Agustus 2014 - Bank Indonesia

advertisement
Agustus 2014
Laporan Nusantara
VOLUME 9 NOMOR 3
|1
Halaman ini sengaja dikosongkan
Laporan Nusantara
Daftar Isi
3
Kata Pengantar
5
Bagian I
Ringkasan Perkembangan dan Prospek Ekonomi Daerah
7
Bagian II
Perekonomian Kawasan Timur Indonesia
13
II.1. Perekonomian Sulawesi, Maluku, dan Papua
15
II.2. Perekonomian Kalimantan
28
II.3. Perekonomian Bali-Nusa Tenggara
39
Perekonomian Jawa
49
III.1. Perekonomian Jawa Bagian Timur
51
III.2. Perekonomian Jawa Bagian Tengah
63
III.3. Perekonomian Jawa Bagian Barat
72
III.4. Perekonomian Jakarta
85
Perekonomian Sumatera
99
IV.1. Perekonomian Sumatera Bagian Selatan
101
IV.2. Perekonomian Sumatera Bagian Tengah
113
IV.3. Perekonomian Sumatera Bagian Utara
125
Isu Khusus Daerah
139
Isu Khusus 1: Reformasi Struktural Dalam Rangka Meningkatkan Daya
Saing Perekonomian
Isu Khusus 2: Hilirisasi Ekspor Mineral – Menjaga Keseimbangan
Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan
Boks: Kredit Karbon Untuk Pembiayaan Mitigasi Dampak
Lingkungan
Isu Khusus 3: Dinamika Kemiskinan pada Daerah Penghasil Sumber Daya
Alam
139
144
Bagian III
Bagian IV
Bagian V
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:
Bank Indonesia
Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter
Grup Asesmen Ekonomi
Divisi Asesmen Ekonomi Regional
Ph. 021-29818119, 29818868
Fax. 021-3452489, 2310553
Laporan Nusantara
147
150
Halaman ini sengaja dikosongkan
Laporan Nusantara|2
Dalam proses perumusan kebijakan moneter, Bank Indonesia mempertimbangkan seluruh aspek
perekonomian termasuk berbagai dinamika dan isu terkini yang berkembang di daerah. Pembahasan
menyeluruh tentang perkembangan perekonomian terkini dan berbagai isu strategis yang mengemuka di
daerah dilakukan secara periodik antara Dewan Gubernur dengan para Kepala Kantor Perwakilan Bank
Indonesia dari seluruh Indonesia. Hasil pembahasan tersebut menjadi bagian penting yang melengkapi
pemahaman Bank Indonesia terhadap kondisi makroekonomi dengan berbagai aspek risiko yang
berkembang.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2014 sebesar 5,12% (yoy), melambat daripada triwulan
I 2014 sebesar 5,21% (yoy). Hal ini dipengaruhi oleh melambatnya kinerja ekonomi kawasan Sumatera
karena melemahnya kinerja di sektor pertanian. Sementara itu, perekonomian Jawa relatif stabil
ditopang oleh membaiknya pertumbuhan ekonomi Jakarta dan Jawa Barat, dan perekonomian KTI
membaik yang didukung oleh industri pengolahan.
Perkembangan inflasi di daerah selama triwulan II hingga Juli 2014 berada dalam tren inflasi yang
menurun. Hal ini dipengaruhi anatara lain oleh masih berlanjutnya koreksi harga beberapa komoditas
pangan strategis seiring cukup melimpahnya pasokan. Beberapa kebijakan administered prices seperti
penyesuaian tarif tenaga listrik (TTL) rumah tangga dan kenaikan surcharge angkutan udara relatif masih
berdampak minimal. Peran aktif Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam mengatasi gangguan
pasokan pangan juga berkontribusi positif terhadap terkendalinya harga pangan di berbagai daerah.
Meskipun demikian, beberapa daerah di KTI seperti Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Kalimantan
Barat masih mencatat tingkat inflasi cukup tinggi yang antara lain disebabkan oleh kenaikan surcharge
angkutan udara.
Pertumbuhan ekonomi daerah pada triwulan III 2014 secara agregat diperkirakan masih tumbuh
melambat. Perekonomian KTI diprakirakan tumbuh melambat karena berlanjutnya proses konsolidasi di
sektor tambang terkait kebijakan pengaturan ekspor minerba serta melemahnya permintaan dari negara
mitra utama. Sementara itu, perekonomian Sumatera diperkirakan tumbuh stabil. Di sisi lain,
perekonomian berbagai daerah di Jawa diprakirakan kembali meningkat seiring dengan indikasi
berlanjutnya perbaikan kinerja ekspor manufaktur.
Inflasi di berbagai daerah masih berada dalam tren yang menurun. Pada akhir tahun 2014 inflasi secara
agregat diprakirakan masih berada pada lintasan yang konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi
nasional sebesar 4,5%±1%. Terjaganya pasokan pangan disertai koreksi harga pasca Ramadhan
berkontribusi positif bagi masih berlanjut tren penurunan inflasi. Namun, Bank Indonesia terus
mewaspadai sejumlah risiko inflasi ke depan, termasuk gangguan pasokan pangan akibat El Nino serta
konsolidasi fiskal, khususnya kebijakan pembatasan Bahan Bakar Minyak bersubsidi, dan kenaikan tarif
tenaga listrik (TTL). Terkait dengan hal ini, upaya untuk membawa inflasi kembali ke arah sasarannya akan
terus ditingkatkan melalui penguatan koordinasi antara Bank Indonesia dan pemerintah, baik di tingkat
pusat maupun daerah.
Dinamika terkini perekonomian di berbagai daerah tersebut dan semakin besarnya risiko yang akan
dihadapi ke depan mengisyaratkan semakin pentingnya upaya untuk mendorong reformasi struktural di
Laporan Nusantara|3
daerah. Fokus untuk mengatasi berbagai persoalan struktural di daerah memerlukan strategi kebijakan
yang tepat dan saling terintegrasi dengan baik. Langkah reformasi struktural perlu ditempuh dan
difokuskan pada upaya peningkatan daya saing ekspor manufaktur dan diversifikasi perekonomian
daerah melalui penguatan lingkungan pendukung (enabling environment), termasuk logistik dan
konektivitas, kemudahan berusaha, dan akses pembiayaan jangka panjang.
Asesmen lebih lengkap mengenai dinamika terkini dan prospek ekonomi daerah diuraikan secara lengkap
dalam buku Laporan Nusantara ini. Laporan Nusantara edisi kali ini juga mengangkat beberapa isu
khusus terkait dengan reformasi struktural dalam rangka meningkatkan daya saing perekonomian,
hilirisasi ekspor mineral khususnya strategi untuk menjaga keseimbangan ekonomi, sosial, dan
lingkungan, serta gambaran kemiskinan terkini di daerah-daerah yang merupakan basis produksi sumber
daya alam. Penyusunan buku Laporan Nusantara dilakukan bersama oleh Departemen Kebijakan
Ekonomi Moneter (DKEM) di kantor pusat Bank Indonesia dan para peneliti ekonomi dari seluruh Kantor
Perwakilan Wilayah Bank Indonesia.
Akhir kata, kami berharap buku Laporan Nusantara ini dapat menjadi referensi para pemangku
kepentingan dan pemerhati ekonomi daerah, serta menjadi salah satu kontribusi Bank Indonesia dalam
pembangunan ekonomi daerah.
Jakarta, 18 Agustus 2014
Departemen Kebijakan Ekonomi
dan Moneter
Juda Agung
Direktur Eksekutif
Laporan Nusantara|4
PERKEMBANGAN TERKINI EKONOMI DAERAH
Perekonomian Indonesia pada triwulan II 2014 mengalami pertumbuhan yang melambat yakni tercatat
sebesar 5,12% (yoy) dibandingkan dengan triwulan I 2014 sebesar 5,21%. Hal ini dipengaruhi oleh
melambatnya kinerja ekonomi Kawasan Sumatera terutama karena melemahnya kinerja sektor pertanian
terkait dengan harga komoditas perkebunan yang belum menunjukkan perbaikan yang berarti.
Sementara itu, perekonomian Jawa secara keseluruhan masih dapat tumbuh relatif stabil karena
ditopang oleh perbaikan ekonomi Jakarta dan Jawa Barat seiring membaiknya kinerja ekspor manufaktur.
Namun, provinsi-provinsi lain di Jawa masih cenderung tumbuh melambat terkait dengan kinerja
produksi pertanian yang melambat dan dampak dari masih lemahnya aktivitas perdagangan antara
daerah, terutama dengan KTI.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi di Kawasan Timur Indonesia (KTI) menunjukkan perbaikan meski
masih cenderung terbatas. Membaiknya pertumbuhan ekonomi di KTI lebih ditopang oleh meningkatnya
produksi industri makanan olahan dan mulai beroperasinya pabrik olahan CPO baru di Sulawesi Barat,
perbaikan produksi LNG di Papua Barat, serta meningkatnya kinerja pariwisata di Bali. Kinerja sektor
tambang yang cenderung menurun karena penyesuaian terhadap kebijakan pengaturan ekspor minerba
menjadi faktor utama yang menahan perbaikan ekonomi KTI lebih lanjut. Di samping itu, melemahnya
permintaan ekspor batubara terutama dari Tiongkok yang merupakan salah satu negara tujuan ekspor
batubara terbesar, juga berdampak pada terbatasnya kenaikan pertumbuhan ekonomi di KTI. Beberapa
daerah yang merupakan basis produksi tambang seperti Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Riau,
dan Sulawesi Tengah bahkan mencatat angka pertumbuhan yang lebih rendah daripada daerah-daerah
lainnya (Grafik 1.1.).
Sumber: BPS, diolah
Gambar I.1. Peta Pertumbuhan Ekonomi Daerah Triwulan II 2014
Laporan Nusantara|5
Di sisi inflasi, laju perkembangan inflasi selama triwulan II hingga Juli 2014 masih berada dalam tren yang
menurun di seluruh daerah. Masih berlanjutnya koreksi harga beberapa komoditas pangan strategis
seiring cukup melimpahnya pasokan, moderasi permintaan domestik, dan ekspektasi inflasi yang terjaga
berkontribusi pada terkendalinya inflasi inti di berbagai daerah. Sementara itu, beberapa kebijakan
administered prices seperti penyesuaian tarif tenaga listrik (TTL) rumah tangga dan kenaikan surcharge
angkutan udara relatif masih berdampak minimal. Terkendalinya tekanan inflasi di berbagai daerah juga
tercermin dari perkembangan inflasi selama periode Ramadhan yang cenderung lebih rendah
dibandingkan dengan rata-rata tiga tahun terakhir. Hal ini juga tidak terlepas dari semakin aktifnya
partisipasi daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam mengantisipasi kemungkinan
terjadinya gejolak harga, terutama harga pangan. Kendati berada dalam tren inflasi yang menurun,
beberapa daerah seperti Maluku Utara, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tengah masih perlu mendapat
perhatian karena masih mencatat inflasi di kisaran yang cukup tinggi, yakni 7%, antara lain karena
kenaikan surcharge angkutan udara (Grafik 1.2.).
Gambar I.2. Peta Inflasi Daerah, Juli 2014
Memasuki triwulan III 2014, perkembangan berbagai indikator ekonomi di daerah secara agregat
mengindikasikan perekonomian belum mengalami perbaikan yang berarti (Tabel I.1). Perekonomian KTI
diprakirakan masih akan tumbuh melambat karena berlanjutnya proses konsolidasi di sektor tambang
terkait kebijakan pengaturan ekspor minerba. Demikian pula halnya dengan kinerja ekspor batubara dari
Kalimantan yang diperkirakan masih terbatas karena melemahnya permintaan dari negara mitra utama.
Perekonomian NTB bahkan diperkirakan akan mengalami kontraksi pertumbuhan yang cukup dalam
akibat tidak beroperasinya salah satu perusahaan tambang besar di sana sejak bulan Juni 2014. Ekspor
tembaga oleh perusahaan penambang besar di Papua yang mulai kembali dapat dilakukan pada awal
Agustus 2014 diperkirakan belum dapat mendorong kinerja tambang secara keseluruhan.
Di sisi lain, perekonomian berbagai daerah di Jawa diprakirakan kembali meningkat seiring dengan
indikasi berlanjutnya perbaikan kinerja ekspor manufaktur. Permintaan ekspor manufaktur Jawa
dipengaruhi oleh perbaikan ekonomi negara maju, terutama Amerika Serikat, antara lain untuk barang
tekstil dan produk tekstil (TPT), serta makanan olahan. Di samping itu, konsumsi pemerintah yang
meningkat seiring dengan pergeseran realisasi anggaran Pemerintah Pusat, khususnya pembayaran gaji
Laporan Nusantara|6
ke-13, serta peningkatan belanja infrastruktur daerah berdampak positif pada membaiknya
pertumbuhan ekonomi Jawa. Kenaikan realisasi anggaran pemerintah disertai permintaan domestik yang
masih cukup kuat diperkirakan turut menopang perekonomian Sumatera untuk tumbuh stabil di tengah
kinerja ekspor, khususnya CPO dan karet olahan, yang menghadapi tantangan akibat belum membaiknya
harga komoditas di pasar global. Meski demikian, secara keseluruhan prakiraan membaiknya
pertumbuhan ekonomi Jawa dan stabilnya perekonomian Sumatera belum dapat menutupi
melambatnya kinerja perekonomian KTI.
Tabel I.1. Tendensi Arah Perekonomian Daerah Triwulan III 2014
Jawa
Sumatera
Bag.
Utara
Bag.
Bag.
Tengah Selatan
Asesmen
Jakarta
Bag.
Barat
Bag.
Tengah
Bag.
Timur
KTI
Kaliman
tan
Asesmen
Bali- Sulamp
Nustra
ua
Asesmen
PDB/PDRB
Konsumsi RT
Meningkatnya konsumsi
terkait Idul Fitri, tahun
ajaran baru, dan
terjaganya ekspektasi
Meningkatnya konsumsi terkait
Idul Fitri, tahun ajaran baru,
dan terjaganya ekspektasi
Meningkatnya konsumsi
terkait Idul Fitri, tahun
ajaran baru, MICE, dan
terjaganya ekspektasi
Konsumsi
Pemerintah
Realisasi gaji ke-13,
peningkatan belanja
pemerintah
Realisasi gaji ke-13,
peningkatan belanja
pemerintah
Realisasi gaji ke-13,
peningkatan belanja
pemerintah
Investasi
(PMTB)
Pembangunan
infrastruktur terkait
MP3EI
Investor bersikap wait and see
untuk melihat hasil Pilpres;
lebih didukung oleh proyeksi
infrastruktur berskala besar
Investasi pabrik
pemurnian mineral,
percepatan realisasi
proyek infrastruktur
Ekspor LN
Perbaikan ekspor CPO dan
karet alam
Perbaikan ekspor manufaktur
Penurunan permintaan
batu bara, terbatasnya
ekspor tembaga
Impor LN
Peningkatan impor bahan
baku
Peningkatan impor bahan baku
dan barang modal
Penurunan impor barang
modal di sektor
pertambangan
*) Prakiraan arah kondisi ekonomi secara tahunan (year-on-year)
Sementara itu, pada triwulan III 2014, inflasi di berbagai daerah masih berada dalam tren yang menurun
dan secara agregat diprakirakan berada di kisaran 4,7% (yoy). Terjaganya pasokan pangan disertai koreksi
harga pasca Ramadhan berkontribusi positif bagi masih berlanjut tren penurunan inflasi. Pasokan untuk
beberapa komoditas strategis seperti cabai merah, daging ayam, dan bawang merah diperkirakan masih
memadai disertai permintaan yang kembali ke pola normalnya. Beberapa risiko yang dapat memberikan
kenaikan tekanan inflasi antara lain terkait dengan penerapan pembatasan penjualan Bahan Bakar
Minyak (BBM) bersubsidi, dampak kebijakan perluasan kebijakan kenaikan tarif tenaga listrik, serta
potensi gangguan produksi pangan karena dampak El-Nino (moderate). Di samping itu, beberapa daerah
di KTI seperti Maluku Utara, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Timur cenderung mengalami tekanan
inflasi yang lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya karena kompleksnya permasalahan distribusi
pangan sehingga rentan mengalami gejolak harga.
Di tengah kinerja ekonomi daerah yang cenderung melambat, stabilitas sistem keuangan di daerah masih
terjaga. Penyaluran kredit terlihat tumbuh sejalan dengan perkembangan ekonomi yang cenderung
melambat di berbagai daerah namun dengan tingkat risiko yang masih berada pada level yang aman.
Penurunan kualitas kredit lebih terkonsentrasi di beberapa daerah, terutama daerah-daerah yang
merupakan basis produksi tambang seperti di Sulawesi dan Kalimantan, namun masih belum menyentuh
Laporan Nusantara|7
tingkat yang mengkhawatirkan. Meskipun demikian, beberapa daerah di Sumatera mengindikasikan
potensi sumber kerentanan dari penurunan harga komoditas ekspor utama (seperti CPO dan karet alam)
yang dapat berimbas pada pendapatan masyarakat dan kemampuan membayar kembali kreditnya
(repayment capacity).
Kendati kinerja perekonomian mengalami perlambatan, transaksi keuangan melalui sistem pembayaran
masih meningkat. Sepanjang triwulan II 2014, transaksi pembayaran melalui Real Time Gross Settlement
(RTGS) rata-rata sebesar Rp30,02 ribu triliun per bulan, meningkat dibandingkan dengan rata-rata
triwulan sebelumnya sebesar Rp21,87 ribu triliun. Meningkatnya aktivitas pada sistem pembayaran di
berbagai daerah khususnya di Jakarta dan beberapa kota besar di Jawa diperkirakan turut dipengaruhi
oleh aktivitas kampanye menjelang Pemilihan Umum (Pemilu).
Pada aspek kesejahteraan, tingkat kemiskinan menunjukkan kecenderungan menurun. Menurunnya
angka kemiskinan tersebut menggambarkan bahwa di tengah laju pertumbuhan ekonomi yang
melambat, masih terdapat peluang dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Meski demikian,
beberapa indikator kesejahteraan lainnya menunjukkan masih besarnya tantangan yang perlu diatasi.
Dilihat secara spasial penurunan kemiskinan tersebut tidak terjadi secara merata. Tingkat kemiskinan di
Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua justru cenderung meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Hal ini diperkirakan terkait dengan menurunnya pendapat masyarakat dan melemahnya aktivitas di
sektor-sektor terkait sumber daya alam karena menurunnya harga komoditas. Beberapa daerah seperti
Papua, Nusa Tenggara, Maluku dan sebagian besar daerah di Sulawesi mencatat angka kemiskinan yang
cukup tinggi disertai semakin melebarnya ketimpangan antar penduduk miskin di daerah-daerah
tersebut sebagaimana ditunjukkan oleh Indek Keparahan Kemiskinan yang meningkat.
PROSPEK EKONOMI DAERAH DAN TANTANGAN KE DEPAN
Prospek Ekonomi Daerah Tahun 2014
Perkembangan terkini mengindikasikan pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2014 lebih
lambat daripada prakiraan sebelumnya yakni berada pada batas bawah dari kisaran 5,1%-5,5% (yoy),
lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2013 yang sebesar 5,78% (yoy). Perlambatan ekonomi akan
dialami di hampir seluruh daerah, terutama daerah-daerah yang memiliki peran komoditas tambang
cukup besar dalam perekonomiannya seperti daerah-daerah di KTI dan sebagian Sumatera. Kondisi ini
disebabkan oleh proses konsolidasi yang harus dilakukan oleh para pelaku usaha di sektor tambang
terkait implementasi dari UU Minerba pada awal tahun.
Di samping itu, pemulihan ekonomi global yang cenderung moderat dan terbatas pada beberapa negara
maju memengaruhi kinerja ekspor daerah. Perkembangan ekonomi Tiongkok yang justru cenderung
tumbuh melambat berdampak pada melemahnya permintaan ekspor komoditas tambang dari beberapa
daerah di Kalimantan dan Sumatera. Demikian halnya dengan kinerja ekspor manufaktur dari Jawa yang
turut mengalami tekanan karena melambatnya permintaan dari Tiongkok. Namun, perlambatan kinerja
ekspor manufaktur di Jawa lebih lanjut tertahan oleh masih cukup kuatnya permintaan ekspor dari
negara maju, khususnya Amerika Serikat yang merupakan salah satu pasar tujuan utama ekspor Jawa
(sekitar 15% dari total nilai ekspor Jawa). Secara keseluruhan, permintaan domestik diperkirakan lebih
tinggi terutama terkait dengan masih kuatnya konsumsi rumah tangga, sehingga dapat menahan
pelemahan ekonomi lebih lanjut di berbagai daerah.
Laporan Nusantara|8
Momentum penurunan laju inflasi diperkirakan akan berlangsung sampai dengan triwulan III 2014, untuk
kemudian kembali meningkat hingga mendekati batas atas kisaran sasaran inflasi nasional 4,5±1% pada
akhir 2014. Meningkatnya kembali tekanan inflasi diperkirakan bersumber dari beberapa komponen
administered prices, terutama dampak dari kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) dan tarif angkutan. Selain
itu, potensi terjadinya El-Nino masih menjadi risiko bagi produksi pangan yang pada gilirannya dapat
menekan kembali naiknya inflasi volatile food. Mengatasi potensi risiko inflasi yang masih cukup besar,
upaya yang ditempuh oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus diarahkan untuk dapat
memperkuat kesinambungan dan kelancaran pasokan di daerah.
Tantangan Ke Depan
Ke depan, perekonomian daerah masih akan dibayangi berbagai risiko yang dapat memengaruhi prospek
pertumbuhan ekonomi dan inflasi di daerah. Dalam jangka pendek perekonomian akan dihadapkan pada
lima risiko utama, yakni:
1. masih rentannya proses pemulihan ekonomi global yang cenderung diikuti penurunan harga
komoditas sehingga pada gilirannya akan dapat berdampak pada kinerja ekspor daerah dan memberi
tekanan bagi neraca perdagangan nasional;
2. proses konsolidasi di sektor tambang sebagai dampak dari penerapan kebijakan pengaturan ekspor
mineral, terutama di daerah-daerah yang merupakan basis produksi tambang, dalam jangka pendek
akan memberi tekanan bagi kinerja ekspor daerah;
3. risiko fiskal yang mungkin timbul apabila kapasitas fiskal tidak lagi memadai untuk mengakselerasi
perekonomian karena besarnya beban subsidi energi;
4. potensi kenaikan inflasi karena kenaikan harga minyak dunia dan implikasi dari kebijakan yang
ditempuh untuk membatasi penyaluran BBM bersubsidi tetap sesuai dengan kuotanya, serta
rentannya gangguan distribusi karena kualitas infrastruktur khususnya konektivitas yang belum
sepenuhnya memadai;
5. kemampuan daya saing daerah, khususnya daya saing ekspor manufaktur, menghadapi persaingan
global terutama dengan implementasi Komunitas Ekonomi ASEAN yang berlaku pada 2015. Daya
saing ekspor manufaktur secara umum masih rendah dan cenderung menurun, serta secara spasial
hanya Jawa yang memiliki kekuatan daya saing ekspor manufaktur dibandingkan daerah lainnya.
Kerentanan ekonomi daerah terhadap berbagai risiko tersebut di atas tidak terlepas dari permasalahan
struktural yang masih perlu diatasi. Permasalahan struktural utama di daerah adalah terkait daya saing
dan kapasitas industri yang terbatas karena masih lemahnya faktor SDM dan infrastruktur. Di samping
itu, perbaikan lingkungan pendukung (enabling factors) di berbagai daerah, termasuk pembangunan
infrastruktur dan perbaikan layanan birokrasi/perizinan, berjalan lebih lambat dibandingkan dengan
negara-negara peers di Asia.
Untuk mengatasi berbagai persoalan struktural diperlukan strategi kebijakan yang tepat dan saling
terintegrasi dengan baik. Langkah reformasi struktural perlu ditempuh dan difokuskan pada upaya
peningkatan daya saing ekspor manufaktur dan diversifikasi perekonomian daerah melalui penguatan
lingkungan pendukung (enabling environment), termasuk logistik dan konektivitas, kemudahan berusaha,
dan akses pembiayaan jangka panjang. Terdapat beberapa hal pokok yang perlu ditempuh dan menjadi
Laporan Nusantara|9
bagian penting di dalam agenda reformasi struktural untuk mendorong percepatan pembangunan
ekonomi daerah.
Pertama, kebijakan dan regulasi yang mendukung pada perbaikan kemudahan berusaha dan daya saing,
khususnya untuk industri berorientasi ekspor. Dukungan kebijakan tersebut, antara lain berupa
penyederhanaan layanan perizinan investasi, peningkatan pelayanan terpadu satu atap (PTSP),
penyediaan insentif fiskal dan pengembangan strategi investasi nasional-daerah yang terintegrasi.
Strategi peningkatan investasi diarahkan pada barang manufaktur berorientasi ekspor dan masuk ke
dalam rantai pasok global.
Kedua, mempercepat penyelesaian target pembangunan infrastruktur dan sistem logistik nasional
sebagaimana telah tertuang di dalam strategis MP3EI. Implementasi percepatan pembangunan
infrastruktur didukung oleh penerapan kebijakan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) nasional,
serta ketegasan implementasi RTRW di tingkat daerah.
Ketiga, upaya memperbaiki kualitas layanan birokrasi dan perizinan, termasuk penyelarasan peraturan
baik di antara pusat dan daerah maupun antar daerah. Di samping itu, dukungan fiskal daerah diarahkan
untuk mendukung pengembangan infrastruktur dan terjaganya stabilitas harga sehingga dapat
mendorong penciptaan daya saing yang lebih baik.
Keempat, khusus pengembangan ekonomi Kawasan Timur Indonesia (KTI) dilakukan melalui
pengembangan industri manufaktur berbasis Sumber Daya Alam (SDA) serta strategi pembangunan
berwawasan maritim dan ramah lingkungan. Prioritas kebijakan ditempuh dan diarahkan secara
konsisten dalam rangka menurunkan biaya logistik, perbaikan kebijakan tata ruang dan konektivitas
maritim, pembangunan energi alternatif terbarukan, penguatan modal manusia, serta mendorong
peningkatan kapasitas penelitian dan pengembangan (research and development).
Kelima, untuk pembiayaan pembangunan perlu dilakukannya reformasi fiskal dalam rangka
memperbesar ruang fiskal bagi pembiayaan pembangunan dan mendorong skema Kerjasama
Pemerintah-Swasta (KPS) yang efektif.
Terakhir, penciptaan lingkungan makroekonomi yang stabil dan kondusif bagi kesinambungan
pembangunan ekonomi didukung oleh adanya koordinasi yang kuat antara otoritas moneter, fiskal, dan
sektor riil, serta antara pemangku kebijakan di tingkat pusat dan daerah.
Laporan Nusantara ini disarikan dari hasil pertemuan Dewan Gubernur Bank Indonesia dengan KepalaKepala Perwakilan Bank Indonesia tingkat Wilayah di seluruh Indonesia pada 11 Agustus 2014 di Manado.
Pertemuan dilakukan setiap triwulannya untuk membahas perkembangan terkini dan berbagai isu strategis
yang menjadi perhatian di daerah sebagai bahan pertimbangan penting dalam perumusan kebijakan
moneter di Bank Indonesia
L a p o r a n N u s a n t a r a | 10
Perekonomian Kawasan Timur Indonesia (KTI) pada triwulan II 2014 mencatat angka pertumbuhan yang
membaik yakni sebesar 4,9% (yoy) dibandingkan dengan triwulan sebelumnnya yang sebesar 4,6%
(yoy). Membaiknya pertumbuhan KTI ditopang oleh industri pengolahan, terutama industri makanan
olahan dan mulai beroperasinya pabrik olahan CPO baru di Sulawesi Barat, meningkatnya produksi
liquified natural gas (LNG) di Papua Barat, serta meningkatnya kinerja pariwisata di Bali. Meski
demikian, sektor pertambangan, yang memiliki peranan cukup besar dalam perekonomian KTI, masih
mengalami kontraksi pertumbuhan. Hal ini disebabkan oleh konsolidasi terhadap penerapan kebijakan
pengaturan ekspor mineral yang mulai berlaku sejak awal tahun 2014. Di samping itu, berlanjutnya tren
perlambatan ekonomi Tiongkok berimbas pada melemahnya kinerja ekspor batubara dari Kalimantan
Timur dan Kalimantan Selatan. Kontraksi pertumbuhan sektor pertambangan relatif dapat tertahan
oleh adanya perbaikan kinerja ekspor feronikel di Sulawesi Tenggara, mulai beroperasinya beberapa
smelter untuk alumina di Kalimantan Barat, biji besi di Kalimantan Selatan dan nikel di Sulawesi Utara.
Sementara itu, meningkatnya pertumbuhan ekonomi di Papua pada triwulan laporan lebih dipengaruhi
faktor base effect kondisi operasional tambang yang sempat terhenti selama triwulan II 2013.
Memasuki triwulan III 2014, berbagai indikator ekonomi daerah-daerah di KTI mengindikasikan laju
pertumbuhan ekonomi secara agregat cenderung melambat. Kontraksi pertumbuhan ekonomi di sektor
pertambangan diperkirakan masih berlanjut, walaupun pada perkembangan terakhir ekspor tembaga
dari Papua dapat kembali dilakukan sejak awal Agustus 2014. Di sisi lain, kegiatan produksi tembaga di
Nusa Tenggara Barat (NTB) justru terhenti sejak Juni 2014 dan diperkirakan berdampak pada kontraksi
pertumbuhan ekonomi yang cukup dalam di NTB. Perkembangn di sektor tambang yang melambat juga
terindikasi di sebagian besar Kalimantan seiring dengan masih melemahnya permintaan ekspor
batubara dan cenderung turunnya produksi LNG.
Pertumbuhan ekonomi KTI pada triwulan III 2014 diperkirakan lebih banyak ditopang oleh konsumsi
domestik. Realisasi pembayaran gaji ke-13 dan peningkatan kinerja pariwisata di sejumlah daerah
tujuan wisata utama di KTI seperti Bali, Sulawesi Utara, dan NTB diperkirakan menopang pertumbuhan
ekonomi KTI. Kenaikan kinerja pariwisata tersebut seiring dengan masuknya masa liburan sekolah dan
cenderung meningkatnya arus kunjungan wisatawan asing. Selain itu, masih berlanjutnya
pembangunan proyek infrastruktur, yang termasuk dalam program MP3EI, dan pabrik pemurnian
mineral di beberapa daerah seperti Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan dan
Kalimantan Barat, diperkirakan dapat menahan perlambatan ekonomi KTI lebih lanjut.
Perkembangan inflasi KTI hingga Juli 2014 masih berada dalam tren yang menurun. Hal ini disebabkan
oleh hilangnya pengaruh kenaikan harga BBM yang terjadi pada pertengahan 2013 (base effect), serta
relatif terkendalinya inflasi pada masa lebaran, seiring peran aktif Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID)
di wilayah KTI dalam memastikan kelancaran pasokan dan gejolak komoditas pangan strategis. Tren
penurunan inflasi diperkirakan akan berlanjut pada triwulan III 2014 yang disebabkan oleh kembali
normalnya permintaan masyarakat pasca-lebaran yang akan mendorong koreksi harga dan tarif
beberapa komoditas dan jasa. Kendati juga berada dalam tren yang menurun, beberapa daerah di KTI
seperti Maluku Utara, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tengah masih mencatat angka inflasi yang cukup
Laporan Nusantara| 11
tinggi yakni di kisaran 7% terutama karena kenaikan tarif angkutan udara dan sempat terkendalanya
pasokan pangan di Maluku Utara.
Sejalan dengan kondisi perekonomian yang melambat, pembiayaan perbankan di KTI cenderung
tumbuh melambat dari triwulan I 2014 sebesar 17,4% (yoy) menjadi 13,0% (yoy) pada akhir triwulan II
2014 2014. Hampir seluruh sektor korporasi utama mengalami perlambatan pertumbuhan pembiayaan,
terutama sektor pertambangan. Demikian halnya dengan pembiayaan kepada sektor rumah tangga
yang menunjukan perlambatan. Perlambatan pembiayaan perbankan juga terjadi pada kredit UMKM
dengan pertumbuhan kredit yang tercatat sebesar 17,9% (yoy), menurun dari triwulan I 2014 sebesar
19,9% (yoy). Namun, pembiayaan perbankan di sektor industri pengolahan mengalami peningkatan
dengan adanya pembangunan industri pemurnian logam dan industri pengolahan CPO di beberapa
daerah di Kalimantan dan Sulawesi. Sementara itu, sesuai dengan pola historisnya, transaksi tunai dan
nontunai (melalui SKNBI dan BI-RTGS) cenderung meningkat pada triwulan II 2014. Hal ini dipengaruhi
oleh berbagai kegiatan pada triwulan II 2014 yang mendorong nasabah melakukan penarikan uang
seperti adanya perayaan keagamaan (Ramadhan dan Idul Fitri), liburan sekolah dan tahun ajaran baru.
Perkembangan terkini mengindikasikan perekonomian KTI pada tahun 2014 diprakirakan tumbuh di
kisaran 4,5% - 5,0% (yoy) atau di bawah prakiraan sebelumnya. Perkembangan di sektor tambang di
berbagai daerah di Kalimantan, Nusa Tenggara Barat yang belum membaik, kontraksi lifting gas (natural
declining) di Kalimantan dan melemahnya permintaan ekspor dari mitra dagang khususnya Tiongkok
untuk komoditas batubara diperkirakan menyebabkan pertumbuhan ekonomi di sebagian besar
Kalimantan cenderung melambat. Demikian halnya dengan berhenti totalnya operasional kegiatan
tambang tembaga di Nusa Tenggara Barat sejak Juni 2014 berimplikasi pada lebih dalamnya kontraksi
pertumbuhan ekonomi di NTB. Perkembangan positif yang dapat menahan perlambatan ekonomi lebih
lanjut berasal dari mulai kembali dilakukannya ekspor tembaga dari Papua sejak Agustus 2014, serta
berlanjutnya pembangunan proyek infrastruktur berskala besar, dan pembangunan industri pemurnian
logam di berbagai daerah di KTI.
Pada sisi harga, inflasi KTI tahun 2014 masih sejalan dengan prakiraan sebelumnya yakni berada pada
kisaran 4,7% – 5,2 % (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2013 (7,8%, yoy). Tekanan inflasi
diperkirakan terutama bersumber dari kelompok bahan makanan dan kenaikan TTL yang terjadi pada
semester II 2014. Beberapa risiko yang perlu diwaspadai dapat berpotensi mendorong inflasi tahun
2014 adalah kebijakan pembatasan penjualan BBM bersubsidi untuk mengamankan kuota APBN-P 2014
yang mulai berlaku per 1 Agustus 2014 yang berpotensi untuk meningkatkan tarif angkutan dan
kenaikan harga komoditas. Risiko inflasi pangan terkait potensi El-Nino jika intensitasnya meningkat
menjadi moderat-kuat, serta tidak adanya kuota penyaluran Raskin pada bulan November dan
Desember 2014. Selain itu, adanya resiko terkait rencana pemerintah untuk menyesuaikan tarif batas
atas angkutan udara pasca-lebaran, terutama untuk wilayah KTI, mengingat transportasi mempunyai
porsi yang besar dalam mobilisasi orang dan barang di wilayah KTI.
Laporan Nusantara| 12
PERTUMBUHAN EKONOMI
Perekonomian berbagai daerah di wilayah Sulawesi-Maluku-Papua (Sulampua) secara agregat mencatat
kenaikan angka pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2014. Beberapa provisi seperti Papua, Papua
Barat, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara dapat mencatat angka pertumbuhan yang lebih tinggi
dibanding triwulan sebelumnya sehingga pertumbuhan ekonomi Sulampua mencapai 6,8% (yoy), lebih
tinggi dari triwulan I 2014 (5,4%, yoy). Meningkatnya angka pertumbuhan ekonomi tersebut terutama
didorong oleh perbaikan kinerja industri pengolahan, terutama industri makanan olahan dan mulai
beroperasinya pabrik olahan CPO baru di Sulawesi Barat, membaiknya kinerja ekspor feronikel di
Sulawesi Tenggara, serta meningkatnya produksi LNG di Papua Barat. Sementara itu, meningkatnya
angka pertumbuhan ekonomi di Papua lebih dipengaruhi oleh faktor base effect karena sempat
terhentinya operasional penambangan pada triwulan yang sama tahun sebelumnya.
Memasuki triwulan III 2014, perkembangan indikator ekonomi terkini di Sulampua mengindikasikan
potensi kembali meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Faktor pendorong pertumbuhan berasal dari
akselerasi komponen investasi serta relatif stabilnya kinerja ekspor dengan orientasi penjualan ke luar
negeri. Selain itu, kembali dilakukannya ekspor tembaga Papua sejak Agustus 2014 dapat mendukung
perbaikan angka pertumbuhan ekonomi di Sulampua. Perkembangan terakhir ini mengindikasikan
perekonomian Sulampua untuk keseluruhan tahun 2014 berpotensi untuk dapat tumbuh di kisaran
6,4% - 6,9% (yoy), lebih tinggi dari prakiraan sebelumnya. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi
Sulampua di tahun 2014 akan tumbuh dibawah capaian tahun sebelumnya sebagai imbas dari
konsolidasi di sektor tambang.
Konsumsi
Konsumsi Rumah Tangga
Pada triwulan II 2014, konsumsi rumah tangga (termasuk konsumsi nirlaba) tumbuh sebesar 7,8% (yoy),
lebih tinggi dari triwulan sebelumnya (7,4%, yoy). Meningkatnya laju pertumbuhan konsumsi rumah
tangga didorong oleh peningkatan belanja rumah tangga karena adanya musim panen raya, hari besar
keagamaan, musim liburan di akhir periode, pemilu, serta maraknya penyelenggaraan kegiatan berskala
nasional maupun internasional di Sulampua. Hal ini juga tercermin dari perkembangan arus barang
yang dibongkar di pelabuhan Makassar yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan periode triwulan I 2014
(Grafik II.1.1).
Perkembangan indikator terkini mengindikasikan konsumsi rumah tangga cenderung tumbuh lebih
lambat pada triwulan III 2014. Hal ini terindikasi dari nilai tukar petani di beberapa daerah sentra yang
mulai menurun pada awal triwulan III 2014 sehingga ada potensi penurunan tingkat pendapatan (Grafik
II.1.2). Bersamaan dengan hal tersebut, kinerja subsektor perdagangan yang dicerminkan oleh indeks
penjualan eceran riil (IPER) tidak menunjukkan peningkatan pada Juli 2014 sedangkan optimisme
masyarakat yang ditunjukkan oleh indeks keyakinan konsumen (IKK) cenderung melemah. Penyaluran
kredit yang digunakan untuk kebutuhan konsumtif juga dinilai masih akan berada dalam tren yang
melambat (Grafik II.1.3). Namun, aktivitas terkait Pemilu 2014 di awal triwulan III 2014, perayaan Idul
Laporan Nusantara| 13
Fitri, serta event besar yang juga mendukung kinejra pariwisata di beberapa kota (Raja Ampat, Ambon,
Makassar, Tomohon, Manado) diperkirakan dapat menopang kinerja konsumsi sehingga
pertumbuhannya masih terjaga di tingkat yang cukup tinggi.
Konsumsi Pemerintah
Konsumsi pemerintah berbagai daerah di Sulampua secara agregat mengalami akselerasi pada triwulan
II 2014. Komponen ini tumbuh sebesar 7,9% (yoy) setelah pada triwulan sebelumnya mencatat
pertumbuhan sebesar 7,4% (yoy). Membaiknya kinerja konsumsi pemerintah didorong oleh
meningkatnya intensitas penyerapan anggaran belanja pemerintah pada triwulan II 2014 dibandingkan
triwulan sebelumnya. Kendala akibat adanya pergantian formasi karena mutasi pegawai pemerintah
juga relatif minimal sehingga pelaksanaan program kerja dapat berlangsung dengan intensitas yang
lebih tinggi. Adanya seleksi CPNS di beberapa daerah serta pencairan tunjangan sertifikasi guru juga
turut menunjang peningkatan belanja operasional pemerintah daerah.
Pada triwulan III 2014, kinerja konsumsi pemerintah diprakirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan
triwulan sebelumnya. Meningkatnya pertumbuhan konsumsi pemerintah terutama berasal dari realiasi
belanja terkait proyek infrastruktur pemerintah, khususnya di Sulawesi Barat, Gorontalo, Sulawesi
Utara, Papua, dan Papua Barat. Hal ini diperkirakan dapat mendorong penyerapan anggaran belanja
lebih lanjut. Selain itu, realisasi pembayaran gaji ke-13 bagi PNS, TNI, polri, pejabat negara, dan
penerima pensiun/tunjangan turut berdampak positif bagi peningkatan kinerja konsumsi pemerintah.
Indikator giro pemerintah daerah hingga Juni 2014 juga tercatat lebih tinggi dari rata-rata tiga tahun
sebelumnya sehingga kegiatan belanja pemerintah diharapkan dapat dioptimalkan pada triwulan III
2014 (Grafik II.1.3).
Volume Barang Dalam Negeri yang Dibongkar
gVolume
Ribu Ton
%, yoy
30
2,000
1,800
1,600
1,400
1,200
1,000
800
600
400
200
0
Indeks
NTP Papua Barat
NTP Sulawesi Tengah
IPER Makassar
IKK Ambon - Skala Kanan
Indeks
105
160
20
10
0
(10)
(20)
(30)
(40)
I
II
III
2011
IV
I
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
2014
Sumber: Kantor Administrasi Pelabuhan
Grafik II.1.1. Volume Barang yang Dibongkar
150
100
140
95
130
120
90
110
85
100
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7
I
II
III
IV
2012
I
II
III
2013
IV
I
II
III
2014
Sumber: BPS, diolah
Grafik II.1.2. Indeks Indikator Konsumsi
Investasi
Kinerja investasi masih dapat tumbuh tinggi walaupun dengan arah yang cenderung melambat pada
triwulan II 2014 yaitu dari 11,4% (yoy) menjadi 11,2% (yoy). Investasi di beberapa provinsi masih
tumbuh di atas 10% yaitu di Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Maluku,
dan Papua Barat. Perlambatan yang terjadi dinilai disebabkan oleh realisasi penanaman modal asing
maupun modal dalam negeri di Sulampua yang turun pada triwulan II 2014 dibandingkan triwulan yang
sama tahun sebelumnya. Indikator penyaluran kredit investasi serta realisasi pengadaan semen juga
bergerak sejalan dengan melambatnya investasi (Grafik II.1.3 dan Grafik II.1.4).
Laporan Nusantara| 14
Giro Pemerintah Daerah
gKredit Konsumsi - Skala Kanan
gKredit Investasi - Skala Kanan
gKredit Modal Kerja - Skala Kanan
Rp Triliun
30
25
%, yoy
60
50
20
40
15
30
10
20
5
10
0
0
I
II
III
2011
IV
I
II
III
IV
I
2012
II
III
2013
IV
I
II
2014
Grafik II.1.3. Pertumbuhan Kredit Menurut Jenis
Penggunaan dan Baki Debet Giro Pemerintah
Daerah
Realisasi Pengadaan Semen
gPengadaan Semen - Skala Kanan
Ribu Ton
1,800
1,600
1,400
1,200
1,000
800
600
400
200
0
I
II
III
2011
IV
I
II
III
IV
2012
I
II
III
2013
%, yoy
35
30
25
20
15
10
5
0
(5)
(10)
IV
I
II
2014
Sumber: Asosiasi Semen Indonesia
Grafik II.1.4. Realisasi Pengadaan Semen
Pertumbuhan investasi diprakirakan kembali meningkat pada triwulan III 2014 seiring berjalannya
proyek pembangunan multiyears milik pemerintah maupun swasta. Proyek yang berlanjut antara lain
adalah pembangunan smelter (Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Sulawesi Selatan),
pembangunan pembangkit listrik (Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara), pabrik semen
(Papua Barat), pusat hiburan dan perbelanjaan (Sulawesi Utara, Papua Barat), jalan lingkar pulau
(Maluku, Maluku Utara), hotel dan rumah sakit (Papua Barat), serta berlanjutnya pembangunan
beberapa proyek infrastruktur MP3EI seperti jalan raya, jembatan, dan sarana irigasi. Adapun proyek
jalan tol Manado-Bitung serta jalur KA penumpang maupun barang dengan rute Makassar-Parepare
diharapkan dapat memasuki fase groundbreaking pada triwulan III 2014.
Perdagangan Luar Negeri
Ekspor
Kinerja ekspor luar negeri nonmigas Sulampua pada triwulan II 2014 masih cenderung menurun meski
tidak sedalam periode triwulan sebelumnya. Nilai ekspor luar negeri nonmigas Sulampua selama
periode April-Juni 2014 tercatat sebesar USD1,02 miliar atau turun sebesar -36,93% (yoy) setelah turun
hingga -39,45% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Perbaikan kinerja ekspor luar negeri didorong oleh
ekspor pertanian dan industri pengolahan. Permintaan yang meningkat berdampak positif bagi ekspor
kakao (Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah), rempah-rempah (Sulawesi Utara), ikan olahan (Sulawesi
Utara, Sulawesi Selatan, Maluku), serta aneka sayur/buah olahan. Hal ini didukung oleh pasokan yang
terjaga karena adanya musim panen dan cuaca yang lebih kondusif pada triwulan II 2014. Harga kakao
di pasar global yang sedang berada dalam tren meningkat juga dinilai menambah insentif produksi.
Pada triwulan III 2014, kinerja ekspor luar negeri diprakirakan masih belum akan menunjukkan
perbaikan yang berarti. Kegiatan ekspor luar negeri akan ditopang oleh peningkatan ekspor LNG (Papua
Barat) seiring perbaikan harga jual serta ekspor nikel olahan (Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan) dan
minyak nabati (Sulawesi Utara, Sulawesi Barat) seiring terjaganya tingkat produksi. Sementara itu,
kembali dapat dilakukannya ekspor konsentrat tembaga dari Papua akan memperbaiki kinerja ekspor
lebih lanjut. Namun, dibandingkan dengan capaiannya pada triwulan III 2013, ekspor konsentrat
tembaga akan tetap mengalami kontraksi pada triwulan III 2014. Hal ini masih ditambah dengan
penurunan ekspor bijih nikel Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Dari sisi eksternal, terdapat risiko
Laporan Nusantara| 15
penahan pertumbuhan seiring mulai turunnya indikator purchasing managers index (PMI) negara
tujuan ekspor Sulampua (Grafik II.1.5).
Jepang
Tiongkok
Korea Selatan
Zona Eropa
Indeks
US$ Juta
58
700
56
600
54
500
Total Impor - Skala Kiri
gImpor Barang Antara
gImpor Barang Modal
gImpor Barang Konsumsi
%, yoy
350
300
250
200
150
100
50
0
(50)
(100)
(150)
400
52
300
50
200
48
100
46
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9 10 11 12 1
2
3
2013
4
5
2014
Sumber: Bloomberg
Grafik II.1.5. Purchasing Managers Index
Manufaktur Negara Tujuan Ekspor
6
7
I
II
III
2011
IV
I
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
2014
Sumber: Bea Cukai, diolah
Grafik II.1.6. Pertumbuhan Nilai Impor Luar Negeri
Menurut Kategori Barang
Impor
Impor luar negeri nonmigas mengalami penurunan yang lebih besar dari triwulan sebelumnya. Impor
luar negeri nonmigas tercatat sebesar US$430,97 juta pada triwulan II 2014 atau terjadi kontraksi
sebesar -31,78% (yoy) setelah kinerjanya turun hingga -10,17% (yoy) pada triwulan I 2014. Lebih
rendahnya pertumbuhan impor terutama didorong oleh turunnya impor barang antara dan barang
modal dari luar negeri untuk sektor pertambangan karena berkurangnya aktivitas produksi akibat
pembatasan ekspor mineral dalam bentuk mentah (Grafik II.1.6). Selain itu, tidak adanya impor
pesawat terbang pada triwulan II 2014 seperti yang dilakukan pada triwulan II 2013 membuat laju
pertumbuhan tidak terakselerasi secara tahunan.
Memasuki triwulan III 2014, kinerja impor luar negeri diprakirakan masih akan mengalami kontraksi.
Masih turunnya kinerja sektor pertambangan tetap menjadi faktor utama penahan laju impor dari luar
negeri. Selain itu, impor barang konsumsi dinilai tidak akan terakselerasi seiring melambatnya kegiatan
konsumsi. Meski demikian, masih terdapat beberapa faktor yang akan menopang kinerja impor pada
triwulan III 2014. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah kebutuhan barang modal untuk proyek
investasi serta adanya peningkatan aktivitas industri pengolahan nontambang yang membutuhkan
bahan baku/penolong seperti seperti gandum, raw sugar, ampas kedelai, dan bahan kimia.
Kinerja Sektor Utama Daerah
Sektor Pertambangan dan Penggalian
Kinerja produksi di sektor pertambangan dan penggalian masih cenderung menurun pada triwulan II
2014 sebagaiman diprakirakan sebelumnya. Hal ini terutama dipengaruhi oleh konsolidasi di sektor
tambang terkait penerapan kebijakan pengaturan ekspor mineral sejak awal tahun 2014. Aktivitas
produksi tembaga di Papua sepanjang triwulan II 2014 hanya berada di kisaran 40% - 50% dari kapasitas
normalnya dan diperuntukkan bagi pemenuhan kebutuhan smelter di Jawa Timur. Meski demikian,
perbaikan kinerja produksi tambang nikel di Sulawesi Tenggara terkait dengan peningkatan kebutuhan
industri feronikel, dan faktor base effect produksi tembaga di Papua yang sempat terhenti pada
triwulan yang sama tahun sebelumnya, menyebabkan angka penurunan kinerja sektor pertambangan di
wilayah Sulampua tidak sedalam triwulan sebelumnya.
Laporan Nusantara| 16
Pada triwulan III 2014, produksi sektor pertambangan dan penggalian Sulampua diprakirakan masih
mengalami kontraksi namun kondisinya tidak seburuk triwulan II 2014. Perbaikan di sektor ini didukung
oleh dapat kembali dilakukannya ekspor tembaga dari Papua pada Agustus 2014. Diperolehnya ijin
ekspor akan kembali memacu kegiatan produksi yang sebelumnya terhenti. Kinerja produksi bijih nikel
di Sulawesi Tenggara juga diprakirakan membaik untuk memenuhi kebutuhan bahan baku feronikel
yang permintaannya meningkat sejak triwulan II 2014 dari negara mitra dagang di Eropa.
%, yoy
gProduksi Konsentrat Tembaga (Papua)
250
gProduksi Bijih Nikel (Sulawesi Tenggara)
200
gProduksi Emas (Papua)
gProduksi Feronikel (Sulawesi Tenggara)
%, yoy
gProduksi Nikel Matte (Sulawesi Selatan)
80
gProduksi Terigu (Sulawesi Selatan)
60
150
40
100
20
50
0
0
(20)
(50)
(40)
(100)
I
II
III
IV
2011
I
II
III
IV
2012
Sumber: Produsen, diolah
I
II
III
2013
IV
I
II
IIIp
2014
p) Proyeksi Bank Indonesia
Grafik II.1.7. Pertumbuhan Produksi Mineral
I
II
III
2011
IV
I
II
III
2012
Sumber: Produsen, diolah
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
IIIp
2014
*) Angka sementara
Grafik II.1.8. Pertumbuhan Produksi Manufaktur
Sektor Industri Pengolahan
Pada triwulan II 2014, sektor industri pengolahan mengalami kenaikan pertumbuhan sebesar 9,1%
(yoy) setelah sebelumnya tercatat tumbuh 3,2% (yoy). Peningkatan laju pertumbuhan sektor ini
didorong oleh beberapa industri yakni industri feronikel, industri LNG, dan industri CPO, serta industri
makanan olahan. Peningkatan produksi feronikel (Sulawesi Tenggara) dipengaruhi oleh faktor eksternal
berupa harga yang masih terjaga dan meningkatnya permintaan dari Belanda. Kenaikan produksi LNG
(Papua Barat) terjadi seiring akan mulai berlakunya harga jual yang baru dengan salah satu buyer utama
di Tiongkok pada Juli 2014. Sementara itu, beroperasinya pabrik pengolahan CPO baru di Sulawesi Barat
mampu mendorong pertumbuhan sektor industri pengolahannya hingga hampir mencapai 70%. Di
samping itu, naiknya permintaan terhadap produk makanan olahan (terigu dan kakao), produk sandang,
dan produk percetakan seiring momen persiapan Lebaran dan pemilu juga turut berkontribusi pada
percepatan di sektor ini (Grafik II.1.8).
Memasuki periode triwulan III 2014, kinerja sektor industri pengolahan diprakirakan masih akan
cenderung meningkat. Hal ini didorong terutama oleh kinerja sektor industri pengolahan hasil tambang
(nikel) di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara yang dinilai tidak akan mengalami gangguan
operasional. Di samping itu, setelah renegosiasi harga jual yang ditetapkan naik menjadi US$8,0 per
mmbtu dari sebelumnya sebesar US$2,7 per mmbtu, produksi LNG di Papua Barat diprakirakan
mengalami percepatan. Industri barang yang dikonsumsi serta industri pengolahan minyak nabati
(Sulawesi Utara dan Sulawesi Barat) juga dinilai akan tetap memberi kontribusi positif seiring lanjutan
aktivitas pemilu, liburan sekolah, dan perayaan Lebaran di awal triwulan. Selain itu, meski terbatas
pada tahap uji coba, kegiatan salah satu smelter tipe home industry di Sulawesi Tenggara berpotensi
mendorong kinerja sektor industri pengolahan.
Sektor Pertanian
Laju pertumbuhan sektor pertanian pada triwulan II 2014 tercatat relatif stabil dibandingkan dengan
triwulan I 2014 yaitu sebesar 7,0% (yoy). Stabilnya perkembangan sektor pertanian didukung oleh
Laporan Nusantara| 17
musim panen subsektor tabama dan perkebunan serta minimalnya gangguan bagi subsektor perikanan
budidaya. Penggunaan bibit unggul (Sulawesi Selatan) serta meningkatnya luas panen seiring irigasi
yang lebih baik (Sulawesi Tenggara) diyakini mampu menjaga pertumbuhan subsektor tabama. Adanya
musim panen kakao serta peningkatan permintaan produk kakao dari Tiongkok mendukung produksi
subsektor perkebunan. Sementara itu, subsektor perikanan budidaya (udang) mengalami akselerasi
karena meningkatnya permintaan dari Eropa di tengah penurunan pasokan dari Vietnam dan India
akibat ganguan penyakit (virus).1 Di sisi lain, faktor penahan percepatan adalah kinerja subsektor
tabama (Gorontalo) dan subsektor perkebunan (Maluku) yang tidak tumbuh lebih tinggi dari triwulan I
2014 (Grafik II.1.9) serta masuknya masa tanam di Papua.
Pada triwulan III 2014, kinerja sektor pertanian diprakirakan akan tumbuh dengan kecenderungan
melambat. Masuknya masa tanam di sebagian besar daerah di Sulawesi membuat produksi tidak
setinggi periode sebelumnya. Selain itu, prospek kakao masih pesimis hingga akhir tahun 2014 setelah
lewatnya puncak panen. Penurunan produktivitas kakao memang merupakan isu di tingkat nasional. Di
Sulawesi, masalah umur tanaman yang sudah tua menjadi penyebab utama terjadinya penurunan
produksi. Sementara itu, faktor musiman datangnya Ramadhan dan Lebaran dinilai akan menekan
kinerja subsektor perikanan tangkap karena kecenderungan nelayan di wilayah Sulampua yang akan
berhenti beroperasi menjelang dan beberapa hari setelah Lebaran (Grafik II.1.10).
Luas Panen Jagung (Gorontalo)
%, yoy
%, yoy
Produksi Kopra (Maluku)
150
150
Produksi Karet (Maluku) - Skala Kanan
100
100
50
50
0
0
(50)
(50)
(100)
(150)
(100)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6
I
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
Ribu Ton
20
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0
PPS Bitung
PPS Kendari
PPN Ambon
gProduksi - Skala Kanan
150
100
50
0
(50)
(100)
(150)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7
I
II
2014*
Sumber: Produsen dan Dinas Pertanian
*) Angka sementara
%, yoy
III
2012
Sumber: KKP
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
III
2014
*) Angka sementara
Grafik II.1.10. Produksi Ikan Tangkap
Grafik II.1.9. Pertumbuhan Produksi Komoditas
Pertanian
PERKEMBANGAN INFLASI
Pada triwulan II 2014, laju inflasi Sulampua tidak mengalami perubahan yang berarti dibandingkan
dengan triwulan I 2014 yaitu dari 6,64% (yoy) menjadi 6,68% (yoy). Stabilnya inflasi didukung oleh
terjaganya harga-harga di beberapa provinsi dengan bobot kota IHK yang besar seperti Sulawesi
Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua, dan Papua Barat. Kenaikan laju inflasi komponen inti (core inflation)
serta volatile food pada triwulan II 2014 tertahan oleh penurunan laju inflasi tahunan komponen
administered price karena efek basis perhitungan seiring tidak adanya kebijakan harga dari pemerintah
yang berdampak signifikan seperti saat penyesuaian BBM yang terjadi pada Juni 2013.
