5 BAB II KAJIAN PUSTAKA Kajian pustaka bermaksud untuk

advertisement
5
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Kajian pustaka bermaksud untuk memahami manajer proyek konstruksi
sebagai top leader dan penentu keputusan dalam sebuah proyek konstruksi.
Dengan fokus perhatian pada kinerjanya terhadap biaya, mutu, dan waktu yang
digunakan pada proyek konstruksi di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung.
Untuk mendapat wawasan akan pengetahuan terhadap kualitas manajer
proyek, maka perlu dilakukan suatu kajian terhadap beberapa penelitian yang
relevan dengan penelitian ini. Beberapa dari penelitian tersebut akan dijadikan
acuan sebagai kajian pustaka bagi penelitian ini.
2.1
Kualitas
Dalam industri manufaktur maupun jasa sering dibicarakan masalah
kualitas oleh produsen maupun konsumen. Tingkat pemahaman masing-masing
terhadap kualitas sangat beragam tergantung latar belakang masing-masing.
Sudut pandang produsen terhadap kualitas adalah kepuasan bagi pelanggan
sedangkan bagi konsumen adalah produk yang dapat memenuhi keinginan dan
harapannya.
Teori dari ISO 8402 quality vocabulary, mengemukakan bahwa kualitas
berarti semua aktivitas dari fungsi manajeman secara keseluruhan yang
menentukan kebijaksanaan kualitas, tujuan-tujuan dan tanggungjawab serta
mengimplementasikannya melalui alat-alat seperti : Perencanaan kualitas,
5
6
pengendalian kualitas, jaminan kualitas, dan peningkatan kualitas. ISO
menegaskan pada standar kualitas yang dikeluarkan melalui ISO 9000 tentang
Implementasi Sistem Manajemen Kualitas kemudian disusul dengan ISO 9001,
9002, 9003 tentang quality management dan ISO 9004 tentang Quality
Management and Quality System Guidelines.
American Heritage Dictionary mendefinisikan kata kualitas sebagai
sebuah karakteristik atau atribut dari sesuatu. Sebagai atribut dari sesuatu,
kualitas mengacu pada karakteristik yang dapat diukur, sesuatu yang dapat kita
bandingkan dengan standar yang sudah diketahui.
Edward Deming, mengemukakan kualitas berarti pemecahan masalah
untuk mencapai penyempurnaan terus menerus. Seluruh komponen yang terlibat
dalam pencapaian kualitas merupakan suatu community yang saling memberi
dukungan (Suardi, 2003) proses ini sering disebut siklus Deming yaitu Plan, Do,
Check, dan Action.
Philip B. Croby mengemukakan kualitas berarti kesesuaian terhadap
persyaratan. Crosby memandang masalah kualitas dengan berbagi 4 langkah
yaitu Conformance, Prevention of Defects, Zero Defect dan Performance
Measurement. Empat langkah yang dikemukakan oleh Philip B. Crosby
merupakan rangkaian Top-Down. Untuk mencapai kualitas yang diharapkan
konsumen, kebutuhan dan keinginan konsumen harus dikenali terlebih dahulu
sebelum melakukan proses produksi, didalam proses harus menghindari
terjadinya kesalahan yang akan meningkatkan biaya dan waktu produksi.
Pencapaian bebas cacat adalah mutlak karena setiap cacat yang terjadi berarti
7
biaya. Dari proses ini memerlukan tolak ukur yang digunakan sebagai pedoman
dan secara terus menerus ukuran kualitas akan meningkat.
Joseph M. Juran mengemukakan kualitas berarti kesesuaian dengan
penggunaan berorientasi pada pemenuhan harapan konsumen. Konsep Juran
mempengaruhi perjalanan kualitas yang dijadikan sebagai tolok ukur pada dunia
industri. Manajemen perusahaan yang sadar dengan kualitas memberikan
pelayanan terbaik akan terus mencari bentuk peningkatan kualitas. Seperti
gambar di bawah ini:
Project Quality
Management
Quality Planning
Quality Control
Quality Improvement
Gambar 2.1. Trilogi Proses
(Sumber : Joseph M. Juran, 1988)
Konsep ini umum digunakan pada industri jasa konstruksi yang memiliki
proses yang unik dan berbeda dengan industri manufaktur. Industri jasa
konstruksi lebih mengutamakan keterampilan tenaga kerja sedangkan manufaktur
melakukan proses yang mengutamakan alat dan mesin dalam mencapai hasil.
Sehingga sering diistilahkan “hand made” karena hampir 70% masih
mengandalkan keterampilan manusia. Teori Juran sangat relevan dengan kondisi
8
pelaksanaan proyek karena menekankan pada tiga unsur penting dan satu dengan
lain saling berkaitan.
PMI (Project Management Institue) mengemukakan dalam Project
Management Body of Knowledge khususnya didalam pelaksanaan pekerjaan
proyek pembangunan berbeda dibandingkan dengan konsep Trilogi Juran yaitu
sudut pandang Quality Improvement dengan Quality Assurance yang dirasa lebih
tepat digunakan pada industri konstruksi sehingga 3 prinsip kunci yang
dikemukakan PMI adalah Quality Planning, Quality Assurance dan Quality
Control.
