7 BAB 2 KAJIAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Sebelumnya

advertisement
BAB 2
KAJIAN PUSTAKA
2.1
Penelitian Sebelumnya (State of the Art)
Tabel 2.1 Penelitian Sebelumnya
No
1.
Judul/Peneliti
Lembaga
Pengaruh Program
Inbox Di Sctv
Terhadap Minat
Menonton (Studi
Kasus Mahasiswa
Broadcasting
Semester 6 Kelas
06PIO dan 06PHO
Di Binus
University)
Oleh : Aditya
Antakusuma
2.
Pengaruh Sinetron
"Diam-Diam Suka"
Di SCTV Terhadap
Minat Remaja
Menonton (Studi
Kasus : Likers
Facebook Fanpage
Diam-Diam Suka)
Teori
Metodologi
- Uses and
Gratification
- Kuantitatif
- Metode : Survei
- Populasi
dan
Sampel
Populasi
menggunakan
mahasiswa
Broadcasting
kelas 06PIO dan
06PHO di
BINUS
University,
sampel sebanyak
80 mahasiswa
- Uses and
- Kuantitatif
Gratification - Metode :
Survei
- Populasi dan
Sampel
Pengaruh Program
"ilook" Di Net Tv
Terhadap Minat
Penonton Untuk
Merubah Gaya
Berpakaian (Studi
Pada Followers
Twitter
@ilook_Net)
Tidak ada
pengaruh yang
signifikan antara
program INBOX di
SCTV terhadap
minat menonton
Mahasiswa BINUS
Universitas sebesar
0.019
Terdapatnya
hubungan antara
variabel program
sinetron “DiamDiam Suka” di
SCTV (X) dan
Jumlah populasi
variabel Minat
24.305 likers
Menonton remaja
facebook.
(Y) sebesar 0,703
Sampel diambil
yang menunjukan
sebanyak 100
bawah hubungan
orang.
antara dua variabel
tersebut kuat
- Kuantitatif
Pengaruh program
- Metode :
“iLook” terhadap
Survei
minat penonton
- Populasi dan
untuk merubah
Sampel
gaya berpakaian
Populasi 47.300
cukup signifikan,
followers, dengan yaitu sebesar
jumlah sampel
75,5%.
100 orang
Oleh : Gamalia
Evira
3.
Hasil
- Uses and
effect
Oleh: Tri Asih Ayu
Lestari.
7
8
No
4.
Judul/Peneliti
Teori
Lembaga
Religiosity,
- Cultivation
Repression, and
theory
Cultivation:
Different Patterns of
TV Viewing Effects
on Crime
Prevalence
Estimates
and Personal
Victimization
Likelihood
Assessment
Metodologi
- Quantitative
research
Risk of robbery for
religious person
was 13.6% and
22.3% for non
religius. Personal
risk for criminality
property without
violence was
19.3% for religious
and 28.6% for non
religious. Robbery
with violence
aproximately
happenned was
16.3% for religious
and 24.2% for non
religius. If without
violence was
21.8% for
religious and
30.5% for non
religious
- Quantitative
research
- Method :
Survey
Soap opera
involvement was
dependent on how
intentionally
respondent
approached the
viewing situation
and how much
attention they pait
to the programs. It
also is likely that
participant
involment affects
subsequent viewing
motives, attitudes,
and activity.
By Amir Hetsroni
& Hila Lowenstein,
Ariel University
Center, Israel
5.
Audience activity
and soap opera
involvement.
- Uses and
effect
By Alan M. Rubin
from Kent State
University and
Elizabeth M. Perse
from University of
Delaware.
2.2
Hasil
Landasan Teori
2.2.1 Teori Komunikasi Massa
Komunikasi terbagi atas beberapa level, mulai dari komunikasi interpesonal,
komunikasi kelompok, komunikasi organisasi, dan komunikasi massa. Komunikasi
massa berhubungan dengan komunikasi publik, biasanya melalu perantara (mediasi).
9
Banyak aspek dari komunikasi komunikasi interpersonal, kelompok, dan organisasi
terlibat dalam proses komunikasi massa. (Morissan, 2014:16)
Sementara itu menurut Jay Black dan Prederick C.Whitney (1988)
disebutkan, “Mass communication is a process whereby mass-produced message are
transmitted to large, anonymous, and heterogeneous masses of receivers
(Komunikasi massa adalah sebuah proses di mana pesan–pesan yang diproduksi
secara massal/tidak sedikit itu disebarkan kepada massa penerima pesan yang luas,
anonim, dan heterogen)”. (Nurudin, 2014:12)
Beberapa definisi komunikasi massa dari para ahli komunikasi lainnya yaitu :
1.
Menurut Susanto (1974) : mass communication atau communications
diartikan sebagai salurannya, yaitu mass media (media massa) kependekan
dari media of mass communication .
2.
