Menurut Sundjaja dan Barlian - Digital Library UWP

advertisement
7
Menurut Sundjaja dan Barlian (2007: 47), Laporan keuangan adalah suatu
laporan yang menggambarkan hasil dari proses akuntansi yang digunakan sebagai
alat komunikasi untuk pihak-pihak yang berkepentingan dengan data keuangan
atau aktivitas perusahaan.
Proses akuntansi tersebut meliputi pengumpulan dan pengolahan data
keuangan perusahaan. Dalam proses akuntansi didefinisikan berbagai transaksi
atau peristiwa yang merupakan kegiatan ekonomi perusahaan, yang dilakukan
melalui pengukuran, pencatatan, penggolongan, dan pengikhtisaran transaksi –
transaksi yang bersifat keuangan sedemikian rupa sehingga hanya informasi yang
relevan dan saling berhubungan satu dengan yang lainnya yang mampu
memberikan gambaran secara layak tentang keadaan keuangan serta hasil
perusahaan dalam suatu periode yang akan digabungkan dan disajikan dalam
bentuk laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan pertanggungjawaban
keuangan pimpinan atas perusahaan yang telah dipercayakan kepadanya. Kondisi
keuangan dan hasil – hasil operasi perusahaan tercermin dalam laporan keuangan
perusahaan, pada hakekatnya merupakan hasil akhir dari kegiatan perusahaan
yang mana dapat menggambarkan performa atau kinerja keuangan dari
perusahaan yang bersangkutan.
2.1.2.1 Analisis Laporan Keuangan
Menurut Bernstein (2009:3), Analisis laporan keuangan mencakup
penerapan metode dan teknik analitis atas laporan keuangan dan data lainnya
untuk melihat dari laporan itu ukuran – ukuran dan hubungan tertentu yang
sangat berguna dalam proses pengambilan keputusan.
.
Menurut Foster (2008: 58), ”Analisis laporan keuangan adalah mempelajari
hubungan – hubungan di dalam suatu set laporan keuangan pada suatu saat
tertentu dan kecenderungan – kecenderungan dari hubungan ini sepanjang waktu”.
8
Di sini kegiatan analisis laporan keuangan berfungsi untuk mengonversikan data
yang berasal dari laporan sebagai bahan mentahnya menjadi informasi yang lebih
berguna, lebih mendalam dan lebih tajam dengan teknik tertentu.
2.1.2.2 Tujuan Analisis Laporan Keuangan
Tujuan analisis laporan keuangan dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Dapat memberikan informasi yang lebih luas, lebih dalam daripada yang
terdapat dari laporan keuangan biasa.
2. Dapat menggali informasi yang tidak tampak secara kasat mata (explicit) dari
suatu laporan keuangan atau yang berada di balik laporan keuangan (implicit).
3. Dapat mengetahui kesalahan yang terkandung dalam laporan keuangan.
4. Dapat membongkar hal-hal yang bersifat tidak konsisten dalam hubungannya
dengan suatu laporan keuangan baik dikaitkan dengan komponen intern
laporan keuangan maupun kaitannya dengan informasi yang diperoleh dari
luar perusahaan.
5. Mengetahui sifat-sifat hubungan yang akhirnya dapat melahirkan model-model
dan teori-teori yang terdapat di lapangan seperti untuk prediksi, peringkatan
(rating).
6. Dapat memberikan informasi yang diinginkan oleh para pengambil keputusan.
Dengan perkataan lain apa yang dimaksudkan dari suatu laporan keuangan
merupakan tujuan analisis laporan keuangan juga antara lain:
a. Dapat menilai prestasi perusahaan
b. Dapat memproyeksi keuangan perusahaan
9
c. Dapat menilai kondisi keuangan masa lalu dan masa sekarang dari aspek
waktu tertentu :
1) Posisi keuangan (Asset, Neraca, dan Ekuitas)
2) Hasil usaha perusahaan (hasil dan Biaya)
3) Likuiditas
4) Solvabilitas
5) Aktivitas
6) Rentabilitas dan Profitabilitas
7) Indikator Pasar Modal
d. Menilai perkembangan dari waktu ke waktu
e. Menilai komposisi struktur keuangan, arus dana.
7. Dapat menentukan peringkat (rating) perusahaan menurut kriteria tertentu
yang sudah dikenal dalam dunia bisnis.
8. Dapat membandingkan situasi perusahaan dengan perusahaan lain dengan
periode sebelumnya atau dengan standar industri normal atau standar ideal.
9. Dapat memahami situasi dan kondisi keuangan yang dialami perusahaan, baik
posisi keuangan, hasil usaha, struktur keuangan dan sebagainya.
10. Bisa juga memprediksi potensi apa yang mungkin dialami perusahaan di masa
yang akan datang.
Dari sudut lain tujuan analisis laporan keuangan menurut Bernstein (2009: 4)
adalah sebagai berikut :
10
1. Screening, analisis dilakukan dengan melihat secara analitis laporan
keuangan dengan tujuan untuk memilih kemungkinan investasi atau
merger.
2. Forcasting, analisis digunakan untuk meramalkan kondisi keuangan
perusahaan di masa yang akan datang.
3. Diagnosis, analisis dimaksudkan untuk melihat kemungkinan adanya
masalah-masakah yang terjadi baik dalam manajemen operasi, keuangan
atau masalah lain.
4. Evaluation, analisis dilakukan untuk menilai prestasi manajemen,
operasional, efisiensi dan lain-lain
Dari penjelasan diatas, dapat dikemukakan bahwa tujuan laporan keuangan
adalah untuk menyediakan informasi atau untuk memberikan gambaran mengenai
posisi keuangan dari satu perusahaan yang bermanfaat bagi pimpinan untuk
merumuskan kebijaksanaan perusahaan untuk masa yang akan datang.
2.1.2.3 Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2009: 5-8), laporan keuangan yang
berguna bagi pemakai informasi bahwa harus terdapat empat karakteristik
kualitatif pokok yaitu dapat dipahami, relevan, keandalan, dan dapat
diperbandingkan.
1. Dapat dipahami
Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan
adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pemakai. Untuk maksud
ini, pemakai diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas
11
ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari informasi
dengan ketekunan yang wajar. Namun demikian, informasi kompleks yang
seharusnya dimasukkan dalam laporan keuangan tidak dapat dikeluarkan hanya
atas dasar pertimbangan bahwa informasi tesebut terlalu sulit untuk dapat
dipahami oleh pemakai tertentu.
