19 BAB 2 LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

advertisement
BAB 2
LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
2.1
Landasan Teori dan Literatur
2.1.1 Agency Theory
Agency theory (teori keagenan) diperkenalkan oleh Jensen dan Meckling pada
tahun 1976 dan merupakan dasar untuk memahami tata kelola perusahaan (corporate
governance). Teori keagenan (agency theory) menjelaskan perbedaan kepentingan
antara pemegang saham (principal) dan manajemen (agent), serta hubungan
kontraktual antara pihak yang mendelegasikan pengambilan keputusan tertentu
dengan pihak yang menerima pendelegasian tersebut (Alijoyo dan Zaini, 2004:6).
Perbedaan kepentingan antara pemilik dan manajemen dapat memicu konflik yang
menimbulkan biaya keagenan. Konflik ini timbul akibat keinginan manajemen untuk
melakukan tindakan yang menguntungkan, tetapi dapat mengorbankan kepentingan
pemegang saham untuk memperoleh return dari kegiatan investasi yang dilakukan.
Eisenhardt (1989) yang dikutip Kenniady (2011), menjelaskan tiga asumsi
dasar sifat manusia yang dapat menimbulkan konflik, yaitu:
1. Manusia umumnya mementingkan diri sendiri (self interest).
2. Manusia memiliki daya pikir yang terbatas mengenai persepsi masa mendatang
(bounded rationality).
3. Manusia selalu menghindari resiko (risk averse).
Hal inilah yang menyebabkan timbulnya agency conflict karena manajemen dan
pemegang saham cenderung mengutamakan tujuan dan kepentingan sendiri tanpa
memikirkan pemangku kepentingan lainnya. Selain itu, agency conflict juga dipicu
oleh beberapa permasalahan berikut: (Widiarno, 2012)
19
1. Moral Hazard
Manajemen cenderung menempatkan investasi yang lebih menguntungkan dirinya
dibandingkan perusahaan.
2. Earning Retention
Manajemen cenderung mempertahankan pendapatan perusahaan pada titik stabil,
sedangkan pemilik modal lebih mementingkan distribusi kas yang lebih tinggi
melalui peluang investasi.
3. Risk Aversion
Manajemen lebih memilih posisi aman untuk dirinya sendiri dalam membuat
kebijakan investasi.
4. Time Horizon
Cash flow perusahaan merupakan fokus manajemen selama mereka bertugas
mengontrol dan mengawasi kinerja perusahaan.
Manajemen dan pemegang saham memiliki posisi, fungsi, kepentingan, dan latar
belakang yang berbeda. Perbedaan kepentingan antara pemegang saham sebagai
pemilik dan manajemen sebagai pengelola dapat menimbulkan agency conflict dalam
perusahaan.
Manajer lebih memahami informasi internal dan prospek perusahaan,
sehingga
manajer
memiliki
kewajiban
untuk
mengkomunikasikan
kondisi
perusahaan kepada pemilik modal melalui pengungkapan informasi akuntansi. Hal
ini menyebabkan interpretasi atas informasi akuntansi yang diungkapkan dalam
laporan keuangan menjadi tidak seimbang antara manajemen sebagai penyedia
informasi dan pemegang saham sebagai pengguna informasi. Informasi yang tidak
seimbang ini disebut juga dengan asimetri informasi (information asymmetry) yang
secara umum terbagi menjadi dua (Scott, 2009), yaitu:
20
1. Adverse Selection
Adverse selection merupakan keadaan pada saat pemegang saham tidak
mengetahui kebijakan yang diambil oleh manajemen untuk perusahaan di masa
kini maupun masa mendatang. Adverse selection terjadi ketika manajer memiliki
kemampuan untuk memanfaatkan informasi yang dimiliki, membiaskan, dan
membatasi informasi yang diberikan kepada investor. Sehingga, hal ini akan
membuat investor meragukan kualitas perusahaan.
2. Moral Hazard
Moral Hazard timbul karena adanya pemisahan kepemilikan dan kontrol dalam
perusahaan, sehingga beberapa pihak tidak dapat mengamati perilaku dari pihak
lainnya. Akibatnya, pemegang saham dan kreditur sulit mengawasi perilaku
manajer yang mungkin telah lalai dalam menjalankan tugasnya.
Selain agency theory, stewardship theory juga menjadi dasar pemahaman atas
pentingnya corporate governance. Menurut Etty Murwaningsari (2009), stewardship
theory mengasumsikan bahwa pada dasarnya manusia dapat dipercaya, bertanggung
jawab, dan merupakan individu yang berintegritas. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa teori ini memandang manajemen sebagai pihak yang dapat dipercaya dalam
menyajikan informasi yang dibutuhkan oleh para pemegang saham.
Salah satu cara untuk membatasi perilaku oportunistik manajemen dan
menghindari timbulnya agency conflict adalah dengan menerapkan corporate
governance. Kesenjangan hubungan antara manajemen dan pemegang saham dapat
diatasi dengan menerapkan Good Corporate Governance (GCG) yang berperan
penting dalam menumbuhkan kembali kepercayaan pemegang saham terhadap
perusahaan.
21
2.1.2 Corporate Governance
Kata “governance” dalam bahasa latin memiliki arti mengarahkan,
sedangkan dalam bahasa Perancis “gubernance” berarti pengendalian (Kenniady,
2012). Dalam ilmu manajemen, kata ini kemudian diadaptasi menjadi corporate
governance yang berarti mengarahkan dan mengendalikan kegiatan dalam
perusahaan, yang kini umumnya kita sebut sebagai tata kelola perusahaan.
