BAB I PENDAHULUAN

advertisement
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian
1.1.1. Sejarah Singkat PGN
PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) adalah Badan Usaha Milik
Negara yang didirikan pada tahun 1859 sebagai Firm L.I. Enthoven & Co. Pada tahun
1950, pemerintah Belanda berganti nama menjadi NV Overzeese Gas en Electriciteit
Maatschappij (NV OGEM). Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia, pemerintah
mengambil alih kepemilikan Perusahaan dan berganti nama menjadi Penguasa
Peralihan Perusahaan Listrik dan Gas (P3LG). Status Perusahaan kemudian diubah
menjadi BPU PLN pada tahun 1961. Pada 13 Mei 1965, berdasarkan Peraturan
Pemerintah No 19/1965, Perusahaan dinyatakan sebagai perusahaan milik negara dan
dikenal sebagai Perusahaan Gas Negara (PGN). Kemudian tahun 1984, status hukum
PGN menjadi Perusahaan Umum (Perum) dan pada tahun 1994 menjadi Perseroan
Terbatas dengan nama PT Perusahaan Gas Negara (Persero).
Seiring dengan ruang lingkup usaha yang semakin luas dan dalam rangka
mendukung pengembangan bisnis perusahaan, pada tahun 2003, PGN berhasil
mencatatkan sahamnya di BEI untuk menjadi perusahaan publik (Tbk) dan sahamnya
diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia dengan kode transaksi perdagangan PGAS.
51
1.1.2. Kegiatan dan Unit Usaha
A. Usaha Transmisi dan Distribusi Gas Bumi
Jalur pipa transmisi gas bumi PGN terdiri dari jaringan pipa bertekanan tinggi
sepanjang sekitar 2.160 km yang mengirimkan gas bumi dari sumber gas bumi ke
stasiun penerima pembeli untuk kemudian melalui jalur pipa distribusi gas milik
PGN sepanjang lebih dari 3.750 km, menyuplai gas bumi ke pembangkit listrik,
industri, usaha komersial termasuk restoran, hotel dan rumah sakit, serta rumah
tangga di wilayah-wilayah yang paling padat penduduknya di Indonesia.
Saat ini PGN memiliki tiga jaringan utama pipa transmisi yang fungsinya
adalah mengangkut gas bumi dari sumber pemasok (hulu) secara langsung. Adapun
jaringan pipa transmisi tersebut adalah sebagai berikut.

Jalur Grissik (Sumatra Selatan) – Duri (Riau). Panjang mencapai 536 kilometer
(km). Jalur ini mulai beroperasi pada tahun 1998.

Jalur Grissik (Sumatra Selatan) – Batam (Riau) – Sakra (Singapura). Panjang
jalur 470 km. Jalur ini mulai beroperasi pada tahun 2003.

Jalur South Sumatera West Java (SSWJ) yang memiliki panjang lebih dari 1.000
km. Mulai beroperasi tahun 2008.
Jaringan transmisi ini dikelola oleh SBU Transmisi Sumatra Jawa. Dibidang
distribusi, PGN juga telah mengembangkan penyaluran gas bumi melalui jaringan
distribusi. Distribusi gas bumi ini telah disalurkan di kota-kota besar di Indonesia, di
antaranya adalah Jakarta, Bogor, Bekasi, Banten, Karawang, Cirebon, Surabaya,
52
Palembang, Medan, Batam, dan Pekanbaru. Jaringan distribusi ini diatur oleh tiga
unit SBU (strategic business unit) distribusi.
Gambar 4.1.: Wilayah Usaha Transmisi dan Distribusi
B. Usaha Beyond Pipelines
Dengan terus meningkatnya permintaan terhadap gas bumi dengan sumber
yang terbatas, PGN mencari solusi strategis untuk menjamin suplai bagi para
konsumennya dan mencegah kelangkaan gas bumi di beberapa wilayah. PGN saat ini
sedang mencari suplai gas baru, terutama dari lokasi yang dekat dengan infrastruktur
yang ada, serta berupaya mendapatkan volume gas bumi yang lebih besar untuk
dialokasikan di pasar dalam negeri.
53
Pilihan lain meliputi peluang pemanfaatan sumber non-konvensional seperti
Coal Bed Methane, dan pembangunan infrastruktur untuk memperluas kapasitas
distribusi dan transmisi saat ini, serta mengakomodasi kemungkinan transportasi gas
inter-moda seperti CNG dan LNG.
Saat ini PGN tengah mengembangkan dua rencana besar dalam pemenuhan
kebutuhan energi Indonesia melalui pembangunan Floating Storage Regasification
Unit (FSRU) di Muara Karang, Jawa Barat dan Labuhan Maringgai, Lampung.
Pembangunan FSRU merupakan jawaban bagi wilayah geografis Indonesia yang
berbentuk kepulauan. Nantinya gas bumi yang ada di sumbernya akan dikompres
dalam bentuk LNG dan dapat ditransportasikan melalui kapal maupun transportasi
lainnya. Langkah PGN membangun FSRU merupakan tonggak dasar dalam
pengembangan insfrastruktur gas bumi di Indonesia. Hal ini sesuai dengan cita-cita
PGN menuju era beyond pipeline.
LNG yang diterima melalui terminal-terminal ini akan di regasifikasi dan
didistribusikan ke perusahaan listrik dan konsumen industri di daerah-daerah yang
berkembang cepat. Di masa depan, terminal-terminal penerima tambahan yang
tersebar di seluruh penjuru nusantara dapat menjadi penghubung antara daerah
sumber gas bumi dengan konsumen yang ingin mengembangkan usaha atau wilayah
industri mereka.
54
Gambar 4.2.: Sumber Potensial LNG di Indonesia
C. Unit Bisnis Strategis
Untuk mengawasi kegiatan operasional transmisi dan distribusi, PGN
membagi area bisnisnya menjadi empat Unit Bisnis Strategis dengan fokus geografis
masing-masing:
a. SBU Distribusi Wilayah I, mencakup area Sumatera Selatan hingga Jawa bagian
Barat (Jakarta, Banten, Bekasi, Karawang, Bogor, Cirebon)
b. SBU Distribusi Wilayah II, mencakup Jawa Timur
c. SBU Distribusi Wilayah III, mencakup Sumatera Utara (Medan), Pekanbaru dan
Kepulauan Batam
d. SBU Transmisi, mencakup jaringan transmisi di Sumatera Selatan dan Jawa
55
Selain itu, anak perusahaan PGN, PT Transportasi Gas Indonesia, mengelola
bisnis transmisi gas bumi untuk jaringan Grissik-Duri dan Grissik-Singapura. Anak
Perusahaan dan Perusahaan Afiliasi antara lain :
a. PT Transportasi Gas Indonesia: transmisi gas bumi
b. PT PGAS Telekomunikasi Nusantara (PGASCOM): telekomunikasi
c. PT PGAS Solution: konstruksi dan enjiniring
d. PT Nusantara Regas: terminal penyimpanan dan regasifikasi terapung
e. PT Saka Energi Indonesia: kegiatan usaha di bidang hulu
f. PT Gagas Energi Indonesia: kegiatan usaha di bidang hilir
1.1.3. Struktur Organisasi
Struktur Organisasi PT. Perusahaan Gas Negara.
STRUKTUR ORGANISASI
PT PERUSAHAAN GAS NEGARA (PERSERO) Tbk
DIREKTORAT
UTAMA
DIREKTORAT
TEKNOLOGI DAN
PENGEMBANGAN
SATUAN
PENGAWASAN
INTERN
BIRO
HUKUM
KORPORAT
DIREKTORAT
PENGUSAHAAN
DIREKTORAT
KEUANGAN
DIREKTORAT
SDM DAN UMUM
DIREKTORAT
PERENCANAAN INVESTASI
DAN MANAJEMEN RISIKO
DIVISI
RISET DAN
PENGEMBANGAN
TEKNOLOGI
DIVISI
PEMASARAN
DIVISI
ANGGARAN
DIVISI
ORGANISASI DAN
PROSES BISNIS
DIVISI
PERENCANAAN
STRATEGIS
DIVISI
ENJINIRING
DIVISI
PENJUALAN
KORPORAT
DIVISI
PERBENDAHARAAN
DIVISI
SUMBER DAYA
MANUSIA
DIVISI
PENGEMBANGAN
BISNIS DAN
PENGENDALIAN
PORTOFOLIO
DIVISI
PEMBANGUNAN
DIVISI
PASOKAN GAS
DIVISI
AKUNTANSI
DIVISI
LOGISTIK
DIVISI
TEKNOLOGI
INFORMASI DAN
KOMUNIKASI
DIVISI
OPERASI
DIVISI
K3PL
DIVISI
KEUANGAN
PERUSAHAAN
DIVISI
TANGGUNG JAWAB
SOSIAL DAN
LINGKUNGAN
DIVISI
LAYANAN UMUM
DAN PENGAMANAN
PERUSAHAAN
SEKRETARIS
PERUSAHAAN
DIVISI
TRANSFORMASI DAN
PENGENDALIAN
KINERJA
DIVISI
MANAJEMEN RISIKO
DIVISI
MANAJEMEN ASET
KORPORAT
UNIT OPERASIONAL/
PROYEK
PROYEK
PROYEK
SBU
56
Uraian jabatan dari fungsi terkait sebagai berikut:
1. Departemen Komunikasi Korporat
a.
Fungsi Departemen Komunikasi Korporat mempunyai fungsi serta
tanggung
jawab
dalam
penyusunan
kebijakan,
perencanaan,
pelaksanaan dan pengendalian strategi komunikasi dengan masyarakat,
media dan lembaga swasta berdasarkan prinsip keterbukaan informasi
serta mengelola publisitas internal dalam rangka mempertahankan
reputasi dan citra perusahaan.
b.
Tugas Departemen Komunikasi Korporat
Untuk menjalankan fungsinya, Departemen Komunikasi Korporat
mempunyai tugas :
- Menyusun kebijakan dan strategi serta bertanggung jawab terhadap
pengelolaan informasi,
komunikasi kehumasan serta
media
informasi eksternal dan internal perusahaan.
- Mengendalikan pelaksanaan komunikasi korporat di SBU dan
Proyek.
2. Divisi K3PL
a.
Fungsi Divisi K3PL Divisi K3PL mempunyai fungsi dan tanggung
jawab menyusun kebijakan serta monitoring pelaksanaan keselamatan
dan kesehatan kerja, serta pengelolaan lingkungan di seluruh wilayah
kerja perusahaan.
b.
Untuk menjalankan fungsinya, Divisi K3PL mempunyai tugas :
57
- Mengendalikan penyusunan kebijakan dan strategi, serta memonitor
pelaksanaan K3PL di seluruh wilayah kerja perusahaan.
- Mengendalikan penyusunan dan evaluasi sistem manajemen K3PL.
- Mengendalikan pelaksanaan identifikasi dan evaluasi terhadap
potensi bahaya terkait dengan pengelolaan K3PL.
- Melaksanakan pembinaan dan koordinasi terhadap pelaksanaan
bidang K3 dan Pengelolaan Lingkungan.
- Mengkoordinir dan mengevaluasi penyusunan studi AMDAL
(Analisa Mengenai Dampak Lingkungan) dan studi lingkungan lain
atas proyek yang akan dibangun perusahaan.
- Mengkoordinir dan mengevaluasi pelaksanaan Pemantauan dan
Pengelolaan
Lingkungan
Lingkungan termasuk
serta
dampak
Penanggulangan
sosial
Pencemaran
ekonomi pelaksanaan
konstruksi dan operasi perusahaan.
- Memastikan bahwa pelaksanaan K3 dan pengelolaan lingkungan
oleh seluruh fungsi di perusahaan telah sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.
3. Divisi Operasi
a. Fungsi Operasi memiliki fungsi dan tanggung dalam penyusunan
kebijakan, perencanaan, pengendalian operasi, integritas jaringan pipa
distribusi, transmisi, moda transportasi lain dan sarana penunjangnya,
serta aset operasi termasuk komoditi gas.
58
b. Untuk menjalankan fungsinya, Divisi Operasi mempunyai tugas:
-
Menyusun kebijakan dan strategi serta bertanggung jawab
terhadap pengendalian operasi jaringan pipa distribusi, transmisi
dan modal transportasi lain beserta sarana penunjangnya.
-
Menyusun kebijakan dan strategi serta bertanggung jawab
terhadap
perencanaan
pengendalian
manajemen
integritas
jaringan pipa distribusi, transmisi dan moda transportasi lain
beserta sarana penunjangnya.
-
Mengendalikan tindak lanjut hasil evaluasi kehandalan jaringan
pipa transmisi dan distribusi gas bumi eksisting beserta fasilitas
penunjangnya.
-
Menyusun kebijakan dan strategi serta bertanggung jawab
terhadap pengendalian aset operasi termasuk komoditi gas.
-
Memberikan rekomendasi atas usulan Unit tentang penghapusan
aset jaringan, pengalihan dan penutupan asuransi aset operasi.
1.1.4. Visi dan Misi
Dalam mencapai visinya menjadi perusahaan energi kelas dunia di bidang
pemanfaatan gas bumi, PGN mempunyai misi untuk meningkatkan nilai tambah
perusahaan bagi pemangku kepentingan melalui:
a. Penguatan
bisnis
inti
di
bidang
transportasi,
niaga
gas
bumi
dan
pengembangannya
59
b. Pengembangan usaha pengolahan gas
c. Pengembangan usaha jasa operasi, pemeliharaan dan keteknikan yang berkaitan
dengan industri migas
d. Profitisasi sumber daya dan aset perusahaan dengan mengembangkan usaha
lainnya
1.1.5. Budaya Perusahaan
Budaya perusahaan di PGN mencerminkan nilai-nilai dan filosofi yang telah
disepakati oleh seluruh elemen Perusahaan sebagai landasan yang harus
dikembangkan dan arah yang harus dituju untuk mencapai tujuan PGN. Budaya
perusahaan PGN didefinisikan melalui lima nilai yang disingkat sebagai ProCISE,
yang menggabungkan 10 perilaku kunci.
1. Professionalism (Profesionalisme)
Memiliki kompetensi yang tinggi untuk meraih hasil terbaik dan selalu
bertanggung jawab atas semua keputusan dan tindakan.
2. Continuous Improvement (Penyempurnaan Terus Menerus)
Selalu berusaha meningkatkan kinerja melalui inovasi dan kemampuan
beradaptasi terhadap perubahan.
3. Integrity (Integritas)
Jujur terhadap diri sendiri dan orang lain, etis dan konsisten dalam pikiran,
ucapan dan perbuatan.
60
4. Safety (Keselamatan)
Memaksimalkan keselamatan kerja dan kesehatan melalui disiplin dan
konsistensi, serta peduli terhadap lingkungan hidup dan kehidupan sosial.
5. Excellent Service (Pelayanan Prima)
Memberi kepuasan maksimal kepada konsumen internal dan eksternal dengan
memberikan respons yang cepat, sikap proaktif, dan pelayanan terbaik.
1.1.6. Pengetahuan Umum Tentang Pemanfaatan Gas Bumi
Sebagai sumber energi, gas bumi sangat bermanfaat bagi masyarakat. Gas
bumi dapat dimanfaatkan sebagai :