2. Relevan
Informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam proses
pengambilan keputusan. Informasi memiliki kualitas relevan kalau dapat
mempengaruhi
keputusan ekonomi pemakai dengan membantu mereka
mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan, menegaskan, atau
mengkoreksi hasil evaluasi mereka dimasa lalu. Peran informasi dalam peramalan
(predictive) dan penegasan (confirmatory) berkaitan satu sama lain. Misalnya
informasi struktur dan besarnya aset yang dimiliki bermanfaat bagi pemakai
ketika
mereka
berusaha
meramalkan
kemampuan
perusahaan
dalam
memanfaatkan peluang dan bereaksi terhadap situasi yang merugikan. Informasi
yang sama juga berperan dalam memberikan penegasan (confirmatory role)
terhadap prediksi yang lalu, misalnya tentang bagaimana struktur keuangan
perusahaan diharapkan tersusun atau tentang hasil dari operasi yang direncanakan.
Informasi posisi keuangan dan kinerja di masa lalu seringkali digunakan sebagai
dasar untuk memprediksi posisi keuangan dan kinerja masa depan dan hal-hal lain
yang langsung menarik perhatian pemakai, seperti pembayaran dividen dan upah,
pergerakan harga sekuritas dan kemampuan perusahaan
untuk memenuhi
komitmennya ketika jatuh tempo. Untuk memiliki nilai prediktif, informasi tidak
12
perlu harus dalam bentuk ramalan eksplisit. Namun demikian, kemampuan
laporan keuangan untuk membuat prediksi dapat ditingkatkan dengan penampilan
informasi tentang transaksi dan peristiwa masa lalu. Misalnya nilai prediktif
laporan laba-rugi dapat ditingkatkan kalau akun-akun penghasilan atau badan
yang tidak biasa, abnormal dan jarang terjadi diungkapkan secara terpisah.
3. Keandalan
Informasi juga harus andal (reliable). Informasi memiliki kualitas andal
jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, material, dan dapat diandalkan
pemakaiannya sebagai penyajian yang tulus atau jujur dari yang seharusnya
disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan. Informasi mungkin
relevan tetapi jika hakekat atau penyajiannya tidak dapat diandalkan maka
penggunaan informasi tersebut secara potensial dapat menyesatkan. Misalnya jika
tindakan hukum masih dipersengkatakan, mungkin tidak tepat bagi perusahaan
untuk mengakui jumlah seluruh tuntutan tersebut dalam neraca, meskipun
mungkin tepat untuk mengungkapkan jumlah serta keadaan dari tuntutan tersebut.
a) Penyajian jujur
Informasi harus digambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa
lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk
disajikan. Jadi misalnya, neraca harus menggambarkan dengan jujur transaksi
serta peristiwa lainnya dalam bentuk aset, kewajiban dan ekuitas perusahaan pada
tanggal pelaporan yang memenuhi kriteria pengakuan.
13
b) Substansi mengungguli bentuk
Jika informasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan jujur transaksi serta
peristiwa lain yang seharusnya disajikan, maka peristiwa tersebut perlu dicatat dan
disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk
hukumnya.
c) Netralitas
Informasi harus diarahkan pada kebutuhan dan keinginan pihak tertentu.
Tidak boleh ada usaha untuk menyajikan informasi yang menguntungkan
beberapa pihak, sementara hal tersebut akan merugikan pihak lain yang
mempunyai kepentingan yang berlawanan.
d) Pertimbangan sehat
Penyusunan laporan keuangan ada kalanya menghadapi ketidakpastian
peristiwa dan keadaan tertentu, seperti ketertagihan piutang yang diragukan,
perkiraan masa manfaat prabrik serta peralatan, dan tuntutan atas jaminan garansi
yang
mungkin
timbul.
Ketidakpastian
semacam
itu
diakui
dengan
mengungkapkan hakekat serta tingkatnya dan dengan menggunakan pertimbangan
sehat dalam penyusunan laporan keuangan. Pertimbangan mengandung unsur
kehati-hatian pada saat melakukan perkiraan dalam kondisi ketidakpastian,
sehingga aset atau penghasilan tidak dinyatakan terlalu rendah. Namun demikian,
penggunaan pertimbangan sehat tidak diperkenankan, misalnya pembentukan
cadangan tersembunyi atau penyisihan berlebihan dan sengaja menetapkan aset
atau penghasilan yang lebih rendah atau pencatatan kewajiban atau beban yang
14
lebih tinggi, sehingga laporan keuangan menjadi tak netral, dan karena itu tidak
memiliki kualitas andal.
e) Kelengkapan
Informasi dalam laporan keuangan harus lengkap dalam batasan
materialitas dan beban. Kesengajaan untuk tidak mengungkapkan mengakibatkan
informasi menjadi tidak benar atau menyesatkan dan karena itu tidak dapat
diandalkan dan tidak sempurna ditinjau dari segi relevansinya.
4. Dapat dibandingkan
Pemakai harus dapat membandingkan laporan keuangan perusahaan antara
periode untuk mengidentifikasi kecenderungan posisi dan kinerja keuangan.
Pemakai juga harus
dapat memperbandingkan laporan keuangan antara
perusahaan untuk mengevaluasi posisi keuangan secara relatif. Oleh karena itu,
pengukuran dan penyajian dampak keuangan, transaksi, dan peristiwa lain yang
serupa harus dilakukan secara konsisten untuk perushaan bersangkutan, antar
periode perusahaan yang sama dan untuk perusahaan yang berbeda.
2.1.2.4 Karakteristik Umum Penyajian Laporan Keuangan
Karakteristik umum penyajian laporan keuangan yang diatur dalam PSAK no.1
adalah sebagai berikut :
1.Penyajian secara wajar dan kepatuhan terhadap PSAK
Laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan,
kinerja keuangan dan arus kas suatu entitas. Penyajian yang wajar
mensyaratkan penyajian secara jujur dampak dari transaksi, peristiwa dan
kondisi lain sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan aset, liabilitas,
15
pendapatan dan beban. Entitas yang laporan keuangannya telah patuh
terhadap SAK membuat pernyataan secara eksplisit dan tanpa kecuali
tentang kepatuhan terhadap SAK tersebut dalam catatan atas laporan
keuangan.
