BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 IPS 2.1.1 Hakikat IPS di Sekolah

advertisement
6
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1
IPS
2.1.1 Hakikat IPS di Sekolah Dasar
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang
diberikan melalui SD/MI/SLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji
seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu
sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi geografi, sejarah,
sosioligi, dan ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk
dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab,
serta warga dunia yang cinta damai (Permendiknas No. 22 Tahun 2006).
Peserta didik akan menghadapi tantangan berat di masa yang akan
datang, karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap
saat. Oleh karena itu mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan
pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial
masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis.
Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu
dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam
kehidupan di masyarakat. Dengan pendekatan tersebut diharapkan peserta didik
akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu
yang berkaitan (Permendiknas No. 22 Tahun 2006).
Menurut Permendiknas No. 22 Tahun 2006, ruang lingkup mata
pelajaran IPS di SD meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
1. Manusia, Tempat, dan Lingkngan.
2. Waktu, Keberlanjutan, dan Perubahan.
3. Sistem Sosial dan Budaya.
4. Perilaku Ekonomi dan Kesejahteraan.
7
Penulis menyimpulkan bahwa belajar IPS tidak hanya menimbun
pengetahuan dan belajar tentang teori-teori yang ada saja, tetapi harus
dikembangkan dan diaplikasikan didalam kehidupan sehari-hari di lingkungan
masyarakat.
Kompetensi dasar merupakan standar minimum yang harus dicapai oleh
peserta didik dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan
pendidikan. Pencapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar didasarkan
pada pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah
dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru. Dalam penelitian ini
menggunakan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS di SD sebagai
berikut (Permendiknas No. 22 Tahun 2006).
Tabel 2.1
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Mata Pelajaran IPS Kelas IV Semester 2
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
2. Mengenal sumber daya alam,
2.1 Mengenal aktivitas ekonomi yang
kegiatan ekonomi, dan kemajuan
berkaitan dengan sumber daya alam dan
teknologi di lingkungan kabupaten/kota potensi lain di daerahnya
dan provinsi
2.2 Mengenal pentingnya koperasi
dalam meningkatkan kesejahteraan
masyarakat
2.3 Mengenal perkembangan teknologi
produksi, komunikasi, dan transportasi
serta pengalaman menggunakannya
2.4 Mengenal permasalahan sosial di
daerahnya
8
2.1.2 Tujuan Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
Menurut Sardjiyo, dkk (2009:1.28 ), tujuan pendidikan IPS di SD adalah
sebagai berikut:
1. Membekali anak didik dengan pengetahuan sosial yang berguna dalam
kehidupannya kelak di masyarakat.
2. Membekali anak didik dengan kemampuan mengidentifikasi, menganalisis dan
menyusun alternatif pemecahan masalah sosial yang terjadi dalam kehidupan
di masyarakat.
3. Membekali anak didik dengan kemampuan berkomunikasi dengan sesama
warga masyarakat dan berbagai bidang keilmuan serta bidang keahlian.
4. Membekali anak didk dengan kesadaran, sikap mental yang positif dan
keterampilan terhadap pemanfaatan lingkungan hidup yang menjadi bagian
dari kehidupan tersebut.
5. Membekali anak didik dengan kemampuan mengembangkan pengetahuan dan
keilmuan IPS sesuai dengan perkembangan kehidupan, masyarakat, ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Kurikulum IPS tahun 2006 bertujuan agar peserta didik memiliki
kemampuan sebagai berikut:
1. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan
lingkungannya.
2. Memiliki kemampaun dasar untuk berfikir logis dan kritis, rasa ingin tahu,
inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial.
3. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
Memiliki kemampuan berkomunikasi, berkerjasama dan berkompetensi dalam
mesyarakat majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.
2.2
Model Pembelajaran CTL
2.2.1 Pengertian Model Pembelajaran CTL
Menurut Elaine B. Johnson (2006:14), model pembelajaran CTL adalah
sebuah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa siswa mampu
menyerap pelajaran apabila mereka menangkap makna dalam materi akademis
9
yang mereka terima, dan mereka menangkap makna dalam tugas-tugas sekolah
jika mereka bisa mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman
yang sudah mereka miliki sebelumnya.
