Allium Sativum (Bawang Putih) Dapat Menurunkan Kadar Lemak

advertisement
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
LATAR BELAKANG
Setelah mencapai usia dewasa, secara alamiah seluruh komponen tubuh
tidak dapat berkembang lagi. Sebaliknya justru terjadi penurunan karena proses
penuaan. Pada dasarnya faktor yang menyebabkan orang menjadi tua dapat
dikelompokkan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal ialah
radikal bebas, hormon yang berkurang, proses glikosilasi, metilasi, apoptosis,
sistem kekebalan yang menurun dan gen. Faktor eksternal yang utama ialah gaya
hidup tidak sehat, diet tidak sehat, kebiasaaan salah, polusi lingkungan, stres dan
kemiskinan (Pangkahila, 2007)
Perubahan gaya hidup dalam masyarakat terutama diet tidak sehat (asupan
lemak jenuh yang meningkat), berkurangnya aktivitas fisik (sedentary lifestyle)
menyebabkan masalah kesehatan yang cukup serius, salah satunya adalah
penyakit jantung koroner yang disebabkan oleh kadar kolesterol total, LDL (Low
Density Lipoprotein) dan trigliserida yang tinggi dan kadar kolesterol HDL (High
Density Lipoprotein) yang rendah.
Penyakit kardiovaskular adalah salah satu peyebab kematian terbanyak di
Amerika Serikat. Pada tahun 1999, diperkirakan lebih dari 12 juta orang
menderita penyakit jantung koroner, dan sekitar 960.000 orang meninggal dunia.
(AHA, circulation 2003). Penyakit ini diperkirakan memerlukan kompensasi
2
biaya sebanyak $112 millyar, sehingga sangat penting bagi kedokteran
masyarakat untuk segera melakukan upaya pencegahan (AHA, circulation 2003).
Penyakit yang diakibatkan dislipidemia merupakan masalah yang serius pada
negara-negara maju bahkan saat ini juga muncul sebagai penyebab kematian dini
dan ketidakmampuan fisik di negara-negara berkembang. Di Indonesia, angka
kejadian dislipidemia pada penelitian MONICA (Multinational Monitoring of
Trends Determinants in Cardiovascular Diseases) I sebesar 13,4 persen untuk
wanita dan 11,4 persen untuk pria. Pada MONICA II (1994) didapatkan
meningkat menjadi 16,2 persen untuk wanita dan 14 persen pria (Bahri, 2004).
Angka kejadian penyakit kardiovaskular di Indonesia juga cenderung meningkat
terlihat dari hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga Nasional (SKRT) 1992 angka
kejadian penyakit kardiovaskular hanya sebesar 16 persen, mengalami
peningkatan menjadi 18,9 persen pada SKRT 1995. Hasil Sensus Kesehatan
Masyarakat 2001 menunjukkan angka penyakit kardiovaskular meningkat
menjadi 26,4 persen (Departemen Kesehatan 2001). Strategi untuk mencegah dan
mengobati dislipidemia sangat penting dilakukan untuk mengurangi beban oleh
penyakit kardiovaskular secara global (He et al., 2004).
Anti-aging medicine adalah cabang ilmu yang senantiasa mencari terobosan
baru dalam upaya pencegahan kematian dini dan ketidakmampuan fisik yang
disebabkan oleh berbagai penyebab, salah satunya oleh karena dislipidemia.
Terapi
obat-obatan
konvensional
sudah
diteliti
secara
luas
untuk
memperbaiki keadaan dislipidemia, dikenal beberapa golongan menurut National
Heart Lung and Blood Institute (NHLBI), Adult Treatment Panel III (ATP III)
2
3
2001: bile acid sequestrants (kolestiramin, kolestipol, kolesevelam), fibrat
(klofibrat, fenofibrat, gemfibrozil), niasin / nicotinic acid (vitamin B3), statin
(atrovastatin, fluvastatin, lovastatin, pravastatin, rosuvastatin, cerivastatin,
simvastatin), produk kombinasi (lovastatin + niasin, simvastatin + ezetemibe),
lain-lain: ezetemibe.
Berbagai studi medukung bukti ilmiah obat-obatan di atas secara efektif
menurunkan kadar kolesterol serum, tetapi juga menyebabkan berbagai efek
sampingan (National Cholesterol Education Program (NCEP) (NHBLI, 2001).
Adanya alternatif lain dari produk natural merupakan angin segar yang
menumbuhkan harapan untuk pencegahan dengan harga yang lebih murah dan
kemungkinan efek samping yang lebih kecil.
Adanya dukungan bukti-bukti ilmiah yang cukup kuat bahwa penggunaan
bawang putih mungkin bermanfaat pada orang yang mempunyai kadar koleterol
darah yang tinggi. Beberapa laporan studi pada manusia menyatakan terjadi
penurunan pada kolesterol total darah dan LDL (Low Density Lipoprotein) yang
dikenal sebagai
"bad cholesterol" dalam jangka waktu yang singkat (4-12
minggu). Suatu penelitian menjelaskan adanya penurunan rata-rata total kolesterol
sebesar -0.77 mmol/l (95% Confidence IntervaI (CI): -0.65, -0.89 mmol/l), dan ini
menunjukkan 12% penurunan pada subyek yang memakai terapi bawang putih
dibandingkan dengan kelompok plasebo, dimana efek tersebut terlihat dalam
kurun 1 bulan setelah terapi dan bertahan selama sedikitnya 6 bulan. (Gardner et
at., 2001), tetapi belum diketahui secara jelas efeknya dalam jangka panjang.
4
Sedangkan efek terhadap HDL ( high density lipoprotein) masih belum diketahui
secara jelas dan kontroversial (Mayoclinic, 2008).
Masih diperlukan banyak penelitian untuk memperjelas efek bawang putih
terhadap profil lipid darah secara umum, oleh karena inkonsistensi hasil penelitian
terdahulu dimana beberapa laporan studi klinis termasuk meta analisis
menemukan efek penurunan kolesterol pada manusia secara signifikan (Kannar et
al., 2001, Amagase, 2006), tetapi sebaliknya ditemukan juga publikasi negatif
mengenai efek bawang putih terhadap penurunan kolesterol serum (Superko &
Krauss, 2000, Turner et al., 2004). Secara logika hal tersebut diperkirakan karena
perbedaan komponen yang terbentuk saat pembuatan sediaan bawang putih,
kuantitas preparat dan durasi penelitian
Penelitian terhadap orang dewasa menyatakan bahwa bawang putih dapat
diberikan dalam beberapa bentuk sediaan. Beberapa kepustakan menganjurkan
dosis yang berbeda-beda, bergantung dari bentuk sediaan bawang putih yang
dipakai. Bubuk bawang putih menurut The European Scientific Cooperative on
Phytotherapy (ESCOP, 2003) dianjurkan untuk dikonsumsi 0.5-1.0 gram (sesuai
dengan kadar allicin 3-5 mg, atau 6-10 mg aliin) atau setara dengan satu siung
bawang putih segar. The World Health Organization (WHO) menganjurkan 2-5
gram bawang putih segar, atau 0.4-1.2 gram bubuk kering, atau 2-5 miligram
dalam bentuk minyak, atau 300-1000 mg dalam bentuk ekstrak, ataupun dalam
bentuk lain yang setara dengan 2-5 miligram allicin/hari (mayoclinic, 2008).
Sedangkan sumber lain menyatakan Sediaan komersial bawang putih minimal
mengandung 10 mg alliin atau 5000 µg total potensi allicin dengan bentuk enteric
4
5
coated. Dosis yang dianjurkan untuk bawang putih mentah adalah satu siung yaitu
sebanyak 4 gram (Browns, 1995). Pada umumya dosis harian yang dipakai pada
kebanyakan studi klinis untuk bubuk kering bawang putih adalah 900 mg,
walaupun hubungan dosis dan responsnya masih belum diketahui secara jelas.
AGE (aged garlic extract) memiliki efektivitas yang beragam dalam berbagai
studi klinis. Terlihat penurunan kolesterol plasma pada pemberian AGE sebanyak
1-7.2 g/hari pada manusia (Steiner, 2001).
Bawang putih diperkirakan memiliki efek untuk menurunkan kolesterol
dengan
cara
menghambat
sintesisnya.
Kemungkinan
mekanisme
penghambatannya melalui dua cara, yaitu: (i) penghambatan pada reaksi enzim
hydroxymethylglutaryl-CoA reduktase (suatu rate limiting enzym) dan (ii)
penghambatan pada reaksi enzim lain, seperti squalene mono-oksigenase dan
lanosterol- 14-demethylase (Pizorno dan Murray, 2000; Gupta dan Porter, 2001)
Penelitian ini dilakukan pada tikus dengan pertimbangan sudah ada konversi
dosis tikus ke manusia yang rasional, dan untuk memudahkan pengendalian
faktor-faktor seperti umur, akitivitas fisik, diet, obat-obatan/suplemen dan juga
faktor genetik atau keturunan.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Dari uraian latar belakang di atas dapat dibuat rumusan masalah sebagai
berikut :
1.
Apakah
pemberian
ekstrak
ethanol
bawang
putih
menurunkan kadar kolesterol total pada tikus yang dislipidemia?
dapat
6
2.
Apakah
pemberian
ekstrak
ethanol
bawang
putih
dapat
menurunkan kadar trigliserida pada tikus yang dislipidemia?
3.
Apakah
pemberian
ekstrak
ethanol
bawang
putih
dapat
putih
dapat
menurunkan kadar LDL pada tikus yang dislipidemia?
4.
Apakah
pemberian
ekstrak
ethanol
bawang
meningkatkan kadar HDL pada tikus yang dislipidemia?
1.3 TUJUAN PENELITIAN
1.3.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui efek ekstrak ethanol bawang putih untuk memperbaiki
profil lipid secara umum pada tikus yang dislipidemia
1.3.2 Tujuan khusus
1. Mengetahui
pemberian
ekstrak
ethanol
bawang
putih
menurunkan kadar kolesterol total pada tikus yang dislipidemia
2. Mengetahui
pemberian
ekstrak
ethanol
bawang
putih
menurunkan kadar trigliserida pada tikus yang dislipidemia
3. Mengetahui
pemberian
ekstrak
ethanol
bawang
putih
menurunkan kadar LDL pada tikus yang dislipidemia.
4. Mengetahui
pemberian
ekstrak
ethanol
bawang
putih
meningkatkan kadar HDL pada tikus yang dislipidemia.
1.4 MANFAAT PENELITIAN
1. Memberikan informasi ilmiah mengenai peranan ekstrak ethanol bawang
putih dalam memperbaiki profil lipid darah
6
7
2. Mendukung pengembangan penelitian untuk menggunakan bahan-bahan
natural dalam pencegahan dan pengobatan dislipidemia dalam usaha untuk
memperlambat penuaan dan kematian dini akibat penyakit yang berhubungan
dengan dislipidemia.
3. Apabila ekstrak ethanol bawang putih terbukti dapat memperbaiki profil
lipid darah maka hasil penelitian dapat disosialisasikan dalam masyarakat
sebagai alternatif pencegahan dan pengobatan dislipidemia
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Dislipidemia
Dislipidemia
adalah
kelainan
dari
metabolisme
lipoprotein,
yaitu
overproduksi ataupun defisiensi dari lipoprotein tertentu. Dislipidemia dapat
bermanifestasi dengan peningkatan konsentrasi total kolesterol, low density
lipoprotein (LDL) dan trigliserida, serta penurunan high density lipoprotein
(HDL) dalam darah. Kebanyakan dislipidemia yang terjadi adalah hiperlipidemia
dimana terjadi peningkatan lipid darah, biasanya berkaitan dengan pola makan
dan gaya hidup santai (Wikipedia, 2008).
Dislipidemia bukanlah penyakit, tetapi lebih tepat disebut sebagai kekacauan
metabolik yang mungkin adalah akibat sekunder dari beberapa macam penyakit
dan dapat berperan serta dalam terjadinya berbagai macam penyakit, yang
terutama adalah penyakit kardiovaskular (Wikipedia, 2008).
