Tes Surja untuk Mendeteksi Kerusakan Belitan pada

advertisement
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2014) 1-5
1
Tes Surja untuk Mendeteksi Kerusakan Belitan
pada Motor Induksi Tiga Fasa Tegangan Rendah
Pradika Sakti(1), Dimas Anton Asfani(2), dan I Made Yulistya Negara(3)
Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
E-mail: [email protected](1), [email protected](2), [email protected](3)
Abstrak— Kegagalan belitan atau turn fault pada motor
induksi akibat kerusakan isolasi belitan stator merupakan
kegagalan yang biasa terjadi. Menurut beberapa penelitian,
kerusakan mesin listrik akibat hubung singkat pada stator
mempunyai presentase yang cukup besar, mendapatkan
peringkat kedua penyebab kerusakan motor listrik setelah
kegagalan bearing. Pada kasus ini, motor induksi yang
mengalami kegagalan belitan dengan nilai kecil mempunyai nilai
arus yang sama seperti keadaan normal. Sehingga tidak dapat
diidentifikasi bahwa motor tersebut mengalami kegagalan
belitan, namun kegagalan tersebut mampu diidentifikasi dengan
baik menggunakan tes surja. Pada umumnya, peralatan untuk
melakukan tes surja sudah dalam bentuk modul pabrikan.
Sehingga pada penelitian ini, tes surja dilakukan dengan
menggunakan beberapa handmade circuit yang lebih ekonomis
untuk mendeteksi terjadinya kegagalan belitan.
Kata Kunci—Motor induksi, turn fault, stator, kegagalan
belitan, tes surja, impuls.
I. PENDAHULUAN
M
ESIN-MESIN listrik merupakan komponen penting
bagi kelangsungan dunia industri. Banyak orang
mengasumsikan, 65-70% energi listrik pada sebuah industri
digunakan untuk konsumsi mesin-mesin listrik [1]. Di
beberapa industri, kerusakan mesin listrik yang terjadi dapat
mengakibatkan penghentian seluruh kinerja produksi pabrik,
sehingga mengganggu proses produksi. Oleh karena itu,
penghentian proses secara tidak terjadwal pada industri yang
disebabkan oleh kerusakan mesin listrik dapat mengakibatkan
kerugian finansial yang cukup besar [2].
Sebagian kerusakan pada mesin listrik rata-rata disebabkan
oleh kegagalan bearing dan kegagalan isolasi stator [3].
Menurut catatan, kerusakan mesin listrik akibat hubung
singkat pada stator mempunyai presentase yang cukup besar,
mendapatkan peringkat kedua penyebab kerusakan motor
listrik setelah kegagalan bearing [3], [4]. Sekitar 80% dari
kegagalan stator pada mesin listrik disebabkan oleh lemahnya
isolasi antar belitan [5].
Salah satu kerusakan yang umum terjadi pada belitan motor
induksi adalah kegagalan isolasi stator yang disebabkan oleh
kegagalan antar belitan (turn-turn fault). Hal ini terjadi ketika
isolasi antara dua belitan dalam kumparan yang sama,
biasanya
juga dalam slot yang sama, rusak sehingga
mengurangi kemampuan kumparan untuk menghasilkan
medan magnet yang seimbang. Ketidakseimbangan medan
magnet yang terjadi dapat menghasilkan getaran, yang
kemudian dapat menyebabkan degradasi isolasi serta
kegagalan bantalan (bearing failures). [6]
Turn fault yang terjadi pada belitan stator ternyata
menyerap energi, dan energi tersebut berubah menjadi panas.
Sehingga dapat menyebabkan pemanasan lokal pada belitan
yang mengalami turn fault [7]. Jika dilakukan operasi dalam
waktu yang panjang, pemanasan lokal ini dapat merusak
isolasi belitan yang berada ada di sekitar belitan yang
mengalami turn fault. Sehingga dapat mengakibatkan
kegagalan belitan atau turn fault yang lebih besar maupun
kegagalan belitan antar fasa (phase-phase fault) [6].
Kerusakan tersebut semua bisa diawali hanya dari kegagalan
belitan dengan nilai yang kecil dan mempunyai kemungkinan
yang dapat mengakibatkan kerusakan motor yang lebih besar
bahkan memungkinkan motor untuk terbakar.
Untuk hubung singkat antar belitan, dapat dideteksi dengan
melakukan tes surja pada motor induksi [8]. Peralatan untuk
melakukan tes surja biasanya sudah dalam bentuk modul
pabrikan, tetapi kali ini untuk melakukan tes surja pada motor
induksi digunakan handmade circuit yang lebih simpel dan
lebih ekonomis. Tes surja biasanya dilakukan secara offline.