Menurut Hamruni
(2012:173), menyatakan
bahwa pembelajaran
kontekstual adalah pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan
siswa untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya
dengan situasi kehidupan nyata, sehingga mendorong siswa untuk dapat
menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Menurut Agus Suprijono (2013:79), menyatakan bahwa pembelajaran
kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep
yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi
dunia nyata dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan
yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota
keluarga dan masyarakat.
Pembelajaran kontekstual sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki 7 asas
yang menjadi landasan filosofis. Asas-asat tersebut sering juga disebut sebagai
komponen-komponen CTL menurut Elaine B. Johnson (Suyadi, 2013:83-87).
Asas-asas tersebut adalah sebagai berikut:
1. Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan
baru dalam struktur kognitif peserta didik berdasarkan pengalaman pribadinya.
Menurut konstruktivisme, pengetahuan memang berasal dari luar, tetapi
dikonstruksi oleh dan dari dalam diri seseorang. Oleh karena itu, pengetahuan
terbentuk oleh dua faktor penting, yaitu objek yang menjadi pengamatan, dan
kemampuan subjek untuk menginterpretasi objek tersebut. Dengan demikian,
pengetahuan tersebut tidak bersifat statis, tetapi bersifat dinamis, tergantung
individu yang melihat dan mengkonstruknya.
2. Inkuiri
Inkuiri merupakan proses pembelajaran yang didasarkan pada pencarian
dan penemuan melalui berfikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejuta
fakta hasil dari mengingat, tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Dengan
10
demikian, dalam proses perencanaan guru bukanlah mempersiapkan sejumlah
materi yang harus dihafal dan dipahami, tetapi merancang pembelajaran yang
memungkinkan peserta didik dapat menemukan sendiri materi yang harus
dipahami tersebut.
3. Bertanya (Questioning)
Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan.
Bertanya bukan berarti tidak tahu, demikian pula dengan menjawab bukan berarti
telah paham. Sebab, bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan
setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan dapat dipandang sebagai
cerminan kemampuan seseorang dalam berfikir. Dalam proses pembelajaran
melalui CTL, guru tidak menyampaikan informasi begitu saja, tetapi memancing
agar peserta didik dapat menemukan jawabannya sendiri. Oleh karena itu, peran
bertanya sangat penting, sebab melalui pertanyaan-pertanyaan dari peserta didik,
guru dapat membimbing dan mengarahkan mereka untuk menemukan setiap
materi yang dipelajari.
4. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Masyarakat belajar dalam CTL adalah kerjasama atau belajar bersama
dalam sebuah masyarakat atau kelas-kelompok. Kerjasama atau belajar bersama
tersebut dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, baik dalam belajar kelompok
secara formal, maupun dalam lingkungan yang terjadi secara alamiah. Hasil
belajar dapat diperoleh dari sharing dengan orang lain, antar teman dan antar
kelompok.
5. Pemodelan (Modelling)
Asas modelling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan
sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap peserta didik. Misalnya, guru
olahraga memberikan contoh tentang bagaimana cara menendang bola, atau guru
biologi memberikan contoh bagaimana cara mencangkok tanaman. Proses
modelling tidak terbatas pada guru saja, tetapi dapat juga memanfaatkan peserta
didik yang dianggap memiliki kempuan. Misalnya, peserta didik yang bisa
menendang bola dapat disuruh untuk memberikan contoh pada peserta didik yang
lain.
11
6. Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah proses pengendapan pengetahuan dan pengalaman yang
dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa
pembelajaran yang telah diprosesnya. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar
itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif peserta didik, yang pada akhirnya
menjadi bagian dari pengetahuan. Tidak menutup kemungkinan melalui proses
refleksi tersebut, peserta didik akan memperbarui pengetahuan yang telah
dibentuknya atau menambah pengetahuan mereka.
7. Penilaian Autentik (Authentic Assessment)
Penilaian nyata adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan
informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan peserta didik. Penilaian
ini diperlukan untuk mengetahui apakah peserta didik benar-benar belajar atau
tidak, memahami atau tidak, menguasai atau tidak, apakah pengalaman belajar
peserta didik memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan, baik
intelektual maupun mental peserta didik. Penilaian yang autentik dilakukan secara
terintegrasi dalam proses pembelajaran. Penilaian ini dilakukan secara kontinu
selama proses pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, penilaian difokuskan
pada proses belajar, bukan pada hasil belajar.
