SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENJURUSAN SMA

advertisement
PROYEK AKHIR
MATA KULIAH SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN
SEMESTER GANJIL 2013-2014
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENJURUSAN SMA
MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS
(AHP)
Disusun oleh:
Kelompok D Kelas F
1.
Okky Cintia Devi
(115060801111042)
2.
Indana Zulfa
(115060800111107)
3.
Fauziatul Munawaroh
(115060807111115)
4.
Desyy Rizky K
(115060807111138)
Dosen Pengajar: Wayan Firdaus Mahmudy, Ph.D.
PROGRAM STUDI INFORMATIKA
PROGRAM TEKNOLOGI INFORMASI DAN ILMU KOMPUTER
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat, dan
hidayah-Nya, sehingga penulis bisa menyelesaikan proposal ini dengan sebaikbaiknya. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam menyelesaikan makalah
final project ini, penulis mendapatkan banyak bantuan dari semua pihak, untuk itu
dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Wayan Firdaus Mahmudy, Ph.D. selaku Dosen Mata Kuliah Sistem
Pendukung Keputusan yang telah memberikan bimbingan, arahan dan
motivasi hingga makalahfinal project ini dapat terselesaikan.
2. Seluruh dosen pengajar dan karyawan Program Teknologi Informasi dan Ilmu
Komputer Universitas Brawijaya Malang.
3. Kedua orang tua serta keluarga yang selalu memberikan dukungan, nasihat
dan doa.
4. Teman-teman Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer angkatan
2011 yang selalu memberikan motivasinya.
5. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu
dalam terselesaikannya makalah project akhir ini.
Semoga segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis selama
penulis menyusun makalah project akhir ini mendapat balasan dari Allah SWT.
Penulis menyadari bahwa makalah project akhir ini tidak sempurna dan tidak
luput dari kesalahan, sehingga penulis menerima apabila terdapat kritik dan saran.
Semoga makalah final project ini dapat bermanfaat.
Malang, Januari 2014
Penulis
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ………………………………………………….....
i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………...
ii
DAFTAR TABEL .......................................................................................
iv
DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………..
v
BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………
1
1.1 Latar belakang …………………………………………...……….
1
1.2 Rumusan masalah ………..………………………………………
1
1.3 Batasan masalah ……………………………...…………………..
2
1.4 Tujuan…………. …………………...……………………………
3
1.5 Manfaat…………. ……………………………………………….
3
1.6 Sistematika penulisan ……………………………………………
4
1.7 Jadwal penelitian..………………………………………………...
5
BAB II DASAR TEORI ………................................................................
6
2.1 Sistem pakar……………………………………………………...
6
2.1.1 Pengertian sistem pakar …………………………………...
6
2.1.2 Ciri-ciri sistem pakar ……………………………………...
7
2.1.3 Konsep dasar sistem pakar ………………………………...
7
2.1.4 Struktur sistem pakar ……………………………………...
9
2.2 Analitycal Hierarchy Process(AHP) ……………………...
18
2.3 Bakat dan Minat.…………………………………………………
19
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ……………………………….
27
3.1 Studi pustaka…………………………………………………...
28
3.2 Analisa kebutuhan……………………………………………...
28
3.3 Perancangan umum ……..……………………………………..
28
3.4 Implementasi …………………………………………………..
31
3.5 Pengujian ……………………………………………………...
31
3.6 Kesimpulan dan saran …………………………………………
32
BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN ..................................
4.1 Analisis Kebutuhan Perangkat Lunak
33
33
iii
4.1.1 Identifikasi Aktor
33
4.1.2 Daftar Kebutuhan Sistem
34
4.1.2.1 Kebutuhan Fungsional
35
4.1.2.2 Kebutuhan Non Fungsional
36
4.1.3 Diagram Usecase
36
4.1.4 Skenario Usecase
37
4.2 Perancangan Sistem Pendukung Keputusan
39
4.2.1 Hasil keputusan menggunakan PHP
39
4.2.2 Metode yang digunakan dalam PHP
39
4.2.3 User Interface
40
Lampiran 1 : Diagram Alir Sistem Penjurusan SMA......................
44
Lampiran 2 : Soal Kuis Keminatan……………….........................
45
DAFTAR PUSTAKA
48
iv
DAFTAR TABEL
No.
Judul
Halaman
Tabel 1.1
Jadwal penelitian
5
Tabel 2.1
Skema bidang minat kerja
24
Table 4.1
Deskripsi Aktor
34
Table 4.2
Daftar kebutuhan system
34
Table 4.3
Skenario Usecase
37
v
DAFTAR GAMBAR
No.
Judul
Halaman
Gambar 2.1
Struktur sistem pakar
9
Gambar 2.2
Tim pengembang sistem pakar
16
Gambar 2.3
Pemecahan masalah pada pakar
17
Gambar 2.4
Struktur pemecahan masalah pada sistem pakar
17
Gambar 3.1
Diagram alir metodologi penelitian
27
Gambar 3.2
Diagram blok sistem pakar pemilihan bidang studi
29
Gambar 3.3
Konsep pengetahuan sistem pakar pemilihan bidang
31
studi
Gambar 4.1
Susunan Rancangan
33
Gambar 4.2
Usecase Sistem
36
Gambar 4.3
tampilan awal pada web site penjurusan sma
40
Gambar 4.4
tampilan setelah login
41
Gambar 4.5
Tampilan nilai akademik
41
Gambar 4.6
Tampilan nilai psikotest
42
Gambar 4.7
Tampilan kuis keminatan
42
Gambar 4.8
Tampilan hasil kuis keminatan
43
Gambar 4.9
Hasil keputusan
43
Gambar 4.10
Flowchart
44
vi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Penjurusan bagi siswa SMA dilaksanakan pada semester ganjil kelas XI.
Pelaksanaan penjurusan bagi mereka diperkenalkan sebagai upaya untuk
mengarahkan siswa terhadap bakat dan minat seta kemampuan akademik siswa
tersebut. Penjurusan ini dimaksutkan agar siswa lebih mudah dalam memilih
jurusan di Perguruan Tinggi kelak yang akan mengarah ke profesinya juga. Tetapi
penjurusan bagi siswa SMA tidak selalu sesuai dengan kemampuan, bakat, minat
serta
prestasi
akademiknya.
Hal
tersebut
mungkin
dikarenakan
faktor
kebingungan dari para siswa ketika diberikan pilihan penjurusan. Bahkan mereka
banyak yang sekedar ikut-ikutan dengan teman-temannya yang memilih salah satu
jurusan.
Di sekolah-sekolah SMA, kebanyakan penentu penjurusan itu berdasarkan
3 faktor. Pertama yaitu berdasarkan referensi orang tua siswa. Kedua, pemilihan
jurusan didasarkan pada ikut-ikutan teman dan berdasarkan tren jurusan masa
kini. Faktor ketiga yaitu prestasi akademik siswa itu sendiri. Penentuan
penjurusan berdasarkan ketiga faktor tersebut tentunya akan membuat penyesalan
bagi siswa yang penjurusannya tidak sesuai dengan bakat , minat serta kesukaan
mereka terhadap jurusan tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan teknologi
komputerisasi untuk pengambil keputusan penjurusan di Sekolah Menengah Atas.
Sistem ini diharapkan mampu membantu siswa SMA dalam memilih
jurusan. Penjurusan tersebut disesuaikan dengan bakat, minat dan juga nilai
akademik siswa. Metode AHP (Analytical Hierarchy Process) yang digunakan
dalam system ini akan mampu melakukan analisis uji komparasi berpasangan.
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka didapat
rumusan masalah yang meliputi :
1. Bagaimana rancangan dari sistem pakar pemilihan jurusan dengan
menggunakan metode AHP ?
1
2. Bagaimana akuisisi pengetahuan dari sistem pakar pemilihan jurusan dengan
menggunakan metode AHP?
3. Bagaimana implementasi dari sistem pakar pemilihan jurusan dengan
menggunakan metode AHP?
4. Bagaimana pengujian
dari sistem pakar pemilihan
jurusan dengan
menggunakan metode AHP?
1.3 Batasan masalah
Penelitian ini dibatasi oleh hal-hal sebagai berikut :
1. Kelompok jurusan yang digunakan sebagai keluaran yakni sebanyak 3
jurusan, yaitu: IPA, IPS dan Bahasa. Pemilihan jurusan tersebut berdasarkan
peminat yang cukup tinggi.
2. Kriteria yang digunakan terdiri dari :
a. Hasil tes bakat yang terdiri dari :

Analogis verbal (verbal reasoning)

Kemampuan angka (numerical ability)

Analogis simbol-simbol (abstract reasoning)

Kecepatan dan ketelitian klerikal (clerical speed and accuracy)

Penalaran mekanikal (mechanical reasoning)

Penggunaan bahasa (mengeja dan tata bahasa) [SUK-02]
b. Menggunakan hasil tes minat yang terdiri dari bidang minat kerja : bahasa,
seni, fisik, eksperimen, organisasi, bisnis dan sosial [BAR-04].
c. Nilai akademik dari siswa, meliputi nilai mata pelajaran pada kelas X
yaitu:

Bahasa: yaitu mata pelajaran yang terkait dengan ilmu bahasa dan sastra,
meliputi:
Bahasa
Indonesia,
Bahasa
Inggris
dan
Bahasa
Jerman/Arab/Jepang.

Logika Teknologi dan Informasi: yaitu mata pelajaran yang terkait
dengan kemampuan logika dan teknologi, diantaranya: teknologi
informasi, matematika dan fisika.
2

Sains: yaitu mata pelajaran yang terkait dengan ilmu sains, diantaranya:
biologi dan kimia.

Praktek: yaitu mata pelajaran yang terkait dengan aktivitas praktik,
diantaranya: seni budaya dan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan
(Penjaskes).