Dengan melakukan tes surja, tidak hanya hubung singkat antar
belitan yang mampu dideteksi, penurunan rating isolasi
sebelum terjadi kerusakan juga dapat dideteksi dengan baik.
II. TES SURJA
Tes surja merupakan pengujian yang digunakan untuk
mengetahui kondisi isolasi antar belitan. Tes surja tidak hanya
mampu mendeteksi hubung singkat antar belitan, pengetesan
tersebut juga mampu mendeteksi penurunan rating isolasi
sebelum terjadi kerusakan [9]. Biasanya, tes surja pada mesin
listrik dilakukan dalam kondisi offline atau tidak ada sumber
listrik yang mensuplai mesin listik tersebut. Pada prinsipnya,
tes surja dilakukan dengan mengalirkan pulsa short current,
yang memiliki rise time tertentu, ke belitan stator motor
induksi tegangan rendah.
Pada dasarnya, untuk melakukan tes surja membutuhkan
beberapa rangkaian. Yang pertama, dibutuhkan pembangkit
tegangan tinggi DC, kemudian dibutuhkan charging circuit
untuk pengisian kapasitor surja. Dan yang terakhir dibutuhkan
rangkaian switch capacitor untuk melakukan penyaklaran
dalam pengisian dan pelepasan muatan pada kapasitor surja.
Dari rangkaian-rangkaian tersebut kita mampu menghasilkan
surge generator atau bisa juga disebut dengan generator
impuls. Skematik konfigurasi rangkaian pengetesan surja pada
motor induksi tegangan rendah dapat dilihat pada Gambar 1.
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2014) 1-5
2
(EAR) untuk mengetahui perbedaan yang terjadi antar tiap
variasi yang dilakukan. Gelombang surja dari belitan yang
diuji dibandingkan dengan gelombang surja referensi untuk
mengetahui perbedaannya. Persamaan Error Area Ratio
(EAR) yang digunakan sebagai berikut [9] :
E R
Gambar 1. Skematik konfigurasi rangkaian tes surja pada motor induksi tiga
fasa.
Pada Gambar 1, R dan L merupakan resistansi dan
induktansi pada motor induksi, sedangkan C merupakan
kapasitor surja, dan S merupakan saklar. Ketika dilakukan
pengetesan, pertama-tama saklar S1 akan menutup sehingga
kapasitor surja dimuati oleh tegangan tinggi. Setelah muatan
pada kapasitor surja sudah mencapai nilai tegangan yang
diinginkan, maka secara bersamaan saklar S1 akan terbuka dan
saklar S2 akan menutup. Hal ini mengakibatkan terjadinya
perpindahan muatan dari kapasitor menuju belitan stator motor
induksi tiga fasa. Hal ini disebut peluahan kapasitor menuju
impedansi motor.
Jika tegangan tersebut melebihi batasan tegangan
maksimum dari isolasi, dapat muncul busur api dan
menyebabkan perubahan nilai induktansi pada belitan dalam
waktu yang singkat. Proses ini dapat dideteksi dengan
mengamati respon impuls motor, yang disebut juga
gelombang surja [2].
Dari rangkaian ekivalen antara kapasitor surja dan motor
induksi membentuk rangkaian RLC seri. Sehingga jika terjadi
short circuit antar belitan karena penurunan level isolasi,
perubahan yang terjadi pada frekuensi dan magnitud dari
respon impuls dapat diamati.
Dari rangkaian RLC seri tersebut, frekuensi resonansinya
dapat diketahui dengan menggunakan persamaan berikut [10] :
√(
)
dimana f menunjukkan frekuensi resonansi, C menunjukkan
nilai kapasitansi kapasitor surja, L menunjukkan induktansi
motor, dan R resistansi total pada rangkaian tes surja.
Jika terjadi kerusakan belitan, maka nilai induktansi dan
resistansi akan menjadi lebih kecil. Sehingga dari (1), dapat
diketahui bahwa nilai frekuensi resonansi akan semakin besar
dikarenakan nilai induktansi pada belitan motor induksi yang
menjadi lebih kecil.
∑
|
∑
|
|
|
dimana,
menunjukkan poin ke-i pada gelombang surja
referensi,
menunjukkan poin ke-i pada gelombang surja
pengujian, dan N menujukkan poin data yang dibandingkan.