Peningkatan kolesterol biasanya tidak menyebabkan gejala yang spesifik
pada awalnya. Terkadang dapat kita temukan gejala fisik yang spesifik seperti:
xanthoma (penebalan tendon oleh karena akukumulasi kolesterol), xanthelasma
palpabrum (bercak-bercak kuning di sekitar kelopak mata) dan archus senilis
(perubahan warna menjadi keputihan di sekitar kornea) (Wikipedia, 2008).
Terjadinya dislipidemia dalam jangka waktu panjang menyebakan terjadinya
atheroskeloris, yang biasanya berdampak sebagai penyakit kardiovaskular seperti:
angina pectoris, myocardial infarction, TIA (Transient Ischemic attacks), Stroke,
PAD (Peripheral Artery Diseases) (Grundy, et al., 2004).
8
9
Kolesterol adalah zat seperti lemak (lipid) yang terdapat dalam sel membran
dan merupakan prekursor dari semua steroid yang ada dalam tubuh termasuk
asam empedu, kortikosteroid, vitamin D, dan hormon seks. Kolesterol beredar
dalam darah dalam bentuk partikel kecil yang berbeda-beda yang mengandung
lipid dan protein (lipoprotein). Ada beberapa lipoprotein yang ditemukan dalam
darah yaitu : kilomikron, low density lipoproteins (LDL), high density
lipoproteins (HDL), dan very low density lipoproteins (VLDL). Ada juga
lipoprotein yang disebut sebagai intermediate density lipoprotein (IDL) yang
berada di antara VLDL dan LDL, dimana biasanya termasuk dalam pengukuran
LDL.
Kolesterol LDL kurang lebih sebanyak 60-70 persen dari total serum
kolesterol, mengandung apolipoprotein tunggal yaitu apo B-100 (apo B), dimana
LDL merupakan lipoprotein yang paling bersifat aterogenik dan telah lama
ditetapkan oleh NCEP sebagai target utama terapi penurunan kolesterol.
Kolesterol HDL biasanya 20-30 persen dari total serum kolesterol.
Lipoprotein utama yang terkandung dalam HDL adalah Apo A-I dan Apo A-II.
Kolesterol HDL berkorelasi terbalik dengan risiko penyakit kardiovaskuler.
Beberapa bukti mengindikasikan bahwa HDL mencegah aterosklerosis atau nonaterogenik. Kadar HDL yang rendah seringkali merefleksikan adanya faktorfaktor aterogenik yang lainnya.
VLDL merupakan lipoprotein yang kaya trigliserida,merupakan 10-15 persen
dari total serum kolesterol. Apolipoprotein yang utama dalam VLDL adalah apo
B-100, apo Cs (C-I, C-II, and C-III), dan apo E. VLDL diproduksi dalam hepar
10
dan merupakan perkursor dari LDL. VLDL remnant merupakan bentukan VLDL
yang bersifat aterogenik (mirip dengan LDL) dimana VLDL remnant ini
mengandung VLDL yang mengalami degradasi parsial
dan mengandung
kolesterol ester yang relatif tinggi. IDL sebenarnya termasuk dalam lipoprotein
remnant walaupun secara klinis pengukuran IDL biasanya dimasukkan kedalam
pengukuran LDL.
Kilomikron yang merupakan lipoprotein kelas ke-4 merupakan lipoprotein
yang kaya trigliserida. Kilomikron terbentuk dalam usus setelah konsumsi
makanan berlemak. Apolipoprotein yang ada dalam kilomikron sama dengan yang
ada dalam VLDL, hanya saja apo B-48 yang ditemukan (bukan apo B-100 seperti
yang ada pada VLDL). Kilomikron remnant yang merupakan kilomikron yang
mengalami degradasi parsial kemungkinan bersifat aterogenik
Trigliserida tidak larut dalam darah, dan tidak bersirkulasi bebas dalam darah.
Trigliserida bersirkulasi dalam bentuk kilomikron dan pre-beta lipoprotein (very
low density lipoproteins [VLDL]). Sekitar 80% kilomikron dan 55% pre-beta
lipoprotein merupakan trigliserida.
Total kolesterol yang tinggi merupakan faktor risiko yang sangat penting
dalam timbulnya penyakit kardiovaskular, semakin tinggi kadar total kolesterol
maka semakin tinggi risiko untuk terjadinya penyakit pembuluh darah jantung,
sebaliknya dengan menurunkan kadar kolesterol
total yang tinggi akan
mengurangi risikonya (Kumar & Clark, 2009).
Kolesterol dianalisis dengan cara pemeriksaan dengan metode kolesterol
oksidase, trigliserida dianalisis dengan cara metode ensimatik setelah terjadi
10
11
hidrolisis dan pelepasan gliserol. HDL diukur sebagai kolesterol pada
supernatant yang terdapat pada serum setelah terjadi presipitasi dari lipoproteinlipoprotein
lainnya
dengan
kombinasi
kation
polianion-divalen
seperti
phospotungstate-Mg++ atau heparin-Mn++. LDL dapat diukur secara tidak
langsung dengan perhitungan
rumus persamaan Friedewald, yaitu :
LDL
(mmol/l) = kolesterol total - [(trigliserida/5) + HDL)]. Dimana rumus di atas
berlaku apabila trigliserida tidak melebihi dari 400 mg/dL atau 4,516 mmol/L
(Grundy et al., 2004)
Berikut adalah klasifikasi kadar kolesterol pada manusia yang dikutip dari
ATP III (Adult Treatment Panel III) yang ditetapkan oleh National Cholesterol
Education Program, National Institutes of Health, Lung and Blood Institutes, 2002
:
Tabel 1.1 Klasifikasi Total kolesterol dan LDL kolesterol menurut ATP III,
2002
12
Tabel 1.2. Klasifikasi serum trigliserda menurut ATP III, 2002
Tabel 1.3. Klasifikasi HDL Kolesterol menurut ATP III, 2002
2.2 Hubungan Kolesterol dengan Aterosklerosis pada Proses Penuaan
Ketertarikan para peneliti untuk berjuang menemukan obat-obat penurun
kolesterol disebabkan karena peranan kolesterol sebagai etiologi yang
menyebabkan terjadinya aterosklerosis. Aterosklerosis merupakan predisposisi
terjadinya infark miokardium, trombosis serebri, iskemik gangren pada
ekstremitas, dan beberapa penyakit serius lainnya. Keadaan tersebut ditandai
dengan terjadinya infiltrasi kolesterol melalui endothel pembuluh darah arteri
sehingga terbentuk akumulasi kolesterol dalam tunika intima dimana LDL
mengalami proses oksidasi. LDL yang teroksidasi bersifat toksik dan akan
menimbulkan proses inflamasi. LDL yang teroksidasi kemudian masuk kedalam
makrofag, mengubah makrofag menjadi foam cells dalam dinding arteri. Hal
12
13
tersebut kemudian diikuti dengan perubahan secara berantai yang melibatkan selsel platelet, makrofag, sel otot polos, growth factors, dan mediator-mediator
inflamasi sehingga menyebabkan terbentuknya lesi-lesi proliferatif yang pada
akhirnya menjadi ulcerative dan dapat mengalami kalsifikasi.
Lesi-lesi yang
terbentuk menyebabkan pembuluh darah distorsi sehingga menjadi kaku.
Demikianlah proses yang terjadi pada pembuluh darah pada saat seseorang
mengalami proses penuaan.
Pada orang-orang yang mengalami peningkatan kadar kolesterol, insiden
terjadinya arterosklerosis beserta komplikasinya meningkat. Bahkan sebuah data
mengatakan satu dari enam orang yang mengalami serangan jantung koroner
langsung mengalami kematian, tanpa ada gejala apapun sebelumnya (Kumar &
Clark, 2009).
Sudah terbukti dengan menurunkan kolesterol plasma dengan
mengontrol diet dan obat-obatan akan memperlambat bahkan membalikkan
perkembangan lesi aterosklerotik beserta komplikasinya
2.3 Bawang Putih (Allium Sativum)
Bawang putih telah lama menjadi bagian kehidupan masyarakat di berbagai
peradaban dunia. Namun belum diketahui secara pasti sejak kapan tanaman ini
mulai dimanfaatkan dan dibudidayakan. Awal pemanfaatan bawang putih
diperkirakan berasal dari Asia Tengah. Hal ini didasarkan pada temuan sebuah
catatan medis yang berusia sekitar 5000 tahun yang lalu (3000 SM). Dari Asia
Tengah kemudian menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia (Santoso,
2000). Bangsa Sumeria telah mengenal bawang putih untuk pengobatan, sekitar
tahun 2600–2100 SM. Sedangkan bangsa Mesir Kuno, dalam Codex Ebers (1550
14
SM), mengenal bawang putih sebagai bahan ramuan untuk mempertahankan
stamina tubuh para pekerja dan olahragawan. Orang Yahudi kuno mempelajari
pemanfaatan bawang putih dari Bangsa Mesir dan menyebarkannya ke
semenanjung Arab. Penduduk Romawi diketahui telah lama mengkonsumsi
bawang putih terutama, para tentara dan budak. Penduduk Cina dan Korea sudah
biasa memanfaatkan bawang putih sebagai obat dan pengusir roh jahat (Banerjee
dan Maulik, 2002; Yarnell, 1999).
Bangsa Mesir, Yunani, dan Romawi Kuno sangat memuji khasiat bawang
putih dan menggunakannya untuk berbagai macam tujuan. Hippocrates
menyarankan penggunaannya untuk mengobati sembelit dan sebagai diuretik.
Bawang putih dipercaya dapat meningkatkan stamina para kuli yang membangun
piramid, meningkatkan keberanian tentara Romawi dan melawan roh-roh jahat.
Teks kuno Charaka-Samhita dari India menyebutkan khasiat bawang putih
untuk serangan jantung dan arthritis. Bawang putih juga masuk dalam catatan
kuno India lainnya, yaitu Bower Manuscript (300 SM) (Banerjee dan Maulik,
2002; Yarnell, 1999). Bawang putih mencapai Eropa beberapa abad sebelum
akhirnya dibawa ke Amerika (Yarnell, 1999). Kapan tanaman tersebut masuk
Indonesia, belum diketahui dengan pasti, diduga dibawa oleh para pedagang dari
India, Cina, Arab, dan Portugis pada abad 19.
Beberapa laporan studi klinis termasuk meta analisis menemukan efek
penurunan kolesterol pada manusia
(Kannar et al., 2001, Amagase, 2006).
Penemuan – penemuan di atas meningkatkan kesadaran publik mengenai efek
penurunan kolesterol yang ditimbulkan oleh bawang putih. Walaupun demikian,
14
15
publikasi yang datang akhir-akhir ini (Superko & Krauss, 2000, Turner et al.,
2004) menyatakan tidak semua sediaan bawang putih bersifat hipokolesterolemik.
Publikasi negatif ini menyebabkan kebingungan dan keragu-raguan bagi pihak
publik maupun akademik. Saat ini alasan mengapa terjadi inkonsistensi di atas
masih belum diketahui secara jelas, tetapi secara logika diduga oleh karena
perbedaan komponen yang terbentuk pada saat pembuatan sediaan bawang putih,
kuantitas preparat dan durasi penelitian.
2.3.1 Morfologi dan ekologi
Berikut ini adalah klasifikasi dari tumbuhan bawang putih atau yang dikenal
juga sebagai Allium Sativum:
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Super Divisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Sub Kelas: Liliidae
Ordo: Liliales
Famili: Liliaceae
Genus: Allium
Spesies: Allium sativum L.
Bawang putih merupakan tanaman herba parenial yang membentuk umbi
lapis. Tanaman ini tumbuh secara berumpun dan berdiri tegak sampai setinggi 3075 cm. Batang yang tampak di atas permukaan tanah adalah batang semu yang
16
terdiri dari pelepah–pelepah daun. Sedangkan batang yang sebenarnya berada di
dalam tanah. Dari pangkal batang tumbuh akar berbentuk serabut kecil yang
banyak dengan panjang kurang dari 10 cm. Akar yang tumbuh pada batang pokok
bersifat rudimenter, berfungsi sebagai alat penghisap makanan (Santoso, 2000).