Mendapatkan standar kinerja mutu yang baik dapat dilakukan dengan
mengadopsi beberapa sistem perencanaan dan pengendalian mutu seperti uraian
berikut ini (Abrar Husen, 2009) :
1. Menerapkan Sistem Manajeman Mutu ISO 9000 dengan menjalankan
prosedur sebagai bagian dari keseluruhan sistem untuk mendapatkan produk
akhir yang sesuai dengan yang direncanakan. Prinsip-prinsip dasar yang
dilakukan adalah membuat dan menulis perencanaan, melaksanakan dan
mengendalikan sesuai dengan rencana serta mencatat apa yang telah
dilakukan.
2. Untuk melengkapi persyaratan sistem mutu diatas sehingga didapat mutu
terbaik terhadap standar produk akhir, dilakukan dengan cara membuat
gambar kerja yang detail dan akurat, lalu membuat spesifikasi umum dan
teknis terhadap pekerjaan dan material yang digunakan.
9
3. Untuk pengendalian selama proyek, jadwal pengiriman material harus tepat
waktu, proses penyimpanan material aman dan terlindung, selain itu
dibuatkan format standar prosedur operasional mengikuti spesifikasi yang
telah ditetapkan dalam penggunaan materialnya
4. Melengkapi pengendalian kinerja mutu dapat dilakukan dengan membuat
prosedur dan instruksi kerja dari total quality control yaitu dengan melakukan
kegiatan perencanaan (plan), pelaksanaan (do), pemeriksaan (check),
tindakan koreksi (corrective action).
2.2
Manajer
Hierarki organisasi selalu memposisikan seseorang untuk memimpinnya.
Hal ini dibutuhkan untuk memberi ruang bagi orang yang lebih mampu untuk
memberi arahan dan petunjuk bagi orang lain. Mereka saling bekerjasama untuk
sebuah tujuan. Pemimpin tersebut sering diistilahkan dengan manajer.
Manajer adalah seseorang yang bekerja melalui orang lain dengan
mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan mereka guna mencapai sasaran organisasi.
Pada organisasi berstruktur tradisional, manajer sering dikelompokan menjadi
manajer puncak, manajer tingkat menengah, dan manajer lini pertama (biasanya
digambarkan dengan bentuk piramida, di mana jumlah karyawan lebih besar di
bagian bawah daripada di puncak).
Manajer dapat diklasifikasikan dalam dua cara yaitu : menurut tingkatnya
dalam organisasi, yaitu manajer lini-pertama, manajer menengah, serta manajer
puncak dan menurut rentang kegiatan organisasi yang ada di bawah tanggung
10
jawabnya, yaitu yang disebut manajer fungsional dan manajer umum (James A.F.
Stoner/ Charles Wankel, 1986)
Gambar 2.2. Piramida Jumlah Karyawan Pada Organisasi Berstruktur Sederhana
(Sumber : James A.F. Stoner/ Charles Wankel, 1986)
Berikut ini adalah tingkatan manajer mulai dari bawah ke atas :
1. Manajemen lini pertama (first-line management), dikenal pula dengan
istilah manajemen operasional, merupakan manajemen tingkatan paling
rendah yang bertugas memimpin dan mengawasi karyawan nonmanajerial yang terlibat dalam proses produksi. Mereka sering disebut
penyelia (supervisor), manajer shift, manajer area, manajer kantor,
manajer departemen, atau mandor (foreman).
11
2. Manajemen tingkat menengah (middle management), mencakup semua
manajemen yang berada diantara manajemen lini pertama dan manajemen
puncak dan bertugas sebagai penghubung antara keduanya. Jabatan yang
termasuk manajer menengah diantaranya kepala bagian, pemimpin
proyek, manajer pabrik, atau manajer divisi.
3. Manajemen puncak (top management), dikenal pula dengan istilah
executive
officer.
Bertugas
merencanakan
kegiatan
dan
strategi
perusahaan secara umum dan mengarahkan jalannya perusahaan. Contoh
top manajemen adalah CEO (Chief Executive Officer), CIO (Chief
Information Officer), dan CFO (Chief Financial Officer).
Meskipun demikian, tidak semua organisasi dapat menyelesaikan
pekerjaannya dengan menggunakan bentuk piramida tradisional ini. Misalnya
pada organisasi yang lebih fleksibel dan sederhana, dengan pekerjaan yang
dilakukan oleh tim karyawan yang selalu berubah, berpindah dari satu proyek ke
proyek lainnya sesuai dengan permintaan pekerjaan.
Manajer Fungsional bertanggungjawab atas hanya satu kegiatan
organisasi, seperti produksi, pemasaran, penjualan, atau keuangan. Orang-orang
dan kegiatan-kegiatan yang dikepalai oleh seorang manajer fungsional
dipersatukan oleh seperangkat kegiatan yang sama.
Manajer umum mengatur sebuah unit yang kompleks, seperti sebuah
perusahaan, anak perusahaan, atau sebuah divisi yang beroperasi mandiri.
12
Manajer umum bertanggungjawab atas semua kegiatan unit tersebut, seperti
produksi, pemasaran, penjualan, dan keuangan.
