keberbedaan stereotip etnis tionghoa pada gelang giok naga

advertisement
KEBERBEDAAN STEREOTIP ETNIS TIONGHOA
PADA GELANG GIOK NAGA
oleh Triana Rahmawati, Ibnu Wahyudi
Program Studi Indonesia, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
[email protected]
ABSTRAK
Nama
Program Studi
Judul
: Triana Rahmawati
: Indonesia
: Keberbedaan Stereotip Etnis Tionghoa pada Novel Gelang Giok Naga
Skripsi ini membahas keberbedaan stereotip etnis Tionghoa yang ditunjukkan oleh tokoh-tokoh
utama dalam novel Gelang Giok Naga karya Leny Helena. Ketiga tokoh tersebut adalah A Lin, A
Sui, dan Swanlin. Ketiganya merupakan etnis Tionghoa yang mewakili sifat-sifat stereotip yang
selama ini dikenal oleh masyarakat Indonesia. A Lin merupakan seorang perempuan Tionghoa
totok yang mewakili stereotip kaya, pelit, dan licik. Tokoh A Sui yang juga Tionghoa totok
mewakili masyarakat Tionghoa yang miskin meskipun sudah bekerja keras. Tokoh peranakan,
Swanlin, mewakili kaum muda Tionghoa yang sering dianggap eksklusif, dan tidak nasionalis.
Selain memiliki sifat-sifat stereotip, ketiga tokoh ini menunjukkan sisi kemanusiaaan etnis
Tionghoa yang belum banyak dibahas, yakni sifat baik dan buruk mereka yang muncul secara
manusiawi, bukan stereotip yang dapat dikenakan ke semua anggota etnis.
Kata kunci :
Diskriminasi, kaya, keberbedaan, miskin, peranakan, rajin, stereotipe, tidak nasionalis, Tionghoa,
totok
ABSTRACT
Name
Study Program
Title
:
:
:
Triana Rahmawati
Indonesia
Stereotype Differentness of Ethnic Chinese in Gelang Giok Naga
This thesis talks about the differentness of Chinese stereotype shown by the main characters in
the novel “Gelang Giok Naga”, a works from Leny Helena. Those characters are A Lin, A Sui
and Swanlin. All three are Chinese that represents stereotyped personality, which is widely
known by Indonesian people. A Lin, a full blooded (totok) Chinese woman represents the
stereotypical rich, stingy and cunning. Also a full blooded (totok) Chinese character, A Sui, a
poor Chinese despite working hard. A half-blood figures (peranakan), Swanlin, representing the
Chinese youth who are often considered exclusive and not nationalist. Besides having the
stereotyped personality, all three figures also shows their humanitarian side of Chinese people
who have not been widely discussed, the nature of good and bad which appears humanely, not a
stereotype that can be charged to all members of the ethnic.
Keberbedaan stereotip..., Triana Rahmawati, FIB UI, 2013
Key words:
Discriminations, rich, differentness, poor, peranakan, diligent, stereotype, not nationalist,
Tionghoa, totok
Pendahuluan
Indonesia adalah negara yang terdiri atas beraneka suku, bahkan juga ras. Meskipun
demikian, bukan berarti sejarah Nusantara bersih dari kekerasan rasial. Peristiwa-peristiwa
berdarah bahkan telah terjadi jauh sebelum Indonesia merdeka. Kekerasan ini biasanya ditujukan
kepada kelompok-kelompok minoritas yang jumlahnya kalah jauh bila dibandingkan dengan
kelompok mayoritas, sehingga mereka tidak bisa membela diri mereka. Salah satu kelompok
masyarakat yang sering menjadi korban kekerasan adalah masyarakat etnis Tionghoa. Sejarah
mencatat bahwa kekerasan yang ditujukan kepada etnis ini telah terjadi berkali-kali di masa yang
berbeda-beda. Beberapa buku yang membahas kekerasan yang menimpa Tionghoa diantaranya
ialah Dilema Minoritas Tionghoa karya Leo Suryadinata dan Tionghoa dalam Pusaran Politik
karya Y.G. Setiono. Dari dua buku tersebut, tercatat bahwa penderitaan masyarakat Tionghoa di
Indonesia telah lama terjadi, bahkan pembantaian massal atas etnis ini pernah berlangsung di
tahun 1740, saat kata “Indonesia” belum terbentuk. Tindakan kekerasan yang dialamatkan kepada
etnis Tionghoa berasal dari dua arah, yakni pemerintah dan masyarakat sekitarnya. Bentuk
kekerasannya pun beraneka ragam, dari kekerasan fisik hingga psikis melalui ucapan dan
tindakan yang cenderung rasis.
Satu hal yang paling berpengaruh atas terjadinya kekerasan-kekerasan tersebut adalah
adanya prasangka-prasangka negatif yang dilekatkan pada etnis ini. Prasangka yang melekat
sedemikian kuat sehingga berhasil memprovokasi tindak kekerasan tidak serta merta muncul,
tetapi dibangun dalam sebuah rentang waktu tertentu yang tidak sebentar. Menurut Alo Liliweri
(2005: 207) salah satu bentuk prasangka adalah stereotip. Stereotip merupakan bentuk prasangka
yang menunjukkan perbedaan kategori, yaitu (1) “kami” dengan “mereka” dan dikaitkan dengan
rasa superioritas dan inferioritas, (2) proses kategori sosial yang sifatnya sering menyenangkan
kelompok sendiri dan mengevaluasi orang lain dengan cara pandang kelompok “kami”.
Berdasarkan pengertian stereotip tersebut, kita dapat memahami dasar munculnya istilah
pribumi dan nonpribumi (selanjutnya akan ditulis “nonpri”). Selain menunjukkan kekuasaan
wilayah, yakni pribumi adalah pemilik tanah Nusantara dan nonpri adalah pendatang yang tidak
memiliki hak tanah, hal ini juga menunjukkan perbedaan yang dipertajam dalam bentuk
Keberbedaan stereotip..., Triana Rahmawati, FIB UI, 2013
panggilan. Selain menjadi penanda adanya diskriminasi dalam masyarakat sosial, pasangan
istilah itu juga sering menjadi alat untuk menunjukkan ketidaksetaraan, misalnya ketika
digunakan sebagai sebutan dalam percakapan. Meskipun istilah nonpri ditujukan kepada berbagai
etnis asing yang menetap di Indonesia, istilah ini lebih banyak dimaksudkan untuk menyebut
etnis Tionghoa, diperkirakan karena jumlah etnis tersebut lebih banyak dibanding etnis asing lain.
Bentuk-bentuk stereotip yang ditujukan kepada etnis Tionghoa digambarkan secara jelas
dalam novel Gelang Giok Naga. Gelang Giok Naga adalah sebuah novel yang menempatkan
warga Tionghoa sebagai tokoh utama. Seperti yang telah diketahui secara umum, dalam peristiwa
Mei 1998 lalu, etnis Tionghoa menjadi salah satu sasaran amuk massa. Penjarahan atas toko,
perusakan properti milik pribadi, pemerkosaan, dan pembunuhan ditujukan kepada etnis ini
karena mereka dianggap sebagai “nonpri”. Penyerangan tersebut terjadi bukan semata-mata
karena adanya golongan etnis Tionghoa yang memang kaya secara materi, namun juga karena
adanya propaganda pemerintah yang cenderung memarginalisasi dan membentuk gambaran
negatif etnis ini di lingkungan sosialnya.