2.2.2 Langkah-langkah Pembelajaran CTL
Menurut Sigit (2013:61-64), terdapat enam langkah dalam pembelajaran
menggunakan model Contextual Teaching and Learning (CTL) meliputi :
1. Tahap Pengenalan
Tahap yang mendasar dalam proses pembelajaran adalah tahap
pengenalan. Artinya bahwa untuk memulai suatu pembelajaran siswa harus
dikenalkan dengan hal baru yang akan mereka pelajari. Hal ini akan sangat
membantu peserta didik dalam mempersiapkan diri untuk melakukan tahapan
selanjutnya didalam proses pembelajaran.
2. Tahap Pengaitan
Tahap pengaitan merupakan tahapan dimana siswa diminta untuk
mengaitkan pengetahuan baru yang didapatkannya dengan pengetahuan awal yang
12
telah mereka miliki. Proses pengaitan tersebut pada akhirnya akan membentuk
struktur pengetahuan baru dalam diri siswa. Oleh karena itu, pembentukan
pengetahuan baru dalam diri siswa sangat dipengaruhi oleh pengetahuan awal
yang dimiliki dengan keterampilan pengaitan yang dilakukan oleh siswa terhadap
hal baru yang didapatkan mereka.
3. Tahap Penafsiran
Proses pembelajaran konstruktivisme terdapat tahap penafsiran yang
didalamnya siswa dituntut untuk menemukan dan menyimpulkan pengetahuan
yang didapatnya dengan interpretasi atau penafsiran yang didasarkan pada
pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Proses penafsiran dilakukan dengan
memadukan proses berfikir kritis, pengalaman belajar dan pengetahuan baru yang
diperolehnya.
4. Tahap Implementasi
Tahap implementasi merupakan tahapan yang dilakukan oleh siswa
dengan cara mengimplementasikan materi keterampilan atau pengetahuan yang
didapatkan mereka dari proses belajar kedalam konteks kehidupan nyata. Artinya
bahwa pengetahuan atau keterampilan yang mereka dapatkan dan telah dimiliki
dikongkretisasikan kedalam perilaku atau sikap mereka.
5. Tahap Refleksi
Tahap refleksi penting dilakukan agar pengalaman-pengalaman yang
didapatkan selama proses pembelajaran dapat terekam secara baik dalam struktur
kognisi peserta didik. Selain itu, refleksi juga sangat membantu peserta didik
dalam menemukan kekurangan-kekurangan atau kelemahan-kelemahan selama
mengikuti proses pembelajaran.
6. Tahap Evaluasi
Evaluasi merupakan tahapan terakhir dari langkah penerapan model
CTL. Siswa pada tahapan ini dinilai secara autentik (autentik assessmen) untuk
menentukan sampai dimana pengetahuan dan kemampuan siswa setelah
dilakukannya proses pembelajaran. Penilaian dilakukan dengan berbagai teknik
baik teknik tes maupun nontes. Hal yang dievaluasi juga meliputi proses dan hasil
pembelajaran.
13
2.2.3 Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran CTL
Menurut Suyadi (2013:95) ada beberapa kelebihan dalam pembelajaran
kontekstual.
1. Pembelajaran konstektual dapat mendorong peserta didik menemukan
hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata.
Artinya, peserta didik secara tidak langsung dituntut untuk menangkap
hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata di
lingkungan masyarakat, sehingga mampu menggali, berdiskusi, berpikir kritis,
memecahkan masalah nyata yang dihadapinya dengan cara bersama-sama.
2. Pembelajaran konstektual mampu mendorong peserta didik untuk menerapkan
hasil belajarnya dalam kehidupan nyata. Artinya, peserta didik tidak hanya
diharapkan dapat memahami materi yang dipelajarinya, tetapi bagaimana
materi pelajaran itu dapat mewarnai perilaku/tingkahlaku (karakter/akhlak)
dalam kehidupan sehari-hari.
3. Pembelajaran konstektual menekankan pada proses keterlibatan peserta didik
untuk menemukan materi. Artinya, proses belajar diorientasikan pada proses
pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks CTL tidak
mengharapkan peserta didik hanya menerima materi pelajaran, melainkan
dengan cara proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
Kelemahan dalam pembelajaran kontekstual menurut Suyadi (3013:95-96) adalah
sebagai berikut:
1. CTL membutuhkan waktu yang lama bagi peserta didik untuk memahami
semua materi.
