BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Aset dalam Perusahaan Perusahaan membutuhkan modal dalam menjalankan aktifitasnya. Modal merupakan faktor yang sangat penting dalam perusahaan. Modal merupakan sinonim dari aktiva atau aset (IAI,2007). Terdapat tiga jenis badan usaha, yaitu perusahaan dagang, perusahaan jasa, dan perusahaan manufaktur. Perusahaan memiliki kebutuhan modal yang berbeda-beda tergantung jenis usaha yang dijalankan. Definisi modal dalam Standar Akuntansi Keuangan (IAI,2007:9) ”modal adalah hak residual atas aset perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban”. Sedangkan pengertian modal menurut Brigham (2006:62) “modal ialah jumlah dari utang jangka panjang, saham preferen, dan ekuitas saham biasa, atau mungkin pos-pos tersebut plus utang jangka pendek yang dikenakan bunga”. Perusahaan biasanya menggunakan aset untuk memproduksi barang atau jasa yang dapat memuaskan kebutuhan dan keperluan pelanggan. Menurut Standar Akuntansi Keuangan (IAI,2007:11) aset perusahaan berasal dari transaksi atau peristiwa lain yang terjadi di masa lalu. Perusahaan biasanya memperoleh aset melalui pembelian atau produksi sendiri. Menurut bentuk neraca skonto (Account Form) aset tercermin dalam neraca perusahaan. Sisi sebelah kiri menunjukan dalam bentuk apa modal tersebut disimpan, dan sisi sebelah kanan menunjukan sumber-sumber modal tersebut 20 21 didapatkan. Menurut Riyanto (2001:20), berdasarkan fungsi bekerjanya aktiva dalam perusahaan, modal aktif dibedakan dalam : a. Modal Kerja b. Modal Tetap Perbedaan fungsionil antara modal kerja dengan modal tetap, ialah dalam bahwa : artian 1. Jumlah modal kerja adalah lebih fleksibel. Jumlah modal kerja dapat lebih mudah diperbesar atau diperkecil, disesuaikan dengan kebutuhannya, sedangkan modal tetap sekali dibeli tidak mudah dikurangi atau diperkecil. Dalam keadaan gelombang ekonomi yang menurun, modal kerja dapat segera dikurangi sehingga selalu ketinggalan waktunya. Demikian pula sebaliknya dalam keadaaan gelombang ekonomi naik, modal tetap tidak dapat segera diperbesar atau disesuaikan. 2. Susunan modal kerja adalah relatif variabel. Elemen-elemen modal kerja akan berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan, sedangkan susunan modal tetap adalah relatif permanen dalam jangka waktu tertentu, karena elemen-elemen dari modal tetap tidak segera mengalami perubahan-perubahan. 3. Modal kerja mengalami proses perputaran dalam jangka waktu yang pendek, sedangkan modal tetap mengalami proses perputaran dalam jangka waktu yang panjang. 2.1.1 Modal Kerja Manajemen modal kerja berkepentingan terhadap keputusan investasi pada aset lancar dan utang lancar terutama mengenai bagaimana menggunakan dan 22 komposisi keduanya akan mempengaruhi banyak aspek yang berhubungan dengan kelanjutan usaha perusahaan tersebut. Modal kerja diperlukan oleh perusahaan untuk membiayai kegiatan operasional perusahaan. Manajemen modal yang efektif menjadi sangat penting untuk pertumbuhan kelangsungan perusahaan dalam jangka panjang. Apabila perusahaan kekurangan modal kerja untuk memperluas penjualan dan meningkatkan produksinya , maka besar kemungkinannya akan kehilangan pendapatan dan keuntungan. Perusahaan yang tidak memiliki modal kerja yang cukup, tidak dapat membayar kewajiban jangka pendek tepat pada waktunya dan akan mengahadapi masalah likuiditas. Menurut Agus Sartono (2001:385), investasi modal kerja merupakan investasi yang terus menerus selama perusahaan beroperasi, yang dipengaruhi oleh : 1. Tingkat investasi aktiva lancar perusahaan 2. Proporsi utang jangka pendek yang digunakan 3. Tingkat investasi pada setiap jenis aktiva lancar 4. Sumber dana yang spesifik dan komposisi utang lancar yang harus dipertahankan 2.1.1.1 Pengertian Modal Kerja Secara umum modal kerja merupakan cerminan aset lancar yang ditetapkan perusahaan. Standar Akuntansi Keuangan (IAI:2007,10) mengatakan bahwa manfaat ekonomi masa depan yang terwujud dalam aset adalah potensi dari aset tersebut untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung. Sedangkan aset sendiri adalah manfaat ekonomi yang mungkin terjadi di masa depan yang diperoleh/dikendalikan oleh entitas sebagai hasil dari transaksi- 23 transaksi atau penjualan di masa lalu (Herry, 2012). Aset terbagi menjadi aset lancar dan aset tidak lancar, pengelompokan aset tersebut didasarkan pada sifat likuiditasnya. Aset lancar merupakan aset yang tergolong aset yang likuid sehingga digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan sehari-hari. Perusahaan selalu membutuhkan modal kerja untuk membelanjai operasinya – hari. Menurut Sawir ( 2005 : 129 ) ” Modal kerja adalah keseluruhan sehari lancar yang dimiliki perusahaan, atau dapat pula dimaksudkan sebagai dana aktiva yang harus tersedia untuk membiayai kegiatan operasi perusahaan sehari – hari ”. Menurut Burton A. Kolb (1983) dalam Sawir (2005:129) menyatakan “modal kerja adalah investasi perusahaan dalam aktiva jangka pendek atau lancar, termasuk di dalamnya kas, sekuritas, piutang, persediaan, dan dalam beberapa perusahaan, biaya dibayar di muka”. Menurut Bringham & Houston ( 2011 : 198 ) terdapat tiga konsep pengertian modal kerja, yaitu : 1) Konsep kuantitatif Konsep ini mendasarkan pada kuantitas dari dana yang tertanam dalam unsur – unsur aset lancar, dimana aset ini merupakan aset yang sekali berputar kembali dalam bentuk semula atau aset dimana dana yang tertanam di dalamnya akan dapat bebas lagi dalam waktu yang pendek. Dengan demikian, modal kerja menurut konsep ini adalah keseluruhan dari jumlah aset lancar, atau sering juga disebut sebagai modal kerja bruto ( gross working capital). 2) Konsep kwalitatif 24 Modal kerja dalam konsep ini merupakan aset lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan tanpa mengganggu likuiditasnya, atau disebut dengan modal kerja bersih (net working capital) 3) Konsep fungsional Konsep ini mendasarkan pada fungsi dari dana dalam mengahilkan pendapatan (income). Pada dasarnya dana-dana yang dimiliki perusahaan sesuai dengan usaha pokok perusahaan, tetapi pada kenyataannya, tidak semua dana digunakan untuk menghasilkan laba periode ini (current income), ada sebagian dana yang digunakan untuk memperoleh dan menghasilkan laba untuk periode yang akan datang. Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa modal kerja merupakan investasi perusahaan dalam bentuk harta jangka pendek atau aset lancar. Standar Akuntasi Keuangan (IAI;2007,1.7) menyebutkan bahwa suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar, jika aset tersebut : a) Diperkirakan akan direalisasi atau dimiliki untuk dijual atau digunakan dalam jangka waktu siklus operasi normal perusahaan; atau b) Dimiliki untuk diperdagangkan atau untuk tujuan jangka pendek dan diharapkan akan direalisasi dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan dari tanggal neraca, atau; c) Berupa kas atau setara kas yang penggunaannya tidak dibatasi. 2.1.1.2 Jenis-jenis Modal Kerja 25 Menurut Dermawan & Sjahrial ( 2012 : 116 ) modal kerja dapat digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu sebagai berikut: a. Modal kerja permanen ( permanent working capital ) yaitu modal kerja yang harus tetap ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya. Modal kerja permanen ini dapat dibedakan dalam : 1) Modal kerja primer, yaitu jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kontiniuitas usahanya. 2) Modal kerja normal, yaitu jumlah modal kerja yang diperlukan untuk menyelenggarakan luas produksi yang normal. b. Modal kerja variabel ( variabel working capital ) yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah – ubah sesuai dengan perubahaan keadaan, dan modal kerja ini dibedakan antara lain : 1) Modal kerja musiman, yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah – ubah disebabkan karena fluktuasi musim. 2) Modal kerja siklis, yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah – ubah disebabkan karena fluktuasi konjungtur. 3) Modal kerja darurat, yaitu modal kerja yang besarnya berubah – ubah karena keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya ( misalnya adanya pemogokan buruh, banjir, perubahan keadaan ekonomi yang mendadak ). Pengendalian jumlah modal kerja yang tepat akan menjamin operasi dari perusahaan secara efisien dan ekonomis. Apabila modal kerja terlalu besar, maka dana yang tertanam dalam modal kerja melebihi kebutuhan, sehingga terjadi dana 26 yang menganggur, tetapi jumlah modal kerja terlalu kecil atau kurang, maka perusahaan akan kurang mampu memenuhi permintaan langganan. 2.1.1.3 Fungsi Modal Kerja Beberapa fungsi modal kerja menurut Khasmir (2008) antara lain adalah sebagai berikut : a. Modal kerja menampung kemungkinan akibat buruk yang ditimbulkan karena penurunan nilai aset lancar seperti penurunan nilai piutang yang diragukan dan yang tidak dapat ditagih atau penurunan nilai persediaan. b. Modal kerja yang cukup memungkinkan perusahaan untuk membayar semua utang lancar tepat pada waktunya. c. Modal kerja yang cukup memungkinkan perusahaan ” credit standing ” perusahaan yaitu peniliaian pihak ketiga, misalnya bank dan para kreditor akan kelayakan untuk memelihara kredit 2.1.1.4 Unsur-unsur Modal Merja Unsur-unsur modal kerja dari aktiva lancar (Khasmir, 2008) yaitu: 1. Kas/Bank Kas/Bank yakni uang tunai yang dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan. Uang yang dimiliki perusahaan tetapi telah ditentukan alokasi penggunaannya (misalnya dialokasikan untuk pelunasan utang atau pembelian aset tetap) tidak dapat dimasukkan sebagai uang kas. 2. Investasi Jangka Pendek Investasi jangka pendek yakni investasi sementara (jangka pendek) dengan maksud untuk memanfaatkan uang kas yang sementara belum dibutuhkan 27 dalam operasi. Investasi jangka pendek berupa deposito di bank, surat berharga berupa saham, obligasi, dan lain sebagainya. 