1 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Proses Penuaan (Aging Process

advertisement
1
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1
Proses Penuaan (Aging Process)
Penuaan (aging) merupakan proses fisiologis yang dialami oleh setiap
manusia (Wibowo, 2003). Proses penuaan didefinisikan sebagai penurunan
progresif
kemampuan
tubuh
untuk
mempertahankan,
melindungi,
dan
memperbaiki diri agar dapat bekerja secara efisien. Ditandai dengan penurunan
fungsi organ-organ tubuh yang menyebabkan ketidakmampuan akibat adanya
penurunan fungsi fisik maupun mental. Penurunan fungsi ini akan menyebabkan
menurunnya kualitas hidup manusia (Arora, 2008). Menua atau menjadi tua tidak
pernah dapat dihindari oleh siapapun, betapapun canggihnya kosmetika dan
teknologi dalam dunia kedokteran modern (Santoso dan Ismail, 2009).
Setelah mencapai usia dewasa, seluruh komponen tubuh tidak berkembang
lagi. Sebaliknya, terjadi penurunan fungsi-fungsi tubuh karena adanya proses
penuaan tersebut. Umumnya, manusia tidak pernah mempertanyakan mengapa
kita menjadi tua, sakit, dan pada akhirnya meninggal. Manusia hanya
menganggap menjadi tua merupakan suatu proses yang memang harus terjadi,
sudah ditakdirkan, dan semua masalah yang muncul harus dialami. Bahkan
banyak yang berpendapat bahwa usia setiap orang sudah ditentukan oleh Tuhan,
dimana usia manusia yang satu dengan yang lainnya tidaklah sama. Manusia tidak
mengetahui bahwa ternyata ada banyak faktor dalam proses penuaan yang
menyebabkan seseorang menjadi tua, sakit, dan akhirnya meninggal.
2
Pada dasarnya, faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi faktor
internal dan faktor eksternal. Beberapa faktor internal yang mempengaruhi proses
penuaan ialah radikal bebas, hormon yang berkurang, glikosilasi, metilasi,
apoptosis, sistem kekebalan tubuh yang menurun, dan gen. Faktor eksternal yang
utama ialah gaya hidup tidak sehat, diet tidak sehat, kebiasaan yang salah, polusi
lingkungan, stress, dan kemiskinan. Karena berbagai faktor itulah seseorang dapat
mengalami proses penuaan, yang menyebabkan orang tersebut menjadi tua, sakit,
dan akhirnya meninggal. Jika faktor-faktor penyebab itu dapat dihindari, maka
proses penuaan dapat dicegah, diperlambat, bahkan mungkin dihambat sehingga
kualitas hidup dapat dipertahankan.
Permasalahan tersebut mendasari berkembangnya anti-aging medicine,
yang bertujuan untuk mencapai atau memperpanjang usia harapan hidup, serta
meningkatkan kualitas hidup manusia dengan mencari penyebab penuaan tersebut
dan memberikan terapi yang tepat (Pangkahila, 2011), yaitu dengan pola makan
(diet) yang baik, olahraga yang cukup, konsumsi antioksidan secukupnya, dan
terapi hormonal apabila diperlukan (Arora, 2008).
2.2
Diet Tinggi Lemak
Pola makan yang baik mengandung nutrisi yang sehat dan seimbang,
dengan komposisi: 50% karbohidrat dengan indeks glikemik rendah, 30% lemak
(60% berupa monounsaturated fatty acids (MUFA) dan 10% polyunsaturated
fatty acids (PUFA)), dan 20% protein. Kenyataannya, seringkali manusia
mempunyai pola makan yang tidak seimbang karena terlalu banyak mengandung
3
karbohidrat dengan indeks glikemik yang tinggi, seperti roti-rotian, gula, makanan
penutup, dan juga tinggi lemak hewani, serta terlalu sedikit makanan yang
berserat dan buah (Pangkahila, 2011).
Seiring kemajuan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi pun
berkembang dengan pesat. Teknologi komunikasi yang canggih dan alat-alat lain
yang mempermudah pekerjaan manusia pun semakin banyak diciptakan, seperti
kendaraan bermotor, lift, handphone, laptop, eskalator, remote TV, dan lain
sebagainya. Hal ini menyebabkan gaya hidup yang sedentari dan membuat
aktivitas fisik manusia semakin berkurang. Ditambah lagi dengan konsumsi energi
tinggi melalui konsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh tinggi, akan
menyebabkan menumpuknya lemak sehingga menyebabkan kelebihan kalori dan
lemak di dalam tubuh. Kelebihan lemak tersebut akan disimpan sebagai cadangan
energi di dalam sel lemak dan jaringan lemak (adiposit dan jaringan adiposa)
dalam bentuk trigliserida dan kolesterol.
Banyaknya lemak yang disimpan di dalam adiposit dan jaringan adiposa
menyebabkan terjadinya hipertrofi adiposit dan akumulasi jaringan adiposa
membentuk adiposit patogenik dan efek jaringan adiposa, yang disebut
adiposapathy. Hal ini menyebabkan peningkatan TNF-α, sehingga mengakibatkan
meningkatnya sirkulasi lipid. Patogenesis ini yang sekarang dipercaya sebagai
landasan teori relasi kelebihan lemak tubuh dan dislipidemia (Bays et al., 2013).
4
Gambar 2.1
Adiposapathy: hubungan patogenik jaringan adiposa, dislipidemia,
dan penyakit kardiovaskular (Bays et al., 2013)
5
Gambar 2.2
2.3
Adiposit dan jaringan adiposa pada keadaan Adiposapathy (pada
diet tinggi lemak) (Bays et al., 2013)
Hubungan Dislipidemia dengan Penuaan (Aging)
Penuaan berkaitan dengan disfungsi multipel dan sistemik dari tubuh dan
bersamaan dengan gangguan metabolisme lipid dan status inflamasi kronik yang
berperan dalam atherosclerotic CVD (ASCVD) (Liu et al., 2014). Angka kejadian
terjadinya dislipidemia ini akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia,
dimana fungsi tubuh dan organ-organnya sudah mengalami penurunan.
2.3.1
Definisi Dislipidemia
Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan
peningkatan atau penurunan fraksi lipid di dalam plasma. Kelainan fraksi lipid
yang utama adalah kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, dan
trigliserida, serta penurunan kadar kolesterol HDL (Gordon, 2003).
Dislipidemia bukanlah penyakit, melainkan lebih tepat disebut sebagai
kekacauan metabolik akibat sekunder dari beberapa macam penyakit yang
kemudian akan berdampak pada terjadinya aterosklerosis dan selanjutnya akan
6
menyebabkan terjadinya penyakit kardiovaskular (Gordon, 2003). Dislipidemia
biasanya tidak menimbulkan gejala, namun kadar LDL yang tinggi dapat
menyebabkan beberapa penyakit, seperti xanthelasma kelopak mata, arcus cornea,
dan penumpukan LDL pada tendon achilles, siku, dan tendon lutut, serta sendi
metakarpofalangealis yang bila penumpukan ini terjadi dalam jangka panjang,
dapat menyebabkan terjadinya aterosklerosis. Sedangkan kadar trigliserida yang
tinggi (>1000mg/dl) dapat menyebabkan pankreatitis akut (Bays et al., 2013).
Dislipidemia pada manusia bila terdapat kadar level plasma, total
kolesterol > 240 mg/dl, LDL > 160 mg/dl, trigliserida > 200 mg/dl, atau HDL <
40 mg/dl.
Pada tikus, kadar normal kolesterol total adalah 10-54 mg/dL
(Kusumawati, 2004). Kadar normal kolesterol LDL tikus adalah 17-22 mg/dL dan
kadar normal HDL tikus adalah 77-84 mg/dL (Margareth, 2014), sedangkan kadar
normal trigliserida tikus adalah 26-145 mg/dL (Nichols, 2003). Jadi, tikus dapat
dikatakan dislipidemia bila terjadi kenaikan berat badan > 20% atau kadar
kolesterol serum > 200 mg/dL (Hardini et al., 2007).
