II. TIJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Koperasi Koperasi berasal

advertisement
II.
2.1
TIJAUAN PUSTAKA
Pengertian Koperasi
Koperasi berasal dari bahasa latin cooperere yang dalam Inggris menjadi
couperation berarti “bekerja bersama”, co berarti bersama dan operation berarti
“bekerja” atau “berusaha” (to operate) . Koperasi adalah sebuah perusahaan
dimana orang-orang berkumpul bukan untuk menyatukan uang atau modal
melainkan sebagai akibat kesamaan kebutuhan ekonomi. Berdasarkan UndangUndang nomor 12 tahun 1967, koperasi Indonesia adalah organisasi ekonomi
rakyat yang berwatak sosial dan beranggotakan orang-orang, badan-badan hukum
koperasi yang merupakan tata susunan ekonomi sebagai usaha bersama berdasar
atas asas kekeluargaan. Tujuan koperasi yaitu menjadikan kondisi sosial dan
ekonomi anggotanya lebih baik dibanding sebelum bergabung dengan koperasi
(UU No.12 Tahun 1967)
Penjenisan koperasi diatur dalam Pasal 16 Undang-Undang Nomor 25
Tahun 1992 tentang Perkoperasian yang mana menyebutkan bahwa jenis koperasi
didasarkan pada kesamaan kegiatan dan kepentingan ekonomi anggotanya.
Dengan demikian, sebelum kita mendirikan koperasi harus mententukan secara
jelas keanggotaan dan kegiatan usaha. Dasar untuk menentukan jenis koperasi
adalah kesamaan aktivitas, kepentingan dan kebutuhan ekonomi anggotanya (UU
No.25 Tahun 1992, Pasal 16).
Koperasi bukan perkumpulan modal dan tidak mengejar keuntungan, lain
dengan badan usaha bukan koperasi yang mengutamakan modal dan berusaha
mendapatkan keuntungan. Keanggotaan koperasi berdasarkan atas perseorangan
9
10
bukan atas dasar modal. Prinsip-prinsip koperasi Indonesia menurut UU No.25
tahun 1992 yang berlaku di Indonesia saat ini adalah sebagai berikut : 1)
keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka; 2) pengelolaan dilakukan secara
demokrasi; 3) pembagian SHU dilakukan secara adil sesuai dengan besarnya jasa
usaha masing-masing anggota; 4) pemberian batas jasa yang terbatas terhadap
modal; 5) kemandirian; 6) pendidikan perkoperasian dan 7)kerjasama antar
koperasi.
2.2
Landasan dan Azaz Koperasi
Dalam landasan Undang – Undang Koperasi No. 25 tahun 1992 tentang
pokok- pokok koperasi, landasan koperasi Indonesia yang melandasi aktifitas
koperasi di Indonesia meliputi Landasan Idiil ( Pancasila ), Landasan Mental
(setia kawan dan kesadaran diri sendiri), dan Landasan Struktural dan Gerak
(UUD 1945 Pasal 33 Ayat 1).
Asas Koperasi Indonesia adalah kekeluargaan dan kegotong- royongan.
Selain itu juga, menurut UU No. 25 tahun 1992 Pasal 5 disebutkan bahwa Azas
atau Prinsip koperasi, yaitu, Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka,
Pengelolaan dilakukan secara demokratis, Pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU)
dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing
anggota (andil anggota tersebut dalam koperasi) pemberian balas jasa yang
terbatas terhadap modal Kemandirian Pendidikan perkoprasian (UU No.25 Tahun
1992, Pasal 5).
11
2.3
Fungsi, Peran dan Prinsip Koperasi
Berdasarkan pasar 4 UU Nomor 25 Tahun 1992 tentang perkoperasian,
Fungsi dan peran koperasi adalah:
1.
Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi
anggota
pada
khususnya
dan
masyarakat
pada
umumnya
untuk
meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya.
2.
Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan
manusia dan masyarakat.
3.
Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan
perekonomian nasional dengan koperasi sebagai sokogurunya.
4.
Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional
yang merupakan usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan dan
demokrasi ekonomi.