Dengan menggunakan analisa EAR, dapat ditentukan
kelayakan kerja dari belitan stator motor listrik.
IV. TES SURJA UNTUK MENDETEKSI KERUSAKAN
BELITAN
Pada pengetesan surja yang sudah dilakukan terdapat
beberapa komponen penting yang dbutuhkan, yaitu
autotransformer, rangkaian voltage multiplier (CockcroftWalton Multiplier), rangkaian switch capacitor, NI PXIe1073, NI PXIe-5122, motor induksi dengan external tabs
untuk turn fault, dan LabVIEW. Pengetesan surja pada motor
induksi dilakukan dengan mengkombinasikan komponenkomponen di atas seperti diagram blok pada Gambar 2.
Tes surja pada motor pada motor induksi tiga fasa dilakukan
dalam keadaan offline atau dalam keadaan motor induksi tidak
beroperasi. Susunan komponen-komponen tes surja pada
motor induksi tegangan rendah dapat dilihat pada Gambar 3.
Autotransformer akan memberikan suplai tegangan,
kemudian tegangan tersebut dikonversi dan dinaikkan oleh
rangkaian voltage multiplier. Sehingga tegangan keluaran dari
rangkaian voltage multiplier menjadi tegangan tinggi DC yang
mempunyai nilai sebesar [11], [12] :
Vout = 2 × N × Vinput-peak
dimana, Vinput-peak merupakan nilai tegangan puncak input dan
N menunjukkan jumlah stage pada rangkaian Voltage
Multiplier.
Pada perancangan tes digunakan rangkaian CockcroftWalton Multiplier dengan 2 tingkat atau 2 stage, sehingga
dibutuhkan empat buah diode dan empat buah kapasitor.
III. ERROR AREA RATIO
Error Area Ratio (EAR) merupakan sebuah metode analisa
gelombang yang sangat sensitif terhadap perbedaan dalam dua
gelombang, sehingga metode ini digunakan untuk mendeteksi
perbedaan antara dua gelombang yang sulit dibedakan dengan
kasat mata [8]. Pada gelombang surja yang sudah didapat,
dilakukan analisa gelombang dengan metode Error Area Ratio
(3)
Gambar 2. Diagram blok dari sistem tes surja pada motor induksi
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2014) 1-5
3
telah diakuisisi. Gambar 4 menunjukkan tampilan software
LabVIEW yang digunakan untuk akuisisi data.
V. PENGUJIAN DAN ANALISA DATA
Gambar 3. Susunan komponen tes surja pada motor induksi tiga fasa.
A. Pengujian Turn Fault pada Motor Induksi Tiga Fasa
Dilakukan pengujian dengan variasi turn fault untuk
mengetahui arus yang timbul ketika motor induksi tiga fasa
beroperasi tanpa beban dan mengalami turn fault pada salah
satu belitan fasanya. Variasi turn fault dilakukan dari turn
fault 1 belitan hingga 25 belitan. Nilai arus hasil pengujian
variasi turn fault pada motor induksi dapat dilihat pada
Gambar 5.
Dari hasil pengujian turn fault yang sudah dilakukan, dapat
dilihat pada Gambar 5(a). Jika pada motor induksi tiga fasa
terjadi turn fault hingga 5 belitan, maka arus pada fasa yang
mengalami turn fault mempunyai nilai yang sama seperti arus
Gambar 4. Tampilan LabVIEW untuk tes surja pada motor induksi tiga fasa.
Sehingga rangkaian tersebut mempunyai tegangan output,
dengan asumsi setiap komponen bekerja dengan kondisi yang
ideal, adalah empat kali tegangan input puncak.
Dengan menggunakan spesifikasi motor yang ditunjukkan
pada Table 1, belitan fasa R dirusak beberapa isolasi
belitannya dan dihubungkan ke beberapa external tabs untuk
memudahkan dalam pengujian turn fault. Untuk melakukan
tes surja, digunakan kapasitor surja sebesar 10 nF dan resistor
sebesar 20 Ω. Resistor tersebut digunakan untuk mengurangi
arus surja yang masuk ke motor dan meredam resonansi yang
terjadi.
NI PXIe-1073 dan NI PXIe-5122 digunakan sebagai modul
pengakuisisi gelombang impuls respon dari tes surja pada
motor induksi tiga fasa tegangan rendah. Modul ini
terintegrasi dengan LabVIEW untuk melakukan pembacaan
gelombang impuls respon motor. Channel ADC pada NI
PXIe-5122 terhubung dengan rangkaian voltage sensor
melalui probe tegangan untuk membaca nilai tegangan.
