Ecology Of Child Parenting : Adolescents

advertisement
TINJAUAN PUSTAKA
Ekologi Keluarga
Keluarga menurut Murdock (Berns 1997) merupakan kelompok sosial
yang ditandai oleh adanya tempat tinggal, kerjasama dalam aspek ekonomi dan
reproduksi, termasuk di dalamnya orang-orang dewasa dari kedua jenis kelamin,
sedikitnya dua orang yang memelihara hubungan seksual dan satu orang atau
lebih anak baik kandung maupun adopsi. Sebuah keluarga yang terdiri dari suami,
isteri dan anak-anak disebut sebagai keluarga inti yang merupakan sumber utama
bagi anak-anak dan menjadi dasar bagi terbentuknya sebuah masyarakat.
Masyarakat memiliki tanggungjawab untuk memelihara dan melakukan sosialisasi
terhadap anak pada kehidupan berpasangan yang menghasilkan mereka dan sanksi
hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan oleh hukum atau tradisi yang
berlaku dalam masyarakat melalui pernikahan yang resmi. Tujuan dari lembaga
pernikahan tidak hanya sekedar legalisasi hubungan seksual saja akan tetapi juga
untuk menetapkan kewajiban melalui anak yang dihasilkan dari hubungan seksual
tersebut. Dalam keluarga inti, suami dan isteri saling bekerjasama dan anak-anak
tergantung pada orang tua mereka untuk mendapatkan kasih sayang dan
sosialisasi.
Menurut Coleman dan Ressy (Zastrow 2006), keluarga merupakan
institusi sosial yang ada di setiap budaya dan didefinisikan sebagai sekelompok
orang yang dihubungkan oleh perkawinan, keturunan atau adopsi yang hidup
bersama di dalam suatu rumah tangga. Keluarga sebagai suatu sistem di mana
perubahan relasi yang terjadi di dalamnya merupakan respon terhadap kebutuhan
untuk berubah dari anggotanya dan di dalam merespon terhadap perubahan relasi
keluarga dengan masyarakat yang lebih luas. Sebagai suatu sistem, keluarga
mencoba memelihara keseimbangan di dalam relasinya. Pemahaman terhadap
perkembangan di dalam keluarga berhubungan dengan apakah anggota keluarga
memiliki kekuatan untuk membuat keputusan, seberapa besar perbedaan individu
yang dimiliki, seberapa besar kebebasan dan pengawasan dimiliki setiap anggota
kelompok serta pemahaman terhadap peraturan yang tidak tertulis yang berlaku
dalam keluarga. Mungkin saja anggota keluarga tidak menyadari akan aturan yang
8
berlaku dalam keluarganya, akan tetapi mereka biasanya memiliki kemampuan
untuk melihat prinsip dan norma yang diikuti oleh sistem keluarga.
Kecenderungan sistem keluarga untuk mencoba memelihara keberadaan
pola-pola perilaku merupakan tantangan dari waktu ke waktu melalui perubahan
yang harus mereka sesuaikan. Manakala ada seseorang yang baru masuk dalam
rumah tangga, anggota sistem harus menemukan cara untuk mengorganisasikan
dan menjalankan kembali tipe relasi dan pola-pola aktivitas yang telah dijalankan
sebelumnya. Ketika anggota keluarga mengalami perubahan baik secara
psikologis maupun emosional, maka perubahan tersebut biasanya akan
mempengaruhi sistem keluarga (Steinberg 1993).
Mengikuti perubahan yang terjadi dalam sistem keluarga, maka keluarga
akan mengalami periode ketidakseimbangan sebelum menyesuaikan pada
perubahan tersebut. Periode ketidakseimbangan ini akan menyulitkan bagi
keluarga. Mereka akan merasa bahwa relasi yang terjalin antar satu anggota
dengan anggota keluarga lainnya selama ini sudah tidak berjalan dengan baik lagi
akan tetapi mereka tidak mengetahui mengapa sampai terjadi seperti itu. Membuat
cara baru untuk mencapai kesepakatan antar satu anggota keluarga dengan yang
lainnya akan memakan waktu. Relasi dalam keluarga selalu berubah ketika
anggota keluarga berubah atau ketika keadaan keluarga berubah. Selama keadaan
seperti ini terjadi, sangat baik bagi relasi dalam keluarga untuk berubah melalui
perbaikan ke arah keseimbangan sistem.
Sunarti (2007) menyatakan bahwa ekologi keluarga memiliki asumsiasumsi: (1) keluarga merupakan bagian dari sistem kehidupan keseluruhan dan
berinteraksi dengan beragam lingkungan; (2) keluarga merupakan sistem yang
adaptif, semi-terbuka, dinamis, dan perilaku serta keputusannya diarahkan oleh
tujuan; (3) seluruh bagian lingkungan saling berhubungan dan mempengaruhi satu
sama lain, lingkungan alam (fisik dan biologis) menyediakan sumberdaya esensial
bagi seluruh kehidupan, dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungan sosial budaya
dan lingkungan yang dibangun manusia (human-built environtment); (4) keluarga
merupakan sistem transformasi energi dan membutuhkan energi tertentu untuk
pemeliharaan dan keberlangsungan adaptasi dan berinteraksi dengan sistem lain,
juga untuk melakukan beragam fungsi kreatif; (5) interaksi antara keluarga
9
dengan lingkungan dipandu oleh dua macam aturan, yaitu hukum alam fisik dan
geologi seperti hukum termodinamik serta aturan yang diturunkan manusia seperti
norma sosial; (6) lingkungan tidak menentukan perilaku manusia, tapi memberi
batasan dan kendala sebagaimana juga menyediakan peluang dan kesempatan bagi
keluarga untuk mengoptimalkan pemanfaatannya; (7) keluarga memiliki beragam
tingkat kontrol dan kebebasan dalam interaksinya dengan alam; dan (8)
pengambilan keputusan merupakan proses kontrol utama dalam keluarga yang
mengarahkan pencapaian tujuan individu dan keluarga. Secara kolektif keputusan
dan aksi keluarga memiliki dampak kepada masyarakat, budaya dan lingkungan
alam.
Menurut Thorman (Zastrow 2006), walaupun setiap keluarga memiliki
ciri unik, akan tetapi masalah yang terjadi dapat digolongkan dalam empat
kategori. Pertama, masalah perkawinan antara suami dan isteri. Hambatan
komunikasi merupakan penyebab utama konflik dalam relasi perkawinan. Sumber
konflik yang lain adalah ketidaksepahaman tentang anak-anak, masalah seksual,
konflik mengenai waktu rekreasi dan keuangan serta pengingkaran terhadap
kesepakatan yang telah dibuat. Kedua, kesulitan yang muncul antara orang tua dan
anak-anak, termasuk masalah-masalah relasi antara orang tua dan anak, kesulitan
orang tua dalam mengawasi anak-anaknya terutama pada saat anak menjelang
remaja serta masalah-masalah dalam komunikasi. Ketiga, masalah-masalah
personal anggota keluarga. Kadangkala di dalam keluarga terdapat seorang
anggota keluarga yang menjadi kambing-hitam bagi ketidakberfungsian sistem
keluarga secara keseluruhan. Keempat adalah stres yang dialami keluarga yang
disebabkan oleh lingkungan luar keluarga. Masalah-masalah yang termasuk dalam
kategori ini adalah pendapatan yang tidak memadai, pengangguran, kemiskinan,
akses yang tidak memadai pada transportasi dan tempat untuk rekreasi serta
kesenjangan terhadap kesempatan kerja. Masalah lain dapat disebabkan masalah
kesehatan, sekolah yang tidak
memadai dan memiliki tetangga
yang
membahayakan.
Masalah-masalah yang dialami oleh keluarga merupakan cerminan dari
ketidakmampuan keluarga di dalam menjalankan fungsinya. Menurut Zastrow
(2006), keluarga dalam masyarakat industri memiliki fungsi-fungsi penting yang
10
akan membantu memelihara keberlangsungan dan stabilitas masyarakat. Fungsifungsi tersebut adalah:
1. Pergantian populasi (Replacement of the population) : Setiap masyarakat
memiliki beberapa sistem untuk pergantian anggotanya. Di dalam prakteknya,
semua masyarakat menganggap bahwa keluarga sebagai suatu unit untuk
memproduksi anak-anak. Masyarakat memberikan hak dan kewajiban kepada
pasangan-pasangan untuk melakukan reproduksi di dalam unit keluarga. Hak
dan kewajiban ini membantu memelihara stabilitas masyarakat walaupun
mereka mendefinisikannya dalam bentuk yang berbeda.
2. Perawatan anak-anak (Care of the young) : Anak-anak memerlukan perawatan
dan perlindungan setidaknya sampai usia pubertas. Keluarga merupakan
institusi utama untuk pengasuhan anak-anaknya. Masyarakat modern telah
mengembangkan institusi pendukung untuk membantu dalam merawat anakanak, seperti pelayanan medis, daycare centers, program pelatihan bagi orang
tua dan residential treatment centers.
3. Sosialisasi bagi angota masyarakat baru (Socialization of new members) :
Untuk menjadi anggota masyarakat yang produktif, anak-anak harus
disosialisasikan pada budaya. Anak-anak harus diperkenalkan pada bahasa,
mempelajari nilai-nilai sosial dan adat istiadat, cara berpakaian dan
berperilaku sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat. Keluarga
memainkan peranan utama di dalam proses sosialisasi ini. Dalam masyarakat
modern, beberapa kelompok lain dan sumber-sumber dilibatkan dalam proses
sosialisasi ini, seperti sekolah, mas media, peer groups, polisi, bioskop dan
buku serta materi tertulis lainnya yang berpengaruh sangat penting.
4. Tatanan Perilaku Seksual (Regulation of sexual behavior) : Kegagalan dalam
mengatur perilaku seksual akan menghasilkan pertentangan di antara individuindividu yang disebabkan oleh kecemburuan dan eksploitasi. Setiap
masyarakat memiliki peraturan yang mengatur perilaku seksual di dalam unit
keluarga, misalnya tabu untuk melakukan incest dan hubungan seksual di luar
pernikahan.
5. Sumber afeksi (Source of affection) : Kebutuhan akan rasa sayang, dukungan
emosional dan penghargaan yang positif dari orang lain, seperti senyuman,
11
penguatan dan dorongan untuk mencapai prestasi. Keluarga merupakan
sumber penting untuk mendapatkan rasa sayang dan pengakuan karena
anggota keluarga akan saling menghargai satu sama lainnya dan memperoleh
kepuasan emosional dan sosial dari hubungan yang terjalin di antara keluarga.
Kita melihat bahwa remaja tidak selalu merupakan masa terjadinya konflik
yang mengerikan di dalam banyak rumah tangga, akan tetapi kita juga melihat
bahwa banyak keluarga mampu untuk beradaptasi pada perubahan sosial dan
psikologis yang muncul pada masa ini di dalam siklus hidup keluarga. Pusat
perhatian bukan pada bagaimana relasi yang terjadi dibedakan dari satu keluarga
dengan keluarga lain dan apakah perbedaan itu memiliki konsekuensi penting
untuk perkembangan remaja. Beberapa orang tua memiliki kecenderungan lebih
keras dibanding yang lainnya dan beberapa remaja diberi kasih sayang yang
berlimpah sementara remaja yang lain memiliki jarak dengan orang tuanya. Di
dalam banyak rumah tangga, keputusan dibuat melalui diskusi terbuka dan saling
memberi dan menerima secara verbal, sementara orang tua yang lainnya
menerapkan peraturan yang harus diikuti oleh anak-anaknya.
Menurut Bell (Steinberg 1993), sangat penting untuk dicamkan bahwa
walaupun terlihat kecenderungan perilaku anak sebagai hasil dari perilaku orang
tua, namun sosialisasi harus dilakukan secara dua arah, tidak dengan satu arah.
Fakta menunjukkan bahwa orang tua yang menerapkan hukuman fisik seperti
tamparan dan pukulan akan menghasilkan perilaku remaja yang agresif (Bandura
1959). Akan tetapi, kita tidak yakin apakah: (1) hukuman fisik akan mengarah
pada perilaku agresi remaja, (2) perilaku agresi remaja mengarahkan orang tua
menggunakan hukuman fisik, (3) beberapa faktor lain berkorelasi dengan
penggunaan hukuman fisik oleh orang tua dan dengan perilaku agresi remaja,
misalkan faktor genetik yang diturunkan orang tua pada anaknya, atau (4)
kombinasi dari berbagai penyebab dan korelasi diantara faktor-faktor tersebut.
Selanjutnya apabila kita lihat penemuan yang berhubungan dengan praktek
pengasuhan dan perkembangan remaja, kita harus ingat bahwa hanya orang tua
yang menerima perilaku remaja maka selanjutnya remaja akan menerima perilaku
orang tuanya (Steinberg 1993).
12
Ekologi Pengasuhan
Pengasuhan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Oleh karena itu setiap keluarga perlu mendidik anak agar menjadi manusia yang
sehat, cerdas, dan sejahtera lahir batin. Menurut Sunarti (2004), pengasuhan dapat
diartikan sebagai implementasi serangkaian keputusan yang dilakukan orang tua
atau orang dewasa kepada anak, sehingga memungkinkan anak menjadi
bertanggungjawab, menjadi anggota masyarakat yang baik dan memiliki karakter
baik. Pengasuhan juga menyangkut aspek manajerial, berkaitan dengan
kemampuan merencanakan, melaksanakan, mengorganisasikan, serta mengontrol
atau mengevaluasi semua hal yang berkaitan dengan pertumbuhan dan
perkembangan anak.
Bronfenbrenner (1979) mengemukakan teori ekologi yang menyatakan
bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh sistem interaksi yang kompleks
dengan berbagai tingkatan lingkungan sekitarnya. Lingkungan anak digambarkan
sebagai rangkaian struktur yang meliputi interaksi yang saling berhubungan antara
di dalam dan di luar rumah, sekolah dan tetangga dari kehidupan anak setiap hari.
Interaksi ini menjadi motor atau penggerak dari perkembangan anak.
Dalam teori ekologi perkembangan anak, anak merupakan pusat dari
lingkaran, dikelilingi oleh berbagai lingkaran sistem interaksi yang terdiri dari
sistem mikro, sistem meso, sistem ekso, dan sistem makro yang satu sama lain
saling memengaruhi. Ketika masih bayi lingkungan mikro, anak hanya meliputi
orang tua dan saudara-saudara kandungnya, juga pengasuhnya bila bayi tersebut
mendapat pelayanan di tempat penitipan anak (day care centers). Dengan
bertambahnya usia anak menjadi usia sekolah, sistem mikronya berkembang
meliputi tempat penitipan anak dan sekolah. Hal paling penting dari sistem mikro
adalah kontak dan interaksi langsung orang dewasa dengan anak dalam jangka
waktu yang cukup panjang dan intensif. Sistem meso adalah lingkaran yang
ditunjukkan dengan interaksi antar komponen dalam sistem mikro anak.
Perkembangan anak amat dipengaruhi oleh keserasian hubungan antarkomponen
dalam sistem mikronya. Sebagai contoh, hubungan antara rumah dan sekolah,
guru dan orang tua. Prinsip utama dari sistem meso adalah semakin kuat dan
saling mengisi interaksi antar komponen dalam sistem meso, semakin besar
13
pengaruh dan hasilnya pada perkembangan anak. Sistem ekso merupakan
lingkaran yang menunjukkan sistem sosial yang lebih besar dan anak tidak
langsung berperan di dalamnya tetapi interaksi komponen sistem ini seperti dalam
bentuk keputusan pada tataran lembaga yang mempunyai hubungan dengan anak,
berpengaruh terhadap perkembangan anak. Keputusan-keputusan dari tempat
kerja orang tua, komite sekolah, atau lembaga perencanaan adalah contoh dari
sistem ekso yang dapat memengaruhi anak, baik positif maupun negatif meskipun
anak tidak langsung terlibat dalam lembaga-lembaga tersebut. Contoh lain adalah
kekerasan yang dilakukan oleh orang dewasa yang terjadi di lingkungan tempat
tinggal anak yang dapat berpengaruh pada kesulitan anak untuk tidur. Sistem
makro adalah lingkaran terluar dari lingkungan anak. Lingkaran ini terdiri dari
SISTEM
MAKRO
EKOSISTEM
Keluarga Luas
SISTEM MESO
SISTEM
MIKRO
Teman
Tetangga
Keluarga
Sekolah
Anak
Mass
Media
Klp
Agama
Tetangga
Pelayanan
Hukum
Pelayanan Sosial
Gambar 1 Hubungan Anak dengan Lingkungannya (Model Ekologi dari
Bronfenbrenner 1979)
14
nila-nilai budaya, hukum dan peraturan perundangan, adat kebiasaan, kebijakan
sosial dan lain sebagainya. Seluruh komponen dari sistem ini juga berpengaruh
terhadap perkembangan anak. Media massa seperti tayangan TV yang termasuk
sistem makro mempunyai pengaruh sangat nyata terhadap perkembangan anak.
Sejalan dengan hal ini, Jack (2000) menyatakan bahwa perkembangan anak dan
remaja serta perubahan kehidupan dalam masa dewasa merupakan hasil dari
sekumpulan hal yang kompleks dari factor interaksi yang terjadi pada tingkat
individu, keluarga dan masyarakat.
Gaya pengasuhan anak merupakan seluruh interaksi antara subjek dan
objek berupa bimbingan, pengarahan dan pengawasan terhadap aktivitas objek
sehari-hari yang berlangsung secara rutin sehingga membentuk suatu pola dan
merupakan usaha yang diarahkan untuk mengubah tingkah laku sesuai dengan
keinginan si pendidik atau pengasuh (Sears, et al. 1957; Gunarsa dan Gunarsa
1995b). Peran ibu adalah sebagai pelindung dan pengasuh. Seorang ibu, tua
maupun muda, kaya atau miskin secara naluriah tahu tentang garis-garis besar dan
fungsinya sehari-hari dalam keluarga. Ibu adalah pendidik pertama dan utama
dalam keluarga, khususnya bagi anak-anak yang berusia dini. Oleh karena itu
keterlibatan ibu dalam mengasuh dan membesarkan anak sejak masih bayi dapat
membawa pengaruh positif maupun negatif bagi perkembangan anak di masa
yang akan datang.
Gaya pengasuhan positif misalnya penyusuan langsung dari ibu kepada
bayi (skin to skin contact) amat penting bagi tumbuh-kembang anak. Hingga bayi
berusia enam bulan, ASI merupakan makanan yang paling baik dengan berbagai
keunggulan yang tidak dimiliki susu formula membuat anak lebih kebal terhadap
penyakit dan tidak menderita kelebihan gizi. Sebaliknya, pengaruh negatif ibu
dalam mengasuh anak seperti terlalu melindungi dapat menyebabkan anak
menjadi lambat perkembangan kepribadiannya. Kenyataan bahwa pola asuh
dalam keluarga utuh dan dalam satu rumah, serta hanya satu yang berperan
sebagai ibu adalah tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya oleh semua orang tua
baik di Indonesia maupun di negara lain. Lebih jauh dinyatakan oleh Sunarti
(2008), bahwa terdapat hubungan yang erat dan positif antara ketahanan keluarga
dengan pengasuhan anak (berbagai dimensi); antara pengasuhan dengan status
15
gizi dan antara pengasuhan dengan perkembangan anak. Ketahanan sosial dan
psikologis sangat mendukung proses kematangan kepribadian suami isteri yang
pada akhirnya akan berpengaruh terhadap pengasuhan anak. Pengasuhan yang
baik biasanya disertai dengan banyaknya stimulasi yang diberikan kepada anak.
Semakin banyak stimulasi yang diberikan maka anak akan dengan lebih mudah
mencapai prestasi perkembangannya.
Masalah di negara timur termasuk Indonesia, keluarga besar masih lazim
dianut dan peran ibu sering dipegang oleh beberapa orang seperti nenek, keluarga
dekat lainnya atau pembantu. Kecenderungan wanita untuk bekerja di luar rumah
menyebabkan meningkatnya peran pengganti ibu, sehingga peran "ibu pengganti"
menjadi sangat penting. Pada keluarga yang disharmonis atau adanya perpisahan
sementara dengan ibu karena tugas, maupun perpisahan permanen karena orang
tua bercerai atau meninggal, atau dititipkan di panti asuhan dapat menyebabkan
masalah psikis pada anak karena tidak ada atau kurang adanya kasih sayang yang
sangat dibutuhkan oleh anak untuk mendukung tercapainya pertumbuhan dan
perkembangan anak yang optimal (Hurlock 1998). Anak yang telantar kasih
sayang dapat mengalami hambatan dalam belajar bergaul dengan orang lain.
Mereka bereaksi secara negatif terhadap pendekatan orang lain, sukar diajak kerja
sama, dan bersikap memusuhi. Anak-anak tersebut merasa tidak pandai dan
memperlihatkan kekesalan dengan perilaku agresif, tidak patuh, dan bentuk
perilaku anti sosial lainnya.
Menurut Kagan (Berns 1997), pengasuhan merupakan implementasi
keputusan tentang sosialisasi pada anak, hal-hal yang dilakukan agar anak mampu
bertanggungjawab, menjadi anggota masyarakat yang memiliki kontribusi, apa
yang dilakukan ketika anak menangis, ketika anak menjadi agresif, berbohong
atau tidak melakukan hal yang baik di sekolah.
Dalam perkembangannya, anak membutuhkan orang lain dan orang yang
pertama dan utama memiliki tanggungjawab pengasuhan adalah orang tuanya
sendiri. Seperti yang dikatakan Lugo dan Hershey (Prananto 1993), bahwa
hubungan yang pertama dan terutama dalam kehidupan seorang anak adalah
dengan ibunya, dan dari hubungan ini anak akan membentuk pola hubungan
antara dirinya dengan orang lain sepanjang hidupnya. Pada masa ini keluarga
16
yang merupakan tempat terjadinya hubungan bertanggungjawab langsung
mengembangkan keseluruhan eksistensi anak, memenuhi kebutuhan anak baik
fisik maupun psikologis. Keluarga dalam hubungannya dengan anak diidentikan
sebagai tempat atau lembaga pengasuhan anak yang paling dapat memberi kasih
sayang, manusiawi, efektif dan ekonomis. Dalam keluargalah untuk pertama kali
anak-anak mendapat pengalaman langsung yang akan digunakan sebagai bekal
hidupnya di kemudian hari melalui latihan-latihan fisik, mental, sosial, emosional
dan spiritual.