Bawang putih membentuk umbi lapis berwarna putih. Sebuah umbi terdiri
dari 8–20 siung (anak bawang). Antara siung satu dengan yang lainnya dipisahkan
oleh kulit tipis dan liat, serta membentuk satu kesatuan yang kuat dan rapat. Di
dalam siung terdapat lembaga yang dapat tumbuh menerobos pucuk siung
menjadi tunas baru, serta daging pembungkus lembaga yang berfungsi sebagai
pelindung sekaligus gudang persediaan makanan. Bagian dasar umbi pada
hakikatnya adalah batang pokok yang mengalami rudimentasi (Santoso, 2000;
Zhang, 1999).
Helaian daun bawang putih berbentuk pita, panjang dapat mencapai 30–60
cm dan lebar 1–2,5 cm. Jumlah daun 7–10 helai setiap tanaman. Pelepah daun
panjang, merupakan satu kesatuan yang membentuk batang semu. Bunga
merupakan bunga majemuk yang tersusun membulat; membentuk infloresensi
payung dengan diameter 4–9 cm. Perhiasan bunga berupa tenda bunga dengan 6
tepala berbentuk bulat telur. Stamen berjumlah 6, dengan panjang filamen 4–5
mm, bertumpu pada dasar perhiasan bunga. Ovarium superior, tersusun atas 3
ruangan. Buah kecil berbentuk kapsul loculicidal (Zhang, 1999).
Bawang putih umumnya tumbuh di dataran tinggi, tetapi varietas tertentu
mampu tumbuh di dataran rendah. Tanah yang bertekstur lempung berpasir atau
lempung berdebu dengan pH netral menjadi media tumbuh yang baik. Lahan
16
17
tanaman ini tidak boleh tergenang air. Suhu yang cocok untuk budidaya di dataran
tinggi berkisar antara 20–25OC dengan curah hujan sekitar 1.200–2.400 mm
pertahun, sedangkan suhu untuk dataran rendah berkisar antara 27–30OC (Santoso,
2000).
Bawang putih merupakan umbi yang dapat dimakan, merupakan tumbuhan
yang termasuk dalam lily family (lilliaceace), berwarna putih susu, yang dapat
ditemukan di berbagai negara di dunia. Bawang putih sudah dikenal selama ribuan
tahun sebagai tanaman obat, bahkan tercatat dalam sejarah di Yunani
dipergunakan oleh seorang dokter yang bernama Galen (130-200 A.D) dan disebut
sebagai obat yang sangat mujarab (Mahan & Stump, 2000).
Satu siung bawang putih mengandung sekitar 0.2 g protein, 0.01 g lemak,
kira-kira 0.001 mg karbohidrat, 0.05 g serat, vitamin A, B1, B2, B3 dan C.
Mineral yang terkandung dalam bawang putih adalah Kalium, Fosfor, Natrium,
Besi, Magnesium, dan Zinc. Sedangkan selenium dan germanium hanya
didapatkan apabila bawang putih ditanam dalam tanah yang tepat.
Bawang putih mengandung kadar Sulfur yang tinggi, barangkali merupakan
sumber sulfur yang tertinggi dari tanaman. Unsur kimia dari bawang putih
merupakan senyawa yang mengandung sulfur, termasuk allicin, diallyl disulfide
dan diallyl trisulfide, semua merupakan minyak yang mudah menguap (volatil),
serta S-allyl cysteine (SAC), asam amino yang larut dalam air (Murray, 1995).
Penggunaan bawang putih yang terbanyak adalah sebagai makanan pelengkap
yaitu suatu produk yang mengandung vitamin, mineral, tumbuh-tumbuhan, asam
amino, enzim, dan/atau zat lain yang ditujukan untuk melengkapi diet sehari-hari.
18
The U.S. Food and Drug Administration (FDA) mempunyai persyaratan khusus
untuk memberi label sebagai dietary supplements dimana bawang putih dianggap
sebagai makanan dan bukan sebagai obat ditujukan untuk dislipidemia, penyakit
jantung dan tekanan darah tinggi/hipertensi.
Bawang putih juga digunakan untuk mencegah beberapa jenis kanker,
termasuk kanker lambung dan kolon.
Siung bawang putih dapat dimakan mentah ataupun dimasak. Dapat
dikeringkan ataupun digiling menjadi bubuk sehingga dapat dijadikan tablet
ataupun kapsul. Siung bawang putih mentah dapat digunakan untuk membuat
minyak dan ekstrak liquid.
Secara ilmiah didapatkan fakta sebagai berikut:
a. Beberapa bukti mengindikasikan bahwa konsumsi bawang putih dapat
menurunkan kadar kolesterol darah, dimana studi jangka pendek (1-3
bulan) menunjukkan efek yang positif,
b. Penelitian pendahuluan memperkirakan bahwa konsumsi bawang putih
mungkin memperlambat terjadinya aterosklerosis,
c. Bukti-bukti masih meragukan apakah dengan menkonsumsi bawang putih
dapat menurunkan tekanan darah,
d. Beberapa studi memperkirakan konsumsi bawang putih secara teratur
sebagai bagian dari diet sehari-hari mungkin dapat menurunkan risiko
terjadinya beberapa jenis kanker. Walaupun masih belum ada clinical trial
yang dilakukan untuk membuktikannya,
18
19
e. Beberapa penelitian yang didanai oleh NCCAM belakangan ini termasuk
bagaimana bawang putih berinteraksi terhadap beberapa obat2an, dan
bagaimana bawang putih dapat mengencerkan darah,
f. Dari berbagai penelitian in vitro, ekstrak umbi bawang putih diketahui
memilki aktivitas anti-oksidatif (Borek, 2001).
Disebutkan dalam beberapa studi bahwa bawang putih menghambat oksidasi
LDL kolesterol dimana LDL yang teroksidasi adalah zat yang merusak pembuluh
darah, sehingga bawang putih dapat mengurangi plak aterosklerotik, menghambat
deposit
kalsium
yang
mengeraskan
arteri,
mengurangi
tekanan
darah,
menghalangi agregasi platelet yang membentuk gumpalan darah, dan mengurangi
homocysteine
(suatu
asam
amino
yang
meningkatkan
risiko
penyakit
kardiovaskular dan stroke).
Bawang putih merupakan tumbuh-tumbuhan yang paling banyak terjual di
pasaran Amerika dan merupakan salah satu tumbuhan yang banyak diteliti,
terutama 20 tahun terakhir (Leung & Foster, 1996). Penggunaan bawang putih
sebagai
zat
terapeutik
yang
terbanyak
adalah
untuk
mengobati
hiperlipoproteinemia (misalnya: menurunkan kadar serum kolesterol total dan
trigliserida), juga sering dipakai sebagai antibiotik (Tyler,1994).
20
2.3.2 Senyawa Kimia dalam Bawang Putih
2.3.2.1 Nonvolatile sulfur containing prekursor pada bawang putih yang masih
utuh.
Mayoritas senyawa yang mengandung sulfur dalam bawang putih yang masih
utuh adalah γ-glutamyl-S-allyl-L-cysteines dan S-allyl-L-cysteine sulfoxides
(aliin). Keduanya terdapat dalam jumlah yang banyak sebagai senyawa sulfur,
dimana alliin merupakan senyawa utama asam amino yang mengandung sulfur
yang tidak berbau, merupakan prekursor dari allicin, methiin, (+)-S-(trans-1propenyl)-L-cysteine sulfoxide dan cycloalliin.
Semua sulfoxides di atas, terkecuali cycloalliin, dikonversi menjadi
thiosulfinates, misalnya allicin melalui reaksi enzimatik ketika bawang putih
20
21
dipotong atau dihancurkan. Oleh karenanya tidak ada thiosulfinates yang
ditemukan pada bawang putih yang masih utuh.
γ-Glutamyl-S-allyl-L-cysteines kemudian dikonversi menjadi S-allyl-Lcysteines (SAC) melalui transformasi enzimatik dengan γ-Glutamyltranspeptidase
pada saat bawang putih diesktrak dengan pelarut cairan. SAC yang merupakan
hasil produk utama dari γ-Glutamyl-S-allyl-L-cysteines merupakan sulfur asam
amino yang terdeteksi dalam darah, terbukti sebagai zat yang aktif secara biologis
dan bioavailabel.
2.3.2.2 Metabolit sekunder : organosulfur
Metabolit sekunder yang terkandung di dalam umbi bawang putih
membentuk suatu sistem kimiawi yang kompleks serta merupakan mekanisme
pertahanan diri dari kerusakan akibat mikroorganisme dan faktor eksternal
lainnya. Sistem tersebut juga ikut berperan dalam proses perkembangbiakan
tanaman melalui pembentukan tunas (Amagase et al., 2001).
Sebagaimana kebanyakan tumbuhan lain, bawang putih mengandung lebih
dari 100 metabolit sekunder yang secara biologi sangat berguna. Senyawa ini
kebanyakan mengandung belerang yang bertanggungjawab atas rasa, aroma, dan
sifat-sifat farmakologi bawang putih (Hernawan & Setyawan, 2003).
Dua senyawa organosulfur paling penting dalam umbi bawang putih, yaitu
asam amino non-volatil γ-glutamil-Salk(en)il-L-sistein (1) dan minyak atsiri Salk(en)ilsistein sulfoksida atau alliin (2).
Dua senyawa di atas menjadi prekursor sebagian besar senyawa organosulfur
lainnya. Kadarnya dapat mencapai 82% dari keseluruhan senyawa organosulfur di
22
dalam umbi (Zhang, 1999). Senyawa γ-glutamil-S-alk(en)il-L-sistein (1)
merupakan senyawa intermediet biosintesis pembentukan senyawa organosulfur
lainnya, termasuk alliin (2).
Senyawa ini dibentuk dari jalur biosintesis asam amino. Dari γ-glutamil-Salk(en)il-L-sistein (1), reaksi enzimatis yang terjadi akan menghasilkan banyak
senyawa turunan, melalui dua cabang reaksi, yaitu jalur pembentukan thiosulfinat
dan S-allil sistein (SAC) (4) (Gambar 1). Dari jalur pembentukan thiosulfinat akan
dihasilkan senyawa allicin (3). Selanjutnya dari jalur ini akan dibentuk kelompok
allil sulfida, dithiin, ajoene, dan senyawa sulfur lain (Song dan Milner, 2001).
Proses reaksi pemecahan γ-glutamil-S-alk(en)il- L-sistein (1) berlangsung
dengan bantuan enzim γ- glutamil – transpeptidase dan γ-glutamil-peptidase
oksidase, serta akan menghasilkan alliin (2) (Song dan Milner, 2001).
Pada saat umbi bawang putih diiris-iris dan dihaluskan dalam proses
pembuatan ekstrak atau bumbu masakan, enzim allinase menjadi aktif dan
menghidrolisis alliin (2) menghasilkan senyawa intermediet asam allil sulfenat
22
23
(5). Kondensasi asam tersebut menghasilkan allicin (3), asam piruvat, dan ion
NH4+ (Gambar 2). Satu miligram alliin (2) ekuivalen dengan 0,45 mg allicin (3)
(Zhang, 1999). Pemanasan dapat menghambat aktivitas enzim allinase. Pada suhu
di atas 60oC, enzim ini inaktif Asam amino alliin (2) akan segera berubah menjadi
allicin begitu umbi diremas (Song dan Milner, 2001).
