3. Materi pel Pengb profesionalisme amilin final

advertisement
PEMBEKALAN MENUJU
AMILIN PROFESIONAL
PENGEMBANGAN DIRI
MENUJU AMILIN
PROFESIONAL
OLEH
Dr. H. Nurlan Kusmaedi, M.Pd.
PEMBEKALAN MENUJU
AMILIN PROFESIONAL
OLEH
Dr. H. Nurlan Kusmaedi, M.Pd.
• Dasar Pemikiran
• Amilin adalah ujung tombak
keberhasilan dalam mengumpulkan
zakat
• Amilin Pasla merupakan kelompok
yang memiliki potensi untuk
mengembangkan kemampuan dan
keahliannya (profesional)
• Disadari atau tidak, kenyataan
menunjukkan bahwa negara-negara
Islam atau negeri-negeri yang
penduduknya mayoritas Islam
termasuk negara atau negeri-negeri
yang terbelakang baik dalam ekonomi
maupun politik, terpuruk dalam
kemiskinan dan keterbelakangan.
• Salah satu faktor penyebab
keterpurukan itu terkait dengan
persoalan profesionalisme.
Pengembangan
• Perubahan ke arah yang lebih baik
• Salah satu dari 6 fungsi manajemen,
yaitu: Perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan, hasil/evaluasi, umpan
balik, pengembangan
• Beberapa Istilah Penting dalam Zakat
• Zakat adalah harta yang wajib
dikeluarkan oleh seorang muslim atau
badan usaha untuk diberikan kepada yang
berhak menerimanya sesuai dengan
syariat islam
• Muzaki adalah seorang muslim atau
badan usaha yang berkewajiban
menunaikan zakat
• Mustahik adalah orang yang berhak
menerima zakat
• Amilin : orang-orang yang diberi tugas
untuk mengumpulkan dan membagikan
zakat.
Profesi:
• Suatu jabatan atau pekerjaan yg
menuntut keahlian dari para
anggotanya (Djaman Satori ,
2003:12)
• Merupakan suatu pekerjaan tertentu
yang menuntut persyaratan khusus
dan istimewa shg meyakinkan dan
memperoleh kepercayaan pihak yang
memerlukannya
Profesional
• Pekerjaan atau kegiatan yg dilakukan
oleh seseorang dan menjadi sumber
penghasilan kehidupan yang
memerlukan keahlian, kemahiran,
atau kecakapan yg memenuhi
standar mutu atau norma tertentu
serta memerlukan pendidikan
profesi.
• (UU RI No 14 Tahun 2005 Tentang Guru
dan Dosen)
Profesional
• Mempunyai 2 makna:
1. Mengacu kpd sebutan orang yg
menyandang suatu profesi,
2. Mengacu kpd sebutan ttg
penampilan seseorang dlm
mewujudkan unjuk kerja sesuai dg
profesinya
• Seorang profesional adalah seseorang yang
menawarkan jasa atau layanan sesuai dengan
peraturan dalam bidang yang dijalaninya dan
menerima gaji sebagai upah atas jasanya.
Orang tersebut juga merupakan anggota suatu
entitas atau organisasi yang didirikan seusai
dengan hukum di sebuah negara atau wilayah
(Wiki).
• Seringkali seseorang yang merupakan ahli
dalam suatu bidang juga disebut “profesional”
dalam bidangnya meskipun bukan merupakan
anggota sebuah entitas yang didirikan dengan
sah.
• Sebagai contoh, dalam dunia olahraga terdapat
olahragawan profesional yang merupakan
kebalikan dari olahragawan amatir yang bukan
berpartisipasi dalam sebuah
turnamen/kompetisi demi uang.”
• Seseorang yang Profesional dalam bekerja akan
mempunyai nilai tersendiri dimata atasan atau
customer, setiap orang yang bekerja secara
Profesional akan terlihat hasil pekerjaanya dan
berbeda dengan orang yang bekerja hanya atas
dasar job sheet yang akhirnya tidak menikmati
pekerjaan yang di jalankan, kedisiplinan
merupakan salah satu faktor penunjang
Profesionalisme dalam bekerja, disiplin dalam
berbagai hal pastinya, misal disiplin dengan
step-step pekerjaan yang dijalankan, disiplin
terhadap waktu yang diberikan dan disiplin
dalam attitude, jangan melupakan line of
leadership pastinya.
• Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu
kaum sampai mereka mengubah nasib mereka sendiri (QS.
Ar Ra’du: 11). Tepat seperti dikatakan Ismail al Faruqi (Al
Tawhid: Its Implication for Thought and Life, 1995) bahwa
Islam lebih merupakan a religion of action dari pada a
religion of faith. Sejarah peradaban Islam yang bertahan
berabad-abad (abad ke-9 s/d ke-13) adalah bukti
profesionalisme masyarakat Islam dalam menjalankan roda
kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
• Pada sisi lain dalam kehidupan sehari-hari sering
dipertentangkan antara bekerja dengan keikhlasan dengan
kerja secara profesional. Kerja ikhlas atau lillahi ta’ala
mempunyai konotasi kerja dengan kemampuan seadanya,
minimalis dan tidak produktif. Sebaliknya kerja yang
profesional identik dengan kerja yang efisien dan produktif
serta serba uang. Pandangan atau pengertian begini tidak
benar dan menyesatkan.
• Seorang Muslim yang seluruh hidupnya untuk ibadah pada
Allah, dimana Allah selalu mengawasi dan meminta
pertanggungjawaban dikelak hari kiamat, maka dia akan
selalu bekerja dengan ikhlas dan sungguh-sungguh dengan
segenap kemampuannya. Wallahu a’lam bish-shawab.
Profesional >< Amatir
• Amatir – dianggap belum mampu
bekerja secara terampil, cekatan,
dan baru taraf belajar;
• Profesional – mampu bekerja secara
terampil, cekatan, dan mahir (dalam
olahraga indikator profesional adalah
imbalan bayarannya.
Profesionalisme
• Menunjuk kpd komitmen para
anggota suatu profesi utk
meningkatkan kemampuan
profesionalnya dan terus menerus
mengembangkan strategi-strategi
yg digunakannya dlm melakukan
pekerjaan yg sesuai dg profesinya
Makna Profesionalisme
• Bukan hanya digunakan untuk
pekerjaan yang telah diakui sebagai
suatu profesi, melainkan pada hampir
setiap pekerjaan (penjahat profesional,
tk ojeg profesional).
• Seseorang disebut profesional jika:
cara kerjanya baik, cekatan, dan
hasilnya memuaskan . Dg hasil
kerjanya seseorang mendapatkan wang
atau imbalan lainnya.
Profesionalisasi
• Proses usaha menuju ke arah
terpenuhinya persyaratan suatu
jenis model pekerjaan ideal ;
• Suatu proses menuju kpd
perwujudan dan peningkatan profesi
dalam mencapai suatu kriteria yg
sesuai dg standar yg tlh ditetapkan.
• Profesionalisasi
• Dari segi bahasa: Profesionalisasi berasal
dari kata professionalization yang berarti
kemampuan profesional.
• #Dapat disimpulkan:
• “Profesionalisasi” adalah sutu proses
menuju kepada perwujudan dan
peningkatan profesi dalam mencapai
suatu kriteria yang sesuai dengan standar
yang telah ditetapkan. Profesionalisasi
adalah proses atau perjalanan waktu yang
membuat seseorang atau kelompok orang
menjadi profesional.
3 hal penunjang
profesionalisme
• Keahlian,
• Komitmen,
• Keterampilan yang relevan shg
membentuk sebuah segitiga sama
sisi yg ditengahnya terletak
profesionalisme.
Prinsip Profesionalisme
• Well educated,
• Well trained,
• Well paid.
• Hal yang sangat diperlukan oleh
suatu profesi adalah pengakuan
masyarakat atas jasa yang
diberikannya.
Profesionalitas
• Mengacu kpd sikap para anggota
profesi thd profesinya serta derajat
peng & keahlian yg mereka miliki
utk dapat melakukan tugas2 nya;
• Lebih menggambarkan suatu
keadaan derajat keprofesian
seseorang dilihat dari sikap, peng &
keahlian yg diperlukan utk
melaksanakan tugasnya
Profesionalitas
Profesionalitas merupakan sikap
para anggota profesi benar2
menguasai, sungguh2 kepada
profesinya. “Profesionalitas” adalah
suatu sebutan terhadap kualitas
sikap para anggota suatu profesi
terhadap profesinya serta derajat
pengetahuan dan keahlian yang
mereka miliki untuk dapat
melakukan tugas-tugasnya
Kategori Profesi
•
•
•
•
•
Mapan,
Baru,
Sedang tumbuh kembang,
Semi profesi,
Pek/jab yg belum jelas arah tuntutan
status keprofesionalannya.
