teori ilmu ekonomi dasar

advertisement
BAB 1
ILMU EKONOMI
A. Pengertian Ilmu Ekonomi dan Ruang Lingkupnya
Istilah ‘ekonomi’ berasal dari bahasa Yunani asal kata ‘oikosnamos’ atau oikonomia’
yang artinya ‘manajemen urusan rumah-tangga’, khususnya penyediaan dan administrasi
pendapatan. (Sastradipoera, 2001: 4). Namun sejak perolehan maupun penggunaan kekayaan
sumberdaya secara fundamental perlu diadakan efesiensi termasuk pekerja dan produksinya,
maka dalam bahasa modern istilah ‘ekonomi’ tersebut menunjuk terhadap prinsip usaha
maupun metode untuk mencapai tujuan dengan alat=alat sesedikit mungkin. Di bawah ini
akan dijelaskan beberapa definisi tentang ilmu ekonomi.
Menurut Albert L. Meyers (Abdullah, 1992: 5) ilmu ekonomi adalah ilmu yang
mempersoalkan kebutuhan dan pemuasan kebutuhan manusia. Kata kunci dari definisi ini
adalah; pertama, tentang “kebutuhan” . yaitu suatu keperluan manusia terhadap barangbarang dan jasa-jasa yang sifat dan jenisnya sangat bermacam-macam dalam jumlah yang
tidak terbatas. Kedua, tentang” pemuas kebutuhan” yang memiliki ciri-ciri “terbatas” adanya.
Aspek yang kedua inilah menurut Lipsey (1981: 5) yang menimbulkan masalah dalam
ekonomi, yaitu karena adanya suatu kenyataan yang senjang, karena kebutuhan manusia
terhadap barang dan jasa jumlahnya tak terbatas, sedangkan di lain pihak barang-barang dan
jasa-jasa sebagai alat pemuas kebutuhan sifatnya langka ataupun terbatas. Itulah sebabnya
maka manusia di dalam hidupnya selalu berhadapan dengan kekecewaan maupun
ketidakpastian. Definisi ini nampaknya begitu luas sehingga kita sulit memahami secara
spesifik.
Menurut J.L. Meij (Abdullah, 1992: 6) mengemukakan bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu
tentang usaha manusia ke arah kemakmuran. Pendapat tersebut sangat realistis, karena
ditinjau dari aspek ekonomi di mana manusia sebagai mahluk ekonomi (Homo Economicus)
pada hakekatnya mengarah kepada pencapaian kemakmuran. Kemakmuran menjadi tujuan
sentral dalam kehidupan manusia secara ekonomi, sesuai yang dituliskan pelopor
“liberalisme ekonomi” oleh Adam Smith dalam buku “An Inquiry into the Nature and Cause
of the Wealth of Nations” tahun 1976. Namun dengan cara bagaiman manusia itu berusaha
mencapai kemakmurannya ? Dalam definisi yang dikemukakan Meij memang tidak
dijelaskan.
Menurut Samuelson dan Nordhaus (1990: 5) mengemukakan “Ilmu ekonomi merupakan
studi tentang perilaku orang dan masyarakat dalam memilih cara menggunakan sumber daya
yang langka dan memiliki beberapa alternative penggunaan, dalam rangka memproduksi
berbagai komoditi, untuk kemudian menyalurkannya . baik saat ini maupun di masa depan .
kepada berbagai individu dan kelompok yang ada dalam suatu masyarakat.
Menurut Samuelson bahwa ilmu ekonomi itu merupakan ilmu pilihan. Ilmu yang mempelajari
bagaimana orang memilih penggunaan sumber-sumber daya produksi yang langka atau terbatas untuk
memproduksi berbagai komoditi, dan menyalurkannya ke berbagai anggota masyarakat untuk segera
dikonsumsi. Jika disimpulkan dari tiga pendapat di atas walaupun kalimatnya berbeda, namun tersirat
bahwa pada hakikatnya ilmu ekonomi itu merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya
dalam mencapai kemakmuran yang diharapkan, dengan memilih penggunaan sumber daya produksi
yang sifatnya langka/terbatas itu. Dengan kata lain yang sederhana bahwa ilmu ekonomi itu
merupakan suatu disiplin tentang aspek-aspek ekonomi dan tingkah laku manusia. Secara
fundamental dan historis, ilmu ekonomi dapat dibedakan menjadi dua, yakni ilmu ekonomi positif dan
normatif (Samuelson dan Nordhaus, 1990: Jika ilmu ekonomi positif hanya membahas deskripsi
mengenai fakta, situasi dan hubungan yang terjadi dalam ekonomi. Sedangkan ilmu ekonomi
normative membahas pertimbangan-pertimbangan nilai dan etika, seperti haruskan system perpajakan
diarahkan pada kaidah mengambil dari yang kaya untuk menolong yang miskin? Lebih jelasnya
Sastradipoera, 2001: 4, mengemukakan. Ilmu konomi positif merupakan ilmu yang hanya
melibatkan diri dalam masalah ‘apakah yang terjadi’ Oleh karena itu ilmu ekonomi positif itu netral
terhadap nilai-nilai. Artinya ilmu ekonomi positif itu ‘bebas nilai’ (value free atau wetfrei)…hanya
menjelaskan ‘apakah harga itu’ dan ‘apakah yang akan terjadi jika harga itu naik atau turun’ bukan
‘apakah harga itu adil atau tidak’. Ilmu ekonomi normative, bertentangan dengan ilmu positif, ilmu
ekonomi normatif beranggapan bahwa ilmu ekonomi harus melibatkan diri dalam mencari jawaban
atas masalah ‘apakah yang seharusnya terjadi’. Esensi dasar ilmu ekonomi adalah pertimbangan nilai
(value judgment). Seorang ekonom penganut etika puritan egalitarianisme, Gunnar Myrdal (18981987) lebih suka menyebutnya ‘ilmu ekonomi institusional’. Ilmu ekonomi sebagai bagian dari ilmu
sosial, tentu berkaitan dengan bidang-bidang disiplin akademis lainnya, seperti ilmu politik, psikologi,
antropologi, sosiologi, sejarah, geografi, dan sebagainya. Sebagai contoh kegiatan-kegitan politik
seringkali dipenuhi dengan masalah-masalah ekonomi, seperti kebijaksanaan proteksi terhadap
industri kecil, undang-undang perapajakan, dan sanksi-sanksi ekonomi. Ini artinya bahwa kegiatan
ekonomi tidak dapat dipisahkan dari kegitan-kegiatan politik (Abdulah, 1992: 6). Sebagai disiplin
yang mengkaji tentang aspek ekonomi dan tingkah laku manusia, artinya juga mengkaji peristiwaperistiwa ekonomi yang terjadi di dalam masyarakat. Dan perlu diketahui, bahwa mengkaji peristiwaperistiwa ekonomi, tujuannya adalah berusaha untuk mengerti hakikat dari peristiwa-peristiwa
tersebut yang selanjutnya untuk dipahaminya. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa tujuan
ilmu ekonomi itu untuk: (1) mencari pengertian tentang hubungan peristiwa-peristiwa ekonomi, baik
yang berupa hubungan kausal maupun fungsional. (2) untuk dapat menguasai masalah-masalah
ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat. (Abdullah, 1992:7) Ilmu ekonomi juga memiliki
keterbatasan-keterbatasan yang dimilikinya. Walaupun kita ketahui dalam ilmu ini telah digunakan
pendekatan-pendekatan kuantitatif-matematis, tetapi pendekatan-pendekatan tersebut tidak dapat
menghilangkan keterbatasan-keterbatasannya yang melekat pada ilmu ekonomi sebagai salah satu
cabang ilmu sosial. Menurut Abdullah, (1992: 8), keterbatasanketerbatasan tersebut mencakup:
1. Objek penyelidikan ilmu ekonomi tidak dapat dilokalisasikan. Sebagai akibatnya kesimpulan
atau generalisasi yang diambilnya bersifat kontekstual (akan terikat oleh ruang dan waktu).