Gelombang surja yang muncul, dibaca oleh modul ini dan
kemudian diakuisisi. Sedangkan LabVIEW berfungsi untuk
menampilkan dan mengkonversi data gelombang surja yang
Tabel 1.
Spesifikasi motor induksi tiga fasa
Prated
2 HP
Poles
4
Vrated
220/380 V
Irated
5,94/3,44 A
Nrated
1380 rpm
Rm
8,39 Ω
Lm
46,27 mH
Number of turn per
366
phase
(a)
(b)
(c)
Gambar 5. Arus fasa R pada motor induksi tiga fasa dengan variasi turn fault
(a) 1-5 belitan (b) 10 belitan (c) 25 belitan.
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2014) 1-5
4
motor induksi normal. Sedangkan untuk turn fault 10 belitan,
motor tersebut mulai mengalami kenaikan arus. Semakin
banyak belitan yang mengalami kegagalan, maka arus motor
induksi pada fasa yang mengalami turn fault akan semakin
besar. Hal ini terlihat dari Gambar 5 (b) dan Gambar 5 (c),
pada gambar tersebut terlihat bahwa motor induksi ketika
mengalami turn fault 25 mempunyai nilai arus yang lebih
besar dari variasi turn fault sebelumnya.
Dari pengujian yang sudah dilakukan, dapat dilihat jika
kerusakan belitan pada motor induksi tiga fasa tidak dapat
diidentifikasi dengan efektif hanya dengan memonitor arus
kerja pada motor tersebut. Hal ini disebabkan, karena tidak
semua motor induksi tiga fasa mengalami kenaikan arus ketika
terjadi turn fault dengan nilai yang kecil.
B. Tes Surja pada Motor Induksi Tiga Fasa
Tes surja pada motor induksi tiga fasa dilakukan dengan
mengalirkan tegangan impuls pada belitan motor tersebut,
pengetesan dilakukan ketika motor dalam keadaan offline atau
tidak beroperasi. Variasi turn fault juga dilakukan untuk
mendeteksi perbedaan yang terjadi pada gelombang surja yang
didapat. Dari hasil pengujian tersebut, gelombang surja pada
motor induksi dengan kondisi belitan normal dijadikan sebagai
gelombang surja referensi.
Berdasarkan aturan praktis dari Baker Instrument Company,
pengujian impuls dilakukan dengan tegangan maksimal
sebesar [13] :
max
(a)
e
Berdasarkan (4), maka motor induksi tiga fasa yang digunakan
mempunyai batas maksimal tegangan impuls yang masuk ke
stator sebesar 1760 V untuk tetap menjaga isolasi belitan.
Setelah penentuan batas tegangan maksimal pengujian,
peralatan disusun untuk melakukan tes surja. Untuk
pengetesan digunakan tegangan pengujian sebesar 390 V
sedangkan untuk gelombang surja referensi diambil tegangan
pengujian sebesar 420 V.
Belitan fasa R pada motor induksi tiga fasa dikondisikan
mengalami turn fault 1 belitan sampai 25 belitan melalui
external tabs. Variasi turn fault tersebut dilakukan untuk
mengetahui perbedaan yang terjadi ketika terjadi turn fault,
sehingga dapat dilakukan identifikasi terhadap setiap variasi
turn fault pada belitan stator motor induksi tiga fasa. Ketika
dilakukan tes surja maka akan timbul resonansi RLC seri,
akibat hubungan seri yang terjadi antara kapasitor surja
dengan impedansi belitan motor induksi. Gambar 6
menunjukkan hasil tes surja pada motor induksi dengan
kondisi belitan normal, turn fault 1 belitan hingga turn fault 25
belitan.
Dari hasil tersebut, dapat dilihat jika tes surja mampu
mengidentifikasi kondisi kesehatan belitan motor induksi
walau terjadi turn fault dengan nilai yang kecil. Hal ini terlihat
dari perbedaan yang terjadi pada hasil gelombang surja yang
didapat.
Ketika motor induksi tiga fasa dalam keadaan normal,
walaupun dilakukan tes surja dengan nilai tegangan impuls
yang berbeda akan menghasilkan gelombang surja dengan
nilai frekuensi resonansi yang sama. Hanya mengalami
(b)
Gambar 6. Hasil tes surja pada motor induksi tiga fasa (a) kondisi belitan
normal, turn fault 1 belitan, turn fault 2 belitan, dan turn fault 3 belitan. (b)
kondisi belitan turn fault 5 belitan, turn fault 10 belitan, dan turn fault 25
belitan.
perbedaan pada nilai amplitudo gelombang surja.
