program pemberdayaan small and medium

advertisement
BAB II
PENDEKATAN TEORITIS
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Pengertian Pengembangan Masyarakat (Community Development)
Menurut Warren dan Cottrell (1990) dalam Budimanta (2003), komuniti
adalah sekelompok manusia yang mendiami wilayah tertentu dimana seluruh
anggotanya berinteraksi satu sama lain, mempunyai pembagian peranan status
yang jelas, mempunyai pembagian peran dan status yang jelas, mempunyai
kemampuan untuk memberikan pengaturan terhadap anggota-anggotanya.
Komuniti biasanya dikuatkan oleh hubungan kerabat, hubungan kerja, hubungan
profesi.
Secara hakekat, community development merupakan suatu proses
adaptasi sosial budaya yang dilakukan oleh industri, pemerintah pusat dan
daerah terhadap kehidupan komuniti-komuniti lokal. Sebagai salah satu elemen,
berarti industri masuk dalam struktur sosial masyarakat setempat dan berfungsi
terhadap elemen lainnya yang ada. Dengan kesadarannya, industri harus dapat
membawa komuniti-komuniti lokal bergerak menuju kemandiriannya tanpa
merusak tatanan sosial budaya yang sudah ada. Dengan kata lain masyarakat
terdiri dari komuniti lokal, komuniti pendatang dan komuniti industri yang
kesemua komuniti tersebut saling mempengaruhi, berinteraksi dan beradaptasi
sebagai anggota masyarakat.
Secara umum community development adalah kegiatan pengembangan
masyarakat yang dilakukan secara sistematis, terencana dan diarahkan untuk
memperbesar akses masyarakat guna mencapai kondisi sosial, ekonomi, dan
kualitas kehidupan yang lebih baik apabila dibandingkan dengan kegiatan
pembangunan sebelumnya (Budimanta, 2003).
Definisi lain mengenai community development adalah sebagai metode
yang memungkinkan orang dapat meningkatkan kualitas hidupnya serta mampu
memperbesar
pengaruhnya
terhadap
proses-proses
yang
mempengaruhi
kehidupannya. Terkait dengan community development, pemberdayaan pada
dasarnya memiliki unsur pokok, yaitu partisipasi. Partisipasi merupakan
komponen penting dalam pembangkitan kemandirian dan proses pemberdayaan.
Pemberdayaan dan partisipasi merupakan hal yang menjadi perhatian dan tidak
dapat dipisahkan. Dalam organisasi, proses pemberdayaan akan berlangsung
baik jika didukung partisipasi baik dari pihak manajemen maupun masyarakat.
Pemberdayaan dan partisipasi merupakan strategi yang sangat potensial dalam
rangka meningkatkan ekonomi, sosial dan transformasi budaya. Menurut Ife
(1995), pemberdayaan memiliki dua pengertian kunci yaitu kekuasaan dan
kelompok lemah. Kekuasaan diartikan bukan hanya menyangkut kekuasaan
politik dalam arti sempit, melainkan kekuasaan atau penguasaan klien atas:
1. Pilihan-pilihan personal dan kesempatan-kesempatan hidup: kemampuan
dalam membuat keputusan-keputusan mengenai gaya hidup, tempat tinggal
dan pekerjaan.
2. Pendefinisian kebutuhan: kemampuan menentukan kebutuhan selaras dengan
aspirasi dan keinginannya.
3. Ide atau gagasan: kemampuan mengekspresikan dan menyumbangkan
gagasan dalam suatu forum atau diskusi secara bebas dan tanpa tekanan.
4. Lembaga-lembaga:
kemampuan
menjangkau,
menggunakan
dan
mempengaruhi pranata-pranata masyarakat, seperti lembaga kesejahteraan
sosial, pendidikan dan kesehatan.
5. Sumber-sumber: kemampuan memobilisasi sumber-sumber formal, informal
dan kemasyarakatan.
6. Aktivitas ekonomi: kemampuan memanfaatkan dan mengelola mekanisme
produksi, distribusi dan pertukaran barang serta jasa.
7. Reproduksi: kemampuan dalam kaitannya dengan proses kelahiran,
perawatan anak, pendidikan dan sosialisasi.
