2.1. Public Relations 2.1.1. Definisi Public Relations Public

advertisement
20
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Public Relations
2.1.1. Definisi Public Relations
Public Relations adalah fungsi manajemen yang mengevaluasi sikap
publik, mengidentifikasi kebijakan dan prosedur individual dan organisasi yang
memiliki kepentingan publik, serta merencanakan dan melaksanakan program
aksi dalam rangka mendapatkan pemahaman dan penerimaan publik1. Frank
Jefkins mengatakan bahwa Public Relations merupakan semua bentuk
komunikasi yang terencana, baik itu ke dalam maupun keluar, antara suatu
organisasi dengan semua khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan
spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian.
2
Dari definisi oleh Frank Jefkins tentang PR, dapat dilihat bahwa PR
menjalankan berbagai bentuk komunikasi internal maupun eksternal. Bentuk
komunikasi ini antara perusahaan dengan khalyaknya, untuk mencapi suatu tujuan
yang ingin dicapai oleh sebuah perusahaan.
L. Bernays dalam bukunya public relations menyebutkan bahwa public
relations mempunyai tiga arti, yakni (1) Sebagai penerangan kepada publik ; (2)
1
Scott M., Cutlip, Center, Allen H., Broom, Glen M.Broom, Effective Public Relations Edisi
Kesembilan, Kencana, Jakarta 2007, Halaman 5.
2
Jefkins, Frank, Public Relations, Erlangga, Jakarta 2004, Halaman 10.
20
http://digilib.mercubuana.ac.id/
21
persuasi ditunjukkan kepada publik untuk mengubah sikap dan tingkah laku
publik ; (3) sebagai upaya untuk menyatukan sikap dan perilaku suatu lembaga.
Penerangan kepada publik adalah memberikan sebuah informasi yang jelas
kepada publik tentang perusahaan, yang dimana dalam penelitian ini adalah PT
Citilink Indonesia. Kemudian ada sebuah cara persuasi yang dilakukan kepada
publik, misalnya melalui program-program yang telah disusun sebagai strategi
penyampaian pesan dengan website. Persuasi ini dilakukan agar dapat mengubah
sikap dan tingkah laku publik terhadap Citilink. Dan yang terakhir, PR juga
merupakan upaya dalam menyatukan sikap dan perilaku seluruh stakeholder
internal maupun eksternal di dalam perusahaan tersebut.
Menurut Denny Grisworld (Wilcox, dkk : 2006) Ibu Public Relations,
editor PR News, PR is the management function which evaluates public attitudes,
identifies the policies and procedures of an individual or an organization with the
public interest and plans and executes a program of an action to earn public
understanding and acceptance (PR adalah fungsi manajemen yang mengevaluasi
publik, memperkenalkan berbagai kebijakan dan prosedur dari suatu individu atau
organisasi berdasarkan kepentingan publik, dan membuat perencanaan, serta
melaksanakan suatu program kerja dalam upaya memperoleh pengertian dan
pengakuan publik ). 3
Bryon Christian menyebutkan bahwa public relations merupakan suatu
usaha yang secara sadar memotivasi agar orang-orang terpengaruh, terutama
3
Handbook of Public Relations. Pengantar Komperhensif. Elvinaro Ardianto. Halaman 9.
Simbiosa Rekatama Media.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
22
melalui komunikasi agar timbul pikiran yang sehat terhadap suatu organisasi,
memberi rasa hormat, mendukung dan bertahan dengan berbagai cobaan dan
masalah.4
Jadi berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa
public relations merupakan bentuk komunikasi yang terencana baik di dalam
sebuah organisasi atau perusahaan, maupun ke luar organisasi sebagai suatu upaya
untuk bersinergi secara bersama, agar dapat mencapai tujuan organisasi atau
perusahaan. Dalam hal ini perusahaan yang dimaksud atau terkait adalah
PT.Citilink Indonesia.
2.1.2. Peran Public Relations
Public relations memiliki bidang kajian yang begitu luas dan banyak
pekerjaan dilakukan oleh seorang PR. Berikut ini akan dijelaskan secara terinci
peran-peran seorang PR, diantaranya :
1. Sebagai Teknisi Komunikasi
Sebagai teknisi komunikasi, seorang PR bertugas menulis dan
mengedit media internal perusahaan, menulis news release dan feature,
mengembangkan isi web perusahaan serta mengenai kontak media. PR
tidak hadir saat manajemen mendefinisikan masalah dan memilih solusi.
PR
baru
bergabung
untuk
melakukan
komunikasi
dan
mengimplementasikan program, terkadang tanpa mengetahui secara
4
Soleh, Soemirat, Elvinaro Ardianto, Dasar-Dasar Public Relations, PT.Remaja Rosdakarya,
Bandung 2005. Halaman 13.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
23
menyeluruh motivasi atau tujuan yang diharapkan. Namun PR diberi tugas
untuk menjelaskan kepada karyawan dan pers tentang suatu kebijakan atau
keputusan baru yang dibuat oleh manajemen dan PR adalah “pihak
terakhir yang tahu”.
2. Sebagai Expert Prescriber
Expert
Prescriber
atau
“pakar
perumus”
memiliki
tugas
merumuskan masalah, mengembangkan program dan bertanggung jawab
penuh atas implementasi dari program tersebut.
Menjalankan peran ini akan membuat orang melihat bahwa
seorang PR sebagai pihak yang mempunyai otoritas, ketika ada suatu hal
yang harus dibereskan atau pihak yang mempunyai otoritas untuk
menentukan bagaimana cara mengerjakan segala sesuatu.
3. Sebagai Fasilitator Komunikasi
Seorang
PR
menempati
peran
di
tengah-tengah
sebagai
penghubung (mediator) antara organisasi dan publik. PR merupakan
seorang pendengar yang peka dan bertindak sebagai perantara komunikasi
(liaison), penterjemah (Interpreter), mediator dan sumber informasi yang
resmi serta agen kontak resmi antara organisasi dan publik.
PR memiliki kewajiban menjaga komunikasi dua arah dan
memfasilitasi percakapan dengan menyingkirkan hambatan dalam
hubungan dan menjaga agar saluran komunikasi tetap terbuka. Seorang
fasilitator komunikasi harus mampu untuk memastikan bahwa informasi
http://digilib.mercubuana.ac.id/
24
yang disampaikannya itu, dibutuhkan oleh manajemen dan publik dalam
rangka pembuatan keputusan demi kepentingan bersama.
Selain itu, PR bertugas menengahi interaksi, menyusun agenda
diskusi, meringkas dan menyatakan ulang suatu pandangan, meminta
tanggapan dan membantu mediagnosis serta memperbaiki kondisi-kondisi
yang mengganggu hubungan komunikasi di antara kedua belah pihak.
4. Sebagai Fasilitator Pemecah Masalah
Seorang PR ketika menjalankan peran sebagai fasilitator pemecah
masalah, PR bekerjasama dengan pimpinan atau manajemen untuk
merumuskan dan memecahkan masalah. Ia menjadi bagian dari tim
perencanaaan strategis. Kerjasama ini dimulai dari masalah pertama
hingga pada evaluasi program akhir. 5
2.1.3. Strategi Public Relations
J.L Thompson (1995) mendefinisikan strategi sebagai cara untuk
mencapai sebuah hasil akhir : ‘hasil akhir yang menyangkut tujuan dan sasaran
organisasi. Ada strategi yang luas untuk keseluruhan organisasi dan strategi
kompetitif untuk masing-masing aktivitas. Sementara itu, strategi fungsional
mendorong secara langsung strategi kompetitif.’ Bennett (1996) menggambarkan
strategi sebagai arah yang dipilih organisasi untuk diikuti dalam mencapai
misinya. 6
5
Scott M., Cutlip, Center, Allen H., Broom, Glen M.Broom, Effective Public Relations Edisi
Kesembilan, Kencana, Jakarta 2007, Halaman 46.
6
Sandra, Oliver. Strategi Public Relations. Erlangga, Jakarta 2007, Halaman 2.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
25
Menurut Cutlip dan Center Strategi adalah perencanaan (Planning) dan
manjemen (Management) untuk mencapai suatu tujuan.7 Perencanaan yang dibuat
harus disesuaikan dengan tujuan perusahaan. Hal ini memudahkan PR dalam
mendistribusikan peran kepada pihak-pihak terkait dan mengelola kegiatannya.
Terdapat proses public relations yang mengacu kepada pendekatan manajerial,
proses ini terdiri dari : 8
1. Fact Finding adalah mencari dan mengumpulkan fakta atau data sebelum
melakukan tindakan. public relations perlu mengetahui apa yang
diperlukan oleh publik sebelum melakukan tindakan untuk memajukan
perusahaannya.
2. Planning adalah berdasarkan fakta membuat rencana tentang apa yang
harus dilakukan dalam menghadapi berbagai masalah yang dalam
perusahaan.
3. Communicating adalah rencana yang disusun dengan baik sebagai hasil
pemikiran yang matang berdasarkan fakta atau data yang kemudian
dikomunikasikan atau dilakukan kegiatan operasional. public relations
berusaha mengkomunikasikan rencana-rencana yang mereka kedepannya
dengan memperkenalkannya kepada publik.
