5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Tanaman Cabai Merah

advertisement
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Deskripsi Tanaman Cabai Merah (Capsicum annum L.)
Tanaman cabai merupakan salah satu komoditi penting yang berasal dari
Meksiko (Kusandriani 1996; Suwandi 1996). Menurut Suwandi (1996), tanaman
cabai diperkenalkan ke Asia pada abad 16 oleh pengembara Portugis dan Spanyol
dari Amerika Selatan dalam perjalanan dagangnya dan menyebar sampai ke Asia
Tenggara termasuk Indonesia.
Menurut Cronquist (1981) cabai merah keriting diklasifikasikan sebagai
berikut :
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Ordo
: Solanales
Famili
: Solanaceae
Genus
: Capsicum
Species : Capsicum annum L.
Secara umum cabai memiliki banyak kandungan gizi dan vitamin, di antaranya
kalori, protein, lemak, karbohidarat, kalsium, vitamin A, B1 dan vitamin C. Tanaman
cabai merah (C. annum L.), merupakan salah satu komoditi holtikultura yang
tergolong tanaman semusim. Tanaman cabai merah keriting dihasilkan dari proses
persilangan atau disebut tanaman hibrida (Sastradiharja, 2011).
5
Pengaruh Ekstrak Rimpang..., Asriningsih, FKIP UMP 2014
6
Cabai merah merupakan herba tegak, 1 tahun atau menahun, sering kuat dan
bercabang lebar, tinggi 1-2,5 m. Pada bagian batang yang muda berambut halus.
Daunnya tersebar 2-3 helai dengan ukuran yang berbeda, panjang tangkai daun 0,52,5 cm dan helaian daunnya berbentuk bulat telur memanjang atau elips bentuk
lanset pada bagian pangkal meruncing sedangkan bagian ujungnya runcing. Pada
bagian bunganya mengangguk dengan tangkai 10-18 mm. Bunga cabai ini memiliki
kelopak yang berusuk berbentuk lonceng, gundul, panjangnya 2-3 mm dan
memepunyai 5 gigi. Mahkotanya berbentuk roda, terbagi menjadi 5, tinggi tabung 2
mm, tepian terbentang luas, dengan garis tengah 1,5-2 cm dan taju
berbentuk
runcing. Selain itu juga memiliki kepala sari yang semula ungu kemudian berubah
menjadi hijau perunggu (van Steenis dkk, 2008). Buah cabai merah keriting
berwarna hijau pada saat masih muda dan berwarna merah pada saat panen.
Permukaan buah rata, licin dan yang sudah matang berwarna cerah mengkilat
(Indroprahasto dan Madyasari, 2005). Panjang buah berkisar 9-15 cm, diameternya
1-1,75 cm dan berat bervariasi antara 7,5-15 g/buah. Letak buah menggantung pada
percabangan atau ketiak daun (Sastradiharja, 2011).
Di Indonesia terdapat 14 varietas hibrida cabai merah yang tersebar, salah satu
varietasnya adalah TM 999. Varietas ini merupakan golongan hibrida yang memiliki
bentuk tanaman tegak dengan tinggi 100-140 cm. Umur tanaman mulai berbunga
pada 65 HST dan umur panen 90 HST. Bentuk kanopi bulat, warna batang hijau,
warna kelopak bunga hijau, warna tangkai bunga hijau, mahkota berwarna putih,
kepala putik putih. Helaian daun 5-6 dengan bentuk buah yang ramping dan ujung
Pengaruh Ekstrak Rimpang..., Asriningsih, FKIP UMP 2014
7
runcing, kulit buah mengkilat pada buah muda berwarna hijau tua dan buah tua
berwarna merah (Prajnanta, 1991).
2.1.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Cabai
Menurut Setiadi (2000) ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
cabai antara lain : persiapan tanam (meliputi tempat pembenihan dan benih),
perawatan semaian, dan lokasi budidaya.
