6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Teori Medis 1. Balita a. Pengertian

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori Medis
1. Balita
a.
Pengertian
Balita adalah anak berusia dibawah umur lima tahun yang
sedang mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan yang
pesat. Pertumbuhan perkembangan balita dipengaruhi oleh kesehatan
yang baik, status gizi yang baik, lingkungan yang sehat serta
keluarga (termasuk pengasuh) yang baik dalam merawat balita
(Depkes RI, 2008). Menurut Sutomo dan Anggraeni (2010), Balita
adalah istilah umum bagi anak usia 1-3 tahun (batita) dan anak
prasekolah (3-5 tahun).
b.
Penyakit infeksi pada balita
Berdasarkan
hasil
pertemuan
International
Pediatric
Association (2010), WHO merumuskan bahwa penyakit infeksi berat
pada anak meliputi penumonia, diare, malaria, infeksi neonatal, HIV
dan TB.
2. Pneumonia
a.
Pengertian
Menurut Departemen Kesehatan Indonesia (2012), pneumonia
adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru – paru (alveoli).
6
7
Paru-paru terdiri dari ribuan bronkhi yang masing-masing terbagi
lagi menjadi bronkhioli, yang tiap-tiap ujungnya berakhir pada
alveoli. Di dalam alveoli terdapat kapiler-kapiler pembuluh darah
dimana terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida. Ketika
seseorang menderita pneumonia, nanah (pus) dan cairan mengisi
alveoli tersebut dan menyebabkan kesulitan penyerapan oksigen
sehingga terjadi kesukaran bernapas. Menurut Subanada (2010)
pneumonia yaitu inflamasi parenkim paru yang dihubungkan dengan
konsolidasi ruang alveoli. Sedangkan menurut Somantri (2008)
pneumonia merupakan suatu proses peradangan yang ditandai
dengan adanya konsolidasi karena pengisian rongga alveoli oleh
eksudat.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pneumonia
adalah infeksi atau peradangan mengenai parenkim paru yang
ditandai dengan adanya konsolidasi karena pengisian rongga alveoli
oleh eksudat.
b. Etiologi
Berdasarkan hasil penelitian pada pneumonia anak ditemukan
bahwa 32% pneumonia disebabkan oleh virus, 30% oleh campuran
virus dan bakteri dan 22% karena bakteri. Virus terbanyak yang
ditemukan adalah Respiratory Sycytial Virus (RSV), Rhinovirus dan
virus Parainfluenza. Di negara berkembang pneumonia pada anak
disebabkan
oleh
bakteri
yaitu
Streptococcus
pneumoniae,
8
Haemophillus influenzae tipe B dan Staphylococcusaureus (Said,
2010).
c. Patofisiologis
Pneumonia yang dipicu oleh bakteri bisa menyerang siapa saja,
dari bayi sampai usia lanjut. Pada saat pertahanan tubuh menurun,
misalnya karena penyakit, usia lanjut, dan malnutrisi, bakteri
pneumonia akan dengan cepat berkembang biak dan merusak organ
paru (Isnaini, 2009).
Pneumonia masuk kedalam paru melalui jalan pernapasan
secara percikan atau secara doplet (Maryunani, 2010).
Adapun proses radang penumonia dibagi empat stadium :
1) Stadium I : Kongesti
Kapiler melebar dan kongesti di dalam alveolus terdapat eksudat
jernih.
2) Stadium II : Hepatisasi Merah
Lobus dan lobulus yang terkena menjadi lebih padat dan tidak
mengandung udara, warna menjadi merah, pada perabaan seperti
hepar, di dalam alveolus terdapat fibrin.