Menurut Berlo (1960) yakni : Kata massa dalam komunikasi massa dapat
diartikan lebih dari sekadar “orang banyak”, seperti orang-orang yang sedang
mengerumuni penjual obat atau yang sedang bersama-sama berhenti menanti
dibukanya pintu lintasan kereta api. Massa di sini bukan sekadar orang
banyak di suatu lokasi yang sama. Massa kita artikan sebagai “meliputi
semua orang yang menjadi sasaran alat-alat komunikasi massa atau orangorang pada ujung lain dari saluran”.
3.
Pool (1973) mendefinisikan komunikasi massa sebagai “Komunikasi yang
berlangsung dalam situasi interposed ketika antara sumber dan penerima
tidak terjadi kontak secara langsung, pesan-pesan komunikasi mengalir
kepada penerima melalui saluran-saluran media massa, seperti surat kabar,
majalah, radio, film, atau televisi.
Dari beberapa pendapat ahli tersebut, dapat kita simpulkan adanya suatu
kesamaan yaitu komunikasi massa adalah penyampaian pesan dalam skala besar
kepada khalayak, dengan menggunakan media massa baik cetak maupun elektronik.
Dalam hal ini kita juga perlu membedakan massa dalam arti ”umum” dengan
massa dalam arti komunikasi massa. Massa dalam arti komunikasi massa lebih
menunjuk pada penerima pesan yang berkaitan dengan media massa. Dengan kata
lain, massa yang dalam sikap dan perilakunya berkaitan dengan peran media massa.
Oleh karena itu, massa di sini menunujuk kepada khalayak, audience, penonton,
pemirsa, atau pembaca. (Nurudin, 2014:4)
10
Kemudian kita akan melihat model komunikasi. Berikut beberapa model
komunikasi (West and Turner, 2010:11)
1.
Model Komunikasi Linear
Menurut Shanon dan Weaver, dalam buku Introducing Communication
Theory (West and Turner, 2010). “recipient of the message. The receiver is
the person who makes sense out of the message. All of this communication
takes place in a channel, which is the pathway to communication.” Konsep
ini berasumsi bahwa hanya ada satu pesan saja dalam proses komunikasi.
Komunikasi ini sangat sederhana, dimana ada satu sumber pesan saja.
2.
Model Komunikasi Interaksional
Sekarang kita melihat model komunikasi interaksional. “The interactional
model of communication, which emphasizes the two-way communication
process between communicators. In other words, communication goes in two
directions: from sender to receiver and from receiver to sender. This circular
process suggests that communication is ongoing.”(West and Turner,
2010:12) Dengan penjelasan diatas, maka model komunikasi interaksional
berbeda dengan linear, dimana dalam model komunikasi linear hanya
terdapat satu sumber pesan dan satu penerima pesan. Sedangkan dalam model
komunikasi interaksional yang berasumsi bahwa komunikasi terjadi dua arah
antara komunikator dengan komunikator. (nanti akan dibahas apa itu
komunikator dalam elemen komunikasi). Inti dari model ini adalah adanya
umpan balik, pengirim pesan dan penerima pesan bisa saling bertukar posisi.
Ketika yang satu berbicara yang lain menjadi pendengar, ketika si pendengar
menjawab makan yang tadinya berbicara berganti posisi menjadi pendengar.
Dan proses ini berlangsung secara berkesinambungan.
3.
Model Komunikasi Transaksional
Model komunikasi yang ketiga ialah transaksional, “The transactional model
of communication (Barnlund, 1970; Frymier, 2005; Wilmot, 1987)
underscores the simultaneous sending and receiving of messages in a
communication episode. To say that communication is transactional means
that the process is cooperative; the sender and the receiver are mutually
11
responsible for the effect and the effectiveness of communication. In the
linear model of communication, meaning is sent from one person to another.
In the interactional model, meaning is achieved through the feedback of a
sender and a receiver. In the transactional model, people build shared
meaning. Furthermore, what people say during a transaction is greatly
influenced by their past experience.”(West and Turner, 2010:14) Model
transaksional melanjutkan apa yang djelaskan oleh model interaksional.
Ketika proses komunikasi terus berlangsung, diperlukan adanya sebuah kerja
sama. Sehingga terdapat istilah “people build shared meaning” yang berarti
semua pihak yang terlibat dalam proses komunikasi saling bekerja sama dan
secara sadar maupun tidak sadar bertukar informasi. Pertukaran informasi ini
akan memberikan sebuah pemahaman akan hal-hal yang dibicarakan, yang
kemudian memberikan perubahan pada tiap pihak yang terlibat dalam
komunikasi tersebut. Dan dalam model komunikasi ini, baik verbal maupun
non-verbal dianggap sama penting.
Dari ketiga model komunikasi, maka program UEFA Champions League di
SCTV termasuk dalam model komunikasi linear (satu arah). Hal ini dikarenakan
komunikasi yang terjadi dari media kepada penonton terjadi secara satu arah.
Penonton tidak memiliki kesempatan untuk memberikan respon dalam bentuk
apapun.