Rilis inflasi periode Juli 2014 memperlihatkan inflasi secara tahunan masih dalam tren yang menurun
yakni menjadi 4,51% (yoy). Dilihat dari komponen disagregasinya, penurunan inflasi pada Juli 2014
1
Hasil liaison kepada eksportir udang
Laporan Nusantara| 18
disumbangkan oleh komponen administered price dan volatile food. Hal ini terutama disebabkan oleh
hilangnya pengaruh kenaikan harga BBM yang telah meningkatkan tekanan inflasi sejak akhir Juni 2013.
Penyesuaian harga BBM bersubsidi tersebut juga berdampak pada naiknya harga bahan pangan melalui
jalur ekspektasi yang kemudian ikut turun pada Juli 2014 bersamaan dengan penurunan inflasi
administered price. Inflasi aneka bumbu, daging, ikan, sayur, dan buah relatif menurun karena didukung
juga oleh kondisi pasokan yang cukup baik di musim panen dengan curah hujan yang lebih terbatas
(Grafik II.1.11). Di lain pihak, inflasi inti masih berada pada tren yang meningkat seiring ekspektasi
masyarakat yang juga menguat pada Juli 2014 (Grafik II.1.12). Di samping itu, cukup baiknya harga emas
internasional dan naiknya permintaan seiring Lebaran turut memengaruhi kenaikan inflasi inti.
Perkembangan harga yang cukup stabil hingga Juli 2014 diperkirakan berdampak positif bagi terjaganya
inflasi di triwulan III 2014. Meski panen raya telah selesai di beberapa daerah, beberapa daerah masih
akan mengalami panen komoditas tabama dan hortikultura. Curah hujan dan gelombang laut yang
relatif sama dengan periode sebelumnya dinilai akan mendukung penangkapan ikan dan distribusi. Hal
ini masih didukung oleh koreksi harga dan tarif beberapa komoditas setelah Lebaran. Adapun beberapa
provinsi perlu mendapat perhatian khusus karena tantangan distribusi (Maluku Utara, Maluku) dan
masalah disparitas harga pangan (Sulawesi Tengah) yang kerap mendorong kenaikan inflasi.
%, yoy
50
40
30
%, yoy
Emas Perhiasan
Daging Sapi
Rokok Kretek
Bawang Merah - Skala Kanan
500
400
Indeks
Ekspektasi Harga Konsumen Makassar
Inflasi Sulampua (mtm) Kumulatif 3 Bulan - Skala Kanan
%
200
8
190
6
300
20
200
10
0
(10)
(20)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7
2012
2013
2014
Grafik II.1.11. Perubahan Harga Beberapa
Komoditas, Survei Pemantauan Harga Bank
Indonesia di Makassar
4
180
2
100
170
0
160
(100)
150
0
(2)
(4)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
2012
2013
2014
Grafik II.1.12. Ekspektasi Harga Jangka Pendek
Konsumen, Survei Konsumen Bank Indonesia di
Makassar
Koordinasi Pengendalian Inflasi
Kelembagaan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Sulampua terus bertambah dan mendukung
semakin baiknya kegiatan pengendalian inflasi yang ada. Selama periode April-Juli 2014, telah
bertambah TPID DATI II antara lain di Jeneponto, Toraja Utara, Selayar, Pinrang, Sidrap, dan Luwu Utara
(Sulawesi Selatan); TPID Bolaang Mongondouw Timur (Sulawesi Utara); TPID Mamuju dan Polewali
Mandar (Sulawesi Barat); serta TPID Banggai, Tolitoli, Morowali Utara, dan Morowali (Sulawesi Tengah).
Total TPID DATI II yang telah terbentuk adalah sebanyak 47 TPID dari 139 DATI II (kabupaten/kota) yang
ada di Sulampua. Adapun 18 kota IHK di Sulampua seluruhnya telah memiliki TPID.
Secara kewilayahan, rapat koordinasi dilakukan secara intensif. Selain melakukan rapat koordinasi
wilayah (Rakorwil Pertama TPID Tahun 2014) pada 14 April 2014 di Makassar untuk membahas
penguatan kelembagaan dan sosialisasi slogan TPID Sulampua, juga telah dilakukan Rakorwil Kedua
TPID Tahun 2014 pada 18 Mei 2014 di Palu. Rakorwil Kedua tersebut lebih khusus membahas mengenai
isu konektivitas antardaerah dengan pemateri dari Pelindo serta peran dan kebijakan pemerintah di
bidang transportasi laut. Dari hasil pembahasan, Pelindo akan mendukung upaya peningkatan
konektivitas melalui perbaikan pada fasilitas fisik dan sistem kerja operasional. Selain itu, dalam
Laporan Nusantara| 19
menghadapi Ramadhan dan Lebaran, TPID se-Sulampua berupaya menjaga pasokan pangan, seperti
cabe dan cabe rawit (Sulawesi Utara), ikan segar (Maluku), ikan budidaya dan beras (Sulawesi Tengah),
serta komoditas pangan utama di provinsi lainnya. Sidak ke pasar serta penyelenggaraan pasar murah
juga menjadi agenda utama TPID. Kegiatan rapat high level serta rapat teknis di kabupaten/kota pun
terus dilakukan untuk memperkuat koordinasi dan komunikasi pengendalian inflasi.
STABILITAS SISTEM KEUANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM PEMBAYARAN
Ketahanan Sektor Korporasi
Penyaluran kredit produktif (Rp90,3 triliun) di Sulampua hingga Juni 2014 didominasi oleh kredit sektor
perdagangan (61,7%). Sementara itu, sektor industri tercatat hanya memiliki pangsa 6,6%, diikuti sektor
pertanian sebesar 4,7%, dan sektor pertambangan sebesar 1,0%. Hal ini menunjukkan bahwa peran
perbankan terhadap sektor ekonomi utama di Sulampua masih belum optimal, khususnya untuk sektor
primer. Dari sisi pertumbuhan, kredit produktif yang disalurkan kepada sektor utama di Sulampua
masih berada dalam tren yang melambat (Grafik II.1.13). Kredit ke sektor industri pengolahan bahkan
mengalami kontraksi. Dari sisi kualitas kredit, sektor perdagangan yang memiliki pangsa terbesar
memiliki non-performing loan (NPL) yang berada dalam level yang terjaga yakni di bawah 5% (Grafik
II.1.14). Sumber kerentanan terutama berasal dari imbas penerapan pengaturan ekspor komoditas
tambang yang berpotensi dapat memengaruhi NPL kredit terutama di sektor yang terkait.
Pertanian
%, yoy
Industri
100
Perdagangan
80
Pertambangan - Skala Kanan
60
40
20
0
(20)
(40)
I
II
III
2011
IV
I
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
%, yoy
%
Pertanian
140
120
100
80
60
40
20
0
(20)
(40)
12
Industri
II
2014
Grafik II.1.13. Pertumbuhan Kredit Sektor Utama
%
25
Perdagangan
10
20
Pertambangan - Skala Kanan
8
15
6
10
4
5
2
0
0
I
II
III
2011
IV
I
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
2014
Grafik II.1.14. Perkembangan NPL Kredit Sektor
Utama
Ketahanan Sektor Rumah Tangga
Penyaluran kredit rumah tangga2 di Sulampua tumbuh cenderung meningkat pada triwulan II 2014
(Grafik II.1.15), terutama didorong oleh KKB serta kredit multiguna. Di sisi lain KPR masih tumbuh cukup
tinggi meski melambat. Hal ini memberi sinyal bahwa permintaan masyarakat masih cukup kuat di
Sulampua. Dari total kredit rumah tangga sebesar Rp68,7 triliun, kredit multiguna memiliki pangsa
terbesar yaitu 51,5% sedangkan KPR dan KKB masing-masing mengambil pangsa 36,3% dan 7,3%. Arah
perkembangan NPL KPR dan kredit multiguna cenderung meningkat. Peningkatan NPL tersebut dinilai
merupakan dampak kenaikan suku bunga yang membuat kewajiban nasabah ikut meningkat sehingga
muncul kendala bagi nasabah yang tadinya belum memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga.
Meski demikian, secara umum pembiayaan kepada rumah tangga di Sulampua masih memiliki
2
Terdiri dari kredit pemilikan rumah (KPR), kredit kendaraann bermotor (KKB), kredit multiguna, kredit perlengkapan rumah tangga, serta
kredit rumah tangga lainnya yang tidak diklasifikasikan di tempat lain. Kredit bukan lapangan usaha tidak lagi dihitung sebagai kredit
rumah tangga.
Laporan Nusantara| 20
ketahanan yang cukup baik dengan rasio NPL seluruh jenis kredit rumah tangga yang masih berada di
bawah level aman (Grafik II.1.16).
Pembiayaan Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
Laju pertumbuhan kredit kepada UMKM di Sulampua masih berada dalam tren melambat pada
triwulan II 2014 (Grafik II.1.15). Kredit kepada UMKM di Sulampua tercatat sebesar Rp64,0 triliun
dengan pangsa sebesar 34,8% dari total kredit yang disalurkan. Kualitas pembiayaan UMKM cukup
berisiko seiring dengan peningkatan angka NPL sehingga berada di atas threshold 5% (Grafik II.1.16).
Untuk menekan NPL tersebut, upaya terintegrasi antara pemerintah dan perbankan harus terus
digalakan untuk membimbing UMKM yang ada di Sulampua agar memperoleh akses kepada sumber
pembiayaan serta mampu melakukan manajemen yang baik dalam menjaga repayment capacity
mereka. Adapun secara umum, upaya pengembangan klaster dan UMKM binaan terus dilakukan oleh
Bank Indonesia se-Sulampua. Beberapa program pengembangan klaster yang berlangsung sepanjang
tahun 2014 antara lain adalah klaster cabe (Sulawesi Utara), sapi (Gorontalo, Sulawesi Selatan),
hortikultura (Maluku), dan klaster bawang merah (Maluku Utara).
%, yoy
KPR
80
70
60
50
40
30
20
10
0
(10)
I
II
III
2011
KKB
IV
I
UMKM
II
III
IV
2012
Multiguna - Skala Kanan
I
II
III
2013
IV
I
%, yoy
%
500
6
400
5
300
4
200
3
100
2
0
1
(100)
0
II
2014
Grafik II.1.15. Pertumbuhan Kredit Rumah Tangga
dan Kredit UMKM
I
II
III
2011
IV
KPR
Multiguna
KKB
UMKM
I
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
2014
Grafik II.1.16. Perkembangan NPL Kredit Rumah
Tangga dan NPL UMKM
Kinerja Sistem Pembayaran
Sesuai dengan pola historisnya, kegiatan sistem pembayaran Sulampua menunjukkan peningkatan pada
triwulan II 2014, diilihat dari indikator transaksi melalui Real Time Gross Settlement (BI-RTGS).
Sementara itu, meski menurun hingga pertengahan triwulan II 2014, transaksi Sistem Kliring Nasional
Bank Indonesia (SKNBI) mengalami akselerasi pada akhir periode (Grafik II.1.17 dan Grafik II.1.18).
Peningkatan transaksi yang cukup pesat pada triwulan laporan baik melalui RTGS maupun kliring
dikarenakan banyaknya kebutuhan transaksi masyarakat menjelang Ramadhan dan persiapan
menjelang Hari Raya Idul Fitri serta peningkatan realisasi anggaran yang intensitasnya lebih tinggi pada
triwulan laporan.
Laporan Nusantara| 21
Rp Triliun
Total Transaksi RTGS
%, yoy
gTotal Transaksi - Skala Kanan
80
70
60
50
40
30
20
10
0
70
60
50
40
30
20
10
0
(10)
(20)
(30)
II
III
IV
I
II
2012
III
IV
I
2013
II
%, yoy
gTotal Transaksi Kliring - Skala Kanan
30
25
20
15
10
5
0
(5)
(10)
(15)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7
I
Total Kliring Kredit dan Debet Penyerahan
Rp Triliun
8
7
6
5
4
3
2
1
0
I
III
II
III
IV
I
II
2012
2014
Grafik II.1.17. Perkembangan Total Transaksi RTGS
III
IV
I
2013
II
2014
Grafik II.1.18. Perkembangan Total Transaksi
Kliring
Kinerja Pengelolaan Uang Tunai
Pengedaran uang kartal di Sulampua mencatat peningkatan pada sisi outflow dan penurunan pada sisi
inflow selama triwulan II 2014 dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Hal ini terjadi sebagai
dampak peningkatan aktivitas masyarakat sehingga kebutuhan akan uang ikut meningkat (Grafik
II.1.19). Kemudian, pada Juli 2014 yang merupakan bulan perayaan Lebaran, penarikan uang tercatat
meningkat signifikan seperti yang terjadi pada tahun sebelumnya. Sementara itu, temuan uang palsu
sepanjang periode triwulan II 2014 lebih banyak dari triwulan I 2014 yaitu dari 530 lembar menjadi 963
lembar (Grafik II.1.20). Untuk mengantisipasi peredaran uang palsu, kegiatan sosialisasi ciri-ciri keaslian
uang rupiah akan terus ditingkatkan intensitas maupun luas cakupannya. Kegiatan sosialisasi tersebut
biasanya dilakukan bersamaan dengan sosialisasi mengenai kebanksentralan dan edukasi keuangan
lainnya baik kepada pelajar, UMKM, maupun nelayan dan petani di wilayah kerja Bank Indonesia di
Sulampua. Dalam memastikan pengedaran uang layak edar, selain melalui layanan penukaran uang,
Bank Indonesia telah dan akan melakukan kegiatan kas keliling. Selama triwulan II 2014, kegiatan kas
keliling ke daerah pelosok telah dilakukan antara lain di Sulawesi Utara (Tamako, Sitaro, Tahuna), Papua
Barat (Raja Ampat, Fak-Fak, Sarmi, Wamena), Maluku Utara (Pulau Morotai, Pulau Bere-Bere), serta
Maluku (Pulau Banda, Lontor).
Rp Triliun
10
8
6
4
2
0
2
4
6
8
10
12
1
2
I
Outflow (Penarikan Nasabah)
Inflow (Penyetoran Nasabah)
1,200
1,000
800
1.59%
Total 2011-2014
Sulampua (6,153 lembar)
Lembar
Nasional (379,688 lembar)
Temuan Uang
Palsu di Sulampua
600
400
200
0
3
4
5
6
7
II
2012
8
9 10 11 12 1
2
III
IV
I
3
4
5
6
7
II
2013
8
9 10 11 12 1
2
III
IV
I
3
4
5
II
2014
Grafik II.1.19. Perkembangan Aliran Uang
6
7
III
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6
I
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
2014
Grafik II.1.20. Perkembangan Temuan Uang Palsu
PROSPEK PEREKONOMIAN
Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Perekonomian Sulampua untuk keseluruhan tahun 2014 diprakirakan tumbuh pada kisaran 6,4% - 6,9%
(yoy), di atas prakiraan sebelumnya. Hal ini didasari pertimbangan kembali dapat dilakukannya ekspor
Laporan Nusantara| 22
konsentrat tembaga dan emas dari produsen utama di Papua. Adanya kesepakatan antara pemerintah
dan produsen terkait bea keluar serta komitmen pembangunan smelter telah menghasilkan ijin ekspor
bagi produsen yang selanjutnya akan mulai melakukan ekspor pada Agustus 2014 ini. Pemerintah
kemudian akan mengambil langkah evaluasi setiap semester untuk melihat perkembangan
pembangunan smelter yang dijanjikan produsen. Apabila target tidak dipenuhi, kegiatan ekspor akan
kembali dihentikan. Meski telah direvisi ke atas, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2014 tetap lebih
rendah dari tahun sebelumnya (8,7%, yoy) sebagai dampak penerapan kebijakan pengaturan ekspor
mineral.
Dengan melihat kondisi di atas, tantangan pada sektor primer masih tetap mengemuka dalam
perekonomian Sulampua, khususnya terkait dengan hilirisasi. Dalam beberapa periode terakhir,
Sulampua menghadapi tantangan dalam hal peningkatan produksi biji kakao sebagai bahan baku
industri kakao. Masalah kakao menjadi sangat krusial karena Sulawesi merupakan daerah produsen
terbesar di Indonesia. Selain itu, pada sektor pertanian, terdapat tantangan untuk menjaga
produktivitas komoditas pertanian lainnya seperti padi, jagung, dan perikanan. Selanjutnya, hilirisasi
mineral, dalam hal ini melalui pembangunan smelter, harus terus didorong dan dipantau oleh pihak
terkait, termasuk di dalamnya adalah memastikan keberlangsungan pasokan bahan baku bagi smelter
yang dibangun.
Prospek Inflasi
Pada akhir 2014, proyeksi inflasi Sulampua masih sejalan dengan proyeksi sebelumnya yaitu pada
kisaran 4,65% - 5,15% (yoy) dengan kecenderungan ke batas atas. Kecenderungan ini didorong oleh
cukup tingginya inflasi inti dan volatile food pada triwulan II 2014 yang melebihi prakiraan sehingga
dapat memengaruhi pergerakan inflasi hingga di akhir tahun. Proyeksi inflasi tersebut lebih rendah dari
realisasi inflasi 2013 (7,02%, yoy) seiring hilangnya dampak kenaikan harga BBM bersubsidi yang terjadi
pada Juni 2013. Pada triwulan III 2014, tekanan inflasi diprakirakan akan kembali ke pola normal dan
cenderung turun setelah Lebaran. Inflasi kemudian akan bergerak naik di akhir tahun akibat
menguatnya permintaan pada periode liburan dan perayaan hari besar keagamaan. Curah hujan juga
kembali tinggi pada periode tersebut.
Selain faktor musiman, beberapa faktor risiko non-musiman terhadap inflasi di Sulampua tetap harus
diwaspadai dan diberi perhatian oleh TPID. Kebijakan pemerintah seperti penyesuaian tarif tenaga
listrik industri secara bertahap berpotensi meningkatkan inflasi melalui jalur cost-push. Ekspektasi
berlebih saat adanya event tertentu dan hari raya keagamaan sedapat mungkin diatasi melalui
komunikasi yang simetris. Upaya pengembangan dan penyempurnaan PIHPS harus terus dilakukan oleh
setiap TPID hingga di tingkat kabupaten/kota. Dengan informasi dan komunikasi yang tepat, diharapkan
ekspektasi harga dapat terkendali di akhir tahun agar tidak meningkat secara signifikan (Grafik II.1.22).
Laporan Nusantara| 23
Palu
Indeks
Manokwari
Manado
Makassar
180
170
160
150
140
130
120
110
100
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
I
II
III
IV
I
II
2013
III
Indeks
Ekspektasi Konsumen
202
200
198
196
194
192
190
188
186
Ekspektasi Pedagang - Skala Kanan
Indeks
100.15
100.10
100.05
100.00
99.95
99.90
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
IV
I
2014
II
III
IV
I
2013
Grafik II.1.21. Indeks Ekspektasi Kegiatan Dunia
Usaha, Survei Konsumen Bank Indonesia
II
III
IV
2014
Grafik II.1.22. Ekspektasi Harga Jangka Panjang,
Survei dari Bank Indonesia
TabeI II.1.1. Prakiraan Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Sulawesi-Maluku-Papua
Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Wilayah
PDRB (%,yoy)
Sisi Permintaan
Konsumsi
Konsumsi swasta
Konsumsi Pemerintah
Pembentukan Modal Tetap Bruto
Ekspor
Impor
Sisi Produksi
Sektor pertanian
Sektor pertambangan & penggalian
Industri pengolahan
Listrik, gas & air bersih
Bangunan
Perdagangan, hotel & restoran
Pengangkutan & komunikasi
Keuangan, persewaan dan jasa perush.
Jasa-jasa
Inflasi IHK (%,yoy)
2011
2012
7.2
2013
2014
8.1
I
9.4
II
5.9
III
9.1
IV
10.4
Total
8.7
I
5.4
II
6.8
IIIp
7.0
IVp
7.0 - 7.5
Totalp
6.4 - 6.9
6.6
6.9
5.7
9.8
(2.5)
2.1
7.2
7.0
7.9
13.5
1.9
5.7
6.7
6.9
6.0
11.1
11.2
4.9
6.4
6.8
5.2
11.6
2.7
4.3
6.7
6.8
6.3
11.3
15.7
(0.1)
7.3
6.8
8.9
10.3
22.7
5.5
6.8
6.8
6.6
11.0
13.3
3.6
7.4
7.4
7.4
11.4
(2.7)
12.6
7.9
7.8
7.9
11.2
0.2
10.0
7.6
7.3
8.5
14.5
0.5
8.6
5.0
(11.7)
18.5
8.1
13.1
10.7
9.6
11.9
8.8
2.9
5.2
0.1
12.7
11.6
12.7
10.2
10.8
11.9
7.1
5.0
3.3
27.7
9.6
8.1
8.6
10.2
8.0
15.1
7.5
5.1
2.2
(1.5)
5.5
10.9
9.3
10.0
8.8
13.1
6.1
4.3
4.4
24.8
7.2
10.4
8.9
9.1
8.6
13.9
7.6
7.6
8.3
22.6
11.4
10.3
7.4
10.2
7.5
13.0
7.4
7.0
4.5
18.3
8.4
9.9
8.5
9.9
8.2
13.7
7.2
7.0
7.0
(18.5)
3.2
9.3
9.8
10.1
8.9
11.4
9.5
6.6
7.0
(8.4)
9.1
9.6
9.1
9.6
6.8
8.3
8.8
6.7
4.9
3.5 - 4.0
5.3 - 5.8
(3.4) (1.6) - (1.1) (7.7) - (7.2)
9.9
9.5 - 10.0
8.0 - 8.5
10.6 9.9 - 10.4 9.7 - 10.2
9.7 11.8 - 12.3 10.0 - 10.5
9.6
9.3 - 9.8
9.7 - 10.2
8.6
9.4 - 9.9
8.3 - 8.8
10.1 9.6 - 10.1 9.7 - 10.2
9.1
8.6 - 9.1
8.8 - 9.3
4.1
4.7 - 5.2
4.7 - 5.2
7.6 - 8.1
7.4 - 7.9
7.0 - 7.5
6.9 - 7.4
8.6 - 9.1
8.0 - 8.5
14.2 - 14.7 12.7 - 13.2
0.1 - 0.6 (0.6) - (0.1)
6.7 - 7.2
9.2 - 9.7
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
p
proyeksi Bank Indonesia
Laporan Nusantara| 24
PERTUMBUHAN EKONOMI
Perekonomian wilayah Kalimantan pada triwulan II 2014 tumbuh melambat karena menurunnya kinerja
ekspor tambang. Hal ini terutama dipengaruhi oleh melemahnya kinerja ekspor batubara di Kalimantan
Selatan dan Kalimantan Timur, seiring dengan melemahnya permintaan dari Tiongkok, yang merupakan
negara tujuan ekspor utama untuk batu bara dari Kalimantan. Selain itu, berlanjutnya konsolidasi di
sektor tambang terkait dengan kebijakan pengaturan ekspor mineral yang berlaku sejak awal tahun
2014 turut memengaruhi kinerja perekonomian Kalimantan. Kalimantan Timur bahkan mencatat angka
pertumbuhan yang cukup rendah yakni hanya 1,9% terkait masih terbatasnya perbaikan kinerja
produksi LNG. Disamping itu, berlalunya masa panen tanaman bahan makanan di Kalimantan Barat dan
penurunan produksi karet di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah turut menyebabkan
melambatnya pertumbuhan ekonomi Kalimantan secara keseluruhan.
Memasuki triwulan III 2014, berbagai indikator ekonomi di wilayah Kalimantan mengindikasikan
pertumbuhan ekonomi belum akan mengalami perbaikan yang berarti. Perkembangan ekspor
diperkirakan masih akan mengalami kecenderungan yang menurun terkait dengan prospek permintaan
dari Tiongkok yang masih melemah. Di samping itu, kinerja produksi LNG di Kalimantan Timur juga
diperkirakan masih mengalami tren yang menurun sehingga turut memengaruhi kinerja ekonomi
Kalimantan secara keseluruhan. Namun, mulai beroperasinya smelter bauksit dapat menahan
perlambatan sektor pertambangan Kalimantan lebih lanjut. Berlanjutnya pembangunan beberapa
smelter lainnya disertai pembangunan beberapa proyek infrastruktur lainnya berdampak positif bagi
perbaikan kinerja investasi. Perkembangan terakhir mengindikasikan, prospek perekonomian
Kalimantan untuk keseluruhan tahun 2014 diperkirakan cenderung berada di bawah prakiraan
sebelumnya terkait kinerja aktivitas di sektor pertambangan yang melambat. Untuk keseluruhan tahun
2014, perekonomian Kalimantan diprakirakan tumbuh dikisaran 3,3-3,7% (yoy).
Konsumsi
Konsumsi Rumah Tangga
Konsumsi rumah tangga pada triwulan II 2014 tumbuh melambat seiring dengan melemahnya kinerja
ekspor yang memberikan dampak langsung pada pendapatan masyarakat. Penurunan konsumsi rumah
tangga Kalimantan sejalan dengan penurunan indeks keyakinan konsumen dari Survei Konsumen,
terutama di Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat yang mengalami perlambatan perekonomian pada
triwulan II 2014 (Grafik II.2.1). Menurunnya konsumsi rumah tangga juga sejalan dengan menurunya
Nilai Tukar Petani (NTP) di seluruh wilayah Kalimantan karena melambatnya sektor pertanian. Selain
itu, belum direalisasikannya gaji ke-13 diperkirakan turut memengaruhi konsumsi rumah tangga yang
tumbuh melambat pada triwulan tersebut.
Pada triwulan III 2014, konsumsi rumah tangga diperkirakan cenderung tumbuh meningkat.
Meningkatnya pertumbuhan konsumsi dipicu oleh pola konsumsi masyarakat yang meningkat selama
masa Ramadhan disertai realisasi pembayaran gaji ke-13 pada Juli 2014. Survei Penjualan Eceran
terakhir mengindikasikan adanya kecenderungan peningkatan penjualan pada triwulan III 2014. Dari sisi
pembiayaan, penyaluran kredit perbankan untuk konsumsi barang tahan lama (durable goods), seperti
Laporan Nusantara| 25
kepemilikan kendaraan roda empat dan kredit multiguna juga menunjukkan tren yang meningkat
(Grafik II.2.2). Meski demikian, kenaikan daya beli masyarakat yang lebih tinggi diperkirakan tertahan
oleh terbatasnya perbaikan pendapatan karena melemahnya kinerja ekspor.
Grafik II.2.1 Indeks Keyakinan Konsumen (IKK)
Grafik II.2.2 Penyaluran Kredit Konsumsi
Konsumsi Pemerintah
Konsumsi pemerintah pada triwulan II 2014 tumbuh membaik yang didorong mulai cairnya anggaran
pemerintah yang berasal dari Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk realisasi
program pemerintah yang biasanya dimulai pada triwulan II. Dampak dari cairnya DAU dan DAK adalah
mulai berjalannya program-program pemerintah daerah yang sebelumnya tertunda di triwulan I 2014.
Selain itu, tingginya penyerapan anggaran pemerintah pusat di daerah terkait pelaksanaan Pemilu juga
mendorong pertumbuhan konsumsi pemerintah. Namun, kenaikan konsumsi masih tertahan akibat
belum terealisasinya Dana Bagi Hasil (DBH), yang merupakan pos terbesar dalam pemasukan
pemerintah daerah Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan, dan pergeseran periode
realisasipembayaran gaji ke-13 tahun 2014.
Memasuki triwulan III 2014, konsumsi pemerintah diperkirakan kembali menunjukan peningkatan.
Pertumbuhan membaik ini dipengaruhi oleh realisasi pembayaran gaji ke 13 pada awal triwulan III 2014
serta terselesaikanya sejumlah kendala administrasi anggaran. Selain itu, dengan terealisasinya Dana
Bagi Hasil (DBH) untuk pertambangan batubara juga turut mendorong konsumsi pemerintah di triwulan
III 2014. Namun, kebijakan penghematan anggaran kementerian dan lembaga di pemerintah pusat
diperkirakan dapat berdampak pada penurunan pengeluaran pemerintah pusat untuk berbagai proyek
di daerah. Lebih lanjut, rasionalisasi pengeluaran yang mulai dilakukan di Kalimantan Timur dalam
rangka efisiensi anggaran juga menjadi faktor penahan pertumbuhan konsumsi pemerintah.
Investasi
Investasi wilayah Kalimantan pada triwulan II 2014 tumbuh meningkat dibandingkan dengan triwulan
sebelumnya. Peningkatan pertumbuhan investasi hampir terjadi di sebagian besar daerah di Kalimantan.
Peningkatan ini sejalan dengan banyaknya pembangunan beberapa proyek sektor riil yang bernilai cukup
besar seperti pembangunan Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Maloy, serta
pembangunan Bandara Samarinda Baru di Kaltim dan infrastruktur (PLTU dan transmisi) listrik di Kalbar.
Selain itu, peningkatan investasi juga didukung oleh pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan
seperti pembangunan jalan dan jembatan Trans-Kalimantan, jalan tol Samarinda-Balikpapan serta
Jembatan fly-over Jl. A. Yani Banjarmasin, Jembatan Pulau Balang & Jembatan Mahkota II di Kalimantan
Laporan Nusantara| 26
Timur. Investasi pada triwulan II 2014 juga didorong oleh investasi di sektor perkebunan dan industri
pengolahan, khususnya pengolahan logam bauksit dan bijih besi dan kelapa sawit.
Memasuki triwulan III 2014, pertumbuhan investasi diperkirakan masih meningkat. Selain didorong oleh
terus berjalannya proyek-proyek infrastruktur seperti pada triwulan II, pertumbuhan juga meningkat
seiring berjalannya proyek-proyek baru, antara lain seperti Indonesian Deepwater Development (IDD) di
Blok Rapak dan Ganal, Kalimantan Timur serta penyelesaian satu smelter bauksit di Kalimantan Barat
yang ditargetkan akan memasuki tahap ujicoba pada tahun 2015.
Perdagangan Luar Negeri
Ekspor
Kinerja ekspor luar negeri wilayah Kalimantan pada triwulan II 2014 masih cenderung menurun. Kondisi
ini terkait dengan melemahnya perekonomian Tiongkok yang merupakan pasar tujuan utama ekspor
batubara dari Kalimantan. Di samping itu, pemberlakuan kebijakan pengaturan ekspor mineral turut
memengaruhi perlambatan ekspor di Kalimantan. Namun, mulai beroperasinya pabrik pemurnian smelter
bauksit di Kalimantan Barat, biji besi di Kalimantan Selatan dan zicron di Kalimantan Tengah turut
meningkatkan ekspor Kalimantan dapat menopang kinerja ekspor lebih lanjut.
Untuk triwulan III 2014, kinerja ekspor kembali diprakirakan mengalami kontraksi yang lebih dalam.
Penurunan ekspor wilayah Kalimantan dipengaruhi oleh kinerja ekspor LNG Kalimantan Timur terkait
terbatasnya lifting gas. Selain itu, masih cenderung lemahnya permintaan ekspor dari Tiongkok, serta
kemungkinan bergesernya pola impor batubara oleh Korea Selatan ke Amerika Serikat atau Australia
yang memiliki batubara kalori tinggi turut menyebabkan kinerja ekspor Kalimantan masih cenderung
turun. Namun, kebijakan India yang cenderung menggunakan batubara kalori rendah sebagai input
generator listrik di India akan menjadi sentimen positif bagi ekspor batubara Kalimantan. Sementara itu,
masih terbatasnya kapasitas produksi smelter menyebabkan ekspor mineral juga cenderung terbatas.
Berdasarkan hasil liaison, sampai dengan triwulan II 2014 baru satu smelter alumina, yakni di Kalimantan
Barat yang sudah mulai beroperasi dengan kapasitas input terpasang satu juta ton bauksit per tahun
Impor
Impor luar negeri Kalimantan pada triwulan II 2014 masih cenderung tumbuh menurun. Hal ini terkait
dengan terbatasnya kinerja ekspor tambang terutama batubara. Liaison mengindikasikan kebutuhan alat
berat untuk di sektor tambang yang cenderung turun. Impor terindikasi dilakukan lebih untuk memenuhi
kebutuhan untuk pembangunan smelter dan beberapa proyek infrastruktur berskala besar.
Untuk triwulan III 2014, impor luar negeri diperkirakan masih cendeung tumbuh negatif. Penurunan
kinerja sektor utama seperti menurunya pertambangan yang didorong penurunan permintaan batubara
dari Tiongkok dan penurunan produksi LNG menyebabkan penurunan impor barang modal seperti
struktur kapal dan peledak tambang. Selain itu, penurunaan impor juga terjadi di Kalimantan Barat akibat
kebijakan pemerintah untuk membatasi kapal diperbolehkan lewat di Sungai Kapuas, sehingga
mengakibatkan turunnya impor kapal bermuatan besar.
Laporan Nusantara| 27
Kinerja Sektor Utama Daerah
Sektor Pertambangan
Pada triwulan II 2014 pertumbuhan ekonomi di sektor pertambangan mengalami kontraksi karena
pengaruh melemahnya permintaan ekspor batu bara dan dampak dari penyesuaian terhadap kebijakan
pengaturan ekspor mineral. Perlambatan ekonomi yang terjadi di Tiongkok memberikan dampak
langsung pada melemahnya permintaan ekspor batubara dari Kalimantan. Selain itu, pemberlakuan
kebijakan pengaturan ekspor mineral berimplikasi pada terhentinya kegiatan pertambangan bauksit di
Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Berdasarkan hasil liason, sekurang-kurangnya terdapat tujuh
perusahaan tambang bauksit besar di Kalimantan Barat dan enam perusahaan sejenis di Kalimantan
Tengah menghentikan produksinya. Perusahaan-perusahaan tersebut menghentikan produksi karena
tidak dapat melakukan ekspor hasil tambang dan tidak adanya permintaan di pasar domestik.
Pada triwulan III 2014, kinerja sektor pertambangan terindikasi mengalami perbaikan, terutama didukung
oleh adanya perkembangan positif di sisi pertambangan batubara. Perusahaan pertambangan batubara
masih terus berupaya meningkatkan produksinya untuk mencapai efisiensi sehingga margin terjaga di
tengah harga batubara yang belum pulih. Mulai beroperasinya beberapa pembangkit listrik, baik oleh PLN
maupun swasta dan juga keperluan industri lainnya, berdampak positif bagi penyerapan batubara di
pasar domestik. Meski demikian, terhentinya kegiatan operasional beberapa mineral diperkirakan
menahan perbaikan kinerja sektor pertambangan lebih lanjut.
Sumber : Dinas Pertambangan Provinsi, diolah
Grafik II.2.3 Produksi Batubara Kalimantan
Sumber: KPPBC, diolah
Grafik II.2.4 Ekspor Tambang Non Migas Kalimantan
Sektor Industri Pengolahan (Non Migas)
Perkembangan industri pengolahan nonmigas Kalimantan pada triwulan II 2014 menunjukkan
peningkatan yang terutama didorong oleh kinerja industri pengolahan kelapa sawit (CPO). Hasil produksi
CPO di Kalimantan tercatat tumbuh mencapai 36,90% (yoy), yang dipicu oleh meningkatnya pasokan
bahan baku Tandan Buah Segar (TBS) sawit, khususnya di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Peningkatan kinerja industri CPO ini juga didorong oleh peningkatan permintaan terutama menjelang
Ramadhan, serta peningkatan penyerapan untuk industri biodiesel di Amerika Serikat. Program
mandatori biodiesel yang ditetapkan oleh pemerintah juga mendorong terjaganya perkembangan kinerja
industri tersebut di pasar domestik. Meski demikian, harga komoditas CPO internasional yang masih
cenderung melemah menyababkan kenaikan produksi CPO masih relatif terbatas. Berdasarkan hasil
liaison, penurunan harga tersebut dipengaruhi oleh berlangsungnya masa panen minyak nabati lainnya,
seperti minyak kedelai, rapeseed dan bunga matahari, serta penurunan harga minyak dunia.
Laporan Nusantara| 28
Sumber : Dinas Perkebunan Provinsi, diolah
Grafik II.2.5 Produksi CPO Kalimantan
Sumber: KPPBC, diolah
Grafik II.2.6 Ekspor CPO Kalimantan
Pada triwulan III 2014, kinerja sektor industri nonmigas diperkirakan masih mengalami peningkatan
dengan terjaganya perkembangan industri CPO. Meskipun demikian peningkatan tersebut belum dapat
menahan laju penurunan kinerja di industri migas. Peningkatan produksi CPO tersebut diperkirakan
masih berada dalam kisaran 30%-40% dibandingkan dengan periode sebelumnya. Terjaganya permintaan
dunia akan minyak nabati setelah berlalunya masa panen rapeseed, kedelai dan bunga matahari, turut
mendorong peningkatan tersebut. Hal tersebut juga diperkirakan dapat mendorong peningkatan harga
CPO internasional. Sementara itu, di pasar industri, kinerja industri pengolahan CPO didorong oleh
tingginya penyerapan CPO untuk biodiesel. Pemerintah menargetkan penyerapan biodiesel pada tahun
2014 sebesar 4 juta kilo liter, atau meningkat dibandingkan dengan tahun 2012 dan tahun 2013, yang
masing-masing sebesar 669 ribu kiloliter dan 1,07 juta kiloliter. Pengembangan industri CPO juga
didorong oleh upaya hilirisasi produk CPO di Kalimantan Timur, yaitu kawasan industri pengolahan
minyak sawit terpadu di Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional Maloy, dan investasi pabrik-pabrik
pengolahan CPO baru di Kalimantan Barat.
Sektor Pertanian
Kinerja sektor pertanian Kalimantan pada triwulan II 2014 tumbuh melambat, terutama karena
perkembangan produksi tanaman bahan makanan. Berlalunya puncak masa panen padi di Kalimantan
Barat dan Kalimantan Tengah yang telah terjadi pada triwulan I 2014 menjadi faktor perlambatan sektor
pertanian wilayah Kalimantan. Meskipun terdapat panen di Kalimantan Selatan pada periode April-Mei.
Luas panen padi Kalimantan pada triwulan II 2014 diprakirakan hanya seluas 184 ribu ha, atau mengalami
penurunan 2,99%(yoy). Selain itu, relatif tingginya curah hujan pada awal triwulan II 2014 memengaruhi
produksi dan kualitas karet, serta masih rendahnya harga karet internasional menyebabkan menurunya
produksi karet. Namun, produksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit mengalami peningkatan mencapai
47% seiring dengan kondisi cuaca yang mendukung pada periode enam bulan menjadi penahan
perlambatan sektor pertanian. Berdasarkan hasil liaison, peningkatan produksi tersebut juga didorong
oleh mulai berproduksinya lahan-lahan sawit baru.
Perkembangan terkini mengindikasikan pada triwulan III 2014 sektor pertanian cenderung tumbuh
meningkat. Masuknya puncak panen raya beras lokal Kalimantan di Kalimantan Selatan yang diperkirakan
jatuh pada bulan Agustus 2014, serta masuknya masa panen sawit di pertengahan Tw III 2014 menjadi
faktor pendorong utama meningkatnya sektor pertanian. Meskipun demikian, dengan adanya potensi
kondisi cuaca ekstrim seiring fenomena el-nino yang diperkirakan terjadi pada semester II 2014 dapat
membuat produksi tidak maksimal. Selain itu, dari subsektor perkebunan, terdapat risiko penurunan
produksi kelapa sawit dikarenakan kurangnya pasokan pupuk berkualitas.
Laporan Nusantara| 29
PERKEMBANGAN INFLASI
Perkembangan inflasi di Kalimantan sampai dengan Juli 2014 kembali menunjukan tren menurun.
Tingkat inflasi Kalimantan pada Juli 2014 tercatat sebesar 5,16% (yoy) yang lebih rendah dari triwulan II
2014 sebesar 7,29% (yoy). Hilangnya pengaruh kenaikan harga BBM bersubsidi pada tahun 2013 dan
relatif terjaganya inflasi pada masa bulan Ramadhan dan Idul Fitri seiring peran aktif TPID dan
Pemerintah Daerah memberikan pengaruh positif terhadap tingkat inflasi di Kalimantan. Meskipun
demikian, tingkat inflasi di Kalimantan Barat pada awal triwulan III 2014 ini masih tercatat cukup tinggi
yang disebabkan kenaikan tarif angkutan udara yang cukup signifikan.
Tekanan inflasi selama triwulan III 2014 lebih banyak dipengaruhi oleh kenaikan beberapa harga
komoditas pangan seperti daging ayam ras dan telur ayam ras. Kenaikan harga pada dua komoditas
tersebut dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang melakukan pembatasan produksi DOC (Day Old
Chick), kenaikan permintaan pada periode Ramadhan dan perayaan Idul Fitri pada bulan Juni dan
Agustus 2014, serta efek peningkatan TTL untuk enam golongan listrik, khususnya untuk golongan
rumah tangga (R1 – 1300 VA). Selain itu, pada periode ini banyak dipengaruhi oleh meningkatnya
permintaan masyarakat dan tingginya penggunaan jasa transportasi udara. Kenaikan tarif angkutan
udara ini bahkan menyebakan inflasi di Kalimantan Barat masih cukup tinggi kendati juga berada dalam
tren yang menurun. Namun, secara keseluruhan, melimpahnya pasokan pangan seiring masuknya masa
panen raya, serta relatif minimalnya kendala distribusi, cukup dapat mengimbangi kenaikan permintaan
sehingga tekanan inflasi di Kalimantan cukup terkendali.
Sumber: BPS, diolah
Grafik II.2.7 Perkembangan Inflasi di Kalimantan
Sumber: BPS, diolah
Grafik II.2.8 Disagregasi Inflasi Wilayah Kalimantan
Koordinasi Pengendalian Inflasi
Menghadapi potensi kenaikan harga selama periode Ramadhan dan Idul Fitri, TPID di wilayah
Kalimantan telah melakukan berbagai upaya untuk meredam peningkatan harga pangan. Berbagai
bentuk kegiatan seperti koordinasi di level provinsi telah dilakukan semua TPID Provinsi di wilayah
Kalimantan menjelang bulan Ramadhan. Selain itu, kegiatan pengendalian inflasi lainnya seperti 1)
Pelaksanaan operasi pasar/pasar murah/pasar penyeimbang di semua provinsi untuk menekan harga
pangan, 2) Melakukan sidak (inspeksi mendadak) pasar untuk memastikan tidak adanya kenaikan harga
yang berlebihan di level pengecer dan mencegah penimbunan, 3) Melakukan himbauan kepada
masyarakat agar lebih bijaksana dalam melakukan pembelian, 4) Memprioritaskan sandar kapal dan
bongkar muat pelabuhan untuk barang-barang komoditas pangan strategis (Kalsel dan Kaltim), 5)
Memprioritaskan pengisian BBM untuk truk yang mengangkut bahan pokok khususnya untuk operasi
pasar, selama kendaraan tersebut telah didaftarkan terlebih dahulu (Kalsel).
Laporan Nusantara| 30
STABILITAS SISTEM KEUANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM PEMBAYARAN
Ketahanan Sektor Korporasi
Melambatnya pertumbuhan ekonomi wilayah Kalimantan pada triwulan II 2014 juga tercermin pada
perlambatan pertumbuhan kredit di Kalimantan. Kredit yang disalurkan di wilayah Kalimantan pada
triwulan II 2014 mencapai Rp220,13 triliun atau tumbuh 11,41% (yoy) menurun dari pertumbuhan
kredit triwulan sebelumnya yang mencapai 17,03% (yoy). Menurunnya kinerja sektor
pertambangan,sektor pertanian dan PHR memengaruhi penyaluran kredit pada sektor utama.
Penurunan penyaluran kredit terutama terjadi di sektor pertambangan yang tercatat tumbuh negatif
sebesar 26% (yoy) seiring melemahnya aktivitas di sektor pertambangan karena melemahnya
permintaan ekspor dan penerapan kebijakan pengaturan ekspor mineral. Selain itu, penurunan kinerja
pertanian terutama pada subkelompok tanaman bahan makanan dan perkebunan karet menyebabkan
penurunan penyaluran kredit di sektor pertanian yang tercatat tumbuh 11,41% (yoy) menurun
dibandingkan dengan triwulan I 2014 sebesar 17,03% (yoy). Dari sisi kualitas kredit, hampir semua
sektor masih memiliki non performing loan (NPL) dibawah 5%, kecuali di sektor konstruksi yang
cenderung menunjukkan kenaikan lebih tinggi.
Grafik II.2.9 Pertumbuhan Kredit Kalimantan
Grafik II.2.10 NPL Kredit Perbankan Kalimantan
Ketahanan Sektor Rumah Tangga
Penyaluran kredit rumah tangga (konsumsi) di Kalimantan triwulan II 2014 tumbuh melambat dari
15,81% (yoy) menjadi 12,89% (yoy). Namun jika dilihat volume kredit/pembiayaan pada triwulan II 2014
mengalami sedikit peningkatan dibandingkan dengan triwulan I 2014, dari Rp59,11 triliun menjadi
Rp60,76 triliun. Perlambatan terutama didisebabkan oleh penurunan kredit KPR dibawah type 70 dan
kredit kendaraan bermotor (KKB), seiring diterapkannya kebijakan LTV yang ditetapkan pada pertengahan
tahun 2013 dan kecenderungan naiknya suku bunga. Namun disisi lain, kredit multiguna mengalami
peningkatan yang signifikan menjadi 10,3% (yoy) pada triwulan II 2014 dibandingkan dengan triwulan
sebelumnya sebesar 0,7% (yoy). Dari sisi kualitas kredit, meskipun terjadi peningkatan Non Performaing
Loan dari 1,41% pada triwulan I 2014 menjadi 1,58% di triwulan II 2014, namun resiko kredit sektor
rumah tangga tersebut masih dalam batas aman (dibawah 5%).
Laporan Nusantara| 31
Grafik II.2.11 Pertumbuhan Kredit Rumah Tangga di
Grafik II.2.12 Pertumbuhan Kredit UMKM di
Kalimantan
Kalimantan
Pembiayaan Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
Sejalan dengan penyaluran kredit perbankan secara keseluruhan yang tumbuh melambat, kredit untuk
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) pada triwulan II 2014 tercatat 18,14% (yoy), sedikit
menurun dibandingkan dengan periode sebelumnya yang tumbuh 18,55% (yoy). Secara sektoral,
penurunan kinerja penyaluran kredit UMKM ini terutama ditopang oleh menurunya realisasi kredit di
sektor perdagangan hotel restoran (PHR) yang tumbuh sebesar 13,55% (yoy) lebih rendah dari triwulan
sebelumnya sebesar 26,55% (yoy). Pembiayaan sektor UMKM di wilayah Kalimantan kedepan
diprakirakan akan kembali meningkat, seiring dengan mulai beroperasinya Perusahaan Penjamin Kredit
Daerah (PPKD) di Provinsi Kalimantan Tengah, sehingga telah ada 3 PPKD yang ada di Kalimantan
(Kaltim, Kalteng dan Kalsel).
Pengembangan UMKM juga dilakukan oleh Bank Indonesia melalui berbagai kegiatan pemberdayaan
UMKM dan edukasi kepada masyarakat umum terkait lembaga keuangan guna memperluas akses
masyarakat kepada lembaga keuangan. Pengembangan UMKM yang dilaksanakan dalam aktivitas
kewirausahaan dan pengembangan klaster seperti pelatihan kepada wirausaha kepada UMKM binaan
(inkubator bisnis) serta klaster Kerajinan Bidai dan Anyaman Rotan di Kalimantan Barat. Pengembangan
Klaster Padi, Cabe Merah dan Bawang Merah di Kalimantan Timur, Klaster Cabe, Padi Unggul, Sapi
Pedaging dan Klaster Bawang Merah di Kalimantan Selatan, dan Klaster Rumput Laut dan Sarung Tenun
Samarinda di Kalimantan Timur, lalu yang terakhir pengembangan klaster beras, cabai dan bawang merah
di Kalimantan Tengah. Dalam setiap kegiatan klaster yang dilaksanakan juga dilengkapi dengan
pemberian bantuan teknis dan penguatan kelembagaan UMKM pada klaster tersebut.
Kinerja Sistem Pembayaran
Perkembangan transaksi nontunai pada triwulan II 2014 masih tumbuh negatif, namun lebih baik
dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Kondisi tersebut seiring dengan adanya perlambatan
ekonomi wilayah Kalimantan pada triwulan I dan II 2014. Transaksi melalui RTGS pada triwulan II 2014
mencapai Rp279,40 triliun (tumbuh -6,0%, yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang
mencapai Rp182,67 triliun (tumbuh -29,6%, yoy) . Pada transaksi kliring terlihat adanya peningkatan
dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Peningkatan baik dari sisi nominal maupun jumlah warkat
transaksi (lembar). Jumlah warkat yang dikliringkan pada triwulan sebelumnya sebesar 528.715 lembar
dan pada triwulan II 2014 turun menjadi 313.382. Sedangkan volume transaksi kliring pada triwulan II
2014 sebesar Rp13,19 triliun, turun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar Rp21,80 triliun.
Hal tersebut seiring dengan masih kecilnya transaksi pada awal tahun 2014 di wilayah Kalimantan.
Laporan Nusantara| 32
Sementara itu, jumlah penolakan cek dan bilyet giro kosong yang ditemukan dalam transaksi kliring juga
mengalami penurunan dari jumlah lembar warkat dan jumlah nominal sebesar Rp345 miliar pada
triwulan II 2014 dari Rp701 miliar pada triwulan I 2014. Penurunan yang cukup signifikan dari nominal cek
dan bilyet giro kosong tersebut berasal dari wilayah Kalimantan Selatan yang mengalami penurunan dari
Rp386 miliar pada triwulan I 2014 menjadi Rp101 miliar pada triwulan II 2014.
Grafik II.2.13 Perkembangan Inflow Outflow
Grafik II.2.14 Perkembangan Transaksi Non Tunai
Kinerja Pengelolaan Uang Tunai
Pengelolaan uang tunai di Kalimantan pada triwulan II 2014 mengalami Net Outflow di wilayah
Kalimantan dibandingkan dengan triwulan I 2014. Kondisi tersebut sejalan dengan meningkatnya
kebutuhan uang masyarakat menjelang masa libur sekolah dan pelaksanaan pemilu legislatif. Kegiatan
pengelolaan uang tunai Bank Indonesia di wilayah Kalimantan pada triwulan II 2014 mencatat inflow
sebesar Rp5,73 triliun, turun sebesar 25,45% dibandingkan triwulan sebelumnya. Sedangkan, outflow
tercatat sebesar Rp8,68 triliun, mengalami peningkatan sebesar 78,80% dibandingkan triwulan
sebelumnya. Peningkatan outflow dan penurunan inflow di wilayah Kalimantan menyebabkan terjadinya
netflow negatif (net outflow) sebesar Rp2,95 triliun pada triwulan II 2014.
Selain itu, selama triwulan II 2014 rata-rata temuan uang kertas palsu di wilayah Kalimantan mengalami
penurunan dari 532 lembar per bulan pada triwulan I 2014 menjadi 403 lembar per bulan pada
triwulan laporan. Rasio temuan uang palsu dalam satuan lembar per 1 juta uang yang diedarkan
mengalami penurunan pada triwulan II 2014 sebesar 0,113 dari 0,160 pada triwulan sebelumnya.
PROSPEK PEREKONOMIAN
Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Perkembangan terkini mengindikasikan perekonomian Kalimantan untuk keseluruhan tahun 2014
diprakirakan tumbuh di kisaran kisaran 3,3%-3,7% (yoy) atau di bawah prakiraan sebelumnya. Hal ini
disebabkan oleh kinerja pertambangan yang masih terbatas seiring melemahnya permintaan barubara
dari Tiongkok dan masih berlanjutnya konsolidasi di sektor tambang terkait dengan kebijakan pengaturan
ekspor mineral yang berlaku sejak awal tahun 2014. Pertumbuhan ekonomi Kalimantan diperkirakan
lebih banyak ditopang oleh permintaan domestik, khususnya konsumsi, yang dipengaruhi oleh
membaiknya daya beli masyarakat yang didorong oleh tingkat inflasi yang diperkirakan lebih rendah
dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kegiatan investasi juga diperkirakan masih dapat tumbuh
meningkat didukung pelaksanaan proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi
Indonesia (MP3EI), upaya hilirisasi sektor perkebunan, pembangunan smelter dan pertambangan migas
Laporan Nusantara| 33
yang masih berlanjut. Sementara itu, dari sisi sektoral, perekonomian Kalimantan masih didorong oleh
tiga sektor utamanya, yaitu sektor pertanian, sektor pertambangan serta sektor industri pengolahan;
terutama meningkatnya kinerja sektor industri pengolahan seiring bertambahnya pabrik CPO di
Kalimantan Barat dan mulai beroprasinya pabrik pemurnian logam di Kalimantan Barat, Kalimantan
Tengah dan Kalimantan Selatan. Selain itu, meningkatnya permintaan barubara dari dalam negeri untuk
memenuhi kebutuhan PLTU berpotensi untuk mengkompensasi penurunan permintaan batubara
Tiongkok.
Kedepan, terdapat beberapa faktor risiko yang berpotensi semakin memperlambat laju pertumbuhan
tahun 2014. Belum pulihnya perekonomian Tiongkok dengan kecenderungan memburuk dan adanya
rencana penerapan beberapa ijin ekspor dan biaya royalti hasil tambang batubara, berpotensi untuk
semakin menekan kinerja sektor pertambangan. Selain itu, resiko tidak beroperasinya pabrik
pemurnian logam sesuai dengan target waktu akibat kendala pembangunan dan perijinan dapat
semakin menekan sektor pertambangan dan menghambat kinerja sektor industri pengolahan. Untuk
sektor pertanian, terjadinya El-Nino dengan intensitas moderat-tinggi pada semester II 2014 dapat
mempengaruhi kinerja sektor pertanian.
Prospek Inflasi
Dengan mencermati perkembangan terakhir, tingkat inflasi tahunan di wilayah Kalimantan pada tahun
2014 diperkirakan masih dalam kisaran perkiraan sebelumnya yaitu 5,3%-5,7 % (yoy). Tingkat inflasi
tersebut lebih rendah dari tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 8,7% (yoy). Tekanan inflasi pada
semester II 2014 diperkirakan bersumber pada kelompok bahan makanan seiring berlalunya musim
panen komoditas pangan strategis dan adanya potensi El-Nino yang dapat menghambat produksi
pertanian. Selain itu, kebijakan kenaikan TTL, terutama golongan rumah tangga, yang dilakukan secara
bertahap pada semester II 2014 akan membarikan tekanan inflasi dar kelompok administered price.
Beberapa faktor risiko yang berpotensi memicu inflasi tahun 2014 menjadi lebih tinggi dari perkiraan
terutama bersumber dari beberapa hal sebagai berikut: 1) kondisi cuaca yang relatif sulit diprediksi
seperti sampai dengan pertengahan tahun masih sering terjadi hujan, yang akan berpengaruh pada
produksi hortikultura (sayuran dan buah-buahan) dikarenakan menimbulkan wabah ulat dan
meningkatnya rontok bunga sebelum berkembang menjadi buah, 2) kebijakan pembatasan penjualan
BBM bersubsidi untuk mengamankan kuota APBNP 2014 yang mulai berlaku per 1 Agustus 2014, yang
berpotensi untuk meningkatkan tarif angkutan barang dan orang, dan 3) rencana pemerintah untuk
menyesuaikan tarif batas atas angkutan udara pasca-lebaran yang berpotensi akan semakin memberikan
tekanan inflasi pada Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan, yang tingkat inflasinya sangat dipengaruhi
oleh tarif angkutan udara.
Laporan Nusantara| 34
Tabel II.2.2. Prakiraan Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Kalimantan
Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi
Wilayah
PDRB (%,yoy)
2011
2012
5,0
2013
2014
I
II
III
IV
Total
I
II
IIIp
IVp
Totalp
4,8
2,9
3,5
3,8
3,8
3,5
3,8
3,3
3,4
3,3-3,7
3,3-3,7
Sisi Permintaan
Konsumsi
6,5
7,0
7,1
6,7
6,5
6,7
6,7
6,9
7,0
7,2
6,5-6,9
6,7-7,1
Konsumsi swasta
6,3
7,1
7,3
6,7
5,7
6,0
6,4
6,7
6,1
6,3
6,1-6,5
6,1-6,5
Konsumsi Pemerintah
7,3
6,5
6,6
6,5
9,2
8,8
7,8
7,5
9,9
10,3
7,8-8,2
8,7-9,1
7,9
9,8
7,9
6,4
5,7
5,9
6,5
4,9
5,5
6,9
6,8-7,2
5,9-6,3
Ekspor
5,2
3,0
4,7
3,9
7,1
4,3
5,0
(3,9)
(3,8)
(4,1)
(3,8)-(3,4) (4,0)-(3,6)
Impor
8,4
8,7
8,7
7,4
13,0
8,7
9,4
(3,7)
(1,7)
(2,7)
(4,5)-(4,1) (3,3)-(2,9)
Sektor pertanian
4,7
4,4
2,6
5,7
3,9
6,4
4,6
5,1
2,8
3,7
3,9-4,3
3,7-4,1
Sektor pertambangan & penggalian
6,7
4,8
0,7
1,4
0,2
0,1
0,6
0,4
(0,9)
(0,1)
(0,3)-0,1
Industri pengolahan
(3,7)
(3,5)
(3,1)
(3,5)
0,9
(1,0)
(1,7)
0,3
1,7
(0,4)
0,0-9,4
(0,1)-0,3
Listrik, gas & air bersih
8,7
7,3
5,9
5,4
4,7
4,8
5,2
4,4
4,6
5,2
5,2-5,6
4,7-5,1
Bangunan
9,8
11,6
10,6
8,2
6,7
7,4
8,1
7,5
8,3
6,4
5,5-5,9
6,7-7,1
Perdagangan, hotel & restoran
8,5
8,2
5,2
6,6
7,2
6,8
6,5
6,6
5,9
6,9
6,3-6,7
6,3-6,7
Pengangkutan & komunikasi
8,9
9,2
7,4
7,4
8,2
8,2
7,8
7,8
7,7
7,6
7,1-7,5
7,4-7,8
Keuangan, persewaan dan jasa perush.