4. Evaluasi adalah melakukan suatu evaluasi atau pemeriksaan terhadap
suatu kegiatan, apakah tujuan sudah tercapai atau belum. Ini adalah tahap
7
Onong Uchjana, Effendy. Ilmu dan Filsafat Komunikasi. PT.Citra Aditya Bakti. Bandung 2003,
halaman 300.
8
Scott M Cutlip, Allen H.Center, Glen M.Broom . Effective Public Relations, nine edition, Jakarta
: Prenada Media Group. 2006, hal 356
http://digilib.mercubuana.ac.id/
26
terakhir dari proses public relations. Hasil evaluasi menjadi unsur dasar
untuk kegiatan public relations.
Setelah kita mengetahui pengertian tentang strategi, maka dapat dikatakan
bahwa strategi Public Relations adalah perencanaan (Planning) dan manajemen
(Management) yang dilakukan oleh seorang PR untuk mencari solusi atas suatu
permasalahan guna mencapai suatu tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Apabila kita berbicara mengenai strategi, berarti kita membicarakan
mengenai suatu permasalahan yang ada berdasarkan fakta-fakta yang berkembang
di masyarakat, kemudian ada sebuah perencanaan yang dibuat sebagai langkah
akhir ada evaluasi guna memonitor pelaksanaan program dengan tujuan untuk
mengetahui keberhasilan suatu program tersebut.
2.1.4 Arti Penting Hubungan Internal
Hubungan terpenting dalam organisasi adalah hubungannya dengan
karyawan disemua level. Itilah publik internal dan publik karyawan mengacu pada
baik itu manajer maupun orang-orang yang menjadi bawahannya. Menurut Alvie
Smith, mantan direktur komunikasi korporat General Motors, ada dua faktor yang
mempengaruhi komunikasi internal dengan karyawan dan menambah rasa hormat
manajemen terhadap salah satu dari fungsi PR ini :
1. Manfaat dari pemahaman, teamwork, dan komitmen karyawan dlam
mencapai hasil yang diinginkan. Aspek positif dari perilaku karyawan ini
sangat dipengaruhi oleh komunikasi interaktif yang efektif di seluruh
organisasi.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
27
2. Kebutuhan untuk membangun jaringan komunikasi manajer yang kuat,
yang membuat setiap supervisor di semua level dapat melakukan
komunikasi secara efektif dengan karyawannya. Kebutuhan ini lebih dari
sekedar menciptakan informasi yang berhubungan dengan pekerjaan,
tetapi juga harus memuat informasi bisnis dan isu publik yang
mempengaruhi organisasi secara keseluruhan. 9
Sebagian dari fungsi PR yang lebih luas, tujuan hubungan internal adalah
membangun dan mempertahankan hubungan yang sama-sama bermanfaat antara
organisasi dan karyawan, dimana kesuksesan atau kegagalan organisasi akan
tergantung kepada karyawan. 10
2.2
Media Baru (New Media)
2.2.1 Definisi Media Baru
Proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dalam
organisasi tertentu, tentu dilakukan melalui media sebagai alat yang berfungsi
dalam pendistribusian pesan. Menurut Gibson, jalur atau medium adalah alat
menyampaikan pesan. Sedangkan media adalah bentuk jamak dari medium
artinya alat-alat menyampaikan pesan. Dalam ilmu komunikasi, media diartikan
sebagai saluran, sarana penghubung, dan alat-alat komunikasi. Organisasi
memberi infromasi kepada para anggotanya dengan beraneka ragam cara
termasuk tatap muka (face to face), telepon, pertemuan kelompok, komputer,
9
Scott M., Cutlip, Center, Allen H., Broom, Glen M.Broom, Effective Public Relations Edisi
Kesembilan, Kencana, Jakarta 2007, Halaman 254.
10
Opcit Hal 257
http://digilib.mercubuana.ac.id/
28
memo, pernyataan kebijakan, sistem imbalan, jadwal produksi dan ramalan
penjualan. 11
Melalui pemaparan tersebut, dapat dilihat bahwa media merupakan sebuah
sarana penghubung atau perantara dalam menyampaikan pesan. Berbagai
perusahaan memiliki cara masing-masing dalam memberikan sebuah informasi
kepada para anggotanya. Cara yang dilakukan misalnya seperti face to face,
telepon, meeting, dan lain sebagainya.
Media baru merupakan istilah yang dipergunakan untuk semua bentuk
media massa mutakhir berbasiskan teknologi komunikasi dan informasi. Biasanya
digunakan untuk media komunikasi elektronik atau digital, khususnya internet.
Kehadiran media baru itu memang mengubah dunia komunikasi manusia. Kita
sudah masuk ke dalam apa yang disebut hiper komunikasi, yang medianya
memungkinkan terjadinya komunikasi bukan antara segelintir orang saat ini
melainkan juga antara satu orang komunikator dengan satu orang komunikan,
serta komunikator massa dengan komunikan massa. 12
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa media menjadi begitu sangat
penting keberadaannya pada waktu sekarang. Karena banyak orang kini menjadi
bergantung dengan sebuah media untuk mendapatkan informasi dan juga
berkomunikasi dengan sesama.
11
James L. Gibson. 1984. Organisasi dan Manajemen Perilaku, Struktur, Proses. Jakarta :
Erlangga. Halaman 437.
12
Yosal Iriantara. 2004. Managemen Strategi Public Relations. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Halaman 118.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
29
Media baru merupakan perkembangan baru dari media-media yang telah
digunakan manusia. Karakternya yang merupakan bentuk digital tentunya
memudahkan dalam bertukar informasi dan berbagai kegiatan lainnya. Namun
dalam perkembangannya, media baru dapat memberikan efek negatif dan efek
positif. Efek positif dari media baru adalah arus informasi yang dapat dengan
mudah dan cepat diakses dimana saja dan kapan saja. Sebagai media komunikasi
yang efisien dapat berkomunikasi dengan orang yang berada jauh sekalipun
bahkan bertatap muka dengan video call, dan lain sebagainya. Sedangkan untuk
efek negatif dari media baru adalah rasa ketagihan yang berlebihan kepada
masyarakat dalam menggunakan media baru.
Sebagian besar teknologi yang digambarkan sebagai media baru adalah
digital, memiliki karakteristik utama yaitu intergrasi, interaktif, dan digital.
Menurut Fledman, new media memiliki lima karakteristik, yaitu : 13
1.
Media baru mudah dimanipulasi. Hal ini seringkali mendapatkan tanggapan
negatif dan menjadi perdebatan, dikarenakan media baru memungkinkan
setiap orang untuk memanipulasi berbagai data serta informasi dengan bebas.
2.
Media baru bersifat networkable. Artinya konten-konten yang terdapat dalam
media baru dapat dengan mudah di share dan dipertukarkan antar pengguna
lewat jaringan internet yang tersedia.
3.
Media baru bersifat compressible. Konten-konten yang ada dalam media baru
dapat diperkecil ukurannya sehingga kapasitasnya dapat dikurangi.
13
Alison Theaker. 2004. The Public Relations Handbook. London and Newyork : The Taylor &
Francis Group. Halaman 260.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
30
4.
Media baru bersifat padat. Dimana kita hanya membutuhkan space kecil
untuk menyimpan berbagai konten yang ada di dalam media baru.
5.
Media baru bersifat imprasial. Konten-konten yang ada dalam media baru
tidak berpihak pada siapapun dan tidak dikuasai oleh segelintir orang saja.
Akan tetapi lahirnya media baru melahirkan berbagai konsekuensi, khususnya
sosial dan kultural (lihat, Anna Nadhya Arbar, 2003.) Anna menyebut dua
konsekuensi kultural yakni perubahan sistem nilai dan norma, serta penyerahan
sebagian otoritas diri kepada teknologi komunikasi (2003 :87-88). Sedangkan
untuk konsekuensi sosialnya, Anna menyebutnya terjadi perubahan sosial dan
transformasi sosial (2003:79;81). 14
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konsekuensi sosial media baru,
menyebabkan terjadinya perubahan hubungan sosial dan transformasi sosial.
Media komunikasi dengan menggunakan teknologi komputer membuat orang
tidak berhubungan secara tatap muka melainkan “bertatap muka” secara maya
melalui layar komputer. Sedangkan konsekuensi kultural yakni perubahan sistem
nilai dan norma, serta penyerahan sebagian otorisasi diri kepada teknologi
komunikasi.
Adanya sebuah kemajuan yang pesat dengan munculnya media baru,
memudahkan segala kepentingan seseorang dalam berkomunikasi dan mengakses
informasi. Namun, setiap kemudahan tentunya tidaklah membawa kebaikan penuh
di dalam sarana komunikasi yang kita gunakan. Dengan uraian akan dampak
14
Yosal Iriantara. Media Relations : Konsep, Pendekatan, dan Praktik. 2005. Bandung : Simbiosa
Rekatama Media. Halaman : 119.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
31
positif dan negatif tersebut, kita dapat menjadi lebih bijak dalam menggunakan
media-media baru. Kita dalam hal ini dituntut untuk lebih berhati-hati dan
bertanggung jawab dalam menggunakannya, apalagi seorang PR. PR terlebih lagi
harus secara benar menggunakan media baru tersebut. Selain itu, PR juga harus
lebih aware dalam memonitor dan mengkontrol media baru yang terkait dengan
perusahaan yang diwakilinya. Hal ini itu dilakukan karena menjadi sebuah cara
dalam mengetahui bagaimana perkembangan perusahaan, saat perbincangan
banyak orang di media baru yang berwujud media website.