Gambar 2.1 Jalur pemecahan γ-glutamil-S-alk(en)il- L-sistein
24
Gambar 2.2 Reaksi pembentukan allicin
Allicin (3) bersifat tidak stabil (Amagase et al., 2001), sehingga mudah
mengalami reaksi lanjut, tergantung kondisi pengolahan atau faktor eksternal lain
seperti penyimpanan, suhu, dan lain-lain. Ekstraksi umbi bawang putih dengan
etanol pada suhu di bawah 0oC, akan menghasilkan alliin (2). Ekstraksi dengan
etanol dan air pada suhu 25oC akan menghasilkan allicin (3) dan tidak
menghasilkan alliin (2). Sedang ekstraksi dengan metode distilasi uap (100oC)
menyebabkan seluruh kandungan alliin berubah menjadi senyawa allil sulfida
(Zhang, 1999). Oleh karena itu proses ekstraksi perlu dilakukan pada suhu kamar.
Pemanasan dapat menurunkan aktivitas anti-kanker ekstrak umbi bawang putih.
Pengolahan ekstrak dengan microwave selama 1 menit menyebabkan hilangnya
90% kinerja enzim allinase. Pemanasan dapat menyebabkan reaksi pembentukan
senyawa allil-sulfur terhenti (Song dan Milner, 2001).
24
25
Allicin (3) merupakan prekursor pembentukan allil sulfida, misalnya diallil
disulfida (DADS) (6), diallil trisulfida (DATS) (7), diallil sulfida (DAS) (8),
metallil sulfida (9), dipropil sulfida (10), dipropil disulfida (11), allil merkaptan
(12), dan allil metil sulfida (13). Kelompok alllil sulfida memiliki sifat dapat larut
dalam minyak. Oleh karena itu, untuk mengekstraknya digunakan pelarut nonpolar (Gupta dan Porter, 2001).
Pembentukan kelompok ajoene, misalnya E-ajoene (14) dan Z-ajoene (15),
serta kelompok dithiin, misalnya 2-vinil-(4H)-1,3- dithiin (16) dan 3-vinil-(4H)1,2-dithiin (17), juga berawal dari pemecahan allicin (3) (Zhang, 1999).
Senyawa organosulfur lain yang terkandung dalam umbi bawang putih antara
lain, S-propilsistein (SPC) (18), S-etil-sistein (SEC) (19), dan S-metil- sistein
(SMC) (20). Umbi bawang putih juga mengandung senyawa organo-selenium dan
tellurium, antara lain Se-(metil)selenosistein (21), selenometionin (22), dan
selenosistein (23). Senyawa-senyawa di atas (18–23) mudah larut dalam air
(Gupta dan Porter, 2001).
Beberapa senyawa bioaktif flavonoid penting yang telah ditemukan antara
lain:
kaempferol-3-O-β-Dglukopiranosa
(24)
dan
iso-rhamnetin-3-O-β-
Dglukopiranosa (25) (Kim et al., 2000). Senyawa frukto-peptida yang penting,
yaitu Nα-(1-deoxy-Dfructose- 1-yl)-L-arginin (26) (Ryu et al., 2001).
26
26
27
Ekstrak segar umbi bawang putih dapat disimpan lama dalam ethanol 15–
20%. Penyimpanan selama sekitar 20 bulan pada suhu kamar akan menghasilkan
AGE (aged garlic extract). Selama penyimpanan, kandungan allicin (3) akan
menurun dan sebaliknya diikuti naiknya konsentrasi senyawa-senyawa baru.
Senyawa yang dominan terkandung adalah S-alil sistein (4) dan Sallilmerkaptosistein (SAMC) (27) (Banerjee dan Maulik, 2002; Amagase et al.,
2001).
Selain dalam bentuk ekstrak padatan, umbi bawang putih dapat pula diolah
melalui distilasi uap menjadi minyak atsiri bawang putih yang banyak digunakan
dalam pengobatan. Kandungan kimia minyak atsiri bawang ini secara umum
terdiri dari 57% diallil sufida (8), 37% allil metil sulfida (13), dan 6% dimetil
sulfida. Minyak bawang komersial umumnya mengandung 26% diallil disulfida
(6), 19% diallil trisulfida (7), 15% allil metil trisulfida, 13% allil metil disulfida,
8% diallil tetrasulfida, 6% allil metil tetrasulfida, 3% dimetil trisulfida, 4%
pentasulfida, dan 1% heksasulfida.
28
Minyak bawang hasil maserasi mengandung kelompok vinyl-dithiin 0,8 mg/g
dan ajoena 0,1 mg/g, sedangkan ekstrak eter mengandung vinyl-dithiin 5,7 mg/g,
allil sulfida 1,4 mg/g, dan ajoena 0,4 mg/g (Banerjee dan Maulik, 2002).
2.3.2.3 Senyawa organosulfur pada proses pembuatan preparat bawang putih
a. Pembentukan thiosulfinate
Pada saat siung bawang putih dihancurkan maka terbentuklah thiosulfinates
seperti misalnya allicin melalui serangkaian reaksi kimia dari sulfur-substituted
cysteine sulfoxides, ditempatkan dalam sitoplasma bersamaan dengan alliinase
didalam vakuola, melalui sulfur –substituted sulfenic acid sebagai intermediate
yang sangat reaktif (gambar 3. Enzymatic reaction of sulfur –substituted cysteine
sulfoxides)
Selain allicin, terdapat thiosulfinates lainnya seperti allylmethyl-methylallyl-,
dan tans-1-propenyl-thiosulfinates didalam peraprat bawang putih. Sifat-sifat
mereka tidak stabil serupa dengan allicin. Pada saat allicin disimpan pada suhu
20°C selama 20 jam, ternyata mengalami perubahan menjadi diallyl disulfide
(DADS) (66%), diallyl sulfides (DAD) (14%), diallyl trisulfide (9%), dan sulfur
dioxide. Allicin sangat mudah bereaksi dengan asam amino dan protein,
menghasilkan SH grup. Freeman menemukan bahwa allicin terikat pada protein
dan asam lemak dalam membran plasma, oleh karenanya tidak dapat diabsorbsi
dan tidak dapat bersirkulasi dalam darah. Pada kenyataannya, tidak ada allicin
yang dideteksi dalam darah setelah memakan bawang putih mentah ataupun
setelah mengkonsumsi allicin murni.
28
29
Gambar 2.3. Enzymatic reaction of sulfur –substituted cysteine sulfoxides.
(Amagase, 2006)
Alliinase merupakan enzim kunci yang memfasilitasi transformasi cysteine
sulfoxides menjadi thiosulfinates. Enzim tersebut memiliki PH optimal 6,5
dengan S-methyl-L-cysteine sebagai substratnya. Sebagai tambahan, pyridoxal
phosphate menstimulasi aktivitas alliinase sebagai kofaktor. Aktivitas alliinase
yang tergantung pada PH terlihat pada saat allicin dan thiosulfinates lainnya
dilepaskan waktu dilakukan inkubasi serbuk bawang putih dalam larutan buffer
PH 2 sampai dengan 10. Thiosulfinates tidak terbentuk pada PH yang lebih rendah
dari 3.6, yang merupakan PH normal dalam lambung. Bahkan thiosulfinates tidak
pernah terbentuk walaupun larutan tersebut telah dinetralisasi apabila sebelumnya
sudah sempat diinkubasi pada PH yang lebih rendah dari 3.
Oleh karenanya disimpulkan bahwa alliinase secara keseluruhan dan
ireversibel diinhibisi oleh keasaman lambung. Freeman et al. juga melaporkan
30
bahwa tidak ada preparat bawang putih yang mengandung allicin, bahkan allicin
tidak terbentuk didalam cairan lambung. Oleh karenanya, allicin seharusnya tidak
menjadi struktur kimia yang penting dalam produk preparat bawang putih.
Berbagai temuan secara jelas menunjukkan bahwa allicin dalam bawang putih
tidak ikut serta berperperan penting pada tubuh manusia. Allicin diketahui sebagai
bahan yang bersifat sementara , dan secara cepat terurai menjadi senyawa sulfur
lainnya, dan bukan merupakan senyawa penting yang aktif dari bawang putih
b. Organosulfur Volatiles
Bawang putih yang telah diproses memiliki organosulfur volatiles yang jauh
lebih bervariasi dibandingkan dengan siung bawang putih yang masih utuh.
Volatiles yang telah berhasil diidentifikasi dalam bawang putih yang sudah
dihancurkan dan minyak esensial bawang putih adalah DAS, DADS, diallyl
trisulfide, methylallyl disulfide, methylallyl trisulfide, 2-vinyl-4H-1, 3-dithiin, 3vinyl-4H-1, 2-dithiin, dan (E,Z)-ajoenes.
Lebih dari 20 sulfides telah dapat diidentifikasi dalam minyak bawang putih,
dan kebanyakan dari sulfides tersebut, terutama yang mengandung grup allyl
meyebabkan aroma dan rasa bawang putih yang khas pada saat dicerna. Dalam
minyak bawang putih mayoritas sulfides adalah DAS (57%), allylmethyl (37%)
dan dimethyl (6%), mono – hexasulfides, dan sebagian kecil allyl 1-propenyl dan
methyl 1-propenyl di-, tri- dan tetrasulfides.
Vinyldithiins merupakan produk yang hasil degradasi allicin pada saat proses
pemanasan. Produksi vinyldithiins akan lebih banyak apabila solven yang kurang
polar seperti misalnya hexane digunakan sebagai pelarut. Vinildithiins terutama 2-
30
31
vinyl-4H-1,3 dithiin sangat banyak ditemukan pada bawang putih yang telah
dimaserasi dengan minyak.
Apitz-Castro et al yang pertama kali melakukan isolasi ajoene dari ekstrak
bawang putih, dimana ajoene merupakan zat antitrombotik yang poten. Dikatakan
bahwa ajoene terbentuk dari S-thioallylation yang berasal dari allicin., selain itu
juga didapatkan juga senyawa organosulfur yang menyerupai ajoene yaitu E-4,59-tritriadeca-1,7-diene-9-oxide yang diisolasi dari maserasi minyak bawang putih
(Amagase, 2006).
c. Senyawa organosulfur yang larut air
Ekstrak bawang putih dengan air ataupun alkohol mempunyai kandungan
utama S-allyl-L-cysteines yang berasal dari γ-glutamyl-S-allyl-L-cysteines (gambar
4).
S-allyl-L-cysteines
(SAC)
dan
trans-S-1-propenyl-L-cysteine
(SIPC),
bersamaan dengan sejumlah kecil S-methyl-L-cysteine ditemukan dalam ekstrak
bawang putih seperti AGE. Derivat cysteine ini tidak berwarna, tidak berbau dan
stabil dalam keadaan padat ataupun cair, pada kondisi yang netral maupun asam.
SAC memberikan proteksi terhadap oksidasi, radikal bebas, kanker dan penyakit
kardiovaskular. Terlebih lagi ternyata S-allylmercapto-L-cysteine yang secara in
vivo memiliki efek hepatoproteksi, ternyata memiliki sifat proteksi kanker prostat
pada manusia, dan juga bersifat antioksidan secara in vitro. Dimana senyawa di
atas merupakan senyawa khas yang terdapat dalam AGE.
32
Gambar 2.4 Variasi dari S-allylcysteines yang berasal dari γ-glutamylS -allyl L-cysteines. (Amagase, 2006)
2.3.2.4 Komponen non-sulfur, steroid saponin
Saponin memiliki sifat-sifat yang khas, yaitu apabila dikocok dengan air akan
membentuk busa yang bersifat stabil, memiliki aktivitas hemolitik dan bercita rasa
pahit. Saponin digolongkan menjadi dua, yaitu triterpenoid saponin dan steroid
saponin berdasarkan struktur molekuler aglycone.
Triterpenoid saponin dapat ditemukan pada beberapa obat-obatan herbal
yang lain seperti ginsenosides pada ginseng dan glycyrrhizin pada licorice.
Steroid saponin kemudian dipisahkan lagi menjadi furostanol dan spirostanol
saponin. Steroid saponin dan sapogenins dapat dianggap sebagai marker kimia
yang dapat dipercaya pada sediaan bawang putih selain sediaan yang berbentuk
minyak.