Novel karya Gelang Giok Naga ini memang bukan satu-satunya novel yang menampilkan
etnis Tionghoa sebagai sudut pandang utama penceritaan, terlebih novel tersebut ditulis oleh
warga keturunan, seperti Leny Helena. Novel tentang etnis Tionghoa yang ditulis oleh orang
Tionghoa sendiri tentunya mempunyai kelebihan dalam membahas permasalahan seputar etnis ini
secara lebih mendalam. Sang penulis, Leny Helena, merupakan warga keturunan Tionghoa yang
mengalami masa represi Orde Baru. Penulis ini dilahirkan pada tahun 1975 dan dapat dipastikan
bahwa ia mendapat dampak langsung dari peraturan-peraturan rasial yang diberlakukan zaman
Orba. Saat peristiwa Mei 1998 terjadi, ia masih terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Hukum
Universitas Indonesia. Dari keterangan itu, saya
menengarai bahwa ia sangat mungkin
mengalami sendiri beberapa bagian dari kisah Gelang Giok Naga, terutama perlakuan rasial
antarmahasiswa selama ia kuliah di universitas tersebut.
Berdasarkan latar belakang di atas, terdapat dua masalah penelitian yang saya bahas,
yakni penggambaran latar dan tokoh dalam Gelang Giok Naga, 2) gambaran stereotip etnis
Tionghoa yang terbangun di tengah masyarakat Indonesia, dan 3) bagaimana cara tokoh-tokoh
Gelang Giok Naga menunjukkan perbedaan sifat-sifat etnis Tionghoa yang selama ini dianggap
seragam (stereotip).
Keberbedaan stereotip..., Triana Rahmawati, FIB UI, 2013
Metode Penelitian dan Landasan Teori
Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Dalam metode
kualitatif berlaku logika induktif. Kategori muncul ketika berinteraksi dengan informan, bukan
diidentifikasikan oleh peneliti sebelum penelitian (Ulber, 2009: 85). Metode ini dipakai karena
objek penelitian, yakni karya sastra, merupakan dunia kata dan simbol yang penuh makna, bukan
fenomena yang mengikuti gejala ilmu alam yang dapat dihitung. Metode kualitatif bersifat
deskriptif, penuh penafsiran, dan analisis secara induktif (Endraswara, 2003: 5). Penulis memakai
metode ini karena rumusan masalah masih terasa umum, luas, dan dinamis. Selain itu, penulis
ingin meneliti secara holistik dan mendalam sehingga memahami objek dengan menyeluruh
dengan memosisikan stereotip etnis Tionghoa sebagai pusat analisis.
Berbicara mengenai sosiologi sastra berarti berbicara tentang sastra dan kaitannya dengan
masyarakat di luar karya sastra. Wellek dan Warren (1987: 109) berkata bahwa studi sastra secara
tersirat merupakan pengungkapan masalah sosial, yaitu masalah tradisi, konvensi, norma, jenis
sastra (genre), simbol, dan mitos. Hal ini menyiratkan bahwa sastra tidak semata-mata dibentuk
oleh imajinasi pengarang, tetapi mempunyai gambaran atas lingkungan masyarakat tempat karya
sastra tersebut lahir, khususnya yang dialami sendiri oleh sang pengarang. Mereka pun
berpendapat bahwa penelitian jenis ini dilakukan untuk menjabarkan pengaruh masyarakat
terhadap sastra dan kedudukan sastra dalam masyarakat.
Berdasarkan waktu, Nyoman Kutha Ratna (2007: 277) membagi masyarakat sebagai
masalah pokok sosiologi sastra menjadi tiga, yakni masyarakat yang merupakan latar belakang
produksi karya, masyarakat yang terkandung dalam karya, dan masyarakat yang merupakan latar
belakang pembaca. Masyarakat dalam kategori pertama merupakan masyarakat yang dihuni oleh
pengarang dan tidak dapat berubah karena merupakan proses sejarah. Masyarakat yang kedua
dihuni oleh tokoh-tokoh rekaan sebagai manifestasi subjek pengarang. Terdapat dua dimensi dari
masyarakat tipe kedua ini, yakni dimensi fisik yang selalu statis, dan dimensi psikis yang terus
berubah sesuai dengan waktu pembacaan oleh pembaca. Masyarakat yang ketiga, masyarakat
pembaca, dihuni oleh pembaca. Masyarakat ini berubah-ubah sebagai akibat perubahan pembaca
itu sendiri, sesuai zaman hidup sang pembaca.
Sapardi Djoko Damono (2009: 3) mengatakan bahwa hingga saat terdapat dua
kecenderungan dalam telaah sosiologi sastra. Pertama, sastra dianalisis sesuai dengan fenomena
sosial yang ada, dan sastra merupakan gejala kedua (epiphenomenon) yang kurang berarti bila
Keberbedaan stereotip..., Triana Rahmawati, FIB UI, 2013
tidak dikaitkan dengan faktor di luar karya. Kecenderungan kedua adalah sastra menjadi fokus
utama analisis dengan meneliti struktur-strukturnya terlebih dahulu. Setelah unsur-unsur karya
sastra telah diketahui secara jelas, analisis ekstrinsik kemudian digunakan untuk memahami
karya lebih dalam. Kedua telaah itu memiliki fungsinya masing-masing, dengan asumsi bahwa
karya sastra merupakan produk yang dipengaruhi oleh situasi sosial zamannya.
Gelang Giok Naga karya Leny Helena jelas menggunakan latar Orde Baru dalam
kisahannya. Aspek latar ditulis secara eksplisit sehingga pembaca langsung mendapat gambaran
situasi sosial zaman tersebut. Dengan cara ini, pembaca akan mengerti dengan lebih mudah
keadaan masyarakat dan problematika sosial di zaman itu. Selanjutnya Leny mulai membangun
masyarakat tipe kedua, masyarakat sastra, yang dihuni oleh tokoh-tokoh ciptaannya. Ia
membangun tokoh ciptaannya sejajar dengan asumsi-asumsi dasar di masyarakat yang menjadi
latar belakangnya untuk kemudian memodifikasinya di bagian-bagian yang tidak ia setujui, yakni
stereotip atas etnis Tionghoa.
Intrinsik
Dalam Gelang Giok Naga, terdapat tiga tokoh sentral berdasarkan hubungannya dengan
tokoh-tokoh lain dan fungsi tokoh-tokoh tersebut dalam keseluruhan cerita. Ketiga tokoh tersebut
adalah A Sui, A Lin, dan Swanlin. Ketiganya berhubungan dengan tokoh-tokoh bawahan yang
fungsinya memberi latar belakang kehidupan dan permasalahan etnis Tionghoa di Indonesia.
Tiga tokoh perempuan tersebut bergantian muncul dengan frekuensi kemunculan yang hampir
sama banyaknya dengan satu sama lain dan keberadaan mereka memberikan pengaruh yang besar
terhadap cerita. Pengaruh itu terlihat terutama pada stereotip etnis yang hendak dibantah oleh
penulis, Leny Helena. Stereotip sangat erat kaitannya dengan watak dan kepribadian tokoh.
Secara intrinsik, novel ini menggunakan tokoh-tokoh bulat. Sifat dan sikap para tokoh
terus berkembang seiring dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup mereka.
