17 BAB II EKSPLORASI ISU BISNIS 2.1. Kerangka Kerja Konseptual

advertisement
BAB II
EKSPLORASI ISU BISNIS
2.1. Kerangka Kerja Konseptual
Dalam era globalisasi, setiap perusahaan dituntut untuk senantiasa peka terhadap
perubahan dan berfokus pada kepuasan konsumen melalui pelayanan yang berkualitas.
Untuk mewujudkan ini diperlukan faktor internal perusahaan dalam hal ini adalah
sumber
daya
manusia
perusahaan
yang
berkompetensi.
Shermon
(2004:99)
menggambarkan kompetensi dalam konteks Sumber Daya Manusia (Human Resource
Management) sebagai berikut:
Gambar 2.1. Manajemen SDM Berbasis Kompetensi
Selanjutnya Shermon menjelaskan bahwa proses pembentukan SDM yang berbasis
kompetensi dilakukan melalui proses penilaian kompetensi yang terintegrasi (Integrated
Competency Assessment Framework). Penilaian kompetensi yang terintegrasi dimulai
dari critical success factor suatu perusahaan dan berakhir dari penilaian kinerja individu
pegawai. Integrated Competency Assessment Framework tersebut secara lengkap
digambarkan pada Gambar 2.2 berikut:
17
Gambar 2.2. Integrated Competency Assessment Framework
(Shermon, 2004)
Kecenderungan persaingan bisnis yang kompetitif di masa depan menuntut organisasi
untuk melakukan inovasi, terutama di bidang manajemen SDM. Sumber daya manusia
dirasa sangat berperan besar dalam menentukan keberhasilan peningkatan kinerja
perusahaan dibanding sumber daya lainnya. Salah satu upaya yang perlu dilakukan
perusahaan dalam memperbaiki sistem sumber daya manusianya adalah dengan
merancang sistem pengukuran dan evaluasi kerja karyawan (performance management).
Kualitas sistem pengukuran kinerja sangat menentukan prestasi kerja karyawan.
Peningkatan prestasi kerja akan menimbulkan motivasi kerja dan peningkatan kinerja
yang nantinya akan berdampak pada produktivitas perusahaan.
Menurut Noe, Hollenbeck, Gerhat, dan Wright (2006:332) dalam buku yang berjudul
Human Resource Management menyebutkan bahwa manajemen kinerja (performance
management) memiliki tiga tujuan penting, yaitu:
1. Tujuan strategis (strategic purpose)
Manajemen
kinerja
hendaknya
mampu
menghubungkan
antara
aktivitas
pegawai/karyawan dengan tujuan perusahaan. Melalui manajemen kinerja, diharapkan
aktivitas pegawai selaras dengan strategi perusahaan. Untuk dapat mewujudkan hal
tersebut, perusahaan hendaknya melakukan penetapan hasil kerja, perilaku, dan
18
karakteristik yang sesuai dengan strategi perusahaan. Setelah itu dilakukan
pengembangan (development) serta umpan balik (feedback) agar hasil kerja, perilaku,
dan karakteristik tersebut dapat sesuai dengan strategi perusahaan.
2. Tujuan administratif (administrative purpose)
Perusahaan/organisasi biasanya menggunakan hasil penilaian kinerja untuk berbagai
keperluan administratif seperti penentuan peningkatan gaji, promosi, pemberhentian,
dan penghargaan atas prestasi kerja yang dicapai.
3. Tujuan pengembangan (developmental purpose)
Tujuan yang ketiga dari manajemen kinerja ini adalah untuk mengembangkan pegawai
agar sesuai dengan yang diinginkan. Penilaian kinerja dapat menjadi sumber utama
informasi dan umpan balik untuk pegawai/karyawan. Fungsi pengembangan dari
penilaian kinerja juga dapat mengidentifikasi bidang-bidang dimana pegawai ingin
berkembang.
2.2. Teori Penilaian Kinerja
2.2.1. Definsi Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja (performance appraisal/performance management) didefinisikan
dalam buku Human Resource Management Bab 9 sebagai berikut: “Performance
appraisal means evaluating an employee’s current and/or past performance relative to
his or her performance standards” (Dessler, 2005:310). Menurut Sunarto (2003:87)
terdapat beberapa manfaat dilakukannya penilaian kinerja:
1. Perbaikan Kinerja
Umpan balik pelaksanaan kerja memungkinkan karyawan, manajer dan departemen
SDM dapat membetulkan kegiatan untuk memperbaiki prestasi.
2. Penyesuaian Kompensasi
Evaluasi kinerja membantu para pengambil keputusan dalam menentukan kenaikan
upah, pemberian bonus dan bentuk kompensasi lainnya.
3. Keputusan Penempatan
Promosi dan transfer didasarkan pada kinerja masa lalu atau antisipasinya. Promosi
sering merupakan bentuk penghargaan terhadap kinerja masa lalu.
4. Latihan dan Pengembangan
Kinerja yang tidak baik menunjukkan kebutuhan latihan. Demikian juga, prestasi
yang baik mungkin mencerminkan potensi yang harus dikembangkan.
19
5. Perencanaan dan Pengembangan
Umpan balik prestasi mengarahkan keputusan karier, yaitu tentang jalur karier yang
harus diteliti.
6. Proses Staffing
Kinerja mencerminkan kekuatan atau kelemahan prosedur staffing departemen
SDM.
7. Keakuratan Informasi
Kinerja yang tidak baik menunjukkan kesalahan dalam informasi analisis jabatan,
rencana sumber daya manusia, atau komponenn sistem informasi manajemen SDM.