Sebuah penelitian menyatakan bahwa efek penurunan kolesterol pada
bawang putih kemungkinan disebabkan oleh saponin (Amagase, 2006). Studi lain
melaporkan bahwa fraksi crude glycoside (Matsuura H, 2001 and Slowing et al.,
2001) dari ekstrak metanol bawang putih, yang mengandung spirostanol saponin
yang diproduksi dari konversi furostanol saponins melalui b-glucosidase melalui
32
33
b-glucosidase, menurunkan total plasma kolesterol dan LDL kolesterol tanpa
merubah kadar HDL pada binatang yang dislipidemia. Saponin yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan terbukti dapat menghambat absorbsi kolesterol pada hewan
percobaan, sehingga menurunkan kadar kolesterol plasma. Beberapa senyawa
kimia lain dalam bawang putih seperti allicin dan organo-selenium diduga bekerja
secara sinergis dengan senyawa organosulfur untuk menimbulkan efek biologis
termasuk penurunan kadar kolesterol.
2.3.3 Bioavailabilitas dan metabolisme dari senyawa organosulfur
Bioavailabilitas komponen-komponen kimia yang aktif didalam tubuh sangat
penting untuk diketahui, tetapi data yang didapatkan dari studi preklinis dan klinis
masih sangat terbatas mengenai bagaimana bawang putih diabsorbsi, metabolisme
dan distribusinya didalam tubuh.
a. Aliin
Pada penelitian dengan mencit, 10 menit setelah diberikan alliin peroral
(10mg/mencit), alliin diobservasi terdapat dalam perut (7.2%), usus (22.4%), dan
liver (2.5%) tanpa pembentukan allicin beserta produk degradasinya seperti
DADS, vinyl dithiins dan allyl-SS conjugated compounds. Dalam penelitian yang
lain, alliin menunjukkan konsentrasi plasma yang lebih rendah dengan
bioavailabilitas 16.5% dalam 4 jam setelah diberikan peroral 60mg/kg pada tikus
(Amagase, 2006). Dalam sebuah studi farmakokinetik yang menggunakan Slabelled alliin, ternyata 60-70% diabsorbsi pada tikus. Ditemukan bahwa alliin
bersamaan dengan DADS terdeteksi dalam cairan jaringan setelah melalui
jaringan hepar pada tikus, dimana allicin tidak ditemukan. Temuan di atas
34
mengindikasikan bahwa alliin tidak pernah dikonversi menjadi allicin didalam
tubuh dan akan dimetabolisme menjadi berbagai macam senyawa organosulfur
seperti DADS oleh enzym dalam hepar (Amagase 2006).
b. Allicin.
Belum ada penelitian yang dilakukan untuk mengetahui absorbsi allicin
dalam saluran cerna. Freeman et al. melaporkan bahwa allicin secara cepat yaitu
dalam beberapa menit menghilang dari peredaran darah dimana DAS dan
allylmercaptan dibentuk. Pada saat allicin tecampur dalam darah in vitro, hampir
semuanya menghilang dalam beberapa menit karena allicin terikat pada protein
dari sel darah merah dan langsung mengoksidasinya. Diperkirakan allicin yang
dikunyah dalam mulut, akan segera terikat dalam lumen dan terperangkap
didalamnya sehingga pada saat siung bawah putih dikunyah akan terasa aroma
yang tajam dalam mulut. Oleh karenanya allicin tidak akan melewati membran
saluran cerna
melalui serosa untuk masuk kedalam peredaran darah. Egen-
Schwind et al. melaporkan first pass effect yang luar biasa pada jaringan hepar
tikus yang dilakukan perfusi yang terisolasi. DADS segera terbentuk setelah
diinfus dengan allicin konsentrasi rendah. Kemudian ditemukan pembentukan
allylmercaptan dalam cairan empedu dan juga dalam
jaringan hepar. Tidak
ditemukan allicin dalam hepar. Sehingga disimpulkan bahwa allicin bukan
merupakan komponen bawang putih yang secara biologis aktif.
Meskipun allicin dilaporkan akan mengalami metabolisme menjadi allyl
methyl sulfoxide (AMS) dan dilepaskan bersamaan dengan nafas, belum diketahui
jelas konsentrasi dalam darah dan bioavaibilitasnya. Oleh karenanya AMS belum
34
35
dinyatakan sebagai hasil metabolisme aktif dari allicin. Tidak dapat dibuktikan
bahwa allicin dan AMS merupakan senyawa aktif atau dianggap dapat mewakili
akitivitas biologis bawang putih secara keseluruhan.
c. Organosulfure volatiles.
DASs dan vinyldithiins merupakan komponen utama dari minyak bawang
putih dan preparat yang memakai teknik maserasi dengan minyak.
d. S-Allyl-L-cysteine.
SAC merupakan senyawa organosulfur yang larut dalam air, konsentrasinya
terus meningkat pada proses ekstraksi yang lama menggunakan media cairan.
Farmakokinetik SAC telah diketahui secara pasti in vivo. SAC terdeteksi dalam
darah, pada hewan percobaan konsentrasi dan parameter farmakokinetik nya
sangat berhubungan dengan dosis peroral SAC. Ditemukan hasil metabolisme
SAC yang signifikan dalam urine yaitu sebagai N-acetyl-S-allyl-L-cysteine. Ini
menunjukkan bahwa SAC dapat berubah menjadi hasil metabolisme N-acetylated
oleh N-acetyltransferse dalam tubuh. Bioavaibilitas SAC adalah 103.0% pada
mencit, 98.2% pada tikus. Karena SAC ditemukan pada berbagai preparat bawang
putih dan memiliki banyak efek, selain dari bioavaibilitasnya yang tinggi maka
dipastikan bahwa SAC merupakan zat aktif dalam preparat bawang putih. SAC
dianggap mempunyai peranan dalam aktivitas biologis yang ditimbulkan oleh
bawang putih. Standarisasi preparat bawang putih menggunakan SAC sebagai
marker kimia dianggap benar dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
2.3.4 Bawang putih sebagai anti kolesterol dan anti aterosklerosis
36
Para pakar kesehatan secara konsisten melakukan penggalian informasi
khasiat bawang putih melalui penelitian farmakologi laboratoris yang sistematis.
Tahapan pengujian, penelitian, dan pengembangan secara sistematis perlu
dilakukan
agar
pemanfaatan
dan
khasiat
bawang
putih
dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah (Budhi, 1994), bukan sekedar pengetahuan
yang diperoleh secara turun temurun.
Pembuatan catatan atau dokumentasi ilmiah atas hasil penelitian tersebut
dilakukan agar dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh generasi di masa
depan. Penelitian farmakologi tentang bawang putih telah banyak dilakukan, tidak
hanya secara in vivo (dengan hewan percobaan) tetapi juga in vitro (dalam tabung
kultur). Hal ini ditempuh untuk membuktikan khasiat dan aktivitas biologi dari
senyawa aktif bawang putih, sekaligus dosis dan kemungkinan efek sampingnya.
Berbagai penelitian yang telah dikembangkan untuk mengeksplorasi aktivitas
biologi umbi bawang putih yang terkait dengan farmakologi, antara lain sebagai
antidiabetes, anti-hipertensi, anti-kolesterol, anti-aterosklerosis, anti-oksidan, antiagregasi sel platelet, pemacu fibrinolisis, anti-virus, antimikrobia, dan anti-kanker.
Bawang putih dapat mengurangi pembekuan darah dan mengurangi tekanan
darah, sehingga penting dalam terapi penyakit kardiovaskuler. Allicin dan
adrenosin merupakan kandungan anti-platelet paling penting dalam bawang putih
(Hernawan & Setyawan, 2003).
Minyak bawang putih yang diberikan kepada pasien penyakit jantung koroner
dapat menghambat agregasi platelet secara in vivo. Pemberian bawang putih
dengan dosis rendah menghambat agregasi platelet tersebut (Bordia et al., 1996).
36
37
Dithiin (16- 17) dan ajoene memiliki sifat-sifat antitrombik, bahkan ajoene kini
dikembangkan untuk obat gangguan tromboembolik (Hernawan & Setyawan,
2003). Dithiin dan ajoene menurunkan kecepatan pembekuan darah karena
bersifat antikoagulasi. Hal ini secara langsung dapat mengurangi risiko stroke dan
penyakit kardiovaskuler (Jesse et al., 1997).
Bawang putih dapat menaikkan fungsi kardiovaskuler karena dapat menjaga
serangan hiperkolesterolemik, aterosklerosis, ischemia reperfusi, arrhythmia, dan
infarksi. Radikal bebas merupakan penyebab utama penyakit ini dan antioksidan
tampaknya dapat mengimbangi hal ini karena dapat memburu radikal bebas ini
(Prasad et al., 1996). Suatu keadaan dimana kadar lemak dalam darah mengalami
kenaikan melebihi batas normal disebut hiperlipidemia. Keadaan ini biasa
dihadapi oleh seseorang yang mengalami masalah kegemukan.
Dislipidemia meliputi dua kondisi yaitu, hiperlipidemia (kolesterol tinggi)
dan hipertrigliseridemia (trigliserida tinggi). Keduanya memicu aterosklerosis dan
mempertinggi risiko penyakit kardiovaskuler (Barnes, 2002).
Penelitian yang menguji khasiat umbi bawang putih untuk menurunkan kadar
kolesterol dalam darah telah dilakukan pada hewan percobaan dan manusia. Dari
berbagai penelitian tersebut, diketahui pemberian ekstrak umbi bawang putih
dengan kandungan 10 mg alliin (2) dan/atau 4000 μg allicin (3) dapat
menurunkan kadar kolesterol total serum antara 10-12%; kolesterol LDL turun
sekitar 15%; kolesterol HDL naik sekitar 10%; dan trigliserida turun 15%
(Berthold et al., 1998; Pizorno dan Murray, 2000; Zhang et al., 2001; Yeh dan
Liu, 2001).
38
Dalam beberapa studi meta analisis terhadap pasien yang mempunyai kadar
kolesterol melebihi 200 mg/dL, dengan mengkonsumsi suplemen bawang putih
900mg/hari (setara dengan 0.5 sampai 1 siung bawang putih perhari) menurunkan
kadar total serum kolesterol sebanyak kurang lebih 9% (Warshafsky et al., 2004).
Suatu penelitian menjelaskan adanya penurunan rata-rata total kolesterol
sebesar -0.77 mmol/l (95% CI: -0.65, -0.89 mmol/l), dan ini menunjukkan 12%
penurunan pada subyek yang memakai terapi bawang putih dibandingkan dengan
kelompok plasebo, dimana efek tersebut terlihat dalam kurun 1 bulan setelah
terapi dan bertahan selama sedikitnya 6 bulan (Silagi & Neil, 1994).
Senyawa SAC (4), SPC (18) dan SEC (19) pada konsentrasi 2–4 mmol/liter
mampu menghambat kecepatan sintesis kolesterol antara 40–60%, sedangkan γglutamil-S-alk(en)il-L-sistein (1) mampu menghambat kecepatannya hingga 20–
35%. Kelompok senyawa allil sulfida, yakni DADS (6), DATS (7), DAS (8),
dipropil sulfida (10), dipropil disulfida (11), dan allil metil sulfida (13) pada
konsentrasi 0,05–0,5 mmol/liter mampu menghambat 10–15%. Sedangkan alliin
(2) tidak menunjukkan aktivitas penghambatan (Yeh dan Liu, 2001).
Ekstrak segar umbi bawang putih 1 g/L menunjukkan 50% inhibitory
concentration (IC50) pada aktivitas enzim squalene mono-oksigenase. Enzim
tersebut merupakan enzim yang berperan dalam biosintesis kolesterol. Senyawa
yang menunjukkan aktivitas penghambatan adalah selenosistein (23) (IC50 = 65
mmol/L), SAC (4) (IC50 = 110 mmol/L), alliin (2) (IC50 = 120 mmol/L), DATS
(7) (IC50 = 195 mmol/L), dan DADS (6) (IC50 = 400 mmol/L). Reaksi
penghambatan kerja enzim tersebut bersifat ireversibel (Gupta dan Porter, 2001).