Meskipun terdapat perkembangan sikap, jalan pikiran tokoh tidak digambarkan banyak berubah.
Penggambaran para tokoh Gelang Giok Naga menggunakan metode dramatik atau ragaan.
Pembaca dapat menyimpulkan sendiri sikap dan sifat tokoh melalui ucapan dan lakuan tokoh
dalam novel.
Tokoh A Lin menjadi sosok yang paling dominan. Ia berada di hampir semua peristiwa
penting yang merupakan penanda latar, serta ikut terlibat dalam banyak konflik dalam cerita.
Keberbedaan stereotip..., Triana Rahmawati, FIB UI, 2013
Hubungannya dengan tokoh-tokoh lain pun lebih luas dibandingkan dua tokoh utama lainnya, A
Sui dan Swanlin. Melalui analisis penokohan, maka diketahui bahwa setiap tokoh mewakili sifatsifat stereotip dan bahkan memiliki sikap yang berkebalikan dengan stereotip. A Sui adalah
Tionghoa totok yang kaya dan mempunyai latar belakang sebagai Nyai. Ia mempunyai sikap pelit
dan angkuh yang hampir selalu ditunjukkan kepada orang lain. A Sui, walaupun juga merupakan
Tionghoa totok, hanyalah seorang janda miskin yang tetap teguh memegang adat leluhurnya.
Tokoh utama berbeda generasi, Swanlin, digambarkan sebagai tokoh yang paling banyak
menerima perlakukan rasis dari lingkungannya. Sebagai peranakan Tionghoa yang kerap
dipertanyakan
ke-Indonesia-annya,
Swanlin
berada
di
posisi
paling
depan
dalam
mempertahankan atau mendobrak stereotip negatif yang dilekatkan kepada etnis Tionghoa.
Novel ini mempunyai sudut pandang campuran dalam penuturan kisahnya. Pada awal
cerita Gelang Giok Naga, kisah Yang Kuei-Fei—leluhur A Sui dan Swanlin—diceritakan dengan
teknik pencerita serba tahu, yakni pengarang berada di luar cerita dan bukan merupakan salah
satu tokoh di dalamnya. Pada bagian selanjutnya, novel ini memakai teknik pencerita akuan.
Uniknya, penggunaan “aku” oleh pencerita terus berganti-ganti sepanjang cerita. Pencerita
bergantian memakai sudut pandang aku dari ketiga tokoh utama, sehingga perasaan dan pikiran
setiap tokoh dapat dipahami secara mendalam. Dengan teknik ini, pembaca dapat lebih
menghayati perasaan dari tokoh-tokohnya yang mempunyai latar belakang kehidupan yang
berbeda. A Lin yang kaya ternyata hidupnya penuh dengan kegetiran, A Sui yang meskipun
miskin ternyata tidak merasa menderita, dan Swanlin dengan ketegarannya meskipun selalu
diperlakukan diskriminatif oleh lingkungannya.
Latar waktu dalam Gelang Giok Naga mempunyai rentang yang panjang. Awal cerita
dimulai dari abad ke-18 dan berakhir pada tahun 2001. Mayoritas kisah pada novel ini
mengambil latar di Indonesia pada masa Orde Baru, khususnya di kota Jakarta. Namun, hal ini
tidak membuat kisah yang terjadi di luar latar utama tersebut menjadi tidak penting, melainkan
tempat dan waktu pada latar utama tersebut merupakan tempat terjadinya konflik utama dalam
Gelang Giok Naga. Di Indonesia pada masa Orde Baru, ketiga tokoh utama mengalami konflikkonflik dalam hidup yang akhirnya akan membawa mereka kepada penyelesaian yang baik, yakni
berkurangnya sentimen terhadap etnis Tionghoa di Indonesia.
Tionghoa Totok dan Peranakan
Keberbedaan stereotip..., Triana Rahmawati, FIB UI, 2013
Dalam membicarakan etnis Tionghoa di Indonesia, biasanya para peneliti membagi
mereka menjadi dua, yakni totok dan peranakan. Pembagian ini dibuat berdasarkan garis sosial
dan budaya ras. Charles Coppel (seperti dikutip oleh Dawis, 2010: 82-83) berpendapat bahwa
pada awalnya penyebutan totok dan peranakan sangat bersifat rasial karena sangat berhubungan
dengan garis keturunan yang murni atau tidak. Namun demikian, dalam meneliti stereotip etnis
Tionghoa secara keseluruhan pembicaraan mengenai hal ini tidak bisa ditinggalkan karena baik
totok maupun peranakan mempunyai perbedaan yang cukup mencolok dan keunikannya masingmasing.
Tionghoa totok berarti Tionghoa asli dan murni, biasanya lahir di Tiongkok dari kedua
orangtua yang juga asli Tiongkok. Tionghoa totok bermigrasi untuk tinggal dan menetap di
Indonesia. Para imigran Tiongkok yang datang ke Indonesia sebelum abad ke-20 biasanya adalah
laki-laki, para wanitanya baru mulai bermigrasi pada awal abad ke-20. Oleh karena itu, untuk
meneruskan keturunan, pria-pria Tiongkok ini menikah dengan wanita pribumi setempat. Hasil
dari perkawinan Tionghoa totok dengan wanita pribumi tersebut disebut dengan istilah
peranakan, keturunan yang darahnya telah tercampur, tidak lagi murni Tiongkok.
Terdapat beberapa perbedaan antara Tionghoa totok dan peranakan. Pertama, cara
identifikasi jati diri. Suryadinata (Dawis, 2010: 83) menunjukkan bahwa Tionghoa peranakan
menentukan jati diri mereka berdasarkan tempat kelahiran mereka di Indonesia, bukan
berdasarkan provinsi di Tiongkok tempat daerah asal leluhur mereka. Hal ini terjadi karena
mereka lahir di Indonesia, sehingga keterikatan dengan tanah yang sama sekali tidak mereka
kenal sangat tipis. Namun rasa terikat dengan tanah leluhur bisa ditumbuhkan bila orangtua
mereka mengenalkan dan menjalankan adat Tionghoa dengan sangat kuat. Tionghoa totok, tidak
dapat dimungkiri, merasa terikat dengan tanah kelahirannya. Perbedaan ini menjadi sangat
menonjol ketika persoalan mengenai kewarganegaraan penduduk Tionghoa dibicarakan di
Konferensi Meja Bundar tahun 1949. Dalam sidang itu diputuskan bahwa semua orang Tionghoa
dapat bebas memilih kewarganegaraannya, yakni kewarganegaraan Tiongkok atau Indonesia.
Departemen Kehakiman RI saat itu memperkirakan bahwa lebih dari 390.000 orang Tionghoa
yang merupakan totok dan orang-orang yang tinggal di lingkungan totok, menolak
kewarganegaraan Indonesia. Sedangkan kaum peranakan lebih memilih kewarganegaraan
Indonesia.
Keberbedaan stereotip..., Triana Rahmawati, FIB UI, 2013
Perbedaan kedua antara Tionghoa totok dan peranakan adalah cara pandang mereka
mengenai bentuk kekeluargaan. James L. Peacock (dalam Dawis, 2010: 25-26) menunjukkan
bahwa Tionghoa totok menganut paham patrilineal, patrilokal, dan patrifokal, seperti yang dianut
oleh leluhur mereka di tanah asalnya. Tionghoa peranakan lebih fleksibel dalam hal ini. Dalam
hal-hal tertentu mereka cenderung matrilokal, matrilineal, dan matrifokal, seperti masyarakat di
lingkungan hidupnya. Hal ini menunjukkan Tionghoa yang mampu berasimilasi dengan pribumi
tanpa paksaan.