Sosial: yaitu mata pelajaran yang terkait dengan ilmu sosial, diantaranya:
sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, dan pendidikan kewarganegaraan.
3. Bahasa pemrograman yang digunakan menggunakan bahasa pemrograman
berorientasi objek.
4. Metode yang digunakan dalam menentukan bakat dan minat siswa dibatasi
pada metode AHP dengan pembobotan yang telah ditentukan oleh pakar
psikologi.
5. Pengujian disesuaikan dengan kebutuhan konsentrasi komputasi cerdas dan
visualisasi.
1.4 Tujuan
Tujuan perancangan sistem pakar ini adalah merancang dan membangun
sistem pakar untuk pemilihan jurusan bagi siswa SMA dengan menggunakan
metode Analytical Hierarchy Prosess(AHP).
1.5 Manfaat
Diharapkan dengan adanya perancangan sistem pakar ini dapat bermanfaat
bagi :
a. Bagi Instansi Pendidikan
Diharapkan sistem pakar ini dapat memudahkan para pendidik dan pakar
psikologi untuk mengarahkan siswa pada pemilihan jurusan yang sesuai.
b. Bagi Ilmu Pengetahuan
Diharapkan perancangan aplikasi ini dapat menambah referensi terhadap
penelitian baru dengan jurusan terkait.
c. Bagi Masyarakat
3
Diharapkan sistem pakar ini dapat menjadi sarana informasi untuk membantu
siswa dalam memilih jurusan yang tepat.
d. Bagi Penulis
Diharapkan dengan adanya tugas akhir ini dapat menjadi pembelajaran dan
dapat menambah pengalaman di jurusan keilmuan yang terkait.
1.6 Sistematika penulisan
Penyusunan tugas akhir ini menggunakan kerangka pembahasan yang
tersusun sebagai berikut :
Bab I
Pendahuluan
Memuat latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah,
tujuan, manfaat, sistematika penulisan dan jadwal penelitian.
Bab II
Dasar teori
Menguraikan teori dasar dan teori penunjang yang berkaitan
dengan sistem pakar, Multi Criteria Decision Making
(MCDM), metode AHP serta bakat dan minat.
Bab III
Metode Penelitian
Membahas metode yang digunakan dalam penelitian yang
terdiri dari studi pustaka, metode pengambilan data, metode
perancangan, metode implementasi, metode pengujian dan
analisis serta pengambilan kesimpulan dan saran.
Bab IV
Perancangan
Membahas analisis kebutuhan dan perancangan Sistem Pakar
Pemilihan jurusan siswa Dengan Metode Analytical Hierarchy
Prosess(AHP).
Bab V
Implementasi
Membahas tentang implementasi dari Sistem Pakar Pemilihan
jurusan siswa Dengan Metode Dengan Metode Analytical
Hierarchy Prosess(AHP).
Bab VI
Pengujian dan Analisis
Memuat strategi , teknik dan hasil pengujian terhadap sistem
4
pakar yang telah diimplementasikan
Bab VII
Penutup
Memuat kesimpulan serta saran yang diperoleh dari pengujian
dan analisis sistem pakar untuk pengembangan lebih lanjut.
1.7 Jadwal Penelitian
Jadwal penelitian ini sebagai berikut :
Tabel 1.1 Jadwal Penelitian
No
Kegiatan
Minggu
Minggu
Minggu
Minggu
Minggu
ke-1
ke-2
ke-3
ke-4
ke-5
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1
1.
Merancang sistem
2.
Mengumpulkan data
3.
Konsultasi dengan pakar
4.
Membuat sistem
5.
Menguji sistem
6.
Membuat laporan
2 3 4
5
BAB II
DASAR TEORI
Pada penelitian ini, dasar teori yang diperlukan untuk membuat system
pendukung keputusan pemilihan jurusan SMA berdasarkan latar belakang dan
rumusan masalah adalah : system pakar, Analytical Hierarchy Process (AHP), dan
minat dan bakat.
2.1 Sistem pakar
Sistem pakar merupakan cabang dari Artificial Itellegence (AI) yang
cukup tua karena sistem ini mulai dikembangkan pada pertengahan 1960. Sistem
pakar yang muncul pertama kali adalah General-purpose Problem Solver (GPS)
yang dikembangkan oleh Newel dan Simon. Sampai saat ini banyak sistem pakar
yang dibuat, seperti MYCIN untuk diagnosis penyakit, DENDRAL untuk
mengidentifikasi struktur molekul campuran yang tak dikenal, XCON dan XSEL
untuk membantu konfigurasi sistem komputer besar, SOPHIE untuk analisis
sirkuit elektronik, Prospector digunakan di bidang geologi untuk membantu
mencari dan menemukan deposit, FOLIO digunakan untuk membantu
memberikan keputusan bagi seorang manajer dalam stok dan investasi, DELTA
dipakai untuk pemeliharaan lokomotif listrik diesel, dan sebagainya [SUT-11:
159].
2.1.1
Pengertian sistem pakar
Istilah sistem pakar berasal dari istilah knowledge-based expert system.
Istilah knowledge-based expert system muncul karena untuk memasukkan
masalah, sistem pakar menggunakan pengetahuan seorang pakar yang dimasukkan
ke dalam komputer. Seseorang yang bukan pakar menggunakan sistem pakar
untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, sedangkan seorang pakar
menggunakan sistem pakar untuk knowledge assistant [SUT-11:160].
Menurut Edward Feigenbaum dari Universitas Standford mendefiniskan
sistem pakar sebagai “sebuah program komputer cerdas yang menggunakan
pengetahuan dan prosedur inferensi untuk memecahkan masalah yang cukup sulit,
6
yang membutuhkan keahlian manusia yang signifikan sebagai solusi”.
Sebuah
sistem pakar
adalah
sebuah
program
komputer
yang
menyamai kemampuan pengambilan keputusan dan kemampuan pemecahan
masalah dari seorang pakar [KUM-08:417].
2.1.2
Ciri-ciri sistem pakar
Ciri-ciri sistem pakar adalah sebagai berikut :
a. Terbatas pada domain keahlian tertentu.
b. Mampu memberikan penalaran untuk data-data yang tidak lengkap atau tidak
pasti.
c. Mampu menjelaskan alasan-alasan yang diberikannya dengan cara yang dapat
dipahami.
d. Bekerja berdasarkan kaidah atau rule tertentu.
e. Mudah dimodifikasi.
f. Basis pengetahuan dan mekanisme inferensi terpisah.
g. Keluarannya atau output bersifat anjuran.
h. Sistem dapat mengaktifkan kaidah secara searah sesuai, dituntun oleh dialog
dengan pengguna [SUT-11:162].
2.1.3
Konsep Dasar Sistem Pakar
Konsep dasar sistem pakar meliputi :
a. Kepakaran (expertise)
Kepakaran merupakan suatu pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan,
membaca dan pengalaman. Kepakaran memungkinkan para ahli dapat mengambil
keputusan lebih cepat dan lebih baik daripada seorang yang bukan pakar.
Kepakaran meliputi pengetahuan tentang :

Fakta-fakta tentang bidang permasalahan tertentu

Teori-teori tentang bidang permasalahan tertentu

Aturan-aturan dan prosedur-prosedur menurut bidang permasalahan
umumnya.

Aturan heuristic yang harus dikerjakan dalam suatu situasi tertentu

Strategi global untuk memecahkan permasalahan

Pengetahuan tentang pengetahuan (meta knowledge) [SUT-11:163] [TUR05:715].
7
b. Pakar (expert)
Pakar adalah seseorang yang mempunyai pengetahuan, pengalaman, dan
metode khusus serta mampu menerapkannya untuk memecahkan masalah atau
memberi nasihat. Seorang pakar harus mampu menjelaskan dan mempelajari halhal baru yang berkaitan dengan topik permasalahan, jika perlu harus mampu
menyusun kembali pengetahuan-pengetahuan yang didapatkan dan dapat
memecahkan aturan-aturan serta menentukan relevansi kepakarannya. Seorang
pakar mampu melakukan kegiatan-kegiatan berikut ;

Mengenali dan memformulasikan permasalahan

Memecahkan permasalahan secara cepat dan tepat

Menerangkan pemecahannya

Belajar dari pengalaman

Merestrukturisasi pengetahuan

Memecahkan aturan-aturan

Menentukan relevansi [SUT-11:163] [TUR-05:714].
c. Pemindahan kepakaran (transferring expertise)
Tujuan dari sistem pakar adalah memindahkan kepakaran dari seorang
pakar ke dalam komputer, kemudian ditransfer kepada orang lain yang bukan
pakar. Proses ini melibatkan empat kegiatan, yaitu :

Akusisi pengetahuan (dari pakar atau sumber lain)

Representasi pengetahuan (pada komputer)

Inferensi pengetahuan

Pemindahan pengetahuan ke pengguna [SUT-11:164].
d. Inferensi (inferencing)
Inferensi adalah sebuah prosedur (program) yang mempunyai kemampuan
dalam melakukan penalaran. Inferensi ditampilkan pada suatu komponen yang
disebut mesin inferensi yang mencakup prosedur-prosedur mengenai pemecahan
masalah. Semua pengetahuan yang dimiliki oleh seorang pakar disimpan pada
basis pengetahuan oleh sistem pakar. Tugas mesin inferensi adalah mengambil
kesimpulan berdasarkan basis pengetahuan yang dimilikinya [SUT-11:164].
e. Aturan-aturan (rule)
8
Kebanyakan software sistem pakar komersial adalah sistem yang berbasis
rule (rule based systems), yaitu pengetahuan disimpan terutama dalam bentuk
rule, sebagai prosedur-prosedur pemecahan masalah [SUT-11:165].
f. Kemampuan menjelaskan (explanation capability)
Fasilitas lain dari sistem pakar adalah kemampuannya untuk menjelaskan
saran atau rekomendasi yang diberikan oleh sistem pakar. Penjelasan dilakukan
dalam subsistem yang disebut subsistem pejelasan (explanation). Bagian dari
sistem ini memungkinkan sistem untuk memeriksa penalaran yang dibuatnya
sendiri dan menjelaskan operasi-operasinya [SUT-11:165].
2.1.4
Struktur sistem pakar
Ada
dua
pengembangan
bagian
penting
(development
dari
sistem
environment)
pakar,
dan
yaitu
lingkungan
lingkungan
konsultasi
(consultation environment). Lingkungan pengembangan digunakan oleh pembuat
sistem pakar untuk membangun komponen-komponenya dan memasukkan
pengetahuan ke dalam
knowledge base (basis pengetahuan). Lingkungan
konsultasi digunakan oleh pengguna untuk berkonsultasi sehingga pengguna
mendapatkan pengetahuan dan nasihat dari sistem pakar layaknya berkonsultasi
dengan sistem pakar [SUT-11:166] [TUR-05:721].
Lingkungan Konsultasi
Pengguna
Fakta tentang
kejadian khusus
Lingkungan Pengembangan
Basis pengetahuan
Fakta : Apa yang diketahui tentang area
dominan
Aturan : referensi logika (misalnya antara
gejala dan penyebab)
Antarmuka
Pengguna
Knowledge
engineer
Fasilitas
penjelas
Pengetahuan
terdokumentasi
Aksi yang
direkomendasikan
Mesin Inferensi
Menarik kesimpulan
- Penerjemah
- Pembuat jadwal
-Penguat konsisten
Akuisisi
pengetahuan
Pengetahuan
pakar
Blackboard (tempat kerja)
Rencana
Agenda
Solusi
Deskripsi
masalah
Perbaikan
pengetahuan
Gambar 2.1 Struktur sistem pakar
Sumber : Efraim Turban (2005:722)
9
Keterangan gambar:
: Pemisah antara lingkungan
konsultasi dan pengembang
: Langsung
: Komunikasi dua arah
: Tidak langsung
Keterangan :
a. Basis pengetahuan (knowledge base)
Setelah menerima bidang kepakaran yang telah diaplikasikan pada
sistem pakar, kemudian mengumpulkan pengetahuan yang sesuai dengan
domain keahlian tersebut. Pengetahuan yang dikumpulkan tersebut tidak bisa
diaplikasikan begitu saja dalam sistem. Pengetahuan harus direpresentasikan
dalam format tertentu dan dihimpun dalam suatu basis pengetahuan [ROH08:7].
Basis pengetahuan merupakan inti program sistem pakar [KUS-07:70].
Basis pengetahuan mengandung pengetahuan yang diperlukan untuk
memahami, merumuskan dan menyelesaikan malasah. Basis pengetahuan
terdiri dari dua elemen dasar, yaitu :

Fakta, misalnya situasi, kondisi atau permasalahan yang ada.