Henry Mintzberg, seorang ahli riset ilmu manajemen, mengemukakan
bahwa ada beberapa peran yang dimainkan oleh manajer. Ada beberapa peran
yang dikelompokkan ke dalam tiga bagian, yaitu :
1. Peran Antar Pribadi
Merupakan peran yang melibatkan orang dan kewajiban lain, yang bersifat
seremonial dan simbolis. Peran ini meliputi peran sebagai figur untuk anak
buah, pemimpin dan penghubung.
2. Peran Informasional
Meliputi peran manajer sebagai pemantau dan penyebar informasi serta peran
sebagai juru bicara peran pengambilan keputusan. Yang termasuk dalam
kelompok ini adalah peran sebagai seorang wirausahawan, pemecah masalah,
pembagi sumber daya dan perunding.
Mintzberg kemudian menyimpulkan bahwa secara garis besar, aktivitas
yang dilakukan oleh manajer adalah berinteraksi dengan orang lain.
13
Gambar 2.3. Keterampilan Yang Dibutuhkan Manajer Pada Setiap Tingkatannya.
(Sumber : Mintzberg, 2004)
Robert L. Katz pada tahun 1970-an mengemukakan bahwa setiap manajer
membutuhkan minimal tiga keterampilan dasar. Ketiga keterampilan tersebut
adalah :
1. Keterampilan Konseptual (Conceptional Skill)
Manajer tingkat atas (top manager) harus memiliki keterampilan untuk
membuat konsep, ide, dan gagasan demi kemajuan organisasi. Gagasan atau
ide serta konsep tersebut kemudian haruslah dijabarkan menjadi suatu
rencana kegiatan untuk mewujudkan gagasan atau konsepnya itu. Proses
penjabaran ide menjadi suatu rencana kerja yang konkret itu biasanya disebut
sebagai proses perencanaan atau planning. Oleh karena itu, keterampilan
konsepsional juga merupakan keterampilan untuk membuat rencana kerja.
2. Keterampilan Berhubungan dengan Orang Lain (Humanity Skill)
Selain kemampuan konsepsional, manajer juga perlu dilengkapi dengan
keterampilan berkomunikasi atau keterampilan berhubungan dengan orang
lain, yang disebut juga keterampilan kemanusiaan. Komunikasi yang
persuasif harus selalu diciptakan oleh manajer terhadap bawahan yang
dipimpinnya.
Dengan
komunikasi
yang
persuasif
dan
bersahabat.
Keterampilan berkomunikasi diperlukan, baik pada tingkatan manajemen
atas, menengah, maupun bawah.
3. Keterampilan Teknis (Technical Skill)
14
Keterampilan ini pada umumnya merupakan bekal bagi manajer pada tingkat
yang lebih rendah. Keterampilan teknis ini merupakan kemampuan untuk
menjalankan suatu pekerjaan tertentu, misalnya menggunakan program
komputer yang akan dipergunakan dalam keberlangsungan proyek konstruksi.
Selain tiga ketrampilan dasar di atas, Ricky W. Griffin menambahkan dua
keterampilan dasar yang perlu dimiliki manajer, yaitu :
1. Keterampilan Manajemen Waktu
Merupakan keterampilan yang merujuk pada kemampuan seorang manajer
untuk menggunakan waktu yang dimilikinya secara bijaksana. Waktu yang
mereka miliki tetap merupakan aset berharga. Waktu yang sia-sia berarti
membuang-buang uang dan mengurangi produktivitas perusahaan.
2. Keterampilan Membuat Keputusan
Merupakan kemampuan untuk mendefinisikan masalah dan menentukan cara
terbaik dalam memecahkannya. Kemampuan membuat keputusan adalah yang
paling utama bagi seorang manajer, terutama bagi kelompok manajer atas (top
manajer). Griffin mengajukan tiga langkah dalam pembuatan keputusan.
Pertama, seorang manajer harus mendefinisikan masalah dan mencari
berbagai alternatif yang dapat diambil untuk menyelesaikannya. Kedua,
manajer harus mengevaluasi setiap alternatif yang ada dan memilih sebuah
alternatif yang dianggap paling baik. Dan terakhir, manajer harus
mengimplementasikan alternatif yang telah ia pilih serta mengawasi dan
mengevaluasinya agar tetap berada di jalur yang benar.
15
Ketiga ahli tersebut memberikan pandangan yang mirip mengenai
manajer. Pendidikan yang cukup, keahlian yang terampil, pengalaman kerja,
bahkan sikap dan tingkah laku yang baik sangat dibutuhkan oleh seorang manjer.
Berdasarkan atas pandangan beberapa ahli tentang definisi kualitas dan
definisi manajer, maka dalam penelitian ini
penulis mendefinisikan kualitas
manajer adalah seorang yang berada di sebuah organisasi yang dapat :
1. Menentukan keputusan/ kebijaksanaan bagi kelangsungan manajemen.
2. Memecahkan
masalah
untuk
mencapai
penyempurnaan
secara
berkesinambungan.
3. Mengarahkan jalan manajemen agar sesuai dengan persyaratan yang
ditetapkan.