3) Stadium III : Hepatisasi Kelabu
Lobus masih padat dan berwarna merah menjadi kelabu/pucat,
permukaan pleura suram karena diliputi oleh fibris dan leukosit,
tempat terjadi pagositosi pneumococcus dan kapiler tidak lagi
kongesti
9
4) Stadium IV : Resolusi
Eksudat berkurang, di dalam alveolus macrofag bertambah dan
leukosit nekrosis serta degenerasi lemak, fibrin, kemudian
diekskresikan dan menghilang.
d. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi terjadinya pneumonia adalah kelainan
anatomi kongenital, gangguan fungsi imun, campak, pertusis,
gangguan neuromoskular, kontaminasi perinatal dan gangguan
klirens mukus/sekresi seperti pada fibrosis kistik, aspirasi benda
asing atau difungsi silier (Setyoningrum, 2006). Riwayat penyakit
infeksi dalam keluarga seperti tuberkulosis dan penyakit keturunan
misalnya asma dan alergi saluran respiratori lainnya bisa menjadi
pendorong timbulnya pneumonia (Rahajoe, 2008).
e. Faktor Risiko
Faktor risiko pneumonia yang telah diidentifikasikan antara
lain faktor yang meningkatkan terjadinya (morbiditas) pneumonia
dan faktor yang meningkatkan terjadinya kematian (mortalitas) pada
pneumonia (Maryunani, 2010).
1) Faktor Risiko yang meningkatkan insiden pneumonia
a) Umur < 2 bulan
b) Laki – laki
c) Gizi kurang
d) BBLR dan Riwayat BBLR
10
e) Tidak mendapat ASI yang memadai
f) Polusi udara
g) Kepadatan tempat tinggal
h) Imunisasi yang tidak memadai
i) Defisiensi vitamin A
2) Faktor Risiko yang meningkatkan angka kematian
a) Umur < 2 bulan
b) Tingkat sosial ekonomi rendah
c) Gizi kurang
d) BBLR dan Riwayat BBLR
e) Tingkat pendidikan ibu yang rendah
f) Tingkat jangkauan pelayanan kesehatan yang rendah
g) Kepadatan tempat tinggal
h) Imunisasi yang tidak memadai
i) Menderita penyakit kronis
f. Keluhan Subjektif
Rahajoe (2008) menyebutkan bahwa keluhan balita yang
mengalami pneumonia meliputi demam, menggigil, batuk, sakit
kepala, dan keluhan gastrointestinal seperti muntah dan diare.
Demam, anoreksia dan keluhan gastrointestinal menurut Muttaqin
(2008) terjadi akibat dari reaksi inflamasi yang hebat. Sedangkan
batuk terjadi sebagai akibat dari sekresi edema dan prochospasma.
11
g. Tanda Klinis / Laboratoris
Gejala dan tanda klinis pneumonia bervariasi tergantung
kuman penyebab, usia pasien, status imunologis pasien dan beratnya
penyakit. Menurut Ridha (2014) gejala klinis pneumonia yaitu :
1) Gejala klinik tergatung dari penyebab pneumonia
2) Keluhan utama berupa batuk (80%)
3) Nyeri dada (tampak sangat sakit dan berkeringat).
4) Demam tinggi pada 5 – 10 hari pertama.
5) Sesak napas (lebih – lebih bila ada komplikasi).
6) Produksi sputum mukoid, purulen, warna seperti karat.
7) Pusing anoreksi, malaise, mual sampai muntah
Diagnosis penyakit pneumonia dapat ditegakkan dengan
pemeriksaan sebagai berikut :
a) Pemeriksaan fisik
(1) Status Generalis
(a) Keadaan umum dan kesadaran
Klien dengan pneumonia berat sering terjadi penurunan
kesadaran (Muttaqin, 2008).
(b) Tanda – tanda vital
Pasien
dengan
penumonia
biasanya
mengalami
peningkatan suhu, frekuensi nafas meningkat dari
frekuensi normal, denyut nadi biasanya meningkat sirama
12
dengan
peningkatan
suhu
tubuh
dan
frekuensi
pernapasan. (Muttaqin, 2008).