Banyak yang mengatakan, sesungguhnya media baru tak banyak
mengubah praktik PR. Karena praktik PR lebih bertumpu pada menjalin relasi
dengan manusia, bukan dengan teknologi mutakhir. Bila hubungan baik sudah
terjalin, baik dengan watawan media “konvensional” maupun wartawan media
“baru”, maka kegiatan komunikasi yang dijalankan melaui media relations sudah
bisa berjalan dengan sendirinya. Tidak terjadi perubahan mendasar praktik media
relations lantaran hadirnya media baru.
Computer Mediated Communications (CMC) membuat orang tidak
berhubungan secara tatap muka, melainkan “bertatap muka” secara maya melalui
layar komputer yang membentuk jaringan. Sehingga konstruksi sosialnya atas
realitas tidak berdasarkan jaringan para pemakain CMC itu, melainkan dalam
CMC –nya sendiri (Anna Nadhya Abrar, 2003:78-79). Atau dalam ungkapan
Sherry Turkle, “Banyak institusi sosial yang biasa kita pakai untuk berkumpulberjalan, balai pertemuan- tidak lagi seperti dulu. Kebanyakan orang kini
menghabiskan waktunya sendirian di depan layar televisi atau komputer.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
32
Sementara sebagai makhluk sosial, kita berupaya untuk melakukan retribalsasi.
Dan komputer memainkan peran dalam retrbalisasi itu”. 15
Media baru yang dikembangkan saat ini merupakan produk dari
konvergensi media komunikasi yang tadinya masing-masing berdiri sendiri. Kita
bisa mencontohkan, tadinya saluran telepon sendiri terpisah dari komputer,
komputer terpisah dari perpustakaan atau media massa. Kini semua itu dipadukan
sehingga orang menghubungkan komputernya dengan saluran telepon untuk
memasuki jaringan internet, lalu mengakses berbagai sumber informasi seperti
perpustakaan dan media massa. Bahkan kini dikembangkan media komunikasi
yang berbasiskan teknologi yang mengkonvergensikan media tadi. Selain itu
karena sifat interaktifnya, maka interaktivitas menjadi ciri media baru tersebut.
Orang
bisa
memilih
sendiri
“menu”
informasi
yang
diinginkan atau
diperlukannya.
Semua itu akhirnya membawa pada perubahan perilaku komunikasi
manusia. Bukan hanya semakin terbiasa dengan kegiatan komunikasi yang
bermedia komputer (CMC) tapi juga aspirasi terhadap kecepatan informasi sampai
pada khalayak, juga meningkat. Khalayak mulai mengaspirasikan informasi yang
dalam sekejap bisa diperolehnya secara lengkap dan utuh. Ini akhirnya merubah
praktik jurnalisme, sehingga berita dalam situs berita selalu berubah sesuai
dengan perkembangan yang terjadi. Bisa saja, informasi 15 menit yang lalu
berbeda dengan informasi saat ini karena informasi yang makin lengkap yang
disuguhkan jurnalisme online itu.
15
Ibid
http://digilib.mercubuana.ac.id/
33
Satu hal yang tidak bisa diabaikan, media baru itu melahirkan
komunitasnya sendiri. itu merupakan akibat dari media baru yang mampu
menyediakan berbagai informasi dalam jumlah yang sangat besar. Berbagai
informasi tersedia, karena itu akhirnya terbentuk komunitas pengguna yang sesuai
dengan minat atau kebutuhan informasinya. Namun, komunitas tersebut bukan
komunitas kaku, melainkan komunitas yang begitu “cair” dan mudah berubah. Ini
tentunya tantangan sendiri bagi praktisi PR dalam menyelenggarakan kegiatan
komunikasi dengan khalayak seperti itu.
Untuk lebih memahami bagaimana media baru ini bekerja di tengah
masyarakat kita, bisa dilihat perbandingan antara media lama dan media baru
berikut ini :
Aspek
Media Lama
Media Baru
Perilaku Pencari
Mencari informasi yang
Mencari informasi yang
Informasi
spesifik, dengan prioritas
hanya untuk melihat ada
informasi yang mudah
apa, sekedar mencari
dan cepat diakses dan
kesenangan dan kejutan
akurat
Geografis
Terikatbatas-batas
Ada tumpang-tindih
geografis dan bergantung antara kategori khalayak
pada tema tertentu
berdasarkan etnis dan
geografis, tidak
bergantung pada tema
tertentu
Sifat Publik
Public human
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Public artifisial
34
Jenis Informasi
Berita
Persaingan
Media yang sama atau Bisa dating dari luar
Sifat Media
Berbagai jenis informasi
lintas media
dunia penerbitan/media
Hampir seragam
Sangat beragam
Setelah melihat perbandingan antara media “lama” dan media “baru”,
kiranya kita akan merasa memang media baru berpengaruh pada praktik media
relations. Kita bisa membandingkan perilaku pencari informasi dalam media lama
dan media baru. Pada media baru, pencari informasi seringkali mencari informasi
untuk sekedar melihat-lihat demi kesenangan atau mendapatkan informasi
mengejutkan. Sedangkan media lama, sebutlah koran, orang tak hanya sekedar
melihat, melainkan mengikuti informasinya dengan cermat. Dari aspek ini saja
tentunya akan berbeda cara memperlakukan khalayak sebagai publik informasi
yang disebarluaskan melalui praktik media relations.
Kita bisa melihat apa yang dinyatakan Trench dan Quinn (2003), media
baru itu kembali memunculkan pertanyaan klasik soal hubungan antara produsen
dan konsumen media. “media lama” pada dasarnya dikelola berdasarkan prinsip
komunikasi satu arah dengan kelompok sasaran yang dirumuskan secara longgar.
Sedangkan media baru dengan interaktivitasnya memungkinkan komunikasi dua
arah. Bahkan konsumen media pun bisa menjadi produsen media dengan menjadi
newsblogger yang membuka situs berita pribadi di jagat raya.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
35
2.2.2 Praktik PR Dan Media Baru
Secara “bercanda” banyak orang yang menyatakan bahwa sekarang ini
kita hidup dalam dunia e, sehingga orang berkirim surat melaui e-mail, belanja
produk yang dipasarkan secara e-marketing dan dipromosikan melalui eadvertising di toko online yang dibayar melalui fasilitas e-banking. Rupanya
dunia e itu sudah mengitari kita semua dalam segala bentuknya. Dunia e itu
bukan hanya menjadi sarana baru untuk berkirim surat atau berbelanja melainkan
juga merubah cara hidup. Dunia e bukan sekedar menggantikan apa yang tadinya
dilakukan secara manual menjadi secara elektronik, melainkan memiliki aturan
dan “hukum-hukumnya sendiri”. 16
Adanya kemunculan dunia e tersebut, membuat segala sesuatu menjadi
mudah rasanya. Banyak orang kini secara cepat, praktis, dan murah dapat
mendapatkan segala kebutuhan yang bisa di akses melalui internet yang telah
membentuk berbagai aplikasi.
Sebutlah dunia e itu jadi media baru bagi komunikasi manusia. Bila
mengacu pada sejumlah pakar, media itu lebih dari sekedar sarana. Marshall
McLuhan menyebut media adalah pesan, Postman menyebut media membentuk
pesan dan Negroponte menyatakan media mewujud dalam pesan (lihat,
Lamoureux). Artinya, media itu bukan hanya sarana distribusi pesan kepada
khalayak, karena dalam kenyataannya media mentransformasikan pesan seperti
16
Yosal Iriantara. Media Relations : Konsep, Pendekatan, dan Praktik. 2005. Bandung : Simbiosa
Rekatama Media. Halaman : 133.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
36
yang dinyatakan Postman. Dalam pandangan banyak ahli komunikasi juga, media
itu bukan sekedar merefleksikan pesan, melainkan merepresntasikan pesan. 17
Munculnya media baru membawa kemajuan yang cukup besar bagi dunia
komunikasi manusia. Saat ini segala sesuatunya menjadi mudah dan cepat ketika
seseorang ingin mengakses sebuah informasi. Melalui media baru juga dapat
menjadi sarana dalam mendistribusikan segala pesan yang ada.
Karena itu, media baru tentunya juga sedikit banyak turut mengubah
praktik PR. Bukan hanya karena media baru kita jadi mengenal e-public relations
(e-PR), namun e-PR itu menjadi bentuk baru praktik PR di era teknologi
komunikasi dan informasi. Praktik e-PR itu menjadi membangun citra ditengah
dunia yang disesaki dengan citra-citra, yang bahkan diyakini melebihi realitas
yang dicitrakannya itu sendiri. Praktik e-PR bisa jadi akhirnya lebih banyak
membangun citra untuk citra, bukan citra untuk realitas. 18
Melihat penjelasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa munculnya
media baru juga mengubah praktik PR. Karena munculnya media baru membuat
seorang PR memiliki peran dan tugas baru terkait kemunculan media baru. Peran
PR yang baru yakni sebagai e-PR, yang menjalankan fungsi dalam membangun
citra perusahaan melalui media baru.
