagian (pasal) dengan norma yang memberikan sanksi
administratif atau sanksi keperdataan”.
50
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
Cabut
Petunjuk Nomor 65:
“Jika norma yang memberikan sanksi administratif atau
keperdataan terdapat lebih dari satu pasal, sanksi administratif
atau sanksi keperdataan dirumuskan dalam pasal terakhir dari
bagian (pasal) tersebut. Dengan demikian tidak merumuskan
ketentuan sanksi yang sekaligus memuat sanksi pidana, sanksi
perdata, dan sanksi administratif dalam satu bab.”
10. Pasal 72
Rasio sanksi pidana tidak berpola
√
11. Pasal 73
Menganut sanksi pidana minimal khusus, sehingga diperlukan
pengaturan yang memberikan pedoman bagaimana cara
penerapan sanksi pidana minimal khusus tersebut, ag
√
ar terjadi kepastian hukum dalam penegakannya.
12. Pasal 74
Mengatur tanggung jawab korporasi, namun pengenaan sanksi
pidananya hanya pada pengurusnya. Untuk dapat membidik
korporasinya, maka sebaiknya rumusan normanya lebih
dipertegas, yaitu dengan meyebutkan bahwa sanksi pidana
dijatuhkan kepada pengurusnya, dan sanksi denda kepada
korporasi nya (bukan kepada pengurusnya).
√
Contoh:
“Dalam hal ….dilakukan oleh korporasi, maka sanksi pidana
dikenakan kepada pengurusnya paling banyak……dan sanksi
51
No
Pasal
Rekomendasi
Analisis
Revisi
Cabut
denda kepada korporasi paling banyak…..”.
Sanksi pidana minimal khusus, memerlukan pengaturan yang
memberikan pedoman bagaimana cara penerapan sanksi pidana
minimal khusus tersebut, agar terjadi kepastian hukum dalam
penegakannya.
6. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani
UU Perlindungan dan Pemberdayaan Petani terdiri dari 108 (seratus delapan) pasal dengan
status: pasal 59, pasal 70 dan 71 dibatalkan oleh MK dengan putusanusan MK Nomor 87/PUUXI/2013).
Berikut
tabel
penilaian
terhadap
pasal-pasal
yang
bermasalah
berdasarkan
kesesuaian indikator asas:
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
1.
Pasal 2
Dalam teknik penulisan norma, penyebutan asas tidak diperlukan.
Asas adalah nilai-nilai yang menjiawai seluruh norma yang berisi
pengaturan. Hal ini sejalan dengan petunjuk Nomor 98 Lampiran II
UU Nomor12 Tahun 2011 ttg Pembentukan Peraturan PUU. Oleh
karena itu sebaiknya norma yang menyebutkan asas-asas dicabut,
cukup elaborasi asas ada dalam naskah akademik. Jika memang
ada suatu asas yang penting untuk dinormakan/normaisasi asas,
Cabut
√
52
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
Cabut
maka perlu kalimat norma yang standar dan operasional, dan
dimasukan dalam salah satu butir dalam pasal 1, yang berisi
ketentuan umum.
2.
Pasal 3
Ketentuan ini pada dasarnya juga pernyataan mengenai tujuan
penyelenggaraan pangan, yang seharusnya temuat dalam
penjelasan umum UU dan dalam naskah akademiknya. Jika
ketentuan mengenai tujuan ini dibutuhkan dalam suaut PUU, maka
dirumuskan dalam salah satu butir pasal tentang ketentuan umum
(baca petunjuk Nomor 98 huruf c, Lampiran II UU Nomor 12 Tahun
2011 tentang P3).
√
3.
Pasal 5
Perencanaan merupakan bagian yang penting dari sebuah program
kegiatan. Agar efektif dan mengenai sasaran, perindungan dan
pemberdayaan petani perencanaan memang harus masuk dalam
dokumen perencanaan (RPJMN, RPJMD, RKP, RKPD, RAPBN dan
RAPBD). Namun ketentuan norma ini tidak memiiki kekuatan
mengikat, ditambah lagi dalam penjelasan pasal 5 ini tidak
dijelaskan bahwa perencanaan ini harus masuk dalam dokumen
apa saja. Sehingga pasal 5 ayat (3) ini berpotensi tidak operasional.
√
4.
Pasal
55
Petani hanya diberi hak sewa, bukan hak milik, tidak punya hak
kolektif dan sulit mengeola tanah secara mandiri
√
5.
Pasal
59
“hak sewa” dibatalkan oleh MK (Putusan MK Nomor 87/PUUXI/2013)
√
53
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
Cabut
Petani tak diberi peluang untuk punya “hak milik” atas tanah.
Kedaulatan pengelolaan tanah pun sirna. Petani hanya diberi “hak
sewa” dan izin tertentu atas tanah negara bebas atau tanah
terlantar. Petani tak punya hak milik kolektif dan sulit mengelola
tanah mandiri.
Ketentuan mengenai konsolidasi lahan ini tidak akan efektif
sepanjang tidak ada koreksi atas ketimpangan pemilikan,
penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah
melalui redistribusi sebagai inti dari landreform (reforma agraria).
Ketentuan mengenai jaminan luasan lahan bagi petani tidak
bermakna karena “alas hak” yang diberikan adalah hak sewa yang
tidak menjadikan petani bermartabat (sebagai pemilik tanah).
6.
7.
Pasal
70
Dibatalkan oleh MK (Putusanusan MK Nomor 87/PUU-XI/2013)
Pasal
71
Dibatalkan oleh MK (Putusanusan MK Nomor 87/PUU-XI/2013)
√
Pasal 70 ayat (1) bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945
sepanjang tidak dimaknai “temasuk kelembagaan petani yang
dibentuk oleh para petani.”
√
Kata “berkewajiban” bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945.
7. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan
54
Undang-Undang Perkebunan terdiri dari 118 (seratus delapan belas) pasal dimana status
pasalnya berlaku seluruhnya. Berikut tabel penilaian terhadap pasal-pasal yang bermasalah
berdasarkan kesesuaian indikator asas:
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
Cabut
1.
Pasal 2
Dalam teknik penulisan norma, penyebutan asas tidak diperlukan,
karena tidak akan operasional (tidak memiliki operator norma). asas
adalah nilai-nilai yang menjiawai seluruh norma yang berisi
pengaturan. Hal ini sejalan dengan petunjuk Nomor 98 Lampiran II
UU Nomor12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan. Oleh karena itu sebaiknya norma yang
menyebutkan asas-asas dicabut, cukup elaborasi asas ada dalam
naskah akademik. Jika memang ada suatu asas yang penting untuk
dinormakan/normaisasi asas, maka perlu kalimat norma yang
standar dan operasional, dan dimasukan dalam salah satu butir
dalam pasal 1, yang berisi ketentuan umum.
√
2.
Pasal 3
Ketentuan ini pada dasarnya juga pernyataan mengenai tujuan
penyelenggaraan pangan, yang seharusnya temuat dalam
penjelasan umum UU dan dalam naskah akademiknya. Jika
ketentuan mengenai tujuan ini dibutuhkan dalam suatu PUU, maka
dirumuskan dalam salah satu butir pasa1 tentang ketentuan umum
(baca petunjuk Nomor 98 huruf c, Lampiran II UU Nomor 12 Tahun
2011 ttg P3).
√
55
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
3.
Pasal 4
Ruang lingkup cukup dimasukan dalam salah satu butir pada pasal
1 tentang ketentuan umum.
4.
Pasal 12
Ketentuan “Dalam hal Tanah yang diperlukan untuk Usaha
Perkebunan merupakan Tanah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat,
Pelaku Usaha Perkebunan harus melakukan musyawarah dengan
Masyarakat Hukum Adat pemegang Hak Ulayat untuk memperoleh
persetujuan mengenai penyerahan tanah dan imbalannya”, tidak
memberikan pilihan lain selain menyetujui. Perlu diberikan
alternative putusanusan yang boleh diambil oleh masyarakat adat,
dengan syarat-syarat tertentu.
Cabut
√
√
Kata “imbalan” perlu ditinjau ulang, karena dapat membuka
peluang bagi penyelundupan hukum dan penyaralhgunaan
kewenangan.
5.
Pasal 18
Sanksi adminsitratif seharusnya diatur secara terintegrasi dengan
pasal yang dikenai sanksi.
√
Petunjuk Nomor 64 Lampiran II UU Nomor 12/2011:
“Substansi yang berupa sanksi administratif atau sanksi
keperdataan atas pelanggaran norma tersebut dirumuskan menjadi
satu bagian (pasal) dengan norma yang memberikan sanksi
administratif atau sanksi keperdataan”.
56
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
Cabut
Petunjuk Nomor 65:
“Jika norma yang memberikan sanksi administratif atau keperdataan
terdapat lebih dari satu pasal, sanksi administratif atau sanksi
keperdataan dirumuskan dalam pasal terakhir dari bagian (pasal)
tersebut. Dengan demikian tidak merumuskan ketentuan sanksi yang
sekaligus memuat sanksi pidana, sanksi perdata, dan sanksi
administratif dalam satu bab.”
6.
7.
Pasal 26
Pasal 29
Ketentuan ini merupakan gerbang awal yang membuka peluang
bagi introduksi benih dari luar negeri, sangat rentan pada pemodal
asing yang berorientasi keuntungan, sehingga sangat lemah pada
pemenuhan Asas Kebangsaan. Jika pekebun membeli benih impor
akan memberatkan dari segi biaya. Oleh karenanya ketentuan ini
perlu direvisi untuk memperkuat Asas Kebangsaan.
Catatan:
Ketentuan ini idem dg pasal 8 UU Nomor 12/1992 tentang Sistem
Budidaya Tanaman.
Sebagaiman putusan MK Nomor Nomor 99/PUU-X/2012 terhadap
Pasal 9 dan 12 UU Nomor 12/1992 tentang Sistem Budidaya
Tanaman, bahwa seharusnya pelaku usaha tanaman perkebunan
tidak disamakan perlakuannya dengan pembudidaya tanaman
berskala kecil. sehingga ketentuan ini memerlukan aturan
tambahan yang memberikan keberpihakan kepada pelaku usaha
√
√
57
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
Cabut
perorangan dan usaha dalam bentuk korporasi.
8.
Pasal 30
Idem
√
9.
Pasal 55
Untuk menghindari makna yang ambigu dan multi interpretasi,
pasal 55 perlu disempurnakan, dengan memperjelas ketentuan
mengenai kata "secara tidak sah". Sebaiknya diuraikan apa saja
yang dimaksud tidak sah.
√
10.
Pasal 107
Makna pasal ini pada prinsipnya menghidupkan kembali pasal 21
jo 47 UU 18/2004 yang sudah dibatalkan MK. Karena seharusnya
masalah sengketa lahan perkebunan adalah ranah masalah hukum
perdata.
11.
Pasal 113
Ketentuan mengenai tanggung jawab korporasi tidak membeikan
pedoman yang lengkap, sedangkan KUHP tidak menganut sistem
tanggung jawab korporasi (hanya tanggung jawab "orang"). Oleh
karenanya, dalam ketentuan di luar KUHP yang mengatur
mengenai tanggungjawab "korporasi" hendaknya juga mengatur
bagaimana pedoman penerapannya, misalnya:
√
√
- kapan korporasi dapat dipertartanggung jawabkan (kapan
korporasi dikatakan melakukan tindak pidana);
- kapan pengurus korporasi dapat dipertangung jawabkan (kapan
pengurus dinyatakan telah melakukan tindak pidana);
- kapan penghapusan penuntutan atau pidana bagi korporasi;
58
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
Cabut
dan sebagainya.
Ketentuan yang tidak utuh/lengkap (incomplete or partial set of
tools) ini menyebabkan aparat penegak hukum mengalami
kesulitan pada tahap penerapan dan eksekusinya di lapangan.
B. PENILAIAN TERHADAP PERATURAN PEMERINTAH
1. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu, dan Gizi Pangan
PP tentang Keamanan, Mutu, dan Gizi Pangan terdiri dari 20 pasal dan berlaku
seluruhnya. PP ini merupakan amanat dari UU Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan yang
sudah dicabut dan diganti dengan UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Berdasarkan
penilaian, pasal ini tidak bermasalah dalam norma, namun masih merupakan pendelegasian
dari UU yang sudah dicabut.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2005 tentang Kemanan Hayati Produksi
Rekayasa Genetika
PP ini terdiri dari 37 pasal dan masih berlaku seluruhnya. PP ini merupakan peraturan
pelaskanaan dari UU Nomor 23 Tahun 1997 tentang Peneglolaan LH yang sudah dicabut dan
diganti dengan UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan LH, namun
59
belum ada aturan PP yang baru yang mengatur masalah Keamanan hayati Produksi Rekayasa
Genetika berdasarkan UU PPLH. Dari PP ini juga telah terbit Perpres Nomor 39 Tahun 2010
tentang Komisi Keamanan Hayati Produksi Rekayasa Genetik.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2011 tentang Penetapan dan Alih Fungsi Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan
PP tentang Penetapan dan Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan terdiri dari
51 (lima puluh satu) pasal dan berlaku seluruhnya. PP ini merupakan pendelegasian dari
pasal 26 dan pasal 53 UU Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan. Secara umum, PP ini mengatur hal yang sejenis dengan PP Nomor 25
Tahun 2012 tentang Sistem Informasi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, maka kedua
PP ini perlu disimplifikasi. Berikut tabel penilaian terhadap pasal-pasal PP Nomor 1/2011
yang bermasalah berdasarkan kesesuaian indikator asas:
No
1.
Pasal
Pasal 8
Analisis
Pasal 8 ayat (1) tidak secara spesifik menyebutkan mengenai maksud
dari hamparan lahan dengan luasan tertentu, dan pada ayat (2) juga
Rekomendasi
Revisi Cabut
√
60
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi Cabut
tidak menyebutkan secara detil tentang pengertian dapat memenuhi
kebutuhan pangan sebagian masyarakat setempat yang seperti apa
unsur memenuhi tersebut
2.