2.1.2.1 Definisi Corporate Governance
Corporate Governance (CG) pertama kali diperkenalkan oleh Cadbury
Committee pada tahun 1992. Definisi corporate governance menurut Cadbury
Committee yang dikutip oleh Susanto (2012), yaitu “A set of rules that define the
relationship between shareholder, managers, creditors, the government, employees,
and other internal and external stakeholders in respect to their rights and
responsibilities.”
Definisi CG dari Cadbury Committee tersebut diterjemahkan oleh Forum For
Corporate Governance Indonesia (FCGI) sebagai peraturan yang mengatur
hubungan antara pemegang saham, pengurus perusahaan, kreditor, pemerintah,
karyawan, serta pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya yang berkaitan
dengan hak-hak dan kewajiban mereka.
Menurut Achmad Daniri dalam bukunya yang berjudul “Konsep dan
Penerapan GCG” (2005:8), dikemukakan bahwa GCG adalah:
“Suatu pola hubungan, sistem, dan proses yang digunakan oleh organ
perusahaan (Direksi, Dewan Komisaris, Rapat Umum Pemegang Saham) guna
memberikan nilai tambah kepada pemegang saham secara berkesinambungan
dalam jangka panjang, dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder
lainnya, berlandaskan peraturan perundang-undangan dan norma yang
berlaku.”
22
Berdasarkan beberapa definisi yang ada, dapat disimpulkan bahwa corporate
governance merupakan suatu sistem yang dibuat untuk membangun hubungan yang
baik dan transparan antara pihak-pihak terkait yang memiliki kepentingan dalam
perusahaan. Kebijakan ini dibuat dengan tujuan untuk memberikan nilai tambah bagi
pemegang saham dan para stakeholder.
2.1.2.2 Prinsip-prinsip Good Corporate Governance
Prinsip –prinsip GCG yang diatur dalam Peraturan Menteri Negara Badan
Usaha Milik Negara Nomor: PER-01/MBU/2011, meliputi:
1. Transparansi (transparency), yaitu keterbukaan dalam melaksanakan
proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengungkapkan
informasi material dan relevan mengenai perusahaan.
2. Akuntabilitas (accountability), yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan dan
pertanggung jawaban organ sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana
secara efektif.
3. Pertanggung jawaban (responsibility), yaitu kesesuaian di dalam
pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan dan
prinsip-prinsip korporasi yang sehat.
4. Kemandirian (independency), yaitu keadaan di mana perusahaan dikelola
secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari
pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan
dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.
5. Kewajaran (fairness), yaitu keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi
hak-hak pemangku kepentingan (stakeholders) yang timbul berdasarkan
perjanjian dan peraturan perundang-undangan.
Prinsip–prinsip good corporate governance yang banyak dijadikan acuan
internasional
dibuat
oleh
Organisation
For
Economic
Co-operation
and
Development (OECD) pada tahun 2004. Prinsip-prinsip OECD tersebut meliputi
enam prinsip pokok sebagai berikut:
1. Menjamin Kerangka Dasar Tata Kelola Perusahaan yang Efektif (Ensuring the
basis for an Effective Corporate Governance Framework)
23
Kerangka corporate governance mendorong transparansi dan efisiensi pasar
sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh regulator dan memisahkan fungsi
serta tanggung jawab otoritas-otoritas yang memiliki fungsi pengaturan,
pengawasan, dan penegakan hukum untuk menciptakan tata kelola perusahaan
yang efektif.
2. Perlindungan Terhadap Hak-hak Para Pemegang Saham (The Rights of
Shareholders)
Prinsip ini mengatur mengenai hak-hak pemegang saham dan fungsi kepemilikan
saham. Hak-hak pemegang saham dapat meliputi adanya jaminan kepemilikan
saham yang sah, hak memperoleh informasi yang relevan, dapat memberikan hak
suara dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham), memilih dan mengganti
dewan, dapat mengalihkan saham, dan memperoleh hak atas keuntungan
perusahaan.
3. Perlakuan yang Sama terhadap Pemegang Saham (The Equitable Treatment of
Shareholders)
Pasar modal harus dapat melindungi investor dari perlakuan yang merugikan dari
manajer, dewan komisaris, dewan direksi, atau pemegang saham utama
perusahaan. Semua pemegang saham baik mayoritas, minoritas, ataupun
pemegang saham asing akan diperlakukan secara sama dan memperoleh
kesempatan yang sama dalam kompensasi atas pelanggaran yang dilakukan.
4. Peran Stakeholders dalam Tata Kelola Perusahaan (The Role of Stakeholders in
Corporate Governance)
Peran Stakeholders dalam corporate governance mencakup hak-hak stakeholders
yang didasarkan pada ketentuan hukum melalui perjanjian mutual yang
24
mendorong kerja sama antara perusahaan dengan stakeholders agar tercipta
kesejahteraan, lapangan kerja, dan kesinambungan pertumbuhan kondisi keuangan
perusahaan.
5. Pengungkapan dan Transparansi (Disclosure and Transparency)
Informasi yang ada dalam perusahaan harus terbuka, tepat waktu, jelas, dan dapat
dibandingkan dari segi keuangan, pengelolaan perusahaan, serta kepemilikan
perusahaan.