(2) Pemeriksaan sistematis
Menurut Muttaqin (2008) pemeriksaan fisik pada pneumonia
akan ditemukan tanda dan gejala sebagai berikut :
a) Muka
Pada pneumonia terdapat sianosis sentral. Muka klien
tampak menangis dan merintih.
b) Hidung
Nafas cuping hidung pada sesak berat dialami terutama
oleh anak – anak.
c) Dada :
(1) Inspeksi didapatkan gerakan pernafasan simetris
peningkatan frekuensi nafas cepat dan dangkal, serta
adanya retraksi sternum dan intercostal space (ICS).
(2) Palpasi didapatkan gerakan dada saat bernafas
biasanya normal dan seimbang antara kanan dan kiri
(3) Perkusi pada klien dengan pneumonia tanpa disertai
komplikasi biasanya didapatkan bunyi sonor atau
redup pada seluruh lapang paru.
d) Auskultasi pada klien dengan pneumonia didapatkan
bunyi nafas melemah dan bunyi nafas tambahan ronkhi
13
basah atau wheezing pada sisi yang sakit. (Muttaqin,
2008)
b) Pemeriksaan penunjang
a) Darah Perifer Lengkap
Pada
pneumonia
virus
dan
mikoplasma
umumnya
ditemukan leukosit dalam batas normal atau sedikit
meningkat. Akan tetapi, pada penumonia bakteri didapatkan
leukositosis yang berkisar antara 15.000 – 40.000/mm³
dengan predominan PMN (Rahajoe, 2008).
b) Pemeriksaan Rontgen Toraks
Foto
rontgen
toraks
hanya
direkomendasikan
pada
pneumonia berat yang dirawat. Pada pasien dengan
pneumonia tanpa komplikasi, ulangan foto rontgen toraks
tidak diperlukan. Ulangan foto rontgen toraks diperlukan
bila gejala klinis menetap, penyakit memburuk atau untuk
tindak lanjut
Secara umum gambaran foto toraks terdiri dari :
(a) Infiltrat
interstitial,
ditandai
dengan
peningkatan
corakan bronkovaskular, peribronchial cuffing, dan
hiperaerasi.
(b) Infiltrat alveolar, merupakan konsolidasi paru dengan
air bronchogram. Konsolidasi dapat mengenai satu
lobus disebut dengan pneumonia lobaris atau terlihat
14
sebagai lesi tunggal yang biasanya cukup besar,
berbentuk sferis, berbatas yang tidak terlalu tegas dan
menyerupai lesi tumor paruu, dikenal sebagai round
pneumonia.
(c) Bronkopneumonia, ditandai dengan gambaran difus
merata pada kedua paru, disertai dengan peningkatan
corakan peribronkial.
Sumber : Nelson, 2007
Gambar 2.2 : A. Temuan gambaran foto toraks pada RSV pneumonia, bayi
usia 6 bulan dengan takipneu dan demam. B. 1 hari kemudian, radiagraf
anteroposterior (AP) pada dada menunjukkan kenaikan pneumonia
bilateral.
c) Pemeriksaan Mikrobiologis
Pemeriksaan mikrobiologis rutin dilakukan pada pneumonia
berat yang dirawat di Rumah sakit. Untuk pemeriksaan
mikrobiologik spesimen dapat berasal dari usap tenggorok,
sekret nasofaring, bilasan bronkus, darah fungsi pleura atau
aspirasi paru (Rahajoe, 2008).
15
h Prognosis
Pada sebagian besar kasus pneumonia dapat disembuhkan
secara total dengan pemberian terapi yang tepat. (Maryunani, 2013).
UNICEF dan WHO telah memberikan pedoman untuk mendiagnosa
dan
mengobati
penumonia
pada
negara
berkembang.
Kontrimoksazol dan amoksilin adalah obat yang efektif melawan
bakteri patogen dan sering digunakan untuk mengobati anak – anak
dengan pneumonia di negara berkembang. Namun di beberapa
tempat cara pengobatan perlu dipilih berdasarkan keberhasilannya.
