BENTONIT PACITAN SEBAGAI ADSORBEN - Repository

advertisement
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
BENTONIT PACITAN SEBAGAI ADSORBEN UNTUK
DELORORISASI CPO (CRUDE PALM OIL)
SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Sains Bidang Kimia pada
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Airlangga
Oleh :
WIKE ARNOVIA YANA AYU KUSUMA
NIM : 080810261
Tanggal lulus : 19 Juli 2012
Disetujui oleh :
Pembimbing I,
Pembimbing II,
Abdulloh, S.Si, M.Si
NIP. 19710923 199702 1 001
Dr. Mulyadi Tanjung, M.S.
NIP. 19650422 199102 2 001
LEMBAR PENGESAHAN NASKAH SKRIPSI
ii
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Judul
Penyusun
NIM
Pembimbing I
Pembimbing II
Tanggal Ujian
: Bentonit Pacitan sebagai Adsorben untuk Decolorisai Crude
Palm Oil (CPO)
: Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
: 0808106261
: Abdulloh, S.Si, M.Si
: Dr. Mulyadi Tanjung, M.S.
: 19 Juli 2012
Disetujui oleh :
Pembimbing I,
Pembimbing II,
Abdulloh, S.Si, M.Si
NIP. 19710923 199702 1 001
Dr. Mulyadi Tanjung, M.S.
NIP. 19650422 199102 2 001
Mengetahui:
Ketua Program Studi S-1 Kimia
Departemen Kimia
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Airlangga
Dr. Alfinda Novi Kristanti, DEA
NIP. 19671115 199102 2 001
PEDOMAN PENGGUNAAN SKRIPSI
iii
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Skripsi ini tidak dipublikasikan, namun tersedia dalam lingkungan
Universitas
Airlangga,
diperkenankan
untuk
dipakai
sebagai
referensi
kepustakaan, tetapi pengutipan harus seijin penyusun dan harus menyebutkan
sumbernya sesuai kebiasaan ilmiah.
Dokumen skripsi ini merupakan hak milik Universitas Airlangga.
iv
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma, 2012, Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO), Skripsi ini dibawah
bimbingan Abdulloh S.Si, M.Si dan Dr. Mulyadi Tanjung, M.S., Departemen
Kimia Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, Surabaya.
ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian tentang bentonit pacitan sebagai adsorben
untuk decolorization (penjernihan) Crude Palm Oil (CPO). Tujuan dari penelitian
ini pemanfaatan bentonit sebagai adsorben untuk penjernihan CPO dan
mengetahui komposisi optimum bentonit sebagai adsorben untuk penjernihan
CPO. Sebelum digunakan sebagai adsorben CPO bentonit diaktivasi terlebih
dahulu dengan H2SO4. Penjernihan CPO dilakukan dengan memasukkan bentonit
aktif dengan variasi 1%; 2%; 3%; 4%; dan 5% kedalam CPO sebanyak 10 ml.
Kemudian dipanaskan sambil diaduk dengan variasi waktu 15, 30, 45, 60, dan 75
menit pada suhu 120 oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penjernihan CPO
dengan menggunakan bentonit alam pacitan dapat menjernihkan CPO dari warna
yang tidak diinginkan yaitu orange keruh menjadi kuning emas secara optimal
pada penambahan bentonit aktif sebanyak 1% dengan waktu pemanasan dan
pengadukan selama 60 menit dan bentonit tanpa aktivasi sebanyak 2% dengan
waktu pemanasan dan pengadukan selama 75 menit. Selain itu penambahan
bentonit pada CPO sebagai adsorben dapat menurunkan kadar asam dan
kekeruhannya. Semula kadar asam 7,82%, kadar β-karoten 234,72 ppm,
kekeruhan 2,6 NTU. Setelah di adsorpsi dengan bentonit aktif kadar asam 5,43 %,
kadar β-karoten 182,63 ppm, kekeruhan 0,9 NTU. Sedangkan bentonit tanpa
aktivasi kadar asam 5,31 %, kadar β-karoten 180,21 ppm, kekeruhan 1,00 NTU.
Bentonit aktif mempunyai kemampuan lebih cepat dalam decolorization
(penjernihkan) CPO dikarenakan penambahan H2SO4 pada bentonit dapat
memperluas permukaan bentonit sehingga bentonit lebih optimum dalam
menjernihkan CPO jika dibandingkan dengan benonit tanpa aktivasi.
Kata Kunci : Crude Palm Oil (CPO), Bentonit aktif, Penjernihan, kekeruhan
(NTU), Kadar asam, Kadar β-karoten
v
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma, 2012, Pacitan Bentonite as Adsorbent
for the Decolorization of Crude Palm Oil (CPO), this study was guided by
Abdulloh S.Si., M.Si, and Dr. Mulyadi Tanjung, M.S, Departement of
Chemistry, Faculty of Science and Technology, Airlangga University,
Surabaya.
ABSTRACT
The research has been done for investigation Pacitan bentonite as
adsorbent for the decolorization of CPO (Crude Palm Oil). The purpose of this
study is bentonite as adsorbent for decolorization of CPO. Before used as
adsorbent CPO, bentonite has been activated with H2SO4. Decolorization of CPO
is done by inserting an active bentonite with variation of 1%, 2%, 3%, 4% and 5%
into CPO as many as 10 mL. Then heated and stirried with a variation time 15, 30,
45, 60, and 75 minutes at temperature 120oC. The result showed that the
decolorization of CPO using Pacitan bentonite can purify CPO from unwanted
color is orange turbid to yellow optimally on the addition of active bentonite as
much as 1% with heating and stirring for 60 minutes and without activation 2%
with heating and strring for 75 minutes. Moreover, the addition of bentonite can
reduce acid level and turbidity. First acidity levels 7,82%, β-karoten levels 234,72
ppm and turbidity 2,6 NTU. After adsorbed with active bentonite, acidity levels
10,23%, β-karoten levels 182,63 ppm, turbidity 0,9 NTU. Whereas no activation
of the bentonite acid levels 5,31%, β-karoten levels 180,21 ppm, turbidity 1,00
NTU. Active bentonite has ability to more faster reduce CPO due to the addition
of H2SO4 to expand the surface of bentonite so that bentonite is more optimum in
purifying CPO compared to bentonite without activation.
Keyword : CPO (Crude Palm Oil), active bentonite, decolorization, turbidity
(NTU), acid levels, β-karoten levels
vi
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmatNya
sehingga penyusun dapat menyelesaikan menyelesaikan penulisan skripsi yang
berjudul “Bentonit Pacitan sebagai Adsorben untuk Decolorisasi Crude Palm
Oil (CPO)” dengan baik dan tepat waktu.
Skripsi ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Sains (S.Si) pada Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Airlangga.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih jauh dari
sempurna, hal ini mungkin terjadi baik disengaja maupun tidak disengaja
mengingat segala keterbatasan yang ada dalam diri manusia. Oleh karena itu
dengan segala kerendahan hati, izinkanlah penulis menyampaikan permohonan
maaf jika terjadi sesuatu yang kurang berkenan.
Saran dan kritik membangun akan penyusun harapkan dan terima demi
kesempurnaan naskah selanjutnya. Penyusun berharap penelitian yang telah
dilakukan ini dapat memberikan informasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan
di masa mendatang.
Surabaya, Juni 2012
Penyusun
Wike Arnovia Yana Ayu
K
vii
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
UCAPAN TERIMA KASIH
Alhamdulillahirobbil’alamin…
Puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala, karena hanya dengan
rahmat, kasih sayang, dan lindunganNya penyusun dapat melaksanakan dan
menyelesaikan serangkaian penelitian hingga naskah skripsi ini dapat tersusun
dengan baik. Tiada daya dan kekuatan melainkan dari Allah.
Penulisan naskah skripsi dapat terselesaikan dengan baik berkat bantuan
dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penyusun ingin mengucapkan
terima kasih kepada :
1.
Dr. Alfinda Novi Kristanti, DEA selaku ketua Departemen Kimia yang telah
memberikan arahan dan fasilitas selama menempuh studi di Departemen
Kimia,
2.
Bapak Abdulloh, S.Si., M.Si selaku dosen pembimbing I yang dengan sabar
meluangkan
waktu,
saran,
bimbingan,
dan
dukungan
sampai
terselesaikannya naskah skripsi ini,
3.
Dr. Mulyadi Tanjung, M.Si selaku pembimbing II yang telah memberikan
waktu, tenaga, nasehat, serta pikiran kepada penyusun sehingga naskah ini
dapat terselesaikan dengan baik,
4.
Dr. Nanik Siti Aminah, M.Si selaku dosen penguji III atas ilmu, koreksi,
arahan yang diberikan.
5.
Drs. Hamami M.Si selaku dosen penguji IV atas saran dan arahannya
sehingga naskah skripsi ini menjadi lebih baik dan optimal.
6.
Ibu Dra. Usreg Sri Handajanie, M.Si selaku dosen wali atas nasehat dan
dukungannya kepada penulis,
viii
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
7.
Seluruh staf pengajar program studi S1 Kimia yang telah memberikan ilmu
yang bermanfaat kepada penyusun,
8.
Karyawan laboratorium kimia fisik UNAIR: Pak Kamto yang selalu sabar
menungguku jika anak-anak KF Lovers lembur ngelab, Mbak Kiki yang
selalu menemani anak-anak mengerumpi bersama dan mau dengerin
curhatan anak-anak KF Lovers,
9.
Untuk Mama dan Papa terima kasih telah memberikan kasih sayang,
kepercayaan, dan dukungan spiritual, moral, maupun material, Mbakku
yang paling cantik Eka Natalia yang selalu mensupportku untuk dan
memotivasiku untuk jadi wanita karir yang sukses, Masku Vicky Heru yang
selalu memotivasi untuk selalu menjadi yang terbaik serta keponakankeponakanku yang lucu kakak Mynov dan dedek Darrel yang selalu
memberikan keceriaan kalau Tete lagi pusing mikirin skripsi. Love you
“My Family”, tanpa kalian Tete mungkin tidak bisa seperti sekarang ini,
10.
Spesial untuk Mas Awku (Edy Agus Waluyo) makasih sudah memberikan
warna baru dalam kehidupanku. Terima kasih atas supportmu selama ini dan
selalu sabar mendengarkan ceritaku kalau aku lagi galau tentang skripsi.
“Love you”,
11.
Teman-teman satu Departemen Kimia S1 angkatan 2008 yang banyak
memberikan saran dan dukungannya, terumata Riza Damayanti yang selalu
mau mengantarku kemana-mana terlebih dalam mencari bahan skripsi dan
selalu menjadi pendengar setiaku, Amel, Ariesta, Mumun, Ve’ makasih
sudah mau menjadi teman terbaikku, KF Lovers: Siti Maryam, M. Avi, Faiz
ix
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Tamami, Afian, Della, Tari, Sari, Laras, Reyla, Icus, Ratih kebersamaan
pada waktu ngelab tak akan ku lupa. Aku pasti merindukan kebersamaan itu
lagi,
12.
Untuk Genk Gonk 159A: Nina (Mbahe), Eka (Ekong), Ina, Laras, Mbak
Rani, Mbak Nita, Mbak Vanda, Mbak Erna atas keceriaan dan pengalaman
dalam bersosialisasi,
13.
Semua pihak yang telah membantu penelitian dan penyusunan skripsi ini.