Kunci pengembangan masyarakat (community development) adalah
selalu bersumber pada keswadayaan lokal. Pengembangan
masyarakat
mengandung unsur partisipasi sebagai konsep utama dari kemandirian dari para
warga. Berkaitan dengan proses pelaksanaan pengembangan masyarakat,
terdapat beberapa asas dalam pengembangan masyarakat, yaitu: (1) komunitas
dilibatkan (partisipasi) dalam setiap proses pengambilan keputusan; (2)
mensinergikan strategi komprehensif pemerintah, pihak-pihak terkait (related
parties) dan partisipasi warga; (3) membuka akses warga atas bantuan
profesional, teknis, fasilitas, serta insentif lainnya agar meningkatkan partisipasi
warga; dan
(4) mengubah perilaku profesional agar lebih peka pada
kebutuhan, perhatian, dan gagasan warga komunitas.
2.1.2 Ruang Lingkup Community Development
Secara umum ruang lingkup program-program community development
dapat dibagi berdasarkan kategori sebagai berikut (Budimanta,2003):
1. Community Service : merupakan pelayanan korporat untuk memenuhi
kepentingan masyarakat ataupun kepentingan umum, seperti pembangunan
fasilitas umum antara lain pembangunan ataupun peningkatan sarana
transportasi/jalan, sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana peribadatan,
peningkatan
perbaikan
sanitasi
lingkungan,
pengembangan
kualitas
pendidikan (penyediaan guru, operasional sekolah), kesehatan (bantuan
tenaga paramedis, obat-obatan, penyuluhan peningkatan kualitas sanitasi
lingkungan permukiman), keagamaan dan lain sebagainya.
2. Community Empowering : adalah program-program yang berkaitan dengan
memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat untuk menunjang
kemandiriannya. Berkaitan dengan program ini adalah seperti pengembangan
ataupun penguatan kelompok-kelompok swadaya masyarakat, komuniti lokal,
organisasi profesi serta peningkatan kapasitas usaha masyarakat yang
berbasiskan sumber daya setempat.
3. Community
Relation
:
yaitu
kegiatan-kegiatan
yang
menyangkut
pengembangan kesepahaman melalui komunikasi dan informasi kepada para
pihak yang terkait. Seperti konsultasi publik, penyuluhan dan sebagainya.
2.1.3 Pendekatan Community Development
Sebagai suatu model alternatif pembangunan yang berpusat pada rakyat,
community development memiliki beberapa pendekatan yang harus diterapkan.
Pendekatan dalam pengembangan masyarakat menurut Long (1970) dalam
Nasdian (2003) dibagi menjadi enam pendekatan, antara lain:
1. Pendekatan Komunitas
Dalam pendekatan ini, komunitas diartikan sebagai kumpulan individu yang
masih memiliki tingkat kepedulian dan interaksi antar anggota masyarakat
yang menempati suatu wilayah yang relatif kecil dengan batas yang jelas.
Asumsi yang digunakan adalah perhatian warga komunitas pada upaya
perubahan, keberhasilan pengembangan masyarakat berkorelasi dengan
peluang warga untuk berpartisipasi, masalah dapat dipecahkan sesuai dengan
kebutuhan warga, dan pendekatan holistik adalah penting.
2. Pendekatan Kemandirian Informasi
Komunitas dipandang sebagai suatu sistem dan arus. Sebagai suatu sistem,
komunitas terdiri dari berbagai sub sistem yang saling berhubungan dan
bergantung. Komunitas digambarkan sebagai suatu proses perubahan yang
konstan dengan masa lalu.
3. Pendekatan Pemecahan Masalah
Asumsi yang digunakan dalam pendekatan ini adalah pendekatan pemecahan
masalah memandang manusia sebagai makhluk rasional, manusia dan
komunitasnya mampu menggabungkan masalah-masalah dan mencari solusi,
keberhasilan tergantung ketersediaan dan kemampuan peneliti.
4. Pendekatan Demonstrasi
Asumsi yang digunakan adalah manusia itu rasional, manusia mampu belajar,
tanpa kerjasama dan partisipasi, demonstrasi tidak akan berjalan, metode
berdasar fakta ilmiah dapat didemonstrasikan, perilaku penting dipelajari
melalui interaksi, warga komunitas mampu berinteraksi dan membentuk
lingkungannya.
5. Pendekatan Eksperimen
Asumsi yang digunakan pengembangan masyarakat membutuhkan percobaan
dan gagasan akan bernilai jika gagasan tersebut dapat dilaksanakan.