Aturan (rule), untuk mengarahkan penggunaan pengetahuan dalam
memecahkan masalah [SUT-11:168] [TUR-05:723].
Pengetahuan
yang
dilakukan
pada
sistem
pakar
merupakan
serangkaian informasi pada domain tertentu. Noise merupakan suatu item
yang tidak mempunyai maksud (interest). Noise merupakan data yang masih
kabur atau tidak jelas. Data adalah item yang mempunyai makna potensial.
Data diolah menjadi pengetahuan. Meta knowledge adalah pengetahuan
tentang pengetahuan dan keahlian [ROH-08:7].
Karakteristik pengetahuan yang diperoleh tergantung pada sifat
masalah yang akan diselesaikan, tipe dan tingkat pengetahuan seorang pakar.
Pengetahuan dapat digolongkan menjadi dua kategori, yaitu: pengetahuan
deklaratif dan pengetahuan prosedural [ROH-08:7].
10
Pengetahuan deklaratif mengacu pada fakta, sedangkan pengetahuan
prosedural mengacu pada serangkaian tindakan dan konsekuensinya.
Pengetahuan deklaratif juga terlibat dalam pemecahan masalah, sedangkan
pengetahuan prosedural diasosiasikan dengan bagaimana menerapkan strategi
atau
prosedur penggunaan pengetahuan yang tepat untuk memecahkan
masalah [ROH-08:7].
Pengetahuan
deklaratif menggunakan basis logika dan pendekatan
relasi. Representasi logika menggunakan logika proporsional dan logika
predikat. Model relasi menggunakan jaringan
semantik, graf dan pohon
keputusan (decision tree). Pengetahuan prosedural menggunakan algoritma
sebagai prosedural pemecahan masalah [ROH-08:7].
Contoh dari beberapa representasi pengetahuan yaitu :

Aturan produksi
Pengetahuan direpresentasikan dalam bentuk pasangan kondisi-aksi. IF
kondisi ini (atau premis atau enteseden) terjadi, THEN beberapa tindakan
(atau hasil atau kesimpualan atau konsekuensi) akan (atau sebaiknya) tejadi.
Dua tipe aturan yang umum dalam Artificial Intellegence (AI): pengetahuan
dan inferensi. Aturan pengetahuan atau aturan deduktif, menyatakan semua
fakta dan hubungan tentang persoalan. Aturan inferensi atau aturan prosedural,
sebaliknya, menyarankan tentang bagaimana memecahkan persoalan dengan
mengetahui fakta tertentu. Knowledge engineer memisahkan dua tipe aturan :
aturan pengetahuan ke basis pengetahuan, sedangkan aturan inferensi menjadi
bagian mesin inferensi [TUR-05:787].

Jaringan semantik
Jaingan semamtik berfokus pada hubungan antara konsep yang berbeda.
Jaringan semantik adalah gambaran grafis pengetahuan terdiri dari node dan
link. Node merepresentasikan objek dan informasi deskriptif tentang objek
[TUR-05:789]. Node diinterkoneksikan dengan link atau busur yang
menunjukkan hubungan antara berbagai objek dan faktor deskriptif [TUR05:790].

Frame
11
Frame adalah struktur data yang menyertakan semua pengetahuan tentang
objek tertentu [TUR-05:790]. Frame mencakup objek kompleks, seluruh
situasi atau persoalan manajerial sebagai entitas tunggal. Pengetahuan dalam
frame dipartisi dalam slot. Slot dapat mendeskripsikan pengetahuan deklaratif
atau pengetahuan prosedural. Frame mencakup dua elemen dasar : slot dan
facet (subslot). Slot adalah set atribut yang mendeskripsikan objek yang
direpresentasikan oleh frame. Facet mendeskripsikan beberapa pengetahuan
atau informasi prosedural tentang informasi dalam slot [TUR-05:792].

Logika formal
Dua bentuk dasar logika komputasi adalah logika proporsional dan logika
predikat. Pada logika proporsional digunakan simbol misalnya huruf alfabet,
untuk merepresentasikan proposisi, premis atau kesimpulan [TUR-05:798].
Pada logika predikat, fakta dan observasi dalam domain persoalan
didefinisikan sebagai premis, yang digunakan oleh proses logika untuk
mendapatkan fakta baru dan kesimpulan [TUR-05:797].
b. Mesin inferensi (inference engine)
Mesin inferensi adalah sebuah program yang berfungsi untuk
memandu proses penalaran terhadap suatu kondisi berdasarkan pada basis
pengetahuan yang ada, memanipulasi dan mengarahkan kaidah, model dan
fakta yang disimpan dalam basis pengetahuan untuk mencapai solusi atau
kesimpulan [SUT-11:168].
Secara deduktif, mesin inferensi memilih pegetahuan yang relevan
dalam rangka mencapai kesimpulan. Sistem pakar ini dapat menjawab
pertanyaan pemakai meskipun jawaban tersebut tidak tersimpan secara
eksplisit di dalam basis pengetahuan. Mesin inferensi memulai pelacakannya
dengan mencocokan kaidah-kaidah dalam basis pengetahuan dengan faktafakta yang ada [KUS-07:71].
Pada prosesnya, mesin inferensi menggunakan strategi pengendalian,
yaitu strategi yang befungsi sebagai panduan arah dalam melakukan proses
penalaran. Ada tiga teknik pengendalian yang digunakan, yaitu :

Runut maju (forward chaining)
12
Forward chaining adalah teknik pencarian yang dimulai dengan fakta
yang diketahui, kemudian mencocokan fakta-fakta tersebut dengan bagian IF
dari rules IF-THEN. Jika ada fakta yang cocok dengan bagian IF, maka rule
tersebut dieksekusi. Bila sebuah rule dieksekusi maka sebuah fakta baru
(bagian THEN) ditambahkan ke dalam database. Setiap kali pencocokan,
dimulai dari rule teratas. Setiap rule hanya boleh dieksekusi sekali saja. Proses
pencocokan berhenti bila tidak ada lagi rule yang bisa dieksekusi [SUT11:171].
Pada metode ini, data digunakan untuk menentukan aturan mana yang
akan dijalankan. Metode inferensi forward chaining cocok digunakan untuk
menangani masalah pengendalian (controlling) dan peramalan (prognosis)
[KUS-08:8].

Runut balik (backward chaining)
Backward chaining adalah metode inferensi yang bekerja mundur ke
arah kondisi awal. Proses diawali dari goal (yang berada dibagian THEN dari
rule IF-THEN), kemudian pencarian mulai dijalankan untuk mencocokan
apakah fakta-fakta yang ada cocok dengan premis-premis di bagian IF. Jika
cocok, rule dieksekusi, kemudian hipotesis di bagian THEN ditempatkan di
basis data sebagai fakta baru. Jika tidak cocok, simpan premis di bagian IF ke
dalam stack sebagai subgoal. Proses berakhir jika goal ditemukan atau tidak
ada rule yang bisa membuktikan kebenaran dari subgoal atau goal [SUT11:178].
Backward chaining disebut juga sebagai goal-driven reasoning,
merupakan cara yang efisien untuk memecahkan masalah yang dimodelkan
sebagai pemilihan terstruktur. Tujuan inferensi adalah mengambil pilihan
terbaik dari banyak kemungkinan. Metode inferensi backward chaining ini
cocok digunakan untuk memecahkan masalah diagnosis [KUS-08:11].

Metode gabungan
Selain menggunkan metode runut maju dan runut balik, sebuah
aplikasi sistem pakar juga bisa menggunakan gabungan dari kedua metode
tersebut [KUS-08:12] [SUT-11:168].
c. Antarmuka pemakai (user interface)
13
Digunakan sebagai media komunikasi antara pengguna dan sistem
pakar. Komunikasi ini paling bagus bila disajikan dalam bahasa alami (natural
language) dan dilengkapi dengan grafik, menu dan formulir elektronik. Pada
bagian ini akan terjadi dialog antara sistem pakar dan pengguna [SUT-11:168]
[TUR-05:723].
d. Akusisi pengetahuan
Subsistem ini digunakan untuk memasukkan pengetahuan dari seorang
pakar dengan cara merekayasa pengetahuan agar bisa diproses oleh komputer
dan menaruhnya ke dalam basis pengetahuan dengan format tertentu (dalam
bentuk representasi pengetahuan). Sumber-sumber pengetahuan bisa diperoleh
dari pakar, buku, dokumen multimedia, basis data, laporan riset khusus, dan
informasi yang terdapat di web [SUT-11:167].
Saat membangun sistem besar, seseorang memerlukan knowledge
engineer atau pakar elisitasi pengetahuan (pemodelan pengetahuan) untuk
berinteraksi dengan satu atau lebih pakar manusia dalam membangun basis
pengetahuan. Knowledge engineer membantu pakar menyusun area persoalan
dengan
menginterpretasikan
dan
mengintegrasikan
jawaban
manusia,
menyusun analogi, mengajukan contoh pembanding dan menjelaskan
kesulitan konseptual [TUR-05:723].
Elisitasi pengetahuan dari pakar dapat dilihat sebagai proses
pemodelan pengetahuan dan dapat dilakukan secara manual atau dengan
bantuan komputer [TUR-05:760]. Metode elisitasi pengetahuan dapat
diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu :

Metode manual
Metode manual pada dasarnya terdiri dari beberapa jenis wawancara.
Knowledge engineer mendapatkan pengetahuan dari pakar atau sumber
lain dan kemudian mengodekannya ke dalam basis pengetahuan. Tiga
metode manual utama adalah wawancara (terstruktur, semiterstruktur,
tidak terstruktur), memantau proses pertimbangan dan mengamati [TUR05:761].