2. Guru lebih intensif dalam membimbing, karena dalam model CTL guru tidak
lagi berperan sebagai pusat informasi.
3. Upaya menghubungkan antara materi di kelas dengan realitas didalam
kehidupan sehari-hari peserta didik rentan kesalahan. Atas dasar ini, agar
menemukan hubungan yang tepat, seringkali peserta didik harus mengalami
kagagalan berulang kali.
14
2.3
Hasil Belajar
2.3.1
Belajar
Menurut Winkel (Suprihatiningrum, 2012:15), menyatakan bahwa
belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi
aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan sejumlah perubahan dalam
pengetahuan-pemahaman, keterampilan dan nilai-sikap.
Menurut Suprihatiningrum (2012:15), belajar merupakan suatu proses
usaha yang dilakukan individu secara sadar untuk memperoleh perubahan tingkah
laku tertentu, baik yang dapat diamati secara langsung maupun yang tidak dapat
diamati secara langsung sebagai pengalaman (latihan) dalam interaksinya dengan
lingkungan
Menurut Susanto (2013:4), belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan
seseorang dengan sengaja dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep,
pemahamaan, atau pengetahuan baru sehingga memungkinkan seseorang
melakukan perubahan perilaku yang relatif tetap baik dalam berfikir, merasa,
maupun dalam bertindak.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah
suatu usaha yang dilakukan oleh siswa untuk memperoleh suatu pengetahuan
melalui proses secara langsung maupun tidak langsung terjadi perubahan tingkah
laku.
2.3.2 Hasil Belajar
Menurut Gagne & Briggs (Suprihatiningrum, 2012:15), menyatakan
bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai
akibat perubahan belajar dan dapat diamati melalui penampilan siswa (learner’s
performance). Menurut Dimyati & Mudjiono (2009:3), hasil belajar merupakan
hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Menurut Nana
Sudjana (1990:22), hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki
siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.
Berdasarkan pendapat mengenai hasil belajar diatas dapat disimpulkan
bahwa hasil belajar merupakan hasil yang dicapai dari suatu proses belajar
15
mengajar dan perubahan emosional atau perubahan tingkaha laku yang terjadi
pada diri siswa secara keseluruhan melalui kegiatan belajar mengajar.
2.3.3 Keaktifan Belajar
Menurut Hisyam Zaini, dkk (2005:xvi), pembelajaran aktif adalah suatu
pembelajaran yang mengajak siswa untuk belajar secara aktif. Ketika siswa
belajar dengan aktif, berarti mereka yang mendominasikan aktifitas pembelajaran.
Dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan ide
pokok dari materi pembelajaran, memecahkan persoalan, mengaplikasikan apa
yang baru mereka pelajari ke dalam satu persoalan yang ada dalam kehidupan
nyata.
Menurut Sugiarta, dkk (2013:4), keaktifan belajar adalah peristiwa
dimana siswa terlibat langsung secara intelektual dan emosional sehingga siswa
betul-betul berperan dan berpertisipasi aktif dalam suatu kegiatan yang dilakukan
selama proses pembelajaran.
Keatifan merupakan kegiatan atau aktivitas yang dilakukan secara fisik
maupun non fisik selama proses pembelajaran berlangsung didalam kelas.
2.3.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keaktifan Belajar
Keaktifan belajar suatu individu berbeda dengan individu lainnya. Hal ini
dipengaruhi oleh beberapa faktir yang menyebabkan perbedaan tingkat keaktifan
seseorang. Menurut Wina Sanjaya (Sunarto 2013:8-9) keaktifan belajar siswa
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
1. Adanya keterlibatan siswa baik secara fisik, mental, emosional maupun
intelektual dalam setiap proses pembelajaran.
2. Siswa belajar secara langsung (experintial Learning).
3. Adanya keinginan siswa untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif.
4. Keterlibatan siswa dalam mencari dan memanfaatkan setiap sumber belajar
yang tersedia yang dianggap relevan dengan tujuan pembelajaran.
5. Adanya keterlibatan siswa dalam melakukan prakarsa. Terjadinya interaksi
yang multi arah, baik antara siswa dengan siswa atau antara guru dengan siswa.
16
Menurut Sardiman (2011:101) terdapat beberapa aspek keaktifan siswa
dalam proses belajar mengajar, yaitu:
1. Aktivitas Visual (Visual activities)
Visusal activities seperti: membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi,
percobaan, pekerjaan orang lain.