Informasi yang akurat dapat menghasilkan keputusan personalia yang diambil tepat.
8. Desain Pekerjaan
Kinerja yang baik merupakan suatu tanda dalam desain pekerjaan.
9. Kesempatan yang Adil
Penilaian kinerja secara akurat akan menjamin keputusan penempatan internal
diambil tanpa diskriminasi.
10. Tantangan Eksternal
Kinerja dipengaruhi oleh faktor-faktor diluar lingkungan kinerja, seperti keluarga,
kesehatan, kondisi finansial atau masalah pribadi lainnya.
2.2.2. Prinsip-prinsip Dalam Penilaian Kinerja
Menurut Mangkunegara (2005:13), ketika melakukan penilaian kinerja terdapat
beberapa prinsip yang harus diperhatikan:
1. Fokusnya adalah membina kekuatan untuk menyelesaikan setiap persoalan yang
timbul dalam pelaksanaan evaluasi kinerja. Jadi bukan semata-mata menyelesaikan
persoalannya dengan baik setiap saat, setiap ada persoalan baru. Jadi yang penting
adalah kemampuannya.
2. Selalu didasarkan atas suatu pertemuan pendapat, misalnya dari hasil diskusi antara
karyawan dengan penyelia langsung, suatu diskusi yang konstruktif untuk mencari
jalan yang terbaik dalam meningkatkan mutu dan baku yang tinggi.
3. Suatu proses manajemen yang alami, jangan merasa dan menimbulkan kesan
terpaksa, namun dimasukkan secara sadar ke dalam corporate planning, dilakukan
secara periodik, terarah dan terprogram, bukan kegiatan yang hanya setahun sekali
atau kegiatan yang dilakukan jika manajer ingat saja.
20
2.2.3. Metode Penilaian Kinerja
Menurut Dessler (1997:315) terdapat beberapa metode penilaian kinerja, yaitu:
ƒ
Metode Skala Penilaian Grafik
Skala penilaian grafik adalah teknik penilaian yang paling sederhana dan paling
populer untuk menilai kinerja. Dalam metode ini didaftar seperangkat faktor kinerja,
seperti kuantitas dan kualitas kerja, kedalaman pengetahuan, kooperasi, kesetiaan,
kehadiran, kejujuran, dan prakarsa. Metode ini tidak memakan waktu seperti metode
lainnya.
Kelebihan metode skala penilain grafik:
-
Sederhana untuk digunakan
-
Memberkan penilaian kuantitatif untuk masing-masing karyawan
Kelemahan metode skala penilaian grafik:
ƒ
-
Standar bisa tidak jelas
-
Terjadi hallo effect, central tendency, dan prasangka
Metode Peringkatan Alterasi
Metode peringkatan alterasi dilakukan dengan membuat peringkat karyawan yang
terbaik ke yang terjelek berdasarkan ciri tertentu.
ƒ
Metode Perbandingan Berpasangan
Metode ini dilakukan dengan memeringkatkan karyawan dengan membuat peta dari
semua pasangan karyawan yang mungkin untuk setiap ciri (kuantitas kerja, kualitas
kerja, dan sebagainya) dan menunjukkan mana karyawan yang lebih baik dari
pasangannya.
ƒ
Metode Distribusi Paksa (Forced Distribution Method)
Dalam teknik ini, karyawan dibagi dalam kelompok yang berbeda prestasi kerjanya,
misal kelompok istimewa, berprestasi tinggi, berprestasi sedang atau berprestasi
rendah.
ƒ
Metode Insiden Kritis
Pada metode ini, atasan mempunyai catatan mengenai tingkah laku karyawan, baik
yang buruk maupun yang baik. Dengan adanya catatan ini, maka atasan dapat
dengan mudah menentukan feedback yang sesuai untuk karyawan tersebut. Selain
itu, atasan juga dapat mengetahui karyawan mana yang mempunyai tingkah laku
yang sesuai dengan perusahaan dalam rangka tujuan perusahaan.
ƒ
Behaviorally Anchored Rating Scale (BARS)
Pada metode ini, atasan membuat daftar dari beberapa dimensi kunci yang nantinya
akan dijabarkan dalam contoh-contoh konkrit yang dapat menunjukkan prestasi
21
yang baik, sedang ataupun buruk. Dengan menentukan derajat penilaian dari
beragam prestasi tersebut, maka atasan dapat melakukan penilaian.
Kelebihan metode BARS:
-
BARS sangat akurat
-
Standar yang lebih jelas
Kelemahan metode BARS:
-
Sulit untuk dikembangkan
Menurut Mathis & Jackson (2006:401) terdapat beberapa masalah yang berkaitan
dengan pendekatan perilaku harus dipertimbangkan. Pertama, mengembangkan dan
memelihara skala penilaian perilaku yang diharapkan membutuhkan waktu dan
usaha yang ekstensif. Di samping itu, dibutuhkan berbagai formulir penilaian untuk
mengakomodasi jenis pekerjaan berbeda dalam organisasi.
ƒ
Metode Manajemen Berdasarkan Sasaran (Management By Objective, MBO)
Pada metode ini dilakukan penetapan tujuan khusus yang dapat diukur bersama
dengan masing-masing karyawan dan selanjutnya secara berkala ditinjau kemajuan
yang telah dicapai.