2.2.1.1 Elemen Komunikasi Massa
Menurut Joseph Dominick (2002) setiap peristiwa komunikasi akan
melibatkan delapan elemen komunikasi yang meliputi: sumber, enkoding, pesan,
saluran, dekoding, penerima, umpan balik, dan gangguan. Pada dasarnya gagasan
mengenai elemen komunikasi ini adalah juga teori yang melihat komunikasi
berdasarkan unsur-unsur atau elemen yang membentuknya. Berikut penjelasan
elemen komunikasi tersebut (Morissan, 2014:17)
1.
Sumber (Komunikator)
Proses komunikasi dimulai atau berawal dari sumber (source) atau pengirim
pesan yaitu di mana gagasan, ide atau pikiran berasal yang kemudian akan
disampaikan kepada pihak lainnya yaitu penerima pesan. Sumber atau pengirim
12
pesan sering pula disebut dengan “komunikator”. Jadi komunikator adalah orang
maupun pihak yang menjadi sumber dari pesan.
2.
Enkoding
Enkoding dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan sumber untuk
menerjemahkan pikiran dan ide-idenya ke dalamn suatu bentuk yang dapat
diterima oleh indra pihak penerima. Dlama proses komunikasi enkoding dapat
berlangsung satu kali atau dapat juga terjadi berkali-kali. Jika dalam media
massa seperti televisi, maka enkoding pertama terjadi ketika pembawa acara
melakukan enkoding dalam pikirannya, kemudian perkataannya akan di
enkoding oleh kamera, lalu pemancar/satelit akan melakukan enkoding pesan
tersebut yang kemudian akan disebarkan melalui gelombang UHF.
3.
Pesan
Ketika kitaberbicara maka kata-kata yang kita ucapkan adalah pesan (messages).
Ketika anda menulis surat maka apa yang anda tuliskan di atas kertas adalah
pesan. Jika anda tengah menonton televisi maka program yang tengah anda
saksikan atau dengar adalah pesan. Pesan memiliki wujud yang bisa diterima
oleh indra. Pesan adalah hasil
dari proses enkoding yang dilakukan oleh
komunikator.
4.
Saluran
Saluran atau channel adalah jalan yang dilalui pesan untuk sampai kepada
penerima. Gelombang radio membawa kata-kata yang diucapkan penyiar di
studio atau memuat pesan visual yang ditampilkan di layar kaca televisi. Saluran
yang jauh dan kompleks seperti komunikasi massa tidaklah menurunkan
kekuatan penyampaian pesan.
5.
Dekoding
Kegiatan penerimaan pesan diawali dengan proses dekoding yang merupakan
kegiatan yang berlawanan dengan proses enkoding. Dekoding adalah kegiatan
yang menerjemahkan atau menginterpretasikan pesan-pesan fisik ke dalam suatu
bentuk yang memiliki arti bagi penerima. Dekoding terjadi dalam otak penerima
13
pesan, dimana penerima pesan mencoba untuk menafsirkan makna dari pesan
yang ia terima.
6.
Penerima (Komunikan)
Penerima atau receiver atau disebut juga audiensi adalah sasaran atau target dari
pesan. Penerima sering pula disebut dengan “komunikan”. Penerima dapat
berupa satu individu, satu kelompok, lembaga atau bahkan suatu kumpulan besar
manusia yang tidak saling mengenal. Namun penerima tidak hanya sekedar
menerima, memang pada awal studi komunikasi massa terdapat pandangan
bahwa khalayak atau audiensi adalah pihak yang lemah. Pihak yang dipengaruhi
oleh media massa, namun itu tidaklah selalu benar. Sebab audiensi tidak selalu
memiliki respons yang sama terhadap setia pesan
7.
Umpan Balik
Umpan balik atau feedback adalah tanggapan atau respons dari penerima pesan
yang membentuk dan mengubah pesan berikut yang akan disampaikan sumber.
Umpan balik menjadi tempat perputaran arah dari arus komunikasi. Artinya ada
pertukaran posisi antara sumber dan penerima pesan. Namun respon dari
penonton itulah yang menjadi umpan balik dari pesan yang disampaikan oleh
media massa. Meski disampaikan melalui jejarin sosial, ataupun hanya respon
kekecewaan yang disampaikan secara tertulis maupun lisan. Jadi proses umpan
balik tidaklah seketika itu terjadi, bisa ada waktu jeda.
8.
Gangguan
Elemen terakhir dalam komunikasi adalah gangguan atau noise. Gangguan dapat
diartikan sebagai segala sesuatu yang mengintervensi proses pengiriman pesan.
Terdapat tiga jenis gangguan, yaitu gangguan semantik, mekanik, dan gangguan
lingkungan. Gangguan semantik adakah gangguan yang terjadi bilamana orang
memiliki arti yang berbeda terhadap satu kata yang sama. Sedangkan gangguan
mekanik terjadi bila ada maslaah pada alat bantu atau saluran komunikasinya.
Kemudian yang ketiga dinamakan gangguan lingkungan, yaitu gangguan yang
datang dari luar proses komunikasi itu sendiri. Misal adanya suara keras yang
mengganggu komunikasi.