38
39
Penelitian secara in vitro menggunakan hepatosit menunjukkan senyawa
organosulfur bawang putih menghambat biosintesis kolesterol. Namun, tahap
biosintesis yang lebih detail belum diketahui. Kemungkinan mekanisme
penghambatannya melalui dua cara, yaitu: (i) penghambatan pada reaksi enzim
hydroxymethylglutaryl-CoA reduktase (suatu rate limiting enzym) dan (ii)
penghambatan pada reaksi enzim lain, seperti squalene mono-oksigenase dan
lanosterol- 14-demethylase (Pizorno dan Murray, 2000; Gupta dan Porter, 2001).
Aterosklerosis merupakan penyempitan pembuluh darah karena lemak. Oleh
karena itu, hubungan aterosklerosis dengan fungsi metabolisme lemak sangat erat.
Kelainan metabolisme lemak, seperti hiperlipidaemia, dapat mempertinggi risiko
aterosklerosis. Dari berbagai penelitian diketahui bahwa ekstrak umbi bawang
putih dapat menekan terjadinya aterosklerosis (Yarnell, 1999). Perlakuan ekstrak
umbi bawang putih selama 2 tahun dapat menjaga elastisitas aorta sukarelawan
pada berbagai kelompok umur. Hal ini ditunjukkan dengan nilai kecepatan denyut
nadi atau PWV (pulse wave velocity) dan resistensi pembuluh elastis (EVR/elastic
vascular resistance) yang secara signifikan lebih rendah dari kontrol, baik pada
kondisi tubuh istirahat maupun bekerja (Breithaupt-Grogle et al., 1997). Ekstrak
AGE dapat mengurangi 64% area dalam aorta yang tertutup oleh lemak dan
secara signifikan menurunkan kadar kolesterol. Ekstrak AGE juga dapat
mengurang penebalan dinding aorta sampai 50%, mencegah perubahan fenotipe
dan proliferasi jaringan otot polos pembuluh darah, dan mengurangi akumulasi
lemak pada kultur makrofag. Mekanisme aktivitas biologi tersebut berkaitan
40
dengan pengaruh umbi bawang putih terhadap metabolisme kolesterol (Campbell
et al., 2001).
Gambar 2.5. Inhibisi negatif pada cholesterolgenic pathway oleh derivat-derivat
bawang putih. Suatu mekanisme dimana senyawa kimia bawang putih meregulasi
mundur HMG-CoA reduktase melalui inhibisi sterol 4-methyl oxydase. Hanya
beberapa intermediate kolesterol yang ditampilkan dalam gambar. (Singh &
Porter, 2006)
Inhibisi sintesa kolesterol diduga sebagai mekanisma utama yang
menyebabkan bawang putih dapat menurunkan kadar kolesterol darah, walaupun
tetap diperkirakan ada mekanisma lain yang turut berperan juga. Sebenarnya telah
ada beberapa studi yang meneliti tentang efek bawang putih terhadap sintesa
kolesterol pada binatang. Studi-studi tersebut khusus mempelajari penurunan
40
41
aktivitas HMG-CoA reduktase. Karena HMG-CoA reduktase mengalami regulasi
mundur oleh isoprenoid dan intermediate-intermediate sterol (Sever et al., 2003 &
Song et al., 2005), maka dapat diharapkan bahwa inhibisi dari enzim enzim yang
bersifat kolesterolgenik akan menyebabkan akumulasi dari satu atau lebih
intermediate yang dapat menyebabkan terjadinya feed back mengurangi aktivitas
HMG-CoA reduktase. Kesimpulannya adalah bawang putih menghambat sterol
4a-methyl oxidase sudah sesuai dengan teori tersebut, dimana 4-dimethylated
sterols, termasuk lanosterol dan dimethylzymosterol, secara jelas mempercepat
degradasi HMG-CoA reduktase melalui Insig-mediated pathway (Song et al.,
2005). Penelitian lebih lanjut masih sangat diperlukan untuk menentukan apakah
senyawa organosulfur yang berasal dari bawang putih menghambat purified sterol
4a-methyl oxidase dan apakah bawang putih secara efektif menghambat enzim ini
secara in vivo.
2.3.4.1 Penurunan kolesterol pada studi klinis
Setelah dilakukan meta-analisis, didapatkan kesimpulan bahwa bubuk
bawang putih yang dikeringkan tidak efektif untuk menurunkan kadar kolesterol
dalam darah (Mulrow et al., 2000). Masih belum ditemukan alasan yang jelas
mengapa terjadi ketidaksamaan dengan hasil penelitian lain yang menunjukkan
efek penurunan kolesterol dari bawang putih. Standarisasi bawang putih
menggunakan allicin sebagai pertanda potensi atau kekuatan sediaan bawang
putih adalah tidak tepat karena allicin memiliki bioavaibilitas yang sangat rendah
sehingga tidak dapat dikatakan sebagai senyawa yang aktif dalam bawang putih.
Dengan adanya studi-studi yang bersifat negatif di atas dan publikasi media
42
terhadap hasil penelitian yang kurang mendukung maka terjadi kebingungan dan
skeptisme/keragu-raguan dalam masyarakat (Amagase, 2006).
Hal tersebut
berpengaruh terhadap penurunan konsumsi suplemen bawang putih yang
sebenarnya memiliki keuntungan untuk kesehatan, terutama dalam masyarakat
yang mempunyai risiko penyakit tinggi.
Penelitian meta-analisis di atas ternyata tidak termasuk beberapa studi klinis
yang meneliti efek AGE terhadap kolesterol. AGE mempunyai hasil yang
konsisten terhadap penurunan kadar kolesterol dan penurunan risiko penyakit
kardiovaskular (Budoff et al., 2004). Dalam beberapa dari studi-studi di atas,
kadar SAC dalam darah diukur sebagai marker pada subyek penelitian. Kadar
SAC dalam darah subyek yang menkonsumsi suplemen secara signifikan lebih
tinggi dibandingkan dengan grup plasebo (Steiner, 2001), maka jelaslah bahwa
SAC bioavailabel karena diserap dalam darah dan oleh karenanya aktif dalam
tubuh. Dengan adanya senyawa SAC, maka dapat dilakukan standarisasi produk
bawang putih karena dapat dilakukan pengukuran yang konsisten.
2.3.5 Hasil metabolisme bawang putih setelah dikonsumsi oleh manusia
Penelitian mengenai hasil metabolisme bawang putih setelah dikonsumsi
pada manusia masih sangat terbatas. Dalam sebuah penelitian dilaporkan setelah
mengkonsumsi parutan bawang putih, terjadi 2 peningkatan, identik
dengan
allylmercaptan dan DADS dengan menggunakan analisa GC-MS terdeteksi dalam
nafas manusia tanpa adanya senyawa organosulfur volatil yang lainnya. Tidak
terdeteksi allicin dalam serum and urine dari 1-24 jam, walaupun setelah
mengkonsumsi bawang putih mentah sebanyak 25 g yang mengandung allicin
42
43
dalam jumlah sangat signifikan. Rosen et al. menunjukkan bahwa allicin
mengalami dekomposisi dalam lambung, dan dilepaskanlah DAS, DADS, dan
volatil lainnya yang dipostulasikan akan mengalami proses menjadi AMS oleh
glutathione ataupun S-adenosylmethionine. AMS kemudian dilepaskan dalam
nafas. Senyawa lain hasil metabolisme dari bawang putih seperti N-acetyl-S-(2carboxypropyl)-cysteine dan N-acetyl-S-allylcysteine, tedeteksi dalam urine
manusia setelah mengkonsumsi bawang putih. Dari bukti-bukti di atas maka Nacetyl-S-(2-carboxypropyl)-cysteine dan N-acetyl-S-allylcysteine dapat digunakan
sebagai marker pada penelitian dengan manusia yang menggunakan bawang putih
karena senyawa tersebut bersifat stabil dan mudah untuk dianalisis (Amagase,
2006).
2.3.6 Sediaan bawang putih yang tersedia secara komersial
Terdapat banyak macam sediaan bawang putih yang kita temukan pada
farmasi dan toko obat natural, dimana pada umumnya dibedakan menjadi: garlic
essensial oil, garlic oil macerate, garlic powder (bubuk bawang putih), dan garlic
extract (ekstrak bawang putih). Proses pembuatan sediaan bawang putih berperan
penting untuk mementukan karakteristik kimia, efikasi dan keamanan dari sediaan
tersebut. Telah diketahui secara pasti bahwa proses ekstraksi pada umumnya akan
meningkatkan potensi dan bioavaibilitas berbagai sediaan mentah tumbuhtumbuhan termasuk juga bawang putih. Preparat bawang putih yang terbanyak
digunakan dalam penelitian adalah AGE, dimana perparat ini telah terbukti
memiliki efikasi yang lebih besar dan konsisten juga lebih aman dibandingkan
dengan preparat bawang putih yang lainnya.
44
Sediaan komersial bawang putih minimal mengandung 10 mg alliin atau
5000 µg total potensi allicin dengan bentuk enteric coated. Dosis yang dianjurkan
untuk bawang putih mentah adalah satu siung yaitu sebanyak 4 gram (Brown,
1995). Pada umumya dosis harian yang dipakai pada kebanyakan studi klinis
untuk bubuk kering bawang putih adalah 900 mg, walaupun hubungan dosis dan
responsnya masih belum diketahui secara jelas. AGE memiliki efektivitas yang
beragam dalam berbagai studi klinis. Terlihat penurunan kolesterol plasma pada
pemberian AGE sebanyak 1-7.2 g/hari pada manusia (Steiner, 2001).
Dipercaya bahwa beberapa zat kimia yang larut dalam air, termasuk Sallylcysteine (SAC), kemungkinan berperan dalam menurunkan toksisitas ekstrak
bawang putih. Proses ekstraksi yang dilakukan dengan pelarut hidroalkoholik
mempunyai toksisitas yang lebih rendah dibandingkan dengan sediaan mentah
bawang putih (Amagase et al., 2001).
2.3.7 Kontraindikasi, efek samping dan toksisitas
Belum ada risiko kesehatan yang dilaporkan selama ini untuk orang normal
yang mengkonsumsi bawang putih dalam jumlah sedang (Murray, 1995).
Konsumsi bawang putih sebanyak lima siung atau lebih dapat menimbulkan nyeri
ulu hati atau flatulence. Efek samping lainnya adalah reaksi alergi ringan,
dermatitis
dan
keluhan
gastrointestinal
(Tyller,
1994).
Bawang
putih
memperpendek waktu pembekuan sehingga harus dipergunakan secara berhatihati apabila mengkonsumsi aspirin atau antikoagulan lainnya secara bersamaan.
Dalam suatu penelitian disebutkan LD50 allicin pada mencit adalah 60 mg/kg
apabila diberikan secara intravena, dan 120 mg/kg apabila diberikan secara
44
45
subkutaneus. Peneliti lain melaporkan sediaan ekstrak ethanol bawang putih
14,5% mempunyai nilai LD50 pada tikus dan mencit 30 ml/kg apabila diberikan
secara peroral (ESCOP 2003).
Yang menarik dari penelitian menggunakan AGE, ternyata tidak dilaporkan
adanya efek samping yang parah walaupun dosis yang diberikan tinggi. AGE
sudah diteliti pada beberapa clinical trial dan ternyata tidak mempunyai
kontraindikasi dengan beberapa obat-obatan seperti warfarin, aspirin, statin,
adriamycine/doxorubicin,
5-fluorouracil/methotrexate,
dll.
Dengan
cara
pembuatan AGE, toksisitas dan karakteristik merugikan dari bawang putih
dihilangkan, sehingga dapat dikombinasi dengan obat-obatan yang lain tanpa efek
samping yang tidak diharapkan.
2.4 Hewan Coba Tikus (Rattus Norvegicus)
2.4.1 Penggunaan tikus (Rattus Norvegicus) di laboratorium
Penggunaan tikus atau rat (Rattus Norvegicus) telah diketahui sifat-sifatnya
dengan sempurna, mudah dipelihara, merupakan hewan yang relatif sehat dan
cocok untuk berbagai macam peneilitian. Terdapat beberapa galur atau varietas
tikus yang memiliki kekhususan tertentu antara lain galur Sprague-dawley yang
berwarna albino putih berkepala kecil dan ekornya lebih panjang daripada
badannya dan galur wistar yang ditandai dengan kepala besar dan ekor lebih
pendek.