Tanaman cabai baik ditanam pada daerah rendah maupun pegunungan pada
akhir musim penghujan/menjelang musim kemarau (Maret-April). Tanaman ini tidak
tahan terhadap air hujan dan baik ditanam pada jenis tanah lempung dibandingkan
tanah liat. Untuk mendapatkan kuantitas dan kualitas yang tinggi, cabai menghendaki
tanah yang subur, gembur, kaya akan organik, tidak mudah becek (menggenang),
bebas cacing (nematoda), dan penyakit tular tanah. Kisaran pH tanah yang baik
adalah 5,5-6,8. Tanaman cabai dikenal sebagai tanaman sayuran yang dapat tumbuh
pada rentang suhu yang cukup luas, yakni pada kisaran 15-32° C, dengan suhu
optimum untuk pertumbuhan adalah 24-28° C. Selain itu
tanaman cabai juga
membutuhkan adanya cahaya matahari yang merupakan sumber energi utama bagi
kehidupan seluruh makhluk hidup di dunia dan memiliki pengaruh tidak kalah
pentingnya dengan suhu. Pada tanaman cabai pada umumnya cahaya yang
dibutuhkan adalah selama 12 jam/hari (Sastradiharja, 2011).
Pengaruh Ekstrak Rimpang..., Asriningsih, FKIP UMP 2014
8
2.1.2 Gangguan atau Kendala pada Tanaman Cabai
Selain diperlukannya biaya yang besar dan ketelatenan oleh petani, kendala
lain yang dihadapi oleh petani dalam budidaya cabai yaitu adanya gangguan penyakit
atau hama pada tanaman cabai tersebut (Mujahid, 2012).
a. Hama yang menyerang pada tanaman cabai
Hama yang menyerang pada tanaman cabai yang selama ini petani alami
adalah berupa hama trips (Thrips parvispinus karny) dan ulat grayak (Spodoptera
litura F.). Hama thrips sudah tidak asing lagi bagi para petani cabai. Thrips yang
menyerang cabai tergolong sebagai pemangsa segala jenis tanaman. Dengan panjang
tubuh sekitar ± 1 mm, serangga ini tergolong sangat kecil tetapi masih dapat dilihat
dengan mata telanjang. Thrips biasanya menyerang bagian daun muda dan bunga.
Serangan paling parah biasanya terjadi pada musim kemarau, tetapi tidak menutup
kemungkinan pada saat musim hujan bisa juga terjadi serangan. Gejala yang dapat
dikenali dari kehadiran hama ini adalah adanya strip-strip pada daun dan berwarna
keperakan. Adanya noda keperakan itu tidak lain akibat adanya luka dari cara makan
hama thrips. Dalam beberapa waktu kemudian, noda tersebut akan berubah warna
menjadi coklat muda. Yang paling membahayakan dari thrips adalah selain dia
sebagai hama perusak, juga sebagai carrier atau pembawa bibit penyakit (berupa
virus) yang menyebabkan penyakit pada tanaman cabai. Untuk itu, apabila mampu
mengendalikan hama thrips, tidak hanya memberantas dari serangan hama tetapi juga
dapat mencegah penyebaran penyakit akibat virus yang dibawanya (Mujahid, 2012).
Ulat grayak tidak berbeda dengan jenis ulat lain yang juga suka makan daun.
Namun keistimewaannya adalah saat memasuki stadium larva, hama ini termasuk
Pengaruh Ekstrak Rimpang..., Asriningsih, FKIP UMP 2014
9
hewan yang sangat rakus. Hanya dalam waktu yang tidak lama, daun-daun cabai bisa
rusak olehnya. Ulat yang setelah dewasa berubah menjadi sejenis ngengat ini akan
memakan daun-daunan pada masa larva untuk menunjang perkembangan
metamorfosis-nya. Ulat grayak tidak hanya menyerang tanaman cabai saja melainkan
juga tanaman pisang, bawang, pepaya, kentang, padi, kacang dan lain-lain
(Semangun, 1994).