Pasal 9
Rencana perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan masih
belum dibuat oleh pemerintah, sehingga perlu adanya aturan lebih
lanjut mengenai rencana perlindungan lahan pertanian pangan
berkelanjutan
√
3.
Pasal 17
Pasal 17 ini tidak konsisten di dalam ayat (1) dan (2) yang
menyebutkan tentang perlindungan kawasan khusus, namun ayat (3)
menyatakan harus mempertimbangkan ketentuan peraturan
mengenai ketentuan PUU tentang penataan ruang
√
4.
Pasal 19
Tata cara penetapan Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan
sebagai kawasan strategis nasional berlaku mutatis mutandis, ini
berarti bahwa penetapan kawasan pertanian pangan berkelanjutan
sebagai kawasan strategis nasional tidak mutlak tapi akan mengalami
perubahan-perubahan sesuai dengan yang diperlukan
√
5.
Pasal 20
Pasal ini telah menyebutkan bahwa lahan pertanian pangan
berkelanjutan yang berada di daerah kabupaten/kota berada
dikawasan pedesaan dan kawasan perkotaan di wilayah
kabupaten/kota namun tidak terlalu jelas dan di jelaskan secara pasti
wilayah yang seperti apa
√
61
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi Cabut
√
6.
Pasal 23
Pasal 23 telah menyebutkan bahwa lahan pertanian pangan
berkelanjutan termuat dalam rencana perlindungan lahan pertanian
pangan berkelanjutan, namun tidak ada keharusan untuk melindungi
lahan pertanian berkelanjutan sehingga perlu direvisi
7.
Pasal 28
Keberadaan kawasan lahan pertanian berkelanjutan sudah ditentukan
keberadaannya, namun tidak secara spesifik menyebutkan daerah
yang dipergunakan sebagai kawasan pertanian pangan berkelanjutan
√
8.
Pasal 39
Alih fungsi lahan pertanian mengakibatkan lahan pertanian semakin
berkurang dan berpengaruh pula pada ketersediaan pangan lokal.
√
9.
Pasal 42
Hak atas tanah masyarakat yang terkena alih fungsi lahan diberikan
ganti rugi , namun pasal ini tidak menjelaskan bagaimana besaran
ganti ruginya apakah mendapatkan lahan kembali atau
mendapatkankan ganti rugi berupa uang.
√
Catatan :
Perlu ada kejelasan mengenai ganti rugi
10.
Pasal 45
Penggantian lahan akibat adanya alih fungsi lahan pertanian dalam pasal 45
ayat (2) huruf b dilaksanakan maksimal 24 bulan, ketentuan paling lama 24
bulan tersbeut dirasakan sangat merugikan bagi masyarakat karena terlalau
lama. Maka pasal 45 ayat (2) huruf b perlu di revisi
√
4. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2012 tentang Insentif Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan
62
PP tentang Insentif Perlindungan Lahan Pertanian Pangan terdiri dari 50 (lima puluh)
pasal dan berlaku seluruhnya. PP ini merupakan pendelegasian dari ketentuan pasal 43 UU
Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Perttanian Pangan Berkelanjutan. Secara
umum, PP ini mengatur hal yang sejenis dengan PP Nomor 30 Tahun 2012 tentang
Pembiayaan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, maka kedua PP ini perlu
disimplifikasi. Berikut tabel penilaian terhadap pasal-pasal PP 12/2012 yang bermasalah
berdasarkan kesesuaian indikator asas:
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
1. Pasal 12
Pada ayat (1) berbicara mengenai penyediaan sarana produksi
bagi petani pada tingkat provinsi, namun ayat (2) ada
pembatasan yaitu sesuai kebutuhan, acuan untuk menetapkan
sebuah kebutuhan itu seperti apa tidak jelas walaupun ada
rekomendasi dari tim penilai
√
2. Pasal 13
Pada ayat (1) berbicara mengenai penyediaan sarana produksi
bagi petani pada tingkat provinsi, namun ayat (2) ada
pembatasan yaitu sesuai kebutuhan dan rekomendasi tim
penilai, disini ada ketidak konsistenan karena dsatu sisi
diberikan namun disisi lain berdasarkan hasil rekomendasi ini
kan menjadi celah korupsi Pasal dan kesewenang-wenangan
aparat
√
Cabut
63
No
Pasal
Analisis
Rekomendasi
Revisi
3. Pasal 15
Jaminan penerbitan sertifikat lahan pertanian pangan
berkelanjutan merupakan wujud dari kehati-hatian pemerintah
terhadap penyalahgunaan lahan namun dalam implementasinya
perlu ada evaluasi yang rutin dalam hal pemberian sertifikat
√
4. Pasal 18
Penilaian terhadap petani berprestasi perlu ada kejelasan
sehingga tidak ada multi tafsir
√
5. Pasal 22
Adanya perbedaan terhadap pemberian insentif terhadap lahan
pertanian yang subur. Harus ada kejelasan yang dimaksud subur
dan tidak subur.
√
6. Pasal 23
Luas tanam paling sedikit 25 hektar, hanya dapat dimiliki oleh
petani bermodal besar (korporasi) sehingga tidak menguntungkan
bagi petani kecil
√
7. Pasal 25
Sebaiknya insentif juga diberikan bagi lahan yang telah
mengalami fragmentasi pada satu hamparan
√
8. Pasal 32
Proses pengusulan untuk memperoleh insentif sebaiknya
dilakukan transparan.
√
Cabut
64
5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2012 tentang Sistem Informasi Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan
PP tentang Sistem Informasi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan terdiri dari 46
(empat puluh enam) pasal dan berlaku seluruhnya. PP ini merupakan pendelegasian dari
ketentuan Pasal 60 UU Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Pertanian Pangan
Berkelanjutan.
Berdasarkan penilaian terhadap kesesuaian norma PP tentang Sistem Informasi Lahan
Pertanian Berkelanjutan dengan asas dan indikatornya, PP ini sudah sesuai dengan norma
dan memenuhi asas materi muatan. Namun demikian, untuk lebih menyederhanakan jumlah
peraturan pelaksana dari UU Nomor 41 Tahun 2009 tentang Lahan Pertanian Pangan
Bekelanjutan, maka PP ini perlu disimplifikasi dengan PP Nomor 1 Tahun 2011 tentang
Penetapan Alih dan Fungsi Lahan Pangan yang Berkelanjutan, mengingat kedua PP ini
mengatur persoalan yang sejenis.
6. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2012 tentang Pembiayaan Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan
PP tentang Pembiayaan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan terdiri dari
39 (tiga puluh Sembilan) pasal dan berlaku seluruhnya. PP ini merupakan pendelegasian dari
ketentuan Pasal 66 ayat (3) UU Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan.
65
Berdasarkan penilaian terhadap kesesuaian norma PP tentang Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan dengan asas dan indikatornya, PP ini sudah sesuai dengan norma dan
memenuhi asas materi muatan. Namun demikian, untuk lebih menyederhanakan jumlah
peraturan pelaksana dari UU Nomor 41 Tahun 2009 tentang Lahan Pertanian Pangan
Bekelanjutan, maka PP ini perlu disimplifikasi dengan PP Nomor 12 Tahun 2012 tentang
Insentif Perlindungan Pertanian Pangan, mengingat kedua PP ini mengatur persoalan yang
sejenis.
7. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi
PP tentang ketahanan pangan dan gizi terdiri dari 90 (Sembilan puluh) pasal dan berlaku
seluruhnya. PP ini merupakan pendelegasian dari pasal 28 ayat 4, pasal 43, pasal 45 ayat(3),
pasal 48 ayat(2), pasal 52 ayat(2), pasal 54 ayat(3), pasal 112, pasal 116 dan pasal 131 ayat(2)
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan.
Dari penilaian terhadap kesesuaian norma PP tentang Ketahanan Pangan dan Gizi
dengan asas dan indikatornya, PP ini sudah ideal dalam norma dan sudah memenuhi asas
materi muatan. Oleh karena itu PP ini perlu dipertahankan.
66
8. Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2006 tentang Dewan Ketahanan Pangan
Perpres tentang Dewan Ketahanan Pangan terdiri dari 20 pasal dan berlaku
seluruhnya. Perpres ini sudah tidak relevan, karena merupakan amanat UU Nomor 7 Tahun
1996 tentang Pangan yang sudah dicabut dan diganti dengan UU Nomor 18 Tahun 2012.
Pasal 126 UU Nomor 18 Tahun 2012 mengamanatkan untuk dibentuk Lembaga di bawah
Presiden, selanjutnya Pasal
151 mengamanatkan pembantukan lembaga tersebut paling
lambat tiga tahun sejak UU ini diundangkan (UU diundangkan pada November Tahun 2012).
Berdasarkan penilaian, agar Perpres ini dicabut, dan segera dibentuk lembaga
pemerintah yang menangani bidang pangan di bawah langsung Presiden (bukan di bawah
Kementerian Pertanian), sesuai amanat Pasal 126 UU UU No 18 Tahun 2012 tentang Pangan.
Jika melihat ketentuan pasal 126 ini Lembaga ini seharusnya sudah harus terbentuk pada
Bulan November 2015.
67
BAB IV
ANALISIS DAN EVALUASI HUKUM BERDASARKAN
POTENSI DISHARMONI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
A. Potensi Disharmoni Kewenangan
Untuk menganalisis dan mengevaluasi potensi disharmoni kewenangan dalam peraturan
perundang-undangan terkait dengan bidang pangan dilakukan persandingan ketentuan pasal-pasal
dari beberapa peraturan perundang-undangan, yaitu:
1.
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;
2.
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan; Pertanian Pangan
Berkelanjutan;
3.
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura;
4.
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan;
5.
Undang-Undang No 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan
Hutan;
6.
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan petani;
7.
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan;
68
8.
Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2012 tentang Lalu Lintas Barang Di Wilayah Free
Trade Zone;
9.
Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi
Kementerian Negara;
10. Perpres Nomor 45 Tahun 2015 tentang Kementerian Pertanian;
11. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 60 Tahun 2012 tentang Rekomendasi Impor Produk
Hortikultura;
12. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 30 Tahun 2012 tentang Ketentuan Impor Produk
Hortikultura, sebagaimana terakhir diubah dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor
60 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 30
Tahun 2012 tentang Ketentuan Impor Produk Hortikultura.
Persandingan potensi disharmoni dilakukan dalam bentuk tabel sebagai berikut:
No.
1
Pasal PUU
UU Nomor 13 Tahun
2010 tentang
Hortikultura
Pasal 117 menyebutkan
bahwa pengawasan
yang dilakukan oleh
pemerintah adalah
Potensi disharmoni
dengen PUU Lain
UU Nomor 18 Tahun
2012 tentang Pangan
Pasal 108 Ayat (3)
Bahwa persyaratan
Keamanan Pangan,
Mutu Pangan, dan Gizi
Pangan, serta
Analisis
-
Pengawasan pangan di Indonesia menganut
Multiple Agency System. Multiple Agency
System merupakan sistem pengawasan
pangan yang melibatkan berbagai lembaga.
Pengawasan yang dilakukan tidak hanya
dilakukan oleh satu lembaga. Pengawasan
69
No.
Pasal PUU
Potensi disharmoni
dengen PUU Lain
Analisis
pengawasan berjenjang
oleh Pemerintah Pusat,
Pemerintah Provinsi,
dan Pemerintah
Kabupaten/Kota sesuai
dengan kewenangannya
dengan melibatkan
peran serta masyarakat.
Dalam hal pengawasan
terhadap Pangan Segar
maka UU ini juga perlu
dirujuk.
persyaratan label dan
iklan Pangan untuk
Pangan Segar,
dilaksanakan oleh
lembaga pemerintah
yang
menyelenggarakan
urusan pemerintahan
di bidang Pangan.
Produk Hortikultura Impor dilakukan oleh
berbagai lembaga pemerintahan.
-
Lembaga Pemerintah
yang berada di bidang
pangan yang turut
mengawasi pangan
segar adalah Badan
Karantina Pertanian
dan Badan Ketahanan
Pangan. Badan
Karantina Pertanian
Pertanian (selanjutnya
disebut Barantan)
memiliki tugas dalam
pengawasan lalu lintas
pangan segar di pintu
pemasukan dan
pengeluaran,
Sedangkan Badan
Ketahanan Pangan
(selanjutnya disebut
-
Di awal pemasukannya ke dalam wilayah
Indonesia yang melewati kawasan pabean,
pengawasan dilakukan oleh Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dan juga
Badan Karantina Pertanian (Barantan).
-
Selanjutnya ketika Poduk Hortikultura
Impor beredar di masyarakat, terdapat
lembaga pemerintah yang lain yang turut
melakukan pengawasan yaitu Badan
Ketahanan Pangan (BKP), Dinas Pertanian
dan Dinas Perdagangan.
-
BKP merupakan lembaga yang turut
melakukan pengawasan pangan segar
seperti produk hortikultura selain DJBC
dan Barantan. BKP juga disebutkan
menjadi lembaga yang berada dibawah
Kementerian Pertanian. Hal ini disebutkan
dalam Pasal 4 huruf j Perpres Kementan.
-
Jadi terdapat 4 (empat) instansi yang
terlibat dalam pengawasan impor tanaman
70
No.
Pasal PUU
Potensi disharmoni
dengen PUU Lain
BKP) melakukan
pengawasan pangan
segar asal tumbuhan di
peredaran.
Pasal 96 ayat (1) UU No.
7 Tahun 2014 tentang
Perdagangan, bahwa:
Dinas Perdagangan
sebagai unit pelaksana
kegiatan di bidang
perdagangan tingkat
daerah menjalankan
tugasnya dan mempunyai
kewenangan sesuai
dengan UU Perdagangan.
Analisis
hortikultura, yaitu DJBC, Balai Karantina,
BKP dan Dinas Perdagangan, dimana Balai
Karantina dan BKP merupakan unit dari
Kementan. Hal ini dapat menyebabkan
ketidakefektifan kinerja pengawasan pangan
dalam mendorong kedaulatan pangan.
Perpres Nomor 45 Tahun
2015 tentang
Kementerian Pertanian.