Kelebihan metode manajemen berdasarkan sasaran:
-
Terikat pada persetujuan bersama berdasarkan sasaran kinerja
Kelemahan metode skala penilaian grafik:
-
Menghabiskan banyak waktu
-
Penetapan tujuan yang tidak jelas dan tidak bisa diukur
-
Menetapkan tujuan dengan bawahan kadang-kadang berubah menjadi semacam
tarik tambang
2.2.4. Kesalahan-kesalahan Dalam Penilaian Kinerja
Menurut Mangkunegara (2001:74) terdapat beberapa kesalahan-kesalahan dalam
penilaian kinerja:
™ Hallo Effect
Penilaian yang subjektif diberikan kepada pegawai, baik yang bersifat negatif
maupun positif yang berlebihan dilihatnya dari penampilan pegawai.
™ Liniency
Penilaian kinerja yang memiliki kecenderungan memberikan nilai yang terlalu tinggi
dari yang seharusnya.
22
™ Strickness
Penilaian kinerja yang memiliki kecenderungan memberikan nilai yang terlalu
rendah dari yang seharusnya.
™ Central Tendency
Penilaian kinerja yang cenderung memberikan nilai rata-rata (sedang) kepada
pegawai.
™ Personal Biases
Penilaian kinerja yang memberikan nilai yang baik kepada pegawai senior, lebih tua
usia, berasal darisuku bangsa yang sama.
2.3. Penilaian Kinerja Pegawai di PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan
Banten
Sistem penilaian kinerja di PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten dikenal
dengan Sistem Manajemen Unjuk Kerja (SMUK). Terdapat beberapa aspek yang terkait
dengan SMUK, yaitu sasaran unjuk kerja pegawai, standar unjuk kerja pegawai dan
pihak terkait beserta perannya pada pelaksanaan sistem manajemen unjuk kerja pegawai
PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten.
A. Sasaran Unjuk Kerja Pegawai
Penyusunan sasaran unjuk kerja pegawai dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1. Penjabaran sasaran unit kerja dari sasaran organisasi
a. Proses perencanaan sasaran unjuk kerja pegawai diawali dari puncak
organisasi dengan maksud menjamin bahwa sasaran unjuk kerja pegawai
yang disusun pegawai pada peringkat paling bawah relevan dengan sasaran
organisasi dimana pegawai yang bersangkutan;
b. Sasaran unjuk kerja pegawai yang disusun pegawai tersebut diturunkan dari
rencana bisnis organisasi melalui unit-unit organisasi sesuai hirarki yang
ada;
2. Penjabaran sasaran unjuk kerja dari uraian jabatan
a. Uraian jabatan merekam lingkup tugas dan tanggung jawab dari suatu
jabatan yang terkait dengan pemangku jabatan secara individu, kecuali
jabatan itu mengalami perubahan;
b. Bentuk sasaran unjuk kerja pegawai dapat berupa usaha perbaikan, kegiatan
operasional dan usaha pengembangan diri;
c. Sasaran unjuk kerja pegawai dari uraian jabatan dapat diturunkan dari
23
ƒ
Bidang-bidang yang berhubungan
dengan
unit
usaha
misalnya
kemungkinan peluang serta isu-isu yang harus diatasi;
ƒ
Bidang-bidang
dimana
mengembangkan
gagasan
pemegang
jabatan
pengembangan
berminat
diri
yang
untuk
dapat
diimplementasikan bagi keuntungan Perseroan;
Contoh:
Sebutan Jabatan
: Juru Utama Tata Usaha Kepegawaian
No. Kode Jabatan
: 31050002
Unit Kerja
: PT PLN (Persero) Cabang
Uraian Tugas
: Menyiapkan konsep persetujuan
Cuti pegawai berdasarkan permohonan pegawai
Hasil Kerja
: Konsep persetujuan cuti
Sasaran Unjuk Kerja
: Mengajukan konsep persetujuan
cuti, paling lambat satu minggu
sejak tanggal diterima pengajuan
dari Pegawai yang bersangkutan.
B. Standar Unjuk Kerja Pegawai
Standar unjuk kerja pegawai merupakan pernyataan yang menunjukkan hasil akhir,
apabila sasaran unjuk kerja pegawai diselesaikan sesuai dengan ekspektasi. Standar
unjuk kerja pegawai disusun secara bersama-sama antara atasan langsung dengan
pegawai yang bersangkutan. Standar unjuk kerja pegawai dapat mengacu pada
kuantitas, kualitas atau kelengkapan dari hasil, penggunaan sumber daya biaya, waktu
yang diperlukan, dan atau tingkat ketergantungan.
Contoh:
Penetapan standar unjuk kerja Kepala Bagian Pelayanan Pelanggan (KBPP), dapat
berupa:
¾ Standar atas dasar prosentasi kenaikan/penurunan dengan hasil yang dicapai di masa
lalu, artinya standar unjuk kerja KBPP disusun dengan menggunakan prosentasi
lebih tinggi atau lebih rendah daripada hasil yang dicapai pada periode yang sama
dimasa lalu.
24
Contoh:
ƒ
Penjualan kWh 5% lebih tinggi dengan tahun sebelumnya, pada periode
bulan Januari – Juni;
ƒ
Kecepatan penyambungan 5% lebih tinggi dari tahun sebelumnya;
¾ Standar atas dasar hasil perbandingan dengan hasil yang pernah dicapai dimasa lalu.