2. Dalam ilmu ekonomi manusia selain berkedudukan sebagai subjek yang menyelidiki, juga
objek yang diselidiki. Oleh karena itu hasil penyelidikannya yang berupa kesimpulan ataupun
generalisasi, tidak dapat bersifat mutlak, di mana unsure-unsur subjeknya akan mewarna
kesimpulan tersebut.
3. Tidak ada laboratorium untuk mengadakan percobaan-percobaan. Sebagai akibatnya
ramalan-ramalan ekonomi sering kurang tepat.
4. Ekonomi hanya merupakan salah satu bagian saja dari seluruh program aktivitas di suatu
negara. Oleh karena itu apa yang direncanakan (exante) dan kenyataannya (ex-post) sering
tidak sejalan.
Sehubungan dengan keterbatasan-keterbatasannya tersebut, maka sebagai akibatnya sifat
keberlakuan generalisasinya yang berupa dalil-dalil atau hukum-hukum dan teori-teorinya akan
tergantung kepada konteks ruang dan waktu serta tidak mutlak. Jadi sifat keberlakuan dalil-dalil atau
hokum-hukumnya adalah bersyarat. Yaitu bila yang lainnya tidak berubah Syarat ini bisa disebut juga
dengan “Cateris Paribus”. Hal ini disebabkan oleh hukum-hukum ekonomi merupakan pernyataanpernyataan tentang tendensi-tendensi ekonomi. Ia merupakan hukum-hukum yang berhubungan
dengan tingkah laku social masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, di mana tingkah laku
tersebut juga dipengaruhi atau tergantung kepada situasi dan kondisi yang berlaku pada suatu saat.
Jadi ilmu ekonomi sebagai bagian dari ilmu sosial tetap tidak dapat melepaskan dirinya dari
keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh ilmu sosial. Ditinjau dari ruang-lingkup/cakupannya,
ilmu ekonomi juga dapat dibedakan atas makroekonomi dan mikroekonomi (Samuelson dan
Nordhaus, 1990: 99). Istilah ”makroekonomi” itu sendiri untuk pertama kali diperkenalkan oleh
Ragnar Frisch pada tahun 1933, untuk diterapkan pada studi mengenai hubungan antar agregat
ekonomi yang bersifat luas, seperti; pendapatan nasional, inflasi, pengangguran agregat, neraca
pembayaaran (Taylor, 2000: 597). Perlu diketahui bahwa pada masa sebelumnya, sasaran kebijakan
kamroekonomi adalah kesempatan kerja full employment (kondisi di mana seluruh sumber daya,
khususnya tenaga kerja, bisa terserap sepenuhnya) dan stabilitas harga. Stabilitas ouput dari dari
tahun ke tahun . untuk menghindari ledakan pertumbuhan atau resesi yang sangat parah .
merupakan sasaran tambahan. Tetapi, tingkat pertumbuhan output pada jangka waktu yang lebih
panjang, tergantung pada banyak faktor . seperti teknologi, pelatihan, dan insentif . yang cenderung
termasuk dalam ”sisi penawaran” atau kebijakan mikroekonomi. Dalam perekonomian yang
terbuka, baik posisi neraca pembayaran (balance of payment) atau pola tingkat pertukaran di
pasar pertukaran valuta asing dapat dipandang sebagai tujuan yang terpisah dari kebijakan
makroekonomi atau sebagai suatu halangan terhadap operasional makroekonomi (Britton,
2000: 596). Dalam hal ini instrumen kebijakan makroekonomi adalah moneter dan fiskal.
Kebijakan moneter dilaksanakan oleh bank sentral, sebagai contoh oleh Bank Indonesia.
Ketat/tidaknya kebijakan ini dapat diukur dari tingkat suku bunga riil (yaitu suku bunga
nominal dikurangi tingkat inflasi) atau melalui pertunbuhan penawaran uang (yang
didefinisikan secara berbeda-beda) Salah satu keuntungan kebijakan moneter sebagai alat
untuk mempengaruhi perekonomian adalah berbeda dari kebijakan fiskal., kebijakan ini bisa
dikaji ulang dan diubah secara kontinu berdasarkan informasi baru (Britton, 2000: 596).
Sedangkan kebijakan fiskal adalah perpajakan dan pembelanjaan masyarakat yang dikontrol
oleh pemerintah yang tunduk pada ketentuanketentuan yang telah mendapat engesahan dari
badan legislatif. Pajak dan pembelanjaan mempengaruhi perekonomian melalui cara yang
berbeda-beda, tetapi ’kebijakan fiskal’ dalam konteks saat ini adalah efek bujet sebagai suatu
keseluruhan terhadap tingkat agregat permintaan dalam perekonomian. Kecuali dalam situasi
darurat, kebijakan fiskal biasanya diubah sekali setahun. Kegunaannya dalam mengatur
perekonomian juga ditentukan oleh kemampuan dalam menangani anggaran publik itu
sendirisecara bijaksana (Britton, 2000:
596). Penggunaan pinjaman publik dan tingkat suku bunga untuk menstabilkan
perekonomian diterima sebagai suatu prinsip kebijakan pada tahun 1950-an dan 1960-an,
seiring dengan gagasan Maynard Keynes yang telah mengubah banyak prinsip ekonomi.
Selanjutnya, di tahun 1970-an dan 1980-an muncullah neo klasik atau kontra revolusi
monetaris yang berasal dari Chicago dan dipimpin Milton Frriedman. Isu yang mendasar
dalam perdebatan ini berkaitan dengan hubungan antara dua tujuan dari full employment dan
stabilitas harga. Hal ini dimungkinkan (melalui pemotongan pajak atau pemotongan tingkat
suku bunga), untuk meningkatkan ketenagakerjaan dalam jangka pendek tanpa harus
membuat inflasi meningkat cepat. Namun, dalam jangka apanjang argumentasi neo klasik
menyatakan bahwa situasi ini tidak bisa berbalik (dengan tingkat pengangguran kembali pada
level ”alamiah” dan tidak ada yang bisa ditunjukkan untuk kebijakan perluasan kecuali
terjadinya inflasi yang lebih tinggi. Menurut Britton (2000: 597), tidak bisa dipungkiri,
dalam praktiknya catatan kebijakan makroekonmi sejak tahun 1970-an lebih banyak
mengalami kegagalan dibandingkan keberhasilan. Inflasi meningkat tajam di sebagian besar
negara, terutama pada periode kenaikan harga minyak dunia yang paling dramatis, 1974 dan
1979. Sejak tahun 1980-an inflasi lebih rendah, tetapi pada saat bersamaan pengangguran di
banyak negara jauh lebih tinggi. Respons terhadap berbagai kekecewaan ini telah
mengarahkan pada tindakan memperkenalkan desain kebijakan baru untuk meningkatkan
”saling tukar” (trade off) antara dua sasaran. Di tahun 1970-an, khususnya di Inggeris,
penekanannya yang utama adalah kebijakan harga dan penghasilan. Pendekatan lain, yang
berlanjut hingga tahun 1990-an, melibatkan tindakan-tindakan ketenagakerjaan khusus yang
dirancang untuk membantu pengaturan secara langsung dengan cara memberikan pelatihan
atau mencarikan lowongan pekerjaan yang sesuai untuk mereka. Ini sangat berbeda dengan
studimengenai unit-unit pengambilan keputusan individual dalam perekonomian seperti
rumah tangga, pekerja dan perusahaan, yang secara umum dikenal dengan sebutan
mikroekonomi. Sebagai contoh ekonomi mikro meneliti determinasi harga terhadap beras,
atau harga relatif beras dan baja atau employment dalam industri baja, sementara ekonomi
makro berurusan dengan determinasi tingkat employment dalam suatu perekonomian khusus,
atau dengan tingkat harga dari seluruh komoditas. Kendati perbedaan antara dua bidang
analisis ekonomi ini berguna untuk berbagai tujuan. Perkembangan ekonomi mikro sebagai
suatu bidang tersendiri, merupakan bagian dari pendekatan marjinal atau neo klasik yang
mulai mendominasi teori ekonomi setelah tahun 1970-an. Berbeda dengan ekonomo klasik,
yang menyoroti pertumbuhan ekonomi negara akibat pertumbuhan sunber daya produktif
mereka, serta menjelaskan harga relatif barang berdasarkan kondisi-kondisi obyektif dari
biaya-biaya produksinya. Dalam teori neo klasik mengarahkan perhatiannya pada alokasi
sumber daya yang tersedia secara efektif (dengan asumsi implisit mengenai fullemployment)
dan pada determinasi ’subyektif’ terhadap harga-harga individual yang berdasarkan pada
kegunaan marjinal (Asimakopulos, 2000: 660). Terdapat enam topik yang sering
dipresentasikan dalam ekonomi mikro, yakni;