Untuk motor induksi tiga fasa yang mengalami turn fault,
ketika terjadi turn fault pada belitan stator, maka nilai
impedansi pada belitan motor akan berkurang. Dan jika dilihat
dari hasil yang sudah didapat, semakin banyak belitan yang
mengalami turn fault, maka gelombang surja yang didapat
mempunyai nilai frekuensi resonansi yang semakin besar
Sehingga dapat dikatakan bahwa nilai induktansi belitan motor
berbanding terbalik dengan besar nilai frekuensi gelombang
surja yang terjadi. Hal ini sesuai dengan (1).
Sedangkan berkurangnya nilai resistansi pada belitan
mempengaruhi nilai damping factor atau faktor redaman pada
gelombang surj. Semakin kecil nilai resistansinya, maka nilai
faktor redamannya juga semakin kecil. Sehingga dapat dilihat
jika semakin besar jumlah belitan yang mengalami turn fault,
maka gelombang surja semakin tidak teredam. Hal ini yang
menyebabkan nilai amplitudo gelombang surja semakin besar,
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2014) 1-5
Tabel 2.
Hasil analisa Error Area Ratio (EAR) pada gelombang surja
Waveform
Normal
1 Turn
2 Turn
3 Turn
5 Turn
10 Turn
25 Turn
Error Area Ratio
(%)
8,96
24,41
51,85
54,05
58,05
62,84
65,91
Pass/Fail
Pass
Fail
Fail
Fail
Fail
Fail
Fail
jika terjadi turn fault dengan nilai yang semakin besar.
Dengan memanfaatkan terjadinya perubahan frekuensi dan
amplitudo gelombang surja akibat pengurangan nilai
impedansi belitan motor, tes surja mendeteksi terjadinya turn
fault pada belitan stator motor induksi tiga fasa.
Pada gelombang surja yang sudah didapat, dilakukan
analisa dengan metode Error Area Ratio (EAR), yang dapat
dilihat pada (3), untuk mengetahui perbedaan yang terjadi
antar tiap variasi yang dilakukan. Gelombang surja pada
Gambar 6 mempunyai gelombang referensi yaitu gelombang
surja dengan tegangan impuls sebesar 420 V pada motor
induksi tiga fasa dengan kondisi belitan normal. Hasil
gelombang surja tiap variasi turn fault dibandingkan dengan
gelombang referensi tersebut. Dengan begitu dapat ditentukan
presentase error yang terjadi.
Dari hasil analisa gelombang surja dengan menggunakan
metode EAR, dapat diketahui kondisi kelayakan belitan motor
induksi tersebut. Berdasarkan Baker Instrument Company
AWA Surge Test pass/fail criteria, dapat ditentukan bahwa
belitan stator dalam kondisi layak, jika hasil gelombang surja
belitannya mempunyai nilai EAR 5-15% [14]. Pada Tabel 2
ditunjukkan hasil analisa gelombang surja dengan metode
Error Area Ratio (EAR).
Berdasarkan standar yang sudah ditetapkan oleh Baker
Instrument Company, ditunjukkan Tabel 2, belitan stator
motor induksi tersebut sudah dinyatakan tidak layak operasi
walaupun hanya terjadi turn fault 1 belitan.
Dari Tabel 2, semakin banyak belitan yang mengalami turn
fault akan mempunyai nilai EAR yang semakin besar. Dapat
dikatakan bahwa nilai EAR berbanding lurus dengan
banyaknya belitan stator motor induksi yang mengalami turn
fault.
Tes surja ini menjadi tes yang sangat penting untuk
menjamin keandalan dan umur dari motor induksi. Tes ini
berfungsi dalam mendeteksi kerusakan isolasi belitan stator
walaupun terjadi dengan nilai kerusakan yang kecil. Dengan
berjalannya waktu, kerusakan kecil yang terjadi pada motor
induksi tersebut dapat menyebabkan motor terbakar jika tidak
terdapat penanganan secara tepat. Sehingga dapat dikatakan
bahwa tes surja merupakan cara yang efektif untuk
mengidentifikasi turn fault, walaupun banyak kemungkinan
belitan yang mengalami turn fault mempunyai persentase yang
sangat kecil dari total belitan dalam satu fasa.