Prinsip koperasi dapat dilihat dalam Bab III bagian kedua pasal 5 UU RI
No.25 tahun 1992, yaitu:
1.
Keanggotaan bersifat aL-mela dan terbuka.
2.
Pengelolaan dilakukan secara demokratis.
3.
Pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil sebanding dengan
besarnya jasa usaha masing-masing anggota.
4.
Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal
5.
Kemandirian.
12
2.4
2.4.1
Laporan Keuangan
Pengertian laporan keuangan
Menurut Kamsir (2008) dalam pengertian yang sederhana, laporan
keuangan adalah laporan yang menunjukan kondisi keuangan perusahaan pada
saat ini atau dalam suatu periode tertentu. Dalam definisi Jumingan (2006),
laporan keuangan merupakan hasil refleksi dari sekian banyak transaksi yang
terjadi dalam suatu perusahaan, sekaligus merupakan hasil tindakan pembuatan
ringkasan data keuangan perusahaan. Lantas laporan keuangan disusun dan
ditafsirkan untuk kepentingan manajemen dan pihak lain yang menaruh perhatian
atau mempunyai kepentingan dengan data keuangan perusahaan.
Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Arifin
(Alphasti Rasi
Destiadi, 2010) dalam bukunya bahwa laporan keuangan merupakan bagian dari
proses pelaporan keuangan perusahaan, yang biasanya meliputi neraca, laporan
laba-rugi, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. Disusun dan
disajikan sekurang-kurangnya setahun sekali, guna memenuhi kebutuhan
sejumlah besar pemakai yang memerlukan dan berhak memperoleh informasi
yang tercakup dalam laporan keuangan, termasuk informasi tambahan.
2.4.2
Komponen laporan keuangan
Menganalisis suatu laporan keuangan, penganalisa harus mempunyai
pengertian yang mendalam tentang laporan keuangan itu sendiri dalam bentukbentuk maupun prinsip yang terkandung dalam laporan keuangan adalah sebagai
berikut:
1.
Neraca
Laporan neraca menurut penjelasan Kadarsan (Alphasti Rasi Destiadi,
2010) mempunyai berbagai macam kegunaan. Di antaranya adalah bisa
13
menunjukkan tentang macam atau tipe perusahaan, posisi keuangan, nilai absolut,
struktur perusahaan, likuiditas dan solvabilitas, strategi perkreditan, strategi arus
tunai, daya pinjam, serta perkembangan dari perusahaan. Neraca adalah laporan
keuangan yang memberikan informasi mengenai posisi keuangan (aktiva,
kewajiaban, ekuitas) perusahaan pada saat tertentu. Sebagimana dijelaskan bahwa
dalam laporan keuangan ada tiga laporan yautu: neraca, laporan laba rugi, dan
laporan kas. Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai pengertian atau definisi
tentang neraca yang dikemukakan oleh para ahli sebagai berikut:
a)
Aktiva
1)
Aktiva lancar, yaitu aktiva yang manfaat ekonominya akan diperoleh
dalam waktu satu tahun atau kurang sesuai dengan siklus normal
perusahaan menurut Arifin (Alphasti Rasi Destiadi, 2010). Yang
termasuk dalam aktiva lancar adalah kas atau setara kas, investasi
jangka pendek, wesel tagih, piutang usaha, piutang lain-lain,
persediaan, pajak dibayar dimuka, biaya dibayar dimuka, dan aktiva
lancar lain-lain.
2)
Aktiva tidak lancar, contohnya adalah aktiva pajak tangguhan,
investasi pada perusahaan asosiasi, investasi jangka panjang lain,
aktiva tetap (peralatan kantor, mesin, kendaraan, gedung, tanah, dan
natural resources), aktiva tidak berwujud (goodwill, hak sewa, hak
paten, hak cipta, franchise (hak monopoli), dan lisensi), aktiva lainlain (piutang kepada direksi dan beban ditangguhkan).