Pola asuh anak adalah segala interaksi antara orang tua dengan anaknya
dalam praktek pengasuhan yang diberikan kepada anak. Interaksi ini meliputi
segala perilaku, minat, nilai-nilai, sikap dan kepercayaan yang diajarkan pada
anak-anak melalui proses pendidikan dan pengasuhan sepanjang hidup anak
(Karyadi 1988). Menurut Lamb (Prananto 1993), bahwa kualitas interaksi lebih
penting daripada kuantitas. Waktu interaksi yang tidak lama akan tetapi
menyenangkan lebih memberikan hasil yang baik daripada interaksi terus menerus
tetapi tanpa kepuasan. Praktek-praktek pengasuhan anak muncul dalam interaksi
yang terjadi antara orang tua dengan anak-anaknya. Menurut Lawton (Berns,
1997), sumbangan keluarga pada perkembangan anak ditentukan oleh sifat
hubungan antara anak dengan berbagai anggota keluarga, sedangkan hubungan
yang terjalin antara anak dan orang tua bukan merupakan proses yang searah akan
tetapi timbal balik, karena perilaku anak dapat mempengaruhi perilaku orang tua.
Julie (2007) menyatakan bahwa terdapat bukti yang nyata dari peranan faktor
konteks sosial di dalam pengasuhan. Pengasuhan individual berkontribusi pada
perilaku bermasalah anak dan depresi yang dialami orang tua berpengaruh
langsung tehadap pengasuhan, khususnya pada ayah. Secara bersamaan, konflik
rumah tangga secara langsung berhubungan dengan pengasuhan ayah, dan secara
langsung dan tidak langsung berhubungan dengan pengasuhan ibu melalui depresi
yang terjadi pada masa perkawinan.
Aspek-aspek Pengasuhan
Baumrind (1991) menyatakan bahwa terdapat empat dimensi perilaku
orang tua yang diyakini memiliki dampak penting bagi perkembangan anak, yaitu:
1. Pengendalian Orangtua (Parental Control)
17
Meliputi segala upaya orang tua untuk menggunakan pengaruhnya terhadap
anak. Orang tua memiliki kemampuan untuk menahan tekanan dari anak, dan
konsisten dalam menjalankan aturan. Mengontrol tindakan didefinisikan
sebagai upaya orang tua untuk memodifikasi ekspresi ketergantungan anak,
agresivitas atau perilaku bermain di samping untuk meningkatkan internalisasi
anak terhadap standar yang dimiliki orang tua terhadap anak.
2. Tuntutan Kematangan (Maturity Demands)
Orang tua memberikan tekanan terhadap anak untuk dapat meningkatkan
kemampuan mereka dalam aspek sosial, intelektual dan emosional. Orang tua
pun menuntut kemandirian yang meliputi pemberian kesempatan kepada anakanaknya untuk membuat keputusannya sendiri.
3. Komunikasi Orangrua-anak (Parents-Child Communication)
Orang tua meminta pendapat anak dan berusaha mengetahui bagaimana
perasaan anak akan sesuatu melalui diskusi. Orang tua pun mendengarkan
penjelasan-penjelasan anak dan membiarkan mereka dipengaruhi oleh dugaan
yang beralasan.
4. Dampak yang mengikuti (Nurturance)
Orang tua mampu mengekspresikan cinta dan kasih sayang melalui tindakan
dan sikap yang mengekspresikan kebanggaan dan rasa senang atas
keberhasilan yang dicapai anak-anaknya.
Tujuan Pengasuhan
Pengasuhan yang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya memiliki
tujuan yang diarahkan pada pertumbuhan dan perkembangan psikososial anak
sesuai dengan tugas-tugas perkembangannya. Euis Sunarti (2004) menyatakan
bahwa terdapat tiga tujuan dalam pengasuhan, yaitu: pengembangan konsep diri,
mengajarkan disiplin diri dan mengajarkan keterampilan pengembangan.
1. Pengembangan Konsep Diri
Konsep diri dibangun melalui pengalaman berinteraksi dengan orang lain.
Interaksi tersebut membuat anak mulai mengidentifikasi dirinya, menemukan
dan mencari persamaan dan perbedaan antara dirinya dengan orang lain.
2. Mengajarkan Disiplin Diri
18
Disiplin adalah kemampuan seseorang untuk bertindak sesuai norma-norma
atau aturan-aturan yang berlaku. Perilaku disiplin termasuk menunda atau
memodifikasi keinginan atau kepuasan sementara untuk mencapai tujuan
jangka panjang.
3. Mengajarkan Keterampilan Pengembangan
Pengasuhan mengajarkan anak berbagai keterampilan hidup (kognitif, sosial
dan emosional) melalui upaya-upaya yang memungkinkan anak berkembang
secara optimal. Keterampilan hidup tersebut memungkinkan anak mampu
menjalankan berbagai fungsi dalam kehidupannya.
Gaya Pengasuhan
Penelitian mengenai gaya pengasuhan dan pengaruhnya telah banyak
dilakukan. Seorang peneliti yaitu Baumrind (1991) membuat kreasi model
pengasuhan yang didefinisikan gaya pengasuhan kedalam tiga bagian tipologi,
yaitu authoritarian, authoritative, dan permissive (Darling dan Steinberg 1993). Ia
memberikan dasar pemikiran setiap tipe dalam tingkatan demandingness dan
responsiveness dimana orang tua memberikan reaksi kepada anak. Model ini
diperbaharui oleh Maccoby dan Martin, yang membagi gaya pengasuhan
permissive kedalam dua tipe yang terpisah yaitu indulgent dan neglectful yang
kadangkala disebut juga sebagai indifferent (Darling dan Steinberg, 1993).
Selanjutnya mereka memberikan label demandingness dan responsiveness pada
Baumrind menjadi control dan responsiveness.
Pada saat ini pengasuhan lebih umum dipecah ke dalam empat gaya, yaitu
authoritative, authoritarian, indulgent dan indifferent. Para peneliti merujuk
pengasuhan pada tingkatan responsiveness atau warmth dan demandingness serta
control. Setiap gaya pengasuhan ini mempengaruhi perkembangan karakteristik
pada anak dan remaja. Gaya pengasuhan dipengaruhi oleh norma-norma kultural
dan lebih khusus oleh perbedaan etnis serta status sosial ekonomi dimana
pengasuhan diadopsi.
Setiap gaya pengasuhan memiliki karakteristik yang disesuaikan menurut
tingkatan demandingness atau control dan responsiveness atau warmth. Di dalam
mengenal keempat gaya pengasuhan, sangat penting untuk dicatat bahwa banyak
19
dari para orang tua memiliki ciri-ciri lebih dari satu kategori, dan di dalam
keluarga utuh, salah satu orang tua kemungkinan memiliki gaya yang berbeda
dibanding dengan pasangannya. Gaya pengasuhan merupakan assessment global
terhadap keseluruhan kualitas pengasuhan yang dialami remaja. Pengaruh orang
tua pada remaja sangat besar dan gaya pengasuhan kemungkinan akan membuat
atau malah dapat menghambat keberhasilan anak:
1. Gaya Pengasuhan Authoritative
Dalam budaya barat pengasuhan authoritative dilihat sebagai suatu hal yang
sangat bermanfaat bagi perkembangan anak (Darling dan Steinberg 1993).
Orang tua yang authoritative memiliki tingkatan yang tinggi pada
responsiveness dan demandingness. Mereka (orang tua yang authoritative)
seringkali melibatkan anaknya di dalam pembuatan keputusan dan mengajak
diskusi walaupun masih dalam lingkup yang terbatas. Orang tua seperti ini
memiliki harapan yang tinggi untuk anak mereka, akan tetapi pendekatannya
dilakukan dengan cara yang hangat. Pada saat anak masuk kedalam masa
remaja, orang tua yang authoritative meresponnya melalui membiarkan anak
lebih autonomy yang dihubungkan dengan peralihan yang sehat dari remaja
kepada masa dewasa. Orang tua yang authoritative memahami bahwa
komunikasi di antara orang tua dan anak-anaknya harus jelas untuk
memelihara hubungan orang tua dan anak yang menyenangkan. Orang tua
bersifat assertive tetapi tidak ikut campur (intrusive) dan membatasi
(restrictive). Cara pendisiplinan mereka adalah dengan memberikan dukungan
dibanding hukuman.
Remaja merasa lebih nyaman berbicara terbuka dengan orang tua yang
authoritative. Orang tua tidak dapat memberikan hukuman terhadap perilaku
negatif yang dilakukan, dan mereka lebih senang untuk memberikan reward
pada perilaku yang positif. Gaya pengasuhan ini menyediakan pengukuran
kompetensi yang tinggi, perkembangan sosial, persepsi-diri dan kesehatan
mental. Terdapat bukti bahwa orang tua yang authoritative menghasilkan
perkembangan psikososial yang tinggi dan sedikit masalah-masalah yang
berhubungan dengan perilaku (Baumrind 1991).
20
2. Gaya Pengasuhan Authoritarian
Gaya pengasuhan ini seringkali dievaluasi dalam batas-batas konflik dengan
aspek-aspek positif dan yang lainnya dengan aspek-aspek yang negatif. Orang
tua yang diklasifikasikan sebagai authoritarian memiliki demandingness yang
tinggi tetapi rendah di dalamkehangatan (warmth) dan responsiveness. Orang
tua tidak melibatkan di dalaminteraksi yang menuntut kematangan dan
melibatkan sedikit debat dengan anak-anaknya (Darling dan Steinberg 1993).
Mendapatkan apa yang diharapkan oleh orang tua yang authoritarian
seringkali memerlukan perjuangan bagi anak dan remaja seperti yang mereka
sering respon untuk mencapai harapan sebagai hal yang bertentangan dengan
do’a dan dukungan. Kebanyakan remaja cenderung untuk menolak gaya
komentar dan perintah, serta memberontak orang tua yang menggunakan gaya
ini.
Menurut Steinberg (1993), bahwa orang tua yang authoritarian cenderung
untuk memberikan lebih hukuman dan disiplin yang mutlak tanpa memberi
dan menerima komunikasi. Hal ini berarti bahwa orang tua lebih banyak
memberikan perintah pada anak-anaknya dan dengan cepat menghukum pada
saat mereka tidak melaksanakan tugasnya. Remaja yang memiliki orang tua
dengan kategori ini akan memiliki perilaku yang baik akan tetapi
kemungkinan mengalami depresi. Remaja cenderung untuk berpenampilan
baik di sekolah dan tidak akan terlibat dalam masalah yang berhubungan
dengan perilaku, akan tetapi mereka memiliki keterampilan sosial yang sedikit
dan rendah dalam self-esteem nya (Darling dan Steinberg 1993).
3. Gaya Pengasuhan Indulgent
Kadangkala dihubungkan dengan istilah permissive. Orang tua yang indulgent
adalah yang hangat dan memiliki responsiveness yang tinggi akan tetapi tidak
menuntut dan rendah dalam pengawasan (Radziszewska 1996). Mereka
memberikan kebebasan dan sedikit menerapkan kedisiplinan kepada anakanaknya. Orang tua yang indulgent seringkali tidak konsisten dengan aturan
dan disiplin yang telah diterapkan pada anak-anaknya (Darling dan Steinberg
1993). Orang tua dengan gaya ini bertentangan dengan orang tua yang
indifferent karena memiliki respon yang sangat tinggi pada anak-anaknya.
21
Mereka tidak banyak menuntut dari anak-anaknya (Steinberg 1993). Orang tua
dengan gaya ini adalah mereka yang membiarkan anak-anaknya ”walk out
over them.”
Remaja yang memiliki orang tua dengan gaya indulgent lebih banyak terlibat
dengan masalah perilaku, akan tetapi mereka memiliki self-esteem yang tinggi,
keterampilan sosial yang lebih baik dan depresi tingkat rendah (Darling dan
Steinberg 1999).
4. Gaya Pengasuhan Indifferent
Gaya pengasuhan ini sering disebut juga dengan istilah neglecting. Orang tua
yang diklasifikasikan sebagai indifferent memiliki tingkatan yang rendah baik
pada responsiveness maupun pada demandingness (Radziszweska 1996).
Seperti orang tua indulgent, mereka mengijinkan anak-anaknya memiliki
kebebasan yang belum pernah didapatnya serta mengharapkan sedikit
tanggung jawab. Akan tetapi tidak seperti orang tua indulgent, dimana orang
tua dengan gaya ini memiliki jarak dan tidak terlibat dalam kehidupan anakanaknya. Mereka tidak tertarik pada apa yang terjadi pada anak-anaknya.
Orang tua dengan gaya ini tidak responsive dan memiliki sedikit harapan pada
anak-anaknya (Steinberg 1993). Orang tua tidak memonitor atau mengawasi
perilaku anak-anaknya. Anak dengan orang tua indifferent sangat miskin di
dalamsemua aspek kehidupan (Darling dan Steinberg 1993).
Rohner (1986) mengemukakan bahwa gaya pengasuhan dengan dimensi
kehangatan (warmth dimension). Menurutnya bahwa gaya pengasuhan kehangatan
bersifat kontinum, namun dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori yaitu gaya
pengasuhan penerimaan (acceptance) dan gaya pengasuhan penolakan (rejection).
1. Gaya Pengasuhan Penerimaan (Parental Acceptance)
Gaya pengasuhan ini ditandai dengan curahan kasih sayang dari orang tua
kepada
anaknya
baik
secara
fisik
maupun
secara
verbal
dengan
mengekspresikan kasih sayang dan perhatiannya melalui pujian, penghargaan
dan dukungan untuk berkembang.
2. Gaya Pengasuhan Penolakan (Parental Rejection)
Gaya pengasuhan ini dibagi lagi kedalam gaya pengasuhan pengabaian, gaya
pengasuhan penolakan dan gaya pengasuhan permusuhan. Gaya pengasuhan
22
pengabaian ditandai dengan tidak adanya perhatian orang tua terhadap
pemenuhan kebutuhan anak yang mengakibatkan anak tidak lagi merasakan
kehadiran orang tua yang seharusnya berperilaku sebagaimana layaknya orang
tua. Gaya pengasuhan penolakan ditandai dengan munculnya perkataan dan
perilaku orang tua yang menyebabkan anak merasa tidak dicintai, tidak
dikasihi, tidak dihargai bahkan lebih parah lagi anak tidak dikehendaki
kehadirannya di dunia ini. Gaya pengasuhan permusuhan ditandai dengan
munculnya perkataan dan perbuatan yang kasar serta agresif dari orang tua.
Gottman dan DeClaire (Sunarti 2004) membagi gaya pengasuhan emosi
anak kedalam empat kelompok, yaitu: (1) gaya pengasuhan orang tua yang
mengabaikan emosi anak, (2) gaya pengasuhan orang tua yang tidak menyetujui
dan senantiasa mengkritik emosi negatif anak, (3) gaya pengasuhan orang tua
yang menerima emosi anak namun gagal mengarahkannya, serta (4) gaya
pengasuhan orang tua yang menerima emosi anak dan sekaligus membimbing dan
mengarahkan emosi anak.
1. Gaya Pengasuhan yang Mengabaikan (Dismissing Style)
Gaya pengasuhan ini ditandai dengan perilaku orang tua yang cenderung
mengabaikan dan melecehkan atau merendahkan emosi negatif anak.
2. Gaya Pengasuhan Tidak Menyetujui (Disaproving Style)
Gaya pengasuhan ini ditandai dengan perilaku orang tua yang cenderung
mengkritik anak dengan perasaan negatif dan tidak menyetujui bahkan
menghukum mereka karena ekspresi emosinya.
3. Gaya Pengasuhan Laissez Faire
Gaya pengasuhan ini ditandai dengan situasi dan kondisi dimana orang tua
menerima emosi anak dan bersimpati kepada mereka (menerima semua emosi
anak tanpa prasyarat), akan tetapi gagal untuk menawarkan pengarahan atau
menetapkan standar atau batasan-batasan perilaku anak.
4. Gaya Pengasuhan Emosi (Emotional Coach)
Gaya pengasuhan ini ditandai dengan situasi dimana orang tua menerima
perasaan anak tanpa syarat, bersimpati kepada mereka (sama seperti pada gaya
pengasuhan Laissez Faire), sekaligus orang tua memberikan panduan atau
23
pengarahan
serta
menetapkan
batasan-batasan
kepada
anak
dalam
mengekspresikan emosinya.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengasuhan
Faktor Status Sosial Ekonomi
Penelitian menunjukkan bahwa status sosial ekonomi berpengaruh
terhadap gaya pengasuhan dan gaya pengasuhan tersebut dapat memberikan reaksi
terhadap status sosial ekonomi. Terdapat sejumlah studi yang diarahkan untuk
mengungkap hubungan ini. Mereka menemukan bahwa gaya pengasuhan
bervariasi sesuai status sosial ekonomi dan pengaruh setiap gaya muncul secara
konsisten serta perbedaannya kecil (Radziszewska 1996).
Seringkali pengasuhan authoritarian dicatat sebagai gaya pengasuhan
dominan di dalam strata sosial ekonomi rendah. Walaupun gaya pengasuhan ini
telah menunjukkan gangguannya pada pertumbuhan anak di dalamkelas
menengah, akan tetapi dapat mengarahkan pada kelas yang lebih rendah
(Radziszweska 1996). Sebagai contoh keuntungan yang potensial pada gaya ini
dalam status sosial ekonomi rendah adalah posisi pekerja yang tidak memiliki
keterampilan. Dengan tumbuhnya anak menjadi tergantung, kemampuan
intelektual rendah dan kepatuhan, maka orang tua yakin akan keberhasilan anak di
dalamposisi yang sama.
Banyak anak yang tumbuh dalam rumah tangga yang authoritarian
memasuki pencarian identitas dan mengadopsi identitas tanpa menggali lebih jauh
pilihan-pilihan yang ada. Hal ini terlihat seperti sesuatu yang bersifat maladaptive
dan kadangkala tidak dapat diterima di dalammasyarakat kelas menengah, akan
tetapi pada masyarakat dengan status sosial ekonomi rendah hal ini seringkali
bersifat adaptif. Terdapat sedikit kesempatan dan sedikit nilai yang ditempatkan
dalam menambah pendidikan dalamkomunitas dengan penghasilan rendah, dan
bagi mereka yang ingin lebih maju seringkali tersisih atau memiliki sumber yang
telah dihabiskan oleh orang-orang di sekitarnya. Di dalamsituasi seperti ini, akan
lebih sehat apabila menerima identitas yang telah ditentukan tanpa bertanya akan
pilihan-pilihan lainnya.
24
Orang tua dalam kelas menengah cenderung menggunakan pengasuhan
authoritative. Hal ini merefleksikan penempatan nilai yang kuat pada kebebasan
dan autonomy. Melalui dorongan dan penjelasan terhadap anak-anaknya, orang
tua mencoba untuk menanamkan mentalitas “Saya dapat melakukan apa saja”
yang akan mengarahkan pada penggalian dan seringkali berhasil di antara anakanak yang tumbuh dibawah gaya ini. Anak-anak yang tumbuh dalam rumah yang
authoritarian melakukan eksplorasi sebelum membuat komitmen identitas. Hal ini
akan mengarahkan pada kepuasan hidup yang tinggi dan kemampuan untuk
mengendalikan krisis yang terjadi pada kehidupan selanjutnya. Orang tua yang
memiliki penghasilan lebih tinggi memiliki kecenderungan yang besar untuk
mengadopsi pengasuhan indifferent dan indulgent (Radziszewska 1996).
Faktor Ras dan Etnis
Ras dan etnis memberikan pengaruh terhadap gaya pengasuhan dan di
dalambeberapa kasus mempengaruhi reaksi anak-anak pada gaya pengasuhan.
Secara umum, semua anak menunjukkan keberhasilan yang tinggi di dalamrumah
dengan orang tua yang authoritative (Steinberg 1993).
Keluarga Asia cenderung menggunakan gaya pengasuhan permissive pada
saat anak-anak masih kecil dan selanjutnya menjadi lebih authoritative pada saat
anak-anak bertambah usianya. Hal ini mengarahkan terbentuknya attachment
yang kuat diantara orang tua dan anak dan meningkatkan penghindaran anak dari
perilaku menyimpang. Menariknya dari penelitian ini adalah bahwa perempuan
Asia cenderung menunjukkan tingkat depresi paling tinggi seperti yang dihasilkan
pada pengasuhan authoritarian (Radzizzewski 1996).
Faktor Gaya Pengasuhan terhadap
Perkembangan Psikososial Remaja
Semua gaya pengasuhan cenderung mempengaruhi perkembangan anak.
Di dalambatasan Social Learning Theory yang dibahas oleh Bandura, menyatakan
bahwa para orang tua mentransmisikan keterampilan, sikap, nilai-nilai dan
kecenderungan emosionalnya melalui modeling (Evans 1989). Transmisi ini dapat
mengarah pada pembentukan baik karakteristik positif maupun negatif pada anakanak.
25
Pengasuhan dengan gaya authoritarian dan indifferent dapat mengarahkan
pada terbentuknya keterampilan psikososial yang rendah (Radziszewski 1996).
Anak belajar hubungan pada model setelah terlebih dahulu hubungan dengan
hidupnya, dan paling sering hubungan antara orang tua-anak. Apabila terdapat
jarak hubungan antara orang tua-anak, maka hal ini tidak saja mengarah pada
terbentuknya hubungan dimasa depan yang tidak memadai dan ketidakmampuan
untuk membentuk hubungan yang dekat, akan tetapi juga mungkin akan mengarah
pada anak mencari orang lain untuk membimbingnya. Teman-teman sebaya atau
karakter di dalammedia seringkali mendorong perilaku menyimpang yang dapat
mengarahkan anak pada keterlibatannya dalam beberapa aktivitas (Evans 1989).