Beberapa daerah mungkin memiliki tingkat ketahanan terhadap
antibiotik tertentu. Tempat lain mungkin memiliki kelompok
berisiko tinggi dalam jumlah besar, seperti anak-anak yang
kekurangan gizi atau HIV-positif, dan mungkin perlu beradpatasi
dengan pengobatan yang tepat guna.
i Komplikasi
Komplikasi yang dialami anak dengan pneumonia adalah efusi
pleura dan emfiema, komplikasi sistemik, hipoksemia, pneumonia
kronik dan bronkietasis (Maryunani, 2013).
j Penatalaksanaan
Dalam penelitiannya, Pamungkas (2012) mengatakan tindakan
untuk pneumonia berat adalah harus segera dirujuk ke rumah sakit.
Pada kasus pneumonia berat dipakai antimikroba seperti benzil
penisilin (suntikan), kloramfenikol (suntikan/oral), ampisilin (oral),
16
dan amoksilin (oral). Selain itu dikombinasikan juga dengan
kegiatan penunjang, yaitu pemberian oksigen, pemberian cairan per
infus, pengisapan lendir atau cairan yang menyumbat hidung atau
jalan napas dan pemakaian uap untuk melapangkan jalan napas
dengan alat khusus (Nebulizer).
1) Rawat Inap
Dasar tatalaksana pneumonia rawat inap adalah pengobatan
kausal dengan antibiotik yang sesuai, serta tindakan yang suportif.
Pada balita antibiotik yang direkomendasikan adalah antibiotk
beta – laktam dengan atau tanpa klavulanat. Pada kasus yang
lebih berat diberi beta – laktam/klavulanat dikombiinasikan
dengan makrolid baru intervena atau sefalosporin generasi ketiga.
Pada pneumonia atipik yang disebabkan oleh Mycpolasma
peumoniae makrolid merupakan antibiotik pilihan pertama
Rahajoe (2008) sedangkan menurut Noels (2013) pengobatan
pneumonia terdiri dari antibiotik ampicillin dan dikombinasikan
dengan gentamicin. Pada pasien yang dicurigai pneumonia virus,
terapi awal diberikan antibiotik. Kegagalan berespons terhadap
antibiotik merupakan dasar tambahan untuk
diagnosa pneumonia virus (Nelson, 2007).
menegakkan
17
Tabel 2.1 Pemilihan antibiotika berdasarkan etiologi
Mikroorganisme
Antibiotik
Streptococcus dan
staphylococcus
Penisilin G 50.000 unit.hari iv atau
Penisilin Prokain 600.000
U/kali/hari im atau Ampisilin
100mg/kgBB/hari atau
Seftriakson 75 - 200mg/kgBB/hari
M. Pneumoniae
H.influenza
Klebsiela P.aeruginosa
Eritrosin 15mg/kgBB/hari atau
Kloramfenikol 100mg/kgBB/hari
Sefalosporin
Sumber : Mansjoer, 2009
2) Rawat Jalan
Pada pneumonia ringan rawat jalan dapat diberikan antibiotik lini
pertama secara oral, misalnya amoksisilin atau kotrimoksazol.
Pada pneumonia ringan berobat jalan dapat diberikan antibiotik
tunggal oral dengan efektivitas yang mencapai 90%. Dosis
amoksisilin yang diberikan adalah 25 mg/kgBB, sedangkan
kontrimoksazol adalah 4 mg/kgBB (Rahajoe, 2008). Selain itu
diberikan pelega tenggorokan berupa obat – obatan dekongestan
oral atau nasal dan diberikan pereda batuk yang aman yaitu obat
batuk yang mengandung atropin codein, dan derivatnya atau
alkohol (MTBS, 2008).