• Amilin berada di mana kategorinya?
Profil Amilin
• Amilin sbg ibu rumah tangga (IRT),
• Amilin sbg IRT dan juga sbg
pengurus RT,
• Amilin sbg IRT, pengurus RT, dan
juga pengurus DKM atau organisasi
lainnya,
• Amilin prof yang berkewenangan
berganda sbg seorang profesional di
bidang keahlian lain.
Tanggung Jawab Amilin dlm
mengembangkan profesinya:
•
•
•
•
•
•
Sbg
Sbg
Sbg
Sbg
Sbg
Sbg
pemberi layanan kepada umat,
pengumpul,
pendistribusi,
penyuluh,
administrator keuangan,
pemberdaya umat,
Program Pengembangan
Profesionalisme Amilin
1. Pelatihan,
2. Pemberdayaaan KKA Pasla,
3. Belajar mandiri melalui membaca,
TV, radio, dll.
Karakteristik Amilin Yang Baik
1. Memahami dan menghormati muzaki
dan mustahik sebagai manusia;
2. Memahami dasar fikih zakat infaq dan
sodaqoh;
3. Dapat menyesuaikan strategi
mengumpulkan ZIS dalam
relevansinya dengan dasar fiqih ZIS,
dan karakteristik muzaki serta
mustahik.
Berikut butir-butir penting dalam Al
Qur’an dan Hadist yang menyuruh
bekerja secara profesional:
• Bekerja sesuai dengan kemampuan atau
kapasitasnya (QS. An’am: 135, Az Zumar: 39
dan Huud: 93)
• Bekerja dengan hasil terbaik (QS. Al Mulk: 2)
• Bekerja sesuai dengan bidang keahlian (QS. Al
Isra’: 84)
• Jika suatu urusan diserahkan bukan pada
ahlinya maka tunggulah kehancurannya (HR.
Bukhari)
• Bekerja sesuai dengan patut dan layak (QS. An
Nahl: 97, Al Anbiya’: 94, dan Al Zalzalah: 7)
Selanjutnya pada ayat yang
lain Islam mendorong umatnya
agar:
• Memiliki kejujuran (QS. Al Ahzaab: 23-24)
• Kerjasama dan tolong-menolong dalam kebaikan (QS. Al
Maidah: 2)
• Bekerja dengan penuh tanggung jawab karena selalu diawasi
Allah, Rasul dan masyarakat (QS. At Taubah: 105)
• Sederhana dan tidak berlebih-lebihan (QS. Al A’raaf: 13, Al
Israa’: 29, Al Furqaan: 67, dan Ar Rahman: 7-7)
• Rajin dan bekerja keras (QS. Al Jumu’ah: 10)
• Disiplin (QS. Al Hasyr: 7)
• Hati-hati dalam bertindak dan mengambil keputusan (QS> Al
Hujurat: 6)
• Berlomba-lomba dalam kebaikan (QS. Al Baqarah: 148, Al
Maidah: 48)
• Jujur dan dapat dipercaya (QS. An Nisa’: 58, Al Baqarah: 283,
Al Mu’minun: 8)
Dua Ciri Amilin Profesional
• Ilmu pengetahuan dan ketrampilan khusus
terspesialisasi menjadi prasyarat mutlak yang
harus dimiliki oleh para profesionalis. Kemampuan
individual ini masih perlu didukung oleh sistem
manajemen dan organisasi kerja yang tepat, yang dapat
menempatkan individu pada posisi yang tepat. Jelasnya,
individu yang memiliki ilmu pengetahuan dan
ketrampilan khusus terspesialisasi hanya akan menjadi
profesional jika ditempatkan pada tugas (job) atau posisi
yang tepat (the right man on the right place).
• Integritas moral dan budaya, mencakup kejujuran,
disiplin, rajin, tepat waktu dan lain-lain. Merupakan kode
etik dan pedoman setiap para profesional dalam bekerja.