3. Piutang Wesel Piutang wesel adalah tagihan pihak ketiga berupa wesel yang dapat diperjual belikan. 4. Piutang Dagang Piutang Dagang adalah tagihan pada pihak lain karena penjualan secara kredit. 5. Persediaan Persediaan adalah semua barang yang sampai tanggal neraca masih berupa persediaan di gudang. 6. Piutang Penghasilan/ Penghasilan Yang Harus Diterima Piutang Penghasilan/ Persediaan yang harus diterima adalah penghasilan yang telah menjadi hak perusahaan karena perusahaan telah memberikan jasa, tetapi pembayarannya belum diterima. 7. Uang Muka (Advance Payment) Uang muka (Advance Payment) adalah pengeluaran untuk memperoleh jasa dari pihak lain tetapi belum dinikmati pada periode bersangkutan melainkan pada periode berikutnya. Unsur-unsur modal kerja dari utang lancar (Khasmir, 2008) yaitu: 1. Utang Dagang 28 Utang dagang adalah semua pinjaman yang timbul karena barang dagangan atau jasa secara kredit dalam jangka waktu kurang dari 1 tahun. 2. Wesel Bayar Wesel bayar merupakan promes tertulis dari perusahaan untuk membayar sejumlah uang atas perintah pihak lain pada tanggal tertentu yang akan datang yang telah ditetapkan. 3. Penghasilan Yang Ditangguhkan Penghasilan yang ditangguhkan merupakan penghasilan yang diterima lebih dulu dimana penghasilan yang sebenarnya belum menjadi hak perusahaan. 4. Utang Dividen Utang dividen merupakan bagian laba perusahaan yang diberikan sebagai dividen pada pemegang saham tetapi belum dibayarkan pada waktu neraca disusun. 5. Penarikan Cek Yang Melebihi Simpanan di Bank 6. Utang Pajak Utang pajak merupakan pajak perseroan yang belum dibayarkan pada saat tanggal penyusunan neraca. 2.1.1.5 Sumber dan Penggunaan Modal Kerja Apabila sumber modal kerja lebih besar dari pada penggunaan, berarti ada kenaikan modal kerja. Sebaliknya apabila penggunaannya lebih besar, berarti penurunan modal kerja. Menurut Sofyan Safri Harahap ( 2009 : 288 ) menyatakan bahwa : ”Kenaikan dalam modal kerja terjadi apabila aset menurun atau dijual atau karena kenaikan dalam utang jangka panjang dan modal. 29 Sedangkan penurunan dalam modal kerja timbul akibat aset tidak lancar naik atau dibeli atas utang jangka panjang naik”. Sumber – sumber modal kerja menurut Khasmir ( 2008 ) adalah sebagai berikut : a. Hasil Operasi Perusahaan Yaitu jumlah laba bersih yang nampak dalam laporan laba – rugi ditambah dengan depresiasi dan amortisasi. Jumlah ini menunjukkan jumlah modal kerja yang berasal dari hasil operasi perusahaan. Dengan adanya keuntungan dan laba dari perusahaan, dan apabila laba tersebut tidak diambil oleh pemilik perusahaan, maka laba tersebut akan menambah modal perusahaan yang bersangkutan. b. Keuntungan dari Penjualan Surat – surat Berharga Dengan adanya penjualan surat berharga ini menyebabkan terjadinya perubahan dalam unsur modal kerja yaitu bentuk surat berharga berubah menjadi uang kas. Keuntungan yang diperoleh dari penjualan surat berharga ini merupakan suatu sumber untuk bertambahnya modal kerja. c. Penjualan Aktiva Tidak Lancar. Modal kerja dapat bertambah dari penjualan aset tetap, investasi jangka panjang dan aset tidak lancar lainnya yang tidak diperlukan lagi oleh perusahaan. Perubahan dan aset ini menjadi kas atau piutang akan menyebabkan bertambahnya modal kerja sebesar penjualan tersebut. d. Penjualan Saham atau Obligasi Untuk menambah dana atau modal kerja yang dibutuhkan perusahaan dapat pula mengadakan emisi saham baru atau meminta kepada para pemilik 30 perusahaan untuk menambah modalnya, disamping itu perusahaan dapat pula mengeluarkan obligasi atau bentuk utang jangka panjang lainnya guna memenuhi kebutuhan modal kerjanya. Dari uraian tersebut diatas dapat dikemukakan bahwa sumber - sumber modal kerja yang akan menambah modal kerja adalah : 1) Adanya kenaikan sektor modal, baik yang berasal dari laba maupun penambahan modal saham. 2) Ada pengurangan atau penurunan aktiva tetap karena adanya penjualan aktiva tetap maupun melalui proses depresiasi. 3) Ada penambahan utang jangka panjang, baik dalam bentuk obligasi atau utang jangka panjang lainnya. Sedangkan penggunaan – penggunaan modal kerja yang mengakibatkan turunnya modal kerja menurut Bringham & Houston (2006) adalah sebagai berikut : a. Berkurangnya modal sendiri karena kerugian, maupun pengambilan privasi oleh pemilik perusahaan. b. Pembayaran utang – utang jangka panjang. c. Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap 2.1.1.