6. Pendekatan Konflik Kekuatan
Pendekatan ini menganggap komunitas sebagai suatu interaksi komponen
yang kompleks dan antar komponen saling mempengaruhi dari sektor privat
dan publik yang pada waktu dan situasi yang berbeda memiliki perbedaan
kapasitas dalam kekuasaan.
Pendekatan lain dalam pengembangan masyarakat yang lebih sederhana
dikemukakan oleh Batten (1967) dalam Adi (2003), yaitu pendekatan direktif
(instruktif) dan non-direktif (partisipatif). Pendekatan direktif didasarkan pada
asumsi bahwa community worker tahu apa yang dibutuhkan dan yang diinginkan
oleh masyarakat. Prakarsa dan pengambilan keputusan pada pendekatan ini
dipegang oleh pihak luar (community worker). Dalam prakteknya mungkin pihak
luar menanyakan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat atau cara apa yang
perlu dilakukan untuk menangani suatu masalah, tetapi jawaban yang muncul
dari masyarakat selalu diukur dari segi „baik‟ dan „buruk‟ menurut pihak luar
(community worker).
Pendekatan non-direktif didasarkan pada asumsi bahwa masyarakat tahu
apa yang sebenarnya mereka butuhkan dan apa yang baik untuk mereka.
Pendekatan ini menekankan bahwa pemeran utama dalam perubahan masyarakat
adalah masyarakat itu sendiri. Masyarakat diberikan kesempatan untuk membuat
analisis dan mengambil keputusan yang berguna bagi mereka sendiri, serta
mereka diberikan kesempatan penuh dalam penentuan cara-cara untuk mencapai
tujuan yang mereka inginkan.
2.1.4 Pemberdayaan Masyarakat
Konsep pemberdayaan dalam wacana pembangunan masyarakat selalu
dihubungkan dengan konsep mandiri, partisipasi, jaringan kerja, dan keadilan.
Pada dasarnya, pemberdayaan diletakkan pada kekuatan tingkat individu dan
sosial. Menurut Webster dalam Siregar (2004) pemberdayaan mengandung dua
pengertian yaitu:
1. To give ability or enable to, yakni upaya untuk meningkatkan kemampuan
masyarakat melalui pelaksanaan berbagai kebijakan dan program-program
pembangunan, agar kondisi kehidupan masyarakat mencapai tingkat
kemampuan yang diharapkan.
2. To give power or authority to, yang berarti memberi kewenangan,
mengalihkan kekuatan atau mendelegasikan otoritas kepada masyarakat, agar
masyarakat memiliki kemandirian dalam pengambilan keputusan dalam
rangka membangun diri dan lingkungan secara mandiri.
Intinya pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya dengan
mendorong
(encourage),
(awareness)
akan
memotivasi,
potensi
yang
dan
membangkitkan
dimilikinya,
serta
kesadaran
berupaya
untuk
mengembangkannya. Orang-orang yang telah mencapai tujuan kolektif
diberdayakan melalui kemandiriannya, bahkan merupakan „keharusan‟ untuk
lebih diberdayakan melalui usaha mereka sendiri dan akumulasi pengetahuan,
keterampilan serta sumber lainnya dalam rangka mencapai tujuan mereka tanpa
bergantung pada pertolongan dari hubungan eksternal.
Bertolak
dari
definisi
di
atas,
menurut
Kartasasmita
(1996),
pemberdayaan masyarakat harus dilakukan melalui tiga aspek pokok yaitu :
1. Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan berkembangnya potensi
atau daya yang dimiliki masyarakat (enabling). Dalam hal ini perlu mengenali
bahwa setiap manusia, baik individu, kelompok maupun organisasi
kemasyarakatan memiliki potensi yang dapat dikembangkan.
2. Memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat (empowering)
melalui pemberian input berupa bantuan dana, pembangunan prasarana dan
sarana, baik fisik (jalan, irigasi, listrik) maupun sosial (sekolah, kesehatan),
serta pengembangan lembaga pendanaan, penelitian dan pemasaran dan
pembukaan akses kepada berbagai peluang yang akan membuat masyarakat
menjadi makin berdaya.
3. Memberdayakan mengandung pula arti melindungi masyarakat melalui
pemihakan kepada masyarakat yang lemah (protecting).