Perbedaan yang ketiga adalah mengenai sifat dagang kedua jenis Tionghoa ini. Hasil
penelitian Peacock (Dawis, 2010: 27) menunjukkan bahwa orang totok lebih cenderung kepada
mengumpulkan uang saat berbisnis. Hal ini yang menyebabkan mereka sangat hemat, mandiri,
dan lebih berani dalam mengambil keputusan dagang. Lain dengan Tionghoa peranakan yang
terlihat lebih santai dan menikmati serta menghargai hidup, meskipun cenderung boros dan
mewah-mewah (Ong, 2010). Rasa santai itu dibangun atas kerja keras orangtuanya yang biasanya
sukses dalam berbisnis dan mereka hanya tinggal menikmati hasilnya. Perbedaan ini seringkali
memicu perselisihan antara Tionghoa totok dan peranakan. Totok sering menuduh peranakan
dengan tuduhan “tidak patriotik”, kurang “murni”, dan berperilaku seperti “bukan Tionghoa”.
Dari tiga perbedaan mendasar antara Tionghoa totok dan peranakan tersebut, dapat kita
lihat bahwa dalam satu etnis pun pandangan dan sikap mereka tidak sepenuhnya sama. Stereotip
yang merupakan generalisasi atas sifat dan sikap suatu etnis seringkali tidak bisa dipakai dalam
kasus-kasus tertentu dengan individu yang selalu unik. Penjelasan berikutnya adalah pembahasan
mengenai stereotip yang ditujukan untuk orang Tionghoa secara umum.
Stereotipe Etnis
Di Indonesia yang masyarakatnya sangat majemuk, pandangan atau prasangka bukan
sesuatu yang mudah dihindari, terlebih bila dalam kegiatan sehari-hari hidup kita sering
bersinggungan
dengan
anggota
etnis
lain.
Dengan
pengalaman
dan
pengulangan,
prasangka/pretensi yang ada di kepala akhirnya kita rumuskan menjadi stereotip untuk seluruh
anggota etnis tersebut. Menurut Allan G. Johnson (Liliweri, 2005: 208) stereotip adalah
keyakinan seseorang untuk menggeneralisasikan sifat-sifat tertentu yang cenderung negatif
tentang orang lain karena dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman bersama. Keyakinan itu
Keberbedaan stereotip..., Triana Rahmawati, FIB UI, 2013
membuat orang untuk memperkirakan perbedaan antarkelompok yang mungkin terlalu tinggi
atau rendah sebagai ciri khas individu kelompok sasaran.
Stereotip sebagai pandangan yang menggeneralisasikan sifat-sifat dari sebuah kelompok
terbentuk seiring dengan pengalaman kolektif dalam kurun waktu tertentu. Ia juga bisa dibentuk
dengan propaganda intensif oleh sekelompok orang yang mempunyai kuasa. Onghokham (2005:
42-45) menjabarkan bahwa di abad ke-18, Belanda yang telah memulai invasinya di daerah Jawa
mengeluarkan peraturan-peraturan yang isinya membatasi ruang gerak etnis Tionghoa. Beberapa
peraturan tersebut berisi pelarangan melakukan perjalanan tanpa izin, peraturan mengenai daerah
tempat tinggal, serta larangan memasuki daerah tertentu. Kebanyakan alasan dikeluarkannya
peraturan tersebut bersifat ekonomis dan politis. Dari situ kita dapat melihat pandangan
pemerintah Belanda terhadap sifat-sifat Tionghoa. Belanda melihat bahwa kepiawaian etnis
Tionghoa dalam berdagang dapat menjadi ancaman dalam misi monopoli mereka. Kepiawaian
berdagang ini juga diikuti dengan jaringan yang kuat dalam bisnis sehingga pedagang Tionghoa
dapat menyelundupkan barang-barang komoditas seperti kopi dan candu melalui perdagangan
gelap. Mereka pun dikenal sebagai lintah darat yang suka memeras rakyat dengan bunga tinggi.
Lewat peraturan-peraturan ini, stereotip atas Tionghoa dibangun, yakni sebagai sekelompok
orang yang hanya mencari keuntungan, baik dari perdagangan (resmi dan ilegal) maupun
pemerasan.
Suwarsih Warnaen (1979) meneliti pandangan stereotip ini untuk disertasinya di Fakultas
Psikologi UI. Dalam penelitiannya, dikemukakan pandangan beberapa etnis pribumi terhadap
etnis Tionghoa yang mencakup beberapa sifat culas dan pelit sebagai sifat yang paling dominan.
Sifat ini diikuti oleh sifat rajin, pencuriga, jorok, dan loyal kepada keluarganya. Dari penelitian
yang diikuti oleh lebih dari 1200 orang tersebut, dua sifat negatif menjadi dominan dalam
prasangka etnis Indonesia lain terhadap etnis Tionghoa. Bahkan dari enam sifat yang dianggap
melekat pada etnis ini hanya dua di antaranya yang bisa dianggap sebagai sifat baik. Secara tidak
langsung, dalam dalam setiap pembahasan mengenai etnis Tionghoa, stereotip “kaya” tidak bisa
dihindari, meskipun penyebutannya sering disamarkan dengan kata “cukong”, “konglomerat”,
atau “pengusaha”. Selain itu, citra eksklusif sering terasa dalam pembahasan mengenai etnis ini
meski tidak disebutkan secara langsung.
Pemrotesan atas Strereotip
Keberbedaan stereotip..., Triana Rahmawati, FIB UI, 2013
1. A Lin
Tokoh A Lin mewakili kelompok Tionghoa sukses yang selalu dikatakan kaya,
konglomerat, dan memiliki sebutan “cukong”. Dengan stereotip seperti itu, sifat negatif lain turut
melekat pada golongan Tionghoa, antara lain sifat pelit, licik, dan eksklusif. A Lin sendiri, seperti
memiliki sifat tegar, mandiri, dan pekerja keras. Sifat-sifat inilah yang membuatnya sukses dalam
kehidupan yang ia pilih sendiri, menikah dan berdagang. Di daerahnya, Bukit Duri, ia dikenal
sebagai orang kaya karena usaha toko kelontong yang sukses besar, usahanya dalam
mengontrakkan rumah, dan dalam bidang peminjaman uang dengan bunga. Berkat usahanya ia
bahkan tersohor hingga daerah-daerah lain di sekitar rumahnya. Dalam kesuksesannya ini A Lin
hampir tidak dibantu oleh pihak manapun. Bahkan Loi Kun pun setelah dipecat dari perusahaan
tempat ia bekerja hanya tinggal menikmati usaha yang telah dibangun oleh A Lin.
Berdasarkan hal tersebut, sifat-sifat A Lin sesuai dengan stereotip Tionghoa yang telah
terbangun di masyarakat, yakni kaya dan pandai berdagang. Ia pun menjadi rentenir, seorang
yang meminjamkan uang dengan bunga yang cukup besar. Hal ini cukup memberi nilai yang
negatif karena rentenir sendiri identik dengan bunga yang memberatkan peminjam dan penarikan
uang pinjaman secara paksa. Usaha perdagangan dan peminjaman uang sendiri telah menjadi
usaha yang dilakukan oleh etnis Tionghoa selama berpuluh-puluh tahun, jauh sejak zaman
kolonialisme Belanda.