VI. KESIMPULAN
Dengan melakukan tes surja pada belitan stator motor
induksi tiga fasa, dimana digunakan beberapa handmade
circuit dan dilakukan variasi turn fault, akan didapat
5
gelombang surja yang kemudian diakuisisi dan dianalisa.
Sehingga dapat diketahui perbedaan gelombang surja pada
tiap variasi. Dari penelitian ini dapat dilihat, jika rangkaian
Cockcroft-Walton
Multiplier
dua
tingkat
mampu
menghasilkan output tegangan tinggi DC mendekati 4 kali
nilai puncak tegangan input.
Pada kasus ini, motor induksi tiga fasa yang mengalami
turn fault dengan nilai kecil mempunyai nilai arus operasi
yang sama dengan motor normal. Sehingga pengidentifikasian
kerusakan belitan pada motor induksi tiga fasa dengan
memonitor arus operasi bukan merupakan cara yang efektif.
Pendeteksian kerusakan belitan pada motor induksi dengan
tes surja merupakan cara yang efektif, karena proses
pengidentifikasian turn fault dilakukan dengan memanfaatkan
perubahan nilai frekuensi dan amplitudo pada gelombang surja
yang dipengaruhi oleh perubahan nilai impedansi belitan
stator. Sehingga tes surja mampu mendeteksi turn fault dengan
nilai kerusakan belitan yang sangat kecil. Metode Error Area
Ratio (EAR) merupakan sebuah metode analisa gelombang
surja yang tepat untuk menentukan kelayakan kerja sebuah
belitan stator motor induksi tiga fasa.
DAFTAR PUSTAKA
[1]
[2]
[3]
[4]
[5]
[6]
[7]
[8]
[9]
[10]
[11]
[12]
[13]
[14]
B. Mecrow and . Jack, “Efficiency trends in electric machines and
drives”, Energy Policy, vol. 36, no. 12, pp. 4336–4341, Dec. 2008.
S. Grubic, J. Restrepo, J. M. Aller, B. Lu, and T. G. Habetler, “ New
Concept for Online Surge Testing for the Detection of Winding
Insulation Deterioration in Low-Voltage Induction Machines”, IEEE
Trans. Ind. Appl., vol.47, No. 5, Sept./Oct. 2011.
O. V. Thorsen and M. Dalva, “ survey of faults on induction motors in
offshore oil industry, petrochemical industry, gas terminals, and oil
refineries”, IEEE Trans. Ind. Appl., vol. 31, no. 5, pp. 1186–
1196,Sep./Oct. 1995.
O.V. Thorsen, and M. Dalva, "Failure Identification and Analysis for
High Voltage Induction", IEEE Trans. Industry Appl., Vol. 35, No. 4,
pp. 810-818, 1999.
J. Geiman, “DC Step-Voltage and Surge Testing Motors”, Fort Collins,
CO : Baker Instrum.Co., Mar. 2007.
N. P. Bethel, “Identifying Motor Defects Through Fault Zone Analysis”,
PdMA Corporation. Available:
http://pdma.com/pdfs/Articles/Identifying_Motor_Defects_Through_
Fault_Zone_Analysis.pdf
. Naegeli, “Electrical Test Procedures for rmatures, Stators, and
Motors”, in Electrical Manufacturing and Coil Winding Asia,
Hongkong, June 18-25, 1993.
J. Wilson, “Current State of Surge Testing Induction Machines”, Baker
Instrum.Co., Jun. 2003.
E. Wiedenbrug, G. Frey, and J. Wilson, “Impulse testing and turn
insulation deterioration in electric motors”, in Conf. Rec. Annu. IEEE
Pulp Paper Ind. Tech. Conf., Jun. 2003, pp. 50–55.
Guide for Testing Turn-to-Turn Insulation on Form Wound Stator Coils
for Alternating Current Rotating Electrical Machines, IEEE 522-1992,
1992.
C.K Dwivedi. M.B. Daigvane, “Multi-purpose Low Cost DC High
Voltage Generator (60kV Output), Using Cockcroft-Walton Voltage
multiplier circuit”, in 3rd Int. Conf. on Emerging Trends in Engineering
and Technology (ICETET), 2010.
“Voltage Multiplier Circuit’ , Available : http://www.electronicstutorials.ws/blog/voltage-multiplier-circuit.html, 12 Des. 2013.
User Manual—Digital Surge/DC Hipot/Resistance Tester Models
d3r/d6r/d12r, Baker Instrum. Co., Fort Collins, CO, 2005.
Baker Instrument Company AWA Surge Test pass/fail criteria, Baker
Instrum. Co.
Download