Bahan Bakar. Di antaranya sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga
Gas/ Uap, bahan bakar industri (mulai dari industri ringan, menengah, dan
berat). Dimanfaatkan pula untuk bahan bakar kendaraan bermotor, misalnya
bahan bakar gas (BBG) yang digunakan oleh bus Transjakarta. Bisa juga
dimanfaatkan sebagai gas kota untuk kebutuhan rumah tangga, hotel, restoran,
dan sebagainya.

Bahan Baku Industri. Di antaranya, bahan baku pabrik pupuk, plastik, dan
hujan buatan. Selain itu, industri besi tuang, pengelasan, dan bahan pemadam
api ringan juga memanfaatkan gas bumi.
61

Komoditi ekspor bidang energi. Gas bumi dapat dimanfaatkan sebagai
energi penggerak berbagai mesin seperti untuk penyejuk udara (air
conditioner/AC), pemanas air, dan sebagainya.
Dalam perkembangannya, gas bumi dapat menjadi berbagai macam bentuk.
Ada beberapa macam bentuk gas bumi.

LNG (liquiefied natural gas) adalah gas bumi yang telah diproses khusus
menjadi cairan. Dengan proses khusus ini, gas bumi pun bisa dipindahkan ke
tempat yang jaraknya jauh.

CNG (compressed natural gas) adalah gas bumi yang terkompresi.
Maksudnya, dalam prosesnya, gas bumi ini diberi tekanan yang tinggi. CNG
digunakan sebagai bahan bakar alternatif, selain bensin atau solar.

CBM (coal bed methane) merupakan gas bumi yang terperangkap di dalam
batu bara. Melalui proses pengeboran tertentu, CBM diambil tanpa
mengurangi deposit batu baranya.
Gas bumi merupakan sumber energi alternatif dengan beberapa keunggulan.
Berikut adalah keunggulan-keunggulan yang dimilikinya.

Harga gas bumi bisa bersaing dibandingkan dengan bahan bakar lain.

Prosesnya efisien sehingga bisa menekan biaya produksi.

Penggunaannya jauh lebih bersih dan sangat ramah lingkungan sehingga tidak
menimbulkan polusi.

Biaya pemeliharaannya lebih rendah.
62

Tidak memerlukan tempat penyimpanan.

Mutu dan jumlahnya lebih terjamin.

Gas bumi juga tidak berwarna, tidak berbau, tidak korosif, dan tidak beracun.

Energi yang dihasilkan gas bumi juga lebih efisien.