4. Mampu memenuhi harapan konsumen.
2.3
Proyek
Proyek merupakan sebuah aktivitas terbatas yang dilakukan oleh
seseorang untuk suatu tujuan tertentu. Dalam pengertian luas proyek juga
diartikan sebagai wadah bagi suatu komunitas yang memiliki tujuan yang sama.
Ikatan Ahli Manajemen Proyek Indonesia (IAMPI) menyebutkan proyek sebagai
sekumpulan aktivitas yang saling berkaitan secara unik, dengan awal dan akhir
yang jelas, yang dirancang untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Kegiatan proyek dapat diartikan sebagai suatu kegiatan sementara yang
berlangsung dalam jangka waktu yang terbatas, dengan alokasi sumber daya
tertentu dan dimaksudkan untuk melaksanakan tugas. Tugas tersebut dapat
16
berupa membangun pabrik, membuat produk baru atau melakukan penelitian dan
pengembangan.
Berdasarkan pandangan tersebut tampak beberapa ciri khas proyek :
1. Memiliki tujuan yang khusus, produk akhir atau hasil kerja akhir
2. Biaya, jadwal serta kriteria mutu telah ditentukan
3. Bersifat sementara, umurnya dibatasi oleh selesainya tugas. Titik awal dan
akhir ditentukan dengan jelas
4. Tidak rutin dan tidak berulang.
5. Mengalami perubahan-perubahan dalam pelaksanaan
6. Terdiri dari sejumlah manajemen
7. Melibatkan berbagai sumber daya
8. Penekanan manajerial ada pada penyelesaian proyek dalam batasan waktu
dan biaya tertentu.
Sebuah proyek terdiri dari tiga komponen utama yaitu biaya (budget),
mutu (scope pekerjaan), dan waktu (schedule). Oleh karenanya sangat penting
untuk mengetahui ketiga hal tersebut secara jelas sebelum menandatangani
sebuah kontrak.
17
Scope
Quality
Quality
Project Management
Budget
Quality
Schedulle
Gambar 2.4. Komponen Utama Proyek
(Sumber : Schwalbe K, 2002)
Berdasarkan ketiga komponen utama proyek tersebut kinerja suatu proyek
dapat dinilai keberhasilannya.
2.4
Manajer Proyek
Manajer Proyek berasal dari berbagai latar belakang pekerjaan. Tidak ada
alasan mendasar dari seorang manajer proyek untuk memiliki latar belakang yang
khusus, namun latar belakang pendidikannya berguna untuk proyek-proyek
teknik dan demikian pula para spesialis dapat menerapkan pengetahuannya dalam
proyek yang menjadi spesialisnya. Umum dikatakan bahwa pengetahuan teknik
saja tidak cukup untuk keberhasilan suatu proyek
Pemimpin proyek adalah lembaga pada lini terdepan yang berhadapan
langsung dengan permasalahan di proyek. (Istimawan Dipohusodo, 1996).
Manajer proyek bertanggungjawab akan pemanajemenan proyek teknik dengan
cara yang akan menghasilkan tercapainya sasaran proyek. Kebanyakan proyek
18
menyangkut kontrak antara dua pihak atau lebih. Organisasi dapat menugasi
manajer proyek dengan tanggungjawab upaya
teknik swakelola
yang
dimaksudkan untuk mencapai hasil akhir tertentu, seperti mengembangkan
proyek atau sistem baru yang dapat dipasarkan.(Victor G. Hajek, 1988)
Endro mendefinisikan manajer proyek merupakan team/ perseorangan
yang dengan team-nya ditunjuk oleh client sebagai wakil utamanya yang
bertanggungjawab secara keseluruhan atas proses suatu proyek dengan cara memanage pihak-pihak lain yang pada umumnya dibuatkan hubungan kontrak
langsung dengan client untuk melakukan suatu bagian kegiatan atas suatu proyek.
Jeffery mendefinisikan manajer proyek sebagai seseorang yang secara
efektif mengisi proyek dan mempunyai wewenang serta reputasi pribadi yang
cukup untuk menjamin bahwa segala sesuatu yang harus dilakukan untuk
mencapai keuntungan dari suatu proyek telah dilakukan.
Seorang manajer proyek adalah orang yang paling bertanggung jawab
terhadap pelaksanaan proyek dan hasilnya, juga merupakan orang yang
memimpin tim pelaksana proyek, serta berhubungan langsung dengan
stakeholder lain.
Beberapa sifat manajer proyek yang ideal meliputi :
1. Kemampuan kepemimpinan
2. Kemampuan mengantisipasi masalah
3. Fleksibilitas dalam operasi
4. Kemampuan menyelesaikan masalah
5. Kemampuan untuk bernegosiasi dan membujuk (persuasif)
19
6. Pemahaman lingkungan proyek yang sedang dikerjakan
7. Kemampuan untuk meninjau ulang, memonitor dan mengontrol
8. Kemampuan mengelola dalam lingkungan yang selalu berubah
Peran manajer proyek sangat penting, ia menjadi sentral, dimana tanpa
adanya manajer proyek maka tidak akan ada manajemen proyek. Peran yang
dimiliki manajer proyek adalah sebagai integrator, komunikator, pembuat
keputusan, enterpreneur dan agen peubah (Budi Santosa, 2003). Secara garis
besar tanggungjawab manajer proyek adalah sebagai berikut :
1. Merencanakan kegiatan-kegiatan dalam proyek, tugas-tugas dan hasil akhir,
termasuk pemecahan pekerjaan, penjadwalan dana penganggaran.