Metode semiotomatis
14
Metode semiotomatis dibagi ke dalam dua kategori: yang bertujuan
mendukung pakar dengan memungkinkan mereka membangun basis
pengetahuan dengan sedikit atau tanpa bantuan dari knowledge engineer
dan yang ditujukan untuk membantu knowledge engineer dengan
memungkinkan mereka mengeksekusi tugas yang diperlukan secara lebih
efisien atau efektif [TUR-05:761].

Metode otomatis
Pada
metode
diminimalisasi
otomatis
atau
peranan
bahkan
pakar
dan
dieleminasi.
knowledge
Istilah
engineer
“otomatis”
mengindikasikan bahwa jika dibandingkan dengan metode lain, maka
kontribusi dari knowledge engineer dan pakar relatif kecil [TUR-05:762].
e. Daerah kerja (blackboard)
Untuk merekam hasil sementara yang akan dijadikan sebagai
keputusan dan untuk menjelaskan sebuah masalah yang sedang terjadi, sistem
pakar membutuhkan blackboard, yaitu area pada memori yang berfungsi
sebagai basis data. Tiga tipe keputusan yang dapat direkam pada blackboard
yaitu :

Rencana : bagaimana menghadapi masalah

Agenda : aksi-aksi potensial yang sedang menunggu untuk dieksekusi

Solusi : calon aksi yang akan dibangkitkan [SUT-11:168]
f. Subsistem penjelas (explanation subsystem / justifier)
Subsistem penjelas berfungsi memberi penjelasan kepada pengguna,
bagaimana suatu kesimpulan dapat diambil. Kemampuan seperti ini sangat
penting bagi pengguna untuk mengetahui proses pemindahan keahlian pakar
maupun dalam pemecahan masalah [SUT-11:169].
g. Sistem perbaikan pengetahuan (knowledge refining system)
Kemampuan memperbaiki pengetahuan (knowledge refining system)
dari seorang pakar diperlukan untuk menganalisis pengetahuan belajar dari
kesalahan masa lalu, kemudian memperbaiki pengetahuannya sehingga dapat
digunakan di masa mendatang. Kemampuan evaluasi diri seperti itu
diperlukan oleh program agar dapat menganalisis alasan-alasan kesuksesan
15
dan kegagalannya dalam mengambil kesimpulan. Cara ini dapat menghasilkan
basis pengetahuan yang lebih baik dan penalaran yang lebih efektif [SUT11:169] [TUR-05:724].
h. Pengguna (user)
Pada umumnya pengguna sistem pakar bukanlah seorang pakar (nonexpert) yang membutuhkan solusi, saran atau pelatihan (training) dari
berbagai permasalahan yang ada [SUT-11:169].
Berikut ini adalah tim pengembangan sistem pakar :
Project Manager
Domain Expert
Knowledge Engineer
Programmer
Sistem Pakar
End User
Gambar 2.2 Tim pengembang sistem pakar
Sumber : T. Sutojo, Edi Mulyanto dan Vincent Suhartono (2011: 169)
Tim pengembangan sistem pakar terdiri dari :
a. Domain expert adalah pengetahuan dan kemampuan seorang pakar untuk
menyelesaikan masalah terbatas pada keahliannya saja.
b. Knowledge engineer (perekayasa pengetahuan) adalah orang yang mampu
mendesain, membangun dan menguji sebuah sistem pakar.
c. Programmer adalah orang yang membuat program sistem pakar, mengode
domain pengetahuan agar dapat dimengerti oleh komputer.
d. Project manager adalah pemimpin dalam tim pengembangan sistem pakar.
e. End user (biasanya disebut user saja) adalah orang yang mengggunakan
sistem pakar [SUT-11:170].
16
Seorang pakar mempunyai pengetahuan tentang masalah yang khusus.
Pada hal ini disebut
domain knowledge. Penggunaan kata “domain” untuk
memberikan penekanan pengetahuan pada
problem yang spesifik. Pakar
menyimpan domain knowledge pada Long Term Memory (LTM) atau ingatan
jangka panjangnya [ROH-08:5].
Ingatan Jangka Panjang
Bidang Pengetahuan
Proses
Saran
Pemecahan masalah
Ingatan Jangka Pendek
Kaidah dan Fakta
Gambar 2.3 Pemecahan masalah pada pakar
Sumber : Feri Fahrur Rohman dan Ami Fauzijah (2008:5)
Ketika pakar akan memberikan nasihat atau solusi kepada seseorang,
pakar terlebih dahulu menentukan fakta-fakta dan menyimpannya ke dalam Short
Term Memory (STM) atau ingatan jangka pendek. Kemudian pakar memberikan
solusi tentang masalah tersebut dengan mengkombinasikan fakta-fakta pada STM
dengan pengetahuan LTM. Dengan menggunakan proses ini pakar mendapatkan
informasi baru dan sampai pada kesimpulan masalah. Gambar 2.3 menunjukan
berkas diagram pemecahan masalah dengan pendekatan yang digunakan pakar
[ROH-08:5].
Kumpulan Pengetahuan
Bidang Pengetahuan
Mesin
Inferensi
Pemakai
Pemecahan masalah
Memori Bekerja
Kaidah dan Fakta
Gambar 2.4 Struktur pemecahan masalah pada sistem pakar
Sumber : Feri Fahrur Rohman dan Ami Fauzijah (2008:5)
Sistem pakar dapat memecahkan masalah menggunakan proses yang sama
dengan metode yang digunakan oleh pakar, struktur yang digunakan ditunjukan
pada gambar 2.4 [ROH-08:6]. Tujuan pengembangan sistem pakar sebenarnya
17
bukan untuk menggantikan peran manusia, tetapi untuk mensubstitusikan
pengetahuan manusia ke dalam bentuk sistem, sehingga dapat digunakan oleh
orang banyak [ROH-08:4].
2.2 Analytical Hierarchy Process (AHP)
Analitycal Hierarchy Process (AHP) Adalah metode untuk memecahkan
suatu situasi yang komplek tidak terstruktur kedalam beberapa komponen dalam
susunan yang hirarki, dengan memberi nilai subjektif tentang pentingnya setiap
variabel secara relatif, dan menetapkan variabel mana yang memiliki prioritas
paling tinggi guna mempengaruhi hasil pada situasi tersebut.
Proses pengambilan keputusan pada dasarnya adalah memilih suatu
alternatif yang terbaik. Seperti melakukan penstrukturan persoalan, penentuan
alternatif-alternatif, penenetapan nilai kemungkinan untuk variabel aleatori,
penetap nilai, persyaratan preferensi terhadap waktu, dan spesifikasi atas resiko.
Betapapun melebarnya alternatif yang dapat ditetapkan maupun terperincinya
penjajagan nilai kemungkinan, keterbatasan yang tetap melingkupi adalah dasar
pembandingan berbentuk suatu kriteria yang tunggal.
Peralatan utama Analitycal Hierarchy Process (AHP) adalah memiliki
sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya persepsi manusia. Dengan
hirarki, suatu masalah kompleks dan tidak terstruktur dipecahkan ke dalam
kelomok-kelompoknya dan diatur menjadi suatu bentuk hirarki.
Kelebihan Analitycal Hierarchy Process (AHP)
Struktur yang berhirarki sebagai konsekuensi dari kriteria yang dipilih
sampai pada subkriteria yang paling dalam memperhitungkan validitas sampai
dengan batas toleransi inkonsistensi berbagai kriteria dan alternative yang dipilih
oleh para pengambil keputusan, memperhitugkan daya tahan atau ketahanan
output analisis sensitivitas pengambil keputusan.
18
Selain itu, AHP mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah
yang multi obyektif dan multi-kriteria yang berdasarkan pada perbandingan
preferensi dari setiap elemen dalam hirarki. Jadi, model ini merupakan suatu
model pengambilan keputusan yang komprehensif
Prinsip Dasar Pemikiran AHP
Dalam memecahkan persoalan dengan analisis logis eksplisit, ada tiga
prinsip yang mendasari pemikiran AHP, yakni : prinsip menyusun hirarki, prinsip
menetapkan prioritas, dan prinsip konsistensi logis.
Prinsip Menyusun Hirarki
Prinsip
menyusun
hirarki
adalah
dengan
menggambarkan
dan
menguraikan secara hirarki, dengan cara memecahakan persoalan menjadi unsurunsur yang terpisah-pisah. Caranya dengan memperincikan pengetahuan, pikiran
kita yang kompleks ke dalam bagian elemen pokoknya, lalu bagian ini ke dalam
bagian-bagiannya, dan seterusnya secara hirarkis.
Penjabaran tujuan hirarki yang lebih rendah pada dasarnya ditujukan agar
memperolah kriteria yang dapat diukur. Walaupun sebenarnya tidaklah selalu
demikian
keadaannya.
Dalam
beberapa
hal
tertentu,
mungkin
lebih
menguntungkan bila menggunakan tujuan pada hirarki yang lebih tinggi dalam
proses analisis. Semakin rendah dalam menjabarkan suatu tujuan, semakin mudah
pula penentuan ukuran obyektif dan kriteria-kriterianya. Akan tetapi, ada kalanya
dalam proses analisis pangambilan keputusan tidak memerlukan penjabaran yang
terlalu terperinci. Maka salah satu cara untuk menyatakan ukuran pencapaiannya
adalah menggunakan skala subyektif.
2.3 Bakat dan Minat
Secara umum bakat merupakan kemampuan potensial yang dimiliki
seseorang untuk mencapai keberhasilan di masa yang akan datang. Kemampuan
potensial itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar
atau berlatih.
Pada perkembangan selanjutnya, bakat diartikan sebagai
19
kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung
pada upaya pendidikan dan pelatihan. Itulah yang kemudian disebut sebagai bakat
khusus (specific aptitude) atau talenta (talent) yang oleh sejumlah pakar tidak
dapat dipelajari karena merupakan karunia dari Tuhan Yang Maha Esa sebagai
pembawaan sejak lahir [ALI-09: 134].
Bakat lebih mengacu pada motorik maupun keterampilan yang
ditampilkan anak. Bakat tidak akan berkembang bila tak ada penguat, sehingga
kemudian hilang. Menurut Dra. Clara Kriswanto, MA, CPBC, psikolog dari
Jagadnita Consulting, “anak-anak yang berbakat umumnya lebih cepat menguasai
bidang tertentu dibanding anak lain, tanpa mengeluarkan usaha keras”. Anak yang
mempunyai bakat biasanya juga mampu memotivasi diri sendiri untuk
mempelajari hal-hal yang sangat disukainya [ACA-10].
Ada beberapa cara untuk mengenali bakat anak, yaitu:
1. Melihat tingkah laku anak
2. Mengikuti perkembangan anak dengan cermat.
3. Memberikan berbagai macam stimulus atau rangsangan kepada anak
4. Melakukan tes psikologi (tes bakat) untuk melihat kelebihan dan kelemahan
anak. Tes ini bisa dilakukan saat anak berusia 7 tahun atau saat masuk
sekolah. Pada usia tersebut sudah terlihat bakat serta minat anak [ACA-10].
Pada banyak kasus, bakat mempengaruhi hasil belajar. Apabila pelajaran
yang dipelajari sesuai dengan bakatnya, hasil belajarnya akan lebih baik. Proses
pendidikan sudah semestinya memperhatikan bakat-bakat khusus yang ada pada
diri peserta didik untuk menemukan dan menumbuhkembangkan bakat peserta
didik. Pelaksanaan pendidikan yang memperhatikan bakat akan memperoleh hasil
yang lebih optimal [ALI-09:134].
Tes bakat dapat digunakan secara efektif untuk menentukan potensi
seseorang dalam belajar keterampilan yang diperlukan guna suatu karier tertentu,
terutama apabila mengambil pelatihan tertentu. Tes bakat menyoroti kemungkinan
pilihan bidang studi yang sesuai, bila diinterpretasikan dengan teliti, maka skor tes
bakat akan sangat reliable dan valid [SUK-02:2].
Tes bakat terdiri dari :
a. Penalaran verbal (verbal reasoning)
20
Tes penalaran verbal menyajikan suatu pasangan kata dan mengarahkan
untuk menyeleksi pasangan kata lain yang ada kaitannya. Pada tes ini lebih
menekankan hubungan di antara kata-kata daripada dengan simbol-simbol [SUK02:6]. Pertanyaan analogis dalam subtes ini mengungkap tentang kemampuan
kosakata dan kemampuan menalar, sehingga bagian ini merupakan komponen
penting pada beberapa tes inteligensi umum dan kemampuan verbal. Kemampuan
dalam bagian ini penting dalam bermacam-macam bidang studi yang memerlukan
pengambilan keputusan dan kemampuan menalar. Analogis adalah suatu proporsi
verbal yang disajikan dalam bentuk A dihubungkan dengan B, maka C