Menurut Darling dan Steinberg (1993), model pengasuhan positif terdapat
pada tiga dari empat gaya pengasuhan yaitu authoritative, authoritarian dan
indulgent. Di dalampengasuhan authoritative dan authoritarian, anak mempelajari
model perilaku yang bertanggungjawab. Mereka memperhitungkan tindakannya
dimana
keberaniannya
tidak
hanya
pada
perhitungannya,
akan
tetapi
pertanggungjawaban model untuk teman-teman sebayanya. Anak belajar
keterampilan sosial yang bernilai melalui keseringan berdiskusi tentang peraturan
dan disiplin di dalam rumah dengan gaya authoritative. Keterbukaan untuk
berdiskusi didemonstrasikan melalui orang tua yang memberikan keberanian
untuk berdebat dan menunjukkan kepada anak bagaimana berperilaku fair dan
berhadapan dengan kontrovesi. Pelibatan aspek kehangatan dan responsif di
dalam pengasuhan authoritative dan indulgent memberi kepada anak rasa percaya
diri dan memperlihatkan bentuk hubungan yang sehat.
Hasil lain dari gaya pengasuhan adalah transmisi antargenerasi pada gaya
pengasuhan (Barber
1998).
Sebagai contoh,
apabila anak
tumbuh di
dalamrumahtangga yang authoritarian dengan kekerasan yang dapat dinegosiasi,
maka anak ini akan menggunakan gaya pengasuhan authoritarian yang sama pada
anak-anaknya. Transmisi antargenerasi pada gaya pengasuhan dapat menjadi
optimal atau dikompromikan tergantung pada pengulangan gaya pengasuhan.
Perilaku anak yang dihasilkan bervariasi seperti sebuah fungsi gaya pengasuhan
dan akan mengikuti pola-pola secara umum:
1. Perilaku yang Dihasilkan pada Pengasuhan Authoritative
26
Pengasuhan authoritative memiliki kecenderungan menghasilkan penyesuaian
sosial dan psikososial anak yang terbaik (Steinberg, 1993). Dikarenakan
hubungan yang terbuka antara orang tua-anak dan diskusi yang luas serta
penjelasan akan keterbatasan anak di dalamsituasi ini maka secara umum akan
meningkatkan keterampilan-keterampilan sosial. Mereka juga terbuka untuk
menjadi autonomy melalui jaminan orang tuanya selama masa remaja. Anakanak yang tumbuh di dalamrumah tangga yang authoritative memiliki
kecenderungan untuk berpenampilan baik di sekolah, sama seperti yang telah
dicapai oleh orang tuanya.
2. Perilaku yang Dihasilkan pada Pengasuhan Authoritarian
Gaya pengasuhan inipun bervariasi sesuai dengan status ekonomi dan etnis.
Secara umum, anak-anak dari orang tua dengan pengasuhan authoritarian
memiliki keterampilan-keterampilan sosial rendah yang berpengaruh kepada
kesenjangan pada saat dilakukan diskusi. Kesenjangan dialog di dalamdiskusi
ini memberikan kontribusi terhadap munculnya sikap pasif pada anak-anak
yang tumbuh dalam rumah tangga yang authoritarian (Darling dan Steinberg,
1993). Anak-anak dalam gaya pengasuhan ini terbiasa melakukan apa yang
diucapkan tanpa memiliki otoritas untuk bertanya. Perilaku patuh yang
dituntut oleh orang tua dengan gaya pengasuhan ini dapat juga menghasilkan
self-esteem yang rendah dan kebutuhan yang rendah pada anak untuk terlibat
di dalam aktivitas intelektual. Pada akhirnya, masalah-masalah perilaku dapat
dihasilkan dan tekanan yang dialami oleh anak.
3. Perilaku yang Dihasilkan pada Pengasuhan Indulgent
Pengasuhan indulgent menghasilkan baik hal yang positif maupun negatif
(Steinberg, et al., 1992). Satu hal yang diinginkan cenderung untuk memiliki
self-esteem yang tinggi yang didemostrasikan oleh anak-anak yang tumbuh
pada rumah tangga yang indulgent. Hasil yang negatif pada pengasuhan
indulgent adalah tanggung jawab yang kurang dan tingkat kematangan yang
lebih rendah. Anak-anak ini lebih rendah prestasi akademiknya dan terlibat
dalam masalah penyimpangan perilaku. Kesenjangan keterlibatan dan disiplin
orang tua memberikan kontribusi kepada penyimpangan perilaku ini.
27
4. Perilaku yang Dihasilkan pada Pengasuhan Indifferent
Anak-anak yang tumbuh di dalamsebuah rumah tangga yang indifferent
kelihatannya
mengalami
kesulitan
yang
berat
dalam
perkembangan
psikososialnya. Anak-anak ini cenderung menampilkan hasil yang buruk di
sekolah
dan
mengalami
masalah
penyimpangan
perilaku,
termasuk
penyalahgunaan obat-obatan (Radziszewska, 1996). Tingkat kematangan
mereka secara umum rendah dan tidak memiliki tanggungjawab. Hal ini dapat
disebabkan oleh jarak yang lebar antara orang tua-anak dan kurangnya
pengasuhan.
Remaja
Tahapan perkembangan merupakan periode dalam hidup manusia yang
ditandai oleh aturan yang spesifik. Pada setiap tahapan, beberapa cirinya
dibedakan dari tahapan sebelumnya dan keberhasilan melalui tahapan tersebut.
Pada masing-masing tahapan, pencapaian dari tahapan berikutnya menjadi sumber
bagi dimilikinya tantangan baru. Setiap tahapan adalah unik dan menjadi prasyarat
bagi tercapainya keterampilan baru yang berhubungan dengan kapabilitas baru.
Salkind (1985) berpendapat bahwa perkembangan merupakan serangkaian
kemajuan tentang perubahan yang terjadi dalam pola yang dapat diprediksi
sebagai
hasil
interaksi
diantara
faktor
biologis
dan
lingkungan.
Di
dalamperkembangan manusia terdapat beberapa kecenderungan yang umum
terjadi pada individu. Kecenderungan tersebut berkenaan dengan: (1) transisi yang
terjadi dari sistem respon umum kepada sistem respon yang khusus. Respon
umum seperti menangis pada saat bayi baru lahir yang dapat memiliki berbagai
makna yang berbeda, misalnya menangis, lapar dan kesakitan, dan respon khusus
seperti perilaku spesifik yang dengan mudah dapat dibedakan dari perilaku orang
lain dalam batas-batas intensitas dan kegunaannya; (2) individu mengalami
peningkatan ke arah yang lebih kompleks dalam aspek biologis (dari satu sel
menjadi ribuan sel yang terpisah menjadi unit-unit yang berdiri sendiri) dan aspek
psikologis (peningkatan kompleksitas sejumlah emosi atau strategi berbeda yang
lebih canggih untuk memecahkan masalah), yang terjadi baik secara kuantitatif
maupun kualitatif; (3) untuk mempertahankan hidupnya, individu tidak dapat
28
memfungsikan perilakunya secara terpisah akan tetapi merupakan bagian dari
rangkaian sistem yang terorganisir. Pada saat perilaku dianggap berbeda, perilaku
tersebut lebih terartikulasi atau berbeda dari yang lainnya dan ketika perilaku
tersebut terintegrasi maka akan bertautan atau tergabung kedalam perilaku yang
lainnya dan seringkali membentuk sesuatu yang secara kualitatif berbeda dari
perilaku sebelumnya; (4) selama tahun awal perkembangan, anak memiliki
kecenderungan untuk percaya bahwa pandangannya terhadap dunia merupakan
satu-satunya hal yang dianggap mungkin akan terjadi. Keasyikan dengan
pandangannya sendiri terhadap dunia disebut sebagai egocentrism, yang
diasumsikan sebagai bentuk yang berbeda dengan kemajuan perkembangan, akan
tetapi semua gambaran tentang perkembangan memperlihatkan kecenderungan
menjadi berkurang pada perkembangan individu. Hal ini mungkin saja terjadi
karena perubahan kondisi sosial (misalnya, orang cenderung berkurang selfcentered nya manakala mereka mulai melakukan sosialisasi dengan orang lain)
atau karena perubahan biologis; dan (5) anak memperlihatkan peningkatan
kemandirian dan kemampuan untuk menyediakan sendiri kebutuhan dirinya.
Seorang bayi tergantung pada orang lain terutama untuk perawatan dasar.
Kebanyakan anak memperlihatkan tingkatan kemandirian yang berbeda dan
ketika anak menjadi lebih mandiri, hal-hal yang lain akan berjalan dengan baik.
Manusia, dari mulai lahir sampai akhir kehidupannya memiliki tugas-tugas
perkembangan sesuai dengan tahapan-tahapan perkembangannya masing-masing.
Havighurst (1972) membagi tahap perkembangan ini ke dalam enam kelompok,
yaitu masa bayi dan awal masa kanak-kanak, akhir masa kanak-kanak, masa
remaja, awal masa dewasa, masa usia pertengahan, dan masa tua. Masing-masing
individu
memiliki
perbedaan
di
dalam
melaksanakan
perkembangannya tergantung pada berbagai faktor yang
tugas-tugas
mempengaruhi
penguasaannya terhadap tugas-tugas perkembangannya tersebut. Kegagalan
individu di dalam penguasaan tugas perkembangannya akan mempengaruhi tugas
perkembangan pada tahap berikutnya. Individu yang mengalami kegagalan ini
akan tertinggal dari kelompok sebayanya dan menyebabkan tidak memadainya
pencapaian kematangan di dalam tahap perkembangan yang sedang dilaluinya.
29
Masa remaja, sebagai salah satu tahap yang dilalui oleh individu dalam
rentang kehidupannya, memiliki karakteristik tertentu yang berbeda dengan tahap
sebelum maupun sesudahnya. Secara psikologis masa remaja adalah usia individu
berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di
bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang
sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak, termasuk juga perubahan
intelektual yang mencolok. Menurut Piaget (Hurlock 1998), transformasi
intelektual yang khas dari cara berpikir remaja memungkinkannya untuk
mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataannya
merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan. Dari uraian tersebut
terlihat bahwa masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak
kepada masa dewasa, yakni individu yang bersangkutan harus meninggalkan
segala sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan dan dalam waktu yang sama harus
mulai mempelajari perilaku dan sikap baru untuk menggantikan perilaku dan
sikap yang sudah ditinggalkannya dari masa sebelumnya
Masyarakat memiliki harapan sosial terhadap setiap tahap perkembangan
manusia, termasuk terhadap mereka yang berada pada tahap remaja. Para remaja
diharapkan dapat menguasai berbagai keterampilan tertentu yang dibutuhkan
untuk mengisi kehidupannya dan memperoleh pola perilaku yang sesuai dengan
norma-norma
yang
berlaku
di
dalam
masyarakat.
Havighurst
(1972)
menamakannya sebagai tugas-tugas perkembangan, yaitu tugas yang muncul pada
saat atau sekitar satu periode tertentu dari kehidupan individu. Tugas
perkembangan yang harus ditampilkan oleh remaja adalah: (1) mencapai
hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita,
(2) mencapai peran sosial pria dan wanita, (3) menerima keadaan fisiknya dan
menggunakan tubuhnya secara efektif, (4) mengharapkan dan mencapai perilaku
sosial yang bertanggung jawab, (5) mencapai kemandirian emosional dari orang
tua dan orang-orang dewasa lainnya, (6) mempersiapkan karir ekonomi, (7)
mempersiapkan perkawinan dan keluarga, dan (8) memperoleh perangkat nilai
dan sistem etis sebagai pasangan untuk berperilaku ke arah perkembangkan
ideologi.
30
Tugas perkembangan remaja difokuskan pada cara pola perilaku masa
kanak-kanaknya mulai ditinggalkan dan persiapan tindakan yang akan diambilnya
untuk menghadapi masa berikutnya. Erikson (Newman & Newman 2006)
mengemukakan bahwa tugas perkembangan remaja awal (12 - 18 tahun) adalah
kematangan secara fisik, perkembangan emosional, keanggotaan dalam peergroup dan menjalin hubungan antar jenis kelamin. Berbagai faktor dapat
menyebabkan keberhasilan atau kegagalan tugas perkembangan remaja. Faktor
yang dapat membantu tugas perkembangan remaja adalah aspek-aspek yang
berhubungan dengan tingkat perkembangan yang normal, adanya kesempatan
untuk mempelajari tugas-tugas perkembangan melalui bimbingan untuk
menguasainya, motivasi, kesehatan yang baik dan tidak menyandang kecacatan,
dan memiliki tingkat kecerdasan tinggi yang kreatif. Faktor yang dapat
dikategorikan sebagai penghambat tugas perkembangan remaja adalah mundurnya
tingkat perkembangan, tidak ada kesempatan bagi remaja untuk mempelajari
tugas-tugas perkembangan, tidak adanya motivasi, memiliki kondisi fisik yang
buruk, menyandang cacat tubuh dan memiliki tingkat kecerdasan yang rendah.
Tugas perkembangan remaja yang berhasil akan menimbulkan rasa
bahagia dan membawa ke arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas
berikutnya. Akan tetapi sebaliknya jika kegagalan yang dihadapi, maka individu
akan dihadapkan pada suatu situasi yang menimbulkan rasa tidak bahagia dan
menimbulkan hambatan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya. Berbagai
permasalahan yang dialami oleh para remaja dalam upaya pelaksanaan tugasnya
di antaranya adalah: kenakalan, penyalahgunaan narkoba, keterlantaran, hidup di
jalanan dan sebagainya.
Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata Latin Adolescere, yang
memiliki arti “tumbuh menjadi dewasa.” Di dalam semua masyarakat, remaja
merupakan suatu masa untuk tumbuh dari ketidakmatangan pada masa kanakkanak menuju pada kematangan masa dewasa. Remaja berada pada masa transisi
dalam aspek biologis, psikologis, sosial dan ekonomi, dan hal ini merupakan
periode yang sangat mengesankan dalam kehidupannya. Mereka akan menjadi
individu yang lebih bijaksana, lebih berpengalaman dan lebih mampu dalam
membuat keputusannya sendiri. Remaja sudah diperbolehkan untuk bekerja,
31
menikah dan mengambil keputusan serta pada akhirnya mereka dituntut untuk
memiliki kemampuan dalam mendukung dirinya sendiri secara finansial
(Steinberg 1993).
Batasan usia remaja sangat beragam. Tidak ada satupun angka yang pasti
untuk memberikan tanda bahwa individu sedang berada pada masa remaja.
Sebagai contoh, beberapa ahli memberikan batasan usia remaja yang berbedabeda, seperti : Hurlock (1998) menyatakan bahwa usia remaja berkisar antara 13
sampai 18 tahun. Jersild (1967) menyatakan bahwa usia remaja berkisar antara 12
sampai 21 tahun dan Cole (1963) menyatakan antara 13 dan 21 tahun. Di dalam
kenyataannya masih terdapat perbedaan antara remaja laki-laki dan remaja
perempuan, dan biasanya remaja perempuan mengalami perkembangan lebih
cepat daripada remaja laki-laki. Cole (1963) lebih jauh membagi masa remja
kedalam tiga tahapan, yaitu masa remaja awal (perempuan 13 sampai 15 tahun;
laki-laki 15 sampai 18 tahun); masa remaja pertengahan (perempuan 15 sampai 18
tahun; laki-laki 17 sampai 19 tahun); dan masa remaja akhir (perempuan 18
sampai 21 tahun; laki-laki 19 sampai 21 tahun).
Apabila dilihat dari usia remaja di atas, pada umumnya mereka masih
duduk di bangku SLTP dan SLTA serta sebagian sudah di Perguruan Tinggi.
Proses perkembangan manusia dipengaruhi oleh lingkungan, maka perkembangan
yang terjadi pada remaja yang masih duduk di tingkat SLTP tidak akan sama
dengan mereka yang berada pada tingkat SLTA dan juga Perguruan Tinggi,
walaupun kehidupan manusia pasti tidak akan lepas dari masa sebelumnya dan
masa yang akan datang. Usia remaja yang duduk di tingkat SLTP dan SLTA
berkisar antara usia 13 sampai 19 tahun, termasuk dalam masa remaja awal,
pertengahan dan telah mendekati masa remaja akhir. Perkembangan yang terjadi
pada mereka meliputi aspek fisik, psikis dan sosial di mana ketiga aspek ini akan
mencapai kematangan pada masa remaja akhir. Diharapkan pada akhir masa
remaja, mereka telah menunjukkan sikap dewasa, bukan sebagai kanak-kanak
lagi.
Pada masa transisi ini tidak jarang para remaja mengalami kesulitan di
dalam mencapai keberhasilan untuk memasuki masa dewasa. Seperti halnya yang
dikemukakan oleh Keniston (Hurlock 1998), bahwa transisi yang diikuti dengan
32
adanya perubahan-perubahan selalu menimbulkan kesulitan atau masalah.
Kesulitan yang timbul seringkali dipengaruhi oleh kondisi masing-masing
individu, tuntutan masyarakat dan lingkungan tempat remaja berada. Para remaja
berada dalam kondisi yang tidak stabil di mana mereka merasa tidak aman karena
harus mengganti atau mengubah pola perilaku kanak-kanak dengan pola perilaku
orang dewasa. Keadaan emosi yang tidak stabil ini dapat mendatangkan perasaan
tidak berbahagia (unhappiness) pada diri remaja (Hurlock 1998).
Model dalam Memahami Remaja
Dunham & Jones (Jones dan Pritchard 1980) mengemukakan bahwa lima
model untuk memahami remaja yaitu: (1) Model Konstitusi, (2) Model Krisis
Identitas, (3) Model Belajar Sosial, (4) Model Kebutuhan, dan (5) Model Stres.
1. Model Konstitusi (Constitutional Model)
Model ini didasarkan atas perspektif biologis dan konstitusional yang
mempelajari perubahan yang telah terjadi dalam aspek fisik dan kapabilitas
fisik remaja. Studi ini menjelaskan tentang perbedaan usia pada saat remaja
mengalami pubertas, dampak dari perkembangan yang terjadi lebih awal atau
lambat, dampak selanjutnya pada perbedaan jenis kelamin dan hubungan
antara temperamen dan kepribadian.
Beberapa studi yang dilakukan menunjukkan adanya perbedaan di dalam
perkembangan biologik individu. Sebagian perempuan yang berusia 11 sampai
12 tahun telah menginjak remaja dan mengalami menstruasi, sedangkan yang
lainnya belum menampakkan tanda-tanda kematangan seksual, seperti belum
terlihat tumbuhnya payudara. Kematangan yang terjadi lebih awal pada remaja
perempuan akan memperlihatkan kecenderungan memiliki tubuh yang lebih
besar dan lebih kuat dibanding dengan remaja laki-laki yang berusia 11
sampai 12 tahun karena remaja laki-laki pertumbuhannya lebih lambat.
Menurut Reynolds (Jones dan Pritchard 1980), perubahan fisiologis yang
terjadi lebih awal pada remaja perempuan cenderung berbeda pada setiap
generasi. Rata-rata usia remaja perempuan mengalami menstruasi adalah
setelah 13 tahun dan sebanyak 95 persen dari seluruh perempuan
mengalaminya pada usia antara 10 sampai 15 tahun. Oleh karena itu banyak
33
remaja
perempuan
mulai
mengalami
menstruasi
sebelum
mereka
menyelesaikan sekolah menengah dan banyak juga di antara mereka yang baru
mengalaminya selepas dari sekolah lanjutan.
Remaja laki-laki memperlihatkan kecenderungan lebih awal dalam
kematangan seksual yang ditandai dengan tumbuhnya jakun lebih awal.
Menurut Reynold (Jones dan Pritchard, 1980), perbedaan individu dalam
perkembangan biologik pada remaja laki-laki memiliki rentang usia lebih luas
dibanding pada remaja perempuan, misalnya akselerasi pertumbuhan penis
terjadi pada usia 13,5 tahun sedangkan lainnya dimulai pada saat usia 14,5
tahun. Terdapat implikasi psikologik yang penting dari kenyataan fisiologis ini
karena banyak anak laki-laki usia antara 13 dan 14 tahun telah mencapai
kematangan seksual dan memiliki tinggi badan serta kekuatan yang hampir
sama dengan orang dewasa, dan banyak anak laki-laki yang berada pada usia
yang sama tetapi masih memiliki sifat kekanak-kanakan. Perbedaan ini dapat
menyebabkan kesulitan dalam hal penyesuaian di sekolah karena sistem
pendidikan yang berlaku saat ini cenderung memberikan perlakuan pada usia
yang melekat pada anak yang memiliki perkembangan fisiologis yang sama
dibanding responnya pada aspek fisik masing-masing individu.
Hal nyata lain yang dapat digambarkan sama seperti identitas adalah
temperamen yang juga merupakan dasar dari konstitusional. Menurut Rutter
(Jones dan Pritchard 1980), temperamen didefinisikan sebagai gaya atau
tempo perilaku individu yang berhubungan dengan karakteristik seperti hal
yang biasa terjadi pada siklus biologis (tidur/bangun, lapar/kenyang), dan
kemampuan untuk merespon perubahan keadaan serta intensitas dalam
merespon emosionalnya.
2. Model Krisis Identitas (Identity Crises Model)
Model ini menjelaskan bahwa perilaku remaja seringkali terganggu oleh krisis
identitas di mana beberapa dari mereka mencoba untuk menyelesaikan
masalahnya dengan menarik diri dari lingkungan orang tua, guru-guru dan
tidak jarang dari teman-teman sebayanya. Erickson (1968) berpendapat bahwa
remaja
membutuhkan
periode
yang
disebut
sebagai
”psychosocial
34
moratorium” selama mereka mencoba pencarian identitasnya. Pada akhir fase
remaja, mereka akan membentuk self-concept yang memberikan kemampuan
kepada mereka untuk melanjutkan memainkan sejumlah peranan yang berbeda
tanpa kehilangan kesadaran diri yang jelas akan identitas kepribadiannya.