Dalam bunyi perpres
tersebut dijelaskan secara
rinci terkait lembaga yang
berada dibawah
Kementerian Pertanian.
Dalam Pasal 4 huruf k,
disebutkan bahwa
71
No.
Pasal PUU
Potensi disharmoni
dengen PUU Lain
Analisis
Barantan berada dibawah
Kementerian Pertanian.
Pasal 294 Peraturan
Presiden Nomor 24
Tahun 2010 tentang
kedudukan, Tugas, dan
Fungsi Kementerian
Negara serta Susunan
Organisasi, Tugas, dan
Fungsi Eselon I
Kementerian Negara,
menyebutkan bahwa BKP
mempunyai tugas
melaksanakan pengkajian,
pengembangan dan
koordinasi di bidang
pemantapan ketahanan
pangan.
2
UU Nomor 41 Tahun
2009 tentang
Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan
Berkelanjutan (PLP2B)
Pasal 72:
(1) UU Nomor 41 tahun
UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang
Pasal 73:
(1) Setiap pejabat
pemerintah yang
berwenang yang
menerbitkan izin tidak
Arah pengaturan (politik hukum) dari UU
Nomor 41 Tahun 2009 adalah berorientasi
pada perlindungan dan jaminan kawasan
lahan pertanian pangan secara
berkelanjutan,dalam rangka mewujudkan
kemandirian, ketahanan dan kedaulatan
pangan, serta melindungi kepemilikan
lahan pertanian pangan milik petani. Oleh
karenanya pada Pasal 72 diatur mengenai
72
No.
Pasal PUU
2009 diatur sanksi
hukum bagi para
pelaku alih fungsi
lahan pertanian
dengan ancaman
pidana penjara
maksimal 5 (lima)
tahun dan denda
maksimal Rp 1 Miliar.
Bila pelanggaran itu
dilakukan pejabat,
maka sanksinya
lebih berat sepertiga
dibanding ancaman
hukuman tersebut.
(2) Orang perseorangan
yang tidak
melakukan
kewajiban
mengembalikan
keadaan Lahan
Pertanian Pangan
Berkelanjutan ke
keadaan semula
sebagaimana
dimaksud dalam
Pasal 50 ayat (2) dan
Pasal 51 dipidana
Potensi disharmoni
dengen PUU Lain
sesuai dengan rencana
tata ruang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal
37 ayat (7), dipidana
dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima)
tahun dan denda paling
banyak
Rp500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah).
(2) Selain sanksi pidana
sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) pelaku
dapat dikenai pidana
tambahan berupa
pemberhentian secara
tidak dengan hormat
dari jabatannya.
Analisis
pemberatan hukuman bagi pejabat yang
melakukan alihfungsi lahan pertanian.
Sedangkan UU Nomor 26 Tahun 2007
sebagai UU yang mengamanatkan
dibentuknya UU mengenai perlindungan
kawasan lahan abadi pertanian pangan
(pasal 48 ayat (2)), yang kemudian menjadi
UU Nomor 41 Tahun 2009 tentang PLP2B,
tidak mencantumkan pemberatan sanksi
bagi pejabat yang tidak menjalankan
perencanaan tata ruang sebagaimana
mestinya, kecuali hanya pemberian sanksi
pidana penjara 5 tahun dan denda
maksimal 500 juta rupiah, sedangkan Pasal
70 hanya mengatur sanksi pidana bagi
perorangan saja, yaitu:
 3 tahun penjara dan denda 500 juta bagi
orang yang memanfaatkan ruang tidak
sesuai izin;
 5 tahun penjara dan denda 1 milyar bagi
orang yang menyalahi tata ruang dan
mengakibatkan perubahan fungsi ruang;
 5 tahun penjara dan denda 1,5 milyar
bagi orang yang menyalahi tata ruang dan
mengakibatkan kerugian harta benda dan
kerusakan barang;
 15 tahun penjara dan 5 milyar bagi orang
yang menyalahi tata ruang dan
73
No.
Pasal PUU
Potensi disharmoni
dengen PUU Lain
dengan pidana
penjara paling lama 3
(tiga) tahun dan
denda paling banyak
Rp3.000.000.000,00
(tiga miliar rupiah).
-
(3) Dalam hal perbuatan
sebagaimana
dimaksud pada ayat
(1) dan ayat (2)
dilakukan oleh
pejabat pemerintah,
pidananya ditambah
1/3 (satu pertiga)
dari pidana yang
diancamkan.
3
Analisis
-
Peraturan Pemerintah
Nomor 10 Tahun 2012
tentang Lalu Lintas
Barang Di Wilayah
Free Trade Zone BBK
- Peraturan Menteri
Pertanian Nomor 60
Tahun 2012 tentang
Rekomendasi Impor
Produk Hortikultura;
PP Nomor 10 Tahun
2012 Pasal 3 ayat 1
- Peraturan Menteri
Perdagangan Nomor 60
mengakibatkan kematian orang.
Alihfungsi lahan pertanian pangan, bisa
terjadi akibat dari penyelahgunaan
kewenangan dari pejabat yang melakukan
pelanggaran tata ruang dengan
menerbitkan izin yang tidak semestinya.
Jika merujuk pada sanksi pidana Pasal 73
UU Nomor 26 Tahun 2007 dianggap tidak
memberi efek jera, sehingga ketentuan
sanksi pidana pada UU Nomor 26 Tahun
2007 perlu disempurnakan, agar dapat
bersinergi dengan ketentuan sanksi pada
UU Nomor 41 Tahun 2009.
Selain itu, UU Nomor 26 Tahun 2009 juga
perlu mengatur mengenai jangka waktu
keberlakuan perencanaan penataan ruang.
Hal ini untuk menutup celah terjadinya
inkonsistensi tata ruang, khususnya bagi
lahan pertanian pangan.
Pada tataran implementasi, Balai Karantina
menggunakan instrument Permentan Nomor 60
Tahun 2012 tentang Rekomendasi Impor
Produk Hortikultura dimana Permentan itu
posisinya lebih rendah dari pada Peraturan
Pemerintah Nomor 10 Tahun 2012 tentang
Lalu Lintas Barang di Wilayah Free Trade Zone
74
No.
Pasal PUU
Potensi disharmoni
dengen PUU Lain
menyebutkan,
pemasukan dan
pengeluaran barang ke
dan dari Kawasan
Bebas hanya dapat
dilakukan oleh
pengusaha yang telah
mendapat izin usaha
dari Badan
Pengusahaan Kawasan.
Tahun 2012 tentang
Perubahan Kedua Atas
Peraturan Menteri
Perdagangan Nomor 30
Tahun 2012 yang
mengatur ketentuan
impor Produk
Hortikultura.
Analisis
Pasal 3 ayat 3
mengatakan bahwa,
Pemasukan barang
konsumsi untuk
kebutuhan penduduk
ke Kawasan Bebas dari
luar Daerah Pabean,
hanya dapat dilakukan
oleh pengusaha yang
telah mendapatkan izin
usaha dari Badan
Pengusahaan Kawasan,
dalam jumlah dan jenis
yang ditetapkan oleh
75
No.
Pasal PUU
Potensi disharmoni
dengen PUU Lain
Analisis
Badan Pengusahaan
Kawasan.
4
Pasal 36 (1) UU Nomor
18 Tahun 2012
tentang Pangan:
“Impor Pangan hanya
dapat dilakukan apabila
Produksi Pangan dalam
negeri tidak mencukupi
dan/atau tidak dapat
diproduksi di dalam
negeri.”
Pasal 31 UU Nomor 19
Tahun 2013 tentang
Perlindungan dan
Pemberdayaan petani:
“Setiap orang dilarang
memasukkan komoditas
pertanian dari luar negeri
pada saat ketersediaan
komoditas pertanian di
dalam negeri sudah
mencukupi kebutuhan
konsumsi dan cadangan
pangan pemerintah.”
Kedua ketentuan pasal ini memiliki
orientasi yang berbeda.
Dalam UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang
Pangan yang ditekankan adalah kebolehan
impor pangan, dengan syarat “jika produksi
pangan dalam negeri tidak mencukupi
dan/atau tidak dapat diproduksi didalam
negeri”, di mana kata “dan/atau” ini
beresiko bahwa suatu produk pangan yang
tidak dapat diproduksi di dalam negeri saja
sudah dapat menjadi alasan
diperbolehkannya impor pangan.
Sedangkan dalam UU Nomor 19 Tahun
2013 penekanannya adalah larang impor
pangan, pada saat ketersediaan komoditas
pertanian dalam negeri sudah mencukupi,
tanpa diberikan pilihan tambahan kondisi
“jika tidak dapat diproduksi di dalam
negeri”.
Untuk mendorong kedaulatan pangan yang
mengutamakan hasil produk pangan lokal,
maka pasal 31 UU Nomor 19 Tahun 2013
mempunyai makna yang lebih tegas dan
76
No.
Pasal PUU
Potensi disharmoni
dengen PUU Lain
Analisis
terukur.
Maka Pasal 36 UU Nomor 18 Tahun 2012
perlu direvisi sehingga memiliki makna
yang lebih tegas sebagaimana pasal 31 UU
Nomor 19 Tahun 2013, dan tidak
menimbulkan konflik di kemudian hari.
Selain perlu direvisi, pasal 36 UU Nomor 18
Tahun 2012 juga perlu memberikan
pengaturan lebih lanjut mengenai
pelanggaran dan/atau pembatasan impor
pangan, yang terkoordinir antar sektor
pertanian, perdagangan, perindustrian dan
BUMN.
77
BAB V
ANALISIS DAN EVALUASI BERDASARKAN EFEKTIVITAS
IMPLEMENTASI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Setiap pembentukan peraturan perundang-undangan harus
mempunyai
„kejelasan
tujuan‟
yang
hendak
dicapai
serta
„berdayaguna‟ dan „berhasilguna‟. Pemenuhan ketiga asas tersebut
menunjukan bahwa peraturan perundang-undangan tersebut dibuat
karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam
mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta
dapat dilaksanakan dengan mempertimbangkan efektivitas peraturan
perundang-undangan tersebut di dalam masyarakat, baik secara
filosofis, sosiologis maupun yuridis. Hal ini sejalan dengan asas
pembentukan
peraturan
perundang-undangan
yang
baik,
sebagaimana tercantum dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 12
Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.
Demikian halnya pada saat evaluasi peraturan perundang-undangan,
aspek ini perlu dinilai. Evaluasi atau Penilaian ini perlu dilakukan
untuk melihat sejauh mana manfaat dari pembentukan suatu
peraturan perundang-undangan terkait kedaulatan pangan sesuai
dengan arah politik hukumnya. Penilaian ini dilakukan terhadap
hasil penelusuran permasalahan implementasi dan/atau efektivitas
peraturan perundang-undangan, yang diperoleh baik dari data
primer maupun data sekunder, yang terkait dengan implementasi
peraturan perundang-undangannya.
Dari hasil penelusuran data sekunder (yaitu bahan sekunder),
diperoleh
beberapa
permasalahan
implementasi
peraturan
perundang-undangan terkait kedaulatan pangan, yaitu:
78
1. Kendala produksi
Kementerian Pertanian sering merilis data bahwa setiap tahun
terdapat sekitar 110.000 hektare lahan pertanian yang beralih
fungsi menjadi lahan non-pertanian. Jumlah sawah baru yang
dicetak
pemerintah
mencapai
(dengan
20.000 hingga
dukungan
40.000
dana
hektare
per
APBN)
hanya
tahun, tidak
sebanding dengan lahan sawah yang terkonversi. Akibatnya,
produksi
pangan
semakin
terbatas
dibandingkan
dengan
permintaan yang terus meningkat. Beberapa produk pangan
strategis seperti beras, kedelai, bawang merah, cabai, daging sapi,
dan buah-buahan segar semakin langka di pasaran. Di sisi lain,
permintaan
masyarakat
terus
bertambah
seiring
dengan
penambahan jumlah penduduk. Akibatnya, daerah-daerah yang
semestinya menjadi penyangga pangan nasional, ternyata kini
mengalami defisit pangan sehingga harus mendatangkan pangan
dari daerah atau negara lain. Dalam beberapa tahun terakhir ini,
impor pangan dipakai sebagai solusi rutin untuk mengatasi defisit
pangan, yang tentunya menghabiskan banyak devisa negara.
Langkah
pemerintah
untuk
membolehkan
impor
beberapa
komoditas pangan strategis juga telah menurunkan motivasi para
petani untuk berproduksi karena harga jual pangan impor lebih
rendah dari harga jual di tingkat petani. Biaya produksi petani
kian meningkat karena mahalnya sewa lahan dan benih pangan
hibrida yang dihasilkan oleh korporasi asing dari AS, Jepang, dan
Thailand.
2. Terbatasnya Tenaga Penyuluh Pertanian
79
Program “satu desa-satu penyuluh” yang telah dicanangkan
pemerintah merupakan program yang kredibel. Namun, hingga
saat ini program itu tidak berjalan efektif. Satu desa satu
penyuluh
masih
sulit
sekali
diwujudkan.
Menurut
Menteri
Pertanian pada tahun 2013, Suswono, saat itu jumlah penyuluh
pertanian hanya sebanyak 48 ribu orang, terdiri dari 27 ribu
Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan 21 ribu Tenaga Honorer Lapangan
(THL), sementara di seluruh Indonesia terdapat 70 ribu desa.
Apakah pemerintah sulit mencari tenaga penyuluh yang hanya
sebanyak 70 orang tersebut? Demikian juga dari segi kualitas
tenaga penyuluh yang masih harus terus ditingkatkan.