Ini tentu saja merupakan tantangan yang berat dan besar bagi para praktisi
PR dimana pun. Citra sebagai konstruksi sosial atas kenyataan yang difasilitasi,
17
Yosal Iriantara. Media Baru dan Praktik Media Relations. Bandung : Simbiosa Rekatama
Media. Halaman 134.
18
Ibid Hal 134.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
37
pembentukannya melalui program/ kegiatan PR sehingga tampil sesuatu dalam
benak publik, akan berhadapan dengan citra-citra lain yang dikembangkan bukan
hanya demi kepentingan PR, melainkan berada dalam tataran dunia citra, bukan
dunia kenyataan. Antara rekaan dan yang nyata makin kabur. Dalam dunia yang
seperti itu tentunya membutuhkan praktik PR yang berbeda dengan praktik yang
berlaku sebelumnya. Ancaman terhadap reputasi organisasi bukan hanya karena
ada sesuatu yang menyebabkan reputasi itu runtuh, misalnya tindakan tercela
yang dilakukan organisasi, seperti mengabaikan kelestarian lingkungan dan
sebagainya. Tapi bisa saja reputasi terancam lantaran tak banyak tampil di media
massa, khususnya media baru itu sehingga terkesan ketinggalan zaman atau tak
mau mengikuti perkembangan. Artinya, tidak berkomunikasi melalui media baru
itu saja bisa mengganggu reputasi organisasi. 19
Oleh karena itu, sebuah perusahaan sangat perlu memperhatikan
bagaimana dalam menjaga citra dan reputasi sebuah perusahaan. Banyak hal yang
perlu diperhatikan oleh perusahaan tersebut dari berbagai aspek, yang dimana
etika organisasi harus diterapkan di dalam perusahaan maupun kepada lingkungan
sekitarnya. Karena hal-hal ini akan sangat mempengaruhi citra dan reputasi
perusahaan kedepannya.
Disamping itu, media baru seperti internet, peka terhadap gangguan dari
luar, seperti yang dilakukan para hacker yang kerap merusak kandungan
informasi yang termuat dalam satu situs. Situs yang dibuka sebagian dari kegiatan
pencitraan organisasi justru hancur lantaran ulah hacker. Bila informasi yang
19
Ibid Hal 135.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
38
sudah dirusak hacker itu dibaca oleh publik organisasi, bukan mustahil
infromasinya dipercaya. Tentu akan diperlukan langkah-langkah PR untuk
memperbaiki kepercayaan publik.20
Penilaian orang luar terhadap satu organisasi kerap muncul dari kesan
pertamanya. Kesan pertama itu, bila berkunjung ke kantor organisasi, terbentuk
melalui tampilan dan penerimaan di front office. Bila hal tersebut terjadi bisa saja
publik berasumsi bahwa organisasi tersebut buruk. Dengan demikian bila sebuah
pers ingin mendapatkan informasi mutakhir tentang satu organisasi dari situsnya,
namun situs tersebut jarang atau tidak pernah di update, maka pers hanya
mendapatkan informasi lama yang dipandang tak bernilai berita sehingga tidak
layak dipublikasikan. 21
Untuk itulah sebuah perusahaan perlu memperhatikan segala informasi
atau berita korporat yang dimuat dalam situs websitenya, harus di maintain secara
baik pengupdate-tan informasinya. Hal ini dilakukan agar ketika rekan media atau
publik melihat, mereka akan memiliki opini positif terhadap perusahaan karena
informasi yang dipublish adalah informasi terbaru.
Cyber PR atau E-PR merupakan praktik yang banyak dilakukan berbagai
organisasi saat ini. Tantangan dunia cyber jauh lebih berat. Karena informasi
tampil di dunia ini jauh lebih sesak, bahkan saling berhimpitan satu sama lain.
Informasi begitu mudah disebarkan, begitu mudah disimpan, dan begitu mudah
20
Ibid Hal 136.
Yosal Iriantara. Media Relations : Konsep, Pendekatan, dan Praktik. 2005. Bandung : Simbiosa
Rekatama Media. Halaman : 137.
21
http://digilib.mercubuana.ac.id/
39
juga ditemubalikkan (retrieval). Namun, tantangan kreatifnya juga makin besar.
Karena harus mampu menyuguhkan informasi secara menarik sehingga bisa
menarik perhatian para pengunjung situs-situs internet untuk membacanya.22
Jadi dengan demikian, cyber PR diperhadapkan pada kondisi yang cukup
rumit di era media baru. Hal ini karena informasi yang dengan mudah dapat
tersebar ke publik, mendorong perubahan persepsi publik menjadi mudah
dipengaruhi oleh informasi yang beredar disekitar mereka. Untuk itulah
diperlukan peran aktif dari e-PR, untuk mampu mengatasi perubahan ini. Selain
itu e-PR juga harus kreatif dalam menyediakan informasi yang dikemas secara
menarik, agar pengunjung situs online berminat untuk membaca berita tersebut.
2.2.3 Tantangan Media Baru
Saat Bill Clinton menjadi presiden AS, ada satu peristiwa yang kemudian
dikenal luas dengan sebutan Monicagate. Kasus ini merupakan kisah
perselingkuhan presiden dengan salah seorang stafnya yakni Monica Lewinsky.
Buku ini tentunya tidak bermaksud untuk menuturkan kisah cerita tingkat tinggi
itu, melainkan hendak menuturkan potensi media baru dalam menyebarluaskan
informasi pada publik.
Monicagate pertama kali diketahui publik melalui berita yang dikirimkan
Mark Drudge pada 19 Januari 1998 melalui Internet (Anna Arbar, 2003 : 47).
Tanggal tersebut akhirnya dikenal sebagai tanda “lahirnya” jurnalisme online, satu
bentuk kegiatan jurnalistik yang memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi
22
Opcit. Halaman 137.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
40
dan informasi. Jurnalisme ini kemudian berkembang pesat, karena jaringan
internet pada dasarnya memungkinkan semua orang memiliki penerbitannya
sendiri dengan cara mudah dengan jumlah pembaca yang sangat besar, karena
bisa diikuti siapa pun diberbagai belahan dunia sejauh komputernya tersambung
dengan internet. Kegiatan ini dikenal dengan nama newsblog dan orangnya
disebut newsblogger. 23
Adanya peristiwa yang telah dipaparkan diatas menunjukan bahwa,
dengan adanya peristiwa itu membawa sebuah perubahan yang cukup signifikan
akan perkembangan kegiatan jurnalistik yang berbaur dengan menggunakan
teknologi komunikasi dan informasi, yang tersambung melalui internet.
Jurnalisme online sesuai dengan watak teks di dunia virtual yang bersifat
hypertext, memungkinkan khayak untuk mengikuti alur pemberitaan secara non
linear. Khalayak yang tertarik pada satu isu atau pada satu pemberitaan bisa
mengklik teks tersebut, yang tersambung dengan teks lain. Teknologi komunikasi
dan informasi mutakhir memungkinkan mengembangkan jaringan informasi yang
tak terhingga jumlahnya dan memungkinkan terjadinya saling keterkaitan antara
satu informasi dengan informasi lainnya.
Sekarang ini bidang komunikasi massa dan dunia jurnalisme yang paling
banyak memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Siaran
langsung televisi, pengiriman berita melalui fasilitas e-mail atau saluran radio,
memungkinkan khalayak memperoleh informasi dengan cepat. Tentu saja media
23
Yosal Iriantara. Media Relations : Konsep, Pendekatan, dan Praktik. 2005. Bandung : Simbiosa
Rekatama Media. Halaman : 122.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
41
baru yang sudah dimanfaatkan dalam aktivitas jurnalistik tersebut dapat
dimanfaatkan pula untuk kegiatan PR. Kita bisa melihat bagaimana manfaat
internet sebagai salah satu media baru dalam pandangan responden 227 usaha
kecil dan menengah di 12 kota di Indonesia dari sebuah laporan penelitian untuk
Ford Foundation. 24
Laporan tersebut memperlihatkan bagaimana internet memberi manfaat
untuk tiga bidang kegiatan utama yakni komunikasi, penelitian, dan promosi.
Manfaat lain penting bagi PR karena terkait dengan citra, adalah untuk
meningkatkan kredibilitas. Kita bisa melihat gambar berikut ini :
komunikasi
Series 1
riset
Series 2
promosi
Series 3
belum banyak…
Series 4
peningkatan…
Series 5
lain-lain
0
100 200
300
400
500
Series 6
Perkembangan media baru ini menjadi perhatian Frank Demmler (2005),
yang melihat bahwa sekarang ini kita tengah berada pada gerbang pertama
perubahan fundamental dalam cara organisasi berkomunikasi. Bahkan dia melihat
batas-batas partisipan (manusia dan mesin) dalam proses komunikasi, kini makin
kabur. Salah satu perkembangan ini menuntut orang yang bertanggung jawab atas
24
Ibid Halaman 122
http://digilib.mercubuana.ac.id/
42
komunikasi dalam satu organisasi untuk terus menjadi orang yang terdepan.