2. Kelangsungan usaha
Dalam menyusun laporan keuangan, manajemen membuat
penilaian
tentang
kemampuan
entitas
untuk
mempertahankan
kelangsungan usaha. Entitas menyusun laporan keuangan berdasarkan
asumsi kelangsungan usaha, kecuali manajemen bertujuan untuk
melikuidasi
entitas
atau
menghentikan
perdagangan,
atau
tidak
mempunyai alternatif lainnya yang realistis selain melakukannya.
3. Dasar akrual
Entitas menyusun laporan keuangan atas dasar akrual, kecuali
laporan arus kas. Ketika akuntansi berbasis akrual digunakan, entitas
mengakui pos-pos sebagai aset, liabilitas, ekuitas, pendapatan dan beban
(unsur-unsur laporan keuangan).
4. Materialitas dan agregasi
Entitas menyajikan secara terpisah kelompok pos sejenis yang
material. Entitas menyajikan secara terpisah pos yang mempunyai sifat
atau fungsi berbeda kecuali pos tersebut tidak material. Entitas menyajikan
secara terpisah kelompok pos sejenis yang material. Entitas menyajikan
secara terpisah pos yang mempunyai sifat atau fungsi berbeda kecuali pos
tersebut tidak material.
16
5. Saling hapus
Entitas tidak boleh melakukan saling hapus atas aset dan laibilitas
atau pendapatan dan beban, kecuali disyaratkan atau diijinkan oleh suatu
PSAK. Saling hapus dalam laporan laba rugi komprehensif atau laporan
posisi keuangan atau dalam laporan laba rugi terpisah (jika disajikan)
mengurangi kemampuan pengguna laporan keuangan baik untuk
memahami transaksi, peristiwa dan kejadian lain yang telah terjadi
maupun untuk menilai arus kas entitas di masa depan, kecuali jika saling
hapus mencerminkan substansi transaksi atau peristiwa. Pengukuran aset
secara neto setelah dikurangi penyisihan penilaian (misalnya, penyisihan
keusangan atas persediaaan dan penyisihan piutang tak tertagih) tidak
termasuk kategori saling hapus.
6. Frekuensi pelaporan
Entitas menyajikan laporan keuangan lengkap (termasuk informasi
komparatif) setidaknya secara tahunan. Jika akhir periode pelaporan
entitas berubah dan laporan keuangan tahunan disajikan untuk periode
yang lebih panjang atau lebih pendek dari periode satu tahun, sebagai
tambahan terhadap periode cakupan laporan keuangan, maka entitas
mengungkapkan:
a. Alasan penggunaan periode pelaporan yang lebih panjang atau
lebih pendek;
b. Fakta bahwa jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan tidak
dapat diperbandingkan secara keseluruhan.
17
7. Informasi komparatif
Informasi kuantitatif diungkapkan secara komparatif dengan
periode sebelumnya untuk seluruh jumlah yang dilaporkan dalam laporan
keuangan periode berjalan, kecuali dinyatakan lain oleh SAK. Informasi
komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif dari laporan keuangan
periode sebelumnya diungkapkan kembali jika relevan untuk pemahaman
laporan keuangan periode berjalan.
8. Konsistensi penyajian
Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar
periode harus konsisten kecuali:
a. Setelah terjadi perubahan yang signifikan terhadap sifat operasi
entitas atau review atas laporan keuangan, terlihat secara jelas bahwa
penyajian atau pengklasifikasian yang lain akan lebih tepat untuk
digunakan dengan mempertimbangkan kriteria untuk penentuan dan
penerapan kebijakan akuntansi; atau
b. Perubahan tersebut diperkenankan oleh suatu PSAK
2.1.2.5 Pemakai Laporan Keuangan
Laporan keuangan bermanfaat dan dibutuhkan masyarakat karena dapat
memberikan informasi yang dibutuhkan para pemakainya dalam dunia bisnis yang
dapat menghasilkan keuntungan. Dengan membaca laporan keuangan dengan
tepat, seseorang dapat melakukan tindakan ekonomi menyangkut lembaga
perusahaan yang dilaporkan dan diharapkan akan menghasilkan
baginya. Pemakai laporan keuangan meliputi :
keuntungan
18
1. Pemegang Saham
Pemegang saham ingin mengetahui kondisi keuangan perusahaan, aset,
utang, modal, biaya dan laba. Ia juga ingin melihat prestasi perusahaan
dalam pengelolaan manajemen yang diberikan amanah dan ingin
mengetahui perkembangan perusahaan dari waktu ke waktu. Dari
informasi ini pemegang saham dapat mengambil keputusan apakah ia akan
mempertahankan sahamnya, menjual atau menambahnya.
2. Investor
Para investor berkepentingan terhadap resiko yang melekat dan hasil
pengembangan investasi yang dilakukannya. Investor ini membutuhkan
informasi untuk membantu menentukan apakah harus membeli, menahan
atau menjual investasi tersebut.
3. Kreditur (pemberi pinjaman)
Para kreditur tertarik dengan informasi keuangan yang memungkinkan
mereka untuk memutuskan apakah pinjaman serta bunganya dapat dibayar
pada saat jatuh tempo.
4. Supplier
Supplier tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk
mengetahui apakah perusahaan layak diberikan fasilitas kredit, seberapa
lama akan diberikan, dan sejauh mana potensi risiko yang dimiliki
perusahaan.
19
5. Pelanggan
Para pelanggan berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan
hidup perusahaan, terutama kalau mereka terlibat dalam perjanjian jangka
panjang dengan atau bergantung pada perusahaan.
6. Pemerintah
Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada di bawah kekuasaannya
berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan aktivitas perusahaan.
Mereka membutuhkan informasi untuk mengatur aktivitas perusahaan,
menetapkan kebijakan pajak dan sebagai dasar untuk menyusun statistik
pendapatan nasional.
7. Karyawan
Karyawan dan kelompok - kelompok yang mewakilinya tertarik pada
informasi mengenai stabilitas dan profitabilitas perusahaan. Informasi ini
memungkinkan mereka melakukan penilaian atas kemampuan perusahaan
memberikan balas jasa, manfaat pensiun dan kesempatan kerja.
8. Analisis Pasar Modal
Analisis pasar modal selalu melakukan analisis lengkap terhadap laporan
keuangan perusahaan yang go public maupun berpotensi masuk pasar
modal. Ia ingin mengetahui nilai perusahaan, kekuatan dan posisi
keuangan perusahaan. Apakah layak disarankan untuk dibeli sahamnya,
dijual atau dipertahankan. Informasi ini akan disampaikan kepada
langganannya berupa investor baik individual maupun lembaga.