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Modal Kerja Menurut Khasmir (2008) dalam praktiknya terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi modal kerja antara lain tergantung dari: 31 a. Jenis perusahaan dalam praktiknya meliputi perusahaan yang bergerak dibidang jasa dan non jasa (industri). Kebutuhan dalam perusahaan industri lebih besar jika dibandingkan dengan perusahaan jasa. b. Syarat kredit atau penjualan yang pembayarannya dengan cara mencicil juga sangat mempengaruhi modal kerja. Untuk meningkatkan penjualan bisa dilakukan dengan berbagai cara salah satunya adalah melalui penjualan secara kredit. Penjulan barang secara kredit memberikan kelonggaran kepada konsumen untuk membeli barang dengan cara pembayaran diangsur. c. Waktu produksi, artinya jangka waktu atau lamanya memproduksi suatu barang. Makin lama waktu yang digunakan untuk memproduksi suatu barang maka akan makin besar modal kerja yang dibutuhkan, begitu pula sebaliknya. d. Pengaruh tingkat perputaran sediaan terhadap modal kerja cukup penting bagi perusahaaan. Makin kecil atau rendah tingkat perputaran, maka kebutuhan modal kerja makin tinggi, begitu pula sebaliknya. Secara umum kenaikan dan penurunan modal kerja disebabkan tiga faktor, yaitu: a. Adanya kenaikan modal. Artinya, adanya tambahan modal dari pemilik atau perolehan laba dalam periode tertentu yang dimasukan ke aset lancar. b. Adanya pengurangan aset tetap, artinya adanya penjualan aset tetap, terutama yang tidak produktif dimana uangnya dimasukkan ke aset lancar atau digunakan untuk membayar utang jangka pendek. c. Adanya penambahan utang, artinya perusahaan menambah utang baru. 32 2.1.1.7 Arti Penting dan Tujuan Modal Kerja Pentingnya manajemen modal kerja perusahaan, terutama bagi kesehatan keuangan dan kinerja perusahaan menurut Khasmir (2008) adalah bahwa kegiatan seorang manajer keuangan lebih banyak dihabiskan di dalam kegiatan operasional perusahaan dari waktu kewaktu. a. Investasi dalam aset lancar, cepat sekali berubah. Perubahan tersebut akan berpengaruh terhadap modal kerja perusahaan. Oleh karena itu, perlu manajemen modal kerja. b. Dalam praktiknya sering kali bahwa lebih dari separuh dari total aset merupakan bagian dari aset lancar (modal kerja perusahaan). Khusus bagi perusahaan kecil manajemen modal kerja sangat penting karena investasi dalam aset tetap dapat ditekan dengan menyewa, tetapi investasi lancar dalam piutang dan sedian perlu ditentukan sebaik mungkin. Tujuan manajemen modal kerja bagi perusahaan (Khasmir, 2008) adalah sebagai berikut: a. Modal kerja digunakan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas perusahaan, artinya likuiditas perusahaan sangat tergantung kepada manajemen modal kerja. b. Dengan modal kerja yang cukup perusahaan memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajiban pada waktunya. Pemenuhan kewajiban yang sudah jatuh tempo dan segera harus dibayar secara tepat waktu merupakan ukuran keberhasilan manajemen modal kerja. 33 c. Memungkinkan perusahaan untuk memiliki sediaan yang cukup dalam rangka memenuhi kebutuhan pelanggannya. d. Memungkinkan perusahaan untuk memperoleh tambahan dana dari para kreditor, apabila rasio keuangannya, memenuhi syarat seperti likuiditas yang terjamin. e. Guna memaksimalkan penggunaan aset lancar guna meningkatkan penjualan dan laba. f. Perusahaan mampu melindungi diri apabila terjadi krisis modal kerja akibat turunnya nilai aktiva lancar. Tujuan di atas akan dapat tercapai apabila modal kerja perusahaan dapat dikelola secara benar sesuai dengan konsep manajemen modal kerja. Dan ini merupakan tanggung jawab utama dari seorang manajer keuangan untuk mampu mengelolanya 2.1.2 Likuiditas Likuiditas adalah perbandingan antara aset lancar dengan utang lancar, besarnya perbandingan atau rasio terbaik antara aset lancar dengan utang lancar adalah sekitar 3:1 (Handono Mardiyanto,2009). Angka tersebut tidaklah mutlak, besarnya rasio dapat ditentukan sesuai dengan jenis usaha dan kebijakan keuangan masing-masing. Menurut Handono Mardiyanto ( 2009 : 54 ) mengemukakan definisi likuiditas sebagai berikut : 34 ” Likuiditas mengukur kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban (utang) jangka pendek tepat pada waktunya, termasuk melunasi bagian utang jangka panjang yang jatuh tempo pada tahun bersangkutan. Lebih jauh lagi Handono Mardiyanto (2009:100) tentang masalah likuiditas menyatakan bahwa : ” Peningkatan likuiditas (modal kerja perusahaan) justru akan menurunkan tingkat profitabilitas perusahaan. Likuiditas yang tinggi merupakan indikator bahwa resiko perusahaan rendah. Artinya perusahaan aman dari kemungkinan berbagai kewajiban lancar. Namun hal itu harus dicapai dengan merelakan rendahnya tingkat profitabilitas, yang akan berdampak pada rendahnya pertumbuhan perusahaan. Sebaliknya jika perusahaan menginginkan tingkat profitabilitas yang tinggi, perusahaan harus bersedia mengahadapi rendahnya likuiditas atau resiko yang kian meningkat atas kegagalan membayar kewajiban jangka pendek (yang bisa menyebabkan kebangkrutan usaha). Handono Mardiyanto (2009) mengatakan bahwa hubungan berbanding terbalik antara likuiditas dan profitabilitas juga dapat dikatakan sebagai hubungan berbanding lurus antara resiko dan imbal hasil. Likuiditas mengungkap resiko sedangkan profitabilitas mencerminkan imbal hasil. Makin tinggi imbal hasil yang diinginkan perusahaan, makin tinggi pula resiko yang akan ditanggung perusahaan. Begitu pula sebaliknya. 