2. Mengorganisasikan, memilih dan menempatkan orang-orang dalam tim
proyek. Mengorganisasikan dan mengalokasikan sumber daya.
3. Memonitor status proyek.
4. Mengidentifikasi masalah-masalah teknis.
5. Titik temu dari para konstituen : subkontraktor, user, konsultan, top
management.
6. Menyelesaikan konflik yang terjadi dalam proyek.
7. Merekomendasikan penghentian proyek atau pengarahan kembali bila tujuan
tidak tercapai.
Sehingga dapat dispesifikasikan bahwa manajer proyek merupakan
individu atau kelompok yang bertanggung jawab untuk memimpin suatu
20
organisasi proyek. Manajer proyek merupakan pribadi yang cakap dalam
berbagai disiplin ilmu yang terkait dengan dasar ilmu manajemen proyek, seperti
ekonomi keuangan, sumber daya manusia, hukum kontrak konstruksi, maupun
berbagai hal teknis lainnya.
2.5
Biaya
Biaya adalah semua pengorbanan yang perlu dilakukan untuk suatu proses
produksi, yang dinyatakan dengan satuan uang menurut harga pasar yang
berlaku, baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Biaya terbagi menjadi
dua, yaitu biaya eksplisit dan biaya implisit. Biaya eksplisit adalah biaya yang
terlihat secara fisik, misalnya berupa uang. Sementara itu, yang dimaksud dengan
biaya implisit adalah biaya yang tidak terlihat secara langsung, misalnya biaya,
kesempatan dan penyusutan barang modal.
Dalam akuntansi, yang dimaksud dengan biaya adalah aliran sumberdaya
yang dihitung dalam satuan moneter yang dikeluarkan untuk membeli atau
membayar persediaaan, jasa, tenaga kerja, produk, peralatan, dan barang lainnya
yang digunakan untuk keperluan bisnis atau kepentingan lainnya. Sementara
biaya kesempatan merujuk pada setiap alternatif yang dikorbankan untuk
melakukan pekerjaan lain yang lebih bernilai.
Seluruh urutan kegiatan proyek perlu memiliki standar kinerja biaya
proyek yang dibuat dengan akurat dengan cara membuat format perencanaan
(Abrar Husen, 2009) antara lain :
21
1. Kurva „S‟, selain mengetahui progress waktu proyek, kurva „S‟ juga untuk
mengendalikan biaya pelaksanaan proyek, hal ini ditunjukkan dari bobot
pengeluaran kumulatif masing-masing kegiatan yang dapat dikontrol dengan
membandingkannya dengan baseline periode tertentu sesuai dengan
kemajuan aktual proyek
2. Diagram Cash Flow, diagram yang menunjukkan rencana aliran pengeluaran
dan pemasukkan biaya selama proyek berlangsung. Diagram ini diharapkan
dapat mengendalikan keselurahan biaya proyek secara detail sehingga tidak
menggangu keseimbangan kas proyek
3. Kurva Earned Value yang menyatakan nilai uang yang telah dikeluarkan pada
baseline tertentu sesuai dengan kemajuan actual proyek. Bila ada indikasi
biaya yang dikeluarkan melebihi rencana, maka biaya itu dikoreksi dengan
melakukan penjadwalan ulang dan meramalkan seberapa besar biaya yang
harus dikeluarkan sampai akhir proyek karena penyimpangan tersebut.
4. Balance Sheet, yang menyatakan besarnya aktiva dan pasiva keuangan
perusahaan selama periode satu tahun dengan keseluruhan proyek yang telah
dikerjakan beserta aset-aset yang dimiliki perusahaan.
Berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan, biaya yang dimaksud
adalah sejumlah uang yang dianggarkan untuk penyelesaian sebuah proyek
konstruksi. Anggaran tersebut akan dialokasikan pada semua unsur-unsur
pengelola proyek selaku orang atau badan usaha yang mendukung penyelesaian
proyek konstruksi
22
2.6
Waktu
Waktu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1997) adalah
seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau
berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah
keadaan/ kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian.
Standar kinerja waktu ditentukan dengan merujuk seluruh tahapan
kegiatan proyek beserta durasi dan penggunaan sumber daya. Dari semua
informasi dan data yang telah diperoleh, dilakukan proses penjadwalan sehingga
akan ada output berupa format-format laporan lengkap mengenai indikator
progress waktu (Abrar Husen, 2009), sebagai berikut :
1. Barchart, diagram batang yang secara sederhana dapat menunjukkan
informasi rencana jadwal proyek beserta durasinya, lalu dibandingkan
dengan progress aktual sehingga diketahui apakah proyek terlambat atau
tidak.