Surabaya, Juni 2012
Penyusun,
Wike Arnovi Yana Ayu K.
x
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
DAFTAR ISI
LEMBAR JUDUL .....................................................................................i
LEMBAR PERNYATAAN .......................................................................ii
LEMBAR PENGESAHAN .......................................................................iii
PEDOMAN PENGGUNAAN SKRIPSI ...................................................iv
ABSTRAK .................................................................................................v
ABSTRACT ..............................................................................................vi
KATA PENGANTAR ...............................................................................vii
UCAPAN TERIMA KASIH .....................................................................viii
DAFTAR ISI .............................................................................................xi
DAFTAR TABEL .....................................................................................xiii
DAFTAR GAMBAR .................................................................................xiv
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................xv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................................1
1.2 Perumusan Masalah...............................................................................4
1.3 Tujuan Penelitian ..................................................................................5
1.4 Manfaat Penelitian ................................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..............................................................6
2.1 Bentonit ................................................................................................6
2.1.1 Bentonit secara umum .................................................................6
2.1.2 Komposisi dan sifat-sifat bentonit ................................................8
2.1.3 Pembentukan bentonit .................................................................9
2.1.4 Stuktur bentonit ...........................................................................10
2.1.5 Penggolongan bentonit ................................................................11
2.1.6 Penggunaan bentonit ....................................................................12
2.2 Minyak Kelapa Sawit Mentah (CPO) ...................................................13
2.2.1 Trigliserida pada minyak kelapa sawit .........................................14
2.2.2 Senyawa non trigliserida pada minyak kelapa sawit .....................17
2.2.3 Warna dalam minyak ..........................................................................17
2.2.3.1 Zat warna alamiah ............................................................. 17
2.2.3.2 Warna akibat oksidasi dan degradasi komponen kimia yang
terdapat pada minyak ..............................................................18
2.2.3.2.1 Warna gelap .............................................................18
2.2.3.2.2 Warna coklat ............................................................19
2.2.3.2.3 Warna kuning ...........................................................19
2.2.4 β-karoten pada minyak sawit mentah (CPO) ................................20
2.2.5 Bilangan asam .............................................................................22
2.2.6 Standart mutu minyak kelapa sawit yang siap dipasarkan.............23
2.3 Penjernihan atau Penghilangan Warna ...................................................23
2.4 Penjernihan dengan menggunakan adsorben ..........................................25
xi
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
2.5 Spektrofotometer UV-Vis......................................................................27
2.6 Turbidimeter .........................................................................................28
BAB III METODE PENELITIAN .......................................................31
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ................................................................31
3.2 Bahan Penelitian ..................................................................................31
3.3 Peralatan Penelitian ...............................................................................31
3.4 Diagram Alir .........................................................................................32
3.5 Prosedur Kerja ......................................................................................32
3.5.1 Pembuatan larutan KOH 0,1 N ....................................................32
3.5.2 Pembuatan larutan baku asam oksalat ..........................................33
3.5.3 Preparasi sampel ..........................................................................33
3.5.4 Pembuatan adsorben bentonit aktif ..............................................33
3.6 Karakterisasi CPO .................................................................................33
3.6.1 Penentuan kadar asam lemak .......................................................33
3.6.2 Penentuan β-karoten dalam minyak sawit ...................................34
3.6.3 Uji kejernihan minyak sawit ........................................................34
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................35
4.1 Penyiapan Sampel ................................................................................35
4.2 Pembuatan Adsorben ............................................................................35
4.3 Penjernihan CPO dengan Adsorben Bentonit .......................................36
4.4 Hasil Karakteristik CPO Setelah Dijernihkan dengan Adsorben
Bentonit ...............................................................................................37
4.4.1 Kadar asam lemak setelah CPO mengalami proses penjernihan ...37
4.4.2 Hasil penentuan kadar β-karoten dalam CPO ..............................39
4.4.3 Hasil penentuan kekeruhan CPO .................................................44
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .....................................................48
5.1 Kesimpulan ...........................................................................................48
5.2 Saran .....................................................................................................49
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................50
LAMPIRAN
xii
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
DAFTAR TABEL
Nomor
Judul Tabel
Halaman
2.1
Komposisi Bentonit Pacitan Dalam Bentuk Oksidanya
8
2.2
Komposisi dari Minyak Kelapa Sawit
16
2.3
Komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa Sawit
16
2.4
Syarat Mutu Minyak Goreng
23
2.5
Perbedaan antara Adsorpi Fisika dan Adsorpi Kimia
27
4.1
Absorbansi Larutan Standar
40
4.2
Kadar β-karoten CPO Setelah Proses Penjernihan Dengan
Adsorben Bentonit Tanpa Aktivasi
4.3
42
Kadar β-karoten CPO Setelah Proses Penjernihan Dengan
Adsorben Bentonit Aktif
4.4
43
Hasil Pengukuran Kekeruhan CPO Setelah Proses Penjernihan
Dengan Adsorben Bentonit Tanpa Aktivasi
4.5
44
Hasil Pengukuran Kekeruhan CPO Setelah Proses Penjernihan
Dengan Adsorben Bentonit Aktif
45
xiii
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
DAFTAR GAMBAR
Nomor
Gambar
Halaman
2.1
Struktur Bentonit
11
2.2
Gambar Bagian Buah Kelapa Sawit
14
2.3
Reaksi Pembentukan Trigliserida
14
2.4
Struktur Asam Lemak Jenuh dan Tak Jenuh
15
2.5
Struktrur β-karoten
21
2.6
Spektrum UV Senyawa Karotena
22
4.1
Crude Palm Oil (CPO)
35
4.2
Bentonit Aktif Setelah Dioven dan Bentonit Aktif Dihaluskan
36
4.3
Kurva dari CPO Setelah Proses Penjernihan dengan
Adsorben Bentonit Tanpa Aktivasi
4.4
37
Kurva dari CPO Setelah Proses Penjernihan dengan
Adsorben Bentonit Aktif
38
4.5
Grafik Standar β-karoten
41
4.6
Kurva Kadar β-karoten Dalam CPO Setelah Proses
Penjernihan Dengan Adsorben Bentonit Tanpa Aktivasi
4.7
Kurva Kadar β-karoten Dalam CPO Setelah Proses
Penjernihan Dengan Adsorben Bentonit Aktif
4.8
43
Kurva Kekeruhan CPO Setelah Proses Penjernihan Dengan
Adsorben Bentonit Tanpa Aktivasi
4.9
45
Kurva Kekeruhan CPO Setelah Proses Penjernihan Dengan
Adsorben Bentonit Aktif
4.10
42
45
CPO Setelah Dijernihkan Dengan Adsorben Bentonit Tanpa
Aktivasi dan Bentonit Aktif
47
xiv
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
Lampiran
1
Data penambahan berat adsorben bentonit pada CPO
2
Hasil kadar lemak CPO setelah dijernihkan dengan adsorben bentonit
3
Hasil kadar β-karoten dalam CPO setelah dijernihkan dengan
adsorben bentonit
4
Hasil λ maksimum
5
Hasil uji luas permukaan bentonit
xv
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Minyak goreng sawit (MGS) merupakan salah satu komoditas yang
mempunyai nilai strategis dan merupakan sembilan kebutuhan pokok. Permintaan
akan MGS dalam dan luar negeri yang semakin meningkat merupakan pentingnya
komoditas kelapa sawit dalam perekonomian bangsa. Kebutuhan MGS terus
meningkat dari tahun
ke tahun seiring bertambahnya jumlah
penduduk,
berkembangnya pabrik, industri makanan, dan meningkatnya konsumsi masyarakat
terhadap minyak goreng (Martianto, et al, 2009).
Hasil survei yang dilakukan oleh Martianto, et al, (2005) menunjukkan bahwa
sebesar 77,5% rumah tangga di Indonesia menggunakan minyak curah untuk
menggoreng dan rata-rata konsumsi minyak goreng di Indonesia adalah sebesar 23
gram per hari. Menurut Amang, et al, (1996), diperkirakan total konsumsi minyak
goreng pada tahun 2013 di Indonesia adalah sebesar 2.533 juta liter, sehingga
memerlukan banyak sekali industri minyak goreng di Indonesia. Menurut standar
industri di Indonesia minyak goreng didefinisikan sebagai miyak yang diperoleh
dengan cara pemurnian minyak nabati. Minyak goreng mempunyai fungsi yaitu
sebagai pengantar panas untuk mematangkan bahan makanan dan salah satu sumber
lemak dalam tubuh. Proses penggorengan dengan minyak goreng umumnya pada
suhu sekitar 180oC sedangkan minyak goreng sendiri memiliki titik didih 200oC
1
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
2
(Martianto, et al., 2009). Salah satu bahan baku utama dari minyak goreng adalah
kelapa sawit. Bagian yang paling utama untuk diolah dari kelapa sawit adalah
buahnya. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah (Crude
Palm Oil) yang dapat diolah menjadi bahan baku minyak goreng (Morad, et al.,
2010). Kelebihan minyak nabati dari kelapa sawit adalah harga yang murah dan
rendah kolesterol. Minyak sawit juga memiliki beberapa manfaat diantaranya .
Produk minyak kelapa sawit sebagai bahan makanan dan minyak goreng
mempunyai dua aspek kualitas. Aspek pertama berhubungan dengan kadar, kualitas
asam lemak, kelembaban dan kadar kotoran. Aspek kedua berhubungan dengan rasa,
aroma, kejernihan serta kemurnian produk. Minyak Kelapa sawit bermutu prima (SQ,
Special Quality) mengandung asam lemak bebas (FFA, Free Fatty Acid) tidak lebih
dari 2 % pada saat pengapalan. Sedangkan kualitas standar minyak kelapa sawit
mengandung tidak lebih dari 5 % FFA. Setelah pengolahan, minyak kelapa sawit
bermutu akan menghasilkan rendemen minyak 22,1 % ‐ 22,2 % dan kadar asam
lemak bebas 1,7 % ‐ 2,1 % (Baharin, et al., 2001). Perbedaan kemurnian pada minyak
goreng dapat dikarenakan adanya air, zat pengotor yang dapat menyebabkan emulsi
dan dapat menyebabkan warna minyak goreng menjadi keruh dan pekat (Che Man, et
al., 1999). Sehingga untuk menghasilkan minyak goreng yang murni dibutuhkan
pengadsorpsi warna minyak tersebut.
Proses pemurnian diperlukan untuk menghilangkan rasa serta bau yang tidak
enak, warna yang tidak menarik sehingga memperpanjang masa simpan minyak
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
3
(Martianto, et al., 2009). Pada pengolahan minyak pengerjaan yang dilakukan
tergantung pada sifat alami minyak tersebut dan juga tergantung dari hasil akhir yang
dikehendaki. Umumnya tahap-tahap pemurnian minyak terdiri dari degumming,
netralisasi, bleaching (pemucatan), deodorisasi dan pendinginan (Ketaren, 1986).
Kualitas minyak kelapa sawit ditentukan oleh tingkat kemurnian CPO. Minyak
kelapa sawit mentah masih mengandung beberapa impurities baik yang terlarut
maupun yang tidak terlarut dalam minyak serta suspensi yang turut terekstraksi pada
waktu pengepresan kelapa sawit (Ketaren, 1986). Impurities pada minyak kelapa
sawit ini sangat merugikan karena dapat menyebabkan warna merah gelap yang tidak
diinginkan pada minyak. Dalam industri minyak kelapa sawit, warna merupakan
parameter utama dalam penentuan kualitas minyak dan digunakan sebagai dasar
dalam penentuan apakah minyak tersebut diterima atau tidak dalam dunia
perdagangan (Rahadjeng, 1991). Semakin gelap warna CPO maka akan semakin
mahal biaya yang dibutuhkan dalam proses pemurnian, selain itu warna yang gelap
juga menandakan kualitas minyak yang rendah .
Salah satu bahan pemurni yang dapat digunakan untuk penjernihkan atau
pemurnian warna minyak goreng yaitu bentonit. Bentonit adalah lempung yang
tersusun sebagian besar dari smektit (monmorillonit) sebanyak 75% dan banyak
terdapat di daerah Pacitan Jawa Timur. Bentonit yang sudah diaktivasi mempunyai
daya pemucat yang optimum pada proses pemucatan minyak goreng (Keraten, 1986).
Sebelumnya sudah pernah dilakukan penelitian bahwa bentonit yang telah dipanaskan
pada suhu 250oC dan diaktivasi dengan pengasaman pada perbandingan jumlah
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
4
H2SO4 pekat dan jumlah bentonit (cc/gr) 1:3 mempunyai daya absorpsi optimum
sebagai pemucat minyak goreng (Rahadjeng, 1991). Selain itu untuk pemucatan
minyak goreng, bentonit juga dapat digunakan untuk lumpur pembilas dalam
pengeboran minyak bumi, sebagai pencegah kebocoran dalam bangunan sipil basah
(misalnya bendungan dan DAM), katalisator dan lain-lain (Dietrich, 2002).
Pada penelitian yang sudah ada banyak menggunakan bentonit sebagai
pemucat minyak goreng curah dan minyak goreng bekas sehingga pada penelitian ini
mencoba menggunakan bentonit sebagai pemurni CPO (Crude Palm Oil) dengan
membandingkan penggunaan bentonit pacitan yang diaktivasi dengan penambahan
H2SO4 dan tidak diaktivasi dan divariasi komposisinya. Dalam penelitian ini bentonit
digunakan sebagai pemurni CPO dengan parameter kadar asam lemak, kejernihan
yang meliputi jumlah karotin yang terabsorpsi dan turbiditas.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut:
1.
Apakah bentonit Pacitan yang diaktivasi, dan tanpa aktivasi dapat dimanfaatkan
untuk menjernihkan CPO?
2.
Berapakah komposisi optimal bentonit Pacitan yang diaktivasi, dan tanpa
aktivasi dapat menjernihkan CPO paling baik?
3.
Manakah bentonit pacitan yang lebih efektif untuk menjernihkan CPO, bentonit
Pacitan yang diaktivasi atau tanpa aktivasi?
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
5
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dan latar belakang yang telah dikemukakan
maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1.
Mengetahui apakah bentonit Pacitan yang diaktivasi dan tanpa aktivasi dapat
dimanfaatkan untuk menjernihkan CPO dengan mutu dan kejernihan yang baik.
2.
Mengetahui berapa komposisi yang tepat dari bentonit Pacitan yang diaktivasi
dan tanpa aktivasi dapat menjernihkan CPO paling optimal.
3.
Mengetahui manakah bentonit yang lebih efektif untuk menjernihkan CPO,
bentonit Pacitan yang diaktivasi atau tanpa aktivasi.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada
masyarakat dan industri tentang penjernihan (decolorisasi) CPO dapat menggunakan
bentonit sebagai adsorben.
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bentonit
2.1.1 Bentonit secara umum
Nama bentonit pertama kali digunakan untuk menyebut lempung yang
bersifat plastis dan sangat koloidal yang tersusun sebagian besar dari smektit
(montmorrilonit) sebanyak 75% atau lebih yang ditemukan pertama kali di daerah
Ford Benton dalam lapisan Cretaceous di Wyoming Amerika Serikat (Reddy, et
al., 2005).