Contoh:
ƒ
Penjualan kWh dalam tahun 1998 meningkat sebesar 5% dibandingkan
penjualan pada periode yang sama dalam tahun 1997;
ƒ
Penurunan susut jaringan distribusi sebesar 0,5% dibandingkan dengan tahun
lalu sebesar 0,3%;
¾ Standar atas dasar penetapan target absolut tanpa menggunakan perbandingan.
Contoh:
ƒ
Laporan mingguan hasil penetapan kWh meter pelanggan disampaikan pukul
11.00 setiap hari Senin;
ƒ
Laporan mutasi data langganan akan dimutakhirkan ke dalam Data Induk
Langganan (DIL) dalam waktu tiga hari kerja;
C. Prosedur Manajemen Unjuk Kerja Pegawai
Prosedur manajemen unjuk kerja pegawai di PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat
dan Banten dimulai dari perencanaan unjuk kerja pegawai hingga penilaian unjuk kerja
pegawai. Siklus manajemen unjuk kerja ini melibatkan pegawai, atasan langsung, atasan
dari atasan langsung, dan bidang kepegawaian. Prosedur manajemen unjuk kerja
pegawai secara lengkap adalah sebagai berikut:
1. Langkah Perencanaan Unjuk Kerja Pegawai
Berupa penentuan tanggung jawab pekerjaan, dan penentuan harapan unjuk kerja
pegawai, yaitu penentuan tujuan atau sasaran unjuk kerja pegawai pada awal jangka
waktu. Perencanaan unjuk kerja pegawai merupakan diskusi formal antara pegawai
dengan atasan langsungnya. Tujuan perencanaan unjuk kerja pegawai adalah untuk
memperoleh:
¾ Kesepakatan atas sasaran unjuk kerja pegawai pada tahun yang akan datang,
dengan mengacu pada rencana perseroan dan uraian jabatan pegawai yang
bersangkutan;
¾ Kesepakatan atas hal-hal apa saja yang diperlukan untuk membantu pegawai
mencapai sasaran unjuk kerjanya;
25
¾ Kesepakatan bahwa pegawai memiliki uraian jabatan yang memadai atau
mutakhir;
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebelum perencanaan unjuk kerja pegawai:
ƒ
Bidang Kepegawaian
1) Memastikan perencanaan unjuk kerja pegawai tepat waktu;
2) Memastikan atasan langsung pegawai mendapat pelatihan manajemen unjuk
kerja pegawai;
3) Memastikan uraian jabatan telah memadai atau mutakhir;
ƒ
Atasan dari atasan langsung
1) Memperjelas dan mengkomunikasikan rencana kerja dari unit kerja yang
dipimpinnya;
2) Menjabarkan rencana kerja unit yang dipimpinnya ke dalam sasaran unjuk kerja
pegawai yang ada di bawahnya;
3) Memberikan arahan perbaikan unjuk kerja pegawai, sikap dan perilaku;
ƒ
Atasan Langsung Pegawai
1) Menyiapkan seluruh data yang relevan dan berkaitan dengan jabatan pegawai
yang terkait;
2) Memastikan bahwa pegawai memiliki seluruh informasi yang dibutuhkan untuk
menyusun sasaran-sasaran individu;
3) Menyiapkan informasi-informasi untuk perencanaan unjuk kerja pegawai,
meliputi sasaran organisasi untuk satu tahun mendatang;
4) Menjabarkan sasaran organisasi ke dalam saasaran individu atau tim;
5) Menyiapkan pertemuan untuk memastikan bahwa pegawai memahami proses
perencanaan kerja, mengapa dikerjakan, bagaimana mengerjakan, serta apa yang
menjadi tanggungjawabnya;
6) Memotivasi dan meyakinkan pegawai agar melakukan proses dengan benar dan
sungguh-sungguh;
ƒ
Pegawai
1) Menyiapkan salinan uraian jabatan (jika perlu dilakukan revisi);
2) Menyiapkan sasaran-sasaran yang akan diusulkan berdasarkan pada hasil
penilaian unjuk kerja pegawai tahun sebelumnya;
3) Menyiapkan kebutuhan pengembangan kemampuannya;
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama proses perencanaan unjuk kerja pegawai:
Atasan langsung dan pegawai secara bersama-sama:
26
-
Memperjelas sasaran unit kerja dan sasaran individu atau tim;
-
Mengidentifikasi ukuran-ukuran kuantitatif dan atau kualitatif bagi setiap sasaran
unjuk kerja pegawai;
-
Membuat standar unjuk kerja pegawau sesuai urutan prioritas dan target waktunya;
-
Menyusun dan menyepakati standar unjuk kerja pegawai;
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan setelah proses perencanaan unjuk kerja pegawai:
ƒ
Pegawai
Menandatangani formulir manajemen unjuk kerja pegawai;
ƒ
Atasan Langsung
1) Melengkapi formulir manajemen unjuk kerja pegawai berdasarkan hasil diskusi;
2) Menandatangani formulir manajemen unjuk kerja pegawai, membuat salinan
dan arsip;
3) Mengirimkan formulir ini kepada atasan dari atasan langsung untuk
persetujuan;
ƒ
Atasan dari Atasan Langsung
1) Menganalisis seluruh Rencana Unjuk Kerja Pegawai unit organisasinya;
2) Membubuhkan tandatangan persetujuan apabila disepakati;
2. Langkah Pemantauan Unjuk Kerja Pegawai
Pemantauan unjuk kerja pegawai adalah diskusi antara pegawai dengan atasan langsung
selama proses pencapaian sasaran unjuk kerja pegawai secara interim. Tujuan
pemantauan unjuk kerja pegawai adalah:
-
Agar unjuk kerja pegawai dan perilaku pegawai berada pada jalur yang benar;
-
Agar atasan langsung senantiasa melakukan pembinaan dan memberikan umpan
balik;
-
Agar tidak ada keterkejutan pada saat dilakukan penilaian unjuk kerja pegawai di
akhr tahun;
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebelum pemantauan unjuk kerja pegawai
ƒ
Bidang Kepegawaian
Menjamin pelaksanaan pemantauan unjuk kerja pegawai tepat waktu;
ƒ
Atasan Langsung