3. Mahalnya harga benih
Peran korporasi pangan semakin menguasai ekonomi pangan
Indonesia semenjak pemerintah membentang “karpet merah” bagi
korporasi pangan, khususnya asing. Korporasi pangan milik
asing, sudah merambat dari produksi ke perbenihan. Benih, yang
mestinya bisa dibuat sendiri oleh petani Indonesia dan korporasi
domestik, kini sudah dikuasai korporasi asing selama kurang
lebih 10 (sepuluh) tahun terakhir. IGJ (Indonesia for Global
Justice) melaporkan bahwa empat perusahaan asing, yaitu
Monsanto, Dupont, Syngenta, dan Charoen Pokphand, telah
mengusai penjualan dan produksi benih di Indonesia. Monsanto
Indonesia misalnya, melaporkan bahwa pangsa pasar benih
jagung hibrida saat ini sebesar 15%. Ke depan, Monsanto
Indonesia optimis mampu menaikkan porsi pasar benih jagung
hibrida menjadi 30% terutama ditujukan untuk pemenuhan
pakan ternak nasional pada tahun ini yang berkisar 6-7 juta ton.
80
PT SHS (Sang Hyang Seri), sebuah BUMN yang bergerak dalam
bidang perbenihan memiliki peran yang relatif kecil dalam pasar
benih hibrida. Benih padi hibrida yang dihasilkan BUMN ini hanya
mampu mensuplai sekitar 35 persen dari total kebutuhan benih
hibrida nasional sekitar 10 ribu ton. Sementara benih jagung
hibrida yang dihasilkan SHS juga kontribusinya sangat kecil,
sekitar 10 persen dari kebutuhan nasional sebesar 99 ribu ton.
Kebutuhan benih hibrida sektor holtikultura malah tidak mampu
disuplai oleh SHS. BUMN ini hanya mampu memasok 2 persen
dari kebutuhan nasional sekitar 7 ribu ton. Dengan kata lain,
lebih dari 90 persen benih pangan hibrida dikuasai korporasi
asing, baik yang diproduksi di dalam negeri maupun didatangkan
dari negara lain (impor). Peluang asing di bidang perbenihan
terbuka lebar setelah pemerintah mengeluarkan Undang-Undang
Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Peranan
perusahaan
asing
juga
meningkat
setelah
pemerintah
menerbitkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 Tentang
Sistem Budi Daya Tanaman, yang antara lain melarang petani
melakukan pembudidayaan benih. Kehadiran 2 (dua) undangundang ini jelas-jelas mengancam keberadaan para petani kecil
yang semestinya harus dilindungi oleh pemerintah. Petani harus
membeli benih dari korporasi (BUMN dan Swasta asing) yang
harganya sangat mahal. Beruntung, Mahkamah Konstitusi (MK)
sudah menetapkan bahwa kalimat “perseorangan” pada Pasal 9
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tidak memiliki kekuatan
hukum sehingga petani boleh melakukan pemuliaan tanaman
tanpa harus memperoleh izin dari pemerintah.
81
4. Subsidi pangan masih belum efektif
Setiap
tahun
Pemerintah
mengalokasikan
anggaran
subsidi
(antara lain pangan, benih, pupuk, dan kredit tani). Tujuannya
untuk mendorong peningkatan produksi pangan, mengurangi
impor
pangan,
meringankan
biaya
produksi
petani,
serta
mengupayakan terwujudnya swasembada pangan. Pemerintah
juga memberikan bantuan beras (subsidi) kepada golongan rakyat
miskin untuk memenuhi hak dan pemenuhan kebutuhan pangan
rakyat (Tabel 1). Dalam periode 2006-2011, subsidi pertanian
(non-energi) meningkat tajam dari Rp12,8 triliun menjadi Rp41,9
triliun. Subsidi yang bersifat rutin adalah pangan, pupuk, benih,
bunga kredit pinjaman dan PSO. Sementara jenis subsidi lain
seperti kedelai dan minyak goreng, tidak bersifat rutin atau
dialokasikan sesuai kondisi tertentu. Dari total subsidi pertanian
sekitar Rp41,9 triliun, sekitar Rp34,1 triliun diantaranya atau
sekitar 81,31 persen adalah subsidi pangan dan subsidi pupuk.
5. Ketergantungan Pangan Impor kian Meningkat
Ada
dugaan
bahwa
pengaruh
globalisasi
dengan
ideologi
neoliberalisme telah memaksakan petani dan Negara membuat
pilihan yang tidak nyaman dan saling bertentangan. Pakar
ekonomi pertanian, Francis Wahono, menilai bahwa pilihan
kebijakan dan praktik pemerintah banyak yang melantarkan
rakyat, termasuk petani.5 Praktik impor beras misalnya, kadang
zero tariff. Contoh lainnya misalnya perseroanisasi Bulog, izin
masuk bibit transgenetik, sertifikasi tanah dan privatisasi air,
5
Wahono, Francis, Ekonomi Politik Pangan, Jakarta: Bina Desa dan Yogyakarta: Cinde Books,
2011.
82
reformasi agraria yang belum berjalan di mana dalam prakteknya
terdapat 40 persen tanah untuk korporasi, dan praktik legalisasi
illegal loging. Harga pangan yang diserahkan kepada mekanisme
pasar membuat Indonesia kurang giat mendorong produksi dan
sebaliknya semakin bergantung pada pangan impor. Walaupun
kritik Francis Wahono ini amat pedas di telinga pemerintah, tetapi
pemerintah bisa menjadikan kritik ini untuk introspeksi. Mungkin
ada
beberapa
kebijakan
perlu
direvisi.
Fakta
memang
menunjukkan bahwa pada tahun 2011, pemerintah mengizinkan
impor beras sebanyak 1,57 juta ton dengan nilai Rp7,04 triliun.
Pemerintah juga mengizinkan impor kedelai sebanyak 2,08 juta
ton untuk memenuhi 71 persen kebutuhan dalam negeri. Selain
beras dan kedelai, pemerintah juga memberi izin impor jagung
sebanyak 3,5 juta ton dan sepanjang tahun 2012, Indonesia juga
mendatangkan singkong sebanyak 6.399 ton dengan nilai US$2,6
juta. Meningkatnya trend impor pangan ini telah membuat neraca
perdagangan “tanamam pangan” mengalami defisit dan meningkat
dari US$1,07 miliar pada tahun 2009 menjadi US$6,43 miliar
pada tahun 2011. Defisit neraca perdagangan sub sektor tanaman
pangan dikontribusi oleh 4 komoditas utama, yaitu Gandum,
Beras, Jagung Segar dan Kedelai Segar. Pada tahun 2011, masingmasing komoditi tersebut mengalami defisit perdagangan sebesar
US$2,2 miliar, US$1,5 miliar, US$1,0 miliar, dan US$1,2 miliar.
6. Petani sulit mengakses sumber-sumber pembiayaan murah.
Salah satu persoalan yang dihadapi petani (terutama petani
tanaman pangan, peternak dan nelayan) adalah akses terhadap
permodalan. Dari sisi prudential, tentu perbankan akan lebih
83
nyaman untuk memberikan pinjaman kepada usaha perkebunan,
yang
umumnya
dikelola
oleh
perkebunan
besar
di bawah
manajemen korporasi, baik BUMN maupun swasta, baik nasional
maupun asing dan joint venture. Sementara sebagian besar petani
memiliki usaha yang mungkin saja feasible, akan tetapi nonbankable atau sebaliknya, sehingga pemerintah harus mencari
cara untuk mengakseskan mereka ke lembaga keuangan, baik
perbankan maupun non-perbankan.
7. Strategi agri-culture cenderung dikalahkan oleh strategi agribusiness.
Para peserta Konferensi Internasional Peningkatan Kedaulatan
Pangan di Nyeleni-Mali pada tahun 2007 bersepakat dengan
pandangan bahwa konsep pembangunan pertanian berbasis agribusiness tidak akan mampu menjawab permasalahan petani
dunia dan bahkan mendorong terjadinya krisis pangan. Francis
Wahono
mengatakan
eksistensinya
bila
bahwa
tidak
“suatu
dapat
negara
akan
menyelenggarakan
rapuh
dan
menggerakkan rakyat untuk mengadakan pangan”.6 Benar, bahwa
membeli pangan adalah salah satu bentuk usaha pengadaan,
akan tetapi itu amat rapuh, selain karena Negara akan sangat
tergantung pada persediaan dan harga di tingkat perdagangan
internasional, juga belum tentu rakyat memiliki uang untuk
membelinya. Pendekatan
agri-business
menuntut pemerintah
untuk memenuhi permintaan investor, termasuk permintaan
pembebasan tanah dan penguasaan air untuk menjadi salah satu
6
Ibid.
84
persyaratan investasi di Indonesia. Padahal tanah dan air harus
dikuasai
85
Negara
dan
menjadi
hak
petani
untuk
menciptakan
kemakmuran
sebagaimana
yang
diamanatkan dalam UUD 1945. Bila sebagian besar tanah pertanian dikuasai korporasi besar,
apalagi milik asing, maka “kedaulatan pangan menjadi tergadai”. Pajak yang besar (dari
manapun sumbernya), mestinya untuk rakyat, tidak menjadi cashback ke negara investor. Bila
kondisi ini tidak segera dibenahi, maka suatu saat, bisa jadi muncul class action dari rakyat
untuk menggugat hak mereka memperoleh peningkatan kedaulatan pangan.
Sedangkan penelusuran data primer diperoleh dari beberapa kegiatan Focus Group Discussion
Analisis dan Evaluasi Peningkatan Kedaulatan Pangan, baik yang dilaksanakan di Jakarta, maupun
Diskusi Publik yang dilaksanakan di Nusa Tengara Timur. Berikut penjabaran analisis terhadap
data primer tersebut:
A. Masalah Substansi Hukum
Permasalahan Empiris
Pasal 53 UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang
Pangan mengenai larangan menimbun pangan,
mendelegasikan PP untuk mengatur lebih lanjut,
dan PP mendelegasikan lebih lanjut lagi diatur
dalam Permendag (pasal 64 ayat (4) dan Pasal 67
PP Nomor 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan
Pangan dan Gizi), namun Permendag dimaksud
belum dikeluarkan, sehingga pasal 53 belum
Penyebab
Permasalahan
Tidak
operasional.
Analisis
Kementerian Perdagangan memiliki
kewenangan untuk mengatur distribusi
barang. Oleh karena itu implementasi
pasal 53 UU Pangan belum dapat
dilaksanakan bila Permendag belum
diterbitkan. Untuk itu perlu perhatian
dari Kementerian Perdagangan untuk
86
Permasalahan Empiris
Penyebab
Permasalahan
Analisis
terlaksana secara optimal.
segera menerbitkan Permendag agar Pasal
53 dapat dilaksanakan dengan optimal.
Amanat pasal 151 UU Nomor 18 Tahun 2012
tentang Pangan untuk membentuk lembaga
pangan seharusnya sudah dilaksanakan paling
lambat November 2015, namun saat ini masih
belum terbentuk lembaga tersebut. Padahal
Rancangan
Perpres
tentang
Pembentukan
Lembaga Pangan dimaksud sudah mendapat
persetujuan prakarsa dari Presiden (surat
Sekretaris
Kabinet
Nomor
B432/Setkab/XI/2013 tanggal 21 November
2013),
dan
termasuk
dalam
Program
Penyusunan Peraturan Presiden Tahun 2015
sebagaimana diatur dalam Keputusan Presiden
Nomor 10 Tahun 2015.
Perlu segera dibentuk lembaga pangan
nasional sebagaimana amanat pasal 126
jo Pasal 151 UU Nomor 18 Tahun 2012
tentang Pangan. Kemudian mengingat
luasnya lingkup penyelenggaraan pangan
yang diatur dalam UU Pangan (meliputi
kegiatan perencanaan, ketersediaan,
keterjangkauan, pengawasan, keamanan,
penelitian dan pengembangan,
kelembagaan, konsumsi pangan dan gizi,
label dan iklan pangan, sistem informasi
pangan), serta pelaksanaannya yang
bersifat lintas sektor, BPN perlu dibekali
dengan kewenangan koordinasi untuk
membangun integrasi, dan sinergi
kebijakan lintas sektor dalam rangka
mewujudkan kedaulatan pangan,
kemandirian pangan dan ketahanan
pangan.
Pasal 8 UU Nomor 12 Tahun 1992 tentang
Sistem
Budidaya
Tanaman
merupakan
ketentuan
yang
membuka
peluang
bagi
Tidak operasional
Menimbulkan
masalah baru
Indonesia terikat dengan perjanjian WTO
di mana Indonesia sebagai Negara
87
Permasalahan Empiris
Penyebab
Permasalahan
Analisis
introduksi benih dari luar negeri, sangat rentan
pada
pemodal
asing
yang
berorientasi
keuntungan.
anggota berkewajiban untuk
mempermudah proses investasi dari
Negara-Negara anggota lainnya. Sehingga
Pasal 8 ini perlu disempurnakan, agar
tidak merugikan kepentingan nasional,
namun juga tidak menyalahi konvensi
internasional yang telah diratifikasi.
Introduksi benih asing ini juga terkait
dengan keamanan organism hasil
modifikasi genetic (OHMG) sebagaimana
diatur dalam UU No. 21 Tahun 2004
tentang Pengesahan Cartagena Protocol on
Biosafety to the Convention on Biological
Diversity.
Tercatat sejak 2005 ada 14 petani yang
ditangkap dan diadili karena melanggar UU
Nomor 12 tahun 1992. Ditangkapnya petani
tersebut terkait dengan kegiatan petani yang
melakukan pemuliaan benih di lahannya sendiri
kemudian menjual ke petani lain dalam bentuk
curah (tanpa label). Kegiatan ini sebenarnya
suatu yang berlangsung sejak dulu, dimana
petani saling tukar menukar benih dengan petani
lain.
Upaya pemerintah untuk mengontrol
semua yang terkait dengan budidaya
tanaman, seperti menyusun rencana
pengembangan budidaya tanaman sesuai
dengan tahapan rencana pembangunan
nasional; menetapkan wilayah
pengembangan budidaya tanaman;
mengatur produksi budidaya tanaman
tertentu berdasarkan kepentingan
nasional (Pasal 5). Namun sayangnya
kurang mengakomodir kenyataan adanya
Menimbulkan
beban/kewajiban
yang berlebihan
88
Permasalahan Empiris
Penyebab
Permasalahan
Analisis
petani yang melakukan pemuliaan benih
di lahannya sendiri secara turun
temurun.