b. Penyakit yang menyerang tanaman cabai
Penyakit yang menyerang pada tanaman cabai antara lain penyakit layu
bakteri, penyakit bercak daun dan penyakit bercak bakteri. Pada penyakit layu
bakteri merupakan penyakit nomor dua setelah antraknosa, diaman penyakit layu ini
disebabkan oleh bakteri Pseudomonas colanacearum. Penyakit ini ditandai adanya
layu pada tanaman cabe yang mengalami kesembuhan pada waktu sore hari, tetapi
lama kelamaan kelayuannya terjadi secara keseluruhan dan menetap. Bakteri ini
biasanya ditularkan melalui tanah, benih, bibit, sisa-sisa tanaman, pengairan,
nematoda atau alat-alat pertanian. Selain itu bakteri ini mampu bertahan selama
bertahun-tahun di dalam tanah dalam keadaan tidak aktif. Bakteri layu cepat meluas
terutama di tanah dataran rendah, gejala kelayuan yang mendadak seringkali tidak
bisa diantisipasi. Tanaman yang sehat tiba –tiba saja layu yang dalam waktu tidak
sampai 3 hari besoknya langsung mati. Penyakit bercak daun merupakan penyakit
yang disebabkan oleh Phytoptora capsici. Penyakit ini ditandai dengan adanya
bercak-bercak berupa bulatan seperti cacar pada daun. Bila dibiarkan akan
menyebabkan daun-daun cabai gugur sehingga pertumbuhan kurang optimal. Gejala
pada daun tersebut ternyata baru serangan awal saja karena bila dibiarkan, akan
Pengaruh Ekstrak Rimpang..., Asriningsih, FKIP UMP 2014
10
menyerang batang, tangkai daun serta tangkai bunga. Seperti halnya layu bakteri,
cendawan Cercospora capsici penyebab bercak daun ini dapat bertahan hidup pada
sisa-sisa tanaman. Sedangkan yang terakhir penyakit bercak bakteri ini disebabkan
oleh Xanthomonas campetres. Tanaman cabai yang terserang penyakit ini awalnya
terlihat memiliki bercak sirkuler berukuran kecil, kemudian timbul bisul berwarna
hijau pucat yang ditengahnya melekuk kedalam. Patogen ini menyerang daun, buah,
dan batang. Di tempat terserang tampak bintik-bintik berwarna cokelat di tengah dan
dikelilingi lingkaran klorosis tidak beraturan. Gejala sangat jelas terlihat di
permukaan daun sebelah atas. Di buah, gejala serangan ditandai adanya bercak
cokelat (Semangun,1994).
2.1.3 Antraknosa
Antraknosa merupakan penyakit yang selalu ditemukan dan hampir selalu
terjadi di setiap areal tanaman cabai. Penyakit antraknosa ini disebabkan oleh jamur
Colletotrichum capsici. Penyakit antraknosa atau dalam bahasa Jawanya patek ini
sangat merugikan petani cabai, karena bisa menurunkan hasil panen 20-90 %.
Penyakit ini dapat berkembang dengan pesat apabila kelembaban udara cukup tinggi
yaitu lebih dari 80 % RH dengan suhu 320C, apalagi jika terpacu lahan budidaya
yang terdapat banyak gulma. Selain menyebabkan penurunan hasil, penyakit ini juga
dapat merusak nilai estetika dari cabai itu sendiri. Serangan patogen ini dapat terjadi
baik sebelum maupun setelah panen. Penurunan hasil akibat antraknosa dapat
mencapai 50 % atau lebih (Amilin, et al., 1995 dan Semangun, 2004).
Pengaruh Ekstrak Rimpang..., Asriningsih, FKIP UMP 2014
11
Nurhayati (2006), menyatakan bahwa untuk mengatasi antraknosa telah
digunakan fungisida yang alami antara lain dengan menggunakan ekstrak daun sirih,
kulit jeruk, daun nimba, brotowali dan biji jarak.
Gambar 2.1 Cabai yang terserang antrakosa
a.
Klasifikasi Colletotrichum capsici
Penyakit antraknosa pada tanaman cabai (C. capsici) merupakan penyakit yang
menjadi kendala utama dalam usaha budidaya cabai. Klasifikasi jamur C. capsici
pada tanaman cabai (C. annum) menurut Singh (1998), diklasifikasikan sebagai
berikut :
Kingdom: Fungi
Divisio : Aschomycotina
Classis : Pyrenomycetes
Ordo
: Sphaeriales
Famili
: Polystigmataceae
Genus
: Colletotrichum
Spesies : C. capsici
C. capsici sebagai patogen penyakit antraknosa dapat menyerang pada setiap
bagian tanaman. Serangan pada batang dan daun tidak menimbulkan masalah yang
Pengaruh Ekstrak Rimpang..., Asriningsih, FKIP UMP 2014
12
berarti bagi tanaman, tetapi dari bagian inilah penyakit dapat berkembang ke buah
dan menimbulkan masalah yang sangat serius. Buah yang terserang akan
menimbulkan gejala bercak bewarna hitam dan dapat berkembang menjadi busuk
lunak. Serangan yang berat dapat menyebabkan seluruh buah mengering, keriput dan
buah menjadi rontok ke tanah (Semangun, 1994).