Kolesterol plasma akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia,
begitu juga dengan insiden kejadian coronary artery disease (CAD). Angka
patokan kadar lipid yang memerlukan penatalaksanaan, penting dikaitkan dengan
terjadinya komplikasi kardiovasular ini. Dari berbagai penelitian jangka panjang
yang dilakukan di negara-negara Barat, yang dikaitkan dengan besarnya risiko
untuk terjadinya penyakit kardiovaskular, terdapat beberapa patokan kadar
kolesterol sebagai berikut:
7
Tabel 2.1
Pedoman Klinis untuk Menghubungkan Profil Lipid dengan Risiko Terjadinya
Penyakit Kardiovaskular (PKV) (Anwar, 2004)
Diinginkan
Diwaspadai
Berbahaya
(mg/dl)
(mg/dl)
(mg/dl)
Kolesterol Total
<200
200 – 239
>240
Kolesterol LDL
- Tanpa PKV
-
Dengan PKV
Kolesterol HDL
Trigliserida
- Tanpa PKV
-
Dengan PKV
130 – 159
>160
>45
36 – 44
<35
<200
200 – 399
>400
<150
250 – 499
>500
<130
<100
Di Indonesia sendiri, prevalensi kejadian dislipidemia semakin meningkat.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Sudijanto Kamso pada tahun 2004 terhadap
656 responden di 4 kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Yogyakarta,
dan Padang, didapatkan bahwa keadaan dislipidemia berat (total kolesterol >240
mg/dl) pada orang berusia di atas 55 tahun, paling banyak terdapat di Padang dan
Jakarta (>56%), kemudian Bandung (52,2%), dan Yogyakarta (27,7%). Pada
penelitian tersebut juga didapatkan bahwa prevalensi dislipidemia lebih banyak
terjadi pada wanita (56,2%) dibandingkan pria (47%). Dan dari keseluruhan
wanita yang menderita dislipidemia tersebut, didapatkan prevalensi dislipidemia
terbesar terjadi pada wanita dengan rentang usia 55 – 59 tahum (62,1%) bila
dibandingkan dengan rentang usia 60 – 69 tahun dan usia di atas 70 tahun
(52,6%).
8
2.3.2 Penyebab Dislipidemia
Penyebab dislipidemia dibagi menjadi 2, yaitu: (AACE, 2012)
A. Dislipidemia Primer
Berkaitan dengan gen yang mengatur enzim dan apoprotein yang terlibat di
dalam metabolisme lipoprotein maupun reseptornya.
B. Dislipidemia Sekunder
Karena adanya suatu penyakit atau keadaan yang mendasari.
Tabel 2.2
Penyebab Dislipidemia
Lipid
Kolesterol
total
Penyebab
dan
-
dan
-
kolesterol LDL
Trigliserida
kolesterol VLDL
-
Hipotiroid
Sindrom nefrotik
SLE, multiple myeloma
Progestin, pengobatan anabolik steroid
Penyakit hati obstruktif, sirosis
Protease inhibitor pada pengobatan
infeksi HIV
Gagal ginjal kronik
DM tipe 2
Obesitas
Alkohol
Hipotiroid
Obat anti hipertensi (Tiazid, Beta
Bloker)
Terapi kortikosteroid ( steroid
endogen akibat stres berat)
Estrogen oral, kontrasepsi oral,
kehamilan
Very low fat diet
9
2.3.3
Diagnosis Dislipidemia
Ditegakkan dengan menggunakan pemeriksaan laboratorium, antara lain:
1. Pemeriksaan penyaring
Dianjurkan pada setiap orang dewasa berusia lebih dari 20 tahun. Kadar
lipid plasma yang diperiksa meliputi kolesterol total, kolesterol LDL,
kolesterol HDL, dan trigliserida. Apabila ditemukan hasil yang normal
maka dianjurkan pemeriksaan ulangan setiap 5 tahun.
2. Cara pemeriksaan
Persiapan pemeriksaan untuk pemeriksaan kadar kolesterol total,
kolesterol LDL, dan kolesterol HDL dengan menggunakan cara direk tidak
perlu berpuasa. Sebaliknya, untuk pemeriksaan kadar trigliserida
diharuskan berpuasa 12-16 jam, agar mendapatkan kadar trigliserida
endogen (bukan dari makanan). Oleh karena untuk pemeriksaan penyaring
mutlak diperiksa keseluruhan profil lipid, maka pasien dianjurkan agar
berpuasa 12-16 jam pada malam sebelumnya.
3. Kadar lipid normal dalam plasma
National Cholesterol Education Program, Adult Treatment Panel III
(NCEP ATP III), pada tahun 2001 membuat suatu batasan kadar lipid
plasma yang sampai saat ini masih digunakan.
10
Gambar 2.3 Interpretasi Kadar Lipid Plasma (National Cholesterol Education
Program, 2001)
2.3.4
Penatalaksanaan Dislipidemia
Terdiri atas terapi non farmakologis dan farmakologis.
A.
Terapi Non Farmakologis
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki profil lipid ialah
mengurangi asupan kolesterol dan asam lemak jenuh, pemilihan makanan yang
berhubungan dengan aturan makan untuk mengurangi LDL serta peningkatan
asupan serat larut, penurunan berat badan, dan peningkatan aktivitas fisik atau
berolahraga. Terapi non farmakologis ini hendaknya menjadi terapi utama untuk
dislipidemia, kecuali untuk pasien dengan dislipidemia bawaan (genetik
mempunyai kelainan metabolisme lipoprotein/kolesterol) atau hiperlipidemia
gabungan yang bersifat familial, penanganan terapinya dengan pengaturan
makanan dan terapi obat dapat dimulai secara bersamaan (Grundy, 2006).
Secara khusus, terapi non farmakologis dapat dibagi menjadi terapi nutrisi
medis dan aktivitas fisik.
11
a.
Terapi nutrisi medis
Sebelumnya perlu dilakukan anamnesis nutrisi, pengukuran status nutrisi,
dan diagnosis nutrisi. Pasien dengan kadar kolesterol LDL atau kolesterol
total yang tinggi dianjurkan untuk mengurangi asupan lemak (saturated
fatty acid/SAFA), dan meningkatkan asupan lemak tidak jenuh rantai
tunggal dan ganda (mono and poly unsaturated fatty acid). Pada pasien
dengan kadar trigliserida yang tinggi, perlu adanya pengurangan asupan
karbohidrat, alkohol, dan lemak.
b.
Aktivitas fisik
Kegagalan
penatalaksanaan
non-farmakologis
terutama
karena
kurangnya kepatuhan pasien dalam mengikuti petunjuk diet yang
dianjurkan, demikian juga dengan aktivitas fisik. Pada prinsipnya, pasien
dianjurkan untuk meningkatkan aktivitas fisik sesuai dengan kondisi dan
kemampuan pasien, serta melakukan aktivitas fisik secara rutin dan
teratur.
B.
Terapi Farmakologis
Dengan
pemberian
obat
anti-dislipidemia
yang
bertujuan
untuk
memperbaiki kadar lemak di dalam darah. Obat ini diberikan, apabila dengan
terapi diet dan olahraga, kondisi pasien tidak merespon dengan baik (Illingworth,
2007). Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemberian obat tersebut
ialah kemampuan obat-obatan tersebut dalam mempengaruhi kolesterol HDL,
trigliserida, fibrinogen, kolesterol LDL, dan juga perlu diperhatikan pengaruh atau
12
efek samping daripada obat-obatan tersebut. Beberapa golongan obat antidislipidemia yang ada saat ini ialah: (ACC/AHA, 2013)
1. Golongan statin (HMG-CoA Reductase Inhibitor: simvastatin,
atorvastatin, dan lain-lain)
2. Derivat asam fibrat (gemfibrozil, fenofibrat)
3. Asam nikotinat (niacin)
4. Golongan resin (sequestran)
5. Kolesterol absorbsi inhibitor (ezetemibe)
2.3.5
Komplikasi Dislipidemia
Keadaan dislipidemia yang dibiarkan, dapat menimbulkan berbagai
macam komplikasi, antara lain:
1. Aterosklerosis
2. Penyakit jantung koroner
3. Stroke
4. Kelainan pembuluh darah lainnya
5. Pankreatitis akut (bila kadar trigliserida > 1000 mg/dl)
2.4
Lipid
Lemak atau lipid adalah suatu zat yang kaya energi dan berfungsi sebagai
sumber energi utama untuk proses metabolisme tubuh. Lemak diperoleh dari dua
sumber, yaitu lemak yang berasal dari asupan makanan sehari-hari dan lemak
yang dibentuk oleh tubuh sendiri (hasil produksi organ hati), yang disimpan di
13
dalam sel-sel lemak (adiposit) dan jaringan adiposa sebagai cadangan energi
(Nugroho, 2009).