Tikus (Rattus Norvegicus) galur wistar lebih besar dari famili tikus umumnya
dimana tikus ini dapat mencapai 40 cm diukur dari hidung sampai ujung ekor dan
berat 140-500 gram. Tikus betina biasanya memiliki ukuran lebih kecil dari tikus
46
jantan dan memiliki kematangan seksual pada umur 4 bulan dan dapat hidup
selama 4 tahun (Kusumawati, 2004). Berikut ini adalah data biologis tikus
laboratorium:
Lama hidup
: 2-3 tahun bisa mencapai 4 tahun
Lama produksi ekonomis
: 1 tahun
Lama bunting
: 20-22 hari
Kawin sesudah beranak
: 1-24 jam
Umur disapih
: 21 hari
Umur dewasa
: 40-60 hari
Umur dikawinkan
: 10 minggu (jantan dan betina)
Berat badan dewasa
: 300-400 g jantan, 200-250 g betina
Suhu (rektal)
: 36-39 oc
Denyut jantung
: 330-480/menit, turun menjadi 250 dengan anastesi,
naik sampai 550 dalam stres
Volume darah
: 57-70 ml/kg
Kolesterol serum
: 10 – 54 mg/100ml
2.4.2 Pemantauan keselamatan tikus di laboratorium
Pemantauan keselamatan tikus di laboratorium (Ngatidjan, 2006) antara lain:
a. Kandang tikus harus cukup kuat tidak mudah rusak, mudah dibersihkan
(satu kali seminggu), mudah dipasang lagi, hewan tidak mudah lepas,
harus tahan gigitan dan hewan tampak jelas dari luar. Alas tempat tidur
harus mudah menyerap air pada umumnya dipakai serbuk gergaji atau
sekam padi,
46
47
b. Menciptakan suasana lingkungan yang stabil dan sesuai dengan keperluan
fisiologi tikus (suhu, kelembaban dan kecepatan pertukatan udara yang
ekstrim harus dihindari),
c. Untuk tikus dengan berat badan 200-300 gram luas lantai tiap ekor tikus
adalah 600 cm2, tinggi 20 cm,
d. Tikus harus diperlakukan dengan kasih sayang
48
BAB III
KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Berpikir
Dislipidemia adalah keadaan dimana terjadinya kadar kolesterol yang tinggi
dalam darah. Keadaan ini bukanlah penyakit, tetapi lebih tepat disebut sebagai
kekacauan metabolik yang mungkin adalah akibat sekunder dari beberapa macam
penyakit dan dapat berperan serta dalam terjadinya berbagai macam penyakit,
yang terutama adalah penyakit kardiovaskular.
Kadar kolesterol tinggi dalam darah disebabkan oleh berbagai macam faktor
terutama dipengaruhi oleh faktor eksogen yang meliputi pola makan, aktivitas
fisik, gaya hidup, suplementasi, obat-obatan, walaupun ada faktor endogen yaitu
fisiologi, hormonal, familial genetik, stress, status gizi, umur, dll.
Penelitian secara in vitro menggunakan hepatosit menunjukkan senyawa
organosulfur bawang putih menghambat biosintesis kolesterol. Namun, tahap
biosintesis yang lebih detail belum diketahui. Kemungkinan mekanisme
penghambatannya melalui dua cara, yaitu: (i) penghambatan pada reaksi enzim
hydroxymethylglutaryl-CoA reduktase (suatu rate limiting enzym) dan (ii)
penghambatan pada reaksi enzim lain, seperti squalene mono-oksigenase dan
lanosterol- 14-demethylase.
Penelitian ini ditujukan untuk membuktikan efektivitas bawang putih sebagai
anti-kolesterol. Sehingga dapat disusun kerangka konsep dimana diet tinggi lemak
tinggi kolesterol yang diberikan secara terus menerus akan menyebakan terjadinya
dislipidemia pada tikus. Setelah terjadi hiperkolestrolemia maka tikus diberikan
48
49
suplementasi ekstrak bawang putih dengan makanan yang tinggi tinggi lemak
tinggi kolesterol. Diharapkan keadaan dislipidemia pada tikus dapat diperbaiki
dengan pemberian ekstrak bawang putih tersebut.
Suplementasi Ekstrak Ethanol Bawang Putih
Faktor Endogen:
Fisiologi
Hormonal
Genetik
Status gizi
Umur
Faktor Eksogen:
Pola makan
Aktivitas fisik
Suplementasi
- Obat-obatan
50
Tikus Dislipidemia
Penurunan kadar kolesterol total, LDL, trigliserida dan peningkatan kadar HDL pada serum tikus
Gambar 3.1. Bagan Konsep Penelitian
3.3. Hipotesis Penelitian
Hipotesis dalam desain penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Ekstrak ethanol bawang putih dapat menurunkan kadar kolesterol total
serum tikus yang dislipidemia.
2. Ekstrak ethanol bawang putih dapat menurunkan kadar trigliserida tikus
yang dislipidemia.
3. Ekstrak ethanol bawang putih dapat menurunkan kadar LDL tikus yang
dislipidemia.
4. Ekstrak ethanol bawang putih dapat meningkatkan kadar HDL serum tikus
yang dislipidemia.
50
51
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian eksperimental murni dengan menggunakan
rancangan penelitian Pre Test Post-Test Control Group Design (Pocock, 2008).
Secara sistematis penelitian dapat digambarkan sebagai berikut:
01
P
S
R
03
05
P0
P1
P2
Gambar 4.1 Rancangan Penelitian
Keterangan :
P = Populasi
S = Sampel
R = Random
02
04
06
52
01 = Observasi pre test sebelum perlakuan
03= Observasi pre test sebelum perlakuan
05 = Observasi pre test sebelum perlakuan
02 = Observasi post test kelompok kontrol dengan diet tinggi lemak tinggi
kolesterol dan plasebo (akuades) selama 28 hari.
04 = Observasi post test dengan ekstrak ethanol bawang putih 32,4 mg/200gr BB
dan diet tinggi lemak tinggi kolesterol selama 28 hari
06 = Observasi post test dengan ekstrak ethanol bawang putih 64,8 mg/200gr BB
dan diet tinggi lemak tinggi kolesterol selama 28 hari
P0 = Kelompok kontrol dengan diet tinggi lemak tinggi kolesterol dan plasebo
(akuades) selama 28 hari.
P1 = Perlakuan dengan diet tinggi lemak tinggi kolesterol dan ekstrak ethanol
bawang putih 32,4 mg/200gr BB selama 28 hari
P2 = Perlakuan dengan diet tinggi lemak tinggi kolesterol dan ekstrak ethanol
bawang putih 64,8 mg/200gr BB selama 28 hari
4.2 Teknik Sampling dan Kriteria
Penarikan sampel dalam penelitian ini secara random menjadi 3 kelompok tikus,
4.2.1. Kriteria penerimaan
1. Tikus putih galur wistar, berjenis kelamin sama yaitu jantan
2. Mau makan
3. Umur kurang lebih 4 bulan
4. Dislipidemia
5. Berat badan antara 180-200 gram
52
53
4.2.2. Kriteria drop out subyek
1. Tikus mati ketika sedang penelitian
Penghitungan jumlah sampel beradasarkan pada rumus dibawah (Pocock, 2008)
2σ2
n =
x f (,β)
(μ2 – μ1)2
n
= jumlah sampel
σ
= simpang baku kelompok plasebo = 18,4 (Silagi & Neil, 1994)
μ1
= rerata kolesterol total kelompok plasebo
μ2
= rerata kolesterol total kelompok perlakuan
μ2 - μ1 = 29,8

= 0,05
β
= 0,1
f (,β) = 10,5
Perhitungan sebagai berikut :
2 (18,4)2
n =
x 10,5
29,82
n =
8,01
Jumlah sampel dengan penambahan 15% adalah 10 ekor tikus perkelompok.
Ada 3 kelompok sehingga total jumlah sampel adalah 30 ekor.
Penentuan umur sampel berdasarkan pertimbangan umur dewasa tikus yang
masih produktif sekitar 16 minggu (kurang lebih 4 bulan).
54
Lama perlakuan berdasarkan pada perkiraan pada manusia penurunan
kolesterol diharapkan selama 3-6 bulan, pada tikus diperhitungkan selama 14-28
hari. Pada penelitian ini dipakai 28 hari sebagai lama perlakuan.
Nilai μ1 dan μ2 didapatkan dari penelitian sebelumnya yang menjelaskan adanya
penurunan rata-rata total kolesterol sebesar -0.77 mmol/l atau 29,8 mg/dL (95%
CI: -0.65, -0.89 mmol/l), dan ini menunjukkan 12% penurunan pada subyek yang
memakai terapi bawang putih dibandingkan dengan kelompok plasebo, dimana
efek tersebut terlihat dalam kurun 1 bulan setelah terapi dan bertahan selama
sedikitnya 6 bulan (Silagi & Neil, 1994).
4.3 Variabel Penelitian
4.3.1 Klasifikasi variabel
Variabel bebas (independen variable):
a. Ekstrak bawang putih
Variabel tergantung
a. Kadar kolesterol total
b. Kadar LDL: Low Density Lipoprotein
c. Kadar Trigliserida
d. Kadar HDL : High Density Lipoprotein
Variabel kendali meliputi:
a. Suhu, kelembaban, nutrisi
b. Berat badan
c. Umur hewan coba
d. Jenis aktivitas fisik
54
55
4.3.2 Definisi operasional
1. Ekstrak bawang putih adalah ekstrak ethanol bawang putih yang
menggunakan pelarut ethanol 96%, dengan proses ekstraksi dalam suhu
kamar, dengan konsentrasi ekstrak 280mg/ml. Bahan bawang putih
didapatkan dari daerah Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur,
Indonesia.
2. Diet tinggi lemak tinggi kolesterol adalah bahan makanan yang
distandardisasi untuk memenuhi syarat tinggi lemak tinggi kolesterol
dengan komposisi: kolesterol 1%, kuning telur 5%, lemak hewan 10%,
minyak goreng 1%, makanan standar sampai 100%.
3. Kadar Kolesterol total, nilainya dapat ditentukan dengan pemeriksaan
serum di laboratorium merupakan penjumlahan dari low dan high density
lipoproteins. Kadar normal pada tikus : 110,85 mg/dL (Lilis, 2010)
4. Dislipidemia adalah kelainan dari metabolisme lipoprotein, yaitu
overproduksi ataupun defisiensi dari lipoprotein tertentu. Dislipidemia
dapat bermanifestasi dengan peningkatan konsentrasi total kolesterol, low
density lipoprotein (LDL) dan trigliserida, serta penurunan high density
lipoprotein (HDL) dalam darah
5. Kolesterol adalah alkohol monohidrik, berwarna putih merupakan sterol
yang terdistribusi luas dalam jaringan tubuh, merupakan bahan dari
membran sel, dan terdapat dalam kuning telur, minyak2an, lemak, serabut
myelin dalam otak, akson dan medula spinalis, hati, ginjal, dan kelenjar
adrenal. Kolesterol disintesa dalam hati, merupakan penyebab terjadinya
56
batu empedu, plak aterosklerotik dalam pembuluh darah. Kolesterol
memegang peranan penting dalam metabolisme, merupakan perkursor dari
berbagai hormon steroid.
6. LDL adalah Low Density Lipoprotein, merupakan lipid plasma yang
membawa sebagian besar kolesterol dalam plasma. Terikat pada albumin.
LDL terbukti merupakan penyebab aterosklerosis.