b. Morfologi Colletotrichum capsici
C. capsici semula disebut Colletotrichum nigrum yang diduga juga sama
dengan Vermicularia capsici. Jamur ini mempunyai banyak aservulus, tersebar di
wilayah kutikula atau pada permukaan, garis tengahnya sampai 100 µm, berwarna
hitam dengan mempunyai banyak seta. Setanya berwarna coklat tua,
mempunyai sekat, kaku, dan bentuknya meruncing ke atas dengan ukuran 75 100x2-6,2 µm. Konidium hialain, berbentuk tabung (silindris), 18,6 -25,0 x
3,5-5,3 µm, ujung-ujungnya tumpul atau bengkok seperti sabit. Jamur
membentuk banyak sklerotium dalam jaringan tanaman sakit atau dalam
medium biakan (Semangun, 1994).
c. Siklus Hidup
Siklus hidup dari jamur C. capsici yang terdapat pada tanaman Cabai (Capsicum
annum L.) yaitu berawal dari buah masuk menginfeksi biji. Pada umumnya jamur
ini menginfeksi semai yang tumbuh dari biji buah yang sakit. Jamur ini juga
menyerang daun dan batang, hingga buah tanaman dan dapat mempertahankan
dirinya dalam sisa-sisa tanaman sakit. Kemudian konidium dari jamur ini akan
disebarkan oleh angin (Semangun, 1994).
Pengaruh Ekstrak Rimpang..., Asriningsih, FKIP UMP 2014
13
d. Gejala Serangan
Gejala serangan yang ditimbulkan oleh jamur C. capsici yang terdapat pada
tanaman cabai yaitu mula-mula berbentuk bintik-bintik kecil berwarna kehitaman
dan berlekuk, pada buah yang masih hijau atau yang sudah masak. Bintik-bintik ini
tepinya berwarna kuning, membesar dan memanjang. Bagian tengahnya menjadi
semakin gelap (Semangun, 1994).
2.2 Fungisida
Fungisida adalah zat kimia yang digunakan untuk mengendalikan cendawan
(fungi). Fungisida umumnya dibagi menurut cara kerjanya di dalam tubuh tanaman
sasaran yang diaplikasi, yakni fungisida nonsistemik, sistemik, dan sistemik local.
Pada fungisida, terutama fungisida sistemik dan non sistemik, pembagian ini erat
hubungannya dengan sifat dan aktifitas fungisida terhadap jasad sasarannya.
Fungisida nonsistemik tidak dapat diserap dan ditranslokasikan didalam jaringan
tanaman. Fungisida nonsistemik hanya membentuk lapisan penghalang di permukaan
tanaman (umumnya daun) tempat fungisida disemprotkan berfungsi mencegah
infeksi cendawan dengan cara menghambat perkecambahan spora atau miselia jamur
yang menempel di permukaan tanaman (Chaube, 2006).
Fungisida sistemik diabsorbsi oleh organ-organ tanaman dan ditranslokasikan
ke bagian tanaman lainnya melalui pembuluh angkut maupun melalui jalur simplas
(melalui dalam sel). Fungisida sistemik lokal diabsorbsi oleh jaringan tanaman, tetapi
tidak ditranslokasikan ke bagian tanaman lainnya. Bahan aktif hanya akan terserap
ke sel-sel jaringan yang tidak terlalu dalam dan tidak sampai masuk hingga
pembuluh angkut (Chaube, 2006).
Pengaruh Ekstrak Rimpang..., Asriningsih, FKIP UMP 2014
14
Penggunaan fungisida yang berbahan dasar kimia, selama ini telah banyak
digunakan oleh para petani cabai. Hasilnya memuaskan namun fugsisida sistemik
dan nonsistemik ini harganya relatif mahal dan berdampak buruk bagi lingkungan.
Biofungisida bersifat ramah lingkungan sehingga aman bagi lingkungan, manusia
dan hewan karena tidak menyisakan residu bahan kimia yang berbahaya di dalam
tanah, sangat baik untuk pertanian organik (Prapagdee et al., 2008).