2. Network Planning, sebagai jaringan kerja berbagai kegiatan dapat
menunjukkan kegiatan-kegiatan kritis yang membutuhkan pengawasan
ketat agar pelaksanaan tidak terlambat. Format Network Planning juga
digunakan untuk mengetahui kegiatan-kegiatan yang longgar waktu
penyelesaiannya berdasarkan total floatnya, sehingga semua itu dapat
digunakan untuk memperbaiki jadwal dan agar alokasinya sumber
dayanya menjadi lebih efektif serta efisien.
3. Kurva „S‟, yang berguna dalam pengendalian kinerja waktu. Hal ini
ditunjukkan dari bobot penyelesaian kumulatif masing-masing kegiatan
23
dibandingkan dengan keadaan aktual, sehingga apakah proyek terlambat
atau tidak dapat dikontrol dengan memberikan baseline pada periode
tertentu.
4. Kurva Earned Value yang dapat menyatakan progress waktu berdasarkan
baseline yang telah ditentukan untuk periode tertentu sesuai dengan
kemajuan aktual proyek. Bila ada indikasi waktu terlambat dari yang
direncanakan, maka hal itu dapat dikoreksi dengan menjadwal ulang
proyek dan meramalkan seberapa lama durasi yang diperlukan untuk
penyelesaian proyek karena penyimpangan tersebut, serta dengan
menambah jumlah tenaga kerja diwaktu yang bergantian
Waktu yang dimaksud dalam proyek konstruksi merupakan alokasi
kesempatan saat mulai dan saat selesai dari pekerjaan konstruksi. Dimulai dari
proses perencanaan, tender, hingga pelaksanaan. Sangat penting untuk
pengalokasian di setiap item pekerjaan, untuk membuat proyek dapat berjalan
sesuai dengan jadwal.
2.7
Proyek Konstruksi
Proyek Konstruksi adalah suatu rangkaian kegiatan yang hanya satu kali
dilaksanakan dan umumnya berjangka pendek. Dalam rangkaian kegiatan
tersebut, ada suatu proses yang mengelola sumber daya proyek menjadi suatu
kegiatan yang berupa bangunan. Proses yang terjadi dalam rangkaian kegiatan ini
24
tentunya melibatkan pihak-pihak yang terkait, baik secara langsung maupun tidak
langsung.
Komponen kegiatan utama jenis proyek ini terdiri dari pengkajian
kelayakan, design engineering, pengadaan dan konstruksi. Proyek macam ini
misalnya pembangunan gedung, jembatan, pelabuhan, jalan raya, fasilitas industri
dan lain-lain.
Hubungan antara pihak-pihak yang terlibat dalam suatu proyek dibedakan
atas hubungan fungsional dan hubungan kerja. Dengan banyaknya pihak yang
terlibat dalam suatu proyek konstruksi, maka potensi terjadinya konflik sangat
besar.
Proyek Konstruksi mempunyai 3 (tiga) karakteristik yang dapat
dipandang secara tiga dimensi (Wulfram I. Ervianto, 2003) yaitu
1. Bersifat Unik
Proyek konstruksi tidak pernah terjadi rangkaian kegiatan yang sama persis,
proyek bersifat sementara dan selalu terlibat grup pekerja yang berbeda-beda
2. Membutuhkan Sumber Daya
Proyek Konstruksi membutuhkan sumber daya, yaitu pekerja, uang, mesin,
metoda dan material. Pengorganisasian semua sumber daya dilakukan oleh
manajer proyek.
3. Organisasi
Setiap organisasi mempunyai keragaman tujuan dimana didalamnya terlibat
sejumlah individu dengan keahlian yang bervariasi, perbedaan ketertarikan,
25
kepribadian yang bervariasi, dan ketidakpastian. Manajer Proyek harus
menyatukan visi menjadi satu tujuan yang ditetapkan oleh organisasi
2.8
Model Analisis Regresi Linier Berganda
Penelitian ini menggunakan analisis regresi Linier Berganda sebagai alat
untuk memprediksi nilai rata-rata dari variabel terikat Y atas dasar nilai yang
telah diketahui dari satu atau lebih variabel-variabel X. Komponen biaya,
komponen mutu, dan komponen waktu
dari pelaksanaan proyek konstruksi
ditinjau sebagai variabel Y, dan faktor-faktor kualitas manajer proyek sebagai
variabel X.
Model Regresi Linier Berganda untuk hubungan Y dan Xi dapat
dinyatakan sebagai berikut :
Y = βo + β1*X1 + β2*X2+ β3*X3 + … + βi*Xi
dimana :
Y
= Variabel terikat
X
= Variabel bebas
βo
= Konstanta
β1, β2, β3, βi
= Dugaan koefisien regresi
Dalam analisis regresi linier berganda ini dipergunakan metode stepwise
regression, yaitu salah satu metode untuk mendapatkan model terbaik dari sebuah
analisis regresi. Secara definisi metode ini adalah gabungan antara metode
forward dan backward, variabel yang pertama kali masuk adalah variabel yang
korelasinya tertinggi dan significant dengan variabel dependent, variabel yang
26
masuk kedua adalah variabel yang korelasi parsialnya tertinggi dan masih
significant, setelah variabel tertentu masuk ke dalam model maka variabel lain
yang ada di dalam model dievaluasi, jika ada variabel yang tidak significant maka
variabel tersebut dikeluarkan.