1. Teori perilaku konsumen,
2. Teori pertukaran,
3. Teori produksi dan biaya,
4. Teori perusahaan,
5. Teori distribusi, dan
6. Teori ekonomi kesejahteraan.
Tema umum yang mendasari semua topik tersebut adalah upaya dari para aktor individual
untuk meraih suatu posisi yang optimal, dengan nilai-nilai parameter yang membatasi pilihan
mereka. Para konsumen berusaha untuk memaksimalkan kepuasan (atau kegunaan), sesuai
dengan selera, pendapatan mereka dan harga barang-barang; perusahaan berusaha
memaksimalkan laba mereka, dan ini berarti bahwa dengan tingkat output berapapun
diproduksi dengan biaya terendah. Syarat-syarat maksimalisasi tersirat dalam istilah ekualitas
marjinal (marginal revenue) sama dengan biaya marginal. Dewasa ini ilmu ekonomi telah
berkembang jauh melebihi ilmu-ilmu sosial lainnya yang terbagi-bagi dalam beberapa bidang
kajian seperti; Ekonomi Lingkungan. Bidang kajian ’ekonomi lingkungan’ (environmental
economics) ini bermula dari tulisan:
1. Gray (1900-an),
2. Pigou (1920-an),
3. Hotelling (1930-an)
Akan tetapi baru muncul sebagai studi koheren pada tahun 1970-an, yakni ketika revolusi
lingkungan mulai terjadi di berbagai Negara (Pearce, 2000: 300). Selanjutnya, jika ditinjau
dari substansinya, terdapat tiga unsur pokok dalam ekonomi lingkungan, yakni:
1. Kesejahteraan manusia sedang terancam oleh degradasi lingkungan dan penyusutan
sumber daya alam. Dalam hal ini sangat mudah untuk menunjukkan bukti konkret
dari timbulnya bencana banjir yang disebabkan oelh penggundulan hutan, pembukaan
lahan untuk perumahan dan industri, terjadinya erosi, dan sebagainya. Semuanya ini
memiliki dampak bukan saja pada kesehatan, tetapi juga secara ekonomis merugikan
kehidupan manusia.
2. Kerusakan lingkungan disebabkan oleh penyimpangan/kegagalan ekonomi, terutama
yang bersumber dari pasar. Hal ini dapat diambil contoh, bahwa karena orientasi
produk dan profit, tidak sedikit beberapa industri yang mengabaikan analisis dampak
lingkungan yang merugikan (externality) bagi masyarakat luas. Begitu juga banyak
industri-industri global yang menempatkan pabrik-pabrik dari negara maju ke
hutanhutan dan persawahan di Negara berkembang.
3. Solusi kerusakan lingkungan harus mengoreksi unsur-unsur ekonomi sebagai
penyebabnya. Seperti halnya dengan kebijakan subsidi, relokasi industri, dan
sebagainya, yang kiranya merusak lingkungan, harus segera dihentikan. Selain itu,
jika ativitas ’destruktif’ terselubung yang merugikan itu sulit dihentikan, perlu ada
penerapan pajak ekstra atau penerbitan lisensi khusus demi merendam kegiatan
tersebut. Langkah ini pernah dilakukan di Amerika Serikat yang menerbitkan lisensi
polusi dan lisensi memancing, yang ternyata cukup efektif mengatasi masalah tersebut
(Pearce, 2000:300).
Ekonomi Evolusioner : Merupakan bidang kajian ekonomi yang menjelaskan naik turunnya
pertumbuhan ekonomi dan jatuh bangunnya perusahaan-perusahaan, kota-kota, kawasan dan
negara, yang mencerminkan bahwa evolusi selalu beroperasi pada tingkat yang berlainan
dengan tingkat kecpatan yang berbeda-beda. Dan, hal inilah yang menjadi latar belakang
munculnya bidang-bidang baru kegiatan ekonomi (Metcalfe, 2000: 324). Dengan demikian
selalu dipertanyakan mengapa dan bagaimana perekonomian dunia berbah, sehingga
tinjauannya bersifat dinamis, untuk menangkap keragaman perilaku yang memperkaya
perubahan sejarah. Tema-tema inilah yang sering dibicarakan dalam sejarah (Landes, 1968;
Mokyr, 1991), yang semuanya bertolak dari suatu mekanisme yang sama, namun
menentukan pula keragaman perilaku ekonomi. Ekonomi evolusioner, juga merupakan
entitas-entitas yang memiliki berbagai karakteristik atau ciri perilaku, yakni; stabilitas
kelangsunan perlaku dari waktu ke waktu, sehingga kita dapat mengaitkan ciri-ciri perilaku di
masa mendatang dengan yang ada pada saat ini. Dengan dengan demikian inersia (inertia)
merupakan elemen pengikat penting serta tampak jelas bahwa evolusi tidak dapat
berlangsung di dunia di mana individu-individu atau organisasinya berperilaku secara
acak/random. Begitu juga dalam kajian mengenai sumber keragaman perilaku ekonomi, para
ahli lebih menaruh perhtian pada pengaruh teknologi, organisasi, dan manajemen berdasarkan
pemahaman bagaimana suatu tindakan dilangsungkan sehingga memunculkan ciri-ciri
perilaku yang menguntungkan. Kemudian timbul pertanyaan; apakah evolusi itu mengandung
rasinalitas?. Di sini nampaknya tidak. Sebab dalam dunia manapun, di mana pengetahuan
dihargai cukup mahal sertakapasitas komputasional senaniasa terbatas, maka kita tidak
memiliki ijakan yang layak untukk mengupayakan optimistisasi secara pasti, sebagai
pedoman guna menilai perilaku. Walaupun tidak disangkal lagi bahwabahwa ndividu
senantiasa mencari hasil yang terbaik dari serangkaian pilihan yang ada, akan tetapi kalkulasi
yang dipergunakannya mungkin saja bersifat lokal, dan tidak bersifat global. Hal nilah yang
merupakan sumber keragaman perilaku tersebut (Metcalfe, 2000: 324).
Ekonomi Eksperimental: Bidang ekonomi eksperimental pada mulanya merupakan hasilhasl studi perilaku pilihan individu, terutama ketika para ekonom memusatkan perhatiannya
pada teori-tori mikroekonomi. Teori tersebut bertumpu pada preferensi-preferensi individu, di
mana mereka menyadari bahwa bidang tersebut sulit dipelajari dalam lingkungan alamiah,
sehingga dirasakan perlunya merumuskan sarana laboratorium. Sebagai pengujian awal
formal atas teori-teori pilihan individu (individual choice), dapat dtemukan pada tulisan
Thurstone dalam The Indifference Function (1931) yang menggunakan teknik-teknik
eksperimental. Kemudian didukung pula oleh teori harapan kepuasan (expected utility
theory) mengajukan prediksi-prediksi lebih gamblang, maka pada tahun 1950 Melvin
Dresher dan Merrill Flood melakukan eksperimen awal secara formal dilaksanakan.