18
Tabel 2.2 Daftar antibiotik bagi penderita pneumonia
Pilihan Pertama
Kontrimoksazol 2x sehari
selama 5 hari
Tablet
dewasa
2 < 4 bln (4 - < 6 kg)
1/4
3 < 4 bln (4 - < 6 kg)
1/2
12 bln - 5 th (10 < 19 kg) 3/4
3 - < 5 th (16 - < 19 kg)
1
Usia atau BB
Tablet
Anak
1
2
2½
3
Sirup
(ml)
2,5
5,0
7,5
10
Pilhan Kedua
Amoxicillin 2x
sehari selama 5 hari
Tablet
Sirup
(500mg) (125mg)
1/4
5 ml
1/2
10 ml
2/3
12,5 ml
3/4
15 ml
Sumber : Buku Bagan MTBS, 2008
B. Teori Manajemen Kebidanan
Penerapan manajemen kebidanan pada balita sakit dengan pneumonia
menurut 7 Langkah Varney, yaitu :
1. Langkah I : Pengumpulan/Penyajian Data Secara Lengkap
Untuk memperoleh data dasar secara lengkap pada kasus Pneumonia
dapat diperoleh melalui :
a.
Identitas pasien
Data utama yang berhubungan adalah :
1) Nama
Digunakan untuk mengetahui identitas pasien, nama balita dan
nama orang tua pasien.
2) Umur
19
Untuk mengetahui faktor risiko pneumonia dilihat dari umur
pasien. Pneumonia lebih sering terjadi pada masa kanak-kanak
dibandingkan usia lain. Insiden pneumonia berbanding terbalik
dengan umur (Divisi Pediatri Gawat Darurat RSCM, 2005).
3) Alamat rumah
Untuk mengetahui tempat tinggal pasien. Pasien dengan pneumonia
sering dijumpai apabila bertempat tinggal di lingkungan dengan
sanitasi buruk (Muttaqin, 2008).
b.
Anamnesa (Data Subyektif)
1) Keluhan Utama
Keluhan utama pada pasien pneumonia pada umumnya batuk,
sesak napas, takipnea dan penurunan nafsu makan (Rahajoe, 2008).
2) Riwayat Kesehatan
Merupakan riwayat kesehatan atau penyakit yang diderita sekarang
atau yang lalu atau yang ada dalam keluarga dan riwayat keturunan
keluarga (Salma, 2006).
a) Riwayat penyakit sekarang
Pada balita dengan pneumonia didapatkan batuk, sesak napas,
takipnea dan penurunan nafsu makan (Rahajoe, 2008)
b) Riwayat penyakit terdahulu
Pada klien dengan pneumonia mempunyai riwayat sering
menderita penyakit saluran pernapasan bagian atas dan riwayat
penyakit campak/pertusis (Rustianto, 2012)
20
c) Riwayat penyakit keluarga
Dalam hal ini ditanyakan apakah dalam keluarga ada riwayat
penyakit infeksi misalnya tuberkulosis dan penyakit keturunan
misalnya asma serta alergi saluran napas lainnya (Rahajoe,
2008).
3) Riwayat Sosial
a) Lingkungan rumah
Kepadatan hunian, paparan asap rokok secara pasif dan faktor
lingkungan (faktor udara) merupakan faktor risiko untuk
terjadinya pneumonia (Setyoningrum, 2006).
4) Pola Kebiasaan Sehari – hari
a) Nutrisi
Menurut Rahajoe (2008) dan Muttaqin (2008) pada penderita
pneumonia biasanya disertai dengan penurunan nafsu makan
dan keluhan gastrointestinal seperti muntah. Defisiensi vitamin
A dan Zn merupakan faktor risiko terjadi pneumonia
(Setyaningrum, 2006).
b) Eliminasi
Rahajoe (2008) dan Muttaqin (2008) menyebutkan bahwa
keluhan balita yang mengalami pneumonia salah satunya adalah
keluhan gastrointestinal dan diare.
c.