14
Itulah kedelapan elemen komunikasi komunikasi massa, yang juga
terkandung di dalam program UEFA Champions League. Dengan penjelasan tersebut
dapat dimengerti bahwa proses komunikasi massa dari media kepada penonton
meliputi sebuah proses. Dimula dari media sebagai sumber (komunikator) yang
menyusun pesan, menyampaikan pesan melalui media televisi, sampai kepada
penonton di rumah, dimana terjadi proses dekoding dari penonton untuk memahami
pesan. Lalu penonton bisa memberikan umpan balik, baik melalui respon verbal
maupun non-verbal. Dan juga ada gangguan selama proses komunikasi berlangsung.
Akan tetapi seperti dijelaskan dalam model komunikasi linear, maka disini penonton
tidak bisa memberi umpan balik kepada media.
2.2.1.2 Fungsi Komunikasi Massa
Komunikasi massa memiliki fungsi yang agak berbeda dengan komunikasi
antar pribadi. Menurut Harold D. Laswell fungsi komunikasi massa ada tiga
(ditambahkan oleh Charles R. Wright menjadi empat) yaitu : (Nurudin, 2014:64)
1. Surveillance of the enviroment
Fungsinya sebagai pengamatan lingkungan. Mengawasi kemungkinan timbulnya
bahaya, mengawasi terjadinya persetujuan dan juga efek-efek dari hiburan.
2. Correlation of the parts of society in responding to the environment
Fungsinya menghubungkan bagian-bagian dari masyarakat agar sesuai dengan
lingkungan.Menjaga berlangsungnya interaksi serta membantu anggota-anggota
masyarajat menikmati kehidupan.
3. Transmission of the social heritage from one generation to the next
Fungsinya penerusan atau pewarisan sosial dari satu generasi ke generasi
selanjutnya. Adanya
penyampaian kebudayaan kepada anggota-anggota
masyarakat.
4. Entertainment
Menunjuk pada kegiatan-kegiatan komunikatif yang dimaksudkan untuk
memberikan hiburan tanpa mengharapkan efek-efek tertentu.
15
Fungsi-fungsi di atas sebenernya tidak jauh berbeda dengan fungsi komunikasi
pada umumnya. Dimana satu informasi tidak hanya berfungsi informatif, melainkan
dapat merangsang timbulnya diskusi, penerusan nilai, penghiburan. Dimana dalam
menghibur juga disisipkan fungsi-fungsi surveillance.
2.2.2 Media Massa
Kita telah melihat apa itu komunikasi massa, model komunikasi, elemen
komunikasi, dan juga fungsi dari komunikasi massa. Sekarang kita akan melihat
media massa. Media massa dapat diartikan sebagai alat komunikasi yang bersifat
massa. Komunikasi yang dilakukan dalam skalah besar yang meliputi penggunaan
media cetak, elektronik, maupun internet. Tapi media massa tidak dimulai dari media
cetak, sebab sudah ada media massa pendahulu yang tidak menggunakan teknologi
modern. Semua bentuk/saluran penyebaran pesan dari satu sumber kepada banyak
khalayak bisa disebut sebagai media massa.
Seperti tertulis dalam buku Teori Komunikasi Massa karangan McQuail edisi
ke 6 (2011), bahwa terkadang sebuah teknologi komunikasi diterapkan karena
kebutuhan atau penggunaan yang sudah terlebih dulu ada. Seperti teknologi cetak
menggantikan salin tangan atau telegraf menggantikan perpindahan fisik dari pesan
penting. Namun terkadang teknologi seperti film atau siaran radio yang muncul
mendahului adanya kebutuhan yang jelas. Kombinasi elemen-elemen di atas yang
sesungguhnya terjadi biasanya tergantung baik pada faktor bahan maupun ciri dari
iklim sosial budaya yang sulit dijelaskan.
Meskipun demikian sangat mungkin bahwa pada derajat tertentu dari
kebebasan beripikir, berekspresi, dan bertindak merupakan kondisi utama yang
paling penting bagi perkembangan media cetak dan media lainnya, walaupun tidak
demikian pada saat penemuan awal. Teknik percetakan dan penggunaan huruf dapat
digeser-geser telah diketahui dan diterapkan di China dan Korea jauh sebelum
Gutenberg yang dianggap sebagai penemu mesin cetak (dari Eropa) pada
pertengahan abad ke-15 (Gunaratne,2011). Dengan demikian dapat dinyatakan
bahwa media massa tidak lahir berdasarkan pada kemajuan teknologi era modern.
Sebab kebutuhan berkomunikasi massa sudah ada sejak dulu dan manusia berusaha
untuk terus mengembangkan komunikasi dengan bantuan inovasi teknologi.