6. Tanggung Jawab Dewan Komisaris dan Direksi (The Responsibility of the Board)
Penerapan corporate governance menjamin adanya pemantauan efektif yang
dilakukan oleh dewan dan akuntabilitas dewan komisaris atas kinerja manajemen
dalam pengelolaan perusahaan maupun terhadap pemegang saham.
2.1.2.3 Manfaat Good Corporate Governance
Tata kelola perusahaan yang baik dapat mengurangi konflik dan perbedaan
kepentingan antara pemegang saham dan manajer (Roodposhti dan Chashmi, 2011).
Hal ini disebabkan karena penerapan corporate governance yang baik, tidak hanya
melindungi kepentingan investor, tetapi juga memberikan manfaat dan keuntungan
bagi perusahaan dan pihak lain yang mempunyai hubungan dengan perusahaan.
Manfaat penerapan GCG menurut Tris Sudarto selaku Direktur Keuangan PT
Kliring Berjangka Indonesia (Persero) dalam acara Accounting Series ke enam yang
diselenggarakan oleh Universitas Al-Azhar Indonesia, yaitu:
1. Informasi yang disampaikan kepada stakeholders dapat dijadikan gambaran
dalam pengambilan keputusan, contohnya keputusan untuk berinvestasi
dalam perusahaan tersebut.
2. Perusahaan dapat dengan mudah memperoleh akses permodalan, seperti
contohnya dapat diperoleh modal dari pasar modal sehingga cost of funding
menjadi lebih murah.
25
3. Membantu dalam setiap pengambilan keputusan, baik yang bersifat
ekonomis maupun strategis.
4. Meningkatkan keyakinan terhadap stakeholders.
5. Apabila direksi dan komisaris dalam menjalankan tugasnya sudah sesuai
dengan prinsip GCG, jika suatu hari terjadi kesalahan, direksi dan komisaris
tidak akan dituntut sepanjang direksi dan komisaris tidak berbuat curang.
Manfaat lain yang diperoleh dari penerapan GCG adalah minimalisasi biaya modal
(cost of capital) perusahaan yang dapat memperkuat kinerja keuangan perusahaan.
Selain itu, tata kelola perusahaan yang baik akan menciptakan paradigma positif atas
nilai perusahaan bagi kreditur dan investor karena meningkatkan produktivitas dan
efisiensi usaha perusahaan.
2.1.3 Wajibnya Penerapan Good Corporate Governance
Wajibnya penerapan GCG ditetapkan oleh peraturan menteri negara Badan
Usaha Milik Negara (BUMN) nomor PER-01/MBU/2011 yang di otorisasi pada
tanggal 1 Agustus 2011. Wajibnya penerapan GCG bagi perusahaan BUMN dilatar
belakangi oleh adanya pembaharuan hukum di bidang perseroan terbatas dan badan
usaha milik negara, serta memperhatikan perkembangan dunia usaha yang semakin
dinamis dan kompetitif. Dalam pasal 4 peraturan menteri negara BUMN nomor
PER-01/MBU/2011 dinyatakan bahwa, tujuan diwajibkannya penerapan prinsip
GCG pada perusahaan BUMN adalah untuk meningkatkan daya saing BUMN,
mendorong pengelolaan BUMN secara profesional, efektif dan efisien, pengambilan
keputusan yang seusai dengan nilai moral dan peraturan perundang-undangan,
meningkatkan perekonomian nasional, serta meningkatkan perkembangan investasi
nasional.
26
2.1.4 Mekanisme Penerapan Corporate Governance
Mekanisme corporate governance merupakan prosedur dan hubungan yang
jelas antara pihak yang mengambil keputusan dengan pihak yang melakukan kontrol
atau pengawasan terhadap keputusan. Chen et al. (2009) menyatakan bahwa
mekanisme corporate governance yang efektif dapat memperluas tingkat kebebasan
perusahaan untuk mengambil keputusan yang tepat waktu dan dapat meningkatkan
nilai perusahaan.
Mekanisme corporate governance dibagi menjadi mekanisme internal dan
eksternal (Babatunde dan Olaniran, 2009). Mekanisme internal melibatkan kerja
sama antara pemegang saham, dewan komisaris, dan manajemen yang nantinya
dapat menyeimbangkan kekuatan tiga pihak tersebut. Mekanisme eksternal terdiri
dari peraturan dan hukum terkait perlindungan pemegang saham, konsumen,
karyawan, badan, praktik akuntansi, dan audit internal.
2.1.4.1 Corporate Governance Perception Index (CGPI)
CGPI merupakan pemeringkatan GCG berdasarkan riset yang dirancang
untuk mendorong perusahaan dalam meningkatkan kualitas penerapan GCG melalui
perbaikan yang berkesinambungan dengan melaksanakan evaluasi dan melakukan
studi banding (www.iicg.org). CGPI didapatkan dari penilaian Indonesian Institute
for Corporate Governance (IICG) yang bekerja sama dengan majalah SWA sejak
tahun 2001. CGPI berupa skor (index) dengan kisaran nilai 0% - 100%. Skor ini
berupa persentase yang dihasilkan dari penilaian terhadap pelaksanaan GCG pada
perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Penilaian praktik GCG dilakukan dengan metode total skor tertimbang (total
weighted score) dan teknik check and balance (Rebecca, 2012). Metode total skor
27
tertimbang digunakan untuk mengevaluasi tingkat penerapan corporate governance
(CG) pada masing-masing perusahaan. Teknik check and balance digunakan untuk
menghindari unsur subjektivitas dalam mengevaluasi praktek CG pada masingmasing perusahaan. Hasil penilaian tersebut kemudian diinterpretasikan dalam
kriteria seperti yang dijabarkan pada tabel 2.1.