35 2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Likuiditas Pengukuran likuiditas dilakukan dengan membandingkan aset lancar dengan utang lancar. Faktor – faktor yang mempengaruhi likuiditas menurut Khasmir (2008) sebagai berikut : a. Besarnya investasi pada aset tetap dibandingkan dengan seluruh dana jangka panjang. b. Pemakaian dana untuk pembelian aset tetap adalah salah satu sebab utama dari keadaan tidak likuid. Kalau makin banyak dana perusahaan yang dipergunakan untuk aset tetap, maka sisanya untuk membiayai kebutuhan jangka pendek tinggal sedikit sehingga rasio likuiditas menurun. Kemerosotan tersebut hanya dapat dicegah dengan menambah dana jangka panjang untuk menutup kebutuhan harta tetap yang meningkat. c. Volume Kegiatan Perusahaan Peningkatan volume kegiatan perusahaan akan menambah kebutuhan dana untuk membiayai aset lancar. Sebagian dari kebutuhan tersebut dipenuhi dengan meningkatkan utang – utang. Tetapi jika hal – hal lain tetap, investasi jangka panjang untuk membiayai tambahan kebutuhan modal kerja sangat diperlukan agar rasio dapat dipertahankan. d. Pengendalian Harta Lancar Apabila pengendalian kurang baik terhadap besarnya investasi dalam persediaan dan piutang menyebabkan adanya investasi yang melebihi daripada yang seharusnya, maka sekali lagi rasio akan turun dengan tajam, kecuali apabila disediakan lebih banyak dana jangka panjang. Kesimpulannya ialah 36 bahwa perbaikan dalam pengendalian investasi semacam itu akan dapat memperbaiki rasio likuiditas. Memperbaiki likuiditas hanya dapat dilaksanakan dengan : 1. Menambah lebih banyak dana jangka panjang, baik dari pemegang saham ataupun dengan pinjaman. 2. Mengembalikan posisi investasi dengan menjual beberapa aset tetap. 3. Mengatur harta lancar secara lebih efisien. 2.1.4 Rasio Likuiditas Untuk dapat mengukur tingkat likuiditas suatu perusahaan dipergunakan analisis rasio likuiditas. Handono Mardiyanto ( 2009 : 54 ) mengemukakan bahwa ” Rasio likuiditas menunjukan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban (utang) jangka pendek tepat pada waktunya, termasuk bagian utang jangka panjang yang jatuh tempo pada tahun bersangkutan”. Berikut adalah rasio yang digunakan untuk mengukur likuiditas perusahaan menurut Handono Mardiyanto dalam bukunya Intisari Manajemen Keuangan (2009): a. Rasio Lancar ( Current Ratio ) Handono Mardiyanto (2009) mengatakan bahwa makin tinggi jumlah aset lancar perusahaan (relatif terhadap utang lancar) makin tinggi rasio lancar, yang berarti pula makin tinggi likuiditas perusahaan. Misalnya apabila rasio tersebut bernilai 2, perusahaan cukup melunasi seluruh utang lancar dengan hanya mencairkan setengah dari aset lancarnya. Sebaliknya jika rasio lancar bernilai kurang dari 1, hal itu berarti bahwa ada sebagian utang lancar yang 37 tidak dapat dilunasi sekalipun semua aset lancar perusahaan sudah dicairkan menjadi kas. Namun, makin tinggi rasio lancar (makin tinggi likuiditas) makin tinggi pula jumlah kas yang tidak terpakai, yang pada akhirnya akan menurunkan tingkat profitabilitas. Dengan demikian selalu ada pertukaran (trade-off) antara likuiditas dan profitabilitas. Rasio ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: b. Rasio cepat (qiuck ratio) Komponen aset lancar terdiri atas kas, surat berharga jangka pendek, piutang usaha, biaya dibayar dimuka, dan perlengkapan. Selain kas dan surat berharga jangka pendek, hanya piutang usaha dan persediaan yang masih mungkin dicairkan menjadi kas. Karena dua komponen terakhir sesungguhnya bukan aset lancar yang dapat dicairkan kembali menjadi kas. Misalnya, alat tulis kantor (salah satu wujud dari perlengkapan) adalah barang yang dibeli untuk dipakai, bukan untuk dijual kembali. Persediaan dikurangi dari aset lancar karena persediaan dianggap komponen aset lancar yang tidak likuid (dibandingkan piutang usaha) karena persediaan barang dagang umumnya dijual secara kredit (dan menjadi putang usaha), kemudian menjadi kas setelah tertagih. Dengan kata lain, diperlukan dua tahap persediaan menjadi kas, yakni tahap piutang usaha dan tahap kas. Kita layak memakai rasio cepat daripada rasio lancar apabila persediaan relatif lama terjual (perputaran persediaannya rendah). Rasio ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 38 c. Rasio Kas (Cash Ratio) Mengingat komponen aset lancar, jika piutang usaha dinilai akan sulit tertagih (kredit macet), komponen aset lancar yang benar-benar siap cair hanyalah kas dan surat-surat berharga jangka pendek. Jadi, rasio kas mengukur likuiditas dari aset lancar yang pasti dapat