(McQuail, 2011:27)
16
Kita beralih pada media massa dan pengertian maupun sifatnya. Istilah
“media massa” memberikan gambaran mengenai alat komunikasi yang bekerja
dalam berbagai skala, mulai dari skala terbatas hingga dapat mencapai dan
melibatkan siapa saja dalam masyarakat dalam skala yang luas. Istilah media massa
mengacu kepada sejumlah media yang telah ada sejak puluhan tahun yang lalu tetap
digunakan sehingga saat ini seperti surat kabar, majalah, film, radio, televisi, dan
internet. (Morissan, 2014:479)
Sedangkan menurut Denis McQuail (2000), media massa meiliki sifat atau
karakteristik yang mampu menjangkau massa dalam jumlah besar dan luas
(universality of reach), bersifat publik dan mampu memberikan popularitas kepada
siapa saja yang muncul di media massa. Dari perspektif budaya, media massa telah
menjadi acuan utama untuk menentukan definisi-definisi terhadap suatu perkara dan
media massa memberikan gambaran atas realita sosial. (Morissan, 2014:480)
Sebuah pemikiran terkenal dari McLuhan tentang media ialah bahwa media
adalah pesan. (the medium is the message). Melalui ungkapan itu, McLuhan ingin
menyatakan bahwa pesan yang disampaikan media tidaklah lebih penting dari media
atau saluran komunikasi yang digunakan pesan untuk sampai kepada penerimanya.
(Morissan, 2014:493)
Media massa terus berkembang, namun tidak membuat media massa yang
sebelumnya hilang. Media massa yang sampai sekarang ada diantaranya adalah
media cetak, media elektronik dan internet. Namun pada penelitian ini, media yang
digunakan adalah media elektronik yaitu televisi.
2.2.3 Televisi
Penyiaran televisi adalah media komunikasi massa dengar pandang, yang
menyalurkan gagasan dan informasi dalam bentuk suara dan gambar secara umum,
baik terbuka maupun tertutup, berupa program yang teratur dan berkesinambungan.
Televisi merupakan
media yang dapat mendominasi komunikasi massa karena
sifatnya yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan khalayak. Berikut
karakteristik televisi (Riswandi, 2009:5) :
1.
Audiovisual, dapat didengar dan dilihat. Karena sifat audio visual ini, selain
kata-kata televisi juga menampilkan informasi-informasi yang disertai gambar,
baik gambar diam seperti foto, gambar peta, maupun film berita, yakni rekaman
17
peristiwa.
2.
Berpikir dalam gambar: ada 2 tahap yang dilakukan dalam proses ini, pertama;
visualisasi, yaitu menterjemahkan kata-kata yang mengandung gagasan yang
menjadi gambar-gambar. Kedua; penggambaran (picturization), yakni kegiatan
merangkai gambar-gambar individual sedemikian rupa sehingga kontinuitasnya
mengandung makna tertentu.
3.
Pengoprasian/cara kerja yang kompleks: Dibandingkan dengan media radio,
pengoperasian televisi lebih kompleks karena lebih banyak melibatkan orang.
Setelah mengetahui tentang apa itu televisi dan bagaimana karakteristiknya,
sekarang kita akan melihat apa fungsi televisi.
2.2.3.1 Fungsi Televisi
Televisi memiliki beberapa fungsi, berikut dijelaskan beberapa fungsi televisi
sebagai sebuah media massa (Ardianto, 2012:137)
1.
Mendidik
Perkembangan Perkembangan zaman di dunia pendidikan yang terus berubah
dan signifikan merubah pola pikir, dari yang awam dan kaku menjadi lebih
modern. Hal tersebut sangat berpengaruh dalam kemajuan pendidikan di
Indonesia. Kehebatan media mampu mengambil alih peran guru dalam dunia
pendidikan di segala bidang. Untuk itu media harus mampu menyediakan
tayangan yang mendidik, karena berpengaruh pada kecerdasan pendidikan anak
bangsa.
2.
Kontrol Sosial
Televisi mempunyai fungsi sebagai kontrol sosial, dalam arti televisi berperan
sebagai pengontrol negara. Melalui televisi, seseorang dapat mengetahui
bagaimana sebuah sistem kehidupan sosial itu diciptakan. Karena mudahnya
mengakses sebuah tayangan di televisi maka sangat memungkinkan adanya
pertukaran informasi antar masyarakat, etnis, ataupun segala macam
kebudayaan. Sehingga secara sosial, masyarakat dapat memperhatikan satu sama
lain demi terciptanya stabilitas sosial dalam sebuah negara.
18
3.
Hiburan
Penggunaan televisi sekarang sudah bukan lagi menjadi kebutuhan mewah, hal
ini terbukti bahwa dulunya teleivsi hanya bisa dinikmati kaum elite, namun
sekarang rakyat jelata pun juga memiliki televisi. Televisi merupakan media
hiburan yang sudah merakyat dan digandrungi berbagai kalangan masyarakat.
4.
Sumber informasi
Kehadiran televisi menjadi sangat penting sebagai sarana hubungan interaksi
satu dengan yang lain dalam hal menyangkut perbedaan dan persamaan persepsi
tentang suatu isu yang terjadi di belahan dunia ini. Sebagai alat informasi, segi
keefektifitasan televisi tergolong media lainnya. Ada beberapa hal keunikan
televisi bila dibandingkan dengan media lainnya yaitu televisi tidak
membutuhkan kemampuan membaca seperti media cetak, tidak seperti film
televisi adalah gratis, tidak seperti radio tetapi televisi mengkombinasikan
gambar dan suara.