Tabel 2.1 Kriteria Penilaian Praktek Good Corporate Governance
Persentase Nilai
Kategori Peringkat
85-100%
Sangat Terpercaya
Kesimpulan
Perusahaan
telah
menerapkan
dan
mematuhi standar penerapan GCG yang
ditetapkan pemerintah dengan baik.
70-84%
Terpercaya
Perusahaan telah memenuhi lebih dari
persyaratan
kurang
peraturan
dari
ditetapkan,
standar
minimum
dan
umum
yang
namun
menunjukkan
komitmen positif terhadap praktik good
corporate governance.
55-69%
Cukup Terpercaya
Perusahaan telah memenuhi persyaratan
peraturan
minimum
menunjukkan
terhadap
dan
komitmen
praktik
good
belum
yang
cukup
corporate
governance.
Sumber: www.iicg.org - Profil CGPI tahun 2012 (Hasil Olahan Penulis)
Manfaat CGPI dalam Profile CGPI 2012 (www.iicg.org), antara lain:
1. Penataan organisasi perusahaan yang belum sesuai dan belum mendukung
terwujudnya GCG.
2. Peningkatan kesadaran dan komitmen bersama dari internal perusahaan dan
stakeholder terhadap penerapan GCG.
3. Pemetaan masalah-masalah strategis dalam praktik GCG.
4. Alternatif perbaikan indikator atau standar mutu pencapaian kualitas GCG.
28
2.1.4.2 Struktur Kepemilikan
Struktur kepemilikan merupakan persentase saham yang dimiliki oleh
pemegang saham internal maupun eksternal yang menunjukkan besarnya kontrol dan
kepentingan pemilik dalam perusahaan. Struktur kepemilikan digunakan untuk
menunjukkan bahwa variabel penting dalam struktur modal tidak hanya ditentukan
oleh utang dan ekuitas, tetapi dipengaruhi pula oleh kepemilikan manajerial dan
institusional. Struktur kepemilikan akan memberikan motivasi yang berbeda dalam
memonitor kinerja perusahaan, manajemen, dan dewan direksi. Menurut Jensen dan
Meckling (1976), struktur kepemilikan mendasari penerapan corporate governance
yang dapat meminimalisasi masalah yang timbul dalam hubungan keagenan.
2.1.4.2.1 Kepemilikan Manajerial
Kepemilikan manajerial adalah proporsi pemegang saham dari manajemen
yang aktif dalam pengambilan keputusan, seperti direksi, manajer, karyawan, dan
perangkat internal perusahaan. Kepemilikan manajerial memiliki peran yang penting
dalam menyelaraskan perbedaan kepentingan antara manajemen dengan pemegang
saham dan pemangku kepentingan lainnya. Menurut Jensen dan Meckling (1976),
kepemilikan saham oleh manajemen yang rendah dapat menyebabkan meningkatnya
perilaku opportunistic manajer dalam perusahaan. Sebaliknya, semakin besar porsi
kepemilikan manajerial suatu perusahaan, maka manajemen akan berupaya lebih
untuk memenuhi kepentingan pemegang saham dan juga dirinya sendiri sebagai
bagian dari pemegang saham.
Siallagan dan Machfoedz (2006) yang dikutip oleh Kenniady (2011)
menemukan bahwa hubungan kepemilikan manajerial dengan kinerja perusahaan,
digambarkan sebagai berikut:
29
Tabel 2.2 Hubungan Kepemilikan Manajerial dengan Kinerja Perusahaan
Level
0-5%
5-25%
25-50%
>50%
Hubungan Kepemilikan
Non Linear
Negatif
Positif
Negatif
Kepemilikan manajerial akan mempengaruhi cara manajemen dalam menjalankan
kegiatan perusahaan atau pengambilan kebijakan perusahaan yang bermanfaat bagi
tercapainya tujuan perusahaan. Sehingga, kepemilikan manajerial akan mampu
menurunkan konflik antara manajemen dengan pemegang saham. Pernyataan ini
didukung oleh penelitian Ali et al. (2008) yang menemukan bahwa konflik antara
manajer dan pemegang saham mengalami penurunan apabila kepemilikan saham
yang dimiliki oleh manajemen mengalami peningkatan dalam perusahaan.
2.1.4.2.2 Kepemilikan Institusional
Kepemilikan institusional merupakan kepemilikan saham perusahaan yang
dimiliki oleh pemerintah, perusahaan investasi, bank, perusahaan asuransi, institusi
luar negeri, dan institusi lainnya (Juniarti dan Sentosa, 2009). Tingkat kepemilikan
institusional dapat mempengaruhi besarnya pengawasan dalam operasional
perusahaan yang menyebabkan optimalisasi nilai perusahaan. Hal ini dibuktikan oleh
Wening (2009) yang dikutip Kenniady (2011) dalam penelitiannya yang
menunjukkan bahwa semakin besar kepemilikan oleh institusi keuangan, maka akan
memperbesar kekuatan suara dan dorongan untuk mengoptimalkan nilai perusahaan.