Bukan orang yang memberi reaksi atas inisiatif orang lain. 25
Hal tersebut merupakan akibat yang wajar dari makin derasnya arus
informasi. Derasnya arus informasi, akan membuat orang bereaksi atas inisiatif
orang lain hanya akan menghabiskan waktu, tanpa memiliki kesempatan untuk
menunjukan inisiatifnya atau bertindak proaktif. Lingkungan komunikasi manusia
sekarang memang sudah mengalami perubahan fundamental. Perubahan biasanya
menghadirkan dua hal, yakni peluang sekaligus ancaman.
Begitu juga halnya dengan perubahan lingkungan komunikasi manusia,
yang memberi peluang dan ancaman bagi praktik PR dimana pun. Apalagi “roh”
praktik PR itu adalah komunikasi dan relasi antara organisasi dengan publikpubliknya. Tentu perubahan lingkungan komunikasi dan perubahan mediascape
ini melahirkan berbagai peluang dan ancaman baru. Kita bisa melihatnya dari sisi
kecepatan distribusi informasi. Di berbagai negara kini berkembang layanan jasa
yang diberikan oleh semacam kantor berita yang mengkhususkan diri dalam
mengedarkan siaran pers organisasi. Peluang lain yang terbuka adalah membuka
media sendiri dengan membuat situs internet. Berbagai organisasi di Indonesia
sudah melakukan hal ini. 26
Dengan demikian, publisitas yang dilakukan organisasi tidak bergantung
pada media massa yang berada di luar kontrolnya, melainkan dilakukan melalui
media yang sepenuhnya berada dalam kontrol organisasi tersebut. Bahkan
25
26
Ibid Halaman 125.
Ibid Halaman 126.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
43
beberapa organisasi bisnis di Indonesia, dalam situsnya itu juga menampilkan
kliping pemberitaan media cetak atau elektronik tentang organisasi itu. Selain itu,
ada juga yang memanfaatkan sifat hypertext situs internet dengan mengkaitkan isi
situs itu pada link lain yang isi situsnya mengandung informasi tentang organisasi
tersebut.
Pentingnya media baru, khususnya internet, sebagai sarana komunikasi
bagi organisasi dengan publiknya, sangat terasa manakala melihat jumlah
pengguna internet di Indonesia yang terus meningkat. Bahkan tingkat
pertumbuhan pengguna internet hampir mendekati 100% pertahun.
Berdasarkan data dari Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII)
bisa dilihat pada tahun 2002 ada 4.500.000 pengguna internet, berlanjut ke tahun
2003 mencapai 8.080.534 pengguna. Melihat ini menunjukan bahwa begitu
pesatnya perkembangan internet. Namun, ancaman yang timbul akibat
perkembangan teknologi komunikasi dan informasi tak kalah pula besarnya. 27
Salah satu contoh dampak negatif yang timbul adalah desas-desus atau
gosip bahkan fitnah bisa dengan cepat menyebar luas melalui media baru. Gosip
disebarluaskan melalui media “lama” akan mudah kita kontrol, misalnya dengan
memberikan bantahan karena kita memiliki hak jawab. Begitu pula bila di fitnah
disebarkan melalui media lama seperti koran atau radio, bisa diselesaikan di
pengadilan. Namun bila disebarkan melalui media baru, langkah yang diperlukan
adalah baru juga dalam mengatasinya. Misalnya dengan menempuh cara dengan
27
Ibid
http://digilib.mercubuana.ac.id/
44
prinsip PR, memberikan penjelasan sebaik-baiknya kepada publik melalui
berbagai sarana komunikasi.
Melalui contoh tadi menunjukan bagaimana citra yang dibangun bisa saja
hancur
lantaran
informasi
yang tidak
benar
yang disebarkan dengan
memanfaatkan kecepatan penyebaran dan sifat personal yang dimiliki media baru.
Kecepatan distribusi informasi itulah yang melahirkan tantangan baru bagi praktik
PR,
sehingga kelambanan
menanggapi penyebaran kabar
buruk,
yang
menghancurkan citra atau reputasi, justru akan membuat citra atau reputasi makin
hancur. Itulah sebabnya kita harus selalu proaktif dan mengembangkan inisiatif
untuk mengembangkan komunikasi. Bukan selalu reaktif terhadap inisiatif
komunikasi pihak lain.
Perkembangan media baru memang menyediakan banyak celah yang bisa
dimasuki siapa pun untuk menyiarkan informasi yang seolah-olah faktual dan
objektif, namun sesungguhnya disarati dengan kepentingan pembuatnya. Inilah
tantangan lain yang bisa menjadi ancaman bagi para pegawai citra dan reputasi
organisasi. Banyaknya desas-desus membuat sebuah citra organisasi akan
terancam keberadaannya. Kondisi seperti ini disuburkan oleh ketidakcermatan
khalayak dalam menilai informasi yang disebarkan melalui situs web. Di beberapa
negara sudah dikembangkan information literacy yakni kemampuan untuk menilai
informasi yang diterimanya melalui situs web.
Dengan informasi literasi itu, khalayak menguji secara kritis sumber
informasinya, ada tidaknya alamat e-mail penulisnya, alamat domain, dan
http://digilib.mercubuana.ac.id/
45
eksistensinya. Dengan demikian, maka khalayak bisa meminimalkan kesesatan
informasi yang didapatnya. Diperlukan kejelian dalam menangkap masalah yang
berkembang dalam lingkungan komunikasi. Penelitian sebagai langkah awal
program PR menjadi hal yang penting. Penelitian dilakukan bukan hanya lantaran
ada satu masalah, melainkan dilakukan secara berkesinambungan demi menjaga
citra dan reputasi organisasi.
Tantangan lain yang sejalan dengan perkembangan media baru ini bisa
dialami oleh perusahaan-perusahaan yang sudah go public. Perusahaan ini akan
dituntut transparan dan media baru menjadi sarana untuk menunjukan transparasi
tersebut. Karena itu, berbagai data tentang perusahaan tersebut ditampilkan dalam
situs yang dimilikinya di dunia maya. Akibatnya, siapa pun bisa mengakses
informasi tersebut termasuk kompetitor perusahaan tersebut.
2.2.4 Public Relations Beradaptasi dengan Internet
Internet juga membawa bahaya tersendiri. Pelanggan yang kecewa,
prankster (orang yang suka mengolok-olok), dan pesaing dapat membuat situs
sendiri untuk membuat tantangan dan bahkan merusak status klien. “ pada harihari pra- Internet kita sering mengatakan bahwa pelanggan yang puas akan
memberi kita satu atau dua prospek, tetapi pelanggan yang tidak puas akan
mengatakan kepada 10 orang atau lebih,” tulis G.A Andy Marken, seorang
penasihat PR dalam public relations Quartely. “dengan internet dan web, para
http://digilib.mercubuana.ac.id/
46
pelanggan yang tidak puas dapat menyebarkan kepada jutaan orang dan mereka
melakukan itu setiap hari di seluruh dunia. 28
Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa seseorang dapat dengan mudah
menyebarkan sebuah pemberitaan melalui akun media sosial yang dimilikinya
tentang kebaikan atau keburukan sebuah perusahaan atau organisasi yang ia
temui. Jika seseorang mendapatkan pelayanan yang membuatnya merasa senang
dan puas, ia kemungkinan dapat mengatakan kepada orang terdekatnya atau meng
share kan ceritanya melalui media sosialnya. Hal ini tentunya akan membawa
dampak positif bagi perusahaan yang bersangkutan karena dibicarakan secara
baik. Namun jika justru yang sebaliknya terjadi yakni seseorang tersebut merasa
tidak dilayani secara baik dan mempublikasikan keburukan perusahaan tersebut,
melalui media sosialnya, maka akan banyak ratusan atau ribuan orang melihat
akan buruknya perusahaan itu. Hal ini akan membuat citra perusahaan menjadi
terancam reputasinya.
Marken mengatakan bahwa serangan-serangan yang ia sebut cybermears,
termasuk anti-disney, anti McDonalds, dan situs-situs anti peraturan senjata, serta
ruang chat, kelompok diskusi, dan forum online, untuk menangkal pesan-pesan
negatif tersebut, banyak perusahaan dan organisasi menyewa perusahaan PR
untuk terus memantau internet dan memberi tahu klien mereka ketika informasi
negatif muncul, sehingga klien dapat memutuskan cara terbaik untuk menangkal
informasi tersebut.
28
Shirley Biagi. MEDIA / IMPACT Pengantar Media Massa : An Introduction to Mass Media.
Salemba Humanika : Jakarta. 2010. Halaman 297.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
47
Ini tugas yang membosankan, tetapi organisasi yang tidak memantau lalu
lintas internet dan web bisa mendapatkan dirinya dalam masalah serius”, kata
Marken. Perusahaan dan lembaga menghabiskan ratusan dan ribuan dolar pada
audio, video, dan cetak kliping layanan untuk menganalisis bagaimana pesan
mereka ditangkap, ditafsirkan dan digunakan oleh media konvensional.