10,1
12,6
13,1
12,1
10,0
9,2
11,0
9,4
10,0
10,0
8,8-9,2
9,4-9,8
Jasa-jasa
8,5
8,5
7,6
6,6
8,9
8,4
7,9
7,8
6,3
6,8
6,5-6,9
6,7-7,1
5,3
5,8
6,0
6,3
8,4
8,6
8,6
7,3
7,6
5,0
5,3-5,7
5,3-5,7
Pembentukan Modal Tetap Bruto
Sisi Produksi
Inflasi IHK (%,yoy)
0,2-0,6
Sumber: Badan Pus at Statis tik, diolah
p
proyeks i Bank Indones ia
Laporan Nusantara| 35
Bagian II.3
Perekonomian Bali dan Nusa Tenggara
PERTUMBUHAN EKONOMI
Perekonomian wilayah Bali dan Nusa Tenggara (Bali-Nustra) pada triwulan II 2014 tumbuh sebesar 4,9%
(yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang mencapai 5,3% (yoy).
Perlambatan tersebut terutama disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan ekonomi di Nusa
Tenggara Barat (NTB) yang cukup dalam yakni hingga berada di bawah 3%. Sementara itu,
perekonomian Bali yang masih tumbuh meningkat dan stabilnya pertumbuhan perekonomian Nusa
Tenggara Timur (NTT) relatif dapat menopang kinerja perekonomian wilayah Bali-Nustra secara
keseluruhan.
Memasuki triwulan III 2014, perkembangan ekonomi di wilayah Bali-Nustra diprakirakan masih
cenderung tumbuh melambat pada kisaran yang lebih dalam yakni 2,3% (yoy). Prakiraaan terus
melambatnya kinerja pertumbuhan ekonomi disebabkan terutama oleh kontraksi yang lebih dalam di
sektor pertambangan karena terhentinya operasional kegiatan penambangan di NTB sejak Juni 2014,
sebagai dampak dari tidak dapatnya dilakukan ekspor mineral. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan III
2014 lebih ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang masih tumbuh cukup kuat seiring dengan
peningkatan kinerja pariwisata di Bali.
Konsumsi
Konsumsi Rumah Tangga
Konsumsi rumah tangga triwulan II 2014 tumbuh melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga melambat dari 6,4% menjadi sebesar 4,9% (yoy). Perlambatan
tersebut terjadi di NTB dan NTT, sementara pertumbuhan konsumsi rumah tangga di Bali masih
tercatat tumbuh meningkat. Perlambatan konsumsi rumah tangga ini sejalan dengan perkembangan
kredit konsumsi yang tumbuh melambat dari 16,5% menjadi sebesar 15,6% (yoy) (Grafik II.3.1). Selain
itu, terhentinya aktivitas pertambangan di NTB diperkirakan juga turut memengaruhi tingkat konsumsi
rumah tangga NTB. Hal tersebut tercermin dari Indeks Tendensi Konsumen (ITK) NTB yang menurun
dari 111,6 menjadi sebesar 110,7 (Grafik II.3.2).
Pada triwulan III 2014, konsumsi rumah tangga terindikasi kembali mengalami peningkatan
dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya. Meningkatnya konsumsi dipengaruhi oleh
peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara, masa liburan sekolah di bulan Juli, dan libur
panjang Idul Fitri di bulan Agustus. Meski demikian, terhentinya aktivitas produksi penambangan
diperkirakan masih akan berimbas pada pendapatan masyarakat, terutama di NTB, sehingga pada
gilirannya akan menahan aktivitas konsumsi lebih lanjut.
Laporan Nusantara| 36
Grafik II.3.1. Penyaluran Kredit Konsumsi
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
Grafik II.3.2. Indeks Tendensi Konsumen
Konsumsi Pemerintah
Konsumsi pemerintah pada triwulan II 2014 tumbuh melambat cukup dalam dari 7,3% menjadi sebesar
3,7% (yoy). Perlambatan tersebut dipicu oleh melambatnya pertumbuhan konsumsi pemerintah Bali
dan NTB. Pada Tabel II.3.1 terlihat bahwa realisasi belanja pemerintah triwulan II 2014 jauh lebih
rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini diperkirakan terkait
dengan bergesernya realisasi penyaluran gaji ke-13 dan adanya penundaan penyaluran dana bantuan
sosial hingga berakhirnya pelaksanaan Pemilu.
Pertumbuhan konsumsi pemerintah diperkirakan kembali meningkat pada triwulan III 2014.
Penyerapan anggaran terkait dengan realisasi gaji ke 13 pada bulan Juli 2014 diperkirakan berdampak
positif bagi peningkatan pertumbuhan konsumsi pemerintah triwulan III 2014. Selain itu, pertumbuhan
konsumsi pemerintah NTB juga diperkirakan meningkat seiring dengan peningkatan pengeluaran
belanja infrastruktur pemerintah pada triwulan berjalan. Namun, pertumbuhan konsumsi pemerintah
NTT diperkirakan sedikit melambat pada triwulan berjalan.
Tabel II.3.1. Realisasi APBD Bali-Nustra Triwulan II
Item
Pendapatan Daerah
Pendapatan Pajak Daerah
Belanja Daerah
Belanja Tidak Langsung
Belanja Modal
Realisasi Provinsi Bali Tw II (%)
Realisasi Provinsi NTB Tw II (%)
Realisasi Provinsi NTT Tw II (%)
2011 2012 2013 2014 2011 2012 2013 2014 2011 2012 2013 2014
51.5
51.7
56.0
56.5
47.2
51.7
44.7
22.3
47.2
51.9
53.0
51.3
50.0
50.9
59.0
55.8
49.4
54.3
47.2
17.4
44.1
55.4
45.9
34.0
19.3
22.7
28.9
28.2
24.9
35.3
31.9
14.3
31.7
33.8
42.4
34.8
22.0
26.0
32.0
30.6
30.9
34.7
37.8
13.1
37.2
37.9
45.8
23.9
2.7
7.0
18.0
10.5
26.0
26.0
10.9
1.2
12.9
15.7
23.5
20.3
Investasi
Kinerja investasi wilayah Bali-Nustra triwulan II 2014 kembali mengalami kontraksi sebesar 1,7% (yoy),
meski tidak sedalam kontraksi yang terjadi pada periode sebelumnya yang mencapai 2,8% (yoy).
Kontraksi pertumbuhan tersebut khususnya terjadi di Bali dan NTB, sedangkan pertumbuhan investasi
NTT masih tumbuh positif. Untuk provinsi Bali, tingginya realisasi investasi triwulan II 2013 menjelang
KTT APEC menyebabkan pertumbuhan investasi mengalami kontraksi pada triwulan II 2014 (faktor base
effect). Sementara menurunnya kinerja investasi di NTB terkait dengan berakhirnya fase pelebaran
dinding tambang produsen utama tembaga. Kontraksi tersebut tercermin pada pertumbuhan
penyaluran kredit investasi Bali-Nustra yang masih menunjukkan trend perlambatan dari 35,9% menjadi
Laporan Nusantara| 37
sebesar 20,4% (yoy) (Grafik II.3.3). Selain itu, pertumbuhan impor barang modal juga terus
menunjukkan kecenderungan yang melambat salama triwulan II 2014 (Grafik II.3.4).
Pada triwulan III 2014, investasi wilayah Bali-Nustra diperkirakan kembali tumbuh positif dan meningkat
dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Peningkatan investasi tersebut diperkirakan terjadi di Bali
dan NTB, sedangkan investasi NTT diperkirakan tumbuh melambat karena proyek-proyek yang dananya
bersumber dari pihak swasta sebagian besar telah memasuki tahap pengerjaan. Peningkatan kinerja
investasi didukung oleh pembangunan hotel dan sarana penunjang kepariwisataan, serta beberapa
proyek infrastruktur pemerintah berskala besar. Prospek pembangunan kondominium-hotel (kondotel)
di Bali pun semakin baik seiring dengan prospek pertumbuhan wisatawan baik mancanegara maupun
nusantara. Beberapa proyek pembangunan kondotel baru akan dibangun di daerah Ungasan, Nusa Dua,
Tanjung Benoa, serta Pecatu, yang belakangan menjadi salah satu destinasi utama wisatawan. Selain itu
di provinsi Bali, pembangunan infrastruktur yang masih berlanjut antara lain penambahan dermaga di
Gilimanuk dari dua dermaga menjadi empat dermaga dan penyelesaian renovasi terminal kedatangan
domestik di Bandara Ngurah Rai, serta perbaikan beberapa jalan menjelang Lebaran pada bulan Juli.
Sementara itu, di NTB, pengerjaan bypass BIL dan bendungan rababakka, serta penyelesaian
bendungan pandan duri diperkirakan juga menjadi faktor pendorong peningkatan investasi Bali-Nustra
triwulan III 2014.
Grafik II.3.3. Penyaluran Kredit Investasi
Grafik II.3.4. Perkembangan Impor Barang Modal
Perdagangan Luar Negeri
Ekspor
Kinerja ekspor luar negeri Bali-Nustra triwulan II 2014 cenderung menurun lebih dalam dibandingkan
dengan periode triwulan sebelumnya (Grafik II.3.5). Berlanjutnya kontraksi ekspor terutama disebabkan
oleh penurunan ekspor biji tembaga, seiring dengan larangan ekspor mineral mentah yang diterapkan
sejak awal tahun 2014 (Grafik II.3.6). Tidak dapat dilakukannya ekspor biji tembaga sejak Februari 2014
menyebabkan pangsa ekspor biji tembaga pada triwulan II 2014 semakin menurun, dari 32% di tahun
sebelumnya menjadi hanya 8%. Pengiriman biji tembaga dilakukan hanya sebatas pengiriman domestik
ke perusahaan smelter di Jawa Timur. Selain itu, perlambatan ekspor luar negeri Bali-Nustra juga
dipengaruhi oleh melambatnya kinerja ekspor komoditas utama lainnya seperti pakaian jadi, kayu
olahan, barang dari logam dan mulia, serta ikan olahan.
Laporan Nusantara| 38
Grafik II.3.5. Perkembangan Nilai Ekspor
Grafik II.3.6. Ekspor Konsentrat Tembaga
Kecenderungan kontraksi kinerja ekspor diperkirakan masih berlanjut pada triwulan III 2014. Ekspor biji
tembaga di NTB diperkirakan mencatat kontraksi pertumbuhan. Pengiriman yang dilakukan
diperkirakan hanya pengiriman berskala domestik untuk menghabiskan stok yang ada. Selain itu,
kinerja ekspor luar negeri dari Bali dan NTT diperkirakan juga sedikit mengalami perlambatan.
Berdasarkan hasil liaison ke beberapa pelaku usaha perikanan dan industri pengolahan ikan, masalah
pasokan masih mejadi kendala tersendiri sepanjang tahun 2014. Pesimisme terhadap ketersediaan
bahan baku ikan lokal ke depan, serta persaingan yang semakin ketat, khususnya dari negara TIongkok
dan Thailand diperkirakan menghambat kinerja ekspor perikanan. Selain itu, ekspor pakaian jadi, yang
memiliki pangsa terbesar dalam total ekspor Bali-Nustra, diperkirakan menunjukkan penurunan kinerja,
seiring dengan menurunnya permintaan dari Amerika Serikat dan Perancis.
Impor
Sejalan dengan perkembangan ekspor, pertumbuhan impor triwulan II 2014 juga mengalami
perlambatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Selama periode April-Juni 2014, impor secara
kumulatif tercatat mengalami penurunan 35,9% (yoy) dibandingkan dengan periode yang sama tahun
sebelumnya (Grafik II.3.7). Penurunan terutama terjadi untuk impor bahan mentah (raw material) serta
impor barang modal (capital goods) yang memiliki pangsa masing-masing sebesar 60,3% dan 28,4%
terhadap total impor (Grafik II.3.8). Penurunan tersebut juga sejalan dengan melambatnya
pertumbuhan investasi pada triwulan II 2014.
Memasuki triwulan II 2014, pertumbuhan impor dari luar negeri yang masuk ke Bali-Nustra triwulan III
2014 diperkirakan mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Hal ini
dipengaruhi oleh adanya indikasi peningkatan kegiatan investasi pada triwulan III 2014, terutama untuk
infrastrutur. Proyek pembangunan bypass BIL serta bendungan rababakka di NTB diperkirakan akan
berdampak pada peningkatan impor, khususnya impor barang modal (capital goods) maupun bahan
material (raw material). Selain itu, semakin maraknya pembangunan hotel dan kondotel di Bali
diperkirakan juga akan meningkatkan pertumbuhan impor triwulan III 2014.
Laporan Nusantara| 39
Grafik II.3.7. Perkembangan Nilai Impor
Grafik II.3.8. Impor menurut Penggunaan
Kinerja Sektor Utama Daerah
Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran (PHR)
Pertumbuhan sektor PHR pada triwulan II 2014 meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan
sebelumnya. Pertumbuhan sektor PHR mencapai 8,1% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan
pertumbuhan sebelumnya yang sebesar 6,4% (yoy). Masuknya peak season musim panas pada bulan
Mei 2014 mendorong peningkatan pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dari
14,4% (yoy) menjadi sebesar 17,0 (yoy) (Grafik II.3.9). Selain itu, masuknya musim liburan sekolah di
bulan Juni 2014 juga mendorong peningkatan kunjungan wisatawan nusantara triwulan II 2014.
Masuknya bulan Ramadhan pada bulan Juni juga mendorong berbagai event maupun aktivitas
perdagangan, khususnya di provinsi NTB. Sejalan dengan hal tersebut, hasil Survei Kegiatan Dunia
Usaha (SKDU) juga menunjukkan adanya peningkatan realisasi kegiatan usaha pada triwulan II 2014
(Grafik II.3.10). Peningkatan aktivitas perdagangan juga terjadi di NTB, khususnya menjelang masuknya
bulan Ramadhan. Selain itu, diselenggarakannya Festival Komodo di NTT pada bulan Mei 2014 juga
mendorong kinerja sektor PHR triwulan II 2014.
Pertumbuhan sektor PHR triwulan III 2014 diperkirakan sedikit melambat dibandingkan dengan
pertumbuhan triwulan sebelumnya. Perlambatan tersebut diperkirakan terjadi di provinsi Bali dan NTB
pasca-puncak aktivitas kunjungan pariwisata pada triwulan II 2014. Selain itu dari sisi perdagangan,
adanya penurunan kuota tembakau rakyat di NTB diperkirakan menurunkan aktivitas perdagangan,
khususnya untuk perdagangan komoditas pertanian.
Sumber: Dinas Pariwisata Provinsi Bali, diolah
Grafik II.3.9. Jumlah Kunjungan Wisman ke Bali
Grafik II.3.10. Hasil SKDU – Sektor PHR
Laporan Nusantara| 40
Sektor Pertanian
Pertumbuhan sektor pertanian di wilayah Bali-Nustra pada triwulan II 2014 melambat dibandingkan
dengan triwulan sebelumnya, yakni dari 2,6% menjadi sebesar 1,5% (yoy). Perlambatan tersebut
terjadi di seluruh provinsi di wilayah Bali-Nustra. Bergesernya musim panen raya di NTB dari bulan April
– Mei ke Maret menyebabkan pertumbuhan sektor pertanian triwulan II 2014 cenderung melambat.
Selain itu, kontraksi pertumbuhan subsektor tanaman bahan makanan (tabama) Bali juga mendorong
perlambatan sektor pertanian Bali-Nustra. Namun dari sisi kredit, pertumbuhan penyaluran kredit
sektor pertanian kembali menunjukkan peningkatan.
Pada triwulan III 2014, pertumbuhan sektor pertanian diperkirakan kembali menunjukkan peningkatan
dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Peningkatan pertumbuhan tersebut didorong oleh
meningkatnya kinerja pertanian di Bali dan NTT, sedangkan sektor pertanian NTB diperkirakan tumbuh
stabil. Untuk provinsi Bali dan NTT, membaiknya kondisi cuaca pada triwulan III 2014 diperkirakan akan
meningkatkan kinerja subsektor perikanan dan perkebunan, yang pada akhirnya berdampak pada
peningkatan sektor pertanian. Khusus di NTT, Angka Ramalan (ARAM I) menunjukkan adanya
peningkatan produktivitas untuk tanaman padi sawah maupun padi ladang. Selain itu, luas tanam padi
dan jagung di beberapa daerah di wilayah Bali-Nustra diperkirakan akan mengalami peningkatan yang
cukup besar sehingga berpotensi meningkatkan produksi pada triwulan III 2014. Sedangkan di NTB,
masuknya musim panen raya tembakau serta musim panen raya padi ke dua pada triwulan III 2014
berpotensi meningkatkan pertumbuhan sektor pertanian, namun adanya penurunan kuota tembakau
rakyat diperkirakan akan menahan peningkatan pertumbuhan sektor pertanian.
Sektor Pertambangan dan Penggalian
Pertumbuhan sektor pertambangan mengalami kontraksi pada triwulan II 2014 sebesar 8,2% (yoy).
Penerapan kebijakan pengaturan ekspor mineral dan belum tercapainya kesepakatan antara produsen
utama tembaga NTB dan pemerintah menyebabkan pengiriman tembaga ke luar negeri belum dapat
terealisasi. Produksi tambang tembaga diperkirakan mengalami penurunan hingga sekitar 54,7%
dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Di samping itu, kapasitas gudang yang
sudah penuh, serta terkendalanya realisasi pengiriman domestik ke perusahaan smelter di Gresik akibat
daya tampung yang juga terbatas, menyebakan dilakukannya penyesuaian operasional kegiatan
produksi. Bahkan sejak Juni 2014, produksi tembaga di NTB tidak dapat dilakukan.
Pada triwulan III 2014, pertumbuhan sektor pertambangan diperkirakan akan mengalami penurunan
lebih dalam. Penghentian kegiatan operasional tambang di NTB sejak Juni 2014 menjadi faktor utama
yang akan menyebabkan kontraksi pertumbuhan sektor ini lebih dalam pada triwulan III 2014. Dalam
jangka pendek, proses konsolidasi terkait pelaksanaan kebijakan pengaturan ekspor mineral terutama
untuk tembaga di Bali-Nustra akan memengaruhi perekonomian wilayah secara keseluruhan. Namun,
dalam jangka panjang, konsistensi terhadap penerapan kebijakan ini dan langkah upaya untuk
mendorong peningkatan nilai tambah hasil SDA akan berdampak positif bagi perekonomian Bali-Nustra.
Laporan Nusantara| 41
PERKEMBANGAN INFLASI
Inflasi wilayah Bali-Nustra pada triwulan II 2014 sedikit meningkat dibandingkan dengan triwulan
sebelumnya yakni dari 6,6% menjadi sebesar 6,8% (yoy). Peningkatan tekanan inflasi terutama terjadi di
Bali dan NTT, sementara inflasi di NTB tercatat mengalami penurunan (Grafik II.3.11). Berdasarkan
disagregasinya, peningkatan tekanan inflasi terutama didorong oleh kelompok inti (core inflation)
sebagai dampak penyesuaian harga obat-obatan, kontrak rumah, serta kendaraan bermotor yang
terjadi di Bali dan NTT pada awal triwulan II 2014. Namun, laju inflasi Bali-Nustra tertahan oleh mulai
berlalunya dampak kenaikan BBM bersubsidi yang terjadi pada Juni tahun 2013 silam. Kelompok
volatile foods juga melandai seiring dengan meningkatnya pasokan pada masa panen raya beras,
disertai dengan kondisi cuaca yang kondusif serta terjaganya kelancaran distribusi (Grafik II.3.12). Selain
itu, respons pemerintah dalam menjaga kelancaran pasokan pangan juga berkontribusi positif terhadap
stabilitas harga pangan di Bali-Nustra.
Pada triwulan III 2014, tekanan inflasi Bali-Nustra diperkirakan melandai seiring dengan hilangnya
dampak kenaikan BBM bersubsidi. Namun, masih terdapat beberapa faktor risiko yang berpotensi
memberikan tekanan inflasi pada triwulan III tahun 2014. Dari sisi domestik, tekanan inflasi bersumber
dari kondisi cuaca yang kurang mendukung (El Nino) yang berpotensi memengaruhi produktivitas
pertanian, bertambahnya cakupan rumah tangga yang terkena tarif tenaga listrik yang baru per Juli
(1300 VA-5500 VA), adanya rencana perubahan tarif batas atas tarif angkutan udara yang akan
diberlakukan setelah Lebaran, penyesuaian LPG 12 kg, serta potensi Kebijakan Kementerian
Perdagangan (Kemendag) untuk pengaturan supply Day Old Chick (DOC) yang berpotensi meningkatkan
harga daging ayam dan telur ayam. Dari sisi eksternal, masih berfluktuasinya nilai tukar rupiah akan
berdampak pada kenaikan harga bahan baku (khususnya terkait impor) yang pada tahap selanjutnya
akan berimbas pada kenaikan harga jual barang dan jasa.
Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah
Grafik II.3.11. Perkembangan Inflasi Bali-Nustra
Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah
Grafik II.3.12. Disagregasi Inflasi Bali-Nustra
Koordinasi Pengendalian Inflasi
Sebagai wadah dan sarana untuk mengendalikan inflasi, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di
wilayah Bali-Nustra secara konsisten terus melakukan peningkatan upaya nyata dalam menjaga
stabilitas harga barang dan jasa di daerah. Upaya penguatan koordinasi dilakukan melalui Rapat
Koordinasi Wilayah (Rakorwil) pada awal triwulan II 2014 di NTB. Rakorwil merumuskan kesepakatan
Laporan Nusantara| 42
langkah-langkah kolaboratif pengendalian inflasi berdasarkan lima pilar TPID (Produksi dan Distribusi,
Kelembagaan, Regulasi, Edukasi, serta Kajian). Selain itu, rapat juga merumuskan sasaran inflasi di
masing-masing provinsi sehingga dapat mendukung pencapaian sasaran inflasi nasional. Dalam rangka
mengantisipasi besarnya tekanan inflasi pada triwulan III 2014, TPID Bali-Nustra secara
berkesinambungan melaksanakan langkah 4K (ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran
distribusi, dan komunikasi). Beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan diantaranya sidak ke berbagai
pasar modern dan tradisional, gudang distributor dan gudang BULOG; peningkatan infrastruktur
perhubungan; pasar murah serta kegiatan komunikasi dengan masyarakat melalui media massa dalam
rangka menjaga ekspektasi masyarakat.
STABILITAS SISTEM KEUANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM PEMBAYARAN
Ketahanan Sektor Korporasi
Kinerja pembiayaan perbankan di wilayah Bali-Nustra cenderung mengalami perlambatan sejak awal
tahun 2013. Pada triwulan II 2014, kredit perbankan tercatat melambat dari 20,0% menjadi 17,0% (yoy)
(Grafik II.3.13). Perlambatan ekspansi kredit perbankan ini diindikasikan sebagi dampak dari
perlambatan pertumbuhan ekonomi dan kecenderungan peningkatan suku bunga perbankan. Di sisi
lain, risiko kredit masih terjaga walaupun terdapat indikasi kenaikan Non Performing Loan (NPL) dari
1,1% pada triwulan I 2014 menjadi 1,7% pada triwulan II 2014.
Penyaluran pembiayaan kepada sektor utama Bali-Nustra memiliki kecenderungan yang sejalan dengan
pembiayaan secara umum. Struktur pembiyaan produktif masih sangat didominasi oleh pembiayaan
untuk kegiatan sektor perdagangan dan perhotelan yang mencapai 62,0% dari total kredit produktif.
Kinerja pembiayaan subsektor perdagangan relatif terjaga, hal ini tercermin dari tingkat NPL yang masih
stabil sebesar 1,5% pada periode laporan. Sumber kerentanan diperkirakan berasal dari sektor
penyediaan akomodasi dan pertambangan yang mulai mengalami kenaikan NPL meski masih dalam
batas aman.
Grafik II.3.13. Penyaluran Kredit Bali-Nustra
Grafik II.3.14. Kredit Sektor Rumah Tangga
Ketahanan Sektor Rumah Tangga
Pembiayaan sektor rumah tangga memiliki kecenderungan yang melambat (Grafik II.3.14).
Pemberlakukan kebijakan loan to value (LTV) tahap kedua pada September 2013 dan kecenderungan
peningkatan suku bunga sejak pertengahan tahun 2013 diperkirakan menjadi salah satu faktor penahan
Laporan Nusantara| 43
laju pertumbuhan pembiayaan sektor rumah tangga. Walaupun memiliki kecenderungan melambat,
pembiayaan sektor rumah tangga memiliki risiko kredit yang terjaga dan rendah. Hal ini ditengarai
sebagai akibat dari proses pemilihan debitur yang cukup ketat. Risiko kredit, yang tercermin dari rasio
NPL sektor rumah tangga pada triwulan II 2014 tercatat sebesar 0,71%, relatif terjaga dalam beberapa
tahun terakhir. Risiko kredit yang rendah ini juga terjadi di seluruh provinsi di wilayah Bali-Nustra.
Meskipun terdapat perbedaan karakteristik dan struktur ekonomi, terdapat indikasi bahwa penyaluran
kredit sektor rumah tangga di provinsi Bali, NTB, dan NTT memiliki pola yang sama baik dalam
konsentrasi porsi pembiayaan yang dialokasikan untuk sektor rumah tangga maupun dari sebaran
debiturnya. Hal ini menjadi alasan kinerja kredit sektor rumah tangga dapat dikatakan sama pada
triwulan II 2014.
Pembiayaan Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
Perkembangan pembiayaan sektor UMKM di wilayah Bali-Nustra pada triwulan II 2014 tercatat
mengalami perlambatan, walaupun masih tumbuh di atas level pertumbuhan kredit secara umum.
Perlambatan kredit UMKM terutama terjadi pada kredit untuk golongan debitur menengah dan kecil.
Sementara itu, kredit untuk kelompok debitur mikro cenderung mengalami peningkatan yang cukup
tinggi (Grafik II.3.15). Peningkatan pada kredit mikro terutama didorong oleh ekspansi perbankan yang
mampu meningkatkan debitur kredit sektor ini. Walaupun secara umum kredit UMKM mengalami
perlambatan, risiko kredit terindikasi meningkat. Hal ini tercermin dari peningkatan rasio NPL kredit
yang meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (Grafik II.3.16). Sementara itu, kredit untuk
kelompok debitur mikro tercatat mengalami peningkatan yang cukup tajam dibandingkan dengan posisi
akhir tahun 2013.
Grafik II.3.15. Perkembangan Kredit UMKM
Grafik II.3.16. Perkembangan NPL Kredit UMKM
Kinerja Sistem Pembayaran
Volume transaksi ekonomi melalui sarana RTGS tercatat mengalami peningkatan pada triwulan II 2014
dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Volume transaksi RTGS meningkat dari Rp134,7 triliun
menjadi sebesar Rp 142,8 miliar. Peningkatan volume transaksi RTGS terjadi di NTB dan NTT, sedangkan
volume transaksi RTGS di Bali cenderung menunjukkan penurunan. Hal tersebut menunjukkan bahwa
kegiatan transaksi nontunai di wilayah Bali-Nustra menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan
triwulan sebelumnya. Perkembangan RTGS dapat dilihat pada Grafik II.3.17.
Laporan Nusantara| 44
Grafik II.3.17. Perkembangan RTGS
Grafik II.3.18. Perkembangan Net Inflow-Outflow
Kinerja Pengelolaan Uang Tunai
Perkembangan peredaran uang pada triwulan II 2014 masih didominasi oleh aliran inflow. Jumlah net
inflow yang tercatat mencapai Rp 4,49 triliun (Grafik II.3.18). Perkembangan net inflow-outflow dalam
dua tahun terkahir menunjukkan pola yang sejalan dengan kecenderungan pertumbuhan ekonomi
wilayah. Hal ini menunjukkan bahwa aliran uang kartal di Bank Indonesia juga dipengaruhi oleh dinamika
perkembangan ekonomi. Sejalan dengan peningkatan jumlah inflow, Pemberian Tanda Tidak Berharga
(PTTB) pada uang kartal selama triwulan II 2014 juga cenderung meningkat.
PROSPEK PEREKONOMIAN
Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Perkembangan terakhir mengindikasikan pertumbuhan ekonomi Bali-Nustra tahun 2014 cenderung
tumbuh di bawah prakiraan sebelumnya, yakni menjadi di kisaran 3,4% – 3,9% (yoy). Perkembangan
aktivitas di sektor pertambangan dan penggalian, yang mengalami kontraksi cukup dalam karena
terhentinya kegiatan produksi, menjadi sumber utama yang menyebabkan lebih rendahnya capaian
pertumbuhan ekonomi Bali-Nustra. Sektor bangunan diperkirakan juga tumbuh melambat seiring
dengan berkurangnya aktivitas investasi bangunan pada tahun 2014 serta menurunnya pembangunan
properti dikarenakan tingginya harga lahan, khususnya di provinsi Bali. Investasi bangunan diperkirakan
juga belum menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi pasca-booming investasi tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ekonomi wilayah Bali-Nustra lebih banyak ditopang oleh konsumsi, seiring dengan
perkiraan meningkatnya aktivitas pariwisata sepanjang tahun 2014.
Prospek Inflasi
Masih sejalan dengan yang disampaikan pada triwulan sebelumnya, tekanan inflasi pada tahun 2014
diperkirakan akan lebih terkendali dan berangsur kembali ke pola normalnya. Risiko inflasi pada tahun
2014 dipengaruhi oleh faktor cuaca dan tekanan dari sisi eksternal. Beberapa kebijakan pemerintah
seperti kenaikan harga LPG dan Tarif Tenaga Listrik (TTL) juga turut memberikan tekanan pada inflasi
administered prices. Peningkatan Tarif Tenaga Listrik (TTL) industri diperkirakan akan memengaruhi
harga komoditas industri olahan yang disebabkan oleh relatif tingginya kenaikan TTL yaitu sebesar
38,9% untuk industri golongan III dan 64,7% untuk industri golongan IV. Sementara itu, faktor penahan
inflasi diperkirakan berasal dari membaiknya ekspektasi masyarakat terhadap dinamika harga di tahun
Laporan Nusantara| 45
2014, ketersediaan stok komoditas pangan, kebijakan impor, dan respons terhadap dampak bencana
yang cukup efektif. Pada tahun 2014, pemerintah daerah juga fokus pada upaya peningkatan produksi
pangan dan peningkatan kelancaran distribusi serta kerjasama antardaerah.
Tabel II.3.2. Prakiraan Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Bali dan Nusa Tenggara
Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi
Wilayah
PDRB (%,yoy)
2014
2011
2012
2013
3.2
4.2
5.8
5.3
4.9
2.4
1.6-2.1
3.4-3.9
6.7
4.2
6.7
6.5
4.7
8.4
7.8-8.3
6.7-7.2
6.4
4.3
5.6
6.4
4.9
7.8
6.5-7.0
6.2-6.7
I
p
II
III
IV
p
p
Total
Sisi Permintaan
Konsumsi
Konsumsi swasta
Konsumsi Pemerintah
8.1
3.9
12.1
7.3
3.7
10.9
13.1-13.6
8.9-9.4
10.0
15.0
7.9
(2.8)
(1.7)
3.8
2.7-3.2
0.3-0.8
Ekspor
2.7
2.5
8.0
11.1
6.2
2.7
6.2-6.7
6.2-6.7
Impor
10.2
5.9
12.7
14.4
9.4
8.8
10.5-11.0
10.5-11.0
2.4
4.2
2.3
2.6
1.5
1.9
2.3-2.8
1.9-2.4
(24.3)
(23.7)
6.8
0.7
(8.2)
(58.1)
(62.2)-(62.7)
(33.0)-(33.5)
Industri pengolahan
3.1
5.6
5.9
6.3
6.3
6.7
7.1-7.6
6.4-6.9
Listrik, gas & air bersih
7.9
8.5
8.6
4.7
7.4
5.3
4.4-4.9
5.2-5.7
Bangunan
6.6
10.3
5.5
2.5
3.6
3.9
2.4-2.9
2.9-3.4
Perdagangan, hotel & restoran
8.4
6.6
6.5
6.4
8.1
7.8
6.5-7.0
7.0-7.5
Pengangkutan & komunikasi
Keuangan, persewaan dan
perusahaan
6.6
6.9
6.0
6.9
5.7
5.6
4.9-5.4
5.6-6.1
7.5
8.8
7.9
7.5
8.2
7.2
6.7-7.2
7.2-7.7
8.6
6.1
8.7
8.0
7.1
7.3
7.8-8.3
7.4-7.9
4.9
4.6
8.3
6.6
6.8
5.5
5.2-5.7
5.2-5.7
Pembentukan Modal Tetap Bruto
Sisi Produksi
Sektor pertanian
Sektor pertambangan & penggalian
Jasa-jasa
Inflasi IHK (%,yoy)
jasa
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
p
proyeksi Bank Indonesia
Laporan Nusantara| 46
Perekonomian Jawa tumbuh stabil sebesar 5,8% (yoy) pada triwulan II 2014 dibandingkan dengan
triwulan I 2014, ditopang oleh kinerja perekonomian wilayah DKI Jakarta dan Jawa Bagian Barat. Kegiatan
Pemilu, yang sebagian besar terpusat di Jawa, serta daya beli masyarakat yang masih terjaga, merupakan
faktor yang mendorong konsumsi rumah tangga tumbuh meningkat. Sebaliknya, konsumsi pemerintah
mengalami kontraksi cukup tajam, terkait penyerapan anggaran yang belum dilakukan. Kinerja ekspor
juga mengalami penurunan, sebagaimana terlihat dari turunnya ekspor ke daerah lain (perdagangan
antardaerah) di wilayah Jawa Bagian Timur dan Jawa Bagian Tengah. Hal ini ditengarai sebagai dampak
melambatnya perekonomian di Kawasan Timur Indonesia yang disebabkan oleh menurunnya kinerja
sektor tambang. Namun, kinerja ekspor luar negeri di seluruh wilayah Jawa masih menunjukkan kinerja
yang cukup baik. Sementara itu, investasi melambat signifikan, sejalan dengan kecenderungan investor
untuk menahan kegiatan investasi hingga adanya kepastian hasil Pemilihan Presiden tahun 2014.
Seiring dengan masih kuatnya permintaan domestik dan perbaikan kinerja ekspor, kinerja perekonomian
Jawa pada triwulan III 2014 diperkirakan lebih baik dari triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi
Jawa diprakirakan mampu mencapai 6,0% (yoy). Kuatnya konsumsi domestik tersebut terkait dengan
adanya momen Hari Raya Idul Fitri dan tahun ajaran baru. Selain itu, tingginya permintaan domestik juga
didukung oleh konsumsi pemerintah, yang diperkirakan meningkat terkait dengan adanya realisasi gaji
ketigabelas dan bantuan sosial yang pencairannya ditangguhkan pada triwulan sebelumnya. Di sisi
ekspor, baik ekspor luar negeri maupun ke daerah lain, diprakirakan meningkat di seluruh wilayah Jawa.
Hal ini sejalan dengan kondisi perekonomian negara maju yang tumbuh lebih tinggi dari prakiraan awal.
Sementara itu, kinerja investasi diprakirakan membaik, didukung oleh investasi bangunan, khususnya
dari pembangunan proyek-proyek infrastruktur strategis.
Di sisi perkembangan harga, realisasi inflasi hingga Juli 2014 menunjukkan tren penurunan yang
signifikan. Selain itu, inflasi di kelompok pangan pada periode Januari hingga Juli 2014 relatif lebih rendah
dibandingkan dengan pola historisnya. Koordinasi kebijakan pengendalian harga antara pemerintah dan
Bank Indonesia melalui forum TPI/TPID, terutama pada komoditas pangan strategis, juga memengaruhi
terkendalinya inflasi. Sementara itu, kelompok administered prices masih memberikan tekanan inflasi,
yang bersumber dari penyesuaian tarif listrik, kenaikan bahan bakar rumah tangga, dan tarif angkutan.
Pada triwulan III 2014, inflasi Jawa diprakirakan masih terkendali, meski terdapat risiko dari perluasan
kebijakan yang membatasi penjualan BBM bersubsidi. Hingga saat ini, kebijakan pembatasan solar
bersubsidi di wilayah Jakarta belum memberikan dampak terhadap tingginya inflasi. Adapun tekanan
inflasi diperkirakan bersumber dari meningkatnya permintaan pada periode tahun ajaran baru dan
menurunnya pasokan bahan pangan domestik. Menurunnya pasokan bahan pangan terkait dengan
menurunnya produksi padi. Memerhatikan perkembangan tersebut, laju tekanan inflasi pada triwulan III
2014 di Jawa diprakirakan pada kisaran 4,2% – 4,6%, masih tetap mendukung target sasaran inflasi
nasional tahun 2014.
Penyaluran kredit perbankan pada triwulan II 2014 tumbuh sekitar 18% (yoy), jauh lebih rendah
dibandingkan dengan pertumbuhan kredit pada triwulan I 2014 sekitar 20% (yoy). Selain itu, di tengah
indikasi penurunan spread suku bunga kredit, kualitas kredit belum terlihat mengalami perubahan yang
Laporan Nusantara| 47
signifikan tercermin dari rasio kredit nonlancar terhadap total kredit sebesar 1,9%. Meski demikian,
kualitas kredit UMKM cenderung menurun. Hal ini diperkirakan terkait dengan terbatasnya kemampuan
membayar kembali (repayment capacity) sejumlah debitur UMKM sebagai dampak dari tingginya suku
bunga. Penyaluran kredit di Jawa sebagian besar diberikan kepada sektor-sektor ekonomi utama yakni
sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel, dan restauran. Sementara itu, pertumbuhan
dana pihak ketiga (DPK) di sebagian besar kelompok bank menunjukkan peningkatan.
Terkait dengan pengelolaan uang rupiah, ketersediaan uang tunai pada periode Lebaran di Jawa cukup
terjaga guna mendukung kelancaran transaksi ekonomi. Sementara itu, dari sisi sistem pembayaran,
volume transaksi nontunai di Jawa mengalami peningkatan. Hal ini sejalan dengan semakin besarnya
dukungan perbankan, dan meningkatnya preferensi masyarakat terhadap kegiatan transaksi nontunai .
Sejalan dengan dinamika perekonomian terkini, pertumbuhan ekonomi Jawa pada tahun 2014
diprakirakan berada pada kisaran 5,6% – 6,0% (yoy), melambat dibandingkan dengan tahun 2013. Hal ini
terutama disebabkan oleh kinerja ekspor dan investasi yang tumbuh melambat signifikan. Lambatnya
pemulihan ekonomi global menjadi penyebab penurunan ekspor pada tahun 2014. Sementara itu,
melambatnya investasi terkait dengan perilaku investor yang cenderung menunggu kepastian hasil
pemilu tahun 2014 dan kebijakan pemerintah baru. Di sisi lain, konsumsi rumah tangga relatif masih
kuat, yang ditopang dengan daya beli masyarakat menengah atas.
Inflasi Jawa tahun 2014 diperkirakan kembali ke pola normalnya yaitu berada pada kisaran 4,7% – 5,1%
(yoy). Hal tersebut didukung oleh terjaganya ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga komoditas
pangan strategis. Selain itu, semakin solidnya koordinasi antara Pemerintah dan Bank Indonsia dalam
forum TPI/TPID turut mendukung penurunan inflasi Jawa pada tahun 2014. Namun, terdapat berbagai
risiko inflasi pada semester II 2014, diantaranya dampak dari perluasan kebijakan pembatasan BBM
bersubsidi dan El Nino yang mengganggu produksi pangan.
Laporan Nusantara| 48
PERTUMBUHAN EKONOMI
Perekonomian wilayah Jawa Bagian Timur (Jabagtim) sedikit melambat pada triwulan II 2014.
Pertumbuhan ekonomi pada triwulan ini mencapai 5,94% (yoy), menurun 0,4% (yoy) dibandingkan
triwulan sebelumnya (6,40%, yoy). Melambatnya kinerja ekspor dan masih rendahnya realisasi investasi
mendorong pelemahan ekonomi Jabagtim. Terbatasnya konsumsi di Kawasan Timur Indonesia (KTI)
pasca-pemberlakuan UU Minerba turut memengaruhi pertumbuhan ekonomi Jabagtim melalui saluran
perdagangan antarpulau. Dari sisi kinerja eksternal, ekspor luar negeri masih tertekan terkait dengan
melemahnya daya saing industri yang sebagian besar memiliki ketergantungan impor. Rendahnya
realisasi investasi disebabkan oleh masih berlangsungnya aksi menunda (wait and see) dari pelaku
usaha, terkait dengan pelaksanaan Pemilu 2014. Investasi lebih didominasi kelompok nonbangunan
yang bersifat perawatan (maintenance) mesin industri. Di sisi lain, peningkatan konsumsi rumah tangga
mampu menahan perlambatan laju ekonomi Jabagtim.
Dari sisi sektoral, perlambatan ekonomi Jabagtim triwulan ini terutama disebabkan oleh melambatnya
kinerja sektor non-tradable. Kinerja sektor, bangunan, pengangkutan dan komunikasi, keuangan,
persewaan dan jasa perusahaan serta sektor jasa tercatat melambat pada triwulan II 2014. Penurunan
cukup dalam pada sektor jasa disebabkan oleh tertundanya penyaluran hibah dan dana sosial. Selain
itu, penurunan kinerja subsektor tanaman bahan makanan dan peternakan mendorong perlambatan
sektor pertanian. Namun, sektor Perdagangan, Hotel & Restoran (PHR) masih mampu tumbuh
meningkat.
Tren perbaikan ekonomi Jabagtim diperkirakan terjadi pada triwulan III 2014. Pertumbuhan ekonomi
Jabagtim diprakirakan meningkat dari 5,9% pada triwulan II 2014 menjadi 6,2%. Sektor-sektor ekonomi
utama diperkirakan mengalami peningkatan. Kondisi ini dikonfirmasi oleh hasil survei dan liaison yang
memperkirakan sektor usaha mulai tumbuh optimis. Di sisi permintaan, pertumbuhan didukung oleh
meningkatnya konsumsi rumah tangga dan potensi membaiknya kinerja ekspor. Secara keseluruhan,
ekonomi Jabagtim tahun 2014 diyakini tumbuh di kisaran 6,0% - 6,5%.
Konsumsi
Konsumsi Rumah Tangga
Konsumsi rumah tangga, yang memiliki pangsa 67% terhadap perekonomian Jabagtim, pada
triwulan II 2014 mengalami peningkatan dari 8,2% (yoy) menjadi 8,7%. Bonus demografi kelompok usia
produktif dan meningkatnya kelompok ekonomi menengah ke atas mendorong peningkatan daya beli
penduduk Jabagtim. Berbagai faktor tersebut mendorong optimisme kelompok rumah tangga
sebagaimana tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang terjaga stabil di atas level 110. Di
sisi lain, Pemilihan Presiden (Pilpres) tidak berkontribusi signifikan pada belanja masyarakat. Belanja
Pilpres ditengarai lebih terkonsentrasi pada iklan media massa di wilayah DKI Jakarta. Hal ini berbeda
dengan penyelenggaraan Pilpres sebelumnya yang cenderung terdesentralisasi ke daerah, seiring
dengan penggunaan media non elektronik untuk kampanye di daerah.
Laporan Nusantara| 49
Peningkatan konsumsi rumah tangga terutama terjadi pada belanja perlengkapan rumah tangga, yang
mencerminkan masih tingginya belanja rumah tangga pada kelompok barang tahan lama (durable
good). Dari sisi pembiayaan, kredit konsumsi dalam tren yang melambat (Grafik III.1.3) seiring dengan
adanya pembatasan kredit konsumtif oleh perbankan di Jabagtim.
Belanja rumah tangga diperkirakan masih berada dalam tren peningkatan pada triwulan III 2014. Hal ini
didukung antara lain dengan pencairan gaji ke-13 Pegawai Negeri Sipil dan Tunjangan Hari Raya (THR).
Selain itu, hasil survei Konsumen juga mengonfirmasi menguatnya optimisme masyarakat sebagaimana
terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang masih berada di level optimis. Adanya ekspektasi
penghasilan yang lebih tinggi pada masa mendatang, juga akan mendorong semakin tingginya
pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi.
Grafik III.1.1. Indeks Omset Riil
Grafik III.1.2. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK)
Grafik III.1.3. Kinerja Kredit Konsumsi
Grafik III.1.4. Realisasi Belanja Tw. II 2014
Konsumsi Pemerintah
Konsumsi Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten/Kota di wilayah Jabagtim mengalami perlambatan
pada triwulan II 2014 bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2013. Pertumbuhan konsumsi
pemerintah pada triwulan II 2014 terkontraksi sebesar 0,9%. Tertahannya realisasi dana hibah (bantuan
sosial) menyebabkan rendahnya serapan anggaran belanja pemerintah daerah. Namun, Pemprov Jawa
Timur telah mengupayakan percepatan proses realisasi belanja bantuan keuangan kepada
Kabupaten/Kota.
Laporan Nusantara| 50
Realisasi belanja pemerintah diperkirakan meningkat pada triwulan III 2014, seiring disalurkannya dana
hibah atau bantuan sosial ke daerah dan kenaikan realisasi belanja pegawai saat pencairan gaji
ketigabelas Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Investasi
Kinerja investasi pada triwulan II 2014 tumbuh lebih rendah sebesar 5,1% (yoy) dibandingkan dengan
triwulan I 2014 sebesar 7,5% (yoy). Perlambatan investasi terutama dari Penanaman Modal Asing
(PMA) yang mencatat pertumbuhan negatif (terkontraksi) 21,8% (Grafik 1.15). Sementara investasi
Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) relatif stabil dengan tumbuh sebesar 0,28% (Grafik III.1.15).
Berdasarkan hasil liaison dan survei, kenaikan komponen biaya produksi meliputi upah tenaga kerja dan
tarif energi turut memberikan sentimen negatif terhadap minat investor, baik asing maupun dalam
negeri, untuk berinvestasi di Jabagtim. Sejumlah kontak liaison cenderung untuk menunda investasi
(wait and see), menunggu hasil Pilpres tahun 2014 sebelum merealisasikan investasi.
Pada triwulan III 2014, investasi diperkirakan masih tumbuh melambat sebesar 4,25% (yoy). Hal ini
dipengaruhi oleh masih adanya kecenderungan para pelaku usaha untuk mencermati proses transisi
pemerintahan. Namun, beralihnya sistem produksi sektor industri menuju semi otomasi semakin
mendorong pertumbuhan realisasi investasi nonbangunan. Hal ini, pada akhirnya turut berpengaruh
pada kinerja impor barang modal, yang didominasi kelompok mesin industri dan suku cadang. Di sisi
lain, kenaikan upah minimum kota (UMK) yang tinggi dalam dua tahun terakhir, pada akhirnya
berpengaruh pada penurunan minat investasi industri padat karya di Jabagtim. Hal tersebut
dikonfirmasi dalam berbagai forum diskusi dan liaison dengan pelaku usaha. Sementara itu, realisasi
pembangunan infrastruktur jalan tol masih memasuki tahap pembebasan lahan.
Grafik III.1.5. Realisasi Investasi Jabagtim
Grafik III.1.6. Perkembangan Impor Barang Modal
Perdagangan Luar Negeri
Ekspor
Ekspor luar negeri Jabagtim mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif) sebesar 10,5% (yoy) pada
triwulan II 2014, dipicu oleh menurunnya volume ekspor hasil olahan logam, sebagai dampak dari
implementasi UU Minerba, dan industri makanan minuman (Grafik III.1.7). Upaya diversifikasi negara
tujuan mulai membuahkan hasil dengan meningkatnya ekspor ke Afrika dan Timur Tengah, meskipun
Laporan Nusantara| 51
masih belum mampu mengimbangi proporsi ekspor ke negara mitra dagang utama (Jepang dan AS).
Lebih dalamnya penurunan kinerja ekspor dibandingkan dengan impor menyebabkan defisit neraca
perdagangan mencapai USD142,2 juta (Grafik III.1.8).
Pada triwulan III 2014, kinerja ekspor luar negeri Jabagtim diperkirakan tumbuh membaik, seiring
meningkatnya permintaan untuk memenuhi kebutuhan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.
Komoditas ekspor yang diperdagangkan umumnya adalah hasil olahan industri makanan, minuman dan
tembakau, perhiasan, alas kaki dan furniture.
Net Ekspor LN
gImpor LN-Skala Kanan
2,500,000
gEkspor LN-Skala Kanan
(%,yoy)
(Juta Rp)
10
2,000,000
5
1,500,000
1,000,000
0
500,000
-5
0
-500,000
I
II
III
2011
IV
I
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
II*
2014
-10
-1,000,000
-15
-1,500,000
Grafik III.1.7. Kinerja Perdagangan LN & DN
Grafik III.1.8. Neraca Perdagangan Ekspor LN
Grafik III.1.9. Negara Utama Tujuan Ekspor
Grafik III.1.10. Bongkar Muat Ekspor DN (Tj.Perak)
Impor
Kinerja impor pada Triwulan II 2014 mengalami penurunan, sebagaimana ditunjukkan oleh Grafik III.1.8.
Impor Jabagtim, yang sebagian besar didominasi oleh bahan baku dan barang modal, mencirikan
karakter ekonomi Jabagtim sebagai daerah industri. Perlambatan impor periode ini lebih disebabkan
oleh menurunnya impor barang konsumsi, sedangkan impor barang modal dan bahan baku masih
mengalami peningkatan. Berdasarkan klasifikasi HS (harmonized system) 2 digit, komposisi impor
Jabagtim pada triwulan II 2014 masih didominasi oleh komoditas mesin industri (14,8% dari total impor)
serta plastik (7,1%).
Tren perlambatan pertumbuhan impor Jabagtim diperkirakan masih berlanjut pada triwulan III 2014.
Pertumbuhan impor Jabagtim diperkirakan masih berada pada level 4%. Impor yang juga diperkirakan
Laporan Nusantara| 52
masih akan didominasi oleh impor barang modal guna memenuhi kebutuhan proses transisi industri
Jabagtim menuju semi otomasi. Selain itu, impor barang konsumsi umumnya mengalami peningkatan di
saat perayaan Lebaran untuk kelompok barang tahan lama (durable goods).
Perdagangan Antar Daerah
Di tengah melambatnya ekspor Jabagtim ke daerah lain, kondisi neraca perdagangan antardaerah
masih mencatatkan angka surplus sebesar USD 0,29 juta. Ekspor antardaerah Jabagtim tumbuh
melambat dari 17,4% (yoy) pada triwulan I 2014 menjadi 14,2% pada triwulan II 2014. Perlambatan
performa ekspor perdagangan antardaerah Jabagtim terutama didorong oleh menurunnya permintaan
barang impor kendaraan industri sebagai akibat melambatnya kinerja sektor pertambangan pascapemberlakuan UU Minerba. Impor dari daerah lain relatif tumbuh stabil sekitar 10% (yoy), seiring
dengan stabilnya kinerja sektor industri pengolahan di Jabagtim (Grafik III.1.8).
Berdasarkan data, impor Jabagtim dari daerah lain didominasi oleh kelompok bahan baku industri,
diantaranya aneka kayu dan makanan laut. Sementara itu, impor barang logam menurun tajam pasca
pemberlakuan UU Minerba di awal tahun 2014. Transaksi perdagangan antar daerah yang lebih rendah
terindikasi pada data volume barang yang dikirim melalui Pelabuhan Tanjung Perak (Grafik III.1.10).
Memasuki triwulan III 2014, kinerja perdagangan antardaerah diperkirakan membaik, seiring dengan
meningkatnya permintaan masyarakat KTI pada saat momentum Lebaran. Ekspor Jabagtim yang
diperkirakan meningkat adalah kelompok barang bahan makanan dan industri mamin. Transaksi impor
antardaerah pun diperkirakan mengalami peningkatan seiring prakiraan kenaikan kapasitas produksi
sektor industri guna memenuhi permintaan ekspor luar negeri Jabagtim.
Kinerja Sektor Utama Daerah
Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR)
Kinerja sektor PHR pada triwulan II 2014 menunjukkan perbaikan. Meningkatnya pertumbuhan PHR
disebabkan oleh kenaikan transaksi perdagangan besar Jabagtim, khususnya penjualan retail, seiring
masih tingginya daya beli masyarakat. Kian maraknya kegiatan MICE (meetings, incentives, conferences,
and exhibitions) dan keberadaan Kota Surabaya sebagai kota dagang, juga mendorong kinerja sektor
PHR. Di sisi lain, terjadi sedikit penurunan pada jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke
wilayah Jabagtim (Grafik III.1.12).
Grafik III.1.11. Konsumsi Listrik Bisnis
Grafik III.1.12. Indikator Subsektor Hotel
Laporan Nusantara| 53
Perbaikan kinerja di subsektor perhotelan dan restoran diperkirakan terus berlanjut pada triwulan III
2014, sebagai pengaruh dari kegiatan mudik, yang dilanjutkan dengan rangkaian libur Lebaran dan
tahun ajaran baru. Pelaksanaan kegiatan Jember Fashion Carnival (JFC) di Jember juga turut
mendukung kenaikan kinerja sektor PHR. Selain itu, kenaikan transaksi perdagangan antarpulau saat
masa puasa dan Lebaran berpotensi meningkatkan pertumbuhan sektor PHR di Jabagtim.
Sektor Industri Pengolahan
Sektor industri pengolahan pada triwulan II 2014 masih mampu tumbuh cukup tinggi. Pertumbuhan
sektor industri pengolahan tercatat sebesar 6,81% (yoy), relatif stabil jika dibandingkan dengan triwulan
sebelumnya. Masih tingginya pertumbuhan sektor industri pengolahan didorong oleh masih tingginya
aktivitas di industri semen dan barang galian, industri makanan, minuman dan tembakau, industri
tekstil, serta industri barang dari kayu dan hasil hutan lainnya. Sementara itu, kinerja industri alat
angkut mesin dan peralatannya, industri logam dasar, serta industri kertas menurun. Penurunan kinerja
pada industri-industri tersebut menyebabkan tertahannya laju pertumbuhan sektor industri
pengolahan.
Berdasarkan hasil liaison, dampak Pemilu Presiden pada tahun ini cenderung terbatas. Tidak seperti
pola Pemilu sebelumnya, yang mempu mendongkara omset penjualan, dampak pemilu tahun 2014
tidak memberikan dampak yang signifikan bagi peningkatan omset penjualan. Peningkatan Tarif Tenaga
Listrik (TTL) untuk perusahaan yang go public dan industri besar yang mulai berlaku pada awal Juli 2014
masih direspons terbatas oleh dunia usaha di Jabagtim. Namun, kenaikan biaya energi, yang
menambah biaya operasional perusahaan sekitar 20% tersebut, berpotensi meningkatkan harga jual ke
konsumen.
Pada triwulan III 2014, kinerja sektor industri pengolahan diperkirakan masih terjaga stabil. Proses
produksi yang mulai mengarah kepada sistem semi otomasi akan meningkatkan produktivitas sektor
industri di tengah. Meski demikian perkembangan sektor industri pengolahan masih dibayangi
penurunan kinerja subsektor industri tembakau dan belum pulihnya permintaan industri alat angkut
dan peralatannya ke wilayah Kawasan Timur Indonesia (KTI), terkait dengan belum adanya perbaikan
yang berarti di sektor pertambangan.
Sektor Pertanian
Kinerja sektor pertanian pada triwulan II 2014 mengalami penurunan, yang didorong oleh melambatnya
pertumbuhan subsektor tanaman bahan makanan dan peternakan. Dinas pertanian Jabagtim
mengonfirmasi bahwa salah satu penyebab perlambatan sektor pertanian adalah terjadinya
peningkatan biaya usaha tani. Keterbatasan jumlah pupuk bersubsidi mendorong sebagian petani
beralih ke pupuk nonsubsidi. Peningkatan biaya juga didorong oleh naiknya biaya tenaga kerja. Pada
akhirnya, kenaikan biaya tersebut tidak sebanding dengan harga jual produk pertanian yang cenderung
stabil dan bahkan menurun pada komoditas cabai.
Penurunan kinerja subsektor tanaman bahan makanan juga disebabkan oleh penurunan luas panen
padi dan jagung pada triwulan II 2014. Penurunan luas panen tersebut disebabkan karena tanaman
padi sedang berada pada masa tanam sehingga panen menurun signifikan, jika dibandingkan dengan
triwulan I 2014. Sementara itu, beberapa tanaman hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit dan
tomat sayur di wilayah Kediri mengalami pergeseran panen sebagai dampak dari erupsi Gunung Kelud
sehingga replanting dilakukan pada Maret hingga April 2014.
Laporan Nusantara| 54
Grafik III.1.13. Indeks Produksi & Kapasitas Industri
Grafik III.1.14. Konsumsi Listrik Industri
Grafik III.1.15. Perkembangan Kinerja Pertanian
Grafik III.1.16. Luas Lahan Tanam dan Panen Padi
Pada triwulan III 2014, kinerja sektor pertanian diprediksi meningkat seiring dengan dimulainya masa
panen tanaman bahan makanan (tabama). Sementara itu, di sektor peternakan, permintaan daging
sapi, daging ayam dan telur ayam yang tinggi pada lebaran turut berkontribusi pada peningkatan sektor
ini. Risiko yang perlu diwaspadai adalah keterbatasan pasokan pupuk bersubsidi dan kebijakan
pembatasan penggunaan solar bersubsidi yang berpengaruh pada aktivitas penangkapan ikan. Di sisi
lain, juga terdapat dampak atas kebijakan pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10% pada
penjualan produk pertanian ke industri pengolahan.