2. Aktivitas Lisan (Oral activities)
Oral activities seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran,
mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, dan interupsi.
3. Aktivitas Mendengarkan (Listening activities)
Listening activities seperti: uraian, percakapan, diskusi, musik, dan pidato.
4. Aktivitas Menulis (Writing activities)
Writing activities seperti: menulis cerita karangan, laporan, angket, dan
menyalin.
5. Aktivitas Menggambar (Drawing activities)
Drawing activities seperti : menggambar, membuat grafik, peta dan diagram.
6. Aktivitas Gerak (Motor activities)
Motor activities seperti: melakukan percobaan, membuat konstruksi, model
mereparasi, bermain, berkebun, berternak.
7. Aktivitas Mental (Mental activities)
Mental activities seperti: menanggapi, mengingat, memecahkan soal,
menganaliis, melihat hubungan, mengambil keputusan.
8. Aktivitas Emosional (Emotional activities)
Emotional activities seperti misalnya: menaruh minat, merasa bosan, gembira,
bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.
2.4
Kajian yang Relevan
Penelitian yang dilakukan oleh Rahayu Purwandari : 2012 dengan judul
Pengaruh Penerapan Pendekatan Pembelajaran Conntextual Teaching and
Learning Terhadap Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial pada Siswa Kelas IV
Sekolah Dasar Negeri Pasir Wetan Banyumas. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa terdapat perbedaan hasil belajar kelas eksperimen dengan kelas kontrol.
17
Hal ini dibuktikan dengan nilai t hitung lebih besar dari t tabel pada pertemuan
kedua dan ketiga pada taraf signifikansi 5% dan df = 28 (1,798 ≥ 1,701; 2,122 ≥
1,701). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan penerapan pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and
Learning terhadap hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Pasir Wetan tahun ajaran
2011/2012.
Penelitian yang dilakukan oleh Singgih Adhi P, Lynda Puspita Sari,
dengan judul Penerapan Contextual Teaching and Learning (CTL) Berbantu
Media Gambar Terhadap Hasil Belajar, Kinerja Guru, dan Aktivitas Siswa Ilmu
Pengetahuan Sosial Kelas IV SD Negeri 1 Bugo Jepara. Berdasarkan analisis data
hasil penelitian dan pembahasan maka pada penelitian ini dapat disimpulkan
bahwa ada pengaruh penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and
Learning (CTL) berbantu Media Gambar dalam pembelajaran sehingga dapat
meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV SD Negeri 1 Bugo Jepara. Hal ini
dapat dibuktikan dari nilai analisis t-test dimana thitung>ttabel yakni 5,862>1,685
sehingga disimpulkan bahwa perbedaan rata-rata kondisi awal dengan kondisi
akhir signifikan. Selain itu juga terdapat penerapan terhadap kinerja guru dan
aktivitas siswa. Kinerja guru dengan rata – rata 85, 4 dan aktivitas siswa 84,1.
2.5
Kerangka Berfikir
Bagan dibawah ini menjelaskan bahwa model pembelajaran CTL akan
diujikan pada kelas eksperimen. Sebagai pembanding, diberikan juga model
konvensional kepada kelas kontrol. Sebelum kedua kelas ini diberikan perlakuan
dengan model pembelajaran masing-masing, terlebih dahulu diberikan pretest
untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Selanjutnya diberikan pembelajaran
dengan model pembelajaran, setelah itu diberikan post-test untuk mengetahui
perbedaan yang terjadi akibat dari perlakuan dengan menerapkan model
pembelajaran.
18
Model
Kelas
Pre test
Kontrol
Pembelajaran
Post test
Konvensional
Hasil Belajar
&
Keaktifan
Model
Kelas
Eksperimen
Pre test
Pembelajara
Post test
n CTL
2.1 Gambar Kerangka Pikir
2.6
Hipotesis Penelitian
Berdasarkan pemaparan diatas, maka yang menjadi hipotesis penelitian
ini adalah:
1. Penerapan model pembelajaran CTL lebih efektif dibanding model
pembebelajaran konvensional terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran
IPS di kelas IV SDN Gedangan 01.
2. Penerapan model pembelajaran CTL lebih efektif dibanding model
pembebelajaran konvensional untuk meningkatkan keaktifan siswa pada mata
pelajaran IPS di kelas IV SDN Gedangan 01.
Download