Mereka menghabiskan waktu sedikit atau tidak sama sekali untuk mencari
tahu apa yang orang katakan tentang mereka secara aktual di dunia maya tentang
mereka “apa yang anda tidak dengar dapat melukaimu dan itu dapat berakibat
fatal”. Dengan memantau perkembangan di Internet, orang-orang PR dapat
memainkan peran besar dalam melindungi klien mereka dari publikasi negatif.
2.2.5 Manfaat Media Internet bagi Para Pelaku PR
PR melalui media internet memiliki peranan yang lebih besar dan luas
dibandingkan dengan PR dunia fisik. Jika, PR offline, anda akan bergantung pada
seorang perantara yang disebut reporter atau wartawan atau editor dalam
menyampaikan pesan-pesan korporat untuk ditayangkan di media cetak demi
membangun citra perusahaan. Dalam hal ini mau tidak mau anda dihadapkan pada
2 kemungkinan yang sering terjadi, yaitu :29
a)
Anda harus mengirim bahan press release atau sejenis line kepada seorang
wartawan, dengan harapan merek, berminat pada tulisan anda.
b) Terkadang anda terpaksa mengeluarkan uang untuk itu.
29
Bob Julius Onggo. Cyber Public Relations : Strategi Membangun dan Mempertahankan Merek
Global di Era Globalisasi Lewat Media Online. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo. 2004.
Halaman 4-6.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
48
Dengan E-PR anda dapat melewati batas penghalang ini dan langsung
menyampaikan
pesan-pesan
tersebut
kepada
target
publik
anda
serta
memanfaatkan potensi-potensi besar lainnya, seperti :
1.
Komunikasi konstan.
Internet bagaikan satpam atau sekretaris yang tidak pernah tidur selama 24/7
(24 jam x 7 hari) dengan potensi target publik seluruh dunia.
2.
Respon yang cepat.
Internet memungkinkan anda merespon secara cepat dan serta-merta semua
permasalahan dan pertanyaan dari para prospek dan pelanggan.
3.
Pasar Global.
Internet telah menutup jurang pemisah geografis (kecuali psikologis) setelah
anda terhubung ke dunia online. Anda dapat langsung berkomunikasi dengan
pasar di Arab Saudi, investor di Swedia, dan mitra bisnis di California dengan
biaya yang sangat minim.
4.
Interaktif.
“interaktif” digunakan sebagai sebuah sinonim untuk dua cara, tapi beberapa
media “interaktif” adalah benar-benar dua cara dalam arti bahwa komunikasi
interpersonal. Dalam sebuah percakapan, dua orang tidak hanya mengambil
pertukaran. Disisi lainnya, istilah interaktif adalah diterapkan secara luas
untuk setiap situasi dalam konten sebuah media adalah selektif atau
disesuaikan oleh pengguna.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
49
Sangat interaktifnya internet membuat anda dapat memperoleh feedback dari
pelanggan atau pengunjung situs web anda. Dengan demikian, anda bisa tahu
keinginan mereka sehingga tidak perlu lagi menebak-nebak.
5.
Komunikasi Dua Arah.
Komunikasi antara organisasi anda dan publik merupakan tujuan utama
aktivitas e-PR karena aktivitas ini akan membantu anda dalam membangun
hubungan yang kuat dan saling bermanfaat yang tidak dapat dilakukan
langsung oleh media offline.
6.
Hemat
PR dalam dunia fisik dianggap lebih dapat mempengaruhi tanggapan dan
respon pasar. Pengeluarannya pun lebih hemat dibanding pengeluaran iklan.
E-PR dapat membuat organisasi menjadi lebih hemat mengingat e-PR tidak
membutuhkan stationery atau biaya cetak. Semakin murahnya biaya internet
akan membuat biaya e-PR menjadi semakin terjangkau. 30
Hadirnya media internet mendatangkan banyak keuntungan dalam
menunjang kegiatan-kegiatan PR. Hal ini dikarenakan internet memberikan
banyak kemudahan khususnya kemudahan tersebut terkait erat dengan unsur
komunikasi di dalamnya. Melalui internet, PR dapat dengan mudah menjalin
komunikasi yang konstan dan berkelanjutan. Internet juga memberikan
kemudahan bagi seorang PR dalam merespon secara cepat pertanyaan-pertanyaan
publik. PR juga dapat menembus batas dengan menjangkau publik hingga dalam
30
Straubar, Joseph. Robert, LaRose. 2006. Media Now : Understanding Media, Culture, and
Technology. Thomson Wadsworth : Belmont, USA. Page 21.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
50
lingkup antar negara dalam mengembangkan hubungan perusahaan. Komunikasi
dua arah juga dapat terjaga secara baik serta biaya komunikasi menjadi lebih
murah saat ini dengan adanya layanan internet.
2.3.
E-PR
2.3.1
Definisi E-PR
E-PR adalah inisiatif PR atau public relations yang menggunakan media
internet sebagai sarana publisitasnya. Di Indonesia inisiatif PR ini lebih dikenal
dengan istilah Cyber Public Relations, namun untuk lebih mempersingkatnya
akan banyak digunakan istilah e-PR dalam pemahasan ini. Berikut merupakan
penjelasan dari e-PR antara lain :31
A. E adalah electronic.
“e” di dalam E-PR sama halnya dengan “e” sebelum kata mail atau
commerce yang mengacu pada media elektronik internet. Mengingat
popularitas dan multifungsi media internet, media ini dimanfaatkan pula oleh
para pelaku PR untuk membangun merek (brand) dan memelihara
kepercayaan (trust).
B. P adalah public.
“publik” disini bukan hanya mengacu pada publik saja, melainkan juga
pasar konsumen. Pasar konsumen yang dimaksud bukan hanya satu jenis
31
Bob Julius Onggo. Cyber Public Relations : Strategi Membangun dan Mempertahankan Merek
Global di Era Globalisasi Lewat Media Online. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo. 2004.
Halaman 1-2.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
51
pasar, tetapi berbagai pasar atau publik audiens. Media internet bisa
memudahkan kita untuk menjangkau mereka dengan lebih cepat atau
sebaliknya, memudahkan mereka untuk menjangkau kita, mulai dari
komunitas mikro atau niche market hingga hipermarket.
C. R adalah relations.
Relations merupakan hubungan yang harus dipupuk antara pasar dan
bisnis anda. Itulah kunci kepercayaan pasar agar suatu bisnis berhasil.
Menariknya, melalui media internet hubungan yang sifatnya one-to-one dapat
dibangun dalam waktu yang cepat karena sifat internet yang interaktif. Hal ini
berbeda dengan publik konvensional. Dalam publik konvensional anda harus
menjangkau mereka dengan sifat one-to-many. Itulah sebabnya internet
merupakan media pembangun hubungan yang paling ampuh dan cepat serta
luas hingga saat ini.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Cyber PR atau E-PR adalah sebuah sikap
public relations dalam memanfaatkan media sebagai sarananya dalam
mempublikasikan suatu kegiatan perusahaan yang bertujuan dalam membangun
merek (brand) dan kepercayaan (trust). Publikasi ini dilakukan kepada publik
eksternal yang beraneka ragam. Publikasi ini juga mengandung unsur
terbentuknya jalinan hubungan yang dibangun antara perusahaan dengan
publiknya.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
52
2.3.2 Fokus Utama E-PR
Fokus utama E-PR adalah membidik media online, misalnya media berita
tradisional yang juga memiliki status online tersohor dan publikasi berorientasi
web (baik itu kalangan konsumen maupun bisnis). Akan tetapi, jika tidak
digabungkan dengan agen PR offline untuk meningkatkan liputan berita aktivitas
E-PR juga dapat dimaksimalkan untuk menggunakan penyampaian elektronik
kepada organisasi media lokal, nasional, regional, dan internasional. Dalam hal ini
juga bisa termasuk penyampaian Press Release dan dokumen-dokumen penunjang
di web, baik distus web korporat maupun disitus web mitra atau untuk industri
sejenis atau complimentary (pelengkap). Selain itu, fokus lain E-PR adalah agar
produk atau bisnis anda disebutkan di bagian artikel editorial yang ada disitus web
atau enzine lain yang terkenal. 32
Dengan melihat pemaparan diatas mengenai fokus e-PR ketika
digabungkan dengan kegiatan PR offline, hal ini dapat memaksimalkan kinerja
dari e-PR nya sendiri. Cara yang ditempuh dalam memaksimalkan e-PR adalah
dengan memanfaatkan penyampaian berita seperti press release dan dokumen
penunjang untuk dimuat pada website korporat, yang di distribusikan melalui
berbagai media lokal, regional, nasional, maupun luar negeri.
Jika anda ingin memanfaatkan aktivitas e-PR, anda harus memiliki daftar
kontak media online lokal, regional dan global jika memang berminat untuk
32
Bob Julius Onggo. Cyber Public Relations : Strategi Membangun dan Mempertahankan Merek
Global di Era Globalisasi Lewat Media Online. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo. 2004.