Berdasarkan uraian di atas, pemberdayaan masyarakat sebagai suatu
alternatif strategi pengelolaan pembangunan mensyaratkan adanya keterlibatan
langsung masyarakat (community based development) baik secara perorangan
maupun dalam bentuk kelompok dan lembaga, dalam seluruh proses
pengelolaan pembangunan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan,
penyelesaian sampai tahap evaluasi hasil-hasil pembangunan.
Pemberdayaan masyarakat sendiri bertujuan untuk meningkatkan potensi
masyarakat agar mampu meningkatkan kualistas hidup yang lebih baik bagi
seluruh warga masyarakat melalui kegiatan-kegiatan swadaya. Untuk mencapai
tujuan ini, faktor peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan
formal dan non-formal perlu mendapat prioritas. Memberdayakan masyarakat
bertujuan untuk mendidik masyarakat agar mau mendidik diri mereka sendiri.
Tujuan yang akan dicapai melalui usaha pemberdayaan masyarakat adalah
masyarakat yang mandiri, berswadaya, dan mampu mengadopsi inovasi.
Salah satu tujuan pemberdayaan masyarakat adalah tumbuhnya
kemandirian masyarakat. Masyarakat yang mandiri adalah masyarakat yang
sudah mampu menolong diri sendiri, untuk itu perlu selalu ditingkatkan
kemampuan masyarakat untuk berswadaya.
Dengan demikian upaya pemberdayaan masyarakat merupakan suatu
upaya menumbuhkan peran serta dan kemandirian sehingga masyarakat baik di
tingkat individu, kelompok, kelembagaan, maupun komunitas memiliki tingkat
kesejahteraan yang jauh lebih baik dari sebelumnya, memiliki akses terhadap
sumber daya, memiliki kesadaran kritis, mampu melakukan pengorganisasian
dan kontrol sosial dari segala aktivitas pembangunan yang dilakukan
lingkungannya.
2.1.5 Proses Pemberdayaan dan Strategi Pemberdayaan
Menurut Oakley dan Marsden (1984) dalam Pranarka dan Moeljarto
(1996), proses pemberdayaan mengandung dua kecenderungan, yaitu: (1) proses
primer, yang menekankan pada pengalihan sebagian kekuasaan, kekuatan, atau
kemampuan kepada masyarakat, agar menjadi lebih berdaya membangun asset
material guna mendukung pembangunan kemandirian mereka; dan (2) proses
sekunder, dengan menekankan pada menstimuli, mendorong, memotivasi
masyarakat, agar mempunyai kemampuan/keberdayaan untuk menentukan
pilihan hidupnya. Kedua proses ini bukan klasifikasi kaku, tetapi saling terkait.
Agar kecenderungan primer terwujud, seringkali harus melalui proses sekunder
terlebih dahulu.
Berdasarkan pemikiran di atas maka secara operasional, pemberdayaan
pada tahap ini bergerak dari pemahaman sisi dimensi generatif, yang merupakan
suatu proses perubahan yang menekankan kreativitas dan prakarsa warga
komunitas yang sadar diri dan terbina sebagai titik tolak. Dengan pengertian
tersebut pemberdayaan mengandung dua pengertian, yakni kemandirian dan
partisipasi. Pemberdayaan warga komunitas merupakan tahap awal untuk
menuju kepada partisipasi warga komunitas khususnya dalam proses
pengambilan keputusan untuk menumbuhkan kemandirian komunitas.
Strategi pada hakekatnya adalah perencanaan dan manajemen untuk
mencapai suatu tujuan. Menurut Harper (1994) dalam Adi (2003) ada beberapa
strategi yang dapat dipakai untuk melakukan pemberdayaan:
1. Strategi Fasilitasi
Strategi ini dipergunakan bila kelompok yang dijadikan target mengetahui
ada masalah dan membutuhkan perubahan dan ada keterbukaan terhadap pihak
luar dan keinginan pribadi untuk terlibat. Melalui strategi ini para agen perubah
dapat bertindak sebagai fasilitator. Oleh karena itu, tugas dari fasilitator ini
seringkali membuat kelompok target menjadi sadar terhadap pilihan-pilihan dan
keberadaan sumber-sumber. Strategi ini dikenal sebagai strategi kooperatif, yaitu
agen peubah bersama-sama kliennya mencari penyelesaian.