Segi keamanan, Gas Bumi lebih aman disbanding gas elpiji (tabung) karena
berat jenisnya lebih ringan daripada udara. Jadi bila terjadi kebocoran, gas
tersebut akan mudah terbawa udara.
1.1.7. Safety Excellence Journey PGN
Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan faktor yang sangat menentukan
produktivitas pekerja dan keberlangsungan usaha PGN yang bergerak dibidang
distribusi dan transmisi gas bumi.
Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu kondisi dalam pekerjaan
yang sehat dan aman baik bagi pekerja, perusahaan maupun masyarakat atau
lingkungan tempat kerja. Dengan mengutamakan keselamatan, Perseroan berupaya
untuk mencegah setiap perbuatan atau kondisi tidak selamat yang dapat
mengakibatkan kecelakaan.
Implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja di PGN terus disempurnakan
sesuai dengan visi Perusahaan menuju world class company. Sebelum tahun 2009,
metode yang diterapkan didalam implementasi keselamatan dan kesehatan kerja
63
merupakan sistem yang terpusat di kantor Pusat dibawah struktur Divisi dan
Kedinasan.
Selanjutnya ditahun 2009 sampai dengan sekarang berubah bentuk menjadi
Komite yang organisasinya langsung diketuai oleh Direktur Utama. Di bawah
supervisi Komite Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Perlindungan Lingkungan
(K3PL), aktivitas K3PL tidak hanya dilakukan dan menjadi tanggung jawab Kantor
Pusat, tapi secara bertahap melibatkan seluruh komponen Pekerja di wilayahnya
masing-masing. Transformasi ini dilakukan untuk mencapai Visi PGN yaitu: Zero
Incident dengan mengimplementasikan standar keselamatan di seluruh aspek bisnis
PGN dan menerapkan safety sebagai budaya di PGN.
Selama tahun 2009 sampai dengan tahun 2010, Komite K3PL telah
meletakkan landasan dalam pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja di
Perseroan yaitu transformasi safety menjadi line management responsibility yang
harus menjadi bagian dari aktifitas sehari-hari yang dapat diuraikan sebagai berikut:
a. 2009: Menerapkan sistem “behavior safety“ pada SBU 1 - pilot. (sistem
berjalan dan terukur)
b. 2010: Menerapkan sistem “process safety“ pada SBU 1 (elemen
terimplementasi)
c. Mengaplikasikan metoda dan sistem yang diterapkan di SBU 1 ke SBU 2,
SBU 3 dan SBU TSJ (implementasi sesuai dengan SBU 1)
64
Gambar 4.3.: PGN Safety Excellence Journey Roadmap
1.2. Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dilapangan, ditemukan bahwa
strategi komunikasi pemasaran sosial dalam memasyarakatkan Perilaku Aman PGN
kepada masyarakat disekitar jaringan/fasilitas pipa distribusi gas bumi diwilayah DKI
Jakarta meliputi : perencanaan komunikasi pemasaran sosial yang dilakukan PGN
melalui analisa situasi, penentuan sasaran dan tujuan komunikasi pemasaran sosial,
segmentasi dan positioning Perilaku Aman sebagai produk sosial. Selain itu, hasil
penelitian ini juga meliputi implementasi dan evaluasi strategi komunikasi pemasaran
sosial Perilaku Aman.
65
1.2.1. Perencanaan Komunikasi Pemasaran Sosial Perilaku Aman PGN
Pemasaran merupakan strategi esensial untuk menjaga kelangsungan hidup
suatu produk dan tidak mudah untuk menentukankan sistem pemasaran yang relevan
untuk setiap produk. Karakter organisasi, segmen pasar serta karakter produk
mempengaruhi jalannya sistem pemasaran. Bahkan turut mempengaruhi divisi
(pihak) yang menangani masalah pemasaran itu sendiri.
Dalam struktur organisasi pemasaran Perilaku Aman kepada Masyarakat
disekitar jalur pipa PGN, memiliki ciri tersendiri. Sistem pemasaran Perilaku Aman
Kepada Masyarakat disekitar jalur pipa PGN dilakukan secara lintas fungsi,
sebagaimana yang dijelaskan oleh narasumber PGN dari fungsi Komunikasi1:
“Pemasaran sosial memasyaratkan Perilaku Aman kepada masyarakat
disekitar jalur pipa distribusi gas bumi dilaksanakan bersama-sama, baik oleh kami
yang memiliki kompetensi dan fungsi serta tanggung jawab sebagai perencana dan
pengembang sistem komunikasi maupun fungsi K3PL yang memiliki kompetensi dan
pengembangan serta perencanaan program safety yang terkait langsung dengan
pemasaran sosial Perilaku Aman”.
Penjelasan lebih rinci disampaikan lebih lanjut oleh Narasumber dari Divisi
K3PL2 :
“Peranan utama fungsi K3PL dalam pemasaran program Perilaku Aman
kepada masyarakat adalah memasarkan ke masyarakat dalam bentuk komunikasi
yang edukatif dan persuasif dalam berbagai bentuk media yang dikembangkan
bersama dengan Departemen Komunikasi Korporat sesuai kebutuhan kami seperti,
media cetak (booklet), dan media luar serta fungsi Penjualan dalam bentuk
komunikasi langsung melalui kegiatan temu Pelanggan dan sosialisasi.
1
Wawancara dengan Kepala Departemen Komunikasi Korporat (Ibu Nella Andaryaty) pada tanggal 13
Maret 2012
2
Wawancara dengan Kepala Deptartemen IJK3PL SBU I (Bapak Danu Prijambodo) pada tanggal 15
Maret 2012
66
Dari hasil wawancara diketahui bahwa tidak ada terdapat batasan peran
tentang siapakah yang lebih dominan menangani pemasaran Perilaku Aman, tapi
dilaksanakan bersama-sama antara fungsi K3PL, Komunikasi, Penjualan dan Operasi.
Fungsi Komunikasi sesuai namanya berperan dalam perencanaan komunikasi sesuai
dengan tujuan pemasaran Perilaku Aman yang ingin dicapai, sedangkan fungsi
Penjualan merupakan fungsi yang memiliki agenda kegiatan dalam terhadap
komunikasi langsung melalui kegiatan temu pelanggan khususnya pelanggan rumah
tangga yang memiliki karakteristik yang sama dengan target sasaran program
Perilaku Aman. Sedangkan. Fungsi Operasi memberikan dukungan dalam bentuk
penyediaan sumber daya manusia dan kompetensinya mengenai lingkungan dan
masyarakat yang ada disekitar jaringan pipa PGN yang menjadi target yang disasar
melalui komunikasi pemasaran sosial Perilaku Aman PGN.
Perumusan strategi komunikasi pemasaran sosial Perilaku Aman PGN
dilakukan melalui proses analisa situasi, penentuan sasaran dan tujuan komunikasi
serta segmentasi dan positioning Perilaku Aman.
Analisa situasi Pemasaran Sosial Perilaku Aman penting dilakukan sebelum
merancang
dan
merencanakan
program.
Berdasarkan
hasil observasi
dan
pengumpulan data yang dilakukan Peneliti diketahui bahwa analisis situasi dalam
penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengumpulkan informasi
mencakup jenis dan bentuk kegiatan, pihak atau publik yang terlibat serta kondisi
lingkungan sosial yang melatarbelakangi pelaksanaan pemasaran sosial Perilaku
Aman.
67
A. Analisa Situasi Pemasaran Sosial
Berbagai definisi muncul untuk menjelaskan tentang pemasaran sosial.
Kesemua definisi tersebut memiliki ciri-ciri yang sama terhadap pemasaran sosial
yaitu membidik perubahan perilaku baik dengan penerimaan (peningkatan
awareness), meninggalkan, menolak perilaku sebelumnya melalui penggunaan tools
pemasaran komersil sebagai perangkat utama.
Dari hasil observasi dan pengumpulan data ditemukan bahwa dalam
pemasaran sosial Perilaku Aman kepada Masyarakat disekitar jalur pipa PGN, terlihat
bahwa produk yang “dijual” dalam pemasaran sosial tersebut lebih kepada penjualan
ideologi PGN tentang safety operation baik bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan
yang berujung pada tujuan adanya perubahan perilaku masyarakat yang berada
disekitar jalur pipa menjadi perilaku aman yang akan berdampak bukan saja bagi
keselamatan dirinya dan lingkungan tapi juga bagi Perusahaan. Ideologi tersebut
menjadi landasan utama dalam pemasaran karena pemasar Perilaku Aman melihat
adanya permasalahan sosial yang membebani masyarakat Indonesia.
Dualisme kota dan desa yang ada di Indonesia, seperti negara-negara
berkembang lainnya telah mengakibatkan munculnya sektor formal dan sektor
informal dalam kegiatan perekonomian. Sebagian yang melakukan urbanisasi telah
tertampung di sektor formal, namun sebagian lainnya tanpa bekal keterampilan yang
dibutuhkan di kota tidak dapat tertampung dalam lapangan kerja formal yang tersedia
dan pada umumnya tetap berstatus mencari pekerjaan dan melakukan pekerjaan apa
saja untuk menopang hidupnya.
68
Sektor informal muncul dalam kegiatan perdagangan yang bersifat kompleks
karena menyangkut jenis barang, tata ruang, dan waktu. Sebaliknya dengan sektor
formal yang umumnya menggunakan teknologi maju, bersifat padat modal, dan
mendapat perlindungan pemerintah, sektor informal lebih banyak ditangani oleh
masyarakat golongan bawah. Sektor informal dikenal juga dengan 'ekonomi bawah
tanah' (underground economy). Sektor informal ini umumnya berupa usaha berskala
kecil, dengan modal, ruang lingkup, dan pengembangan yang terbatas. Salah satu
bentuk perdagangan tersebut adalah pedagang kaki lima, yang pada kenyataannya
sangat diperlukan oleh masyarakat terutama masyarakat golongan menengah bawah,
karena harga yang terjangkau.
Pertumbuhan dan perkembangan wilayah perkotaan secara fisik dapat terlihat
pada luas daerah terbangun. Peruntukan lahan perumahan merupakan bagian terbesar
dari daerah terbangun yang ada. Daerah terbangun selebihnya merupakan bagian
wilayah perkotaan yang digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang dapat menjamin
kelangsungan hidup dan penghidupan masyarakat kota.
Salah satu kegiatan tersebut adalah sektor perdagangan, termasuk kegiatan
pedagang kaki lima yang menimbulkan permasalahan terhadap ruang kegiatan yang
harus disediakan. Sejak awal kegiatan ini tidak mendapat perhatian, sehingga
perkembangannya menjadi tidak terkendali. Kegiatan pedagang kaki lima yang tidak
teratur dengan bentuk wadah fisik yang beragam berupa kios-kios kecil yang
dibentuk seadanya sering dianggap merusak wajah fisik suatu lingkungan kota yang
sudah dibangun dengan rapi. Penampilan kota menjadi tidak teratur dan kumuh
69
sehingga menurunkan estetika kota. Terganggunya sendi-sendi kegiatan kota akibat
berkembangnya kegiatan pedagang kaki lima yang tidak tertata menyebabkan
menurunnya kualitas lingkungan kota. Adanya pedagang kaki lima yang menempati
ruang-ruang publik mengakibatkan juga terjadinya perubahan fungsi ruang tersebut.
Contohnya pengurangan ruang terbuka hijau, pemanfaatan trotoar yang mengganggu
sirkulasi pejalan, pemanfaatan badan jalan yang menimbulkan kemacetan lalu lintas.
Dalam memilih lokasi kegiatan pedagang kaki lima akan berusaha mendekati
konsumen. Ada beberapa karakteristik utama kegiatan pedagang kaki lima yang
mempolakan lokasi dan kegiatannya 3, yaitu :
1. Pola lokasi pedagang kaki lima yang menetap di lokasi tertentu, dan ada yang
bergerak dari lokasi satu ke lokasi lain, baik yang berkeliling dari satu
konsumen ke konsumen lain, maupun yang berpindah dari satu lokasi ke
lokasi tertentu;
2. Karakteristik temporal, yaitu menyangkut waktu dan lama operasi, berbagai
kegiatan pedagang kaki lima beroperasi dalam waktu berbeda; pagi, siang,
sore, malam, dilihat dari lamanya operasi yang cukup bervariasi; sebentar
atau sesaat, satu periode waktu saja, atau sepanjang hari;
3. Karakteristik tapak, secara umum penempatan atau pemilihan lokasi
pedagang kaki lima adalah di trotoar sepanjang jalan, berkelompok di
tempat-tempat terbuka ataupun di lokasi tempat parkir di luar jam sibuk;
3
Danisworo; Diskusi Panel Tentang Pengelolaan Pedagang Kaki Lima, 2000
70
4. Hasil produksi atau jasa terutama dikonsumsi oleh golongan penghasilan
rendah dan menengah.
Pengaruh langsung dari keberadaan pedagang kaki lima yang mempunyai
karakteristik seperti itu menimbulkan beberapa persoalan yang kemudian
berkembang menjadi masalah perkotaan. Beberapa masalah akibat keberadaan
pedagang kaki lima yang seringkali ditemui di kota-kota besar di Indonesia umumnya
berupa :
1. Menurunnya kualitas lingkungan kota dan terjadinya perubahan fungsi ruang
atau bangunan, baik yang bersifat umum seperti kantor-kantor pemerintahan,
taman kota, trotoar, jalan raya, pertokoan, maupun bangunan yang bersifat
pribadi. Menurunnya fungsi tersebut ditujukkan dengan adanya pergeseran
ruang atau bangunan yang ada menjadi fungsi perdagangan tempat pedagang
kaki lima;
2. Kecenderungan munculnya lingkungan yang secara visual terkesan buruk.
Kesan ini dengan diperoleh karena penempatan sarana-sarana pedagang kaki
lima yang tidak beraturan serta perbedaan penampilan yang sering kali
terkesan kontras dengan bangunan atau ruang yang ditempatinya;
3. Sering terjadinya kemacetan arus lalu lintas di sekitar tempat berjualan
pedagang kaki lima, juga bagi pejalan kaki yang akan merasa terganggu