Larangan terhadap orang Tionghoa untuk mengadakan perjalanan juga untuk
mempertahankan monopoli pemerintah dan melindungi rakyat terhadap pekerjaan
Timur Asing sebagai lintah darat.
(Ong, 2005: 43)
Stereotip kaya, pintar berdagang, dan pemeras uang rakyat terepresentasi dalam tokoh A
Lin. Seiring dengan stereotip kaya, sifat kikir akan secara otomatis dilekatkan pula pada etnis
Tionghoa yang kaya. Orang yang kikir ditandai dengan tidak mau berbagi dengan orang lain bila
dirinya punya kelebihan dan bila pun berbagi, hanya diberi sedikit sekali. Sifat kikir ini adalah
salah satu implementasi dari sikapnya yang sangat protektif terhadap uang dan ingin
mengumpulkan uang (keuntungan) sebanyak-banyaknya. Sifat-sifat buruk ini dimiliki oleh A
Lin, perempuan totok yang datang ke Batavia dengan keadaan yang sangat mengenaskan dan
Keberbedaan stereotip..., Triana Rahmawati, FIB UI, 2013
miskin sekali. Ia merintis sendiri usahanya dari awal hingga sukses. Gambaran ini mengukuhkan
stereotip, mempertegas bahwa etnis Tionghoa seperti ini ada.
Pada novel Gelang Giok Naga, sifat kikir A Lin ditujukan kepada A Sui, perempuan yang
dari seetnis dengannya. Ia bersikap kikir kepada A Sui karena sifatnya yang tamak dan ingin
mendapat untung yang banyak, serta ditambah rasa tidak sukanya kepada A Sui. Namun sifat
Tionghoa kaya yang kikir itu tidak selalu ditunjukkan oleh A Lin, ia bahkan memberi uang
kepada tetangga (pribumi) yang masih berhutang padanya karena A Lin merasa bersalah saat
membuat anak tetangganya itu menangis. Kisah tersebut menunjukkan bahwa sifat kikir yang
dilekatkan pada etnis Tionghoa, sesungguhnya tidak ditujukan pada pribumi secara khusus, tetapi
bisa saja muncul pada orang-orang yang memang tidak disukai. Dengan kata lain, sikap ini dapat
berubah tergantung pada situasi dan lingkungannya.
Kaya, kikir, dan pencari keuntungan. Sifat-sifat ini melekat pada diri A Lin. Stereotip
dikukuhkan sedemikian kuat melalui tokoh ini. Namun, yang membuat A Lin istimewa adalah
cara ia bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya, di lingkungan sosialnya. Ia memang
ketus dan cenderung pamer kekayaan, tetapi ia peduli meskipun hanya dengan uang ia dapat
menunjukkannya. Ia pun sangat menyayangi cucunya, Swanlin meskipun ia sering bersikap ketus
kepada cucu perempuannya itu. Sikap ketus A Lin tidak bisa menjadi tolok ukur kebaikan
hatinya. A Lin memang kaya dan memiliki sifat buruk, tetapi bukan berarti ia tidak acuh pada
lingkungan sekelilingnya.
Entah masih ingat ataupun tidak, ternyata Popo Lin tanpa banyak cincong
langsung memberikan uang yang diminta. Popo Lin cuma berpesan jika
memungkinkan, panitia lebih baik menyewa gambang keromong dari Kampung
Sewan Tangerang saja.
[…]
Popo Lin bahkan menyediakan mobil beserta sopir untuk mengantar kami.
(Helena, 2006: 214)
Kutipan di atas berkaitan dengan terlibatnya A Lin dalam membantu terlaksananya
perayaan 17 Agustus di lingkungannya. Ia membantu dana, transportasi, bahkan ia juga ikut
senang saat tahu bahwa Swanlin menjadi salah satu panitianya. Ia juga menyayangkan sikap
cucunya yang lain yang tidak ikut kepanitiaan karena menganggap acara yang diadakan di
kampung tersebut hanyalah acara kampungan. Dari sikap ini terlihat bahwa meskipun A Lin
Keberbedaan stereotip..., Triana Rahmawati, FIB UI, 2013
mempunyai sifat-sifat buruk yang seringkali ditunjukkan kepada keluarga atau tetangganya, ia
masih bersosialisasi dengan baik dengan lingkungannya. Ia tidak bersikap eksklusif seperti
stereotip yang ditujukan kepada warga etnis Tionghoa yang kaya. Ia memang berbisnis dengan
mencari banyak keuntungan, tetapi ia juga menyumbang banyak untuk tetangga-tetangganya.
2.
A Sui
Berbeda dengan A Lin, A Sui hadir sebagai tokoh yang mewakili golongan masyarakat
Tionghoa yang miskin. Ia merupakan Tionghoa totok yang datang ke Nusantara di awal abad ke20, sama dengan A Lin, hanya saja A Lin tiba beberapa tahun sebelum kedatangan A Sui.
Keluarga A Sui di China merupakan warga miskin walaupun tidak semiskin keluarga A Lin. Di
China, A Sui cukup mendapat pendidikan formal da ia sangat menjaga praktek adat di
lingkungan barunya di Indonesia. Dari hal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kemiskinan A
Sui bukan disebabkan oleh kebodohan dan kemalasan, melainkan karena nasib. Sifat-sifat positif
dalam berusaha dan berdagang yang dimiliki A Lin juga terdapat dalam diri A Sui, hanya saja ia
tidak berambisi menjadi kaya.
A Sui sangat ulet, meskipun dalam situasi yang serba terbatas. Ia bekerja membanting
tulang agar semua anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Gambaran ini sesuai
dengan stereotip orang Tionghoa yang rajin dan ulet, tetapi meskipun bekerja dengan etos seperti
itu, ia tidak lantas menjadi orang yang kaya raya. Lain dengan A Lin yang mendapat bantuan
modal untuk memulai usahanya, A Sui benar-benar memulainya dari bawah. Ia pun tidak terlalu
berambisi untuk mengumpulkan keuntungan sebanyak-banyaknya, ia hanya memikirkan
pendidikan anak-anaknya.
Sesuai stereotip, A Sui adalah seorang yang rajin dan pekerja keras, ia pun berwirausaha
untuk mencari uang, tetapi ia membuka usaha bukan untuk mencari keuntungan, melainkan
hanya untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Hal ini berbeda dengan A Lin yang
berdagang untuk meraup keuntungan dan membangun kemandirian finansial bagi dirinya.
Dengan kata lain, A Sui adalah seorang Tionghoa totok yang miskin, meskipun ia berwirausaha.
Tidak banyak buku yang membahas tentang kehidupan Tionghoa yang miskin, biasanya sebagian
besar pembahasan adalah mengenai Tionghoa yang kaya dan unsur-unsur di balik kesuksesan
usahanya itu.
Keberbedaan stereotip..., Triana Rahmawati, FIB UI, 2013
Mely G. Tan, dalam bukunya yang berjudul Etnis Tionghoa di Indonesia,
mendeskripsikan masyarakat Tionghoa yang miskin.