20
Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan bersifat umum, sehingga tidak
sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan informasi setiap pemakainya. Berhubung
para investor merupakan penanam modal beresiko, maka ketentuan laporan
keuangan yang memenuhi kebutuhan mereka juga akan memenuhi sebagian besar
kebutuhan pemakai lain.
2.1.2.6 Jenis Laporan Keuangan
Jenis Laporan Keuangan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan meliputi :
1. Neraca, menggambarkan posisi keuangan perusahaan pada suatu
tanggal tertentu.
2. Laporan Laba Rugi, menggambarkan jumlah penjualan,biaya,dan
labat rugi perusahaan pada suatu periode tertentu.
3. Laporan Perubahan Ekuitas, menjelaskan perubahan posisi modal
perusahaan.
4. Laporan Arus Kas, menggambarkan sumber dan penggunaan kas
dalam suatu periode.
5. Catatan atas laporan keuangan
2.1.2.7 Keterbatasan Laporan Keuangan
Keterbatasan laporan keuangan antara lain:
1. Laporan keuangan dapat bersifat historis, yaitu merupakan laporan atas
kejadian yang telah lewat. Karenanya laporan keuangan tidak dapat
dianggap sebagai laporan mengenai keadaan saat ini, karenanya akuntansi
tidak hanya satu-satunya sumber informasi dalam proses pengambilan
keputusan ekonomi.
21
2. Laporan keuangan menggambarkan nilai harga pokok atau nilai pertukaran
pada saat terjadinya transaksi, bukan harga saat ini.
3.Laporan keuangan bersifat umum, dan bukan dimaksudkan untuk
memenuhi kebutuhan pihak tertentu. Informasi disajikan untuk dapat
digunakan semua pihak. Sehingga terpaksa selalu memperhatikan semua
pihak pemakai yang sebenarnya mempunyai perbedaan kepentingan.
4. Proses penyusunan laporan keuangan tidak luput dari penggunaan taksiran
dan berbagai pertimbangan dalam memilih alternatif dari berbagai pilihan
yang ada yang sama-sama dibenarkan tetapi menimbulkan perbedaan angka
laba maupun aset.
2.1.3 Neraca
Menurut Budi Rahardjo (2009:4) dalam bukunya memahami laporan
keuangan,”Neraca merupakan laporan mengenai keadaan harta kekayaan
perusahaan atau keadaan posisi keuangan perusahaan”.
Menurut Suad Husnan dan Enny Pujiastuti (2008:65) dalam bukunya yang
berjudul Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, neraca menunjukkan posisi
kekayaan perusahaan, kewajiban keuangan, dan modal dasar perusahaan pada
waktu tertentu. Kekayaan disajikan pada sisi aktiva sedangkan kewajiban dan
modal di sisi pasiva.
Jadi tujuan neraca adalah untuk menunjukkan posisi keuangan suatu
perusahaan pada tanggal tertentu, biasanya pada waktu dimana buku - buku
ditutup dan ditentukan sisanya pada suatu akhir tahun fiskal atau tahun kalender,
sehingga neraca sering disebut dengan balance sheet.
Bentuk neraca :
Dalam menyajikan neraca dapat dibagi dalam tiga bentuk yaitu :
22
1) Bentuk skontro ( account form ) dimana semua aktiva tercantum sebelah
kiri atau debet dan hutang, serta modal tercantum sebelah kanan atau
kredit.
2) Bentuk vertical ( refort form ) atau stafel, dalam bentuk ini semua aktiva
nampak di bagian atas yang selanjutnya diikuti dengan hutang jangka
pendek, hutang jangka panjang, serta ekuitas.
3) Bentuk yang menyajikan posisi keuangan (Financial position form).
Dalam bentuk ini posisi keuangan tidak dilaporkan seperti dalam bentuk
sebelumnya yang berpedoman pada persamaan akuntansi. Dalam bentuk
ini pertama-tama dicantumkan aktiva lancar dikurangi hutang lancar dan
hasil pengurangannya diketahui modal kerja. Modal kerja ditambah aktiva
tetap dan aktiva lainnya kemudian dikurangi hutang jangka panjang maka
akan diperoleh modal pemilik.
Neraca terdiri dari tiga bagian utama yaitu :
1) Aktiva
Menurut Weygandt (2007:11), “Aktiva adalah sumber penghasilan atas
usahanya sendiri, dimana karakteristik umum yang dimilikinya yaitu memberikan
jasa atau manfaat dimasa yang akan datang”.
Menurut Djarwanto (2009:15) “Aktiva merupakan bentuk dari penanaman
modal perusahaan, bentuk-bentuknya dapat berupa harta kekayaan atau hak atas
kekayaan atau jasa yang dimiliki perusahaan yang bersangkutan.”
Dari pengertian diatas dapat dikemukakan bahwa aktiva adalah sumber–
sumber ekonomi yang dimiliki perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu
23
dan darimana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan manfaatnya di masa
datang.
Pada dasarnya aktiva dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian utama
yaitu aktiva lancar dan aktiva tidak lancar :
a) Aktiva Lancar
Menurut Alimsyah dan Padji (2009:284), Aktiva lancar adalah harta
perusahaan yang dapat ditukar dengan uang tunai dalam waktu relative
singkat, biasanya ukuran waktunya yang dipakai ialah siklus usaha atau
tahu buku, yang termasuk aktiva lancar ialah uang kas, rekening giro bank,
investasi jangka pendek, piutang usaha, persediaan barang dagang, biaya
dibayar dimuka, wesel, dll.
Menurut Zaki Baridwan (2009:21) dalam bukunya
Intermediate
Accounting, Aktiva lancar adalah uang kas dan aktiva-aktiva lain atau
sumber-sumber yang diharapkan akan direalisasikan menjadi uang kas
atau dijual atau dikonsumsi selama siklus usaha yang normal dalam waktu
tertentu.
Dari pengertian diatas, dapat dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan
aktiva lancar adalah aktiva yang dapat dicairkan atau diuangkan dalam
waktu satu tahun atau dalam siklus operasi normal.
Yang termasuk kelompok aktiva lancar adalah :
1) Kas atau uang tunai yang dapat digunakan untuk membiayai operasi
perusahaan.