Kurang lebih lima belas abad yang lalu Islam telah
mengajarkan umatnya tentang integritas moral atau
kode etik. Berikut butir-butir penting dalam Al Qur’an dan
Hadist yang menyuruh bekerja secara profesional:
• Dalam melakukan suatu karya atau
pekerjaan, seorang muslim tidak hanya
demi memenuhi kebutuhan hidupnya
semata, melainkan karena agama
mendorongnya, dan oleh karenanya
merupakan salah satu bentuk pengabdian
(ibadah) kepada Tuhannya.
• Dalam keadaan tertindas, rakyat menjadi
pasrah dan tak berdaya, yang akhirnya
menempuh kehidupan “tasawuf” atau sufi
dan menjadi seorang “zahid” yang
menghindari kehidupan dunia (lebih
berorientasi pada kehidupan akhirat)
sampai yang bersikap apatis terhadap
dunia.
SELESAI
Assalammualaikum
Warakhmatullahi
Wabarakatuh
TERIMA KASIH ATAS
PERHATIANNYA
Akhlak Islam yang di ajarkan oleh
Nabiyullah Muhammad SAW, sbg landasan
bagi pengembangan profesionalisme.
1. Sifat kejujuran (shiddiq).
• Kejujuran ini menjadi salah satu dasar yang paling
penting untuk membangun profesionalisme. Hampir
semua bentuk uasha yang dikerjakan bersama
menjadi hancur, karena hilangnya kejujuran. Oleh
karena itu kejujuran menjadi sifat wajib bagi
Rasulullah SAW. Dan sifat ini pula yang selalu di
ajarkan oleh islam melalui al-Qur’an dan sunah Nabi.
Kegiatan yang dikembangkan di dunia organisasi,
perusahan dan lembaga modern saat ini sangat
ditentukan oleh kejujuran. Begitu juga tegaknya
negara sangat ditentukan oleh sikap hidup jujur para
pemimpinnya. Ketika para pemimpinnya tidak jujur
dan korup, maka negara itu menghadapi problem
nasional yang sangat berat, dan sangat sulit untuk
membangkitkan kembali.
2. Sifat tanggung jawab (amanah).
• Sikap bertanggung jawab juga merupakan sifat akhlak
yang
sangat
diperlukan
untuk
membangun
profesionalisme. Suatu perusahaan/organisasi/lembaga
apapun pasti hancur bila orang-orang yang terlibat di
dalamnya tidak amanah.
3. Sifat komunikatif (tabligh).
• Salah satu ciri profesional adalah sikap komunikatif dan
transparan.
Dengan
sifat
komunikatif,
seorang
penanggung jawab suatu pekerjaan akan dapat menjalin
kerjasama dengan orang lain lebih lancar. Ia dapat juga
meyakinkan rekanannya untuk melakukan kerja sama
atau melaksanakan visi dan misi yang disampaikan.
Sementara dengan sifat transparan, kepemimpinan di
akses semua pihak, tidak ada kecurigaan, sehingga
semua masyarakat anggotanya dan rekan kerjasamanya
akan memberikan apresiasi yang tinggi kepada
kepemimpinannya. Dengan begitu, perjalanan sebuah
organisasi akan berjalan lebih lancar, serta mendapat
dukungan penuh dari berbagai pihak.
4. Sifat cerdas (fathanah).
• Dengan
kecerdasannya
seorang
profesional akan dapat melihat peluang
dan menangkap peluang dengan cepat
dan tepat. Dalam sebuah organisasi,
kepemimpinan yang cerdas akan cepat
dan
tepat
dalam
memahami
problematika yang ada di lembaganya.
Ia
cepat
memahami
aspirasi
anggotanya, sehingga setiap peluang
dapat segera dimanfaatkan secara
optimal dan problem dapat dipecahkan
dengan cepat dan tepat sasaran.
3 Pilar Dalam Merajut Etos
Profesionalisme
•
Pilar yang pertama adalah achievement orientation. Dulu, seorang
sosiolog terkemuka bernama David McLelland pernah menulis : salah
satu faktor yang membuat sebuah komunitas/masyarakat lebih
unggul dibanding yang lainnya adalah lantaran mereka dipenuhi
dengan individu yang punya high need for achievement (atau sering
disebut sebagai NAch = need for achievement).