14
b)
Kewajiban
1)
Kewajiban lancar, yaitu kewajiban perusahaan kepada pihak lain yang
penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber
daya perusahaan dalam jangka waktu satu tahun atau kurang , menurut
Arifin (Alphasti Rasi Destiadi, 2010). Yang termasuk dalam kewajiban
lancar adalah pinjaman jangka pendek, wesel bayar, hutang usaha,
hutang pajak, beban masih harus dibayar, pendapatan diterima dimuka,
bagian kewajiban jangka panjang yang jatuh tempo dalam waktu satu
tahun, dan kewajiban lancar lain-lain.
2)
Kewajiban tidak lancar, contohnya adalah hutang hubungan istimewa,
kewajiban pajak tangguhan, pinjaman jangka panjang, hutang sewa
guna usaha, keuntungan tangguhan aktiva dijual dan disewaguna usaha
kembali, hutang obligasi, hutang subordinasi, obligasi konversi, serta
kewajiban tidak lancar lainnya (hutang perusahaan kepada direksi).
c)
Ekuitas
Yang termasuk ekuitas adalah modal saham, tambahan modal disetor,
selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan, selisih transaksi perubahan
ekuitas perusahaan asosiasi, keuntungan (kerugian) belum direalisasi dari efek
tersedia untuk dijual, selisih penilaian kembali aktiva tetap, opsi saham, saldo
laba, dan modal saham diperoleh kembali.
2.
Laporan laba rugi
Penjelasan dari Jumingan (2006) menyebutkan bahwa laporan laba rugi
dalam banyak literatur akuntansi diturunkan dari istilah profit and loss statement,
earning statement, operations statement, atau income statement. Kadarsan (1992)
15
menjelaskan bahwa laporan laba rugi berperan dalam mengungkapkan
keberhasilan atau kegagalan jalannya suatu perusahaan selama suatu periode
tertentu. Kegunaan laporan laba rugi di antaranya adalah untuk menentukan
pembayaran
pajak,
menganalisis
kemungkinan
perluasan
luas
usaha,
mengevaluasi hasil kegiatan operasional, dan mengukur daya bayar utang
perusahaan. Menurut Horne (1997), laporan rugi laba (perhitungan hasil usaha)
adalah ringkasan pendapatan dan biaya perusahaan selama perode tertentu diakhiri
dengan laba atau rugi pada periode tertsebut.
2.5
Penilaian Kinerja
2.5.1 Pengertian penilaian kinerja
Penilaian kinerja adalah penentuan secara periodik efektivitas operasional
suatu organisasi, bagian organisasi, dan karyawan berdasarkan sasaran standar
kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Oleh karena jika informasi akuntansi
dipakai sebagai salah satu dasar penilaian kinerja, maka informasi yang
memenuhi kebutuhan tersebut adalah informasi akuntansi manajemen yang
dihubungkan dengan individu yang memilliki peran tertentu dalam organisasi.
Menurut Sanistiawan, Tipe informasi akuntansi manajemen yang memiliki
karakteristik semacam itu disebut informasi akuntansi pertanggungjawaban (Umi
Nadhiroh, 2008).
Tujuan pokok penilaian kinerja adalah untuk memotivasi karyawannya
dalam mencapai sasaran organisasi dan memenuhi standar perilaku yang telah
ditetapkan sebelumnya, agar membuahkan tindakan dan hasil yang diinginkan.
Standar perilaku dapat berupa kebijakan manajemen atau rencana formal yang
dituangkan dalam anggaran.
16
Menurut Sanistiawan, penilaian kinerja dilakukan dengan menekan
perilaku yang tidak semestinya dan untuk merangsang serta menegakkan perilaku
yang semestinya diinginkan melalui umpan balik hasil kinerja pada waktu serta
penghargaan, baik bersifat intrinsik maupun ekstrinsik (Umi Nadhiroh, 2008).
2.5.2
Tujuan penilaian kerja
Tujuan penilaian kinerja perusahaan menurut Munawir (2010) adalah
sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui tingkat likuiditas, yaitu kemampuan perusahaan untuk
memperoleh kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi atau
kemampuan perusahaan untuk memenuhi keuangannya pada saat ditagih.
2.