1) Menyiapkan seluruh data yang relevan dan berkaitan dengan unjuk kerja
pegawai, meliputi salinan uraian jabatan, serta data mengenai unjuk kerja
pegawai aktual, jika diperlukan;
27
2) Mempersiapkan pertemuan diskusi pemantauan unjuk kerja pegawai;
ƒ
Pegawai
Mempersiapkan data mengenai pencapaian sasaran unjuk kerja pegawai;
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama pemantauan unjuk kerja pegawai:
ƒ
Atasan Langsung
1) Mengamati unjuk kerja pegawai, sikap dan perilaku;
2) Menilai unjuk kerja interim;
3) Memberikan umpan balik secara rutin atas unjuk kerja pegawai, sikap dan
perilaku dibandingkan dengan unjuk kerja pegawai, sikap dan perilaku yang
diharapkan;
4) Memberikan petunjuk untuk perbaikan unjuk kerja pegawai, baik sikap maupun
perilaku;
5) Melengkapi formulir pada kolom pemantauan unjuk kerja pegawai untuk
merefleksikan hasil diskusi;
6) Mengembangkan rencana-rencana perbaikan;
7) Menyusun rencana-rencana pengembangan;
ƒ
Pegawai
1) Mengusulkan kebutuhan pengembangan;
2) Mengajukan saran-saran untuk perbaikan unjuk kerja pegawai;
3) Menandatangani formulir manajemen unjuk kerja pegawai;
Kegiatan-kegiatan setelah pemantauan unjuk kerja pegawai:
ƒ
Atasan Langsung
1) Melengkapi formulir manajemen unjuk kerja pegawai untuk merefleksikan hasil
diskusi;
2) Menandatangani formulir dan melakukan beberapa perubahan, jika diperlukan;
3) Mengawasi dari dekat untuk pegawai yang memerlukan perbaikan unjuk kerja
pegawai, sikap dan perilaku;
4) Membuat salinan untuk arsip dan Pegawai;
5) Mengirimkan formulir asli kepada atasan dari atasan langsung untuk
pemeriksaan dan persetujuannya;
ƒ
Atasan dari Atasan Langsung
1) Melakukan validasi hasil pemantauan unjuk kerja pegawai, dan dibandingkan
dengan unjuk kerja dari unit kerja yang dipimpinnya;
28
2) Mengkaji hasil pemantauan unjuk kerja pegawai dan menandatangani formulir
manajemen unjuk kerja pegawai;
ƒ
Bidang Kepegawaian
1) Mengkaji nilai unjuk kerja pegawai hasil pemantauan;
2) Mengkaji masukan kebutuhan-kebutuhan pengembangan pegawai;
3. Langkah Penilaian Unjuk Kerja Pegawai
Berupa penilaian unjuk kerja pegawai secara formal pada akhir jangka waktu, dilakukan
oleh atasan langsung dan pegawai untuk meningkatkan unjuk kerja pegawai dan unjuk
kerja perseroan serta memberikan informasi bidang kepegawaian. Tujuan penilaian
unjuk kerja pegawai adalah:
-
Diperoleh umpan balik dua arah mengenai efektivitas unjuk kerja pegawai;
-
Diperoleh perbandingan antara hasil yang dicapai dengan rencana sasaran yang telah
disepakati;
-
Diperoleh nilai unjuk kerjs pegawai secara keseluruhan;
Kegiatan yang diperlukan sebelum dilakukan Penilaian Unjuk Kerja Pegawai:
ƒ
Bidang Kepegawaian
Memastikan penilaian unjuk kerja pegawai dilakukan tepat waktu;
ƒ
Atasan Langsung
1) Menyiapkan seluruh data yang relevan dan berkaitan dengan unjuk kerja
pegawai;
2) Memeriksa pelatihan apa saja selama setahun;
3) Mempertimbangkan pandangan dari pegawai lain mengenai pegawai yang unjuk
kerjanya akan dinilai;
4) Mendapatkan komentar atasan dari atasan langsung;
5) Mempersiapkan pertemuan penilaian unjuk kerja pegawai;
ƒ
Pegawai
1) Menyiapkan seluruh data berkaitan dengan pencapaian hasil unjuk kerja
pegawai;
2) Menyiapkan saran, pendapat dan rencana untuk tahun mendatang;
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama penilaian unjuk kerja pegawai:
ƒ
Atasan Langsung
1) Menilai unjuk kerja pegawai aktual;
2) Melengkapi rencana-rencana perbaikan;
29
3) Melengkapi formulir manajemen unjuk kerja pegawai yang merefleksikan hasil
diskusi penilaian;
4) Meminta pegawai untuk memberikan komentar dan menandatangani formulir
manajamen unjuk kerja pegawai;
ƒ
Pegawai
1) Mengusulkan kebutuhan-kebutuhan untuk pengembangan pegawai;
2) Mempertimbangkan usul atau saran perbaikan;
3) Menandatangani formulir manajemen unjuk kerja pegawai;
Kegiatan-kegiatan setelah Penialain Unjuk Kerja Pegawai:
ƒ
Atasan Langsung
1) Menandatangani formulir manajemen unjuk kerja pegawai serta memberikan
komentar tambahan, jika diperlukan;
2) Mengirimkan hasil penilaian kepada atasan dari atasan langsung;
3) Menyiapkan salinan formulir untuk pegawai dan arsip;
4) Mengirimkan formulir yang sudah lengkap kepada bidang kepegawaian;
ƒ
Atasan dari Atasan Langsung
1) Melakukan validasi penilaianan unjuk kerja pegawai atas unjuk kerja unit serta
hasil penilaian atasan langsung lainnya dalam forum kalibrasi;
2) Mengkaji serta menyetujui seluruh hasil penilaian unjuk kerja pegawai;
3) Menandatangani formulir manajemen unjuk kerja pegawai;
ƒ
Bidang Kepegawaian
1) Menganalisis hasil penilaian unjuk kerja pegawai;
2) Membuat laporan ringkas hasil penilaian untuk pengembangan karier pegawai;
3) Menganalisis kebutuhan-kebutuhan pelatihan/pengembangan;
D. Jadwal Pelaksanaan Manajemen Unjuk Kerja Pegawai
Disusunnya jadwal pelaksanaan manajemen unjuk kerja pegawai dengan bertujuan
untuk:
-
Menjamin kepastian untuk pelaksanaan;
-
Keseluruhan manajemen unjuk kerja pegawai dapat dilakukan oleh setiap unsur
terkait secara konsisten dan terpadu.