Fungsi utama jaringan adiposa ialah menyimpan trigliserida sampai tubuh
memerlukannya untuk pembentukan energi. Fungsi tambahan jaringan adiposa
ialah untuk menyediakan penyekat panas untuk tubuh. Secara umum, fungsi
lemak ialah sebagai sumber energi, pelindung organ tubuh, pembentukan sel,
sumber asam lemak esensial, alat angkut vitamin larut dalam lemak, memberi rasa
kenyang dan kelezatan, sebagai pelumas, dan memelihara suhu tubuh (Nugroho,
2009). Lemak tersusun atas berbagai komponen penting, antara lain fosfolipid,
trigliserida (lemak netral), kolesterol, dan asam lemak (Lichtenstein et al., 2006).
2.4.1
Trigliserida
Suatu ester gliserol yang terbentuk dari 3 asam lemak dan gliserol.
Trigliserida merupakan lemak pada daging, produk susu, minyak goreng, dan
sebagai sumber energi utama bagi tubuh. Trigliserida juga ditemukan dalam
simpanan lemak di dalam tubuh dan berasal dari pemecahan lemak di hati. Sama
dengan kolesterol, trigliserida juga merupakan lemak yang bersirkulasi di dalam
darah.
Di alam ini, sebagian besar lemak dan minyak terdiri atas trigliserida
(97%), sisanya berbentuk kolesterol dan fosfolipid. Lemak disimpan di dalam
tubuh dalam bentuk trigliserida. Apabila sel membutuhkan energi, enzim lipase
dalam sel lemak akan memecah trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak
bebas, serta melepaskannya ke dalam pembuluh darah (Mahan et al., 2012).
14
2.4.1.1 Hidrolisis Trigliserida
Tahap pertama dalam penggunaan trigliserida untuk energi ialah hidrolisis
dari trigliserida menjadi asam lemak dan gliserol. Kemudian, asam lemak dan
gliserol ditranspor ke jaringan aktif dimana keduanya dapat dioksidasi untuk
menghasilkan energi.
2.4.2
Kolesterol
Kolesterol adalah salah satu lemak tubuh, bisa berada dalam bentuk bebas
maupun dalam bentuk kolesterol dengan asam lemak atau ester kolesterol, serta
merupakan komponen utama selaput sel otak dan saraf (Murray et al., 2003).
Kolesterol ini sangat diperlukan dalam berbagai proses metabolisme
tubuh, antara lain (Murray et al., 2003):
1. Sebagai bahan pembentuk dinding sel.
2. Membuat asam empedu untuk mengemulsikan lemak.
3. Untuk membentuk vitamin D.
4. Berperan
sebagai
bahan
pembuat
hormon-hormon
seks
dan
kortikosteroid atau hormon yang dapat mempengaruhi volume dan
tekanan darah, kadar gula darah, otot, serta kekebalan tubuh.
Delapan puluh persen kolesterol dihasilkan dari dalam tubuh (dibentuk
oleh hati) dan 20% sisanya berasal dari luar tubuh, yaitu dari makanan yang
dikonsumsi sehari-hari. Kolesterol merupakan produk khas dari hasil metabolisme
hewan dan produk olahannya, seperti kuning telur, daging, hati, otak, susu, keju,
mentega, dan lain-lain. Kolesterol yang berasal dari makanan ini jarang dalam
15
bentuk kolesterol bebas, biasanya dalam bentuk kolesterol dengan asam lemak
atau sering disebut ester kolesterol.
2.4.2.1 Biosintesis Kolesterol
Hati mensintesis kolesterol dengan menggunakan asetil Koenzim-A
(Asetil KoA) yang merupakan hasil dari metabolisme karbohidrat, protein, atau
lemak. Biosintesis kolesterol ini terbagi menjadi empat tahap. Tahap pertama,
melibatkan perubahan asetil koA menjadi 3-hidroksi-3-metilglutaril-KoA (HMGKoA) yang dikatalisis oleh enzim HMG-KoA sintase, kemudian dilanjutkan
sintesis HMG-KoA menjadi Mevalonat yang diubah menjadi molekul dasar
isoporen yaitu isopentenyl pyrophospat (IPP) bersamaan dengan hilangnya CO2.
Tahap ketiga ialah terjadinya proses polimerisasi enam molekul isoprenoid untuk
membentuk molekul skualen. Tahap paling akhir ialah proses terbentuknya inti
steril dari skualen yang kemudian diubah menjadi kolesterol (Koolman, 2005).
16
Gambar 2.4 Biosintesis Kolesterol (Koolman, 2005)
2.4.3 Lipoprotein
Lemak bersifat tidak dapat larut dalam air, berarti lemak juga tidak dapat
larut dalam plasma darah. Agar lemak dapat diangkut ke dalam peredarah darah,
maka lemak akan berikatan dengan protein spesifik di dalam plasma darah,
membentuk suatu kompleks makro molekul yang larut di dalam air. Ikatan yang
terbentuk antara lemak (kolesterol, trigliserida, dan fosfolipid) dengan protein
disebut dengan lipoprotein (Mahley et al., 2003).
17
Gambar 2.5 Partikel Lipoprotein (Fauzi, 2012)
Fungsi utama lipoprotein ialah mengangkut komponen-komponen lipid di
dalam darah (mentranspor kolesterol dan fosfolipid). Lipoprotein densitas sangat
rendah mengangkut trigliserida yang disintesis di dalam hati terutama ke jaringan
adiposa, sedangkan lipoprotein yang lain penting dalam tahap-tahap transpor
fosfolipid dan kolesterol yang berbeda dari hati menuju jaringan perifer atau dari
jaringan perifer kembali ke hati.
Berdasarkan komposisi, densitas, dan mobilitasnya, lipoprotein dibedakan
menjadi beberapa macam: kilomikron, Very Low Density Lipoprotein (VLDL),
Intermediate Density Lipoprotein (IDL), Low Density Lipoprotein (LDL), dan
High Density Lipoprotein (HDL). Setiap jenis lipoprotein ini memiliki fungsi
yang berbeda dan dipecah serta dibuang dengan cara yang berbeda pula (Rader
dan Hobbs, 2005).
2.4.3.1 Kilomikron
Bertugas mengangkut lemak menuju hati, dibentuk di usus halus dengan
komposisi asam lemak dari trigliserida. Kilomikron merupakan lipoprotein
dengan berat molekul terbesar dan lebih dari 80 persen nya terdiri dari trigliserida
yang berasal dari makanan dan kurang dari 5 persen nya terdiri dari kolesterol
18
ester. Pada saat masuk ke dalam darah, kilomikron akan berinteraksi dengan LPL
(Lipoprotein Lipase) yang terdapat pada permukaan endotel kapiler, jaringan
lemak, dan otot, sehingga trigliserida dapat dilepaskan dari kilomikron dan
diangkut oleh HDL ke hati untuk dimetabolisme. Kilomikron membawa
trigliserida dari makanan ke jaringan lemak dan otot rangka, dan membawa
kolesterol makanan ke hati (Rader dan Hobbs, 2005).
2.4.3.2 Very Low Density Lipoprotein (VLDL)
Trigliserida endogen dengan densitas sangat rendah. Lipoprotein ini terdiri
dari 60 persen trigliserida endogen dan 10 – 15 persen kolesterol. Dibentuk dari
asam lemak bebas di hati dan berfungsi sebagai alat transportasi lemak dari hati
ke jaringan. Bagian terbesar dari VLDL ialah trigliserida dan ukuran VLDL
ditentukan dari jumlah trigliserida yang ada (Rader dan Hobbs, 2005).
Trigliserida VLDL dihidrolisis oleh lipoprotein lipase (LPL) dan diubah
menjadi VLDL remnan (Mahley et al., 2003). VLDL remnan dapat ditangkap
kembali oleh hati melalui reseptor atau tetap berada di dalam sirkulasi, dan setelah
diambil komponen trigliseridanya, akan dihidrolisis oleh hepatik lipase (HL)
menjadi partikel IDL dan LDL (Rader dan Hobbs, 2005), sehingga dapat terjadi
peningkatan kadar LDL serum mengikuti penurunan hipertrigliserida.