Untuk mengetahui tingkat solvabilitas, yaitu kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi
baik kewajiban keuangan jangka pendek maupun jangka panjang.
3.
Untuk mengetahui tingkat rentabilitas atau profitabilitas, yaitu menunjukkan
kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.
4.
Untuk mengetahui tingkat aktivitas, yaitu kemampuan perusahaan untuk
mengukur seberapa efektif perusahaan dalam memanfaatkan semua sumber
daya yang ada padanya dengan mempertimbangkan kemampuan perusahaan
untuk membayar beban bunga atas hutang-hutangnya termasuk membayar
kembali pokok hutangnya tepat pada waktunya serta kemampuan membayar
deviden secara teratur kepada para pemegang saham tanpa mengalami
hambatan atau krisis keuangan.
2.5.3
Manfaat penilaian kerja
Adapun manfaat dari penilaian kinerja perusahaan adalah sebagai berikut:
17
1.
Untuk mengukur prestasi yang dicapai oleh suatu organisasi dalam suatu
periode tertentu yang mencerminkan tingkat keberhasilan pelaksanaan
kegiatannya.
2.
Selain digunakan untuk melihat kinerja organisasi secara keseluruhan, maka
pengukuran kinerja juga dapat digunakan untuk menilai kontribusi suatu
bagian dalam pencapaian tujuan perusahaan secara keseluruhan.
3.
Dapat digunakan sebagai dasar penentuan strategi perusahaan untuk masa
yang akan datang.
4.
Memberi petunjuk dalam pembuatan keputusan dan kegiatan organisasi
pada umumnya dan divisi atau bagian organisasi pada khususnya.
5.
Sebagai dasar penentuan kebijaksanaan penanaman modal agar dapat
meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan.
2.6
Metode dan Teknik Analisis Laporan Keuangan
Metode dan teknik analisa digunakan untuk menentukan dan mengukur
hubungan antara pos-pos yang ada dalam laporan, sehingga dapat diketahui
perubahan-perubahan dari masing-masing pos tersebut bila diperbandingkan
dengan laporan dari beberapa periode untuk satu perusahaan tertentu, atau
diperbandingkan dengan alat-alat pembanding lainnya.
Tujuan
dari
setiap
metode
dan
teknik
analisa
adalah
untuk
menyederhanakan data sehingga dapat lebih dimengerti. Dalam menganaisis
laporan keuangan digunakaan beberapa metode dan teknik yang dijadikan dasar
penganalisisan. Menurut Munawir (2010) dalam bukunya, ada dua metode
analisis yang digunakan oleh setiap penganalisa laporan keuangan yaitu:
18
1.
Analisis Vertikal, yaitu laporan keuangan yang dianalisa hanya meliputi satu
periode saja, dengan cara membandingkan antara pos yang satu dengan pos
yang lainnya dalam laporan keuangan tersebut. Untuk analisis laba rugi,
penjualan biasanya ditetapkan 100% sedangkan untuk analisis secara total
aktiva ditetapkan 100%. Metode ini disebut metode analisa statis.
2.
Analisis Horizontal, yaitu analisis yang membandingan laporan keuangan
untuk beberapa periode, sehingga akan diketahui perkembangannya. Ada dua
teknik analisis yang biasa digunakan yaitu analisis perubahan dari tahun ke
tahun dan analisis trend angka index. Analisis horizontal dalam jangka
panjang akan membentuk analisis trend. Metode ini disebut analisis dinamis.
3.
Analisis Rasio, yaitu menggunkaan data perusahaan untuk menghitung rasiorasio yang mencermikan kondisi perusahaan terkini. Analisis rasio
melibatkan dua jenis perbandingan yaitu internal (membandingkan rasio saat
ini, masa lalu dan masa yang akan datang) dan eksternal (melibatkan
perbandingan rasio perusahaan sejenis atau dengan rata-rata industri dengan
titik waktu yang sama).