PERKEMBANGAN INFLASI
Inflasi Jabagtim hingga Juli 2014 mencapai 4,01% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi
nasional yang mencapai 4,53% (Grafik III.1.17). Inflasi pada periode ini telah kembali kepada pola
normalnya. Dampak base effect inflasi akibat kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada tahun 2013
telah hilang. Berdasarkan disagregasinya, inflasi Jabagtim terutama disebabkan oleh peningkatan harga
di kelompok administered prices, sebagai akibat dari kenaikan tarif transportasi, penyesuaian tarif listrik
dan kenaikan harga rokok kretek filter. Sementara itu, masih berlanjutnya persepsi masyarakan akan
kenaikan harga barang-barang (ekspektasi harga masyarakat) dan peningkatan transaksi ekonomi
mendorong kenaikan harga pada kelompok inflasi inti. Di sisi lain, deflasi harga pada kelompok volatile
food menjadi penahan laju inflasi periode laporan. Penurunan harga kelompok volatile food banyak
disumbang oleh kelompok bumbu-bumbuan dan buah-buahan.
Laporan Nusantara| 55
Pada triwulan III 2014, inflasi di Jabagtim diperkirakan akan meningkat. Penyumbang inflasi terbesar
masih pada kelompok administered prices dan inflasi inti. Potensi tekanan inflasi kelompok
administered prices berasal dari kenaikan tarif tenaga listrik rumah tangga per 1 Juli 2014, kebijakan
pembatasan penjualan BBM bersubsidi sebesar 46 juta KL, yang mulai berlaku per 1 Agustus 2014, serta
pemberlakuan pajak tembakau. Selanjutnya, meningkatnya tekanan inflasi inti didorong oleh masih
tingginya ekspektasi masyarakat sebagai respons atas berbagai kebijakan pemerintah, serta potensi
kenaikan harga pada kelompok pendidikan seiring tibanya tahun ajaran baru. Dari sisi eksternal,
pergerakan nilai tukar rupiah dan fluktuasi harga komoditas internasional diperkirakan masih
memengaruhi level harga di Jabagtim khususnya untuk sisi tradable. Dari kelompok volatile foods,
potensi tekanan kenaikan harga bersumber dari meningkatnya permintaan masyarakat pada periode
puasa dan Lebaran, meskipun sebagian tanaman bahan makanan mengalami panen gadu. Secara
keseluruhan 2014, inflasi Jabagtim diperkirakan akan berada di kisaran 4,3% - 4,6% (yoy), masih sejalan
dengan target inflasi nasional di kisaran 4,5% + 1%.
Grafik III.1.17. Perkembangan Inflasi Tw I 2014
Grafik III.1.18. Disagregasi Inflasi Tw I 2014
Koordinasi Pengendalian Inflasi
Strategi TPID di seluruh wilayah Jabagtim diarahkan pada lima strategi utama, yaitu 1) penguatan
kelembagaan, 2) penguatan strategi produksi, distribusi & konektivitas, 3) regulasi dan monitoring, 4)
kajian dan rekomendasi, dan 5) upaya pengendalian ekspektasi. Strategi penguatan kelembagaan
dilaksanakan dengan mendorong pembentukan TPID di tingkat Kabupaten/Kota. Saat ini telah
terbentuk 35 TPID Kab/Kota, sedangkan 3 lainnya masih dalam proses pembentukan. Selama
Ramadhan, kegiatan TPID banyak difokuskan pada pelaksanaan operasi pasar melalui pemberian
subsidi untuk biaya produksi komoditas strategis, kerjasama mendukung kelancaran distribusi,
pengawasan barang beredar dan menjaga ekspektasi masyarakat terkait kecukupan stok pangan
menjelang Ramadhan dan Lebaran.
STABILITAS SISTEM KEUANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM PEMBAYARAN
Ketahanan Sektor Korporasi
Perkembangan kinerja bank umum di Jabagtim sampai dengan triwulan II 2014 menunjukkan
pertumbuhan yang melambat. Perlambatan pertumbuhan penyaluran kredit bank umum terjadi baik
berdasarkan lokasi bank pelapor maupun lokasi proyek. Jumlah kredit berdasarkan lokasi bank pelapor
di Jabagtim mencapai Rp 325,45 triliun atau tumbuh 18,9% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan
Laporan Nusantara| 56
triwulan I 2014 (23,2%). Sementara itu, kredit berdasarkan lokasi proyek yang disalurkan bank umum di
Jabagtim mencapai Rp 369,96 triliun, atau tumbuh sebesar 19,1% (yoy), juga melambat jika
dibandingkan dengan triwulan I 2014. Selain karena pertimbangan dari sisi industri perbankan yang
cenderung mengetatkan target penyaluran kredit di daerah, perlambatan ekspansi kredit perbankan
tersebut juga terkait dengan menurunnya kinerja perekonomian Jabagtim.
Rasio penyaluran kredit perbankan terhadap DPK (dana pihak ketiga) di Jabagtim relatif tinggi, yaitu
hingga mencapai 90,8% (berdasarkan lokasi bank) dan 103,5% (berdasarkan lokasi proyek). Meski
demikian, tingginya rasio tersebut masih ditopang oleh terjaganya risiko kredit pada level yang cukup
rendah. Risiko kredit, yang tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL), pada triwulan II 2014
tercatat stabil pada level yang relatif rendah yaitu 2,1% .
Penyaluran pembiayaan kepada sektor utama di Jabagtim memiliki kecenderungan yang sejalan dengan
struktur sektoral perekonomian Jabagtim. Penyaluran kredit di Jabagtim didominasi oleh tiga sektor
ekonomi utama yaitu sektor industri pengolahan, sektor perdagangan besar dan eceran, serta sektor
pertanian. Kredit ke sektor industri pengolahan memiliki proporsi terbesar yaitu 28,3% atau sebesar Rp
90,2 triliun yang diikuti oleh kredit di sektor perdagangan besar dan eceran dengan porsi sebesar 26,4%
atau mencapai Rp 83,9 triliun. Sementara itu, kredit di sektor pertanian memiliki porsi 2,8% atau
sebesar Rp 10,2 triliun. Rendahnya porsi pembiayaan ke sektor pertanian disebabkan oleh masih
tingginya risiko kredit (NPL) yang mencapai 4,9%. Di sisi lain, NPL di sektor industri pengolahan dan
perdagangan relatif rendah yaitu 2%, menjadi faktor pendukung masih tingginya penyaluran kredit
pada kedua sektor tersebut.
Grafik III.1.19. Penyaluran Kredit
Grafik III.1.20. Penyaluran Kredit Sektor Utama
Ketahanan Sektor Rumah Tangga
Pertumbuhan penyaluran kredit rumah tangga di Jabagtim pada triwulan II 2014 menunjukkan
peningkatan dibandingkan dengan triwulan I 2014. Relatif masih kuatnya pertumbuhan ekonomi
Jabagtim pada triwulan II 2014 mendorong kuatnya daya beli konsumen Jabagtim. Masih tingginya
kebutuhan rumah masyarakat akan rumah dan kelancaran mobilitas, yang didukung dengan daya beli
yang memadai, menyebabkan permintaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan
Bermotor (KKB) terus meningkat. Penyaluran KPR mencapai Rp 27,83 triliun, atau mencatat
pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu 26,4% (yoy). KPR terbesar diperuntukan bagi pembelian rumah
dengan tipe 22 sampai dengan 70, mencapai 44,2% dari total KPR yang disalurkan, atau mengalami
pertumbuhan yang cukup tinggi sebesar 30,6% (yoy). Ekspansi kredit KPR untuk rumah tipe 22-70
Laporan Nusantara| 57
diperkirakan masih akan berlanjut, mengingat risiko kredit pada segmen ini relatif rendah, bahkan
cenderung turun.
Grafik III.1.21. Penyaluran Kredit
Grafik III.1.23.Penyaluran Kredit UMKM
Grafik III.1.22. Penyaluran Kredit Sektor Utama
Grafik III.1.24. NPL Kredit UMKM
Pembiayaan Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
Sampai dengan triwulan II 2014, jumlah kredit UMKM yang disalurkan mencapai Rp 92,3 triliun atau
tumbuh 15,9% (yoy). Walaupun lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya
yaitu sebesar 19,12% (yoy), kinerja kredit UMKM masih searah dengan arah perekonomian Jabagtim.
Penyaluran kredit UMKM oleh perbankan di Jabagtim pada masa mendatang diperkirakan masih akan
tumbuh positif seiring membaiknya kinerja perekonomian. Namun, masih terbatasnya pertumbuhan
sektor riil akan berdampak pada prospek pembiayaan investasi dan modal kerja untuk UMKM.
Kinerja Sistem Pembayaran
Pada Triwulan II 2014, transaksi keuangan melalui sistem pembayaran dengan menggunakan sistem
RTGS dan kliring di Jabagtim tumbuh meningkat dibandingkan dengan periode sebelumnya. Tercatat
transaksi kliring secara nominal mencapai Rp 47,21 triliun dengan jumlah warkat kliring sebanyak 1,2
juta lembar. Jumlah tersebut meningkat 5,97% (qtq) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
Sementara itu, transaksi RTGS mencapai Rp 466,6 triliun dengan volume sebanyak 239.220 transaksi.
Peningkatan transaksi sistem pembayaran nontunai periode ini terkait dengan adanya momen tahun
ajaran baru, puasa dan menjelang lebaran.
Laporan Nusantara| 58
Kinerja Pengelolaan Uang Tunai
Pada triwulan II 2014, jumlah aliran uang kartal dari dan ke Bank Indonesia di wilayah Jabagtim kembali
menunjukkan posisi net inflow (Rp. 1,39 Triliun), lebih rendah dibandingkan dengan periode
sebelumnya Rp. 9,05 Triliun. Net inflow yang terjadi terkait dengan kembali normalnya aktivitas
ekonomi masyarakat dan kecenderungan masyarakat untuk meningkatkan dana simpanannya di
perbankan menjelang libur tahun ajaran baru, Ramadhan dan lebaran.
Grafik III.1.25. Transaksi RTGS
Grafik III.1.27. Temuan UPAL
Grafik III.1.26. Transaksi Kliring
Grafik III.1.28. Perkembangan Netflow
PROSPEK PEREKONOMIAN
Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Secara keseluruhan tahun 2014, pertumbuhan ekonomi Jabagtim diprakirakan mencapai 6,0% - 6,4%
(yoy), cenderung melambat dibandingkan dengan tahun 2013 yang mencapai 6,5%. Perlambatan
ekonomi disebabkan oleh menurunnya kinerja dua sektor unggulan, yaitu sektor pertanian dan PHR.
Namun, ekspektasi membaiknya daya saing sektor industri pasca-proses transisi ke sistem semi otomasi
diharapkan menjadi faktor pendorong peningkatan pertumbuhan di sektor industri.
Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga masih menjadi pendorong utama pertumbuhan tahun
2014. Dampak Pemilu terbesar terjadi pada triwulan II yaitu pada saat pelaksanaan Pilpres 2014.
Sementara itu, masih berlangsungnya aksi wait and see pelaku investasi diperkirakan berlangsung
hingga triwulan III 2014. Hal ini menyebabkan terkoreksinya pertumbuhan, khususnya di investasi
bangunan. Kinerja investasi nonbangunan diprediksi mengalami peningkatan, yang tercermin dari
Laporan Nusantara| 59
kenaikan kebutuhan impor mesin dan suku cadang, sejalan dengan proses transisi semi otomasi pada
sektor industri manufaktur. Perlambatan sektor pertambangan KTI yang masih akan berlangsung hingga
akhir tahun, memengaruhi kenerja ekonomi Jabagtim, terutama pada kinerja perdagangan
antardaerah. Perlambatan ekspor ke wilayah KTI lebih didominasi oleh menurunnya permintaan mesin
dan alat berat.
Prospek Inflasi
Pada akhir tahun 2014, inflasi Jabagtim diproyeksikan berada di kisaran 5,0% - 5,4%, masih mendukung
pencapai sasaran inflasi nasional yang sebesar 4,5% + 1%. Rendahnya tekanan inflasi kelompok
administered prices disebabkan oleh pengaruh base effect dari kenaikan harga BBM tahun 2013. Selain
itu, kebijakan kenaikan tarif listrik secara bertahap dapat meminimalkan dampak pada kenaikan harga
komoditas industri. Namun, masih terdapat beberapa risiko yang patut dicermati yaitu dampak dari
kebijakan pembatasan penjualan BBM bersubsidi, rencana penyesuaian harga bahan bakar rumah
tangga serta berlanjutnya kenaikan tarif cukai rokok kretek.
Tabel III.3.1. Prakiraan Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Jawa Bagian Timur
Pertumbuhan
Ekonomi dan Inflasi Wilayah
PDRB (%,yoy)
Sisi Permintaan
Konsumsi
Konsumsi swasta
Konsumsi Pemerintah
Pembentukan Modal Tetap Bruto
Ekspor
Impor
Sisi Produksi
Sektor pertanian
Sektor pertambangan & penggalian
Industri pengolahan
Listrik, gas & air bersih
Bangunan
Perdagangan, hotel & restoran
Pengangkutan & komunikasi
Keuangan, persewaan dan jasa perush.
Jasa-jasa
Inflasi IHK (%,yoy)
7.3
I
6.7
II
6.9
III
6.5
IV
6.2
Total
6.5
I
6.4
II
5.9
2014
IIIp
IVp
6.2
6.0 - 6.4
6.6
7.2
1.3
9.7
11.1
7.6
5.6
6.1
0.2
5.4
11.6
9.8
6.3
6.8
0.3
6.1
8.5
5.6
6.6
6.9
2.8
6.3
6.9
5.0
7.1
7.5
2.5
6.5
5.5
4.9
7.7
8.2
2.9
7.7
5.2
6.0
6.9
7.4
2.3
6.7
6.5
5.4
7.9
8.2
2.6
7.5
9.2
7.4
7.2
8.7
(9.1)
5.1
3.1
4.3
8.1
8.7
8.2
4.9
4.9
4.0
7.4 - 7.8 6.9 - 7.3
8.1 - 8.5 7.7 - 8.1
0.2 - 0.6 (1.4) - (0.8)
5.1 - 5.5 5.8 - 6.2
4.8 - 5.2 5.0 - 5.4
3.3 - 3.7 4.7 - 5.1
2.5
6.1
6.1
6.3
9.1
9.8
11.4
8.2
5.1
4.27
3.5
2.1
6.3
6.2
7.1
10.1
9.7
8.0
5.1
4.50
2.0
2.7
5.2
5.3
8.3
9.4
11.0
8.5
5.7
6.75
1.5
2.6
6.6
4.6
10.5
8.9
10.0
7.8
5.7
5.93
1.8
4.9
5.4
4.6
8.5
8.5
10.7
7.4
5.0
7.78
1.7
3.2
5.3
4.2
9.0
7.7
10.1
6.7
5.0
7.59
1.6
3.3
5.6
4.7
9.1
8.6
10.4
7.7
5.3
7.59
1.8
4.6
6.8
4.9
9.5
6.8
9.5
7.7
8.4
6.58
0.5
2.9
6.8
7.4
7.9
7.4
7.5
7.4
4.0
6.66
1.6
2.1
6.5
6.2
5.4
7.8
8.0
7.1
5.8
4.41
1.0 - 1.4
2.9 - 3.3
6.0 - 6.4
5.7 - 6.1
5.1 - 5.5
7.6 - 8.0
7.0 - 7.4
7.1 - 7.5
5.8 - 6.2
5.1 - 5.5
2011
2012
7.2
2013
Totalp
6.0 - 6.4
1.1 - 1.5
2.8 - 3.2
6.4 - 6.8
5.8 - 6.2
6.7 - 7.1
7.2 - 7.6
7.7 - 8.1
7.1 - 7.5
5.7 - 6.1
5.0 - 5.4
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
p
proyeksi Bank Indonesia
Laporan Nusantara| 60
PERTUMBUHAN EKONOMI
Pertumbuhan ekonomi Jawa Bagian Tengah (Jabagteng) pada triwulan II 2014 sedikit melambat
dibandingkan dengan periode sebelumnya. Ekonomi melambat dari 5,3% (yoy) pada triwulan I 20141
menjadi 5,2% (yoy). Namun, pertumbuhan tersebut masih lebih tinggi dibandingkan dengan
pertumbuhan Nasional 5,12%. Secara spasial, perekonomian Jawa Tengah dan DI Yogyakarta tumbuh
melambat. Sumber utama perlambatan ekonomi Jabagteng yaitu melemahnya kinerja ekspor yang
dibarengi dengan melambatnya konsumsi dan investasi. Perlambatan konsumsi utamanya disebabkan
oleh konsumsi pemerintah yang melambat cukup dalam. Secara sektoral, sektor pertanian terkontraksi
sehingga mendorong ke bawah pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, meningkatnya kinerja sektor industri
pengolahan dan sektor perdagangan, hotel dan restoran menjadi penahan perlambatan perekonomian
lebih dalam.
Pada triwulan III 2014 perekonomian wilayah Jabagteng diperkirakan tumbuh meningkat. Secara
spasial, perbaikan terjadi di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Perkembangan berbagai indikator ekonomi
terakhir mengindikasikan perbaikan terutama didorong oleh kenaikan ekspor baik luar negeri maupun
ke daerah lain. Hal ini sejalan dengan optimisme pelaku usaha dalam memandang kondisi
perekonomian ke depan.
Secara sektoral, perbaikan ekonomi didukung oleh meningkatnya kinerja sektor industri pengolahan
serta sektor perdagangan, hotel dan restoran. Membaiknya sektor industri pengolahan utamanya
diperkirakan didorong oleh meningkatnya kinerja industri migas. Kinerja sektor perdagangan, hotel, dan
restoran yang lebih tinggi tersebut sejalan dengan masih kuatnya konsumsi swasta.
Konsumsi
Konsumsi Rumah Tangga
Konsumsi rumah tangga Wilayah Jawa bagian tengah (Jabagteng) pada triwulan II 2014 meningkat
dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Konsumsi rumah tangga mencatat pertumbuhan sebesar
5,4% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan I 2014 sebesar 5,2% (yoy). Secara spasial,
meningkatnya konsumsi rumah tangga Jabagteng tersebut lebih didorong oleh konsumsi rumah tangga
di Jawa Tengah, yang mencatat pertumbuhan yang meningkat, sementara di DI Yogyakarta, konsumsi
rumah tangga justru melambat.
Konsumsi swasta nirlaba, yang meningkat tajam, ikut mendorong pertumbuhan konsumsi rumah
tangga. Konsumsi swasta nirlaba mengalami peningkatan hingga 15,1% (yoy), terkait dengan persiapan
penyelenggaraan Pemilu Presiden tahun 2014. Peningkatan konsumsi rumah tangga tersebut juga
terkonfirmasi dari indeks penjualan eceran dan likert penjualan eceran yang lebih tinggi (Grafik III.2.2)
serta pertumbuhan triwulanan impor barang konsumsi yang meningkat (Grafik III.2.4).
1
BPS Provinsi Jawa Tengah merevisi peryumbuhan ekonomi dari 5,4% (yoy) menjadi 5,3% (yoy)
Laporan Nusantara| 61
Perkembangan berbagai indikator terkini mengindikasikan konsumsi rumah tangga pada triwulan III
2014 tetap kuat, tumbuh relatif stabil dibandingkan dengan triwulan II 2014. Adanya momen Hari Raya
Idul Fitri dan tahun ajaran baru mendorong konsumsi masyarakat tetap tinggi. Hasil Survei Konsumen
memperlihatkan masih tingginya optimisme rumah tangga. Semua indeks komponen survei konsumen
berada pada level optimis, terutama ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan. Indeks
tendensi konsumen berdasarkan hasil survei BPS juga mencerminkan kondisi yang lebih optimis pada
triwulan III 2014 dibandingkan dengan periode sebelumnya (Grafik III.2.1.). Optimisme yang sama juga
ditunjukkan oleh hasil Survei Penjualan Eceran yang dilakukan pada beberapa pelaku usaha
perdagangan besar dan eceran (Grafik III.2.2). Dari sisi pembiayaan, pertumbuhan kredit konsumsi
stabil pada level yang tinggi. Meski demikian, perlu mendapat perhatian bahwa perkiraan akan adanya
penurunan produksi pertanian, berpotensi menurunkan daya beli masyarakat Jabagteng, yang
mayoritas bermata pencaharian di sektor pertanian. Selain itu, konsumsi swasta nirlaba diperkirakan
akan menurun, seiring dengan usainya Pemilu tahun 2014.
Indeks
140
130
120
110
OPTIMIS
100
PESIMIS
90
IKK
IEK
IKE
ITK
80
I
II
III
IV
I
II
2012
III
IV
I
II
2013
III*
2014
* IKK, IKE, IEK Juli 2014, ITK mendatang
Grafik III. 2. 2 Indeks Penjualan Eceran serta Likert
Scale Perdagangan Besar dan Eceran
Grafik III. 2. 1 Indeks Keyakinan Konsumen
yoy, %
%
30
Jabagteng
25
Jateng
%
Impor kons qtq (Skala Kanan)
200
3
DIY
20
Kons RT qtq
3.5
150
2.5
2
15
100
1.5
10
1
5
0.5
0
0
I
II
III
IV
2012
I
II
III
2013
IV
I
II*
2014
Grafik III. 2. 3 Penyaluran Kredit Konsumsi
-0.5
50
0
II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
-50
2014
Grafik III.2.4 Konsumsi Rumah Tangga qtq dan
Impor Barang Konsumsi
Konsumsi Pemerintah
Konsumsi pemerintah pada triwulan II 2014 melambat sangat dalam. Konsumsi pemerintah hanya
tumbuh 1,5% (yoy), setelah sebelumnya tumbuh 5,1% (yoy). Perlambatan pertumbuhan konsumsi
Laporan Nusantara| 62
pemerintah terjadi baik pada belanja langsung maupun tidak langsung. Secara triwulanan,
pertumbuhannya juga lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perlambatan pertumbuhan konsumsi pemerintah diperkirakan masih akan berlanjut pada triwulan III
2014, meski tidak sedalam periode sebelumnya. Secara spasial konsumsi pemerintah Jawa Tengah
meningkat, namun DI Yogyakarta tumbuh jauh lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Hampir keseluruhan dana Keistimewaan DI Yogyakarta pada tahun 2013 direalisasikan pada triwulan III
2013. Sementara itu, untuk tahun 2014, dana kesitimewaan sudah mulai direalisasikan pada semester I
2014.
qtq, %
Impor Barang Modal qtq -Skala Kanan qtq, %
150
Investasi qtq
8
6
100
4
70
Jabagteng
60
Jateng
50
DIY
40
2
50
0
-2
yoy, %
30
20
II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
0
10
2014
-4
0
I
-50
II
-6
III
IV
I
II
2012
-8
III
IV
I
2013
II
2014
-100
Grafik III. 2.5 Pertumbuhan Triwulanan
ImporBarang Modal dan PMTB
Grafik III. 2. 6 PenyaluranKreditInvestasi
Likert
yoy, %
1.6
1.5
1.4
1.3
1.2
1.1
1
0.9
0.8
0.7
0.6
40
Jateng
D. I. Y.
30
Jabagteng
20
10
0
I
II
III
IV
I
2011
II
III
2012
IV
I
II
III
IV
I
2013
*perkiraan 1 tahun yad
Grafik III. 2.7 Likert Scale Investasi
I
II* III* IV*
2014
-10
II
III IV
2010
I
II
III IV
2011
I
II
III IV
2012
I
II
III IV
2013
I
II
2014
-20
Grafik III. 2.8 Pertumbuhan Tahunan Konsumsi
Semen
Investasi
Investasi pada triwulan II 2014 tumbuh melambat dari 9,0 % (yoy) menjadi 6,0% (yoy). Perlambatan
terjadi baik pada investasi bangunan maupun nonbangunan. Pelaku usaha cenderung menahan
kegiatan investasi sebelum penyelenggaraan Pemilu. Investasi bangunan melambat sejalan dengan
menurunnya kinerja di sektor bangunan. Adapun perlambatan pada investasi nonbangunan terindikasi
dari melemahnya pertumbuhan impor barang modal (Grafik III.2.5) serta pertumbuhan kredit investasi
(Grafik III.2.6) yang juga menurun. Dari hasil liaison yang dilakukan di wilayah Jabagteng, terkonfirmasi
investasi pada triwulan II 2014 secara umum melambat dibandingkan dengan periode sebelumnya
(Grafik III.2.7). Berdasarkan sumber pembiayaan investasi, realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri
Laporan Nusantara| 63
menunjukkan adanya perlambatan (Grafik III.2.10). Di sisi lain, realisasi Penanaman Modal Asing (PMA)
tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan periode sebelumnya (Grafik III.2.9).
Perlambatan investasi diperkirakan masih berlangsung pada triwulan III 2014. Investor cenderung
masih menahan kegiatan investasi hingga adanya kepastian hasil Pemilihan Presiden tahun 2014.
Sejalan dengan hal tersebut, investasi nonbangunan diperkirakan melambat dan tren pelemahan impor
barang modal masih akan berlanjut. Di sisi lain, investasi bangunan berpotensi mulai meningkat,
khususnya pembangunan proyek-proyek infrastruktur strategis.
Jumlah Proyek
Juta USD
140
120
Proyek PMA
100
Investasi PMA-Skala Kanan
Jumlah Proyek
Miliar Rp
300
120
12000
250
100
200
80
150
60
6000
100
40
4000
50
20
2000
0
0
Proyek PMDN
10000
Investasi
PMDN-RHS
Investasi
PMDN-Skala
8000
Kanan
80
60
40
20
0
I
II
III
2011
IV
I
II
III
IV
I
2012
II
III
2013
IV
I
II
2014
Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah
Sumber : Badan Penanaman Modal
Grafik III. 2.9 Realisasi Penanaman Modal Asing
(PMA)
0
I
II
III
IV
I
2012
II
III
2013
IV
I
II
2014
Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah
Sumber : Badan Penanaman Modal
Grafik III. 2.10 Realisasi Penanaman Modal Dalam
Negeri (PMDN)
Perdagangan Luar Negeri
Ekspor
Ekspor luar negeri Jabagteng pada triwulan II 2014 tumbuh melambat. Hal ini dipengaruhi oleh kinerja
ekspor ke negara Asia, utamanya ke Jepang dan Tiongkok yang menurun, sementara ekspor ke Amerika
Serikat dan Eropa masih meningkat. Dilihat dari komoditasnya, eksporTekstil dan Produk Tekstil (TPT)
serta barang dari kayu tumbuh melambat (Grafik III.2.13). Khusus terkait TPT, perlambatan ekspor
terjadi pada seluruh produk TPT, baik pakaian jadi, benang maupun kain.
Pada triwulan III 2014 ekspor luar negeri diperkirakan akan membaik. Hal tersebut didukung oleh
membaiknya perekonomian dunia, khususnya di sejumlah negara maju, yang merupakan tujuan utama
ekspor produk unggulan seperti TPT dan kayu olahan. Optimisme pelaku usaha akan membaiknya
ekspor, terutama ekspor TPT, juga didorong masih cukup kompetitifnya ekspor komoditas TPT
Jabagteng. Selain itu, masih banyak pasar ekspor yang belum tergarap. Sehingga upaya diversifikasi
pasar tujuan ekspor akan semakin memperbesar potensi perbaikan kinerja ekspor. Perbaikan kinerja
industri pengolahan nonmigas sejak triwulan II 2014 juga akan mendukung ekspor pada triwulan III
2014.
Impor
Kinerja impor luar negeri pada triwulan II 2014 menurun. Perlambatan pertumbuhan impor terjadi pada
semua komponen barang konsumsi, bahan baku (Grafik III.2.14), dan barang modal. Di antara ketiga
komponen tersebut, impor barang modal melambat paling dalam, hal ini sejalan dengan investasi yang
tumbuh lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Laporan Nusantara| 64
Impor luar negeri diperkirakan mulai meningkat pada triwulan III 2014. Peningkatan impor terutama
terjadi pada impor bahan baku, sejalan dengan membaiknya kinerja industri pengolahan pada triwulan
III 2014. Sementara itu, impor barang modal diperkirakan masih melambat, sehingga berpotensi
menarik ke bawah pertumbuhan investasi.
Juta USD
yoy, %
800
yoy, %
80
Net Ekspor
600
Ekspor
400
Impor
200
60
400
0
Ekspor
40
200
-200
Net Ekspor
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6
-200
2012
2013
20
-400
2014
Impor
-600
0
1
-400
-20
-600
3
5
7
9
2012
1
3
5
7
9
2013
11
1
3
5
-800
2014
-1000
-40
-800
Grafik III. 2. 11 Perkembangan Nilai Ekspor dan
Impor
yoy, %
-1200
Grafik III. 7Pertumbuhan Tahunan Nilai Ekspor dan
Impor
yoy, %
Total Ekspor
25
200
Impor Bahan Baku
TPT
20
Impor Barang Modal
150
Kayu Olahan
15
Impor Barang Konsumsi
100
10
50
5
0
I
-5
11
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
2014
-10
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6
-50
2012
2013
2014
-100
-15
Grafik III. 2.8 Pertumbuhan Tahunan Ekspor
Komoditas Unggulan
Grafik III. 2. 9Pertumbuhan Tahunan Impor
berdasar BEC
Perdagangan Antar Daerah
Ekspor produk Jabagteng ke daerah lain pada triwulan II 2014 melambat dibandingkan dengan triwulan
sebelumnya. Terkontraksinya sektor pertanian, yang sebagian besar dikonsumsi domestik, mendorong
penurunan perdagangan antardaerah. Selain itu, masih melambatnya kinerja industri migas juga turut
menahan laju pertumbuhan perdagangan antardaerah.
Perbaikan ekspor antardaerah diperkirakan terjadi pada triwulan III 2014. Kuatnya konsumsi rumah
tangga pada saat Ramadhan dan Idul Fitri mendorong kinerja perdagangan antardaerah. Selain itu,
sejalan dengan membaiknya kinerja sektor industri pengolahan migas, diperkirakan ekspor migas ke
daerah lain juga akan meningkat mengingat lebih dari 90% hasil dari pengolah migas digunakan untuk
domestik.
Laporan Nusantara| 65
Kinerja Sektor Utama Daerah
Sektor Pertanian
Pertumbuhan sektor pertanian Jabagteng pada triwulan II 2014 terkontraksi. Setelah tumbuh 1,9%
(yoy) pada triwulan I 20142, pada triwulan II 2014 sektor pertanian terkontraksi 0,4% (yoy). Secara
spasial, kontrasi sektor pertanian disebabkan oleh penurunan signifikan kinerja sektor pertanian di DI
Yogyakarta, yang mengalami kontraksi pertumbuhan hingga mencapai 5,6% (yoy). Pada triwulan I 2014,
sektor pertanian di DI Yogyakarta masih mampu tumbuh sebesar 4,71% (yoy). Sementara itu,
pertumbuhan sektor pertanian di Jawa Tengah juga menurun, namun masih dalam level yang positif.
Perlambatan pertumbuhan terutama didorong oleh memburuknya kinerja subsektor tanaman bahan
makanan (Grafik III.2.16).
Kontraksi pertumbuhan sektor pertanian diperkirakan masih terjadi pada triwulan III 2014, sebagai
akibat dari menurunnya kinerja subsektor tanaman bahan makanan. Dinas Pertanian memperkirakan
terjadinya penurunan produksi padi yang lebih dalam dibandingkan dengan periode sebelumnya (Grafik
III.2.15). Hal ini juga terkonfirmasi dari persepsi pelaku usaha pertanian dalam Survei Kegiatan Dunia
Usaha yang menunjukkan penurunan (Grafik III.2.17).
100
Rata-rata prod padi - RHS qtq, %
PDRB tani
350
300
80
Ribu Ha
Ribu Ton
2,050
11,600
11,400
2,000
11,200
250
60
200
40
11,000
1,950
10,800
10,600
150
100
20
50
0
I
-20
II
III
IV
I
II
2012
III
IV
I
Iip
2013
IIIp
Ivp
-40
10,200
Sumber : Dinas Pertanian dan BPS, diolah
6
9,800
1,800
9,600
2009
2010
2011
2012
2013
2014
Grafik III.2.11. Luas Panen dan Produksi Padi
yoy, %
Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan
Tanaman Pangan
Tanaman Perkebunan
Peternakan dan Hasilnya
Kehutanan
Perikanan
8
10,000
Produksi-Skala Kanan
Sumber : BPS
Grafik III. 2. 10Luas Tanam dan Luas Panen Padi
10
Luas Panen
0
-100
SBT
10,400
1,850
-50
2014
1,900
200
Jabagteng
Jateng
150
DIY
100
4
50
2
0
I
0
II
-2
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
III
-50
II
III
2011
IV
I
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
2014
2014
-100
Grafik III.2.12. Kegiatan Dunia Usaha Sektor
Pertanian
2
Grafik III.2.13. Pertumbuhan Tahunan Kredit yang
Disalurkan pada Sektor Pertanian
BPS Provinsi Jawa Tengah merevisi peryumbuhan sektor pertanian dari 2,1% (yoy) menjadi 1,6% (yoy)
Laporan Nusantara| 66
Thousands
Rata-Rata PDRB tani
PDRB tabama
Prod padi-RHS
qtq, %
Sektor Industri Pengolahan
Kinerja sektor industri pengolahan meningkat pada triwulan II 2014 dengan pertumbuhan mencapai
6,1% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan I 2014 sebesar 5,8% (yoy).
Hal tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya industri nonmigas dibandingkan dengan periode
sebelumnya. Sebagian besar subsektor industri unggulan mengalami peningkatan, yakni subsektor
industri makanan, minuman dan tembakau, subsektor industri tekstil dan produk tekstil, serta
subsektor industri kayu olahan. Di sisi lain, industri migas (pengilangan minyak) masih tumbuh
melambat yang terkonfirmasi dari data pertumbuhan impor minyak mentah, yang tidak setinggi
periode yang sama pada tahun sebelumnya (Grafik III.2.20). Bahan baku (minyak mentah) industri
pengilangan minyak di Jabagteng sekitar 80% berasal dari impor luar negeri.
Pada triwulan III 2014, industri pengolahan diperkirakan meningkat dibandingkan dengan triwulan
sebelumnya terutama dengan dukungan industri migas. Kinerja industri nonmigas diperkirakan juga
akan meningkat, yang terkonfirmasi dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha. Peningkatan diperkirakan
terjadi pada subsektor industri makanan, minuman dan tembakau, subsektor industri tekstil dan
produk tekstil, serta subsektor industri kayu olahan. Khusus terkait industri TPT, potensi kenaikan
produksi sejalan dengan impor serat tekstil serta benang tenun dan kain tekstil yang meningkat pada
periode sebelumnya (Grafik III.2.22).
qtq, %
SBT
Industri qtq
3.5
10
Keg Dunia Usaha (Skala Kanan)
3
9
8
2.5
2
1.5
0
-0.5
II
III
IV
I
II
2012
-1
III
IV
I
2013
II
IIIp
2014
Industri qtq
5
Impor Minyak qtq - RHS (-1)
140
120
100
4
80
6
3
60
4
0.5
qtq, %
6
7
5
1
qtq, %
3
1
2
0
1
0
40
2
20
0
-20
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II IIIp -40
-1
2009
2010
2011
2012 2012
2013
-60
2014
-2
Sumber : BPS
Grafik III.2.20 Pertumbuhan Triwulanan Impor
Migas Vs Pertumbuhan Triwulanan Industri
Pengolahan
Grafik III.2.14Pertumbuhan Triwulanan Industri
Pengolahan Vs SBT Kegiatan Dunia Usaha
Industri qtq
SBT
Mamin & Tembakau (Skala Kanan) 7
TPT (Skala Kanan)
Barang Kayu (Skala Kanan)
6
qtq, %
3.5
3
2.5
-80
%, yoy
%, yoy
Impor Serat Tekstil (-10)
Impor Benang Tenun & Kain Tekstil (-4)
Ekspor Pakaian-Skala Kanan
200
50
40
150
5
2
4
30
100
20
1.5
3
1
1
0
-0.5
-1
50
10
2
0.5
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
2014
IIIp
0
0
1
0
-50
3
5
7
2012
9 11 1
3
5
7
2013
9 11 1
3
5 7p 9p 11 1
2014
3
2015
-1
-100
Grafik III. 2.21 SBTKegiatan Dunia Usaha Subsektor
Industri Pengolahan Vs Pertumbuhan Tahunan
Industri Pengolahan
-10
-20
-30
Grafik III. 2.22 Pertumbuhan Tahunan Ekspor
Benang Tenun dan Kain Tekstil Vs Impor Serat
Tekstil
Laporan Nusantara| 67
PERKEMBANGAN INFLASI
Inflasi Jabagteng hingga Juli 2014 masih dalam tren menurun, yakni dari 7,13% (yoy) pada Juni 2014
menjadi sebesar 4,97% (yoy). Secara spasial, penurunan inflasi terjadi baik di Jawa Tengah maupun di DI
Yogyakarta. Di Jawa tengah tekanan inflasi turun dari 7,26% (yoy) menjadi sebesar 5,03% (yoy).
Sementara itu, di DI Yogyakarta inflasi turun dari 6,35% (yoy) menjadi sebesar 4,59% (yoy). Hilangnya
dampak kenaikan BBM tahun 2013 menurunkan inflasi pada bulan Juli 2014 secara umum, dan secara
khusus menurunkan Inflasi kelompok administered prices dari 11,95% (yoy) pada Juni 2014 menjadi
5,98% (yoy). Penurunan inflasi yang besar juga terjadi di kelompok volatile foods, yaitu dari 7,69% (yoy)
menjadi 2,78% (yoy). Penurunan inflasi pada kelompok volatile foods sejalan dengan terjaganya
pasokan bahan pangan, khususnya beras. Stok beras Bulog mencukupi kebutuhan pangan Jabagteng
hingga 7 sampai 8 bulan kedepan. Di sisi lain, terdapat beberapa komoditas volatile foods yang
memberi andil yang cukup besar pada periode laporan, di antaranya adalah bawang merah, telur ayam
ras dan daging ayam ras3. Sementara itu inflasi kelompok inti tetap terjaga. Inflasi kelompok inti
tercatat sebesar 4,32% (yoy), cenderung stabil dibandingkan dengan Juni 2014 sebesar 4,89% (yoy).
Pada triwulan III 2014, inflasi diperkirakan masih meneruskan tren penurunan. Namun, terdapat risiko
dari perluasan kebijakan yang membatasi penjualan BBM bersubsidi. Hingga saat ini, kebijakan
pembatasan solar bersubsidi di wilayah Jakarta belum memberikan dampak signifikan. Adapun tekanan
inflasi diperkirakan bersumber dari meningkatnya permintaan pada periode tahun ajaran baru serta
Ramadhan dan Idul Fitri. Sementara itu, inflasi di kelompok pangan berpotensi meningkat sebagai
pengaruh dari menurunnya produksi padi. Inflasi administered prices diperkirakan akan meningkat
sejalan dengan diberlakukannya kenaikan tarif dasar listrik untuk beberapa kelompok termasuk
kelompok rumah tangga.
yoy, %
yoy, %
9
Jateng
16
8
DIY
14
Jabagteng
12
Volatile Foods
Nasional
10
Adm. Prices
7
Core
8
6
4
2
0
6
5
4
3
I
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
2014
Grafik III. 2.15 Perkembangan Inflasi
Juli
I
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
Juli
2014
Grafik III. 2.24 Disagregasi Inflasi Jawa Bagian Tengah
Koordinasi Pengendalian Inflasi
Sampai dengan periode laporan, sebagian besar TPID di wilayah Jawa Bagian Tengah telah
meningkatkan koordinasi guna mengantisipasi berbagai risiko inflasi. Rapat koordinasi yang telah
dilakukan adalah High Level Meeting (HLM) dan Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil). Rakorwil
3
Kenaikan harga daging ayam ras dan telur ayam ras terkait pembatasan produksi bibit ayam. Surat Mendag No.644/MDAG/SD/4/2014 tanggal 15 April kepada ketua dan anggota Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU Indonesia) dan para
pengusaha pembibitan unggas, untuk menjaga pendapatan yang wajar dari peternak unggas, untuk tetap menjaga ketersediaan
pasokan dan agar tidak terjadi lonjakan harga eceran di tingkat konsumen pada saat HBKN (Hari Besar Keagamaan Nasional).
Laporan Nusantara| 68
dilakukan pada bulan Juni 2014 dengan dihadiri oleh seluruh TPID di wilayah Provinsi Jawa Tengah dan
DI Yogyakarta. Rapat ini membahas persiapan menjelang Idul Fitri 1435 H dan menghasilkan satu paket
kebijakan yang dikenal dengan Paket Kebijakan 4K (Cukup-Lancar-Terjangkau-informatif). Paket
kebijakan tersebut berisikan berbagai upaya TPID untuk menjaga inflasi dalam kondisi yang lebih stabil
dengan melakukan berbagai tindakan aksi salah satunya adalah meningkatkan edukasi kepada
masyarakat agar lebih bijak berbelanja.
STABILITAS SISTEM KEUANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM PEMBAYARAN
Ketahanan Sektor Korporasi
Di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi, penyaluran kredit perbankan di Jabagteng pada triwulan
II 2014 tercatat tumbuh stabil dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (Grafik III.2.11),. Kredit di
Jabagteng tumbuh pada kisaran 16% dengan kualitas penyaluran kredit yang ditunjukkan oleh gross NPL
(Non Performing Loans) jauh di bawah level 5%. Berdasarkan jenisnya, kredit investasi dan kredit
konsumsi melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (Grafik III.2.25). Kredit investasi
melambat sejalan dengan perlambatan investasi pada triwulan II. Di sisi lain, kredit modal kerja
meneruskan tren kenaikan pada akhir tahun, seiring dengan peningkatan kinerja sektor PHR. Adapun
kualitas penyaluran kredit berdasarkan penggunaannya baik kredit investasi, konsumsi maupun modal
kerja jauh berada di bawah 5%. Pada triwulan III 2014, pertumbuhan kredit diperkirakan masih relatif
tinggi yaitu pada kisaran 15%. Adapun hal yang mendasari adalah konsumsi yang masih cukup kuat dan
peningkatan kinerja sektor industri serta ekspor.
Kredit Jateng
Kredit DIY
Kredit DIY yoy (Skala Kanan)
Kredit Jateng yoy (Skala Kanan)
Miliar Rp
250,000
yoy, %
26
24
200,000
22
150,000
20
100,000
18
50,000
16
0
14
I
II
III
IV
I
II
2012
III
IV
I
2013
I
100000
II
2014
Investasi
III
IV
I
II
2012
PHR
Industri Pengolahan
Pertanian
Industri Pengolahan yoy (Skala Kanan)
PHR yoy (Skala Kanan)
Pertanian yoy (Skala Kanan)
120000
Modal Kerja
yoy, %
Konsumsi
50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
II
Grafik III.2.25. Kinerja Penyaluran Kredit Perbankan
Miliar Rp
yoy, %
III
IV
I
2013
II
2014
Grafik III.2.26. Penyaluran Jenis Kredit Perbankan
yoy, %
Pertanian
Industri
PHR
4
160
140
120
80000
3.5
3
100
80
60000
60
40000
40
20
20000
0
0
-20
I
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
2014
Grafik III.2.27. Kredit Bank Sektor Ekonomi
2.5
2
1.5
1
I
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
2014
Grafik III.2.28. NPL Kredit Sektor Utama Perbankan
Laporan Nusantara| 69
Berdasarkan data kredit per sektor utama Jabagteng, kredit di seluruh sektor utama daerah mengalami
peningkatan, terutama pada sektor pertanian dan sektor industri pengolahan. Sementara itu, risiko
penyaluran kredit pada sektor pertanian, sektor industri dan sektor PHR juga masih berada di level
aman (< 5%), dengan kecenderungan menurun
Ketahanan Sektor Rumah Tangga
Kredit perbankan yang disalurkan pada sektor rumah tangga pada triwulan II 2014 melambat. Penurunan
pertumbuhan terjadi pada kredit keperluan multiguna, kredit pemilikan rumah tinggal, dan kredit
kendaraan bermotor. Perlambatan kredit pemilikan rumah terjadi pada rumah tinggal tipe di atas 70
maupun di bawah 70. Secara umum, ketahanan sistem keuangan sektor rumah tangga masih terjaga
yang terkonfirmasi dari gross NPL stabil di bawah 5% (Grafik III.2.30) .
%
yoy, %
140
120
KPR <70
3.5
KPR>70
3
KKB
100
KPR>70
Multiguna
KKB (Skala Kanan)
%
0
2
60
-2
1.5
40
4
2
2.5
Multiguna
80
-4
1
20
-6
0.5
0
-20
KPR <70
4
160
I
II
III
IV
2013
I
II
2014
0
-8
I
II
III
2013
Grafik III.2.29. Kinerja Kredit Perbankan ke Rumah Tangga
IV
I
II
2014
Grafik III.2.30. Perkembangan NPL Kredit Rumah
Tangga
Pembiayaan Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
Kredit UMKM Jabagteng pada triwulan II 2014 mengalami perlambatan dibandingkan dengan triwulan
sebelumnya. Kredit UMKM melambat dari 20,19% (yoy) menjadi 18,21% (yoy). Secara spasial,
perlambatan kredit UMKM terjadi di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.
Kinerja Sistem Pembayaran
Sejalan dengan melambatnya perekonomian pada triwulan II 2014, pertumbuhan RTGS melambat baik
secara nilai maupun volume. Pertumbuhan nilai RTGS tercatat sebesar 1,12% (yoy) pada triwulan II 2014,
setelah pada triwulan sebelumnya tumbuh 8,71% (yoy). Volume RTGS juga melambat lebih dalam
sebesar -13,88% (yoy) dari periode sebelumnya sebesar 10,60% (yoy). Lebih lanjut lagi, RTGS dari
Jabagteng, ke Jabagteng, dan antardaerah di Jabagteng mengalami perlambatan. Sementara itu,
transaksi kliring baik nominal maupun warkat masih tumbuh negatif, meskipun penurunannya tidak
sebesar periode sebelumnya.
Kinerja Pengelolaan Uang Tunai
Sejalan dengan perlambatan ekonomi, net inflow menurun pada triwulan II 2014. Nilai inflow pada
triwulan II 2014 tercatat lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Penurunan inflow ini
dibarengi dengan outflow yang mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
Laporan Nusantara| 70
Dalam rangka memenuhi kebutuhan uang dalam kondisi layak edar, dilakukan pula penarikan uang
lusuh oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah V. Jumlah uang lusuh yang ditarik tercatat
menurun dibandingkan dengan triwulan I 2014. Proporsi uang lusuh tersebut terhadap inflow juga
lebih rendah. Sementara itu, temuan uang palsu pada triwulan II 2014 mengalami penurunan
dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
PROSPEK PEREKONOMIAN
Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Perkembangan terkini mengindikasikan pertumbuhan ekonomi Jabagteng pada tahun 2014 lebih
rendah dari prakiraan semula. Perlambatan pertumbuhan diprakirakan terjadi baik di Jawa Tengah
maupun DI Yogyakarta terkait dengan konsumsi yang tumbuh tidak setinggi perkiraan sebelumnya.
Salah satu faktor yang memengaruhi terbatasnya pertumbuhan konsumsi adalah melambatnya kinerja
produksi sektor pertanian yang akan berdampak pada penghasilan masyarakat petani. Hal ini
terkonfirmasi dari optimisme konsumen yang cenderung tidak setinggi perkiraan sebelumnya dan
indeks penjualan eceran yang cenderung turun. Realisasi investasi diperkirakan juga tidak sebesar
perkiraan sebelumnya, khususnya dari investasi nonbangunan. Selain merujuk pada tren impor barang
modal, hasil FGD yang dilakukan juga mengonfirmasi kecenderungan pelaku usaha TPT untuk tidak
melakukan investasi setinggi tahun 2013. Sementara itu, ekspor melambat terutama ke luar negeri.
Impor juga dikoreksi ke bawah dengan melihat perkembangan impor luar negeri sampai dengan
triwulan II. Dari sisi sektoral, pertumbuhan sektor pertanian, industri pengolahan serta perdagangan,
hotel, dan restoran cenderung lebih rendah. Revisi pertumbuhan sektor pertanian sejalan dengan
produksi padi yang turun lebih dalam dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Prospek Inflasi
Berdasarkan perkembangan harga terkini, inflasi Jabagteng pada tahun 2014 diperkirakan lebih rendah
dibandingkan dengan perkiraan pada laporan periode sebelumnya. Inflasi Jabagteng diprakirakan
sebesar 4,6% – 5,1% (yoy) untuk keseluruhan tahun 2014. Inflasi di Jawa Tengah diprakirakan berada
pada kisaran 4,7 – 5,2 % (yoy), sementara inflasi DIY diprakirakan pada kisaran 4,1% – 4,6% (yoy). Hal
tersebut didukung oleh terjaganya ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga komoditas pangan
strategis. Selain itu, semakin solidnya koordinasi antara Pemerintah dan BI dalam forum TPI/TPID turut
mendukung penurunan inflasi Jabagteng. Namun, terdapat berbagai risiko inflasi pada semester II 2014,
di antaranya dampak dari faktor iklim El Nino dan perluasan kebijakan pembatasan BBM bersubsidi.
Terjadinya kemarau panjang sebagai dampak El Nino pada triwulan IV berisiko pada produksi pangan.
Meski demikian, kondisi stok beras Bulog yang ada saat ini masih memadai dan dapat memenuhi
pasokan pangan daerah untuk tujuh bulan kedepan. Rendahnya harga cabe saat ini diperkirakan juga
dapat mengurangi animo petani menanam cabe sehingga harga dapat kembali meningkat. Selain itu,
kemungkinan kenaikan tarif batas angkutan udara juga dapat memengaruhi pencapaian inflasi di 2014.
Laporan Nusantara| 71
Tabel II.2.1 Prakiraan Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Jawa Bagian Tengah
Pertumbuhan Ekonomi dan
Inflasi
6.2
I
5.5
II
6.2
2013
III
6.0
IV
5.4
Total
5.8
I
5.3
II
5.2
2014
IIIp
IVp
5.6
5.5
Totalp
5.1-5.6
5.1
5.2
4.8
7.9
9.4
8.4
4.8
5.1
3.1
5.6
4.0
2.2
4.8
5.2
2.8
7.6
8.7
7.2
5.8
5.4
8.0
8.1
10.0
17.3
5.6
5.1
7.7
8.5
10.8
9.5
5.2
5.2
5.5
7.5
8.4
9.0
5.2
5.2
5.1
9.0
9.4
10.1
4.8
5.4
1.5
6.0
7.5
1.6
4.7
5.4
1.2
5.5
9.2
6.6
5.4
5.4
5.5
6.3
8.6
6.5
4.8-5.3
5.1-5.6
3.2-3.7
6.6-7.1
8.0-8.5
5.5-6.0
3.8
0.4
2.8
3.4
1.6
2.0
7.0
5.2
5.7
5.4
8.7
6.2
5.1
4.9
6.8
5.1
7.2
6.0
6.5
9.5
7.0
9.0
7.4
8.2
6.8
6.3
7.5
6.8
6.6
6.8
8.1
9.0
8.2
6.9
5.4
7.4
7.6
7.7
7.3
7.7
3.5
6.5
9.5
9.3
8.9
9.7
10.3
9.6
7.3
6.2
3.4
7.4
3.3
5.0
4.25
6.26
5.47
8.30
7.88
7.88
1.9
4.9
5.8
5.2
6.9
6.0
4.8
10.4
5.3
6.95
-0.4
4.1
6.1
8.1
5.8
6.9
4.8
9.5
5.9
7.13
-0.6
5.9
6.9
10.0
6.3
7.6
5.8
8.8
5.0
4.72
-1.2
3.5
6.4
5.0
5.9
7.6
6.8
7.5
5.4
4.86
-0.2-0.3
4.4-4.9
6.0-6.5
6.8-7.3
6.0-6.5
6.8-7.3
5.3-5.8
8.7-9.2
5.1-5.6
4.6-5.1
2011 2012
5.9
PDRB (%yoy)
Sisi Permintaan
Konsumsi
6.7
Konsumsi Swasta
6.6
Konsumsi Pemerintah
7.5
Pembentukan Modal Tetap Bruto7.2
Ekspor
7.8
Impor
9.2
Sisi Produksi
1.0
Pertanian
Pertambangan dan penggalian 5.4
6.6
Industri pengolahan
5.8
Listrik, gas dan air bersih
6.8
Konstruksi
Perdagangan, hotel & restoran 7.5
Pengangkutan dan komunikasi 8.5
6.9
Keuangan, real estate & jasa persh.
7.4
Jasa-jasa
Inflasi IHK (%yoy)
2.86
Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah
p
proyeksi Bank Indonesia
Laporan Nusantara| 72
PERTUMBUHAN EKONOMI
Di tengah perlambatan perekonomian nasional, perekonomian wilayah Jawa Barat dan Banten (Jawa
Bagian Barat) pada triwulan II 2014 mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi dari triwulan sebelumnya.
Perekonomia Jabagbar tumbuh sebesar 5,6% (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan
I 2014 sebesar 5,4% (yoy). Secara spasial, motor utama pertumbuhan ekonomi Jabagbar yaitu Jawa Barat.
Pada triwulan II 2013 perekonomian Jawa Barat mengalami pertumbuhan yang meningkat, sedangkan
perekonomian Banten tumbuh relatif stabil dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Konsumsi rumah
tangga (termasuk lembaga nonprofit) yang masih kuat, serta kinerja ekspor yang meningkat, menjadi
pendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi Jawa Bagian Barat. Sementara itu, investasi tumbuh
melambat seiring dengan kecenderungan pelaku usaha untuk menunda dulu (wait and see) kegiatan
investasinya, menyikapi dinamika Pemilu 2014. Konsumsi pemerintah masih mengalami kontraksi
terutama di Jawa Barat, sedangkan di Banten tumbuh melambat. Di sisi sektoral, pertumbuhan ekonomi
didorong oleh peningkatan kinerja sektor industri pengolahan; sektor pertanian; serta sektor
pertambangan dan penggalian.
Berdasarkan perkembangan indikator terkini, perekonomian wilayah Jawa Bagian Barat (Jabagbar)
diprakirakan kembali tumbuh meningkat menjadi 5,9% (yoy) pada triwulan III 2014. Beberapa hal yang
memengaruhi prakiraan tersebut antara lain konsumsi rumah tangga yang masih kuat, seiring dengan
adanya momen Ramadhan dan Idul Fitri serta pelaksanaan Pilpres (Pemilu Presiden). Di sisi ekspor,
membaiknya kondisi perekonomian negara-negara tujuan ekspor, terutama negara maju dan ASEAN
diperkirakan masih akan mendorong peningkatan kinerja ekspor wilayah Jabagbar. Sementara itu,
konsumsi pemerintah diperkirakan akan terakselerasi, seiring dengan pembayaran gaji ketigabelas,
penyaluran BOS, hibah, transfer daerah serta pola belanja pemerintah back loading. Pelaksanaan Pemilihan
Presiden (Pilpres) tahun 2014 yang aman dan lancar, diperkirakan mendorong optimisme investor untuk
melakukan ekspansi usahanya. Selain itu, libur panjang Lebaran dan akhir tahun pelajaran akan mendorong
peningkatan kinerja sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR), seiring dengan meningkatnya aktivitas
belanja masyarakat pada periode tersebut. Namun, kinerja sektor industri pengolahan akan sedikit
melambat pada masa libur tersebut. Berdasarkan berbagai perkembangan indikator di atas, pertumbuhan
ekonomi wilayah Jabagbar pada tahun 2014 diprakirakan berada pada kisaran 5,4 – 5,8% (yoy).
Konsumsi
Konsumsi Rumah Tangga
Konsumsi rumah tangga wilayah Jabagbar pada triwulan II 2014 tumbuh sebesar 5,4% (yoy), lebih tinggi
dibandingkan dengan prakiraan sebelumnya (5,2%, yoy) dan triwulan sebelumnya (5,1%, yoy). Secara
spasial, peningkatan konsumsi rumah tangga Jabagbar didorong oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga
di Jawa Barat, sedangkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga di Banten relatif stabil. Peningkatan
pertumbuhan konsumsi rumah tangga di Jabagbar didorong oleh peningkatan pendapatan rumah tangga,
Laporan Nusantara| 73
terutama di daerah basis pertanian Jawa Barat, seiring dengan adanya panen raya tanaman bahan
makanan. Meningkatnya daya beli masyarakat, selain karena meningkatnya pendapatan hasil panen, juga
dipengaruhi oleh kondisi inflasi yang semakin menurun. Selain itu, berbagai aktivitas jelang Pilpres juga
berperan mendorong peningkatan belanja masyarakat. Peningkatan konsumsi rumah tangga juga
terindikasi dari meningkatnya penjualan mobil. Berdasarkan data Gaikindo, penjualan kendaraan di
wilayah Jabagbar mencapai 125.874 buah atau mencapai 27% dari penjualan nasional pada periode
Januari-Mei 2014, khususnya untuk jenis Low Cost Green Car (LCGC). Pangsa penjualan mobil di segmen ini,
pada periode tersebut, meningkat hingga 25% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun
sebelumnya.