Menurut pandangannya, suatu pribadi yang utuh dapat mengatasi masalahmasalah yang terjadi pada masa dewasa dalam kehidupan perkawinannya dan
apabila individu memiliki pengalaman pada saat remaja, maka mereka akan
melakukan peranan yang berbeda-beda dalam upaya mencari jati dirinya.
Mencoba-coba peranan dan identitas yang berbeda-beda membantu remaja
untuk menyiapkan dirinya dalam menjalankan pilihan yang telah dibuatnya.
Mereka membuat pilihan tentang sesuatu yang disesuaikan dengan
identitasnya baik sebagai pekerja maupun bukan pekerja dan selanjutnya
memutuskan sesuatu yang akan dilakukannya sesuai dengan pilihan yang telah
dibuat. Untuk melakukan semua ini menuntut banyak perhatian dan energi.
Termasuk ke dalam hal ini adalah keragu-raguan dalam mempertimbangkan
identitas etnik untuk menjadi anggota kelompok minoritas tertentu dalam
masyarakat yang terdiri dari berbagai ras, serta gangguan akan ketidakpastian
identitas seksualnya.
3. Model Belajar Sosial (Social Learning Model)
Sampai sekarang perspektif social learning masih digunakan untuk
menggambarkan bagaimana perilaku remaja terbentuk. Rutter (Jones dan
Pritchard, 1980) menemukan bukti bahwa walaupun perasaan kesepian dan
depresi secara umum terjadi pada individu saat berusia 14 tahun, namun
perasaan ini seringkali tidak dikenal pada masa dewasa dan ia juga
menemukan bahwa gangguan kejiwaan lebih sering dialami selama masa
remaja dibanding pada masa kanak-kanak.
Kritik keras terhadap perspektif krisis yang dialami oleh remaja dilontarkan
oleh Bandura berdasarkan hasil studinya yang diterapkan pada pengalaman
mereka yang berusia belasan tahun di Amerika. Hasil studi menunjukkan
bahwa banyak para pemuda yang tersosialisasi tanpa gangguan yang tiba-tiba
dari masa kanak-kanak ke dalam peranan yang akan dimainkan pada masa
35
dewasa. Mereka mengetahui apa yang diharapkannya dan identitas mereka
ditandai dengan harapannya tersebut seperti perkembangan yang berangsurangsur pada pekerjaan, identitas etnis dan seksualnya. Bandura (1970)
menegaskan bahwa remaja berperilaku seperti yang diharapkan masyarakat
untuk berperilaku. Apabila masyarakat memberikan label pada remaja sebagai
“usia belasan” dan mengharapkan mereka untuk memberontak, menjadi
individu yang tidak rapi, dan berperilaku sembrono, dan apabila gambaran ini
diulang-ulang diperkuat melalui media massa, maka harapan kultural tersebut
akan memberikan dorongan yang kuat kepada remaja untuk melakukan
pemberontakan.
Banyak penelitian Bandura yang berhubungan dengan perilaku agresif dan
interpretasinya
bertentangan
dengan
penjelasan
psiko
analisis
yang
menekankan pada pentingnya pelepasan energi secara langsung atau dialami
sendiri, misalnya melihat langsung adegan kekerasan yang ditayangkan di
televisi maka akan memberikan simulasi bagi penontonnya untuk melakukan
imitasi terhadap model agresi yang dilihatnya tersebut dan pengaruh dari
tayangan televisi tidak dapat diperkirakan.
4. Model Kebutuhan (Need Model)
Perspektif yang keempat untuk memahami perilaku remaja adalah dengan
berupaya untuk memenuhi kebutuhan mereka. Teori ini untuk pertama kali
ditemukan oleh Maslow (1970), yang menyatakan terdapat lima tingkatan
kebutuhan yang apabila kebutuhan pertama telah terpenuhi maka kita akan
memberikan perhatian pada pemenuhan kebutuhan tingkat kedua dan
selanjutnya meneruskannya sampai pada tingkat kebutuhan yang paling akhir.
Kebutuhan-kebutuhan ini adalah: (a) Fisiologis (physiological), (b) Keamanan
(security), (c) Penerimaan (acceptance), (d) Identitas (identity), dan (e)
Pencapaian diri (self-fulfillment).
Pemenuhan akan kebutuhan fisiologis sebagai tingkat yang paling dasar telah
dibuktikan dalam beberapa eksperimen. Menurut Wilkinson (Jones dan
Pritchard 1980), studi tentang orang-orang yang memiliki pengalaman kurang
tidur menunjukkan peningkatan yang nyata dalam perilaku agresif dan tidak
36
rasional. Studi tentang orang-orang yang memiliki stimulasi yang rendah
memperlihatkan
indikasi
akan
mempengaruhi
kemampuannya
dalam
berkonsentrasi dan membuat keputusan. Kesimpulan yang penting dari
eksperimen ini adalah bahwa otak tidak akan bekerja secara efektif dalam
keadaan jenuh dan monoton.
Hierarki Maslow berikutnya adalah kebutuhan akan rasa aman yakni apabila
tidak terpenuhi akan mendominasi pikiran dan perilaku remaja. Remaja
memperhatikan keamanan kerja karena ketakutan tidak mendapatkan
pekerjaan akan membuatnya tidak memperhatikan dirinya dengan bagian lain
dari situasi pekerjaan, misalnya pelatihan dan situasi rumah kemungkinan
tidak memberikan kemampuan baginya untuk memenuhi tuntutan keluarga.
Maslow berpendapat bahwa apabila kebutuhan fisiologis dan rasa aman dapat
terpenuhi, maka kebutuhan selanjutnya kemungkinan dapat terpenuhi pula.
Terpenuhinya kedua kebutuhan ini membuat remaja sadar akan dan
memberikan perhatian pada kebutuhan untuk diterima, mendapatkan kasih
sayang, dan perhatiannya akan diekspresikan sebagai suatu kebutuhan untuk
memiliki kelompok. Kebutuhan untuk mendapatkan identitas termasuk di
dalamnya adalah pengakuan akan diri dan pengakuan dari orang lain.
Kepuasan akan pemenuhan kebutuhan ini akan menghantarkan pada perasaan
percaya diri dan harga diri. Manakala keempat tingkat pemenuhan kebutuhan
ini tercapai, maka menurut Maslow individu tersebut dapat memberikan
perhatiannya
pada
pemenuhan
kebutuhan
akan
pencapaian
dirinya.
Perilakunya akan dimotivasi oleh tujuan dominan pertumbuhan pribadi untuk
mencapai potensi dirinya. Mereka akan mencapai tantangan untuk mencapai
tingkatan kompetensi yang lebih tinggi. Perilakunya akan sangat berbeda dari
remaja yang masih mencoba untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, rasa aman,
penerimaan dan pencapaian identitas.
5. Model Stres (Stress Model)
Pringle (Jones dan Pritchard 1980) menyatakan bahwa frustrasi merupakan
respon terhadap kehidupan yang dialami hanya terjadi pada sejumlah kecil
pemuda. Jumlah yang lebih besar adalah respon dalam bentuk emosional yang
37
lainnya serta perilaku dan gejala psikosomatis. Perspektif dari model stres ini
mencoba untuk memahami perilaku remaja dan mencari masalah-masalah
yang berhubungan dengan respon terhadap situasi stres yakni remaja dapat
mengatasinya dengan keluarganya, di lingkungan sekolah, di tempat kerja dan
di dalam masyarakat. Tingkat pengangguran yang tinggi merupakan satu
contoh yang menimbulkan respon berupa kenakalan, kekerasan, sinisme,
depresi dan apatis.
Respon-respon terhadap situasi stres yang muncul dibatasi oleh
tersedianya sumber daya pada diri remaja. Termasuk ke dalam sumber daya
ini adalah kekuatan dan kelemahan diri, penerimaan, pengakuan dan dukungan
yang diterimanya dari keluarga dan lingkungan kelompok sebayanya (peer
groups), di sekolah, di tempat kerja serta fasilitas untuk mengisi waktu luang
dan
rekreasi
yang
tersedia
dalam
masyarakat.
Sebagian
remaja
mengembangkan kemampuan menyelesaikan masalah yang baru untuk
memenuhi tuntutan yang berasal dari lingkungan rumah, sekolah, dan tempat
kerja. Apabila upaya yang dilakukan ini tidak berhasil, maka mereka akan
mengalami frustrasi. Frustrasi diekspresikan di dalam perasaan jengkel sampai
kemarahan besar dan juga secara tidak langsung menghasilkan bentuk agresi.
Frustrasi dan stres juga diasosiasikan dengan perkembangan symptom
psikosomatis seperti sakit kepala, sakit perut, gangguan tidur dan panas tubuh.
Respon emosional yang lain pada situasi stres adalah kecemasan (anxiety).
Tingkat kecemasan yang tinggi berhubungan dengan perasaan tidak nyaman,
kehilangan kepercayaan diri, kebingungan berfikir dan panik. Kecemasan
yang tinggi juga dimunculkan dalam gejala psikosomatis. Apabila situasi stres
tidak berkurang dan tidak ada peningkatan sumber daya, maka saluran dalam
sumber emosional remaja akan diikuti oleh kelelahan dan nervous. Manakala
situasi stres tidak dapat dimodifikasi maka remaja mencoba untuk melindungi
dirinya dengan menarik diri dari orang-orang sekitarnya. Ketidakhadiran di
tempat kerja dan sekolah merupakan salah satu bentuk yang lebih nyata dari
penarikan diri, akan tetapi dalam keadaan yang lebih ekstrim akan terjadi
penarikan diri secara psikotis. Laing dan Esterson (1964) lebih jauh
38
berpendapat bahwa stres di dalam keluarga akan berkembang ke arah
gangguan schizophrenic, khususnya selama masa remaja akhir.
Remaja dan Lingkungannya:
Kelompok Teman Sebaya (Peer Groups)
Dalam masyarakat modern, peer groups menjadi lingkungan yang penting
dimana remaja menghabiskan waktu nya. Modernisasi mengarahkan pada lebih
banyak dilakukan segregasi usia di berbagai lingkungan, seperti sekolah, tempat
kerja dan di dalam masyarakat. Semua remaja menghabiskan waktu setiap hari
dengan sebayanya selain di sekolah dan mayoritas bertemu atau mengobrol
dengan teman-temannya di sore hari, malam hari dan di akhir minggu (Medrich,
et al. 1982). Bahkan pada saat remaja bekerja paruh waktu, mereka lebih
menyukai bekerja dengan orang-orang yang seusia dibanding dengan orang
dewasa (Greenberger 1986). Saat ini sudah terlihat remaja lebih banyak
menghabiskan waktunya dalam perkumpulan eksklusif diantara teman sebayanya
dan peran teman sebaya akan mempertajam perkembangan psikososial remaja.
Studi menunjukkan bahwa mood remaja lebih positif ketika mereka sedang
bersama teman - temannya.
Memahami bagaimana bentuk teman sebaya remaja dan bagaimana
batasan-batasannya merupakan hal yang penting untuk memahami perkembangan
remaja di dalam masyarakat modern. Tidak ada pembicaraan tentang
perkembangan identitas remaja yang utuh tanpa menguji bagaimana dan mengapa
remaja mendapatkan identitasnya dari kelompok di mana ia menghabiskan
waktunya bersama.Tidak ada pembicaraan tentang pertemanan remaja yang utuh
tanpa mengamati klik remaja dan bagaimana mereka terbentuk. Tidak ada
pembicaraan tentang aspek seksual remaja yang utuh tanpa menguji bagaimana
dan kapan peer groups berubah dari kelompok yang berjenis kelamin sama
kepada kelompok yang beranggotakan jenis kelamin yang berbeda.
Tanpa memperhatikan struktur atau norma peer group, teman sebaya
memainkan peranan yang penting di dalamperkembangan psikologis remaja.
Relasi sebaya yang bermasalah berhubungan dengan masalah-masalah psikologis
dan perilaku selama masa remaja. Individu yang tidak populer dan memiliki relasi
39
yang rendah selama remaja memiliki prestasi yang rendah di sekolah, drop out
dari
sekolah
menengah,
mengalami
ketidakmampuan
dalam
belajar,
memperlihatkan perilaku nakal yang tinggi, dan akan mengalami penderitaan
akibat masalah emosional dan kesehatan mental pada masa dewasanya (Savin dan
Berndt 1990).
Teman sebaya juga memainkan peranan penting dalam mempromosikan
perkembangan psikososial ke arah yang normal. Dalam aspek identitas, teman
sebaya menyediakan model dan umpan balik yang remaja tidak dapatkan dari
orang dewasa. Dalam konteks peer groups, remaja dapat mencoba-coba peranan
yang berbeda, kepribadian dan eksperimen dengan identitas yang berbeda dengan
lebih mudah dibanding ketika ia berada dalam rumah. Peer groups akan
memberikan jalan ke arah perkembangan identitas dan pengalaman remaja berada
dalam peer groups juga dapat menjadi pengaruh yang penting pada pembentukan
self-image nya (Brown, et al. 1986).
Pengalaman dalam peer group pun merupakan hal penting dalam
perkembangan dan mengekspresikan autonomy. Proses perkembangan lebih
matang dan relasi yang lebih bebas dengan orang tua disertai oleh lebih
matangnya relasi remaja dengan teman sebayanya. Lebih lanjut, peer group
menyediakan konteks bagi remaja untuk menguji keterampilan membuat
keputusan dan mengontrol pilihannya (Hill dan Holmbeck 1986).
Intimacy dan sexuality merupakan hal yang lebih umum terjadi diantara
teman sebaya dibanding antara remaja dan orang dewasa karena berbagai alasan.
Hal ini mungkin saja terjadi karena kedua hal tersebut menghendaki interaksi
antara dua individu yang relatif memiliki kesamaan. Lebih jauh, bahwa hubungan
seksual dan keintiman di dalamkonteks keluarga lebih kepada sebagai
pelaksanaan fungsi dari relasi keluarga (Hartup 1983). Untuk itulah peer group
dimana remaja berada, secara umum memainkan peranan utama di dalamremaja
melakukan sosialisasi terhadap perilaku seksual dan dalam perkembangan
kapasitas untuk persahabatan yang lebih intim.
Menurut Epstein (Steinberg 1993), bahwa teman sebaya memberikan
pengaruh yang penting dalam pencapaian prestasi. Walaupun memberikan
pengaruh yang kecil dibanding orang tua dan guru, peer group pastilah
40
mempengaruhi remaja dalam perencanaan pendidikan dan pekerjaan. Waktu
dimana remaja menghabiskan dengan teman sebaya merupakan satu bagian yang
menyenangkan dalam keseharian mereka. Salah satu alasannya adalah bahwa
aktivitas dengan teman dianggap sebagai pengisian waktu yang menyenangkan
dan sebaliknya aktivitas dengan orang tua dianggap sebagai hal yang ditujukan
bagi pelaksanaan aturan dalam rumah tangga. Keluarga dan peer group terlihat
seperti menyediakan kesempatan yang bertolak belakang bagi aktivitas dan
perilaku remaja. Keluarga diorganisir sekitar pekerjaan dan pelaksanaan tugastugas lainnya dan mungkin penting dalam sosialisasi pada tanggungjawab dan
prestasi. Peer group menyediakan kesempatan lebih untuk interaksi dan
kesenangan yang memberikan sumbangan pada perkembangan bidang intimacy
dan pencapaian mood dan keadaan psikologis remaja yang lebih baik.
Lingkungan Sekolah
Sekolah memainkan peranan penting dalam menstrukturisasi hakekat dari
remaja pada masyarakat modern, oleh karena itu sistem pendidikan menjadi target
perhatian dari sejumlah kritikus, peneliti dan penelitian ilmu sosial. Orang tua,
guru, administrator pendidikan dan para peneliti berdebat tentang hal-hal yang
harus diajarkan di sekolah, cara sekolah harus diorganisir dan cara sekolah harus
mengajarkan yang terbaik bagi murid-muridnya. Debat mereka seputar isu-isu
apakah sekolah menengah atas harus memberikan instruksi kepada muridnya
dalam bidang dasar-dasar membaca, menulis dan aritmatik atau mendisain kelaskelas untuk mempersiapkan remaja ke arah kedewasaan secara sosial dan
emosional sebaik seperti aspek intelektual, atau apakah murid belajar di sekolah
yang lebih kecil dan kelas yang lebih kecil atau apakah dianggap lebih efisien
untuk menggabungkan sumber-sumber ke dalam sekolah yang lebih besar yang
dapat mengakomodir berbagai mata ajar dan aktivitas yang lebih bervariasi.
Mereka mempertanyakan apakah remaja disekolahkan di sekolah menengah
pertama
yang
terpisah,
apakah
murid
harus
dikelompokkan
sesuai
kemampuannya, dan apakah situasi ruang kelas tertentu disukai oleh murid yang
lainnya.
41
Menurut Friedenberg dan Hill (Steinberg 1993), para pengamat mencatat
bahwa sekolah tidak dibentuk untuk meningkatkan perkembangan psikososial
remaja dengan lebih memfokuskan pada kesesuaian dan kepatuhan serta
kesenjangan untuk kreativitas, kemandirian dan kepercayaan diri. Akan tetapi,
banyak sekolah-sekolah yang bagus yang murid-muridnya tidak hanya belajar
materi akademis di dalam kelas tetapi belajar tentang dirinya, cara berelasi dengan
orang lain dan masyarakatnya dengan baik. Sekolah berbeda satu dengan lainnya
dan akan sulit untuk menggeneralisasi mengenai dampak sekolah pada
perkembangan remaja tanpa mengetahui lebih banyak tentang sekolah.
Sangat penting untuk dikenali bahwa perhatian dan tujuan murid tidak
memandang sekolah dalam agenda akademisnya. Dalam suatu studi, peneliti
meminta kepada murid untuk mengisi hal-hal yang baik dan buruk tentang
sekolah. Menurut mereka hal yang dianggap terbaik dari sekolah adalah ”pada
saat bersama-sama dengan teman-teman” dan ”bertemu dengan orang yang baru”.
Hal yang terburuk menurut mereka adalah pekerjaan rumah, ujian dan
pembatasan-pembatasan
dari
sekolah
(Steinberg
1993).
Orang
dewasa
mengevaluasi sekolah terbatas pada kontribusinya terhadap aspek kognitif dan
perkembangan karir remaja, akan tetapi dari sisi remaja, sekolah merupakan
tempat utama untuk sosialisasi.
Studi lain menunjukkan bahwa pengalaman murid di sekolah dapat
bervariasi tergantung pada berada di kelas berapa murid yang bersangkutan, peer
group yang dimiliki dan aktivitas ekstrakurikuler yang diikutinya. Dapat
dikatakan bahwa murid yang memiliki bakat akademis dan kemampuan ekonomi
memiliki pengalaman yang lebih positif di sekolah . Positif di sini tidak hanya
berkenaan dengan apa yang mereka pelajari di kelas, tetapi berkenaan dengan
dampak sekolah pada perasaan mereka tentang dirinya sebagai individu. Guruguru mereka memberikan perhatian lebih, mereka lebih menyukai posisi
pemimpin dalam organisasi ekstrakurikuler dan lebih menyukai mendapatkan
pengalaman di kelas yang menyediakan tantangan. Dengan kata lain, struktur
sekolah seperti ukuran, kebijakan tiap kelas dan kurikulum menyediakan
kesempatan yang berbeda dalam aspek intelektual dan psikososial bagi murid
yang tinggal di tempat yang berbeda di dalam struktur tersebut.
42
Bronfenbrenner (Klein dan White 1996) melihat bahwa individu tumbuh
dan beradaptasi melalui pertukaran dengan ekosistem yang paling dekat
(keluarga) dan lingkungan yang lebih jauh seperti sekolah. Individu selalu
berhubungan mulai dari konsepsi sampai selanjutnya ke masa depan. Walaupun
perkembangan anak terjadi secara genetik, namun perkembangan ini selalu dalam
konteks hubungan ini dan selanjutnya perkembangan anak merupakan interaksi
dengan lingkungan yang ada di sekitar kehidupan anak.
Perkembangan Psikososial Remaja
Pada masa remaja awal, perubahan fisik terjadi secara cepat dan akan
semakin sempurna pada masa remaja pertengahan dan remaja akhir. Menurut Cole
(1963), perkembangan fisik merupakan dasar perkembangan dari aspek lain yang
mencakup psikis dan sosial. Hal ini berarti bahwa jika perkembangan fisik
berjalan secara baik dan lancar maka perkembangan psikis dan sosial juga akan
lancar. Akan tetapi, apabila perkembangan fisik terhambat, maka perkembangan
psikis dan sosial pun akan terganggu pula, sehingga menyulitkan remaja untuk
mendapatkan tempat secara wajar dalam kehidupan masyarakat dewasa. Kalaulah
perkembangan fisik remaja SLTA dikatakan tidak lagi menjadi masalah, tidak
demikian dengan perkembangan psikososialnya.
Istilah psikososial digunakan untuk menggambarkan aspek perkembangan
yang meliputi psikologis dan sosial. Menurut Newman dan Newman (2006), teori
psikososial menempatkan perkembangan manusia sebagai hasil interaksi yang
berlangsung antara aspek biologis individu dan kebutuhan serta kemampuan
psikologis pada satu sisi dan pada sisi lain antara harapan-harapan dan tuntutantuntutan sosial. Teori ini memperhitungkan pola-pola perkembangan individu
yang muncul dari proses biopsikososial.
Huxley (Newman dan Newman 2006) menyatakan bahwa teori psikososial
berhubungan dengan evolusi psikososial, yang merupakan konstrak untuk
merujuk pada rentang kemampuan manusia yang menggabungkan pengetahuan
yang berasal dari leluhur dan meneruskannya pada keturunannya. Praktek-praktek
pengasuhan anak, pendidikan dan model-model komunikasi sebagai contoh
mekanisme yang meneruskan informasi dan cara-cara berpikir dari satu generasi
43
pada generasi berikutnya. Pada saat yang sama, orang-orang memilah informasi
baru, cara-cara berpikir yang baru, dan cara-cara mengajarkan yang ditemukan
kepada orang lain. Dalam hal ini, evolusi psikososial diproses dengan cepat dan
membawa perubahannya dalam teknologi dan ideologi yang memberikan jalan
kepada kita untuk menciptakan dan memodifikasi aspek fisik dan lingkungan
sosial kita.