2.4.3.3 Intermediate Density Lipoprotein (IDL)
IDL kurang mengandung trigliserida (30 persen), lebih banyak kolesterol
(20 persen), dan relatif lebih banyak mengandung apoprotein B dan E. IDL adalah
zat perantara yang terjadi sewaktu VLDL dikatabolisme menjadi LDL.
19
2.4.3.4 Low Density Lipoprotein (LDL)
LDL ialah lipoprotein dengan densitas rendah yang merupakan alat
transportasi kolesterol yang utama, mengangkut sekitar 70 – 80 persen dari
kolesterol total yang merupakan metabolit VLDL. Mengandung trigliserida
sebanyak 10% dan kolesterol sebanyak 60%. Fungsi LDL ialah membawa
kolesterol dari hati ke jaringan perifer, termasuk ke sel otot jantung, otak, dan
lain-lain agar dapat berfungsi dengan baik (untuk sintesis membran plasma dan
hormon steroid).
2.4.3.5 High Density Lipoprotein (HDL)
HDL merupakan lipoprotein protektif yang menurunkan risiko penyakit
jantung koroner. Efek protektifnya diduga karena mengangkut kolesterol dari
perifer untuk dimetabolisasi di hati dan menghambat modifikasi oksidatif LDL
melalui paraoksonase, suatu protein antioksidan yang bersosialisasi dengan HDL.
HDL berfungsi untuk membawa kolesterol dari jaringan perifer ke hati untuk
dimetabolisme dan dibuang ke dalam kandung empedu sebagai asam empedu,
sehingga penimbunan kolesterol di perifer berkurang. HDL terdiri dari 13 persen
kolesterol, kurang dari 5 persen trigliserida, dan 50 persen protein. Kadar HDL
yang tinggi berhubungan dengan menurunnya insiden penyakit dan kematian
akibat aterosklerosis.
Fungsi HDL antara lain:
1. Mengangkut kelebihan kolesterol dari jaringan ekstrahepatik dan sel
pembersih (scavenger cells), dan setelah berinteraksi dengan enzim
LCAT (Lecithin Cholesterol Acyl Transferase) akan melepaskan
20
kolesterol ke VLDL remnan dan hati, yang kemudian akan dikeluarkan
ke dalam empedu.
2. Sebagai sumber apoprotein untuk metabolisme VLDL remnan dan
kilomikron remnan.
3. Diduga sebagai sumber bahan pembentukan prostasiklin yang bersifat
anti trombosis.
4. Meningkatkan sintesis reseptor LDL.
Inti dari HDL ialah kolesterol ester, yang dibentuk di dalam sirkulasi
melalui pengambilan kolesterol di jaringan perifer dengan pertolongan enzim
LCAT (Rader dan Hobbs, 2005).
2.5
Metabolisme Lemak
Terjadi di hati. Fungsi utama hati dalam metabolisme lemak antara lain:
 Memecahkan asam lemak menjadi senyawa kecil untuk energi.
 Mensintesis trigliserida, terutama dari karbohidrat tetapi juga dari
protein dalam jumlah yang lebih sedikit.
 Mensintesis lipid lain dari asam lemak, terutama kolesterol dan
fosfolipid.
Sel hati selain mengandung trigliserida juga mengandung sejumlah besar
fosfolipid dan kolesterol, yang secara kontinu disintesis oleh hati. Sel hati juga
lebih mampu mendesaturasi asam lemak daripada jaringan lain sehingga
trigliserida hati secara normal lebih tidak jenuh daripada trigliserida dari jaringan
adiposa. Kemampuan hati untuk mendesaturasi asam lemak secara fungsional
21
penting untuk semua jaringan tubuh, sebab banyak struktur bagian dari seluruh sel
mangandung jumlah asam lemak tidak jenuh yang cukup banyak, dan sumber
utamanya adalah hati. Desaturasi ini dilakukan oleh enzim dehidrogenase di
dalam sel hati.
Gambar 2.6 Sumber Kolesterol Hati (influx) dan Jalur Kolesterol Keluar dari Hati
(efflux) (Ferrier, 2014)
Hasil akhir dari pemecahan lipid dari makanan ialah asam lemak dan
gliserol. Jika sumber energi dari karbohidrat telah mencukupi, maka asam lemak
akan mengalami esterifikasi, yaitu pembentukan ester dengan gliserol menjadi
trigliserida yang berfungsi sebagai cadangan energi jangka panjang. Jika sewaktuwaktu tidak tersedia sumber energi dari karbohidrat, asam lemak kemudian akan
dioksidasi, baik asam lemak dari diet maupun dari cadangan trigliserida jaringan.
22
Gambar 2.7 Metabolisme Lipid (Lichtenstein dan Jones, 2006)
2.6
Transportasi Lemak
Di dalam darah, lemak diangkut dengan dua cara, yaitu melalui jalur
eksogen dan jalur endogen. Yang berperan pada jalur eksogen ialah kilomikron,
sedangkan pada jalur endogen ialah VLDL, IDL, dan HDL (Mayes et al., 2003).
2.6.1
Jalur Endogen
Hati mensintesis trigliserida dan kolesterol, kemudian diangkut melalui
jalur endogen dalam bentuk VLDL kaya trigliserida. VLDL akan mengalami
hidrolisis oleh lipoprotein lipase yang juga menghidrolisis kilomikron menjadi
VLDL remnan. VLDL remnan kemudian diambil oleh hati atau diubah menjadi
IDL (Intermediate Density Lipoprotein). Partikel IDL ini akan diambil oleh hati
atau mengalami pemecahan lebih lanjut menjadi produk akhir yaitu LDL. LDL
23
akan diambil oleh reseptor LDL di hati, kemudian mengalami katabolisme. HDL
bertugas untuk mengambil kolesterol bebas di jaringan perifer. Kolesterol bebas
di dalam HDL kemudian diesterifikasi oleh enzim LCAT (Lecithin Cholesterol
Acyl Transferase) menjadi kolesterol ester. Kolesterol ester akan mengalami
perpindahan dari HDL ke VLDL atau IDL, begitu juga dengan trigliserida yang
terdapat pada partikel VLDL dan IDL, dipindahkan ke partikel HDL melalui
enzim CETP (Cholesterol Ester Transfer Protein) sehingga terjadi kebalikan arah
transpor kolesterol (reverse cholesterol transport) dari perifer menuju hati untuk
dikatabolisasi, lalu dibuang ke dalam kandung empedu sebagai asam empedu, dan
penimbunan kolesterol di perifer akan berkurang. Aktivitas ini mungkin berperan
dalam sifat antiaterogenik.
Gambar 2.8 Jalur Metabolisme Lipoprotein Eksogen dan Endogen (Harrison’s
Principles of Internal Medicine, 2011)
24
2.7
Teh (Camellia Sinensis)
2.7.1
Klasifikasi Teh (Anonim (a), 2014)
Kerajaan
: Plantae
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Ericales
Famili
: Theaseae
Genus
: Camellia
Spesies
: Camellia sinensis
Gambar 2.9 Daun Tanaman Teh (Handoko, 2007)
2.7.2
Jenis-jenis Teh
Berdasarkan proses pembuatannya, teh dibedakan menjadi empat jenis:
1. Teh Hitam (Black Tea)
Didapat dari hasil penggilingan yang menyebabkan daun teh terluka
dan mengeluarkan getah. Getah bersentuhan dengan udara sehingga
menghasilkan senyawa teaflavin dan tearubigin. Daun teh ini
mengalami proses fermentasi sempurna. Warna hijau pada daun
berubah menjadi kecoklatan dan selama pengeringan berubah menjadi
25
hitam. Teh hitam paling dikenal luas dan paling banyak dikonsumsi
(Sujayanto, 2008).
2. Teh Merah (Oolong Tea)
Teh hasil semifermentasi (semioksidasi enzimatis), dimana daun teh
tidak bersentuhan lama dengan udara pada saat pengolahan, fermentasi
hanya sebagian (30 – 70%). Hasilnya, warna teh menjadi coklat
kemerahan.