Indeks
IKK Banten
IKE Banten
160
IKK Jabar
IKE Jabar
Indeks
118
116
114
112
110
108
106
104
102
100
98
140
120
100
80
60
40
BANTEN
I
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7
II
III
IV
I
II
2012
2012
2013
JABAR
III
IV
I
II
2013
III*
2014
2014
Sumber : BPS, diolah
Grafik III.3.1. Perkembangan Optimisme Konsumen
Indeks
Pengeluaran 3 Bln YAD Jabar
Pengeluaran 3 bln YAD Banten
Grafik III.3.2. Indeks Tendensi Konsumen
Indeks
%, yoy
Indeks Penjualan Riil
Pertumbuhan Penjualan Riil (yoy)
170
60
190
50
150
170
40
130
150
130
30
110
20
110
10
90
90
0
70
70
50
-10
50
4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9
2012
2013
2014
Grafik III.3.3. Prakiraan Pengeluaran Konsumen
Tiga Bulan ke Depan
-20
11 12 1
2012
2
3
4
5
6
7
2013
8
9 10 11 12 1
2
3
4
5 6* 7**
2014
Grafik III.3.4. Perkembangan Penjualan Riil
Memasuki triwulan III 2014, berbagai perkembangan indikator terkini mengindikasikan konsumsi rumah
tangga akan tumbuh relatif stabil dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. IKK (Indeks Keyakinan
Konsumen) dan IKE (Indeks Kondisi Ekonomi) hingga Juli 2014 menunjukkan optimisme konsumen yang
relatif stabil (Grafik III.3.1). Kondisi ekonomi konsumen pada triwulan III 2014 diperkirakan membaik seiring
dengan peningkatan pendapatan rumah tangga, sebagaimana tercermin dari ITK (Indeks Tendensi
Konsumen) yang masih menunjukkan peningkatan (Grafik III.3.2). Pengeluaran konsumen untuk tiga bulan
yang akan datang, baik rumah tangga di Jawa Barat maupun di Banten, menunjukkan tren peningkatan,
Laporan Nusantara| 74
meski pada akhir triwulan III relatif stabil (Grafik III.3.3). Peningkatan tersebut terkait dengan pelaksanaan
Pilpres serta momen Ramadhan dan Idul Fitri. Hal ini sejalan dengan informasi kalangan pelaku usaha ritel
yang memperkirakan tren peningkatan omset penjualan dari triwulan II 2014 hingga triwulan III 2014
(Grafik III.3.4).
Konsumsi Pemerintah
Konsumsi pemerintah pada triwulan II 2014 mengalami penurunan tajam. Penurunan tersebut
menyebabkan pertumbuhan konsumsi pemerintah terkontraksi 0,9% (yoy). Pada triwulan sebelumnya,
konsumsi pemerintah masih tumbuh positif sebesar 4,2% (yoy). Hal ini disebabkan oleh belum
terealisasinya sebagian besar dana bantuan sosial, hibah, bagi hasil dan dana bantuan keuangan
Pemerintah Kabupaten/Kota yang kurang lebih sebesar 25%-30% dari alokasi yang telah dianggarkan. Selain
itu, pencairan gaji ke-13 bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS), yang semula direncanakan pada akhir triwulan II
2014, ternyata baru terealisasi pada awal triwulan III 2014.
20
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0
Rp Triliun
2012
2013
2.5
2014
Rp Triliun
2012
TW I
TW II
2013
2014
2.0
1.5
1.0
0.5
0.0
TW I
TW II
TW III
TW IV
Provinsi Jawa Barat
Sumber : Biro Keuangan Pemprov Jawa Barat (Data Sementara)
Grafik III.3.5. Realisasi Belanja Provinsi Jawa Barat
TW III
TW IV
Provinsi Banten
Sumber : BKPPD Banten (Data Sementara)
Grafik III.3.6. Realisasi Belanja Provinsi Banten
Meskipun pertumbuhan konsumsi pemerintah menurun, realisasi pendapatan daerah mengalami
peningkatan pada triwulan II 2014. Realisasi pendapatan daerah Jawa Barat telah mencapai sekitar 53%
hingga triwulan II 2014, sedangkan realisasi belanja daerah baru berada di kisaran 22% atau lebih tinggi
dibandingkan realisasi pada triwulan I 2014 sekitar 7%. Kondisi yang hampir sama juga terjadi di Banten.
Meskipun pendapatan daerah telah mencapai sekitar 47%, realisasi belanja di Banten baru mencapai
sekitar 22%. Realisasi belanja modal di Jawa Barat juga masih terbatas yang terindikasi dari rendahnya
realisasi pembebasan lahan untuk pembangunan bandara internasional Kertajati dan jalan tol Cisumdawu
(0,04%). Disamping itu, realisasi belanja untuk pembangunan atau perbaikan jalan dan irigasi hanya
mencapai kisaran 1,18%. Perkembangan tersebut menyebabkan realisasi belanja APBD Jawa Barat
mengalami kontraksi pada triwulan II 2014, sedangkan realisasi belanja APBD Banten tumbuh melambat.
Berdasarkan polanya, konsumsi pemerintah pada triwulan III 2014 diprakirakan akan tumbuh meningkat.
Faktor yang mendorong peningkatan konsumsi pemerintah tersebut antara lain transfer ke daerah dan
bantuan keuangan daerah serta bantuan sosial dan hibah. Selain itu, masih minimnya realisasi belanja
modal hingga triwulan II 2014 yang mencapai 5,7% akan mendorong peningkatan belanja modal
Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada triwulan III 2014. Selain proyek bandara internasional Kertajati dan
jalan tol Cisumdawu, dimulainya proses studi kelayakan dan beberapa kegiatan di awal triwulan III 2014
Laporan Nusantara| 75
seperti perbaikan jalan Bandung-Cirebon, akan mendukung peningkatan realisasi belanja modal (Grafik
III.3.5 dan III.3.6).
Investasi
Perkembangan investasi wilayah Jabagbar pada triwulan II 2014 tumbuh melambat dari 5,9% (yoy) menjadi
4,6% (yoy). Salah satu faktor utama yang memengaruhi perlambatan ini adalah sikap menunda (wait and
see) pelaku usaha selama berlangsungnya kegiatan Pilpres tahun 2014. Berdasarkan hasil liaison,
perlambatan investasi pada triwulan ini dikarenakan perusahaan sektor industri pengolahan hanya
mengeluarkan investasinya untuk pemeliharaan dan modifikasi mesin, guna menyesuaikan kebutuhan
produksi. Meski demikian, dari kegiatan liason di Jawa Barat juga diperoleh informasi bahwa subsektor
peternakan dan perdagangan melakukan kegiatan investasi belanja modal yang cukup agresif pada triwulan
ini, terutama untuk pembangunan kandang dan gudang baru.
Terkait dengan pembiayaan kegiatan investasi, sumber pembiayaan dari perusahaan induk maupun
internal perusahaan menjadi pilihan utama. Hal ini dikonfirmasi oleh beberapa perbankan di Jabagbar yang
penyaluran kreditnya hanya ditujukan kepada pelaku usaha existing atau prospektif. Berdasarkan data dari
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi asing (PMA) di wilayah Jabagbar pada
triwulan II 2014 mengalami penurunan. Meski demikian, realisasi jumlah proyek yang dibiayai dengan PMA
mengalami peningkatan. Sementara itu, untuk investasi dalam negeri (PMDN), realisasinya di Jawa Barat
mengalami penurunan, sedangkan di Banten masih mengalami peningkatan. Namun, jumlah proyek yang
dibiayai menggunakan PMDN di Banten menunjukkan penurunan (Grafik III.3.7 dan III.3.8).
PMDN Jabar
PMA Jabar
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
PMDN Banten
PMA Banten
PMA
(USD Milyar)
2.5
2.0
1.5
1.0
0.5
0.0
I
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
Jumlah Proyek
PMA
2,500
Thousands
PMDN
(Rp Triliun)
PMDN
2,000
1,500
1,000
500
-
I
II
2014
Sumber : BKPPMD Jawa Barat dan Banten (Data Sementara)
Grafik III.3.7. Realisasi Investasi Menurut Provinsi
2010
2011
2012
2013
II
2014
Sumber : BKPM
Grafik III.3.8. Jumlah Proyek Investasi
Berdasarkan berbagai indikator terkini, pertumbuhan investasi diprakirakan meningkat pada triwulan III
2014. Hal ini sejalan dengan peningkatan pertumbuhan kredit investasi di Jabagbar pada akhir triwulan II
2014 (Grafik III.3.9). Selain itu, membaiknya investasi juga diindikasikan dengan mulai meningkatnya
pertumbuhan impor barang modal,meskipun masih terbatas (Grafik III.3.10). Berdasarkan hasil dari liaison
dan berbagai disukusi terbatas (forum group discussion/FGD) dengan berbagai institusi dan pelaku usaha,
diperoleh informasi bahwa kegiatan investasi pada triwulan III 2014 akan meningkat khususnya terkait
dengan infrastruktur dan perluasan usaha. Lebih lanjut, pertumbuhan investasi diperkirakan dapat
meningkat lebih tinggi lagi apabila kondisi politik nasional tetap kondusif pasca-penetapan presiden/wakil
presiden pemilu 2014.
Laporan Nusantara| 76
Rp Triliun
Kredit Investasi (KI)
70
Pertumbuhan KI
YoY (%)
60
50,8
46,5
60
35,5
50
50
36,7
USD Milyar
Impor Barang Modal
%, yoy
Pertumbuhan Impor (RHS)
3,5
60
50
3,0
40
30
2,5
40
20
2,0
40
10
30
30
0
1,5
-10
20
20
1,0
10
10
-
0
-20
-30
0,5
I
II
III
IV
I
II
2012
III
IV
I
2013
-40
-
II
-50
I
II
2014
III
IV
I
II
2011
Grafik III.9. Penyaluran Kredit Investasi Jabagbar
III
IV
I
II
2012
III
IV
2013
I
II*
2014
Grafik III.10. Impor Barang Modal Jabagbar
Perdagangan Luar Negeri
Ekspor
Ekspor luar negeri (LN) Jabagbar meningkat seiring dengan peningkatan perekonomian negara maju. Ekspor
Jabagbar pada triwulan II 2014 tumbuh meningkat menjadi 7,4% (yoy). Peningkatan ekspor terutama
disumbang oleh ekspor Jawa Barat yang tumbuh meningkat menjadi 7,6% (yoy) pada triwulan II 2014 dari
triwulan I 2014 sebesar 6,0% (yoy). Sementara itu, Banten mengalami perlambatan ekspor dari 9,2% (yoy)
pada triwulan I 2014 menjadi 7,1% (yoy) pada triwulan II 2014. Perbaikan kinerja ekspor Jabagbar tersebut
didorong oleh pertumbuhan ekspor komoditas manufaktur yang meningkat, terutama ke pasar negara
maju seperti Amerika Serikat dan Eropa. Sementara itu, ekspor ke negara berkembang di kawasan Asia,
cenderung melambat. Hal ini diperkirakan terkait dengan pelemahan perekonomian emerging economic
(EM) seperti Tiongkok dan India.
Manufaktur
Kimia
%, yoy
100
TPT
Makanan
Net Ekspor (Sb. Kanan)
Pertumbuhan Ekspor
Pertumbuhan Impor
%, yoy
50
Juta USD
1400
80
1200
40
1000
60
30
800
20
20
600
0
10
40
400
-20
200
0
0
-40
I
II
III
2011
IV
I
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
2014
Grafik III.3.11. Pertumbuhan Ekspor Manufaktur
-10
-20
I
II
III
IV
I
II
III
IV
I
II
III
IV
I
II
-200
-400
2011
2012
2013
2014
-600
Grafik III.3.12. Perkembangan Perdagangan LN Jabagbar
Komoditas manufaktur utama masih menjadi pendorong kenaikan ekspor Jabagbar. Berdasarkan
subsektor industrinya, peningkatan ekspor manufaktur didorong oleh peningkatan ekspor komoditas TPT,
kimia, makanan dan minuman, logam, kulit, serta karet dan plastik. Ekspor elektronika dan mesin juga
mulai menunjukkan adanya perbaikan meskipun masih terbatas. Sementara itu, ekspor kendaraan
bermotor cenderung mengalami penurunan terutama ke pasar Timur Tengah dan Afrika, sebagaimana
disampaikan oleh Gaikindo dalam FGD.
Laporan Nusantara| 77
Berbagai perkembangan terakhir mengindikasikan kinerja ekspor Jabagbar pada triwulan III 2014
mengalami peningkatan. Salah satu faktor yang mendorong peningkatan tersebut adalah membaiknya
perekonomian Amerika Serikat dan beberapa negara maju di Eropa. Hal ini sesuai laporan liaison yang
memperkirakan peningkatan kinerja ekspor Jabagbar terutama dari industri TPT, kimia, makanan, dan
karet olahan serta kulit. Permintaan akan tekstil dan alas kaki yang masih kuat dari kawasan Eropa serta
Amerika Serikat membuat penjualan ekspor diperkirakan terus berkembang.
Tw I 2014
Tw II 2014
6%
6%
23%
14%
AMERICA
24%
16%
ASIA
EUROPE
57%
AFRIKA & AUSTRALIA
54%
Grafik III.3.13. Pangsa Ekspor Jabagbar Tw I dan II 2014
Impor
Perkembangan impor luar negeri Jabagbar pada triwulan II 2014 tumbuh stabil. Kondisi tersebut sejalan
dengan kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia untuk menurunkan defisit transaksi berjalan. Sumber
impor luar negeri Jabagbar pada triwulan II 2014 didominasi oleh impor bahan baku yang mencapai 98,5%
dari total impor luar negeri Jabagbar. Pertumbuhan impor bahan baku mengalami kontraksi pada triwulan
II 2014, sementara impor barang konsumsi dan barang modal tumbuh meningkat. Di sisi lain, impor di
sektor manufaktur, terutama pada industri elektronik dan mesin dan sektor pertanian mulai menunjukkan
adanya peningkatan. Peningkatan impor terutama terkait dengan bahan baku industri. Hal ini sejalan
dengan indikator kegiatan usaha pada Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) triwulan II yang memperkirakan
adanya peningkatan kegiatan usaha industri pengolahan dari 4,48% pada triwulan II 2014 menjadi 8,20%
pada triwulan III 2014.
USD Milyar
Impor Bahan baku
10
Impor Barang Konsumsi
Impor Barang Modal
%, yoy
Ribu Unit
Ekspor Mobil
25
9
8
G.Ekspor (Kanan)
60
40
20
7
20
15
6
0
5
10
4
-20
5
3
2
-40
0
1
-60
1
I
II
III
IV
I
II
III
IV
I
II
III
IV
I
2
3
4
5
6
7
2012
2013
9 10 11 12 1
2
3
4
5
6 7*
II
2013
2011
8
2014
2014
Sumber : Gaikindo
Grafik III.3.14. Impor Menurut Jenisnya
Grafik III.3.15. Perkembangan Ekspor Mobil
Laporan Nusantara| 78
Kinerja Sektor Utama Daerah
Sektor Industri Pengolahan
Kuatnya konsumsi rumah tangga dan membaiknya ekonomi negara tujuan ekspor mampu mendorong
peningkatan kinerja sektor industri pengolahan Jabagbar pada triwulan II 2014. Industri pengolahan
tumbuh signifikan dari 3,5% (yoy) pada triwulan I 2014 menjadi 4,2% (yoy)pada triwulan II 2014. Jenis
industri yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT).
Peningkatan industri TPT disebabkan kalangan pengusaha memperbanyak stok tekstil untuk persiapan
lebaran dan untuk memenuhi peningkatan permintaan negara maju. Berdasarkan hasil liaison, permintaan
TPT Jabagbar terutama untuk memenuhi permintaan dari beberapa brand ternama di Amerika Serikat dan
Eropa. Selain TPT, pertumbuhan sektor industri pengolahan Jabagbar juga ditopang oleh meningkatnya
produksi industri makanan minuman, industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia, serta industri
otomotif dan alat angkutan (trailer dan semi tralier). Berdasarkan hasil liaison, tingkat penjualan produk
industri kimia mengalami peningkatan yang signifikan. Sementara itu, industri yang mengalami penurunan
kinerja pada triwulan ini adalah industri barang logam bukan mesin dan industri karet olahan.
yoy (%)
Pertanian
Industri Pengolahan
PHR
Jabagbar
2012
JUTA TON
2013
2014
4,0
16
14
12
10
8
6
4
2
0
-2
-4
-6
-8
3,5
3,0
2,5
2,0
3,3 3,5
1,5
3,1 3,2
3,0
3,6
3,4 3,5
2,1
1,0
I
II
III
IV
I
II
2012
III
IV
I
2013
II
III*
1,5
0,5
0,0
2014
TW I
Sumber : BPS, diolah
Produksi Mobil
Pertumbuhan (Kanan)
140
%, yoy
50
40
30
20
10
0
-10
-20
-30
-40
-50
-60
120
100
80
60
40
20
0
1
2
3
4
5
6
TW III
TW IV
Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat
Grafik III.3.16. Pertumbuhan Sektor Utama Jabagbar
Ribu Unit
TW II*
7
2013
8
9 10 11 12 1
2
3
4
5
6 7*
2014
Grafik III.3.17. Produksi Padi Jawa Barat
Indeks
%, yoy
Indeks Penjualan Riil
Pertumbuhan Penjualan Riil (yoy)
170
60
50
150
40
130
30
110
20
10
90
0
70
-10
50
-20
11 12 1
2012
2
3
4
5
6
7
2013
8
9 10 11 12 1
2
3
4
5 6* 7**
2014
Sumber : Gaikindo
Grafik III.3.18. Perkembangan Industri Otomotif
Grafik III.3.19. Perkembangan Penjualan Riil
Pada triwulan III 2014, kinerja industri pengolahan diprakirakan relatif stabil dan cenderung menurun. Hal
ini diindikasikan dengan beberapa faktor seperti libur panjang lebaran, kondisi perbaikan ekonomi global
yang belum solid, serta penyesuaian konsumsi RT pasca-lebaran. Pertumbuhan industri TPT diperkirakan
Laporan Nusantara| 79
masih meningkat, terutama untuk memenuhi permintaan negara maju dalam menghadapi Natal.
Sementara itu, kinerja industri otomotif diperkirakan melambat seiring dengan penurunan permintaan
domestik di tengah kebijakan pembatasan BBM bersubsidi, kebijakan pemerintah untuk mengurangi
kemacetan, serta kebijakan makroprudensial.
Sektor Pertanian
Pada triwulan II 2014, sektor pertanian Jabagbar tumbuh meningkat dari 0,5% (yoy) menjadi 3,1% (yoy).
Faktor yang mendorong peningkatan kinerja sektor pertanian adalah meningkatnya produksi tanaman
bahan makanan khususnya padi. Di Jawa Barat, meningkatnya produksi padi pada triwulan II 2014
disebabkan faktor bergesernya masa panen padi akibat bencana banjir pada awal tahun. Menurut hasil
liaison, cuaca dan iklim yang mendukung di Banten pada triwulan II 2014 mendorong peningkatan produksi
padi di wilayah Pandeglang.
Sementara itu, kinerja sektor pertanian pada triwulan III 2014 diprakirakan tumbuh melambat. Hal ini
terkait dengan beberapa faktor yang diperkirakan mengganggu produksi pertanian seperti El Nino,
berkurangnya kegiatan cocok tanam pada periode musiman puasa dan Idul Fitri, serta risiko serangan hama
dan penyakit. Meskipun beberapa wilayah pertanian lumbung padi di utara Jabagbar kerap menjadi
langganan kekeringan, tetapi dampaknya diperkirakan tidak terlalu besar. Pemerintah terus melakukan
penyuluhan kepada petani untuk mempercepat tanam musim kemarau dan mengganti benih padi dengan
varietas bersiklus pertumbuhan pendek seperti IR-16. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan pompa untuk
mengatasi kesulitan air pada lahan yang menjadi langganan kekeringan.
Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran (PHR)
Kinerja sektor PHR Jabagbar pada triwulan II menurun. Pertumbuhan PHR melambat dari 7,5% (yoy) pada
triwulan I 2014 menjadi 6,5% (yoy) pada triwulan II 2014. Hal tersebut terindikasi dari melambatnya
pertumbuhan penjualan riil pada Mei dan Juni 2014. Selain itu, dampak pelaksanaan kegiatan Pemilu,
rangkaian libur nasional termasuk libur tahun ajaran baru ke sektor pariwisata, hotel dan restoran tidak
sesuai yang diperkirakan. Tingkat kunjungan wisatawan baik melalui bandara di Bandung maupun di
Tangerang mengalami penurunan, khususnya pada kunjungan wisatawan asing. Selain itu, tingkat
penghunian kamar hotel pada triwulan II 2014 lebih rendah dibandingkan dengan triwulan II 2013, yakni
menurun dari 49,0% menjadi 47,9%.
Berbagai perkembangan terakhir menunjukkan adanya peningkatan kinerja dari sektor PHR pada triwulan
III 2014. Beberapa toko ritel modern menggelar berbagai program promosi untuk mendorong peningkatan
penjualan pada masa puasa dan lebaran. Berdasarkan Survei Pedagang Ecerean, tingkat penjualan riil
hingga Juli 2014 mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Selain itu,
penjualan barang tahan lama juga mengalami peningkatan berdasarkan hasil survei konsumen pada awal
triwulan III 2014. Sementara itu, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat
menyayangkan rencana pemerintah yang akan menaikkan harga gas LPG 12 kg pada Agustus 2014 karena
berpotensi menurunkan penerimaan di sektor perhotelan dan restoran.
Laporan Nusantara| 80
PERKEMBANGAN INFLASI
Sampai dengan Juli 2014, inflasi di wilayah Jabagbar menunjukkan tren penurunan menjadi 4,1% (yoy). Tren
penurunan inflasi di Jabagbar tersebut dikarenakan telah habisnya dampak kenaikan harga BBM bersubsidi
pada tahun 2013. Selain itu, ekspektasi inflasi pada periode puasa dan lebaran tahun ini tidak sebesar yang
diperkirakan, seiring dengan berbagai kebijakan yang ditempuh pemerintah dan Bank Indonesia. Koordinasi
pemerintah dan TPID dalam pemantauan dan penyediaan pasokan pangan berhasil mendorong inflasi pada
periode lebaran menjadi lebih rendah dibandingkan dengan tren historisnya dalam tiga tahun terakhir.
Adapun tekanan inflasi wilayah Jabagbar hingga juli 2014 terutama disebabkan oleh kenaikan administered
prices (tarif listrik, tarif transportasi dan kenaikan harga rokok). Inflasi inti relatif stabil di tengah masih
kuatnya konsumsi rumah tangga. Secara spasial, inflasi Banten mencapai 5,5% (yoy), lebih tinggi
dibandingkan dengan inflasi Jawa Barat yang mencapai 3,7% (yoy) (Grafik III.3.28).
JABAGBAR
YOY (%)
12
BANTEN
JABAR
YOY (%)
25
10
IHK
Volatile Food
Administered Price
Core
20
8
15
6
10
4
5
2
0
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7
2012
2013
2012
2014
Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah
Ekspektasi Harga 3 Bulan YAD
2014
Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah
Grafik III.3.20. Perkembangan Inflasi
Indeks
2013
Ekspektasi Harga 6 Bulan YAD
225
Grafik III.3.21. Disagregasi Inflasi Jabagbar
%, SBT
40
35
200
30
25
175
20
150
15
10
125
100
5
Indeks > 100 = optimis
Indeks < 100 = pesimis
0
I
75
7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112
2012
2013
Grafik III.3.22. Perkiraan Harga
2014
II
III
2011
IV
I
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
III*
2014
Grafik III.3.23. Ekspektasi Harga Jual Pelaku Usaha
Berbagai indikator mengindikasikan adanya penurunan tekanan inflasi di wilayah Jabagbar pada triwulan III
2014 dibandingkan triwulan sebelumnya. Inflasi pada akhir triwulan III 2014 diprakirakan menjadi 4,3%
(yoy), melambat dari triwulan II 2014 sebesar 6,6% (yoy). Perlambatan tersebut sejalan dengan hasil Survei
Konsumen (SK) yang mengonfirmasi penurunan ekspektasi konsumen terhadap kenaikan harga dalam tiga
bulan mendatang, meski untuk ekspektasi enam bulan mendatang meningkat (Grafik III.3.30). Selain itu,
hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) juga mengkonfirmasi perlambatan, harga jual secara umum pada
triwulan III 2014 diperkirakan sedikit menurun, dibandingkan dengan triwulan II 2014. Hal tersebut
Laporan Nusantara| 81
tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) ekspektasi responden terhadap perkiraan harga jual pada
triwulan III 2014 sebesar 27,59%, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 29,27%. Hal ini
terkait dengan berakhirnya faktor musiman pasca-Ramadhan, lebaran dan liburan (Grafik III.3.31). Meski
demikian, kebijakan seperti kenaikan tarif tenaga listrik (TTL), harga gas LPG 12 kg dan pembatasan
penjualan BBM bersubsidi di sejumlah daerah, mengakibatkan inflasi pada akhir triwulan III tersebut sedikit
lebih tinggi dibandingkan bulan Juli 2014 sebesar 4,1% (yoy)
Koordinasi Pengendalian Inflasi
Berbagai upaya dilakukan untuk meredakan tekanan inflasi yang terjadi di wilayah Jabagbar, baik dalam
jangka pendek maupun jangka panjang. Beberapa upaya yang dilakukan antara lain dengan melakukan
koordinasi dengan TPID se Jawa Barat, Banten dan Jakarta. Dalam forum tersebut telah disepakati
beberapa hal pokok sebagai berikut :
1. Menjamin ketersediaan dan mengendalikan keterjangkauan harga menjelang Ramadhan dan Idul Fitri
1435 H;
2. Menjaga kontinuitas produksi pangan guna menjamin ketersediaan pasokan dan meminimalisasi
dampak El Nino;
3. Meningkatkan efisiensi distribusi bahan pangan dari daerah sentra ke daerah konsumen dengan
memperluas sentra distribusi pangan baru;
4. Mendorong peningkatan informasi melalui penyusunan Neraca Bahan Makanan (NBM) sebagai tindak
lanjut Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) TPID;
Selain hal-hal tersebut di atas, FKPI Jawa Barat juga melakukan terobosan untuk memengaruhi persepsi
masyarakat agar inflasi dapat terkendali melalui silaturahim forum ulama. Harapannya, ulama sebagai salah
satu public anchor dapat memengaruhi persepsi masyarakat agar lebih bijak dalam melakukan konsumsi.
STABILITAS SISTEM KEUANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM PEMBAYARAN
Stabilitas sistem keuangan wilayah Jabagbar pada triwulan II 2104 secara umum masih terjaga. Di tengah
ketatnya Dana Pihak Ketiga (DPK), kondisi likuiditas sektor keuangan terutama perbankan masih
menunjukkan gambaran yang cukup baik. Hal ini tercermin dari jumlah DPK yang mulai meningkat setelah
tumbuh melambat semenjak triwulan IV 2013. Tercatat pada triwulan II 2014, DPK perbankan Jabagbar
tumbuh sebesar 17,4% (yoy) lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan I 2014 yang mencapai 16,1% (yoy)
(Grafik II.3). Berdasarkan hasil FGD dengan perbankan Jabar, sejumlah pihak bank sudah mengantisipasi
akan adanya persaingan untuk meningkatkan DPK sejak awal 2014, sehingga beberapa bank terutama bank
besar lebih fokus pada upaya untuk meningkatkan DPK daripada melakukan ekspansi kredit.
Penyaluran kredit di Jabagbar pada triwulan II 2014 tumbuh melambat dan masih mengikuti tren
perlambatan kredit secara nasional. Realisasi pertumbuhan kredit pada triwulan ini tercatat sebesar 17,2%
(yoy), lebih rendah dari pertumbuhan triwulan I 2014 sebesar 19,3% (yoy). Namun, tingkat Loan to Deposit
Ratio (LDR) masih berada pada level yang cukup baik yaitu 89%. Dengan level tersebut berarti perbankan
Jabagbar cukup berhati-hati (prudent) dalam melakukan penyaluran kredit. Di sisi lain, perbankan mampu
memaksimalkan penanaman dananya. Meskipun secara nominal kredit masih meningkat, namun sebagian
besar merupakan debitur lama dengan profil risiko yang rendah.
Laporan Nusantara| 82
DPK
Rp triliun
Pertumbuhan DPK
450,0
400,0
350,0
300,0
250,0
200,0
150,0
100,0
50,0
-
% YoY
25,0
20,0
19,9
15,7 16,1
17,4
15,0
5,0
0,0
II
III
IV
I
II
2012
III
2013
IV
I
II
2014
Grafik III.3.24. Perkembangan DPK Jabagbar
Pertumbuhan Kredit
LDR
% YoY
88,4 90,7 89,0
400,0
350,0
300,0
250,0
200,0
10,0
I
Kredit
Rp triliun
150,0
100,0
50,0
23,8 20,7
19,3 17,2
I
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
100,0
90,0
80,0
70,0
60,0
50,0
40,0
30,0
20,0
10,0
0,0
II
2014
Grafik III.3.25. Perkembangan Kredit, NPl dan LDR
Ketahanan Sektor Korporasi
Ketahanan sektor utama korporasi di wilayah Jabagbar pada triwulan II 2104 masih terjaga. Kondisi
tersebut tercermin dari kualitas kredit melalui rasio kredit bermasalah (NPL) di sektor utama seperti sektor
industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel, dan restauran (PHR), yang berada di bawah ambang
batas aman 5%. Sejalan dengan indikator NPL yang menunjukkan kondisi kualitas kredit yang masih terjaga,
perhitungan menggunakan mortality rate (Altman Approach)4 dari seluruh debitur kota/kabupaten
(berdasarkan pendekatan nominal baki debet) yang memperlihatkan adanya perbaikan. Kondisi tersebut
memiliki kemiripan dengan perhitungan mortality rate dengan pendekatan jumlah debitur, yakni
mengindikasikan adanya penurunan jumlah debitur bermasalah.
Di sisi penyaluran kredit, pertumbuhan kredit di kedua sektor utama tersebut menunjukkan perlambatan.
Pembiayaan perbankan untuk sektor industri pengolahan, yang memiliki pangsa sekitar 27% terhadap total
kredit wilayah Jabagbar, menunjukkan perlambatan pada triwulan II 2014. Total kredit untuk sektor
manufaktur berada pada level Rp51,8 triliun atau tumbuh sebesar 14,73% (yoy), lebih lambat dibandingkan
dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 17,75% (yoy). Sementara itu, pembiayaan
perbankan untuk sektor PHR juga mengalami hal yang sama, melambat dari 15% (yoy) menjadi 9,1% (yoy)
pada triwulan II 2014. Berdasarkan hasil FGD, sebagian besar bank, terutama bank besar, fokus pada
penyelesaian kredit bermasalahan di sektor PHR, khususnya pembiayaan kepada usaha perdagangan benda
bergerak. Hal ini sejalan dengan arah transmisi kebijakan moneter yang ketat dalam rangka menjaga
stabilitas makroekonomi, khususnya untuk mengarahkan inflasi ke arah target sasarannya dan mengurangi
tekanan defisit transaksi berjalan (CAD).
4
Konsep mortality rate (Altman) adalah mengukur seberapa banyak individu yang mengalami default (gagal bayar) dalam
periode dan populasi tertentu. Dalam penelitiannya, Altman mengembangkan pengukuran mortalitas dengan mengukur rasio
antara debitur yang mengalami default pada periode tertentu terhadap total debitur pada awal periode.
Laporan Nusantara| 83
Rp Triliun
Kredit Industri
%
Pertumbuhan (yoy)
60
50
40
30
20
10
-
Rp Triliun
40
80,0
35
70,0
30
60,0
25
50,0
20
40,0
15
30,0
10
20,0
5
10,0
0
I
II
III
IV
I
2012
II
III
2013
IV
I
Kredit PHR
%
Pertumbuhan (yoy)
60
50
40
30
20
10
-
II
0
I
II
2014
III
IV
I
II
2012
Grafik III.3.26. Kredit Sektor Industri Jabagbar
III
IV
I
2013
II
2014
Grafik III.3.27. Kredit Sektor PHR
Ketahanan Sektor Rumah Tangga
Di sektor rumah tangga, penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pada triwulan II 2014 mengalami
peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Kondisi yang sama juga terjadi dalam penyaluran
kredit multiguna dan kendaraan bermotor. Di sisi lain, risiko kredit sektor rumah tangga mengalami sedikit
peningkatan. Peningkatan NPL terutama di KPR dan kredit multiguna, sedangkan NPL kredit kendaraan
bermotor menurun. Meski demikian, seluruh NPL kredit sektor rumah tangga masih di bawah 5% atau pada
level yang terjaga
KPR
K.Kend. Bermotor
NPL K.Multiguna
Triliun Rp
K.Multiguna
NPL K. Kend.Bermotor
NPL KPR
140
NPL (%)
4
120
3
100
80
2
60
40
1
20
Rp Triliun
Kredit UMKM
%, yoy
NPL - rhs
30
25
20
15
10
5
0
I
0
Pertumbuhan (yoy) - rhs
100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
II
III
IV
I
II
III
IV
I
II
0
III
IV
I
2012
II
Grafik III.3.28. Perkembangan Kredit Rumah Tangga
2013
2014
Grafik III.3.29. Perkembangan Kredit UMKM
Pembiayaan Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
Pada triwulan II 2014, pertumbuhan kredit UMKM melambat, sejalan dengan meningkatnya risiko kredit di
sektor ini. Realisasi penyaluran kredit perbankan konvensional kepada kategori debitur UMKM di wilayah
Jabagbar mencapai Rp85,95 triliun, tumbuh melambat dari 16,68% (yoy) pada triwulan I 2014 menjadi
12,16% (yoy) pada triwulan II 2014. Pangsa kredit untuk debitur UMKM terhadap total kredit Jabagbar
mencapai sekitar 25,3% atau sedikit menurun dari triwulan sebelumnya sebesar 25,5%. Di sisi lain, terjadi
peningkatan risiko kredit UMKM yang ditunjukkan oleh rasio NPL yang meningkat dari 4,4% pada triwulan I
2014 menjadi 4,6% pada triwulan II 2014. Kondisi ini menjadi salah satu faktor bagi perbankan untuk
menahan laju pertumbuhan kredit kepada UMKM.
Laporan Nusantara| 84
Kinerja Sistem Pembayaran
Kegiatan sistem pembayaran pada triwulan I 2014 menunjukkan penggunaan fasilitas RTGS yang meningkat
baik dari sisi nominal maupun volume transaksi. Kondisi sebaliknya terjadi pada SKNBI (Sistem Kliring
Nasional Bank Indonesia) yang cenderung mengalami tren penurunan. Adapun transaksi RTGS dari Jawa
Barat lebih besar dibandingkan transaksi RTGS yang menuju ke Jawa Barat. Hal tersebut mengindikasikan
banyaknya aliran dana yang keluar dari Jawa Barat menuju ke daerah lain, yang dipengaruhi antara lain
oleh semakin banyaknya pekerja yang berasal dari daerah lain bekerja di Jawa Barat dan mengirimkan hasil
upah kerjanya ke luar Jawa Barat.
Triliun Rp
25
INFLOW
OUTFLOW
NET (Inflow-Outflow)
Triliun Rp
RTGS
Kliring
Pertumbuhan RTGS - rhs
Pertumbuhan Kliring - rhs
%, yoy
350
20
100
80
60
40
20
0
-20
-40
-60
300
15
250
200
10
150
100
5
50
0
0
I
II
III
2011
IV
I
II
III
IV
I
2012
II
III
IV
I
2013
Grafik III.3.30.Perkembangan Inflow Outflow
II
2014
I
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
2014
Grafik III.3.31.Perkembangan Transaksi Non Tunai
Kinerja Pengelolaan Uang Tunai
Perkembangan peredaran uang pada triwulan II 2014 masih didominasi oleh aliran inflow. Jumlah aliran
uang kartal yang masuk (inflow) ke Bank Indonesia Wilayah VI mencapai Rp17,01 triliun, sedangkan aliran
outflow mencapai Rp8,10 triliun. Untuk memastikan masyarakat memperoleh uang tunai yang layak edar,
Bank Indonesia secara konsisten mengimplementasikan kebijakan Clean Money Policy. Sepanjang triwulan
II 2014, uang tidak layak edar yang dimusnahkan sebesar 7.219 lembar. Di samping itu, Bank Indonesia
Wilayah VI sejak awal tahun 2014 turut memperluas kerjasama dengan perbankan daerah dalam hal
penukaran uang tunai.
PROSPEK PEREKONOMIAN
Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Perekonomian wilayah Jabagbar berada dalam siklus bisnis yang melambat sejalan dengan proses
konsolidasi perekonomian nasional. Pertumbuhan ekonomi Jabagbar tahun 2014 diperkirakan pada kisaran
5,5% - 6,0% (yoy) dengan kecenderungan bias ke bawah. Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga
diperkirakan masih kuat yang dipengaruhi oleh peningkatan pendapatan (kenaikan UMP/UMK) serta tren
melambatnya laju tekanan inflasi. Berdasarkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), terindikasi
adanya prospek peningkatan kegiatan usaha pada sektor ekonomi utama Jabagbar. Di sisi lain, investasi
diperkirakan masih terbatas terutama pada investasi baru, terkait dengan periode transisi kepemimpinan
baru hasil Pemilu 2014. Perbaikan kinerja ekspor diperkirakan masih terbatas, seiring dengan pemulihan
ekonomi global yang masih dibayangi oleh melambatnya perekonomian Tiongkok. Sementara itu, volatilitas
nilai tukar yang masih cukup tinggi berpotensi memengaruhi kinerja eksportir, mengingat masih adanya
Laporan Nusantara| 85
ketergantungan impor bahan baku dan barang modal yang cukup tinggi. Di sisi sektoral, sektor PHR,
pertanian dan industri pengolahan masih menjadi penopang utama perekonomian Jabagbar, yang
didukungan oleh sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor listrik, gas, dan air bersih.
Prospek Inflasi
Inflasi Jabagbar pada tahun 2014 diperkirakan kembali ke pola historisnya, seiring berakhirnya dampak
kenaikan harga BBM pada tahun 2013. Salah satu faktor yang menjaga inflasi Jabagbar adalah membaiknya
ekspektasi inflasi masyarakat. Perhatian pemerintah terhadap ketersediaan stok komoditas pangan dan
antisipasi bencana diyakini juga dapat memitigasi risiko inflasi. Beberapa upaya yang telah dilakukan
pemerintah daerah untuk meningkatkan produksi pangan, khususnya makanan pokok (beras dan kedelai)
serta hortikultura (cabai merah dan bawang merah), adalah peningkatan luas areal tanam, pembuatan
lahan sawah baru, pemberian bantuan benih pupuk, dan peralatan pertanian, serta pendampaingan
melalui Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu. Sementara itu, faktor pendorong meningkatnya
tekanan inflasi pada tahun 2014 yaitu risiko bencana banjir, kenaikan harga gas elpiji dan tarif tenaga listrik
untuk industri, serta periode musiman peningkatan permintaan pada hari raya keagamaan dan libur tahun
ajaran baru. Dengan demikian, untuk keseluruhan tahun 2014, inflasi diperkirakan berada pada rentang
4,5% + 1% (yoy) dengan kecenderungan bias ke atas.
Tabel III.3.2. Prakiraan Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Jawa Bagian Barat
Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Wilayah
PDRB (%,yoy)
2011
2012
6.5
2013
2014
II
6.1
III
5.7
IV
6.2
Total
6.0
I
5.4
II
5.6
IIIp
IVp
Totalp
6.3
I
6.0
5.8
5,5-5,9
5,4-5,8
Sisi Permintaan
Konsumsi
5.7
4.4
4.3
3.8
4.7
4.9
4.4
5.0
4.9
6.1
5,7-6,1
5,3-5,8
Konsumsi swasta
5.7
4.6
4.4
4.5
4.1
4.1
4.3
5.1
5.4
5.4
5,1-5,5
5,0-5,4
Konsumsi Pemerintah
6.5
1.5
2.9
(3.2)
11.2
13.4
6.5
4.2
-0.9
12.9
13,3-13,7
7,9-8,3
9.5
10.1
10.4
9.7
7.6
5.9
8.4
5.9
4.6
5.0
4,5-4,9
4,7-5,1
Ekspor
8.9
6.9
9.1
8.7
10.6
12.4
10.2
7.3
7.4
9.2
10,5-10,9
8,5-8,9
Impor
12.8
6.7
13.9
10.8
15.7
14.6
13.8
8.9
8.9
11.3
12,9-13,1
10,3-10,7
Sektor pertanian
0.3
(0.0)
2.7
1.3
4.6
8.6
4.1
0.5
3.1
2.3
1,3-1,7
1,5-1,9
Sektor pertambangan & penggalian
(5.0)
(7.0)
4.6
(7.2)
(2.0)
2.8
(0.6)
-3.0
2.9
1.2
1,4-1,8
0,3-0,7
Industri pengolahan
5.8
3.7
4.8
5.5
4.9
4.7
5.0
3.5
4.2
4.0
4,3-4,7
3,9-4,3
Listrik, gas & air bersih
2.4
8.3
5.4
5.7
6.1
7.2
6.1
10.3
7.8
7.7
7,0-7,5
8,0-8,4
Bangunan
13.3
13.0
9.9
10.2
7.2
7.3
8.6
10.8
9.1
9.6
7,5-7,9
9,2-9,6
Perdagangan, hotel & restoran
8.5
11.7
7.1
9.1
6.9
7.6
7.6
7.5
6.5
7.5
7,6-8,0
7,2-7,6
Pengangkutan & komunikasi
13.7
11.5
11.5
10.5
7.8
6.7
9.0
11.2
9.2
10.5
8,8-9,2
9,6-10,0
Keuangan, persewaan dan jasa perush.
12.0
9.7
9.6
8.3
7.8
8.0
8.4
8.1
6.5
6.8
6,9-7,3
7,0-7,4
Jasa-jasa
7.9
8.2
7.7
4.0
6.0
5.9
5.9
9.7
8.5
9.2
7,7-8,1
8,5-8,9
3.3
4.0
6.1
6.7
9.3
9.2
9.2
8.0
6.6
4.3
4,4-4,8
4,4-4,8
Pembentukan Modal Tetap Bruto
Sisi Produksi
Inflasi IHK (%,yoy)
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
p
proyeksi Bank Indonesia
Laporan Nusantara| 86
PERTUMBUHAN EKONOMI
Kinerja perekonomian Jakarta pada triwulan II 2014 membaik dibandingkan dengan triwulan I 2014. Pada
triwulan laporan, pertumbuhan ekonom Jakarta tercatat 6,1% (yoy), sedikit meningkat dari triwulan I 2014
yang tumbuh sebesar 6,0%. Membaiknya pertumbuhan ekonomi Jakarta dalam level yang moderat ini
terutama didukung oleh perbaikan kinerja ekspor, sejalan dengan pemulihan ekonomi global dan
terjaganya konsumsi rumah tangga.
Mencermati dinamika perekonomian saat ini, pertumbuhan ekonomi Jakarta diprakirakan stabil dengan
dukungan dari konsumsi dan berlanjutnya perbaikan ekspor. Seiring dengan perbaikan ekspor, impor juga
diperkirakan mengalami peningkatan terkait dengan masih tingginya ketergantungan impor dari industri
manufaktur. Sementara itu, kinerja investasi berpotensi tumbuh sedikit lebih baik seiring dengan adanya
kepastian hasil Pemilu dan arah kebijakan pemerintahan baru. Perbaikan daya saing dan pembangunan
proyek infrastruktur dalam skala besar turut mendukung pertumbuhan investasi. Di sisi sektoral,
peningkatan pertumbuhan berpotensi terjadi pada sektor industri dan bangunan.
Konsumsi
Konsumsi Rumah Tangga
Konsumsi rumah tangga pada triwulan II 2014 tumbuh stabil sebesar 6,1% (yoy) dibandingkan dengan
triwulan sebelumnya. Hal ini tidak terlepas dari aktivitas kampanye menjelang Pemilihan Presiden pada
awal Juli 2014. Survei Penjualan Eceran pada bulan Juni 2014 memperlihatkan penjualan makananminuman yang meningkat 24% sejalan dengan pelaksanaan kampanye. Selain itu, survei produksi industri
juga mengonfirmasi kenaikan produksi yang cukup tinggi pada subsektor industri pencetakan dan
reproduksi media rekaman. Masih kuatnya konsumsi rumah tangga juga didukung oleh peningkatan level
keyakinan konsumen di Jakarta yang signifikan sejalan dengan kondusifnya masa kampanye Pemilu.
Pada triwulan III 2014, konsumsi rumah tangga diprakirakan mampu tumbuh stabil. Kuatnya konsumsi
rumah tangga didorong oleh peningkatan belanja terkait dengan tahun ajaran baru dan perayaan Lebaran.
Penjualan produk makanan dan minuman serta perlengkapan rumah tangga cenderung meningkat
semenjak masa puasa hingga Lebaran. Di samping itu, sejumlah perusahaan telekomunikasi mengonfirmasi
peningkatan penggunaan jasa layanan telekomunikasi pada perayaan Lebaran. Meski demikian, level
permintaan konsumen pada periode Lebaran tahun 2014 diprediksi sedikit lebih rendah dibandingkan
dengan tahun sebelumnya, terkait dengan pelemahan nilai tukar dan peningkatan suku bunga. Stabilnya
pertumbuhan konsumsi juga didukung oleh terjaganya tingkat penghasilan serta adanya tunjangan Hari
Raya Lebaran. Keyakinan konsumen Jakarta juga terindikasi terus meningkat, sejalan dengan sentimen
positif menyikapi hasil Pemilihan Presiden dan respons terhadap sinyal kebijakan pemerintahan baru.
Laporan Nusantara| 87
Indeks
Rp Juta
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK)
150
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE)
140
Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK)
Rp Juta
250,000
300
250
200,000
130
200
120
Optimis
110
150,000
150
100,000
100
100
90
Pesimis
50,000
50
80
0
70
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6
60
2012
2013
2014
1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7
2010
2011
2012
2013
Grafik III.4.1. Indeks Keyakinan Konsumen
2014
Makanan-minuman
Perlengkapan Rumah Tangga
Penjualan Voucher (skala kanan)
Grafik III.4.2. Perkembangan Survei Penjualan Eceran
Konsumsi Pemerintah
Konsumsi pemerintah pada triwulan II 2014 melambat secara signifikan menjadi 1,0% (yoy) dari 10,7% (yoy)
pada triwulan I 2014. Hal ini sebagai dampak dari kebijakan pengetatan anggaran kementerian dan
lembaga (K/L) terkait semakin terbatasnya ruang fiskal APBN ditengah subsidi migas yang membengkak. Di
samping itu, realisasi belanja Pemerintah Provinsi DKI Jakarta hingga akhir Juni 2014 diprakirakan hanya
mencapai 15,4% dari total anggaran belanja APBD Provinsi DKI Jakarta atau sebesar Rp10,1 triliun.
Berdasarkan proporsinya, belanja rutin seperti belanja pegawai dan belanja barang masih mendominasi
total belanja. Di sisi lain, belanja modal yang dianggap sebagai belanja produktif terkait dengan multiplier
effect yang lebih besar, relatif masih minimal hingga akhir triwulan II 2014. Penyerapan belanja modal
tersebut hanya 1,6% dari total anggaran Rp462,21 miliar.
Konsumsi pemerintah pada triwulan III 2014 diprakirakan tumbuh meningkat sejalan dengan adanya
penyaluran dana bantuan sosial pasca-Pemilu dan realisasi gaji ketigabelas. Penyaluran dana bantuan sosial
ke lembaga nonpemerintah yang belum direalisasikan pada triwulan II 2014 untuk menghindari
penggunaan yang tidak sesuai, diprakirakan akan dilakukan setelah Pemilihan Presiden pada awal Juli 2014.
Di sisi lain, sesuai kesepakatan pemerintah dan Badan Anggaran DPR pada akhir Juni 2014, anggaran empat
Kementerian mengalami pemotongan sebesar Rp 43,025 triliun, diprakirakan akan berpengaruh pada
belanja barang dan jasa pemerintah non-investasi.
Investasi
Investasi Jakarta pada triwulan II 2014 tumbuh melambat sebagai pengaruh dari dinamika politik dan
perekonomian nasional. Investasi tumbuh sebesar 4,2% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan I
2014 sebesar 5,8% (yoy). Perlambatan investasi dipengaruhi oleh adanya kecenderungan pelaku usaha
untuk menunda investasi (wait and see) terkait dengan Pemilihan Presiden, dan kondisi perekonomian
nasional yang masih dalam tren melambat. Perlambatan investasi terindikasi baik pada investasi bangunan,
terkait dengan melambatnya permintaan sektor properti komersial, maupun investasi nonbangunan,
khususnya pada industri manufaktur.
Investasi Jakarta pada triwulan III 2014 diperkirakan tumbuh lebih tinggi, didorong oleh meningkatnya
optimisme terhadap hasil Pemilu Presiden tahun 2014. Sentimen positif dan ekspektasi terhadap
pemerintahan baru turut berpengaruh pada prospek investasi, khususnya dari sisi PMA. Di sisi investasi
bangunan, peningkatan investasi yang lebih tinggi berasal dari pembangunan sejumlah proyek
Laporan Nusantara| 88
infrastruktur, di antaranya proyek MRT tahap I, pelabuhan Kalibaru, dan jalan layang pelabuhan,
pengerukan waduk dan normalisasi sungai, serta proyek pembangunan rumah susun. Pada semester III
2014, juga terdapat rencana dimulainya pembangunan fisik jalan layang busway koridor XIII rute CiledugBlok M dan jalan layang Depok-Antasari. Sementara itu, investasi di properti komersial diperkirakan belum
akan membaik signifikan, meski masih terdapat rencana pembangunan kantor dan hunian komersial baru.
Tingkat suku bunga yang relatif masih cukup tinggi turut memengaruhi keputusan untuk berinvestasi pada
properti.
Di sisi investasi nonbangunan, peningkatan investasi diperkirakan terbatas meskipun terdapat perbaikan
prospek ekspor industri manufaktur dan kebutuhan peningkatan produktivitas dalam level tertentu. Masih
memadainya kapasitas produksi industri manufaktur menjadi salah satu faktor terbatasnya pembelian alat
produksi baru. Meski investasi mesin baru terbatas, sejumlah kontak liaison industri manufaktur
mengindikasikan adanya kegiatan perbaikan mesin dan alat transport.
9000
%, yoy CMA
200
350,000
150
300,000
8000
7000
6000
100
%
Rp Miliar
120
100
80
250,000
60
200,000
5000
40
50
4000
150,000
3000
0
2000
(50)
1000
0
(100)
I
II
III
2010
IV
I
II
III
2011
Investasi PMA (Juta USD)
IV
I
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
Investasi PMDN (Milyar Rp)
IV
I
II
2014
gPDRB
Sumber: BKPM, diolah
Grafik III.4.3. Realisasi Investasi PMDN & PMA
20
100,000
0
50,000
-20
0
-40
1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6
2011
2012
Kredit Investasi
g.Indeks Emiten Properti (skala kanan)
2013
2014
g.Kredit Investasi (skala kanan)
Grafik III.4.4. Kredit Investasi
Perdagangan Luar Negeri
Ekspor
Ekspor Jakarta pada triwulan II 2014 tumbuh sebesar 0,8% (yoy), naik dibandingkan dengan triwulan
sebelumnya yang hanya tumbuh sebesar 0,5% (yoy). Namun, dibandingkan dengan periode yang sama
tahun 2013, pertumbuhan ekspor pada tahun 2014 ini jauh lebih rendah. Perbaikan kinerja ekspor terkait
dengan semakin membaiknya perekonomian global terutama di negara maju. Secara nominal, ekspor
kendaraan bermotor dan komponennya, furnitur, perhiasan dan permata serta produk farmasi tumbuh
meningkat pada triwulan II 2014. Sementara itu, komoditas ekspor produk Jakarta lain seperti garmen,
bahan kimia, mesin serta peralatan listrik cenderung tumbuh terbatas. Selain dipengaruhi oleh
melemahnya perekonomian negara mitra dagang khususnya di Asia, situasi politik yang kurang kondusif
seperti di Thailand juga turut memengaruhi permintaan ekspor produk Jakarta.
Pada triwulan III 2014, kinerja ekspor Jakarta diprakirakan akan semakin membaik, meskipun tumbuh di
bawah capaian pada periode yang sama tahun 2013. Peningkatan ekspor Jakarta pada triwulan III 2014
sejalan dengan perbaikan ekonomi negara mitra dagang, yang sebagian besar berada di Asia. Tendensi
membaiknya perekonomian Tiongkok, yang beralih dari pertumbuhan berbasis ekspor menjadi
pertumbuhan berbasis konsumsi, ditengarai turut menjadi faktor pendukung meningkatnya kinerja ekspor
Laporan Nusantara| 89
Jakarta. Perbaikan ekonomi Amerika Serikat juga turut berpengaruh pada ekspor produk Jakarta, khususnya
pada produk garmen. Komoditas ekspor Jakarta lainnya yang berpotensi meningkat adalah produk
kendaraan bermotor dan komponennya serta bahan kimia organik. Hal tersebut terkait dengan adanya
pasar ekspor baru di sejumlah negara berkembang dan emerging market.
Impor
Impor melalui Jakarta pada triwulan II 2014 mengalami kontraksi sebesar 1,1% (yoy), yang merupakan
pertama kalinya dalam lima tahun terakhir. Hal ini sangat terkait dengan tren perlambatan perekonomian
nasional yang cukup signifikan pada tiga triwulan terakhir. Perlambatan impor terjadi pada keseluruhan
kelompok baik bahan baku, barang modal dan barang konsumsi. Perlambatan impor terutama terjadi pada
kelompok peralatan transportasi, termasuk material handling machine untuk keperluan industri.
Perlambatan impor ditengarai juga terkait dengan pelemahan nilai tukar rupiah sejak akhir April 2014.
Pada triwulan III 2014, impor melalui Jakarta diperkirakan kembali tumbuh meningkat. Peningkatan impor
dipengaruhi oleh pola permintaan barang konsumsi yang cenderung meningkat pada periode Lebaran.
Pertumbuhan impor juga terkait dengan peningkatan produksi di sektor industri yang membutuhkan
dukungan bahan baku dan barang modal dari impor. Terkait dengan hal tersebut, produk impor yang
berpotensi meningkat adalah komponen kendaraan bermotor, komponen elektronik, mesin mekanik dan
alat berat pendukung industri.
80
%, yoy
200
%, yoy
%, yoy 30
150
60
40
20
20
100
10
50
0
0
-10
-50
-20
-100
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6
2011
-20
2012
g.Nilai Ekspor
2013
-30
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6
2012
2014
g.Volume Ekspor
-40
Grafik III.4.5.Perkembangan Nilai dan Volume
Ekspor
140 %, yoy
120
100
80
80
60
60
40
40
%
20
20
0
0
-40
2014
MAKANAN OLAHAN
KENDARAAN BERMOTOR RODA 4 DAN LEBIH
Grafik III.4.6. Perkembangan Nilai Ekspor Komoditas
Utama
100
-20
2013
PAKAIAN JADI
ALAT LISTRIK
INDUSTRI
1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6
2011
2012
2013
2014
-60
(20)
(40)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6
-80
2011
g.Nilai Impor
g.Volume Impor
Grafik III.4.7.Perkembangan Nilai dan Volume
Impor
2012
gBarang Konsumsi
2013
gBarang Modal
2014
Grafik III.4.8.Nilai Impor Berdasarkan Jenis
Laporan Nusantara| 90
Kinerja Sektor Utama
Sektor Jasa Keuangan, Real Estate, dan Jasa Perusahaan
Kinerja di sektor jasa keuangan, real estate, dan jasa perusahaan pada triwulan II 2014 terjaga pada level
yang stabil. Kinerja perbankan mengalami penurunan cukup signifikan terkait dengan tren perlambatan
kredit sebagai pengaruh tingkat suku bunga yang relatif tinggi. Hal ini berdampak pada melambatnya
pertumbuhan nilai tambah bruto (NTB) perbankan secara kuartalan menjadi sebesar 0,6% (qtq) pada
triwulan laporan, dari triwulan I 2014 sebesar 8,6% (qtq). Meskipun provisi dan komisi perbankan masih
terjaga, penerimaan bunga menurun cukup signifikan. Kinerja lembaga keuangan nonperbankan khususnya
perusahaan leasing juga tumbuh dalam level terbatas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mampu
tumbuh lebih tinggi pada triwulan II 2014 di tengah dinamika politik pada periode Pemilu dan adanya
tekanan pada neraca perdagangan dan nilai tukar.
Sektor jasa keuangan, real estate, dan jasa perusahaan di Jakarta pada triwulan III 2014 diproyeksikan
tumbuh relatif stabil. Pertumbuhan kredit perbankan diperkirakan juga akan stabil dengan dukungan
terutama dari potensi peningkatan investasi. Meski demikian, pertumbuhan konsumsi dan ekspansi bisnis
yang terbatas akan menahan pertumbuhan kredit konsumsi dan modal kerja usaha. Adapun kinerja pasar
modal diperkirakan akan mengalami peningkatan di awal triwulan III 2014, seiring dengan optimisme pasar
terhadap hasil Pemilu. Namun, penguatan IHSG ini diprediksi terbatas dengan adanya proses judicial review
hasil Pemilihan Presiden serta potensi kembali terjadinya defisit transaksi berjalan. Selain itu, terdapat
pengaruh faktor global terutama dari penguatan ekonomi Amerika Serikat dan pengurangan stimulus
moneter yang berpotensi mendorong arus dana modal keluar. Sementara itu, kinerja perusahaan real
estate dan jasa perusahaan diperkirakan tumbuh terbatas pasca-Pemilu 2014 terkait dengan masih adanya
kecenderungan menunda (wait and see) dari investor properti maupun pelaku bisnis.