Disini, need for achievement merujuk pada gairah untuk melakoni
kerja yang sebaik-baiknya demi terengkuhnya hasil karya yang juga
layak dibanggakan. Disana yang muncul adalah sebuah etos, sebuah
dedikasi, dan sebuah tanggungjawab untuk meretas prestasi terbaik.
Ketika tugas dan tantangan membentang didepan kita, yang
kemudian muncul adalah sebuah niat tulus untuk mentransformasi
rangkaian tantangan dan tugas itu menjadi sebuah prestasi kerja
yang adiluhung.
Orang-orang yang memiliki High NAch selalu percaya bahwa berderet
tugas – apapun tugas dan pekerjaan itu – selalu merupakan sebuah
rute untuk mempersembahkan karya terbaik. Dan sungguh, inilah
elemen kunci yang mesti dipahat oleh siapapun yang berkehendak
menjadi insan yang profesional.
• Pilar profesionalisme yang kedua adalah ini : sebuah
ikhtiar untuk terus belajar mengembangkan
kompetensi diri. Sebuah tekad yang dibalut oleh
semangat untuk mempraktekkan prinsip lifetime
learning (belajar sepanjang hidup). Bagi mereka
selalu akan ada celah dan ruang untuk terus
memekarkan potensi dan kapasitas diri. Selalu akan
ada jalan untuk merekahkan pengetahuan,
membasuh ilmu dan merajut ketrampilan.
Bagi insan profesional semacam itu, proses belajar
mengembangkan kompetensi selalu bisa direngkuh
dari segala jurusan. Sebab moto mereka adalah ini :
everyone is a teacher and every place is a
school. Sebuah kalimat yang indah bukan? Ya,
sumber ilmu selalu bisa dijemput dari siapapun –
entah dari seorang guru, dari atasan, bawahan, rekan
kerja atau dari para pelanggan. Dan sumber ilmu juga
dicegat dari lokasi mana saja : dari sekolah, dari
perpustakaan, dari pasar yang penuh keramaian, atau
dari lingkungan kantor yang selalu penuh dinamika.
•
Pilar profesionalisme yang ketiga adalah yang paling penting. Pilar
itu adalah ruh spiritualitas yang kokoh. Sebab bagi kita,
profesionalisme yang paling hakiki hanya akan punya makna jika
ia dibalut oleh semangat spiritualisme yang kokoh. Inilah sebuah
semangat yang selalu percaya bahwa segenap laku jejak
kehidupan profesional kita selalu ditautkan pada pengabdian
kepada Yang Maha Mencipta. “Dan sesungguhnya, sholatku,
ibadahku, dan hidup matiku hanyalah untuk Tuhan Sang Pencipta
Alam”.
Sebab itulah, insan yang profesional tidak hanya cerdas dalam
praktek manajemen modern, namun juga mereka yang hatinya
selalu rindu akan mesjid (atau rindu pada gereja bagi para umat
Kristiani, atau rindu pada pura bagi para pemeluk Hindu). Insan
profesional sejati tidak hanya fasih bicara mengenai strategi dan
leadership, namun mereka juga senantiasa fasih berdzikir memuja
kebesaran Sang Pencipta.
Dan insan profesional sejati tidak hanya tangkas mengelola tugas
dan mengambil keputusan, namun mereka juga selalu mau
bangun ditengah malam : berkontemplasi, membangun sebuah
meeting yang sangat intens dengan Sang Pemelihara Jagat Raya.
Itulah tiga pilar yang menopang bangunan etos kerja profesional :
sebuah semangat untuk merengkuh prestasi terbaik, sebuah
semangat untuk terus belajar, dan sebuah semangat untuk selalu
mengabdi pada Sang Pemberi Hidup. Praktekkan tiga pilar kunci
ini, dan Anda pasti akan berjalan menuju Kemenangan Sejati.
• nilai-nilai islam yang dapat mendasari pengembangan
profesionalisme, yaitu :
1. Bersikap positif dan berfikir positif (husnuzh zhan ).
• Berpikir positif akan mendorong setiap orang
melaksanakan tugas-tugasnya lebih baik. Hal ini
disebabkan dengan bersikap dan berfikir positif
mendorong seseorang untuk berfikir jernih dalam
menghadapi setiap masalah. Husnuzh zhan tersebut,
tidak saja ditujukan kepada sesama kawan dalam
bekerja, tetapi yang paling utama adalah bersikap
dan berfikir positif kepada Allah SWT. Dengan
pemikiran tersebut, seseorang akan lebih lebih
bersikap objektif dan optimistik. Apabil ia berhasil
dalm usahanya tidak menjadi sombong dan lupa diri,
dan apabila gagal tidak mudah putus asa, dan
menyalahkan orang lain. Sukses dan gagl merupakan
pelajaran yang harus diambil untuk menghadapi masa
depan yang lebih baik, dengan selalu bertawakal
kepada Allah SWT.