3. Teh Hijau (Green Tea)
Teh hijau diolah tanpa mengalami oksidasi dan fermentasi. Setelah
daun teh layu, langsung digulung, dikeringkan, dan dikemas. Biasanya
pucuk teh langsung diproses dengan menggunakan uap panas (steam)
atau frying untuk menghentikan aktivitas enzim, sehingga warna hijau
tetap bertahan dan kandungan taninnya relatif tinggi.
4. Teh Putih (White Tea)
Merupakan teh yang sangat istimewa, karena berasal dari pucuk daun
teh yang sangat muda dan masih menggulung, pada saat dipetik
dilindungi dari sinar matahari. Daun teh yang sangat muda ini
diuapkan dan dikeringkan segera setelah dipetik untuk mencegah
terjadinya oksidasi. Daun teh muda ini juga tidak melalui proses
fermentasi, sehingga teh putih mengandung katekin dan kafein
tertinggi (Dias et al., 2013).
26
Gambar 2.10 Teh Putih, Teh Hijau, Teh Merah, Teh Hitam (Anonim (b), 2011)
27
Camellia sinensis
Buds of young leaves
Young Leaves
Withered
Steamed
(Polyphenol oxidase
Inactivation)
Withered
Steamed/fried
(Polyphenol oxidase
Ruised by shaking
Rolled
Inactivation)
Rolled/shaped
Partially oxidized
Fully oxidized
(10 – 80%)
Dried
Dried
Fried/Dried
Fried/Dried
White Tea
Green Tea
Oolong Tea
Black Tea
Theaflavins and Thearubigins
Catechin
Gambar 2.11 Skema Representasi Proses Pembuatan Teh (Dias et al., 2013)
2.7.3
Kandungan Kimia dalam Teh
Di dalam daun teh terdapat berbagai macam bahan atau senyawa kimia
yang dapat digolongkan ke dalam empat kelompok besar, yaitu substansi fenol,
substansi bukan fenol, substansi penyebab aroma (senyawa aromatis), dan enzim
(Alamsyah, 2006).
28
1. Substansi Fenol
a. Flavanol
Polifenol utama di dalam teh berupa katekin. Derivat katekin terdiri
dari katekin (C), epikatekin (EC), galokatekin (GC), epigalokatekin
(EGC), epikatekin galat (ECG), galokatekin 3-galat (GCG), dan
epigalokatekin 3-galat (EGCG) (Alamsyah, 2006).
b. Flavonol
Flavonol merupakan senyawa golongan flavonoid yang memiliki
oksidasi paling rendah. Komposisi kimia flavonol pada teh mirip
dengan katekin. Flavonol pada teh meliputi quersetin, kaemferol, dan
mirisetin. Flavonol berfungsi sebagai antioksidan alami yang
mempunyai kemampuan untuk mengikat logam.
2. Substansi Bukan Fenol
a. Karbohidrat
Di dalam daun teh terkandung karbohidrat berbentuk gula sederhana
sampai komplek. Karbohidrat yang penting antara lain: sukrosa,
glukosa, dan fruktosa. Keseluruhan karbohidrat pada teh sebanyak
0,75% dari berat kering (Alamsyah, 2006).
b. Substansi Pektin
Pektin akan diurai menjadi asam pektat dan metil alkohol dengan
bantuan enzim pektin metal esterase. Metil alkohol akan menguap dan
sebagian lagi diubah menjadi asam organik yang akan menghasilkan
aroma khas pada teh (Rohdiana, 2009).
29
c. Alkaloid
Berfungsi sebagai penyegar. Alkaloid utama dalam teh ialah kafein.
Kafein akan bereaksi dengan katekin dan menimbulkan rasa segar
pada seduhan teh (Alamsyah, 2006).
d. Klorofil dan Zat Warna Lain
Warna hijau pada daun teh disebabkan oleh adanya klorofil. Dalam
proses inaktivasi enzim, terjadi pemanasan senyawa klorofil yang
menyebabkan perubahan warna hijau segar pada daun teh menjadi
hijau tua/zaitun karena klorofil tersebut diubah menjadi feofitin. Jika
terjadi suasana sangat asam, feofitin akan diubah menjadi feoforbid
yang berwarna hijau kecoklatan (Alamsyah, 2006).
e. Protein dan Asam Amino
Asam amino, karbohidrat, dan katekin akan membentuk senyawa
aromatis. Asam amino yang berpengaruh pada proses ini ialah alanin,
fenil alanin, valin, leusin, dan isoleusin. Seluruh kandungan protein
dan asam amino bebas ialah 1,4 – 5% dari berat daun kering. Reaksi
asam amino dengan katekin pada temperatur tinggi akan menghasilkan
aldehida yang memberikan aroma pada teh (Alamsyah, 2006).
f. Substansi Resin
Kandungan resin sekitar 3% dari berat daun kering. Fungsi resin ialah
menaikkan daya tahan tanaman teh terhadap kondisi beku (Alamsyah,
2006).
30
g. Vitamin
Di dalam daun teh terkandung beberapa vitamin, yaitu vitamin C, K,
A, B1, dan B2. Kandungan vitamin C pada teh sebesar 100 – 250 mg.
Kandungan vitamin C sebesar itu hanya terdapat pada teh putih dan teh
hijau. Sedangkan kandungan vitamin K dalam teh putih dan teh hijau
sebesar 300 – 500 IU/g (Alamsyah, 2006).
h. Mineral
Berfungsi dalam pembentukan enzim di dalam tubuh, sumber mineral
yang penting dalam proses metabolisme. Kandungan mineral di dalam
daun teh:
-
Magnesium
Berfungsi membantu proses metabolisme protein, reaksi seluler,
mengatur elektrolit tubuh, reseptor hormon, metabolisme vitamin D
(Rohdiana, 2009).
-
Flouride
Berfungsi menguatkan gigi agar terhindar dari karies, pembentukan
plak gigi, dan membunuh bakteri penyebab pembengkakan gusi
(Alamsyah, 2006).
-
Natrium
Berfungsi mengatur keseimbangan elektrolit untuk mencegah
menurunnya cairan seluler akibat tekanan osmotik.
31
-
Kalsium
Berfungsi membantu pembentukan tulang dan gigi, transmisi
impuls saraf, kontraksi otot, dan meningkatkan efektifitas kerja
enzim.
-
Seng
Berperan
dalam
metabolisme
tubuh,
sintesis
vitamin
A,
peningkatan sistem kekebalan tubuh, dan membentuk enzim
pemusnah radikal bebas.
3. Substansi Penyebab Aroma (Senyawa Aromatis)
Aroma teh berasal dari likosida yang terurai menjadi gula sederhana dan
senyawa yang beraroma atau dari oksidasi karotenoid yang menghasilkan
senyawa yang mudah menguap (aldehida dan keton tak jenuh). Substansi
penyebab aroma ini meliputi klorofil, karotenoid, dan senyawa volatil.
4. Enzim
Berfungsi sebagai biokatalisator reaksi kimia pada daun teh. Enzim yang
terkandung di dalam daun teh ialah invertase, amylase, glukosidase,
oximetilase, protease, peroksidase, dan polifenol oksidase (Alamsyah,
2006).
32
2.8
Teh Hijau
Teh hijau serupa dengan teh putih, tidak mengalami proses fermentasi,
tidak seperti teh hitam yang difermentasi seluruhnya dan teh oolong yang
difermentasi sebagian. Teh hijau diproses dengan cara penguapan (steaming)
langsung setelah dipetik agar tidak terfermentasi, sehingga kandungan polifenol
yang dipertahankan juga lebih banyak. Setelah di-steaming atau frying, daun teh
hijau kemudian digulung dan baru dikeringkan, sehingga masih ada sedikit proses
oksidasi yang terjadi dan menyebabkan kandungan polifenol pada daun teh hijau
sedikit lebih rendah daripada teh putih. Polifenol pada daun teh ini berfungsi
sebagai antioksidan yang baik bagi kesehatan tubuh (Hatma, 2011).