Sumber : CEIC, diolah
Grafik III.4.9. Perkembangan Indeks Pasar Keuangan
Sumber : CEIC, diolah
Grafik III.4.10. Pertumbuhan Pasar Keuangan
Sektor Industri Pengolahan
Kinerja sektor industri pengolahan Jakarta pada triwulan II 2014 melambat menjadi 3,4% (yoy) setelah
tumbuh sebesar 3,9% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Perlambatan di sektor industri pengolahan ini
terkait dengan terbatasnya permintaan, terutama di pasar domestik, sejalan dengan melambatnya
perekonomian nasional. Meskipun produksi industri pengolahan tumbuh melambat, ekspor Jakarta
menunjukkan pertumbuhan yang meningkat. Hal ini ditengarai bahwa pemenuhan sebagian ekspor
Laporan Nusantara| 91
manufaktur tersebut berasal dari sisa produksi (stok) pada triwulan I 2014. Kondisi ini terkonfirmasi oleh
data pendukung yang menunjukkan penurunan tajam indeks produksi industri dan impor bahan baku pada
triwulan II 2014, setelah tumbuh signifikan pada triwulan sebelumnya.
Pertumbuhan sektor industri pengolahan pada triwulan III 2014 diprediksi meningkat sebesar 3,6% (yoy)
dengan dukungan peningkatan permintaan global pada ekspor produk manufaktur Jakarta. Ekspor produk
manufaktur Jakarta diprediksi cukup kompetitif dengan kondisi nilai tukar saat ini. Adapun potensi
peningkatan ekspor terutama pada industri kendaraan bermotor dan komponen yang telah melakukan
ekspansi produksi dan memiliki pasar tujuan ekspor. Peluang diversifikasi ekspor juga terdapat pada produk
bahan kimia dan farmasi. Dari sisi domestik, kinerja sektor industri didukung oleh permintaan Lebaran
terutama pada produk makanan dan minuman. Adanya kenaikan tarif listrik untuk industri golongan R3
(nonpublik) dan pola konsumsi pasca-Lebaran yang cenderung melemah, berpotensi menahan kinerja
sektor industri pengolahan untuk dapat tumbuh lebih tinggi.
140,000
Unit
Indeks 120
120,000
115
100,000
110
80,000
105
60,000
100
40,000
20,000
95
0
90
1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6
2011
2012
Produksi Kedaraan Bermotor
2013
2014
Indeks Produksi Industri (skala kanan)
Sumber : CEIC diolah
Grafik III.4.11. Perkembangan Ekspor Manufaktur
%
60
50
40
30
20
10
0
-10
-20
-30
-40
I
II
III
2011
IV
I
II
III
IV
I
2012
II
III
2013
IV
I
II
2014
gImpor Bahan Baku
gProduksi Manufaktur Besar & Sedang
gProduksi Industri Mikro & Kecil
Sumber : Survei Industri Manufaktur – BPS DKI Jakarta
Grafik III.4.12. Impor Bahan Baku di Jakarta
Sektor Konstruksi
Pada triwulan II 2014, sektor konstruksi tumbuh relatif stabil sebesar 5,7% (yoy) dengan dukungan proyek
pembangunan infrastruktur dan berlanjutnya proyek pembangunan properti komersial. Pertumbuhan
sektor konstruksi yang relatif terbatas ini, tercermin dari konsumsi semen yang tumbuh dalam level
moderat (Grafik III.4.13). Di sisi lain, data penjualan bahan konstruksi berupa logam dan tanah liat
menunjukkan pertumbuhan penjualan yang meningkat (Grafik III.4.14). Hal ini ditengarai sebagai upaya
untuk menyimpan bahan-bahan konstruksi sebagai stok untuk mengantisipasi peningkatan harga.
Kinerja sektor konstruksi pada triwulan III 2014 diperkirakan akan meningkat. Hal ini terkait dengan
peningkatan intensitas beberapa proyek pembangunan infrastruktur skala besar, yakni proyek MRT tahap I
dan pelabuhan Kalibaru (New Tanjung Priok Port). Intensitas proyek konstruksi MRT tahap I semakin
meningkat dengan dimulainya pengerjaan bawah tanah. Sebagai dampak dari proyek MRT tersebut, juga
dilakukan pembongkaran dan relokasi stadion Lebak Bulus serta prasarana maupun sarana lainnya.
Konstruksi fisik pelabuhan Kalibaru juga diperkirakan akan semakin intensif pada triwulan III 2014, sejalan
dengan target penyelesaian di akhir 2014. Di samping infrastruktur, proyek pembangunan properti
komersial yang sudah dalam tahap konstruksi juga masih berlanjut dalam intensitas yang tidak terindikasi
menurun. Hal ini ditengarai sebagai strategi pengembang untuk mengantisipasi membaiknya prospek
sektor properti di Jakarta yang diprediksi terjadi pada akhir 2014.
Laporan Nusantara| 92
600
Ribu Ton
%, yoy
500
100
300
80
250
60
400
(%, yoy)
200
40
300
150
20
200
0
100
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6
2011
2012
Konsumsi Semen (ribu ton)
2013
2014
g.Konsumsi Semen (skala kanan)
100
-20
50
-40
0
1
-50
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
1
2
2013
Bahan konstruksi dari logam
3
4
5
6
2014
Bahan konstruksi dari tanah liat
Semen
Sumber : CEIC diolah
Grafik III.4.13. Konsumsi Semen di Jakarta
Grafik III.4.14. Pertumbuhan Penjualan Bahan
Bangunan di Jakarta
PERKEMBANGAN INFLASI
Tekanan inflasi Jakarta hingga Juli 2014 menunjukkan tren yang menurun. Inflasi Juli 2014 tercatat sebesar
5,1% (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan dengan inflasi pada triwulan I 2014 sebesar 7,5% (yoy).
Penurunan inflasi yang tajam tersebut terkait dengan faktor base effect dari kenaikan harga BBM bersubsidi
pada Juli 2013 (Grafik III.4.15). Sepanjang triwulan II 2014, tekanan inflasi lebih banyak bersumber dari
inflasi administered prices, sebagai dampak dari kebijakan kenaikan tarif listrik, angkutan udara, dan bahan
bakar rumah tangga (LPG). Adapun tekanan inflasi pangan relatif tinggi pada triwulan II 2014, didorong
terutama oleh komoditas daging dan telur ayam ras sebagai pengaruh kebijakan pengurangan pasokan day
old chicks (DOC) oleh Kementerian Perdagangan serta kenaikan permintaan memasuki bulan Ramadhan.
Tren penurunan laju inflasi diperkirakan masih akan berlanjut pada triwulan III 2014. Penurunan inflasi
terkait dengan melemahnya permintaan pasca-Lebaran. Harga komoditas pangan diprediksi kembali
normal dan bahkan sejumlah komoditas pangan berpotensi mengalami penurunan harga. Tekanan inflasi
terbesar diperkirakan bersumber dari inflasi inti dan administered prices. Selain tren kenaikan harga emas
yang masih terus berlanjut sebagai pengaruh faktor global, dampak penyesuaian tarif listrik per 1 Juli 2014
masih berpotensi memberikan kontribusi pada inflasi. Hal ini mengingat perhitungan tarif listrik pascabayar
periode Juli 2014 baru dibukukan pada Agustus 2014. Di sisi lain, kebijakan pembatasan penjualan solar
bersubsidi di Jakarta Pusat diprakirakan tidak memberikan dampak signifikan.
Koordinasi Pengendalian Inflasi
Penguatan koordinasi pengendalian inflasi dilakukan baik di internal Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID)
Provinsi DKI Jakarta maupun eksternal dengan TPID di daerah lain. Rakor Wilayah TPID Provinsi DKI Jakarta,
Jawa Barat dan Banten dilakukan pada bulan Juni 2014 untuk membahas isu peningkatan perdagangan
antardaerah. Selain itu juga dilakukan koordinasi dalam menjaga kelancaran distribusi pangan dan stabilitas
harga pangan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 1435 H. Pada Juli 2014, TPID Provinsi DKI Jakarta
meluncurkan portal Pusat Informasi harga Pangan Strategis (PIHPS) yang dinamakan Informasi Pangan
Jakarta (http://infopangan.jakarta.go.id/). Portal informasi ini memuat informasi harga 34 komoditas
pangan strategis di sebelas pasar tradisional dan dua pasar induk di Jakarta.
Laporan Nusantara| 93
Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah
Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah
Grafik III.4.15. Perkembangan Inflasi
Grafik III.4.16. Disagregasi Inflasi
STABILITAS SISTEM KEUANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM PEMBAYARAN
Ketahanan Sektor Korporasi
Kinerja di sektor jasa keuangan, real estate, dan jasa perusahaan pada triwulan II 2014 terjaga pada level
yang stabil. Penyaluran kredit di Jakarta tumbuh sebesar 18,8% pada triwulan II 2014, lebih rendah
dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 21,8%. Hal ini sejalan dengan
kebijakan stabilisasi dan pengetatan moneter untuk menurunkan pertumbuhan kredit. Berdasarkan
jenisnya, perlambatan kredit terutama terjadi pada kredit modal kerja, terkait terbatasnya ekspansi bisnis
dan tren peningkatan suku bunga kredit. Sementara itu, kredit investasi dan konsumsi dalam tren tumbuh
meningkat.
% yoy
50
1,400
35
40
1,200
30
30
1,000
25
20
800
20
10
600
15
0
400
10
(10)
200
5
(20)
0
0
Triliun Rp
1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6
2011
2012
Kredit
2013
2014
gKredit
Grafik III.4.17. Kinerja Penyaluran Kredit
Perbankan
% yoy
(30)
1 2 3 4 5 6 7 8 9101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9101112 1 2 3 4 5 6
2011
2012
gKredit Modal Kerja
gKredit Investasi
2013
2014
gKredit Konsumsi
Grafik III.4.18. Penyaluran Jenis Kredit Perbankan
Berdasarkan sektoral, penyaluran kredit ke bidang jasa real estate, perdagangan besar dan eceran serta
perantara keuangan mengalami penurunan. Penurunan kredit di bidang real estate sejalan dengan
perlambatan sektor properti, sedangkan penurunan kredit di sektor perdagangan ditengarai sebagai
pengaruh dari menurunnya kredit modal kerja. Terkait kredit di bidang real estate, perlambatan terjadi
pada kredit peruntukan apartemen (KPA) dan kredit multiguna. Sementara itu, kredit untuk hunian
dibawah tipe 21 dan kredit sepeda motor tumbuh meningkat. Walaupun kredit peruntukan apartemen
menurun, namun diprediksi tidak terlalu berpengaruh pada kinerja sektor properti, mengingat masih
Laporan Nusantara| 94
adanya kemampuan konsumen untuk melakukan pembelian secara tunai. Di sisi lain, kredit ke sektor
industri pengolahan tumbuh meningkat sejalan dengan peningkatan aktivitas produksi.
Dari sisi risiko kredit, yang diindikasikan oleh porsi nonperforming loans (NPL) terhadap total kredit, terlihat
adanya peningkatan porsi NPL untuk keseluruhan jenis kredit korporasi di Jakarta dari 1,4% pada Maret
2014 menjadi 1,5% pada Juni 2014. Porsi NPL tertinggi masih terjadi di sektor industri dan konstruksi
sebesar masing-masing 2,4% dan 2,2% pada Juni 2014. Masih tingginya NPL pada kedua sektor tersebut
tidak terlepas dari kinerja sektor industri dan konstruksi yang masih melambat pada triwulan II 2014.
Sementara itu, kecenderungan peningkatan risiko kredit juga terlihat pada sektor perdagangan besar dan
eceran yang ditengarai terkait dengan tingkat suku bunga.
120
5.00
% yoy
%
Porsi NPL Industri
Porsi NPL Perdagangan
Porsi NPL Konstruksi
Porsi NPL Real Estate & Jasa Perusahaan
Industri Pengolahan
100
Perdagangan Besar & Eceran
4.00
Perantara Keuangan
80
Real Estate
3.00
60
40
2.00
20
1.00
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6
(20)
2011
2012
2013
2014
0.00
1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6
2011
Grafik III.4.19. Kredit Bank berdasarkan Sektor
Ekonomi
2012
2013
2014
Grafik III.4.20. Rasio NPL Kredit Sektor Utama Perbankan
Ketahanan Sektor Rumah Tangga
Kredit sektor rumah tangga, yang utamanya kredit konsumsi, dalam tren menurun pada triwulan II 2014
sebagai dampak tren kenaikan suku bunga. Secara umum, peningkatan suku bunga kredit lebih banyak
terjadi pada kredit baru dan kredit bunga yang mengambang. Selain itu, pertumbuhan kredit, yang
jumlahnya melampaui pertumbuhan DPK, serta meningkatnya LDR perbankan menyebabkan sejumlah bank
mengurangi penyaluran kredit, khususnya kredit konsumsi. Berdasarkan jenisnya, perlambatan penyaluran
kredit sektor rumah tangga terutama pada kredit pemilikan rumah (KPR) untuk hunian tipe di atas 70 meter
persegi. Sementara pembiayaan kredit multiguna, KPR untuk hunian tipe 22 hingga 70 meter persegi dan
kendaraan roda empat tercatat tumbuh sedikit meningkat pada triwulan II 2014. Hal ini disebabkan oleh
semakin banyaknya rumah tangga kelas menengah yang masih memiliki repayment capacity cukup
memadai.
Secara umum, ketahanan sistem keuangan rumah tangga masih terjaga, meskipun terlihat adanya tren
peningkatan porsi NPL pada sebagian kredit rumah tangga baik untuk keperluan multiguna, pembiayaan
kendaraan bermotor maupun perumahan pada triwulan II 2014. Pada kredit subsektor perumahan, porsi
NPL tertinggi terdapat pada KPA sampai dengan tipe 21 sebesar 3,2% pada Mei 2014. Meski demikian risiko
kredit untuk rumah sampai dengan tipe 21 ini dalam tren menurun. Hal ini berbeda dengan risiko kredit
untuk rumah tipe 22 - 70 dan rumah toko (ruko) serta rumah kantor (rukan) yang dalam tren meningkat
semenjak awal 2014. Porsi NPL untuk KPR tipe 22-70 dan ruko/rukan masing-masing sebesar 2,4% di Mei
2014.
Laporan Nusantara| 95
% yoy
170
KPR Tipe 22 s.d. 70
KPR Tipe Diatas 70
Roda Empat
Keperluan Multiguna
120
70
20
(30)
(80)
1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6
2011
2012
2013
2014
Grafik III.4.21. Perkembangan Kredit Perbankan ke
Rumah Tangga
6
%
Grafik III.4.22. Kinerja Penyaluran Kredit LK
NonPerbankan
6
5
5
4
4
3
3
2
2
1
1
0
%
0
1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6
2011
2012
Rasio NPL Sepeda Motor
2013
-1
2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6
2014
Rasio NPL Roda Empat
Rasio NPL Keperluan Multiguna
Grafik III.4.23. Rasio NPL Kredit Rumah Tangga
2012
Rasio NPL KPRTipe 22 s.d.70
Rasio NPL KPA s.d.Tipe 21
2013
2014
Rasio NPL Ruko/Rukan
Grafik III.4.24. Rasio NPL Kredit Perumahan
Pembiayaan Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
Kredit sektor UMKM di Jakarta menunjukkan peningkatan pertumbuhan pada triwulan II 2014, yang
disertai dengan peningkatan NPL pada level yang moderat. Kredit UMKM tercatat tumbuh sebesar 9% (yoy)
pada akhir Mei 2014, lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada akhir triwulan I 2014 sebesar
6,6% (yoy). Membaiknya iklim usaha, sebagai pengaruh dari terjaganya kondisi ekonomi makro dan adanya
faktor belanja pemilu, ditengarai sebagai faktor yang mendorong pertumbuhan kredit UMKM di Jakarta.
Selain itu, adanya ketentuan Otoritas Jasa Keuangan untuk mengalokasikan 15% kreditnya ke UMKM pada
tahun 2015, mendorong perbankan mulai secara bertahap menyalurkan dana kredi ke UMKM. Risiko kredit
UMKM di DKI Jakarta, walaupun mengalami kenaikan, masih tergolong rendah, yaitu sebesar 2,3% pada
bulan Juni, apabila dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Kenaikan tarif listrik dan pembatasan
BBM bersubsidi yang berakibat pada kenaikan biaya produksi, merupakan salah satu faktor risiko bagi
pembiayaan sektor UMKM pada triwulan III 2014.
Kinerja Sistem Pembayaran
Sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi Jakarta, nilai transaksi melalui RTGS pada triwulan II
2014 mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Nilai transaksi RTGS pada
triwulan II 2014 tercatat sebesar Rp91,7 triliun atau sebanyak 24.087 transaksi per hari. Realisasi tersebut
lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp82 triliun atau sebanyak 23.928
Laporan Nusantara| 96
transaksi per hari. Sementara itu, transaksi melalui kliring pada triwulan II 2014 mengalami peningkatan
baik secara nilai maupun volume, yaitu tercatat sekitar Rp6,8 triliun dengan volume rata-rata sekitar
300.000 warkat. Hal ini diperkirakan terkait juga dengan adanya belanja Pemilu tahun 2014.
Kinerja Pengelolaan Uang Tunai
Berdasarkan data, Jakarta mengalami net outflow sebesar Rp 17,26 triliun pada triwulan II 2014.
Peningkatan outflow yang tercatat lebih besar dibandingkan dengan inflow ditengarai terkait dengan
kegiatan Pemilu 2014. Adapun temuan uang palsu di Jakarta tetap melanjutkan tren penurunan sejalan
dengan semakin ketatnya pengawasan.
Grafik III.4.25. Transaksi Kliring
Grafik III.4.26. Inflow - Outflow
PROSPEK PEREKONOMIAN
Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Merujuk pada kondisi perekonomian saat ini dan mencermati prospek serta risiko ke depan, pertumbuhan
ekonomi Jakarta untuk keseluruhan tahun 2014 diprakirakan stabil dibandingkan dengan tahun 2013.
Sesuai prakiraan awal, proyeksi pertumbuhan ekonomi Jakarta masih pada kisaran 6,0% - 6,4% (yoy),
meskipun terdapat kecenderungan bias ke bawah. Masih kuatnya daya beli dan konsumsi masyarakat
menengah atas di Jakarta menjadi kunci pertumbuhan, di samping adanya potensi perbaikan investasi dan
ekspor. Indeks keyakinan dan ekspektasi konsumen Jakarta terhadap kondisi perekonomian meningkat
tajam semenjak awal triwulan II 2014. Adapun faktor yang mendasari sentimen positif dan optimisme
terhadap kondisi perekonomian adalah berlangsungnya Pemilu secara baik.
Membaiknya investasi juga terkait dengan stabilitas ekonomi makro dengan dukungan kebijakan moneter,
fiskal dan sektor riil. Di samping itu, komitmen kuat dari pemerintah baik pusat maupun daerah untuk
meningkatkan daya saing juga menjadi faktor pendukung pertumbuhan investasi ke depan. Pemerintah
Daerah telah berkomitmen dan memprioritaskan pengembangan infrastruktur fisik dan digital, perbaikan
faktor enablers lain di Jakarta seperti kemudahan berusaha (PTSP DKI Jakarta) dan layanan publik, yang
mencakup sistem transportasi, pendidikan dan kesehatan.
Peluang perbaikan ekspor didukung oleh berlanjutnya pemulihan perekonomian global secara bertahap.
Selain itu, perbaikan ekspor didukung oleh peningkatan produktivitas industri manufaktur Jakarta di tengah
semakin meningkatnya biaya produksi terkait dengan upah pekerja maupun tarif energi. Hal ini tercermin
Laporan Nusantara| 97
dari tren peningkatan impor barang modal semenjak 2013. Peningkatan ekspor juga didukung oleh upaya
perbaikan kinerja logistik, khususnya di pelabuhan Tanjung Priok.
Di sisi sektoral, prospek perbaikan kinerja diprakirakan terjadi pada sektor industri pengolahan dan sektorsektor non-tradable, utamanya sektor bangunan serta sektor pengangkutan dan telekomunikasi.
Peningkatan kinerja sektor bangunan, selain didukung oleh pembangunan infrastruktur jangka panjang
berskala besar, juga dipengaruhi oleh potensi perbaikan sektor properti di Jakarta terkait dengan peluang
investasi pasca-implementasi MEA pada tahun 2015. Sementara itu, pertumbuhan subsektor pengangkutan
didorong oleh peningkatan layanan transportasi publik termasuk pengoperasioan bandara Halim
Perdanakusuma. Sejalan dengan peningkatan infrastruktur digital, kinerja subsektor telekomunikasi
diyakini akan terus terakselerasi ke depan.
Prospek Inflasi
Tekanan inflasi Jakarta pada semester II 2014 diprakirakan terus menurun dibandingkan dengan periode
yang sama tahun 2013. Inflasi Jakarta untuk keseluruhan tahun 2014 diprakirakan sebesar 5,6% (yoy).
Adapun faktor risiko terbesar terkait dengan wacana perluasan kebijakan pembatasan BBM bersubsidi pada
tahun 2014 untuk meningkatkan ruang fiskal dan menekan potensi defisit APBN yang lebih besar. Selain itu,
dampak El Nino yang mengganggu pasokan pangan ke Jakarta juga masih menjadi risiko pada semester II
2014. Peningkatan kerjasama perdagangan antardaerah menjadi kunci dalam menjaga ketersediaan
pasokan dan keterjangkauan harga pangan strategis. Terkait dengan inflasi di kelompok inti, potensi
peningkatan harga emas internasional sebagai akibat dari krisis global dan kenaikan harga properti serta
sewa/kontrak rumah juga menjadi faktor risiko.
Tabel III.4.1.Prakiraan Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Jakarta
Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi
Wilayah
PDRB (%,yoy)
2011
2012
6.7
2013
2014
II
6.3
III
6.2
IV
5.6
Total
6.1
I
6.0
II
6.1
IIIp
IVp
Totalp
6.5
I
6.5
6.1
5.9-6.3
6.0-6.4
Sisi Permintaan
Konsumsi
6.2
5.8
5.3
5.6
6.2
5.6
5.7
6.4
5.7
6.0
5.7-6.1
5.9-6.3
Konsumsi swasta
6.2
6.3
5.7
5.9
6.0
5.7
5.8
6.1
6.1
6.1
5.8-6.2
6.0-6.4
Konsumsi Pemerintah
3.7
1.1
0.4
2.8
9.5
5.2
4.7
10.7
1.0
4.4
5.2-5.6
7.4-7.8
10.0
9.0
5.9
5.0
4.7
5.3
5.3
5.8
4.2
5.5
5.5-5.9
5.3-5.7
Ekspor
12.2
6.3
5.7
4.7
3.3
0.6
3.5
0.5
0.8
1.8
2.0-2.4
1.3-1.7
Impor
12.8
7.0
4.3
3.2
2.2
0.1
2.5
0.1
(1.1)
0.9
1.2-1.6
0.3-0.7
0.5-0.9
0.4-0.8
Pembentukan Modal Tetap Bruto
Sisi Produksi
Sektor pertanian
0.8
0.8
1.5
0.7
2.7
1.8
1.6
1.5
0.9
0.7
Sektor pertambangan & penggalian
8.6
(0.9)
(0.4)
(0.7)
(1.0)
(1.3)
(0.8)
(1.6)
(1.6)
(0.4)
Industri pengolahan
2.4
2.4
1.9
1.5
2.8
3.3
2.4
3.9
3.4
3.6
3.6-4.0
3.8-4.2
Listrik, gas & air bersih
4.0
4.5
3.8
2.6
1.7
2.5
2.9
2.1
2.6
3.0
3.9-4.3
4.0-4.4
Bangunan
7.9
6.9
6.5
6.3
5.7
6.1
5.7
5.8
5.7
6.0
5.8-6.2
6.1-6.5
Perdagangan, hotel & restoran
7.4
7.2
7.2
7.2
6.6
4.8
6.4
5.6
5.8
5.8
5.8-6.2
5.7-6.1
Pengangkutan & komunikasi
13.9
11.8
11.4
11.4
10.9
9.8
10.8
10.6
11.5
11.3
10.8-11.2
11.0-11.4
Keuangan, persewaan dan jasa perush.
5.0
5.4
5.7
5.4
5.0
4.6
5.2
4.6
4.6
4.6
4.7-5.1
4.7-5.1
Jasa-jasa
6.9
7.6
7.5
7.4
7.9
7.4
7.5
7.6
7.8
7.5
7.0-7.4
7.1-7.4
3.97
4.52
5.70
5.67
8.38
8.00
8.00
7.53
7.09
5.38
5.4-5.8
5.4-5.8
Inflasi IHK (%,yoy)
(-0.8) - (-0.4) (-0.6) - (-1.0)
Sumber: Ba da n Pus a t Statis tik, di ol a h
p
proyeks i Ba nk Indones i a
Laporan Nusantara| 98
Perekonomian Sumatera mencatat pertumbuhan ekonomi yang melambat pada triwulan II 2014. Secara
agregat, perekonomian Sumatera mencatat angka pertumbuhan sebesar 5,0% (yoy), lebih rendah
dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 5,4% (yoy). Perlambatan terjadi hampir di seluruh
daerah, terutama di daerah-daerah yang merupakan basis produksi tambang dan juga perkebunan.
Perlambatan terdalam di Sumatera tercatat terjadi di Provinsi Riau terkait penurunan kinerja lifting
minyak dan gas (migas). Perlambatan juga terjadi di daerah-daerah berbasis perkebunan seperti
Sumatera Utara, Jambi, dan Sumatera Selatan, yang disebabkan oleh penurunan produksi dan
pelemahan harga Crude Palm Oil (CPO) dan karet.
Memasuki triwulan III 2014, beberapa indikator perekonomian mengindikasikan perekonomian Sumatera
relatif tumbuh stabil. Permintaan domestik yang masih cukup kuat disertai dengan peningkatan realisasi
anggaran pemerintah diperkirakan turut menopang perekonomian Sumatera untuk tumbuh stabil, di
tengah neraca perdagangan yang belum membaik. Hal tersebut didukung peningkatan konsumsi
menjelang Hari Raya Idul Fitri dan libur sekolah serta ekspektasi konsumen yang masih terjaga. Konsumsi
pemerintah yang meningkat terjadi pada belanja pegawai, yaitu penyaluran gaji ke-13 dan belanja
barang. Sejalan dengan kenaikan belanja pemerintah, investasi pemerintah juga meningkat, ditopang
oleh mulai bergeraknya proyek infrastruktur pemerintah pasca proses lelang. Investasi swasta juga
diprakirakan akan menggeliat selepas pemilu presiden, yang sempat memberi faktor ketidakpastian
berinvestasi bagi para pelaku usaha. Kapasitas perekonomian untuk tumbuh lebih tinggi tertahan oleh
melambatnya ekspor neto akibat tren penurunan harga komoditas ekspor utama CPO dan karet.
Di sisi harga, perkembangan inflasi Sumatera hingga Juli 2014 menunjukkan tren yang terus menurun.
Melimpahnya pasokan bahan makanan, terutama komoditas bumbu-bumbuan, di sejumlah daerah di
Sumatera mendorong koreksi harga pada periode tersebut. Selain itu, tekanan inflasi pada periode bulan
Ramadhan dan hari raya Idul Fitri tidak setinggi pola historisnya. Hal ini tidak terlepas dari upaya
pemerintah dalam menjaga ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan pengelolaan ekspektasi
masyarakat melalui peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Hingga akhir triwulan III 2014, inflasi
Kawasan Sumatera diprakirakan sedikit meningkat dibandingkan awal triwulan. Hal tersebut terutama
bersumber dari inflasi administered prices terkait dengan perluasan kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL)
rumah tangga dan industri mulai 1 Juli 2014. Selain itu, fenomena El Nino berpotensi menurunkan
produksi dan kualitas hasil pertanian, yang selanjutnya berdampak pada ketersediaan pasokan bahan
pangan.
Pertumbuhan kredit perbankan di Sumatera pada akhir triwulan II 2014 sedikit melambat dibandingkan
dengan triwulan sebelumnya, seiring dengan perlambatan perekonomian. Kredit perbankan Sumatera
tumbuh 15,2% (yoy), melambat dibandingkan dengan triwulan I 2014 yang mencapai 16,1% (yoy).
Kendati, penyaluran kredit kepada sektor utama masih mengalami peningkatan, terdapat tren kenaikan
kredit bermasalah (nonperforming loan/ NPL) dari 2,6% pada triwulan I 2014 menjadi 2,8% pada triwulan
II 2014. Terus menurunnya harga komoditas ekspor utama mulai terlihat dampaknya pada tingkat
kolektibilitas kredit perbankan. Berdasarkan penggunaan, hampir separuh kredit di kawasan Sumatera
disalurkan dalam bentuk kredit modal kerja. Di tengah perlambatan ekonomi Sumatera, kegiatan UMKM
terindikasi masih menggeliat dengan pembiayaan kredit yang masih tinggi.
Di tengah perlambatan perekonomian Sumatera, transaksi keuangan melalui sistem pembayaran RTGS
dan kliring maupun aliran uang tunai melalui Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Sumatera mengalami
peningkatan. Pada triwulan II 2014 transaksi RTGS di Kawasan Sumatera tercatat sekitar Rp691,18 triliun,
meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar Rp550,42 triliun. Sementara itu, aliran
uang dari dan ke Sumatera tercatat mengalami net outflow sebesar Rp5,76 triliun. Sesuai pola
historisnya, Sumatera kembali mengalami net outflow pada triwulan II 2014, seiring dengan peningkatan
transaksi menjelang Idul Fitri dan masa libur sekolah.
Prospek perekonomian Sumatera pada tahun 2014 diprakirakan tumbuh lebih lambat dibandingkan
dengan tahun lalu. Perlambatan ekspor akibat tren penurunan harga jual komoditas utama dan
penurunan permintaan dari negara tujuan ekspor utama memberi pengaruh pada penurunan kinerja
perekonomian Sumatera. Selain itu, permasalahan struktural terkait keberlangsungan produksi SDA
migas turut mewarnai perlambatan perekonomian Sumatera. Provinsi Riau dan Aceh, sebagai daerahdaerah penghasil migas di Sumatera, terus tumbuh rendah seiring dengan menurunnya produktivitas
sumur-sumur minyak. Di sisi lain, konsumsi domestik yang diharapkan mampu menjadi pendorong
perekonomian tumbuh relatif terbatas. Sementara itu, menurunnya laju inflasi pada tahun 2014 tidak
sepenuhnya dapat dinikmati oleh masyarakat Sumatera akibat penurunan harga komoditas ekspor
utama. Mencermati perkembangan terkini dan berbagai risiko yang ada, perekonomian Sumatera pada
tahun 2014 diprakirakan tumbuh di kisaran 5,0% - 5,4%.
Di penghujung tahun 2014, inflasi Sumatera diprakirakan mengalami peningkatan. Perluasan kenaikan
TTL secara bertahap yang diimplementasikan pada bulan September dan November 2014 menjadi faktor
pendorong inflasi pada akhir tahun. Selain itu, juga terdapat risiko tekanan inflasi yang berasal dari
potensi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi menjelang akhir tahun mengingat konsumsi
saat ini yang telah melebihi kuota. Namun, meningkatnya laju inflasi tersebut diperkirakan dapat
tertahan, didukung oleh terjaganya pasokan bahan pangan dan ekspektasi inflasi masyarakat.
Mencermati perkembangan terakhir dan beberapa faktor risiko yang ada, maka inflasi agregat Sumatera
diprakirakan berada pada kisaran 4,6%-5,0% (yoy), masih lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2013
sebesar 8,8% (yoy).
L a p o r a n N u s a n t a r a | 100
PERTUMBUHAN EKONOMI
Perekonomian Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) pada triwulan II 2014 menunjukkan perlambatan.
Pertumbuhan ekonomi tercatat 5,4% (yoy) melambat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I 2014
sebesar 6,2% (yoy). Perlambatan terjadi di seluruh provinsi, kecuali Provinsi Lampung. Penurunan daya
beli masyarakat terjadi akibat perlambatan kinerja sektor pertanian dan sektor pertambangan dan
penggalian. Perlambatan sektor pertanian disebabkan oleh penurunan kinerja subsektor perkebunan
terutama komoditas karet. Sementara itu, perlambatan sektor pertambangan dan penggalian disebabkan
oleh penertiban izin usaha penambangan.
Memasuki triwulan III 2014, perekonomian Sumbagsel diprakirakan sedikit meningkat. Perbaikan
ekonomi Sumbagsel didukung oleh perbaikan konsumsi rumah tangga dan investasi. Meningkatnya
konsumsi masyarakat pada perayaan Idul Fitri mendorong berdampak positif bagi peningkatan aktivitas
di sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Namun, di sisi lain, perkembangan harga karet di pasar
ekspor yang belum menunjukkan adanya perbaikan yang berarti maka perbaikan kinerja ekonomi
berbagai daerah di Sumbagsel cenderung terbatas. Mencermati perkembangan berbagai indikator
terkini, maka pertumbuhan ekonomi Sumbagsel pada keseluruhan tahun 2014 diprakirakan berada pada
kisaran 5,6 – 6,1% atau di bawah prakiraan sebelumnya.
Konsumsi
Konsumsi Rumah Tangga
Konsumsi rumah tangga Sumbagsel pada triwulan II 2014 tercatat sebesar 6,0% (yoy), melambat
dibandingkan triwulan I 2014 sebesar 7,0% (yoy). Perlambatan konsumsi rumah tangga terjadi di seluruh
provinsi di Sumbagsel kecuali Bengkulu. Melambatnya kinerja konsumsi diperkirakan terkait dengan
aktivitas subsektor perkebunan khususnya komoditas karet yang masih melambat menyebabkan daya
beli masyarakat menurun. Perlambatan konsumsi juga tercermin dan hasil Survei Konsumen, Indeks
Kondisi Ekonomi saat ini melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Selain itu, kredit konsumsi juga
menunjukkan perlambatan khususnya Kredit Pemilikan Rumah (KPR) .
Berdasarkan perkembangan berbagai indikator konsumsi hingga Agustus 2014 ini, konsumsi rumah
tangga pada triwulan III 2014 diprakirakan membaik. Membaiknya konsumsi tersebut didukung oleh
peningkatan belanja menjelang Hari Raya Idul Fitri. Selain itu, penyelenggaraan beberapa kegiatan
berskala besar seperti Festival Krakatau di Lampung dan MTQ Internasional di Sumatera Selatan diyakini
dapat menarik wisatawan dan mendorong tumbuhanya Konsumsi Sumbagsel pada triwulan III 2014.
Indeks Keyakinan Konsumen dan Indeks Ekspektasi Konsumen yang masih tinggi didukung oleh
peningkatan ekspektasi pendapatan masyarakat.
L a p o r a n N u s a n t a r a | 101
IKK
150
IKE
Triliun
Rupiah
30.00
IEK
140
Kredit Konsumsi
gKredit (Skala Kanan)
%yoy
60
25.00
50
20.00
40
120
15.00
30
110
10.00
20
5.00
10
130
100
-
90
0
I
I
II
III IV
I
II
2011
III IV
I
II
2012
III IV
I
II III*
2013
II
III
IV
I
2011
II
III
IV
I
2012
II
III
IV
2013
I
II
2014
2014
*hingga Juli 2014
Grafik IV.1.1. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK)
Grafik IV.1.2. Kredit Konsumsi
Konsumsi Pemerintah
Konsumsi pemerintah pada triwulan II 2014 mengalami peningkatan didukung peningkatan penyerapan
belanja pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) terutama di provinsi Sumsel dan Babel.
Total belanja Pemerintah Daerah wilayah Sumbagsel pada triwulan II 2014 tumbuh 34,06% (yoy), lebih
tinggi dibandingkan triwulan I 2014 yang mengalami kontraksi 8,35% (yoy). Perbaikan tersebut terjadi
pada peningkatan realisasi belanja modal maupun belanja operasi. Peningkatan belanja tersebut
terindikasi dari peningkatan sektor bangunan pada triwulan II 2014.
Memasuki triwulan III 2014, konsumsi pemerintah diperkirakan tumbuh terbatas sesuai dengan polanya
yang melambat. Peningkatan konsumsi pemerintah baru mulai terjadi di triwulan IV. Konsumsi belanja
pemerintah daerah pada triwulan III 2014 yang masih terbatas juga tercermin dari simpanan Pemerintah
Daerah (Pemda) pada akhir triwulan II 2014 yang justru meningkat.
Rp Triliun
%yoy
Simpanan Pemda
16
gSimpanan Pemda (Skala Kanan) 60.00
14
40.00
12
20.00
10
8
0.00
6
-20.00
4
-40.00
2
0
-60.00
I
II
III
2011
IV
I
II
III
2012
IV
I
II
III
IV
2013
Grafik IV.1.3. Simpanan Pemda
I
II
%yoy
gPendapatan
40
30
20
10
(10)
(20)
I
II
III
2013
gBelanja
IV
I
II
2014
2014
Grafik IV.1.4. Pertumbuhan Pendapatan dan
Belanja Daerah
Investasi
Kinerja investasi Sumbagsel mengalami perlambatan pada triwulan II 2014. Pertumbuhan investasi
tercatat sebesar 5,0% (yoy), melambat dibandingkan triwulan I 2014 sebesar 7,0% (yoy). Perlambatan
investasi terjadi di seluruh provinsi di Sumbagsel, kecuali di Bangka Belitung (Babel). Perlambatan
investasi juga tercermin dari penurunan realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal
Dalam Negeri (PMDN) yang dicatat oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal. Realisasi PMA pada
L a p o r a n N u s a n t a r a | 102
triwulan II 2014 tercatat sebesar USD186,0 juta menurun dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar
USD356,0 juta. Sementara itu realisasi PMDN tercatat sebesar Rp 254,4 miliar menurun dibandingkan
triwulan lalu sebesar Rp 513,7 miliar. Selain itu, kredit investasi juga menunjukkan perlambatan dari
43,81% (yoy) pada triwulan I 2014 menjadi 21,55% (yoy) pada triwulan II 2014. Menjelang Pemilu
Presiden pada Juli 2014, banyak pelaku usaha yang menahan kegiatan investasinya atau wait and see
hingga pemilu selesai dilakukan.
Pascapemilu, kegiatan investasi diperkirakan kembali normal dan mengalami peningkatan pada triwulan
III 2014. Dengan disahkannya Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-api (KEK TAA) diperkirakan akan
berdampak positif bagi perbaikan kinerja investasi di Sumbagsel. Pembangunan infrastruktur khususnya
jalan dan pelabuhan barang mulai dilakukan pada triwulan III 2014. Pengembangan kawasan industri di
sekitar KEK TAA yang akan menopang perekonomian Sumbagsel khususnya Sumatera Selatan (Sumsel)
juga akan mulai dibangun pada triwulan III 2014. Peningkatan impor barang modal pada akhir triwulan II
2014 ini diperkirakan juga mendorong peningkatan investasi pada triwulan mendatang.
50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
Kredit Investasi
Rp Triliun
80
gKredit Investasi (Skala Kanan)
70
60
50
II
III
2011
IV
I
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
2014
PMA
2,000
300
250
30
200
20
150
10
100
1,500
1,000
500
50
-
I
II
III
2012
Grafik IV.1.5. Penyaluran Kredit Investasi
Rp Miliar
2,500
PMDN (Skala Kanan)
350
40
0
I
USD Juta
400
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
2014
Grafik IV.1.6. Realisasi Investasi
Perdagangan Luar Negeri
Ekspor
Pada triwulan II 2014, ekspor luar negeri Sumbagsel masih mengalami kontraksi sebesar 7,2% (yoy).
Kontraksi ekspor luar negeri Sumbagsel tersebut disebabkan oleh penurunan ekspor karet dan batu bara.
Harga internasional karet dan batubara yang masih belum mengalami perbaikan membuat kinerja ekspor
kedua komoditas utama tersebut masih mengalami penurunan. Selain itu, penurunan komoditas karet
juga disebabkan oleh pasokan karet dunia yang semakin berlimpah akibat munculnya produsen baru
seperti Vietnam, Myanmar, dan Laos. Di sisi lain, kebutuhan domestik batubara semakin meningkat
sehingga produksi batubara masih dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Memasuki triwulan III 2014, ekspor luar negeri Sumbagsel diperkirakan mengalami perlambatan.
Perlambatan tersebut disebabkan oleh harga komoditas di pasar internasional, khususnya karet yang
masih melambat hingga Agustus 2014. Selain itu, penggunaan batubara, terutama kalori rendah, akan
lebih banyak digunakan oleh PLN untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
L a p o r a n N u s a n t a r a | 103
%yoy
Juta Ton
Volume Ekspor Karet
gVolume Ekspor (Skala Kanan)
350
300
35
800
30
100
600
20
200
%yoy
80
25
250
Volume Ekspor CPO
gVolume Ekspor (Skala Kanan)
Juta Ton
60
15
150
5
50
0
0
-5
I
II III IV I
II III IV I
2011
2012
II III IV I
2013
40
400
10
100
20
0
200
-20
0
II
-40
I II III IV I II III IV I II III IV I II
2014
2011
2012
2013
2014
Grafik IV.1.8. Perkembangan Ekspor Minyak Sawit
Grafik IV.1.7. Perkembangan Ekspor Karet
Impor
Pada triwulan II 2014, nilai impor Sumbagsel mengalami perlambatan dibandingkan triwulan
sebelumnya. Hal tersebut sejalan dengan perlambatan konsumsi rumah tangga yang cukup dalam pada
triwulan ini. Impor barang konsumsi mengalami kontraksi yan cukup dalam dari tumbuh 225,0% (yoy)
pada triwulan lalu menjadi -19,1% (yoy) pada triwulan II 2014. Perlambatan terbesar terjadi pada
provinsi Sumsel akibat menurunnya kinerja sektor pertanian yang berdampak pada penurunan daya beli
masyarakat.
Pada triwulan III 2014, impor luar negeri diperkirakan mulai meningkat. Peningkatan impor terutama
terjadi pada kelompok barang modal dan bahan baku. Peningkatan tersebut diperkirakan akan terus
berlanjut hingga akhir tahun 2014, untuk mendukung kegiatan investasi pada semester II 2014. Hal
tersebut juga sesuai dengan pola impor yang akan mengalami peningkatan hingga triwulan IV.
Impor Barang Modal
%yoy
gImpor Barang Modal (Skala Kanan)
150
USD Juta
250
Ekspor
gEkspor (Skala Kanan)
USD Juta
3,500
Impor
gImpor (Skala Kanan)
%yoy
120
100
3,000
200
100
150
50
100
0
80
2,500
60
2,000
40
1,500
20
0
1,000
-20
50
-50
0
-100
I
II
III
IV
I
2011
II
III
IV
I
2012
II
III
2013
IV
I
II
500
-40
-
-60
I
II
III
2010
IV
I
II
III
2011
IV
I
II
III
2012
IV
I
II
2013
2014
Grafik IV.1.9. Perkembangan Impor Barang modal
Grafik IV.1.10. Perkembangan Ekspor Impor Luar
Negeri
Kinerja Sektor Utama Daerah
Sektor Pertanian
Kinerja sektor pertanian pada triwulan II 2014 mengalami perlambatan dibandingkan triwulan
sebelumnya. Perlambatan sektor pertanian terutama disebabkan oleh penurunan kinerja sub sektor
perkebunan. Produksi karet di Sumbagsel hingga Mei 2014 masih mengalami perlambatan. Selain itu,
kredit yang disalurkan ke sektor pertanian hingga triwulan II 2014 juga menunjukkan perlambatan. Harga
internasional karet yang belum mengalami perbaikan disebabkan oleh peningkatan suplai karet dunia
L a p o r a n N u s a n t a r a | 104
dengan bertambahnya negara produsen karet. Kualitas karet di wilayah Sumbagsel yang belum baik
membuat komoditas karet kurang mampu bersaing. Menghadapi tantangan harga karet yang semakin
meningkat, Gapkindo dan Pemerintah Daerah bekerjasama dalam peningkatan kualitas karet. Hal
tersebut dilakukan dengan mencanangkan program bahan olahan karet (bokar) bersih.
Memasuki triwulan III 2014, kinerja sektor pertanian pada triwulan ini diperkirakan masih melambat.
Harga karet di level pekebun juga belum mengalami perbaikan sehingga menurunkan motivasi pekebun
karet untuk melakukan produksi. Sejalan dengan hal tersebut harga CPO di pasar internasional juga
masih menurun. Pada subsektor tanaman bahan makanan, diprakirakan juga belum menunjukkan
peningkatan karena tanaman bahan makanan di Sumsel dan Lampung baru memasuki masa tanam.
Kredit Pertanian
%yoy
gKredit Pertanian (Skala Kanan)
100
Triliun Rupiah
25
90
80
70
60
50
40
30
20
10
-
20
15
10
5
I
II
III
2011
IV
I
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
2014
Ribu Ton
100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
-
Produksi Karet
%yoy
40
gProduksi Karet (Skala Kanan)
30
20
10
0
-10
-20
-30
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5
2011
2012
2013
2014
Sumber : Gapkindo Sumsel
Grafik IV.1.11. Kredit Sektor Pertanian
Grafik IV.1.12. Produksi Karet
Sektor Pertambangan
Sektor pertambangan Sumbagsel pada triwulan II 2014 mengalami perlambatan, sejalan dengan
perkiraan sebelumnya. Sektor pertambangan dan penggalian tercatat tumbuh sebesar 1,2% (yoy)
melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 1,7% (yoy). Data produksi batubara menunjukkan
sedikit penurunan di akhir triwulan II 2014. Selain itu, penertiban Izin Usaha Pertambangan (IUP)
memberikan dampak pada penurunan produksi pertambangan. Hal ini juga dikonfirmasi oleh perusahaan
penyewaan alat berat yang menyatakan terdapat penurunan pendapatan dari penyewaan oleh
perusahaan pertambangan batubara. Sementara itu, data produksi timah menunjukkan peningkatan
dibandingkan triwulan sebelumnya sejalan dengan pola penjualan yang mencapai puncaknya pada
pertengahan tahun. Selain itu, harga timah melalui Bursa Komoditas Derivatif Indinesia (BKDI) terbukti
mampu menjaga harga pada level yang tinggi dibandingkan harga di bursa lainnya.
Pada triwulan III 2014, kinerja sektor ini diperkirakan masih mengalami kontraksi. Dampak penertiban
IUP diperkirakan masih akan berdampak pada produksi batubara dan migas. Selain itu, beberapa
perusahaan migas mengeluhkan sulit dan mahalnya perizinan untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut.
Namun demikian, dengan diberlakukannya jalan khusus batubara pada Juli 2014 diperkirakan mampu
mendorong produksi batubara. Selain itu, berbagai infrastruktur pengangkut seperti double track kereta
api dan pelabuhan khusus di Kawasan Tanjung Api-api membuat potensi pertambangan batubara
menjadi semakin meningkat.
L a p o r a n N u s a n t a r a | 105
Produksi Batubara
kt
24000.0
gProduksi Batubara (Skala Kanan)
1400
%yoy
60
23500.0
1200
50
23000.0
1000
40
30
800
20
600
10
400
0
200
-10
0
-20
1
3
5
7
9
11
1
3
5
2012
7
2013
9
11
1
3
5
2014
Sumber: IHS McCloskey Coal Report
Grafik IV.1.13. Perkiraan Produksi Batubara
USD/MT
BKDI
Bloomberg
12
2
22500.0
22000.0
21500.0
21000.0
20500.0
8
2013
9
10
Sumber: Bursa
Bloomberg
11
1
2014
Komoditas
3
4
5
Derivatif
6
7
8*
Indonesia,
Grafik IV.1.14. Harga Timah
Sektor Industri Pengolahan
Pada triwulan II 2014, sektor industry pengolahan mengalami pertumbuhan signifikan. Industri
pengolahan pada triwulan II 2014 tumbuh sebesar 7,2% (yoy), meningkat pesat dibandingkan triwulan
sebelumnya sebesar 4,5% (yoy). Peningkatan industri pengolahan terutama terjadi pada industri
makanan dan minuman khususnya gula, kopi, dan makanan olahan lainnya di Sumsel dan Lampung.
Berdasarkan data impor, bahan baku terutama gula juga menunjukkan peningkatan. Peningkatan industri
juga terjadi pada kelompok furniture di Lampung. Industri pengolahan timah juga tumbuh lebih tinggi
dibandingkan triwulan sebelumnya yang ditandai dengan meningkatnya penjualan dan penurunan
persediaan.
Pada triwulan III 2014, industri pengolahan diperkirakan tumbuh melambat seiring dengan belum
membaiknya harga komoditas internasional dan puncak produksi pada pertengahan tahun. Harga karet
internasional masih tercatat turun 16,7% (yoy) hingga Agustus 2014. Sementara itu, harga CPO juga
masih melambat dari 5,3% (yoy) di triwulan II 2014 menjadi 2,3% (yoy). Hasil liaison menunjukkan bahwa
kinerja pengolahan timah diperkirakan akan mengalami perlambatan pada triwulan III 2014 setelah
tumbuh cukup tinggi pada triwulan II 2014.
Sumber : Bloomberg
*hingga Agustus 2014
Grafik IV.1.15. Harga Karet Internasional
Sumber : Bloomberg
*hingga Agustus 2014
Grafik IV.1.16. Harga CPO Internasional
L a p o r a n N u s a n t a r a | 106
PERKEMBANGAN INFLASI
Melambatnya laju inflasi Sumbagsel masih terus berlanjut hingga Juli 2014. Inflasi tercatat 3,77% (yoy),
menurun dibandingkan Maret 2014 dan Juni 2014 yang masing-masing tercatat tercatat 6,17% (yoy) dan
5,29% (yoy). Inflasi terendah terjadi di kota Lubuklinggau dan Palembang dengan masing-masing sebesar
2,75% (yoy) dan 2,76% (yoy). Penurunan terjadi karena mulai hilangnya dampak kenaikan bahan bakar
minyak pada tahun 2013 lalu (base effect) dan melimpahnya pasokan sejak Februari 2014 sehingga
tekanan kelompok volatile food berkurang. Namun demikian, rendahnya inflasi di beberapa kota masih
perlu diwaspadai dengan tingginya inflasi di kota Tanjungpandan dan Metro yang masing-masing tercatat
9,60% (yoy) dan 7,82% (yoy).
Tekanan inflasi di triwulan III 2014 diperkirakan akan melambat seiring dengan base year effect yang
sudah habis dan semakin eratnya koordinasi Pemerintah dalam menjaga pasokan di wilayahnya masingmasing. Capaian inflasi hingga Juli 2014 tercatat 4,51% (yoy), melambat dibandingkan Juni 2014. Namun
demikian, implementasi kenaikan Tarif Tenaga Listrik berkala untuk golongan industri dan rumah tangga
golongan 1300VA-5500VA serta pengurangan Bahan Bakar Minyak (BBM) dapat memberikan tekanan
khususnya kelompok administered price.
20.00 %yoy
Core
Adm. Prices
Volatile Foods
12
%yoy
Sumatera Selatan
Lampung
Sumbagsel
10
Bengkulu
Bangka Belitung
Nasional
15.00
8
10.00
6
5.00
4
0.00
2
6 8 10 12 2 4 6 8 10 12 2 4 6
0
I
2012
2013
2014
Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah
Grafik IV.1.17. Disagregasi Inflasi
II
III
2011
IV
I
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
Jul
2014
Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah
Grafik IV.1.18. Perkembangan Inflasi Sumbagsel
Koordinasi Pengendalian Inflasi
Komitmen Pemerintah Daerah dalam menjaga inflasi di wilayah Sumbagsel semakin terlihat. TPID baru
sudah terbentuk di Kota dan Kabupaten, baik Kota/Kabupaten yang dihitung inflasinya maupun tidak
dihitung. Penambahan TPID kota/kabupaten dari sebelumnya yang hanya TPID Kota Bandarlampung dan
Kota Metro di provinsi Lampung dan TPID kota Pangkalpinang di provinsi Babel bertambah TPID Kab.
Ogan Komering Ulu, Kota Palembang, dan kota Prabumulih di Sumsel, TPID Kab. Belitung dan Bangka
Tengah di Babel, TPID Kab. Seluma dan Kab. Bengkulu Utara di Bengkulu serta TPID Kab. Lampung Timur,
Kab. Lampung Selatan, Kab. Lampung Utara, Kab. Lampung Barat, dan Kabupaten Pringsewu di Lampung.
Pada akhir triwulan II 2014 dan awal triwulan III 2014 bertepatan dengan bulan puasa dan Idul Fitri.
Menurut data historis, inflasi bulanan pada periode tersebut mengalami peningkatan sejalan dengan
konsumsi masyarakat yang meningkat. TPID dan Pemerintah Daerah senantiasa berkoordinasi untuk
melakukan langkah-langkah antisipatif sebagai berikut:
1. Perbaikan infrastruktur jalan. Di Lampung, penyiagaan infrastruktur fisik pendukung juga ditambah
dengan penyiagaan alat berat di beberapa titik rawan longsor.
L a p o r a n N u s a n t a r a | 107
2. Pemantauan di beberapa titik strategis yang dilalui arus penumpang dan barang di Sumatera oleh
Dinas Perhubungan
3. Penguatan koordinasi untuk memprioritaskan kendaraan pengangkut bahan makanan dan khususnya
kapal yang memuat bahan pangan di Babel
4. Penguatan koordinasi TPID untuk menjaga pasokan
5. Beroperasinya jalan khusus batubara di Sumsel, sehingga angkutan batubara tidak lagi melewati jalan
umum di Sumsel.
STABILITAS SISTEM KEUANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM PEMBAYARAN
Ketahanan Sektor Korporasi
Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang masih melambat, pertumbuhan kredit Sumbagsel pada
triwulan laporan tercatat sebesar 18,7% (yoy), atau masih dalam tren perlambatan selama 3 triwulan
terakhir (Grafik IV.1.18). Hal tersebut konsisten dengan Indeks Ekspektasi Usaha Survei Kegiatan Dunia
Usaha (SKDU). Total kredit yang disalurkan di wilayah Sumbagsel pada triwulan II 2014 ini mencapai
Rp159,9 triliun. Perlambatan pertumbuhan kredit terjadi di seluruh provinsi Sumbagsel kecuali Sumatera
Selatan. Perlambatan terjadi pada kredit konsumsi dan kredit investasi, sementara kredit modal kerja
masih tumbuh meningkat. Secara sektoral, kredit sektor pertanian dan PHR mengalami perlambatan
(Grafik IV.1.19). Perlambatan kredit sektor pertanian terjadi seiring dengan penurunan beberapa harga
komoditas internasional yang meningkatkan risiko penyaluran kredit sektor pertanian. Namun demikian,
perlambatan kedua sektor tersebut tertahan oleh pertumbuhan kredit industri pengolahan yang
mengalami peningkatan. Walaupun demikian, NPL untuk kredit lapangan usaha Sumbagsel mengalami
perbaikan di level 2,51% dibandingkan triwulan lalu sebesar.
Triliun
Rupiah
Kredit
%yoy
gKredit (Skala Kanan)
180
60
160
50
140
120
40
100
gKredit Pertanian
gKredit Industri Pengolahan
300
gKredit Pertambangan
gKredit PHR
%yoy
200
30
80
60
20
40
10
20
0
100
0
I
0
I
II
III
2011
IV
I
II
III
2012
IV
I
II
III
IV
2013
Grafik IV.1.19. Penyaluran Kredit
I
II
2014
-100
II
III IV
2011
I
II
III IV
2012
I
II
III IV
2013
I
II
2014
Grafik IV.1.20. Pertumbuhan Kredit Sektor
Ekonomi Utama
Ketahanan Sektor Rumah Tangga
Kredit kepada bukan lapangan usaha atau sektor rumah tangga pada triwulan II 2014 tercatat sedikit
melambat dari 11,6% (yoy) pada triwulan I 2014 menjadi 10,3% (yoy). Walaupun secara keseluruhan
kredit kepada bukan lapangan usaha atau sektor rumah tangga tumbuh melambat, namun terjadi
peningkatan pada penyaluran kredit kepemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB)
(Grafik IV.1.23). Peningkatan kredit kepemilikan rumah untuk semua tipe rumah diiringi dengan
perbaikan NPL dari 3,49% (yoy) pada triwulan I 2014 menjadi 3,39% (yoy). Sementara itu, NPL KKB dan
kredit multiguna mengalami peningkatan masing-masing menjadi sebesar 1,80% dan 0,95%.