dihubungkan dengan D. (… dihubungkan dengan B, maka C dihubungkan dengan
….) [SUK-02:7].
b.
Kemampuan angka (numerical ability)
Bagian tes kemampuan angka akan mengungkapkan bagaimana baiknya
seseorang memahami ide-ide yang diekspresikan dalam bentuk angka-angka dan
bagaimana jelasnya seseorang dapat berpikir dan menalar angka-angka.
Kemampuan angka khususnya, penting dalam mata pelajaran di sekolah atau
perguruan tinggi seperti matematika, fisika dan kimia [SUK-02:16].
Orang-orang yang dapat mengerjakan subtes ini dengan baik, juga
memungkinkan memiliki kecenderungan dapat mengerjakan dengan baik
perhitungan dan pengukuran yang bersifat umum di kantor-kantor perdagangan,
pabrik-pabrik, perusahaan atau perbankan. Skor-skor dalam kemampuan angka ini
menafsirkan cukup luas keberhasilan sesorang pada hampir semua mata pelajaran
di sekolah menengah dan perguruan tinggi. Kemampuan angka merupakan suatu
unsur dari semua kemampuan untuk menguasai tugas-tugas akademis [SUK02:16].
c. Penalaran abstrak (abstract reasoning)
Tes penalaran abstrak dalam hal tes analogis simbol-simbol dimaksudkan
sebagai instrument non-verbal yang mengungkap kemampuan penalaran.
Rangkaian dalam soal tes ini disajikan dalam masing-masing persoalan yang
memerlukan persepsi pengoperasian prinsip dalam mengubah diagram-diagram
[SUK-02:33].
21
Tes penalaran abstrak yang dalam hal tes analogis simbol-simbol akan
dapat mengungkapkan bagaimana baiknya dalam memahami ide-ide yang
dinyatakan dengan kata-kata atau angka-angka, dan bagaimana baiknya dapat
memikirkan masalah-masalah sekalipun tanpa petunjuk yang berbentuk kata-kata.
Tes analogis menggunakan diagram-diagram untuk mengungkap bagaimana
seseorang dapat menalar dengan mudah dan jelas bila masalah yang diajukan
dengan ukuran, bentuk, potongan, posisi, jumlah atau bentuk-bentuk non-verbal
dan non-angka lainnya [SUK-02:33].
d. Kecepatan dan ketelitian klerikal (clerical speed and accuracy)
Pertanyaan dalam tes kecepatan dan ketelitian klerikal berkaitan dengan
pekerjaan administrasi dan ketatausahaan. Subtes ini mengungkap kemampuan
dalam menyusun dan menyusun kembali angka-angka, huruf-huruf, atau kodekode secara mental. Tes kecepatan dan ketelitian yang berhubungan dengan
administrasi dan ketatausahaan (klerikal) dimaksud untuk mengungkap kecepatan
memberikan jawaban terhadap suatu tugas yang sederhana [SUK-02:41].
Tes kecepatan dan ketelitian klerikal juga mengungkap bagaimana baiknya
dan cepatnya seseorang mengerjakan pembuatan kertas kerja yang penting untuk
di kantor-kantor, laboratorium sains, toko-toko, gudang-gudang dan percetakan
[SUK-02:41].
e. Penalaran mekanikal (mechanical reasoning)
Pertanyaan pada tes penalaran mekanikal dirancang untuk mengungkap
bakat mekanikal dan perasaan yang melekat berkenaan dengan peralatan,
perlengkapan dan mesin-mesin. Masing-masing soal berisi situasi mekanikal yang
disajikan berupa gambar-gambar sekaligus bersama dengan pertanyaan yang
susunan kata-katanya sangat sederhana dan sering ditemui dalam mesin-mesin dan
peralatan tertentu [SUK-02:49].
Subtes penalaran mekanikal digunakan untuk mengungkap bagaimana
mudahnya dalam menangkap prinsip-prinsip umum fisika pada saat Anda
melihatnya dalam kejadian sehari-hari dan bagaimana baiknya pemahaman akan
hukum-hukum yang mendasari alat-alat, mesin-mesin dan gerakan-gerakan yang
sederhana. Apabila soal tes ini dapat dikerjakan dengan baik, maka menunjukkan
kecenderungan untuk mencari dan menemukan bagaimana bekerjanya, dan
22
mampu mengkonstruksi, mengoperasikan atau memperbaiki perlengkapan atau
alat-alat yang cukup rumit [SU-02:49].
f. Penggunaan bahasa : mengeja dan tata bahasa
Tes penggunaan bahasa : mengeja dan tata bahasa dapat mengungkap
bagaimana baiknya seseorang menggunakan Bahasa Indonesia, bagaimana
kompetensi seseorang dalam mengeja, memberikan tanda-tanda baca, huruf besar
dan pemilihan kata. Tes penggunaan bahasa terdiri dari dua bagian yaitu mengeja
dan tata bahasa. Subtes mengeja mengungkap bagaimana baiknya seseorang dapat
mengeja kata-kata umum dalam Bahasa Indonesia. Subtes tata bahasa
mengungkap bagaimana baiknya seseorang dapat mengenal kesalahan-kesalahan
tata bahasa, tanda baca dan pemakaian kata-kata dalam kalimat-kalimat yang
mudah [SUK-02:67].
Beberapa bidang karier seperti pengarang dan pengajar menuntut
kompetensi bahasa yang tinggi. Semua karier yang memerlukan tingkatan
pendidikan memerlukan keterampilan berbahasa yang baik, begitu juga pada
hampir semua kantor dan tugas-tugas kepemimpinan dalam usaha, jasa dan
perindustrian [SUK-02:67].
Selain bakat, anak juga mempunyai minat terhadap bidang yang digeluti.
Adanya minat juga akan menguatkan bakat tersebut [ACA-10]. Minat adalah
keinginan atau kemauan yang menetap dalam diri seseorang untuk merasa tertarik
pada sesuatu hal tertentu dan merasa senang berada dalam bidang studi tersebut.
Minat merupakan kekuatan pendorong yang menyebabkan seseorang memberikan
perhatiannya terhadap sesuatu [HUT-09:28].
Minat merupakan faktor psikologis yang mempengaruhi tindakan
seseorang. Pada semua usia, minat memainkan peran penting dalam kehidupan
seseorang dan mempunyai dampak yang besar atas perilaku dan sikap. Pada minat
terkandung beberapa unsur-unsur sebagai berikut:
a. Adanya sesuatu yang memberi stimulus,
b. Adanya kesediaan jiwa yang menerima stimulus,
c. Berlangsungnya dalam waktu yang cukup lama [HUT-09:33].
Kuisioner minat berfungsi sebagaimana layaknya tes kepribadian.
Kuisioner minat dapat berupa keinginan untuk mencari suatu bentuk pekerjaan
23
yang bersifat ekspresif yang memungkinkan untuk kreatif [BAR-04:16].
Kuisioner minat akan mengarahkan menuju karier yang sesuai dengan minat.
Kuisioner minat meskipun tampak sederhana dan mudah dimanipulasi,
seseungguhnya merupakan instrument yang rumit jika diterapkan dengan
sungguh-sungguh. Kuisioner minat dapat dimanfaatkan untuk mengetahui karier
yang mungkin dan tidak mungkin dipilih [BAR-04:17].
Kuisioner minat menggunakan pilihan wajib sehingga pengguna dipaksa
memilih beberapa jenis pekerjaan daripada pekerjaan lain [BAR-04:17]. Kuisioner
minat terdiri atas beberapa jenis pekerjaan yang dilengkapi dengan deskripsi
aktivitas kerja masing-masing. Jenis-jenis pekerjaan dalam kuisioner didesain
untuk menentukan pekerjaan yang sesuai berdasarkan kemampuan[BAR-04:18].
Kuisioner minat terdiri dari :
a. Bagian 1 : Bagian pertama meminta untuk memilih satu diantara dua jenis
pekerjaan. Tujuannya ialah mengetahui jenis pekerjaan yang paling menarik
[BAR-04:18].
b. Bagian 2 : Pada bagian kedua meminta memilih satu diantara dua kegiatan
[BAR-04:21].
Bidang minat kerja membentuk suatu skema yang diperoleh dari tiga area
yang bersifat lebih mendasar, yaitu : seni, sains dan ilmu sosial. Ketujuh bidang
minat kerja saling mempengaruh sehingga bidang-bidang tersebut saling terkait
secara logis [BAR-04:26].
Tabel 2.1 Skema bidang minat kerja
Seni
Minat Utama
Minat Gabungan
Minat Campuran
sosial
sosial dan bahasa
sosial dan seni
bahasa
bahasa dan seni
sosial dan fisik
seni
seni dan fisik
sosial dan eksperimen
bahasa dan fisik
seni dan eksperimen
Sains
fisik
fisik dan eksperimen
fisik dan organisasi
24
eksperimen
eksperimen dan
fisik dan bisnis
organisasi
eksperimen dan bisnis
eksperimen dan bahasa
Ilmu Sosial
organisasi
organisasi dan bisnis
organisasi dan sosial
bisnis
bisnis dan sosial
organisasi dan bahasa
sosial
organisasi dan seni
bisnis dan bahasa
bisnis dan seni
Sumber : Jim Barret (2004:27)
Tujuh bidang minat kerja terdiri dari :
a. Bahasa
Karir apapun akan selalu menggunakan bahasa. Keinginan seseorang pada
bahasa adalah menggunakan bahasa secara kreatif atau menekuni karir yang
berkaitan dengan informasi dan komunikasi [BAR-04:29].
b. Seni
Ketertarikan pada bidang seni hampir pasti menunjukkan bahwa seseorang
ingin menggunakan imajinasi dan mengekspresikan diri melalui seni, musik atau
tari. Secara lebih mendalam dapat dikatakan bahwa meskipun seseorang secara
artistik tidak berbakat, namun menginginkan sebuah karir yang memberinya
kebebasan dan kesempatan untuk menggunakan intuisi [BAR-04:29].
c. Fisik
Bidang minat kerja fisik meliputi pekerjaan yang mengharuskan seseorang
untuk aktif secara fisik, seperti pekerjaan yang berkaitan dengan olahraga atau
bekerja di luar ruangan. Pada pekerjaan bidang fisik , diperlukan kecakapan yang
bersifat visual dan mekanis. Seseorang yang memiliki minat pada bidang fisik,
menggunakan pengalaman dan akal untuk memahami dan berinteraksi dengan
lingkungan. Peminat bidang fisik berkeinginan untuk bekerja sendiri dan siap
untuk melakukan pekerjaan kasar dan kadang berbahaya [BAR-04:30].
25
d. Eksperimen
Minat pada bidang eksperimen terletak pada kesempatan untuk
mendapatkan pengetahuan dan teknik menganalisis hasil. Minat eksperimen cocok
dengan bidang sains karena seseorang akan menikmati kegiatan mengobservasi,
mencatat dan membuat simpulan. Karir pada bidang eksperimen membutuhkan
kebiasaan belajar dan bekerja secara tepat. Meskipun sains tampak sangat
bergantung pada peralatan, bidang eksperimen tetap membutuhkan rasa
keingintahuan dan antusiasme yang dimiliki oleh manusia [BAR-04:32].
e. Organisasi
Minat organisasi berkaitan dengan administrasi yang menyangkut masalah
finansial dan hukum. Topik bidang organisasi berkaitan dengan upaya untuk
memastikan agar pengambilan keputusan dilakukan dengan bijaksana, sehingga
perlu dikoordinasikan dengan kinerja orang lain [BAR-04:32].
f. Bisnis
Seseorang yang memiliki minat di bidang bisnis akan termotivasi oleh
peluang untuk mendapatkan nafkah dengan caranya sendiri. Orang yang paling
berhasil di bidang bisnis mengelola bisnisnya seolah-olah usaha itu merupakan
milik mereka pribadi. Pada karir ini diharapkan seseorang memiliki semangat dan
keteguhan pribadi yang prima. Daya tarik utama bidang bisnis adalah kesempatan
yang terbuka bagi siapa saja tanpa memperhitungkan kualifikasi seseorang [BAR04:33].
g. Sosial
Seseorang yang memiliki minat di bidang sosial mengungkapkan seberapa
siap seseorang dalam membantu orang lain agar berkembang. Karier semacam ini
tidak mudah dan menuntut kebesaran hati seseorang. Keberhasilan dalam karir
sosial bergantung pada penilaian individual [BAR-04:34].
26
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini akan membahas metode yang digunakan dalam penelitian yang
terdiri dari studi pustaka, metode pengambilan data, metode perancangan, metode
implementasi, metode pengujian dan analisis serta pengambilan kesimpulan dan
saran. Berikut adalah diagram alir dari metodologi penelitian yang dilakukan :
Mulai
Studi Pustaka
Analisis Kebutuhan
Perancangan
Implementasi
Pengujian
Pengambilan Keputusan
dan Saran
Selesai
Gambar 3.1 Diagram Alir Metodologi Penelitian
27
3.1 Studi pustaka
Literatur yang digunakan mengacu pada sumber dari buku dan internet.
Mempelajari pustaka terkait dengan :