Fungsi televisi tersebut telah dipenuhi oleh program UEFA Champions League
sebagai program yang memberikian hiburan. Selanjutnya penulis juga melihat jenis
program siaran. Termasuk jenis program apakah UEFA Champions League di SCTV
akan kita lihat pada penjelasan berikut ini.
2.2.3.2 Jenis Program Siaran
Klasifikasi jenis program hanya dua kelompok besar, yaitu program acara
karya artistik dan karya jurnalistik. Kedua jenis program itu dapat disebutkan sifat
proses produksi dan jenisnya sebagai berikut (Hidajanto dan Andi, 2013:153) :
a. Program karya artistik
Sumber
: Ide gagasan dari perorangan maupun tim kreatif.
Proses produksi
: Mengutamakan keindahan dan kesempurnaan sesuai
Perencanaan.
Jenis
: Drama/sinetron, musik, lawak/akrobat, quiz,
informasi iptek, informasi pendidikan, informasi
pembangunan, informasi kebudayaan, informasi,
hasil produksi (iklan dan public service), informasi
19
flora dan fauna, informasi sejarah/dokumenter,
dan informasi apa saja yang bersifat nonpolitis.
b. Program karya jurnalistik
Sumber
: Masalah hangat (peristiwa dan pendapat).
Proses Produksi
: Mengutamakan kecepatan dan kebenaran.
Jenis
: Berita aktual (siaran berita), berita non-aktual seperti
Feature dan majalah udara, penjelasan tentang
masalah hangat yaitu dialog, monolog, panel diskusi,
current affairs.
Tetapi, klasifikasi jenis program di atas bukanlah sesuatu yang baku,
sehingga masih dapat diperinci lagi tergantung pada pilihan dalam programming,
yaitu pertimbangan aspek penekanan atau fokus pada satu atau beberapa topik
tertentu. Dalam program UEFA Champion League SCTV, siaran langsung sepak
bola sebenarnya bisa termasuk dalam news atau karya jurnalistik. Dikarenakan ada
unsur pemberitaan informasi yang aktual, dan ada diskusi di dalamnya. Namun
program UEFA Champions League di SCTV mengemas live sport sebagai hiburan.
Dimana diskusi yang ada lebih berupa talk show, dan pertandingan sepak bola
bersifat menghibur penonton.
2.2.4 Frekuensi, Durasi, dan Intensitas
Untuk mengukur pengaruh program UEFA Champion League SCTV terhadap
minat mengenakan kostum klub sepak bola, maka peneliti mengunakan indikator
frekuensi , durasi dan intensitas. (Adriyanto dan Erdinaya 2009:15) Ketiga pola ini
sering digunakan untuk mengukur terpaan media, pengukuran frekuensi program
mingguan (berapa kali dalam sebulan). Sedangkan pengukuran variabel durasi
penggunaan media dihitung berapa lama khalayak tergantung pada suatu media
(berapa menit khalayak mengikuti program). Kemudian hubungan khalayak dan
program berkaitan dengan perhatian atau atensi. Frekuensi ialah
data tentang
seberapa sering penonton menonton program UEFA Champions League SCTV.
Durasi merupakan data berapa lama menonton seseorang menonton program UEFA
Champions League SCTV serta intensitas yaitu seberapa besar perhatian yang
diberikan penonton pada prgogram UEFA Champions League SCTV.
20
Teori ini pada umumnya digunakan pada terpaan media, tetapi pada
penelitian ini penulis melakukan sebuah improvisasi. Frekuensi, durasi, dan
intensitas biasa diberlakukan pada sudut pandang penonton sebagai subjek. Akan
tetapi dalam penelitian ini dipakai sudut pandang media sebagai subjek, sehingga ini
akan merubah kerangka pemikiran penelitian. Dimana variabel penggunaan media
menggunakan teori ini.
2.2.5 Teori Uses and Effect
Dalam buku Introducing Communication Theory Analysis Application edisi
keempat, West dan Turner menuliskan tentang teori uses and effect yang dituliskan
sebagai berikut. Sven Windahl (1981) calls for the combination of the Uses and
Gratifications Theory and the effects traditions into what he labels the “uses and
effects” model. Similarly, Philip Palmgreen, Lawrence Wenner, and Karl Rosengren
(1985) write that “a variety of audience gratifications [both sought and obtained]
are related to a wide spectrum of media effects, including knowledge, dependency,
attitudes, perceptions of social reality, agenda-setting, discussion, and various
political effects variables” How might propositions about media effects be generated
from . . .gratifications? (West and Turner, 2010:401)
Teori ini memang diawali dari teori pendahulunya, yaitu uses and
gratification. Namun pada teori tersebut penggunaan media pada dasarnya
ditentukan oleh kebutuhan dasar individu. Sementara pada uses and effect, kebutuhan
hanya salah satu dari faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penggunaan media.
Karakteristik individu, harapan dan persepsi terhadap media, dan tingkat akses
terhadap media, akan membawa individu kepada keputusan untuk menggunakan atau
tidak menggunakan isi media massa (Senjaya, 2007: 544).