akibat pemakaian trotoar oleh pedagang kaki lima;
4. Tidak tercapainya kesamaan hubungan dalam pemakaian simbol (lambang)
dengan sign (isyarat) antara pedagang kaki lima dengan ruang atau bangunan
71
yang ada pada akhirnya menyebabkan timbulnya pemaknaan tempat yang
kurang jelas.
Pada kenyataannya masalah-masalah yang dikemukakan di atas terjadi
hampir di setiap kawasan fungsional kota. Jika hal terjadi pada ini kawasan pusat
kota yang umumnya berperan sebagai “Central Business Dictrict”, maka kualitas
lingkungan kota akan menurun secara keseluruhan. Khususnya ditinjau dari segi
fungsi dan estetika yang selanjutnya akan memberi pengaruh buruk terhadap citra
kota yang bersangkutan.
Sektor informal dapat dikatakan lahan bagi pertumbuhan sektor ekonomi dan
produk urbanisasi yang terjadi di kota-kota besar, terutama negara-negara
berkembang termasuk Indonesia. Pelakunya ada yang berasal dari kota yang
bersangkutan tetapi paling banyak datang dari berbagai daerah dan daerah sekitarnya.
Latar belakang sosial ekonomi mereka yang pada umumnya dari kelompok
masyarakat lapisan bawah dan kondisinya menunjukkan perkembangan yang terus
meningkat. Keadaan semakin parah karena faktor ekonomi saat ini Indonesia sedang
menghadapi krisis ekonomi berkepanjangan sehingga sektor informal di perkotaan
seperti pedagang kaki lima merupakan salah satu alternatif lapangan pekerjaan.
Konsentrasi pedagang kaki lima yang dapat di temui di Jakarta yaitu
seringkali dekat dengan pusat komersial yang juga terdapat jaringan pipa distribusi
gas bumi milik PGN yang melayani pengguna gas bumi dan termasuk dalam kategori
high risk, sebagaimana yang dijelaskan narasumber PGN dari fungsi safety bahwa
dari total panjang jaringan pipa distribusi PGN SBU I yang wilayah operasionalnya
72
meliputi wilayah Jakarta, 35 persen diantaranya merupakan pipa dengan kategori high
risk. Kategori high risk itu berdasarkan kebutuhan patroli dan inspeksi pipa yang
harus dilakukan dalam jangka waktu mingguan, lokasinya berada dilokasi padat
penduduk dan padat aktifitas serta potensi dampak terhadap reputasi Perusahaan yang
akan ditimbulkan apabila terjadi situasi emergency diwilayah tersebut yang
diakibatkan oleh misalnya kebocoran pipa, ledakan pipa dan lainnya yang terkait
dengan kehandalan jaringan kami. Wilayah yang termasuk high risk adalah Pluit,
Daan Mogot, Cideng, Tanah Abang, Cawang, Ancol, Dewi Sartika, Kalideres, MT
Haryono, Tebet, Menteng, Cakung dan Cilincing4. Target utama dari pemasaran
sosial Perilaku Aman adalah orang-orang yang beraktifitas disepanjang bahu/trotoar
jalan yang terdapat jaringan pipa gas termasuk didalamnya adalah para pedagang kaki
lima dan warung-warung makanan/minuman yang berdiri disepanjang trotoar jalan.
Aktifitas tersebut berpotensi membahayakan pipa serta keamanan lingkungan dan
keselamatan dirinya sendiri maupun orang disekitarnya. Untuk itu pemasaran sosial
Perilaku Aman diharapkan dapat mengubah pemikiran dan perilaku ereka seingga
dengan sukarela mau mengjindar atau memindahkan kegiatannya ditempat lain yang
tidak terdapat jalur pipa gas bumi.
Untuk dapat mendukung perubahan pemikiran dan perilaku tersebut, dalam
strategi komunikasinya, PGN menargetkan orang-orang berpengaruh dan pemuka
masyarakat maupun pemegang kebijakan (Pemda) sebagai partner maupun agen
sosial dan komunikasi.
4
Wawancara dengan Kepala Departemen IJK3PL, 15 Maret 2012
73
Gambar 4.4.: Distribusi Resiko Jaringan Pipa Wilayah. Jakarta
Sumber : Departemen Integritas Jaringan dan K3PL PGN SBU 1 (2011)
Pembangunan jaringan pipa distribusi gas bumi PGN dibawah tanah di
wilayah perkotaan khususnya di DKI Jakarta memanfaatkan lokasi disepanjang lahan
publik dan jalur hijau seperti trotoar jalan milik Pemerintah Daerah. Hal ini dilakukan
dikarenakan tingkat kesulitan pengembangan jaringan pipa apabila melakukan
pembebasan lahan khusus di wilayah perkotaan yang padat penduduk.
Lahan publik/jalur hijau itu sendiri bukan hanya digunakan untuk jaringan
pipa distribusi gas bumi milik PGN tapi bersama-sama dimanfaatkan untuk fasilitas
publik seperti jaringan kabel listrik, fiber optik dan pipa air serta untuk pejalan kaki.
Belum lagi melihat fakta penggunaan lahan publik/jalur hijau diwilayah
perkotaan yang acapkali dimanfaatkan secara tidak resmi diantaranya untuk aktifitas
74
pedagang kaki lima, pembuangan sampah atau tempat parkir kendaraan. Hal tersebut
menjadi suatu pemandangan yang merusak tata kota dan dalam kenyataan menjadi
pemandangan umum di wilayah perkotaan.
Dan bagi PGN sendiri yang memanfaatkan lahan/jalur publik untuk
pengembangan jaringan pipa distribusinya, tidak dapat menghindari terjadinya dan
munculnya aktifitas-aktifitas yang cukup membahayakan diatas jaringan pipa yang
dilakukan oleh masyarakat.
Fakta diatas menjadi dasar PGN untuk menentukan fokus pemasaran
sosialnya yaitu mengubah perilaku masyarakat disepanjang/sekitar jaringan pipa
distribusi gas bumi dari berperilaku tidak aman menjadi berperilaku aman. Pada
akhirnya bertujuan untuk dapat membersihkan segala aktifitas tidak resmi dan
membahayakan yang dilakukan oleh masyarakat di lahan hijau/trotoar jalan yang
terdapat jalur pipa gas PGN sekaligus menjadi multiplier effect dalam mendukung
upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam membenahi pedagang kaki lima di
wilayah Jakarta, sebagaimana yang dijelaskan oleh fungsi Komunikasi PGN5 :
“Penerapan Perilaku Aman oleh masyarakat dapat menghindarkan masyarakat dari
kecelakaan-kecelakaan fatal yang berpotensi timbul disekitar jalur pipa gas yang
dapat membahayakan jiwanya dan sekaligus dapat mendukung upaya Pemerintah
dalam mengembalikan jalur trotoar/jalur hijau sesuai fungsinya dan dari aktifitas
yang tidak resmi seperti pedagang kaki lima atau parkir ilegal”
PGN kemudian memposisikan ideologi Perilaku Aman sebagai senjata utama
untuk mengubah perilaku masyarakat khususnya di wilayah DKI Jakarta melalui
pemasaran sosial.
5
Wawancara dengan Kepala Departemen Komunikasi Korporat , 13 Maret 2012
75
Dari kondisi-kondisi, fakta serta fokus komunikasi pemasaran sosial Perilaku
Aman yang teridentifikasi dari proses analisis situasi, maka selanjutnya dapat
dilakukan identifikasi sasaran serta kompetitior dalam pelaksanaan pemasaran produk
sosial Perilaku Aman oleh PGN untuk mendukung tercapainya efektifitas
komunikasi.
B. Sasaran dan Kompetitor Pemasaran Sosial Perilaku Aman
Dari hasil wawancara Peneliti dengan narasumber di PGN, terdapat 3 sasaran
komunikasi pemasaran sosial Perilaku Aman yang meliputi behaviour objective,
knowledge objective dan belief objective, sebagaimana yang dijelaskan oleh
narasumber PGN:
“Penerapan Perilaku Aman diharapkan dapat menghentikan potensi
timbulnya unsafe acts dan unsafe conditions oleh masyarakat disekitar jalur pipa gas
milik PGN. Untuk dapat mencapai itu, perlu dilakukan pengenalan Perilaku Aman
ini terlebih dahulu kepada masyarakat melalui kegiatan edukasi mengenai kelebihan
dan keuntungan penerapan Perilaku Aman disekitar jaringan pipa gas baik dalam
bidang teknis maupun non-teknis”6.
Dari penjelasan tersebut diketahui bahwa dengan edukasi yang dilakukan
terus menerus diharapkan masyarakat yang melakukan aktifitasnya disekitar jalur
pipa gas PGN dapat menyadari bahwa dengan menerapkan Perilaku Aman disekitar
jaringan pipa gas berarti melindungi diri sendiri dari kecelakaan fatal yang dapat
membahayakan jiwa serta ikut andil dalam menjaga keselamatan lingkungan dan
orang lain. Kami ingin masyarakat percaya bahwa penerapan Perilaku Aman
6
Wawancara dengan Kepala Departemen Komunikasi Korporat, 13 Maret 2012
76
merupakan tindakan yang paling bijaksana dan bertanggung jawab yang dapat
dilakukan oleh siapa saja demi keselamatan bagi diri sendiri maupun orang lain dan
lingkungan.7
Dalam pemasaran selalu terdapat kompetitor yang menghalangi tercapainya
sasaran pemasaran. Narasumber PGN dari fungsi K3PL menjelaskan bahwa dalam
memasyarakatkan Perilaku Aman untuk dapat diterima oleh masyarakat khususnya
yang melakukan aktifitas yang berpotensi membahayakan jaringan pipa, dirinya
sendiri serta lingkungan, tidaklah mudah. Beberapa aktifitas yang sebagian besar
dilakukan masyarakat disekitar jaringan/fasilitas pipa gas adalah merokok, melakukan
pembakaran/memasak, penggalian dan segala macam aktifitas yang dapat
menimbulkan percikan api sehingga membahayakan pipa gas. Namun aktifitas
tersebut merupakan kebiasaan umum yang dianggap oleh sebagian masyarakat
disekitar jaringan/fasilitas pipa gas tidak akan membahayakan.8
Berdasarkan identifikasi sasaran komunikasi dan kompetitor dalam
pelaksanaan pemasaran sosial Perilaku Aman, kemudian diidentifikasi tujuan dari
komunikasi tersebut.
C. Tujuan Komunikasi Pemasaran Sosial Perilaku Aman
Berdasarkan hasil observasi serta pengumpulan data dilapangan ditemukan
bahwa dalam menyusun tujuan komunikasi pemasaran sosial memasyarakatkan
7
8
Ibid
Wawancara dengan Kepala Departemen IJK3PL PGN SBU I, 15 Maret 2012
77
Perilaku Aman kepada masyarakat disekitar jaringan/fasilitas pipa gas, PGN
memperhatikan beberapa poin yaitu positioning, pengenalan, pemahaman dan
penerapan. Berdasarkan hal tersebut, maka PGN menentukan beberapa tujuan
komunikasi pemasaran sosial Perilaku Aman yaitu:
- Meningkatnya awareness kelompok sasaran tentang Perilaku Aman dan
keberadaan jaringan/fasilitas pipa gas disekitar mereka. Dengan peningkatan
awareness (pengenalan) dalam kelompok sasaran memungkinkan penetrasi
tujuan yang lebih lanjut.
- Meningkatnya pemahaman kelompok sasaran tentang pentingnya penerapan
Perilaku Aman; PGN berusaha meningkatkan pemahaman masyarakat
terhadap ideologi Perilaku Aman. Ideologi tersebut diharapkan dapat
mengurangi risiko kecelakaan dan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh
unsafe conditions disekitar jaringan/fasilitas pipa gas.
- Mengubah sikap kelompok sasaran menjadi positif terhadap Perilaku Aman;
Tujuan lain pada pemasaran Perilaku Aman adalah perubahan sikap serta
pandangan kelompok sasaran agar lebih positif menanggapi ‘keharusan’
penerapan Perilaku Aman apabila berada disekitar jringan/fasilitas gas.
Persepsi yang telah terbentuk dalam benak masyarakat tentang tidak penting
dan tidak berpengaruhnya Perilaku Aman tersebut bagi keselamatan mereka
harus berubah melalui promosi ideologi.
- Berubahnya perilaku masyarakat disekitar jaringan/fasilitas pipa gas dari
tidak aman menjadi ber-Perilaku Aman; Dengan penerapan Perilaku Aman,
78
PGN mencoba meraih tujuan terbesarnya yaitu bersihnya lokasi disekitar dan
sepanjang jaringan/fasilitas pipa gasnya dari segala macam aktifitas
masyarakat yang dapat membahayakan asetnya. Penerapan Perilaku Aman
merupakan cerminan kontribusi dan apresiasi masyarakat terhadap Ideologi
Perilaku Aman.
Berdasarkan tujuan diatas maka Perilaku Aman tergolong masih pada
tahapan grow (peningkatan awareness dan implementasi). Pemasaran sosial Perilaku
Aman baru berusia 3 tahun, lahir sejak PGN meluncurkan Safety Journey Roadmap
(2009) sebagai salah satu upaya mencapai service dan operations excellence menuju
Perusahaan Energi Kelas Dunia, sehingga fokus tujuan komunikasi pemasaran
sosialnya ialah peningkatan awareness yang berakhir pada penerimaan ideologi
Perilaku Aman dan mengubah perilaku kelompok sasaran sesuai yang diharapkan
oleh PGN.
D. Segmentasi dalam Pemasaran Sosial Perilaku Aman.
Dari hasil wawancara dan pengumpulan data di lapangan, PGN menentukan
segmentasi kelompok sasaran lebih berdasar pada lingkup demografis, sebagaimana
dijelaskan fungsi Komunikasi PGN :
“Kami menempatkan pembuat kebijakan dan orang berpengaruh disekitar
wilayah operasional baik dalam lingkup masyarakat, organisasi, komunitas maupun
keluarga, sebagai target utama pemasaran sosial Perilaku Aman. Dengan mengubah
perilaku/ideologi target utama tersebut memperkuat penetrasi terhadap lingkup
dibawahnya agar menerima ideologi Perilaku Aman. Jika pembuat kebijakan telah
menerima ideologi Perilaku Aman (keselamatan diri dan lingkungan) dengan begitu
regulator dan influencer menerapkan ideologi tersebut dalam membuat kebijakan.
79
Kebijakan tersebut akan mempengaruhi level segmentasi dibawahnya hingga
berakibat adanya perubahan perilaku/ideologi”.9
Penjelasan narasumber mengenai segmentasi pemasaran sosial Perilaku
Aman tersebut dapat dijelaskan lebih lanjut melalui model kategori adaptor milik