Penelitian Barnae dan Rubin (2006) menyatakan bahwa kepemilikan
institusional pada tingkat yang tinggi akan memperbesar kekuatan suara dalam
mengoptimalkan nilai perusahaan. Kepemilikan institusional dalam perusahaan
penting untuk meningkatkan pengawasan yang lebih optimal terhadap manajemen
30
dalam mengelola perusahaan. Sehingga, manajemen dapat menerapkan GCG dengan
baik dan menjamin kelangsungan hidup perusahaan, serta menunjukkan tanggung
jawab terhadap stakeholder.
Proporsi kepemilikan institusional yang dominan dalam perusahaan akan
menjadi lebih penting karena dapat digunakan untuk menyelaraskan kepentingan
manajemen dengan pemegang saham (Solomon dan Solomon, 2004). Manfaat
kepemilikan institusional juga terlihat melalui penelitian Cornett et al. (2006) yang
membuktikan bahwa tindakan pengawasan yang dilakukan oleh investor institusional
dapat membatasi perilaku manajemen dan mendorong fokus manajemen terhadap
kinerja perusahaan.
2.1.4.3 Kualitas Audit
Kualitas audit memiliki peranan penting dalam penyajian informasi keuangan
yang akurat dan transparan. Oleh karena itu, semakin tinggi integritas Kantor
Akuntan Publik (KAP), maka semakin tinggi tingkat kepercayaan pengguna laporan
keuangan atas laporan keuangan yang telah di audit tersebut. Hal ini tentu akan
mempengaruhi investor dalam mengambil keputusan investasi.
Francis dan Yu (2009) membuktikan bahwa kualitas audit pada KAP big four
memiliki kualitas audit yang lebih tinggi. KAP yang tergolong dalam big four yaitu
Price waterhouse Coopers (PwC), Ernst & Young (EY), Deloitte, dan KPMG. KAP
big four dinilai memiliki kualitas audit yang lebih tinggi dibandingkan dengan KAP
non big four dikarenakan pengalaman dan pelatihan dalam KAP big four yang lebih
baik. Fernando et al. (2010) menyatakan bahwa spesialisasi auditor merupakan
strategi diferensiasi yang bertujuan untuk menyediakan auditor dengan keunggulan
kompetitif yang berkelanjutan.
31
2.1.5 Biaya Ekuitas
Biaya ekuitas adalah suatu rate tertentu yang harus dicapai oleh perusahaan
dalam memenuhi imbalan yang diharapkan oleh para pemegang saham biasa atas
dana yang telah ditanamkan pada perusahaan tersebut sesuai dengan risiko yang
diterimanya (Bodie, Kane, dan Marcus, 2009). Tamara (2012) membuktikan bahwa
biaya ekuitas dapat diturunkan dengan pengungkapan informasi keuangan yang lebih
luas. Sementara itu, pengungkapan informasi yang lebih baik dapat mengurangi
asimetri informasi. Penurunan asimetri informasi dapat menarik minat investor untuk
berinvestasi di perusahaan tersebut, karena nilai perusahaan terlihat jelas melalui
laporan keuangannya.
Perhitungan biaya ekuitas umumnya dilakukan dengan menggunakan
Capital Asset Pricing Model (CAPM). CAPM adalah model yang menggambarkan
hubungan antara risiko dengan tingkat pengembalian yang diharapkan (Tjiptono D.
Dan Hendy M.F., 2009:204). CAPM merupakan salah satu model untuk menghitung
tingkat
pengembalian
yang
diharapkan
oleh
para
investor.
Model
ini
memperhitungkan risiko sistematis atau risiko pasar yang sering kali disimbolkan
dengan beta (β) pada industri keuangan. Selain itu, model CAPM juga
memperhitungkan hasil yang diharapkan dari pasar dan nilai pengembalian yang
bebas risiko. Pendekatan ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana pasar harus
menetapkan harga yang aman dan sesuai dengan tingkat resiko investor.
CAPM dikembangkan pertama kali pada tahun 1960 oleh William F. Sharpe
yang mendefinisikan CAPM sebagai berikut: “A Model based on the proposition that
any stock’s required rate of return is equal to the risk free of return plus a risk
premium,when risk reflect diversification”. Persamaan umum dari CAPM
digambarkan sebagai berikut:
32
=
Keterangan:
E(Ri) : hasil yang diharapkan dari CAPM atau tingkat pengembalian harapan
Rf
: tingkat pengembalian bebas risiko yang berasal dari BI rate atau suku bunga
deposito
βi
: sensitivitas dari pengembalian aset yang diharapkan
E(Rm) : tingkat pengembalian yang diharapkan dari pasar dengan data yang
diperoleh dari pergerakan harga saham IHSG
Beta (βi) yang digunakan dalam persamaan diatas didefinisikan sebagai
ukuran resiko relatif yang mencerminkan resiko relatif saham individual terhadap
portofolio pasar saham secara keseluruhan (Tandelilin, 2010:522). Beta bernilai 1
menunjukkan harga saham bergerak mengikuti pasar, beta lebih dari 1 menunjukkan
harga saham yang fluktuatif/volatil, sedangkan beta kurang dari 1 berarti harga
saham tidak berfluktuatif seiring dengan kondisi pasar (Fakhruddin, 2008).
Penelitian ini menghitung beta dengan mengaplikasikan fungsi slope dalam
microsoft excel. Fungsi slope memasukkan perhitungan tingkat pengembalian aktual
berdasarkan harga saham perusahaan dan tingkat pengembalian dengan dasar
pergerakan harga IHSG.