Bentonit termasuk jenis lempung dengan materi koloid yang kuat dan akan
berubah menjadi substansi gelatin ketika bereaksi dengan air. Lempung ini akan
mengembang hingga beberapa kali volume asalnya jika ditempatkan dalam air
dan membentuk gel tiksotropik bila sedikit saja ditambahkan pada air. Warna
bentonit bervariasi sesuai dengan kondisi yaitu kuning keputih-putihan,
kehitaman, hijau kekuningan hingga coklat (Wigati, 1998). Bentuknya pun
bervariasi ada yang berbentuk serbuk, bongkahan atau menjadi gel atau suspense
ketika bercampur dengan air.
Nama montmorrilonit sendiri adalah sejenis nama mineral yang banyak
ditemukan di daerah montmorrilont, Perancis oleh Damaour pada tahun 1847.
Kandungan lain dalam bentonit merupakan pengotor dari beberapa jenis mineral
seperti kwarsa, ilit, kalsit, mika dan klorit. Struktur monmorillonit terdiri dari 3
layer yang terdiri dari 1 lapisan alumina (AlO6) berbentuk oktahedral pada bagian
6
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
7
tengah diapit oleh 2 buah lapisan silika (SiO4) berbentuk tetrahedral. Diantara
lapisan oktahedral dan tetrahedral terdapat kation monovalent maupun bivalent,
seperti Na+, Ca2+ dan Mg2+dan memiliki jarak (d-spacing) sekitar 1,2 – 1,5 μm
(Syuhada, 2009). Montmorrilonit mampu mengadsorpsi ion positif secara selektif
pada larutan polar sehingga pada waktu sama dapat melakukan pertukaran ion
pada berbagai aplikasinya.
Bentonit banyak digunakan untuk berbagai aplikasi dalam proses katalis,
proses adsorpsi maupun sebagai resin penukar ion dalam berbagai industri.
Bentonit banyak dijadikan alternatif utama dalam proses adsorpsi karena
montmorrilonit di dalamnya memiliki ukuran ruang antar lapis yang mempunyai
kapasitas besar dalam adsorpsi sehingga sangat efektif sebagai adsorben.
Adsorben lain yang sering digunakan adalah zeolit, namun material zeolit relatif
sulit disintesis dalam ukuran yang berkapasitas adsorpsi besar.
Di Indonesia maupun di dunia, bentonit dengan berbagai manfaat menjadi
obyek bisnis yang menguntungkan. Hasil penelitian Direktorat Sumber Daya
mineral ternyata cukup besar deposit bentonit di kecamatan Punung Pacitan Jawa
Timur. Bentonit juga dikenal dengan nama tanah pemucat (Bleaching earth)
karena kemampuannya dapat merubah warna minyak, lemak maupun air limbah.
Aplikasi lain yang banyak menggunakan bentonit adalah lumpur pembilas pada
kegiatan pemboran, pembuatan pelet biji besi, penyumbat kebocoran bendungan
dan kolam. Selain itu digunakan juga dalam industri minyak sawit dan farmasi
(Syuhada, 2009).
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
8
2.1.2 Komposisi dan sifat-sifat bentonit
Komposisi bentonit bervariasi menurut proses terjadinya dan lokasinya.
Variasi dari komposisi bentonit ini terletak pada kandungan dari logam-logam
penyusunya yang terletak pada tetrahedral dan oktahedral (Djumarman,1977).
Tabel 2.1 Komposisi bentonit Pacitan dalam bentuk oksidanya (Harsini., 1995)
Oksida
B-1%
B-2%
B-3%
B-4%
SiO2
Al2O3
Fe2O3
MgO
CaO
Na2O
K2O
50,38
19,85
8,11
2,66
1,43
0,16
0,16
49,68
20,38
6,42
3,24
1,12
0,2
0,28
54,07
16,28
6,38
4,54
1,19
0,14
0,18
55,55
17,39
3,38
4,44
1,51
1,87
0,24
H2O+
14,45
1,27
13,49
10,09
3,72
100,92
4,56
98,58
4,17
100,44
1,52
96,45
-
H2O
Total
Keterangan
: B-1 : lapisan atas yang berwarna kemerahan
B-2 : lapisan tengah yang berwarna abu-abu muda
B-3 : lapisan bawah yang berwarna abu-abu tua
B-4 : standar bentonit Amerika
H2O+ : air lembab yang hilang pada pemanasan 100-110oC
H2O- : air interkalasi yang hilang pasa pemanasan 400oC
Bentonit dibedakan dari lempung yang lain karena hampir seluruhnya (
85% - 90%) terdiri dari mineral lempung kelompok monmorilonit (Djumarman,
1977) yang secara umum ditunjukkan oleh rumus (OH) 4Si8 Al4.nH2O. Mineral
bentonit memiliki diameter kurang dari 2 μm yang terdiri dari berbagai macam
mineral phyllosilicate yang mengandung silica, aluminium oksida dan hidroksida
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
9
yang dapat mengikat air. Bentonit memiliki struktur 3 layer yang terdiri dari 2
layer silika tetrahedron dan satu layer sentral oktahedral.
Luas permukaan monmorillonit yang cukup besar menyebabkan sifat
plastisitas dan kelekatannya yang tinggi dalam keadaan basah. Mineral-mineral
tersebut pada umumnya berupa butiran yang sangat halus, sedangkan lapisan
penyusunnya tidak terikat dengan kuat. Dalam kontaknya dengan air, mineralmineral tersebut menunjukkan pengembangan antar lapis yang menyebabkan
volumenya meningkat dua kali lipat. Jarak dasar monmorillonit meningkat seraca
bersamaan dengan menyerapnya air. Peningkatan jarak dasar terjadi secara
bertahap yang akhirnya menyebabkan pembentukan kulit hidrasi di sekeliling
kation-kation antar lapis. Potensi mengembang dan mengerut yang tinggi ini
merupakan penyebab mineral dapat menerima dan menukar ion-ion logam dan
senyawa-senyawa organik (Tan, 1992).
2.1.3 Pembentukan bentonit
Secara umum pembentukan bentonit berasal dari proses geologis bahan
asal abu vulkanik yang mengalami perubahan oleh proses hidrotermal, proses
pelapukan maupun pergeseran kimia. Bentonit juga terdapat pada batuan plutonik
dengan pembentukan yang relatif lebih lambat dari pada abu vulkanik.
Pembentukan bentonit sangat dipengaruhi oleh komponen utama mineral
yang terkandung di dalamnya. Selain itu komponen kimia air, daya alir pada
bahan dasarnya, iklim dan macam relief tempat pembentukannya juga
mempengaruhi pembentukannya.
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
10
2.1.4 Stuktur bentonit
Struktur bentonit ditentukan oleh struktur mineral penyusunnya yaitu mineral
monmorillonit. Berdasarkan struktur mineral berdasarkan jenis lempung yaitu
terdiri dari lembaran-lembaran tetrahedral dan oktahedral dalam berbagai
komposisi. Diusulkan untuk monmorrilonit yaitu :
1. Hofmann dan Endell.
2. Edelman dan Favajee.
Kedua hipotesis tersebut menunjukkan keasamaan-keasamaan dalam hal
ini struktur sel unit yang dianggap simetris. Selembar oktahedral aluminium diapit
oleh dua lembar tetrahedral silica. Lapisan-lapisan tersebut bertumpuk dalam pola
acak dan beberapa mineral tersebut berbentuk serat. Ikatan yang menahan lapisanlapisan bersama cukup lemah. Ikatan yang menyebabkan mineral mengembang
apabila ada air yang menyusup.
Perbedaan antara susunan Hofman dan Edelmann yaitu terletak pada
susunan jaringan tertrahedral silika. Edelmann dan Favajee berpendapat bahwa
ada suatu susunan alternatif dari tetrahedral silica dengan ikatan Si-O-Si bersudut
180o dengan bidang dasar yang terdiri dari gugus OH yang terikat pada silika dan
tetrahedral (Tan, 1992).
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
11
Gambar 2.1 Struktur Bentonit (Syuhada et al, 2009)
2.1.5 Penggolongan bentonit
Secara garis besar bentonit dapat digolongkan menjadi 2 bagian sesuai
dengan mineral lempung penyusun utamanya yaitu:
1. Natrium Bentonit (Na-bentonit)
Bentonit ini mampu menyerap air dalam jumlah yang besar disertai
dengan pengembangan volume yang besar pula dan tetap terdispersi dalam air
selama beberapa waktu. Bentonit ini dapat menyerap air sebanyak lima kali dari
beratnya, sehingga volumenya bisa bertambah lima belas kali dari volume
keringnya. Sifat dari pengembangan bentonit natrium ini bersifat reversible,
artinya dapat dikeringkan kembali beberapa kali tanpa merubah sifatnya. Dalam
keadaan kering bentonit ini berwarna putih atau krem sedangkan pada keadaan
basah dan terkena sinar matahari akan mengkilap. Bentonit tipe ini mempunyai
perbandingan soda dan kapur tinggi. Posisi pertukaran ionya banyak diduduki
oleh ion Na+. akan tetapi bentonit jenis ini tidak dapat diaktifkan. Bentonit tipe
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
12
natrium ini biasanya digunakan untuk pembuatan pellet bijih besi, sebagai lumpur
pembilas bahan pembakar minyak, dan penyumbat kebocoran pada bendungan.
2. Kalsium Bentonit (Ca-bentonit)
Bentonit ini bersifat tidak mengembang dan tetap terdispersi dalam air
secara alami maupun setelah diaktifkan dengan asam. Posisi pertukaran ionnya
diduduki oleh ion Ca+ dan Mg2+. Dalam keadaan kering bentonit ini berwarna
abu-abu, biru, kuning, merah, dan coklat.
Perbedaan dari kedua jenis bentonit diatas yaitu berdasarkan sifat
pengembangannya. Akan tetapi, bentonit untuk jenis yang tidak mengembang
perlu dilakukan pengaktifan terlebih dahulu agar diperoleh hasil evaluasi yang
sempurna.
Apabila didispersikan di dalam air, dengan cepat bentonit natrium akan
terurai menjadi partikel-partikel yang sangat kecil. Bentonit kalsium juga
demikian tetapi biasanya partikel-partikelnya lebih besar ukurannya (Djumarman,
1977).
2.1.6 Penggunaan bentonit
Secara umum bentonit banyak digunakan dalam aplikasi tiga hal yaitu
sebagai resin penukar ion, adsorben dan penyerap air dalam jumlah besar tanpa
pengembangan volume terutama pada Ca-bentonit.
Kombinasi antara bentonit dengan bahan lain sering digunakan dalam
berbagai keperluan industri. Pada komposisi tertentu campuran bentonit ini
bermanfaat dalam proses produksi kertas yaitu sebagai bahan perentensi kaolin
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
13
dan efek fine us tanpa resin. Bentonit juga sering dimanfaatkan dalam pengolahan
limbah cair pada industri rayon dengan prinsip adsorpsi.
Bentonit atau fuller earth digunakan dalam proses penjernihan warna pada
industry minyak goreng (Sherrington, 1968). Nama lain bentonit adalah bleaching
earth atau tanah pemucat yang digunakan dalam penjernihan warna pada tekstil,
minyak dan lemak. Penggunaan bentonit akan efektif jika bentonit diaktivasi
terlebih dahulu dengan tujuan memperluas permukaan sehingga kapasitas adsorpsi
lebih besar.
2.2 Minyak Kelapa Sawit Mentah (CPO)
Minyak kelapa sawit diperoleh dari pengolahan buah kelapa sawit yang
kemudian diolah lagi menjadi minyak goreng sawit (MGS). Secara garis besar
buah kelapa sawit terdiri dari serabut buah (pericarp) dan inti (kernel). Serabut
buah dari kelapa sawit terdiri dari tiga lapis yaitu lapisan luar atau kulit buah yang
disebut pericarp, lapisan sebelah dalam disebut mesocarp atau pulp dan lapisan
paling dalam disebut dengan endocarp. Sedangkan inti kelapa sawit terdiri dari
lapisan kulit biji (testa), endosperm dan embrio. Dari bagian buah kelapa sawit
yang mengandung minyak adalah
lapisan sebelah dalam (mesocarp) dengan
kadar minyak rata-rata sebanyak 56% dan inti (kernel) mengandung minyak
sebesar 44%.
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
14
Pericarp
Mesocarp
Kernel
Endocarp
2.2 Gambar Bagian Buah Kelapa Sawit
Minyak kelapa sawit pada umumnya seperti minyak nabati lainnya yaitu
merupakan senyawa yang tidak larut dalam air, sedangkan komponen
penyusunnya yang utama adalah trigliserida dan nontrigliserida.
2.2.1 Trigliserida pada minyak kelapa sawit
Seperti halnya lemak dan minyak lainnya, minyak kelapa sawit juga
terdiri atas trigliserida yang merupakan ester dari gliserol dengan tiga molekul
asam lemak menurut reaksi sebagai berikut :
O
CH2OH
CHOH +
CH2OH
3 RCOOH
H2C
O
C
HC
O
C
H2C
O
C
R1
O
R2 + 3 H2O
O
R3
Gambar 2.3 Reaksi Pembentukan Trigliserida
Bila R1 = R2 = R3 atau ketiga asam lemak penyusunnya sama maka
trigliserida ini disebut trigliserida sederhana, dan apabila salah satu atau lebih
asam lemak penyusunnya tidak sama maka disebut trigliserida campuran.