Menurut Erikson (Salkind 1985), terdapat delapan tahapan perkembangan
psikososial manusia, yaitu: (1) Oral sensory (0-1 tahun), (2) Muscular-anal (2-3
tahun), (3) Locomotor-genital (4-5 tahun), (4) Latency (6-11 tahun), (5) Puberty
and adolescence (12-18 tahun), (6) Young adulthood, (7) Adulthood, dan (8)
Maturity. Masa remaja berada pada tahapan kelima yaitu Puberty and
Adolescence. Pubertas merupakan waktu di mana beberapa perubahan yang
drastis terjadi dalam semua bidang perkembangan individu. Setelah masa ini, anak
tidak memiliki pengalaman perubahan kapasitas dan kebutuhan yang besar dalam
aspek fisik dan psikologis. Remaja diharapkan mulai mendefinisikan minatnya
dalam batas-batas pilihan karir, pendidikan selanjutnya, keterampilan berusaha
dan membangun sebuah keluarga. Dalam aspek biologis dan kultural, remaja
mempertimbangkan bagaimana beralih dari masa kanak-kanak untuk masuk ke
dalam masa dewasa. Masa ini dianggap sebagai masa terjadinya perubahan yang
besar dan mengesankan, dan masa di mana individu mengembangkan identitasnya
atau mendefinisikan tentang dirinya. Pada masa ini remaja mulai menyeleksi dan
mendefinisikan peran dan bersiap-siap untuk mengambil posisi sesuai pilihannya.
Apabila proses perkembangan ini berhasil, maka selanjutnya remaja akan
membutuhkan rasa aman. Dengan terlaluinya ke empat tahap sebelumnya, remaja
akan memperoleh kepercayaan, kemandirian, kapabilitas untuk berperilaku sesuai
dengan apa yang telah didefinisikannya dan memperluas kompetensinya dalam
menampilkan keterampilan-keterampilan tertentu. Langkah penting berikutnya
adalah perkembangan akan identitas atau bertanya tentang “Siapa saya?” dan “Ide,
pikiran, atau tujuan apa yang saya rasakan untuk mempresentasikan pikiran
saya?” Apabila lingkungan tidak mendukung dan apabila remaja menemukan
kesulitan untuk menampilkan peran, maka hasilnya dapat menjadi suatu
pendefinisian yang salah tentang konsep identitas diri yang oleh Erickson disebut
44
sebagai role confusion. Dalam beberapa hal sangat dipahami apabila remaja
mengalami kesulitan besar di dalammendefinisikan peranan tertentu atau
menentukan kepercayaannya.
Menurut Steinberg (1993), terdapat lima aspek perkembangan psikososial
yang terjadi selama masa remaja :
1.
Identity
Erickson (1968) menandai masa remaja sebagai periode pembentukan
identitas. Pencapaian identitas merupakan tugas utama dari remaja dan
digunakan istilah ”role confusion” untuk menggambarkan kesenjangan dalam
pencapaian identitas ini. Selama dalam masa remaja, individu mencoba untuk
memahami siapa mereka dan mulai memasuki bidang seksual, karir dan
politik. Keberhasilan dalam pencapaian identitas tergantung pada keberhasilan
mereka dalam melakukan interaksi dengan lingkungan tempat mereka berada,
terutama rumah, sekolah dan masyarakat. Menurut Jessor (1993), perilaku
beresiko pada masa remaja merupakan hal yang penting di dalam
perkembangan identitas mereka. Pendekatan ”cost-benefit” dapat digunakan
untuk menganalisis perilaku beresiko yang teridentifikasi dan beberapa
perilaku beresiko ini dapat mengarahkan kepada keberfungsian sosial dan
personal di dalam perkembangan identitas.Untuk membantu perkembangan
identitas, remaja seringkali mencari persetujuan dan mengukur dirinya sendiri.
Mereka mulai ”try on” dalam gaya hidup atau perangai yang berbeda untuk
mencari apa yang dianggapnya ”benar.” Di dalam pencarian identitas ini,
remaja membutuhkan model peranan yang sehat dan tempat yang tepat untuk
mengukur resiko yang akan diambilnya. Untuk beberapa remaja, model
perannya adalah keluarga, sekolah dan masyarakat. Area lain untuk
pencapaian prestasi dan kompetensi di mana resiko diambil oleh remaja
adalah dengan melalui keterlibatan dan pencapaian dalam berbagai kegiatan,
seperti prestasi akademis, prestasi dalam bidang atletik atau dalam bidang
seni. Sementara terdapat pula remaja yang kurang beruntung di mana mereka
memiliki sedikit model peran dan sedikit kesempatan untuk mencapai
kompetensi diri. Remaja yang berada pada kondisi ini memilih resiko dengan
45
menggunakan minuman dan alkohol, melakukan aktivitas seksual dini atau
melakukan kejahatan.
2.
Autonomy
Remaja berupaya untuk menentukan dirinya sebagai individu yang mandiri,
menentukan dirinya sendiri di mata dirinya dan di mata orang lain, dan hal ini
terjadi dalam waktu yang lama serta merupakan proses yang sulit, bukan
hanya untuk para pemuda akan tetapi bagi orang-orang di sekelilingnya. Di
dalam dunia remaja, autonomy diartikan sebagai sesuatu yang berbeda dari
independence (Steinberg 1993). Secara umum, independence menunjuk pada
kapasitas individu untuk berperilaku sesuai keinginannya. Pertumbuhan
independence merupakan bagian dari perjalanan menuju autonomy selama
masa remaja, akan tetapi autonomy memiliki aspek emosional dan kognitif
selain juga aspek perilaku.
Selama masa remaja terjadi perpindahan dari tipikal autonomy kanak-kanak ke
arah tipikal autonomy dewasa, akan tetapi pertumbuhan autonomy selama
masa remaja tidak jarang disalahartikan. Autonomy seringkali dikacaukan
dengan pemberontakan, dan menjadi orang yang memiliki kebebasan
seringkali disamakan dengan melarikan diri dari keluarga. Pandangan tentang
autonomy ini muncul dengan anggapan bahwa remaja merupakan masa
terjadinya stres dan kekacauan yang tidak dapat terelakkan lagi, mereka
berada pada masa ”storm dan stres,” dan pada masa ini seringkali disebut
sebagai masa yang spektakuler, secara aktif melakukan pemberontakan
(Steinberg 1993). Pertumbuhan autonomy yang terjadi selama masa remaja ini
dikatakan sebagai sesuatu yang bertahap, progresif dan walaupun penting
tetapi relatif tidak bersifat dramatis.
Remaja menghabiskan begitu banyak waktunya di luar pengawasan langsung
dari orang dewasa dan belajar bagaimana membangun perilakunya sebagai
tanggung jawab terhadap penampilan tugasnya. Beberapa remaja merasa
tertekan, baik oleh orang tua, teman-teman dan media, untuk tumbuh secara
cepat dan bertindak seperti orang dewasa pada usia lebih awal (Elkind 1982).
Misalnya saja, remaja perempuan yang hamil dan takut untuk memberitahujan
orang tuanya, harus mencari sendiri bantuan konseling yang dibutuhkannya.
46
Dalam autonomy dikenal ada tiga tipe, yaitu emotional autonomy di mana
aspek independence dihubungkan dengan perubahan individu dalam hubungan
emosional yang lebih dekat khususnya dengan orang tuanya. Tipe kedua
adalah behavioral autonomy, yaitu kapasitas untuk membuat keputusan sendiri
dan diikuti olehnya. Sementara tipe ketiga adalah value autonomy, yang
berarti bahwa remaja memiliki sekumpulan prinsip benar dan salah tentang
apa yang penting dan apa yang tidak penting.
3. Intimacy
Perkembangan intimacy selama masa remaja melibatkan perubahan di dalam
kebutuhan remaja akan keakraban, perubahan dalam kemampuan untuk
memiliki hubungan akrab dan perubahan di dalammemperluas cara-cara
bagaimana mengekspresikan kemampuan keakraban tersebut. Walaupun
perkembangan intimacy selama masa remaja seringkali dipelajari dalam
hubungannya dengan pertemanan diantara peer-groups, akan tetapi hubungan
intimacy remaja tidak dibatasi pada individu lain yang berumur belasan tahun.
Orang tua seringkali memiliki hubungan yang akrab dengan anak remajanya,
khususnya manakala anak-anak mereka mencapai tingkatan yang cukup untuk
mencapai kematangan.
Intimacy merupakan satu hal yang penting untuk diperhatikan di dalamrentang
kehidupan individu. Teman-teman dan orang-orang yang akrab menyediakan
dukungan pada saat perasaan emosional muncul, dan memberikan bantuan
pada saat dibutuhkan, serta menemani di dalamberbagai aktivitas (Weiss,
1974). Apabila individu tidak memiliki teman pada masa kanak-kanaknya,
dapat dipastikan bahwa individu tersebut memiliki masalah dalam aspek
psikososial dan sosialnya (Hartup, 1983). Berbeda dengan individu yang
berada pada masa remaja, dimana apabila mereka memiliki sedikitnya satu
orang teman akrab, maka akan sangat bermanfaat bagi kesehatan individu
yang bersangkutan (Myers, et al. 1975).
Perkembangan intimacy, khususnya pada saat remaja menjadi penting untuk
diperhatikan karena: (a) perubahan arti dan fungsi teman selama masa remaja.
Hubungan yang terjadi ditandai dengan keterbukaan, kejujuran, selfdisclossure dan kepercayaan. Walaupun anak-anak tertentu pada usia sekolah
47
(7 sampai 12 tahun) menganggap penting memiliki teman, namun bentuk
hubungannya berbeda dari bentuk pertemanan yang terjadi pada masa remaja.
Pertemanan pada anak-anak berorientasi pada aktivitas, sebagai contoh
membuat sesuatu dalam permainan dan berbagi kesenangan di antara mereka.
Pada anak, teman adalah seseorang yang mempunyai kesenangan yang sama
untuk melakukan sesuatu, apakah laki-laki atau perempuan. Akan tetapi pada
masa remaja teman dekat adalah mereka yang memiliki dasar emosi yang
kuat, yang membangun ikatan untuk membentuk teman yang peduli dan
mengetahui serta saling memahami satu sama lain dalam situasi yang khusus;
dan (b) terjadinya perubahan pada remaja yang berhubungan dengan dunia
sosialnya. Pada masa remaja awal terjadi peningkatan akan pentingnya teman
sebaya, dan selama masa remaja akhir terjadi peningkatan akan pentingnya
hubungan teman sebaya dengan jenis kelamin yang berbeda.
4. Sexuality
Seperti juga aspek perkembangan psikososial yang lainnya, aspek sexuality
bukan merupakan hal baru yang dihadapi pertama kali oleh individu selama
masa remaja. Seorang anak memiliki rasa ingin tahu tentang organ-organ
seksnya dan pada awal usianya mendapatkan kesenangan melalui stimulasi
genital. Aktivitas seksual dan perkembangan seksual ini akan berlanjut setelah
masa remaja.
Banyak dari kita sependapat bahwa masa remaja merupakan waktu penting
yang mendasar untuk perkembangan seksualitas. Pada saat remaja awal terjadi
peningkatan dalam dorongan seksual (Udry, 1987). Tidak saja selama pubertas
individu mampu untuk melakukan reproduksi seksual tetapi juga pada saat
sebelum pubertas, anak-anak sudah mampu melakukan kissing, petting,
masturbation (onani) atau melakukan sexual intercourse (senggama).
Peningkatan aktivitas seksual pada remaja seharusnya tidak semata-mata
terjadi pada masa pubertas. Perubahan kognitif yang terjadi pada remaja
memainkan peranan pada perubahan seksualnya. Hal ini terlihat jelas dalam
perbedaan kegiatan seks pada anak-anak dan aktivitas seksual pada remaja di
mana anak-anak tidak secara khusus melakukan refleksi terhadap perilaku
seksualnya. Pengaruh perubahan fisik pada masa pubertas dan pertumbuhan
48
kemampuan berfikir tentang seksualitas pada masa remaja merupakan
pemahaman sosial baru bagi remaja. Perilaku berkencan yang sudah mulai
dilakukan oleh remaja akan menempatkan aspek seksual menjadi faktor
psikososial penting yang harus menjadi perhatian.
5. Achievement
Achievement (prestasi) merupakan hal yang penting untuk diperhatikan dalam
mempelajari remaja pada masyarakat sekarang ini. Masyarakat industri lebih
menekankan aspek-aspek prestasi, kompetisi dan kesuksesan dibanding
dengan aspek kerjasama atau kepuasan hubungan interpersonal (McClelland
1961). Di dalam masyarakat industri saat ini, tingkat pendidikan yang telah
ditempuh oleh seseorang dan pekerjaan yang didapat merupakan dua indikator
yang paling penting dari prestasi dan prestasi ini menjadi dasar untuk
pembentukan konsep-diri individu dan dasar penilaian kesan orang lain pada
pendidikan tersebut (Featherman 1980).
Alasan lain mengapa prestasi menjadi hal penting di dalammempelajari
remaja, berhubungan dengan terjadinya perubahan yang cepat pada pilihan
yang dihadapi remaja saat ini. Tidak seperti yang banyak terjadi pada budaya
tradisional, remaja dalam masyarakat modern dihadapkan kepada fenomena
sulitnya memutuskan untuk bekerja dan berhenti menjalani pendidikan
sebelum mereka berusia 25 tahun. Di samping pertanyaan mendasar seperti
jenis karier apa yang akan ditempuh dan apakah akan melanjutkan sekolah
menengah atas, terdapat kesulitan lain untuk dipertimbangkan seperti :
pekerjaan khusus apa yang harus diraih dalam karier, jenis pendidikan apa
yang paling tepat yang harus dipersiapkan untuk karier tersebut dan
bagaimana masuk ke dalam dunia pekerjaan?
Prestasi merupakan isu penting dalam mempelajari remaja pada masyarakat
saat ini karena keluasan variasi keberhasilan di dalamtingkatan pendidikan dan
pekerjaan. Walaupun telah banyak yang melanjutkan pendidikannya ke
jenjang perguruan tinggi selepas mereka dari sekolah menengah, namun
banyak
juga
yang
meninggalkan
bangku
sekolah
sebelum
mereka
menyelesaikannya. Perbedaan yang serupa muncul pula dalam pencapaian
prestasi di bidang pekerjaan. Kebanyakan pemuda mengalami transisi dari
49
sekolah kepada pekerjaan tanpa kesulitan besar, akan tetapi terdapat pula
mereka yang pada akhirnya tidak mendapatkan pekerjaan. Pada populasi
remaja yang mendapatkan pengalaman bekerja, muncul pertimbangan yang
berhubungan dengan variasi dari upah yang didapat dan juga status dari
pekerjaannya.
Masalah-masalah Psikososial Remaja
Walaupun mayoritas dari pemuda dapat melalui masa remaja tanpa
mengalami kesulitan yang berarti, namun beberapa melihat dengan serius
masalah-masalah psikososial dan perilaku yang tidak hanya mengganggu
kehidupannya akan tetapi mengganggu pula kehidupan orang-orang disekitanrnya.
Masalah-masalah seperti penyalahgunaan obat-obatan, depresi dan bunuh diri,
gangguan makan dan gangguan perilaku (termasuk kejahatan dan kenakalan)
dirasakan oleh sejumlah remaja usia belasan. Secara tidak langsung, masalahmasalah tersebut menyentuh kehidupan kita semua, baik melalui kontak dengan
orang yang bermasalah, maupun secara tidak langsung melalui peningkatan
besarnya pajak untuk pelayanan masyarakat atau peningkatan kecemasan di
lingkungan ketetanggaan kita:
1. Penyalahgunaan Obat-obatan dan Alkohol
Di dalam kehidupan kita sehari-hari sekarang ini, para remaja dihadapkan
pada pesan-pesan yang berhubungan dengan obat-obatan dan alkohol.
Beberapa program di televisi memberikan pesan ”Katakan tidak” pada obatobatan dan alkohol. Akan tetapi ada juga program yang memperlihatkan
permainan sepak bola yang ditonton oleh para penggemarnya yang
memperlihatkan peonton membawa minuman beralkohol. Beberapa orang
selebritis yang menjadi idola para remaja mengatakan akan memerangi
narkotik dan obat-obatan terlarang (narkoba), akan tetapi bintang terkenal
lainnya menggunakan obat-obatan yang sama.
Remaja
yang
menyalahgunakan
obat-obatan
dan
alkohol
memiliki
karakteristik masalah sebagai berikut :
a. Pemarah, impulsif, depresi dan prestasi buruk di sekolahnya (Brook, et al.
1989; Shedler dan Block 1990).
50
b. Individu yang memiliki jarak, bermusuhan atau konflik dengan
keluarganya akan mengembangkan perilaku menyalahgunakan obatobatan dan alkohol daripada teman sebayanya yang memiliki hubungan
dekat dengan keluarganya (Barnes 1980). Remaja pengguna obat-obatan
dan alkohol memiliki orang tua dengan gaya pengasuhan permisif, tidak
memiliki kepedulian terhadap masalah yang terjadi pada anak atau
menolak keberadaan anak (Baumrind 1991).
c. Memiliki teman yang juga menggunakan obat-obatan dan alkohol dan
memiliki toleransi untuk menggunakannya (Coombs, et al. 1991).
d. Secara umum memiliki masalah perkembangan psikologis dan menjadi
perantara untuk melakukan penyimpangan perilaku yang lain (Jessor dan
Jessor 1977).
2. Kenakalan Remaja dan Gangguan Perilaku
Pelanggaran terhadap peraturan lebih umum terjadi di kalangan remaja dan
dewasa muda daripada di kalangan usia yang lainnya. Kenakalan tertentu
seperti bolos sekolah, lari dari rumah, atau mengkonsumsi alkohol merupakan
perilaku yang menyebabkan penyimpangan ke arah perilaku yang lebih
berbahaya. Hasil penelitian di Amerika menunjukkan bahwa violent crimes
(penyerangan, perkosaan, pembunuhan) dan property crimes (perampokan,
pencurian, pembakaran rumah) meningkat jumlahnya diantara usia pra remaja
dan remaja atau pada tingkat sekolah menengah dan menurun jumlahnya pada
usia dewasa muda. Keluarga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan
remaja melakukan penyimpangan perilaku. Remaja menjadi nakal karena
memiliki latar belakang perilaku agresif dan kekerasan sejak sebelum usia 8
tahun di dalam keluarganya. Selain itu juga mereka yang nakal memiliki latar
belakang perilaku hiperaktif yang ditandai dengan impulsif, perhatian rendah,
gelisah, aktivitas tinggi tetapi tidak jelas, khususnya dilakukan dalam situasi
belajar. Bukti lain menyatakan bahwa remaja yang nakal ditandai dengan IQ
yang rendah dibanding teman-temannya dan prestasi buruk di sekolah
(Farrington 1991).
3. Depresi dan Bunuh Diri
51
Depresi merupakan gangguan psikologis yang umum dialami oleh remaja
(Weiner 1980). Terdapat kenaikan yang dramatis dalam prevalensi perasaan
depresif pada saat terjadi pubertas pada remaja laki-laki dan dirasakan oleh
remaja perempuan setelah masa pubertas (Gjerde, et al. 1988).
Depresi dimanifestasikan dalam emosional, termasuk kekesalan, penurunan
kesenangan dalam aktivitas, dan rendahnya self-esteem. Dalam aspek kognitif,
ditandai dengan pesimis dan tidak memiliki harapan. Depresi yang dialami
individu juga memiliki symptom motivasional seperti apatis dan kebosanan.
Selain itu juga depresi dapat dimanifestasikan dalam vegetative atau tandatanda fisik seperti kehilangan selera makan, sulit tidur dan kehilangan enerji.
Depresi selama masa remaja seringkali berhubungan dengan masalah-masalah
psikologis atau perilaku lainnya yang sulit didiagnosa (Kendall et al. 1989).
Menurut hasil survey tahun 1987, ditemukan bahwa 15 % dari anak di kelas
10 di Amerika telah mencoba bunuh diri dan sebanyak lebih dari 98 % yang
mencoba bunuh diri tetapi tidak berhasil. Upaya untuk mencegah bunuh diri
dikalangan remaja difokuskan pada kegiatan untuk mengidentifikasi faktorfaktor resikonya. Empat faktor resiko untuk mencoba bunuh diri di kalangan
remaja adalah masalah psychiatric terutama berkaitan dengan: (1) depresi atau
penyalahgunaan obat-obatan, (2) memiliki sejarah bunuh diri dalam
keluarganya sewaktu mengalami stres, (3) mengalami penolakan dari orang
tua, dan (4) perceraian atau konflik keluarga. Remaja yang memiliki satu dari
faktor resiko ini berpeluang untuk mencoba bunuh diri daripada teman
sebayanya dan mereka yang memiliki lebih dari satu faktor resiko akan
membunuh dirinya sendiri dengan cara yang dramatis.
4. Gangguan Makan
Gangguan makan yang paling umum dialami oleh remaja adalah anorexia
nervosa, bulimia dan obesity (kegemukan). Banyak remaja, terutama remaja
perempuan sangat memperhatikan berat badannya, oleh karena itu mereka
berusaha untuk menjaga berat badannya dengan cara drastis dan berbahaya.
Beberapa remaja perempuan melakukannya dengan cara memakan makanan
yang banyak dan berusaha memuntahkannya kembali untuk mengurangi berat
badannya. Pola seperti ini disebut bulimia. Dalam beberapa kasus, remaja
52
perempuan mengalami penderitaan akibat gangguan makan yang disebut
dengan anorexia nervosa yaitu upaya untuk menjaga berat badan agar tetap
turun. Apabila bulimia dan anorexia tidak cepat ditangani, maka akan
menyebabkan masalah-masalah fisik yang serius, dan bukti menunjukkan
bahwa 20 % dari remaja penderita anorexia mengalami kelaparan hingga mati
(Steinberg 1993).