2. Strategi Edukatif
Strategi ini membutuhkan waktu, khususnya dalam membentuk pengetahuan
dan keahlian. Pendekatan ini memberikan suatu pemahaman atau pengetahuan
baru dalam mengadopsi suatu perubahan. Segmentasi menjadi faktor penting
untuk membuat pesan mudah dimengerti atau diterima oleh kelompok yang
berbeda. Karakteristik demografi (usia, jenis kelamin, pendidikan, kondisi sosial,
dan ekonomi) merupakan pengkategorian yang umum digunakan.
3. Strategi Persuasif
Strategi ini berupaya membawa perubahan melalui kebiasaan dalam
berperilaku, dimana pesan disusun dan dipresentasikan. Jadi pendekatan ini
mengacu kepada tingkatan reduksi dimana agen perubah mempergunakan emosi
dan hal-hal yang tidak rasional untuk melakukan perubahan. Persuasi lebih
sering dipergunakan bila target tidak sadar terhadap kebutuhan perubahan atau
mempunyai komitmen yang rendah terhadap perubahan.
4. Strategi Kekuasaan
Praktek strategi kekuasaan yang efektif membutuhkan agen yang mempunyai
sumber-sumber untuk memberi bonus atau sanksi pada target serta mempunyai
kemampuan untuk memonopoli akses. Strategi kekuasaan ini menjadi efektif
ketika komitmen terhadap perubahan rendah, waktu yang singkat dan perubahan
yang dikehendaki lebih kepada perilaku dibandingkan dengan sikap (attitude).
2.1.6 Ruang Lingkup Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan harus dilakukan secara terus menerus, komprehensif, dan
simultan sampai ambang tercapainya keseimbangan yang dinamis antara
pemerintah dan yang diperintah. Menurut Ndraha dalam Adi (2003) diperlukan
berbagai program pemberdayaan, antara lain :
1. Pemberdayaan Politik
Pemberdayaan politik bertujuan meningkatkan bargaining position yang
diperintah terhadap pemerintah. Melalui bargaining tersebut, yang diperintah
mendapatkan apa yang merupakan haknya dalam bentuk barang, jasa, layanan,
dan kepedulian tanpa merugikan orang lain.
2. Pemberdayaan Ekonomi
Pemberdayaan ekonomi dimaksudkan sebagai upaya untuk meningkatkan
kemampuan yang diperintah sebagai konsumen untuk berfungsi sebagai
penanggung dampak negatif pertumbuhan, pemikul beban pembangunan, dan
penderita kerusakan lingkungan.
3. Pemberdayaan Sosial Budaya
Pemberdayaan sosial budaya bertujuan meningkatkan kemampuan sumber
daya manusia melalui human investment guna meningkatkan nilai manusia dan
perilaku seadil-adilnya terhadap manusia.
4. Pemberdayaan Lingkungan
Pemberdayaan lingkungan dimaksudkan sebagai program perawatan dan
pelestarian lingkungan, supaya antara yang diperintah dan lingkungannya
terdapat hubungan saling menguntungkan.
2.1.7 Evaluasi
Menurut Raudabough dalam Fauziah (2007), evaluasi dapat didefinisikan
sebagai suatu proses penentuan nilai atau jumlah keberhasilan yang dicapai dari
suatu tujuan program yang telah ditetapkan. Evaluasi mencakup beberapa
tahapan, yaitu: formulasi tujuan, identifikasi kriteria yang tepat untuk digunakan
dalam mengukur keberhasilan. Kunci elemen konseptual dalam evaluasi adalah
“nilai atau jumlah dari derajat keberhasilan”. Dengan demikian, dalam evaluasi
terkandung didalamnya proses pemberian nilai kepada pencapaian tujuan
program, dan kemudian menetapkan derajat keberhasilan pencapaian tujuan
yang dinilai tersebut.
Departemen Pertanian (1990) mengemukakan jenis evaluasi lain untuk
mengevaluasi program, yaitu:
1. Evaluasi Input
Evaluasi input adalah penilaian terhadap kesesuaian antara input-input
program dengan tujuan program. Input adalah semua jenis barang, jasa, dana,
tenaga manusia, teknologi dan sumberdaya lainnya, yang perlu tersedia untuk
terlaksananya suatu kegiatan dalam rangka menghasilkan Output dan tujuan
suatu proyek atau program.