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
15
Asam lemak merupakan rantai hidrokarbon yang setiap atom karbonnya
mengikat satu atau dua atom hidrogen kecuali atom karbon terminal mengikat tiga
atom hidrogen, sedangkan atom karbon terminal lainnya mengikat gugus
karboksil. Asam lemak yang pada rantai hidrokarbonnya terdapat ikatan rangkap
disebut asam lemak tidak jenuh, dan apabila tidak terdapat ikatan rangkap pada
rantai hidrokarbonnya karbonnya disebut dengan asam lemak jenuh. Secara umum
struktur asam lemak dapat digambarkan sebagai berikut :
H
O
H3C
H2C
H2
C
H2
C
Asam Lemah Jenuh
C
OH
H2
C
H3C
C
O
C
H
C
OH
Asam Lemak Tak Jenuh
Gambar 2.4 Asam Lemak Jenuh dan Tak Jenuh
Makin jenuh molekul asam lemak dalam molekul trigliserida, makin tinggi
titik beku atau titik cair minyak tersebut .Sehingga pada suhu kamar biasanya
berada pada fase padat. Sebaliknya semakin tidak jenuh asam lemak dalam
molekul trigliserida maka makin rendah titik helm atau titik cair minyak tersebut
sehingga pada suhu kamar berada pada fasa cair. Minyak kelapa sawit adalah
lemak semi padat yang mempunyai komposisi yang tetap. Berikut ini adalah tabel
dari komposisi trigliserida dan tabel komposisi asam lemak dari minyak kelapa
sawit (Ketaren, 1986).
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
16
Tabel 2.2 Komposisi dari Minyak Kelapa Sawit (Ketaren, 1986).
Trigiserida
Jumlah (%)
Tripalmitin
3-5
Dipalmito-Stearine
1-3
Oleo-Miristopalmitin
0-5
Oleo-Dipalmitin
21-43
Oleo-Palmitostearin
10-11
Palmito-Diolein
32-48
Stearo-Diolein
0-6
Linoleo-Diolein
3-12
Tabel 2.3 Komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa Sawit
Asam Lemak
Asam Kaprilat
Asam kaproat
Asam Miristat
Asam Palmitat
Asam Stearat
Asam Oleat
Asam Laurat
Asam Linoleat
Jumlah
1,1 – 2,5
40 – 46
3,6 – 4,7
30 – 45
7 – 11
Minyak kelapa sawit jika dilihat berdasarkan dari asam lemaknya
digolongkan menjadi minyak asam palmiat karena minyak kelapa sawit ini
memiliki kandungan asam palmiat yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan
kandungan asam lemak lainya.
Jenis asam lemak sendiri terdiri dari dua jenis yaitu asam lemak jenuh dan
asam lemak tak jenuh. Rantai karbon hidrokarbon dalam suatu asam lemak
bersifat tak jenuh apabila mengandung ikatan rangkap. Untuk saat ini asam lemak
tak jenuh sangat diminati oleh masyarakat karena lebih aman bagi kesehatan
sedangkan asam lemak jenuh beresiko tinggi mempertinggi kadar kolesterol
dalam darah yang dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah terutama
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
17
pembuluh darah dalam jantung, sehingga bisa menyebabkan gangguan pada
jantung.
2.2.2 Senyawa non trigliserida pada minyak kelapa sawit
Selain trigliserida masih terdapat senyawa non trigliserida dalam jumlah
kecil. Yang termasuk senyawa non trigliserida ini antara lain : motibgliserida,
digliserida, fosfatida, karbohidrat, turunan karbonidrat., protein, beberapa mesin
dan bahan-bahan berlendir atau getah (gum) serta zat-zat berwarna yang
memberikan warna serta rasa dan bau yang tidak diinginkan. Dalam proses
pemurnian dengan penambahan alkali (biasanya disebut dengan proses
penyabunan) beberapa senyawa non trigliserida ini dapat dihilangkan, kecuali
beberapa senyawa yang disebut dengan senyawa yang tak tersabunkan.
2.2.3 Warna dalam minyak
Warna pada minyak kelapa sawit merupakan salah satu faktor yang
mendapat perhatian khusus, karena minyak kelapa sawit mengandung warnawarna yang tidak disukai oleh konsumen. Zat warna dalam minyak kelapa sawit
terdiri dari dua golongan yaitu zat warna alamiah dan zat warna dari hasil
degradasi zat warna alamiah (Ketaren, 1986).
2.2.3.1 Zat warna alamiah
Yang termasuk golongan zat warna alamiah adalah zat warna yang
terdapat secara alamiah didalam kelapa sawit, dan ikut terekstraksi bersama
minyak pada proses ekstraksi. Zat warna tersebut antara lain terdiri dari α-karoten,
β-karoten, xanthopil, kloropil dan antosianin. Zat- zat warna tersebut
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
18
menyebabkan minyak berwarna kuning, kuning kecoklatan, kehijau-hijauan dan
kemerah - merahan.
Pigmen berwarna kuning disebabkan oleh karoten yang larut didalam
minyak. Karoten merupakan persenyawaan hidrokarbon tidak jenuh, dan jika
minyak dihidrogenasi, maka karoten tersebut juga berikut terhidrogenasi sehingga
intensitas warna kuning berkurang.
2.2.3.2 Warna akibat oksidasi dan degradasi komponen kimia yang terdapat
pada minyak
2.2.3.2.1 Warna Gelap
Warna gelap ini disebabkan oleh proses oksidasi terhadap tokoferol
(vitamin E). Jika minyak bersumber dari tanaman hijau, maka zat kloroifil yang
berwarna hijau turut terekstraksi bersama minyak, dan klorofil tersebut sulit
dipisahkan dari minyak.
Warna gelap ini dapat terjadi selama proses pengolahan dan penyimpanan,
yang disebabkan beberapa faktor yaitu :
1. Suhu pemanasan yang terlalu tinggi pada waktu pengepresan dengan cara
hidrolik atau ekspeller, sehingga sebagian minyak teroksidasi. Disamping itu
minyak yang terdapat dalam suatu bahan dalam keadaan panas akan
mengekstraksi zat warna yang terdapat dalam bahan tersebut.
2. Pengepresan bahan yang mengandung minyak dengan tekanan dan suhu yang
tinggi akan menghasilkan minyak dengan warna yang lebih gelap.
3. Ekstraksi minyak dengan menggunakan pelarut organik tertentu, misalnya
campuran pelarut petroleum-benzen akan menghasilkan minyak dengan.
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
19
Warna lebih merah dibandingkan dengan minyak yang diekstraksi dengan
pelarut triklor-etilen , benzol dan heksan.
4. Logam seperti Fe, Cu dan Mn akan menimbulkan warna yang tidak diingini
dalam minyak.
5. Oksidasi terhadap fraksi tidak tersabunkan dalam minyak, terutama oksidasi
tokoperol dan chroman 5,6 qoinon menghasilkan warna kecoklat - coklatan.
2.2.3.2.2 Warna Coklat
Pigmen coklat biasanya hanya terdapat pada minyak yang berasal dari
bahan yang telah busuk atau memar. Hal ini dapat terjadi karena reaksi molekul
karbohidrat dengan gugus pereduksi seperti aldehid serta gugus amin dari molekul
protein dan yang disebabkan oleh aktivitas enzim-enzim seperti phenol oxidase,
poliphenol oxidase dan sebagainya.
2.2.3.2.3 Warna Kuning
Warna kuning selain disebabkan oleh adanya karoten yaitu zat warna
alamiah juga dapat terjadi akibat proses adsorpsi dalam minyak tidak jenuh.
Warna ini timbul selama penyimpanan dan intensitas warna bervariasi dari kuning
sampai ungu kemerah merahan.
Umumnya warna yang timbul akibat degradasi zat warna alamiah amat
sulit dihilangkan, timbulnya warna ini dapat diidentifikasikan bahwa telah terjadi
kerusakan pada minyak. Untuk mencegah hal ini, pada proses umumnya
ditambahkan zat anti oksidan sedangkan minyak kelapa sawit itu sendiri telah
mengandung zat anti oksidan walaupun dalam jumlah sedikit .
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
20
2.2.4 β-karoten pada minyak sawit mentah (CPO)
Pada minyak sawit mentah kandungan β-karotennya sangat banyak sehingga
menyebabkan minyak sawit mentah berwarna kuning kemerah-merahan (Baharin,
et al., 2001). Kandungan karotennya mencapai 550 ppm dengan aktivitas
provitamin A 15 kali lebih tinggi dibandingkan wortel dan 300 kali lebih tinggi
dari pada tomat. Perlakuan pemanasan pada suhu 180-220oC selama 7-45 menit
menyebabkan retensi β-karoten menjadi 70-80 persen (Khomsan A, 2000). Angka
ini relatif tinggi sehingga β-karoten di dalam minyak sawit masih dapat
dimanfaatkan tubuh. Pada saat ini lebih dari 400 karoten telah dapat diidentifikasi,
namun hanya 50-60 karoten yang dapat berfungsi sebagai provitamin A. Beta
karoten merupakan karotenoid yang paling umum dijumpai sebagai pigmen dan
dikenal sebagai provitamin A dengan aktivitas lebih tinggi dibandingkan alfa dan
teta karoten (Khomsan, 2000). Di dalam tubuh, β-karoten akan mengalami
adsorpsi dan metabolisme. Sepertiga beta karoten yang diabsorbsi berbentuk utuh
dan diangkut oleh chylomicron, sedangkan sisanya dibuang melalui ekskresi.
Dalam metabolisme selanjutnya beta karoten nantinya akan diubah menjadi
vitamin A di dalam tubuh (Mutia, 2009).
Sangat baik mengomsumsi makanan yang mengandung β-karoten yang kaya
akan provitamin A karena dapat menyembuhkan buta senja (hemerolapia), bercak
bitot pada anak-anak penderita defisiensi vitamin, pencegah kanker, khususnya
kanker kulit dan paru (Khomsan, 2000). β-karoten dapat menjangkau lebih banyak
bagian-bagian tubuh dalam waktu relatif lebih lama dibandingkan vitamin A,
sehingga memberikan perlindungan lebih optimal terhadap munculnya kanker.
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
21
Akan
tetapi
mengkonsumsi
β-karoten
yang
berlebihan
ternyata
dapat
menyebabkan kulit berwarna kuning dan β-karoten dalam darah sangat tinggi.
Keadaan ini akan pulih kembali setelah kita menghentikan konsumsi pangan
sumber β-karoten. Selain itu konsumsi vitamin A yang berlebihan akan
menyebabkan hipervitaminosis A dengan gejala sakit pinggang, sakit perut, diare,
muntah, pusing, dan lain-lain (Khomsan A., 2000).
Beta karoten berwarna kuning kemerah-merahan atau kadang disebut
orange karena β-karoten mempunyai deretan delokalisasi seperti yang telah kita
lihat pada gambar 2.4 , tetapi pada skala yang lebih besar dengan 11 ikatan
rangkap dua karbon-karbon terkonjugasi bersama-sama (Clark J., 2007). Gambar
berikut menunjukan struktur β-karoten dengan ikatan rangkap dua dan ikatan
tunggal yang berselang-seling yang ditunjukkan dengan warna merah.
Gambar 2.5 Stuktur β-karoten
Yang lebih terdelokalisasi, mempunyai perbedaan energi antara energi tertinggi
orbital pi ikatan dan energi terendah orbital pi anti-ikatan lebih kecil. Karena itu
untuk mendorong elektron pada β-karoten dibutuhkan energi yang lebih kecil.
Energi yang rendah artinya sinar yang diserap frekuensinya lebih rendah dan hal
itu ekivalen dengan panjang gelombang yang lebih panjang (Clark J., 2007).
Berikut contoh spektrum UV standar dari β-karoten 10 ppm dengan panjang
gelombang 245 nm (Parwata, et al., 2010).
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
22
Gambar 2.6 Spektrum UV Senyawa Karotenoid
2.2.5 Bilangan Asam
Bilangan asam adalah jumlah milligram KOH 0,1 N yang dibutuhkan
untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam 1 gram minyak atau
lemak (Ketaren, 1986). Jadi bilangan asam ini dapat digunakan untuk mengukur
jumlah asam lemak bebas yang terdapat dalam suatu minyak atau lemak.
RCOOH + KOH
RCOOK + H2O
Bilangan asam dapat diukur dengan rumus :
Bilangan asam=
Keterangan : A
Skripsi
= Volume KOH untuk Titrasi (ml)
N
= Normalitas KOH (N)
Mr
= Massa molekul relatife KOH
G
= Berat sampel (g)
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
23
2.2.6 Standart mutu minyak kelapa sawit yang siap dipasarkan
Untuk menentukan apakah mutu minyak itu termasuk baik atau tidak
diperlukan standard mutu. Ada beberapa faktor yang menentukan standard mutu
yaitu: kandungan air dan kotoran dalam minyak kandungan asam lemak bebas
(ALB), warna dan bilangan peroksida. Faktor lain yang mempengaruhi standar
mutu adalah titik cair kandungan gliserida, refining loss, plastisitas dan
supreadability, kejernihan kandungan logam berat dan bilangan penyabunan.