dicairkan menjadi kas. Bilamana persediaan diperkirakan lama terjual dan piutang lama tertagih, sebaiknya digunakan rasio kas sebagai pengukur likuiditas, bukan rasio lancar atau rasio cepat. Rasio ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 2.2 Utang dalam Perusahaan Perusahaan yang sedang berkembang memerlukan modal yang dapat berasal dari utang maupun ekuitas. Menurut Herry (2012) utang mempunyai dua keuntungan. Pertama, bunga yang dibayarkan dapat dipotong untuk tujuan pajak, sehingga menurunkan biaya efektif dari utang. Kedua, pemegang utang (debtholder) mendapat pengembalian yang tetap, sehingga pemegang saham (stockholder) tidak perlu mengambil bagian laba mereka ketika perusahaan dalam kondisi prima. Namun utang juga mempunyai beberapa kelemahan , pertama, semakin tinggi rasio utang (debt ratio), semakin tinggi pula risiko perusahaan, sehingga suku bunganya mungkin akan lebih tinggi. Kedua, apabila sebuah perusahaan mengalami kesulitan keuangan dan laba operasi tidak mencukupi untuk menutup beban bunga, maka pemegang sahamnya harus menutup 39 kekurangan itu, dan perusahaan akan bangkrut jika mereka tidak sanggup. Terlalu banyak utang dapat menghambat perkembangan perusahaan yang pada gilirannya dapat membuat pemegang saham berpikir dua kali untuk tetap menanamkan modalnya. Banyak keuntungan yang dapat didapat dari dari penggunaan utang yang karena dengan utang yang tinggi akan mampu menambah laba perusahaan. tinggi Namun, dilain pihak, banyak contoh penggunaan utang dalam jumlah besar yang justru mendorong perusahaan menuju ke arah kebangkrutan. 2.2.1 Definisi dan Pengklasifikasian Utang Semua perusahaan baik kecil maupun perusahaan yang besar mempunyai utang. Utang adalah kewajiban ekonomis dari suatu perusahaan yang diakui dan dinilai sesuai prinsip akuntansi, kewajiban disini termasuk juga saldo kredit yang ditunda yang bukan merupakan kewajiban atau utang (Sofyan Safri Harahap,2009). Standar Akuntansi Keuangan (IAI:2007,11) menyebutkan bahwa kewajiban adalah suatu tugas atau tanggung jawab untuk bertindak atau untuk melaksanakan sesuatu dengan cara tertentu. Menurut Nurwahyudi dan Mardiyah (2004) bahwa “Utang adalah pengorbanan ekonomi yang harus dilakukan perusahaan di masa yang akan datang karena tindakan atau transaksi sebelumnya.” Pengorbanan ekonomi dapat berbentuk uang, aset, jasa-jasa atau dilakukannya pekerjaan tertentu. Utang mengakibatkan adanya ikatan yang memberikan hak kepada kreditur untuk mengklaim aset perusahaan. Untuk tujuan pelaporan, utang diklasifikasikan menjadi dua jenis utama yaitu utang lancar dan utang tidak lancar (Stice, 2004). 40 2.2.2 Utang Lancar Khasmir (2008) menyebutkan bahwa utang lancar merupakan kewajiban atau utang perusahaan kepada pihak lain yang harus segera dibayar. Selain itu, utang lancar biasanya dibayar dengan aset lancar. Jika utang yang telah diklasifikasikan sebagai utang tidak lancar akan jatuh tempo di tahun depan, kewajiban tersebut harus dilaporkan sebagai utang lancar. Utang tidak maka merupakan kewajiban yang jatuh temponya lebih dari satu tahun (Khasmir, lancar 2008). Selain itu, utang tidak lancar akan dibayar dengan penyerahan aset tidak lancar yang telah diakumulasikan untuk tujuan pelunasan kewajiban. Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek , jika : a) Diperkirakan atau diselesaikan dalam jangka waktu siklus normal operasi perusahaan. b) Jatuh tempo dalam jangka waktu duabelas bulan dari tanggal neraca. Perbedaan antara kewajiban lancar dan tidak lancar adalah hal penting karena berpengaruh terhadap rasio lancar perusahaan, dimana rasio lancar ini menggambarkan kondisi likuiditas perusahaan yaitu kemampuan perusahaan dalam membayar utang lancarnya (Stice, 2004). 2.2.3 Jenis-jenis Utang lancar Menurut Bringham & Houston (2011), dalam percakapan sehari-hari diluar akuntansi, utang dibayangkan sudah mengandung kepastian mengenai tanggal pembayarannya, jumlahnya, dan nama krediturnya. Akan tetapi, di dalam akuntansi tidaklah demikian. Tidak saja ketiga hal tersebut tidak pasti; bahkan eksistensi utang itu sendiri dapat belum pasti. Contoh utang lancar yang sudah 41 pasti adalah utang usaha, utang pajak, utang dividen, uang muka penjualan, pungutan untuk fihak ketiga. Sedangkan contoh utang yang masih mengandung unsur ketidakpastian adalah utang bersyarat, biaya jaminan atas produk, penawaran promosi, utang jaminan kemasan. Bringham dan Houston (2011) juga mengatakan ada juga utang yang kepastian / ketidakpastiannya tergantung kepada cara pengadministrasiannya. jenis tersebut adalah biaya yang harus dibayar. Kalau pembeli dan penjual Biaya dapat menghitung besarnya biaya, maka biaya yang harus dibayar tersebut termasuk jenis utang yang sifatnya pasti. Sebaliknya, kalau hanya penjual saja yang dapat menghitung besarnya biaya, misalnya biaya telepon, maka biaya yang harus dibayar tersebut termasuk jenis utang yang mengandung ketidakpastian. Sedangkan menurut Khasmir (2008) utang lancar meliputi antara lain : a. Utang dagang, adalah utang yang timbul karena adanya pembelian barang dagangan secara kredit. b. Utang wesel, adalah utang yang disertai dengan janji tertulis (yang diatur dengan undang-undang untuk melakukan pembayaran sejumlah tertentu pada waktu tertentu di masa yang akan datang). c. Utang pajak, baik pajak untuk perusahaan yang bersangkutan maupun pajak pendapatan karyawan yang belum disetorkan ke kas negara. d. Biaya yang masih harus dibayar. 