Pemeriksaan Fisik
1) Status Generalis
21
a) Keadaan umum dan kesadaran
Klien dengan pneumonia berat sering terjadi penurunan
kesadaran (Muttaqin, 2008)
b) Tanda – tanda vital
Pasien dengan pneumonia biasanya didapatkan peningkatan
suhu, frekuensi nafas meningkat dari frekuensi normal, denyut
nadi biasanya meningkat seirama dengan peningkatan suhu
tubuh dan frekuensi pernapasan (Muttaqin, 2008)
2) Pemeriksaan Sistematis
Menurut Muttaqin (2008) pemeriksaan fisik pada pneumonia akan
ditemukan tanda dan gejala sebagai berikut :
a) Muka
Pada pneumonia terdapat sianosis sentral. Muka klien tampak
menangis dan merintih.
b) Hidung
Nafas cuping hidung pada sesak berat dialami terutama oleh
anak – anak.
c) Dada :
1) Inspeksi
didapatkan
gerakan
pernafasan
simetris,
peningkatan frekuensi nafas cepat dan dangkal, serta adanya
retraksi sternum dan intercostal space (ICS).
2) Palpasi didapatkan gerakan dada saat bernafas biasanya
normal dan seimbang antara kanan dan kiri.
22
3) Perkusi pada klien dengan pneumonia tanpa disertai
komplikasi biasanya didapatkan bunyi sonor atau redup
pada seluruh lapang paru
4) Auskultasi pada klien dengan pneumonia didapatkan bunyi
nafas melemah sering kali dtemukan bila ada proses
peradangan subpleura dan mengeras (suara bronkial) bila
ada proses konsolidasi. Ronki basah halus yang khas untuk
pasien yang lebih besar, mungkin tidak akan terdengar
untuk bayi. Pada bayi dan balita kecil karena kecilnya
volume toraks biasanya suara nafas saling berbaur dan sulit
diidentifikasi. Auskultasi dilakukan di seluruh dada dan
punggung, mulai dari daerah supraklavikular, kemudian ke
bawah setiap kali satu sela iga dan dibandingkan sisi kanan
dan kiri (Setyoningrum, 2006)
3) Pemeriksaan penunjang
a) Darah Perifer Lengkap
Pada pneumonia virus dan mikoplasma umumnya ditemukan
leukosit dalam batas normal atau sedikit meningkat. Akan
tetapi, pada pneumonia bakteri didapatkan leukositosis yang
berkisar antara 15.000 – 40.000/mm³ dengan predominan PMN
(Rahajoe, 2008).
23
b) Pemeriksaan Rontgen Toraks
Foto rontgen toraks hanya direkomendasikan pada pneumonia
berat yang dirawat. Pada pasien dengan pneumonia tanpa
komplikasi, ulangan foto rontgen toraks tidak diperlukan.
Ulangan foto rontgen toraks diperlukan bila gejala klinis
menetap, penyakit memburuk atau untuk tindak lanjut
c) Pemeriksaan Mikrobiologis
Pemeriksaan mikrobiologis rutin dilakukan pada pneumonia
berat yang dirawat di Rumah sakit. Untuk pemeriksaan
mikrobiologik spesimen dapat berasal dari usap tenggorook,
sekret nasofaring, bilasan bronkus, darah fungsi pleura atau
aspirasi paru (Rahajoe, 2008).
2. Langkah II : Interpretasi Data Dasar
Diagnosa kebidanan pada studi kasus balita sakit ini adalah “Balita
X Umur Y tahun dengan Pneumonia”.
Masalah yang mungkin timbul pada balita sakit dengan pneumonia
yaitu pola nafas yang tidak teratur, takut atau cemas, risiko infeksi dan
nyeri (Hidayat, 2006).