2. Memperbanyak shilaturahhim.
• Dalam Islam kebiasaan shilaturrahim merupakan
bagian dari tanda-tanda keimanan. Namun dalam
dunia profesi, shilaturahhim sering dijumpai dalam
bentuk tradisi lobi. Dalam tradisi ini akan terjadi
saling belajar.
3. Disiplin waktu dan menepati janji.
• Begitu pentingnya disiplin waktu, al-Qur’an
menegaskan makna waktu bagi kehidupan
manusia dalam surat al-Ashr, yang diawali dengan
sumpah ”Demi Waktu”. Begitu juga menepati
janji, al-Qur’an menegaskan hal tersebut dalam
ayat pertama al-Maidah, sebelum memasuki
pesan-pesan penting lainnya.
• Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqadaqad itu. (Al-Maaidah/05:01).
• Yang dimaksud aqad-aqad adalah janji-janji
sesama manusia.
4. Bertindak efektif dan efisien.
• Bertindak
efektif
artinya
merencanakan
,
mengerjakan dan mengevaluasi sebuah kegitan
dengan tepat sasaran. Sedangkan efisien adalah
penggunaan fasilitas kerja dengan cukup, tidak
boros dan memenuhi sasaran, juga melakukan
sesuatu yang memang diperlukan dan berguna.
Islam sangat menganjurkan sikap efektif dan
efesien.
5. Memberikan upah secara tepat dan cepat.
• Ini sesuai dengan Hadist Nabi, yang mengatakan
berikan
upah
kadarnya,
akan
mendorong
seseorang pekerja atau pegawai dapat memenuhi
kebutuhan diri dan keluarganya secara tepat pula.
Sementara apabila upah ditunda, seorang pegawai
akan
bermalas-malas
karena
dia
harus
memikirkan beban kebutuhannya dan merasa
karya-karyanya tidak dihargai secara memadai.
Islam adalah agama yang menekankan arti penting amal dan kerja.
Islam
mengajarkan bahwa kerja harus dilaksanakan berdasarkan prinsip sbb:
1. Bahwa pekerjaan itu harus dilakukan berdasarkan kesadaran dan
pengetahuan yang memadai. Sebagaimana firman Allah yang artinya
: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan
dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya. (QS. alIsra/17:36).
2. Pekerjaan harus dilakukan berdasarkan keahlia. Seperti sabda Nabi :
Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka
tunggulah saat kehancuran. (Hadist Bukhari).
3. berorientasi kepada mutu dan hasil yang baik. Dalm Islam, amal, dan
kerja harus dilakukan dalam bentuk yang shalih. Sehingga makna
amal shalih dapat dipahami sebagai kerja sesuai standar mutu, baik
mutu dihadapan Allah maupun dihadapan manusia rekanan kerjanya.
4. Pekerjaan itu senantiasa diawasi oleh Allah, Rasulullah, dan
masyarakatnya, oleh karena itu harus dilaksanakan dengan penuh
tanggunga jawab.
5. Pekerjaan dilakukan dengan semangat dan etos kerja yang tinggi
6. Pengupahan harus dilakukan secara tepat dan sesuai dengan amal
atau karya yang dihasilkannya.
Penutup
• Secara ideal, Islam sangat mendorong
tumbuhnya sikap profesionalisme, baik
dalam kerja untuk orientasi duniawi
maupun ukhrawi. Amal perbuatan yang
ditunjukkan untuk kehidupan dunia harus
dilakukan seoptimal mungkin (sebagai amal
shalih), begitu juga amal perbuatan untuk
tujuan akherat. Semuanya itu merupakan
ibadah kepada Allah. Maka profesionalisme
adalah pelaksanaan suatu amal atau
pekerjaan dengan kualitas kerja yang tinggi
dengan mutu produktivitas yang tinggi pula.
Semoga bermanfaat.