Ternyata teori ini memang cocok untuk mempelajari perilaku, kendati masih ada
penyimpangan. Selain itu, teori ini juga diterapkan pula pada studi tentang pengadaan barang
publik, yang dilakukan secara survey oleh Ledyard dalam Publik Goods: a survey of
experimental research tahun 1995 (Roth, 2000: 332). Sebagai eksperimen awal tentang hal ini
dilaukan oleh Thomas Schelling dalam karyanya The Strategy of Conflict (1960).
Eksperimen in sangat berguna untuk mengisolasikan dampak-dampak aturan main tertentu
yang harus diorganisir pasar. Tentang kajian umum mengenai ilmu ekonomi eksperimental
dan ulasannya tentang sejarah dan perkembangannya, telah dimuat dalam karya Roth
”Introduction to experimental ecomics” (1950). Begitu juga Sunder dalam Experimental asset
markets: a survey (1995), yang menyoroti pasar-pasar komoditi, seperti; pasar ang dan asar
modal, di mana informasi memegang peranan sedemikan penting. Pendeknya, ’ilmu ekonomi
eksperimental’ kini telah menjadi perangkat riset yang mapan bagi perkembangan ekonomi
secara umum (Roth, 2000: 334).
Ekonomi Kesehatan: Ilmu ekonomi (health economics) kesehatan berusaha melakukan
analisis terhadap input-input perawatan kesehatan, seperti pembelanjaan dan tenaga kerja,
memperkerikan dampak-adampaknya pada hasil akhir yang diinginkan, yakni kesehatan
masyarakat. Sedangkan tujuannya ilmu ekonomi kesehatan tersebut adalah
menggeneralisasikan aneka informasi mengenai biaya dan keuntungan dari cara-cara
alternatif mencapai kesehatan dan tujuan-tujuan kesehatan (Maynard, 2000: 427). Dalam
relaitasnya, evaluasi mengenai perawatan kesehatan itu jarang dilakukan baik yang bersifat
publik (pemerintah) maupun pribadi (misalnya individu pembuat keputusan dan anggota
keluarganya). Bahkan Cochrane dalam tulisannya yang berjudul Effectiveness and Efficiency
(1971) mengeluhkan kebiasaan buruk tersebut dengan mengemukakan: ”hampir semua terapi
perawatan kesehatan, tidak pernah dievaluasi secara ’ilmiah’. Maksud ’ilmiah’ di sini adalah
bahwa aplikasi ujicoba terkontrol yang sifatnya random oleh pelaksana terapi terhadap
kelompok eksperimental pasienyang diambil secara acak. Serta sebuah konsep terapi
alternatif sebagai pembandingnya. Jika ada perbedaan signifikan antara hasil terapi pada
kelompok kontrol, berarti dampak relatif dari terapi tersebut benar-benar berpengaruh
maupun bermakna.
Ekonomi institusional (institutional economics) merupakan studi tentang sistem-sistem
sosial yang membatasi penggunaan dan pertukaran sumber daya langka, serta upaya-upaya
untuk menjelaskan munculnya berbagai bentuk pengaturan institusional yang masing-masing
mengandung konsekuensi tersendiri terhadap kinerja ekonomi (Eggertsson, 2000: 501).
Lahirnya ilmu ekonomi institusional ini bertolak dari asumsi-asumsi:
1. Kontrol yang lemah akan mendorong pemborosan dan pemanfaatn sumber daya
secara semberono.
2. Kontrol yang tertib akan menurunkan niat curang dan memperkecil biaya transaksi
yang selanjutnya memacu spesialisasi produksi dan investasi jangka panjang.
3. Pemilahan kontrol sosial mempengaruhi distribusi kekayaan.
4. Kontrol organisaional mempengaruhi pilihan organisasi ekonomi.
5. Kontrol bisa secara langsung mengatur pemakaian sumber daya ke sektor-sektor yang
dianggap paling tepat.
6. Struktur kontrol mempengaruhi pengembangan jangka panjang sistem ekonomi
karena strukturitu mempengaruhi nilai relatif investasi dan jenis-jenis proyek yang
akan diutamakan (Eggertsson, 2000: 501). Ditinjau dari usianya, ilmu ekonomi
institusional tersebut relatif baru, karena secara formal baru berdiri sejak tahun 1980,
kendati perintisannya jauh dilakukan pada masa-masa sebelumnya. Coase dalam The
Nature of the Firm (1937), dan The Problem of Social Cost (1960), tentang biaya
transaksi; Alchian dalam Some economics of property (1961) tentang hak cipta.
Padatahun 1980-an inilah upaya-upaya pengembangan teori ekonomi umum yang
baku tentang institusi memperoleh momentumnya. Penyempurnaan-penyempurnaan
pendekatan standar dalam ilmu ekonomi telah berhasil dilakukan, bersamaan dengan
munculnya ekonomi neo-institusdional yang mencakup berbagai penting yang semula
tidak termasuk dalam endekatan konvensioanl. Beberapa modifikasi tersebut telah
diterima sebagai bagian dari aliran utama ilmu ekonomi serta cabang-cabangnya
seperti; studi organisasi industri seperti yang ditulis Milgram dan Roberts, 1992; dan
ekonomi hukum yang ditulis Posner, 1992, (Eggerstsson, 2000: 503).
Ekonomi Matematik (mathematical economics) mulai berkembang sejak tahun 1950-an.
Sebelum terjadi formalisasi ekonomi matematika dan sebelum dikenal teknik-teknik canggih
dalam analisis matematika ekonomi tersebut terutama bertumpu pada teknik-teknik analisis
grafik dan presentasi. Memang pada tingkat tertentu sangat efektif, tetapi teknikteknik
tersebut juga dibatasi leh karakter dua dimensional dari selembar kertas. Selain itu juga,
teknik-teknik grafik dapat mengemukakan asumsi-asumsi implicit yang signifikansinya
mungkin tidak kentara atau sangat sulit dimengerti (Hughes, 2000: 630). Tetapi setelah tahun
1950-an, terutama yang ditandai oleh arus perpindahan ahli-ahli matematika menjadi
akademisi ekonomi (seperti Kenneth Arrow, Gerard Debreu, Frank Hahn, Werner
Hildenbrant), maka ilmu ekonomi matematik-pun menjadi berkembang dengan pesat sebagai
suatu disiplin ilmiah. Ditinjau dari substansinya dalam ekonomi matematik tersebut, mulamula digunakannya teori ekuasi simultan (simultaneous equations) oleh Leon Walras, untuk
membahas problem ekuilibrium dalam beberapa pasar yang saling berhubungan dengan
dignakannya kalkulus oleh Edgeworth untuk menganalisis perilaku konsumen. Beberbagai
permasalahan ini tetap berada pada inti ekonomi matematika modern, kendati teknik-teknik
matematematika yang diterapkan telah berubah seluruhnya. Analisis ekuilibrium umum telah
menjadi sangat bergantung pada perkembangan modern dalam tipologi dan analisis
fungsional, sehingga pembagian bidang antara tipe ekonomi matematika yang cukup abstrak
dengan matematika murni, hampir tidak jelas sama sekali. Kemudian substansi lainnya
adalah teori perilaku konsumen atau produsen, individual mendapatkan manfaat dan
kemajuan melalui teori program matematika dan teori analisis cembung atau covex analysis
(Hughes, 2000: 631). Sebagai implikasinya hasil ari penerapan kalkulus digolongkan pada
suatu teori umum yang didasarkan pada konsep fungsi nilai maksimum/minimum, yaitu suatu
fungsi laba maupun biaya untuk produsen. Hal ini merupakan suatu fungsi kegunaan atau
pembelanjaan tidak langsung bagi konsumen. Dengan demikian teori ini menggali hasil
dualitas yang menandai berbagai masalah maksimalisasi dan minimalisasi yang saling
berhubungan, yang dapat diberi nterpretasi ekonom langsung. Seperti halnya kumpulan
’harga-harga bayangan’ dengan berbagai hambatan yang membatasi berbagai berbagai
pilihan yang layak. Pendekatan terhadap teori konsumen dan produsen tersebut mempunyai
implikasi–implikasi empiris g penting dan dapat diuji (Hughes, 2000: 631).