In between two ends is the majority of ethnic Chinese, mostly peranakan, who
are culturally more Indonesia oriented, speak Indonesian or the local language at
home, do not speak Chinese at all, and are minimally knowledgeable about Chinese
religion and tradition. They earn enough to live comfortably, but the numbers of those
who have difficulty in making ends meet, or who are actually poor, is usually
underestimated. In Jakarta, these people can be found in the back streets, behind the
glittering shopping malls in the downtown area that is still considered the China town.
(Tan, 2008: 184)
Dari deskripsi tersebut, tidak semuanya sesuai dengan A Sui. Tan mendeskripsikan etnis
Tionghoa yang miskin di Jakarta sebagian besar adalah peranakan yang tidak fasih berbahasa
Mandarin dan tidak terlalu mengerti adat leluhur mereka. A Sui adalah seorang totok tulen yang
berpendidikan. Ia berbicara dan membaca aksara Mandarin dengan lancar dan sangat mengetahui
adat-istiadat negeri kampung halamannya. Namun deskripsi tempat tinggalnya sesuai dengan
daerah rumah A Sui di Jatinegara yang dulunya merupakan pecinan di pinggir kota.
Dengan status ekonomi yang tidak berbeda dengan masyarakat di sekitarnya, A Sui dapat
membaur dengan tetangganya. Menempati rumah kontrakan yang luar biasa sempit, interaksi
dengan tetangga menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Kedekatan ini ditunjukkan ketika A Sui
bertindak sebagai perias dalam acara 17 Agustus-an. Bila dalam acara ini A Lin menjadi
penyandang dana yang berpartisipai secara tidak langsung, A Sui berinteraksi secara langsung
dengan gadis-gadis pribumi di lingkungannya yang berdandan untuk perayaan itu. Tidak
ditunjukkan rasa risi ketika gadis-gadis ini harus meminta bantuan seorang totok Tionghoa.
Terdengar pekikan gadis-gadis karena rambut mereka ditarik-tarik oleh
mamaku yang bertindak sebagai salon dadakan. Semuanya sekarang memiliki sanggul
cepol di ujung kepala seperti aku.
(Helena, 2006: 212)
Dari penjelasan ini, dapat disimpulkan bahwa kemiskinan dapat dijalani siapa saja, tidak
terkecuali seorang Tionghoa totok yang bekerja keras dalam berwirausaha. A Sui adalah orang
yang bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, bukan untuk menimbun kekayaan.
Keberbedaan stereotip..., Triana Rahmawati, FIB UI, 2013
Ia tidak sesuai stereotip yang mengatakan bahwa etnis Tionghoa identik dengan kekayaan dan
tukang mencari keuntungan. Faktor utama yang merenggangkan hubungan etnis Tionghoa
dengan tetangga di lingkungan mereka adalah kesenjangan ekonomi. Perbedaan bahasa, adat dan
agama seringkali bukan masalah untuk saling mengenal. A Sui membuktikan hal ini dengan
interaksinya dengan para tetangga. Walaupun ia totok miskin yang sangat kuat memegang adat
leluhurnya, para tetangga yang merupakan pribumi dan pendatang yang berasal dari Timur Asing
(Arab) tampak tidak menjaga jarak dengannya.
3. Swanlin
Tokoh Swanlin merepresentasikan para anak muda Tionghoa saat itu yang berdarah
campuran, atau biasa disebut dengan “peranakan” atau “keturunan” yang sering dianggap tidak
nasionalis dan lebih berkiblat ke China. Sebagai seorang peranakan, ia lahir di tengah-tengah
pemaksaan asimilasi bagi etnis Tionghoa yang diberlakukan oleh pemerintah Orde Baru. Swanlin
dilahirkan dan dibesarkan di Jakarta, sehingga ia tidak menguasai adat-istiadat leluhurnya.
Selayaknya pribumi, ia berbahasa Indonesia dengan baik dan tidak mengikuti upacara adat
Tionghoa dengan ketat, bahkan kebanyakan ia hanya melihat saja ketika neneknya
melakukannya. Ia merupakan peranakan yang tidak dibesarkan dalam keluarga totok, sehingga
pandangannya akan ke-Indonesia-an lebih kuat dari pada wawasan ke-Tionghoa-anya.
Dalam kisah Gelang Giok Naga, Swanlin seperti ingin mewakili para anak muda etnis
Tionghoa lain yang mengalami diskriminasi untuk terus melawan stereotip negatif dengan
menunjukkan perbuatan-perbuatan baik. Pertama, ia membantah bahwa etnis Tionghoa sangat
pemilih dalam bergaul, dengan kata lain, eksklusif. Swanlin kecil adalah seorang anak yang
dibesarkan di tengah keluarga yang masih memegang adat Tionghoa, tetapi ia tidak segan
bersosialisasi dengan pribumi. Nasir adalah salah satu teman dekat Swanlin kecil. Sebelum
mereka bersahabat, olok-olokan rasis pernah keluar dari mulut Nasir, tetapi belakangan, Nasir
malah membela Swanlin saat ada yang melemparkan ejekan yang merendahkan etnis Tionghoa
kepada Swanlin
Sebagai seorang individu, sifat Swanlin bertolak belakang dengan berbagai stereotip
negatif yang dilekatkan pada etnis Tionghoa. Swanlin adalah peranakan yang hidup dengan
sederhana dan sangat berbaur dengan masyarakat di lingkungan rumahnya. Ia tidak memilihmilih temannya berdasarkan etnis atau status ekonominya, hal ini ditunjukkan dengan
Keberbedaan stereotip..., Triana Rahmawati, FIB UI, 2013
persahabatannya dengan Nasir dan keterlibatannya dalam acara-acara di kampungnya, seperti
acara 17 Agustusan. Cerita tentang keterlibatan Swanlin dengan acara perayaan kemerdekaan
tersebut juga seperti ingin menunjukkan bahwa tidak semua etnis Tionghoa lebih memilih
Tiongkok, melainkan banyak juga anggota etnis ini, khususnya peranakan, yang sangat
nasionalis.
Keberbedaan stereotip yang kedua, ditunjukkan ketika Swanlin menjadi mahasiswa UI. Ia
bergaul dengan teman-teman pribumi dan aktif dalam kegiatan oraganisasi kampus. Seperti yang
telah dijelaskan, Swanlin adalah seorang peranakan yang bijaksana, nasionalis, dan tidak
eksklusif. Sifat yang sejak kecil telah diperlihatkannya itu berkembang pesat dan menonjol saat ia
menjadi mahasiswa.
“Swanlin,” suara Nur terdengar sabar seperti ibu yang penyayang. “Gue nggak
melarang elo melakukan kegiatan mulia, ataupun „agak‟ mulia. Tapi, apa harus
semuanya Swanlin … semuanya. Mulai dari bagi-bagi sembako, pasang poster,
mengetik laporan, sampai wawancara tokoh. Terus, ada berapa ormas yang elo aktif
jadi anggota sekarang? Pasti nggak terhitung. Apa yang mau elo buktikan Swanlin?
Soe Hok Gie kedua?”
Kata-kata Nur terngiang di tambur telinga … Soe Hok Gie kedua? Itukah yang
aku lakukan sekarang? Berusaha membuktikan bahwa ada satu lagi WNI keturunan
yang peduli pada masalah sosial?