Sistem pakar

Multi Criteria Decision Making (MCDM)

Metode AHP

Bakat dan minat
3.2 Analisis kebutuhan
Analisis kebutuhan bertujuan untuk mendapatkan semua kebutuhan dalam
membangun sistem pakar untuk pemilihan bidang studi. Metode analisis yang
digunakan adalah Object Oriented Analysis dengan menggunakan bahasa
pemodelan UML (Unified Modeling Language). Diagram Use Case digunakan
untuk mendeskripsikan kebutuhan-kebutuhan dan fungsionalitas sistem dari
perspektif end-user. Analisis kebutuhan dilakukan dengan mengidentifikasi semua
kebutuhan (requirements) sistem.
Sumber data yang digunakan berasal dari data tes bakat dan minat dari
siswa dan nilai akademik dari siswa pada saat SMA kelas X. Penyusunan soal tes
bakat dan minat yang digunakan bersumber dari buku dengan pengarahan dari
pakar
psikologi
sehingga
dapat
disesuaikan antara pertanyaan
dengan
rekomendasi bidang studi yang diberikan. Pengambilan data tes bakat dan minat
serta nilai akademik ini dilakukan melalui kuisioner yang diberikan pada siswa
SMA.
Pada tahap ini juga dilakukan wawancara dengan pakar untuk menentukan
nilai bobot pada masing-masing kriteria yang digunakan dalam perhitungan
metode AHP.
3.3 Perancangan umum
Perancangan aplikasi dilakukan setelah semua kebutuhan sistem
didapatkan melalui tahap analisis kebutuhan. Perancangan aplikasi berdasarkan
Object Oriented Analysis dan Object Oriented Design yaitu menggunakan
28
pemodelan UML (Unified Modeling Language). Sistem pakar memilih bidang
studi ini dibentuk dengan blok diagram seperti gambar dibawah ini :
Lingkungan Konsultasi
Siswa
Fakta tentang kejadian
khusus yaitu bakat dan
minat
Lingkungan Pengembangan
BASIS PENGETAHUAN
Fakta : tes bakat, minat
Aturan : metode AHP yang memadukan
hasil dari tes bakat, minat dan
kemampuan akademik
Antarmuka
Pengguna
Knowledge
engineer
Fasilitas penjelas
tentang alasan
rekomendasi bidang
studi yang diberikan
Pengetahuan
terdokumentasi
Jurusan yang
direkomendasikan
Akuisisi pengetahuan
tentang bakat, minat
dan bidang studi
Pengetahuan
pakar psikolog
Mesin Inferensi
Menarik kesimpulan
Blackboard (tempat kerja)
Agenda
Solusi
Deskripsi masalah
Perbaikan
pengetahuan
Gambar 3.2 Diagram blok sistem pakar pemilihan bidang studi.
Sumber : Perancangan
Proses yang dapat dijelaskan dari diagram alir di atas yakni, pertama siswa
akan mendapatkan pertanyaan untuk mengetahui bakat dan minatnya, serta siswa
akan menginputkan nilai akademiknya. Selanjutnya jawaban serta nilai akademik
dari siswa tersebut, akan menentukan rekomendasi bidang studi yang diberikan.
Proses interaksi user dengan sistem dilakukan melalui antarmuka
pengguna. Pada antarmuka juga dilengkapi dengan fasilitas penjelas yang
memberikan penjelasan bagaimana hasil kesimpulan diperoleh sehingga dapat
meyakinkan pengguna. Kesimpulan yang diperoleh dari tes yang diberikan berupa
rekomendasi bidang studi yang sesuai dengan bakat dan minat siswa serta
disesuaikan dengan nilai akademik siswa tersebut.
Pakar mengambil peranan sangat aktif dalam pembuatan basis
pengetahuan. Tempat kerja disediakan bagi pakar untuk membantu memberikan
solusi bagi permasalahan saat sistem dijalankan dan menyedikan fasilitas untuk
29
menulis agenda dan deskripsi terhadap permasalahan khusus yang belum
diprediksi. Knowledge engineer bertanggung jawab membuat kesan yang tepat,
secara positif mengomunikasikan informasi tentang proyek, memahami tipe
pakar, mempersiapkan sesi, dan seterusnya [TUR-05:759].
Metode akuisisi pengetahuan yang digunakan adalah metode manual, yang
terdiri dari:
a. Metode wawancara terstuktur
Teknik wawancara melibatkan dialog langsung antara pakar dan knowledge
engineer. Informasi dikumpulkan dengan bantuan instrument konvensional
(misalnya tape recorder atau kuisioner) dan selanjutnya ditranskip, dianalisis
dan dikodekan [TUR-05:762]. Metode wawancara terstruktur adalah proses
berorientasi tujuan yang sistematik. Proses berorientasi tujuan menekankan
komunikasi terorganisasi antara knowledge engineer dan pakar. Struktur
sistematik mengurangi persoalan interpretasi yang inheren dan memungkinkan
knowledge engineer mencegah distorsi yang disebabkan oleh subjektivitas
pakar domain [TUR-05:765].
b. Metode analisis kasus
Pada metode analisis kasus, pakar ditanya bagaimana mereka menangani
kasus khusus di masa sebelumnya. biasanya metode ini melibatkan analisis
dokumentasi [TUR-05:768].
Pada basis pengetahuan sistem pakar ini, berisi pengetahuan setara pakar
yang telah diisi oleh knowedge engineer. Basis pengetahuan berisi fakta yang
berhubungan dengan bakat dan minat serta aturan yang berhubungan dengan
metode AHP. Representasi yang digunakan yaitu aturan produksi, karena pada
basis pengetahuan digunakan aturan pengetahuan sedangkan pada mesin inferensi
dapat digunakan aturan inferensi dengan menerapkan metode AHP. Konsep
pengetahuan yang dibangun digambarkan pada gambar 3.3 berikut.
30
REKOMENDASI
BIDANG STUDI
TES MINAT
TES BAKAT
NILAI
AKADEMIK
PENALARAN VERBAL
AKTIVITAS
PEKERJAAN
BAHASA
LOGIKA
SAINS
PRAKTE
K
SOSIAL
B.INDONESIA
TIK
BIOLOGI
SENI BUDAYA
SEJARAH
KEMAMPUAN
ANGKA
BAHASA
PENALARAN
ABSTRAK
B.INGGRIS
MATEMATIKA
KIMIA
PENJASKES
GEOGRAFI
SENI
FISIK
EKSPERIMEN
KECEPATAN DAN
KETELITIAN KLERIKAL
B.JERMAN
FISIKA
PENALARAN
MEKANIKAL
BISNIS
SOSIOLOGI
PKN
ORGANISASI
SOSIAL
EKONOMI
PENGGUNAAN
BAHASA: MENGEJA
PENGGUNAAN BAHASA:
TATA BAHASA
Gambar 3.3 Konsep pengetahuan sistem pakar pemilihan bidang studi
Sumber : perancangan
Basis pengetahuan berinteraksi dua arah dengan mesin inferensi dimana
pada mesin inferensi ini sendiri dilakukan proses pengambilan kesimpulan.
Metode penalaran yang dilakukan adalah forward chaining, yaitu berjalan dari
fakta menuju kesimpulan. Pada sistem ini dilakukan update pengetahuan dan
perbaikan secara teratur sehingga informasi yang diberikan tetap valid. Diagram
alir sistem pakar pemilihan bidang studi ditunjukkan pada lampiran 1.
3.4 Implementasi
Implementasi aplikasi dilakukan dengan mengacu kepada perancangan
aplikasi. Implementasi perangkat lunak dilakukan dengan menggunakan bahasa
pemrograman berorientasi objek yaitu menggunakan bahasa pemrograman Java
dengan software netbeans 6.7.1. Pada pembuatan database sistem pakar,
digunakan Database Management System (DBMS) MySQL dengan software
XAMPP 1.7.7.
3.5 Pengujian
Melakukan pengujian berdasarkan implementasi yang telah dibuat melalui
perhitungan akurasi efektifitas penggunaan sistem pakar bila dibandingkan
31
dengan sistem manual. Parameter yang digunakan meliputi: hasil tes bakat dan
minat serta nilai akademik dari siswa.
3.6 Kesimpulan dan saran
Pengambilan kesimpulan dilakukan setelah dilakukan proses pengujian
sistem pakar sehingga dapat diketahui efektifitas kinerja sistem pakar. Tahap
terakhir yaitu penulisan saran yang dapat membantu dalam pengembangan sistem