Daun segar
Inaktivasi
Enzim
(steaming)
Penggilingan
OTR
Penggilingan
CTC
Pengeringan
Gambar 2.12 Skema Proses Pengolahan Teh Hijau (Dahlia, 2014)
Zat aktif utama dari polifenol ialah katekin. Beberapa jenis derivat katekin
yang terkandung pada teh hijau, antara lain: Epicatechin (EC), Epicatechin 3Gallate (ECG), Epigallocatechin (EGC), Epigallocatechin 3-Gallate (EGCG),
Catechin (C), dan Gallocatechin (GC) (Nagao et al., 2007). EGCG merupakan
komponen yang paling banyak dan paling aktif di dalam teh hijau, serta
merupakan antioksidan yang lebih kuat dibandingkan dengan vitamin C dan E.
Satu gelas teh hijau biasanya mengandung 100 – 200 mg EGCG (Roy et al.,
2007). EGCG pada teh hijau ini mempunyai kemampuan unik untuk merusak
pathway dari proses patologis penyakit, seperti kanker, penyakit kardiovaskular,
diabetes, obesitas, Alzheimer, dan Parkinson. Selain itu, EGCG juga memiliki
33
efek sebagai anti-aterosklerosis, anti-hiperkolesterolemia, anti-hipertensi, antihiperglisemia, antibakterial, dan antiviral (Kao, 2000).
EGCG dapat memperlambat pelepasan sitokin-sitokin, sehingga proses
inflamasi serta proliferasi otot polos vaskular terhambat. Hal ini mencegah
terjadinya aterosklerosis yang merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya
penyakit kardiovaskular. Maka dapat dikatakan bahwa EGCG berfungsi dalam
mencegah terjadinya aterosklerosis, serta meningkatkan fungsi endotelial dan
arteri. Oleh karena itu, banyak penelitian menyatakan bahwa konsumsi teh hijau
secara rutin dan dengan dosis yang sesuai, dapat menurunkan risiko terkena
penyakit kardiovaskular dan infark miokard (serangan jantung) (Roy et al., 2007).
Selain katekin dan derivatnya, teh hijau juga mengandung tanin, saponin, vitamin
B, asam folat, mangan, kalium, magnesium, dan kafein yang juga sangat
bermanfaat bagi tubuh.
Hasil fitokimia teh hijau dibandingkan dengan teh putih dapat dilihat pada
tabel 2.3
Tabel 2.3
Hasil Analisis Flavonoid, Total Fenol, Tanin, Saponin, Kapasitas Antioksidan,
dan IC50% (Adeline, 2016)
Beberapa manfaat teh hijau bagi tubuh menurut Sulaksono ialah untuk
memperbaiki profil lipid, mengontrol berat badan, menurunkan risiko terhadap penyakit
34
kardiovaskular, membantu melawan radikal bebas di dalam tubuh, menghindari penuaan
dini, dan lain sebagainya.
Gambar 2.13 Teh Hijau (Anonim (d), 2015)
Gambar 2.14 Seduhan Teh Hijau (Resdiyanto, 2015)
2.9
Teh Hijau dan Dislipidemia
Beberapa penelitian pada binatang telah menunjukkan manfaat teh hijau
dalam menurunkan profil lipid (kolesterol total, kolesterol LDL, dan trigliserida)
di dalam darah. Salah satu penelitian tersebut menemukan bahwa kandungan aktif
flavonoid di dalam teh hijau memiliki efek penurunan kadar kolesterol LDL yang
sama atau lebih besar dibandingkan dengan diet rendah lemak. Beberapa
penelitian lain pada binatang juga menyatakan bahwa hasil penurunan kadar
35
kolesterol total dan kolesterol LDL tidak berbeda antara teh hijau yang diseduh
dengan ekstrak teh hijau (Babu et al., 2006).
Penurunan kadar kolesterol merupakan efek langsung dan tidak langsung
dari teh hijau. Beberapa studi mengemukakan bahwa flavonoid di dalam teh hijau
terbukti dapat memperbaiki profil lipid darah dan memiliki efek vasoprotektif
(Shipp
dan
Abdel-Aal,
2010).
Flavonoid
memiliki
kemampuan
untuk
menginhibisi CETP (cholesteryl ester transfer protein). Dengan menekan CETP,
maka dapat meningkatkan kadar kolesterol HDL dan menurunkan kadar
kolesterol LDL (Qin et al., 2009).
Katekin dapat meningkatkan pengeluaran energi, sehingga terjadi
pengurangan lemak tubuh. Efek dari pengurangan lemak tubuh tersebut ialah
penurunan kadar kolesterol (Roy et al., 2007). Mekanisme lain yang dikemukakan
ialah penurunan kadar kolesterol yang terjadi akibat inhibisi dari absorbsi
kolesterol dan trigliserida. EGCG ditemukan dapat menghambat sistem micelle
bilier di dalam lumen intestinal dengan cara membentuk endapan kolesterol yang
tidak larut, sehingga dapat meningkatkan ekskresi lemak di feses (Roy et al.,
2007).
Studi lain menemukan bahwa katekin dapat menginhibisi langsung sintesis
kolesterol. Penelitian in vitro menyatakan bahwa katekin di dalam teh hijau
merupakan inhibitor kuat dan sangat selektif terhadap squalene epoxidase, enzim
biosintesis kolesterol. Oleh karena itu, menurut mekanisme kerja tersebut, dapat
dikatakan bahwa kerja teh hijau mirip dengan statin, yaitu menurunkan sintesis
kolesterol dan meningkatkan reseptor LDL (Nagao et al., 2007).
36
Kandungan tanin yang tinggi di dalam teh hijau mampu meningkatkan
penyerapan glukosa pada jaringan adiposit tikus GLUT4 (Hayashi et al., 2002).
Selain itu, pemberian senyawa aktif turunan tanin pada konsentrasi 0,1 mg/mL
diketahui dapat menurunkan proliferasi adiposit hingga mencapai 62% – 64%
(Liu et al., 2001; Hayashi et al., 2002).
Pada penelitian lain ditemukan bahwa kandungan saponin di dalam teh
hijau memiliki efek sebagai antihiperlipidemia, dengan cara menghambat kerja 3Hydroxy-3-methylglutaryl CoA reductase (HMGCR) dan Acyl-CoA: cholesterol
O-acyltransferase 2 (ACAT 2) (Shi et al., 2014). HMGCR adalah enzim yang
meregulasi biosintesis kolesterol. Inhibisi dari ekspresi atau aktivitas enzim
HMGCR akan menghambat sintesis de novo kolesterol dalam hati dan dengan
demikian akan mengurangi kadar kolesterol serum (Jurevics et al., 2000).
Sedangkan ACAT2 mengkonversi kolesterol bebas menjadi kolesterol ester
sebagai respon terhadap biosintesis kolesterol intraseluler yang berlebihan.
Ekspresis ACAT2 yang berlebihan meningkatkan produksi kolesterol ester yang
akan bereaksi terhadap hepatik lipoprotein yang mengandung apoB dan disekresi
ke dalam plasma, jadi ACAT2 memainkan peran penting dalam produksi
lipoprotein aterogenik (Lee et al., 2005). Selain itu saponin juga meningkatkan
ekspresi cholesterol 7-alpha-hydroxylase (CYP7A1) yang merupakan enzim yang
terlibat dalam jalur biosintesis asam empedu dan setidaknya terlibat dalam 75%
dari proses produksi asam empedu (Chiang, 2004). Peningkatan ekspresi maupun
aktivitas dari enzim CYP7A1 meningkatkan jalur katabolik kolesterol dan
37
menyebabkan pengurangan kadar kolesterol total dalam serum dan hati (Del-Bas
et al., 2005).
2.10
Teh Putih
Teh putih berasal dari pucuk daun Camellia sinensis yang sangat muda
dan masih menggulung, mempunyai rambut-rambut sangat halus berwarna putih
keperakan, dan pada saat dipetik harus dilindungi dari sinar matahari untuk
mencegah terbentuknya formasi klorofil, sehingga memberikan penampakan
berwarna putih pada daun teh muda tersebut (Dias et al., 2013). Teh putih ini
harus dipetik sebelum kira-kira pukul 06.30 pagi atau sebelum matahari terik agar
tidak terjadi oksidasi enzimatis dini di tangan pemetik ataupun saat pengumpulan
dan pengangkutan pucuk daun teh segar. Jika pucuk daun teh segar ini terkena
sinar matahari terik yang lama, maka kuncup yang menggulung akan perlahan
terbuka (flaky open) dan tidak mulus, sehingga akan mengurangi kandungan
antioksidan di dalamnya. Oleh karena itu, setelah dipetik, pucuk daun teh muda
segar ini harus sesegera mungkin sampai di pabrik.