2.9
Uji Model Penelitian
2.9.1
Uji Coefficient of determination Test (R2 Test)
R2 Test digunakan untuk mengukur besarnya kontribusi variabel bebas X
terhadap variasi variabel terikat Y. Variabel Y yang lainnya disebabkan oleh
faktor lain yang juga mempengaruhi Y dan sudah termasuk dalam kesalahan
pengganggu. R2 Test juga digunakan untuk mengukur seberapa dekat garis
regresi terhadap data. Daerah nilai R2 adalah nol sampai satu. Semakin dekat nilai
Y dari model regresi kepada titik-titik data, maka nilai R2 semakin tinggi.
2.9.2
Uji F (F-Test)
Uji F digunakan untuk menguji hipotesis nol (H0) bahwa seluruh nilai
koefisien variabel bebas Xi dari model regresi sama dengan nol, dan hipotesis
alternatifnya (Ha) adalah bahwa seluruh nilai koefisien variabel X tidak sama
dengan nol. Hal ini dapat dinyatakan sebagai berikut :
H0 : β1= β2 = β3 = … = βi = 0
H0 : β1≠ β2 ≠ β3 ≠ … ≠ βi ≠ 0
27
Apabila hipotesis nol diterima atau benar, maka seluruh model tidak
signifikan untuk menjelaskan variabel terikat (Y) dan nilai penyesuaian secara
signifikan tidak berbeda dengan nol.
Sedangkan kriteria pengujian hipotesis adalah sebagai berikut :
H0 ditolak jika F0 hitung > Fα(k-1)(n-k)
H0 diterima jika F0 hitung < Fα(k-1)(n-k)
Keterangan :
2.9.3
α
= tingkat signifikansi = 0,05
n
= jumlah sampel
k
= Variabel bebas penentu dalam model regresi berganda
H0
= Hipotesis nol
Β
= Model
Uji t (t-Test)
Uji t digunakan untuk menguji hipotesis nol (H0) bahwa masing-masing
koefisien dari model regresi sama dengan nol dan hipotesis alternatifnya (Ha)
adalah jika masing-masing koefisien dari model tidak sama dengan nol.
Dengan demikian dapat dinyatakan sebagai berikut :
H0 : β0 = 0, β1= 0, β2 = 0, β3 = 0,
… = βi = 0
Ha : β0 ≠ 0, β1≠ 0, β2 ≠ 0, β3 ≠ 0,
… = βi ≠ 0
Jika hipotesis nol diterima berarti model yang dihasilkan tidak dapat
digunakan untuk memprediksi nilai Y, sebaliknya jika hipotesis nol ditolak,
28
maka model yang dihasilkan dapat dipergunakan untuk memprediksi nilai Y.
Kriteria pengujian hipotesis ini adalah sebagai berikut:
H0 ditolak jika t0 hitung > tα(n-k-1)
H0 diterima jika t0 hitung ≤ tα(n-k-1)
2.10
Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
2.10.1 Uji Validitas
Uji validitas merupakan pengujian untuk mengetahui seberapa cermat dan
tepat suatu kuesioner dalam melakukan fungsi ukurannya. Uji validitas
digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu
kuesioner
dikatakan
valid
jika
pertanyaan
pada
kuesioner
mampu
mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Untuk
menguji validitas dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
1. Melakukan korelasi masing-masing skor pertanyaan dengan total skor
pertanyaan. Uji signifikansi dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung
dengan r tabel untuk degree of freedom (df) = n – 2 dan alpha = 0,05. Dalam
hal ini n adalah jumlah sample. Untuk menguji apakah masing-masing
indikator pertanyaan valid atau tidak, dengan menggunakan program SPSS.
Dengan melihat tampilan output Cronbach Alpha pada kolom Correlated
Item – Total Correlation. Bandingkan nilai Correlated Item – Total
Correlation dengan hasil hitungan r tabel, jika r hitung lebih besar dari r tabel
dan nilai positif maka butir pertanyaan atau indikator dinyatakan valid.
29
2. Uji Validitas dapat dilakukan dengan melakukan korelasi bivariate antara
masing-masing skor pertanyaan dengan total skor pertanyaan. Uji validitas
dilakukan dengan menggunakan program SPSS, dimana kriteria keputusan
dapat dilihat dari hasil output Correlations. Apabila nilai probabilitas korelasi
sig.(2 - tailed) < dari taraf signifikan (alpha) sebesar 0,05 maka pertanyaan
dinyatakan valid.
2.10.2 Uji Reliabilitas
Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa
kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Atau
dengan kata lain, kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang
terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Sugiyono,
2009).
Uji reliabilitas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana
pengukuran itu memberikan hasil yang relatif tidak berbeda bila dilakukan
pengukuran kembali terhadap subjek yang sama mengenai kemantapan,
keandalan/ stabilitas dan keadaan tidak berubah dalam waktu pengamatan
pertama dan selanjutnya. Pengukuran reliabilitas dapat dilakukan dengan dua
cara, yaitu :
1. Repeated Measure atau pengukuran ulang. Disini seseorang akan disodori
pertanyaan yang sama pada waktu yang berbeda, dan kemudian dilihat apakah
dia tetap konsisten dengan jawabannya.