Berdasarkan teori ini maka peneliti dapat melihat pengaruh yang dihasilkan
oleh program UEFA Champions League. Pengaruh ini dapat dilihat dari isi media
dan penggunaan media. Sehingga penggunaan media untuk melihat keputusan
individu menggunakan atau tidak isi program UEFA Champions League di SCTV.
Jadi efek dari tayangan ini akan dapat dilihat berdasarkan isi dan penggunaan media.
Hubungan antara pengguna dan hasil dari proses komunikasi massa, dengan
memperhitungkan pula isi media, memiliki berbagai bentuk yang berbeda, yaitu :
21
1. Pada kebanyakan teori efek tradisional, karakteristik isi media menentukan
sebagian besar dari hasil. Dalam hal ini, penggunaan media hanya dianggap
sebagai faktor perantara, dan hasil dari proses tersebut dinamakan efek. Dalam
pengertian ini pula, uses and gratification hanya akan dianggap berperan sebagai
perantara, yang memperkuat atau melemah efek dari isi media.
2. Dalam berbagai proses, hasil lebih merupakan akibat penggunaan dari
karakteristik isi media. Penggunaan media dapat mengecualikan, mencegah atau
mengurangi aktifitas lainnya, disamping dapat pula memiliki konsekuensi
psikologis seperti ketergantungan pada media tertentu. Jika penggunaan
merupakan penyebab utama dari hasil, maka ia disebut konsekuensi.
3. Ada anggapan bahwa hasil ditentukan oleh isi media (melalui perantara
penggunaannya) dan juga oleh pengguna media itu sendiri. Oleh karena itu ada
dua proses yang bekerja serempak, yang bersama – sama menyebabkan terjadinya
suatu hasil yang disebut “conseffect” (gabungan antara konsekuensi dan efek).
Ilustrasi mengenai hubungan – hubungan diatas dapat dilihat dengan gambar
seperti dibawah ini.
Gambar 2.1
Ilustrasi uses and effect
Isi Media
Penggunaan
Media
Efek
Isi Media
Penggunaan
Media
Konsekuensi
Isi Media
Penggunaan
Media
Conseffect
2.2.6 Konsep Minat
Minat merupakan sebuah gejala jiwa manusia, jika dikelompokkan maka
minat tergolong dalam gejala kombinasi. Yaitu gabungan dari gejala pengenalan
22
(kognitif), gejala perasaan (afektif) dan gejala kehendak (konatif). Sehingga untuk
mengenali apa itu minat, peneliti mencoba mendapatkan pengertian dari masingmasing gejala tersebut. Berikut penjelasan singkatnya (Sumanto, 2014:134)
1.
Gejala pengenalan (kognitif) merupakan gejala yang meliputi perhatian,
pengamatan, tanggapan, imajinasi, ingatan, pikiran dan intuisi. Indra manusia
menerima stimulus, yang kemudian akan diterima otak dan terjadi proses
berpikir. Disitulah gejala kognitif terjadi, manusia menggunakan kecerdasannya
ketika menghadapi sesuatu.
2. Gejala perasaan dan emosi (afektif) adalah gejala psikis yang bersifat
subjektif, berhubungan dengan mengenal, dialami dalam kualitas senang atau
tidak senanf dalam berbagai saraf. Perasaan dan emosi ini meliputi oerasaan
jasmaniah, perasaan rohaniah, suasana hati, simpati dan empati. Semua bentuk
gejala jiwa manusia yang berkaitan dengan perasaan dan emosi termasuk dalam
gejala afketif.
3. Gejala kemauan (konatif) disebut juga motif atau alasan pendorong atau
dorongan. Kemauan adalah aktivitas psikis yang mengandung usaha aktif dan
berhubungan dengan pelaksanaan tujuan yang menjadi titik akhir dari gerakan
yang menuju pada sesuatu arah. Dalam istilah sehari-hari kemauan dapat
disamakan dengan kehendak atau hasrat yang merupakan fungsi jiwa untuk
dapat mencapai sesuatu. (Sumanto, 2014:153)
4. Gejala Kombinasi merupakan campuran dari ketiga gejala yang telah dijelaskan
sebelumnya. Dan salah satu macam dari gejala kombinasi adalah minat.
Sehingga untuk meneliti minat, peneliti melihat dari tiga gejala di atas (kognitif,
afektif, dan konatif).
Dari penjelasan di atas, terkadang ada gejala jiwa yang merupakan
gabungan dari ketiga gejala tersebut. Yang disebut dengan gejala kombinasi, dan
minat termasuk dalam gejala kombinasi tersebut. Menurut Hurlock (1999), Minat
merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang
mereka inginkan apabila mereka bebas memilih. Ketika seseorang menilai bahwa
23
sesuatu akan memberi manfaat baginya maka barang tersebut akan medatangkan
kepuasan. Ketika kepuasan menurun maka minatnya juga akan menurun. Sehingga
minat tidak bersifat permanen, tetapi minat bersifat sementara atau dapat berubahubah. (Sumanto, 2014:161)
Minat dapat dikatakan sebagai dorongan kuat bagi seseorang untuk
melakukan segala sesuatu dalam mewujudkan pencapaian tujuan dan cita-cita yang
menjadi keinginannya. Minat memiliki ciri umum, diantaranya adalah lingkungan,
nurtural, orientasi pada hobi/kesukaan semata, mudah berubah sesuai dengan tren.