Gambar 2.1 Grafik Security Market Line (SML)
33
Grafik tersebut menggambarkan hubungan antara beta dengan tingkat
pengembalian aset. Beta merupakan suatu ukuran angka koefisien yang
menggambarkan sensitivitas respon suatu saham terhadap pasar dengan tingkat
pengembalian bebas risiko (Tjiptono D. dan Hendy M.F., 2009:204). Berdasarkan
model CAPM, ada beberapa elemen penting yang menggambarkan hubungan antara
risiko dan return, diantaranya adalah:
1. Saham adalah aset yang berisiko, karena tingkat imbal hasilnya berfluktuasi.
2. Ukuran statistik yang digunakan untuk mengukur risiko adalah standar deviasi.
3. Risiko saham dapat dibagi menjadi dua, yaitu risiko perusahaan dan risiko pasar.
4. Risiko perusahaan dapat timbul karena faktor internal (bisnis perusahaan) dan
faktor eksternal (ekonomi makro).
5. Diversifikasi portofolio hanya menghilangkan risiko perusahaan dan bukan risiko
pasar. Hanya risiko pasarlah yang merupakan risiko relevan bagi investor yang
rasional dan berdiversifikasi dengan baik.
6. Beta mengukur tingkat sensitivitas pergerakan saham individual terhadap
pergerakan harga pasar.
2.1.6 Actual Return
Tingkat pengembalian aktual (actual return) merupakan suatu nilai yang
didapatkan dari aktivitas investasi dan kegiatan bisnis. Biasanya sebelum membuat
keputusan investasi, seseorang akan melakukan perhitungan expected return untuk
menentukan batas tingkat pengembalian yang diharapkan dengan hasil perhitungan
yang nantinya akan dibandingkan dengan actual return yang terjadi. Risiko yang
memungkinkan timbulnya tingkat pengembalian aktual yang berbeda dengan tingkat
pengembalian yang diharapkan, antara lain: (Husnan, 2003:50)
34
a. Risiko sistematis (systematic risk) atau risiko pasar (general risk) merupakan
risiko yang tidak dapat dihilangkan dengan melakukan diversifikasi, berkaitan
dengan faktor makroekonomi yang mempengaruhi pasar. Faktor-faktor tersebut
meliputi, tingkat bunga, kurs, inflasi dan kebijakan pemerintah.
b. Risiko tidak sistematis (unsystematic risk) atau risiko perusahaan (risiko spesifik)
yaitu risiko yang dapat dihilangkan dengan melakukan diversifikasi, karena hanya
ada dalam satu perusahaan atau industri tertentu.
Secara umum, tingkat pengembalian aktual dapat dihitung dengan rumus
berikut:
Keterangan:
Rit
: Tingkat pengembalian saham i pada waktu ts
Pit
: Harga saham i pada waktu t
Pit-1
: Harga saham t pada waktu t-1
Tingkat pengembalian aktual dapat dihitung dengan membandingkan selisih harga
yang dibuka pada awal hari transaksi dengan harga penutupan pada hari yang lalu,
kemudian selisih tersebut dibandingkan dengan harga pada saat penutupan di hari
sebelumnya.
2.1.7 Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
BUMN merupakan salah satu pelaku kegiatan ekonomi yang penting di
dalam perekonomian nasional yang bersama-sama dengan pelaku ekonomi swasta
dan koperasi menjadi bentuk dari demokrasi ekonomi yang akan terus dikembangkan
secara bertahap dan berkelanjutan. Kementerian BUMN lahir dari transformasi unit
35
kerja Eselon II Departemen Keuangan (1973-1993) yang berubah menjadi unit kerja
Eselon I (1993-1998 dan 2000-2001) dan kini unit kerja tersebut dikenal dengan
nama BUMN (www.bumn.go.id).
BUMN didasari oleh beberapa kebijakan yang tertuang dalam undangundang. Dasar kebijakan pembinaan BUMN digambarkan seperti pada gambar 2.2
(www.bumn.go.id).
Gambar 2.2 Dasar Kebijakan Pembinaan Badan Usaha Milik Negara
Bentuk BUMN terdiri dari Perusahaan Perseroan (PERSERO) dan
Perusahaan Umum (PERUM). Persero adalah BUMN berbentuk perseroan terbatas
yang paling sedikit 51% sahamnya dimiliki oleh Negara Republik Indonesia dengan
tujuan utama untuk mencapai keuntungan. Perum adalah BUMN yang seluruh
modalnya dimiliki negara dan tidak terbagi atas saham. Perum bertujuan untuk
36
menyediakan barang atau jasa bermutu tinggi dan mengejar keuntungan berdasarkan
prinsip pengelolaan perusahaan.
Tugas pokok dan fungsi kementerian BUMN berdasarkan Per-05/MBU/2010,
yaitu:
Tugas : Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang
Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara, tugas Kementerian
BUMN adalah membidangi urusan Pemerintahan di bidang pembinaan
badan usaha milik negara dalam pemerintahan untuk membantu Presiden
dalam menyelenggarakan pemerintahan negara.
Fungsi : Dalam melaksanakan tugasnya, kementerian BUMN menyelenggarakan
beberapa fungsi berikut:
a. Perumusan dan penetapan kebijakan di bidang pembinaan badan usaha
milik negara;
b. Koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidang
pembinaan badan usaha milik negara;
c. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung
jawab Kementerian BUMN; dan
d. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian
BUMN.