2. Evaluasi Output
Evaluasi Output adalah penilaian terhadap Output-Output yang dihasilkan
oleh program. Output adalah produk atau jasa tertentu yang diharapkan dapat
dihasilkan oleh suatu kegiatan dari input yang tersedia, untuk mencapai
tujuan proyek atau program. Contoh Output adalah perubahan pengetahuan
(aras kognitif), perubahan sikap (aras afektif), kesediaan berprilaku (aras
konatif) dan perubahan berprilaku (aras psikomotorik). Aras kognitif adalah
tingkat pengetahuan seseorang. Aras afektif adalah kecenderungan sikap
seseorang yang dipengaruhi oleh perasaanya terhadap suatu hal. Aras konatif
adalah kesediaan seseorang berprilaku tertentu yang dipengaruhi oleh
sikapnya terhadap suatu hal. Aras tindakan adalah perilaku seseorang yang
secara nyata diwujudkan dalam perbuatan sehari-hari sehingga dapat
diwujudkan menjadi suatu pola.
3. Evaluasi Effect (efek)
Evaluasi efek adalah penilaian terhadap hasil yang di peroleh dari
penggunaan Output-Output program. Sebagai contoh adalah efek yang
dihasilkan dari perubahan perilaku peserta suatu penyuluhan. Efek biasanya
sudah mulai muncul pada waktu pelaksanaan program namun efek penuhnya
baru tampak setelah program selesai.
4. Evaluasi Impact (dampak)
Evaluasi Impact adalah penilaian terhadap hasil yang diperoleh dari efek
proyek yang merupakan kenyataan sesungguhnya yang dihasilkan oleh
proyek pada tingkat yang lebih luas dan menjadikan proyek jangja panjang.
Evaluasi dapat dipergunakan dengan penggunaan penilaian yang kualitatif.
2.1.8 Pengertian Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)
Pengertian tentang UMKM tergantung pada konsep yang digunakan oleh
setiap negara. Beberapa negara mengelompokkan UMKM berdasarkan kriteria
tenaga kerja yang diserap. Misalnya, di United Kingdom mengelompokkan
usaha dalan kriteria usaha kecil jika mempunyai karyawan 1 sampai dengan 200
orang; di Jepang antara 1 sampai dengan 300 orang; di USA antara 1 sampai
dengan 500 orang. Pengertian Usaha Kecil dan Menengah menurut UndangUndang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil
dan Menengah adalah :
1. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang, perorangan dan/atau badan
usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang ini.
2. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang, perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan
anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau
menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah
atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang ini.
3. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang, perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan
anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau
menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Kecil atau
Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan
sebagaimana diatur Undang-Undang ini.
Di Indonesia, kriteria yang digunakan untuk usaha kecil dan menengah
lebih mengacu pada besar modal dan omset usaha yang dimiliki perusahaan atau
usaha kecil yang bersangkutan. Uniknya, masing-masing institusi menggunakan
definisi yang berbeda.
Kriteria dari UKM dalam Undang-Undang Republik Indonesia Tahun
2008 adalah sebagai berikut :
1. Kriteria Usaha Mikro
Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh
juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga
ratus juta rupiah).
2. Kriteria Usaha Kecil
Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 300.000.000,00 (tiga ratus
juta rupiah) sampai dengan Rp 2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus
juta rupiah).
3. Kriteria Usaha Menengah
Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh
milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 2.500.000.000,00 (dua
milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan Rp 50.000.000.000,00 (lima
puluh milyar rupiah).
Adapun ciri-ciri dari usaha mikro, kecil, dan menengah adalah sebagai
berikut :
1. Ciri-ciri usaha mikro
a. Jenis barang/komoditi usahanya tidak selalu tetap, sewaktu-waktu dapat
berganti;
b. Tempat usahanya tidak selalu menetap, sewaktu-waktu dapat pindah
tempat;
c. Belum melakukan administrasi keuangan yang sederhana sekalipun, dan
tidak memisahkan keuangan keluarga dengan keuangan usaha;
d. Sumber daya manusianya (pengusahanya) belum memiliki jiwa wirausaha
yang memadai;
e. Tingkat pendidikan rata-rata relatif sangat rendah;
f. Umumnya belum akses kepada perbankan, namun sebagian dari mereka
sudah akses ke lembaga keuangan non bank;
g. Umumnya tidak memiliki izin usaha atau persyaratan legalitas lainnya
termasuk NPWP.