Adapun ketentuan mutu minyak goreng yang dikeluarkan oleh Departemen
Perindustrian Republik Indonesia seperti terlihat pada tabel berikut:
Tabel 2.4 Syarat Mutu Minyak Goreng (SII, 1972)
No
Kandungan
1
Air
2
Kotoran
3
Bilangan iod ( gram iod / gram sampel)
4
Bilangan peroksida ( mg oksigen/ 100gr sampel)
5
Asam Lemak bebas
6
Warna, bau dan rasa
7
Logam-logam berbahaya (Pb, Cu, Hg dan As)
Persyaratan
Maksimum 0,3 %
maksimum 0,05%
Maksimum 8-10%
Maksimum 1%
Maksimum 0,3%
Normal
-
2.3 Penjernihan atau Penghilangan Warna
Tahap yang terpenting dalam pemurnian minyak nabati adalah
penghilangan bahan-bahan berwarna yang tidak diinginkan, dan proses ini
umumnya disebut dengan penjernihan atau penghilangan warna (decolorization).
Pada proses netralisasi, beberapa bahan berwarna biasanya dapat dihilangkan,
khususnya bila larutan alkali kuat digunakan akan tetapi beberapa bahan alami
yang terlarut dalam minyak (dimana sifatnya sangat karakteristik), biasanya tidak
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
24
dapat terlihat sebagai bahan pengotor minyak akan tetapi pengotor minyak ini
hanya dapat dihilangkan dengan perlakuan khusus.
Penjernihan minyak sawit dan lemak lainnya yang telah dikenal antara
lain:
1. Penjernihan dengan adsorpsi. Cara ini dilakukan dengan menggunakan bahan
penjernih seperti tanah liat (clay) dan karbon aktif.
2. Penjernihan dengan oksidasi. Oksidasi ini bertujuan untuk merombak zat warna
yang ada pada minyak tanpa menghiraukan kualitas minyak yang dihasilkan,
proses penjernihan ini banyak dikembangkan pada industri sabun.
3. Penjernihan dengan panas. Pada suhu yang tinggi zat warna akan mengalami
kerusakan, sehingga warna yang dihasilkan akan lebih pucat. Proses ini selalu
disertai dengan kondisi hampa udara.
4. Penjernihan dengan hidrogenasi. Hidrogenasi bertujuan untuk menjenuhkan
ikatan rangkap yang ada pada minyak tetapi ikatan rangkap yang ada pada
rantai karbon karoten akan terisi atom H. Karotena yang terhidrogenasi
warnanya akan bertambah pucat.
Minyak sawit merupakan salah satu minyak yang sulit dipucatkan karena
mengandung pigmen karotena yang tinggi sedangkan minyak biji-bijian lainnya
agak mudah karena zat warna yang dikandungnya sedikit. Oleh sebab itu, minyak
sawit dipucatkan dengan kombinasi antara adsorben dengan pemanasan. Minyak
yang dihasilkan dengan cara ini memenuhi sebagai lemak pangan.
Cara penjernihan minyak kelapa sawit yang umum dikembangkan ialah
kombinasi adsorben dengan waktu pemanasan. Dasar pemilihan tentang cara
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
25
penjernihan tergantung pada faktor warna, kehilangan minyak, kualitas minyak
dan biaya pengolahan.
Penggunaan adsorben serta panas yang digunakan dalam proses
penjernihan ini tidaklah selalu sama untuk semua pabrik pengolahan minyak
kelapa sawit, tetapi tergantung pada kondisi minyak kelapa sawit, proses pabrik
tertentu serta sifat adsorben yang digunakan. Umumnya penggunaan adsorben
adalah ( 1,0-5,0 )% dari berat minyak dengan pemanasan 120°C selama 1 jam.
Penjernihan adalah suatu tahap pemurnian yang tujuannya untuk
menghilangkan zat-zat yang tidak diinginkan atau dikehendaki dalam minyak.
Penjernihan ini dilakukan dengan cara mencampurkan sejumlah kecil absorben,
seperti tanah serap (filter earth), lempung aktif (activated clay) dan arang aktif
atau dapat juga menggunakan bahan kimia. Zat warna dalam minyak akan diserap
oleh permukaan adsorben dan juga menyerap suspensi koloid (gum dan resin),
serta hasil degradasi minyak misalnya peroksida (Ketaren, 1986).
2.4 Penjernihan dengan Menggunakan Adsorben
Proses penjernihan kelapa sawit dengan menggunakan adsorben, pada
prinsipnya adalah merupakan proses adsorpsi, dimana pada umumnya minyak
kelapa sawit dipucatkan dengan kombinasi antara adsorben dengan pemanasan
(Mutia, 2009). Adsorpsi merupakan peristiwa penyerapan pada lapisan permukaan
atau antar fasa, dimana molekul dari suatu materi terkumpul pada bahan
pengadsorpsi atau adsorben. Ditinjau dari bahan yang teradsorpsi dan bahan
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
26
pengadsorben adalah dua fasa yang berbeda, oleb sebab itu dalam peristiwa
adsorpsi materi teradsorpsi akan terkumpul antar muka kedua fasa tersebut.
Peristiwa adsorpsi pada prinsipnya adalah netralisasi gaya tarik yang
keluar dari suatu permukaan. Gaya tarik antar molekul pada permukaan dan
dengan yang berada pada bagian dalam suatu material adalah tidak sama. Molekul
pada permukaan cenderung menarik molekul disekitarnya, maka molekul pada
permukaan akan saling terikat lebih kuat satu sama lain, dan dapat menekan
molekul
dibawah permukaan,
sehingga
muncullah pengertian tegangan
permukaan.
Pendapat tentang mekanisme adsorpsi zat warna pada proses penjernihan
minyak kelapa sawit masih terdapat kesimpangsiuran, sebagian berpendapat
bahwa gejala tersebut adalah peristiwa kimia dan yang lain menyatakan hal itu
adalah peristiwa fisika, akan tetapi disimpulkan sebagai affinitas permukaan
terhadap substrat.
Pada adsorpsi fisika terjadi proses cepat dan setimbang (reversibel)
sedangkan adsorpsi kimia berlangsung lambat tetapi irreversibel. Perbedaan antara
adsorpsi kimia dengan adsorpsi fisika terkadang tidak jelas dan banyak prinsipprinsip adsorpsi fisika berlaku juga pada adsorpsi kimia.
Gaya-gaya yang terlibat pada proses adsorpsi antara lain gaya tarik Van
der Walls yang non polar, pembentukan ion hidrogen, gaya penukaran ion dan
pembentukan ikatan kovalen. Berdasarkan kekuatan dalam berinteraksi, adsorpsi
dibedakan menjadi dua yaitu : adsorpsi fisika dan adsorpsi kimia. Dalam adsorpsi
fisika atau fisisorpsi terjadi karena adanya gaya Van de Walls berupa gaya tarik
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
27
menarik antara adsorbat dengan adsorben. Sedangkan dalam adsorpsi kimia atau
kimisorpsi, partikel melekat pada permukaan dengan membentuk ikatan kimia dan
cenderung mencari tempat yang memaksimumkan bilangan koordinasinya dengan
adsorben (Atkins, 1997). Secara garis besar berbedaan antara adsorpsi fisika dan
adsorpsi kimia yaitu :
Tabel 2.5 Perbedaan antara Adsorpi Fisika dan Adsorpi Kimia
Adsorpsi Fisika
Adsorpsi Kimia
Perubahan entalpi adsorpsi besar
Perubahan entalpi adsorpsi kecil
(ΔH = 40-800 kj/mol)
(ΔH = 5-35 kj/mol)
Reaksi irreversible
Reaksi reversible
Adsorpi monolayer
Adsorpi multilayer
Prosesnya lambat
Prosesnya cepat
2.5 Spektrofotometer UV-Vis
Sinar monokromatis atau bukan monokromatis mengenai media yang
homogen, maka sebagian sinar akan dipantulkan, sebagian akan diserap oleh
medium dan sisanya akan diteruskan (KKKA, 2010). Molekul menyerap energi
dalam ultraviolet dan spektrun sinar tamapk bergantung pada struktur elektronik
dari molekul. Energi serapan menghasilkan elevasi electron dari orbital dasar ke
orbital lebih tinggi dikedudukan tereksitasi. Spektrofotometer ultraviolet akan
memberikan informasi yang berguna pada sistem terkonjugasi. Sering didapatkan
bahwa bagian komplek dari molekul adalah transparan di dalam UV (Kosela,
2010). Ada beberapa istilah tertentu yang penting biasa digunakan dalam UV
spektrofotometer:
a. Kromofor adalah gugus tak jenuh kovalen yang menyebabkan serapan
elektronik. Contoh: C=C, C=O, dan NO2.
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
28
b. Auksokrom adalah gugus jenuh yang apabila terikat pada suatu kromofor
akan mempengaruhi panjang gelombang (λ) dan intensitas serapan
maksimum. Contoh: OH, NH2 dan Cl.
c. Pergeseran batokromik (pergeseran merah). Pergeseran ini disebabkan
pengaruh subtituen atau pelarut, auksokrom, perubahan PH sehingga
menyebabkan pergeseran serapan kearah panjang gelombang (λ) lebih
panjang.
d. Pergeseran hipsokromik (pergeseran biru). Pergeseran ini disebabkan
subtituen atau pelarut, perubahan pH dan adanya system konjugasi yang
dihilangkan sehingga menyebabkan pergeseran serapan kearah panjang
gelombang (λ) lebih pendek.
e. Efek Hiperkromik adalah efek yang mengakibatkan kenaikan intensitas
serapan.
f. Efek hipokromik adalah efek yang mengakibatkan penurunan intensitas.
g. λ maksimum yaitu panjang gelombang pada serapan maksimum.
Spektrofotometer biasanya digunakan untuk memprediksi jenis atau golongan
senyawa dan menentukan kandungan senyawa dalam sampel.
2.6 Turbidimeter
Turbidimeter merupakan alat yang digunakan untuk menguji kekeruhan,
yang biasanya dilakukan pengujian adalah pada sampel cairan misalnya air. Salah
satu parameter mutu yang sangat vital adalah kekeruhan yang kadang-kadang
diabaikan karena dianggap sudah cukup dilihat saja atau alat ujinya yang tidak ada
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
29
padahal hal tersebut dapat berpengaruh terhadap mutu. Oleh sebab itu untuk
mengendalikan mutu dilakukan uji kekeruhan dengan alat turbidimeter (KKKA,
2010).
Turbidimeter yaitu sifat optik akibat dispersi sinar dan dapat dinyatakan
sebagai perbandingan cahaya yang dipantulkan terhadap cahaya yang tiba.
Intensitas cahaya yang dipantulkan oleh suatu suspensi adalah fungsi konsentrasi
jika kondisi-kondisi lainnya konstan. Turbidimeter meliputi pengukuran cahaya
yang diteruskan. Turbiditas berbanding lurus terhadap konsentrasi dan ketebalan,
tetapi turbiditas tergantung juga pada warna. Untuk partikel yang lebih kecil, rasio
Tyndall sebanding dengan pangkat tiga dari ukuran partikel dan berbanding
terbalik terhadap pangkat empat panjang gelombangnya (Endrah, 2010).
Prinsip spektroskopi absorbsi dapat digunakan pada turbidimeter. Pada
turbidimeter, absorbsi akibat partikel yang tersuspensi diukur. Meskipun prcsisi
metode ini tidak tinggi tetapi mempunyai kegunaan praktis, sedangkan akurasi
pengukuran tergantung pada ukuran dan bentuk partikel. Setiap instrumen
spektroskopi absorbsi dapat digunakan untuk turbidimeter (Anonim, 2010).
Metode pengukuran turbiditas dapat dikelompokkan dalam tiga golongan
(KKKA, 2010), yaitu :
a. Pengukuran perbandingan intensitas cahaya yang dihamburkan terhadap
intensitas cahaya yang datang.
b. Pengukuran efek ekstingsi, yaitu kedalaman dimana cahaya mulai tidak tampak
di dalam lapisan medium yang keruh.
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
30
c. Instrumen pengukur perbandingan Tyndall disebut sebagai Tyndall meter.
Dalam instrumen ini intensitas diukur secara langsung. Sedang pada
neflometer, intensitas cahaya diukur dengan larutan standar.
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Fisik Fakultas Sains dan
Teknologi Universitas Airlangga Mulai Januari sampai Juni 2012.
3.2 Bahan Penelitian
Bahan yang digunakan untuk penelitian ini yaitu : CPO dari PT. Makin
Group Kalimantan Selatan, bentonit Pacitan, KOH, β-karoten dari ekstrak wortel,
H2SO4, Etanol, akuades, Asam Oksalat, n-heksan, indikator Phenoftalein (PP),
klorofom.
3.3 Peralatan Penelitian
Alat-alat yang digunakan untuk penelitian ini adalah timbangan analitik,
hotplate, sentrifuge, buret, krus porselin, ayakan dengan ukuran 200 mesh, oven,
pengaduk
magnetik,
thermometer,
Portable
Turbidimeter
model
996,
Spektrofotometer UV-Vis Shimadzu tipe UV-1800 dan berbagai alat gelas yang
lazim digunakan di laboratorium kimia.