Rogers10, sebagai berikut:
a. Target Primer
Demografis
: Masyarakat yang beraktifitas langsung disepanjang jalur pipa
gas bumi, masyarakat pengguna gas bumi (pelanggan PGN
sector rumah tangga),
Psikografis
: Berpandangan terbuka, perduli terhadap keselamatan jiwa
Geografis
: Seluruh wilayah operasional distribusi PGN.
b. Target Sekunder
Demografis
: Regulator dalam Departemen Pemerintah, Tokoh Masyarakat,
Regulator Organisasi (LSM, Media, Komersil, Pendidikan),
Geografis
: Seluruh wilayah operasional distribusi PGN
Sayangnya dalam segmentasi tersebut PGN belum secara tegas mempertajam
target segmen. PGN harus mengklasifikasikan segmentasi berdasar indikator
demografis ataupun geografis yang eksplisit dan detil.
9
Wawancara dengan Kepala Departemen Komunikasi Korporat, 13 Maret 2012
Rogers, E. M., & Shoemaker, F. F.Communication of innovations: A cross-cultural approach (2nd ed.
of Diffusion of innovations). New York: Free Press, 1971, Hal. 248-250
10
80
E. Positioning Ideologi Perilaku Aman
Perilaku Aman bukan hanya menjamin keselamatan tapi juga kehidupan
merupakan salah satu pesan kunci dalam komunikasi pemasaran sosial Perilaku
Aman. Mengutip pernyataan narasumber PGN :
“Kami melakukan positioning terhadap pemasaran sosial Perilaku Aman
sebagai perilaku yang bermuatan ideologi bahwa keselamatan (safety) dimulai dari
kesadaran diri sendiri, “saya aman, kita selamat”. Kami menyebut ideologi tersebut
sebagai ideologi Perilaku Aman dimana Perilaku Aman dijalankan oleh orang-orang
yang menghargai dan peduli terhadap kehidupan dirinya, orang lain disekitarnya
serta lingkungan”.11
Dari konteks ini maka dibentuklah persepsi bahwa Perilaku Aman
merupakan wujud nyata dari kepedulian masyarakat untuk keamanan dan
keselamatan drinya sendiri, orang lain dan lingkungan khususnya bagi masyarakat
disekitar jaringan/fasilitas pipa gas bumi. Untuk menjadi bagian dari gerakan
kepedulian ini, masyarakat dapat melakukannya dengan mengadopsi ideologi dan
menerapkan Perilaku Aman dalam aktifitasnya disekitar jaringan/fasilitas pipa gas.
Masyarakat bisa berpartisipasi
dengan menjadi “tim pemasar” Perilaku Aman,
mendukung dan menjadi penggerak sekaligus pengawas penerapan Perilaku Aman
dalam rangka menjaga keselamatan diri dan lingkungannya yang terdapat jaringan
pipa gas dari aktifitas tidak aman yang dilakukan oleh individu lainnya.
Berdasarkan data diatas, dalam konteks pemasaran sosial, kelompok sasaran
tidak lagi diposisikan sebagai konsumen (end user) namun juga membantu potensi
terciptanya pengembangan masyarakat yang ber-Perilaku Aman dalam menjaga
keselamatan dan keamanan lingkungannya.
11
Wawancara dengan Kepala Divisi K3PL, 15 Maret 2012
81
Poin-poin tersebut mengindikasikan positioning Perilaku Aman menekankan
perubahan kognisi kelompok sasaran agar berpikir terbuka dan positif terhadap
ideologi Perilaku Aman.
1.2.2.
Pelaksanaan Strategi Komunikasi Pemasaran Sosial Perilaku Aman
Dari hasil pengumpulan data dilapangan melalui wawancara dan observasi
diketahui bahwa untuk memasyaratkan Perilaku Aman melalui komunikasi
pemasaran sosial, PGN mendistribusikan anggaran komunikasi pemasaran sosial
untuk 3 alat promosi yang meliputi periklanan, personal selling, dan hubungan
masyarakat. Perhatikan Tabel 2. untuk melihat rincian komunikasi pemasaran sosial
Perilaku Aman.
Tabel 4.1.: Komunikasi Pemasaran Sosial Perilaku Aman
Program
Tujuan
Periklanan
Peningkatan Awareness
Elemen
Place Adv
Place Adv
Place Adv
Humas &
Publisitas
Personal Selling
Pengenalan
Ideologi
Perilaku Aman
Mengedukasi
Masyarakat
Sosialisasi
&
Penyuluhan
Pembagian
Stiker
dan
Pameran
Pesan
Perilaku Aman sebagai
tanggung
jawab
bersama
Penerapan
Perilaku
Aman
untuk
keselamatan bersama
Potensi
Bahaya
Disekitar Jaringan Pipa
gas
Adopsi
Ideologi
Perilaku Aman
Kepedulian
terhadap
keselamatan diri dan
lingkungan
adalah
ideologi dari Perilaku
Aman
Media
Brosur
Stiker
Warning Sign
Komunikasi
Langsung
Komunikasi
Langung
82
Terlihat bahwa dalam memasyarakatkan Perilaku Aman, komponen dalam
komunikasi pemasaran sosial PGN berdasarkan pada bentuk komunikasi pemasaran
sosial yang terdiri atas periklanan, humas dan personal selling melalui Pameran.
A. Periklanan
Periklanan Perilaku Aman mengakomodir tujuan peningkatan brand
awarness melalui place advertising dalam bentuk brosur, stiker dan rambu
peringatan/warning sign. Place advertising memiliki efek memperkuat positioning
Perilaku Aman pada audience sehingga dapat meningkatkan brand awareness
Perilaku Aman. Namun pilihan media periklanan yang digunakan PGN dalam
memasyarakatkan Perilaku Aman kepada masyarakat disekitar jalur pipa/fasilitas gas
bumi di wilayah DKI Jakarta tidak terlalu banyak. Pemilihan media dilakukan dengan
tujuan dalam rangka memberikan informasi dan edukasi untuk meningkatkan
awareness masyarakat terhadap Perilaku Aman. Media yang dipilih untuk periklanan
pemasaran sosial Perilaku Aman adalah:
1. Brosur Safety (Mini Safety Booklet)
PGN menggunakan brosur/booklet sebagai marketing kit. Isi pesan yang
termuat pada brosur safety ini bersifat informatif tentang gas bumi dan
karakteristiknya serta keuntungan dan ideologi Perilaku Aman Terhadap Jaringan
Pipa/Fasilitas Gas Bumi. Informasi pada brosur dibuat lebih detil dibanding media
lain.
Brosur safety menggunakan gaya pesan yang tidak formal dilengkapi dengan
ilustrasi gambar untuk mendukung penyampaian pesan. Komponen pesan lain dalam
83
brosur adalah pesan-pesan safety yang menjadi landasan ideologi Perilaku Aman
serta pesan persuasif untuk berpartisipasi dalam gerakan kepedulian keselamatan
melalui penerapan Perilaku Aman. Pesan tersebut mengindikasikan bahwa PGN
membidik perilaku masyarakat agar berperan aktif dalam mengadopsi ideologi dan
mengenal Perilaku Aman PGN lebih mendalam. Brosur sendiri merupakan media
dengan skala penyebaran informasi cukup luas. Informasi yang terdapat dalam media
tersebut dapat mensasar semua lapisan segmen kelompok sasaran. Tujuan
penggunaan media brosur adalah pembentukan awareness dari segmen yang belum
mengetahui tentang Perilaku Aman. Feedback yang menjadi tujuan penggunaan
media brosur adalah partisipasi audience terhadap penerapan Perilaku Aman. Ajakan
tersebut mengindikasikan bahwa PGN membidik peningkataan awareness sekaligus
penguatan positioning Perilaku Aman bahwa penerapan Perilaku Aman bukan hanya
menjamin keselamatan tapi juga kehidupan.
2. Warning Sign/Rambu Peringatan
Warning Sign merupakan salah satu media luar ruang yang digunakan PGN
untuk mengiklankan Perilaku Aman. Isi pesan pada media ini besifat formal dan tidak
mendetil.
Informasi
yang
ditampilkan
merupakan
pesan
singkat
untuk
menginformasikan keberadaan jaringan pipa disuatu lokasi, informasi teknis dengan
kalimat “Dijalur ini tertanam pipa distribusi gas bumi bertekanan tinggi”, informasi
perusahaan berupa contact centre serta ilustrasi gambar /tanda dilarang merokok.
Media ini berada disepanjang jalur jaringan distribusi pipa/fasilitas gas bumi
dan diletakkan setiap 10 meter disepanjang jalur pipa. Warning sign tidak banyak
84
menggunakan kata-kata dan disesuaikan dengan segmentasi sekundernya. Informasi
dalam warning sign menyajikan instruksional Perilaku Aman melalui ikon/ilustrasi
gambar yang merupakan larangan perilaku tidak aman. Skala penyebaran informasi
melalui warning sign cukup luas dan efektif pada kelompok sasaran sekunder dengan
jumlah tak terbatas. Namun berdasarkan pesan serta media Warning Sign tersebut
maka PGN lebih menujukan informasi tersebut pada komunitas masyarakat yang
beraktifitas disepanjang jalur pipa. PGN melakukan pembidikan segmen audience
secara lebih terperinci dengan penempatan warning sign pada spot strategis dimana
segmen tersebut berada. Ketika pengguna akhir yang dituju, maka media tersebut
diletakkan pada tempat umum. Tujuan pesan melalui media warning sign ini adalah
meningkatkan awareness terhadap keberadaan jaringan pipa distribusi gas bumi dan
perilaku aman utama yang dibutuhkan disekitar jaringan tersebut. Sama halnya
dengan brosur, pesan pada warning sign tersebut bersifat dua arah (two way) karena
melalui pesan pada warning sign, feedback yang menjadi tujuannya adalah
peningkatkan awareness segmen sasaran terhadap keberadaan jaringan pipa serta
dengan menerapkan perilaku aman.
3. Stiker
Stiker merupakan media periklanan lainnya yang digunakan PGN dalam
memasyaratkan Perilaku Aman kepada masyarakat yang berada disekitar jaringan
pipa/fasilitas gas bumi. Sama halnya dengan warning sign, isi pesan pada stiker ini
besifat umum (general) dan instruksional serta tidak mendetil. Informasi yang
ditampilkan merupakan pesan singkat untuk menginformasikan hal-hal yang dilarang
85
dilakukan disekitar jaringan pipa/fasilitas gas bumi serta contact centre untuk kondisi
darurat. Stiker ini disebarkan pada saat petugas Operasi PGN melakukan patroli dan
inspeksi disepanjang jalur pipa dengan cara menempelkannya dan sekaligus
memberikan informasi kepada para masyarakat yang melakukan aktifitas misalnya
warung dan gerobak dagang yang berada disepanjang jalur pipa gas bumi.
Skala penyebaran informasi melalui personal selling dan stiker terbatas dan
hanya efektif pada kelompok sasaran sekunder dengan jumlah tertentu. Namun
berdasarkan pesan serta peletakkan media tersebut maka PGN lebih menujukan
informasi tersebut pada komunitas masyarakat secara lebih terperinci yaitu yang
beraktifitas disepanjang jalur pipa. Pesan pada stiker bersifat dua arah (two ways)
karena melalui pesan pada stiker tersebut, feedback yang menjadi tujuannya adalah
adanya awareness segmen sasaran terhadap keberadaan jaringan pipa serta dengan
menerapkan perilaku aman.
B. Hubungan Masyarakat
Besarnya potensi yang dimiliki oleh Humas, telah menarik perhatian PGN
untuk menjadikannya menjadi perangkat andalan. Humas berperan besar dalam
peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap ideologi dan produk Perilaku Aman.
Mengutip pendapat Haris dalam Arens bahwa12:
“In support of marketing, public relations activities can raise awareness, inform
and education, improve understanding build trust, make friends, give people
reason or permission to buy, and create a climate of consumer acceptanceusually better than advertising”
12
Arens, William F. 2002. Contemporary Advertising. New York: McGraw-Hill Companies. Hal. 340
86
Dari kesemua elemen Humas dalam memasarkan Perilaku Aman,
sosialisasi/penyuluhan untuk mengkomunikasikan nilai sosial Perilaku Aman
memiliki andil yang paling besar.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi Peneliti di lapangan ditemukan
bahwa dalam pelaksanaan komunikasi pemasaran sosial untuk memasyarakatkan
Perilaku Aman kepada masyarakat disekitar jaringan distribusi pipa gas bumi, PGN
menganggap bahwa saluran komunikasi secara khusus dianggap paling efisien dan
efektif dalam penyampaian pesan dengan tujuan mempersuasi, mengubah sikap dan
membentuk perilaku baru masyarakat, sebagaimana dijelaskan oleh fungsi
Komunikasi PGN:
“Mengingat kemajuan teknologi dan pertumbuhan media informasi yang
semakin beragam, masyarakat semakin terfragmentasi menjadi kelompok yang
memiliki karakteristik masing-masing. Sehingga lebih efektif jika media
diprioritaskan melalui media yang lebih personal (segmented) dan kami belum
berpikir bahwa penggunaan media massa dibutuhkan dan optimal efektifitasnya saat
ini. Komunikasi tatap muka melalui kegiatan sosialisasi dan penyuluhan dianggap
lebih efektif karena adanya peluang mengindividualisasikan penyampaian pesan dan
umpan balik”.13
Dalam saluran ini, PGN menyadari kuatnya pengaruh “faktor ucapan” atau
“perkataan dari mulut ke mulut” yang berasal dari saluran pakar dan sosial dalam
menciptakan hubungan baru. Oleh karena itu PGN mengutamakan komunikasi
langsung/tatap muka melalui sosialisasi/penyuluhan sebagai media komunikasinya.
Hal ini sesuai dengan penjelasan seorang narasumber PGN:
“Sampai saat ini untuk memasyarakatkan Perilaku Aman ini lebih
difokuskan dengan menggunakan sosialisasi atau penyuluhan tatap muka. Pilihan ini
13
Wawancara dengan Kepala Departemen Komunikasi Korporat, 13 Maret 2012
87
berdasarkan pada pertimbangan, sosialisasi/penyuluhan lebih efektif digunakan
untuk sebagian besar masyarakat. Selain itu pertimbangan lainnya adalah aggaran