Obesitas merupakan gangguan makan yang paling umum terjadi. Menurut
survei di Amerika, sebanyak 5 persen dari remaja mengalami obesitas dan
lebih dari 20 persen mengalami kegemukan maksimum serta 15 persen
mengalami kegemukan yang sangat serius. Karena masa remaja merupakan
waktu dimana terjadinya perubahan yang dramatis dalam penampilan fisik,
maka self-image mereka ditujukan pada body-image nya. Penyimpangan dari
fisik yang ideal pada remaja akan menyebabkan kehilangan self-image nya.
Obesitas yang terjadi pada masa remaja menempatkan individu pada
resiko lebih tinggi untuk mengalami masalah-masalah kesehatan lainnya,
seperti hipertensi, angka kolesterol tinggi dan diabetes. Hampir 80 persen
remaja yang obesitas akan mengalaminya terus sampai mereka dewasa dan
mengalami penderitaan yang berhubungan dengan obesitas.
Walaupun faktor nutrisi dan perilaku dapat menyebabkan obesitas, namun
berat badan kadangkala dihasilkan secara langsung dari perubahan fisik pada
masa pubertas. Obesitas tiga kali lipat terjadi pada masa remaja dibanding
pada masa kanak-kanak. Seringkali program yang intensif dalam latihan fisik
dengan nutrisi yang tepat dapat membantu para remaja menurunkan berat
badannya (Paulsen 1972).
Perkembangan Fisik dan Kognitif Remaja
Perubahan psikologis yang terjadi pada remaja akan menyertai
perkembangan fisiknya (Tabel 1). Remaja akan disibukkan dengan perubahan
tubuhnya dan mengembangkan citra individual mengenai gambaran tubuh
mereka. Menurut Wright (Santrock 1995) bahwa kesibukan dengan citra tubuh
seseorang sangat kuat selama masa remaja, akan tetapi kesibukan itu secara
khusus meningkat selama masa pubertas, yaitu masa ketika remaja awal lebih
53
tidak puas dengan tubuh mereka daripada akhir masa remaja. Menurut studi yang
dilakukan California Longitudinal Study (Santrock 1995) bahwa anak laki-laki
yang lebih cepat matang (early maturing) memahami diri mereka dengan lebih
positif dan lebih berhasil menjalin relasi dengan teman-teman sebaya daripada
rekan-rekan mereka yang terlambat matang (late maturing). Anak-anak
perempuan yang lebih cepat matang memiliki prestasi akademis dan pekerjaan
yang lebih rendah pada masa dewasa. Tampaknya, sebagai akibat dari
ketidakmatangan
sosial
dan
kognitif
mereka,
dikombinasikan
dengan
perkembangan fisik yang lebih awal, anak-anak perempuan yang lebih cepat
matang lebih mudah jatuh ke dalam perilaku-perilaku bermasalah, yakni mereka
tidak menyadari kemungkinan dampak-dampak jangka panjang terhadap
perkembangan mereka.
Menurut Santrock (1995), kekuatan pemikiran remaja yang sedang
berkembang (Tabel 1) membuka cakrawala kognitif dan cakrawala sosial yang
baru. Pemikiran mereka semakin abstrak, logis dan idealistis, lebih mampu
menguji pemikiran diri sendiri, pemikiran orang lain, dan apa yang orang lain
pikirkan tentang diri mereka, serta cenderung menginterpretasikan dan memantau
dunia sosial.
Media
Remaja merupakan periode dimana individu berusia antara 12 dan 18
tahun mengalami perubahan yang cepat dalam hal emosi, psikologis dan biologis.
Selama masa awal remaja, mereka sangat perhatian terhadap bagaimana mereka
dipandang oleh orang lain. Dalam Social Learning Model (Bandura 1970)
dinyatakan bahwa remaja berperilaku seperti yang diharapkan oleh masyarakat
pada mereka untuk berperilaku tertentu. Oleh karena itu, remaja mencoba untuk
berperilaku, mengenakan pakaian, dan berbicara menurut apa yang dipikirkan
orang lain tentang mereka. Remaja pun mencari otonomi, identitas dan sosialisasi
diluar keluarganya melalui modeling. Salah satu sumber dimana modeling
dilakukan adalah melalui media. Media memainkan peranan yang sangat besar
dalam kehidupan para remaja karena mereka tidak menyadari tujuan media dalam
54
Tabel 1 Perkembangan Fisik dan Kognitif pada Masa Remaja
Konsep
Transisi
ke
masa remaja
Gagasan dan Karakteristik
Hakekatnya Sifat kontinuitas dan diskontinuitas adalah ciri transisi dari masa
anak-anak ke masa remaja. Pada perkembangan anak-anak, faktor-faktor genetis,
biologis, lingkungan dan pengalaman berinteraksi dalam perkembangan anak
remaja.
Perkembangan
Perubahan pubertas, Pubertas ialah suatu periode kedewasaan kerangka tubuh
fisik
dan seksual yang cepat terutama terjadi pada awal masa remaja. Testosteron
memainkan peran penting dalam perkembangan pubertas laki-laki, dan estradiol
pada perkembangan pubertas perempuan. Pertumbuhan yang cepat pada anak
laki-laki terjadi kira-kira 2 tahun lebih lambat daripada anak-anak perempuan,
yakni 12,5 tahun usia awal rata-rata pada anak laki-laki, 10,5 tahun usia awal
rata-rata pada anak-anak perempuan. Kematangan individual pada masa pubertas
bersifat menyeluruh.
Aspek-aspek psikologis yang menyertai perubahan-perubahan pubertas.
Remaja memperlihatkan minat yang semakin besar pada citra tubuhnya.
Kematangan yang lebih awal cenderung terjadi pada anak laki-laki, setidaknya
selama masa remaja. Meskipun demikian, sebagai orang dewasa, anak laki-laki
yang terlambat matang mencapai identitas yang lebih berhasil. Para peneliti
semakin menemukan bahwa anak-anak prempuan yang lebih awal matang lebih
mudah terkena sejumlah masalah.
Apakah dampak masa pubertas terlalu dibesar-besarkan?
Perkembangan remaja dipengaruhi oleh interaksi antara faktor-faktor biologis,
kognitif dan sosial, dan tidak hanya didominasi oleh faktor-faktor biologis.
Kematangan yang lebih awal atau terlambat secara ekstrim dapat menempatkan
seorang anak remaja pada suatu resiko, namun dampak-dampak menyeluruh
kematangan yang lebih awal dan terlambat tidaklah besar. Ini tidak berarti bahwa
pubertas dan kematangan yang lebih awal atau terlambat tidak berdampak
terhadap perkembangan, tetapi perubahan-perubahan pubertas selalu perlu
dipertimbangkan dalam kerangka interaksi faktor-faktor biologis, kognitif, dan
sosial yang lebih luas.
Perkembangan
Pemikiran operasional formal
kognitif
Menurut Piaget, pemikiran operasional formal berlangsung antara usia 11 hingga
15 tahun. Pemkiran operasional formal lebih abstrak, idealistis dan logis daripada
pemikiran operasional konkret. Remaja semakin mampu menggunakan
pemikiran deduktif hipotetis. Perubahan-perubahan yang mengesankan dalam
kognisi sosial adalah ciri perkembangan remaja. Remaja mengembangkan suatu
tipe egosentrisme khusus yang meliputi penonton khalayan dan dongeng pribadi
tentang mahluk yang unik. Remaja mulai berpikir tentang kepribadian sama
seperti cara yang dilakukan oleh para ahli teori kepribadian, dan mereka
memantau dunia sosial mereka dengan cara-cara yang lebih canggih.
Pengambilan keputusan. Masa remaja adalah masa semakin meningkatnya
pengambilan keputusan. Remaja yang lebih tua lebih kompeten dalam
mengambil keputusan dibanding remaja yang lebih muda. Kemampuan untuk
mengambil keputusan tidak menjamin kemampuan itu akan diterapkan, karena
dalam kehidupan nyata luasnya pengalaman adalah penting. Remaja perlu lebih
banyak peluang untuk mempraktekkan dan mendiskusikan keputusan yang
realistis. Dalam beberapa hal kesalahan penambilan keputusan pada remaja
mungkin terjadi ketika dalam realitas yang menjadi masalah adalah orientasi
masyarakat terhadap remaja dan kegagalan ntuk memberi mereka pilihan-pilihan
yang memadai.
Sumber: Santrock 1995
55
masyarakat (Chapin 2000). Lebih jauh bahwa media menyediakan bagi remaja
beberapa informasi yang berhubungan dengan jenis kelamin, peranan gender,
hubungan dan sebagainya yang membantu mereka untuk berhubungan dengan
subkultur yang berlaku di kalangan remaja (Chapin 2000; Newton 1995). Remaja
percaya bahwa media merefleksikan macam kehidupan di dalam dunia yang
nyata. Menurut McLuhan (Rakhmat 1992), ”The medium is the message.” Media
adalah perluasan dari alat indera manusia dan secara operasional dan praktis,
media adalah pesan karena membentuk dan mengendalikan skala serta bentuk
hubungan dan tindakan manusia. Melalui media kita dapat memperoleh informasi
tentang benda, orang atau tempat yang kita tidak alami secara langsung. Dunia
terlalu luas untuk manusia masuki semuanya. Oleh karena itu, media datang
menyampaikan informasi tentang lingkungan sosial dan politik, televisi menjadi
jendela kecil untuk menyaksikan berbagai peristiwa yang jauh dari jangkauan alat
indera kita, surat kabar menjadi teropong kecil untuk melihat gejala-gejala yang
terjadi waktu ini di seluruh penjuru bumi, buku kadang-kadang dapat menjadi
kapsul waktu yang membawa kita ke masa lalu, masa kini dan masa yang akan
datang, film menyajikan pengalaman imajiner yang melintas ruang dan waktu.
Penggunaan media diartikan sebagai mendengarkan musik, melihat dan
mendapatkan video, melihat televisi, melihat film di bioskop, membaca majalah,
membeli VCD dan buku-buku serta melakukan searching di internet. Remaja
yang melakukan searching di internet akan memasuki ruangan untuk chat, web
site dan pornografi. Media menyediakan bagi remaja informasi tentang peranan
gender, jenis kelamin, emosi dan sebagainya, akan tetapi media tidak
merefleksikan segala sesuatu yang ada di masyarakat, yang berarti bahwa media
hanya memfokuskan pada satu tipe orang atau sekelompok orang saja. Oleh
karena itu, informasi yang disajikan melalui media tidak dapat diterapkan pada
kehidupan setiap orang (Dittmar 2000; Kelly dan Donohew 1999; Stice, et al.
2001).
Paparan Media Massa
Melalui media massa dapat diperoleh informasi untuk membangun konsep
diri, pandangan terhadap dunia, pandangan tentang sifat-sifat manusia dan
hubungan sosial. Apabila konsep-konsep tersebut telah dirumuskan, komunkasi
56
massa dapat
membantu memperkokoh konsep-konsep tersebut. Terpaan
(exposure) isi media dapat memberikan petunjuk kepada individu untuk
menafsikan atau mengidentifikasi kondisi perasaan yang tidak jelas, untuk
mengatribusikan perasaan-perasaan negatif pada faktor-faktor eksternal, atau
memberikan kriteria pembanding yang ekstrim untuk perilakunya yang kurang
baik (Rakhmat 1992).
Menurut Effendy (1989), yang dimaksud dengan terpaan atau exposure
adalah keadaan terkenanya pesan-pesan yang disebarkan media massa kepada
khalayak sasaran. Tereksposnya seseorang pada media massa tidak sama antara
satu orang dengan orang lainnya. Tingkatan exposure pada media massa dibatasi
oleh beberapa status dan peubah-peubah kekuasaan, umur, jenis kelamin,
pendidikan, agama, kepemilikan, kekuasaan masyarakat dan kontak terhadap agen
perubahan. Diduga mereka yang diterpa media massa adalah orang-orang yang
lebih terpelajar, lebih tahu dan lebih stabil dalam hal kepribadian, sehingga
mereka menerima pesan media dengan gagasan yang sudah terumus dengan lebih
jelas (McGuire 1969). Dengan demikian penyebab penggunaan media terletak
dalam lingkungan sosial atau psikologis yang dirasakan sebagai masalah dan
media digunakan untuk menanggulangi masalah (pemuasan kebutuhan), seperti
yang berkaitan dengan informasi, hubungan sosial, hiburan, pembelajaran, dan
pembangunan sosial. Hal ini sesuai dengan pendapat Katz, et al., (1974) yang
menyatakan bahwa studi tentang audiens yang bersifat keperilakuan dan
fungsionalis memusatkan perhatian pada sumber kebutuhan sosial dan psikologis
yang menimbulkan harapan terhadap media massa dan sumber lainnya yang
mengakibatkan perbedaan pola terpaan (exposure) media massa atau keterlibatan
dalam aktivitas lain yang menghasilkan pemenuhan kebutuhan dan konsekuensi
lainnya. Hasil terpaan (sesuatu obyek yang dihadapkan atau dikonfrontasikan
kembali melalui berbagai cara), sangat efektif untuk mempertinggi rasa suka
terhadap seseorang atau suatu objek yang pada awalnya dimaknakan sebagai
sesuatu yang menyenangkan atau setidak-tidaknya netral, tetapi tidak dimaknakan
sebagai sesuatu yang sangat negatif.
57
Peranan Media Massa
Media massa baik elektronik maupun cetak serta proses komunikasi massa
(peran yang dimainkannya) semakin banyak dijadikan sebagai objek studi. Gejala
ini seiring dengan meningkatnya peran media massa itu sendiri sebagai institusi
penting dalam masyarakat. (Krech, et al. 1986) menyatakan bahwa keefektifan
dari propaganda dipengaruhi tidak hanya oleh siapa yang mempropagandakannya
tetapi dipengaruhi oleh media (radio, televisi, surat kabar, majalah, dan
sebagainya) yang digunakannya. Lebih jauh lagi mereka menyatakan bahwa sikap
seseorang dibentuk melalui tereksposenya orang tersebut terhadap informasi.
Fungsi Media Massa
Melihat besarnya peran media massa, McQuail (1994) mengemukakan
beberapa fungsi penting dari media massa, yaitu:
1. Media merupakan industri yang berubah dan berkembang yang menciptakan
lapangan kerja, barang dan jasa, serta menghidupkan industri lain yang terkait.
Media juga merupakan industri tersendiri yang memiliki peraturan dan normanorma yang menghubungkan indusri tersebut dengan masyarakat dan institusi
sosial lainnya. Di lain pihak, institusi media diatur oleh masyarakat.
2. Media massa merupakan sumber kekuatan, alat kontrol manajemen dan
inovasi dalam masyarakat yang dapat didayagunakan sebagai pengganti
kekuatan atau sumber daya lainnya.
3. Media merupakan lokasi atau forum yang semakin berperan untuk
menampilkan peristiwa-peristiwa kehidupan masarakat, baik yang bertaraf
nasional maupun internasional.
4. Media seringkali berperan sebagai wahana pengembangan kebudayaan, bukan
saja dalam pengertian pengembangan bentuk seni dan simbol, tetapi juga
dalam pengertian pengembangan tata cara, mode, gaya hidup, dan normanorma.
5. Media telah menjadi sumber dominan bukan saja bagi individu untuk
memperoleh gambaran dan citra realitas sosial, tetapi juga bagi masyarakat
dan kelompok secara kolektif. Media menyuguhkan nilai-nilai dan penilaian
normatif yang dibaurkan dengan berita dan hiburan.
58
Menurut Noelle dan Neuman (1973), terdapat tiga faktor penting dalam
media massa yang bekerjasama dalam membatasi persepsi yang selektif. Ketiga
faktor itu adalah :
1. Ubiquity, artinya serba ada. Media massa mampu mendominasi lingkungan
informasi dan berada dimana-mana. Karena sifatnya yang serba ada, agak sulit
orang menghindari pesan media massa.
2. Pesan-pesan media besifat kumulatif. Berbagai pesan yang sepotong-sepotong
bergabung menjadi satu kesatuan setelah lewat waktu tertentu. Pengulangan
pesan yang berulangkali dapat memperkokoh dampak media massa. Dampak
ini diperkuat dengan keseragaman para wartawan (consonance of journalists).
3. Keseragaman wartawan. Siaran berita cenderung sama, sehingga dunia yang
disajikan pada khalayak juga dunia yang sama. Khalayak akhirnya tidak
mempunyai alternatif yang lain, sehingga mereka membentuk perspsinya
berdasarkan infomasi yang diteimanya dari media massa.
Pengaruh Media
Pengaruh media terhadap perkembangan psikososial remaja sangat besar,
dapat berupa hal yang positif maupun negatif (Walsh dan Gentile 1996).
Memperhatikan pengaruh yang ditimbulkan seperti yang dikemukakan dalam
studi klasik yang dilakukan oleh Bandura (1970) menunjukkan bahwa anak akan
mempelajari agresi pada saat mereka terexpose pada isi media yang menampilkan
kekerasan, walaupun mereka tidak menirunya dengan segera. Terdapat korelasi
yang positif antara terexposenya individu pada iklan dengan konsumsi.
Peningkatan penggunaan media berhubungan dengan relasi sosial yang minim,
interaksi respon rendah, angka rendah dalam membaca, dan prestasi sekolah yang
buruk (Dorr dan Rabin 1995). Disisi lain peningkatan penggunaan media
pendidikan
dan
prososial
menunjukkan
bukti
adanya
pengaruh
yang
menguntungkan. Akan tetapi, hanya sedikit saja laporan yang memberikan bukti
adanya pengaruh media pada anak-anak dan keluarga yang menguntungkan
seperti ini.
Selama masa remaja, anak-anak sangat memperhatikan penampilannya
dan bagaimana mereka dapat diterima oleh lingkungannya. Mereka menggunakan
59
image dari televisi dan majalah sebagai panduan untuk berperilaku dan mencoba
untuk menyamai Britney Spears sebagai penyanyi, gaya berpakaian, perilaku dan
sikapnya. Tidak hanya remaja yang melakukan imitasi kepada penyanyi, aktor dan
aktris, akan tetapi penjual eceran bekerja keras untuk mempengaruhi para remaja
untuk menggunakan produk baju baru mereka. Penjual sangat memahami bahwa
akan lebih mudah untuk mempengaruhi orang-orang yang tidak menyadari
bagaimana media bekerja daripada mereka yang tidak mengetahuinya. Selama
remaja tidak menyadari peranan media dalam masyarakat, mereka akan masuk
dalam konsepsi yang keliru akan apa yang disajikan oleh media. Hasilnya, lebih
banyak remaja putri yang menggunakan rok mini dibanding sebelumnya dan
banyak sekolah yang menerapkan aturan berpakaian untuk mengurangi jumlah
murid perempuan yang mengenakan pakaian tidak sesuai ke sekolah.
Image dari penggunaan media tidak hanya dijadikan panduan untuk
berpakaian,
tetapi
juga
untuk
pembentukan
tubuh.
Seringkali
media
memperlihatkan image orang dengan tubuh kurus dan berotot dilihat dan dianggap
sebagai orang yang seksi. Akibatnya, remaja mulai mengadopsi anggapan tentang
apa itu seksi sesuai dengan apa yang ditampilkan pada media. Wanita dibanding
pria lebih sering mengalami gangguan makan diakibatkan keinginannya untuk
terlihat seperti yang ada di media, akan tetapi hal ini tidak dihasilkan hanya
dengan memandang image secara khusus dari media (Stice dan Agras 2001; Van
den Bulck 2000).
Remaja menerima informasi tentang bagaimana menjadi wanita dan pria
dari program televisi dan film yang berbeda. Perilaku gender yang dapat diterima
juga dipelajari dan diperkuat melalui interaksi dengan teman sebayanya (Grube
dan Grube 2000). Para remaja akan mengadopsi aspek-aspek buruk dari peranan
gender tergantung dari jenis pertunjukkan yang ditontonnya. Mereka yang
mencari informasi tentang peranan gender dari media juga akan menerima moral
dan panduan untuk hidup. Perkembangan moral secara abstrak dimulai sejak
remaja. Muncul kemampuan untuk memikirkan tentang konsekuensi dari suatu
tindakan. Selama masa remaja, mereka menyimpan pertanyaan tentang moral
yang dimiliki oleh orang tuanya yang dipersiapkan untuknya. Anak-anak menaruh
perhatian dalam belajar tentang ketepatan moral orang tuanya dan alasan-alasan
60
untuknya. Informasi yang berkaitan dengan ini semua mereka peroleh melalui
media dan interaksi diantara teman-temannya. Remaja menerima informasi
seberapa banyak teman-teman sebayanya percaya bahwa lingkungannya benar
atau salah (Newton 1995). Remaja tidak hanya belajar sejauh mana persamaan
perspektif dalam perilaku tertentu dengan teman-teman sebayanya, tetapi mereka
pun belajar tentang perilaku mana yang akan mereka terima atau tidak.