31
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
32
3.4 Diagram Alir Penelitian
Memisahkan fasa padat dan fasa cair
dari CPO dengan menggunakan alat
sentrifuge
Penyiapan sampel
Fasa padat
Fasa cair
Dengan variasi
jumLah bentonit
yang ditambahkan
Bentonit
Dipanaskan dengan
variasi waktu
Campuran CPO+bentonit
disentrifuse dalam keadaan panas
Memisahkan
antara
filtrate&absorben
Minyak sawit
murni
Penentuan
bilangan asam
Penentuan
β-karoten
pada Warna Minyak
Sawit
dengan
Spektrofotometer UVVis
Penentuan Kejernihan
Minyak Sawit dengan
Turbidimeter
3.5 Prosedur Kerja
3.5.1 Pembuatan larutan KOH 0,1 N
Menimbang sebanyak 6,6 KOH kemudian dilarutkan dengan akuades
sebanyak 1000 mL. kemudian diaduk hingga larut sempurna yang homogen.
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
33
3.5.2 Pembuatan larutan baku asam oksalat 0,1 N
Menimbang dengan teliti asam oksalat sebanyak 0,630 gram selanjutnya
dilarutkan dalam akuades sedikit demi sedikit hingga larut sempurna. Setelah itu
larutan asam oksalat dipindahkan secara kuantitatif ke dalam labu ukur 100 mL
dan ditambahkan lagi akuades hingga tanda batas. Larutan dikocok agar homogen.
3.5.3 Preparasi sampel
CPO yang diperoleh dari di sentrifuge terlebih dahulu. Hal ini bertujuan
untuk memisahkan antara padatan dengan minyaknya agar diperoleh CPO tanpa
padatannya.
3.5.4 Pembuatan adsorben bentonit aktif
Bentonit yang sudah dicuci sebanyak 5,000 gram ditambahkan H2SO4
0,1N sebanyak 200 mL. Langkah selajutnya direfluks pada suhu 80oC (Zuhri,
1997). Kemudiann dipisahkan hingga terdapat dua lapisan lalu didekantir dan
dioven selama 2 jam pada suhu 120oC. Selanjutnya ditumbuk hingga halus
kemudian diayak dengan ayakan 200 mesh.
3.6 Karakterisasi CPO Setelah Dimurnikan dengan Adsorben Bentonit
3.6.1 Penentuan kadar asam lemak
Ditimbang 0,100 gram sampel dimasukkan labu titrasi kemudian
ditambahkan 5 mL etanol dan 5 mL n-heksan lalu dikocok hingga homogen dan
ditambahkan indikator phenoftalein (pp). Langkah selanjutnya dititrasi dengan
KOH 0,1N. Sebelumnnya KOH sudah dibakukan terlebih dahulu dengan asam
oksalat. Titrasi dihentikan setelah larutan berubah warna menjadi merah jambu
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
34
yang dapat bertahan selama 30 detik (Sudarmaji, 1997). Untuk preparasi sampel,
Minyak sawit mentah (CPO) dipisahkan antara fasa cair dan fasa padatnya agar
didapatkan fasa cairnya.
Kemudian kadar asam lemak ditentukan sesuai dengan persamaan:
Kadar asam lemak = VKOH x NKOH x M
Berat sampel x 10
3.5.2 Penentuan β-karoten dalam minyak kelapa sawit
Analisis warna ini dilakukan dengan menggunakan alat Spektrofotometer
UV-Vis Shimadzu tipe UV-1800. Dari data analisis besarnya kandungan βkaroten yang masih terdapat dalam warna minyak sawit diketahui tingkat
kemurnian minyak sawit ini. Sebagai standar digunakan β-karoten dari ekstrak
wortel yaitu menimbang 0,100 gram dilarutkan dalam n-heksan sebanyak 10 mL
(larutan 10000 ppm). Dari larutan induk membuat larutan standar 10, 25, 50, 75,
100, 250, 500, 750 dan 1000 ppm. Selanjutnya membuat grafik kalibrasi untuk
menghitung kadar β-karoten dalam sampel.
3.5.3 Uji kekeruhan minyak kelapa sawit
Sebanyak 0,5 mL sampel dimasukkan dalam labu ukur 25 mL kemudian
ditambahkan kloroform sampai tanda batas. Kemudian diukur dengan Portable
Turbidimeter model 996. Dari data analisis kejernihan minyak ini dapat diketahui
tingkat kejernihan CPO.
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Penyiapan Sampel
Crude Palm Oil (CPO) yang akan dijernihkan diperoleh dari PT. Makin
Group Kalimantan Selatan berupa CPO yang masih ada padatannya sedangkan
dalam penelitian ini yang digunakan fase cair dari CPO. Untuk itu dilakukan
proses pemisahan dengan cara disentrifuge terlebih dahulu agar terpisah antara
fase padat dengan fase cair.
Gambar 4.1 CPO belum dipisahkan dengan padatannya
4.2 Pembuatan Adsorben
Adsorben dibuat dari bentonit alam Pacitan tanpa diaktivasi dan bentonit
Pacitan diaktivasi. Bentonit aktif dibuat dengan cara menimbang bentonit Pacitan
sebanyak 5,000 gram kemudian ditambahkan H2SO4 0,1 N sebanyak 200 mL
selanjutnya direflux (Zuhri, 1997).
Selanjutnya campuran disentrifugasi agar bentonitnya terpisah antara fase
padat dengan fase cair. Langkah selanjutnya menghilangkan ion SO42- dengan
35
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
36
cara dicuci dengan akuadem hingga bentonit terbebas dari SO42-. Berikutnya
bentonit aktif dioven selama 4 jam pada suhu 120oC agar bentonit aktif terbebas
dari H2O kemudian dihaluskan dan diayak dengan ukuran 200 mesh. Untuk
selanjutnya dilakukan uji untuk mengetahui luas permukaan bentonit. Luas
bentonit tanpa aktivasi 67.356 m2/g sedangkan luas permukaan bentonit setelah
diaktivasi 100.350 m2/g. Ada perbedaan antara bentonit sebelum diaktivasi
dengan sesudah diaktivasi. Luas permukaan bentonit setelah ditambahkan H2SO4
menjadi lebih besar.
Gambar 4.2 Bentonit aktif setelah dioven dan bentonit aktif dihaluskan
4.3 Decolorisasi (Penjernihan) CPO dengan Adsorben Bentonit
Untuk penjernihan, CPO sebanyak 10 mL ditambahkan adsorben bentonit
dengan variasi berat 1%, 2%, 3%, 4%, 5% dari volume CPO 10 mL (b/v).
Selanjutnya diaduk dengan stirrer magnetik dan dipanaskan pada suhu 120oC
dengan variasi waktu pemanasan 1, 2, 3, 4 dan 5 jam. Langkah berikutnya
didinginkan pada suhu ruangan kemudian di sentrifuge agar bentonit memisah
dengan minyak. Setelah disentrifuge terdapat 2 lapisan yaitu lapisan atas minyak
dan lapisan bawah bentonit, kemudian diambil minyaknya. Perlakuan ini
dilakukan untuk bentonit Pacitan tanpa aktivasi maupun bentonit Pacitan yang
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
37
diaktivasi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan ternyata bentonit
dapat dimanfaatkan sebagai pemurni warna CPO yang semula orange keruh
menjadi kuning jernih. Selain itu juga dapat menurunkan kadar asam, kadar βkaroten dan kekeruhannya. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan hasil
karakteristik CPO setelah dijernihkan menggunakan adsorben bentonit.
4.4 Hasil Karakteristik CPO Setelah Dijernihkan dengan Adsorben Bentonit
4.4.1 Kadar asam lemak setelah CPO mengalami proses penjernihan
Kadar asam merupakan konversi dari bilangan asam yang dihitung
berdasarkan berat molekul dari asam lemak yang dominan dalam jenis minyak
tertentu yang dinyatakan sebagai %FFA (Free Fatty Acid). Hasil pengukuran
kadar asam pada penambahan adsorben bentonit
tanpa aktivasi tertera pada
lampiran 2.
Berdasarkan data yang diperoleh, dibuat persamaan grafik sebagai berikut:
Gambar 4.3 Kurva dari CPO setelah proses pemurnian dengan adsorben bentonit
tanpa aktivasi
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
38
Dari gambar 4.3 diatas dapat diketahui bahwa kadar asam dalam CPO
berkurang dengan penambahan adsorben bentonit. Penurunan kadar asam tidak
stabil namun penuruan kadar asam mulai pada penambahan adsorben 1%.
Penurunan kadar asam paling banyak pada penambahan bentonit sebanyak 2%
pada waktu 75 menit.
Untuk pengukuran kadar asam pada penambahan adsorben bentonit aktif
tertera pada lampiran 2.
Berdasarkan data yang diperoleh, dibuat persamaan grafik sebagai berikut:
Gambar 4.4 Kurva hasil pengukuran kadar asam lemak penambahan adsorben
bentonit aktif
Dari gambar 4.4 diatas dapat diketahui kadar asam dalam CPO juga
mengalami penurunan apabila dijernihkan menggunakan adsorben bentonit aktif.
Penurunan kadar asam terjadi mulai pada penambahan bentonit aktif selama 1%
dan penuruan kadar asam paling rendah yaitu pada penambahan bentonit aktif
sebanyak 1 % pada waktu 60. Dalam penurunan kadar asam bentonit aktif lebih
besar jika dibandingkan dengan bentonit tanpa aktivasi. Hal ini disebabkan karena
luas permukaan bentonit aktif yang lebih luas sehingga lebih optimal dalam
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
39
mengadsorpsi CPO. Selain mempunyai kemampuan memurnikan warna CPO,
penambahan adsorben bentonit juga dapat menurunkan kadar asam lemak dalam
CPO sehingga menjadikan kualitas CPO setelah mengalami pemurnian lebih baik.
Ukuran molekul dan berat mempengaruhi adanya adsorpsi organik.
Semakin besar ukuran molekul dan berat ukuran organik maka semakin mudah
untuk mengalami proses adsorpsi. Crude Palm Oil (CPO) dominan mengandung
asam palmitat dengan berat molekul 263 dan komposisi 41% dari keseluruhan
berat minyak sehingga menghasilkan asam lemak yang cukup besar. Ukuran besar
tersebut menghasilkan gaya Van der Walls berupa tarikan antar molekul partikel
asam lemak bebas dengan adsorben sehingga menyebabkan menempelnya asam
lemak bebas pada adsorben (Mutia, 2000). Hal tersebutlah yang menyebabkan
kadar asam lemak pada CPO setelah dijernihkan dengan adsorben bentonit
menurun, baik bentonit tanpa aktivasi maupun bentonit aktif.
4.4.2 Penentuan Kadar β-karoten dalam CPO setelah mengalami adsorpsi
Crude Palm Oil (CPO) memiliki kandungan β-karoten yang tinggi. Untuk
mengamati β-karoten yang masih terkandung dalam CPO yang telah dijernihkan
dengan
bentonit
Pacitan
tanpa
aktivasi
maupun
diaktivasi
digunakan
Spektrofotometer UV-VIS Shimadzu tipe UV-1800.
Untuk standar digunakan ekstrak β-karoten dari wortel yang dilarutkan
dalam n-heksan. Pada pustaka disebutkan jika β-karoten yang dilarutkan dalam nheksan kemudian dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-VIS akan muncul
puncak didaerah panjang gelombang 425, 451 dan 482 (Kristianti, 2008). Pada
larutan ekstrak β-karoten dari wortel setelah dianalisis, puncak muncul pada
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
40
daerah 424,5; 447,5; dan 475 nm. Terdapat sedikit perbedaan antara panjang
gelombang pada standar dengan panjang gelombang yang ada pada literatur.
Terdapat sedikit pergeseran yaitu hipsokromik (pergeseran biru). Pergeseran
hipsokromik adalah pergeseran serapan kearah panjang gelombang (λ) lebih
pendek yang diakibatkan dari substituent atau pelarut yang digunakan (Kosela,
2010).
Langkah pertama membuat larutan induk yaitu menimbang 0,100 gram
ekstrak β-karoten dari wortel kemudian dilarutkan ke dalam n-heksan sebanyak 10
mL (larutan induk 10000 ppm). Selanjutnya membuat larutan induk dari larutan
standar β-karoten dengan variasi konsentrasi 0; 25; 50; 75; 100; 250; 500; 750;
1000 ppm. Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh data adsorbansi pada
panjang gelombang 447,5 nm yang tertera pada tabel 4.3.
Tabel 4.1 Absorbansi larutan standar
Konsentrasi (ppm)
0
25
50
75
100
250
500
750
1000
Skripsi
Absorbansi
0
0,006
0,025
0,043
0,052
0,098
0,156
0,246
0,316
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
41
Berdasarkan tabel 4.5 dibuat persamaan kurva standar β-karoten sebagai berikut:
Gambar 4.5 Kurva standar β-karoten
Dari gambar 4.5 standar β-karoten diatas diperoleh persamaan regresi
Y = 0,00584x+0,000222. Persamaan regresi ini selanjutnya digunakan untuk
menentukan kadar β-karoten dalam CPO setelah dijernihkan dengan adsorben
bentonit.