Ekstrak tumbuhan dapat digunakan sebagai biofungisida. Berbagai jenis
tumbuhan telah diketahui mengandung senyawa bioaktif antara lain alkaloid,
terpenoid, teroid, asetogenin, fenil propan, dan tanin yang bersifat toksik pada dosis
tinggi (Lenny, 2006). Minyak atsiri dari beberapa tumbuhan bersifat aktif sebagai
antibakteri dan anti jamur (Yuharmen et al., 2002). Hasil penelitian menunjukkan
beberapa ekstrak tumbuhan dapat mengontrol penyakit tanaman yang disebabkan
oleh jamur dan memberikan efek penghambatan perkecambahan spora jamur (Alam
et al., 2002). Tanaman yang sudah banyak digunakan sebagai fungisida alami antara
lain daun nimba, daun sirkaya, daun/buah mengkudu, bawang merah, daun/buah
sirsak, kecubung, daun kemangi, rimpang lengkuas. Ekstrak lengkuas diketahui
mampu menghambat pertumbuhan jamur Aspergillus spp (Purwoko dan Soesanti,
2008). Penelitian Sundari dan Winarno (2000) menunjukkan bahwa infus ekstrak
etanol rimpang lengkuas yang berisi minyak atsiri dapat menghambat pertumbuhan
beberapa jamur patogen yaitu Tricophyton, Microsporum gypseum, dan Epidermo
flocassum.
Pengaruh Ekstrak Rimpang..., Asriningsih, FKIP UMP 2014
15
2.4 Lengkuas (Alpinia galanga L.)
2.4.1
Deskripsi Lengkuas (Alpinia galanga L.)
Klasifikasi tanaman lengkuas berdasarkan penggolongan dan tata nama tumbuhan
menurut Conqruist (1981) adalah :
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Liliopsida
Bangsa
: Zingiberales
Suku
: Zingiberaceae
Marga
: Alpinia
Jenis
: Alpinia galanga. L.
Gambar 2.2 Rimpang lengkuas
Rimpang lengkuas berukuran besar dan tebal, berdaging, berbentuk silindris,
diameter 2-4 cm, dan bercabang-cabang. Bagian luar berwarna coklat agak
kemerahan atau kuning kehijauan pucat, mempunyai sisik-sisik berwarna putih atau
kemerahan, keras mengkilap, sedangkan bagian dalamnya berwarna putih. Daging
rimpang yang sudah tua berserat kasar. Apabila dikeringkan, rimpang berubah
menjadi agak kehijauan dan seratnya menjadi keras dan liat (Abuanjeli, 2010).
Pengaruh Ekstrak Rimpang..., Asriningsih, FKIP UMP 2014
16
Bentuk batang lengkuas tegak, tersusun oleh pelepah-pelepah daun yang
bersatu membentuk batang semu, berwarna hijau agak keputih-putihan. Batang muda
keluar sebagai tunas dari pangkal batang tua (Abuanjeli, 2010).
Daun tunggal berwarna hijau, bertangkai pendek tersusun berseling. Daun
disebelah bawah dan atas biasanya lebih kecil daripada yang ditengah. Bentuk daun
lanset memanjang dan ujungnya runcing, pangkal tumpul dengan tepi daun rata.
Pertulangan daun menyirip, panjang daun sekitar 20-60 cm, dan lebarnya 4-15 cm.
Pelepah daun kira-kira 15-30 cm, beralur dan berwarna hijau (Abuanjeli, 2010).
Bunganya merupakan bunga majemuk berbentuk lonceng, berbau harum,
berwarna putih kehijauan atau putih kekuningan. Ukuran perbungaan kurang lebih
10-30 cm x 5-7 cm. Jumlah bunga dibagian bawah tandan lebih banyak daripada di
bagian atas, panjang bibir bunga 2,5 cm, berwarna putih dengan garis miring warna
merah muda pada tiap sisi. Mahkota bunga yang masih kuncup pada bagian ujungnya
berwarna putih, sedangkan pangkalnya berwarna hijau (Abuanjeli, 2010).
Buahnya merupakan buah buni, berbentuk bulat, keras, ketika muda berwarna
hijau-kuning, setelah tua berubah menjadi hitam kecoklatan, berdiameter ± 1 cm.