Halaman
http://digilib.mercubuana.ac.id/
53
membangun merek global, apalagi jika produk anda pantas menjadi produk
universal. Sebagai E-PR, anda pun harus cakap dalam menulis Press Release
melalui email. Oleh karena itu, strategi e-PR juga termasuk membidik situs web
atau enzine atau komunitas online yang yang disebut discussion group yang
berorientasi khusus. Namun, di sini penulisan isi medianya harus disesuaikan. 33
Dengan demikian, kesimpulan fokus utama e-PR ialah membidik berbagai
media online yang ada untuk terus memonitor bagaimana pemberitaan memuat
berita perusahaan yang diwakilinya, apakah positif atau justru negatif. Selain itu,
e-PR juga berperan aktif dalam membuat perbincangan tentang perusahaannya
menjadi trending topic yang memiliki value, apalagi jika itu termuat dalam sebuah
media online atau enzine yang terkenal. Dan yang terakhir adalah sebuah jalan
bagi seorang PR dalam membangun perusahaannya hingga pada level merek
global.
2.3.3 E-PR dan Komunitas Online
Teknologi internet telah mempermudah dan mempercepat berkembangnya
komunitas online, yang juga sering disebut online forum, newsgroup, web rings,
atau discussion group. Mereka sering berkumpul-kumpul dan bergosip di suatu
situs web tertentu atau di-forward melalui email sehingga bisa berdiskusi tanpa
perlu masuk ke suatu situs web, itulah yang discussion list/group. Diperkirakan
lebih dari 12 juta orang bergabung dengan newsgroup, sehingga media ini
merupakan sarana yang baik bagi aktivitas publisitas seorang e-PR. Jumlah
33
Ibid
http://digilib.mercubuana.ac.id/
54
newsgroup pun terus bertambah dan diperkirakan terdapat lebih dari 100.000
topik yang berbeda-beda.
Dalam dunia PR yang sempurna, anda ingin untuk memiliki interaksi yang
konstan dengan kontak media anda. Tetap berkoneksi kepada mereka setiap waktu
melalui email dan telepon, dan untuk mengenal mereka, anda lebih baik
menggunakan pesan singkat atau instant mesaging (IM). Ketika anda
melakukannya, jurnalis mencari sebuah jalan keluar untuk anda tetap konstan
kepada informasi tentang brand anda, penelitian industri, expeets quotes,
wawancara
eksekutif,
dan
pernyataan
perusahaan.
Media
akan
selalu
mengandalkan pada kecerdasan manusia dan satu persatu interaksi. 34
Melalui penjelasan diatas dapat intinya bahwa dalam dunia PR, pasti
membutuhkan interaksi yang konstan dengan rekan-rekan media melalui layanan
e-mail, telepon, atau SMS. Hal ini dilakukan agar secara konstan, media
memberitakan brand sebuah perusahaan. Jika pemberitaan ini diperkuat
pemberitaanya oleh media, maka brand tersebut menjadi semakin kuat
keberadaannya.
Bagaimanapun, kita seharusnya juga menyediakan sebuah ruang berita
yang interaktif akan membuktikan untuk menjadi sumber utama dari informasi
yang kredibel, khususnya ketika jurnalis mencari ide cerita pada setiap waktu atau
menggunakan pusat media kita untuk mendapatkan berita. Ruang berita adalah
sebuah cara yang bagus untuk mempertahankan kontrol dari komunikasi brand
34
Deirdre Breakenridge. PR 2.0 : New Media, New Tools, New Audience. Halaman 87.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
55
dan ini merupakan hal yang sangat baik untuk jurnalis dalam menerima informasi
yang lurus dari sebuah brand, lebih baik dibandingkan sumber lain (khususnya
selama krisis atau tidak pasti). Jadi, ini tanggung jawab pribadi untuk membuat
yakin brand anda di ruang berita, diperbaharui setiap hari dan berinteraksi
bersama dengan peralatannya untuk setiap harinya dan selalu tepat waktu. 35
Melihat begitu pesatnya perkembangan komunikasi antar sesama dalam
lingkup media baru yang berwujud media sosial, membuat berbagai hal di dunia
ini mudah diperbincangkan oleh setiap orang melalui discussion group. Dengan
adanya hal ini, membuat sebuah dorongan baru bagi seorang PR dalam ikut serta
juga menggunakan, memantau/memonitor seluruh hal yang diperbincangkan
tersebut, khususnya hal yang berkaitan dengan perusahaannya. Dalam hal ini
perusahaan yang terkait ialah PT.Citilink Indonesia. Selain itu, seorang PR juga
dapat memanfaatkan sarana media sosial (website) sebagai aktivitas publisitasnya.
2.3.4 E-PR Mendukung Offline PR dan Departemen Pemasaran
Sebagai tim, offline PR dan Departemen Pemasaran dapat menghasilkan 3
R bagi suatu perusahaan, yaitu :36
1.
Relations – mampu berinteraksi dengan berbagai target audiens untuk
membangun hubungan dan citra perusahaan.
2.
Reputasi – aset yang paling penting dalam suatu bisnis. E-PR merupakan
suatu seni dalam membangun reputasi online secara berkesinambungan.
35
Ibid
Bob Julius Onggo. Cyber Public Relations : Strategi Membangun dan Mempertahankan Merek
Global di Era Globalisasi Lewat Media Online. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo. 2004.
Halaman
36
http://digilib.mercubuana.ac.id/
56
3.
Relevansi – mengupayakan agar setiap inisiatif online anda relevan dengan
target audiens korporat anda.
Ternyata e-PR dapat mendukung aktivitas offline PR dan juga departemen
pemasaran melalui 3 R yang terdiri dari relations, reputasi, dan relevansi.
Relations dalam e-PR, dapat melakukan interaksi dengan berbagai macam target
audiens yang menjadi tujuan perusahaan. Melalui interaksi kepada audiens
tersebut, maka hubungan antara perusahaan dengan audiensnya menjadi lebih
dekat dan juga dapat mempengaruhi terbentuknya citra perusahaan. Kemudian
melalui e-PR juga dapat menjadi cara dalam membangun reputasi secara online
dan berkelanjutan. Cara yang dilakukan misalnya melalui pemberitaan disitussitus online. Selanjutnya yang terakhir adalah relevansi, merupakan hal yang
menitikberatkan pada setiap inisiatif online yang akan dipublish ke publik, agar
disesuaikan dengan segmen yang dituju oleh sebuah perusahaan.
2.4 Website
2.4.1 Definisi Website
Website yang muncul pada tahun 1991 adalah dokumen yang dapat
diakses via internet protocol yang biasanya disebut HTTP (Hypertext Transfer
Protokol).37 World Wide Web (WWW) atau Web adalah salah satu dari sekian
banyak layanan yang ada internet. Layanan ini paling banyak digunakan di
internet untuk menyampaikan informasi karena sifatnya mendukung multimedia.
37
David Philip and Philip Young. Online Public Relations : a Pratical Guide To Developing an
Online Strategy In The World of Social Media. London and Philadelphia . Kogan and Page
Limited 2009. Hal 28-29
http://digilib.mercubuana.ac.id/
57
Artinya informasi tidak hanya disimpan melalui teks, tapi juga gambar, video, dan
suara.
Website banyak digunakan orang karena website mempunyai empat
elemen, yaitu:
1. Informasi : banyak orang menggunakan internet karena informasi yang
dibutuhkan ada dalam website.
2. Identitas pribadi : dimana seseorang dapat menggunakan website untuk
mengidentifikasi diri sendiri dengan adanya konten pribadi.
3. Berinteraksi dengan orang lain : halaman website dapat digunakan untuk
mendapatkan interaksi sosial dengan orang lain.
4. Hiburan : website digunakan orang untuk mendapatkan kesenangan,
kenikmatan, ataupun pelarian. 38
Selain itu website juga mempunyai kategori yang berbeda-beda menurut
isinya, yaitu :39
1. Electronic Publishing
Publikasi elektronik merupakan publikasi cetak yang diubah bentuknya
menjadi online. Biasanya perusahaan mempublikasikan informasinya
berupa produk dan pelayanan yang berbentuk brosur, annual report, dan
press guide.
38
Ibid Hal 174
Straubaar, Joseph and Robert Larose. Media Now : Understanding Media , Culture and
Technology. United States Of America : Thomson Wadsworth. Hal 275.
39
http://digilib.mercubuana.ac.id/
58
2. Entertaiment
Hiburan merupakan halaman yang dimana pengunjung mendapatkan
kesenangan. Halaman ini biasanya berbentuk streaming music, streaming
radio, steraming video, televisi maupun film.
3. Online Games
Permainan online juga merupakan hiburan, namun intensitas interaktifnya
membuat permainan online berada dalam kategori sendiri. Berbagai
permainan popular adalah “shooter” dan permainan simulasi pesawat
terbang.
4. Portals
Portal merupakan komunikasi interpersonal, berbagai informasi yang
berguna, berbagai “launch pad” yang pengunjung kunjungi pertama kali
mereka
mengakses
internet.