Ekonomi Sumber Daya Alam (natural resource economics), merupakan bidang ekonomi
yang mencakup kajian deskriptif dan normatif terhadap alokasi berbagai sumber daya alam
(yaitu sumber daya yang tidak diciptakan melalui kegiatan manusia, melainkan disediakan
oleh alam). Beberapa masalah penting dalam hal ini berkaitan dengan jumlah sumber tertentu
yang bisa atau harus ditransformasikan dalam proses-proses ekonomi, dan keseimbangan
dalam pemanfaatan sumber daya antara generasi sekarang dan yang akan datang (Sweeney,
2000: 697).
Ekonomi pertahanan (defence economic), merupakan studi tentang biaya-biya pertahanan
yang mengkaji masalah pertahanan dan erdamaian dengan menggunakan analisis dan metode
ekonomi yang meliputi kajian mikroekonomi dan makroekonomi seperti optimiasi statis dan
dinamis, teori-teori pertumbuhan, distribusi, perbandingan data statistik dan ekonometrik
(penggnaan statistika model ekonomi). Sedangkan pelaku-pelaku dalam studi ini antara lain,
Menteri Pertahanan, birokrat, kontraktor pertahanan, anggota parlemen, bangsa-bangsa yang
bersekutu, para gerilyawan, teroris dan pemberontak (Sandler, 2000: 208). Bidang ini
berkembang pesat setelah Perang Dunia II, yang topik-topiknya mencakup; perlombaan
senjata, studi aliansi dan pembagian beban, kesejahteraan, penjualan senjata, kebijakan
pembelian senjata, pertahanan dan pembangunan, industri senjata, persetujuan embatasan
senjata, dampak ekonomis dari suatu erjanjian, evaluasi usulan perlucutan senjata, pengalihan
industri pertahanan, dan sebagainya. Ketka terjadi Perang Dingin Blok barat dan Timur,
pehatian ekonomi pertahanan umumnya tertuju pada masalah-masalah beban pertahanan dan
dampaknya terhadap pertumbhan ekonomi. Sedangkan pada pasca Perang Dingin, para
ekonom pertahanan memusatkan perhatian pada konversi perindustrian militer, aspek sumber
daya persenjataan, biaya pemeliharaan pasukan penjaga perdamaian, dan pengukuran
keuntungan perdamaian (Sandler, 2000: 209).
B. Definisi Ilmu Ekonomi & system perekonomian
Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan
menciptakan kemakmuran. Inti masalah ekonomi adalah adanya ketidakseimbangan antara
kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya
terbatas. Permasalahan itu kemudian menyebabkan timbulnya kelangkaan (Ingg: scarcity).
Kata “ekonomi” sendiri berasal dari kata Yunani (oikos) yang berarti “keluarga, rumah
tangga” dan (nomos), atau “peraturan, aturan, hukum,” dan secara garis besar diartikan
sebagai “aturan rumah tangga” atau “manajemen rumah tangga.” Sementara yang dimaksud
dengan ahli ekonomi atau ekonom adalah orang menggunakan konsep ekonomi dan data
dalam bekerja.
Secara umum, subyek dalam ekonomi dapat dibagi dengan beberapa cara, yang paling
terkenal adalah mikroekonomi vs makroekonomi. Selain itu, subyek ekonomi juga bisa
dibagi menjadi positif (deskriptif) vs normatif, mainstream vs heterodox, dan lainnya.
Ekonomi juga difungsikan sebagai ilmu terapan dalam manajemen keluarga, bisnis, dan
pemerintah. Teori ekonomi juga dapat digunakan dalam bidang-bidang selain bidang
moneter, seperti misalnya penelitian perilaku kriminal, penelitian ilmiah, kematian, politik,
kesehatan, pendidikan, keluarga dan lainnya. Hal ini dimungkinkan karena pada
dasarnyaekonomi seperti yang telah disebutkan di atas adalah ilmu yang mempelajari pilihan
manusia.
Ada sebuah peningkatan trend untuk mengaplikasikan ide dan metode ekonomi dalam
konteks yang lebih luas. Fokus analisa ekonomi adalah “pembuatan keputusan” dalam
berbagai bidang dimana orang dihadapi pada pilihan-pilihan. misalnya bidang pendidikan,
pernikahan, kesehatan, hukum, kriminal, perang, dan agama. Gary Beckerdari University of
Chicago adalah seorang perintis trend ini. Dalam artikel-artikelnya ia menerangkan bahwa
ekonomi seharusnya tidak ditegaskan melalui pokok persoalannya, tetapi sebaiknya
ditegaskan sebagai pendekatan untuk menerangkan perilaku manusia. Pendapatnya ini
terkadang digambarkan sebagaiekonomi imperialis oleh beberapa kritikus.
Banyak ahli ekonomi mainstream merasa bahwa kombinasi antara teori dengan data yang ada
sudah cukup untuk membuat kita mengerti fenomena yang ada di dunia. Ilmu ekonomi akan
mengalami perubahan besar dalam ide, konsep, dan metodenya; walaupun menurut pendapat
kritikus, kadang-kadang perubahan tersebut malah merusak konsep yang benar sehingga
tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Hal ini menimbulkan pertanyaan “apa seharusnya
dilakukan para ahli ekonomi? ” The traditional Chicago School, with its emphasis on
economics being an empirical science aimed at explaining real-world phenomena, has
insisted on the powerfulness of price theory as the tool of analysis. On the other hand, some
economic theorists have formed the view that a consistent economic theory may be useful
even if at present no real world economy bears out its prediction.
Sejarah perkembangan ilmu ekonomi
Adam Smith sering disebut sebagai yang pertama mengembangkan ilmu ekonomi pada abad
18 sebagai satu cabang tersendiri dalam ilmu pengetahuan. Melalui karya besarnya Wealth of
Nations, Smith mencoba mencari tahu sejarah perkembangan negara-negara di Eropa.
Sebagai seorang ekonom, Smith tidak melupakan akar moralitasnya terutamayang tertuang
dalam The Theory of Moral Sentiments. Perkembangan sejarah pemikiran ekonomi
kemudian berlanjut dengan menghasilkan tokoh-tokoh seperti Alfred Marshall, J.M. Keynes,
Karl Marx, hingga peraih hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 2006, Edmund Phelps.
Secara garis besar, perkembangan aliran pemikiran dalam ilmu ekonomi diawali oleh apa
yang disebut sebagai aliran klasik. Aliran yang terutama dipelopori oleh Adam Smith ini
menekankan adanya invisible hand dalam mengatur pembagian sumber daya, dan oleh
karenanya peran pemerintah menjadi sangat dibatasi karena akan mengganggu proses ini.
Konsep invisble hand ini kemudian direpresentasikan sebagai mekanisme pasar melalui harga
sebagai instrumen utamanya.
Aliran klasik mengalami kegagalannya setelah terjadi Depresi Besar tahun 1930-an yang
menunjukkan bahwa pasar tidak mampu bereaksi terhadap gejolak di pasar saham. Sebagai
penanding aliran klasik, Keynes mengajukan teori dalam bukunya General Theory of
Employment, Interest, and Moneyyang menyatakan bahwa pasar tidak selalu mampu
menciptakan keseimbangan, dan karena itu intervensi pemerintah harus dilakukan agar
distribusi sumber daya mencapai sasarannya. Dua aliran ini kemudian saling “bertarung”
dalam dunia ilmuekonomi dan menghasilkan banyak varian dari keduanya seperti: new
classical, neo klasik, new keynesian, monetarist, dan lain sebagainya.