Dalam UU Nomor 12 Tahun 1992 tentang
Sistem Budidaya Tanaman disebutkan,
bahwa setiap orang atau badan hukum
dapat melakukan pemuliaan tanaman
untuk menemukan varietas unggul (Pasal
11). Pasal ini secara jelas menyebutkan
setiap orang atau badan hukum
diperbolehkan untuk melakukan
pemulian. Namun persyaratan dan
ketentuan sebagimana disebutkan dalam
Pasal 12, Pasal13, dan Pasal 14
menimbulkan permasalahan bagi petani
kecil. Dengan adanya persyaratanpersyaratan tersebut yang mampu
melakukannya hanyalah pemerintah/
perusahaan besar dengan didukung oleh
modal besar. Sedangkan petani kecil yang
kebanyakan lahannya kurang dari 1
hektar tidak akan mungkin melakukan
semua persyaratan yang ada. Dengan
aturan ini, maka perusahaan besar telah
memonopoli perdagangan dan peredaran
89
Permasalahan Empiris
Penyebab
Permasalahan
Analisis
benih di Indonesia. Secara tidak langsung
UU ini hanya menempatkan petani
sebagai user atau konsumen dari
perusahaan benih. Secara berlahan-lahan
petani akan kehilangan benih-benih yang
mereka kembangkan selama ini.
B. Masalah Struktur Hukum
Permasalahan Empiris
Belum dibentuknya lembaga pemerintah yang
menangani pangan, yang berada di bawah
langsung dan bertanggungjawab kepada Presiden,
sebagaimana diamanatkan Pasal 126 UU Pangan.
Lembaga ini diharapkan dapat mereduksi
ketidaksinkronan penanganan masalah
kedaulatan pangan antar sektor pemerintahan di
bidang pertanian, pedagangan, dan BUMN.
- Akses terhadap sumber pembiayaan, teknologi,
informasi dan pasar masih rendah.
- Aspek distribusi, sebaran produksi pangan tidak
merata baik antar daerah maupun antar waktu,
Penyebab
Permasalahan
Analisis
Kelembagaan
Perlu segera dibentuk lembaga
pangan nasional yang kuat dan
memiliki kewenangan lintas sektoral
untuk menangani masalah pangan
secara komprehensif.
Sarana dan prasarana.
Perlu pengawasan dan pembinaan
yang melekat dan konsisten dari
lembaga yang kuat dan berwenang
secara lintas sektoral untuk
90
Permasalahan Empiris
Penyebab
Permasalahan
Analisis
mengingat Indonesia sebagai Negara kepulauan
diperlukan aksesibilitas dan sarana transportasi
yang lebih efisien;
menangani pangan.
- Dampak negatif perubahan iklim global yang
mengakibatkan gagal panen yang akan berakibat
kelangkaan/krisis pangan. Hal ini menjadi salah
satu penyebab dari harga pangan yang
berfluktuasi dan cenderung mahal.
- Sistem pengadaan benih yang tidak sesuai dengan
musim tanam; (b) Belum terbangunnya sistem
pembibitan sapi nasional.
-
Kemampuan petani, peternak dan pekebun
dalam memanfaatkan teknologi maju belum
merata;
-
Menurunnya minat generasi muda untuk terjun
di bidang pertanian,
Kapasitas dan
kuantitas SDM.
Keterbatasan tenaga penyuluh, POPT, Pengawas
Benih Tanaman dan tenaga kesehatan hewan, hal
ini dikarenakan Kementerian Pertanian tidak
mengatur dan tidak menetapkan jumlah dan
formasi tenaga penyuluh pertanian. Jumlah dan
formasi tenaga penyuluh pertanian ditetapkan oleh
Kementerian PAN RB.
Indonesia menganut Multiple Agency System dalam
Aspek kelembagaan.
Perlu pembinaan yang lebih
intensif kepada para
petani/peternak/pekebun;
Perlu pembenahan arah,
kebijakan dan kurikulum
pendidikan tinggi di bidang
pertanian yang lebih menekankan
pada relevansi dengan masalah
pertanian secara holistik dan
memiliki keterampilan menggeluti
pekerjaan riil pertanian di
lapangan.
Untuk menghasilkan pengawasan
-
91
Permasalahan Empiris
pengawasan pangannya sehingga seringkali
tumpang tindih kewenangan. Pengawasan ini
melibatkah lebih dari satu lembaga. Pengawasan
dimulai dari proses perizinan, pemeriksaan di
kawasan pabean menjadi tanggung jawab Badan
Karantina Pertanian karena Produk Hortikultura
merupakan produk asal tumbuhan dan juga
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai karena Produk
Hortikultura Impor berasal dari luar negeri.
Selanjutnya diluar kawasan pabean terdapat
Badan Ketahanan Pangan yang memiliki
kewenangan dalan pengawasan dan penanganan
keamanan pangan segar di peredaran dan juga
Dinas Pertanian dan Dinas Perdagangan sebagai
unsur pelaksana teknis daerah yang turut
mengawasi sesuai bidangnya.
Kendala yang sering dihadapi dalam melakukan
koordinasi antara Kementerian Pertanian (yang
membawahi sektor produksi pangan) dengan
Kementerian Perdagangan di antaranya:
- Kementerian Pertanian fokus pada peningkatan
produktivitas pertanian yang mengutamakan
produk komoditas lokal dalam memenuhi
kebutuhan masyarakat sedangkan Kementerian
Perdagangan fokus pada peningkatan tersalurnya
Penyebab
Permasalahan
Analisis
pangan yang efektif dengan
merujuk pada data yang akurat
dan seragam, perlu segera
dibentuk lembaga pangan nasional
yang kuat dan komprehensif.
Aspek koordinasi antar
lembaga pemerintahan.
Dalam mewujudkan kedaulatan
pangan maka Menteri Pertanian
memiliki tanggung jawab untuk
meningkatkan produktivitas
pertanian sehingga tercapainya
swasembada pangan. Sedangkan
Kementerian Perdagangan memiliki
kewajiban untuk melancarkan
jalur distribusi barang termasuk
92
Permasalahan Empiris
pangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
walaupun melalui impor pangan.
- Perbedaan data yang diperoleh oleh Kementerian
Pertanian dan Kementerian Perdagangan
mengenai kebutuhan pangan masyarakat secara
kongkrit.
- Kementerian Pertanian tidak menghendaki impor
pangan dengan mengutamakan hasil produk
pangan lokal untuk mewujudkan kedaulatan
pangan.
Penyebab
Permasalahan
Analisis
pangan dan juga memastikan
pelaksanaan impor pangan dari
luar negeri apabila kebutuhan di
dalam negeri mengalami
kekurangan. Pembagian
kewenangan untuk satu sektor
(yaitu pangan) tidak jarang
menimbulkan ketidakefektifan,
walaupun hal ini sudah
dilaksanakan sebagaimana
perintah peraturan perundangundang. Di antara peraturan
perundang-undangan yang
menyebutkan pembagian
kewenangan sektor pangan adalah:
- Pasal 88 ayat (2) UU Nomor 13
Tahun 2010 tentang Holtikultura:
“Impor produk hortikultura dapat
dilakukan setelah mendapat izin
dari menteri yang
bertanggungjawab di bidang
perdagangan setelah mendapat
rekomendasi dari Menteri.”
93
Permasalahan Empiris
Penyebab
Permasalahan
Analisis
- Pasal 80 UU Nomor 39 Tahun 2014
tentang Perkebunan : “Pemasaran
Hasil Perkebunan dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang
perdagangan, kecuali ditentukan
lain dalam Undang-Undang ini”
- Pasal 59 UU Nomor 18 Tahun 2009
tentang Peternakan dan Kesehatan
Hewan:
“Setiap Orang yang akan
memasukkan produk Hewan ke
daiam wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia wajib
memperoleh izin pemasukan dari
menteri yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang
perdagangan setelah memperoleh
rekomendasi dari:
a. Menteri (Pertanian) untuk Produk
Hewan segar; atau
b. Pimpinan lembaga bidang
pengawasan obat dan makanan
untuk produk pangan olahan
94
Permasalahan Empiris
Penyebab
Permasalahan
Analisis
asal Hewan.
- PP Nomor 17 Tahun 2015 tentang
Ketahanan Pangan dan Gizi:
Pasal 28 ayat (2):
“Standar mutu produk Pangan
Lokal ditetapkan oleh
menteri/kepala lembaga terkait.”
Pasal 62 ayat (2):
“Ketentuan lebih lanjut mengenai
rincian dan tata cara perwujudan
kelancaran dan keamanan
Distribusi Pangan diatur dengan
peraturan menteri yang
menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang
perdagangan”
95
Permasalahan Empiris
Penyebab
Permasalahan
Analisis
Pasal 64 ayat (4):
“Ketentuan lebih lanjut mengenai
mekanisme dan tata cara
penyimpanan Pangan Pokok oleh
Pelaku Usaha Pangan dan jumlah
maksimal penyimpanan Pangan
Pokok diatur dengan peraturan
menteri yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang
perdagangan.”
C. Masalah Budaya Hukum
Permasalahan Empiris
- Peningkatan jumlah penduduk, dengan jumlah penduduk
sebesar 252 juta namun proporsi penduduk miskin masih
besar yaitu sekitar 11.4%;
- Tingkat ketergantungan terhadap beras masih tinggi,
bahkan bertambah di setiap daerah (di mana menurut data
tahun 2014 konsumsi per kapita = 114,8 kg);
- Tingkat urbanisasi yang tinggi sehingga generasi muda
cenderung meninggalkan perdesaan/ pertanian dan pada
Penyebab Permasalahan
Pemahaman
masyarakat.
Analisis
- Perlu mengintensifkan
kebijakan diversifikasi
bahan pangan yang
disesuaikan dengan produk
lokal masing-msaing daerah,
agar memperkecil tingkat
ketergantungan pada beras;
- Perlu penyadaran kepada
kaum generasi penerus akan
pentingnya peningkatan
96
Permasalahan Empiris
Penyebab Permasalahan
akhirnya sektor pertanian menjadi kurang diminati generasi
penerus.
Peningkatan jumlah penduduk yang melebihi kapasitas
lahan yang tersedia. Ditambah lagi masih maraknya alih
fungsi lahan pertanian pangan yang tidak terkendali.
Untuk masalah alih fungsi lahan pertanian, sebenarnya
sudah diberlakukan UU Nomor 41 tahun 2009 tentang
Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, dan
peraturan pelaksananya, yaitu: PP Nomor 1 Tahun 2011
tentang Penetapan dan Allih Fungsi Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan dan PP Nomor 30 Tahun 2012
tentang Pembiayaan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan.
Ketentuan
tersebut
juga
sudah
diperintahkan untuk ditindaklanjuti oleh Daerah melalui
pemberlakuan Perda Provinsi, Kabupaten/Kota tentang alih
fungsi lahan pertanian pangan berkelanjutan, namun
peraturan ini masih belum secara massif terlaksana dengan
optimal. Contohnya di Jawa Timur, walaupun telah ada
Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 tahun 2013 tentang
Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.
Namun keberadaan Peraturan Daerah tersebut kurang
diperhatikan. Sebanyak 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur
alih fungsi lahan pertanian pangan tetap marak.
Dampaknya, luas areal pertanian pangan di Jawa Timur
kian menyusut, sehingga lambat laun mengancam produksi
Pemahaman dan
kepatuhan
masyarakat,
pemahaman dan
kepatuhan
aparatur
Negara/daerah
yang belum baik.
Analisis
masalah pertanian, diiringi
dengan peningkatan dan
perbaikan arah kebijakan
pendidikan bidang
pertanian.
Segera
optimalkan
penerapan UU Nomor 41
tahun 2009 dan PP Nomor 1
Tahun 2011, dan berikan
saknsi yang tegas terhadap
pelaku yang melakukan alih
fungsi
lahan
pertanian
pangan, serta pejabat yang
memberikan
izin
untuk
melakukan alih fungsi lahan
pertanian
juga
harus
diberikan sanksi yang tegas
sehingga menimbulkan efek
jera.
97
Permasalahan Empiris
pangan Jawa Timur yang
ketahanan pangan nasional.
menjadi
Penyebab Permasalahan
penopang
Analisis
utama
Kabupaten/Kota cenderung lebih memilih menarik investasi
tanpa mempedulikan lagi RTRW yang sudah dibuat,
sehingga membiarkan alih fungsi lahan pertanian pangan
untuk pemukiman dan industri.
Salah satu penyebab belum dibantukanya lembaga pangan
nasional sebagaimana amanat Pasal 126 UU Nomor 18
Tahun 2012 adalah karena kewenangan menangani pangan
yang dimiliki oleh instansi terkait terkesan tidak ingin
dihilangkan dari masing-masing instansi tersebut.
Egosektoral
birokrasi
Egosektoral di antara
birokrasi sendiri masih sering
terjadi, dalam hal ini pada
sektor pangan yang
mengaitkan satu instansi
dengan instansi lainnya.
Egosektoral ini
mengakibatkan kebijakan
yang diambil pemerintah
seringkali tidak integral antar
kementerian. Seharusnya
pembangunan harus
dijalankan seacara sinergis
dan lintas sektoral, lintas
daerah, bahkan lintas negara.
Persoalan egosektoral yang
memandang persoalan pangan
secara terkotak-kotak menjadi
hambatan utama dalam
98
Permasalahan Empiris
Penyebab Permasalahan
Analisis
pelaksanaan pembangunan,
sebenarnya merupakan
masalah klasik, masih belum
diatasi secara maksimal.
Birokrasi perlu melakukan
pembelajaran mengenai
budaya kolektif serta kerja
sama lintas sektoral dan
instansi. Hal ini diperlukan
untuk menuju pemerintahan
yang efektif, dan menjadi
pemerintahan yang utuh
(whole of Government
perspective).