2.2.4 Rasio Utang Rasio ini mengukur dua hal : (1) Proporsi utang perusahaan yang digunakan untuk membiayai investasi, dan (2) Menunjukkan kemampuan 42 perusahaan untuk memenuhi segala kewajiban finansialnya (khususnya dalam jangka panjang) (Handono Mardiyanto:2009). Dengan kata lain bahwa rasio leverage ini mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi semua utang jangka pendek dan jangka panjangnya (Brigham & Houston (2005: 150)). Menurut Bringham & Houston (2011) leverage ini mempunyai manfaat yaitu: 1. Menghimpun dana melalui utang, pemegang saham dapat mengendalikan perusahaan dengan sejumlah investasi ekuitas terbatas. 2. Kreditur melihat ekuitas/ dana yang diberikan oleh pemilik sebagai batas pengaman. Jadi makin tinggi proporsi total modal yang diberikan oleh pemegang saham, makin kecil resiko yang dihadapi kreditor. 3. Jika hasil yang diperoleh dari aset perusahaan lebih tinggi dari tingkat bunga yang dibayarkan, maka penggunaan utang akan “mengukit leverage” atau memperbesar pengembalian atas imbal hasil. Penggunaan leverage didalam perusahaan tidak selamanya mendapat laba karena jika besar laba perusahaan di bawah beban bunga pinjaman, maka perusahaan tidak dapat melaksanakan kewajibannya atau kekurangan bunga pinjaman yang harus dibayar oleh pemilik modal sendiri. Rasio leverage yang digunakan dalam penelitian adalah Debt Ratio/DR. Rasio ini menggambarkan perbandingan utang dan total aset dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal kerja perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya. Menurut Warsono (2003: 204) leverage adalah setiap penggunaan aset atau dana yang membawa konsekuensi biaya dan beban tetap. Leverage bersumber dari penggunaan biaya tetap (fixed cost), baik 43 biaya tetap dari aktivitas operasi maupun biaya tetap dari aktivitas keuangan (Handono Mardiyanto, 2009). Tujuan perusahaan menggunakan leverage keuangan adalah untuk meningkatkan hasil pengembalian (return) bagi para pemegang saham biasa (pemilik) perusahaan. Leverage keuangan didefinisikan sebagai penggunaan potensial biaya-biaya keuangan tetap untuk meningkatkan pengaruh perubahan dalam laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) terhadap laba per saham (EPS). Secara konseptual, perusahaan mempunyai sejumlah risiko yang melekat pada operasinya. Ini adalah risiko bisnis, yang didefinisikan sebagai ketidakpastian pada proyeksi ROE untuk masa yang akan datang. Dengan menggunakan utang dan saham preferen (leverage keuangan) perusahaan membebankan seluruh risiko bisnis kepada pemegang saham biasa. Leverage keuangan akan mempengaruhi laba per saham yang diharapkan perusahaan, tingkat risiko dari laba tersebut, dan juga harga saham perusahaan. Nilai perusahaan yang tidak mempunyai utang pertama kali akan naik pada saat sebagian ekuitas digantikan dengan utang dan nilai tersebut kemudian akan mencapai puncaknya dan akhirnya nilai itu akan menurun setelah penggunaan utang berlebihan. Perubahan dalam penggunaan utang akan mengakibatkan perubahan laba per saham (EPS = Earning Per Share) yang mengakibatkan perubahan harga saham. EPS yang diharapkan akan jauh lebih tinggi jika leverage keuangan digunakan, namun resiko terjadinya sebagai sumber pendanaan. Penggunaan leverage keuangan mempunyai efek yang baik dan buruk. Leverage yang lebih tinggi akan memperbesar laba per saham yang diharapkan, tetapi juga 44 memperbesar risiko perusahaan. EBIT tergantung pada leverage operasi. Jika perusahaan dengan leverage operasi yang tidak optimal dianalisis, maka beban tetap dan beban variabel akan berbeda. Perbedaan EBIT untuk berbagai penjualan akan mengecil. Jika perusahaan menggunakan tingkat leverage operasi yang kecil, tetapi perbedaan tersebut akan lebih besar apabila leverage operasi tinggi. Leverage operasi mempengaruhi laba setelah bunga dan pajak. Leverage keuangan memperbesar pengaruh tingkat penjualan terhadap laba per saham. Menurut Khasmir (2008) rasio leverage mempunyai manfaat sebagai berikut : 1. Dapat menilai kemampuan posisi perusahaan terhadap kewajiban pada pihak lainnya. 2. Menilai kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban yang bersifat tetap. 3. Mengetahui keseimbangan antar nilai aset khususnya aset tetap dengan modal. 4. Guna mengambil keputusan penggunaan sumber daya kedepan. 