Namun perkembangan dalam pemikiran ini juga berkembang ke arah lain, seperti teori
pertentangan kelas dari Karl Marx dan Friedrich Engels, serta aliran institusional yang
pertama dikembangkan oleh Thorstein Veblen dkk dan kemudian oleh peraih nobel Douglass
C. North.
Metodologi
Sering disebut sebagai The queen of social sciences, ilmu ekonomi telah mengembangkan
serangkaian metode kuantitatif untuk menganalisis fenomena ekonomi. Jan Tinbergen pada
masa setelah Perang Dunia II merupakan salah satu pelopor utama ilmu ekonometri, yang
mengkombinasikan matematika, statistik, dan teori ekonomi. Kubu lain dari metode
kuantitatif dalam ilmu ekonomi adalah model General equilibrium (keseimbangan umum),
yang menggunakan konsep aliran uang dalam masyarakat, dari satu agen ekonomi ke agen
yang lain. Dua metode kuantitatif ini kemudian berkembang pesat hingga hampir semua
makalah ekonomi sekarang menggunakan salah satu dari keduanya dalam analisisnya. Di lain
pihak, metode kualitatif juga sama berkembangnya terutama didorong oleh keterbatasan
metode kuantitatif dalam menjelaskan perilaku agen yang berubah-ubah.
Empat aspek yang erat hubungannya dengan metodologi dalam analisis ekonomi. Aspekaspek tersebut adalah:
? Masalah pokok ekonomi yang di hadapi setiap masyarakat, yaitu masalah kelangkaan atau
kekurangan. Berdasarkan uraian mengenai masalah ekonomi pokok tersebut akan dirumuskan
definisi ilmu ekonomi.
? Jenis-jenis analisis ekonomi.
? Ciri-ciri utama suatu teori ekonomi dan kegunaan teori ekonomi.
? Bentuk-bentuk alat analisis yang digunakan pakar ekonomi dalam menerangkan teori
ekonomi dan menganalisis berbagai peristiwa yang terjadi dalam perekonomian.
Masalah Ekonomi dan Kebutuhan untuk Membuat Pilihan
Dalam kehidupan sehari-hari setiap individu, perusahaan-perusahaan dan masyarakat secara
keseluruhannya akan selalu menghadapi persoalan-persoalanyang bersifat
ekonomi…”Apakah yang diartikan dengan kegiatan ekonomi?”
Kegiatan ekonomi dapat didefinisikan sebagai kegiatan seseorang atau suatu perusahaan
ataupun suatu masyarakat untuk memproduksi barang dan jasa maupun mengkonsumsi
(menggunakan) barang dan jasa tersebut.
Masalah Ekonomi dan Kebutuhan untuk Membuat Pilihan
Dalam kehidupan sehari-hari setiap individu, perusahaan-perusahaan dan masyarakat secara
keseluruhannya akan selalu menghadapi persoalan-persoalanyang bersifat
ekonomi…”Apakah yang diartikan dengan kegiatan ekonomi?”
Kegiatan ekonomi dapat didefinisikan sebagai kegiatan seseorang atau suatu perusahaan
ataupun suatu masyarakat untuk memproduksi barang dan jasa maupun mengkonsumsi
(menggunakan) barang dan jasa tersebut.
Masalah Pokok Perekonomian: Kekurangan
Masalah kelangkaan
Masalah kelangkaan atau kekurangan berlaku sebagai akibat dari ketidakseimbangan antara
(i) kebutuhan masyarakat (ii) faktor-faktor produksi yang tersedia dalam masyarakat.
Faktor-faktor produksi yang dapat digunakan untuk menghasilkan barang-barang tersebut
adalah relatif terbatas. Oleh karenanya masyarakat tidak dapat memperoleh dan menikmati
semua barangyang mereka butuhkan atau inginkan. Mereka perlu membuat dan menentukan
pilihan.
Kebutuhan Masyarakat
Yang dimaksudkan dengan kebutuhan masyarakat adalah keinginan masyarakat untuk
mengkonsumsi barang dan jasa. Sebagian barang dan jasa ini diimportdari luar negeri. Tetapi
kebanyakan diproduksikan di dalam negeri. Keinginan untuk memperoleh barang dan jasa
dapat dibedakan kepada dua bentuk:
• Keinginan yang disertai oleh kemampuan untuk membeli.
• Keinginan yang tidak disertai oleh kemampuan untuk membeli.
Keinginan yang disertai dengan kemampuan untuk membeli dinamakan permintaan efektif.
Jenis-jenis Barang
1. Berdasarkan kepentingan barang tersebut dalam kehidupan manusia. Barang-barang
tersebut dibedakan kepada barang inferior (contoh: ikan asin dan ubi kayu), barang esensial
(contoh: beras, gula dan kopi), barang normal (contoh: baju dan buku) dan barang mewah
(contoh: mobil dan emas).
2. Berdasarkan cara penggunaan barang tersebut oleh masyarakat. Barang-barang tersebut
dibedakan menjadi barang pribadi (contoh: makanan, pakaian dan mobil) dan barang publik
(contoh: jalan raya, lampu lalu lintas dan mercu suar).
Faktor-faktor produksi
Yang dimaksudkan dengan faktor-faktor produksi adalah benda-benda yang disediakan oleh
alam atau diciptakan oleh manusia yang dapat digunakan untuk memproduksi barang-barang
dan jasa-jasa.
Faktor-faktor produksi yang tersedia dalam perekonomian dibedakan kepada empat jenis,
yaitu:
1. Tanah dan sumber alam, faktor produsi ini disediakan oleh alam. Faktor produksi ini
meliputi tanah, barang tambang, hasil hutan dan sumber alam yang dapat dijadikan modal
seperti air yang dibendung untuk irigasi atau untuk pembangkit tenaga listrik.
2. Tenaga kerja, faktor produksi ini bukan saja jumlah buruh yang terdapat dalam
perekonomian. Pengertian tenaga kerja meliputi keahlian dan keterampilan. Dari segi
keahlian dan pendidikannya tenaga kerja dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu: tenaga
kerja kasar, tenaga kerja terampil dan tenaga kerja terdidik.
3. Modal, faktor produksi ini merupakan benda yang diciptakan oleh manusia dan digunakan
untuk memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang dibutuhkan.
4. Keahlian keusahawanan, faktor produksi ini berbentuk keahlian dan kemampuan
pengusaha untuk mendirikan dan mengembangkan berbagai kegiatan usaha. Kealian
keusahawanan meliputi kemahiran mengorganisasi ketiga sumber atau faktor produksi
tersebut secara efektif dan efisien sehingga usahanya berhasil dan berkembang serta dapat
menyediakan barang dan jasa untuk masyarakat.
Sifat-sifat Teori Ekonomi
Sifat-sifat umum dari teori-teori di dalam ilmu ekonomi. Setiap teori mempunyai 4 unsur
penting berikut:
• Definisi-definisi yang menjelaskandengan sebaik-baiknya variabel-variabel yang sifat-sifat
hubungannya akan diterangkan dalam teori tersebut.
• Sejumlah asumsi-asumsi atau pemisalan-pemisalan mengenai keadaan yang harus wujud
supaya teori itu berlaku dengan baik.
• Satu atau beberapa hipotesis mengenai sifat-sifat hubungan di antara berbagai variabel yang
dibicarakan.
• Satu atau beberapa ramalan mengenai keadaan-keadaan yang akan berlaku.
Alat-alat Analisis dalam Ilmu Ekonomi
Ilmu ekonomi memerlukan beberapa alat analisis untuk menerangkan teori-teorinya dan
untuk menguji kebenaran teori-teori tersebut. Grafik dan kurva adalah alat analisis yang
utama dalam teori ekonomi. Dalam teori yang lebih mendalam, matematika dan persamaan
matematika memegang peranan yang sangat penting. Di samping itu statistik adalah alat
analisis untuk mengumpulkan fakta dan menguji kebenaran teori ekonomi.