2.3
Kerangka Pemikiran
Isi Media
-Profil Program
-Isi Program
Minat mengenakan
kostum klub sepak bola
-Talk Show
(X1)
-Kognitif
-Afektif
-Konatif
Penggunaan Media
(Y)
-Frekuensi, durasi, dan
intensitas
-Hubungan Dengan Media
(X2)
Gambar 2.2
Variabel Bebas (X1 dan X2) memberi pengaruh pada Variabel Terikat (Y)
24
2.3.1 Operasionalisasi Konsep
Konsep operasional yang melandasi pembuatan pertanyaan untuk kuisioner
yang diberikan kepada sampel yang dipilih oleh peneliti. Dimana setiap variabel
akan diberikan indikator berdasarkan pada dimensi tertentu. Dimensi ini disesuaikan
dengan landasan teori yang sudah dijelaskan di atas. Dimana Variabel X merupakan
program UEFA Champions League itu sendiri, yang terbagi menjadi isi media dan
penggunaan media. Sedangkan untuk Variabel Y, disesuaikan dengan konsep minat
yang merupakan gabungan dari kognitif, afektif, dan konatif. Berikut konsep
operasional dengan tabel :
Tabel 2.2 Operasional Konsep Variabel X
Variabel X
Isi Media
X (1)
Dimensi
1. Profil
Program
2. Isi
Program
Indikator
1. Program
UEFA
Champions
League
menyiarkan
siaran
langsung sepak bola
2. Program
UEFA
Champions
League
bersifat menghibur
3. Pertandingan sepak bola
yang disiarkan memiliki
kualiatas gambar yang
baik
4. Program
UEFA
Champions
League
memberikan
informasi
tentang klub sepak bola
3. Talk Show
5. Program yang disiarkan
memperlihatkan kostum
klub sepak bola
6. Sesi analisis pertandingan
merupakan segmen yang
menarik perhatian
7. Perbincangan
dari
komentator memberikan
pemahaman
kepada
penonton soal klub sepak
bola
Skala
Skala Likert
25
Penggunaan
Media
X (2)
yang
4. Frekuensi, 8. Pertandingan
ditayangkan
program
durasi,
UEFA Champions League
dan
menarik untuk disaksikan
intensitas
9. Program
UEFA
Champions
League
menayangkan
pertandingan yang seru
setiap minggunya
10. Program
UEFA
Champions
League
membuat penonton selalu
ingin menonton acara
tersebut
11. Dengan durasi sekitar 150
menit program UEFA
Champions League sudah
menyampaikan
konten
acara dengan baik
12. Dengan durasi sekita 150
menit program UEFA
Champions League tidak
membosankan
5. Hubungan
Media
13. Muncul ketertarikan untuk
menonton program UEFA
Champions League ketika
melihat promosi program
ini
14. Aktifitas program UEFA
Champions League dapat
selalu diikuti melalui akun
facebook
UEFA
Champions
League
(SCTV)
15. Perkembangan program
UEFA Champions League
selalu diinformasikan oleh
akun facebook UEFA
Champions
League
(SCTV)
26
Tabel 2.3 Operasionalisasi Konsep Variabel Y
Variabel Y
Dimensi
Minat
1. Kognitif
mengenakan
kostum klub
sepak bola likers
fan page
facebook UEFA
Champions
League
2. Afektif
3. Konatif
Indikator
1. Penonton
mendapat
pengenalan akan kostum
klub sepak bola setelah
menonton UEFA Champions
League
2. Penonton
memberi
tanggapan/dukungan dengan
mengenakan kostum klub
sepak bola
3. Penonton mengingat kostum
klub sepak bola yang
dikenakan
pemain
dari
UEFA Champions League
4. Penonton berfantasi menjadi
bagian dari klub sepak bola
dengan mengenakan kostum
klub sepak bola
5. Penonton berpikir untuk
mengenakan kostum klub
sepak bola setelah menonton
UEFA Champions League
6. Penonton merasa bangga
pada
saat
mengenakan
kostum klub sepak bola
7. Penonton merasa senang
bilamana
mengenakan
kostum klub sepak bola
8. Penonton jadi percaya diri
bila mengenakan kostum
klub sepak bola
9. Penonton berempati pada
klub sepak bola
dengan
mengenakan kostum klub
sepak bola
10. Penonton
mempertimbangkan untuk
mengenakan kostum klub
sepak bola setelah menonton
UEFA Champions League
11. Penonton terbiasa untuk
mengenakan kostum klub
sepak bola
12. Penonton
berkeputusan
untuk menggunakan kostum
klub sepak bola sebagai gaya
berpakaian
Skala
Skala
Likert
Download