Remaja terexpose oleh sejumlah image seksual dan pesan-pesan dalam
televisi dan mereka menggunakan sumber media ini untuk memperoleh
pengetahuan tentang seks, obat-obatan dan kekerasan sebaik seperti bagaimana
mereka harus berperilaku dalam hubungan dan pertemanan (Chapin 2000; Grube
dan Grube 2000). Di Amerika Serikat, orang tua dapat memonitor anak-anaknya
terexpose pada apa dari media dengan menggunakan sistem rating televisi seperti
pengawasan orang tua, V-chips, dan skala rating. Penyedia pelayanan internet
tertentu menggunakan tempat khusus bagi orang tua untuk mencegah anak-anak
dan remaja masuk kedalam website pornografi. Akan tetapi, walaupun sistem
rating ini membantu orang tua untuk memonitor macam informasi/gambar yang
anak-anaknya lihat di televisi, hal ini tidak mengurangi keingintahuan remaja akan
seks. Untuk itulah sangat penting bagi orang tua menemukan cara untuk berbicara
dengan anak-anaknya tentang seks. Bagi sebagian orang tua, berbicara tentang
seks dengan anak-anaknya tidak akan menjadi masalah, akan tetapi bagi sebagian
yang lain kemungkinan hal ini akan menjadi masalah:
1. Televisi
Televisi memiliki potensi pengaruh, baik yang positif maupun negatif. Banyak
studi yang telah dilakukan untuk melihat dampak televisi pada masyarakat,
khususnya pada anak-anak dan remaja. Tingkat perkembangan anak
merupakan faktor kritis di dalammenentukan apakah media akan berpengaruh
negatif atau positif. Tidak semua program televisi berpengaruh buruk, akan
tetapi data menunjukkan dengan jelas pengaruh negatif akibat terexposenya
anak dan remaja pada kekerasan, penerapan seksualitas yang tidak tepat, dan
menggunakan bahasa sehari-hari yang kasar. Purwadi (Nursyawal 2004)
membuktikan asumsi adanya pengaruh negatif tayangan televisi terhadap
perilaku khalayak, dimana tingginya frekuensi menonton televisi akan
61
memberi sumbangan atas penyimpangan nilai dan perilaku. Menurutnya pula
bahwa pengaruh tayangan televisi didorong oleh faktor lingkungan keluarga
dan ketaatan beragama. Makin lemah faktor keluarga dan ketaatan beragama,
maka akan semakin kuat pengaruh televisi.
Aspek peran modeling dalam televisi sangat penting difahami pengaruhnya.
Anak mempelajari perilaku melalui imitasi peran model yang muncul di
televisi. Mereka akan melakukan imitasi terhadap apa yang dilihatnya di
media secara langsung. Televisi menggunakan pengaruh yang halus dan
tersembunyi melalui penajaman sikap dan persepsi pada norma-norma sosial
(Huesmann dan Eron 1986). Sekelompok peneliti menggunakan istilah untuk
pengaruh televisi ini sebagai ”Stalagmite Effects,” sebagai contoh televisi akan
menawarkan anak dan remaja naskah mengenai peranan gender, resolusi
konflik, pola-pola bercumbu, dan kepuasan seksual yang tidak mungkin
mereka lihat disembarang tempat. Konsumen televisi mulai percaya bahwa
dunia merupakan tempat yang lebih keras dibanding kehidupan sebenarnya, di
mana kekerasan tersebut merupakan solusi yang dapat diterima untuk
menyelesaikan berbagai masalah (Strasburger 1990), atau bahwa semua
konflik dapat dengan mudah dipecahkan dalam waktu singkat. Apabila anakanak dan remaja melihat banyak opera sabun, maka mereka akan mendugaduga bahwa aktivitas seksual aktif telah dilakukan anak usia belasan dan
peristiwa hubungan diluar nikah atau menduga-duga resiko penularan
penyakit seksual.
2. Video Musik
Video musik memiliki dampak yang signifikan terhadap perilaku remaja
melalui penurunan kepekaan pada kekerasan dan membuat remaja lebih
menyetujui sex diluar nikah. Penelitian yang dilakukan di Amerika
menunjukkan bahwa di atas 75 % video berisi materi tentang seksual dan lebih
dari setengahnya berisi kekerasan yang seringkali dilakukan di antara wanita.
Wanita seringkali digambarkan dalam posisi rendah sehingga mempengaruhi
sikap anak-anak tentang peranan seks (American Academy of Pediatrics
2004).
62
Peranan model yang atraktif merupakan agresor dalam lebih dari 80 %
kekerasan video musik. Laki-laki lebih dari tiga kali lipat menjadi agresor, di
mana laki-laki kulit hitam lebih banyak tampil di banding laki-laki kulit putih.
Video musik memperkuat stereotype yang salah. Analisis tentang video musik
yang lebih rinci adalah tentang dampaknya pada harapan normatif remaja akan
resolusi konflik, ras dan hubungan antara laki-laki dan perempuan (Rich, et al.
1998).
3. Video Games
Beberapa video games mungkin membantu perkembangan keterampilan
motorik dan koordinasi yang baik, akan tetapi banyak yang berhubungan
dengan pengaruh negatif dari televisi (seperti tidak aktif, perilaku asosial, dan
kekerasan) juga terjadi karena terexpose secara berlebihan pada video games.
Kekerasan pada video games memprihatinkan karena memiliki pengaruh yang
membahayakan pada perkembangan mental anak-anak.
Pengaruh kekerasan video games pada anak-anak telah menjadi perhatian
kesehatan publik sejak beberapa tahun terakhir ini. Studi yang dilakukan
menyimpulkan bahwa isi dari video games berpengaruh secara nyata terhadap
dilakukannya tindak kekerasan (64% berisi kekerasan yang disengaja dan 60%
merusak karakter pemainnya) (Wals dan Gentile 1996).
4. Internet
Internet memiliki potensi untuk menyediakan anak-anak dan remaja akses
pada
informasi
yang
berhubungan
dengan
pendidikan
dan
dapat
diperbandingkan dengan perpustakaan rumah yang besar. Bagaimanapun
terdapat kesenjangan standar editorial pada kredibilitas internet sebagai
sumber informasi.
Jumlah waktu yang dihabiskan untuk melihat televisi dan duduk didepan
komputer dapat mempengaruhi perkembangan postur tubuh anak (Salter
1983).
Jumlah waktu
yang
berlebihan pada penggunaan komputer
memberikan kontribusi pada terjadinya kegemukan, tidak berkembangnya
keterampilan social dan membentuk perilaku ketagihan (Canadian Pediatric
Society 2003). Walaupun jarang, namun beberapa anak lebih mudah terkena
serangan sakit mata akibat sinar dari layar televisi atau komputer.
63
Pengaruh lain internet pada remaja adalah daya pikat untuk masuk kedalam
suatu hubungan. Terdapat potensi pada anak-anak untuk terexpose pada materi
pornografi. Para orang tua dapat menggunakan teknologi yang menghalangi
akses pada pornografi dan pembicaraan tentang sex di internet, akan tetapi
harus menyadari bahwa teknologi ini tidak dapat mengalihkan pada
pengawasan dan bimbingannya.
Pengaruh Media pada Perkembangan Psikososial Remaja
Studi tentang pengaruh media terhadap perkembangan psikososial remaja
telah banyak dilakukan. Bukti menunjukkan bahwa media dapat mempengaruhi
munculnya perilaku kekerasan, penyalahgunaan obat-obatan, gangguan makan,
sampai pada menurunnya prestasi remaja di sekolah:
1. Kekerasan Televisi dan Perilaku Agresif
Lebih dari 1000 studi dan laporan yang telah dibuat untuk menunjukkan fakta
bahwa
terlalu
banyak
individu
terexpose
pada
kekerasan
televisi
meningkatkan perilaku agresif, khususnya pada laki-laki (Comstock dan
Strasburger 1990; Dietz dan Strasburger 1991; Huston, et al. 1992). Rata-rata
anak melihat 12 000 tindakan kekerasan di televisi setiap tahunnya, termasuk
pembunuhan dan perkosaan. Pembunuhan dan bunuh diri merupakan
penyebab kedua dan ketiga pada kematian di antara remaja, dan kontribusi
senjata sangat nyata pada keduanya. Beberapa studi tentang bunuh diri yang
dipublikasikan di televisi atau surat kabar berpengaruh terhadap peningkatan
resiko bunuh diri pada remaja (Gould dan Davidson 1988). Walaupun
mekanisme pengaruh ini tidak diketahui, namun modeling kemungkinan besar
memiliki peranan yang nyata.
2. Komersialisme dan Konsumerisme
Televisi Amerika merupakan media iklan eksploitatif paling komersial di
dunia Barat. Pabrik-pabrik mainan membuat perkiraan sebesar $40 juta
pertahun untuk memasarkan produknya pada anak-anak yang secara
psikologis tidak memahami tujuan komersial dan percaya bahwa tuntutannya
nyata (Dietz dan Strasburger 1991). Di lain fihak, remaja memiliki
kemampuan untuk memahami hakekat memperdaya dari iklan yang komersial,
64
dan mereka merupakan pasar potensial bagi pabrik-pabrik dan menghasilkan
sebesar $71 milyar pertahun (Wall Street Journal 1990).
3. Prestasi Akademik di Sekolah
Studi-studi yang dilakukan sebelumnya telah gagal mengendalikan IQ dan
status sosial ekonomi sebagai peubah yang mempengaruhi penampilan
akademik di sekolah. Pada studi yang dilakukan akhir-akhir ini terbukti secara
signifikan pengaruh menonton televisi lebih dari 1-2 jam perhari pada
penampilan akademik, khususnya pada nilai membaca (Strasburger, 1990).
4. Stereotype
Bagi remaja yang mencoba menempatkan dirinya dalam dunia dewasa, dunia
televisi dipenuhi oleh para dokter, pengacara dan polisi memberi kesan yang
keliru bahwa hanya para profesional yang memiliki nilai dalam dunia dewasa
(Strasburger 1990). Laporan tahun 1988 menemukan bukti bahwa remaja putri
memiliki stereotype sebagai individu yang terobsesi dengan berbelanja dan
remaja putra tidak memiliki kemampuan untuk membicarakan secara serius
tujuan akademik atau karir, dan mereka menganggap bahwa penampilan lebih
penting daripada kecerdasannya (Steenland 1988).
5. Prosocial Television
Televisi dapat menjadi guru prososial yang kuat bagi anak dan remaja.
Beberapa tayangan dapat memberikan pelajaran yang bernilai yang
berhubungan dengan keharmonisan antar ras, kerjasama dan kebaikan
sesederhana belajar matematika dan mengenal huruf. Beberapa program
televisi memberikan contoh kinjungan ke kebun binatang, perpustakaan, toko
buku, musium dan aktivitas rekreasional lainnya (Huston, et al. 1992). Untuk
anak remaja, beberapa tayangan mengajarkan kepekaan akan berbagai isu
seperti perceraian, kehamilan pada usia dini, penggunaan obat-obatan,
alkoholisme, AIDS dan bunuh diri.
6. Kegemukan (Obesity)
Studi yang dilakukan akhir-akhir ini menunjukkan bukti bahwa menonton
televisi dalam frekuensi yang tinggi merupakan salah satu penyebab obesitas
pada anak dan remaja (Dietz dan Strausburger 1991). Hal ini terjadi
kemungkinan karena menonton televisi adalah aktivitas yang pasif, karena
65
banyak produk yang tidak menunjang kesehatan diiklankan, seperti misalkan
cereal yang mengandung banyak gula, atau karena orang cenderung
mengkonsumsi makanan ringan sambil menonton televisi. Gambaran tidak
sehat tentang tipe tubuh tertentu (misalkan orang yang gemuk) dan seringnya
menggambarkan makanan sebagai suatu asupan mungkin juga memberikan
kontribusi pada prevalensi gangguan makan (Dietz dan Srasburger 1991;
Kaufman 1980).
7. Sex dan Seksualitas
Dengan tidak adanya pendidikan sex yang efektif di rumah dan sekolah,
menyebabkan televisi menjadi penuntun pendidikan sex di Amerika pada saat
ini. Sex digunakan untuk menjual segala sesuatu dari mulai shampoo sampai
mobil, namun demikian saat ini iklan tentang pengendalian kelahiran tetap
tabu dalam jaringan televisi nasional. Sementara di kota Bandung didapat
bukti bahwa lebih banyak remaja yang mengenal seks dari media massa
daripada orang tua atau sekolah dan di sisi lain aborsi di kalangan remaja
cukup tinggi (Hanirono 2001).
8. Rokok dan Alkohol
Antara 1000 sampai 2000 per tahun remaja di Amerika minum bir dan
beberapa
pesan secara
implisit
menyuarakan
bahwa
meminum
bir
menyenangkan, dan orang yang meminumnya akan lebih senang dan seksi,
serta laki-laki ”sejati” meminum bir. Pabrik bir dan wine menghabiskan
sebesar $900 juta pertahun untuk iklan, dan konsumsi perkapita naik 50 persen
di Amerika Serikat sejak tahun 1960. Dari fakta ini, pabrik-pabrik mengklaim
bahwa mereka mencoba untuk mempengaruhi seleksi merk. Jelasnya, iklan
meningkatkan konsumsi (Strasburger 1990).
Persepsi
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa melakukan komunikasi
dengan orang lain yang meliputi penerimaan informasi, mengolah informasi,
menyimpannya dalam memori dan menghasilkan kembali informasi. Proses
pengolahan informasi terjadi salah satunya melalui persepsi, individu memberi
makna pada sensasi sehingga memperoleh pengetahuan baru. Dengan kata lain,
66
persepsi mengubah sensasi menjadi informasi. Menurut Desiderato (Rakhmat
1992), persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa, atau hubunganhubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan
pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli)
yang tidak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, harapan, motivasi dan
memori. Konsep persepsi tidak dapat dilepaskan dari alat indera cara individu
melihat, mendengar, merasakan dan mencium suatu objek. Masing-masing
individu memiliki perbedaan dalam mempersepsikan sesuatu. King dan Robinson
(Isbandi 1994) meyatakan bahwa persepsi menunjuk pada cara kita melihat,
mendengar, merasakan, mengecap dan mencium dunia sekitar kita. Hal ini
menjelaskan bahwa persepsi sama halnya dengan sensasi yang terbentuk karena
adanya input sensorik yang berasal dari daya kerja seluruh indera manusia yang
kemudian diproses oleh otak.
Hammer dan Organ (Indrawijaya 1986) menyatakan bahwa persepsi
adalah suatu proses seseorang mengorganisasikan dalam pikirannya, menafsirkan,
mengalami dan mengolah pertanda atau segala sesuatu yang terjadi di
lingkungannya. Segala sesuatu yang mempengaruhi persepsi seseorang nantinya
akan mempengaruhi pula perilaku yang akan dipilihnya. Pengertian ini secara
tidak langsung mensiratkan unsur yang melekat pada persepsi, yaitu adanya
proses kognisi, belajar dan proses pemecahan persoalan atau proses pemilihan
perilaku yang diperoleh dari lingkungannya. Persepsi terbentuk atas dasar
informasi atau data yang diperoleh dari lingkungannya yang diserap oleh indera
manusia serta sebagian dari pengolahan ingatan, yaitu berdasarkan pengalaman
yang dimiliki oleh manusia sehingga terjadi proses psikologis yang menyebabkan
manusia sadar akan sesuatu yang dilihatnya, didengarnya dan hal-hal yang telah
dialaminya tersebut akan diwujudkan dalam perilakunya.
Aspek-aspek Persepsi
Persepsi dapat bersifat subjektif dan selektif, dan secara fungsional
mengandung beberapa tahapan. Persepsi pun akan tergantung pada ruang dan
waktu, yakni pemaknaan yang dilakukan seseorang terhadap suatu obyek tertentu
akan dipengaruhi oleh ruang dan waktu pada saat obyek tersebut dimaknakan.
67
Menurut Berlyne (Wirawan 1995), persepsi memiliki beberapa aspek, yaitu: (a)
hal-hal yang diamati dari sebuah rangsang bervariasi tergantung pada pola dari
keseluruhan yakni rangsang tersebut menjadi bagiannya, (b) persepsi bervariasi
dari orang ke orang dan dari waktu ke waktu, (c) persepsi bervariasi tergantung
dari arah (fokus) alat-alat indera, dan (d) persepsi cenderung berkembang ke arah
tertentu dan sekali terbentuk kecenderungan itu dapat menetap.
Menurut Devito (Maulana 1997), bahwa persepsi memiliki aspek-aspek :
(a) pengetahuan yang diperoleh dari pikiran individu sebagai suatu keterlibatan
ingatan dan situasi ingatan dari pikiran tentang obyek, (b) pemahaman yang di
dalamnya mengandung unsur obyek dan perilaku atau respon yang mewakili suatu
pengertian dari pesan dalam suatu komunitas, (c) penilaian seseorang individu
terhadap suatu obyek, dan (d) pendapat sebagai hasil kesimpulan dari proses
perseptual tentang suatu obyek.
Proses terjadinya Persepsi
Persepsi merupakan suatu proses yang diawali dengan penginderaan, yaitu
merupakan proses yang berwujud diterimanya stimulus oleh individu melalui alat
reseptornya yang diteruskan melalui pengolahan ingatan dan terjadi proses
psikologis sehingga individu tersebut mengalami persepsi. Dengan kata lain
persepsi terjadi melalui tahap-tahap yang setiap tahapnya dibedakan. Menurut
Litterer (Asngari 1984), mekanisme pembentukan persepsi seseorang terjadi
melalui tiga tahap, yaitu: (1) selectivity, (2) closure, dan (3) interpretation.
Pembentukan persepsi diawali dengan didapatnya informasi oleh seseorang
kemudian orang tersebut membentuk persepsi melalui pemilihan atau penyaringan
informasi dan selanjutnya informasi tersebut disusun menjadi satu kesatuan yang
memiliki makna dan pada akhirnya dilakukan interpretasi terhadap fakta yang
diperoleh dari keseluruhan informasi. Pada tahap interpretasi terhadap informasi
yang diperoleh oleh seseorang, pengalaman masa lalu menjadi satu hal yang
sangat penting dan memiliki peranan yang besar. Informasi yang sampai kepada
seseorang akan menjadi stimulus yang selanjutnya diteruskan ke otak oleh syaraf
sensoris sehingga seseorang akan memahami dan menyadari akan stimulus dan
68
pada akhirnya melakukan tindakan sesuai dengan hasil pemahamannya terhadap
stimulus tersebut.
Faktor-faktor yang Menentukan Persepsi
Menurut Krech dan Crutchfield (Rakhmat 1992), persepsi ditentukan oleh
faktor personal (fungsional) dan faktor situasional (struktural). Faktor fungsional
berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain yang termasuk
sebagai faktor-faktor personal (karakteristik orang yang memberikan respons pada
stimuli tertentu). Faktor struktural berasal dari sifat stimuli fisik dan efek-efek
syaraf yang ditimbulkannya pada sistem syaraf individu.
Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi persepsi menurut Anderson
(Rakhmat 1992), yaitu:
1. Perhatian
Perhatian adalah suatu proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli
menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah.
Perhatian dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor internal :
a. Faktor Eksternal, berupa:
1) Gerakan. Manusia secara visual tertarik pada obyek-obyek yang
bergerak
2) Intensitas stimuli. Manusia akan memperhatikan stimuli yang lebih
menonjol dari stimuli yang lain.
3) Kebaruan. Hal-hal yang baru, yang luar biasa, yang berbeda akan
menarik perhatian.
4) Pengulangan. Hal-hal yang disajikan berkali-kali disertai dengan
sedikit variasi akan menarik perhatian.
b. Faktor Internal, berupa:
1) Faktor biologis, yaitu suatu kecenderungan seseorang menaruh
perhatian pada hal-hal tertentu sesuai dengan tuntutan kebutuhan
dalam dirinya.
2) Faktor
Sosiopsikologis,
yaitu
kemampuan
seseorang
menaruh
perhatian pada berbagai stimuli secara serentak. Semakin besar
69
keragaman stimuli yang mendapat perhatian, maka semakin berkurang
ketajaman persepsi seseorang pada stimuli tertentu.
3) Motif Sosiogenis, yaitu kebiasaan dan kemauan seseorang yang dapat
mempengaruhi apa yang diperhatikan.
2. Faktor Fungsional
Faktor Fungsional berasal dari kebutuhan seseorang dimana pengalaman masa
lalu dan hal-hal lain yang termasuk apa yang disebut sebagai faktor personal.
Persepsi ditentukan bukan oleh jenis atau bentuk stimuli, akan tetapi oleh
karakteristik orang yang memberikan respon pada stimuli.
3. Faktor Struktural
Faktor struktural semata-mata berasal dari sifat stimuli fisik dan efek-efek
saraf yang ditimbulkan pada saraf individu. Untuk memahami seseorang, kita
harus melihat konteksnya, dalam macam lingkungan serta dalam masalah
yang dihadapinya.
Pengukuran dan Instrumen Penelitian
Pegukuran kuantitatif didefinisikan sebagai pekerjaan pemberian nilainilai dalam bentuk numerik terhadap konstrak-konstrak.Pengukuran kuantitatif
dalam penelitian keluarga memerlukan instrumen atau alat ukur teutama untuk
mengukur hubungan antar anggota keluarga seperti hubungan antara ibu dan anak.
Menurut Steinglass (Boss, et al. 1993), bahwa relasi (hubungan) didefinisikan
sebagai keterlibatan lebih dari satu individu dan mempunyai karakteristik sifatsifat keseluruhan, mempola berdasarkan waktu dan mempola unit-unit menurut
tempat. Apabila hubungan-hubungan keluarga dipertimbangkan, maka spesifikasi
waktu masa lalu, masa depan dan penerapan norma-norma kemasyarakatan dalam
hubungan-hubungan tersebut merupakan aspek-aspek tambahan dfinisi tersebut.
Melalui sejarah penelitian keluarga, para spesialis pengukuran mengkritik
kualitas pengukuran kuantitatif keluarga atas dasar tidak tepatnya konsep-konsep
kerja dan tidak memadainya bukti-bukti reliabilitas dan validitasnya. Secara
umum
perkembangan
pengukuran
tidak
berjalan
dengan
tertib,
tidak
menggunakan bukti reliabilitas dan validitas internal dan eksternal, norma-norma
serta prosedur administratif. Oleh karena itu semakin banyak peneliti yang
70
memasukkan lebih dari satu domain keluarga (hubungan orang tua - anak,
perkawinan, keluarga sebagai suatu unit). Kritikan-kritikan serius muncul
berkenaan dengan penggunaan sumber ganda sebab kesepakatan antar anggota
keluarga lebih rendah dibanding standar yang diterima oleh antar penilai. Selain
itu, kesepakatan antar pengukuran dari dalam dan dari luar terhadap konstrak
keluarga tidak memenuhi standar validitas konstrak yang memadai.