5. Untuk dapat mengukur tingkat likuiditas suatu perusahaan dipergunakan analisis rasio likuiditas. Berikut adalah rasio yang digunakan untuk mengukur solvabilitas perusahaan menurut Handono Mardiyanto dalam bukunya Intisari Manajemen Keuangan (2009): a. Rasio utang / debt ratio Angka rasio utang yang tinggi mengandung dua sisi sekaligus, yakni kemungkinan menguntungkan (jika ekonomi membaik) dan kemungkinan 45 merugikan (jika ekonomi memburuk). Rasio utang dapat didapat dengan perhitungan sebagai berikut : b. Rasio pengganda utang (financial leverage multiplayer) Apabila jumlah aset relatif tetap , sementara utang bertambah , ekuitas cenderung mengecil. Hal itu akan berakibat pada meningkatnya FLM. Serupa dengan Debt Ratio, FLM pun perlu ditafsirkan hati-hati manakala menunjukan hasil rasio yang tinggi. 2.3 Profitabilitas Profitabilitas adalah merupakan hasil akhir bersih dari berbagai kebijakan dan keputusan manajemen (Sawir, 2005: 17). Profitabilitas dimaksudkan adalah kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba (Handono Mardiyanto, 2009). Rasio profitabilitas akan memberikan jawaban akhir tentang efektivitas manajemen perusahaan, rasio ini memberikan gambaran tentang efektivitas pengelolaan perusahaan. Riyanto (2001: 331) mengemukakan bahwa rasio profitabilitas adalah rasio yang menunjukkan hasil akhir dari sejumlah kebijaksanaan dan keputusan-keputusan. Ada beberapa pengukuran tentang profitabilitas perusahaan dimana masing-masing pengukuran dihubungkan dengan pengelolaan modal kerja dan utang. Secara keseluruhan pengukuran ini memungkinkan seorang penganalisis untuk mengevaluasi tingkat earning dalam hubungannya dengan pengelolaan modal kerja dan penggunaan utang pada perusahaan. Kelangsungan hidup perusahaan dapat dicapai bila perusahaan berada dalam keadaan menguntungkan 46 (profitable). Tanpa adanya keuntungan akan sulit bagi perusahaan untuk menarik modal dari luar. Adapun rasio profitabilitas yang berhubungan dengan struktur modal perusahaan secara teoritis yaitu ROE. Rasio ini digunakan manajer keuangan dalam meningkatkan profitabilitas perusahaan. Semakin besar penggunaan utang dalam struktur modal maka semakin meningkat ROE suatu perusahaan (Sartono, 2000: 296). Menurut Handono Mardiyanto (2009:61) dalam mengukur efektivitas manajemen dalam pengelolaan perusahaan ada beberapa jenis rasio profitabilitas yang sering dipakai sebagai berikut: 1. Gross Profit Margin Meningkatnya profit margin mengindikasikan bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi dari aktivitas penjualannya. Profitabilitas yang meningkat (baik yang duiukur dengan profit margin, OROA, ROA, atau ROE) memang merupakan berita gembira bagi setiap perusahaan, Namun, sebagaimana yang telah disinggung pada bagian likuiditas , selalu ada trade-off antara likuiditas dan profitabilitas. Makin tinggi tingkat profitabilitas suatu perusahaan, makin rendah tingkat likuiditas perusahaan, yang dapat berdampak pada kegagalan perusahaan untuk melunasi kewajiban jangka pendek. Gross profit margin merupakan persentase dari laba kotor dibandingkan penjualan. Gross profit margin dapat diukur dengan perhitungan berikut ini : 2. Operating return On Total Asset (OROA) 47 OROA merupakan laba murni hasil operasi perusahaan yang belum dipengaruhi keputusan keuangan (utang) dan pajak. Dengan kata lain Earning Before Tax an Interest (EBIT) hanya dipengaruhi oleh keputusan investasi suatu perusahaan. Maka dari itu OROA sejak awal dianggap sebagai pengukur laba yang bersumber dari aktivitas investasi. OROA dapat dihitung dengan perhitungan sebagai berikut : 3. Return on Asset (ROA) Sebagaimana OROA, ROA mengukur kemampuan perusahaan dalam mengasilkan laba yang berasal dari aktivitas investasi. Digunakannya laba bersih sebagai pembilang karena rumus itu mampu menjelaskan hubungannya dengan rasio penting yang lain seperti Total Assets Turn Over (TATO), Profit Margin (PM), dan Return On Equity (ROE). ROA dapat dihitung dengan perhitungan sebagai berikut : 4. Return on Equity (ROE) Return on Equity (ROE) merupakan perbandingan antara laba bersih dengan modal sendiri. Ukuran terakhir dari rasio profitabilitas adalah ROE. Rasio ini mengukur keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan laba bagi para pemegang saham. Oleh karena itu, ROE dianggap sebagai representasi dari kekayaan pemegang saham atau nilai perusahaan. ROE dapat diperoleh dengan perhitungan berikut ini : 48 Dalam penelitian ini penulis menggunakan laba bersih untuk mengukur pengaruh penggunaan utang sekaligus pengelolaan modal kerja terhadap profitabilitas, dan menggunakan Current Ratio untuk mengukur tingkat likuiditas perusahaan yang merupakan cerminan kebijakan pengelolaan modal perusahaan untuk melihat hubungan antara modal kerja perusahaan yang dicerminkan oleh likuiditas dalam kaitannya dengan profitabilitas.