2.2
Kerangka Pemikiran
Penelitian ini dikembangkan dari penelitian Yulissa Rebecca (2012) dengan
menggabungkan gagasan dari penelitian Byun et al. (2008), Siswardika Susanto
(2012), Shah dan Butt (2009), serta Regalli dan Soana (2012). Penelitian ini
bertujuan untuk menguji pengaruh dari komponen corporate governance terhadap
37
besarnya nilai biaya ekuitas pada perusahaan di Indonesia yang diwakili oleh
perusahaan BUMN yang telah go public, dengan periode analisis tahun 2009-2012.
Berikut adalah gambaran kerangka pemikiran yang menjadi landasan dilakukannya
penelitian ini.
Gambar 2.3 Kerangka Pemikiran Penelitian
Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor:
PER-01/MBU/2011
Faktor Eksternal
Good Corporate Governance
Analisis Sebelum
Diwajibkan
(2009-2010)
Faktor Internal
Analisis Sesudah
Diwajibkan
(2011-2012)
Variabel Kontrol
Variabel Independen
Corporate Governance
Perception Index
Periode
Waktu
Kualitas
Audit
Variabel Independen
Kepemilikan
Institusional
Kepemilikan
Manajerial
Variabel Dependen
Biaya Ekuitas
38
2.3
Model Penelitian
Model penelitian yang digunakan terdiri dari variabel dependen, variabel
independen, dan variabel kontrol. Penelitian ini menggunakan biaya ekuitas sebagai
variabel dependen, sementara variabel independen yang digunakan meliputi
penilaian internal perusahaan secara keseluruhan yang diwakili oleh corporate
governance index, struktur kepemilikan perusahaan, dan kualitas audit yang menilai
akurasi penyajian informasi keuangan perusahaan. Variabel kontrol dalam penelitian
ini adalah periode waktu yang timbul karena adanya perbedaan waktu sebelum dan
sesudah GCG diwajibkan oleh pemerintah. Berikut adalah gambaran model
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini.
Gambar 2.4 Model Penelitian
2.4
Perumusan Hipotesis
2.4.1 Perbedaan Nilai Biaya Ekuitas Sebelum dan Sesudah Diwajibkannya
Penerapan GCG
Pada tahun 2011, pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Negara Badan
Usaha Milik Negara Nomor: PER-01/MBU/2011 yang mewajibkan penerapan GCG
39
pada peruahaan BUMN. Kebijakan ini tentu akan memberikan dampak yang positif
bagi perusahaan BUMN seperti penurunan biaya ekuitas, jika GCG memang benarbenar diterapkan dengan baik.
GCG merupakan salah satu komponen penting yang dapat meningkatkan
kualitas perusahaan melalui transparansi informasi keuangan yang berdampak pada
penurunan biaya ekuitas perusahaan. Hal ini dibuktikan oleh penelitian Byun et al.
(2008) yang menemukan bahwa corporate governance dapat menurunkan asimetri
informasi dan masalah keagenan antara pemegang saham dan manajemen. Dengan
demikian, corporate governance yang diterapkan dengan baik akan mampu menarik
minat investor dengan menurunkan biaya ekuitas. Penelitian Brown dan Caylor
(2006) juga menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang menerapkan GCG
akan mengalami peningkatan kinerja perusahaan secara signifikan.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka dihasilkan hipotesis berikut:
Ha1:
Adanya penurunan nilai biaya ekuitas yang signifikan setelah
diwajibkannya penerapan Good Corporate Governance.
2.4.2 Pengaruh Corporate Governance Perception Index Terhadap Biaya
Ekuitas
CGPI merupakan suatu index dalam bentuk persentase yang nilainya
didapatkan dari penilaian atas pelaksanaan GCG dalam suatu perusahaan. Besar
index CGPI dapat mewakili kualitas perusahaan yang mempengaruhi nilai biaya
ekuitas suatu perusahaan. Penelitian dari Rebecca (2012) menunjukkan bahwa CGPI
berpengaruh negatif signifikan terhadap biaya ekuitas dan biaya utang. Hasil
penelitian Rebecca sesuai dengan penelitian Byun et al. (2008) yang menggunakan
hasil survei dari Korea Corporate Governance Service (KCGS) untuk mengevaluasi
40
penerapan corporate governance pada perusahaan-perusahaan di Korea Selatan.
Byun et al. menemukan bahwa praktik corporate governance memiliki hubungan
negatif dengan biaya ekuitas dan perlindungan terhadap hak pemegang saham.
Lembaga yang mengukur indeks coporate governance di setiap negara
berbeda-beda. Regalli dan Soana (2012) meneliti pengaruh corporate governance
index dengan menggunakan Gompers Index yang terbukti memberikan pengaruh
yang berbanding terbalik dengan biaya ekuitas, atau dengan kata lain Gompers Index
yang tinggi akan menurunkan biaya ekuitas. Sementara itu, Derwall et al. (2007)
menguji kualitas coporate governance di Amerika dengan menggunakan
Governance Metrics International (GMI). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa
perusahaan dengan kualitas corporate governance yang baik akan memiliki biaya
ekuitas yang rendah.
Berdasarkan pertimbangan atas beberapa hasil penelitian diatas, maka
dihasilkan hipotesis berikut:
Ha2: Corporate governance perception index berpengaruh negatif signifikan
terhadap biaya ekuitas.