Ada juga yang buahnya berwarna merah, bijinya kecil-kecil berbentuk lonjong dan
berwarna hitam (Sinaga, 2000.
2.4.2
Kandungan Kimia Lengkuas
Lengkuas dikenal mengandung senyawa kimia antara lain alkaloid, terpenoid
dan fenol. Pada golongan terpenoid senyawa yang terkandung kurang lebih 1%
minyak atsiri berwarna kehijauan yang terutama terdiri dari metil-sinamat 48%,
sineol 20%-30%, eugenol, kamfer 1%, seskuiterpen dan s-pinen (Mc Vicar, 1994).
Pengaruh Ekstrak Rimpang..., Asriningsih, FKIP UMP 2014
17
Terpenoid dikenal sebagai kelompok utama pada tanaman sebagai penyusun
minyak atsiri. Terpenoid mempunyai rumus dasar (C5H8)n atau dengan satu unit
isopren. Jumlah n menunjukkan klasifikai pada terpenoid yang dikenal dengan
monoterpen, seskwiterpen, diterpen, triterpen, tetraterpen dan politerpen. Struktur
terpenoid ada yang berbentuk siklik dan ada yang tidak (Wallis, 1981).
Kandungan kimia utama dari rimpang lengkuas adalah fenol yang merupakan
senyawa yang berasal dari tumbuhan yang umumnya ditemukan didalam vakuola sel.
Senyawa fenol memiliki beberapa sifat antara lain mudah larut dalam air, cepat
membentuk kompleks dengan protein dan sangat peka terhadap oksidasi enzim.
Komponen bioaktif pada golongan Zingiberaceae golongan fenol yang terbanyak
adalah jenis flavonoid yang merupakan golongan febolik terbesar. Pada golongan
flavonoid dikenal golongan flavonol. Komponen flavonol yang banyak tersebar pada
tanaman misalnya yang terdapat pada lengkuas adalah galangin, kaemferol, kuerstin,
dan mirisetin. Salah satu golongan flavonoid adalah kalkon. Kalkon adalah
komponen yang berwarna kuning terang. Komponen lainnya yang ditemukan pada
Alpinia adalah flavonon. Komponen flavonon dan dihidroflavonol dikenal sebagai
senyawa yang bersifat fungistatik dan fungisida dan yang terdapat pada tumbuhan
Alpinia dan Kaempferia dari golongan Zingiberaceae adalah alpinetin (Hezmela,
2006).
Pengaruh Ekstrak Rimpang..., Asriningsih, FKIP UMP 2014
18
4.2.3 Penggunaan Lengkuas
Tanaman lengkuas dikenal sebagai tanaman penghasil bahan pewangi dan
penambah flavor masakan. Rimpang yang muda dan segar dapat dimanfaatkan untuk
mengawetkan masakan. Rimpang lengkuas yang berwarna putih pemanfaatanya
banyak digunakan pada bidang pangan. Rimpang lengkuas selama ini dikenal
sebagai pengempuk daging dalam masakan dan digunakan sebagai salah satu rempah
bagi berbagai jenis bumbu masakan tradiional Indonesia (Heyne, 1987).
Lengkuas yang biasanya digunakan untuk pengobatan untuk pengobatan
adalah jenis lengkuas merah. Dalam farmakologi Cina dan pengobatan tradisional
lainnya disebutkan, lengkuas merah mempunyai sifat antijamur dan antikembung.
Efek farmakologi ini umumnya diperoleh dari rimpang yang mengandung basonin,
eugenol, galangan dan galangol. Basonin dikenal memiliki efek merangsang
semangat, eugenol sebagai antijamur C. albicans, antikejang, analgetik, dan
anastetik, galangan meredakan rasa lelah, meredakan rasa lelah dan antimutagenik,
sementara galangol dapat merangsang semangat dan menghangatkan tubuh. Khasiat
rimpang lengkuas juga sudah dibuktikan secara ilmiah melalui berbagai penelitian
sebagai antijamur, terutama pada penyakit kulit seperti panu (Hezmela, 2006).
Ekstrak lengkuas diketahui mampu menghambat pertumbuhan koloni kapang
dermatofit pada kelinci (Gholib dan Kusumaningtyas, 2007). Penelitian lain oleh
Soesanti dan Purwoko (2008) yaitu ekstrak rimpang lengkuas yang mampu
menghambat pertumbuhan jamur Aspergillus sp.