Langkah berikutnya menentukan absorbansi sampel. Sebanyak 1 mL CPO
yang telah dijernihkan dengan adsorben bentonit tanpa aktivasi dimasukkan dalam
labu ukur 10 mL dan ditambahkan n-heksan sampai tanda batas. Larutan ini
kemudian diukur pada panjang gelombang 447,5 nm dan diperoleh data yang
disajikan pada pada lampiran 3.
Berdasarkan data absorbansi CPO setelah dijernihkan dengan bentonit
tanpa aktivasi dan persamaan regresi kurva standar ekstrak β-karoten diatas,
diperoleh kadar β-karotennya yang tertera pada tabel 4.2.
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
42
Tabel 4.2 Kadar β-karoten CPO setelah dijernihkan dengan adsorben bentonit
tanpa aktivasi
Kadar β-karoten (ppm) setelah diadsorbsi (menit)
Adsorben
No
(%)
15
30
45
60
75
0
1
1%
234,72
232,15
222,22
187,46
186,61 186,26
2
2%
234,72
230,20
220,20
185,37
182,71 180,21
3
3%
234,72
223,11
210,15
184,20
180,36 178,20
4
4%
234,72
220,41
205,10
180,10
179,41 175,31
5
5%
234,72
210,31
200,13
175,30
179,61 170,24
Berdasarkan tabel diatas kemudian dibuat persamaan grafik sebagai berikut:
Gambar 4.6 kurva kadar β-karoten dalam CPO setelah dijernihkan dengan
adsorben bentonit tanpa aktivasi
Dari tabel 4.2 dan gambar 4.6 dapat diketahui bahwa setelah CPO
dijernihkan dengan absorben bentonit kadar β-karoten menjadi berkurang. Hal ini
disebabkan karena ada sebagian β-karoten yang ikut teradsorb oleh bentonit. Pada
kurva penambahan adsoben 1% menunjukkan kadar β-karoten paling tinggi jika
dibandingkan pada penambahan adsorben lainnya. Dikarenakan dengan waktu 15
menit hanya sedikit β-karoten yang ikut teradsorp oleh bentonit. Semakin lama
waktu untuk memurnikan CPO semakin banyak pula β-karoten yang ikut
teradsorb oleh bentonit.
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
43
Untuk selanjutnya menentukan absorbansi sampel CPO yang telah
dijernihkan dengan adsorben bentonit sehingga didapatkan data absorbansi pada
lampiran 3.
Berdasarkan data absorbansi CPO setelah dijernihkan dengan bentonit
aktif dan persamaan regresi kurva standar ekstrak β-karoten diatas, diperoleh
kadar β-karotennya yang tertera pada tabel 4.3.
Tabel 4.3 kadar β-karoten CPO setelah dijernihkan dengan adsorben bentonit aktif
Kadar β-karoten (ppm) setelah diadsorbsi (menit)
No Adsorben (%)
15
30
45
60
75
0
1
1%
234,72 200,41 198,32 197,11 182,63 180,71
2
2%
234,72 200,10 196,56 180,16 179,61 178,63
3
3%
234,72 198,37 196,71 179,38 178,86 176,21
4
4%
234,72 197,64 195,38 175,41 177,26 175,36
5
5%
234,72 195,51 194,10 174,32 170,39 165,13
Berdasarkan tabel diatas dibuat kurva sebagai berikut:
Gambar 4.7 kurva kadar β-karoten dalam CPO setelah dijernihkan dengan
adsorben bentonit aktif
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
44
Dari tabel 4.3 dan gambar 4.7 dapat diketahui bahwa setelah CPO
dijernihkan dengan absorben bentonit aktif kadar β-karoten juga menjadi
berkurang. Jika dibandingkan dengan tabel 4.2 dan gambar 4.6 kadar β-karoten
pada tabel 4.3 dan gambar 4.7 lebih rendah dikarenakan bentonit aktif memiliki
luas permukaan lebih besar sehingga lebih banyak mengadsorb β-karoten dalam
CPO. Crude Palm Oil (CPO) terbilang mengandung β-karoten sangat tinggi akan
tetapi karena proses adsorpi ini kandungannya berkurang. Karena hilangnya
sebagian β-karoten dalam CPO setelah dijernihkan dengan adsorben bentonit
perlu adanya desorpsi yaitu penambahan lagi ekstrak β-karoten ke dalam CPO
setelah dijernihkan dengan adsorben bentonit ini agar jumLah kadar β-karoten
bertambah. Sehingga menambah mutu dari CPO setelah dijernihkan.
4.4.3 Hasil Penentuan Kekeruhan Minyak
Penentuan kejernihan minyak pada sampel CPO setelah dijernihkan
dengan bentonit Pacitan tanpa aktivasi maupun diaktivasi dapat dilihat pada
dinyatakan dalam kekeruhan 4.4 dan 4.5.
Tabel 4.4 Hasil pengukuran kekeruhan CPO setelah dijernihkan dengan adsorben
bentonit
Kekeruhan CPO (NTU) setelah adsorpsi (menit)
Adsorben
No
(%)
0
15
30
45
60
75
1
1
2,60
2,60
2,57
2,53
2,06
1,55
2
2
2,60
2,54
2,56
2,48
2,02
1,00
3
3
2,60
2,47
2,56
2,42
2,01
1,38
4
4
2,60
2,41
2,50
2,24
1,96
1,42
5
5
2,60
2,03
2,37
1,83
1,94
1,54
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
45
Tabel 4.5 Hasil pengukuran kekeruhan CPO setelah dijernihkan dengan adsorben
bentonit aktif
Kekeruhan CPO (NTU) setelah adsorpsi (menit)
Adsorben
No
(%)
0
15
30
45
60
75
1
1
2,6
2,56
2,46
2,37
0,9
2,74
2
2
2,6
1,83
1,83
1,69
1,54
2,56
3
3
2,6
1,82
1,74
1,71
1,61
2,56
4
4
2,6
1,74
1,73
1,54
1,78
2,18
5
5
2,6
1,61
1,53
1,46
1,91
2,06
Berdasarkan tabel diatas dibuat kurva sebagai berikut:
Gambar 4.8 Kurva kekeruhan CPO setelah dijernihkan dengan adsorben bentonit
tanpa aktivasi
Gambar 4.9 Kurva kekeruhan CPO setelah dijernihkan dengan adsorben bentonit
aktif
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
46
Bentonit dapat mengadsorpsi kotoran yang ada pada CPO yang
mengakibatkan CPO menjadi keruh. Tabel 4.4 dan gambar 4.7 diketahui bahwa
CPO setelah dijernihkan dengan adsorben bentonit
dapat
menurunkan
kekeruhannya. Karena kemampuan bentonit mengadsorpsi warna CPO yang
semula orange keruh menjadi kuning jernih. Dari semua variasi penambahan
adsorben dan variasi waktu reaksi, adsorben bentonit sebanyak 2% dengan waktu
75 menit menunjukkan tingkat kekeruhan yang paling rendah pada penambahan
adsorben bentonit tanpa aktivasi. Sedangkan penurunan tingkat kekeruhan paling
rendah pada penambahan bentonit aktif yaitu pada penambahan adsorben
sebanyak 1% dengan waktu 60 menit (tabel 4.6 dan gambar 4.8). Apabila tingkat
kekeruhan rendah berarti tingkat kejernihannya tinggi. Jika membandingkan tabel
4.5 dan gambar 4.7, kekeruhan pada tabel 4.6 dan gambar 4.8 lebih rendah
disebabkan bentonit aktif memiliki luas permukaan lebih besar sehingga dapat
menurunkan kekeruhan lebih besar. Akan tetapi secara keseluruhan penambahan
adsorben bentonit baik tanpa aktivasi maupun aktif memiliki kejernihan lebih
tinggi dibandingkan tanpa penambahan adsorben.
Berdasarkan beberapa hasil variasi penambahan adsorben bentonit, variasi
waktu reaksi dan karakteristik CPO setelah dijernihkan dengan adsorben bentonit
dapat diketahui komposisi optimal bentonit Pacitan yang diaktivasi, dan tanpa
aktivasi dapat memurnikan CPO paling baik. Untuk penambahan adsorben
bentonit tanpa aktivasi yaitu pada penambahan adsorben bentonit sebanyak 2%
dengan waktu reaksi 75 menit sedangkan untuk penambahan bentonit aktif yaitu
pada penambahan adsorben bentonit sebanyak 1% dengan waktu reaksi 60 menit.
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
47
Diketahui pula bahwa bentonit aktif lebih efektif dalam pemurnian CPO
dikarenakan penambahan H2SO4 pada bentonit menyebabkan luas permukan
bentonit semakin besar karena ion-ion H+ dapat meningkatkan luas permukaan
bentonit yaitu dengan cara ion H+ tersebut menggantikan posisi kation pada ruang
interlamellar sehingga bentonit lebih bersifat porous dan sifat keelektrokimianya
lebih aktif. Selain itu asam mineral juga dapat melarutkan oksida-oksida yang
terkandung dalam bentonit sehingga bentonit yang diaktivasi dengan H2SO4 bisa
lebih optimum dan cepat dalam mengadsorpsi CPO dibanding dengan bentonit
tanpa aktivasi.
A
B
Gambar 4.10 CPO setelah dijernihkan dengan bentonit tanpa aktivasi (A) dan
bentonit aktif (B)
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa :
1. Bentonit Pacitan Jawa Timur yang diaktifkan dengan H2SO4, dan tidak
diaktifkan dapat dimanfaatkan untuk menjernihkan Crude Palm Oil (CPO)
dibuktikan dengan perubahan warna semula orange keruh menjadi kuning
jernih.
2. Komposisi optimal bentonit Pacitan yang tidak diaktifkan untuk
menjernihkan CPO yaitu 2% (0,2000 gram) dalam CPO 10 mL dengan
waktu pemanasan dan pengadukan dengan stirrer selama 75 menit
sedangkan komposisi optimal dari bentonit Pacitan yang diaktifkan dengan
H2SO4 yaitu 1% (0,1000 gram) dalam CPO 10 mL dengan waktu
pemanasan dan pengadukan dengan stirrer selama 60 menit.
3. Bentonit Pacitan yang diaktifkan dengan H2SO4 lebih efektif untuk
menjernihkan Crude Palm Oil (CPO) dibandingkan dengan Bentonit
Pacitan yang tidak diaktifkan. Hal tersebut dibuktikan dengan penambahan
luas permukaan bentonit yang diaktifkan sehingga lebih optimal dalam
menjernihkan CPO.
48
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
49
5.2 Saran
Untuk penelitian lebih lanjut, disarankan pada proses penjernihan Crude
Palm Oil (CPO) dengan adsorben bentonit Pacitan dengan variasi suhu
pemanasan untuk mengetahui apakah suhu pemanasan mempengaruhi dalam
proses penjernihan CPO.
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
DAFTAR PUSTAKA
Afriani, M., 2009, Hubungan Analisa DOBI (Deteration Of Bleachability Index)
dan β-karoten dalam CPO (Crude Palm Oil) Dengan Menggunakan
Spektrofotometri UV-VISIBLE, Karya Ilmiah, Program Studi Diploma 3 Kimia
Analisis, MIPA, Universitas Sumatera Utara, Medan
Amang, B., Simatupang, P., Syafa’at, N., 1996, Ekonomi Minyak Goreng, IPB
Press, Bogor
Atkins, P.W. (diterjemahkan oleh Irma I. Kartohadiprojo), 1997, Kimia Fisik, Jilid
2, Edisi Keempat, Penerbit Erlangga, Jakarta
Baharin, B. S., Latif, R. A., Che Man, Y. B., Rahman, R. A., 2001, The effect of
Carotene Extraction System on Crude Palm Oil Quality, Carotene
Composition, and Carotene Stability During, JAOCS, 76 (8): 851-855
Che Man, Y. B., Haryati, T., Ghozali, H. M., Asbi, B. A., 1999, Composition and
Encapsulation Cut Of Walls, Aplied Clay Science, 21: 1-11
Clark, J., 2010, Spektra Serapan UV-Tampak, Situs Kimia Indonesia, Chem-istry-org.