2) Investasi jangka pendek (surat –surat berharga atau marketable securities)
adalah investasi yang sifatnya sementara ( jangka pendek ) dengan maksud
untuk memanfaatkan uang kas yang untuk sementara belum dibutuhkan
dalam operasi.
3) Piutang wesel, adalah tagihan perusahaan kepada pihak lain yang
dinyatakan dalam suatu wesel atau perjanjian yang diatur dalam undang –
24
undang. Karena wesel pembuatanya diatur dengan undang – undang, maka
wesel ini lebih mempunyai kekuatan hukum dan lebih terjamin
pelunasannya, dan piutang wesel (notes receiveable) ini dapat diperjual
belikan.
4) Piutang dagang, adalah tagihan kepada pihak lain (kepada kreditor atau
langganan) sebagai akibat adanya penjualan barang dagangan secara
kredit.
5) Persediaan, untuk perusahaan perdagangan yang dimaksud dengan
persediaan adalah semua barang – barang yang diperdagangkan yang
sampai tanggal neraca masih digudang atau masih belum laku dijual.
Untuk perusahaan manufacturing (yang memproduksikan barang) maka
persediaan yang dimiliki meliputi : persediaan bahan mentah, persediaan
barang dalam dalam proses, dan persediaan barang jadi.
6) Piutang penghasilan atau penghasilan yang masih harus diterima, adalah
penghasilan yang sudah menjadi hak perusahaan karena perusahaan telah
memberikan jasa atau prestasinya, tetapi belum diterima pembayarannya,
sehingga merupakan tagihan.
7) Persekot atau biaya yang harus dibayar dimuka, adalah pengeluaran untuk
memperoleh jasa atau prestasi dari pihak lain, tetapi pengeluaran itu belum
menjadi biaya atau jasa atau prestasi pihak lain itu dinikmati oleh
perusahaan pada periode ini melainkan pada periode berikutnya.
b) Aktiva Tidak Lancar
Menurut Haryono Yusuf (2007:153) dalam bukunya Dasar-dasar
Akuntansi Keuangan, “Aktiva tidak lancar adalah aktiva berwujud yang
25
digunakan dalam operasi perusahan dan tidak dimaksudkan untuk dijual
dalam rangka kegiatan normal perusahaan”.
Menurut Abdul Halim dan Bambang Supomo (2008:154), Aktiva tetap
adalah kekayaan yang dimiliki dan digunakan untuk beroperasi dan
memiliki masa manfaat dimasa yang akan datang lebih dari satu periode
anggaran serta tidak dimaksudkan untuk dijual.
Yang termasuk aktiva tidak lancar adalah :
1) Investasi Jangka Panjang, dapat berupa :
(a) Saham dari perusahaan lain, obligasi atau pinjaman dari perusahaan
lain.
(b) Aktiva tetap yang tidak ada hubungannya dengan usaha perusahaan
dalam bentuk dana – dana yang sudah mempunyai tujuan tertentu.
(c) Biaya Pra Operasi
(d) Goodwill, Hak Paten
(e) Beban Ditangguhkan
Tujuan investasi atau penanaman ini pada umumnya adalah untuk dapat
mengadakan pengawasan terhadap kebijaksanaan atau kegiatan terhadap
perusahaan lain, untuk memperoleh pendapatan yang tetap secara terus
menerus, untuk membentuk suatu dana tujuan – tujuan tertentu, untuk
membina hubungan baik dengan perusahaan lain, dan untuk tujuan – tujuan
lainnya.
Penyajian investasi jangka panjang ini dalam neraca adalah sebesar cost atau
harga perolehan dari investasi tersebut, yang meliputi harga beli, komisi
perantar, pajak, dan pengeluaran – pengeluaran lain sehubungan dengan
pembelian investasi jangka panjang tersebut.
26
2) Aktiva Tetap
Menurut Warren, Reeve, dan Fess (2007:504), “Aktiva tetap
merupakan aktiva jangka panjang atau aktiva yang relative permanen”.
Menurut Michael Suharli (2007:56) , Aktiva tetap adalah sumber
daya yang memiliki tiga karakteristik yaitu memiliki bentuk fisik,
digunakan dalam kegiatan operasional, dan tidak untuk dijual ke
konsumen.
Yang termasuk dalam aktiva tetap ini meliputi :
a) Tanah yang diatasnya didirikan bangunan atau digunakan operasi,
misalnya sebagai lapangan, halaman, tempat parkir, dan lain sebagainya.
b) Bangunan baik bangunan kantor, toko, maupun bangunan untuk pabrik
c) Mesin
d) Inventaris (pabrik, kantor)
e) Kendaraan atau perlengkapan alat – alat lainnya
2) Kewajiban (Liabilitas)
Menurut Chariri dan Ghozali (2007:157), Hutang atau kewajiban adalah
pengorbanan manfaat ekonomi yang mungkin terjadi di masa yang mendatang
yang mungkin timbul dari kewajiban sekarang dari suatu entitas untuk
menyerahkan aktiva atau memeberikan ke entitas lain di masa mendatang sebagai
akibat transaksi di masa lalu.
Menurut Hery (2009:34), “Hutang atau kewajiban merupakan kewajiban
perusahaan kepada pihak lain untuk membayar sejumlah uang atau
menyerahkan barang atau jasa pada tanggal tertentu”.
Hutang atau kewajiban perusahaan dapat dibedakan ke dalam hutang lancar
(hutang jangka pendek) dan hutang jangka panjang.
(a) Kewajiban lancar atau kewajiban jangka pendek
27
Menurut Machfoed (2007:18) menyatakan bahwa, hutang lancar atau hutang
jangka pendek adalah kewajiban keuangan perusahaan yang pelunasannya atau
pembayarannya akan dilakukan dalam jangka pendek (satu tahun sejak tanggal
neraca) dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki oleh perusahaan.
Sedangkan menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) dalam bukunya
Standar Akuntansi Keuangan (2010 : 911) menyatakan bahwa, kewajiban jangka
pendek adalah kewajiban yang diharapkan akan dilunasi dalam waktu satu tahun
atau satu siklus operasi normal perusahaan, mana yang lebih lama.
Dari pengertian di atas, dapat dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan
kewajiban jangka pendek adalah hutang jangka pendek atau hutang lancar yang
harus dilunasi dalam waktu satu tahun.