• Pengertian Istilah
• Profesionalisme adalah suatu
pandangan untuk selalu berfikir,
berpendirian, bersikap dan bekerja
sungguh-sungguh, dengan disiplin,
jujur, dan penuh dedikasi untuk
mencapai hasil kerja yang memuaskan.
• Profesionalisme, berasal dari kata dasar
profesi. Profesi sering diartikan dengan
“pekerjaan” atau “job” kita sehari-hari.
Tetapi dalam kata profession tidak
hanya terkandung pengertian
“pekerjaan” saja, melainkan terpaku
juga suatu “panggilan”.
.
Profesionalisme Bekerja
• Anda seorang karyawan / pengusaha /
wiraswastawan / bos atau mungkin hanya
seorang penjaga counter produk di sebuah
supermarket?, mungkin itu semua tidaklah
penting untuk diperbincangkan di tulisan saya
kali ini, saya kutip judul diatas “Profesionalisme
Bekerja” merupakan sebuah kata yang mudah
di ucapkan namun pada hakekatnya susah
untuk dilaksanakan, mengapa susah? nanti kita
bahas, semua profesi pekerjaan dari yang
paling bawah hingga yang paling atas ( atau
kita sering dengar top level management )
membutuhkan prioritas “Profesional”.
• Etos kerja dan semangat seorang muslim sangat tinggi,
serta tidak pernah berputus asa karena Allah melarang hal
itu. Dalam suatu hadist (riwayat Ahmad) Rasulullah SAW
telah bersabda: “Apabila salah seorang kamu menghadapi
kiamat sementara di tangannya masih ada benih hendaklah
ia tanam benih itu”.
• Islam memiliki ajaran yang menjunjung tinggi nilai dasar
kerja dan mendorong umatnya bersikap profesional.
Sejarah membuktikan tatkala masyarakat Barat dan Eropa
menempatkan kelas pendeta dan militer pada kedudukan
tinggi, Islam justru menghargai orang-orang berilmu, para
pedagang, petani, tukang, dan pengarajin. Sebagai
manusia biasa, mereka tidak diunggulkan dari yang lain,
karena Islam menganut nilai persamaan di antara sesama
manusia. Ketinggian derajat manusia semata-mata diukur
dari ketakwaanya kepada Allah, yakni derajat keimanan
dan amal salehnya.
• Semua petunjuk yang ditemukan dalam Al Qur’an tersebut
menjadi landasan etis-telogis kerja dan pengembangan
etos profesionalisme setiap muslim, sehingga kaum
muslimin diharapkan memiliki semangat kerja dan etos
profesionalisme yang lebih tinggi dibanding umat lainnya.
• Dalam melakukan suatu karya atau pekerjaan,
seorang muslim tidak hanya demi memenuhi
kebutuhan hidupnya semata, melainkan karena
agama mendorongnya, dan oleh karenanya
merupakan salah satu bentuk pengabdian
(ibadah) kepada Tuhannya.
• Namun disayangkan, landasan telogis kerja dan
etos profesionalisme yang dimiliki umat Islam
tersebut di atas tidak sepenuhnya membumi
dan membudaya di kalangan masyarakat
muslim.
• Terjadi kecenderungan kemerosotan semangat
kerja dan etos profesionalisme di dunia Islam,
sehingga fakta menunjukkan sebagian besar
negeri-negeri mayoritas umat Islam dalam
keadaan terpuruk dan terbelakang.
• Dari para pakar sejarah menemukan antara lain
penyebab merosotnya etos profesionalisme adalah
akibat pemerintahan feodal yang dzalim. Pada masa
itu para elit bangsawan yang hidup bermewah-mewah
dan otoriter, menyebabkan motivasi umat untuk
bekerja menjadi merosot.
• Dalam keadaan tertindas, rakyat menjadi pasrah dan
tak berdaya, yang akhirnya menempuh kehidupan
“tasawuf” atau sufi dan menjadi seorang “zahid” yang
menghindari kehidupan dunia (lebih berorientasi pada
kehidupan akhirat) sampai yang bersikap apatis
terhadap dunia.
• Walaupun kebenaran alasan sejarah tersebut masih
banyak diperdebatkan, namun paling tidak dapat
menjadikan suatu peringatan agar sikap keberagaman
umat Islam telah benar-benar sesuai dengan
semangat Al Qur’an dan Sunnah.
Download