Kebutuhan yang harus dipenuhi yaitu mengatur posisi dengan
memungkinkan ekspansi paru maksimum dengan posisi semi fowler,
berikan nutrisi dan berikan oksigenasi sesuai kebutuhan, pada bayi muda
umur kurang dari satu tahun dosis 0,5 liter per menit, libatkan orang tua
dalam memberikan perawatan sehingga anak merasakan ketenangan,
24
melakukan penghisapan sekresi jalan nafas, mengompres dingin/panas
pada daerah yang sakit. Hidayat (2006) dan Noels (2013).
3. Langkah III : Identifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial dan
Antisipasi Penanganannya
Pada kasus balita sakit dengan pneumonia diagnosa potensial yang
mungkin terjadi adalah hipoksia, hiperkapne dan pada keadaan berat dapat
terjadi gagal napas (Setyoningrum dkk, 2006).
Adapun antisipasi tindakan yang dapat dilakukan bidan adalah
memantau pernapasan, irama, kedalaman atau menggunakan oksimetri
nadi untuk memantau saturasi oksigen (Muttaqin, 2008).
4. Langkah IV : Kebutuhan terhadap Tindakan Segera
Dari data yang dikumpulkan menunjukkan perlunya kolaborasi
dengan dokter Spesialis Anak untuk pemberian terapi. Pada pasien dengan
pneumonia terapi yang sering diberikan adalah terapi antibiotik, antipiretik
dan pemberian bronkhodilator atau ekspektoran sesuai dengan kebutuhan
anak. Tindakan lain yang dilakukan yaitu perlunya berkolaborasi dengan
tim laboratorium diperlukan dalam menegakkan diagnosis yang tepat
(Hidayat, 2006).
5. Langkah V : Perencanaan Asuhan yang Menyeluruh
Penatalaksanaan anak dengan pneumonia yang dirawat di rumah
sakit, yaitu :
a. Bersihkan jalan napas dengan mengeluarkan lendir dan kotoran dari
hidung dan mulut (Suriadi, 2010).
25
b. Atur posisi semi fowler yaitu kepala lebih tinggi 30 derajat agar
membantu memperlancar pernapasan (Hidayat, 2006).
c. Melakukan observasi batuk dan sesak napas untuk memantau
efektivitas pernapasan (Suriadi, 2010).
d. Pemberian cairan intra vena dan pemenuhan hidrasi tubuh untuk
mencegah penurunan volume cairan tubuh secara umum (Muttaqin,
2008).
e. Observasi tanda-tanda vital meliputi suhu tubuh, nadi, dan respirasi
(Muttaqin, 2008).
f. Berikan penjelasan kepada orang tua tentang penyakit yang diderita
anaknya sehingga dapat menurunkan rasa takut atau cemas pada orang
tua (Hidayat, 2006).
g. Berikan kenyamanan pada lingkungan anak dan libatkan orang tua
dalam memberikan perawatan sehingga anak merasakan ketenangan
(Hidayat, 2006).
h. Kolaborasi dengan dokter spesialis anak untuk pemberian terapi :
1) Berikan oksigen sesuai kebutuhan anak untuk memperbaiki pola
napas, berikan ekspektoran yang sesuai untuk memudahkan
pengeluaran sputum, dan berikan nebulasi dengan larutan dan alat
yang sesuai (Hidayat, 2006).
2) Berikan antibiotik beta-laktam misalnya golongan penisilin
dengan/atau tanpa klavulanat dikombinasikan dengan makrolid
baru intravena seperti eritromisin, azitromisin, klaritomisin dan
26
golongannya atau sefalosporin generasi ketiga seperti seftriakson,
seftazidim, sefotaksim dan golongannya. (Rahajoe, 2008).
3) Berikan terapi suportif dan simptomatik sesuai dengan indikasi
gejala yang terjadi (Widagdo, 2012).
i. Penuhi kebutuhan nutrisi dengan mengonsumsi makanan tinggi kalori
tinggi protein (Muttaqin, 2008).