Berikut adalah contoh jadwal langkah proses Manajemen Unjuk Kerja Pegawai:
URAIAN
a. Perencanaan Unjuk Kerja Pegawai
30
JADWAL
07-12-199(X-1)
CONTOH
07-12-1998
b. Pemantauan Unjuk Kerja Pegawai:
ke-1
01-04-199X
01-05-1999
ke-2
01-08-199X
01-09-1999
ke-3
01-12-199X
01-12-1999
01-12-199X
01-12-1999
15-12-199X
12-12-1999
01-02-199(X+1)
31-01-2000
c. Penilaian Unjuk Kerja Pegawai
d. Bidang Kepegawaian menerima
Formulir Manajemen Unjuk Kerja
Pegawai
e. Bidang Kepegawaian memproses
hasil Penilaian Unjuk Kerja Pegawai
2.4. Kompetensi
Ada banyak pendekatan dan acuan yang bisa digunakan untuk menilai kinerja
karyawan. Pendekatan yang saat ini dikembangkan adalah penilaian kinerja berbasis
kompetensi. Sistem penilaian ini dirasa mampu mencerminkan kinerja seseorang yang
sesungguhnya. Kompetensi dapat digunakan untuk mengevaluasi proses kerja
seseorang, dimana masing-masing jabatan dalam perusahaan memiliki standar
kompetensi yang berbeda-beda sehingga standar pengukuran kinerjanya disesuaikan
dengan standar kompetensi yang dimilikinya.
2.4.1. Definisi Kompetensi
Kompetensi merupakan karakteristik dari seseorang yang memungkinkan dirinya untuk
menampilkan kinerja yang luar biasa dalam suatu pekerjaan, peranan atau situasi. Hal
ini seperti yang dikemukakan oleh Shermon dalam buku Competency Based HRM Bab I
sebagai berikut:
A competency is an underlying characteristic of a person, which enables him to
deliver superior performance in a given job, role or situation. ...This characteristic
may be called an attribute bundle, consisting of knowledge, skills, traits, social role,
self-image and motive. The underlying characteristic, manifest itself in the form of
behavior, which help identification and measurement of the competency (2004:11).
2.4.2. Tipe/Jenis Kompetensi
Tipe/jenis kompetensi terdiri dari kompetensi teknis dan kompetensi non-teknis.
Kompetensi teknis adalah kompetensi yang berhubungan dengan keahlian tertentu
sedangkan kompetensi non-teknis berupa kemampuan dan atribut kepribadian. Hal ini
seperti dikemukakan oleh Shermon dalam buku Competency Based HRM:
31
Types of competencies
Technical
ƒ Competencies related to a specific area of expertise such as an industry, process,
technological package or functional area as a knowledge or skill (e.g., knowledge of
safety regulation & international compliance codes, order management, upstreamdownstream integration skills, hedging expertise to reduce risks in the oil market, etc.)
ƒ These competencies are generally acquired through some form of trainning (i.e., course
work, formal education) which may be accompanied by some type of certification.
Non-Technical
ƒ Competencies often considered “soft skills”-usually abilities and personal attributes
(e.g., Risk Taking, Flexibility, passion for organization, patience, commitment, etc.)
ƒ These competencies generally are not specific to an industry, process, technological
package or functional area. (2004:40)
PT PLN (Persero) menyadari pentingnya kompetensi karyawan hal ini terlihat dengan
disusunnya kamus kompetensi karyawan pada tahun 2005. PT PLN (Persero) menyusun
kompetensi ini kedalam tiga kelompok yaitu Kompetensi Inti, Kompetensi Teknis, dan
Kompetensi Kepemimpinan. Gambar 2.3 dibawah ini menjelaskan ketiga kompetensi
tersebut.