(Helena, 2006: 284)
Tokoh Swanlin menggambarkan dilema identitas dan prasangka yang ditujukan kepada
etnis peranakan. Bila mereka pasif dalam kegiatan sosial, mereka akan dicap sebagai eksklusif
dan tidak nasionalis, tetapi bila mereka aktif, tetap diragukan ketulusannya. Dengan prasangka
seperti ini, etnis Tionghoa terus terjebak dengan stereotip negatif, dan di sanalah tokoh Swanlin
mengubah pandangan tersebut dengan penggambaran masa kecil dan remaja yang cukup rinci.
Keberbedaan stereotip yang ketiga, yakni hubungan asmara Swanlin dengan pria pribumi,
untuk mematahkan stereotip bahwa etnis Tionghoa hanya akan menikah dengan orang satu etnis.
Berkenaan dengan pemilihan pasangan bagi etnis Tionghoa, Ong dan Dawis melakukan
penelitian tentang hal itu dan menyimpulkan hal yang sama, bahwa umumnya para etnis
Tionghoa memang memilih pasangan dari etnisnya sendiri, tapi kalaupun tidak, ada beberapa
kondisi. Berikut adalah kutipannya.
Keberbedaan stereotip..., Triana Rahmawati, FIB UI, 2013
Kenyataanya mereka juga tidak suka mengawinkan anak perempuan mereka
dengan orang-orang Madura dari golongan rendah, tetapi orang „peranakan‟ senang
sekali jika anak perempuan mereka menikah dengan pegawai negeri orang Madura
“asli”. Ini memperlihatkan bahwa mereka tidak berkeberatan jika anak perempuan
mereka menikah dengan orang-orang Madura, asal saja statusnya tinggi, seperti
pegawai negeri.
(Ong, 2005: 26)
Dalam penelitian Dawis yang dipusatkan di Jakarta (2010: 100-101), dapat ditarik
kesimpulan bahwa sebagian besar keluarga Tionghoa lebih memilih calon yang Tionghoa untuk
anaknya sendiri karena ada pandangan dalam etnis ini yang menganggap bahwa Tionghoa status
sosialnya lebih tinggi dari pribumi. Dari dua pendapat tersebut, didapat gambaran tentang asalmula stereotip eksklusif dalam etnis Tionghoa, khususnya dalam memilih pasangan hidup.
Penelitian yang dilakukan oleh Ong juga menguatkan satu lagi stereotip negatif atas etnis ini,
yakni sikap angkuh. Pemilihan pasangan hidup melalui posisinya di pemerintahan (pegawai
negeri) adalah contoh sikap angkuh tersebut.
Tokoh Swanlin digambarkan melakukan penentangan terhadap pandangan itu. Awalnya
ia berpacaran dengan tokoh Iwan, senior di kampusnya yang merupakan pribumi yang ambisius.
Karena keambisiusannya dalam politik kampus itulah yang akhirnya menuntaskan hubungan
mereka berdua. Kemudian, secara tidak disangka, Swanlin menerima pernyataan cinta dari Ruli,
sahabat Iwan yang selama ini dikenal sebagai sosok anti-Cina. Swanlin pun menerima cintanya
meskipun ragu atas hubungan mereka, benar-benar cinta atau hanya ingin menunjukkan pada
dunia bahwa seorang Tionghoa pun bisa meluluhkan hati lelaki yang awalnya anti-Cina?
Dilema hubungan antar etnis merupakan salah satu persoalan yang hampir selalu dihadapi
oleh etnis Tionghoa. Melalui pernikahan, Swanlin menunjukkan bahwa hubungan antar etnis ini
bisa berjalan dengan serius selama ada cinta dan komitmen, tidak selalu terhalang perbedaan
etnis, harta, atau kedudukan, seperti yang ditulis oleh Onghokham dan Aimee Dawis pada
kutipan di atas.
Persoalan keempat yang diangkat pada tokoh Swanlin adalah mengenai stereotip yang
mengatakan bahwa Tionghoa tidak nasionalis. Bila tuduhan ini hanya ditujukan pada Tionghoa
totok mungkin tidak terlalu salah, tetapi dengan generalisasi yang melibatkan Tionghoa
peranakan, hal ini menjadi persoalan karena mayoritas peranakan yang lebih memilih tinggal,
Keberbedaan stereotip..., Triana Rahmawati, FIB UI, 2013
membela, dan menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) juga dicap seperti ini dan mendapat
perlakuan buruk dari masyarakat. Dengan adanya stereotip ini, etnis Tionghoa kerap menjadi
sasaran kebencian karena dianggap etnis luar yang menghisap kekayaan Indonesia namun
melarikan harta tersebut untuk negeri asal mereka, Tiongkok. Dengan pandangan itu pula hakhak mereka sebagai pribumi dibatasi, seperti misalnya hak untuk masuk perguruan tinggi negeri.
A. Dahana menjelaskan pembatasan tersebut dalam sebuah artikelnya:
Sudah menjadi rahasia umum bahwa semua perguruan tinggi mempraktekkan
pembatasan terhadap jumlah lulusan SMU yang mendapat tempat. Kebijakan ini
berdasarkan tiga asumsi. Pertama, jumlah tempat yang tersedia di universitas negeri
sangat terbatas. Kedua, para lulusan SMU yang nonpri dianggap berasal dari keluarga
mampu, sehingga mereka bisa membayar untuk masuk ke universitas swasta atau
belajar di luar negeri. Ketiga, apabila jumlah mahasiswa nonpri tidak dibatasi,
universitas-universitas negeri akan didominasi oleh mereka, karena pada umumnya
mereka adalah lulusan sekolah-sekolah terbaik dan memiliki kans yang lebih besar
untuk lulus ujian masuk universitas negeri.
(Sa‟dum M, 1999: 168)
Diskriminasi karena mereka dianggap nonpri yang selalu diidentikkan dengan kekayaan
juga dirasakan oleh Swanlin. Dalam hal ini, ia melakukan serangan balik dengan membuktikan
bahwa dia pantas berada di universitas negeri yang mendapat bantuan dana dari pemerintah itu. Ia
sangat aktif dalam kegiatan sosial di kampusnya. Ia bahkan ikut turun ke jalan untuk
menumbangkan rezim yang sudah berkuasa 32 tahun, membantu penyaluran bantuan kepada
korban-korban dari huru-hara yang berlangsung selama 3 hari, tidak ketinggalan, ia pun juga
melakukan pembelaan terhadap etnisnya sendiri yang pada saat huru-hara 1998 memang
dijadikan sasaran utama.
Ia melakukan semuanya kegiatan sosial itu, dibarengi dengan hubungan cintanya dengan
Ruli yang selama ini dikenal sebagai pembenci keturunan Tionghoa. Swanlin melakukan
kegiatan-kegiatan sosial hingga hampir kehilangan waktu untuk dirinya sendiri, khususnya untuk
kuliahnya yang hampir memasuki batas akhir sebelum ia di-DO. Perbuatan Swanlin ini tampak
ingin menghancurkan stereotip bahwa etnis Tionghoa adalah etnis yang tidak nasionalis. Swanlin
ingin meruntuhkan stereotip itu dengan menunjukkan bahwa dirinya yang merupakan peranakan
Tionghoa adalah seorang yang peduli dan turun tangan langsung untuk membantu rakyat yang
selama ini menderita di bawah kekuasaan Orde Baru.