Kontras yang tajam bahwa dalam pengukuran perkawinan adalah bahwa
sebelumnya para peneliti cenderung menggunakan pengukuran observasional.
Menurut Bales (Boss, et al. 1993), saat ini para peneliti mengembangkan sistem
coding yang diaplikasikan pada interaksi verbal tritunggal, yaitu ayah, ibu dan
anak remaja karena pengaruh perspektif sistem keluarga dan pekerjaan. Asumsi
yang digunakan oleh peneliti yang berorientasi pada sistem keluarga adalah
bahwa suatu sistem melibatkan interaksi yang berlangsung terus menerus di
kalangan anggota keluarga dan bahwa anggota keluarga tidak dapat melaporkan
interaksi mereka sendiri.
Masalah penggunaan pengukuran observasional untuk membedakan antara
keluarga yang sedang mengalami kesusahan dan yang tidak mengalami kesusahan
didokumentasikan oleh Jacob (Boss, et al. 1993), yaitu: (1) kurang validitas muka,
(2) tidak mampu mengkonseptualisasikan dan menganalisis data secara efektif
dari lebih tiga orang yang berinteraksi pada suatu waktu (meskipun dengan
videotape atau komputer yang canggih), (3) tidak mampu menangani sejumlah
orang berbeda yang berorientasi pada waktu yang berbeda, dan (4) kurang dapat
diaplikasikan secara klinis - tidak ada sistem coding pada keluarga tunggal yang
diterima secara luas.
Dalam bidang hubungan antara orang tua-anak, instrumen self-report oleh
Block telah dilengkapi dengan pengukuran-pengukuran observasional interaksi
orang tua-anak. Dalam psikologi perkembangan dan klinis, pengukuranpengukuran orang tua-anak sering mengacu pada pengukuran interaksi keluarga.
Pengukuran-pengukuran
observasional
lain
merupakan
tugas
untuk
mengkonseptualisasikan pengasuhan sebagai interaksi dua arah, yang banyak
dipengaruhi oleh orang tua (biasanya ibu) dan anak.
71
Asumsi-asumsi Dasar
Ada sembilan asumsi dasar pengukuran kuantitatif dengan menggunakan
validitas konstrak logis sebagai kerangka kerjanya. Asumsi-asumsi tersebut
adalah:
1. Konstrak-konstrak kunci keluarga dapat dikuantifikasikan. Konstrak-konstrak
yang relevan dengan studi keluarga dapat dikuantifikasi dengan cara yang
dapat menghasilkan informasi bermakna. Asumsinya adalah bahwa dalam
memperoleh informasi yang diperlukan (bertanya, observasi) tidak mengubah
objek studi sehingga maknanya rusak dan informasi yang diperoleh dapat
diurutkan menurut garis kontinum angka yang diperlukan.
2.
Teori dan pengukuran berhubungan. Teori dan pengukuran tidak dapat
dihindarkan berhubungan dan mempunyai pengaruh langsung dalam : (a)
memilih
konsep-konsep,
(b)
mendefinisikan
konsep-konsep,
(c)
menginterpretasikan analisis statistika menggunakan pengukuran. Menurut
Grotevant (Boss, et al. 1993) tidak ada pengukuran yang benar-benar tidak
menggunakan
teori.
Konstruk
dibangun
dan
didefinisikan
dengan
menggunakan teori kritis yang menentukan operasi pengukuran.
3.
Pengukuran-pengukuran keluarga adalah dapat diandalkan. Untuk benarbenar dapat
diandalkan, pengukuran-pengukuran kuantitatif terhadap
keluarga harus stabil menurut waktu (test-retest), menurut item (konsistensi
secara internal) dan menurut pengamat (kesepakatan penghitung). Konvensi
dalam pengukuran kuantitatif melaporkan dugaan konsistensi internal
pengukuran untuk self-report dan tingkat kesepakatan antar penghitung untuk
pengukuran observasional.
4.
Pengukuran mempunyai validitas muka yang memadai. Pada umumnya
pengukuran-pengukuran observasional lebih diterima dengan memiliki buktibukti validitas muka sebab lebih sedikit kesimpulan yang akan dibuat.
5.
Pengukuran-pengukuran keluarga mempunyai validitas diskriminan yang
memadai. Satu cara untuk mem-frame isu validitas diskriminan adalah
dengan menggunakan asumsi tentang relasi, yaitu bahwa keseluruhan lebih
besar daripada jumlah bagian-bagian. Dengan kata lain, pengukuranpengukuran keluarga menangkap sesuatu yang unik tentang relasi-relasi
72
dalam keluarga. Korelasi antara pengukuran self-report terhadap konstrak
keluarga, seperti kohesi dan konstrak individual, depresi, secara konsisten
tinggi.
6.
Pengukuran-pengukuran keluarga memiliki validitas convergen yang
memadai. Isu validitas konvergen secara umum ditujukan pada apakah
pengukuran terhadap konstrak bertemu dalam lintas metoda, terutama antara
self-report dan observasional.
7.
Aspek-aspek penting dalam kehidupan keluarga telah diukur. Adalah sulit
untuk menangkap kompleksitas kehidupan keluarga melalui pengukuran
kuantitatif. Selain itu, peristiwa-peristiwa kunci tertentu terjadi hanya bersifat
sporadis dan yang lainnya sangat pribadi, sehingga mempengaruhi upaya
pengukuran.
8.
Pengukuran-pengukuran keluarga memiliki validitas kriteria yang memadai.
Secara umum, validitas kriteria pengukuran evaluatif terhadap perkawinan
telah diterbitkan dalam penelitian tentang transisi perkawinan. Demikian pula
dalam penelitian membandingkan sampel klinis dan nonklinis.
9.
Pengukuran-pengukuran keluarga menangkap perbedaan-perbedaan lintas
kelompok. Kemampuan menggeneralisasikan pengukuran keluarga lintas
gender, siklus hidup keluarga, tipe keluarga, ras, dan kelompok etnik tidak
diterbitkan dengan baik dan tidak sering menjadi subjek penyelidikan.
Integrasi antara Teori, Pengukuran dan Analisis Data
Untuk memberikan gambaran tentang masalah-masalah umum yang perlu
dipenuhi dalam melakukan riset keluarga dan menyediakan petunjuk konstruktif
yang dapat dipercaya untuk memecahkan berbagai masalah yang berkaitan dengan
riset keluarga tersebut, Schumm menggambarkan tentang integrasi diantara teori,
pengukuran dan analisis data pada Gambar 2.
73
Aplikasi
5
3
Teori Keluarga
Analisis Data
4
1
Pengukuran
2
Gambar 2 Integrasi dan Siklus Penelitian keluarga
Kaitan Teori - Pengukuran
Petunjuk yang tersedia mengenai hubungan antara teori dan pengukuran
dalam studi keluarga masih terbatas, oleh karena itu orang yang melakukan
pengujian masih terus melakukan pemisahan antara aktivitas pengukuran dan
penyusunan teori, misalkan memikirkan hanya pada model dan proposisi teori
keluarga dan pada pengukuran reliabilitas dan validitas keluarga. Bagaimanapun,
reliabilitas dan validitas tidak terlepas kaitannya dengan teori dalam ilmu sosial.
Masalah umum kaitan antara teori - pengukuran menyangkut: (a) instrumen survei
yang menggunakan theoritical rationale (ada konsep) dan menggunakan cara
yang tidak sesuai dengan original conceptualization, (b) penulis memberi label
pengukuranya dengan sebutan theoritical concept, tapi instrumen terkesan seperti
mengukur konsep lain, (c) dalam banyak kasus, item skala tidak menjelaskan
suatu konstrak fakta secara konsisten yang diukur dengan skala, yang dicontohkan
dalam Marital Satisfaction Inventory, dan (d) pemahaman bagaimana responden
mengkonseptualisasikan peubah. Pemakaian teori dan konseptual yang baik
penting ditetapkan sebelum membuat instrumen pengukuran. Statistik diperlukan
untuk menyederhanakan data dan analisis item, dan harus hati-hati untuk tidak
74
melakukan kesalahan menyatakan kebenaran teori keluarga begitu saja selama
mengukur proses penyusunan self-report.
Kaitan Pengukuran - Analisis Statistik
Jika satu pengukuran tunggal gagal, maka akibatnya satu analisis tidak
dapat diinterpretasikan secara bermakna. Oleh karena itu kaitan ini sebenarnya
sesuatu yang lebih kompleks dibanding hanya sekedar mengetahui perbedaannya
saja. Beberapa hal yang berkaitan dengan pengukuran dan analisis statistik adalah:
(a) pengukuran peubah menjadi batas seberapa besar korelasi populasi yang akan
dideteksi, (b) tingkat pengukuran peubah (nominal, ordinal, rasio, interval)
berpengaruh terhadap ketepatan analisis statistik yang akan digunakan, (c)
penggunaan uji kurva linier, dan (d) penggunaan skala item berganda untuk
menduga peubah lain.
Kaitan Analisis Statistik - Teori
Dalam membangun teori dan analisis, penting diingat bahwa statistik
hanya ringkasan nilai-nilai yang hanya menyajikan beberapa aspek data yang
kompleks. Jadi bukan hanya statistik semata yang dapat mengungkap data. Hal
lain yang tidak boleh diabaikan adalah penentuan hubungan antara ukuran sampel,
power statistik, tingkat kepercayaan dan besar koefisien korelasi. Perhatian
lainnya adalah interpretasi koefisien korelasi dan koefisien regresi dengan
menggunakan peubah yang besar dan/atau subjek yang sedikit jumlahnya.
Kaitan Teori - Pengukuran - Analisis Statistik
Beberapa aspek pada proses pngintegrasian penelitian keluarga tidak dapat
dibatasi hanya pada dua area kaitan saja, karena dalam kebanyakan kasus
diperlukan suatu proses menyeluruh antara teori, pengukuran dan analisis statistik.
Hal lainnya adalah kegagalan yang sering dialami peneliti dalam menemukan
korelasi yang nyata antara self-report dan pengukuran yang diamati dalam
interaksi perkawinan atau keluarga. Banyak yang menyalahkan karena lemahnya
korelasi atas satu atau dua tipe pengukuran, tetapi inti permasalahan sebenarnya
75
adalah alasan teoritikal, sedangkan masalah terakhr adalah tipologi yang saat ini
semakin meningkat penggunaannya untuk pembuatan skor pasangan dan keluarga.
Kaitan Teori - Aplikasi
Siklus teori - pengukuran - analisis tidak dapat dicapai efektif jika terpisah
dari kebutuhan aplikasi para ahli keluarga. Seorang ahli teori memerlukan
konstruksi teori untuk mengelompokkan sifat hubungan yang pasti antara peubahpeubah
dan
memperhitungkan
kemungkinan
faktor
kontingensi
yang
hubungannya tidak diketahui dalam populasi yang tidak terinci. Artinya, relevansi
preposisi teori untuk kelompok yang berbeda perlu didasarkan pada ketentuan
jenis kelamin, usia, suku/bangsa, siklus kehidupan keluarga atau agama. Selain
itu, para praktisi harus sadar akan bahaya meluasnya hasil penelitian dari satu
kelompok diaplikasikan kepada kelompok lainnya yang berbeda.
Jenis Skala Pengukuran
Menurut Sugiyono (2008), skala pengukuran merupakan kesepakatan yang
digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada
dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran
akan menghasilkan data kuantitatif. Dengan skala pengukura, maka nilai peubah
yang diukur dengan instrumen tertentu dapat dinyatakan dalam bentuk angka,
sehingga akan lebih akrat, efisien dan komunikatif. Skala pengukuran dapat
berupa: skala nominal, skala ordinal, skala nterval dan skala rasio yang akan
menghasilakn data nominal, data ordinal, data interval dan data rasio.
Cara Menyusun Instrumen
Titik tolak penyusunan instumen adalah peubah-peubah penelitian yang
ditetapkan untuk diteliti. Dari peubah-peubah kemudian diberikan definisi
operasionalnya dan selanjutnya ditentukan indikator yang akan diukur. Dari
indikator kemudian dijabarkan menjadi butir-butir pernyataan atau pertanyaan.
Utuk
mempermudah
penyusunan
instrumen,
maka
pengembangan instrumen” atau ”kisi-kisi instrumen”.
diperlukan
”matrik
76
Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Setelah instrumen disusun, maka langkah selanjutnya adalah menguji
bagaimana tingkat validitas dan reliabilitas dari alat ukur atau instrumen yang
telah disusun.
1. Validitas
Validitas mempersoalkan apakah kita benar-benar mengukur apa yang kita
pikirkan sedang kita ukur?. Misalkan meteran yang valid dapat digunakan
untuk mengukur panjang dengan teliti, kaena meteran adalah alat untuk
mengukur panjang dan meteran menjadi tidak valid jika digunakan untuk
mengukur berat.
Langkah kerja untuk mengukur validitas instrumen adalah sebagai berikut:
1) Mengumpulkan data dari hasil uji coba
2) Memeriksa kelengkapan data untuk memastikan lengkap tidaknya
lembaran data yang terkumpul, termasuk di dalamnya memeriksa
kelengkapan pengisian item angket.
3) Memberikan skor terhadap item-item yang perlu diberi skor
4) Membuat tabel pembantu untuk menempatkan skor-skor pada item yang
diperoleh untuk setiap respondennya untuk mempermudah penghitungan
atau pengolahan data selanjutnya.
5) Menghitung jumlah skor item yang diperoleh dari masing-masing
responden
6) Menghitung nilai koefisien korelasi product moment untuk setiap item
angket dari data observasi yang diperoleh
7) Membandingkan nilai koefisien korelsi product moment hasil perhitungan
dengan nilai koefisien korelasi product moment yang terdapat dalam tabel
8) Membuat kesimpulan.
2. Reliabilitas
Suatu instrumen pengukuran dikatakan reliabel jika pengukurannya konsisten
dan akurat. Uji reliabilitas instrumen dilakukan dengan tujuan untuk
77
mengetahui konsistensi instrumen sebagai alat ukur, sehingga hasil suatu
pengukuran dapat dipercaya. Hasil pengukuran dapat dipercaya apabila dalam
beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama
diperoleh hasil yang relatif sama, selama aspek yang diukur dalam diri subyek
memang belum berubah.
Langkah kerja untuk mengukur reliabilitas instrumen adalah sebagai berikut:
1) Memberikan skor terhadap instrumen yang telah diisi oleh masing-mmsing
responden
2) Membuat tabel pembantu untuk menempatkan skor-skor item yang
diperoleh
3) Menghitung jumlah skor item yang diperoleh oleh masing-masing
responden
4) Menghitung kuadrat jumlah skor item yang diperoleh dari masing-masing
responden
5) Menghitung keragaman masing-masing item
6) Menghitung varians total
7) Menghitung nilai koefisien alfa
8) Membandingkan nilai koefisien alfa dengan nilai koefisien korelasi
product moment yang terdapat dalam Tabel
9) Membuat kesimpulan.
RINGKASAN
UKE HANI RASALWATI. Ekologi Pengasuhan Anak : Persepsi Remaja
terhadap Gaya Pengasuhan, Paparan Media dan Perkembangan Psikososial
Remaja di Kota Bandung. Di bawah bimbingan: EUIS SUNARTI, UJANG
SUMARWAN, DJOKO SUSANTO, PANG S. ASNGARI dan DIAH
KRISNATUTI.
Remaja sebagai individu merupakan sumberdaya manusia yang memiliki
potensi untuk berkembang dan menjadi aktor dalam pembangunan di masa depan.
Oleh karena itu, remaja merupakan periode penting dalam perkembangan individu
karena pada masa ini mereka mengalami perubahan yang mendasar dalam
pubertas, kemampuan berpikir yang lebih tinggi dan transisi kepada peran-peran
baru di dalam masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengidentifikasi karakteristik individu
remaja, karakteristik keluarga, karakteristik sekolah dan peer group, 2)
menganalisis paparan media, persepsi terhadap gaya pengasuhan dan
perkembangan psikososial remaja menurut perbedaan karakteristik remaja,
karakteristik keluarga, dan karakteristik sekolah, 3) mengkaji pengaruh
karakteristik individu remaja, karakteristik keluarga, karakteristik sekolah dan
peer group terhadap gaya pengasuhan orang tua yang dipersepsi oleh remaja, 4)
mengkaji pengaruh karakteristik individu remaja, karakteristik keluarga,
karakteristik sekolah dan peer group terhadap paparan media dan 5) mengkaji
pengaruh karakteristik individu remaja, karakteristik keluarga, karakteristik
sekolah, peer group, persepsi remaja terhadap gaya pengasuhan dan paparan
media terhadap perkembangan psikososial remaja.
Penelitian ini dilakukan di empat sekolah tingkat menengah atas, yaitu
SMA Negeri, SMA Swasta, SM Kejuruan dan Madrasah Aliyah (MA) yang
berada di wilayah Kota Bandung dan contoh diambil sebanyak 352 siswa yang
berasal dari seluruh kelas secara proporsional. Pengumpulan data dilakukan pada
bulan Agustus 2009 sampai bulan Mei 2010. Data dianalisis dengan
menggunakan analisis deskriptif, uji-t, Regresi dan Analisis Jalur (Path Analysis).
Hasil penelitian menunjukkan : terdapat perbedaan yang nyata antara
kelompok usia contoh (p<0.05) dalam mempersepsi gaya pengasuhan dimensi
kehangatan akan tetapi tidak terdapat perbedaan yang nyata (p>0.05) dalam
mempersepsi gaya pengasuhan dimensi emosional dan dimensi pengarahan. Gaya
pengasuhan yang dipersepsi oleh remaja dipengaruhi secara nyata oleh usia
remaja dan pendidikan ayah (R2=0.248; Sig= 0.000). Usia remaja dan pendidikan
ayah berpengaruh nyata terhadap gaya pengasuhan yang dilakukan oleh orang
tuanya. Persepsi ditentukan oleh pengalaman dan pemahaman individu tentang
sesuatu fenomena. Remaja memiliki persepsi positif dikarenakan interaksi dalam
bentuk pengasuhan yang diberikan oleh orang tuanya dapat diterima dan sesuai
dengan yang diharapkan oleh mereka. Pendidikan ayah berpengaruh terhadap
gaya pengasuhan mengandung arti bahwa semakin tinggi pendidikan ayah maka
persepsi anak terhadap gaya pengasuhan yang dilakukan akan semakin baik.
Pendidikan yang dicapai ayah membentuk pola, cara dan pemahaman terhadap
sesuatu yang terjadi di dalam keluarga.
Uji korelasi menunjukkan hubungan yang nyata antara usia dengan
paparan media (r=0.359; p<0.01) yang mengandung arti bahwa semakin tinggi
usia contoh maka akan semakin tinggi terpapar pada media massa. Paparan media
dipengaruhi secara nyata oleh usia contoh (R2=0.179; Sig= 0.000). Mayoritas
contoh yang terpapar pada media massa adalah kelompok usia remaja pertengahan
(15 sampai 17 tahun). Kelompok usia remaja pertengahan merupakan jumlah
terbesar terpapar pada media. Hal ini menunjukkan bahwa remaja dalam
kesehariannya menganggap media sebagai suatu kebutuhan yang harus selalu
diakses untuk dijadikan sumber informasi yang dapat digunakan sebagai jawaban
akan keingintahuan mereka tentang berbagai hal yang ada di sekitarnya
Terdapat perbedaan yang nyata (p<0.05) antara kelompok usia dalam
perkembangan identity, autonomy, intimacy, sexuality dan achievement. Hasil uji
korelasi menunjukkan hubungan yang nyata antara usia dengan perkembangan
identity (r=0.128; p<0.05), perkembangan autonomy (r=0.226; p<0.01),
perkembangan intimacy (r=0.331; p<0.01), perkembangan sexuality (r=0.251;
p<0.01) dan perkembangan achievement (r=0.252; p<0.01). Hal ini mengandung
makna bahwa semakin tinggi usia contoh, maka akan semakin baik perkembangan
identity, outonomy, intimacy, sexuality maupun achievement. Perkembangan
psikososial remaja dipengaruhi secara nyata oleh usia contoh, paparan media dan
gaya pengasuhan (R2=0.346; Sig= 0.000). Usia merupakan faktor penentu pada
individu dalam menentukan tahap perkembangannya. Gaya pengasuhan yang
dilakukan orang tua memberikan suasana hangat dan komunikasi yang efektif di
dalam keluarga mempengaruhi perasaan anak. Anak merasa diterima oleh
keluarga dan berkembang ke arah kehidupan yang lebih sehat dan media yang
menawarkan berbagai macam informasi positif maupun negatif kepada remaja
dapat digunakan sebagai model perilaku.
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka peneliti memberikan saran kepada :
1) orang tua diharapkan menampilkan gaya pengasuhan yang sesuai dengan usia
dan tahap perkembangan anak dan dilakukan dengan komunikasi yang efektif
serta lebih banyak menyediakan waktu luang bagi keluarga; dan para orang tua
agar memantau dan menyeleksi isi pesan yang diakses oleh remaja dari media; 2)
kepada pihak pemerintah yang berkompeten di bidang pendidikan keluarga, agar
lebih banyak menyelenggarakan program yang ditujukan bagi penguatan
keluarga, seperti parenting skill bagi para orang tua dan social skill bagi anak
serta menyelenggarakan lembaga-lembaga konseling yang dekat dengan
masyarakat agar dapat lebih dijangkau oleh keluarga yang memerlukannya dan
mendorong pelaksanaan undang-undang yang mengatur penyiaran; 3) kepada
pihak sekolah agar menganjurkan siswa siswinya memanfaatkan Guru BP sebagai
tempat untuk membicarakan permasalahan yang dialaminya, menyelenggarakan
kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai kebutuhan siswa, menyediakan media
pembelajaran yang memadai dan menyelenggarakan kegiatan social gathering
dengan sekolah lain; dan 4) kepada peneliti lain agar melakukan penelitian
lanjutan yang lebih mendalam di bidang remaja khususnya dalam perkembangan
psikososial remaja.
Download