Teh putih di Indonesia pertama kali ditanam dan dikembangkan di daerah
Gambung, Bandung Selatan, Jawa Barat oleh seorang berkebangsaan Belanda
bernama R. E. Kerkhoven pada tahun 1878, dan kini menjadi lokasi dari Pusat
Penelitian Teh dan Kina. Teh putih ini diproduksi menjadi teh unggulan yang
diberi nama Excellent Gamboeng White Tea, Premium Tea of Indonesia, oleh
Pusat Penelitian Teh dan Kina, Bandung. Teh putih Gambung memiliki
kandungan antioksidan yang sangat tinggi, karena berasal dari tanaman klon
38
unggul teh varietas Assamica seri GMB 1-11, yaitu hasil dari persilangan klonklon teh yang memiliki kandungan antioksidan yang sangat tinggi, sehingga dapat
menghasilkan superior tea clones.
Kandungan antioksidan di dalam teh putih dipengaruhi beberapa faktor
antara lain, jenis tanaman teh (varietas atau klon) yang menghasilkan pucuk daun
teh yang segar, cara penanganan pucuk daun teh tersebut, dan cara pengolahan,
hingga cara pengemasannya. Berbeda dengan teh yang berasal dari negeri Cina
yang banyak menanam teh varietas Sinensis, sebagian besar tanaman teh di
Indonesia berasal dari varietas Assamica. Perbedaan kedua varietas tersebut antara
lain:
Tabel 2.4
Perbedaan Teh Varietas Sinensis dan Varietas Assamica (Hilal dan Engelhardt,
2007)
Varietas Sinensis
Paling banyak ditemukan di Cina
Varietas Assamica
Sekitar 95% dari tanaman teh di
Indonesia
Antioksidan (katekin) lebih rendah: 6,2 Antioksidan (katekin) lebih tinggi: 11,1
– 14,3%
– 26,5%
Aroma lebih kuat
Aroma tidak terlalu kuat
Rasa tidak terlalu kuat
Rasa lebih kuat
Gambar 2.15 Teh Putih (Yusi, 2015)
39
Gambar 2.16 Seduhan Teh Putih (Anonim (c), 2014)
Proses produksi teh putih dimulai dengan daun teh yang masih sangat
muda, segera dipetik untuk menghindari terjadinya oksidasi, kemudian diuapkan
dan dikeringkan dengan segera. Proses ini menghasilkan seduhan teh yang terasa
ringan dan sangat spesial, sehingga teh putih ini sangat disukai oleh masyarakat di
Eropa (Almajano et al., 2008).
Oleh karena teh putih tidak melalui proses fermentasi dan oksidasi, maka
teh putih mempunyai kandungan polifenol yang tinggi dibandingkan dengan jenis
teh lainnya. Polifenol utama pada teh putih terutama berasal dari derivat katekin,
yang merupakan antioksidan poten yang bermanfaat bagi kesehatan. Sifat
antioksidan pada teh putih dapat mencegah radikal bebas dan dapat menginhibisi
stres oksidatif dan inflamasi, dimana stres oksidatif dan inflamasi berkaitan
dengan terjadinya bermacam-macam penyakit, seperti obesitas, dislipidemia,
diabetes, kardiovaskular, neurodegeneratif, dan kanker (Dias et al., 2013).
40
2.10.1 Manfaat Teh Putih
Beberapa manfaat teh putih, yaitu sebagai proteksi terhadap penyakit
kardiovaskular, kanker, diabetes melitus, obesitas, sistem saraf pusat, dan
penyakit infeksi. Proteksi terhadap penyakit kardiovaskular didapat dari sifat teh
putih sebagai antitrombogenik, aktivitas hipotensif, anti inflamasi, aktivitas
hipokolesterolemia, aktivitas lipolitik, dan anti angiogenik (Dias et al., 2013).
Tabel 2.5
Efek Protektif Potensial dari Teh Putih (Dias et al., 2013)
Cardiovascular
diseases
Antithrombogenic
activity (Dias et
al., 2013)
Hypotensive
activity (Green
DJ et al., 2011)
Antiinflammatory
activity (Stang V
et al., 2006)
Antioxidant
activity (Cheng
To et al., 2000)
Cancer
Antimutagenic
activity
(Battacharya
U et al.,
2011)
Anticarcinogenic
activity
(Carvalho M
et al., 2010)
Antiinflammatory
activity (Deka
A et al.,
2011)
DNA damage
reduction
(Sharangi A,
2009)
Antioxidant
activity (Han
MK, 2003)
Antiangiogenic
activity
(Sharangi A,
2009)
Diabetes
mellitus
Anti-diabetic
activity
(Albofathi AA
et al., 2012)
Obesity
CNS
Stimulation
of hepatic
lipid
metabolism
(Murase T et
al., 2002)
Inhibition of
lipase
(Chantre P et
al., 2002)
Anti-stress
activity
(Kimura K
et al., 2007)
Stimulant
activity (Liu
K et al.,
2011)
Anti-fungal
activity
(Hirasawa et al.,
2004)
Insulin
Thermogenic
resistance
activity
reduction
(Dullo A et
(Islam M,
al., 2000)
2011)
Antioxidant
Modulation
activity (Song
of appetite
EK et al.,
(Liao S,
2003)
2001)
Hypocholesterolemic activity
(Maron DJ et al., 2003)
Antidepressant
activity
(Zhu WL et
al., 2011)
Antioxidant
activity
(Lopez V et
al., 2011)
Anti-viral
activity (Weber
JM et al., 2003)
Hypoglycemic
activity
(Mackenzie T
et al., 2007)
Lipolytic and antiadipogenic
activity (Sohle J et al., 2009)
Hypolipidemic activity (Huang
et al., 2012)
Microorganism
induced diseases
Anti-microbial
activity (Wang X
et al., 2010)
41
2.10.2 Komposisi Kimia Teh Putih
Komposisi utama yang terkandung di dalam teh putih meliputi, protein,
polisakarida, polifenol, mineral, trace element, asam amino organik, lignan, dan
metilxantin, yaitu kafein, teofilin, dan teobromin (Seeram et al., 2006; Moderno et
al., 2009). Polifenol pada teh putih yang merupakan derivat utama dari katekin
ialah epicatechin (EC), epigallocatechin (EGC), epicatechin-3-gallate (ECG), dan
epigallocatechin-3-gallate (EGCG).
2.11
Teh Putih terhadap Dislipidemia
Diet tinggi lemak dapat menyebabkan kelebihan trigliserida di dalam
tubuh yang akan diakumulasi oleh adiposit dan jaringan adiposa. Hipertrofi
adiposit dan akumulasi jaringan adiposa membuat adiposit dan jaringan adiposa
dalam keadaan patogenik atau disebut dengan Adiposapathy (Bays et al., 2013).
Keadaan adiposapathy ini menstimulasi terjadinya pelepasan sitokin, yaitu
Tumor Necrosis Factor-alpha (TNF-α). Kadar TNF-α yang meningkat dapat
menyebabkan terjadinya resistensi insulin. Resistensi insulin pada adiposit dapat
menurunkan aktivitas enzim lipoprotein lipase (LPL), sehingga clearance VLDL
menurun, akibatnya kadar VLDL di dalam darah meningkat. Selain itu, resistensi
insulin juga dapat meningkatkan hidrolisis trigliserida, sehingga terjadi
peningkatan FFA. FFA akan masuk ke dalam sirkulasi darah, lalu ke hati.
Peningkatan FFA di hati akan merangsang sekresi dari VLDL, sehingga terjadi
hipertrigliseridemia.
42
Pemberian ekstrak teh putih yang mengandung EGCG dapat menurunkan
TNF-α, sehingga oksidasi asam lemak pada hati meningkat, menghambat sintesis
kolesterol oleh sel hati, serta meningkatkan sensitivitas insulin. Sensitivitas
insulin yang meningkat, akan meningkatkan pula aktivitas enzim LPL dan
menurunkan FFA, serta menghambat aktivitas CETP (Kersshaw dan Flier, 2004).