Kompetensi Kepemimpinan
Dimiliki oleh jabatan
tertentu
Kompetensi Teknis
Dimiliki oleh jabatan
tertentu
Kompetensi Inti
Dimiliki oleh setiap
individu pegawai
Gambar 2.3. Kompetensi Karyawan di PT PLN (Persero)
(Sumber: Bagian SDM)
ƒ
Kompetensi Inti (core competency)
Merupakan kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap individu pegawai.
ƒ
Kompetensi Kepemimpinan (leadership competency)
Merupakan kompetensi yang diperlukan pada jabatan tertentu, baik jabatan
manajerial, kepakaran maupun teknis-operatif, seluruhnya berjumlah 17 buah.
Kompetensi Inti dan Kompetensi Kepemimpinan dirumuskan dari visi, misi, value,
dan motto perusahaan.
ƒ
Kompetensi Teknis
Kompetensi Teknis yaitu kompetensi yang diperlukan pada jabatan tertentu, baik
jabatan yang bersifat manajerial, kepakaran maupun teknis-operatif. Saat ini
kompetensi ini berjumlah 193 buah dan akan terus berkembang sesuai dengan
kebutuhan.
32
2.5. Analisis Situasi Bisnis
Analisis situasi bisnis PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten dimulai dari
analisis kondisi perusahaan, selanjutnya analisis pelanggan dan aspek supplier.
2.5.1. Kondisi Persaingan
Dengan dikeluarkan UU No. 20 tahun 2002 yang isinya mengenai keterlibatan pihak
swasta untuk melakukan bisnis di sektor kelistrikan mengindikasikan adanya peluang
munculnya pesaing dari pihak swasta. Jika hal ini terjadi, maka PT PLN (Persero) tidak
akan lagi menjadi perusahaan yang memonopoli sektor kelistrikan. Jika dilihat dari
aspek konsumen, UU No. 20 Tahun 2002 memberikan keuntungan. UU ini akan
membuka peluang akan adanya persaingan yang sehat dalam bidang pembangkitan dan
retail. UU ini memberikan dasar baru bagi sektor kelistrikan untuk berkembang dalam
kompetisi dunia usaha dengan tuntutan untuk memuaskan konsumen (consumer
oriented). Dalam UU ini dijelaskan juga berbagai hak dan kewajiban dari provider dan
konsumen terutama didalam pelaksanaan dan operasional perusahaan. Berdasar dari
situasi inilah peningkatan kualitas layanan kepada pelanggan menjadi faktor utama.
Artinya konsumen akan bisa menikmati listrik dengan kualitas yang lebih baik serta
harga yang lebih murah.
2.5.2. Pelanggan/Konsumen
Pelanggan PT PLN (Persero) distribusi Jawa Barat dan Banten meliputi industri/pabrik
dan perumahan. Peranan energi listrik pada masa sekarang ini sangatlah penting. Selain
sebagai kebutuhan, energi listrik juga berkaitan dengan kulaitas hidup masyarakat. Oleh
karena itu, peningkatan jumlah pelanggan terus terjadi. Berdasarkan laporan penjualan
tenaga listrik hingga pada bulan Februari 2008, jumlah pelanggan PT PLN (Persero)
Distribusi Jawa Barat dan Banten adalah 7.823.647 pelanggan dan total pemakaian
2.868.828.575 KWH. Pelanggan PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten
terbagi kedalam kategori S, R, B, I, dan P. Tabel 2.4 berikut ini menjelaskan komposisi
pelanggan PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten.
Tabel 2.1. Komposisi Pelanggan PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten
Tahun 2008
Sektor Pelanggan
Pelanggan
S (sosial)
R (rumah tangga)
166,876
7,392,625
Daya
Tersambung VA/Pelanggan
(VA)
268,257,930
1,608
5,594,332,300
757
Sumber: Bidang Niaga, PLN
33
Tabel 2.1. Komposisi Pelanggan PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten
Tahun 2008 (lanjutan)
Sektor Pelanggan
Pelanggan
B (bisnis)
I (industri)
P (pemerintah)
221,408
10,736
31,937
Daya
Tersambung
(VA)
1,448,931,810
5,047,277,250
211,808,345
VA/Pelanggan
6,544
470,126
6,632
Sumber: Bidang Niaga, PLN
Dari data PLN, untuk pelanggan rumah tangga kecil (R1) 450 VA rata-rata pemakaian
nasional per bulan ditetapkan sebesar 75 kWh, R1 900 VA sebesar 115 kWh, R1 1.300
VA sebesar 197 kWh, dan R1 2.200 VA ditetapkan sebesar 354 kWh. Sementara ratarata pemakaian nasional untuk pelanggan rumah tangga menengah (R2) 2.200-6.600
VA sebesar 650 kWh, dan pelanggan rumah tangga mewah (R3) di atas 6.600 VA
sebesar 1.767 kWh. Untuk pelanggan bisnis skala kecil (B1) sampai dengan 450 VA
rata-rata pemakaian nasional ditetapkan sebesar 70 kWh, B1 900 VA sebesar 131 kWh,
B1 1.300 VA sebesar 187 kWh, dan B1 2.200 VA sebesar 290 kWh. Sedangkan untuk
kantor pemerintah skala kecil (P1) 450 VA pemakaian rata-rata nasional ditetapkan
sebesar 89 kWh, P1 900 VA sebesar 121 kWh, P1 1.300 VA sebesar 199 kWh, dan P1
2.200 VA sebesar 320 kWh3.
PLN mencatat dalam tiga tahun terakhir konsumsi listrik oleh para pelanggannya
meningkat tajam. Untuk Wilayah Jawa Barat dan Banten, Rata-rata pertumbuhan
pelanggan saat ini sudah di atas 6 persen4. Peningkatan jumlah pelanggan ini harus
merupakan tantangan tersendiri untuk meningkatkan kinerja perusahaan.