99
Permasalahan Empiris
9-JALUR LEGALISASI-LEGALITAS IMPORT
MEDIA
KONSUMEN
MUFTI
KABINET
PEDAGANG
KEMENKO
BIROKRASI
KEMENTAN
PEKERJA
KEMENDAG
AKADEMISI
PARPOL
DPR-DPRD
Sumber:
makalah Prof. Mochammad Maksum Machfoedz, pada “FGD Analisis dan
Evaluasi Hukum dalam Dalam Rangka Peningkatan Kedaulatan Pangan”,
di Jakarta, 19 Oktober 2016
Penyebab Permasalahan
Ego sektoral antar
intstitusi dan
budaya koruptif
Analisis
Pemerintah masih sulit
mengendalikan kekuatan
berbagai kepentingan yang
memiliki kedudukan yang
kuat, baik di pemerintahan
sendiri maupun di luar
pemerintahan. Sehingga
kebijakan impor seringkali
rumit karena jalur
legalisasinya harus
memperhatkan banyak
pihak. Masing-masing
institusi memiliki
kepentingannya masingmasing dan seringkali
mempengaruhi kondisi sosial
masyarakat. Kondisi seperti
ini jelas sangat menghambat
kedaulatan pengan. Adanya
kelangkaan bahan pangan
seringkali sebenarnya adalah
hasil “pelangkaan” atau
kelangkaan yang disengaja
oleh pihak-pihak yang
berkepentingan. Sehingga
kebijakan impor menjadi
tidak tepat, bahkan terdikte
oleh kepentingan pemilik
modal yang kuat.
100
BAB IV
SIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. SIMPULAN
1. Hasil
analisis
undangan
dan
terkait
evaluasi
dengan
hukum
peraturan
Peningkatan
perundang-
Kedaulatan
Pangan
terhadap kesesuaian asas peraturan perundang-undangan adalah:
a. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem
Budidaya Tanaman. Terdapat 13 (tiga belas) ketentuan pasal
yang tidak/kurang memenuhi asas kejelasan rumusan, asas
ketertiban dan kepastian hukum, asas kebangsaan, asas
pengayoman, dan asas kemanusiaan. Pasal-pasal tersebut
yaitu Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 6, Pasal 8, Pasal 9, Pasal
10, Pasal 11, Pasal 12, Pasal 13, Pasal 59, Pasal 60 dan Pasal
61;
b. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.
Terdapat 7 (tujuh) ketentuan pasal yang tidak/kurang
memenuhi asas bhineka tunggal ika, asas kejelasan rumusan,
asas kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan,
dan asas ketertiban dan kepastian hukum. Pasal-pasal
tersebut yaitu Pasal 1, Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, Pasal
54, Pasal 83A dan Pasal 83B;
c. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan
Varietas Tanaman. Terdapat 6 (enam) ketentuan pasal yang
tidak/kurang memenuhi asas kejelasan rumusan, asas
pengayoman, asas keseimbangan keserasian dan keselarasan,
asas kekeluargaan, dan asas ketertiban dan kepastian
hukum. Pasal-pasal tersebut yaitu Pasal 1, Pasal 7, Pasal 9,
Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 58.
d. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Terdapat 23 (dua
puluh tiga) ketentuan pasal yang tidak/kurang memenuhi
101
asas peraturan perundang-undangan, diantaranya asas
kejelasan rumusan, asas ketertiban dan kepastian hukum,
dan asas keseimbangan keserasian dan keselarasan. Pasalpasal tersebut yaitu Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 8, Pasal
10 – Pasal 16, Pasal 17, Pasal 18 – Pasal 25, Pasal 64, Pasal
70, Pasal 72, Pasal 73 dan Pasal 74;
e. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan.
Terdapat 10 (sepuluh) ketentuan pasal yang tidak/kurang
memenuhi asas kejelasan rumusan, asas ketertiban dan
kepastian hukum, asas keadilan, asas kenusantaraan, asas
kebangsaan dan asas ketertiban dan kepastian hukum. Pasalpasal tersebut yaitu Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, Pasal
14, Pasal 17, Pasal 36, Pasal 123, Pasal 124 dan Pasal 132;
f. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan
dan Pemberdayaan Petani. Terdapat 4 (empat) pasal yang
pasal yang tidak/kurang memenuhi asas kejelasan rumusan,
asas kebangsaan, asas ketertiban dan kepastian hukum, asas
kemanusiaan, dan asas keadilan. Pasal-pasal tersebut yaitu
Pasal 55, Pasal 59, Pasal 70 dan Pasal 71;
g. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan.
Terdapat 11 (sebelas) ketentuan pasal yang tidak/kurang
memenuhi asas kejelasan rumusan, asas bhineka tunggal ika,
asas keseimbangan, keserasian dan keselarasan, asas
ketertiban dan kepastian hukum, asas kebangsaan, dan asas
kejelasan rumusan. Pasal-pasal tersebut yaitu Pasal 2, Pasal
3, Pasal 4, Pasal 12, Pasal 18, Pasal 26, Pasal 29, Pasal 30,
Pasal 55, Pasal 107, Pasal 113;\
h. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang
Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan. Seluruh ketentuan
Pasalnya sudah sesuai dengan asas peraturan-perundangundangan. Namun demikian PP ini masih merupakan
pendelegasian dari UU yang sudah dicabut;
i. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2005 tentang
Keamanan Hayati Produksi Rekayasa Genetik. Seluruh
ketentuan Pasalnya sudah sesuai dengan peraturan
102
j.
k.
l.
m.
n.
o.
perundang-undangan. Namun demikian PP ini masih
merupakan pendelegasian dari UU yang sudah dicabut;
Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2011 tentang
Penetapan dan Alih Fungsi Lahan Pertanian. Terdapat 12 (dua
belas) ketentuan pasal yang tidak/kurang memenuhi asas
kejelasan rumusan, asas pengayoman, asas keseimbangan,
keserasian dan keselarasan, asas kenusantaraan, asas
keadilan dan asas ketertiban dan kepastian hukum. Pasalpasal tersebut yaitu Pasal 8, Pasal 9, Pasal 17, Pasal 19, Pasal
20, Pasal 23, Pasal 24, Pasal 27, Pasal 28, Pasal 29, Pasal 42
dan Pasal 45;
Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2012 tentang Insentif
Perlindungan Lahan Pertanian Pangan. Terdapat 8 (delapan
pasal yang tidak/kurang memenuhi asas keseimbangan,
keserasian dan keselarasan, asas kejelasan rumusan, asas
kenusantaraan, asas pengayoman dan asas kekeluargaan.
Pasal-pasal tersebut yaitu Pasal 12, Psal 13, Pasal 15, Pasal
18, Pasal 22, Pasal 23, Pasal 25 dan Pasal 32;
Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2012 tentang Sistem
Informasi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Seluruh
ketentuan norma pasalnya sudah sesuai dengan asas
peraturan perundang-undangan;
Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2012 tentang
Pembiayaan
Perlindungan
Lahan
Pertanian
Pangan
Berkelanjutan. Seluruh ketentuan norma pasalnya sudah
sesuai dengan asas peraturan perundang-undangan;
Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2015 tentang
Ketahanan Pangan dan Gizi. Seluruh ketentuan norma
pasalnya sudah sesuai dengan asas peraturan perundangundangan;
Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2006 tentang Dewan
Ketahanan Pangan. Perpres ini sudah tidak relevan lagi
dengan Pasal 129 dan Pasal 151 UU Nomor 18 Tahun 2012
tentang Pangan sehingga tim merekomendasikan untuk
dicabut dan diganti dengan Perpres baru tentang lembaga
103
pangan nasional yang berada langsung di bawah Presiden
sesuai amanat dari UU Pangan.
2. Hasil
analisis
dan
evaluasi
hukum
peraturan
perundang-
undangan terkait Peningkatan Kedaulatan Pangan menunjukkan
adanya beberapa peraturan perundang-undangan yang berpotensi
disharmoni/tumpang tindih yaitu:
a. Masalah pengawasan pangan antara yang diatur dalam Pasal
117
Undang-Undang
Nomor
13
Tahun
2010
tentang
Hortikultura dengan ketentuan terkait, yaitu:
-
Pasal 108 (3) UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan;
-
Pasal 96 ayat(1) UU Nomor
7 Tahun 2014 tentang
Perdagangan;
-
Perpres
Nomor
45
Tahun
2015
tentang
Kementerian
Pertanian; dan
-
Pasal 294 Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010
tentang
Kedudukan,
Tugas,
dan
Fungsi
Kementerian
Negara;
b. Masalah sanksi pidana kepada pejabat yang melakukan
pelanggaran alih fungsi lahan yang diatur dalam Pasal 72
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dan Pasal 73 UndangUndang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
c. Masalah impor pangan yang diatur dalam Pasal 36 UndangUndang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dan Pasal 31
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlinduangan
dan Pemberdayaan Petani.
104
3. Kendala implementasi dan/atau efektivitas penerapan peraturan
perundang-undangan
di
lapangan
yang
terkait
dengan
Peningkatan Kedaulatan Pangan antara lain:
a. Peningkatan jumlah penduduk yang melebihi kapasitas lahan
yang tersedia dimana salah satu penyebabnya adalah konversi
lahan pertanian masih tinggi dan tidak terkendali;
b. Rendahnya akses terhadap sumber pembiayaan, teknologi dan
informasi;
c. Masalah sarana dan prasarana yang belum memadai sehingga
mengganggu aspek distribusi pangan. Sebaran produksi pangan
tidak
merata
baik
antar
daerah
maupun
antar
waktu,
mengingat Indonesia sebagai Negara Kepulauan diperlukan
aksesibilitas dan sarana transportasi yang lebih efisien;
d. Masalah kapasitas SDM yang belum memadai, antara lain:
(1)Kemampuan
petani,
peternak
dan
pekebun
dalam
memanfaatkan teknologi maju; (2)Menurunnya minat generasi
muda untuk terjun di bidang pertanian; (3)Keterbatasan tenaga
penyuluh,
POPT,
Pengawas
Benih
Tanaman
dan
Tenaga
Kesehatan Hewan;
e. Masalah permodalan, antara lain: (1)sulitnya akses petani
terhadap permodalan; (2)tunggakan kredit usaha yang belum
terselesaikan;
(3)persyaratan
agunan
kredit
KKPE
berupa
sertifikat menghambat penyaluran;
f. Indonesia menganut Multiple Agency System dalam pengawasan
pangannya sehingga seringkali tumpang tindih kewenangan.
Pengawasan
ini
melibatkan
lebih
dari
satu
lembaga.
Pengawasan dimulai dari proses perizinan, pemeriksaan di
kawasan pabean menjadi tanggung jawab Badan Karantina
105
Pertanian karena Produk Hortikultura merupakan produk asal
tumbuhan dan juga Direktorat Jenderal Bea dan Cukai karena
Produk Hortikultura Impor berasal dari luar negeri. Selanjutnya
diluar kawasan pabean terdapat Badan Ketahanan Pangan yang
memiliki kewenangan dalam pengawasan dan penanganan
keamanan pangan segar di peredaran dan juga Dinas Pertanian
dan Dinas Perdagangan sebagai unsur pelaksana teknis daerah
yang turut mengawasi sesuai bidangnya.
B. REKOMENDASI UMUM
Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi hukum dari peraturan
perundang-undangan
terkait
pangan,
maka
dapat
diberikan
rekomendasi sebagai berikut:
1. Segera optimalisasi implementasi Undang-Undang Nomor 41
Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan, PP Nomor 1 Tahun 2011 tentang Penetapan
Dan Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan dan PP Nomor 30
Tahun
2012
Pertanian
tentang
Pangan
Pembiayaan
Berkelanjutan
Perlindungan
sebagai
Lahan
upaya
untuk
mengatasi alih fungsi lahan pertanian yang masih tinggi;
2. Kementerian
tenaga
Pertanian
penyuluh
dan
melakukan
melakukan
pemetaan
kebutuhan
koordinasi
dengan
Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi sebagai Kementerian yang bertanggungjawab dalam
menetapkan jumlah dan formasi tenaga penyuluh pertanian;
3. Meningkatkan kampanye program diversifikasi pangan yang
telah dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian, sebagai upaya
mengantisipasi
ketergantungan
terhadap
beras.
Bahwa
106
makanan bukan hanya beras. Masih banyak tanaman pangan
lainnya yang memiliki gizi lebih baik dari beras;
4. Mengevaluasi kebijakan pengembangan Gabungan Kelompok
Tani (Gapoktan), oleh karena tidak semua petani menjadi
anggota dari Gapoktan. Sementara Kredit Usaha Rakyat (KUR)
lebih banyak mengalir ke Gapoktan;
5. Kementerian Perdagangan segera mengeluarkan peraturan
terkait penimbunan pangan yang merupakan delegasi dari
Pasal 64 ayat (4) Permendag dan Pasal 67 PP Nomor 17 Tahun
2015 tentang Ketahanan Pangan yang merupakan perintah dari
Pasal
53
UU
107
6.
Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan;
7.
Segera diselesaikan pembentukan Badan Pangan Nasional yang menjadi perintah dari Pasal
126 UU Pangan oleh karena masalah pangan bersifat lintas sektor sehingga penanganannya pun
bersifat extra ordinary.
C.
REKOMENDASI KHUSUS
Rekomendasi ini merupakan rekomendasi terhadap masing-masing peraturan perundangundangan berdasarkan hasil analisis sebagaimana dijelaskan dalam Bab III, Bab IV dan Bab V,
yang divisualisasikan dalam tabel sebagai berikut:
a. Rekomendasi Pada Undang-Undang terkait Kedaulatan Pangan:
No
UU
Jumlah
pasal
Status Pasal
Rekomendasi Pasal
Revisi
Cabut
Rekomendasi
UU
Tetap
1.
UU Nomor 12
Tahun 1992
tentang Sistem
Budidaya Tanaman
66
pasal 9 dan 12
dinyatakan
bertentangan
dengan konstitusi
oleh Putusan MK
No. 99/PUU-X/2012
10 pasal
3 pasal
53 pasal UU ini perlu
direvisi
2.