Fikri, M. E., dan Kusumadewi, R., 2001, Regenerasi Bentonit Bekas Secara
Kimia Fisik dengan Aktivator Asam Klorida dan Pemanasan Pada Proses
Pemurnian CPO, Penelitian, Jurusan Teknik Kimia, Universitas Lampung,
Lampung
Grim, R. E., 1968, Clay Mineralogy, Mc Graw-Hill Book Company, New York
Istadi, 2011, Teknologi Katalis untuk Konveksi Energi, Yogyakarta: Graha Ilmu
Ketaren, S., 1986, Minyak dan Lemak Pangan, UI Press. Jakarta: 1-315
Khomsan, A., 2000, Manfaat Minyak Goreng Bagi Kesehatan, MMAIPB, Kliping
Agribisnis, MMA-IPB
Kosela, S., 2010, Cara Mudah Penentuan Struktur Molekul Berdasarkan Spektra
Data (NMR, MASS, IR, UV), UI Press. Jakarta : 201-223
Kun-She Low, Chnoong-Kheng Lee, Lee-Yong Kong, 1998, Decolorisation of
CPO by Acid Activated Spent Bleaching Earth, Journal of Chemical
Technology and Biotechnology. Volume 72 : 67-73
50
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
51
Mark, E. R., Jhon, J. Mc Ketto, Othmer, D. F., 1967, Bentonites In Encyclopedia
of Chemical Technology, 2th ed. (7): 339-358
Martianto, 2005, Possibility of Vitamin A Fortification on Cooking Oil in
Indonesia, A Feasiility Analysis, Kualisi Fortifikasi Indonesia
Martianto, D., Marliyati, S. A., Retnaningsih, Handaru, T. M., 2009, Studi
Penerimaan dan Preferensi Konsumen Terhadap Minyak Goreng yang
Difurtifikasi Vitamin A, Jur. Ilm. Kel. Dan Kons, 2(1): 86-95
Moh, M. H., Che Man, Y. B., Badlishah, B. S., Jinap, S., Saad, M. S., Abdullah,
W. J. W., 1999, Quantitative Analysis of Palm Carotene Using Fourier
Transform Infrared and Near Infrared Spectroscopy, JAOCS, 76(2): 249-254
Morad, N. A., Zin, R. M., Yusof, K. M., Aziz, M. K. A., 2010, Process Modeling
of Combined Degumming and Bleaching in Palm Oil Refening Using
Artificial Neuron Network, JAOCS, 87: 1381-1388
Parwata, I. M. O. A., Ratnayani, K., Listya, A., 2010, Aktivitas Antiradikal
Bebas Serta Kadar β-karoten Pada Madu Randu (Ceiba petandra) dan Madu
Kelengkeng (Nephelium longata L.), Jurnal Kimia, 4 (1): 54-62
Oronivora, Z, Mockovciakoca, A., 2009, Structural Studi of Bentonite / Iron
Oxide Composite, Material Chemistry and Physics, 114: 956-961
Rahadjeng, S., 1991, Pengaruh Bentonit Aktif Terhadap Mutu Minyak Goreng,
Lembaga Penelitian Universitas Airlangga, Surabaya.
Rahmawati, A., 2005, Adsorpsi Isoterm Mimyak Goreng Curah dengan
Menggunakan Adsorben Campuran Arang Aktif dan Bentonit Aktif, Skripsi,
Jurusan Kimia, FSAINTEK, Universitas Airlangga, Surabaya
Ran, C., Daemen, J. J. K., Schuhen, M. D., Hansen, F. D., 1997, Dynamic
Compaction Properties of Bentonite, Int. J. Rock Mech. & Min. SCI, 34(25): 1-20
Reddy, C. R., P. Iyengar, G. Nagendrappa, B. S. J. Pakash, 2005, Exterification of
Dicarboxylic Acid to Diester Over M+ Montmorillonite Clay Catalysis, Catalysis
Letter, Vol. 101, p.87
Standar Industri Indonesia, 1972, Mutu dan Cara Uji Minyak Goreng,
Departemen Perindustrian Republik Indonesia, Jakarta
Syuhada, Rachman Wijaya, Jayanti, Rohman, S., Modifikasi Bentonit (Clay)
menjadi Organoclay dengan Penambhan Surfaktan, Jurnal Nanosains dan
Nanoteknologi, 2(1): 48-51
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
52
Syukur, 1997, Pengaruh Perlakuan Pemanasan Pada Bentonit Terhadap Luas
Permukaannya, Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Arlangga. Surabaya
Svehla, G., 1985, Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimakro,
Edisi Ke 5, Penerbit : PT. Kalman Media Pustaka, Jakarta
Tan, K. H., 1991, “Dasar-Dasar Kimia Tanah”, Terj. Didiek Hajar Geonardi,
Edisi II, Gajahmada University Press, Yogyakarta, P. 100-107
Ulfa, M., 2005, Pemucatan Minyak Goreng Bekas Menggunakan Adsorben
Campuran Arang Aktif dan Bentonit Aktif, Skripsi, Jurusan Kimia,
FSAINTEK, Universitas Airlangga, Surabaya
Wigati, 1998, Karakteristik Pertukaran Kation Fe (III) Pada Bentonit,
Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Airlangga
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
LAMPIRAN
Lampiran 1. Data Penambahan Berat Adsorben Bentonit Pada CPO
Adsorben (%) Berat bentonit ( gram)
Volume CPO (ml)
1
0,100
10
2
0,200
10
3
0,300
10
4
0,400
10
5
0,500
10
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Lampiran 2. Hasil kadar lemak CPO setelah dimurnikan dengan adsorben bentonit
2.1.1 Pembuatan Pembakuan Larutan Baku Asam Oksalat
Pertama perhitungan pembuatan larutan asam oksalat (H 2C2O4.2H2O) 0,1
N sebanyak 100 mL yang digunakan untuk pembakuan larutan KOH :
Perhitumgan :
Mr H2C2O4.2H2O
BE H2C2O4.2H2O
= 126
=
=
Massa H2C2O4.2H2O =
Kemudian
menimbang
= 63
=
= 0,63 gram
H2C2O4.2H2O.
akhirnya
diperoleh
massa
H2C2O4.2H2O sebesar 0,6352 gram lalu ditambahkan dengan akuades sampai
tanda batas dalam labu ukur 100 mL.
Perhitungan :
Massa H2C2O4.2H2O yang ditimbang = 0,6352 gram
M H2C2O4.2H2O
=
=
N H2C2O4.2H2O
= 2 x M H2C2O4.2H2O
= 2 x 0,0504
= 0,1008 N
= 0,0504 M
Tabel hasil pembakuan larutan KOH menggunakan larutan H2C2O4.2H2O
V H2C2O4.2H2O
N H2C2O4.2H2O
V KOH
V KOH rata-rata
(mL)
(N)
(mL)
(mL)
5,00
0,1008
4,65
5,00
0,1008
4,75
4,73
5,00
0,1008
4,80
2.1.2 Penentuan Normalitas KOH
Setelah memperoleh V KOH rata-rata bisa untuk mencari normalitas KOH dengan
menggunakan rumus :
V1 . N1 = V2 . N2
V asam oksalat . N asam oksalat = V KOH. N KOH
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
N KOH
=
=
= 0,1066 N
2.1.3 Contoh perhitungan kadar asam dalam CPO yang telah dijernihkan dengan
adsorben bentonit
Perhitungan bilangan asam dan kadar asam pada CPO yang telah
dimurnikan dengan adsorben bentonit sebanyak 2 % dengan waktu pemanasan
dan pengadukan selama 75 menit.
Replikasi 1
Berat CPO yang ditimbang
= 0,104 gram
Normalitas KOH
= 0,1066 N
Volume KOH untuk titrasi
= 0,2 ml
Berat molekul KOH
= 56,11
Berat molekul asam lemak untuk minyak kelapa sawit (M) = 263
Kadar asam
%
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
2.1.4 Hasil Pengamatan Kadar Asam dalam CPO setelah dijernihkan dengan
adsorben bentonit
2.1.4.1 Data berat CPO dan volume KOH untuk perhitungan kadar asam lemak
dalam CPO setelah adsorpsi pada penambahan adsorben bentonit tanpa
aktivasi
2.1.4.1.1 Untuk penambahan adsorben 1%
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
2.1.4.1.2 Untuk penambahan adsorben 2%
2.1.4.1.3 Untuk penambahan adsorben 3%
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
2.1.4.1.4 Untuk penambahan adsorben 4%
2.1.4.1.5 Untuk penambahan adsorben 5%
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
2.1.4.1.6 Kadar asam lemak dalam CPO setelah dijernihkan dengan adsorben
bentonit tanpa aktivasi
Adsorben
Kadar asam lemak (%) setelah adsorpsi (menit)
0
15
30
45
60
75
1
7,82
7,74
7,42
7,23
5,43
4,31
2
7,82
6,76
7,10
6,01
5,27
4,21
3
7,82
6,45
7,58
7,58
5,14
4,57
4
7,82
7,74
7,64
5,31
5,36
4,58
5
7,82
5,74
5,64
5,12
4,41
4,59
2.1.4.2 Data berat CPO dan volume KOH untuk perhitungan kadar asam lemak
dalam CPO setelah adsorpsi pada penambahan adsorben bentonit aktif
2.1.4.2.1 Untuk penambahan adsorben 1%
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
2.1.4.2.2 Untuk penambahan adsorben 2%
2.1.4.2.3 Untuk penambahan adsorben 3%
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
2.1.4.2.4 Untuk penambahan adsorben 4%
2.1.4.2.5 Untuk penambahan adsorben 5%
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
2.1.4.2.6 Kadar asam lemak dalam CPO setelah dijernihkan dengan adsorben
bentonit aktif
Kadar asam lemak (%) setelah adsorpsi (menit)
Adsorben
Skripsi
0
15
30
45
60
75
1
7,82
7,75
7,78
7,67
4,34
5,25
2
7,82
7,53
6,76
6,36
5,01
5,21
3
7,82
7,49
7,15
7,58
5,41
4,99
4
7,82
7,16
7,12
7,27
5,32
5,03
5
7,82
7,12
7,22
7,12
5,11
5,18
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Lampiran 3. Hasil kadar β-karoten dalam CPO setelah dijernihkan dengan
adsorben bentonit
3.1 Pembuatan larutan induk
Pertama membuat larutan induk yaitu menimbang 0,1000 gram ekstrak βkaroten dari wortel kemudian dilarutkan ke dalam n-heksan sebanyak 10 ml
(larutan induk 10000 ppm).
Berat standar β-karoten yang ditimbang
= 0,1000 gram = 100 mg
Volume n-heksan
= 10 mL = 0,001 L
Ppm
=
= 100.000 ppm
3.2 Pembuatan Larutan Standar β-karoten 0; 25; 50; 75; 100; 250; 500; 750; 1000
Pembuatan larutan standar β-karoten dari larutan induk dengan
menggunakan rumus:
V1 . N1 = V2 . N2
Contoh pembuatan larutan standar 1000 ppm
V1 . N1 = V2 . N2
V larutan induk . N larutan induk = V larutan standar . N larutan standar
V larutan induk . 100000 ppm = 10 ml . 1000 ppm
V larutan induk = 0,1 ml
3.3 Data Absorbansi Larutan Induk
Konsentrasi (ppm)
0
25
50
75
100
250
500
750
1000
Skripsi
Absorbansi
0
0,006
0,025
0,043
0,052
0,098
0,156
0,246
0,316
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Gambar3.1 Grafik larutan standar antara konsentrasi dengan absorbansi
3.4 Mengitung kadar β-karoten dari CPO setelah adsorpsi
Mengitung
kadar
β-karoten
dari CPO
setelah adsorpsi dengan
memasukkan adsorbansi yang telah diperoleh dari pengukuran menggunakan
Spektrofotometri UV-VIS kedalam rumus y = 0,00584x+0,000222. Absorbansi
sebagai y sehinnga memperoleh nilai x sebagai kadar dalam ppm.
Contoh perhitungan kadar β-karoten pada penambahan adsorben bentonit tanpa
aktivasi sebanyak 2% dengan waktu pemanasan dan pengadukan 75 menit.
Absorbansi = 0,216
y
= 0,00584x + 0,000222
0,216 = 0,00584x + 0,000222
x
= 960 ppm
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
3.5 Kadar β-karoten CPO setelah dijernihkan dengan adsorben bentonit tanpa
aktivasi
Adsorben (%) Waktu (menit)
Absorbansi
Kadar β-karoten (ppm)
1,3709868
234,72
15
1,356
232,15
30
1,298
222,22
1
45
1,095
187,46
60
1,090
186,61
75
1,088
186,26
15
1,345
230,20
30
1,286
220,20
2
45
1,083
185,37
60
1,067
182,71
75
1,053
180,21
15
1,303
223,11
30
1,227
210,15
3
45
1,076
184,20
60
1,054
180,36
75
1,041
178,20
15
1,287
220,41
30
1,198
205,1
4
45
1,052
180,1
60
1,048
179,41
75
1,024
175,31
5
15
1,228
210,31
30
1,169
200,13
45
1,024
175,30
60
1,049
179,61
75
0,994
170,24
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
3.6 Kadar β-karoten CPO setelah dijernihkan dengan adsorben bentonit aktif
Adsorben (%) Waktu (menit)
Absorbansi
Kadar β-karoten (ppm)
1,371
234,72
15
1,171
200,41
30
1,158
198,32
1
45
1,151
197,11
60
1,067
182,63
75
1,056
180,71
15
1,169
200,10
30
1,148
196,56
2
45
1,052
180,16
60
1,049
179,61
75
1,043
178,63
15
1,159
198,37
30
1,149
196,71
3
45
1,048
179,38
60
1,045
178,86
75
1,029
176,21
15
1,154
197,64
30
1,141
195,38
4
45
1,025
175,41
60
1,035
177,26
75
1,024
175,36
15
1,142
195,51
30
1,134
194,1
5
45
1,018
174,32
60
0,995
170,39
75
0,965
165,13
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Lampiran 5 Hasil analisis luas permukaan bentonit tanpa aktivasi dan bentonit
aktif
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Skripsi
Bentonit Pacitan Sebagai
Adsorben Untuk Decolorisasi Crude Palm Oil (CPO)
Wike Arnovia Yana Ayu Kusuma
Download