Kadar LDL dapat
dihitung secara manual dengan rumus persamaan Friedewald, yaitu :
LDL (mmol/l) = kolesterol total - [(trigliserida/5) + HDL)]. Kadar normal
pada tikus: 20,39 mg/dL (Lilis, 2010)
7. Trigliserida yang juga dikenal sebagai triacylglycerol merupakan
kombinasi gliserol dengan tiga dari lima macam asam-asam lemak yang
tersedia. Dalam darah, trigliserida dikombinasi dengan protein untuk
menghasilkan lipoprotein. Kadar normal pada tikus: 82,47 mg/dL (Lilis,
2010)
8. HDL adalah High Density Lipoprotein, merupakan lipid plasma yang
terikat pada albumin, yang mengandung lipoprotein. HDL mengandung
lebih banyak protein dibandingkan dengan VLDL ataupun LDL, bersifat
kardioprotektif. Kadar normal pada tikus: 82,47 mg/dL (Lilis, 2010)
9. Jenis tikus dalam penelitian ini adalah tikus jantan, galur wistar
dislipidemia, umur 4 bulan dengan berat badan 180-200 gram.
4.4.
Bahan Penelitian
4.4.1 Bahan bawang putih
56
57
Bahan bawang putih adalah ekstrak ethanol bawang putih yang
menggunakan pelarut ethanol 96%, dengan proses ekstraksi dalam suhu kamar,
dengan konsentrasi ekstrak 280mg/ml. Siung bawang putih yang dipakai dalam
penelitian ini didapatkan dari daerah Pacet yaitu sebuah kecamatan di Kabupaten
Mojokerto, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Pacet merupakan daerah pertanian
yang cukup subur karena terletak di antara tiga gunung berapi. Pacet merupakan
salah satu daerah penghasil bawang putih terbesar di Jawa Timur.
4.4.2 Hewan percobaan
Dalam penelitian ini digunakan tikus berumur kurang lebih 4 bulan, jantan,
diperkirakan mencapai usai dewasa muda, berat badan 180-200 gram. Tikus
dipelihara
di
kandang
Laboratorium
Farmakologi
Fakultas
Kedokteran
Universitas Udayana Denpasar, dengan persyaratan sesuai dengan penelitian
eksperimental, yaitu tikus ditempatkan dalam kandang yang terbuat dari wadah
plastik berukuran 23cm x 17cm x 9,5cm dengan alas sekam padi dan tutup dari
anyaman kawat. Kandang di tempatkan dalam ruangan berventilasi dan udara
alami.
4.5 Alat Penelitian
a. Timbangan gram
b. Sonde untuk pemberian makan dan pemberian ekstrak ethanol
bawang putih pada tikus
c. Syringe 3 cc untuk pengambilan darah
d. Tabung kontainer darah
58
4.6 Lokasi dan Waktu Penelitian:
Penelitian ini di laksanakan selama 42 hari di bulan November 2010 di
Laboratorium Farmakologi Universitas Udayana Denpasar. Untuk mengetahui
profil lipid tikus percobaan dilakukan pemeriksaan darah di Laboratorium
Patologi Klinik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
4.7 Prosedur Penelitian
4.7.1 Pembuatan sediaan ekstrak ethanol bawang putih
Bawang putih 250 gram dicampur dengan ethanol 96% sebanyak 500cc
kemudian diblender hingga halus. Larutan bawang putih yang didapatkan disaring
dengan kain kasa 2 lapis, kemudian disaring lagi dengan kertas whotman no.2
didapatkan filtrat (crude extract). Filtrat ditampung dalam tabung erlenmeyer.
Filtrat tanpa ditutup diangin-anginkan pada suhu kamar (25oc – 30oc) selama 7
hari sampai dianggap tidak ada penguapan lagi dari pelarut ethanolnya.
Didapatkan ekstrak ethanol bawang putih dan diambil sebanyak 100 ml.
Konsentrasi ekstrak bawang putih yang didapatkan melalui proses di atas adalah
280 mg/1 ml.
Dosis ekstrak bawang putih berdasarkan konversi dosis manusia (70 kg) ke
tikus (200 g) adalah 0,018 . Dosis manusia rata-rata 300-1000 mg per hari, dimana
pada umumnya digunakan dosis 900 mg per hari apabila dalam bentuk bubuk
kering, sedangkan pada penelitian yang menggunakan AGE (aged garlic extract)
dosis yang dipakai bahkan lebih tinggi mencapai 1-7,2 gram perhari (Steiner,
2001). Dalam penelitian ini digunakan preparat bawang putih yang didapatkan
dengan pelarut ethanol. Apabila dikonversikan dari dosis manusia sebesar 1-7.2
58
59
gram maka didapatkan dosis tikus 18-129,6 mg per hari (Ngatidjan, 2006). Pada
penelitian ini diputuskan untuk memakai 2 macam dosis ekstrak ethanol bawang
putih yaitu sebesar 32,4 dan 64,8 mg/200 grBB per hari yang apabila
dikonversikan pada manusia menjadi 1,8 dan 3,6 gram/ 70 kgBB per hari.
4.7.2 Persiapan untuk meningkatkan kolesterol & lemak darah tikus
Tikus setiap harinya diberikan makanan yang tinggi lemak tinggi kolesterol.
Bahan makanan akan distandardisasi untuk memenuhi syarat tinggi lemak tinggi
kolesterol dengan komposisi: kolesterol 1%, kuning telur 5%, lemak hewan 10%,
minyak goreng 1%, makanan standar sampai 100%.
Makanan tersebut akan
menginduksi peningkatan kadar kolesterol secara eksogen. Pemberian makanan
tinggi lemak tinggi kolesterol diberikan selama 14 hari sebelum perlakuan dengan
ekstrak ethanol bawang putih dimulai. Untuk memastikan hewan uji tikus telah
dislipidemia maka diambil serum dari semua tikus untuk diperiksa kadar
kolesterolnya setelah pemberian makanan tinggi lemak tinggi kolesterol selama
14 hari.
4.7.3 Perlakuan pada tikus
Hewan uji tikus jantan yang dislipidemia disiapkan 30 ekor dibagi 3
kelompok secara random, diadaptasi dalam
kandang selama 1 hari dan di
puasakan selama kurang dari 12 jam hanya diberi minum. Timbang berat badan,
perlakuan diberikan setiap hari sekali selama 28 hari.
1.
Kelompok I sebagai kelompok kontrol yang diberikan diet
tinggi lemak tinggi kolesterol dan plasebo berupa akuades selama 28
hari
60
2.
Kelompok II sebagai kelompok perlakuan yang diberikan
diet tinggi lemak tinggi kolesterol dan diberikan bahan uji yaitu ekstrak
ethanol bawang putih sebanyak 32,4 mg/200gr BB selama 28 hari.
3.
Kelompok II sebagai kelompok perlakuan yang diberikan
diet tinggi lemak tinggi kolesterol dan diberikan bahan uji yaitu ekstrak
ethanol bawang putih sebanyak 64,8 mg/200gr BB selama 28 hari.
4.7.4 Pengambilan darah tikus
Pengambilan darah dilakukan pada pembuluh darah besar tikus yaitu dari
medial canthus sinus orbitalis. Darah yang didapatkan dimasukkan kedalam
tabung khusus kemudian dikirimkan ke laboratorium untuk pemeriksaannya.
4.7.5 Pengamatan
Setelah dilakukan pemeriksaan kadar kolesterol serum tikus, maka data yang
didapatkan dikumpulkan dan dibandingkan antara kelompok, kelompok II dan
kelompok III.
4.8
Jalannya Penelitian
Tikus sebanyak 35 ekor dikarantina selama 14 hari, diberikan makanan
tinggi lemak tinggi kolesterol dalam jumlah yang sama. Semua tikus berumur 4
bulan, jantan, dengan berat badan tikus yang berkisar antara 180-200 gram.
Setelah diberikan makanan tinggi lemak tinggi kolesterol selama 14 hari semua
tikus diperiksa kadar kolesterolnya. Sebelum dilakukan pemeriksaan kadar
kolesterol semua tikus dipuasakan dan hanya diberikan minum akuades selama 12
60
61
jam. Sampel darah kemudian dikirim ke laboratorium untuk pemeriksaan profil
lipid. Dipilih 30 ekor tikus yang sudah dislipidemia untuk dijadikan hewan
percobaan. Tikus yang dislipidemia sebanyak 30 ekor kemudian dikelompokkan
secara acak menjadi 3 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas 10 ekor
tikus:
1. Kelompok I sebagai kelompok kontrol yang diberikan diet tinggi
lemak tinggi kolesterol dan plasebo yang berupa akuades selama 28
hari
2. Kelompok II sebagai kelompok perlakuan yang diberikan diet tinggi
lemak tinggi kolesterol dan diberikan bahan uji yaitu ekstrak ethanol
bawang putih sebanyak 32,4 mg/200gr BB selama 28 hari.
3. Kelompok III sebagai kelompok perlakuan yang diberikan diet tinggi
lemak tinggi kolesterol dan diberikan bahan uji yaitu ekstrak ethanol
bawang putih sebanyak 64,8 mg/200gr BB selama 28 hari.
Diet tinggi kolesterol didapatkan dengan membuat makanan komposisi
makanan sebagai berikut: kolesterol 1%, kuning telur 5%, lemak hewan 10%,
minyak goreng 1%, makanan standar sampai 100%. Dipersiapkan juga air minum
yang matang.
Masing-masing tikus diberikan kandang yang terpisah. Makanan yang
diberikan pada tikus sebelumnya ditimbang agar semuanya mendapatkan jumlah
yang sama. Minum air putih diberikan dalam jumlah yang bebas. Esktrak ethanol
bawang putih diberikan dengan cara sonde, sekali sehari.
62
Kelompok 1 adalah kelompok kontrol, sedangkan kelompok ke 2 dan ke 3
adalah kelompok perlakuan yang masing-masing terdiri dari 10 ekor tikus.
Setelah lama perlakuan 28 hari pengambilan darah dari medial canthus sinus
orbitalis dilakukan terhadap semua tikus. Darah yang didapatkan kemudian
disentrifugasi untuk mendapatkan serum. Serum yang didapatkan kemudian
dikirim ke Laboratorium Patologi Klinik di Universitas Gadjah Mada (UGM)
Yogyakarta untuk ditentukan kadar kolesterol total, trigliserida, LDL dan HDL.
Setelah didapatkan hasil laboratorium, maka semua data dikumpulkan untuk
diuji dengan statistik, lalu dibikinkan pelaporan mengenai hasilnya.
Tikus yg dislipidemia 30 ekor
Diadaptasi
Kontrol
10 ekor
Perlakuan I
10 ekor
Perlakuan II
10 ekor
Pretest: Total kolesterlol, Trigliserida,
Pretest:
LDL,
Total
HDL
kolesterlol, Trigliserida,
Pretest:
LDL,
TotalHDL
kolesterlol, Trigliserida, LDL, HDL
Makanan tinggi lemak
Makanan
tinggi
tinggi
kolesterol
lemak+tinggi
akuades
Makanan
kolesterol
selama
tinggi
+28ekstrak
lemak
hari ethanol
tinggi kolesterol
bawang putih
+ ekstrak
32,4 mg/200gr
ethanol bawang
BB, 28putih
hari 64,8/200gr BB, 28 hari
Posttest: Total Kolesterlol, Trigliserida,
Posttest:
LDL,
Total
HDL
Kolesterlol, Trigliserida,
Posttest:
LDL,
Total
HDL
Kolesterlol, Trigliserida, LDL, HDL
62
63
Dianalisis
Pelaporan
Gambar 4.2 Bagan alur penelitian
4.9 Analisis data
Data yang diperoleh dianalisis dengan langkah sebagai berikut :
1. Analisis Deskriptif disajikan dalam bentuk tabel dan grafik
2. Analisis Normalitas (Shapiro Wilk) dan Homogenitas (Levene Test)
Data berdistribusi normal dan homogen.
3. Analisis Komparasi:
-
Data berdistribusi normal dan homogen maka untuk uji komparasi antar
kelompok dilakukan dengan uji one way Anova dan dilanjutkan dengan
Least Significant Difference (LSD) test.
64
64
Download