UU Nomor 41
Tahun 1999
tentang Kehutanan
84
pasal 1 angka 6,
pasal 4 ayat (3) dan
pasal 5 ayat (1), (2)
dan (3) dibatalkan
4 pasal
4 pasal
76 pasal UU ini perlu
direvisi
108
No
UU
Jumlah
pasal
Status Pasal
Rekomendasi Pasal
Revisi
Cabut
Rekomendasi
UU
Tetap
oleh MK (Putusan
MK No. 35/PUUX/2012)
3.
UU Nomor 29
Tahun 2000
tentang
Perlindungan
Varietas Tanaman
76
-
-
70
4.
UU Nomor 41
Tahun 2009
tentang
Perlindungan
Lahan Pertanian
Pangan
Berkelanjutan
77
Berlaku seluruhnya
8 pasal
4 pasal
65 pasal UU ini perlu
direvisi
5.
UU Nomor 18
Tahun 2012
tentang Pangan
154
Berlaku seluruhnya
6 pasal
4 pasal
144 psl
UU ini perlu
direvisi
6.
UU Nomor 19
Tahun 2013
tentang
Perlindungan dan
Pemberdayaan
Petani
108
pasal 59, pasal 70
dan pasal 71
dibatalkan oleh MK
(putusan MK No.
87/PUU-XI/2013)
5 pasal
2 pasal
101 psl
UU ini perlu
direvisi
6 pasal
UU ini Perlu
diubah
109
No
7.
UU
UU Nomor 39
Tahun 2014
tentang
Perkebunan
Jumlah
pasal
118
Status Pasal
Berlaku seluruhnya
Rekomendasi Pasal
Revisi
Cabut
Tetap
7 pasal
4 pasal
107 psl
Rekomendasi
UU
UU ini perlu
direvisi
110
b.
Rekomendasi
pada
Peraturan
Pemerintah
dan
Peraturan
Presiden
Terkait
Kedaulatan Pangan
No
PERATURAN
PERUNDANGUNDANGAN
Juml
pasal
/Pasal
Delegasian dari
Rekomendasi Pasal
Revisi
Cabut Tetap
Rekomendasi
PP/Perpres
1.
PP Nomor 28 than
2004 tentang
Keamanan, Mutu
dan Gizi Pangan
54
UU Nomor 7 Tahun
1996 tentang
Pangan yang sudah
dicabut dan diganti
dengan UU Nomor
18 Tahun 2012.
-
-
54 pasal PP ini tidak
bermasalah
dalam pasal,
namun masih
merupakan
pendelegasian
dari UU yang
sudah
dicabut.
2.
PP Nomor 21 Tahun
2005 tentang
Keamanan Hayati
Produksi Rekayasa
Genetik
37
UU Nomor 23 Tahun
1997 tentang
Pengelolaan LH yang
sudah dicabut dan
diganti dengan UU
Nomor 32 Tahun
2009 tentang PPLH.
Namun belum ada
aturan baru tentang
Keamanan Hayati
Produksi Rekayasa
Genetik.
Dari PP ini terbit
-
-
37 pasal PP ini tidak
bermasalah
dalam pasal,
namun masih
merupakan
pendelegasian
dari UU yang
sudah
dicabut.
111
No
PERATURAN
PERUNDANGUNDANGAN
Juml
pasal
/Pasal
Delegasian dari
Rekomendasi Pasal
Revisi
Cabut Tetap
Rekomendasi
PP/Perpres
Perpres Nomor 39
Tahun 2010 tentang
Komisi Keamanan
Hayati PRG.
3.
Perpres Nomor 83
Tahun 2006 tentang
Dewan Ketahanan
Pangan
20
Sesuai amanat Pasal
126 UU Nomor 18
Tahun 2012 tentang
Pangan, perlu
dibentuk Lembaga
di bawah Presiden
paling lambat
November 2015
(amanat pasal 151).
-
20
pasal
-
Perpres perlu
dicabut
diganti
Perpres baru
tentang
lembaga baru
yang langsung
di bawah
Presiden
4.
PP Nomor 1 Tahun
2011 tentang
Penetapan dan Alih
Fungsi Lahan
Pertanian Pangan
Berkelanjutan
51
UU Nomor 41 Tahun
2009 tentang
Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan
Berkelanjutan
(Pasal 26 dan Pasal
53).
12
pasal
-
39 pasal PP ini perlu
direvisi dan
disimplifikasi
dengan PP
terkait Sistem
Informasi
5.
PP Nomor 12 Tahun
2012 tentang
Intensif
Perlindungan Lahan
50
UU Nomor 41 Tahun
2009 tentang
Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan
8
pasal
-
42 pasal PP ini perlu
direvisi dan
disimplifikasi
dengan PP
112
No
PERATURAN
PERUNDANGUNDANGAN
Juml
pasal
/Pasal
Pertanian Pangan
Delegasian dari
Rekomendasi Pasal
Revisi
Rekomendasi
PP/Perpres
Cabut Tetap
Berkelanjutan
(Pasal 43).
terkait
pembiayaan
lahan
pertanian
pangan
6. `
PP Nomor 25 Tahun
2012 tentang Sistem
Informasi Lahan
Pertanian Pangan
Berkelanjutan
46
UU Nomor 41 Tahun
2009 tentang
Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan
Berkelanjutan
(Pasal 60).
-
-
46 pasal PP ini perlu
disimplifikasi
dengan PP
terkait
Penetapan
alih fungsi
lahan
7.
PP Nomor 30 Tahun
2012 tentang
Pembiayaan
Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan
Berkelanjutan
39
UU Nomor 41 Tahun
2009 tentang
Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan
Berkelanjutan (Pasal
66 (3))
-
-
39 pasal PP ini perlu
disimplifikasi
dengan PP
terkait insentif
8.
PP Nomor 17 Tahun
2015 tentang
Ketahanan Pangan &
Gizi
90
UU Nomor 18 Tahun
2012 tentang
Pangan
(Pasal 28 (4), Pasal
43, Pasal 45 (3),
Pasal 48 (2), Pasal
-
-
90 pasal PP ini perlu
dipertahankan
113
No
PERATURAN
PERUNDANGUNDANGAN
Juml
pasal
/Pasal
Delegasian dari
Rekomendasi Pasal
Revisi
Rekomendasi
PP/Perpres
Cabut Tetap
52 (2), Pasal 54 (3),
Pasal 112, Pasal
116, dan Pasal 131
(2))
114
DAFTAR PUSTAKA
A. BUKU
Wittman, H., A.A. Desmarais, N. Wiebe (2010), “The Origins and Potential of Food
Sovereignty” in H. Wittman, A.A. Desmarais, N. Wiebe (eds.), Food Sovereignty:
Reconnecting Food, Nature and Community, 1-14. Oxford: Pambazuka.
Wahono, Francis, Ekonomi Politik Pangan, Jakarta: Bina Desa dan Yogyakarta: Cinde
Books, 2011.
B. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Indonesia, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman,
disahkan di Jakarta pada Tanggal 30 Apil Tahun 1992.
Indonesia, Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, diundangkan di
Jakarta pada Tanggal 30 September Tahun 1999, Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor 167
Indonesia, Undang Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas
Tanaman, diundangkan di Jakarta pada Tanggal 20 Desember 2000, Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 241
115
Indonesia, Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan, diundangkan di Jakarta pada Tanggal 14 Oktober Tahun
2009, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 149
Indonesia, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, diundangkan di
Jakarta pada Tanggal 17 November Tahun 2012, Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2012 Nomor 227
Indonesia, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan
Pemberdayaan Petani, diundangkan di Jakarta pada Tanggal 17 November 2012,
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 227
Indonesia, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan, diundangkan di
Jakarta pada Tanggal 17 Oktober Tahun 2014, Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2014 Nomor 308
Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu, dan
Gizi Pangan, diundangakan di Jakarta pada Tanggal 6 Oktober Tahun 2004,
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 115
Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2005 tentang Keamanan Hayati Produk
Rekayasa Genetika, diundangkan di Jakarta pada Tanggal 19 Mei 2005, Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 44
Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2011 tentang Penetapan dan Alih Fungsi
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, diundangkan di Jakarta pada Tanggal 5
Januari Tahun 2011, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 2
116
Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2012 tentang Insentif Perlindungan
Lahan Pertanian Pangan, diundangkan di Jakarta pada Tanggal 9 Januari Tahun
2012, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 19
Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2012 tentang Sistem Informasi Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan, diundangkan di Jakarta pada Tanggal 23 Februari
2012, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 46
Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2012 tentang Pembiayaan
Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, diundangkan di Jakarta pada
Tanggal 27 Februari 2012, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor
55
Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2015 Tentang Ketahanan Pangan dan
Gizi, diundangkan di Jakarta pada Tanggal 19 Maret 2015, Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 60
Indonesia, Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2006 tentang Dewan Ketahanan Pangan,
diundangkan di Jakarta pada Tanggal 4 Oktober Tahun 2006.
C. INTERNET
http://www.fiskal.co.id/berita/fiskal-15/3674/ketahanan-pangan-versus-kedaulatanpangan-menurut-jokowi#.Vp3XyuaAqGU. Diakses pada 15 Januari 2016, pukul
14.05 WIB.
117
LAMPIRAN
KEPUTUSAN MENKUMHAM
POLICY BRIEF
ANALISIS DAN EVALUASI HUKUM
DALAM RANGKA PENINGKATAN KEDAULATAN PANGAN
A. Pendahuluan
Dalam satu dekade terakhir istilah kedaulatan pangan merupakan salah satu kata yang
kerapkali muncul dan disuarakan oleh banyak kalangan di Indonesia. Namun, istilah
kedaulatan pangan sendiri masih seringkali dipertukarkan, bahkan disalahartikan dengan
istilah ketahanan pangan yang secara konsep berbeda. Selain berdaulat dalam menentukan
kebijakan pangan, kedaulatan pangan juga menekankan pada pengutamaan produksi dalam
negeri dengan memanfaatkan sumber daya dan kearifan lokal secara optimal.
Mengutip pernyataan Presiden Joko Widodo, bahwa “Ketahanan pangan itu berbeda
dengan kedaulatan pangan. Ketahanan pangan itu "hanya" sekedar bahan pangan itu "ada"
di gudang-gudang logistik dan di pasar-pasar. Tapi bahan pangan itu dari mana tidak jadi
soal, dari impor atau lokal tak dipikirkan, yang penting ada. Namun dalam konsep
"kedaulatan pangan", bahan pangan itu ada, kita produksi sendiri dan kita kuat dalam
pemasaran, bahkan pangan yang kita hasilkan dari pertanian kita bisa menguasai pasarpasar di luar negeri. Kita berdaulat atas sumber pangan kita, bila terjadi kekacauan di luar
negeri, cadangan logistik kita masih kuat karena hasil pangan kita lebih dari cukup
memenuhi kebutuhan rakyat. Dalam pemerintahan Kabinet Kerja, yang dituju adalah
"peningkatan kedaulatan pangan". Visi terbesar dari kedaulatan pangan adalah ketika hasil
pangan dari bumi Indonesia melimpah di pasar lokal maupun pasar luar negeri, minimal di
pasar Negara-negara ASEAN.1
Dalam rangka mendukung program Pemerintah dalam bidang pangan, yang merupakan
salah satu program Nawacita dan RPJMN 2015-2019, maka dilakukan analisis dan evaluasi
hukum dalam rangka Peningkatan Kedaulatan Pangan sebagai upaya melakukan penilaian
terhadap peraturan perundang-undangan yang terkait dengan kedaulatan pangan yang
dikaitkan dengan struktur hukum dan budaya hukum. Kegiatan ini dilakukan oleh
Kelompok Kerja (Pokja) Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup pada Pusat
Analisis dan Evaluasi Hukum Nasional, Badan Pembinaan Hukum Nasional.
Penilaian peraturan perundang-undangan yang terkait dengan sektor pangan, terdiri
atas:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman;
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;
Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman;
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan;
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan;
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani;
Undang-UndangNomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan;
Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu, dan Gizi Pangan;
1
http://www.fiskal.co.id/berita/fiskal-15/3674/ketahanan-pangan-versus-kedaulatan-pangan-menurutjokowi#.Vp3XyuaAqGU. Diakses pada 15 Januari 2016, pukul 14.05 WIB.
1
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
Peratuan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2005 tentang Keamanan Hayati Produk Rekayasa
Genetika;
Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2011 tentang Penetapan dan Alih Fungsi Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan;
Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2012 tentang Insentif Perlindungan Lahan Pertanian
Pangan;
Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2012 tentang Sistem Informasi Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan;
Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2012 tentang Pembiayaan Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan;
Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi; dan
Peraturan Presiden No. 83 Tahun 2006 tentang Dewan Ketahanan Pangan.
Analisis dan evaluasi hukum ini menggunakan tiga dimensi penilaian, yaitu:
1. Penilaian terhadap ketentuan dalam pasal berdasarkan kesesuaian dengan asas-asas
peraturan perundang-undangan;
2. Penilaian berdasarkan potensi disharmoni antarperaturan perundang-undangan dan
antarpasal dalam satu peraturan perundang-undangan yaitu penilaian; dan
3. Penilaian efektivitas implementasi peraturan perundang-undangan.
B. Hasil Analisis dan Evaluasi
1. Hasil penilaian ketentuan pasal berdasarkan kesesuaian asas peraturan
perundang-undangan:
a. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman.
Terdapat 13 (tiga belas) ketentuan pasal yang tidak/kurang memenuhi asas kejelasan
rumusan, asas ketertiban dan kepastian hukum, asas kebangsaan, asas pengayoman, dan asas
kemanusiaan. Pasal-pasal tersebut yaitu Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 6, Pasal 8, Pasal 9,
Pasal 10, Pasal 11, Pasal 12, Pasal 13, Pasal 59, Pasal 60 dan Pasal 61;
b. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.
Terdapat 7 (tujuh) ketentuan pasal yang tidak/kurang memenuhi asas bhineka tunggal ika,
asas kejelasan rumusan, asas kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan, dan
asas ketertiban dan kepastian hukum. Pasal-pasal tersebut yaitu Pasal 1, Pasal 2, Pasal 3,
Pasal 4, Pasal 5, Pasal 54, Pasal 83A dan Pasal 83B;
c. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman.