6. Langkah VI : Pelaksanaan Langsung Asuhan dengan Efisien dan
Aman
Pada langkah keenam ini, rencana asuhan yang menyeluruh seperti
yang diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman.
Perencanaan ini bisa seluruhnya dilakukan oleh bidan atau sebagian oleh
bidan dan sebagian lagi oleh klien, atau anggota tim kesehatan lainnya.
Rencana dapat dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi oleh
klien, atau anggota tim kesehatan lainnya. Apabila tidak dapat
melakukannya sendiri bidan bertanggung jawab untuk memastikan bahwa
implementasi benar-benar dilakukan. Dalam situasi dimana bidan
berkolaborasi dengan dokter dan keterlibatannya dalam manajemen asuhan
bagi pasien yang mengalami komplikasi, bidan juga bertanggung jawab
terhadap terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut
(Nurhayati, 2012).
7. Langkah VII : Evaluasi
Evaluasi yang diharapkan dari pelaksanaan asuhan kebidanan balita
sakit pada An. R dengan pneumonia adalah :
27
a. Pola napas anak telah membaik, frekuensi napas kurang dari 40x/ menit
pada anak usia 12 bulan-5 tahun (Maryunani, 2013).
b. Gejala klinik dari pneumonia yang meliputi demam, nyeri dada,
dispnea, dan takipnea telah teratasi (Maryunani, 2013).
C. Follow Up Data Perkembangan Kondisi Klien
Tujuh langkah Varney disarikan menjadi empat langkah yaitu SOAP
(Subjective, Objective, Assesment dan Planning). SOAP disarikan dari proses
pemikiran penatalaksanaan kebidanan sebagai perkembangan catatan
kemajuan keadaan klien (Kepmenkes RI Nomor: 938/Menkes/SK/VIII/2007).
S : Subjective (Data Subjektif)
Data subjektif adalah catatan kualitatif dan kuantitatif dari pasien
yang mencakup perasaan, reaksi atau pengamatan terhadap masalah. Data
ini menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien
melalui anamnesis sebagai langkah I Varney.
O : Objective (Data Objektif)
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien,
hasil laboraturium dan tes diagnostik lain yang durumuskan dalam data
fokus untuk mendukung asuhan, sebagai langkah I Varney.
Pada pneumonia, data objektif didapatkan melalui pemeriksaan
fisik yaitu kesadaran umum menurun, pada inspeksi didapatkan
peningkatan frekuensi nafas cepat dan dangkal, serta adanya retraksi
sternum dan intercostal spase. Pada palpasi didapatkan gerakan dada saat
bernafas biasanya normal dan seimbang antara bagian kanan dan kiri.
28
Pada perkusi didapatkan bunyi sonor atau redup pada seluruh lapang.
Pada auskultasi didapatkan bunyi nafas melemah dan bunyi nafas
tambahan ronkhi basah atau wheezing pada sisi yang sakit (Muttaqin,
2008).
A : Assesment (Analisis)
Analisis menggambarkan pendokumentasian hasil analisis dan
interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi diagnosa
dan masalah kebidanan serta kebutuhan sebagai langkah II Varney.
Diagnosis kebidanan pada balita sakit dengan pneumonia adalah
Balita A umur 1 tahun dengan pneumonia.
P : Plan (Penatalaksanaan)
Penatalaksanaan
mencakup
seluruh
perencanaan
dan
penatalaksanaan yang sudah dilakukan seperti tindakan antisipatif,
tindakan segera, tindakan secara komprehensif (seperti penyuluhan,
dukungan, kolaborasi, evaluasi atau follow up dari rujukan) sebagai
langkah III, IV, V, VI dan VII Varney.
Perencanaan pada kasus balita dengan Pneumonia adalah berikan
oksigen sesuai kebutuhan anak, observasi keadaan umum dan tanda-tanda
vital, berikan antibiotik dan antipiretik sesuai advice dokter dan ciptakan
situasi yang nyaman (Hidayat, 2006).
Download