Yang termasuk hutang lancar adalah :
1) Hutang dagang, adalah hutang yang timbul karena adanya pembelian
barang dagang secara kredit
2) Hutang wesel, adalah hutang yang disertai dengan janji tertulis ( yang
diatur dengan undang – undang ) untuk melakukan pembayaran sejumlah
tertentu pada waktu tertentu dimasa yang akan datang
3) Hutang pajak, baik pajak untuk perusahaan yang bersangkutan maupun
pajak pendapatan karyawan yang belum disetorkan ke kas negara.
4) Biaya yang masih harus dibayar, adalah biaya – biaya yang harus sudah
terjadi tetapi belum dilakukan pembayarannya.
5) Hutang jangka panjang yang segera jatuh tempo, adalah
sebagian ( seluruh ) hutang jangka panjang yang sudah menjadi hutang
jangka pendek, karena harus segera dilakukan pembayarannya.
6) Penghasilan yang diterima dimuka ( defered revenue ) adalah penerimaan
uang untuk penjualan barang dan jasa yang belum direalisasi.
28
b)
Kewajiban jangka panjang
Menurut Jumingan (2009:62), “Hutang jangka panjang adalah kewajiban
perusahaan kepada pihak lain yang harus dipenuhi dalam jangka waktu melebihi
satu tahun”.
Menurut Kieso (2007: 242), Hutang jangka panjang terdiri dari pengorbanan
manfaat ekonomi yang sangat mungkin di masa depan akibat kewajiban sekarang
yang tidak dibayarkan dalam satu tahun atau siklus operasi perusahaan, mana
yang lebih lama.
Yang termasuk hutang jangka panjang adalah :
1) Hutang obligasi, yaitu hutang yang timbul berkaitan dengan dana yang
diperoleh melalui pengeluaran surat-surat obligasi.
2) Hutang hipotik, yaitu hutang yang timbul berkaitan dengan perolehan dana
dari pinjaman yang dijaminkan dengan harta tetap.
3) Pinjaman jangka waktu yang lain
3) Modal
Menurut Prawirosentono (2008:45), “Modal merupakan kekayaan yang
dimiliki perusahaan yang dapat menghasilkan keuntungan pada waktu yang akan
datang dan dinyatakan dalam nilai uang”.
Menurut Gilarso (2008:81),”Modal merupakan sarana atau bekal untuk
melaksanakan usaha”.
Dari pengertian di atas dapat dijelaskan bahwa modal merupakan sejumlah dana
yang menjadi dasar untuk mendirikan suatu perusahaan, perusahaan dana ini
untuk membiayai aktivitas perusahaan dalam menghasilkan produk barang dan
jasa.
29
2.1.4 Laporan Laba Rugi
Menurut Warsono (2007: 26), “Laporan laba rugi adalah laporan keuangan
yang mengambarkan hasil-hasil usaha yang dicapai selama periode tertentu”.
Menurut Munawir (2010:26), “Laporan laba rugi merupakan suatu laporan
yang sistematis tentang penghasilan, beban, laba rugi yang diperoleh oleh suatu
perusahaan selama periode tertentu”.
Laporan Laba Rugi meliputi :
a. Penjualan yaitu barang atau jasa yang dijual dan terjadi penyerahan
barang/jasa pada pihak lain dalam periode akuntansi tertentu
b. Beban pokok penjualan yaitu beban pokok barang-barang yang laku dijual
dalam periode tertentu
c.
Biaya yaitu barang/jasa atau aktiva yang dikorbankan dalam usaha untuk
merealisasikan pendapatan dalam suatu periode akuntansi. Biaya-biaya
usaha dapat dibagi menjadi dua kelompok :
1. Biaya penjualan terdiri dari :
a. Gaji dan komisi untuk bagian pemasaran / penjualan
b. Advertensi
c. Bahan pembantu untuk kegiatan penjualan
d. Depresiasi aktiva tetap bagian penjualan
e. Depresiasi alat pengangkutan penjualan
f. Semua biaya yang bersangkutan dengan bagian penjualan
2. Biaya administrasi dan umum terdiri dari :
a. Gaji Direksi dan pegawai kantor
30
b. Depresiasi aktiva tetap kantor
c. Telepon, perangko, sumbangan dan lain-lain
d. Pendapatan, yaitu pendapatan yang diperoleh dari sumber-sumber
ekonomi yang akan diperoleh perusahaan dan transaksi jasa kepada
pihak lain.
e. Laba yaitu selisih dari pendapatan dan biaya dalam jangka waktu
tertentu. Walau belum ada keseragaman tentang susunan laporan
laba rugi bagi tiap-tiap perusahaan.
Bentuk Laba Rugi :
Bentuk laporan laba rugi adalah sebagai berikut :
1. Bentuk single step, yaitu dengan menggabungkan semua penghasilan
menjadi satu kelompok dan semua biaya dalam satu kelompok, sehingga
untuk menghitung laba rugi bersih hanya memerlukan satu langkah yaitu
mengurangkan total biaya terhadap total penghasilan.
2. Bentuk multiple step, dalam bentuk ini dilakukan pengelompokan yang
teliti sesuai dengan prinsip yang digunakan secara umum.
2.1.5 Profitabilitas
2.1.5.1 Pengertian Profitabilitas
Menurut Kasmir (2008:196), profitabilitas adalah jumlah relatif laba yang
dihasilkan dari sejumlah investasi atau modal yang ditanamkan dalam suatu
usaha. Profitabilitas merupakan kriteria penilaian yang secara luas digunakan dan
dianggap paling valid untuk dipakai sebagai alat pengukur tentang hasil
pelaksanaan operasi perusahaan. Karena mempunyai ciri – ciri sebagai berikut :
1. Profitabilitas merupakan alat pembanding pada berbagai alternatif
investasi atau penanaman modal yang ( sudah barang tentu ) sesuai dengan
31
tingkat resiko masing – masing secara umum dapat dikatakan semakin
besar resiko suatu penanam investasi atau modal dituntut profitabilitas
yang semakin tinggi pula, demikian sebaliknya.
2. Profitabilitas mampu menggambarkan tingkat laba yang dihasilkan
menurut jumlah yang ditanamkan atau investasinya, karena profitabilitas
dinyatakan dalam angka relatif (persentase).
Menurut Sofyan Syafri Harahap (2013 : 304) menyatakan bahwa :
“Profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba
melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas,
modal dan sebagainya”.