yang tersedia. Memanfaatkan media lain seperti iklan layanan masyarakat melalui
media eletronik seperti televisi membutuhkan anggaran yang cukup besar, sedangkan
dalam anggaran untuk kegiatan komunikasi publik di PGN terbatas khususnya di unit
operasional PGN seperti di SBU I. Oleh karena itu, walaupun hasil yang dicapai
belum maksimal, namun sosialisasi/penyuluhan tatap muka menjadi pilihan prioritas
pemasaran”.14
Sosialisasi atau penyuluhan dilaksanakan di kelurahan-kelurahan dalam
wilayah DKI Jakarta khususnya kelurahan yang termasuk klasifikasi wilayah high
risk. Sosialisasi atau penyuluhan dilaksanakan dalam bentuk ceramah edukasi yang
disampaikan oleh petugas PGN dari fungi Komunikasi/Humas, K3PL dan
Operasi/Penjualan. Materi penyuluhan meliputi hal-hal yang terkait dengan
Keamanan dan Keselamatan disekitar jaringan pipa distribusi gas bumi, selain itu
juga diberikan penjelasan tentang profil brand PGN secara umum serta hal-hal yang
terkait dengan pemanfaatan gas bumi.
Sasaran penyuluhan, tokoh-tokoh masyarakat seperti Ketua RT, RW, Karang
Taruna, Alim Ulama. Diutamakannya tokoh-tokoh masyarakat sebagai khalayak
sasaran karena kedudukannya dilingkungan sosial menjadi panutan sekaligus dapat
bertindak
sebagai
pemuka
pendapat
(opinion
leader)
yang
diharapkan
menyebarluaskan hasil-hasil penyuluhan yang diterima. Setiap tahun anggaran
sosialisasi/penyuluhan Perilaku Aman yang dapat dilaksanakan sangat terbatas.
Untuk wilayah Jakarta pada tahun 2011 hanya 23 kali dalam setahun.
14
Ibid
88
Pemanfaatan
media
komunikasi
langsung/tatap
muka
melalui
bentuk
sosialisasi/penyuluhan untuk memasyarakatkan Perilaku Aman memungkinkan
terciptanya interaksi komunikasi antara dua atau lebih individu sehingga dapat dijalin
saling pengertian untuk membentuk suatu perubahan perilaku sesuai pesan yang
dikomunikasikan. Selain itu, penyuluhan tatap muka cukup efektif dalam
mempersuasi, membentuk dan mengubah sikap serta mengubah dan membentuk
perilaku baru. PGN menganggap bahwa sosialisasi/penyuluhan tatap muka
merupakan suatu proses edukasi, memberi pengetahuan, informasi dan kemampuan
kepada masyarakat, agar mereka dapat menerima dan mengadopsi sikap dan perilaku
sesuai yang diharapkan
Model komunikasi ini memiliki kelebihan dibandingkan dengan media lainnya.
Kelebihannya terletak pada tanggapan, respon serentak pada saat sosialiasi dan
dengan demikian segala sesuatu bisa dibuat lebih jelas dalam kondisi riil,
sebagaimana penjelasan narasumber PGN :
”Dengan media sosialisasi/penyuluhan tatap muka terdapat hubungan yang
akrab antara petugas kami dan masyarakat. Disamping memberikan sosialisasi,
petugas kami juga dapat menyerap permasalahan yang dihadapi masyarakat.
Sedangkan masyarakat sendiri secara langsung dapat mengemukakan masalahmasalah yang dihadapinya berkaitan dengan Perilaku Aman yang dibutuhkan”15.
Saluran publisitas melalui media massa dalam upaya meningkatkan
awareness masyarakat terhadap Perilaku Aman belum dianggap efektif oleh PGN.
Dana yang cukup besar yang dibutuhkan dalam publisitas media massa dianggap
belum sebanding dengan hasil dari tujuan komunikasi Perilaku Aman ini. Dalam
15
Wawancara dengan Kepala Departemen Komunikasi Korporat, 13 Maret 2012
89
artian bahwa tujuan komunikasi pemasaran sosial Perilaku Aman belum dianggap
cukup penting dan representative untuk meningkatkan brand awareness korporat.
Sedangkan penggunaan Majalah PGN Inside, yaitu majalah internal yang
juga dapat dikonsumsi secara gratis oleh stakeholder eksternal belum menjadi pilihan
dalam memasyaratkan Perilaku Aman. Menurut informasi Kepala Departemen
Komunikasi Korporat, distribusi majalah internal tersebut masih dalam lingkup
internal dan membidik para stakeholder seperti pihak regulator dan instansi
Pemerintahan. PGN menganggap bahwa segmen masyarakat bukanlah audience dari
Majalah PGN Inside tersebut.
C. Personal Selling
Perangkat komunikasi pemasaran sosial lain seperti personal selling
termasuk dalam bentuk komunikasi yang cukup diandalkan PGN dalam pemasaran
Perilaku Aman. Namun proses komunikasi melalui personal selling masih berjalan
pada media terbatas (pameran) dan pada saat petugas PGN melakukan kegiatan
patroli disekitar jaringan pipa gas bumi. Selain itu juga keterbatasan cakupan
informasi yang dapat disebarkan melalui proses komunikasi personal selling
menjadikannya belum meraih potensi maksimal.
Pameran sebagai suatu kegiatan yang menunjukkan sesuatu kepada orang
banyak mengenai kelebihan, keunggulan dan atau informasi yang dimiliki suatu
produk pada hakekatnya merupakan suatu media iklan. Dengan harapan masyarakat
pengunjungnya tertarik dan mau bertindak atau membeli sesuai yang dipamerkan.
Menyadari efektifnya pameran sebagai saranan komunikasi kepada khalayak
90
masyarakat, PGN dalam upaya memasyarakatkan Perilaku Aman menjadikan
pameran sebagai salah satu media strategi komunikasi pemasarannya. Media pameran
yang diikuti adalah pameran pembangunan ataupun pameran rakyat lainnya yang
sifatnya umum.yang diselenggarakan setiap tahun seperti misalnya pameran dalam
rangka memperingati HUT Kota Jakarta, Pekan Raya Jakarta.
Melalui pameran, materi Perilaku Aman ditampilkan dalam bentuk brosur
yang disampaikan oleh petugas PGN yang dilengkapi dengan penjelasan langsung
oleh petugas tersebut yang dibantu oleh visualisasi berupa gambar-gambar ilustrasi
maupun foto mengenai partisipasi masyarakat dalam penerapan Perilaku Aman serta
himbauan-himbauan agar masyarakat menjalankan Perilaku Aman tersebut.
Walaupun nampak bahwa segmen audience dari kegiatan ini adalah
masyarakat umum dari seluruh segmen namun lebih efektif terhadap masyarakat
pengguna gas bumi yang berdomisili di wilayah yang terdapat jaringan pipa gas
bumi. Namun demikian, komunikasi pemasaran sosial melalui personil selling
petugas PGN di kegiatan pameran dapat dijadikan sebagai pendukung dalam
memasyaratkan Perilaku Aman. Dengan demikian, komunikasi pemasaran sosial
Perilaku Aman pada kegiatan pameran dapat berefek pada proses edukasi kepada
khalayak masyarakat secara personal untuk mengadopsi ideologi Perilaku Aman.
91
1.2.3. Evaluasi Strategi Komunikasi Pemasaran Sosial Perilaku Aman
Dari hasil wawancara dengan para responden masyarakat terhadap
Impementasi Komunikasi Pemasaran Sosial Perilaku Aman PGN, diperoleh
penjelasan sebagai berikut 16:
-
Kategori sosial ekonomi rendah:
Masyarakat pada kategori ini kurang mengetahui dan memahami tentang
penerapan Perilaku Aman terhadap jaringan pipa gas bumi disekitar lokasi/wilayah
mereka, sebagaimana dituturkan seorang responden:
“Saya tidak tahu kalau dibawah trotoar ini ada jaringan pipa gas. Saya
tidak pernah lihat papan pengumumannya. Saya juga tidak tahu bahwa harus ada
perilaku khusus apabila berada disekitar pipa gas. Sudah bertahun-tahun saya buka
warung kopi disini, tapi tidak pernah ada kejadian apa-apa”.
Responden lainnya menjelaskan bahwa pengetahuan mereka tentang
keberadaan jaringan pipa gas bumi dari patroli jaringan yang dilakukan oleh petugas
PGN yang sekaligus menempelkan stiker Perilaku Aman.
“Mereka menempelkan stiker diwarung saya, isinya dilarang melakukan
kegiatan yang menimbulkan api karena dapat membahayakan pipa. Kalau cuma
ditempeli stiker saja tidak masalah, tapi selama kami berdagang disini, tidak pernah
terjadi ledakan pipa. Kalau harus melakukan semua aktifitas seperti yang ada ada
distiker ini, maka kami bisa menjadi kehilangan penghasilan, karena itu sama saja
dilarang berdagang dilokasi ini”.
Selain rambu peringatan dan stiker yang kurang dipahami oleh masyarakat
dalam upaya memasyarakatkan Perilaku Aman disekitar jaringan pipa gas bumi,
responden lain menambahkan bahwa walaupun mereka pernah mengikuti penyuluhan
16
Wawancara dilakukan di wilayah Menteng, Tebet, MT Haryono,Tanah Abang, Cideng, Ancol, Dewi
Sartika pada 24-25 April 2012
92
di Kelurahan tentang keamanan jaringan pipa disekitar wilayah kami, namun bagi
beberapa diantaranya yang juga merupakan pengguna gas bumi, penyampaian
informasi tersebut sebaiknya dilakukan oleh petugas yang kompeten dan dengan
bahasa yang tidak terlalu sulit. Karena bagi sebagian besar warga, adanya bahaya
apabila berperilaku tidak aman didekat jaringan pipa gas belum begitu diperdulikan
warga karena aktifitas yang sudah lama bahkan bertahun-tahun mereka lakukan disini
tidak pernah menimbulkan bahaya apapun bagi mereka dan lingkungan.
Bagi masyarakat di kategori ini, bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh
mereka yang beraktifitas tidak aman disekitar jaringan pipa tidak menjadi perhatian
yang penting dikarenakan pengalaman yang mereka miliki pada saat beraktifitas
dilokasi tersebut tidak pernah menimbulkan kerugian apapun bagi mereka. Selain itu
bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilannya dari aktifitas mereka
disepanjang jaringan pipa/fasilitas gas bumi yang berada disepanjang koridor jalan,
penerapan Perilaku Aman tersebut justru dianggap akan menghilangkan sumber
penghasilan mereka. Dengan begitu, media rambu peringatan/warning sign dan stiker
juga menjadi kurang efektif bagi masyarakat dikategori ini. Namun bagi sebagian
masyarakat lagi menganggap bahwa sosialisasi atau komunikasi langsung petugas
PGN pada saat sosialisasi atau pada saat mereka patroli dan membagikan stiker
dilakukan secara konsisten, dapat menjadi media komunikasi yang bagus dalam
membentuk kesadaran masyarakat untuk berperilaku aman disekitar jaringan pipa
gas.
93
-
Kategori sosial ekonomi menengah
Kelompok masyarakat ini mengetahui adanya jaringan pipa gas diwilayah
mereka dan perilaku aman yang diharapkan dilakukan masyarakat apabila berada
disekitar jaringan pipa gas tersebut. Mereka mendapat pengetahuan tersebut melalui
sosialisasi/penyuluhan yang dilakukan dikelurahan serta media lainnya seperti brosur
dan rambu peringatan.
Pada dasarnya sosialisasi/penyuluhan masih merupakan media yang cukup
andal untuk memasarkan Perilaku Aman pada masyarakat kategori ini. Sebagaimana
dikemukakan oleh seorang responden seperti berikut:
“Bagi masyarakat dilingkungan saya, penyuluhan tatap muka masih
merupakan media komunikasi yang informatif. Hanya saja perlu diimbangi dengan
petugas yang handal, dalam arti mereka mampu berkomunikasi dengan baik dan
menguasai secara utuh materi yang disampaikan. Menurut saya faktor penyuluh
sebagai sumber informasi penting, sebab sering terjadi pesan yang disampaikan
menjadi kabur pengertiannya karena kurangnya persiapan atau penyuluh tidak
menjiwai teknik berkomunikasi, mereka memberikan sosialisasi karena untuk
melaksanakan tugas”.
Responden lainnya pada kelompok ini yang merupakan Ketua RT
diwilayahnya mengatakan bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami
secara tepat tentang Perilaku Aman. Oleh karena itu, menurutnya diperlukan
pemanfaatan iklan layanan masyarakat melalui media elektronik, televisi atau radio
yang dapat menggambarkan bahaya-bahaya yang dapat terjadi dengan tidak mau
tahunya masyarakat terhadap penerapan Perilaku Aman dilingkungan yang terdapat
jaringan pipa gas bumi. Menurutnya iklan, baik di televisi maupun radio dapat
94
menggugah kesadaran masyarakat untuk menjaga Perilaku Aman terhadap jaringan
pipa gas bumi di lingkungan mereka.
Responden lain yang merupakan Ketua RW di lingkungan tersebut
menambahkan bahwa sosialisasi melalui komunikasi tatap muka hendaknya dibatasi
pada kelompok-kelompok masyarakat yang relatif sulit untuk diberi pengertian
tentang perlunya penerapan Perilaku Aman disekitar jaringan pipa gas bumi.
Sedangkan untuk menjaga kesinambungan ingatan masyarakat tentang Perilaku
Aman, media iklan layanan masyarakat sangat strategis untuk dimanfaatkan.
“Saya melihat PGN belum maksimal memanfaatkan media massa sebagai
media pemasaran Perilaku Aman ini. Sudah banyak kegiatan-kegiatan lain berhasil
mencapai tujuannya dengan dikomunikasikan melalui iklan layanan masyarakat.
Sebaiknya iklan tersebut harus dikemas dengan menarik sehingga mendapat
perhatian masyarakat dan secara perlahan mampu mendidik masyarakat sesuai isi
pesan yang disampaikan”.
Keadaan yang menunjukkan petugas PGN belum maksimal dalam menguasai
teknik berkomunikasi secara efektif, diakui oleh narasumber dari PGN :
“Kami menyadari kemampuan berkomunikasi teman-teman dilapangan lebih
banyak diperoleh berdasarkan pengalaman praktek bukan berdasarkan pembekalan