30
2. One Shot atau pengukuran sekali saja. Disini pengukuran hanya sekali dan
kemudian hasilnya dibandingkan dengan pertanyaan lain atau mengukur
korelasi antar jawaban pertanyaan. SPSS memberikan fasilitas untuk
mengukur reliabilitas dengan uji statistik Cronbach‟s Alpha. Suatu variabel
dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach‟s Alpha > 0,60.
2.11
Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian adalah dasar pemikiran dari penelitian yang
disintesiskan dari fakta-fakta, observasi dan telaah kepustakaan. Kerangka
konsep pemikiran memuat teori, dalil atau konsep yang akan dijadikan dasar
dalam penelitian. Uraian dalam kerangka berpikir menjelaskan hubungan dan
keterkaitan antar variabel penelitian. Variabel-variabel penelitian dijelaskan
secara mendalam dan relevan dengan permasalahan yang diteliti, sehingga dapat
dijadikan dasar untuk menjawab permasalahan penelitian.
Kerangka pikir dalam penelitian ini dapat digambarkan bahwa penulis
ingin mengkaji pengaruh atribut yaitu kualitas manajer proyek. Penelitian yang
akan dilakukan adalah mendeskripsikan kualitas manajer proyek dalam
penerapan manajemen kualitas terhadap pelaksanaan proyek konstruksi. Kinerja
dimuat dalam tabel yang merupakan data dari hasil observasi lapangan. Sejak
manajer proyek melakukan perencanaan, pemeriksaan kualitas sampai jaminan
kualitas. Hingga pekerjaan diterima sesuai dengan harapan. Disamping itu, latar
belakang manajer proyek juga sangat berpengaruh seperti pengalaman kerja,
tingkat pendidikan, motivasi kerja,dan kedisiplinannya dibuat dalam bentuk tabel
31
yang merupakan data hasil kuesioner dan observasi lapangan. Penelitian ini
mengkaji antar variabel sehingga penelitian ini digolongkan penelitian deskriptif
korelasional dan bersifat studi kasus dengan obyek penelitian pada beberapa
proyek.
32
Secara umum, berikut kerangka konsep penelitian:
Lembaga /
Perusahaan
Manajer Proyek
Manajer Proyek
bekerja
bekerja
efektif dan efisien
lalai dan teledor
Kualitas
Manajer Proyek Konstruksi
Kualitas
Kualitas
Kualitas
Manajer Proyek
Manajer Proyek
Manajer Proyek
Konstruksi
Konstruksi
Konstruksi
Terhadap Biaya
Terhadap Mutu
Terhadap Waktu
Pelaksanaan Proyek
Pelaksanaan Proyek
Pelaksanaan Proyek
Gambar 2.5. Kerangka Konsep Penelitian
2.12 Penelitian Sejenis
Penelitian tentang analisa kinerja mandor dalam menerapkan manajemen
kualitas penah dilakukan oleh Sukaratha (2006), yang menemukan bahwa adanya
korelasi yang sangat rendah. Penelitian yang mengacu pada tingkat pendidikan,
pengalaman, motivasi dan disiplin mandor ini, memberi gambaran bahwa semua
item tersebut tidak secara signifikan dapat menunjang kemampuan mandor dalam
menerapkan manajemen kualitas. Ternyata skor yang baik, pendidikan 94%;
33
pengalaman 86%; motivasi 67%; disiplin 89%; belum cukup baik menunjang
kemampuan mandor menerapkan manajemen kualitas.
Penelitian serupa juga dilakukan oleh Zacky (2001), tentang pengaruh
kualitas manajemen proyek terhadap kinerja waktu pelaksanaan proyek
konstruksi di Jabotabek. Hasil penelitiannya membuktikan secara kualitatif
analisa kualitas manajer proyek, baik itu pendidikan, pengalaman, pengetahuan
dan kemampuan, serta karakter yang yang baik akan meningkatkan kinerja waktu
proyek. Hal ini tampak dari analisa statistik yang menyatakan hubungan korelasi
positif yang kuat antara variabel analisa kualitas manajer proyek konstruksi. Hasil
survey yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja waktu proyek konstruksi,
menunjukkan
nilai
dominan
pada
item
pengetahuan
dan
kemampuan
berkomunikasi 51,2%. Berikutnya secara berurutan kemampuan mengelola
administrasi 22,2%; kemampuan untuk membuat keputusan 11,9%; kemampuan
untuk membuat manajemen proyek 9,4%; pola dan kemauan mengambil resiko
3,7%. Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan dan kemampuan
serta karakter personal yang baik dari seorang manajer proyek dapat mengurangi
terjadinya keterlambatan pada proyek.
Penelitian-penelitian tersebut menyarankan untuk manajemen proyek
(kontraktor, konsultan) lebih banyak memberikan bimbingan/ pelatihan
manajemen kualitas seperti cara-cara menerapkan perencanaan, pemeriksaan, dan
jaminan kepada mandor/ manajer proyek yang masih kurang memahami. Hasil
penelitian ini akan dijadikan salah satu referensi bagi penelitian kualitas manajer
proyek.
Download