2.4.3 Pengaruh Kepemilikan Manajerial Terhadap Biaya Ekuitas
Kepemilikan manajerial diartikan sebagai proporsi pemegang saham dari
pihak manajemen yang aktif dalam pengambilan keputusan perusahaan (Diyah dan
Widanar, 2009). Kepemilikan saham manajerial dapat menyatukan kepentingan
antara manajer dan pemegang saham, sehingga manajer ikut memperoleh langsung
manfaat dari keputusan yang diambil dan menanggung konsekuensi dari
pengambilan keputusan yang salah. Jumlah kepemilikan saham manajerial pada
perusahaan di Indonesia relatif masih sangat kecil, terutama dalam perusahaan
41
BUMN yang dominan sahamnya dimiliki oleh institusi pemerintah. Namun,
minimnya kepemilikan manajerial dalam beberapa perusahaan di Indonesia tetap
akan memberikan pengaruh bagi kualitas suatu perusahaan, karena manajemen
memegang banyak peranan penting dalam perusahaan, seperti pengelolaan
operasional, pengambilan keputusan, penyajian laporan keuangan, dan memonitor
tercapainya tujuan perusahaan. Hal ini menjadikan kepemilikan manajerial sebagai
salah satu tolak ukur penilai kualitas GCG dalam suatu perusahaan.
Penelitian yang dilakukan oleh Shah dan Butt (2009) menunjukkan bahwa
kepemilikan manajerial dapat menurunkan biaya ekuitas perusahaan secara tidak
signifikan. Di Indonesia penelitian yang melihat pengaruh kepemilikan manajerial
terhadap biaya ekuitas cukup jarang ditemukan, namun Aprina (2012) menunjukkan
bahwa kepemilikan manajerial tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja
perusahaan yang mempengaruhi penilaian biaya ekuitas suatu perusahaan.
Berdasarkan paparan diatas, maka dihasilkan hipotesis berikut:
Ha3: Kepemilikan manajerial berpengaruh negatif signifikan terhadap biaya
ekuitas.
2.4.4 Pengaruh Kepemilikan Institusional Terhadap Biaya Ekuitas
Kepemilikan institusional merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi kinerja perusahaan karena dapat meningkatkan tingkat pengawasan
yang lebih optimal terhadap kinerja manajemen (Wening, 2009 dalam Kenniady,
2011). Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk membuktikan pentingnya
kepemilikan institusional dalam mencapai GCG, namun pengaruh kepemilikan
institusional ditemukan tidak banyak berpengaruh terhadap biaya ekuitas. Hal ini
diyakini berbeda dengan perusahaan BUMN yang 51% kepemilikan sahamnya
42
dipegang oleh institusi pemerintah yang dinilai lebih menjamin kualitas perusahaan.
Sehingga penelitian ini akan membuktikan efektivitas pengaruh kepemilikan
institusional dalam perusahaan BUMN terhadap penurunan biaya ekuitas perusahaan
yang dinilai penting bagi investor.
Penelitian Regalli dan Soana (2012) serta Ashbaugh et al. (2004) menemukan
bahwa proporsi investasi institusional yang besar dapat memperbesar biaya ekuitas
suatu perusahaan. Rebecca (2012) juga membuktikan bahwa kepemilikan
institusional tidak berpengaruh signifikan terhadap biaya ekuitas, tetapi berpengaruh
negatif signifikan terhadap biaya utang. Namun, penelitian Collins dan Huang (2010)
mampu membuktikan bahwa kepemilikan institusional berdampak negatif terhadap
biaya ekuitas perusahaan.
Berdasarkan penjelasan dan hasil penelitian terdahulu, maka dihasilkan
hipotesis berikut:
Ha4:
Kepemilikan institusional berpengaruh negatif signifikan terhadap
biaya ekuitas.
2.4.5 Pengaruh Kualitas Audit Terhadap Biaya Ekuitas
Kualitas audit merupakan salah satu komponen yang menentukan kualitas
dan akurasi informasi suatu laporan keuangan. Laporan keuangan yang transparan,
akurat, dan reliable diyakini akan mampu menurunkan asimetri informasi yang
berdampak pada penurunan biaya ekuitas. Sehingga, diperlukan komite auditor
independen yang terpercaya seperti yang masuk dalam kategori KAP big four.
Komite audit yang masuk dalam big four memiliki kualitas audit yang lebih baik
karena memiliki pemahaman lebih atas proses penyusunan laporan keuangan,
43
sehingga risiko informasi yang dimiliki oleh investor akan berkurang dan required
rate of return akan lebih rendah (Susanto, 2012).
Hasil penelitian Khurana dan Raman (2004) menunjukkan pengaruh dari
kualitas audit terhadap kredibilitas suatu laporan keuangan yang menyebabkan
penurunan biaya ekuitas. Pentingnya kualitas audit yang dihasilkan oleh komite audit
terbaik didukung oleh penelitian Ashbaugh, Collins, dan La Fond (2004) yang
menemukan bahwa perusahaan yang memiliki komite audit independen yang lebih
baik akan mempunyai biaya ekuitas yang lebih rendah.
Berdasarkan beberapa hasil penelitian diatas, maka dihasilkan hipotesis
berikut:
Ha5:
Kualitas audit berpengaruh negatif signifikan terhadap biaya ekuitas.
44
Download