Pengunjung
portal
biasanya
perlu
mendaftarkan nama dan menyimpan tipe isi kesukaannya. Isi portal sendiri
adalah berbagai kategori dari berita, hiburan, kesehatan, perjalanan,
perhitungan, dan keuangan seseorang. Berbagai komunikasi interpersonal
yang disediakan berupa email, chat room, dan kelompok diskusi.
5. Search Engine
Merupakan informasi dari portal namun memiliki identitas berbeda yaitu
sebagai alat pencari.
6. Communities
http://digilib.mercubuana.ac.id/
59
Komunitas dapat berupa chat rooms dan listervs, servis pesan instant, dan
forum online dimana pengunjung dapat memberikan opini mereka,
bertanya dan memberikan kontribusi dalam diskusi online.
7. Downloading
Halaman web yang variasi terpopuler yang ramai dalam komunitas yang
dimana musik, file, video, dan juga dapat dikritisi dibagi dalam halaman
ini.
8. Blogs
Weblog atau blog adalah buku harian seseorang, direktori online dan
halaman editorial koran. Disni seseorang dapat menuliskan acaranya atau
menulis ulang acara dalam hidup seseorang.
9. Electronic Commerce
Perdagangan elektornik sama seperti toko retail yang dimana seseorang
dapat berbelanja suatu produk dan melengkapi pembeliannya.
Menurut Horton, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh
sebuah perusahaan dalam mengkomunikasikan infromasi dalam website, yaitu :40
1. Simplicity
Pesan dalam website harus difokuskan pada tema-tema yang
mendukung
keberhasilan
perusahaan
yang
menyebarluaskan
informasinya.
40
Alison Theaker, 2004. The Public Relations Handbook : London and New York : The Taylor &
Prancis Group. Hal 259
http://digilib.mercubuana.ac.id/
60
2. Timeliness
Memberikan informasi bila diperlukan. Meningkatnya komunikasi
online menekankan perusahaan menyampaikan informasi dengan
cepat.
3. Opennes
Terbuka dalam pengaksesan informasi.
4. Definition
Memastikan bahwa publik yang menjadi kunci yang menerima
informasi.
5. Flexibility
Menggunakan media yang relevan untuk pesan.
6. Individuality
Membujuk satu orang pada suatu waktu. Komunikasi online
memungkinkan para penggunanya untuk meminta bagaimana mereka
ingin menerima informasi.
7. Meaningful
Memastikan bahwa pesan yang disampaikan jelas untuk penerimanya.
8. Measurable
Memastikan pesan yang akan disampaikan jelas untuk penerimanya.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
61
2.5
Citra
2.5.1 Pengertian Citra
Citra adalah tujuan utama, dan sekaligus merupakan reputasi dan prestasi
yang hendak dicapai bagi dunia hubungan masyarakat (kehumasan) atau public
relations. 41
Citra adalah adanya persepsi (yang berkembang dalam benak publik)
terhadap realitas (yang muncul dengan media). 42
Citra adalah total persepsi terhadap suatu objek yang dibentuk dengan
memproses informasi terkini dari berbagai sumber setiap waktu. 43
Adapun menurut Onong Uchjana Effendy, citra (image) di definisikan
sebagai berikut :
1.
Gambaran antara fisik yang menyerupai kenyataan seperti manusia, binatang,
atau benda sebagai hasil lukisan, perekaman oleh kamera foto, film atau
televisi.
2.
Penampilan secara optis dari suatu objek seperti yang dipantulkan oleh
cermin.
3.
Perwakilan atau representasi secara mental dari sesuatu baik manusia, benda
atau lembaga yang mengandung kesan tertentu. 44
41
Rosadly Ruslan, loc.cit hal 75
Silih Agung Wasesa. Strategi Public Relations. Jakarta : PT.Gramedia Pustaka Utama.2006. hal
13
43
Firsan Nova. Crisiss Public Relations. Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada.2011. hal 298
42
http://digilib.mercubuana.ac.id/
62
4.
Citra adalah kesan yang timbul karena pemahaman akan suatu kenyataan.
Citra terbentuk dari opini yang berakar pada sikap dan pandangan publik. 45
Citra merupakan hasil evaluasi dalam diri seseorang berdasarkan
pengertian
dan
pemahaman
terhadap
rangsangan
yang
telah
diolah,
diorganisasikan, dan disimpan dalam benak seseorang, citra dapat diukur melalui
pendapat, kesan atau respon seseorang dengan tujuan untuk mengetahui secara
pasti apa yang ada dalam pikiran setiap individu mengenai suatu objek,
bagaimana mereka memahaminya dan apa yang mereka sukai dan tidak sukai dari
objek tersebut.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut citra menunjukan kesan suatu
objek terhadap objek lan yang terbentuk dengan memproses informasi setiap
waktu dari berbagai sumber terpercaya, terdapat tiga hal penting dalam citra yaitu
kesan objek, proses terbentuknya citra, dan sumber terpercaya. Objek meliputi
individu maupun perusahaan yang terdiri dari sekelompok orang di dalamnya,
citra dapat terbentuk dengan memproses informasi yang tidak menutup
kemungkinan terjadinya perubahan citra pada objek dari adanya penerimaan
informasi setiap waktu. Besarnya kepercayaan objek terhadap sumber infromasi
memberikan dasar penerimaan atau penolakan informasi.
44
Onong Uchjana Effendy. Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktik. Bandung : PT.Remaja
Rosdakarya. 2001
45
Rhenald kasali. Manajemen Periklanan Konsep dan Aplikasinya di Indonesia. Jakarta : Grafiti.
2007. Hal 193
http://digilib.mercubuana.ac.id/
63
2.5.2 Jenis – jenis Citra
Frank Jefkins menyebutkan bahwa terdapat beberapa jenis citra, yaitu :
a)
Citra bayangan (mirror image)
Citra bayangan adalah citra atau pandangan orang dalam perusahaan
mengenai pandangan masyarakat terhadap organisasinya.
b) Citra yang berlaku (current image)
Citra yang berlaku adalah citra atau pandangan orang luar mengenai suatu
organisasi.
c)
Citra yang diharapkan (wish image)
Citra harapan adalah suatu citra yang diinginkan oleh perusahaan.
d) Citra perusahaan (corporate image)
Citra perusahaan adalah citra dari suatu organisasi secara keseluruhan, jadi
bukan sekedar citra atas produk dan pelayanannya.
e)
Citra majemuk (multiple image)
Banyaknya jumlah pegawai (individu), cabang, atau perwakilan dari sebuah
perusahaan atau organisasi dapat memunculkan suatu citra yang belum tentu sama
dengan organisasi atau perusahaan tersebut secara keseluruhan.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
64
Dari banyaknya jenis-jenis citra yang diungkapkan oleh Frank Jefkins,
saya memfokuskan pada citra perusahaan (corporate image) PT.Citilink.
Menurut G. Andy Marken, “Accroding to a recent report from the
Opinion Research Coorporation (ORC) , corporate image is a major part of what
sells of company and its products.
Corporate image is defined as the perceived sum of the entire organiztion, its
objectives and plans. It encompasses the company’s products, service,
management style, communications activities, and actions around the wolrd. “
Building a positive corporate image requires skillful long term-planning.
Management cannot limit its focus tyo the next few weeks or months. Plans to
ensure a positive corporate image should create an impression that will last for
years. 46
Jadi dapat dismpulkan bahwa corporate image (citra perushaan) terbentuk
dari berbgai aspek yang ada dalam perusahaan itu sendiri, mulai dari layanannya,
kualitas produk/jasa nya, management komunikasi, dan sebaginya. Ini semua
merupakan satu kesatuan yang akan mempengaruhi terbentuknya citra perushaan,
yang dimana membutuhkan waktu yang cukup panjang dalam membangunnya.
46
Corporate Image-We All Have One, But Few Work To Protect An Marken, G A. Public
Relations Quarterly; Spring 1990; 35, 1; ABI/INFORM Research. pg. 21
http://digilib.mercubuana.ac.id/
65
2.5.3 Komponen Citra
Empat komponen dalam citra ini disebut sebagai “picture in our head”
oleh Water Lipman, yaitu sebagai berikut :
1.
Persepsi
Adalah hasil pengamatan terhadap unsur lingkungan yang dikaitkan
dengan suatu proses pemaknaan. Dengan kata lain, individu akan memberikan
makna terhadap rangsangan berdasarkan pengalaman mengenai rangsang.
2.
Kognisi
Adalah suatu keyakinan diri dari individu terhadap stimulus. Keyakinan
ini akan timbul apabila individu telah mengerti rangsang tersebut, sehingga
individu harus memberikan informasi-informasi yang cukup yang dapat
mempengaruhi perkembangan kognisinya.
3.
Motif
Adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan
individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan.
4.
Sikap
Adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berfikir, dan merasa dalam
menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai. Sikap bukan perilaku tetapi merupakan
kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
66
Citra dapat terbentuk dari adanya komponen-komponen. Dalam citra ada
empat komponen yaitu persepsi, kognisi, motif, dan sikap. Jadi jika salah satu
yang tidak terpenuhi maka tidak akan terciptanya citra yang diinginkan.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Download