2.4.3
Pengujian Aktifitas Antijamur
Pengaruh Ekstrak Rimpang..., Asriningsih, FKIP UMP 2014
19
Pengujian aktivitas antijamur merupakan cara untuk menentukan kerentanan
jamur terhadap suatu zat antijamur. Beberapa faktor yang mempengaruhi aktifitas
antijamur secara in vitro antara lain adalah pH lingkungan, komponen media,
stabilitas zat antijamur, ukuran inokulum, masa inkubasi, dan aktivitas metabolisme
mikroorganisme (Asmaedy, 1991). Menurut Ganiswara (1995), metode pengujian
aktivitas antijamur in vitro berdasarkan prinsipnya dibagi menjadi :
a. Metode Difusi
Pada metode difusi, zat anti jamur ditentukan aktifitasnya berdasarkan
kemampuan berdifusi pada lempeng agar yang telah diinokulasi dengan jamur uji.
Dasar pengamatannya adalah dengan melihat ada atau tidaknya zona hambatan
(daerah bening yang tidak memperlihatkan adanya pertumbuhan jamur) yang
terbentuk disekeliling zat antijamur. Metode ini dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu
cara cakram dan sumur (Ganiswara, 1995).
1) Cara cakram (disc)
Pada cara ini dipergunakan cakram kertas aring yang mengandung suatu zat
anti jamur dengan kekuatan tertentu yang diletakkan pada lempeng agar yang telah
diinokulasi dengan jamur uji, selanjutnya diinkubasi pada suhu 37% C selama 7
sampai 14 hari. Pengamatan dilakukan terhadap daerah bening yang tebentuk
disekeliling kertas cakram yang menunjukkan zona hambatan pertumbuhan jamur
(Ganiswara, 1995).
Pengaruh Ekstrak Rimpang..., Asriningsih, FKIP UMP 2014
20
2) Cara sumur
Pada cara ini dipergunakan cakram kertas saring yang mengandung suatu zat
antijamur dengan kekuatan tertentu yang diletakkan pada lempeng agar yang telah
diinokulasi dengan jamur uji, selanjutnya diinkubasi pada suhu 37° C selama 7
samapi 14 hari. Pengamatan dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya zona
hambatan di sekeliling sumur (Ganiswara, 1995).
b. Metode Dilusi
Pada metode ini zat antijamur dicampur dengan media agar yang kemudian
diinokulasi dengan jamur uji. Pengamatan dilakukan dengan melihat tumbuh atau
tidaknya jamur dalam media. Aktifitas zat antijamur ditentukan dengan melihat
konsentrasi hambat minimum (KHM), yaitu konsentrasi hambatan terkecil dari zat
antijamur yang dapat menghambat pertumbuhan jamur uji. Metode ini dapat
dilakukan dengan 2 cara, yaitu cara penipisan lempeng agar dan pengenceran tabung.
1) Cara penipisan lempeng agar
Pada cara ini, zat uji diencerkan sehingga diperoleh suatu larutan uji yang
mengandung 100µg/ml, larutan ini sebagai larutan sediaan. Dari larutan sediaan
dibuat secara serial penipisan larutan uji dengan metode pengenceran kelipatan dua
dalam media agar yang masih cair, kemudian dituang ke dalam cawan petri. Jamur
uji diinokulasikan setelah agar membeku dan kering. Zat diinkubasi pada suhu 37%
C selama 7 sampai 14 hari. Aktivitas zat uji ditentukan sebagai KHM (Ganiswara,
1995).
2) Cara pengenceran tabung
Pengaruh Ekstrak Rimpang..., Asriningsih, FKIP UMP 2014
21
Prinsip dari cara ini adalah penghambatan pertumbuhan jamur dalam
pembenihan cair oleh suatu zat antijamur yang dicampur ke dalam pembenihan. Zat
uji diencerkan secara serial dengan metode pengenceran kelipatan dua dalam media
cair, kemudian diinokulasi dengan jamur uji dan diinkubasi pada suhu 37° C selama
7 sampai 14 hari. Aktivitas zat uji ditentukan sebagai KHM (Ganiswara, 1995).
Pengaruh Ekstrak Rimpang..., Asriningsih, FKIP UMP 2014
Download