L a p o r a n N u s a n t a r a | 108
KPR, KPA, Rukan
KKB
gKPR KPA Rukan - Skala Kanan
gKKB - Skala Kanan
Triliun Rp
14.0
12.0
% yoy
3.5
120
3.0
100
10.0
80
8.0
60
6.0
40
4.0
2.0
0.0
II
III
IV
I
II
2011
III
IV
I
II
2012
III
IV
I
2013
%
NPL KPR KPA Rukan
NPL KKB
2.5
2.0
1.5
20
1.0
0
0.5
-20
0.0
-40
I
4.0
140
I
II
III
IV
I
II
III
IV
I
II
III
IV
I
II
II
2011
2014
Grafik IV.1.21. Penyaluran Kredit Tempat Tinggal
dan Kendaraan
2012
2013
2014
Grafik IV.1.22. NPL Kredit Rumah Tangga
Pembiayaan Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
Kredit UMKM pada triwulan II 2014 tercatat sebesar Rp44,7 triliun atau mempunyai porsi sebesar 28,0%
dari seluruh penyaluran kredit di Sumbagsel. Pertumbuhan kredit UMKM pada triwulan laporan tercatat
sebesar 25,4% (yoy) atau meningkat cukup signifikan dibandingkan triwulan I 2014 yang tumbuh sebesar
17,8% (yoy) (Grafik IV.1.27). Golongan yang mendominasi penyaluran kredit UMKM adalah golongan
kecil menengah dengan pangsa 77%. Secara sektoral, pangsa penyaluran kredit UMKM pada triwulan II
2014 didominasi oleh sektor perdagangan dan sektor pertanian (Grafik II.2.28). Dibandingkan triwulan
sebelumnya, pangsa kredit transportasi dan komunikasi mengalami peningkatan yang signifikan hingga
mencapai 10% dari total kredit UMKM triwulan II 2014. Namun demikian, pertumbuhan ini tidak disertai
dengan perbaikan kualitas kredit yang ditandai dengan NPL yang meningkat dari 3,44% pada triwulan I
2014 menjadi 4,23%.
Bank Indonesia bekerja sama dengan pemerintah daerah juga senantiasa mendukung pengembangan
UMKM dan edukasi kepada masyarakat guna mendukung perluasan akses keuangan. Pemerintah daerah
hendaknya membuat fokus pengembangan dan penguatan sektor usaha mikro kecil dan menengah agar
potensinya bisa dioptimalkan.
Kredit UMKM
Triliun Rupiah
50
40
%
gKredit UMKM (%yoy) - Skala Kanan
60
NPL (%) - Skala Kanan
50
40
30
Real Estate,
Jasa
Transport& Perusahaan
Gudang
3%
12%
30
20
Industri
5%
20
10
10
0
0
I
II
III
2011
IV
I
II
III
IV
2012
I
II
III
2013
IV
I
II
Pertanian
21%
PHR
54%
Konstruksi
5%
2014
Grafik IV.1.23. Penyaluran Kredit UMKM
Grafik IV.1.24. Pangsa Kredit UMKM
Kinerja Sistem Pembayaran
Di tengah perlambatan ekonomi Sumbagsel pada triwulan II 2014, kinerja sistem pembayaran non tunai
baik Real Time Gross Settlement (RTGS) maupun kliring pada triwulan II 2014 masih meningkat
dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan II 2014, transaksi RTGS mencapai Rp157,75 triliun atau
L a p o r a n N u s a n t a r a | 109
naik 5,1% (yoy). Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan transaksi pada triwulan I 2014 sebesar
Rp120,67 triliun atau tumbuh 2,9% (yoy). (Grafik IV.1.29). RTGS keluar wilayah Sumbagsel tercatat
sebesar Rp91,11 triliun, lebih kecil dibandingkan masuk ke wilayah Sumbagsel sebesar Rp47,28 triliun.
Transaksi kliring pada triwulan II 2014 tercatat sebesar Rp19,3 triliun rupiah, tumbuh 1,8% (yoy), lebih
tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan I 2014 sebesar 1,3% (yoy) (Grafik IV.1.30). Di sisi lain, jumlah
bilyet yang ditolak mengalami peningkatan dari 10.079 bilyet menjadi 11.873 bilyet atau tumbuh dari
6,2% (yoy) di triwulan I 2014 menjadi 21,5% (yoy). Dari sisi nominal jumlah bilyet yang ditolak mencapai
Rp398 miliar, tumbuh 25,5% (yoy) meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya.
140
Rp Triliun
RTGS
%yoy
gRTGS (Skala Kanan)
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
120
100
80
60
40
20
I
II
III
2011
IV
I
II
III
IV
I
II
2012
III
2013
IV
I
30
%yoy
Rp Triliun
Kliring
gKliring (Skala Kanan)
35
30
25
20
15
10
5
0
-5
25
20
15
10
5
-
I
II
III IV
2011
I
II
III IV
2012
I
II
III IV
2013
I
II
2014
2014
Grafik IV.1.25. Perkembangan RTGS Outgoing
Grafik IV.1.26. Perkembangan Perputaran Kliring
Kinerja Pengelolaan Uang Tunai
Aliran uang kartal di berbagai daerah di Sumbagsel triwulan II 2014 mengalami net outflow, sesuai
dengan pola normalnya. Net outflow ini terjadi di seluruh provinsi di Sumbagsel yang disebabkan oleh
menurunnya inflow dan meningkatnya outflow. Net inflow di wilayah Sumbagsel mencapai Rp3,2 triliun
rupiah. Di sisi lain, rasio pemusnahan uang lusuh terhadap uang kartal yang masuk ke kantor Bank
Indonesia mengalami sedikit peningkatan sejalan dengan upaya untuk menjaga ketersediaan uang layak
edar (clean money policy) bagi masyarakat luas. Pada triwulan ini, Kantor Perwakilan BI membuka kas
titipan baru di Kota Prabumulih, untuk memperlancar distribusi uang kartal di wilayah Sumsel.
Menjelang Idul Fitri, kantor Bank Indonesia di wilayah Sumbagsel melayani penukaran uang di kantor BI
dan juga bekerjasama dengan bank-bank komersial lainnya. Hal tersebut dilakukan agar pelayanan
kepada masyarakat dapat menjangkau lebih luas. Selanjutnya, seluruh kantor perwakilan BI juga
senantiasa memberikan edukasi keaslian uang rupiah agar masyarakat juga dapat membedakan uang
yang asli dan uang yang diragukan keasliannya, serta mengetahui mekanisme pelaporan jika menemukan
uang yang diragukan keasliannya tersebut.
PROSPEK PEREKONOMIAN
Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Mencermati perkembangan terakhir, pertumbuhan ekonomi Sumbagsel untuk keseluruhan tahun 2014
diperkirakan revisi ke bawah, melambat dibandingkan periode 2013. Perubahan ke bawah diakibatkan
oleh prospek perbaikan ekonomi global yang tidak secepat proyeksi sebelumnya, sehingga harga
komoditas utama internasional juga belum menunjukkan perbaikan. Kondisi mitra dagang komoditas
karet masih menunjukkan perlambatan, akibat melimpahnya pasokan di Tiongkok dan perlambatan
industri otomotif di Amerika Serikat, serta meningkatnya pasokan karet dari negara produsen
L a p o r a n N u s a n t a r a | 110
nontradisional. Kebijakan Ketentuan Ekspor Batubara dan Produk Batubara, yang mewajibkan
penambang untuk terdaftar menjadi Eksportir Terdaftar Batubara sebelum melakukan ekspor yang akan
mulai diberlakukan pada 1 September 2014 diperkirakan akan membuat tekanan yang bersifat
sementara bagi para penambang batubara di Sumbagsel.
Seiring dengan kondisi global yang penuh ketidakpastian, beberapa tantangan perlu diperhatikan untuk
menjaga pertumbuhan ekonomi Sumbagsel. Pemerintah Daerah, asosiasi, dan pelaku usaha perlu untuk
meningkatkan daya saing, melalui peningkatan kualitas dan hilirisasi pengolahan komoditas Sumsel serta
percepatan pembangunan infrastruktur. Menanggapi harga karet internasional yang masih belum
mengalami perbaikan, Pemda dan asosiasi sudah melakukan langkah perbaikan dengan mencanangkan
program bahan olahan karet (bokar) bersih.
Prospek Inflasi
Inflasi Sumbagsel pada tahun 2014 diperkirakan konsisten menurun dan kembali ke pola normalnya
pasca kenaikan BBM di tahun 2013. Prospek terjaganya inflasi didukung oleh perkiraan pasokan pangan
yang terjaga dengan koordinasi yang erat oleh TPID yang terus bertambah di setiap kota dan kabupaten.
Selain itu, dengan bertambahnya TPID, ekspektasi inflasi dapat diminimalisasi dengan penambahan
implementasi Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS).
Namun, masih terdapat potensi risiko yang membayangi kenaikan inflasi terutama kelompok
administered price antara lain kebijakan kenaikan harga listrik berkala untuk golongan industri besar dan
rumah tangga golongan 1300-5500 VA yang akan diberlakukan hingga akhir 2014, serta pembatasan
Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi melalui pembatasan penjualan solar dan penghapusan penjualan
premium di jalan tol.
Tabel IV.1.3. Prakiraan Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Sumatera Bagian Selatan
Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Wilayah
2013
2014
2011
2012
I
II
III
IV
Total
I
II
IIIp
IVp
Totalp
PDRB (%,yoy)
6.5
6.2
6
5.8
5.6
6.4
5.9
5.9
5.5
5.6
5.8-6.3
5.6-6.1
Sisi Permintaan
Konsumsi
6.5
6.5
7.2
7.1
8.3
7.3
7.5
6.8
5.9
6.1
7.0-7.5
6.4-6.9
Konsumsi swasta
6.2
6.6
7.3
7.7
8.1
8.1
7.8
7
6
6.5
7.6-8.1
6.7-7.2
Konsumsi Pemerintah
PMTB
7.9
11.6
5.5
11.4
6.1
8.7
3.1
7
9.3
4.3
3.9
7.5
5.5
6.8
5.4
6.3
5.2
5
3.7
5.4
3.8-4.3`
4.0-4.5
4.3-4.8
5.0-5.5
Ekspor
17
3.5
10.5
7.3
5.7
11
8.6
10.1
7.2
7.1
4.0-4.5
6.8-7.3
Impor
25.8
7.5
11.9
15
12.6
31.3
18
19.7
16.1
16.1
3.5-4.0
13.0-13.5
Sektor pertanian
5.1
5.1
1.7
3.2
3.2
10
4.4
5.9
3.4
3.1
2.7-3.2
3.5-4.0
Sektor pertambangan & penggalian
3.1
0.8
1.4
2.5
1
1.9
1.7
1.7
1.2
0.9
0.4-0.9
0.8-1.3
Industri pengolahan
5.3
5.1
8.1
7
5.8
5.6
6.6
4.5
7.2
6.5
4.1-4.6
5.5-6.0
Listrik, gas & air bersih
8.7
8.7
7.3
8.3
8.8
7.4
8.3
6.2
5.5
5.7
4.6-5.1
5.6-6.1
Bangunan
11.6
8.4
10.2
8.7
7.2
4.2
7.5
5.9
6.6
7.9
8.5-9.0
7.0-7.5
Perdagangan, hotel & restoran
7.1
7.6
8.6
6.9
7.1
5
6.9
7
7.6
7.9
9.5-10.0
7.8-8.3
Pengangkutan & komunikasi
12.2
11.3
8.9
8.8
7.5
7.1
8
7.6
7.7
8.4
9.0-9.5
8.0-8.5
Keuangan, persewaan dan jasa perush.
8.1
10.5
10.9
8.8
9.3
7.3
9
9
7.9
8.1
10.4-10.9
8.8-9.3
Jasa-jasa
7.9
8.4
8.8
7.2
10.5
6.7
8.3
7.8
6.4
7.5
7.3-7.7
7.2-7.7
4
3.7
6.2
4.9
7.6
7.6
7.6
6.2
5.3
4.5
4.4-4.9
4.4-4.9
Sisi Produksi
Inflasi IHK (%,yoy)
L a p o r a n N u s a n t a r a | 111
PERTUMBUHAN EKONOMI
Perekonomian wilayah Sumatera Bagian Tengah (Sumbagteng) mengalami perlambatan cukup dalam
dibandingkan dengan triwulan lalu. Berbeda dengan perkiraan sebelumnya, menurunnya kinerja ekspor
komoditas pertanian, masih rendahnya investasi, serta penurunan lifting migas yang signifikan
berdampak pada lebih rendahnya realisasi pertumbuhan ekonomi Sumbagteng. Pada triwulan II 2014
yang hanya tumbuh 4,5% (yoy), menurun dari 5,4% (yoy) pada triwulan I 2014. Penurunan kinerja ekspor
disebabkan oleh melemahnya harga dan penurunan produksi CPO dan karet di sejumlah daerah di
Sumbagteng. Sementara itu, faktor ketidakpastian politik di tahun pemilu menjadi penyebab investasi
tumbuh rendah.
Berbagai indikator ekonomi terkini menunjukkan kinerja ekonomi Sumbagteng mengalami sedikit
perbaikan pada triwulan III 2014. Pertumbuhan ekonomi, yang diprakirakan sebesar 4,6% (yoy), ditopang
oleh kegiatan konsumsi, baik rumah tangga maupun pemerintah, dan investasi. Masih cukup kuatnya
konsumsi yang ditopang oleh relatif terjaganya daya beli serta didukung oleh penyerapan anggaran
belanja pemerintah daerah mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di triwulan III 2014. Sementara
itu, kinerja investasi, baik swasta dan pemerintah, diprakirakan membaik pasca pemilu dan memasuki
semester II 2014. Meningkatnya aktivitas konsumsi tersebut berdampak pada peningkatan sektor
industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR). Untuk keseluruhan tahun 2014,
pertumbuhan ekonomi Sumbagteng diprakirakan tumbuh di kisaran 4,6%-5,0% (yoy).
Konsumsi
Konsumsi Rumah Tangga
Terjaganya daya beli masyarakat disertai penurunan laju inflasi berdampak pada meningkatnya konsumsi
rumah tangga di triwulan II 2014. Peningkatan yang terjadi di seluruh provinsi di Sumatera Bagian Tengah
(Sumbagteng) tersebut juga berasal dari kenaikan konsumsi di bulan Ramadhan dan masa liburan
sekolah. Selain itu, penyelenggaraan sejumlah kegiatan berskala nasional dan internasional seperti MTQ
Nasional XXV dan Bintan Triathlon di Kepulauan Riau serta Tour de Singkarak di Sumatera Barat mampu
mendorong konsumsi rumah tangga tumbuh signifikan dari 6,1% (yoy) pada triwulan I 2014 menjadi 7,3%
(yoy) pada triwulan II 2014.
Perkembangan terkini mengindikasikan konsumsi rumah tangga masih akan tumbuh kuat pada triwulan
III 2014. Konsumsi makanan dan minuman serta produk dan jasa transportasi diperkirakan meningkat
menjelang dan setelah hari raya Idul Fitri. Kenaikan konsumsi tersebut ditopang oleh daya beli yang
masih kuat sebagaiaman terindikasi dari hasil Survei Konsumen yang menunjukkan Indeks Keyakinan
Konsumen (IKK) masih berada pada level yang tinggi. Keyakinan tersebut ditopang oleh optimisme pelaku
usaha dan ketersediaan lapangan kerja seiring dengan stabilnya kondisi perekonomian (Grafik IV.2.1).
Namun demikian, penguatan konsumsi diperkirakan relatif terbatas, tercermin dari pertumbuhan kredit
konsumsi yang menurun (Grafik IV.2.2).
L a p o r a n N u s a n t a r a | 112
Grafik IV.2.1.Indeks Keyakinan Konsumen
Grafik IV.2.2. Penyaluran Kredit Konsumsi
Konsumsi Pemerintah
Kenaikan belanja pemerintah mulai terlihat di triwulan II 2014. Konsumsi pemerintah tumbuh tinggi dari
1,9% (yoy) di triwulan I 2014 menjadi 4,2% (yoy) di triwulan II 2014. Telah selesainya pengesahan APBD di
seluruh daerah berdampak pada meningkatnya kapasitas belanja pemda. Selain itu belanja barang
mengalami kenaikan sejalan dengan telah berlangsungnya sejumlah proyek pengadaan barang.
Peningkatan konsumsi pemerintah diprakirakan terus berlanjut di triwulan III 2014 sesuai dengan pola
historisnya. Kondisi ini sejalan dengan semakin besarnya nilai proyek pengadaan barang yang terealisasi
dan adanya penyaluran gaji ke-13. Meningkatnya konsumsi didukung oleh kapasitas belanja yang besar
dampak dari penyaluran DBH migas yang sempat tertunda di triwulan I 2014, terlihat dari simpanan dana
milik pemda di perbankan yang meningkat signifikan pada triwulan II 2014 (Grafik IV.2.3).
Grafik IV.2.3. Perkembangan Simpanan Pemda di
Bank Umum
Grafik IV.2.4. Realisasi dan Perkiraan Investasi
Triwulan I 2014 (SKDU)
Investasi
Kinerja investasi pada triwulan II 2014 tumbuh melambat menjadi 5,6% dibanding 5,9% pada triwulan
sebelumnya. Hal tersebut antara lain dipengaruhi oleh cenderung masih melemahnya harga komoditas
dan preferensi pelaku usaha untuk melihat situasi hasil pelaksanaan Pemilu. Kondisi ini terlihat juga pada
melambatnnya pertumbuhan kredit dan nilai investasi Penanaman Modal Asing (PMA) yang sebagian
besar investasi lebih diperuntukan untuk perawatan dan peremajaan mesin industri (Grafik IV.2.5 dan
Grafik IV.2.6).
L a p o r a n N u s a n t a r a | 113
Investasi diprakirakan mulai tumbuh meningkat pasca pemilu di triwulan III 2014. Telah selesainya proses
demokrasi yang berjalan lancar, memberikan kepastian bagi para pelaku usaha untuk mulai melakukan
investasi. Optimisme tersebut terkonfirmasi dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang
memperkirakan peningkatan investasi, terutama di sektor pertambangan (Grafik IV.2.4). Potensi
membaiknya investasi ke depan juga terlihat dari peningkatan jumlah proyek PMA dan PMDN di triwulan
II 2014. Selain dari sektor swasta, peningkatan investasi juga ditopang oleh aktivitas pemerintah dengan
mulai bergeraknya proyek infrastruktur pemerintah pasca proses lelang.
Jumlah Proyek
Juta US$/Miliar Rp
PMDN
PMDN (Miliar Rp)-skala kanan
300
PMA
PMA ( Juta US$)-skala kanan
250
4.500
4.000
Triliun Rp
%, yoy
60
Nominal
60
Pertumbuhan-sisi kanan
50
50
3.000
40
40
2.500
30
30
20
20
10
10
3.500
200
150
2.000
100
1.500
1.000
50
500
0
0
I
II
III
2012
IV
I
II
III
IV
2013
I
II
-
0
I
II
III
2011
IV
I
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
2014
2014
Sumber: Badan Koordinasi Penanaman Modal
Grafik IV.2.5.Investasi PMA dan PMDN
Grafik IV.2.6.Penyaluran Kredit Investasi
Perdagangan Luar Negeri
Ekspor
Tren perlambatan ekspor terus berlangsung bahkan mengalami kontraksi terutama akibat pelemahan
harga komoditas ekspor utama berbasis SDA. Terus menurunnya harga CPO di triwulan II 2014
berdampak pada melemahnya nilai ekspor Sumatera Barat dan Riau (Grafik IV.2.7). Selain itu masa
tanam dan kebijakan replanting membuat hasil produksi CPO dalam tren menurun pasca puncak masa
panen di akhir tahun 2013. Pelemahan harga juga terjadi pada komoditas karet yang berpengaruh
signifikan pada perekonomian Jambi. Dengan berbagai permasalahan tersebut, ekspor mengalami
kontraksi sebesar 0,7% (yoy) di triwulan II 2014 dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 3,9% (yoy).
Kinerja ekspor diprakirakan membaik di triwulan III seiring dengan meningkatnya produksi dan
permintaan komoditas ekspor utama. Di tengah penurunan harga CPO dan karet yang masih terjadi
sampai dengan pertengahan triwulan III 2014, mulai masuknya masa panen CPO dan membaiknya
permintaan akan karet mampu mendorong volume ekspor Sumbagteng. Kondisi tersebut ditopang oleh
perbaikan ekonomi India sebagai negara tujuan ekspor utama CPO dan menurunnya persediaan karet di
Tiongkok. Di luar komoditas berbasis SDA, berdasarkan liaison, ekspor elektronik dari Kepulauan Riau
berpotensi meningkat seiring dengan berlanjutnya pemulihan ekonomi global.
L a p o r a n N u s a n t a r a | 114
%, yoy
80
Ekspor Non Migas
%, yoy
150
Karet Mentah-skala kanan
CPO-skala kanan
120
60
90
40
60
20
30
0
0
(20)
(30)
(40)
(60)
I
II
III
IV
I
2011
II
III
IV
I
2012
II
III
2013
IV
I
II
2014
Grafik IV.2.7.Perkembangan Nilai Ekspor
Nonmigas dan Komoditas Utama
Grafik IV.2.8.Pertumbuhan Nilai Impor Menurut
Kategori Barang
Impor
Kontraksi juga terjadi pada impor yang masuk ke wilayah Sumbagteng pada triwulan II 2014 seiring
dengan depresiasi rupiah dan perlambatan kegiatan investasi. Pertumbuhan impor triwulan II 2014 di
Sumbagteng tercatat sebesar -4,0% (yoy) menurun dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 2,1%
(yoy). Melemahnya investasi di tahun pemilu berdampak pada kontraksi impor bahan baku yang
semakin dalam (Grafik IV.2.8). Selain itu, nilai tukar rupiah yang terbilang lemah menghambat aktivitas
impor karena relatif mahalnya harga barang impor .
Impor diprakirakan mulai tumbuh positif pada triwulan III 2014 sebagai dampak dari peningkatan
kegiatan investasi dan penguatan nilai tukar rupiah. Realisasi beberapa proyek infrastruktur berskala
besar, baik oleh pemerintah maupun swasta, diperkirakan berdampak pada kenaikan impor barang
modal. Indikasi kenaikan impor barang sudah mulai terlihat pada di triwulan II 2014. Selain itu
peningkatan konsumsi, yang ditopang oleh penguatan daya beli sebagai imbas dari apresiasi nilai tukar
rupiah, juga mendorong naik impor barang konsumsi.
Rp/kg
USD/MT
2.000
1.800
1.600
1.400
1.200
1.000
800
600
400
200
-
Harga TBS
Harga CPO dunia - sisi kanan
1.400
1.200
USD cent/kg
Rp/kg
50.000
45.000
Harga Bokar
Harga Karet Dunia - skala kanan
600
40.000
1.000
35.000
500
800
30.000
400
25.000
600
20.000
300
400
15.000
200
200
1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7
2011
2012
2013
2014
Sumber: Dinas Pertanian dan Bloomberg
Grafik IV.2.9. Harga Tandan Buah Segar (TBS)
Kelapa Sawit dan CPO Dunia
700
10.000
100
5.000
-
1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7
2011
2012
2013
2014
Sumber: Dinas Pertanian dan Bloomberg
Grafik IV.2.10. Harga Karet Mentah Domestik
(Bokar) dan Karet Mentah Dunia
Kinerja Sektor Utama Daerah
Sektor Pertanian
Kinerja sektor pertanian mengalami perlambatan seiring dengan terus berlanjutnya penurunan harga
komoditas perkebunan. Pada triwulan II 2014, sektor pertanian tumbuh sebesar 6,4% (yoy), melambat
dibandingkan dengan triwulan I 2014 sebesar 6,7% (yoy). Tren penurunan harga kelapa sawit dan karet
L a p o r a n N u s a n t a r a | 115
sebagai komoditas utama menjadi penyebab menurunnya nilai produk pertanian di Sumatera Barat dan
Jambi (Grafik IV.2.9 dan Grafik IV.2.10). Perlambatan lebih dalam tertahan oleh kinerja produksi tanaman
bahan makanan seiring masuknya musim panen beberapa komoditas pertanian, terutama beras. Hal ini
juga didukung perbaikan harga gabah di Sumbar yang berimbas pada membaiknya indeks Nilai Tukar
Petani (NTP) pada triwulan II 2014 (Grafik IV.2.11 dan Grafik IV.2.12).
Melemahnya sektor pertanian diprakirakan masih akan berlanjut pada triwulan III 2014 akibat belum
pulihnya harga komoditas perkebunan. Harga kelapa sawit dan karet yang terus menurun sampai dengan
bulan Juli 2014 menghambat perbaikan di sektor pertanian. Produksi karet juga masih terbatas akibat
implementasi rekomendasi Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) untuk mengurangi produksi
karet yang berorientasi ekspor sebesar 10% sebagai upaya untuk meningkatkan harga karet mentah di
pasar internasional. Selain itu juga terdapat risiko El Nino yang dapat berdampak negatif pada
produktivitas perkebunan kelapa sawit. Di sisi lain, terdapat potensi pemulihan harga karet seiring
dengan mulai berkurangnya suplai karet di Tiongkok. .
%, yoy
50
Rp/kg
5.500
Indeks
103
NTP Umum
NTP Perkebunan
NTP Tanaman Pangan
102
5.000
101
4.500
Rata-rata Harga Gabah GKP
Pertumbuhan-skala kanan
40
30
100
4.000
99
20
3.500
98
10
3.000
97
96
0
2.500
95
2.000
94
-10
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7
2011
2012
2013
2011
2012
2013
2014
2014
Sumber: BPS, diolah
Grafik IV.2.11. Indeks Nilai Tukar Petani Umum dan
Sektor Perkebunan Sumbagteng
Sumber: BPS Sumbar
Grafik IV.2.12. Harga Gabah di Tingkat Penggilingan
Sumbar
Sektor Pertambangan dan Penggalian
Sektor pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi pada triwulan II 2014 akibat penurunan lifting
migas. Terdapat tantangan struktural pada kinerja sektor pertambangan dan penggalian di Sumbagteng,
yang terkontraksi 2,4% (yoy) pada triwulan II 2014 dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 1,9% (yoy). Hal
tersebut terkait dengan keberlangsungan produksi SDA migas. Lifting minyak di Riau, yang memiliki
kontribusi mencapai 88% terhadap sektor pertambangan dan penggalian di Sumbagteng, terus menurun
sepanjang waktu (Grafik IV.2.13). Kondisi ini dikarenakan sulitnya menjaga konsistensi produktivitas
sumur-sumur minyak tua, minimnya penemuan sumur baru, dan kurang efektifnya penggunaan
teknologi yang lebih modern di sumur tua.
Sektor pertambangan dan penggalian diprakirakan masih mengalami kontraksi di triwulan III 2014.
Berdasarkan perkembangan terkini, tren penurunan lifting minyak di Riau terus berlanjut di bulan Juli
2014. Meskipun demikian, terdapat indikasi sejumlah perusahaan pertambangan masih melakukan
investasi untuk menahan laju penurunan lifting migas tercermin dari meningkatnya pertumbuhan kredit
di Sumbagteng dan investasi PMDN di Riau (Grafik IV.2.14 dan Grafik IV.2.5). Kondisi ini diharapkan
mampu menahan penurunan lifting migas yang lebih besar ke depan.
L a p o r a n N u s a n t a r a | 116
% yoy
Ribu barel/hari
400
350
10
Triliun Rp
4,0
Nominal Sumbagteng
Pertumbuhan Riau-skala kanan
3,5
300
0
3,0
250
-10
2,5
200
-20
2,0
150
-30
1,5
100
-40
1,0
50
-50
0,5
-60
0,0
Lifting
20
Pertumbuhan-skala kanan
0
2012
2013
60%
29,0%
40%
20%
27,5%
0%
-20%
-40%
-60%
I
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7
yoy
80%
Pertumbuhan-skala kanan
II
2014
III
IV
I
II
2011
III
IV
I
2012
II
III
IV
I
2013
II
2014
Sumber: Kementerian ESDM
Grafik IV.2.13. Lifting Minyak Riau
Grafik IV.2.14. Penyaluran Kredit Sektor
Pertambangan dan Penggalian
Sektor Industri Pengolahan
Sektor industri pengolahan mencatat perbaikan di seluruh provinsi di Sumbagteng ditopang oleh
peningkatan konsumsi rumah tangga di triwulan II 2014. Perbaikan daya beli, masuknya masa libur
sekolah, dan periode bulan Ramadhan serta peningkatan jumlah wisatawan akibat pelaksanaan beberapa
kegiatan berskala besar dan internasional mampu mendorong pertumbuhan sektor industri pengolahan
dari 5,1% (yoy) pada triwulan I 2014 menjadi 5,9% (yoy) di triwulan II 2014.
Perbaikan sektor industri pengolahan diprakirakan berlanjut hingga triwulan III 2014 ditopang oleh masih
tingginya konsumsi domestik. Peningkatan pembelian produk makanan dan minuman pada hari raya Idul
Fitri serta kuatnya daya beli masyarakat menjadi faktor utama pendorong kinerja sektor tersebut. Di sisi
eksternal, permintaan terhadap produk elektronik dari Kepulauan Riau memasuki puncaknya di triwulan
III 2014 sebagaimana pola historisnya. Perbaikan sektor industri pengolahan juga terkonfirmasi dari
perkiraan kegiatan usaha mendatang dalam Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) (Grafik IV.2.15).
SBT
40%
Jasa
PHR
Ind. Pengolahan
Keuangan
Bangunan
Pertambangan
Angkutan&Komunikasi
Listrik,Gas&Air Bersih
Pertanian
Juta US$
800
g.Ekspor Brg. Elektronik-sisi kanan
700
35%
30%
600
25%
500
20%
400
15%
300
10%
% yoy
100
Nilai Ekspor Produk Elektronik
80
60
40
20
200
5%
0
100
0%
0
-5%
Realisasi
Perkiraan
Triwulan II 2014
Triwulan III 2014
Grafik IV.2.15. Realisasi dan Perkiraan Kegiatan
Usaha Triwulan II 2014 (SKDU)
(20)
I
II
III IV
2010
I
II
III IV
2011
I
II
III IV
2012
I
II
III IV
2013
I
II
2014
Grafik IV.2.16. Nilai Ekspor Produk Elektronik
PERKEMBANGAN INFLASI
Penurunan laju inflasi Sumbagteng hingga Juli 2014 terus berlanjut dan menunjukkan perbaikan ke
sasaran target inflasi nasional sebesar 4,5±1%. Inflasi Sumbagteng tercatat sebesar 4,95% (yoy), lebih
rendah dibandingkan triwulan II 2014 yang mencapai 7,93% (yoy) (Grafik IV.2.17). Masih tingginya
pasokan bahan makanan seiring berlanjutnya musim panen di triwulan II menjadi faktor berkurangnya
tekanan inflasi. Dampak tingginya permintaan pada saat musim liburan sekolah dan hari raya Idul Fitri
L a p o r a n N u s a n t a r a | 117
yang tidak setinggi pola historisnya, mendorong inflasi Sumbagteng terus ke bawah. Kondisi tersebut
didukung dengan stabilnya inflasi kelompok inti seiring dengan permintaan masyarakat yang moderat
(Grafik IV.2.18). Selain itu, minimnya kebijakan harga di kelompok administered prices pada triwulan II
mendorong penurunan inflasi lebih lanjut.
Dengan perkembangan tersebut, tekanan inflasi secara tahunan diprakirakan cenderung meningkat pada
triwulan III 2014. Resiko anomali cuaca yang dapat mengganggu musim tanam serta potensi adanya
musim kemarau yang memicu kebakaran hutan dan kabut asap di Riau dapat mengganggu jalur distribusi
dan terganggunya suplai bahan pangan pada kelompok volatile foods. Kenaikan tarif listrik industri dan
rumah tangga secara bertahap mulai bulan Juli 2014 memberikan tekanan inflasi pada kelompok
administered prices. Di sisi lain, relatif stabilnya inflasi inti terlihat ekspektasi masyarakat yang terjaga.
%, yoy
12
%, yoy
20
Sumbagteng
Nasional
Sumatera Barat
Riau
Kepulauan Riau
Umum
Jambi
10
Volatile Foods
Adm. Price
Core
15
8
10
6
5
4
0
2
-5
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9 10 11 12 1
2
3
4
5
2012
6
7
8
2013
9 10 11 12 1
2
3
4
5
6
2014
Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah
Grafik IV.2.17. Perkembangan Inflasi Sumbagteng
dan Nasional
7
1
2
3
4
5
6
7
8
9 10 11 12 1
2
3
4
5
2012
6
7
8
9 10 11 12 1
2013
2
3
4
5
6
7
2014
Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah
Grafik IV.2.18. Disagregasi Inflasi Sumbagteng
Koordinasi Pengendalian Inflasi
Berbagai langkah untuk menjaga kemungkinan gejolak inflasi telah ditempuh di daerah khususnya
sebagai antisipasi selama Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Langkah antisipasi tersebut ditempuh
melalui koordinasi TPID baik di Tingkat Provinsi maupun Kabupaten/kota di Sumatera Bagian Tengah.
Berbagai langkah antisipasi tersebut dibagi menjadi 4 (empat) aspek, yaitu : (i) aspek pengendalian
ketersediaan pasokan, seperti kunjungan langsung dan survei lapangan ke sentra produksi, dan
koordinasi dengan instansi strategis untuk memastikan kecukupan pasokan menjelang Idul Fitri, (ii) aspek
keterjangkauan harga, dengan melakukan operasi pasar/ pasar murah, bazar, dan penyaluran raskin,
serta pengawasan tarif angkutan pada H-7 dan H+7 Idul Fitri, (iii) aspek kelancaran distribusi, melalui
pengaturan jalur distribusi komoditas oleh Dishub dengan aturan pembatasan angkutan barang,
koordinasi bersama Polda dan Dishub terkait keamanan dan kelancaran pasokan bahan makanan
menjelang Idul Fitri serta, (iv) aspek pengelolaan ekspektasi masyarakat, melalui pembuatan iklan
layanan masyarakat, dialog interaktif melalui radio dan televisi, pelaksanaan press conference bersama
instansi terkait dalam menjaga gejolak konsumsi masyarakat menjelang Idul Fitri.
STABILITAS SISTEM KEUANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM PEMBAYARAN
Ketahanan Sektor Korporasi
Penyaluran kredit kepada sektor utama di wilayah Sumbagteng kembali mengalami perlambatan pada
triwulan II 2014. Berdasarkan informasi sejumlah perusahaan, preferensi sektor usaha untuk menahan
penggunaan dana pinjaman bank akibat “wait and see” selama masa pemilu. Pertumbuhan kredit
L a p o r a n N u s a n t a r a | 118
korporasi pada triwulan II 2014 sebesar 15,9% (yoy) melambat dibandingkan triwulan sebelumnya
sebesar 16,6% (yoy). Namun, pertumbuhan kredit di sektor pertanian sebagai salah satu sektor utama di
Sumbagteng mengalami peningkatan dari 7,7% (yoy) menjadi 23,8% (yoy) diikuti sektor pertambangan
yang meningkat 14,5% (yoy) menjadi 27,5% (yoy) di triwulan II 2014. Kebutuhan kredit untuk memenuhi
kebutuhan masuknya masa tanam kelapa sawit di Sumbagteng mendorong peningkatan kredit pertanian.
Di sisi lain pertumbuhan kredit industri pengolahan masih berada di level yang tinggi mencapai 23,8%
(yoy) (Grafik IV.2.19). Sementara itu, penyaluran kredit lebih banyak terserap untuk sektor perdagangan
dengan pangsa sebesar 29,6%, sektor pertanian sebesar 22,9% dan sektor industri pengolahan sebesar
18,9%. Secara kualitas, penyaluran kredit yang diberikan kepada sektor utama mengalami penurunan.
Hal tersebut tercermin dari nonperforming loan (NPL) sektor perdagangan yang memburuk dan sektor
pertambangan yang masih tinggi (Grafik IV.2.20). Penurunan kualitas kredit sektor pertambangan karena
lesunya produksi batubara di Jambi akibat tren menurunnya harga batubara internasional.
g. Pertanian
g. Ind. Pengolahan
%
yoy
80%
g. Pertanian
g. Pertambangan
g. Ind. Pengolahan
g. Perdagangan
60%
40%
27,5%
23,8%
20%
22,1%
7,8%
0%
-20%
I
II
III
IV
I
II
2011
III
IV
I
II
2012
III
IV
2013
I
g. Kredit Rumah Tangga
50
6,4
2,1
0,6
II
I
II
g.KPR
III IV
I
II
2010
g.KKB
III IV
I
2011
II
III IV
I
2012
II
III IV
I
2013
II
2014
Grafik IV.2.20. Perkembangan NPL Kredit Sektor
Utama
yoy
5
yoy
g. Pertambangan-sisi kanan
g. Perdagangan
10,7
2014
Grafik IV.2.19. Pertumbuhan Kredit Sektor Utama
60
20
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0
-2
NPL Kredit Rumah Tangga
NPL KPR
NPL KKB
4
40
30
20,7
20
3,5
3
10,5
10
10,7
0
-10
2
1,8
1
1,3
-20
-30
0
I
II
III
2012
IV
I
II
III
IV
I
2013
Grafik IV.2.21. Pertumbuhan Kredit RT
II
2014
I
II
III
2012
IV
I
II
III
2013
IV
I
II
2014
Grafik IV.2.22. Perkembangan NPL Kredit RT
Ketahanan Sektor Rumah Tangga
Kredit yang disalurkan kepada sektor rumah tangga di Sumbagteng melambat pada triwulan II 2014.
Pertumbuhan kredit rumah tangga tercatat sebesar 10,7% (yoy), menurun dibandingkan triwulan
sebelumnya sebesar 12,1% (yoy). Penurunan yang cukup dalam terjadi pada kredit multiguna dari 12,4%
(yoy) menjadi 5,6% (yoy) pada triwulan II 2014. Di sisi lain, Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) terus
tumbuh positif dan meningkat dari 3,4% (yoy) menjadi 10,5% (yoy) pada triwulan II 2014 (Grafik IV.2.21).
Kebutuhan akan alat transportasi pada saat hari raya idul Fitri berdampak pada meningkatnya pembelian
kendaraan bermotor. Selain itu, pertumbuhan kredit juga bersumber dari Kredit Pemilikan Rumah (KPR)
yang terus menguat. Menguatnya daya beli masyarakat seiring dengan tekanan inflasi yang mereda
berdampak pada meningkatnya konsumsi non makanan. Dari total kredit konsumsi yang telah disalurkan
sebesar Rp63,7 triliun sampai dengan Juni 2014, pangsa kredit KPR dan KKB masing-masing mencapai
L a p o r a n N u s a n t a r a | 119
32% dan 12%. Penguatan kredit kepada sektor rumah tangga didukung oleh kualitas kredit yang terjaga.
NPL KPR mengalami penurunan, sedangkan NPL kredit rumah tangga secara keseluruhan stabil di level
yang rendah (Grafik IV.2.22).
Pembiayaan Sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)
Pertumbuhan kredit kepada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Sumbagteng tercatat
melambat pada triwulan II 2014. Kredit UMKM tercatat sebesar Rp54,2 triliun, atau tumbuh 16,0% (yoy)
dan lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 18,8% (yoy) (Grafik IV.2.23). Secara
sektoral, sektor perdagangan dan sektor pertanian merupakan pengguna kredit UMKM terbesar di
Sumbagteng dengan porsi mencapai 44,8% dan 21,1%. Adapun pertumbuhan kredit di kedua sektor
tersebut masing-masing mencapai 6,7% (yoy) dan 21,5% (yoy). Di tengah penurunan kredit UMKM,
kualitas kredit juga menurun dengan tingkat NPL yang mulai perlu untuk diwaspadai di level 5,0%.
Adapun NPL tertinggi terjadi di Sumatera Barat mencapai 5,6% sementara NPL terendah tercatat di
Kepulauan Riau sebesar 3,3%. Belum kuatnya UMKM sektor perdagangan di Sumatera Barat berdampak
pada rentannya pelaku usaha terhadap siklus perekonomian.
%
%,yoy
60
g.UMKM
6,0
NPL-sisi kanan
5,0
50
4,0
30
3,0
16,0
10
2,0
100
50
0
I
II
2011
III
IV
I
II
2012
III
IV
I
2013
%, yoy
Total Transaksi Kliring
20
Pertumbuhan - skala kanan
(10)
(20)
II
III
IV
I
2012
2014
Grafik IV.2.23. Pertumbuhan Kredit UMKM dan NPL
UMKM
25
0
I
II
Triliun Rp
30
20
0,0
IV
40
150
0
III
50
Pertumbuhan - skala kanan
200
1,0
II
Total Transaksi RTGS
250
10
I
%, yoy
300
5,0
40
20
Triliun Rp
II
III
2013
IV
I
II
2014
Grafik IV.2.24. Perkembangan Transaksi RTGS
Triliun Rp
6
4
20
15
15
10
10
5
5
0
0
(5)
2
0
-2
-4
-6
Outflow
I
II
III
IV
I
II
2012
III
2013
IV
I
II
2014
Grafik IV.2.25. Perkembangan Transaksi SKNBI
Inflow
Net Inflow/(Outflow)
-8
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6
2012
2013
2014
Grafik IV.2.26. Perkembangan Pengedaran Uang
Kinerja Sistem Pembayaran
Aktivitas sistem pembayaran di Sumbagteng mengalami peningkatan pada triwulan II 2014, baik transaksi
melalui Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) maupun melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia
(SKNBI). Sesuai dengan pola historisnya, peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat mendorong kenaikan
transaksi uang di masyarakat. Hal tersebut terlihat dari peningkatan transaksi RTGS dari Rp188,6 triliun
pada triwulan I 2014 menjadi Rp249,5 triliun pada triwulan II 2014. Sementara itu, transaksi kliring juga
meningkat dari Rp19,2 triliun menjadi Rp19,6 triliun (Grafik IV.2.25).
L a p o r a n N u s a n t a r a | 120
Kinerja Pengelolaan Uang Tunai
Sesuai dengan karakteristiknya, Sumbagteng mencatat aliran uang keluar (net outflow) pada triwulan II
2014 (Grafik IV.2.26). Peningkatan outflow tersebut terindikasi akibat peningkatan akitivitas ekonomi
masyarakat terkait Pemilu, masa libur sekolah, periode Ramadhan yang menyebabkan kebutuhan uang
masyarakat meningkat. Dalam memastikan pengedaran uang layak di Sumbagteng terutama tingginya
permintaan pada Idul Fitri, Bank Indonesia terus melakukan berbagai upaya seperti berbagai jenis
kegiatan penukaran uang tunai, kas keliling ke daerah-daerah terpencil, kerjasama dengan perbankan,
dan upaya lainnya dalam mendukung keterjangkauan distribusi uang di masyarakat. Selain itu, temuan
uang palsu di Sumbagteng terus mengalami penurunan sejalan dengan edukasi secara berkala,
pengawasan yang ketat, dan kerjasama dengan instansi terkait.
PROSPEK PEREKONOMIAN
Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Mencermati perkembangan tersebut di atas, pertumbuhan ekonomi Sumbagteng diprakirakan
cenderung lebih rendah dari prakiraan sebelumnya. Untuk keseluruhan tahun 2014, pertumbuhan
ekonomi Sumbagteng diprakirakan berada di kisaran 4,6%-5,0% (yoy). Berdasarkan komponen
permintaan, meningkatnya konsumsi rumah tangga menopang roda perekonomian Sumbagteng di
tengah pelemahan ekspor dan investasi. Perbaikan daya beli seiring dengan tekanan inflasi yang mereda
mampu menjaga ekonomi tumbuh menguat. Dari sisi lapangan usaha, peningkatan konsumsi rumah
tangga turut berdampak pada meningkatnya aktivitas di sektor PHR.
Prospek Inflasi
Dari sisi harga, laju inflasi pada tahun 2014 diprakirakan mengalami penurunan dibandingkan tahun
2013, yakni pada rentang 4,7% - 5,1% (yoy). Meredanya inflasi selama keseluruhan tahun terutama
bersumber dari kelompok administered prices dan volatile foods. Tidak adanya kebijakan kenaikan harga
energi strategis yang signifikan di tahun 2014 dan membaiknya pasokan bahan pangan sejak awal tahun
berdampak pada minimalnya tekanan inflasi. Selain itu, meningkatnya komitmen pemda melalui TPID
pada upaya peningkatan produksi pangan, kelancaran distribusi, dan menjaga ekspektasi masyarakat,
serta kerjasama antardaerah diperkirakan dapat mendukung kestabilan harga. Namun demikian, masih
terdapat risiko inflasi terutama kenaikan tarif tenaga listrik rumah tangga, rencana kenaikan harga elpiji
12 kg, dan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi akibat konsumsi yang melebihi kuota
berpotensi meningkatkan inflasi di semester II 2014.
L a p o r a n N u s a n t a r a | 121
Tabel IV.2.1. Prakiraan Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Sumatera Bagian Tengah
Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi
Wilayah
PDRB (%,yoy)
2011
2012
5,9
2013
2014
I
II
III
IV
Total
I
II
IIIp
IVp
Totalp
5,2
4,7
4,5
4,2
5,0
4,6
5,4
4,5
4,6
4,5 - 4,9
4,6 - 5,0
Sisi Permintaan
Konsumsi
5,7
6,2
6,8
6,1
5,3
6,3
6,1
5,5
6,8
7,4
6,2 - 6,6
6,4 - 6,8
Konsumsi swasta
5,5
6,3
7,4
6,8
5,9
5,7
6,4
6,1
7,3
7,6
6,7 - 7,1
6,8 - 7,2
Konsumsi Pemerintah
7,0
5,3
3,3
2,2
2,1
9,7
4,5
1,9
4,2
6,6
4,0 - 4,4
4,1 - 4,5
10,5
8,1
8,4
7,9
7,8
7,3
7,8
5,9
5,6
5,8
5,5 - 5,9
Ekspor
7,8
3,1
0,4
(0,2)
0,1
6,8
1,8
4,4
(0,7)
1,5
5,6 - 6,0
(2,6) - (2,2)
Impor
8,8
5,5
3,2
1,4
1,6
1,5
1,9
2,1
(4,0)
0,3
2,5 - 2,9
-0,1 - 0,3
Pembentukan Modal Tetap Bruto
0,3 - 0,7
Sisi Produksi
Sektor pertanian
4,5
3,9
4,1
3,4
4,5
6,3
4,6
6,7
6,4
Sektor pertambangan & penggalian
3,3
(0,4)
(4,1)
(1,6)
0,4
1,2
(1,0)
1,8
(2,4)
5,5
5,5 - 5,9
5,9 - 6,3
(1,9) (0,9) - (0,5) (1,0) - (0,6)
Industri pengolahan
6,3
4,9
7,4
6,0
5,3
5,2
5,9
5,2
5,9
6,1
6,4 - 6,8
5,7 - 6,1
Listrik, gas & air bersih
7,7
5,1
6,0
5,8
3,3
4,8
4,9
4,4
4,8
5,8
4,5 - 4,9
4,7 - 5,1
Bangunan
10,5
11,9
11,5
9,2
8,4
9,4
9,6
9,1
7,4
7,0
6,0 - 6,4
7,2 - 7,6
Perdagangan, hotel & restoran
8,2
11,3
11,2
8,5
4,9
5,9
7,5
8,0
9,1
9,2
7,5 - 7,9
8,3 - 8,7
Pengangkutan & komunikasi
8,6
9,0
8,8
8,5
6,2
7,2
7,7
7,2
7,8
7,3
7,0 - 7,4
7,2 - 7,6
Keuangan, persewaan dan jasa perush.
7,1
8,5
9,5
7,2
5,7
4,9
6,7
4,5
3,9
3,8
4,5 - 4,9
4,0 - 4,4
Jasa-jasa
7,8
7,6
6,9
7,3
6,1
6,7
6,8
5,3
4,7
5,0
4,4 - 4,8
4,7 - 5,1
4,4
3,2
5,0
5,5
8,2
9,1
9,1
7,9
6,3
4,8
4,7 - 5,1
4,7 - 5,1
Inflasi IHK (%,yoy)
L a p o r a n N u s a n t a r a | 122
PERTUMBUHAN EKONOMI
Pada triwulan II 2014, pertumbuhan ekonomi wilayah Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) tumbuh stabil
sebesar 5,1% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan pada sektor konsumsi dan
investasi tertahan oleh melambatnya kinerja ekspor. Perekonomian Aceh bahkan tercatat masih cukup
rendah yakni sebesar 3,7% (yoy) meski telah mengalami perbaikan dibandingkan realisasi pada periode
sebelumnya yang hanya sebesar 3,3%. Sementara itu, perekonomian Sumatera Utara tumbuh sedikit
melambat pada triwulan II 2014 dari 5,6% (yoy) di triwulan sebelumnya menjadi 5,5% (yoy).
Memasuki periode triwulan III 2014, berbagai indikator ekonomi mengindikasikan potensi perbaikan
angka pertumbuhan ekonomi. Optimisme membaiknya kinerja pertumbuhan ekonomi diprakirakan
berasal dari tumbuhnya konsumsi pemerintah dan investasi. Realisasi belanja modal maupun belanja
operasional/rutin setelah persetujuan APBD 2014 menjadi pendorong realisasi investasi maupun
konsumsi pemerintah pada triwulan mendatang. Sementara itu, investasi swasta pada triwulan III 2014
diprakirakan akan mulai kembali meningkat seiring dengan optimisme pelaku usaha terhadap hasil
Pemilihan Umum Presiden 2014. Sementara itu, konsumsi rumah tangga diperkirakan cenderung tumbuh
melambat terkait dengan masih terbatasnya perbaikan pendapatan ekspor karena harga komoditas yang
cenderung menurun.
Konsumsi
Konsumsi Rumah Tangga
Kinerja konsumsi rumah tangga pada triwulan II 2014 masih menjadi sumber pertumbuhan ekonomi
utama wilayah Sumbagut. Hal ini didorong oleh peningkatan aktivitas masyararakat menjelang
Ramadhan yang bertepatan dengan masa libur sekolah. Kondisi ini tercermin dari meningkatnya Indeks
Keyakinan Konsumen (IKK) yang tumbuh 16,1% (yoy) (Grafik IV.3.1). Selain itu, masih cukup baiknya
pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga terkonfirmasi dari pertumbuhan kredit konsumsi perbankan
yang mencapai Rp53,8 Triliun atau masih tumbuh sebesar 9,9% (yoy) (Grafik IV.3.2).
Grafik IV.3.1. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK)
Sumber: BPS Provinsi Sumut dan Aceh, diolah
Grafik IV.3.2. Perkembangan ITK dan Pertumbuhan
Konsumsi Sumbagut Pertumbuhan Kredit Konsumsi
L a p o r a n N u s a n t a r a | 123
Pada triwulan III 2014, konsumsi rumah tangga cenderung mengalami perlambatan jika dibandingkan
dengan realisasi triwulan sebelumnya.. Melemahnya konsumsi rumah tangga pada triwulan III 2014
diperkirakan didorong oleh turunnya daya beli masyarakat karena turunnya pendapatan sebagai akibat
dari masuknya masa tanam padi di Sumbagut serta terbatasnya pemulihan harga internasional untuk
komoditas perkebunan. Di samping itu, aktivitas Pemilu Presiden diprakirakan tidak terlalu berdampak
pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga di wilayah Sumbagut.
Konsumsi Pemerintah
Konsumsi Pemerintah pada triwulan II 2014 mengalami pertumbuhan dibandingkan dengan
pertumbuhan triwulan I 2014. Konsumsi pemerintah meningkat seiring dengan penyerapan anggaran
untuk belanja sarana dan prasarana untuk mendukung penyelenggaraan Pemilu, di luar peningkatan
belanja rutin lainnya. Selain itu, peningkatan aktivitas konsumsi pemerintah didukung oleh telah
disetujuinya anggaran Provinsi Sumatera Utara yang sempat terlambat hingga awal triwulan II 2014.
Kendati demikian, realisasi konsumsi Pemerintah hingga triwulan II 2014 baru mencapai 43% dari total
APBD. Kondisi ini tercermin dari saldo simpanan milik Pemda Sumbagut (Pemda Sumut dan Aceh) yang
pada akhir triwulan II 2014 tumbuh melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (Grafik IV.3.3).
Ekspansi konsumsi pemerintah di triwulan III 2014 diprakirakan terus berlanjut. Konsumsi pemerintah
pada triwulan III 2014 diprakirakan masih cukup kuat sejalan dengan meningkatnya realisasi anggaran
Pemerintah. Kondisi ini diprakirakan akan mendorong realisasi konsumsi yang cukup tinggi pada triwulan
mendatang.
Grafik IV.3.3. Perkembangan Posisi Simpanan Pemda
se-Sumbagut di Bank Umum
Grafik IV.3.4. Realisasi Belanja Daerah Pemerintah
Provinsi Sumut
Investasi
Kinerja investasi di wilayah Sumbagut pada triwulan II 2014 meningkat dibanding periode triwulan
sebelumnya. Jika dilihat berdasarkan provinsi, tingginya realisasi investasi Sumatera Utara menjadi
pendorong meningkatnya kegiatan investasi di wilayah Sumbagut secara umum. Meningkatnya kinerja
investasi, selain didorong oleh sektor swasta,juga didorong oleh realiasi investasi pemerintah berupa
rangkaian kegiatan pembangunan infrastruktur antara lain pembangunan sarana penghubung dan
fasilitas di sekitar Bandara Kualanamu. Meningkatnya investasi di wilayah Sumbagut juga sejalan dengan
kenaikan peningkatan impor barang modal (Grafik IV.3.5).
Perkembangan terkini mengindikasikan kegiatan investasi pada triwulan III 2014 masih cenderung
meningkat. Hal ini terlihat dari pertumbuhan penyaluran kredit investasi di wilayah Sumbagut yang
L a p o r a n N u s a n t a r a | 124
secara tahunan (year on year) tumbuh meningkat sebesar 11,5% (Grafik IV.3.6). Di samping itu, faktor
lain yang diperkirakan turut mendukung perkiraan meningkatnya investasi swasta terkait dengan
berakhirnya pelaksanaan Pemilu Presiden yang berdampak positif bagi keputusan investasi para pelaku
usaha.
Grafik IV.3.5. Impor Bahan Baku di Sumbagut
Grafik IV.3.6. Perkembangan Realiasasi Semen di
Sumbagut
Perdagangan Luar Negeri
Ekspor
Realisasi kegiatan ekspor luar negeri pada triwulan II 2014 mengalami penurunan jika dibandingkan
dengan triwulan sebelumnya, baik secara nilai (turun 2,9%,yoy) maupun volume ekspor (turun 11%,yoy).
Turunnya kegiatan ekspor terutama berasal dari Provinsi Sumatera Utara seiring dengan penurunan
harga komoditas ekspor utama khususnya CPO dan karet di pasar internasional. Nilai ekspor nilai ekspor
CPO yang mengalami penurunan sebesar7,1% (yoy) sama halnya dengan komoditas karet mengalami
penurunan sebesar 37,5% (yoy) (Grafik IV.3.7).
Pada triwulan III 2013 kinerja ekspor luar negeri Sumbagut diprakirakan membaik. Optimisme juga
berasal dari prakiraan meningkatnya permintaan karena mulai pulihnya perekonomian dari negara
tujuan ekspor seperti Amerika, China dan Uni Eropa. Beberapa pelaku usaha yang bergerak di bidang
pengolahan CPO menyatakan bahwa kondisi ekspor diprakirakan akan kembali normal seiring dengan
peningkatan permintaan dari negara-negara tujuan ekspor utama.
Grafik IV.3.7. Ekspor Impor Komoditas Utama
Grafik IV.3.8. Ekspor Impor Komoditas Utama
L a p o r a n N u s a n t a r a | 125
Impor
Realiasasi impor luar negeri Sumbagut hingga triwulan II 2014 tumbuh melambat dibanding periode
sebelumnya. Melambatnya impor tersebut terjadi baik di Provinsi Sumatera Utara maupun di Provinsi
Aceh. Penurunan kegiatan impor di Provinsi Aceh terkait dengan menurunnya kegiatan industri
pengolahan gas alam. Sementara itu, penurunan impor di Provinsi Sumatera Utara lebih disebabkan oleh
penurunan aktivitas industri pengolahan produk turunan CPO dan karet.
Pada triwulan III 2014, diprakirakan impor Sumbagut akan kembali meningkat. Optimisme peningkatan
impor Sumbagut diprakirakan berasal dari meningkatnya impor bahan baku industri pengolahan CPO
dan karet. Kondisi ini ditunjukkan oleh meningkatnya nila impor bahan baku di wilayah Sumbagut yang
masih tumbuh 24,6% (yoy).
Kinerja Sektor Utama Daerah
Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR)
Sektor PHR pada triwulan II 2014 tumbuh meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
Peningkatan kinerja sektor ini terutama didorong oleh meningkatnya aktivitas perdagangan besar dan
eceran seiring dengan pelaksanaan Pemilu Presiden 2014 dan faktor seasonal seperti libur sekolah dan
masuknya masa Ramadhan. Tradisi perayaan Punggahan di Sumatera Utara dan Meugang di Aceh
sebagai persiapan Ramadhan yang bersamaan dengan masa libur sekolah mendorong peningkatan
aktivitas konsumsi masyarakat. Indeks penjualan eceran pada akhir Juni tercatat meningkat hingga
tumbuh 20,7% (yoy) terutama pada kelompok makanan, minuman dan tembakau. Selain itu, adanya
pelaksanaan event berskala besar yang diadakan di Medan turut mendorong kenaikan kinerja sektor
PHR.
Peningkatan kinerja sektor PHR diprakirakan masih akan berlanjut pada triwulan III 2014. Optimisme
tumbuhnya sektor ini selain didorong oleh faktor seasonal terkait dengan perayaan hari raya Lebaran. Di
samping itu, masih berlanjutnya aktivitas terkait penyelenggaran Pemilu di awal triwulan III 2014 turut
berdampak positif bagi perkembangan di sektor PHR antara lain bersumber dari meningkatnya hunian
hotel (Grafik IV.3.10). Masih tumbuhnya penyaluran kredit perbankan ke sektor PHR hingga 11,9% (yoy)
turut mengindikasikan meningkatnya kinerja sektor PHR.