Untuk mengevaluasi kinerja dan kondisi keuangan perusahaan, analisis
keuangan dan pemakai laporan keuangan harus melakukan analisis terhadap
kesehatan perusahaan. Alat yang biasa digunakan adalah rasio keuangan. Oleh
karena itu dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik analisis rasio yaitu
rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas dan rasio aktivitas yang
berpedoman pada Peraturan Menteri dan KUKM No.06/Per/M/KUKM/V/2006
tentang pedoman klasifikasi koperasi.
19
2.7
Analisis
Rasio
berdasarkan
Peraturan
Menteri
dan
yang
penting
KUKM
No.06/Per/M/KUKM/V/2006
Analisis
rasio
adalah
suatu
alat
analisis
untuk
menginterprestasikan posisi keuangan suatu perusahaan, apakah perusahaan itu
posisi keuanganya baik atau buruk, rasio memberikan gambaran keadaan
keuangan rasio rata-rata dari perusahaan yang sejenis. Melalui rasio ini akan
diperolah ukuran-ukuran tentang likuiditas, solvailitas, profitabilitas dan aktivitas
keuangan suatu perusahaan yang berpedoman pada Peraturan Menteri dan KUKM
No.06/Per/M/KUKM/V/2006. Apapun rasio-rasio keuangan tersebut yang akan
digunakan dalam menganalisis laporan keuangan adalah sebagai berikut:
1) Rasio likuiditas, bertujuan mengukur kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Rasio likuiditas dapat dihitung
berdasarkan informasi modal kerja dari pos aktiva lancar dan hutang
lancar. Jenis rasio likuiditas yang sering dipergunakan antara lain:
(a) Current ratio (rasio lancar), digunakan untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam membayar kewajiban yang harus segera dipenuhi
dengan aktiva lancar yang dimilikinya. Rasio lancar dihitung dengan
cara membagi aktiva lancar dengan kewajiban lancar.
(b) Quick ratio atau acid test ratio (rasio cepat), digunakan untuk
mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban yang
harus segera dipenuhi dengan aktiva lancar, tanpa memperhitungkan
persediaan (persediaan adalah harta lancar yang paling tidak likuid
karena tidak mudah dijual, dan kalaupun dijual biasanya dengan
kredit/tidak tunai).
20
2) Rasio solvabilitas atau rasio leverage, bertujuan untuk mengukur seberapa
jauh aktiva perusahaan dibiayai dengan hutang atau dibiayai oleh pihak
luar. Data yang digunakan untuk analisis rasio solvabilitas adalah neraca
dan laporan laba rugi. Rasio solvabilitas di antaranya adalah:
(a) Total debt to total assets ratio (rasio total utang terhadap total aktiva),
dikenal sebagai debt ratio, digunakan untuk mengukur persentase
kebutuhan dana yang dibelanjai dengan debt. Dalam hal ini, debt yang
dimaksudkan meliputi hutang jangka pendek (current liabilities) dan
pinjaman jangka panjang (long term debt).
(b) Tolal debt to equity ratio
Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
untuk membayar hutang. Rasio ini membandingkan jumlah total
hutang dengan aktiva total yang dimiliki. Dari rasio ini dapat diketahui
beberapa bagian aktiva yang digunakan untuk menjamin uang.
pinjaman
(kreditur),
dan
hal
ini
besar
kemungkinan
akan
mengakibatkan kebangkrutan perusahaan.
3) Rasio rentabilitas (profitability ratio), bertujuan untuk mengukur seberapa
efektif pengelolaan perusahaan sehingga menghasilkan keuntungan.
Rentabilitas adalah hasil akhir dari sejumlah kebijakan dan keputusan
yang dilakukan oleh perusahaan. Rasio lain dapat memberikan petunjuk
yang berguna dalam menilai keefektifan dari operasi sebuah perusahaan,
tetapi rasio rentabilitas akan menunjukkan kombinasi efek dari likuiditas,
aktivitas dan solvabilitas. Yang termasuk dalam rasio rentabilitas di
antaranya adalah:
21
(a) Net profit margin (marjin laba bersih), mengukur hubungan antara
penjualan dan laba bersih. Bila laba tidak mencukupi, perusahaan tidak
akan dapat memberikan keuntungan yang layak bagi para investor.