Peranan Ahli Ekonomi dalam Kebijakan Ekonomi
Tugas dari ahli-ahli ekonomi adalah memikirkan cara-cara dengan menggunakan teori-teori
ekonomi sebagai landasan untuk menghindari pertentangan yang mungkin timbul dalam
mencapai berbagai tujuan tersebut secara serentak. Di dalam memikirkan cara-cara mengatasi
masalah ekonomi yang dihadapi dan mewujudkan tujuan-tujuan ekonomi yang yang
ditentukan, analisis yang dibuat haruslah meliputi persoalan-persoalan berikut:
• Tujuan-tujuan dari kebijakan yang dijalankan.
• Cara-cara yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
• Jenis pengorbanan yang harus dibuat untuk mencapai tujuan tersebut.
• Akibat buruk yang mungkin berlaku apabila suatu langkah atau kebijakan ekonomi
dilaksanakan.
• Menjajaki langkah alternatif lain yang lebih baik untuk mencapai tujuan-tujuan yang ingin
dicapai.
Teori Mikroekonomi
Teori mikroekonomi dapat didefinisikan sebagai: satu bidang dalam ilmu ekonomi yang
menganalisis mengenai bagian-bagian kecil dari keseluruhan kegiatan perekonomian.Isu
pokok yang dianalisis dalam teori mikroekonomi adalah: bagaimanakah caranya
menggunakan faktor-faktor produksi yang tersedia secara efisien agar kemakmuran
masyarakat dapat dimaksimumkan?
Teori Makroekonomi
Teori makroekonomi membuat analisis mengenai kegiatan dalam suatu perekonomian dari
sudut pandang yang berbeda dengan teori mikroekonomi. Analisis makroekonomi merupakan
analisis terhadap keseluruhan kegiatan perekonomian. Analisis dalam makroekonomi
merincikan pengeluaran agregat kepada 4 komponen: pengeluaran rumah tangga (biasa
disebut sebagai konsumsi rumah tangga), pengeluaran pemerintah, pengeluaran perusahaanperusahaan (biasanya disebut sebagai investasi) dan ekspor-impor. Teori makroekonomi
meliputi juga analisis dalam berbagai aspek berikut:
• Masalah ekonomi yang dihadapi, terutama pengangguran dan inflasi, dan bentuk kebijakan
pemerintah untuk mengatasinya.
• Peranan uang dalam penentuan kegiatan ekonomi.
Berikut berbagai macam sistem perekonomian dan penjelasannya.
1.Sistem Perekonomian Kapitalisme, yaitu sistem ekonomi yang memberikan kebebasan
secara penuh kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan menjual barang dan
sebagainya. Dalam sistem perekonomian kapitalis,semua orang bebas bersaing dalam bisnis
untuk memperoleh laba yang sebesar besarnya.
2.Sistem Perekonomian Sosialisme,yaitu sistem perekonomian yang memberikan
kebebasan yang cukup besar kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan ekonomi,
tetapi dngan campur tangan pemerintah.Pemerintah masuk ke dalam perekonomian untuk
mengatur tata kehidupan perekonomian negara serta jenis jenis perekonomian yang
menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara.
3.Sistem Perekonomian komunisme, adalah sistem ekonomi dimana peran pemerintah
sebagai pengatur seluruh sumber2x kegiatan perekonomian.Setiap orang tak boleh memiliki
kekayaan pribadi..
Sehingga nasib seseorang bisa ditentukan oleh pemerintah.Semua unit bisnis. mulai dari yang
kecil hingga yng besar dimiliki oleh pemerintah dengan tujuan Pemerataan Ekonomi dan
kebersamaan.
4.Sistem Ekonomi Merkantilisme, yaitu suatu sistem politik ekonomi yang sangat
mementingkan perdagangan internasional dengan tujuan memperbanyak aset& modal yang
dimiliki negara.
5.Sistem Perekonomian Fasisme, yaitu paham yang mengedepankan bangsa sendiri dan
memandang rendah bangsa lain, dengan kata lain, fasisme merupakan sikap rasionalism yang
berlebihan.
BAB 2
Permintaan dan Penawaran
A. Pengertian Permintaan dan Penawaran
Penawaran
Penawaran (b. Inggris: supply), dalam ilmu ekonomi, adalah banyaknya barang atau jasa
yang tersedia dan dapat ditawarkan oleh produsen kepada konsumen pada setiap tingkat
harga selama periode waktu tertentu.
Penawaran dipengaruhi oleh beberapa faktor. Antara lain harga barang, tingkat teknologi,
jumlah produsen di pasar, harga bahan baku, serta harapan, spekulasi, atau perkiraan.
Di antara faktor-faktor di atas, harga barang dianggap sebagai faktor terpenting dan sering
dijadikan acuan untuk melakukan analisis penawaran. Harga berbanding lurus dengan jumlah
penawaran. Jika harga tinggi, maka produsen akan berlomba-lomba menjajakan barangnya
sehingga penawaran meningkat. Sementara itu, jika harga turun, maka produsen akan
menunda penjualan atau menyimpan produknya di gudang sehingga jumlah penawaran akan
berkurang.
Faktor teknologi akan mempengaruhi output barang atau jasa yang akan dihasilkan produsen.
Semakin tinggi teknologi, semakin cepat barang dihasilkan, maka semakin besar pula
penawaran yang terjadi.
Harga-harga barang lain, termasuk di antaranya harga bahan baku, juga ikut mempengaruhi
penawaran. Semakin mahal harga bahan baku, semakin mahal pula harga produk yang
dihasilkan. Namun biasanya, kenaikan harga bahan baku cenderung mengurangi keuntungan
yang diterima oleh produsen, sehingga produsen akan mengurangi tingkat produksi dan
mengurangi tingkat penawaran.
Sistem perekonomian adalah sistem yang digunakan oleh suatu negara untuk
mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya baik kepada individu maupun organisasi di
negara tersebut. Perbedaan mendasar antara sebuah sistem ekonomi dengan sistem ekonomi
lainnya adalah bagaimana cara sistem itu mengatur faktor produksinya. Dalam beberapa
sistem, seorang individu boleh memiliki semua faktor produksi. Sementara dalam sistem
lainnya, semua faktor tersebut di pegang oleh pemerintah. Kebanyakan sistem ekonomi di
dunia berada di antara dua sistem ekstrim tersebut.
Selain faktor produksi, sistem ekonomi juga dapat dibedakan dari cara sistem tersebut
mengatur produksi dan alokasi. Sebuah perekonomian terencana (planned economies)
memberikan hak kepada pemerintah untuk mengatur faktor-faktor produksi dan alokasi hasil
produksi. Sementara pada perekonomian pasar (market economic), pasar lah yang mengatur
faktor-faktor produksi dan alokasi barang dan jasa melalui penawaran dan permintaan.
Permintaan
Permintaan berkaitan dengan keinginan konsumen akan suatu barang dan jasa yang ingin
dipenuhi. Dan kecenderungan permintaan konsumen akan barang dan jasa tak terbatas.
Kurva Permintaan menerangkan bagaimana sifat permintaan para pembeli terhadap suatu
barang.
Hukum permintan adalah ketika Harga (P, sumbu Y) naik maka Quantitas (Q, sumbu X) akan
turun dan sebaliknya, Kurva ini digammbar dari bawah ke atas,karena kuantitas permintaan
semakin banyak ketika harga semakin turun.
terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan, diantaranya :
Faktor bukan harga. Terdapat beberapa faktor yang bukan terkait harga dari suatu barang atau
jasa.diantaranya : Hubungan antar barang : 1. Barang Subtitusi (Barang Pengganti) Misalnya
adalah teh dan kopi, ketika harga kopi turun maka , harga teh akan mengalami penurunan
juga (berbanding lurus) 2. Barang Kompelenter (Barang pelengkap) Misalnya adalah
kebutuhan akan gula terhadap kopi dan teh, ketika harga gula dan kopi naik, maka harga gula
akan naik juga dikarenakan adanya permintaaan yang sama terhadap kopi dan gula.