pakar selanjutnya untuk mendapatkan hasil yang akurat dan efektif.
32
BAB IV
ANALISIS DAN PERANCANGAN
Bab ini membahas analisis kebutuhan dan perancangan Sistem Pendukung
Keputusan Penjurusan SMA Menggunakan metode AHP untuk membantu pihak
sekolah memproleh hasil yang lebih akurat. Perancangan ini meliputi 2 tahap
yaitu proses analisis kebutuhan perangkat lunak dan perancangan sistem
pendukung keputusan menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process).
Tahap analisis kebutuhan perangkat lunak terdiri dari identifikasi aktor, daftar
kebutuhan sistem, dan use case diagram. Tahap perancangan sistem pendukung
keputusan terdiri dari Langkah metode AHP, hasil keputusan metode AHP dan
user interface.
Gambar 4.1 Susunan Rancangan
4.1 Analisis Kebutuhan Perangkat Lunak
Beberapa fungsi perangkat lunak yang dibutuhkan oleh perangkat lunak terdiri
dari identifikasi aktor, daftar kebutuhan sistem dan use case diagram sistem.
4.1.1 Identifikasi Aktor
Didalam sistem ini terdapat 1 aktor yang berperan dalam sistem, yaitu User
33

User
Aktor yang merupakan pengguna yang menginputkan data dan dapat
mengakses fitur : Tambah matrik perbandingan kriteria, Melihat hasil
keputusan dan Tambah matrik perbandingan alternatif.
Table 4.1 Deskripsi Aktor
Aktor
Deskripsi Aktor
User
Pada program ini user merupakan
pengguna yang menginputkan data dan
dapat mengakses fitur : Tambah matrik
perbandingan kriteria, Melihat hasil
keputusan
dan
Tambah
matrik
perbandingan alternatif.
4.1.2 Daftar Kebutuhan Sistem
Daftar kebutuhan ini menjelaskan tentang kebutuhan user yang harus di
sediakan oleh system. Dari setiap kolom yang terdapat pada tabel di bawah ini
menampilkan nama masing-masing use case dan menunjukan masing-masing
kebutuhan yang di perlukan. Daftar kebutuhan sistem dapat dilihat pada
Tabel 4.2 Daftar Kebutuhan Sistem
Kebutuhan
Aktor
Nama Use Case
Sistem harus menyediakan antar User
Tambah matrik
muka untuk memasukkan inputan
perbandingan
user berupa matrik perbandingan
kriteria
kriteria
sehingga
memproses
dan
sistem
bisa
menampilkan
hasil keputusan.
34
Sistem harus menyediakan antar User
Melihat hasil
muka untuk menampilkan hasil
keputusan
keputusan untuk di lihat oleh
user.
Sistem harus menyediakan antar User
Tambah matrik
muka untuk memasukkan inputan
perbandingan
user berupa matrik perbandingan
alternatif
alternatif sehingga sistem bisa
memproses
dan
menampilkan
hasil keputusan.
4.1.2.1 Kebutuhan Fungsional
Dalam sistem ini terdapat beberapa kebutuhan fungsioanal yang
melengkapi fitur-fitur dalam sistem.
Berikut adalah kebutuhan fungsional dalam sistem :
Akses sistem untuk tambah matrik perbandingan kriteria menyediakan fasilitas:
 Memasukkan data Nama siswa
 Memasukkan data Nomer induk
 Memasukkan data tempat lahir
 Memasukkan data Tanggal lahir
 Memasukkan data Alamat
 Memilih salah satu (bakat, minat, nilai akademik)
Akses sistem untuk penyelesaian masalah menggunakan AHP terdapat 4
prinsip dasar yang menyediakan fasilitas:
 Dekomposisi
 Penilian Komparasi (Comparative Judgement)
 Penentuan Prioritas (Synthesis of Priority)
 Konsistensi Logis (Logical Consistency)
35
4.1.2.2 Kebutuhan Non-Fungsional
Sistem dapat menyimpan data siswa dan hasil yang di diperoleh siswa
secara aman tanpa perlu takut data tersebut dapat diketahui oleh orang lain. Orang
yang memiliki hak akses terhadap sistem hanya petugas sekolah (admin), sistem
ini di lengkapi dengan tampilan yang menarik dan mudah di akses sehingga siswa
tidak perlu bingung saat menggunakan.
4.1.3 Use Case Diagram
Diagram usecase merupakan salah satu model UML yang digunakan
untuk mendeskripsikan kebutuhan-kebutuhan dan fungsionalitas dari sebuah
sistem dari prespektif end user dan menunjukkan aktifitas-aktifitas yang dilakukan
oleh user
memasukkan nilai psikotest
Admin/TU
memasukkan nilai akademik
Login
melihat nilai akademik
<<include>>
<<include>>
melihat nilai psikotest
<<include>>
isi kuis keminatan
User
<<include>>
Melihat nilai kuis keminatan
<<include>>
melihat hasil keputusan
Gambar 4.2 usecase system
36
4.1.4 Skenario Use case
Dalam use case pada gambar 4.2 diatas diketahui bahwa user dapat
mengisi kuis keminatan. Setelah itu sistem menerima data masukan user
kemudian mengolahnya dengan metode AHP (Analytical Hierarchy Process),
setelah itu user dapat melihat hasil keputusan yang di tampilkan .
User dapat melakukan proses menginputkan data dimana data yang dimasukkan
yaitu berupa : mengisi kuis keminatan. Dan user juga dapat melihat : melihat nilai
akademik, melihat nilai psikotes, melihat nilai kuis keminatan, melihat hasil
keputusan.
Admin atau petugas tata usaha melakukan proses penginputan data dimana data
yang dimasukkan yaitu berupa : memasukkan nilai akademik dan memasukkan
nilai psikotes
Tabel 4.3 Skenario Usecase
Usecase
Input data
User
User
Tujuan
Inputan data yang dimasukkan user ini
akan digunakan untuk mendapatkan
nilai dari perhitungan yang dilakukan
Deskripsi
Usecase ini menjelaskan bagaimana
proses user memasukkan inputan data.
Kondisi awal
Akan ditampilkan beberapa soal pilihan
ganda yang digunakan user untuk
menginputkan jawaban
Kondisi akhir
Input dari user akan digunakan untuk
menentukan hasil
Scenario : mengisi kuis keminatan
Aksi dari user
Tanggapan dari system
1. User mengisikan jawaban kuis
Sistem menghitung hasil dari kuis
37
keminatan
keminatan user
Usecase
Input data
Admin
Admin
Tujuan
Inputan data yang dimasukkan admin
ini akan digunakan untuk menampilkan
nilai akademik dan nilai psikotes yang
dilihat oleh user.
Deskripsi
Usecase ini menjelaskan bagaimana
proses admin
memasukkan
data
kedalam database.
Kondisi awal
Database dalam keadaan kosong
Kondisi akhir
Database akan terisi dengan data siswa
yang telah diinputkan oleh admin
Scenario : memasukkan nilai akademik
Aksi dari admin
Tanggapan dari system
Admin memasukkan inputan data
Sistem menyimpan kedalam data base
berupa nilai akademik
Scenario : memasukkan nilai psikotes
Aksi dari admin
Tanggapan dari system
Admin memasukkan inputan data
Sistem menyimpan kedalam data base
berupa nilai psikotes
38
4.2 Perancangan Sistem Pendukung Keputusan
Tahap perancangan sistem pendukung keputusan penjurusan SMA
menggunakan metode AHP terdiri dari : Hsil keputusan menggunakan AHP,
Metode yang digunakan dalam AHP dan User interface.
4.2.1 Hasil keputusan menggunakan AHP
Pada tampilan user interface sistem ini akan menampilkan hasil kriteria
dari inputan yang telah di masukkan oleh user, data yang diolah dan memproleh
hasil kriteria yang sesuai dengan siswa.
4.2.2 Metode yang di gunakan dalam AHP
Dalam sistem manajemen model ini akan dibahas mengenai langkahlangkah yang digunakan dalam metode AHP (Analytical Hierarchy Process).
Berikut langkah-langkahnya :