Profitabilitas disebut juga dengan rentabilitas atau ROI, yang dinyatakan
dalam suatu rumus sebagai berikut :
L x 100 %
M
Dimana L, adalah jumlah laba yang diperoleh selama periode tertentu (laba
bersih).
Dan M, adalah aktiva yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut.
Dengan demikian, profitabilitas dapat diukur dengan persamaan ROI (Return On
Investment).
Cara untuk menilai profitabilitas atau perusahaan adalah bermacam–macam
dan tergantung pada laba dan aktiva atau modal mana yang akan diperbandingkan
satu dengan yang lainnya. Apabila yang akan diperbandingkan itu laba yang
berasal ini operasi usaha, atau laba netto sesudah pajak dengan aktiva operasi,
32
atau laba netto sesudah pajak diperbandingkan dengan keseluruhan aktiva atau
laba netto sejumlah pajak dengan jumlah modal tersendiri.
Jumlah laba yang diperoleh secara teratur kecenderungan atau trend
keuntungan yang meningkat merupakan suatu faktor yang perlu mendapat
perhatian menganalisis didalam menilai profitabilitas perusahaan.
Dari uraian diatas, dapat dikemukan bahwa profitabilitas atau ROI adalah
kemampuan suatu perusahaan untuk memperoleh laba dengan memperbandingkan
antara laba bersih dengan aktiva selama periode tertentu yang dinyatakan dalam
persentase.
2.1.5.2 Tujuan atau Fungsi Perusahaan Menghitung Profitabilitas
Setiap perusahaan pada umumnya bertujuan untuk mencari laba, dimana
laba merupakan barometer untuk menilai sejauh mana kemampuan perusahaan
untuk menghasilkan keuntungan. Sedangkan untuk mengukur derajat laba suatu
perusahaan biasanya digunakan ukuran profitabilitas, yaitu hasil perbandingan
antara laba yang dihasilkan pada suatu waktu dengan besarnya modal yang
diinvestasikannya.
Profitabilitas
secara
umum
adalah
kemampuan
perusahaan
untuk
memperoleh laba dengan seluruh investasi yang bekerja didalamnya selama
periode tertentu. Profitabilitas juga merupakan alat evaluasi yang paling valid
tentang hasil operasi perusahaan.
Manfaat lain yang dapat diambil dari profitabilitas adalah dapat dipakai
sebagai alat bantu perusahaan dalam membuat proyeksi laba perusahaan. Adapun
tujuan perhitungan profitabilitas bagi perusahaan yaitu untuk mengetahui tingkat
33
laba yang diperoleh dari modal yang dipakai atau dinamakan sebagai gambaran
efesiensi perusahaan secara keseluruhan.
2.1.5.3 Jenis Profitabilitas
Dengan terdapatnya bermacam – macam cara di dalam usaha penilaian
profitabilitas suatu perusahaan, maka jelas antara suatu perusahaan dengan
perusahaan lainnya tidak mempunyai kesamaaan di dalam perhitungan
profitabilitas. Bambang Riyanto (2008 : 35) menyatakan bahwa, “Profitabilitas
dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu profitabilitas ekonomi dan
profitabilitas modal sendiri”.
a. Profitabilitas Ekonomi ( PE )
Profitabilitas Ekonomi atau rentabilitas ekonomi, adalah perbandingan
antara laba usaha dengan modal sendiri dan modal asing (ekuitas) yang
dipergunakan untuk menghasilkan laba tersebut dan dinyatakan dalam persentase.
Laba yang diperhitungkan untuk menghitung profitabilitas ekonomi hanyalah laba
dari hasil operasi perusahaan yaitu yang disebut laba usaha.
Profitabilitas Ekonomi (PE) = Laba Usaha x 100 %
Modal/Ekuitas
b. Profitabilitas Modal Sendiri ( PMS )
Profitabilitas modal sendiri atau sering disebut juga profitabilitas usaha,
adalah perbandingan antara jumlah laba yang tersedia bagi pemilik modal sendiri
di suatu pihak dengan jumlah modal sendiri yang menghasilkan laba tersebut di
lain pihak. Laba yang diperhitungkan untuk menghitung modal sendiri adalah laba
34
usaha setelah dikurangi dengan bunga modal asing dan pajak perseroan atau
income tax.
Profitabilitas Modal Sendiri (PSM) :
Laba Bersih Setelah Bunga dan Pajak x 100 %
Modal Sendiri
2.1.5.4 Mengukur Besar Kecilnya Profitabilitas
Menurut I Made Sudana (2009 : 26) terdapat beberapa cara dalam mengukur
tingkat besar kecilnya profitabilitas, yaitu :
a.
Return On Assets (ROA) = Earning After Tax x 100%
Total Assets
ROA menunjukkan kemampuan perusahaan dengan menggunakan seluruh
aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba setelah pajak. Rasio ini penting bagi
pihak manajemen untuk mengevaluasi efektifitas dan efisiensi manajemen
perusahaan dalam mengelola seluruh aktiva perusahaan. ROA adalah rasio yang
digunakan untuk mengukur keuntungan bersih yang diperoleh dari penggunaan
aktiva. Dengan kata lain, semakin tinggi rasio ini maka semakin baik
produktivitas asset dalam memperoleh keuntungan bersih. Hal ini selanjutnya
akan meningkatkan daya tarik perusahaan kepada investor. Peningkatan daya tarik
perusahaan menjadikan perusahaan tersebut semakin diminati oleh investor,
karena tingkat pengembalian atau deviden akan semakin besar. Hal ini juga akan
berdampak pada harga saham dari perusahaan tersebut di pasar modal yang akan
semakin meningkat sehingga ROA akan berpengaruh terhadap harga saham
perusahaan.
35
b. Return On Equity (ROE) = Earning After Taxes x 100%
Total Equity
ROE menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba
setelah pajak dengan menggunakan ekuitas yang dimiliki perusahaan. Rasio ini
penting bagi pihak pemegang saham, untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi
pengelolaan modal sendiri yang dilakukan oleh pihak manajemen perusahaan.