2. Ciri-ciri usaha kecil
a. Jenis barang/komoditi yang diusahakan umumnya sudah tetap tidak
gampang berubah;
b. Lokasi/tempat usaha umumnya sudah menetap tidak berpindah-pindah;
c. Pada umumnya sudah melakukan administrasi keuangan walau masih
sederhana, keuangan perusahaan sudah mulai dipisahkan dengan keuangan
keluarga, sudah membuat neraca usaha;
d. Sudah memiliki izin usaha dan persyaratan legalitas lainnya termasuk
NPWP;
e. Sumberdaya
manusia
(pengusaha)
memiliki
pengalaman
dalam
berwirausaha;
f. Sebagian sudah akses ke perbankan dalam hal keperluan modal;
g. Sebagian besar belum dapat membuat manajemen usaha dengan baik
seperti business planning.
3. Ciri-ciri usaha menengah
a. Pada umumnya telah memiliki manajemen dan organisasi yang lebih baik,
lebih teratur bahkan lebih modern, dengan pembagian tugas yang jelas
antara lain, bagian keuangan, bagian pemasaran dan bagian produksi;
b. Telah melakukan manajemen keuangan dengan menerapkan sistem
akuntansi dengan teratur, sehingga memudahkan untuk auditing dan
penilaian atau pemeriksaan termasuk oleh perbankan;
c. Telah melakukan aturan atau pengelolaan dan organisasi perburuhan, telah
ada Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja), pemeliharaan kesehatan dll;
d. Sudah memiliki segala persyaratan legalitas antara lain izin tetangga, izin
usaha, izin tempat, NPWP, upaya pengelolaan lingkungan dll;
e. Sudah akses kepada sumber-sumber pendanaan perbankan;
f. Pada umumnya telah memiliki sumber daya manusia yang terlatih dan
terdidik.
2.2 Kerangka Pemikiran
Swisscontact sebagai salah satu organisasi internasional yang berada di
Indonesia dan menitikberatkan program-programnya pada pengembangan Usaha
Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), telah melakukan program pemberdayaan
UMKM dengan mengembangkan yang bergerak di bidang tekstil, di daerah
Cipulir, Jakarta Selatan. Penelitian ini akan melihat bagaimanakah strategi
pemberdayaan dan proses pemberdayaan pada tahap implementasi yang
dilakukan oleh Swisscontact pada program Small and Medium Enterprise
Promotion (SMEP) Jakarta.
Strategi pemberdayaan menurut Harper (1994) dibagi menjadi empat,
yaitu strategi fasilitasi, strategi edukatif, strategi persuasif, dan strategi
kekuasaan. Peneliti akan melihat dan menganalisis strategi apa yang dipakai oleh
Swisscontact dalam menjalankan programnya, apakah pelaksanaannya sudah
sesuai dengan teori pemberdayaan Harper, serta apakah dalam pelaksanaanya
penyusunan strategi dan langkah-langkah/intervensi yang akan dilaksanakan
dalam program disusun secara bersama-sama dengan para pelaku usaha kecil
atau tidak. Penyusunan strategi pemberdayaan program terkait dengan
permasalahan yang terdapat pada para pelaku usaha kecil di Cipulir. Setelah
proses ini selesai, akan berlanjut pada proses pelaksanaan program dimana di
dalamnya terjadi proses pemberdayaan bagi pelaku usaha kecil di Cipulir.
Pada proses pemberdayaan, peneliti ingin melihat apakah proses
pemberdayaan yang dilakukan sesuai dengan proses pemberdayaan menurut
Oakley dan Marsden (1984) yang menyebutkan bahwa proses pemberdayaan
mempunyai dua kecenderungan yaitu kecenderungan primer dan sekunder.
Proses
pemberdayaan
primer
adalah
bagaimana
Swisscontact
dalam
menjalankan programnya telah mentransfer sebagian kekuasaan, kekuatan, atau
kemampuan kepada para pelaku usaha kecil dengan bentuk pelatihan dan
bantuan berupa barang, sedangkan pada proses pemberdayaan sekunder, peneliti
ingin melihat bagaimana Swisscontact dalam menjalankan programnya telah
mampu menstimuli, mendorong, dan memotivasi para pelaku usaha kecil dalam
bentuk pertemuan rutin dengan para pelaku usaha kecil.