Gambar 2.17 CETP (Eckardstein, 2010)
CETP adalah protein plasma yang memediasi pertukaran cholesteryl ester
dari HDL ditukar dengan molekul trigliserida dari LDL, VLDL, maupun
kilomikron, sehingga VLDL kaya kolesterol, sedangkan HDL menjadi kaya
trigliserida atau dikenal sebagai lipoprotein kaya trigliserida (TGrL). Apo A-1
memisahkan diri dari HDL kaya trigliserida. Apo A-1 bebas ini dibersihkan dari
plasma melalui ginjal, sehingga mengurangi kemampuan HDL untuk reverse
cholesterol transport. Akibatnya, kadar HDL dalam darah menurun. Sedangkan
pada LDL kaya trigliserida, mengalami lipolisis menjadi small dense LDL
43
(Shulman, 2000). EGCG menghambat CETP, sehingga terjadi peningkatan kadar
HDL kolesterol dan penurunan kadar LDL kolesterol (Liu Di et al., 2009).
Epigallocatechin 3-gallate
(EGCG)
TNF-α
Oksidasi asam lemak
FFA
Sintesis kolesterol
Sensitivitas insulin
Kolesterol
Lipoprotein Lipase
FFA
Trigliserida
Clearing VLDL
Sintesis VLDL hati
Trigliserida
CETP
HDL
Gambar 2.18 EGCG dan Profil Lipid (Dahlia, 2014)
LDL
44
2.12
Hewan Percobaan
2.12.1 Tikus Putih Jantan Galur Wistar sebagai Hewan Coba
Percobaan ini menggunakan tikus putih sebagai binatang percobaan,
karena tikus putih lebih dapat dikendalikan, reproduksinya cepat, efek
metabolismenya cepat, mempunyai reaksi biokimia/genetik yang dekat dengan
manusia, dan karena tikus putih lebih besar dari mencit, memudahkan dalam hal
pengambilan darah. Tikus putih sebagai hewan coba juga relatif resisten terhadap
infeksi dan sangat cerdas. Tikus putih tidak begitu bersifat fotofobik seperti
halnya mencit dan kecenderungan untuk berkumpul dengan sesamanya tidak
begitu besar. Aktivitasnya tidak terganggu oleh adanya manusia di sekitarnya.
Dalam percobaan ini dipilih tikus putih jantan sebagai binatang percobaan,
dengan alasan dapat memberikan hasil penelitian yang lebih stabil karena tidak
dipengaruhi oleh adanya siklus menstruasi dan kehamilan seperti pada tikus putih
betina. Tikus putih jantan juga mempunyai kecepatan metabolisme obat yang
lebih cepat dan kondisi biologis tubuh yang lebih stabil dibandingkan dengan
tikus betina (Ngatijan, 2006).
Ada dua sifat yang membedakan tikus putih dari hewan percobaan lainnya,
yaitu tikus putih tidak dapat muntah karena struktur anatomi yang tidak lazim di
tempat esofagus bermuara ke dalam lambung dan tikus putih tidak mempunyai
kandung empedu (Smith dan Mangkoewidjojo, 1988; Krinke, 2000). Tikus
laboratorium jantan jarang berkelahi seperti mencit jantan. Tikus putih dapat
tinggal sendirian di dalam kandang, asalkan dapat melihat dan mendengar tikus
lain. Jika dipegang dengan cara yang benar, tikus-tikus ini bisa tenang dan mudah
45
ditangani di laboratorium. Tikus putih juga lebih besar daripada mencit, sehingga
untuk percobaan laboratorium, tikus putih lebih menguntungkan daripada mencit.
Usia tikus 2,5 bulan memiliki persamaan dengan manusia usia dewasa muda dan
belum mengalami proses penuaan instrinsik (Smith dan Mangkoewidjojo, 1988).
Klasifikasi tikus putih dalam sistematika hewan percobaan ialah:
Filum
: Chordata
Subfilum
: Vertebrata
Classis
: Mammalia
Subclassis
: Placentalia
Ordo
: Rodentia
Familia
: Muridae
Genus
: Rattus
Species
: Rattus norvegicus
Gambar 2.19 Tikus Wistar (Rattus norvegicus) (Dahlia, 2014)
Terdapat beberapa galur tikus yang mempunyai kekhususan tertentu,
antara lain galur Wistar Albino dengan kepala besar, telinga panjang, dan ekor
pendek; galur Sprague Dawley yang albino putih berkepala kecil dan berekor
panjang; dan galur Long Evans yang mempunyai badan berwarna putih,
46
sedangkan kepala dan ekstremitasnya berwarna hitam. Galur Sprague Dawley dan
Long Evans berasal dari pengembangan galur Wistar (Hubrecht dan Kirkwood,
2010).
Panjang badan tikus diukur dari ujung hidung sampai pertengahan anus,
sedangkan panjang ekor diukur dari pertengahan anus sampai dengan ujung ekor.
Tikus Wistar memiliki panjang ekor yang selalu lebih pendek daripada panjang
badannya, sedangkan tikus Sprague Dawley memiliki panjang ekor yang sama
atau lebih panjang daripada badannya (Krinke, 2000).
Tabel 2.6
Data Biologis Tikus Wistar (Krinke, 2000; Hubrecht dan Kirkwood, 2010)
Berat badan lahir
4,5 – 6 gram
Berat badan dewasa
Jantan 250 – 300 gram
Betina 180 – 220 gram
Usia maksimum
2 – 4 tahun
Usia reproduksi
8 – 10 minggu
Konsumsi makanan
15 – 30 g/hari
Konsumsi air minum
20 – 45 g/hari
Defekasi
9 – 13 g/hari
Produksi urin
10 – 15 ml/hari
Untuk tikus di laboratorium, makanan dan air minum sebaiknya diberikan
secara ad libitum, dan pencahayaan ruangan diatur sebagai 12 jam terang dan 12
jam gelap. Tikus, terutama tikus albino, sangat sensitif terhadap cahaya, maka
intensitas cahaya laboratorium sebaiknya tidak melebihi 50 lux (Hubrecht dan
Kirkwood, 2010). Kondisi optimal untuk tikus di laboratorium (Krinke, 2000;
Hubrecht dan Kirkwood, 2010):
47
a. Kandang tikus harus cukup kuat dan tidak mudah rusak, mudah
dibersihkan (satu kali seminggu), mudah dipasang kembali, hewan
tidak mudah lepas, harus tahan gigitan, dan hewan tampak jelas dari
luar. Alas tempat tidur harus mudah menyerap air, pada umumnya
digunakan serbuk gergaji atau sekam padi.
b. Menciptakan suasana lingkungan yang stabil dan sesuai dengan
keperluan fisiologis tikus (suhu, kelembaban, dan kecepatan
pertukaran udara yang ekstrim harus dihindari). Suhu ruangan yang
baik berkisar antara 20–220C, sedangkan kelembaban udara sekitar
50%.
c. Untuk tikus dengan berat badan 200 – 300 gram, luas lantai tiap ekor
tikus ialah 600 cm2 dan dengan tinggi 20 cm. Jumlah maksimal tikus
per kandang ialah 3 ekor tikus.
d. Transportasi jarak jauh sebaiknya dihindari karena dapat menimbulkan
stres pada tikus.
Jika kondisi di atas tidak terpenuhi, maka tikus menjadi sakit. Beberapa
indikator yang dapat digunakan untuk menilai apakah tikus dalam keadaan sehat
atau sakit (Hubrecht dan Kirkwood, 2010):

Penampilan umum
Pada tikus yang sakit dapat terlihat piloereksi, bulu rontok, kulit kendur, berat
badan menurun, kelopak mata tertutup.
48

Feses
Feses lembek dan tikus yang diare menunjukkan gangguan pada saluran
pencernaan.

Tingkah laku
Tikus yang sakit akan menjadi lebih agresif pada awalnya, namun lama
kelamaan akan menjadi pasif.

Postur
Umumnya tikus yang sakit akan sering tiduran di lantai kandang, dengan
posisi kepala menyentuh abdomen.

Pergerakan
Pergerakan pada tikus yang sakit akan sangat berkurang.

Suara
Tikus yang sakit akan lebih banyak mencicit ketika dipegang.

Fisiologi
Dapat terjadi bersin, hipotermia, serta penampilan yang pucat.
Download