Keberbedaan stereotip..., Triana Rahmawati, FIB UI, 2013
Namun, kegiatannya yang begitu padat dan terkesan berlebihan membuat Swanlin terlihat
tidak tulus karena adanya tujuan politis di sana, ingin memperbaiki stereotip negatif yang
terlanjur melekat pada etnisnya. Tapi, berdasarkan hal-hal yang dilakukannya pada saat ia masih
remaja, yakni cara dia bersosialisasi aktif di lingkungannya, tuduhan bahwa ia hanya ingin
memperbaiki stereotip tidak sepenuhnya benar. Mungkin memang ada tujuan itu di sana, tetapi ia
juga merasa terpanggil untuk membantu pemulihan Indonesia akibat huru-hara pergantian
kekuasaan itu, karena ia adalah seorang nasionalis sejati.
Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan dan analisis pada bab-bab sebelumnya, dapat diambil beberapa
simpulan. Pertama, tokoh A Lin merepresentasikan kaum Tionghoa sukses yang kaya. Dalam
stereotip etnis Tonghoa, kesuksesan etnis ini lantas akan dihubungkan kepada sifat pelit, licik,
dan eksklusif. Di satu sisi, A Lin digambarkan sesuai dengan stereotip tersebut. Ia bermulut
tajam, sombong, pelit, dan menyukai kekuasaan yang ia peroleh dengan kekayaannya. Namun di
sisi lain, ia juga merasa bersalah ketika membuat orang di sekitarnya tidak nyaman ketika
bersamanya, hanya saja ia mempunyai harga diri yang tinggi untuk tidak menunjukkannya secara
langsung. Ia menutupi rasa bersalahnya dengan memberi materi, begitu pula saat ia menyayangi
seseorang. A Lin bukan orang yang terang-terangan dalam menunjukkan rasa sayang. Hal ini
membuatnya tidak disukai, meskipun sebenarnya ia tidak segan membantu saat ada yang
meminta pertolongan padanya. Ia pun tidak segan bergaul dengan tetangganya yang jauh lebih
miskin darinya. A Lin memang pedagang Tionghoa yang kaya, tetapi ia tidak pelit dan eksklusif.
Leny Helena dalam Gelang Giok Naga menunjukkan dimensi perasaan, pikiran, dan latar
belakang seorang Tionghoa kaya seperti A Lin agar pembaca tidak meyakini begitu saja stereotip
negatif yang dipropagandakan oleh pemerintah atas etnis Tionghoa.
Kedua, tokoh A Sui mewakili golongan tenis Tionghoa miskin yang jarang sekali
terekspos media. Pemberitaan di zaman Orde Baru tentang kerjasama para Tionghoa kaya dengan
berbagai proyek pemerintah menciptakan ilusi bahwa mayoritas masyarakat Tionghoa adalah
kaya. Pemikiran seperti itu pun lama-kelamaan menjadi stereotip yang merugikan seluruh
masyarakat Tionghoa dan mempertajam perasaan adanya kesenjangan sosial bagi masyarakat
pribumi. A Sui dengan kemiskinannya membuktikan bahwa stereotip seperti itu adalah salah.
Meskipun ia berpendidikan dan juga membuka usaha, ia tidak sesukses dan sekaya A Lin. Tokoh
Keberbedaan stereotip..., Triana Rahmawati, FIB UI, 2013
A Sui mewakili beribu-ribu orang Tionghoa lain yang hidup di pinggiran kota dan hidup dalam
keprihatian. Golongan ini umumnya bertani dan melakukan pekerjaan lain yang tidak terlalu
menghasilkan uang, seperti menjadi tukang becak. Kemiskinan yang dirasakan masyarakat
Tionghoa dan pribumi di sekitarnya meniadakan rasa kesenjangan sosial dan membuat proses
asimilasi menjadi lebih mudah.
Ketiga, terdapat tokoh Swanlin yang mewakili para peranakan Tionghoa di zaman Orde
Baru yang sering dicap tidak nasionalis dan dicurigai berideologi komunis. Tokoh Swanlin
adalah seorang gadis peranakan yang sering menjadi sasaran kekerasan mental dan fisik akibat
prasangka serta sentimen anti-Cina yang merebak di zaman Orde Baru. Isu-isu, peraturan, dan
stereotip rasialis yang sangat menyudutkan posisi etnis Tionghoa menjadi pemicu pribumi untuk
melakukan kekerasan terhadap masyarakat Tionghoa. Namun Swanlin sendiri yang lahir dan
besar di Indonesia tidak merasakan perbedaan identitas yang berarti ketika ia bersosialisasi
dengan lingkungannya. Ia berteman dan ikut aktif dalam acara-acara yang diadakan orang-orang
kampung dekat rumahnya. Saat jadi mahasiswa, ia pun ikut aktif dalam gerakan sosial di
kampusnya. Dilema yang sering dihadapi oleh peranakan Tionghoa seperti Swanlin adalah segala
tindakan mereka, baik yang positif atau negatif, selalu menimbulkan prasangka buruk. Jadi, pada
novel Gelang Giok Naga ini Swanlin memilih untuk mendobrak dilema itu dan terjun langsung
ke masyarakat meskipun ia sendiri sering menjadi korban perlakuan yang rasialis.
Terakhir, pembacaan novel dengan metode sosiologi sastra menunjukkan bahwa Gelang
Giok Naga adalah karya yang dibangun atas keadaan masyarakat di zaman Orde Baru. Leny
Helena yang lahir di tahun 1975 merasakan sendiri situasi politik dan sosial zaman itu. Ia yang
seorang peranakan Tionghoa pun diperkirakan merasakan langsung kekerasan-kekerasan rasial di
lingkungannya. Dalam Gelang Giok Naga, ia menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya setuju
dengan stereotip negatif yang ditujukan pada etnis Tionghoa. Melalui novel ini, ia
menggambarkan dimensi psikologis dan latar belakang tokoh-tokohnya agar pembaca dapat
memahami etnis ini bukan hanya dari satu sisi saja. Novel ini menjadi istimewa karena
mengangkat sisi etnis Tionghoa yang selama ini belum banyak dibicarakan, yaitu sisi
kemanusiaan yang mendasar dan manusiawi.
Keberbedaan stereotip..., Triana Rahmawati, FIB UI, 2013
Daftar Pustaka
Damono, Sapardi Djoko. 2009. Sosiologi Sastra. Jakarta: Editum.
Dawis, Aimee. 2010. Orang Tionghoa Indonesia Mencari Identitas. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Jakarta: Niaga Swadaya.
Helena, Leny. 2006. Gelang Giok Naga. Jakarta: Penerbit Qanita.
Liliweri, Alo. 2005. Prasangka dan Konflik. Jakarta: LKiS.
Ong, Hok Ham. 2005. Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa. Depok: Komunitas Bambu.
Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sa‟dun M, Moch (ed.). 1999. Pri dan Nonpri: Mencari Format Baru Pembauran. Jakarta:
CIDES.
Silalahi, Ulber. 2009. Metode Penelitian Sosial. Bandung: PT Refika Aditama.
Sudjiman, Panuti. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.
Suryadinata, Leo. 2007. Understanding the Ethnic Chinese in South East Asia. Pasir Panjang:
Institute of Southeast Asian Studies.
Wellek, Rene & Austin Warren. Teori Kesusastraan, terj. Melani Budianta. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Keberbedaan stereotip..., Triana Rahmawati, FIB UI, 2013
Download