Rasio ini diperoleh dengan membagi laba bersih setelah pajak dengan
penjualan.
(b) Return on total assets (tingkat pengembalian total aktiva), rasio antara
laba bersih terhadap total aktiva ini, bertujuan untuk mengukur
seberapa besar kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atas
penggunaan seluruh aktivanya dalam kegiatan operasinya.
(c) Return on equity (tingkat pengembalian ekuitas), merupakan rasio
keuangan yang paling penting atau jumlah akhir (bottom line) yang
diukur dengan membagi laba bersih dengan ekuitas atau modal sendiri.
Return on equity berfungsi untuk mengukur tingkat pengembalian atas
investasi.
4) Rasio aktivitas atau rasio manajemen aktiva (asset management ratio),
bertujuan untuk mengukur seberapa efektif perusahaan dalam mengelola
aktivanya. Dasar pemikiran dalam pemakaian rasio aktivitas menurut
Kartadinata (1983) adalah harus adanya keseimbangan antara tingkat
penjualan dengan tingkat investasi dalam berbagai aktiva. Beberapa jenis
rasio aktivitas yang digunakan adalah:
(a) Fixed assets turnover ratio (rasio perputaran aktiva tetap), berfungsi
untuk mengukur efektifitas perusahaan dalam menggunakan aktiva
tetapnya. Ini merupakan rasio dari penjualan terhadap aktiva tetap
bersih.
22
(b) Total assets turnover ratio (rasio perputaran total aktiva), mengukur
perputaran dari seluruh aktiva perusahaan, rasio ini dihitung dengan
cara membagi penjualan dengan total aktiva.
2.8
Kerangka Pemikiran
Dalam menganalisi kinerja keuangan Koperasi Simpan Pinjam Pandan
Wangi, Laporan keuangan
yang digunakan dalam penelitian ini berupa
laporan neraca dan laporan laba rugi. Pada laporan neraca dan laporan rugi
digunakan analisis verkital, analisis horizontal dan analisis rasio untuk
mengetahui bagaimana keadaan keuangan koperasi tersebut. Rasio yang
digunakan pada analisis rasio keuangan yaitu: 1) rasio likuiditas; 2) rasio
solvabilitas; 3) rasio rentabilitas (profitabilitas) dan 4) rasio aktivitas.
Ukuran rasio likuiditas yang digunakan adalah rasio lancar (current
ratio) dan rasio cepat (quick ratio). Ukuran rasio solvabilitas yang digunakan
adalah total debt to total ratio dan total debt to equity ratio. Ukuran rasio
rentabilitas yang digunakan adalah marjin laba bersih (net profit margin),
return on total assets (ROA) dan return on equity (ROE). Ukuran rasio
aktivitas yang digunakan adalah rasio perputaran aktiva tetap (fixed assets
turnover ratio), dan rasio perputaran total aktiva (total assets turnover ratio).
Setelah itu dapat ditarik kesimpulan yang nantinya diharapkan dapat menjadi
bahan pertimbangan pihak KSP Pandan Wangi.
Berdasarkan uraian di atas, berikut adalah skema mengenai kerangka
alur pemikiran dalam menganalisis kinerja keuangan KSP Pandan Wangi di
23
Desa Tumbu Kecamatan Karangasem Kabupaten Karangasem pada Gambar
2.1.
KSP Pandan Wangi
Data Laporan Keuangan KSP Pandan Wangi:
1. Neraca
2. Rugi Laba
Analisis Vertikal dan
Horizontal
Rasio Likuiditas:
1. Rasi lancar
2. Rasio cepat
Analisis Rasio Keuangan
Rasio Solvabilitas:
1. Total debt to
total asset
2. Total debt to
equity ratio
Rasio Rentabilitas:
1. ROA
2. ROE
3. NPV
Rasio Aktivitas:
1. Fixed asset
turnover
2. Total asset
turnover
Kesimpulan
Rekomendasi
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran Teoritis Kinewrja Keuangan pada Kopersasi Simpan Pinjam
Pandan Wangi
Download