Tingkat Pendapatan Pembeli, perubahan dalam permintaan juga dikarenakan tingkat
penghasilan dari pembeli. 1. Barang Inferior, adalah barang yang dikonsumsi oleh oleh orang
yang memiliki pendapatan rendah.Jika banyak pembeli yang mengalami kenikan penghasilan
maka permintaan akan barang inferior pun akan berkurang. 2. Barang Essensial (Barang
Primer) Adalah barang yang penting bagi masyarakat, seperti kopi, beras, dll. Untuk barang
yang seperti ini maka tingkat permintaannya akan cenderung stabil (karena tidak terpengaruh
tingkt pendapatan) 3. Barang Mewah adalah jenis barang yang dibeli oleh konsumen apabila
pendapatan mereka sudah tinggi, contohnya adalah emas, mobil, dll. Barang ini dibeli hanya
jika pembeli sudah membeli barang kebutuhan pokok mereka.
Perekonomian terencana
Ada dua bentuk utama perekonomian terencana, yaitu komunisme dan sosialisme. Sebagai
wujud pemikiran Karl Marx, komunisme adalah sistem yang mengharuskan pemerintah
memiliki dan menggunakan seluruh faktor produksi. Namun, lanjutnya, kepemilikan
pemerintah atas faktor-faktor produksi tersebut hanyalah sementara; Ketika perekonomian
masyarakat dianggap telah matang, pemerintah harus memberikan hak atas faktor-faktor
produksi itu kepada para buruh.
Uni Soviet dan banyak negara Eropa Timur lainnya menggunakan sistem ekonomi ini
hingga akhir abad ke-20. Namun saat ini, hanya Kuba, Korea Utara, Vietnam, dan RRC
yang menggunakan sistem ini. Negara-negara itu pun tidak sepenuhnya mengatur faktor
produksi. China, misalnya, mulai melonggarkan peraturan dan memperbolehkan perusahaan
swasta mengontrol faktor produksinya sendiri.
Perekonomian pasar
Perekonomian pasar bergantung pada kapitalisme dan liberalisme untuk menciptakan sebuah
lingkungan di mana produsen dan konsumen bebas menjual dan membeli barang yang
mereka inginkan (dalam batas-batas tertentu). Sebagai akibatnya, barang yang diproduksi dan
harga yang berlaku ditentukan oleh mekanisme penawaran-permintaan.
Perekonomian pasar campuran
Perekonomian pasar campuran atau mixed market economies adalah gabungan antara sistem
perekonomian pasar dan terencana. Menurut Griffin, tidak ada satu negara pun di dunia ini
yang benar-benar melaksanakan perekonomian pasar atau pun terencana, bahkan negara
seperti Amerika Serikat. Meskipun dikenal sangat bebas, pemerintah Amerika Serikat tetap
mengeluarkan beberapa peraturan yang membatasi kegiatan ekonomi. Misalnya larangan
untuk menjual barang-barang tertentu untuk anak di bawah umur, pengontrolan iklan
(advertising), dan lain-lain. Begitu pula dengan negara-negara perekonomian terencana. Saat
ini, banyak negara-negara Blok Timur yang telah melakukan privatisasi—pengubahan
status perusahaaan pemerintah menjadi perusahaan swasta.
B. Hukum Permintaan dan Hukum Penawaran
Jika semua asumsi diabaikan (ceteris paribus) : Jika harga semakin murah maka permintaan
atau pembeli akan semakin banyak dan sebaliknya. Jika harga semakin rendah/murah maka
penawaran akan semakin sedikit dan sebaliknya.
Semua terjadi karena semua ingin mencari kepuasan (keuntungan) sebesar-besarnya dari
harga yang ada. Apabila harga terlalu tinggi maka pembeli mungkin akan membeli sedikit
karena uang yang dimiliki terbatas, namun bagi penjual dengan tingginya harga ia akan
mencoba memperbanyak barang yang dijual atau diproduksi agar keuntungan yang didapat
semakin besar. Harga yang tinggi juga bisa menyebabkan konsumen/pembeli akan mencari
produk lain sebagai pengganti barang yang harganya mahal.
C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Permintaan (Demand)
1. Perilaku konsumen / selera konsumen
Saat ini handphone blackberry sedang trend dan banyak yang beli, tetapi beberapa tahun
mendatang mungkin blackberry sudah dianggap kuno.
2. Ketersediaan dan harga barang sejenis pengganti dan pelengkap
Jika roti tawar tidak ada atau harganya sangat mahal maka meises, selai dan margarin akan
turun permintaannya.
3. Pendapatan/penghasilan konsumen
Orang yang punya gaji dan tunjangan besar dia dapat membeli banyak barang yang dia
inginkan, tetapi jika pendapatannya rendah maka seseorang mungkin akan mengirit
pemakaian barang yang dibelinya agar jarang beli.
4. Perkiraan harga di masa depan
Barang yang harganya diperkirakan akan naik, maka orang akan menimbun atau membeli
ketika harganya masih rendah misalnya seperti bbm/bensin.
5. Banyaknya/intensitas kebutuhan konsumen
Ketika flu burung dan flu babi sedang menggila, produk masker pelindung akan sangat laris.
Pada bulan puasa (ramadhan) permintaan belewah, timun suri, cincau, sirup, es batu, kurma,
dan lain sebagainya akan sangat tinggi dibandingkan bulan lainnya.
D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Penawaran (Suply)
1. Biaya produksi dan teknologi yang digunakan
Jika biaya pembuatan/produksi suatu produk sangat tinggi maka produsen akan membuat
produk lebih sedikit dengan harga jual yang mahal karena takut tidak mampu bersaing
dengan produk sejenis dan produk tidak laku terjual. Dengan adanya teknologi canggih bisa
menyebabkan pemangkasan biaya produksi sehingga memicu penurunan harga.
2. Tujuan Perusahaan
Perusahaan yang bertujuan mencari keuntungan sebesar-besarnya (profit oriented) akan
menjual produknya dengan marjin keuntungan yang besar sehingga harga jual jadi tinggi.
Jika perusahaan ingin produknya laris dan menguasai pasar maka perusahaan menetapkan
harga yang rendah dengan tingkat keuntungan yang rendah sehingga harga jual akan rendah
untuk menarik minat konsumen.
3. Pajak
Pajak yang naik akan menyebabkan harga jual jadi lebih tinggi sehingga perusahan
menawarkan lebih sedikit produk akibat permintaan konsumen yang turun.
4. Ketersediaan dan harga barang pengganti/pelengkap
Jika ada produk pesaing sejenis di pasar dengan harga yang murah maka konsumen akan ada
yang beralih ke produk yang lebih murah sehingga terjadi penurunan permintaan, akhirnya
penawaran pun dikurangi.
5. Prediksi / perkiraan harga di masa depan
Ketika harga jual akan naik di masa mendatang perusahaan akan mempersiapkan diri dengan
memperbanyak output produksi dengan harapan bisa menawarkan/menjual lebih banyak
ketika harga naik akibat berbagai faktor.
ABSTRAKSI
Makalah ini menceritakan tentang dasar-dasar ilmu ekonomi seperti :
BAB 1
1. Pengertian Ilmu Ekonomi dan Ruang Lingkupnya
2. Masalah Pokok Ekonomi dan Pengaruh Mekanisme Harga
3. Sistem Perekonomian
BAB 2
1. Pengertian Permintaan dan Penawaran
2. Hukum Permintaan dan Penawaran
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Permintaan dan Penawaran
TEORI ILMU EKONOMI DASAR
Disusun oleh :
Tofan Eka Kurniawan ( 11108944 )
2 KA 14
Fakultas Ilmu Komputer
Universitas Gunadarma
2010
Download