Semakin tinggi rasio ini berarti semakin efisien penggunaan modal sendiri yang
dilakukan pihak manajemen perusahaan.
c. Profit Margin Ratio
Profit margin ratio mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan
laba dengan menggunakan penjualan yang dicapai perusahaan. Profit margin
merupakan ukuran kemampuan manajemen untuk mengendalikan biaya
operasional dalam hubungannya dengan penjualan. Makin rendah biaya operasi
per rupiah penjualan, makin tinggi margin yang diperoleh. Rasio profit margin
dapat pula menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menetapkan harga jual
suatu produk terhadap biaya-biaya yang dikeluarkan untuk meghasilkan produk
tersebut. Semakin tinggi rasio ini menunjukkan perusahaan semakin efisien dalam
menjalankan operasinya. Profit margin ratio dibedakan menjadi :
1. Net Profit Margin Ratio = Earning After Tax x 100%
Net Sales
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba
bersih dari penjualan bersih yang dilakukan perusahaan yang dinyatakan
dengan persentase. Rasio ini mencerminkan efisiensi seluruh bagian,
36
yaitu produksi, personalia, pemasaran dan keuangan yang ada dalam
perusahaan.
2. Operating Profit Margin Ratio =
Earning Before Interest and Taxes x 100%
Net Sales
Rasio ini mengukur kemampuan untuk menghasilkan laba sebelum
bunga dan pajak dengan penjualan bersih yang dicapai perusahaan.
Rasio ini menunjukkan efisiensi bagian produksi, personalia, serta
pemasaran dalam menghasilkan laba.
3. Gross Profit Margin Ratio = Gross Profit x 100%
Net Sales
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba
kotor dengan penjualan bersih yang dilakukan perusahaan. Rasio ini
menggambarkan efisiensi yang dicapai bagian produksi.
d. Basic Earning Power (ROI) = Earning Before Interest and Taxes x 100%
Total Assets / Investment
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba sebelum
bunga dan pajak dengan menggunakan total aktiva yang dimiliki perusahaan.
Dengan kata lain rasio ini mencerminkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan
seluruh aktiva yang dimiliki perusahaan untuk menghasilkan laba sebelum bunga
dan pajak.
37
2.2 Penelitian Terdahulu
Berdasarkan hasil – hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti terdahulu,
dapat digunakan sebagai acuan dalam penyelesaian penelitin ini, antara lain :
Asep
Bangbang Budiman (2010)
Universitas Pasundan
Bandung,
melakukan penelitian tentang “ Analisis Laporan Keuangan dalam Mengukur
Tingkat Profitabilitas di PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat UPJ Garut “.
Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa analisis laporan keuangan dapat
dijadikan sebagai alat bantu bagi manajemen untuk menentukan tingkat
profitabilitas di PT PLN (persero) distribusi Jawa Barat UPJ GARUT dan untuk
mengurangi penurunan rasio profitabilitas PT PLN (persero) distribusi jawa barat
UPJ GARUT diusahakan untuk meningkatkan pendapatan dan mengurangi biaya
sehingga diperoleh kenaikan laba. Persamaan penelitian dahulu dengan sekarang
adalah sama
menganalisis laporan keuangan perusahaan
yang diteliti.
Perbedaannya dari penelitian sebelumnya adalah objek penelitiannya dan juga
hasil perhitungan rasio profitabilitas akan dianalisa lebih lanjut. Perbedaan lokasi
dan data yang akan diteliti ini juga akan menghasilkan informasi serta hasil
penelitian yang berbeda sesuai dengan keadaan perusahaan yang diteliti.
Ichsan Sugandi (2011) Universitas Wijaya Putra Surabaya, melakukan
penelitian tentang “ Analisis Laporan Keuangan untuk Menilai Kinerja
Perusahaan pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk “. Hasil penelitian
tersebut menyimpulkan bahwa ditinjau dari rasio profitabilitas dari tahun ke tahun
perusahaan menunjukkan mampu menghasilkan profit dengan baik. Persamaan
penelitian dahulu dengan sekarang adalah sama menganalisis laporan keuangan
38
perusahaan yang diteliti. Perbedaannya dari penelitian sebelumnya adalah objek
penelitiannya dan rasio yang digunakan. Penelitian terdahulu menganalisis
laporan keuangan dengan empat rasio sedangkan penelitian sekarang hanya
menggunakan ratio profitability saja untuk mengukur kelayakan laporan
keuangan.
2.3 Kerangka Konseptual
Menurut Muhamad (2009 : 75), “Kerangka pikir adalah gambaran mengenai
hubungan antar variabel dalam suatu penelitian, yang diuraikan oleh jalan pikiran
menurut kerangka logis”.
Menurut Riduwan (2008: 25), Kerangka berfikir adalah dasar pemikiran dari
penelitian yang disintesiskan dari fakta-fakta, observasi dan telaah penelitian.
Kerangka pikir memuat teori, dalil atau konsep-konsep yang akan dijadikan dasar
dalam penelitian.Uraian dalam kerangka pikir ini menjelaskan antar variabel.
Selanjutnya menurut Sekaran (2009:72) kerangka berpikir yang baik adalah
memenuhi syarat sebagai berikut :
1. Variabel penelitian diidentifikasikan secara jelas dan diberi nama
2. Uraiannya menyatakan bagaimana dua atau lebih variabel
berhubungan satu dengan lainnya
3. Jika sifat dan arah hubungan dapat diteorikan berdasarkan
penemuan dari penelitian sebelumnya, hal ini seharusnya menjadi
dasar dalam uraian kerangka berfikir apakah hubungan itu positif
atau negatif
4. Dinyatakan secara jelas mengapa peneliti berharap bahwa
hubungan antara variabel itu ada.
39
5. Digambarkan dalam bentuk diagram skematis, sehingga pembaca
dapat jelas melihat hubungan antar variabel
Kerangka pemikiran diperlukan sebagai acuan berpikir untuk memudahkan
pembaca untuk mengetahui apa sesungguhnya yang dibahas pada penelitian ini.
Dan merupakan bahasan landasan teori yang di hubungkan dengan variabel
penelitian dalam upaya memecahkan masalah atau persoalan.
Berikut ini dijelaskan hubungan variabel tersebut :
Gambar 2.1 Skema Kerangka Konseptual
Ratio Profitability
Neraca
Laporan Laba Rugi
Laporan Keuangan
Layak/Tidak
Sumber : PT Dirgaputra Ekapratama Surabaya
40
Berdasarkan kerangka konseptual di atas, penulis mengambil kesimpulan bahwa
analisis ratio profitability terhadap laporan keuangan, dapat menentukan tingkat
kelayakan laporan keuangan tersebut untuk mengetahui posisi keuangan
perusahaan, terutama
untuk mengetahui
pencapaian laba pada periode tertentu.
kemampuan
perusahaan
dalam
Download