2.5.3. Pemasok (Supplier)
Supplier adalah pihak yang memasok kebutuhan-kebutuhan perusahaan agar perusahaan
dapat beroperasi. Supplier PT PLN (Persero) misalnya perusahaan-perusahaan suku
cadang dan PT Pertamina (pemasok BBM). Peranan BBM bagi PT PLN (Persero)
sangatlah penting. Sampai saat ini, perusahaan masih bergantung pada Bahan Bakar
Minyak (BBM) sebagai sumber pembangkit tenaga listrik. Kebutuhan bahan bakar
minyak (BBM) bagi pembangkit listrik PLN pada 2008 masih tinggi. PLN
memperkirakan kebutuhan BBM di tahun ini mencapai 10,66 juta kiloliter (KL). Sementara kebutuhan gas untuk pembangkit listrik PLN di tahun 2008 diperkirakan
3
4
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=321112&kat_id=4
http://www.apbi-icma.com/news.php?pid=3580&act=detail 34
mencapai 198,105 BBTU. Sedangkan kebutuhan batu bara bagi pembangkit listrik PLN
di tahun ini diperkirakan mengalami penurunan dari 21,893 juta ton di 2007 menjadi
hanya 20,957 juta ton di 20085.
Ketergantungan PT PLN (Persero) pada BBM berimbas pada efisiensi perusahaan
mengingat harga BBM yang semakin naik. Perusahaan hendaknya mencari tenaga
alternatif yang lebih efisien dan memiliki ketersediaan untuk jangka panjang.
2.6. Akar Masalah
Kecenderungan tantangan bisnis yang semakin meningkat baik internal maupun
eksternal perusahaan, menuntut perusahaan untuk melakukan pembenahan dan inovasi,
terutama di bidang manajemen SDM. Peranan sumber daya manusia sangat besar dalam
menentukkan keberhasilan peningkatan kinerja perusahaan.
PT PLN (Persero) merupakan perusahaan yang bergerak dalam penyediaan listrik di
Indonesia. Perusahaan memiliki misi:“Diakui sebagai Perusahaan Kelas Dunia yang
Tumbuh Berkembang, Unggul dan Terpercaya dengan bertumpu pada Potensi Insani”.
Dalam mencapai misinya, perusahaan memandang bahwa sumber daya manusia
merupakan elemen yang sangat penting dan merupakan penggerak utama bisnis
kelistrikan di Indonesia.
Mengingat begitu pentingnya peranan sumber daya manusia bagi PT PLN (Persero),
perusahaan harus senantiasa berupaya meningkatkan kualitas SDM-nya. Salah satu
upaya tersebut adalah berupa pengelolaan sumber daya manusia berbasis kompetensi.
Langkah perusahaan untuk mewujudkan sumber daya manusia berbasis kompetensi
terlihat dengan disusunnya kamus kompetensi pada tahun 2005. Penerapan sumber daya
manusia berbasis kompetensi dipakai dalam berbagai kebutuhan diantaranya untuk
penilaian kinerja/prestasi. Penilaian terhadap prestasi SDM sangat penting dalam rangka
peningkatan kualitas SDM itu sendiri. Melalui penilaian kinerja, pegawai akan
termotivasi untuk senantiasa bekerja maksimal. Mengingat pentingnya peran penilaian
kinerja, maka perbaikan terkait dengan penilaian kinerja senantiasa perlu dilakukan.
Bagus tidaknya keandalan penilaian kinerja, bergantung pada materi penilaian, cara
penilaian, dan waktu penilaian. Materi penilaian berhubungan dengan aspek-aspek yang
5
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=321112&kat_id=4 35
dijadikan penilaian. Sedangakan cara penilaian berkaitan dengan pihak-pihak yang
melakukan penilaian. Faktor penilai sangat mempengaruhi terhadap hasil penilaian.
Terdapat beberapa permasalahan yang di hadapi di PT PLN (Persero) Distribusi Jawa
Barat dan Banten terkait manajemen kinerja.
ƒ
Penilaian kinerja di PT PLN (Persero) disebut dengan Manajemen Unjuk Kerja
Pegawai. Prosedur dan form penilaian kinerja diperusahaan disusun tahun 1998
sedangkan kamus kompetensi dibuat pada tahun 2005. Form penilaian kinerja yang
digunakan saat ini belum menyesuaikan (matching) dengan yang ada di kamus
kompetensi yang telah disusun.
ƒ
Aspek-aspek penilaian belum memiliki nilai bobot yang merepresentasikan tingkat
kepentingan. Berdasarkan hasil keterangan beberapa supervisor dan staff di SDM
APJ, sebenarnya setiap aspek memiliki tingkat kepentingan yang berbeda
disesuaikan dengan jabatannya. Sebagai contoh, untuk seorang staff SDM DI APJ
Bandung, aspek pengetahuan praktis cenderung memiliki tingkat kepentingan yang
relatif tinggi. Hal ini karena kegiatan seorang staff lebih berfokus pada kegiatan
teknis.
2.7. Fokus Proyek Akhir
Pada proyek akhir ini, analisis hanya difokuskan di APJ Bandung pada bagian Sumber
Daya Manusia untuk level staff (Terampil) yang berada di bawah level supervisor.
36
Download