Terdapat 6 (enam) ketentuan pasal yang tidak/kurang memenuhi asas kejelasan rumusan,
asas pengayoman, asas keseimbangan keserasian dan keselarasan, asas kekeluargaan, dan
asas ketertiban dan kepastian hukum. Pasal-pasal tersebut yaitu Pasal 1, Pasal 7, Pasal 9,
Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 58.
d. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan.
Terdapat 23 (dua puluh tiga) ketentuan pasal yang tidak/kurang memenuhi asas peraturan
perundang-undangan, diantaranya asas kejelasan rumusan, asas ketertiban dan kepastian
hukum, dan asas keseimbangan keserasian dan keselarasan. Pasal-pasal tersebut yaitu Pasal
2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 8, Pasal 10 – Pasal 16, Pasal 17, Pasal 18 – Pasal 25, Pasal 64, Pasal
70, Pasal 72, Pasal 73 dan Pasal 74;
e. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan.
2
Terdapat 10 (sepuluh) ketentuan pasal yang tidak/kurang memenuhi asas kejelasan rumusan,
asas ketertiban dan kepastian hukum, asas keadilan, asas kenusantaraan, asas kebangsaan
dan asas ketertiban dan kepastian hukum. Pasal-pasal tersebut yaitu Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4,
Pasal 5, Pasal 14, Pasal 17, Pasal 36, Pasal 123, Pasal 124 dan Pasal 132;
f. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani.
Terdapat 4 (empat) pasal yang pasal yang tidak/kurang memenuhi asas kejelasan rumusan,
asas kebangsaan, asas ketertiban dan kepastian hukum, asas kemanusiaan, dan asas keadilan.
Pasal-pasal tersebut yaitu Pasal 55, Pasal 59, Pasal 70 dan Pasal 71;
g. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan.
Terdapat 11 (sebelas) ketentuan pasal yang tidak/kurang memenuhi asas kejelasan rumusan,
asas bhineka tunggal ika, asas keseimbangan, keserasian dan keselarasan, asas ketertiban dan
kepastian hukum, asas kebangsaan, dan asas kejelasan rumusan. Pasal-pasal tersebut yaitu
Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 12, Pasal 18, Pasal 26, Pasal 29, Pasal 30, Pasal 55, Pasal 107,
Pasal 113;
h. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan.
Seluruh ketentuan Pasalnya sudah sesuai dengan asas peraturan-perundang-undangan.
Namun demikian PP ini masih merupakan pendelegasian dari UU yang sudah dicabut;
i. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2005 tentang Keamanan Hayati Produksi Rekayasa
Genetik.
Seluruh ketentuan Pasalnya sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Namun
demikian PP ini masih merupakan pendelegasian dari UU yang sudah dicabut;
j. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2011 tentang Penetapan dan Alih Fungsi Lahan
Pertanian.
Terdapat 12 (dua belas) ketentuan pasal yang tidak/kurang memenuhi asas kejelasan
rumusan, asas pengayoman, asas keseimbangan, keserasian dan keselarasan, asas
kenusantaraan, asas keadilan dan asas ketertiban dan kepastian hukum. Pasal-pasal tersebut
yaitu Pasal 8, Pasal 9, Pasal 17, Pasal 19, Pasal 20, Pasal 23, Pasal 24, Pasal 27, Pasal 28, Pasal
29, Pasal 42 dan Pasal 45;
k. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2012 tentang Insentif Perlindungan Lahan Pertanian
Pangan.
Terdapat 8 (delapan pasal yang tidak/kurang memenuhi asas keseimbangan, keserasian dan
keselarasan, asas kejelasan rumusan, asas kenusantaraan, asas pengayoman dan asas
kekeluargaan. Pasal-pasal tersebut yaitu Pasal 12, Pasal 13, Pasal 15, Pasal 18, Pasal 22, Pasal
23, Pasal 25 dan Pasal 32;
l. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2012 tentang Sistem Informasi Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan.
Seluruh ketentuan norma pasalnya sudah sesuai dengan asas peraturan perundangundangan;
m. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2012 tentang Pembiayaan Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan.
Seluruh ketentuan norma pasalnya sudah sesuai dengan asas peraturan perundangundangan;
n. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi.
Seluruh ketentuan norma pasalnya sudah sesuai dengan asas peraturan perundangundangan;
o. Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2006 tentang Dewan Ketahanan Pangan. Perpres ini
sudah tidak relevan lagi dengan Pasal 129 dan Pasal 151 UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang
Pangan sehingga tim merekomendasikan untuk dicabut dan diganti dengan Perpres baru
3
tentang lembaga pangan nasional yang berada langsung di bawah Presiden sesuai amanat
dari UU Pangan.
2.
Hasil penilaian berdasarkan potensi disharmoni:
Beberapa ketentuan yang disharmoni antarperaturan perundang-undangan terkait
bidang pangan, yaitu:
a.
Pengawasan pangan yang diatur dalam Pasal 117 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2010
tentang Hortikultura tidak harmonis dengan ketentuan:
Ps 108 (3) UU No. 18/2012 tentang Pangan;
Pasal 96 ayat(1) UU No. 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan;
Perpres Nomor 45 Tahun 2015 tentang Kementerian Pertanian; dan
Pasal 294 Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang kedudukan, Tugas, dan
Fungsi Kementerian Negara;
b. Sanksi pidana kepada pejabat yang melakukan pelanggaran alih fungsi lahan yang diatur
dalam ketentuan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan tidak harmonis dengan ketentuan Pasal 73 UndangUndang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
c. Impor pangan yang diatur dalam ketentuan Pasal 36 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012
tentang Pangan tidak harmonis dengan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013
tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani.
3. Hasil penilaian berdasarkan efektivitas implementasi peraturan
perundangundangan:
a. Peningkatan jumlah penduduk yang melebihi kapasitas lahan yang tersedia dimana salah satu
penyebabnya adalah konversi lahan pertanian masih tinggi dan tidak terkendali;
b. Rendahnya akses terhadap sumber pembiayaan, teknologi dan informasi;
c. Masalah sarana dan prasarana yang belum memadai sehingga mengganggu aspek distribusi
pangan. Sebaran produksi pangan tidak merata baik antar daerah maupun antar waktu,
mengingat Indonesia sebagai Negara kepulauan diperlukan aksesibilitas dan sarana
transportasi yang lebih efisien;
d. Masalah kapasitas SDM yang belum memadai, antara lain: (1)Kemampuan petani, peternak
dan pekebun dalam memanfaatkan teknologi maju; (2)Menurunnya minat generasi muda
untuk terjun di bidang pertanian; (3)keterbatasan tenaga penyuluh, POPT, Pengawas Benih
Tanaman dan Tenaga Kesehatan Hewan;
e. Masalah permodalan, antara lain: (1)sulitnya akses petani terhadap permodalan;
(2)tunggakan kredit usaha yang belum terselesaikan; (3)persyaratan agunan kredit KKPE
berupa sertifikat menghambat penyaluran;
f. Dalam pengawasan pangan Indonesia menganut Multiple Agency System sehingga seringkali
terjadi tumpang tindih kewenangan. Pengawasan ini melibatkah lebih dari satu lembaga.
Pengawasan dimulai dari proses perijinan, pemeriksaan di kawasan pabean menjadi tanggung
jawab Badan Karantina Pertanian karena Produk Hortikultura merupakan produk asal
tumbuhan dan juga Direktorat jenderal Bea dan Cukai karena Produk Hortikultura Impor
berasal dari luar negeri. Selanjutnya diluar kawasan pabean terdapat Badan Ketahanan
Pangan yang memiliki kewenangan dalan pengawasan dan penanganan keamanan pangan
segar di peredaran dan juga Dinas Pertanian dan Dinas Perdagangan sebagai unsur pelaksana
teknis daerah yang turut mengawasi sesuai bidangnya. Untuk pengawasan pangan yang efektif
perlu segera dibentuk lembaga pangan nasional yang kuat dan komprehensif, sebagaimana
amanat Pasal 126 Jo Pasal 151 UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan.
4
C. Rekomendasi
Dari hasil penilaian berdasarkan kesesuaian asas, potensi disharmoni/tumpang tindih dan efektivitas implementasi peraturan
perundang-undangan, maka rekomendasi bagi masing-masing peraturan perundang-undangan terkait bidang pangan adalah
sebagai berikut:
a. Rekomendasi Pada UU terkait Kedaulatan Pangan:
No
UU
Jumlah
pasal
Status Pasal
Rekomendasi Pasal
Revisi
Cabut
Tetap
Rekomendasi
UU
1.
UU 12/1992 tentang
Sistem Budidaya
Tanaman
66
pasal 9 dan 12
dinyatakan
bertentangan dengan
konstitusi oleh
Putusan MK No.
99/PUU-X/2012
10 pasal
3 pasal
53 pasal
UU ini perlu
direvisi
2.
UU 41/1999 tentang
Kehutanan
84
pasal 1 angka 6, pasal 4
ayat (3) dan pasal 5
ayat (1), (2) dan (3)
dibatalkan oleh MK
(Putusan MK No.
35/PUU-X/2012)
4 pasal
4 pasal
76 pasal
UU ini perlu
direvisi
3.
UU 29/2000 ttg
Perlindungan
Varietas Tanaman
76
-
-
70
UU ini Perlu
diubah
4.
UU 41/2009 tentang
Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan
Berkelanjutan
77
Berlaku seluruhnya
8 pasal
4 pasal
65 pasal
UU ini perlu
direvisi
5.
UU 1 8/2012 tentang
Pangan
154
Berlaku seluruhnya
6 pasal
4 pasal
144 psl
UU ini perlu
direvisi
6 pasal
5
No
b.
UU
Jumlah
pasal
Status Pasal
Rekomendasi Pasal
Revisi
Cabut
Tetap
Rekomendasi
UU
6.
UU 19/2013 tentang
Perlindungan dan
Pemberdayaan
Petani
108
pasal 59, pasal 70 dan
pasal 71 dibatalkan
oleh MK (putusan MK
No. 87/PUU-XI/2013)
5 pasal
2 pasal
101 psl
UU ini perlu
direvisi
7.
UU 39/2014 tentang
Perkebunan
118
Berlaku seluruhnya
7 pasal
4 pasal
107 psl
UU ini perlu
direvisi
Rekomendasi pada Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden Terkait Kedaulatan Pangan
No
PUU
Juml
Pasal
Delegasian dari
Rekomendasi Pasal
Revisi
Cabut Tetap
Rekomendasi
PP/Perpres
1.
PP 28/2004 tentang
Keamanan, Mutu dan
Gizi Pangan
54
UU 7/1996 tentang
Pangan yang sudah
dicabut dan diganti
dengan UU 18/2012.
-
-
54 pasal
PP ini tidak
bermasalah
dalam pasal,
namun masih
merupakan
pendelegasian
dari UU yang
sudah dicabut.
2.
PP 21/2005 tentang
Keamanan Hayati
Produksi Rekayasa
Genetik
37
UU No. 23/1997
tentang Pengelolaan
LH yang sudah dicabut
dan diganti dengan UU
32/2009 tentang
PPLH. Namun belum
ada aturan baru
tentang Keamanan
Hayati Produksi
-
-
37 pasal
PP ini tidak
bermasalah
dalam pasal,
namun masih
merupakan
pendelegasian
dari UU yang
sudah dicabut.
6
No
PUU
Juml
Pasal
Delegasian dari
Rekomendasi Pasal
Revisi
Cabut Tetap
Rekomendasi
PP/Perpres
Rekayasa Genetik.
Dari PP ini terbit
Perpres 39/2010
tentang Komisi
Keamanan Hayati PRG.
3.
Perpres 83/2006
tentang Dewan
Ketahanan Pangan
20
sesuai amanat Pasal
126 UU UU No 18/2012
tentang Pangan, perlu
dibentuk Lembaga di
bawah Presiden plg
lambat November 2015
(amanat ps 151).
-
20
pasal
4.
PP 1/2011 tentang
Penetapan dan Alih
Fungsi Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan
51
UU 41/2009 tentang
Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan
Berkelanjutan
(Ps 26 dan Ps 53).
12
pasal
-
39 pasal
PP ini perlu
direvisi dan
dismplifikasi
dengan PP
terkait Sistem
Informasi
5.
PP 12/2012 tentang
Intensif Perlindungan
Lahan Pertanian
Pangan
50
UU 41/2009 tentang
Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan
Berkelanjutan
(Ps 43).
8 pasal
-
42 pasal
PP ini perlu
direvisi dan
dismplifikasi
dengan PP
terkait
pembiayaan
lahan pertanian
pangan
7
-
Perpres perlu
dicabut diganti
Perpres baru
tentang
lembaga baru
yang langsung
di bwh presiden
No
PUU
Juml
Pasal
Delegasian dari
Rekomendasi Pasal
Revisi
Cabut Tetap
Rekomendasi
PP/Perpres
6.
PP 25/2012 tentang
Sistem Info Lahan
Pertanian Pangan
Berkeljutan
46
UU 41/2009 tentang
Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan
Berkelanjutan
(Ps 60).
-
-
46 pasal
PP ini perlu
disimplifikasi
dengan PP
terkait
Penetapan alih
fungsi lahan
7.
PP 30/2012 tentang
Pembiayaan
Perlindungan Lahan
Pertanianan Pangan
Berkelanjutan
39
UU 41/2009 tentang
Perlindungan Lahan
Pertanian Pa ngan
Berkelanjutan (Ps 66
(3))
-
-
39 pasal
PP ini perlu
disimplifikasi
dengan PP
terkait insentif
8.
PP 17/2015 tentang
ketahanan Pangan &
Gizi
90
UU18/2012 tentang
Pangan
(Pasal 28 (4), Pasal 43,
Pasal 45 (3), Pasal 48
(2), Pasal 52 (2), Pasal
54 (3), Pasal 112, Pasal
116, dan Pasal 131 (2))
-
-
90 pasal
PP ini perlu
dipertahankan
Keterangan:
analisis dan evaluasi secara lengkap dapat dilihat pada Laporan Akhir Pokja Analisis dan Evaluasi Dalam Rangka Kedualatan
Pangan, 2016.
8
9
Download