Adapun hasil yang ingin dicapai dari program SMEP adalah berbagai
manfaat yang diharapkan mampu meningkatkan kemampuan sasarannya
sehingga mereka menjadi individu yang lebih berdaya. Pada indikator manfaat
program, peneliti melihat perubahan berdasarkan jenis evaluasi yang dikemukan
oleh Departemen Pertanian (1990). Dengan menggunakan teori ini manfaat
SMEP sebagai sebuah program pemberdayaan dapat dianalisis pada aspek ouput
yang terdiri dari perubahan pengetahuan dan keterampilan. Analisis manfaat
juga dapat dilakukan terhadap variabel efek yang terdiri dari aspek peningkatan
pendapatan, adanya pasar baru, dan akses bahan baku yang lebih mudah yang
diharapkan berpengaruh pada meningkatnya daya kompetitif dari pelaku usaha
kecil di Cipulir. Kerangka pemikiran dari penelitian ini dapat dilihat pada
Gambar 1.
Swisscontac
t
Tahap Implementasi
Proses Pemberdayaan :
1. Primer
2. Sekunder
Strategi Pemberdayaan
Small and Medium
Enterprise Promotion
(SMEP) Jakarta
Sekunder
Menekankan pada menstimuli,
mendorong, memotivasi
masyarakat, agar mempunyai
kemampuan /keberdayaan
untuk menentukan pilihan
hidupnya
Primer
Pengalihan sebagian
kekuasaan, kekuatan, atau
kemampuan kepada
masyarakat
Manfaat
Program
1. Peningkatan
pengetahuan
2. Peningkatan
keterampilan
1. Peningkatan pendapatan
2. Adanya pasar baru
3. Akses bahan baku lebih
mudah
Keterangan :
: Faktor yang mempengaruhi
Gambar 1. Bagan Kerangka Pemikiran
Meningkatnya daya
kompetitif
usaha
kecil di Cipulir
2.3 Hipotesa Pengarah
Jika strategi program dan implementasi program Small and Medium
Enterprise Promotion (SMEP) berbasis konsep pemberdayaan, maka penerima
program (UMKM) akan menjadi berdaya.
2.4 Definisi Konseptual
1. Strategi pemberdayaan adalah perencanaan dan manajemen suatu program
untuk mencapai tujuan yang dipakai oleh Swisscontact pada program Small
and Medium Enterprise Promotion (SMEP)
2. Strategi Fasilitasi adalah strategi yang dipergunakan bila kelompok yang
dijadikan target mengetahui ada masalah dan membutuhkan perubahan dan
ada keterbukaan terhadap pihak luar dan keinginan pribadi untuk terlibat.
3. Strategi Edukatif strategi yang digunakan untuk membentuk pengetahuan dan
keahlian tertentu.
4. Strategi Persuasif adalah strategi yang berupaya membawa perubahan melalui
kebiasaan dalam berperilaku, dimana pesan disusun dan dipresentasikan.
5. Strategi Kekuasaan adalah strategi yang akan efektif jika mempunyai agen
peubah yang mempunyai sumber-sumber untuk memberi bonus atau sanksi
pada target serta mempunyai kemampuan untuk memonopoli akses.
6. Tahap implementasi adalah proses penerapan program Small and Medium
Enterprise Promotion (SMEP) oleh Swisscontact yang didalamnya terdapat
proses pemberdayaan.
7. Proses pemberdayaan adalah proses dimana para penerima program
mendapatkan perubahan dari program, dimana kecenderungan proses dibagi
menjadi dua yaitu primer dan sekunder.
8. Proses Pemberdayaan Primer adalah proses
yang menekankan pada
pengalihan sebagian kekuasaan, kekuatan, atau kemampuan kepada
masyarakat, agar menjadi lebih berdaya membangun aset material guna
mendukung pembangunan kemandirian mereka.
9. Proses Pemberdayaan Sekunder adalah proses yang menekankan pada
menstimuli,
mendorong,
memotivasi
masyarakat,
agar
kemampuan/keberdayaan untuk menentukan pilihan hidupnya.
mempunyai
10. Manfaat adalah perubahan yang dialami UMKM setelah menjalani program
Small and Medium Enterprise Promotion (SMEP).
Download