NU Tak Perlu Bahas Konflik PKB

advertisement
PolMark Indonesia-Political Consulting
NU Tak Perlu Bahas Konflik PKB
Jakarta - Nahdlatul Ulama dinilai tidak perlu mengagendakan khusus masalah penyelesaian konflik di Partai Kebangkitan
Bangsa pada Muktamar ke-32 NU di Makassar akhir Maret nanti. Politisi asal NU yang berkiprah di luar partai itu malah
menolak jika aspirasi politik warga NU disalurkan melalui satu partai politik saja.
Hal tersebut disampaikan dua politisi NU, yaitu Nusron Wahid (Partai Golkar) dan Chozin Chumaidy (PPP), serta
intelektual muda NU, Zuhairi Misrawi, secara terpisah, Senin (1/3). ”Terlalu mahal harga yang harus dibayar jika
Muktamar NU membahas konflik PKB,” kata Nusron Wahid. Muktamar seharusnya lebih banyak membahas soal
gagasan kemasyarakatan dan keumatan, persoalan kebangsaan, serta pengembangan strategi dakwah yang
disesuaikan kondisi kemasyarakatan terkini.
Kondisi keumatan saat ini menunjukkan banyak fatwa NU yang tidak dijalankan oleh umatnya, baik dalam fatwa syariah,
sosial, maupun politik. Karisma kiai semakin turun dan budaya yang abai dengan nilai agama dan moral semakin
berkembang. Karena itu, lanjut Nusron, persoalan-persoalan itulah yang lebih mendesak dibahas.
Menurut Chozin Chumaidy, Muktamar NU mendatang harus mempertegas khitah (dasar) NU sebagai organisasi sosial
kemasyarakatan dan tidak terjebak dalam politik praktis, seperti dengan mengurusi konflik PKB.
”PKB sudah dewasa untuk menyelesaikan permasalahan dirinya. Kenapa NU harus repot-repot mengurusi politik
praktis? NU bukan PKB dan PKB bukan NU,” tegasnya.
Namun, harus diakui NU tidak bisa dilepaskan dari persoalan politik karena kelahiran NU juga tidak lepas dari motivasi
dan menjawab tantangan politik global maupun nasional. NU dibentuk sebagai respons atas munculnya gerakan Wahabi
di Arab Saudi dan untuk menghadapi penjajahan Belanda. Namun, politik yang harus dimainkan NU adalah politik etika
dan norma, bukan politik praktis.
Chozin mengingatkan, dalam Muktamar NU di Krapyak, Yogyakarta, 1989, telah memberikan pedoman politik bagi
warga NU. Demikian pula Muktamar NU di Solo 2004 telah memberikan tausiyah (nasihat) politik dan Muktamar NU di
Lirboyo, Kediri, 1999, telah menyepakati dibentuknya biro politik di PBNU untuk mengurusi kader-kader NU yang
bergerak di politik praktis. ”Sudah cukup lengkap pedoman politik bagi warga NU. Yang dibutuhkan sekarang
adalah aktualisasi khitah NU sebagai jam’iyyah (perkumpulan) yang bergerak dalam bidang sosial
kemasyarakatan,” ujarnya.
Aspirasi politik praktis cukup diserahkan kepada warga NU sesuai pilihannya masing-masing. PBNU melalui biro politik
atau lajnah siyasiyah hanya perlu mengoordinasikannya sehingga politik praktis menjadi santun, berkeadaban, dan
mempertahankan konsensus kebangsaan.
Menurut Zuhairi, sebagai organisasi massa dengan jumlah pengikut (nahdliyin) besar, NU diminta tidak perlu bersusah
payah berinisiatif membahas soal konflik internal PKB dalam muktamar nanti. Kalaupun mau membahas persoalan
tersebut, NU tinggal menunggu apakah ada permohonan dari kedua belah pihak yang berseteru dalam PKB selama ini.
”Tergantung ada tidaknya permintaan dari mereka yang berkonflik di PKB. Kan, NU tinggal merespons dan
memberikan pesan-pesan moral. Jangan malah NU yang berinisiatif. Apalagi sebelumnya nasihat penting Gus Mus (KH
Mustofa Bisri) dan KH Muchit Muzadi kepada mereka diabaikan,” ujar Misrawi.
Kedua kiai berpengaruh NU itu sama-sama menasihati soal pentingnya kedua belah pihak untuk berislah. Namun,
sampai sekarang keduanya tidak direspons positif. (dre - sumber: kompas 02/03/10)
http://www.polmarkindonesia.com
Powered by Joomla!
Generated: 28 October, 2017, 15:13
Download