Grafik IV.3.9. Indeks Penjualan Eceran
Grafik IV.3.10. Tingkat Okupansi Hotel di Sumbagut
L a p o r a n N u s a n t a r a | 126
Sektor Pertanian
Kinerja sektor pertanian pada triwulan II 2014 mengalami pertumbuhan yang meningkat dibandingkan
dengan periode triwulan sebelumnya. Pertumbuhan sektor pertanian terutama didorong oleh
peningkatan kinerja subsektor tanaman bahan makanan (tabama) seiring dengan panen padi di beberapa
sentra produksi Aceh. Di samping itu, peran aktif Pemerintah dalam bentuk bantuan benih, baik tanaman
hortikultura maupun bibit unggul SRI (System Rice of Intensification). Meningkatnya kinerja sektor
pertanian ini sejalan dengan meningkatnya volume impor pupuk dan penyaluran kredit perbankan pada
sektor pertanian yang tumbuh sebesar 26,4% (yoy).
Kinerja sektor pertanian Sumbagut pada triwulan III 2014 diprakirakan tidak tumbuh setinggi periode
sebelumnya. Kondisi sektor pertanian di beberapa sentra tanaman padi utama di Sumbagut seperti Deli
Serdang, Simalungun, Langkat dan Lhokseumawe diprakirakan akan mendapatkan tekanan dari kondisi
kemarau panjang yang telah terjadi sejak beberapa periode lalu. Demikian halnya dengan kinerja
subsektor perkebunan. Produksi CPO pada triwulan III 2014 yang diperkirakan belum menunjukkan
peningkatan berarti.
Grafik IV.3.11. Nilai dan Volume Impor Pupuk
Sumbagut
Grafik IV.3.12.Penyaluran Kredit Sektor Pertanian
Sektor Industri Pengolahan
Kinerja sektor industri pengolahan pada triwulan II 2014 tercatat tumbuh melambat. Melambatnya
kinerja sektor ini dipengaruhi oleh melemahnya permintaan ekspor untuk komoditas karet, terutama
dari Amerika, Tiongkok, dan Jepang. Selain lemahnya permintaan, industri pengolahan karet juga
kesulitan menemukan pasar tujuan ekspor baru. Terbatasnya pemanfaatan hasil olahan karet dan
semakin maraknya penggunaan karet sintetis juga mendorong turunnya permintaan karet secara
internasional. Turunnya industri pengolahan Sumbagut pada triwulan II 2014 juga terlihat dari turunnya
volume ekspor manufaktur wilayah Sumbagut sebesar 11% (yoy).
Pada triwulan III 2014, diprakirakan sektor industri pengolahan di wilayah Sumbagut masih mengalami
tekanan. Krisis listrik dan gas di wilayah Sumbagut masih menjadi kendala untuk perbaikan pertumbuhan
sektor ini secara umum. Selain itu,berakhirnya kontrak penjualan jangka panjang Liquid Natural Gas
(LNG) ke Korea Selatan memberikan tekanan pada kinerja sektor industri pengolahan di Provinsi Aceh.
L a p o r a n N u s a n t a r a | 127
Grafik IV.3.13. Ekspor Manufaktur
Grafik IV.3.14. Penyaluran Kredit Perbankan Ke
Sektor Pengolahan Sumbagut
PERKEMBANGAN INFLASI
Inflasi wilayah Sumbagut pada Juli 2014 tercatat sebesar 4,48% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan
II 2014 (6,4%). Realisasi inflasi tersebut juga sedikit lebih rendah dari realisasi inflasi nasional sebesar
4,53% (Grafik IV.3.15). Berdasarkan kota penyumbang inflasi, inflasi tertinggi di wilayah Sumbagut terjadi
di Meulaboh (7,28%) dan inflasi terendah terjadi di Padang Sidempuan (2,98%; yoy). Baik inflasi inti,
volatile foods maupun administered price cenderung mengalami penurunan, dengan tren penurunan
terbesar pada kelompok administered price (Grafik IV.3.16). Relatif rendahnya inflasi wilayah Sumbagut
terutama disebabkan oleh melimpahnya suplai komoditas buah-buahan, sayur-sayuran dan bumbubumbuan seperti tomat buah, wortel dan cabai merah.
Penurunan tekanan inflasi tersebut diprakirakan akan terus berlanjut hingga triwulan mendatang. Hal ini
didukung oleh stabilnya harga komoditas kelompok volatile food seiring masih melimpahnya pasokan
komoditas pertanian, terutama komoditas yang memiliki pengsa cukup besar dalam keranjang konsumsi
masyarakat seperti seperti cabai merah dan beras. Selain itu, persiapan yang baik dari Tim TPID dan
Pemerintah Provinsi (Sumatera Utara & Aceh) dalam melakukan pengendalian terutama menjelang
lebaran diprakirakan mampu menahan laju inflasi pada periode mendatang. Tekanan inflasi ke depan
diprediksi lebih didorong oleh kelompok administered prices terkait diberlakukannya pembatasan BBM
bersubsidi pada awal Agustus 2014 dan kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) pada September 2014.
Sumber: BPS, diolah
Grafik IV.3.15. Inflasi Kota di Sumbagut dan
Nasional
Sumber: BPS, diolah
Grafik IV.3.16. Disagregasi inflasi Sumbagut
L a p o r a n N u s a n t a r a | 128
Koordinasi Pengendalian Inflasi
Sebagai tindak lanjut Rakornas V TPID Tahun 2014 yang diselenggarakan pada 21 Mei 2014 di Jakarta
terkait program pengendalian inflasi “4K”, TPID se-Sumbagut telah menghasilkan kesepakatan bersama
sebagai berikut:
Ketersediaan pasokan: melakukan kunjungan ke sentra produksi komoditas seperti bawang merah,
cabai merah, daging sapi, daging/telur ayam dan ikan segar serta melakukan kunjungan ke gudanggudang diantaranya gudang beras serta gudang gula & tepung terigu.
2. Keterjangkauan Harga: melakukan kunjungan pasar, operasi pasar serta mengadakan pasar murah di
beberapa pasar diantaranya di Langkat, Binjai, Deli Serdang dan Tebing Tinggi.
3. Kelancaran Distribusi: pemetaan kondisi infrastruktur distribusi seperti pelabuhan, bandara, jalan
dan kereta api, mengadakan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah terkait pengendalian inflasi pada
bulan Ramadhan dan Lebaran serta bekerjasama dengan Dinas Perhubungan dalam mendukung
kelancaran distribusi barang terutama komoditas pangan strategis seperti sembako.
4. Komunikasi Ekspektasi: mengadakan dialog interaktif, jumpa pers,dan sosialisasi belanja bijak
melalui iklan layanan masyarakat maupun kerjasama dengan MUI.
1.
STABILITAS SISTEM KEUANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM PEMBAYARAN
Ketahanan Sektor Korporasi
Pembiayaan sektor Korporasi oleh perbankan pada triwulan II 2014 masih menunjukkan pertumbuhan
yang relatif baik. Kualitas kredit Bank Umum yang disalurkan ke sektor Korporasi di Sumbagut masih
terjaga di level yang cukup baik. Hal ini tercermin dari indikator Non Performing Loans (NPL) kredit pada
sektor korporasi yang, walaupun menunjukkan sedikit peningkatan, namun masih di bawah level critical
point (5%) (Grafik IV.3.17). NPL kredit Bank Umum yang disalurkan kepada sektor korporasi tercatat
sebesar 2,97%, sedikit meningkat dibandingkan triwulan lalu yang hanya sebesar 2,79%, namun masih
dibawah rata-rata NPL tiga tahun terakhir yang mencapai 3,43%. Kualitas kredit kepada 3 sektor
Korporasi utama di Sumatera Utara masih terjaga, dengan Non Performing Loan (NPL) di bawah 5%
(Grafik IV.3.18). NPL kredit Bank Umum kepada sektor PHR dan industri pengolahan menunjukkan
penurunan dibandingkan triwulan lalu, yakni dari 3,99% menjadi 3,92% serta dari 1,91% menjadi 1,73%.
Grafik IV.3.17. Perkembangan NPL Total Kredit Bank
Umum dan Kredit ke Korporasi
Grafik IV.3.18. Perkembangan Kredit Bank Umum
ke Tiga Sektor Utama di Sumbagut
L a p o r a n N u s a n t a r a | 129
Ketahanan Sektor Rumah Tangga
Kredit konsumsi yang disalurkan dari Bank Umum kepada sektor Rumah Tangga di Sumbagut terus
tumbuh (Grafik IV.3.19). Peningkatan cukup signifikan terjadi pada kelompok Kredit Kendaraan Bermotor
(KKB) dan Kredit Perumahan Rakyat (KPR). Pertumbuhan kredit rumah tangga tersebut didukung dengan
kualitas kredit yang masih cukup baik. Hal ini tercermin dari terjaganya NPL baik untuk kredit berupa KPR
maupun KKB di level yang aman (di bawah 5%) (Grafik IV.3.20). Namun, perlu diwaspadai NPL, baik KPR
maupun KKB, yang menunjukkan kecenderungan meningkat sejak awal tahun 2014. Peningkatan NPL
untuk kredit KPR terjadi di semua tipe rumah, baik tipe 21, tipe 22-70, tipe di atas 70, maupun kredit
untuk tipe rumah toko (Ruko) dan rumah kantor (Rukan).
Grafik IV.3.19. Pertumbuhan Tahunan Kredit KPR
dan KKB Sumbagut
Grafik IV.3.20. Perkembangan NPL Kredit KPR dan
KKB Sumbagut
Pembiayaan Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
Dari keseluruhan kredit yang disalurkan pada triwulan II 2014, kredit UMKM di wilayah Sumbagut
mencapai sekitar 31,3%. Kondisi ini mengindikasikan bahwa ,secara tahunan, penyaluran kredit kepada
usaha mikro, kecil, maupun menengah di wilayah Sumbagut terus mengalami peningkatan sejak realisasi
di triwulan IV-2013 (29,92%). Secara sektoral, pangsa kredit UMKM masih didominasi oleh sektor PHR
dengan share terhadap total kredityang relatif stabil di level 55%. Sementara itu, peningkatan
ditunjukkan pada sektor pertanian dan industri pengolahan.
Kinerja Sistem Pembayaran
Transaksi perbankan di wilayah Sumbagut melalui Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS)
pada triwulan II 2014 mengalami peningkatan baik secara nominal maupun volume. Secara nominal,
transaksi RTGS pada triwulan laporan naik sebesar 18,33% (qtq) menjadi Rp368,93 triliun. Sementara itu,
volume transaksi mengalami peningkatan sebesar 8,49% (qtq) menjadi sebesar 286.184 transaksi (Tabel
IV.3.1). Peningkatan tersebut didorong oleh peningkatan kegiatan bisnis maupun kedinasan untuk
mengejar target pada bulan Ramadhan dan Lebaran. Selain itu, adanya rangkaian kegiatan Pemilu yang
membutuhkan dana besar diduga turut menjadi faktor penyumbang peningkatan transaksi RTGS di
triwulan laporan.
Pada triwulan II 2014, kliring perbankan di wilayah Sumbagut juga mengalami peningkatan baik secara
nominal maupun volume. Secara nominal, kliring di Sumbagut mengalami peningkatan sebesar 3,99%
L a p o r a n N u s a n t a r a | 130
(qtq) menjadi sebesar Rp37,50 triliun (Tabel IV.3..2). Searah dengan peningkatan nominal, volume
transaksi warkat kliring juga meningkat sebesar 56,83% (qtq) menjadi 1.006.615 lembar warkat.
Tabel IV.3.1. Perkembangan Transaksi dan Rata-Rata Transaksi RTGS per-hari
Sumut & Aceh
2012
Tw I
Tw II
Tw III
Tw IV
Tw I
Tw II
2013
Tw III
1 Jumlah Transaksi RTGS :
a. Nominal (Rp Miliar)
234.306,09 301.165,23 348.763,89 327.224,65 291.729,34 348.844,00 348.026,68
b. Volume (lembar warkat)
267.436
297.996
253.548
322.882
281.743
293.578
279.952
2 Rata-rata Transaksi RTGS per hari :
a. Nominal (Rp Miliar)
3.719,14 4.857,50 5.717,44 5.364,34 4.944,57 5.537,21 5.705,36
b. Volume (lembar warkat)
4.245
4.806
4.157
5.293
4.775
4.660
4.589
2014
Tw IV
Tw I
Tw II
381.442,10 311.777,38 368.930,24
302.913
263.786
286.184
6.113,30
4.869
5.196,29
4.396
6.148,84
4.770
Tabel IV.3.2. Perkembangan Perputaran Kliring Sumbagut
Kinerja Pengelolaan Uang Tunai
Perkembangan aliran uang kartal di wilayah Sumbagut pada triwulan II-2014 mengalami net outflow
sebesar Rp341,41 miliar. Kondisi tersebut berkebalikan dengan triwulan I 2014 yang justru mengalami
net inflow sebesar Rp3,92 triliun. Peningkatan outflow tersebut disumbang oleh wilayah kerja Sibolga,
Pematang Siantar, Lhokseumawe, maupun Banda Aceh. Hal tersebut sejalan dengan meningkatnya
kebutuhan masyarakat pada triwulan II 2014, antara lain untuk pendidikan, persiapan menjelang
Ramadhan, rangkaian kegiatan Pemilu dan masa liburan anak sekolah. Sementara itu, temuan uang palsu
terus mengalami penurunan. Penurunan temuan uang palsu tersebut sejalan dengan semakin
meningkatnya antisipasi Bank Indonesia mencegah peredaran uang palsu, antara lain dengan
meningkatkan security features uang yang dicetak dan melakukan sosialisasi ciri-ciri keaslian uang
Rupiah.
PROSPEK PEREKONOMIAN
Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Perkembangan terakhir mengindikasikan perekonomian Sumatera Bagian Utara untuk keseluruhan tahun
2014 tumbuh di kisaran 5,0 – 5,4%, dengan kecenderungan bias ke bawah. Perkiraan pertumbuhan
ekonomi pada akhir tahun 2014 yang lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi
pada akhir tahun 2013 mengingat tahun tahun 2014 merupakan tahun politik yang membuat banyak
pelaku usaha menunda kegiatan investasi maupun ekspansi usaha mereka. Dampak pelaksanaan Pemilu
terhadap pertumbuhan ekonomi Sumbagut khususnya pada sektor konsumsi juga tidak setinggi
prakiraan semula. Pertumbuhan ekonomi pada 2014 diperkirakan ditopang oleh adanya perbaikan
kinerja ekspor seiring dengan prospek pemulihan ekonomi mitra dagang utama, dan masih cukup
kuatnya konsumsi rumah tangga.
Dari sisi sektoral, industri pengolahan diprakirakan akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun 2013.
Optimisme sektor pengolahan didorong oleh masih terbukanya peluang pasar baru, khususnya untuk
L a p o r a n N u s a n t a r a | 131
produk ekspor turunan CPO dan juga biofuel (a.l biomassa dan biodiesel). Selain industri pengolahan,
sektor utama lainnya yang diprakirakan akan mengalami peningkatan kinerja adalah sektor pertanian.
Sementara itu, sektor PHR pada tahun 2014 diprakirakan tidak tumbuh setinggi tahun sebelumnya.
Kondisi ini diduga sebagai dampak pemilu yang menekan pertumbuhan subsektor perhotelan di
Sumbagut. Adapun sektor pertanian pada akhir tahun 2014 diprakirakan tidak akan tumbuh setinggi
tahun sebelumnya karena cuaca kering pada areal pertanian di Sumbagut.
Prospek Inflasi
Inflasi berbagai daerah di Sumbagut diprakirakan berada pada kisaran 4,9%-5,3% pada akhir tahun,
diatas prakiraan sebelumnya. Sumber kenaikan tekanan inflasi diperkirakan bersumber dari adanya El
Nino pada September dan Oktober, dampak kenaikan harga dari pemberlakuan Tarif Tenaga Listrik baik
untuk industri, bisnis dan rumah tangga yang dinaikkan secara bertahap hingga akhir tahun, serta adanya
pemberlakuan pembatasan BBM bersubsidi. Selain itu, kenaikan LPG 12 kg dan harga emas serta juga
berpotensi turut mendorong tekanan inflasi pada tahun 2014. Meski demikian, tetap terjaganya pasokan
pangan didukung kuatnya peran aktif daerah untuk menjaga kelancaran distribusi diperkirakan dapat
meminimalkan potensi kenaikan inflasi lebih lanjut. Beberapa komoditas yang perlu dijaga agar terus
stabil hingga akhir tahun diantaranya adalah beras, bawang putih, bawang merah, dan cabai merah.
Tabel IV.3.4. Realisasi dan Prakiraan Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Sumatera Bagian Utara
Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi
Wilayah
PDRB (%,yoy)
2011 2012
2013
6,3
6,0
I
5,9
2014
II
5,6
III
5,5
IV
5,4
Total
I
5,6 5,1
II
5,1
IIIp
IVp
Totalp
5,2
5,2-5,6
5,2-5,6
Sisi Permintaan
Konsumsi
6,2
5,6
7,0
6,7
6,7
5,7
6,5
6,1
6,4
6,0
6,0-6,4
6,0-6,4
Konsumsi swasta
6,4
5,9
7,5
6,7
6,6
5,5
6,6
6,0
6,3
5,8
5,7-6,1
5,8-6,2
Konsumsi Pemerintah
5,4
4,5
4,8
4,1
4,4
3,9
4,3
4,1
4,3
4,5
4,9-5,3
4,4-4,8
6,8
6,8
8,6
8,2
7,0
5,0
7,2
4,4
4,6
6,2
7,9-8,3
5,7-6,1
Ekspor
12,7
2,8
1,2
3,6
4,0
5,7
3,6
4,5
3,7
4,1
4,7-5,1
4,0-4,4
Impor
16,3
4,9
6,7
7,3
7,9
6,4
7,1
5,3
4,3
4,7
6,6-7,0
5,0-5,4
Sektor pertanian
5,0
4,9
5,5
3,5
3,1
3,2
3,8
3,1
3,4
3,1
3,1-3,5
3,1-3,5
Sektor pertambangan & penggalian
2,5
0,2
1,0
2,1
1,8
0,2
1,3
0,8
0,9
1,1
1,0-1,4
0,8-1,2
Industri pengolahan
2,0
3,4
2,4
3,3
2,8
4,3
3,2
4,4
4,2
4,1
2,3-2,7
3,5-3,9
Listrik, gas & air bersih
8,2
3,9
5,5
4,7
3,5
3,0
4,1
3,9
5,4
5,5
4,8-5,2
4,8-5,2
Bangunan
8,1
6,8
7,1
7,9
6,8
6,4
7,0
6,3
5,6
6,8
7,5-7,9
6,5-6,9
Perdagangan, hotel & restoran
7,8
7,2
7,7
7,8
7,8
7,2
7,6
5,1
6,6
6,9
7,1-7,5
6,4-6,8
Pengangkutan & komunikasi
9,7
8,3
8,1
7,8
7,2
5,4
7,1
5,2
3,9
4,5
5,7-6,1
4,8-5,2
Keuangan, persewaan dan jasa perush. 13,1
10,9
8,1
8,2
10,0
6,6
8,2
10,2
6,1
5,7
8,6-9,0
7,6-8,0
7,3
6,7
6,4
6,1
7,2
8,2
7,0
7,5
8,1
7,9
7,1-7,5
7,6-8,0
4,70
5,0-5,4
5,0-5,4
Pembentukan Modal Tetap Bruto*
Sisi Produksi
Jasa-jasa
Inflasi IHK (%,yoy)
3,64 3,52 5,49 6,33 8,99 9,92 9,92 7,40 6,07
Sumber: BPS dan Proyeksi (p) KPw BI Wil. IX
L a p o r a n N u s a n t a r a | 132
Lebih mahalnya biaya pengiriman barang dari Tj. Priok ke Padang dan Banjarmasin dibandingkan
ke Singapura menunjukkan masih lemahnya daya saing logistik perdagangan Indonesia. Buruknya
infrastruktur, belum ramahnya lingkungan berusaha, dan masih tertinggalnya konektivitas digital
di Indonesia merupakan beberapa aspek yang secara nyata menghambat aliran investasi, yang
pada akhirnya menurunkan daya saing perekonomian. Reformasi struktural sebagai suatu
rangkaian long run supply side policies diharapkan dapat mengatasi permasalahan lemahnya daya
saing perekonomian tersebut, guna menjaga kesinambungan transisi Indonesia menuju negara
maju berpendapatan tinggi.
Dalam beberapa waktu belakangan ini frasa “reformasi struktural” semakin sering terdengar dalam
diskursus dan advokasi kebijakan publik di Indonesia, termasuk oleh Bank Indonesia1. Reformasi
struktural dapat diartikan sebagai suatu rangkaian implementasi kebijakan-kebijakan domestik dan
kelembagaan yang memengaruhi efektivitas pasar (sebagai lembaga yang mengalokasikan sumber
daya perekonomian) dan kapasitas pelaku usaha dalam mengakses pasar, serta untuk beroperasi
didalamnya secara efisien2. Merujuk pada definisi ini, reformasi struktural pada hakekatnya adalah
upaya-upaya untuk meningkatkan kapabilitas, kapasitas dan produktivitas pada sisi pasokan dalam
jangka menengah-panjang (long run supply side policies).
Tidak mengherankan jika kemudian reformasi struktural sarat dengan implementasi kebijakankebijakan untuk memperkuat ketersediaan dan kualitas input-input faktor produksi. Hal ini
diperlukan dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi jangka menengah panjang (long run
growth). Beberapa input seperti infrastruktur, modal manusia, dan layanan publik, adalah faktorfaktor pendukung (enablers) yang kemudian akan membentuk lingkungan pendukung (enabling
environment) bagi peningkatan efisiensi dan daya saing pelaku usaha (para pemasok barang dan
jasa) di sektor swasta. Oleh karenanya, reformasi struktural adalah salah satu bentuk komitmen
negara (pemerintah) untuk mendorong dan memperkuat peran sektor swasta dalam rangka
mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.
Reformasi struktural sangat penting untuk terus dilakukan di Indonesia, mengingat laju
peningkatan pendapatan per kapita dan pengentasan kemiskinan yang kuat menuntut
pertumbuhan ekonomi yang berimbang dan sinambung dalam jangka menengah. Asesmen Bank
Indonesia menunjukkan bahwa keseimbangan perekonomian terlihat mengalami gangguan dalam
dua tahun terakhir. Gangguan tersebut terindikasi dari adanya defisit neraca transaksi berjalan
yang cukup persisten, sehingga memengaruhi topangan fundamental ekonomi yang kemudian
memengaruhi kinerja nilai tukar Rupiah. Kondisi fundamental kurs yang melemah tersebut,
1
Lihat misalnya di Laporan Perekonomian Indonesia (2013) dan suplemennya.
2
Konsep reformasi struktural tidak memiliki definisi yang baku. Definisi diatas mengikuti definisi oleh Asia-Pacific
Economic Cooperation (APEC) tentang “structural reform”. Redaksional dalam italic adalah tambahan interpretasi
penulis.
L a p o r a n N u s a n t a r a | 133
ditambah dengan adanya perubahan ekspektasi global terkait normalisasi kebijakan moneter di
negara maju, telah membuat nilai tukar Rupiah mengalami penyesuaian ke bawah (terdepresiasi)
di 2013. Kinerja transaksi berjalan yang menurun juga telah menyebabkan laju pertumbuhan
produksi (output) melambat dan laju pertumbuhan pendapatan per kapita dalam US$ mengalami
penurunan, sehingga peningkatan pendapatan per kapita pun melambat (Grafik A.1).
Sementara itu, depresiasi kurs dan penyesuaian harga BBM meningkatkan tekanan pada laju
inflasi. Meningkatnya laju inflasi yang diiringi dengan melambatnya pertumbuhan produksi
(output) berdampak pada laju pengentasan kemiskinan yang melambat. Berbagai perlambatan
tersebut, baik pada peningkatan pendapatan per kapita, maupun pengentasan kemiskinan, perlu
segera ditanggulangi, karena dapat menghambat proses transisi Indonesia menuju negara maju
berpendapatan tinggi.
Sumber: Bank Dunia dan BPS, diolah
Grafik A.1. Indikator-Indikator Kesejahteraan Jangka Menengah – Panjang
Jika diperhatikan secara lebih mendalam, maka salah satu sumber penyebab melambatnya
peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat sebagaimana disampaikan di atas adalah karena
postur transaksi berjalan yang melemah. Dinamika eksternal jangka menengah ini bersumber dari
pelemahan ekspor di tengah masih kuatnya kebutuhan impor. Kinerja ekspor yang melemah,
selain disebabkan oleh masih lambatnya pemulihan volume perdagangan dunia, juga banyak
disebabkan oleh komposisi ekspor Indonesia yang belum berimbang. Komposisi ekspor di luar
Jawa masih didominasi oleh komoditas mentah (hasil perkebunan dan pertambangan) yang rentan
terhadap gejolak harga (terms of trade shocks) serta minim nilai tambah. Kondisi ini dipicu masih
rendahnya tingkat hilirisasi di berbagai sektor industri ekstraktif berbasis SDA.
Di sisi lain, komposisi ekspor di Jawa didominasi oleh produk-produk hasil industri berteknologi
rendah dan berbasis buruh murah serta minim nilai tambah. Persaingan upah dan non-upah di
pasar global yang semakin kuat menyebabkan produk-produk tersebut masih mengandalkan
persaingan dari sisi harga internasional (kurs) ketimbang kualitas produk dan kualitas pekerjaan
yang dilakukan. Dari sisi migas, hilirisasi yang lambat dan besarnya kebutuhan subsidi BBM seiring
dengan ekspansi kelas menengah, menyebabkan terus meningkatnya impor BBM. Hal ini
menyebabkan defisit neraca perdagangan migas masih terus persisten.
L a p o r a n N u s a n t a r a | 134
Sementara di sektor non-migas, kebijakan moneter yang cenderung ketat (tight bias) dan
penyesuaian yang terjadi pada kurs nilai tukar, walaupun telah berhasil menurunkan defisit
transaksi berjalan mendatangkan konsekuensi berupa perlambatan laju pertumbuhan permintaan
domestik. Oleh karena itu, keseluruhan upaya dalam reformasi struktural perlu diletakkan dalam
konteks memperbaiki postur transaksi berjalan Indonesia.
Salah satu strategi untuk memperbaiki postur transaksi berjalan adalah dengan meningkatkan nilai
tambah ekspor barang manufaktur non-migas. Untuk itu, sektor manufaktur domestik perlu secara
bertahap ditingkatkan daya saingnya untuk masuk ke dalam rantai nilai global barang ekspor
bernilai tambah tinggi. Hal ini merupakan tantangan besar, karena menuntut adanya kerjasama
produksi yang kuat antara penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan asing (PMA), khususnya
PMA produsen global. Kerjasama global tersebut merupakan sebuah kebutuhan, karena di era
globalisasi ekonomi abad 21 dewasa ini mayoritas barang-barang yang diperdagangkan di dunia
didorong oleh strategi fragmentasi produksi produsen global yang tersebar di berbagai lokasi di
dunia. Implikasi dari hal ini adalah Indonesia perlu menjadikan dirinya menarik bagi lokasi investasi
dan kolaborasi produksi PMDN dan PMA, khususnya untuk barang-barang ekspor bernilai tambah
tinggi yang banyak diminta oleh dunia. Salah satu kunci bagi peningkatan daya tarik tersebut
adalah bagaimana tingkat daya saing biaya logistik perdagangan (supply chain costs) dan biaya
operasional non-upah dapat menyamai atau lebih baik relatif dibandingkan peer-pesaing.
Dalam rangka memperkuat daya saing biaya logistik perdagangan dan operasional non-upah
terdapat faktor-faktor pendukung (enablers) yang perlu diperhatikan. Penguatan faktor-faktor
tersebut akan dapat menciptakan lingkungan pendukung (enabling environment) berdaya saing
yang menguntungkan bagi pelaku usaha. Faktor-faktor pendukung tersebut terdiri dari aspek (a)
konektivitas fisik dan digital (logistik, transportasi, dan teknologi komunikasi-informatika), dan (b)
kemudahan berbisnis (ease of doing business). Pentingnya memperkuat daya saing biaya dalam
rantai produksi dapat dilustrasikan misalnya dari aspek transportasi untuk barang (movement of
goods).
Mengingat sifat dari kegiatan transportasi yang tidak memberikan nilai tambah terhadap barang
dan jasa, para pelaku usaha menaruh perhatian besar untuk dapat meminimasi biaya dan waktu
yang diperlukan. Transportasi darat, khususnya dengan truk, senantiasa mendominasi aktivitas
transportasi di Indonesia. Rata – rata biaya transportasi darat dengan truk dari tahun 2004 sampai
dengan 2011 mencapai 72.21% dari total biaya transportasi Indonesia3. Biaya operasional
kendaraan di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan dengan negara Asia lainnya. Kondisi dan
kontur permukaan jalan yang buruk merupakan salah satu penyebab tingginya biaya operasional
kendaraan4. Rencana penghapusan subsidi BBM menjadi isu kritikal yang juga dapat meningkatkan
biaya operasional secara signifikan apabila biaya lainnya tidak menurun, sehingga semakin
menurunkan daya saing logistik. Penguatan infrastruktur darat hemat energi, seperti kereta api,
menjadi salah satu alternatif penting untuk menekan biaya logistik di Indonesia ke depan, di
samping infrastruktur jalan.
3
Lihat Bahagia et al. (2013).
4
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Asia Foundation (2008), terindikasi bahwa biaya operasional
per kilometer meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah tanjakan dan turunan serta kekasaran
jalan.
L a p o r a n N u s a n t a r a | 135
Mengingat kondisi geografis Indonesia yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari laut, maka
penguatan sarana dan prasarana kemaritiman untuk melakukan kegiatan pengiriman barang
menjadi sangat vital. Sampai saat ini terindikasi bahwa masih banyak inefisiensi dalam
transportasi laut domestik (Grafik A.2). Dengan jarak yang relatif tidak berbeda jauh, pengiriman
barang dari Tanjung Priok menuju Singapura jauh lebih murah daripada pengiriman menuju
Padang dan Banjarmasin. Biaya pengiriman menuju Jayapura 2.5 kali biaya pengiriman menuju
Guangzhou, Tiongkok5. Perbandingan biaya per kilometer untuk jarak pelayaran pun
menunjukkan bahwa pengiriman ke Singapura dan Tiongkok lebih murah daripada pengiriman
domestik via laut6.
$/km pengiriman internasional (RHS)
$/km pengiriman domestik (RHS)
Biaya transportasi pengiriman internasional ($)
(LHS)
Biaya transportasi pengiriman domestik ($)
(LHS)
Sumber: Bahagia et al. (2013, Bank Dunia), BI Staff.
Grafik A.2. Ilustrasi Perbandingan Biaya Pengiriman Barang Lewat Laut di Dalam dan Keluar Indonesia
(Container)
Tingginya biaya logistik Indonesia menjadi beban bagi perusahaan penyedia jasa logistik, yang
tentunya berimbas pula pada perusahaan manufaktur. Beban biaya transportasi muncul sejak
proses memasok bahan baku sampai dengan proses paling hilir dari rantai pasok, yakni pengiriman
barang jadi ke konsumen. Inefisiensi dan keterbatasan sarana dalam aktivitas pelabuhan
menyebabkan banyak biaya tambahan yang harus dikeluarkan. Salah satunya adalah tingginya
okupansi container yard7 disebabkan keterbatasan sarana dan kurang baiknya aspek perencanaan
pihak perusahaan. Gudang yang penuh juga mengakibatkan dooring8 tidak dapat dilakukan,
sehingga peti kemas terpaksa ditumpuk lebih lama di container yard. Aktivitas loading dan
unloading di gudang perusahaan yang tidak efisien juga mengakibatkan tingginya idle time dari
5
Lihat Bahagia et al. (2013).
6
Estimasi jarak pelayaran dihitung dengan menggunakan perangkat lunak Google Maps, yakni : Singapura
1200 km, Guangzhou 3740 km, Padang 1110 km, Banjarmasin 930 km, Papua 4300 km.
7
Container yard merupakan tempat penimbunan peti kemas sementara di pelabuhan setelah diturunkan dari
kapal.
8
Dooring merupakan kegiatan pengiriman barang dari container yard menuju gudang penerima.
L a p o r a n N u s a n t a r a | 136
truk selama mengantri bongkar muat. Administrasi pelabuhan dan pergudangan yang masih
didominasi paper based semakin menambah pemborosan baik dari segi biaya maupun waktu.
Masih banyak isu-isu praktis lainnya yang dihadapi sektor swasta sehingga mendorong tingginya
total biaya logistik di Indonesia. Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa untuk menjadikan Indonesia
lebih kompetitif diperlukan penguatan lingkungan pendukung (enabling environment), sehingga
dapat menurunkan biaya logistik perdagangan dan meningkatkan daya saing investasi. Secara
umum faktor-faktor pendukung yang diperlukan bagi penguatan daya tarik investasi dapat dilihat
pada Diagram A.1. Lebih lanjut, kebijakan reformasi struktural yang diambil dapat mengambil
skala prioritas dimana penguatan konektivitas maritim, sarana-prasarana transportasi barang
intermoda (kereta api – pelabuhan), dan konektivitas digital dapat didahulukan.
Diagram A.1. Enablers Bagi Penguatan Daya Tarik Investasi
Referensi
Bahagia S, Sandee H, Meeuws R (2013) State of Logistics Indonesia 2013, Collaboration Center of
Logistics and supply chain studies, Institut Teknologi Bandung, Asosiasi Logistik Indonesia, Panteia,
STC Group and World Bank
The Asia Foundation (2008) The Cost of Moving Goods: Road Transportation, Regulations and Charges
in Indonesia. Jakarta: The Asia Foundation.
Laporan Perekonomian Indonesia (http://www.bi.go.id/id/publikasi/laporantahunan/perekonomian/Pages/LPI_2013.aspx).
L a p o r a n N u s a n t a r a | 137
Penerapan Undang-undang (UU) Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan
Batubara (UU Minerba) dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 1 Tahun 2014 melarang ekspor
mineral mentah, kecuali batubara, terhitung sejak awal 2014. Secara tidak langsung regulasi ini
mendorong adanya hilirisasi ekspor mineral. Proses hilirisasi sendiri menimbulkan dillema (tradeoff) antara kebutuhan untuk mendorong peningkatan nilai tambah ekspor dan kebutuhan
menjaga kelestarian lingkungan, suatu proses yang menuntut penanaman modal yang tidak
sedikit. Kehadiran instrumen keuangan yang mengarah kepada investasi berwawasan lingkungan
seperti kredit karbon dapat menjawab tantangan ini.
Dampak Lingkungan Hilirisasi
Industri peleburan (smelting) dan pengolahan mineral lainnya merupakan salah satu industri
yang dikhawatirkan memiliki eksternalitas negatif berupa dampak lingkungan. Ekternalitas
negatif tersebut dapat berupa polusi udara dan suara (tingkat kebisingan) yang dihasilkan dalam
pengolahan mineral. Selain itu pengolahan mineral menghasilkan limbah padat dan cair, yang
meski telah diolah, terkadang tetap membahayakan habitat makhluk hidup termasuk manusia
yang hidup di sekitarnya. Pengolahan mineral juga menghasilkan emisi dalam bentuk partikel dan
gas beracun seperti sulfur oksida dan nitrogen yang akan terkondensasi dan turun ke bumi dalam
bentuk hujan asam, mengganggu kehidupan organisme di bawahnya (European Commission,
2003). Gas beracun tersebut serta oksida karbon yang dihasilkan dalam pengolahan mineral juga
akan terakumulasi pada lapisan atmosfer yang menjadi salah satu sumber masalah perubahan
iklim. Selain partikel dan gas beracun, proses pengolahan mineral juga menghasilkan logam berat
yang berbahaya bagi kesehatan manusia sehingga harus dimitigasi (Soto-Jiménez and Flegal,
2011) karena tidak dapat diredam dampaknya oleh alam (Pirrone et al, 2010).
Di samping limbah, beban lingkungan dari pengolahan mineral juga berasal dari penggunaan
sumber daya air dan energi (yang umumnya energi tidak terbarukan) dalam jumlah besar. Air
digunakan dalam proses pengolahan mineral dan pengolahan limbahnya (Brown, 2002).
Konsumsi air dalam jumlah besar juga terjadi pada pembangkit listrik yang digunakan dalam
pengolahan mineral. Kebutuhan air tersebut akan menimbulkan persaingan dalam pengunaan
sumber daya air antar industri pengolahan dan pengguna sumber daya air lainnya, terutama di
wilayah dengan sumber daya air yang terbatas. Dampak lingkungan menjadi semakin pelik ketika
sumber energi pembangkit energi listrik utama masih berasal dari bahan bakar fossil (minyak
bumi) dan batubara yang merupakan bahan bakar dengan kandungan emisi terbesar (IEA, 2013).
Pemaparan di atas menggambarkan secara singkat eksternalitas negatif dari hilirisasi ekspor
mineral hasil tambang yang dapat mengganggu lingkungan untuk kelangsungan hidup
(environmental sustainability). Dari sisi ekonomi, perusahaan pengolahan mineral akan
cenderung bergantung pada Pemerintah dalam meredam dampak lingkungan yang disebabkan
oleh hilirisasi, yang secara tidak langsung akan dibebankan kepada masyarakat sebagai wajib
pajak. Di sisi lain, regulasi pengendalian dampak kerusakan lingkungan akan menaikkan biaya
bagi perusahaan sehingga dapat menurunkan pasokan bahan baku mineral bernilai tambah tinggi
L a p o r a n N u s a n t a r a | 138
untuk keperluan ekspor maupun industri domestik. Nilai ekonomis pengolahan mineral dan
biaya sosial yang bersumber dari eksternalitas negatif tersebut, menimbulkan dilemma (tradeoff) antara kebutuhan untuk mendorong peningkatan nilai tambah ekspor dan kebutuhan
menjaga kelestarian lingkungan. Keduanya merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi
yang berkesinambungan dan berkelanjutan dalam jangka menengah-panjang sehingga dilemma
ini perlu dikelola.
Mengelola Dampak Lingkungan Kegiatan Hilirisasi
Mengaitkan tanggung jawab sosial korporasi dengan mitigasi dampak lingkungan merupakan
salah satu langkah yang sering dianjurkan untuk mendorong pelaku usaha menginternalisasikan
dampak lingkungan dalam keputusan investasi (lihat Mishan (1971)). Terkait hal ini, regulasi yang
menjadi inisiatif bersama lintas lembaga pemerintahan menjadi andalan dalam memperkuat
industri pemurnian mineral agar lebih arif terhadap lingkungan, misalnya melalui peraturan pasar
modal tentang kewajiban Corporate Social Responsibility (CSR), perusahaan pengolahan mineral
yang telah go public didorong untuk menginternalisasi investasi berwawasan lingkungan.
Namun, mitigasi dampak lingkungan juga dapat didorong melalui instrumen kebijakan fiskal,
misalnya melalui subsidi dan tarif dalam skema insentif-disinsentif. Mitigasi dampak lingkungan
dalam beberapa aspek berkaitan dengan teknologi yang hak ciptanya sebagian besar dimiliki
negara maju, sehingga biaya penggunaan teknologi tersebut cukup mahal bagi negara-negara
berkembang (IPCC, 2000). Oleh karena itu, mekanisme insentif-disinsentif dapat mendorong
perusahaan beralih dari teknologi yang murah namun memiliki eksternalitas negatif ke teknologi
berwawasan lingkungan. Sebagai ilustrasi, tarif impor untuk peredam suara dan pengguna
teknologi tanur listrik dapat dibuat lebih murah dibanding perusahaan pengguna tanur
pembakaran karena tanur listrik menghasilkan emisi sulfur dioksida yang lebih sedikit. Insentif
fiskal yang diberikan dapat pula bervariasi, bergantung pada jenis logam yang diekstraksi, teknik
pemurnian dan manajemen limbah yang digunakan. Pengolahan metal reaktif seperti alumunium
misalnya, mengkonsumsi energi listrik lebih sedikit dan memberikan dampak kerusakan
lingkungan dan perubahan iklim yang lebih kecil daripada logam yang lebih tidak reaktif seperti
besi. Contoh lainnya adalah tarif yang lebih murah untuk impor teknologi penanganan limbah
dimana tingkat pelonggaran tarif meningkat seiring dengan kecanggihan teknologi yang
digunakan.
Salah satu insentif lain adalah dengan mengalihkan subsidi untuk bahan bakar berbasis fosil
menjadi feed-in-tariff bagi impor teknologi pembangkit listrik bersumber energi terbarukan yang
digunakan oleh smelter dan fasilitas pemurnian mineral lainnya. Untuk mendorong fasilitas
pemurnian mineral yang berbasis energi terbarukan, pemerintah dapat pula menggerakkan
inisiatif PLN untuk membeli kelebihan produksi listrik yang tidak digunakan dalam proses
pemurnian mineral. Di samping itu, reformasi pertanian juga dibutuhkan untuk mendorong
produksi biofuel. Belajar dari Amerika Latin, pendekatan yang paling menarik untuk
meningkatkan produksi biofuel adalah konversi lahan yang memang diberikan untuk tanaman
produksi dengan orientasi biofuel. Pendekatan lain adalah dengan mengkonversi infrastruktur
rafinasi gula nonaktif milik negara menjadi unit produksi bioetanol. Tentu saja kebijakan
ketahanan pangan perlu fleksibel dengan memperbolehkan tanaman pangan untuk diproduksi
dengan orientasi di luar pemenuhan kebutuhan pangan, yaitu untuk kebutuhan energi. Dalam
L a p o r a n N u s a n t a r a | 139
kaitan ini, orientasi program ketahanan pangan nasional dapat diarahkan untuk berfokus pada
swasembada komoditas pangan pokok, yaitu beras.
Akhirnya, instrumen berbasis pasar seperti kewajiban labelling dapat mendorong perusahaan
menginternalisasi eksternalitas dan sekaligus membangun citra sebagai perusahaan ramah
lingkungan. Kegagalan suatu perusahaan dalam mendapatkan label menyebabkan perusahan
berpotensi untuk kehilangan pangsa pasarnya di pasar global yang diikuti dengan dihentikannya
pendanaan oleh lembaga keuangan (Harris, 2014). Selain mekanisme labelling, dapat pula
dibentuk pasar untuk ekternalitas seperti “bank limbah”, di mana tiap perusahaan dapat
menciptakan keuntungan dari penjualan limbah kemudian mereinvestasikannya pada pilihan
investasi yang ramah lingkungan.
Pembiayaan Mitigasi Dampak Lingkungan Secara Mandiri
Sebagaimana yang telah diulas di atas, hilirisasi berpotensi menimbulkan eksternalitas negatif,
namun bisa diredam oleh adopsi teknologi yang tepat. Tentu saja teknologi tersebut memerlukan
penanaman modal/investasi untuk teknologi pemurnian, pembangkit listrik dan manajemen
limbah. Pada banyak kasus seringkali pelaku industri, terutama yang skalanya menengah, belum
siap secara modal. Terkait hal ini, pembiayaan secara mandiri semakin populer sejak
diperkenalkannya kredit karbon pada tahun 1995. Kredit karbon merupakan instrumen keuangan
yang dapat diperjualbelikan dengan underlying berupa besarnya emisi gas rumah kaca yang akan
ditekan9. Melalui perdagangan kredit karbon tersebut perusahaan dapat memperoleh tambahan
aliran dana sehingga mengatasi kendala pembiayaan teknologi untuk proses produksi yang
ramah lingkungan.
Kredit karbon misalnya dapat diberikan kepada pelaku usaha yang melakukan pengurangan emisi
gas rumah kaca melalui penggunaan tanur listrik pada smelter logam (IEA, 2013). Kredit karbon
juga dapat diperoleh melalui penyerapan karbon selama proses pemurnian mineral. Pauli (2010)
menyarankan penyerapan karbon dengan menggunakan ganggang untuk ‘menangkap’ emisi gas
dan mengkonversinya menjadi energi terbarukan melalui proses alam10. Bentuk lain dari kredit
karbon yang bisa diperjualbelikan adalah pada aktivitas konversi gas beracun menjadi senyawa
kimia, misalnya sulfur dioksida dapat dikonversi menjadi asam sulfur yang bisa diperjualbelikan.
Mitigasi terhadap emisi yang sifatnya tidak langsung juga dapat dijadikan underlying kredit
karbon. Kredit karbon dapat dikeluarkan kepada generator pembangkit listrik yang pada proses
pembangkitannya menggunakan sumber energi terbarukan atau bahan bakar rendah karbon.
Kredit karbon sebagai sumber pendanaan diuraikan dalam Box Kredit Karbon Untuk Pembiayaan
Mitigasi Dampak Lingkungan.
9
Satu unit karbon kredit Satu unit kredit karbon yang direpresentasikan oleh satu sertifikat UNFCCC bernilai sama
dengan pengurangan satu ton CO2 (UNFCCC).
10
Walaupun demikian, United Nation Forum for Climate Change Convension (UNFCCC) belum mengklasifikasikan
teknik- dimaksud sebagai teknologi yang layak mendapatkan skema kredit karbon. Pertimbangannya adalah
penyerapan emisi gas rumah kaca idealnya disertai penyimpanan emisi pada formasi geologis (UNFCCC, 2011).
L a p o r a n N u s a n t a r a | 140
Boks. Kredit Karbon Untuk Pembiayaan Mitigasi Dampak Lingkungan
Kredit karbon atau kredit emisi gas rumah kaca merupakan sumber pendanaan yang mendorong
alokasi modal yang lebih produktif pada industri pengolahan mineral berwawasan lingkungan.
Terdapat tiga tipe kredit karbon yang dikeluarkan oleh UNFCCC: (1) Allowance Assigned Unit
(AAU), (2) Certified Emission reduction (CER), dan (3) Emission Reduction Unit (ERU). Di antara tiga
tipe kredit karbon hanya CER yang dapat diperjualbelikan di negara emerging seperti Indonesia.
AAU seperti European Union Allowance (EUA) dialokasikan oleh negara yang menerapkan
Emission Trading System (ETS) kepada perusahaan tertentu. Bila emisi gas rumah kaca yang
dihasilkan oleh perusahaan tersebut melebihi alokasi AAU, perusahaan tersebut wajib mengurangi
aktivitas ekonominya atau membeli AAU dari perusahaan yang menghasilkan emisi lebih kecil dari
alokasi AAU atau membeli CER dan ERU dari proyek pengurangan emisi gas rumah kaca.
Perdagangan karbon kredit tersebut dilakukan melalui bursa atau secara bilateral.
CER diberikan oleh UNFCCC kepada proyek pengurangan emisi gas rumah kaca di negara
berkembang dan negara yang baru masuk menjadi bagian dari negara maju, dikenal sebagai
proyek Clean Development mechanism (CDM). Sementara itu ERU dikeluarkan UNFCCC untuk
proyek pengurangan emisi gas rumah kaca di negara-negara maju, dikenal sebagai proyek Joint
Initiatives (JI). Pasar CER telah menjadi pasar kredit karbon terbesar setelah pasar EUA dengan
tingkat imbal hasil yang tidak begitu sensitif terhadap krisis keuangan global yang terjadi pada
tahun 2008 bila dibandingkan dengan instrumen keuangan lainnya. Lebih dari itu, pasar CER
semakin diperluas dengan diperkenalkannya ETS di Australia, Selandia Baru, Kanada, dan China.
Sayangnya, Indonesia hingga saat ini belum secara agresif membuka jalan bagi pengembangan
pasar CER. Dari segi jumlah proyek, Indonesia merupakan negara terbesar ke-8 di dunia dengan
total jumlah proyek CDM sebesar 166 di tahun 2012, sedikit lebih tinggi dari Thailand dan Malaysia
dengan masing-masing jumlah proyek sebesar 165 dan 161 (UNFCCC, 2014).
Referensi
Brown, E (2002) Water for a sustainable minerals industry: Report to Sustainable Minerals Institute.
Brisbane: Julius Kruttschnitt Minerals Research Centre.
European Commission (2003) Integrated pollution prevention and control: Reference document on
best available techniques for mineral oil and gas refineries. Brussel: European Commission.
Harris, S.L (2014) “Palm oil and the importance of participation in sustainability regulatory schemes”.
IRPA Working Paper – GAL Series 7/2013.
IEA (2013) CO2 emissions from fuel combustions: Highlight. Paris: IEA.
IPCC (2000) IPCC special report: Methodological and technological issues in technology transfer.
Nairobi: WMO-UNEP.
L a p o r a n N u s a n t a r a | 141
Rilis data terkini menunjukkan tingkat kemiskinan 2014 sedikit menurun dibandingkan tahun
sebelumnya. Ditinjau secara spasial, penurunan tingkat kemiskinan tidak terjadi secara merata.
Selain itu, ketimpangan antar penduduk miskin yang semakin melebar juga masih terjadi
khususnya di wilayah yang kekayaan sumber daya alamnya melimpah.
Di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi, data realisasi tingkat kemiskinan secara umum
masih cenderung menunjukkan adanya perbaikan (Grafik C.1). Secara nasional, tingkat kemiskinan
di bulan Maret 2014 sedikit mengalami penurunan dari 11,37% pada tahun 2013 menjadi 11,25%
pada tahun 2014. Di satu sisi, menurunnya angka kemiskinan tersebut memberikan arti bahwa
meskipun laju pertumbuhan ekonomi sedikit tertahan, masih terdapat peluang yang cukup baik
dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, di sisi lain, beberapa indikator
kesejahteraan lainnya menunjukkan masih besarnya tantangan yang perlu diatasi dalam
pembangunan ekonomi nasional.
Sumber: BPS, diolah
Grafik C.1. Persentase Penduduk Miskin
Wilayah
Sumber: BPS, diolah
Grafik C.2. Pertumbuhan Persentase Penduduk
Miskin Wilayah
Jika ditinjau secara spasial, penurunan tersebut tidak terjadi secara merata. Di satu sisi, beberapa
wilayah menunjukkan penurunan baik dari segi tingkat kemiskinan maupun ketimpangan
kemiskinan. Salah satu contohnya adalah Yogyakarta, tingkat kemiskinan turun sebesar 3% disertai
dengan penurunan indeks keparahan kemiskinan sebesar 12% (Grafik C.4). Demikian halnya
dengan DKI Jakarta dan Bali yang juga mengalami penurunan ketimpangan antar penduduk miskin.
Di sisi lain, tingkat kemiskinan di beberapa daerah wilayah Kalimantan dan Sulampua justru
cenderung meningkat dibandingkan tahun sebelumnya (Grafik C.2). Hal ini diperkirakan terkait
dengan menurunnya pendapatan masyarakat dan melemahnya aktivitas di sektor-sektor terkait
sumber daya alam karena menurunnya harga komoditas. Beberapa daerah seperti Papua, Nusa
Tenggara, Maluku dan sebagian besar daerah di Sulawesi mencatat angka kemiskinan yang lebih
tinggi dibandingkan daerah lainnya (Gambar C.3.). Selain itu, indikator tingkat keparahan
L a p o r a n N u s a n t a r a | 142
kemiskinan11, menunjukkan semakin melebarnya ketimpangan antar penduduk miskin di daerahdaerah tersebut. (Grafik C.4.)
Sumber: BPS, diolah
Gambar C.1. Persebaran Persentase Penduduk Miskin berdasarkan Wilayah
Sumber: BPS, diolah
Grafik C.3. Diagram Persebaran Pertumbuhan Tingkat Kemiskinan Maret 2013 – Maret 2014
Hal lain yang perlu dicermati adalah tingkat kemiskinan dan ketimpangan di antara penduduk
miskin di Kepulauan Riau, Bangka Belitung, dan Kalimantan Timur meningkat dibandingkan tahun
2013 (Grafik_C.4.). Hal ini bertolak belakang dengan fakta bahwa ketiga wilayah tersebut memiliki
sumber daya alam yang melimpah khususnya timah, gas, batubara, dan minyak bumi. Tingginya
angka kemiskinan di beberapa daerah tersebut justru tidak dapat terlepas dari ketergantungan
yang tinggi masyarakat di daerah-daerah tersebut terhadap pendapatan dari aktivitas di sektor
pertambangan. Kondisi ini menyebabkan adanya kebijakan yang ditempuh untuk mengendalikan
11
Indeks Keparahan Kemiskinan (Proverty Severity Index-P2) disusun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk
memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks,
semakin tinggi ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin. P2 dihitung dengan cara berikut:
∑
[
] , dimana z adalah garis kemiskinan; adalah rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk
yang berada dibawah garis kemiskinan (i=1, 2, 3, ...., q), yi < z; adalah banyaknya penduduk yang berada di
bawah garis kemiskinan; adalah jumalh penduduk; dan nilai sebesar 2.
L a p o r a n N u s a n t a r a | 143
aktivitas penambangan guna menjaga kualitas lingkungan atau peningkatan nilai tambah secara
temporer memberikan ekses pada tingkat pendapatan masyarakat.
Sebagai contoh, kebijakan untuk menekan aktivitas penambangan timah ilegal di Bangka Belitung
secara tidak langsung berdampak pada kelangsungan pertambangan rakyat tradisional yang
biasanya beroperasi secara ilegal. Hal ini mengingat hampir 25% tenaga kerja di Bangka Belitung
bekerja di sektor pertambangan dan penggalian. Contoh lainnya juga terjadi di Kalimantan Timur,
kecenderungan turunnya harga jual komoditas batubara di pasar ekspor berimbas pada
melemahnya aktivitas di sektor pertambangan dan penggalian. Kondisi ini pada gilirannya
berdampak pada tingkat pendapatan masyarakat, khususnya yang mengandalkan pada aktivitas
terkait produksi batubara.
Kondisi tersebut di atas mengindikasikan fenomena “kutukan sumber daya alam”12. Di beberapa
wilayah di Indonesia yang memiliki kekayaan alam yang besar dan diharapkan dapat menyalurkan
kesejahteraan kepada masyarakat, justru kekayaan alam tersebut tidak dapat dioptimalkan dan
bahkan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kemiskinan. Dalam kaitan ini,
ketergantungan yang tinggi terhadap pemanfaatan sumber daya alam sebagai mata pencaharian
penduduk menyebabkan tingginya sensitivitas tingkat kesejahteraan penduduk masyarakat
tersebut terhadap dinamika atau kebijakan terkait SDA tersebut. Mengatasi hal ini, strategi untuk
mendorong diversifikasi ekonomi ataupun hilirasi merupakan sebuah pilihan yang dapat ditempuh.
Ke depan, upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat perlu lebih menyeluruh melalui
capaian pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Pembangunan ekonomi tidak
semata melihat pada angka realisasi kemiskinan yang cenderung menurun, namun bagaimana
menciptakan perbaikan ketimpangan pendapatan di antara penduduk miskin itu sendiri.
Pembangunan kualitas sumber daya manusia juga perlu didorong agar dapat memberdayakan
potensi sumber daya alam yang bila dikelola dengan baik dapat menjadi sumber-sumber
pertumbuhan dan pembangunan ekonomi, bukan sebaliknya. Hal ini menjadi sangat kritikal dan
perlu dilihat sebagai bagian dari keberhasilan dalam upaya meningkatkan daya saing ekonomi di
daerah.
12
Kutukan Sumber Daya Alam atau Resources Curse terjadi pada negara-negara yang kaya sumber daya alam
(khususnya minyak dan gas alam). Negara-negara tersebut justru menunjukkan performa pembangunan
ekonomi yang lebih buruk dibanding negara-negara yang sumber daya alamnya lebih terbatas. Meskipun
kekayaan alam dapat memberi peluang untuk meningkatan kekayaan Negara, namun “anugrah” tersebut kerap
justru berubah menjadi “kutukan” dan menjadi faktor penghambat pembangunan yang berkelanjutan. “Escaping the Resource Curse (Humphreys, M., Sachs, Jeffrey D., Stiglitz, Joseph E., 2007)”.
L a p o r a n N u s a n t a r a | 144
Editor
Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter
Kontributor
Kantor Perwakilan Wilayah I
Sulawesi, Maluku & Papua
Kantor Perwakilan Wilayah II
Kalimantan
Kantor Perwakilan Wilayah III
Bali & Nusa Tenggara
Kantor Perwakilan Wilayah IV
Jawa Bagian Timur
Kantor Perwakilan Wilayah V
Jawa Bagian Tengah
Kantor Perwakilan Wilayah VI
Jawa Bagian Barat
Kantor Perwakilan Wilayah VII
Sumatera Bagian Selatan
Kantor Perwakilan Wilayah VIII
Sumatera Bagian Tengah
Kantor Perwakilan Wilayah IX
Sumatera Bagian Utara
:
Andree Breitner
:
One Yusril Fikar
:
Ikhsan Utama
:
Komalia Rahmayani
Ribka Hanum Haryono
Adela Putri Rizkia
Grup Riset Ekonomi
:
Reza Anglingkusumo
Harry Satriyo Hendharto
Anita Pratiwi
Anisha Wirasti Cahyaningrum
Grup Asesmen Ekonomi
:
Prijono
M. Cahyaningtyas
Handri Adiwilaga
Darius Tirtosuharto
Shanty Noviantie
Soraefi Oktafihani
Nurul Pratiwi Andi Parenrengi
Minda Putri Dwinanda
:
:
:
:
:
Wahyu Ari Wibowo
Rifki Ismail
Septine Wulandini
Dythia Sendrata
Reza Hidayat
Ciptoning Suryo Condro
Ragil Misas
L a p o r a n N u s a n t a r a | 145
L a p o r a n N u s a n t a r a | 146
Download