keterampilan tentang teknik berkomunikasi.”
Besarnya perhatian responden pada kelompok ini tentang manfaat
penggunaan media massa memang dapat dimaklumi mengingat media massa
merupakan media komunikasi yang dapat menjangkau khalayak secara lebih luas lagi
sehingga pesan yang akan disampaikan dapat menjadi perhatian sesuai dengan
segmen-segmennya.
95
-
Kategori sosial ekonomi atas
Tidak jauh berbeda dengan masyarakat kategori sosial ekonomi menengah,
masyarakat kategori ini memperoleh informasi tentang Perilaku Aman melalui media
luar ruang yang digunakan PGN seperti warning sign dan juga brosur. Seorang
responden menjelaskan bahwa:
”Sosialisasi/penyuluhan tatap muka yang dilaksanakan PGN untuk
memasyarakatkan Perilaku Aman sudah tidak representatif lagi. Disamping
kemampuan berkomunikasi dari para penyuluh yang perlu ditingkatkan, kegiatan
tersebut juga tidak mengena sasarannya sebab yang hadir tidak lagi sesuai target
undangan. Banyak pesertanya yang diwakili oleh pihak lain”.
Responden dari kelompok masyarakat kategori ini menganggap bahwa
bentuk komunikasi melalui sosialisasi/penyuluhan yang dilakukan PGN tidak kreatif
dan membosankan hanya dengan penyampaian pesan melalui presentasi dan diskusi.
Bagi mereka apabila kegiatan seperti ini masih ingin diandalkan dalam
memasyaratkan Perilaku Aman khususnya untuk dapat diterima secara positif dan
terbuka serta dapat dipahami masyarakat, sebaiknya dibuat dalam kemasan kegiatan
yang lebih bervariasi dan menarik. Dalam artinya kegiatan tersebut bukan hanya
menjadi rutinitas pelaksanaan tugas oleh PGN tapi dapat menjadi suatu kegiatan yang
justru dinanti dan diharapkan oleh masyarakat. Misalnya ditambah dengan hiburan
atau pemberian hadiah.
Dalam pandangan responden kategori sosial ekonomi atas bahwa sudah
saatnya PGN dalam upayanya meningkatkan partisipasi masyarakat dalam hal
penerapan Perilaku Aman terhadap jaringan pipa/fasilitas gas bumi melakukan
kerjasama atau partnership dengan otoritas lokal. Kerjasama disini dalam artian
96
mengoptimalkan otoritas lokal tersebut sebagai agen komunikasi dalam proses
memasyaratkan Perilaku Aman tersebut misalnya dengan memberikan bantuan
training atau workshop untuk meningkatkan pengetahuan mereka mengenai Perilaku
Aman serta bantuan fisik lainnya yang dapat mendekatkan para otoritas lokal ini
dengan budaya safety seperti pemberian bantuan peralatan safety untuk Kelurahan
ataupun Kecamatan yang dapat disampaikan melalui pelaksanaan kegiatan
sosialisasi/penyuluhan.
Masyarakat kategori ini juga memandang pentingnya pemanfaatan media
massa dalam pemasaran sosial Perilaku Aman PGN.
“Menurut hemat saya, media massa seperti televisi, radio dan media cetak
lebih tepat digunakan dalam memasarkan Perilaku Aman. Tetapi perlu diperhatikan
kemasan pesannya harus menarik dan kontinuitas penyampaian pesan melalui media
massa harus konsisten sehingga mendapat tempat dihati masyarakat. Tidak
dilakukan sesaat saja.”
Agar pemasaran Perilaku Aman dapat berhasil dengan diterimanya pesan
yang terkandung dalam Perilaku Aman tersebut secara positif dan terbuka serta dapat
diterapkan oleh masyarakat, berdasarkan respon atas media yang sudah dimanfaatkan
PGN, terlihat kecenderungan memilih bentuk komunikasi kehumasan dan publisitas
melalui media komunikasi langsung seperti sosialisasi/penyuluhan yang dikemas
dalam bentuk yang lebih modern dan mampu menarik perhatian masyarakat serta
pemanfaatan media massa sebagai media yang strategis untuk memasarkan Perilaku
Aman kepada masyarakat disekitar jaringan distribusi/fasilitas gas bumi.
97
1.3. Pembahasan
Berdasarkan uraian terdahulu diketahui bahwa PGN dalam memasyarakatkan
Perilaku Aman kepada Masyarakat disekitar jaringan distribusi pipa/fasilitas gas
bumi diwilayah DKI Jakarta menggunakan sumber daya komunikasi yang sebagian
besar merupakan media komunikasi below the line (BTL), termasuk didalamnya
adalah alat-alat pendukung publikasi dan pengenalan seperti brosur, stiker dan rambu
peringatan serta kegiatan sosialisasi/penyuluhan dan personal selling melalui
pameran. Dari hasil wawancara dengan narasumber dari PGN dapat disimpulkan
bahwa PGN menyadari sepenuhnya bahwa memasyaratkan Perilaku Aman tidak akan
membuahkan hasil yang baik sesuai tujuan yang akan dicapai tanpa dukungan media
komunikasi yang efektif dalam prosesnya. Pendayagunaan media komunikasi
tersebut dipandang sebagai suatu usaha yang strategis untuk membentuk masyarakat
yang sadar, bertindak dan berperilaku aman disekitar jaringan pipa gas bumi. Hal ini
dilandasi dari pemikiran bahwa semua strategi dan taktik pemasaran yang
dilaksanakan melalui media komunikai adalah untuk mempengaruhi perilaku.
Oleh karena itu pemasaran dengan menggunakan media komunikasi menjadi
bagian terpenting dalam usaha memasyaratkan Perilaku Aman ini. Apalagi substansi
ideologi dari Perilaku Aman sangat erat kaitannya dengan pembentukan perilaku.
Pemahaman akan strategisnya pemasaran sosial dalam mendukung upaya PGN untuk
menciptakan lingkungan yang aman baik bagi aset operasionalnya maupun bagi
masyarakat. Dan untuk mewujudkannya membutuhkan peran serta masyarakat.
98
Melalui ideologi Perilaku Aman, kelompok sasaran dipersuasi untuk menganut
pemikiran dan tindakan secara khusus. Seperti pemikiran bahwa perilaku yang tidak
membahayakan jaringan pipa gas bumi sangat penting dilakukan demi keselamatn
diri dan lingkungan. Dengan demikian ideologi Perilaku Aman merupakan produk
yang dijual dalam komunikasi pemasaran sosial Perilaku Aman untuk mengatasi
masalah yang ada. Ideologi menjadi dasar bagi pesan persuasif komunikasi
pemasaran Perilaku Aman untuk mengubah kognisi masyarakat disekitar jaringan
distribusi pipa gas bumi tentang masalah sosial yang menghinggapinya.
Pesan yang disosialisasikan ke masyarakat adalah menjaga keamanan dan
keselamatan lingkungan dari potensi bahaya yang ditimbulkan aktifitas tidak aman
disekitar jaringan pipa gas bumi adalah tanggung jawab bersama. Untuk itu, segala
aktifitas yang dilakukan masyarakat disekitar jaringan pipa gas bumi seharusnya
bukannya kegiatan yang berpotensi membahayakan agar tidak menimbulkan
kecelakaan fatal yang pada gilirannya dapat merugikan masyarakat sendiri khususnya
keselamatan lingkungan. Oleh karena itu kesadaran untuk menerapkan Perilaku
Aman disekitar jaringan distribusi pipa gas bumi harus dibudayakan sebagai perilaku
hidup masyarakat sehari-hari. Pesan ini sarat kaitannya dengan sikap dan perilaku
manusia sebagai anggota masyarakat. Kenyataan ini memperkuat argumentasi bahwa
penggunaan pemasaran sosial adalah pilihan yang tepat untuk memasyaratkan
Perilaku Aman tersebut.
Hal yang sangat penting dalam pengembangan strategi komunikasi
pemasaran sosial untuk produk sosial seperti Perilaku Aman adalah adanya
99
pemahaman terhadap perilaku khalayak sebagai kelompok sasaran sehingga pesan
dapat disampaikan dengan efektif dan efisien. Mengubah perilaku yang selama ini
sudah eksis dan dianggap sudah mapan bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi
perubahan–perubahan yang diinginkan seringkali tidak membawa keuntungan
material pada sasaran yang dituju atau tidak membawa keuntungan langsung.
Strategi-strategi yang dikembangkan tidak semata-mata memfokuskan pada
aktivitas public relations dan advertising saja, namun ada fungsi-fungsi edukasi,
seperti yang dinyatakan oleh Les Robinson dalam Tujuh Pendekatan Social
Marketing. Menurut Les17, edukasi dalam komunikasi pemasaran sosial bukan
merupakan sesuatu yang mudah karena berkaitan dengan perubahan perilaku yang
diharapkan. Mengubah perilaku adalah sebuah proses yang panjang dalam
komunikasi pemasaran sosial, namun sangat penting. Bagi organisasi profit seperti
PGN, edukasi terkait produk sosial yang ingin dipasarkan sering menggunakan alat
(tools) public relations dan advertising. Dalam sosial marketing, edukasi
menggunakan
community
development,
training,
recruitment,
penyediaan
infrastruktur termasuk melakukan edukasi kepada para pengambil kebijakan.
Tujuannya sama adalah perubahan perilaku.
Pelaksanaan komunikasi pemasaran sosial mengacu pada tahapan-tahapan
perubahan perilaku ini tersebut, dan tentu saja mempercayai bahwa perubahan
perilaku khalayak sasaran merupakan sebuah proses. Tingkatan-tingkatan ini
mengindikasikan pentingnya mengidentifikasi tahapan-tahapan perubahan yang
17
Robinson, Les. A Presentation to Waste Educate Conference, 1998
100
diinginkan. Hal ini akan berkaitan dengan khalayak sasaran yang akan dituju
termasuk pada jenis media dan jenis pesan yang akan digunakan.
Penggunaan media dalam tahap pemberitahuan/pengenalan akan berbeda
dengan ketika khalayak sasaran sudah memiliki informasi namun belum berperilaku
seperti yang diinginkan. Secara umum, tingkatan-tingkatan perubahan perlaku
tersebut: 1) Belum tahu: khalayak tidak sadar akan adanya masalah atau resiko
pribadi bagi mereka; 2) Tahu: sadar akan adanya masalah dan mengetahui perilaku
yang diinginkan; 3) Setuju: setuju dengan perilaku yang diinginkan; 4) Berminat:
bermaksud secara pribadi melakukan tindakan yang diinginkan; 5) Praktek:
melakukan perilaku yang diinginkan dan 6) Mengadvokasi: mempraktekkan perilaku
yang diinginkan sekaligus memberitahukannya kepada orang lain.18
Secara umum dalam perencanaan kegiatan komunikasi pemasaran sosial
Perilaku Aman yang dilakukan PGN masih kurang mempertimbangkan kerangka
kerja dengan memperhatikan tingkatan-tingkatan perubahan perilaku dalam
menentukan pilihan media dan pesan yang akan disampaikan. Dampaknya adalah
generalisasi terhadap khalayak sehingga pesan yang disampaikanpun seringkali
kurang terfokus.
Dalam kaitannya dengan perencanaan strategi komunikasi pemasaran sosial
yang dilakukan PGN masih terbatas pada kebutuhan volume kegiatan, misalnya
sosialisasi/penyuluhan berapa kali harus dilaksanakan dalam setahun. Sedangkan
perencanaan media dan pesan yang disampaikan belum dilakukan. Begitu juga
18
John Hopkins University, Center for Communication Program, 2003, Hal.8
101
dengan penempatan penyuluh untuk setiap lokasi belum didasarkan pada kompetensi
dan kemampuan berkomunikasinya.
Selanjutnya
berkaitan
dengan
pencapaian
tujuan
organisasi
yang
dioperasionalisasi dalam pelaksanaan kegiatan komunikasi pemasaran sosial Perilaku
Aman, PGN melakukan integrasi dengan kegiatan edukasi melalui bentuk
sosialisasi/penyuluhan. Namun strategi yang dilakukan ini kurang efektif dan efisien.
Sekali lagi, ketidakefisienan ini bukan hanya karena bentuk strateginya namun
seringkali rancangan siapakah khalayak sasarannya tidak didefinisikan dengan baik
sehingga sasarannya menjadi bias dan tidak bisa terukur. Selain itu juga mengabaikan
aspek tujuan dan sasaran audiens/khalayak yang menjadi unsur penting dalam
mengkomunikasikan sebuah pesan yang ingin disampaikannya. Pemilihan audiens
dan pesan yang disampaikan tidak dirancang dengan cermat bahkan tidak
diidentifikasi secara mendetail bagaimana karakteristik dan perilaku audiens sasaran.
Pengkomunikasian pesan seringkali dilakukan berdasarkan kebiasaan dan rutinitas
yang pernah dilakukan dengan kurang memperhatikan target sasaran, tujuan dan
pesan yang ingin disampaikan.
Dalam segmentasi primernya, PGN membidik para masyarakat yang
beraktifitas langsung disepanjang jaringan pipa gas bumi. Sedangkan target
sekundernya adalah regulator, pemuka masyarakat dan orang bepengaruh lainnya.
Persoalannya, PGN belum secara tegas mempertajam tiap segmen tersebut.
Segmentasi belum menjawab pertanyaan mengenai siapa para masyakarat disekitar
jaringan pipa gas yang menjadi target audience. Atau siapa pengguna akhir yang
102
dibidik untuk mengadopsi ideologi Perilaku Aman melalui komunikasi pemasaran
sosial? Apakah pengguna gas bumi atau masyarakat umum yang beraktifitas di
disekitar jaringan pipa? Atau para lokal otoritas? Jika begitu, maka siapakah yang
harus diprioritaskan untuk mengadopsi ideologi Perilaku Aman? Dengan penegasan
segmentasi maka komunikasi pemasaran sosial Perilaku Aman akan lebih efektif.
Para pengguna gas bumi merupakan segmen dengan level adopsi paling
tinggi dibanding yang lain. Membidik audience dari segmen ini sebagai agen sosial
merupakan hal yang cukup krusial, namun tidak harus menjadikan para pengguna gas
bumi ini sebagai segmen dengan prioritas utama.