Dekomposisi
Setelah mengartikan
masalah
yang ada,
maka dapat
dilakukan
dekomposisi, adalah: menguraikan unsur-unsur yang ada dalam masalah
tersebut. Hal ini dapat dilakukan sampai menemukan penyelesaian
masalah.Sehingga proses analisa ini diberi nama hierarki (hierarchy).

Penilian Komparasi (Comparative Judgement)
Pada tingkatan tertentu terdapat hubungan dengan tingkatan di atasnya
pedoman ini dapat menghasilkan penilian tentang relative dua elemen. Hasil
penilian tersebut dapat ditampilkan dengan cara perbandingan yang berpasangan
dan menghasilkan suatu matriks. (Pairwise Comparasion).

Penentuan Prioritas (Synthesis of Priority)
Setiap matriks pairwise comparison dapat menghasilkan prioritas lokal.
Sebab dalam setiap tingkatan memiliki matriks pairwise comparison, sehingga
dalam penentuan prioritas global dapat melakukan sintesis di setiap prioritas
lokal. Menurut suatu hierarki persyratan melakukan sintesis tidak sama.Dalam
berbagai masalah, Suatu cara menujukan pendapat adalah dengan skala terbaik
yaitu skala 1 sampai 9.
39

Konsistensi Logis (Logical Consistency)
Konsistensi mempunyai dua arti. Pertama ialah suatu Suatu Evevansi dan
kesamaan dapat disatukan dan menghasilkaan suatu objek yang sama. Kedua ialah
Suatu persyarat tertentu yang memiliki dasar tingkat hubungan sesama objek.
4.2.3 User Interface
Pada sistem ini user menginputkan data dirinya secara lengkap sesuai dengan data
yang diminta oleh sistem. Sistem akan memproses data inputan dan menampilkan
hasil kriteria penjurusan yang sesuai dengan keminatan siswa.
a. Input Data
Halaman ini menampilkan inputan apa saja yang harus di masukkan oleh user
untuk melakukan percobaan penjurusan sma
Gambar 4.3 tampilan awal pada web site penjurusan sma
40
Pada tampilan awal halaman web site ini terdapat menu login yang wajib di isi
oleh siswa yang akan melakukan percobaan penjurusan sma, dalam menu login ini
siswa harus mengisikan nomer induk siswa dan password yang telah diperoleh.
Gambar 4.4 tampilan setelah login
Pada halaman web site di atas adalah utama halaman web site ini disini siswa
dapat membaca informasi apa saja yang tersapat dalam website ini, kemudian
siswa dapat memilih menu lanjut untuk mengakses halaman selanjutnya.
Gambar 4.5 Tampilan nilai akademik
41
Pada tampilan di atas menunjukan rata-rata nilai akademik siswa per bidang
jurusan, kemudian siswa dapat memilih menu lanjut untuk mengakses halaman
selanjutnya.
Gambar 4.6 Tampilan nilai psikotest
Pada tampilan diatas menunjukan rata-rata akademik siswa menurut presentase
(tinggi,rendah,sedang), kemudian siswa dapat memilih menu lanjut untuk
mengikuti tes minat dan bakat.
Gambar 4.7 Tampilan kuis keminatan
Pada tampilan diatas menunjukan soal – soal kuis minat dan bakat yang wajib di
isi oleh siswa, kemudian siswa dapat memilih menu lanjut untuk melihat hasil tes
minat dan bakatnya.
42
b.Output
Gambar 4.8 Tampilan hasil kuis keminatan
Pada tampilan diatas menampilkan presentasi hasil kuis minat dan bakat yang
telah diisi oleh siswa tersebut, kemudian siswa dapat memilih menu lanjut untuk
melihat hasil penjurusannya.
Gambar 4.9 Hasil keputusan
Pada tampilan di atas menampilkan hasil penjurusan yang sesuai untuk siswa
tersebut, kemudian siswa dapat memilih menu logout untuk meninggalkan
halaman web site tersebut.
43
Lampiran 1: Activity Diagram Sistem
Mulai
Login
(Masukkan
username
dan
password)
Manampilkan
proses dari
pemilihan jurusan
Menampilkan nilai
rata – rata
akademik
Menampilkan nilai
rata – rata
psikotes
Kuis
keminatan
Menampilkan hasil
kuis keminatan
Menampilkan hasil
penjurusan
selesai
Gambar 4.10 menampikan alur dalam proses penentuan keminatan
Gambar diatas menampilkan alur yang harus di lalui oleh siswa dalam
melakukan penjurusan sma yang akan di ambil, setelah langkah – langkah di atas
di lakukan akan diperoleh hasil penjurusan yang sesuai untuk siswa tersebut
sesuai dengan diagnosa sistem.
44
Lampiran 2 : Soal tes keminatan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Pekerjaan mana yang menurut anda lebih menarik dan menyenangkan?
a. Dokter
b. Pengusaha
c. Sastrawan
d. Seniman
Seberapa sering anda mengikuti perkembangan politik dan ekonomi?
a. Tidak pernah
b. Tidak Sering
c. Sering
d. Sangat Sering
Berapa banyak jenis bahasa yang anda kuasai? </td>
a. 1
b. 2
c. 3
d. Lebih dari 3
Bergerak dibidang apakah kebanyakan keluarga anda??
a. Bisnis / pengusaha
b. Entertaiment
c. Kesehatan (Dokter, perawat, analis gizi, dsb)
d. Relegius
Berapa banyak anda menghabiskan waktu untuk merawat tubuh?? (baik
untuk kecantikan maupun kesehatan)?
a. Tidak pernah
b. Sedikit
c. Banyak
d. Sangat banyak
Manakah sifat dibawah ini yang sesuai dengan karakter anda?? </td>
a. keras, tegas, selalu mengikuti perkembangan (update)
b. pendiam, suka mencari tahu sesuatu, teliti
c. Suka mencoba hal baru, kreatif, pemberani
d. tertutup, malu-malu
Apa yang sering anda lakukan untuk mengisi waktu luang?? </td>
a. tidur
b. Belajar
c. Game
d. Internet-an mencari informasi baru
Tugas apa yang paling anda benci?? </td>
a. berhitung, serba menggunakan rumus
b. mengarang
c. menghafal
d. menciptakan sesuatu yang baru
Apakah anda takut atau merasa kesulitan untuk berbicara di depan umum??
a. sangat takut
45
b. tidak takut
c. kadang-kadang
d. awalnya saja, seterusnya tidak
10. Manakah yang lebih menakutkan?
a. melihat ceceran darah
b. berdebat dan mempertahankan pendapat
c. ber-acting
d. presentasi didepan orang banyakwalnya saja, seterusnya tidak
46
47
DAFTAR PUSTAKA
[ACA-10] Acandra. 2010. “Cara Mengenali dan Mengasah Bakat Anak”. Kompas
(Jakarta), 10 Maret.
[ALI-09] Ali, Mohammad. 2009, Pendidikan Untuk Pembangunan Nasional :
Menuju Bangsa Indonesia Yang Mandiri dan Berdaya Saing Tinggi,
Grasindo, Jakarta.
[BAR-04] Barret, Jim. Alih bahasa oleh : Kristina, Diah., Dewi, I., Kusuma dan
Nababan, Heriyanto. 2004. Tes Karier, Bakat dan Seleksi (Career, Aptitude
And Selection Test), Tiga Serangkai, Solo.
[HUT-09] Hutagaol, Y. M. R. 2009. Minat Dan Motivasi Siswa Memilih Sekolah
Menengah Kejuruan (Smk) Mendorong Peningkatan Mutu Pendidikan Di
Kabupaten Tapanuli Utara. Tesis tidak dipublikasikan. Medan : Universitas
Sumatera Utara.
[KUM-08] Kumar, Ela. 2008. Artificial Intellegenc. New Delhi. LK. International
Publishing House Pvt. Ltd.
[KUS-07] Kusumawati, Ririn. 2007, Artificial Intelligece Menyamai Kecerdasan
Buatan Ilahi?, UIN-Malang Press, Malang.
[KUS-08] Kusrini. 2008, Aplikasi Sistem Pakar Menentukan Faktor Kepastian
Pengguna dengan Metode Kuantifikasi Pertanyaan, ANDI, Yogyakarta.
[ROH-08 ] Rohman, F. F., dan Fauzijah, Ami. 2008, “Rancang Bangun Aplikasi
Sistem Pakar Untuk Menentukan Jenis Gangguan Perkembangan Pada
Anak”, Media Informatika, Vol 6. No.1, hal. 1-23.
[SUK-02] Sukardi, D., Ketut. 2002. Tes Bakat Karier Anda (Tes Penjelajahan
Karier Anda), PT. Rineka Cipta, Jakarta.
[SUT-11] Sutojo, T., Mulyanto, Edi. dan Suhartono, Vincent. 2011. Kecerdasan
Buatan, Andi, Yogyakarta.
[TUR-05] Turban, Efraim. Aranson, Jay, E. dan Liang, Ting-Peng. Alih bahasa
oleh Primaningrum, Siska. 2005, Decision Support Systems and Intelligent
Systems, 7th edition, Prentice Hall Internasional, Inc., USA.
48
Download