Sesuai perencanaan awal, tujuan komunikasi pemasaran sosial Perilaku
Aman adalah peningkatan awareness. Peningkatan awareness tersebut tidak terfokus
pada para pengguna gas bumi saja karena terdapat segmen masyarakat lain yang
menjadi tujuan adopsi Perilaku Aman, yaitu masyarakat lain yang mungkin bukan
pengguna gas bumi namun beraktifitas dan berada disekitar/sepanjang jaringan pipa
gas bumi PGN serta segmen regulator.
Untuk para regulator, PGN perlu meletakkan konsentrasi pemasaran Perilaku
Aman dengan penggunaan lobby, seminar dan workshop. Sedangkan kepada para
masyarakat yang beraktifitas di sepanjang jalur pipa gas bumi perlu mendapat skala
prioritas berdasar tujuan komunikasi pemasarana sosial Perilaku Aman.
Keraguan PGN untuk menentukan secara tegas target audience berdampak
pada tidak efektif dan efisiennya penentuan media yang digunakan dalam komunikasi
103
pemasaran sosial Perilaku Aman yang tidak tepat. Akibatnya, komunikasi pemasaran
sosial Perilaku Aman yang membidik perubahan perilaku tidak optimal.
Media-media pemasaran yang sering digunakan pada produk-produk
komersil belum optimal dimanfaatkan oleh PGN dalam pemasaran sosial Perilaku
Aman. Bahkan penggunaan medianya yang didominasi oleh media lini bawah (below
the line) intensitasnya juga relatif rendah.
Media lini atas (above the line) seperti media cetak, radio dan televisi belum
dioptimalkan oleh PGN dalam memasarkan Perilaku Aman. PGN belum
memanfaatkan penggunakan iklan sebagai media pemasaran. Sedangkan iklan dilihat
dari segi pengaruh terpaannya kepada masyarakat cukup tinggi. Apalagi kalau isi
pesannya mampu secara maksimal memposisikan Perilaku Aman kedalam benak
khalayak sasarannya
PGN
juga
belum
mengoptimalkan
perangkat
humas
selain
sosialisasi/penyuluhan, yaitu publisitas. Padahal PGN sendiri mempunyai majalah
internal PGN Inside yang dapat dimanfaatkan untuk sasaran kelompok tertentu untuk
menyebarkan informasi dan mengedukasi masyarakat mengenai Perilaku Aman
sekaligus mempromosikan dan meningkatkan brand awareness PGN serta Prilaku
Aman tersebut kepada kelompok sasaran.
Persoalan lainnya ialah skenario kegiatan sosialisasi/penyuluhan Perilaku
Aman yang dimiliki PGN sebagai bagian dari komunikasi pemasaran sosial. Dari
hasil pengamatan dan penelitian diperoleh hasil bahwa dalam sosialisasi/penyuluhan
tersebut terutamanya membidik segmen pengguna gas bumi/pelanggan. Tujuannya
104
agar para pengguna gas bumi tersebut dapat menjadi agen sosial dan komunikasi
PGN dalam memasarkan Perilaku Aman kepada anggota masyarakat lainnya diluar
segmen tersebut yang berada disepanjang jaringan pipa gas untuk berperilaku aman
dalam upaya menjaga keselamatan lingkungan. Selain menciptakan agen komunikasi,
harapan lainnya adalah untuk memperkuat brand recognition diantara masyarakat
pengguna gas bumi maupun yang berada disekitar/sepanjang jaringan pipa gas bumi.
Walaupun secara umum, sosialisasi/penyuluhan tatap muka masih dianggap
efektif sebagaimana yang telah disampaikan para responden, namun masih perlu
diperhatikan kemampuan berkomunikasi dari para petugas PGN yang melakukan
sosialisasi/penyuluhan.
Kondisi sebagaimana yang disebutkan diatas tentunya tidak akan melahirkan
interaksi yang efektif antara penyuluh dan yang disuluh sedangkan interaksi
merupakan komunikasi yang dicita-citakan dalam penyuluhan. Kompetensi
berkomunikasi tidak diragukan lagi merupakan sesuatu prasyarat yang dibutuhkan.
Tanpa kemampuan berkomunikasi yang memadai, rasanya agak sulit bagi seorang
penyuluh untuk dapat sukses dalam tugasnya menyampaikan informasi dan mengajak
anggota masyarakat dalam hal pengetahuan, sikap dan perilaku.
Hal tersebut dipertegas bahwa idealnya seorang penyuluh memiliki latar
belakang teoritis komunikasi yang cukup luas, sehingga ia dengan tangkas dapat
bermanuver dalam menghadapi berbagai situasi nyata di lapangan. 19
19
Nasution, Zulkarnain. 1990. Prinsip-Pronsip Komunikasi Untuk Penyuluhan , Hal. 22
105
Perubahan sikap mental seseorang berhubungan positif dengan persepsinya
mengenai kredibilitas sumber. Jika seorang khalayak mempunyai persepsi bahwa
penyuluh memiliki kepribadian yang relatif lebih tinggi dari yang lain, maka ia akan
menerima kepada pesan-pesan yang disampaikan.
Pada
kegiatan
ini,
Peneliti
melihat
bahwa
untuk
kegiatan
sosialisasi/penyuluhan dengan audience dominan para pengguna gas bumi, PGN
seharusnya mampu mengeksplorasi bagaimana kegiatan tersebut mampu mendapat
ruang publisitas dalam media massa. Selain itu juga, PGN harus mampu melakukan
atau melaksanakan sebuah kegiatan/event dengan audience yang bukan pengguna gas
bumi. Dalam artian event dalam bentuk sosialisasi dan penyuluhan tersebut memiliki
audience yang lebih luas termasuk didalamnya para masyarakat yang beraktifitas di
sepanjang jaringan pipa gas bumi dengan jumlah yang cukup besar. Namun dengan
mengandalkan pembagian stiker dan personal selling dalam mengedukasi dan
meningkatkan awareness pada segmen tersebut tidak akan mampu meraih audience
secara masif. PGN perlu mempertimbangkan pemanfaatan dan penggunaan media
massa.
Selain peran media yang belum optimal, permasalahan pemasaran sosial
Perilaku Aman juga membawa cerita dilematis lainnya. Apabila masyarakat yang
beraktifitas disepanjang jalur pipa tersebut mengadopsi Perilaku Aman, secara
otomatis mereka harus menghentikan aktifitas mereka yang sebagian besar
merupakan sumber penghasilan. Sedangkan PGN tidak menyediakan jalan keluar dari
resiko kehilangan penghasilan tersebut. Situasi atau keadaaan tersebut merupakan
106
situasi yang sangat pelik, mengingat proses adopsi Perilaku Aman menjadi sangat
sulit dapat dilakukan karena menyangkut keberlangsungan kehidupan serta faktor
kebiasaan masyarakat.
PGN harus menghindari paradigma bahwa aktifitas di sepanjang jalur pipa
merupakan tindakan yang tidak sah dan resikonya harus ditanggung para masyarakat
sendiri. PGN harus bernegosiasi dengan regulator agar mempunyai kebijakan yang
terkait dengan penyediaan saluran untuk masyarakat tetap dapat melanjutkan
aktifitasnya dalam mendukung keberlangsungan penghasilan dan kehidupannya.
Strategi komunikasi apapun dalam perencanaannya perlu memperhitugkan
karakteristik komunikan. Karena itu perlu diteliti dan dicermati dengan seksama
berbagai aspek tentang komunikan. Strategi komunikasi yang berorientasi pada
komunikan atau langsung melibatkan komunikan dalam perencanaannya akan lebih
berhasil mencapai tujuannya.
Strategi komunikasi yang dijalankan PGN cenderung disamaratakan untuk
semua khalayak sasaran. Informasi tentang Perilaku Aman yang disebarluaskan ke
masyarakat tanpa memperhatikan apakah media yang digunakan dan kemasan pesan
yang disampaikan sesuai atau tidak dengan minat masyarakat. Padahal masyarakat
Jakarta yang heterogen dan masing-masing mempunyai pilihan media yang berbeda.
Maka sudah semestinya pesan untuk penerapan Perilaku Aman ini tidak bisa
disampaikan secara umum, harus disesuaikan dengan kondisi setiap kelompok
segmen masyarakat. Apalagi perolehan pengetahuan, pembentukan sikap dan
perubahan perilaku pada diri manusia terjadi secara bertahap dan bukan secara
107
seketika. Karena itu strategi komunikasi yang diterapkan harus diselaraskan dengan
tahap-tahap yang dilalui anggota masyarakat tersebut. Ini berarti bahwa kegiatan
pemasaran sosial Perilaku Aman menuntut suatu perencanaan yang matang dan tidak
mungkin dilakukan hanya berdasarkan pengalaman semata.
Perencanaan desain strategi komunikasi perlu dilakukan untuk mencapai
tujuan pemasaran secara maksimal. Namun dalam pelaksanaan suatu strategi
komunikasi, monitoring dan evaluasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan.
Dengan monitoring dapat diketahui intensitas pelaksanaan strategi komunikasi
tersebut, sedangan evaluasi dapat diketahui sejauh mana hasil pemasaran yang sudah
dilakukan mempengaruhi perilaku khalayak sasarannya. Evaluasi dapat dilakukan
untuk aspek kualitas dan kuantitas. Hasil evaluasi dapat dijadikan bahan masukan
untuk perbaikan strategi komunikasi tahap selanjutnya, sehingga strategi komunikasi
tersebut sesuai dengan khalayak sasaran dan mampu mewujudkan tujuan dari
pelaksanaan komunikasi tersebut.
Evaluasi terhadap strategi komunikasi pemasaran sosial Perilaku Aman ini
relatif belum dilaksanakan. Evaluasi yang dilakukan masih terbatas pada kebutuhan
masyarakat yang disampaikan pada saat sosialisasi/penyuluhan tatap muka.
Sedangkan evaluasi program pemasaran itu sendiri belum pernah dilakukan.
Oleh karena itu, sulit sekali untuk menentukan tingkat keberhasilan
pemasaran yang sudah dilaksanakan. Karakteristik dan perilaku khalayak sasaran
yang belum diidentifikasi secara cermat berdampak pada proses evaluasi untuk
melihat keefektifan dampak dari penyampaian pesan yang dilakukan. Apakah
108
khalayak menerima informasi yang disampaikan, menerima produk barang sebagai
media informasi, apakah khalayak memahami jika menerima informasi dari PGN atau
apakah khalayak setuju dan tidak setuju dengan informasi yang disampaikan, menjadi
sulit untuk dilihat. Padahal informasi tentang dampak sebagai bagian untuk mengukur
efektivitas pesan sangat penting untuk mendesain program selanjutnya sehingga
program dapat berkelanjutan dan tertanam kuat di dalam benak khalayak sasaran.
Meskipun evaluasi monitoring program dilakukan namun evaluasi dengan
standar-standar seperti yang disampaikan Betrand kurang dilakukan yaitu melihat
pada perubahan perilaku: 20
1. Percent of audience with a specific attitude
2. Percent of audience who believe that family, local government, friends,
community approve or disapprove of a idea, service or product .
3. Percent of non users who intend to adopt a certain practice in the future
4. Percent of audience who are confident that they can adopt a particular
behaviours.
Secara ideal langkah-langkah yang seharusnya dilakukan untuk mendesain
komunikasi pemasaran sosial adalah, pertama, melakukan analisis bagaimana
pemahaman dan sikap khalayak terhadap isu yang akan disampaikan, apa sumbersumber potensial yang dimiliki untuk melakukan perubahan perilaku.
20
Bertrand, Jane & Gabriel Escudero, Measure Evaluation Manual Series. Vol. 1, USAID, 2002, Hal.
112-130
109
Kedua, membuat rancangan strategis berdasarkan pada hasil analisis baik
khalayak, media yang tersedia dan perubahan yang diinginkan maka tim merancang
strategi komunikasi pemasaran sosial; dan selanjutnya melakukan pengujian.
Langkah ini jarang dilakukan. Setelah dibuat rancangan, biasanya langsung
dieksekusi tanpa uji coba dahulu. Pengabaian terhadap langkah ini sebenarnya
berdampak pada kurang efektif dan efisiennya pelaksanaan komunikasi pemasaran
sosial. Setelah diuji coba, direvisi, baru kemudian dikembangkan untuk sasaran
khalayak yang lebih luas. Langkah yang penting, namun sering diabaikan adalah
evaluasi hasil pelaksanaan komunikasi pemasaran sosial. 21
Ketika mengeksekusi rancangan strategi komunikasi pemasaran sosial ini,
strategi bauran pemasaran dan bauran komunikasi pemasaran menjadi pertimbangan
yang cukup penting. Gagasan/ide dipandang sebagai sebuah produk yang
diintegrasikan dalam bauran komunikasi pemasaran sosial melalui penggunaan
berbagai media komunikasi baik bersifat massa maupun interpersonal. Komunikasi
interpersonal untuk perubahan perilaku khalayak membutuhkan pendekatan yang
bersifat empowerment (pemberdayaan). Perubahan ini tidak semata-mata bersifat
personal namun juga diarahkan pada perubahan yang bersifat institusional, kultur dan
kebijakan-kebijakan. Di sinilah bertemu antara perubahan perilaku individu,
kebijakan dan institusi untuk mencapai tujuan jangka panjang yaitu perubahan sosial
21
Kotler, Philip & Andreasen, Strategic Marketing for Non Profit Organizations, Prentice Hall, 2003,
Hal. 8
110
dalam masyarakat terkait penerapan Perilaku Aman di sekitar jaringan pipa distribusi
gas bumi.
Strategi komunikasi pemasaran sosial Perilaku Aman yang efektif harusnya
menjadi pilihan utama PGN, sebab bermula dari kegiatan inilah dapat diwujudkan
suatu lingkungan yang terdapat asset PGN sebuah lingkungan yang aman dengan
masyarakat yang sadar keselamatan sekaligus perilaku tersebut dapat memberikan
multiplier effect kepada pihak-pihak lainnya yang menginginkan suatu lingkungan
yang rapi dan bebas dari aktifitas-aktifitas masyarakat yang tidak pada tempatnya.
111
Download