Kajian dampak keragaman iklim terhadap distribusi

advertisement
TINJAUAN PUSTAKA
Keragaman Iklim
Keragaman iklim merupakan perubahan nilai rerata atau varian dari unsurunsur iklim seperti radiasi matahari, suhu, curah hujan, kelembaban, angin dan
sebagainya dalam rentang waktu tertentu. Perubahan tersebut dapat berupa
kejadian iklim ekstrim pada seluruh ruang dan waktu dari masing-masing unsur
iklim, sehingga menyebabkan kondisi iklim yang tidak sama untuk
setiap
tahunnya (Meehl et al. 2000). Hal tersebut merupakan proses internal natural atau
variasi natural, atau akibat adanya campur tangan manusia pada sistem iklim.
Keragaman iklim dapat bersifat intra-seasonal (periode lebih pendek dari tiga
bulan) maupun inter-annual (periode dua tahun atau lebih) (IPPC 2002).
Keragaman iklim inter-annual antara lain adalah ENSO (El Nino and Southern
Oscillation) atau yang lebih dikenal dengan fenomena El Nino dan La Nina
(Pulhin et al. 2008).
Kejadian El Nino biasanya berasosiasi dengan kejadian kemarau panjang
atau kekeringan karena terjadinya penurunan curah hujan jauh dari normal
khususnya pada musim kemarau. Sebaliknya kejadian La Nina seringkali
berasosiasi dengan kejadian banjir karena terjadinya peningkatan curah hujan jauh
dari normal. Oleh karena itu, apabila sifat dari fenomena ini tidak dipahami baik
dari segi waktu pembentukannya, intensitas, serta lama berlangsungnya, dapat
menimbulkan dampak ekonomi yang cukup besar. Kejadian El Nino tahun 19971998 misalnya, telah menyebabkan terjadinya penurunan curah hujan sebesar 33%
pada musim kemarau dibandingkan rata-rata curah hujan selama 30 tahun terakhir
(Boer 2002).
Besar kecilnya dampak keragaman iklim pada suatu sistem tergantung pada
sensitivitas, kemampuan adaptif dan kerentanan dari sistem tersebut terhadap
keragaman iklim. Dampak tersebut dapat bersifat langsung, misalnya: berubahnya
hasil tanaman sebagai respon terhadap perubahan kondisi iklim rata-rata dan
keragaman suhu, atau tidak langsung, misalnya: kerusakan yang diakibatkan oleh
meningkatnya frekuensi kejadian banjir pada daerah pantai akibat meningkatnya
permukaan air laut. Kemampuan adaptif merupakan kemampuan dari sistem
6
tersebut menyesuaikan diri atau beradaptasi terhadap keragaman iklim sehingga
potensi kerusakan akibat keragaman iklim dapat berkurang (IPCC 2001 dalam
Boer et al. 2003).
Pada ekosistem pertanian, keragaman iklim menyebabkan terjadinya
perubahan biodiversitas serangga hama sebagai akibat dari peningkatan suhu,
perubahan curah hujan dan peningkatan frekuensi serta intensitas dari beberapa
kejadian iklim ekstrim sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan frekuensi
kejadian hama dan penyakit (IPPC 2002). La Nina dapat menyebabkan kondisi
iklim mikro terutama kelembaban nisbi menjadi lebih menguntungkan bagi
perkembangan
wereng batang cokelat. Selain itu, keragaman iklim dapat
menimbulkan intensitas kejadian hama dan penyakit menjadi lebih tinggi sebagai
akibat dari kurangnya efektivitas pestisida pada saat aplikasi (Budianto 2003;
Rosenzweig & Hillel 2008 ).
Iklim dan Kehidupan Serangga
Serangga seperti mahluk hidup lainnya perkembangannya dipengaruhi oleh
faktor iklim baik secara langsung maupun tidak langsung di antaranya curah
hujan, temperatur, kelembaban relatif udara dan fotoperiodisitas. Besarnya
pengaruh ini berbeda untuk tiap spesies serangga dan dampak secara langsung
dapat terlihat pada siklus hidup, keperidian, lama hidup, serta kemampuan
diapause serangga (Ganaha et al. 2007; Lastuvka 2009). Keragaman iklim dapat
mempengaruhi pertumbuhan populasi dan penyebaran serangga sehingga dalam
kurun waktu singkat dapat menimbulkan ledakan populasi serangga
hama
tertentu (Wiyono 2007; Dale 1994; Sunjaya 1970 dalam Koesmaryono 1985).
Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor pembatas dalam pertumbuhan dan
perkembangan serangga, seperti siklus hidup, dan kelangsungan hidup serangga.
Kisaran suhu yang sesuai bagi pertumbuhan serangga berhubungan erat dengan
karakteristik tempat suatu spesies hidup. Oleh karena itu, dalam hal adaptasi
lingkungan pada tempat yang berbeda karakteristik tempatnya,
suhu akan
berpengaruh terhadap laju pertumbuhan suatu spesies (Gutierrez et al. 2008).
Tjasyono (2004) mengemukakan bahwa serangga dapat tahan terhadap
7
kesenjangan suhu yang besar, misalnya beberapa larva nyamuk, kutu air, dan
kumbang air dapat berada di dalam air secara normal pada suhu 38-49 oC. Lebih
lanjut Leather dan Awmack (1998) menjelaskan bahwa respon serangga pada
suhu rendah maupun suhu tinggi tidak sama untuk semua spesies serangga. Suhu
untuk perkembangan awal serangga biasanya lebih rendah dibandingkan dengan
suhu untuk reproduksi.
Baco (1984) merangkum hasil penelitian Suenaga (1963) mengenai
perkembangan siklus hidup hama wereng cokelat bahwa kisaran suhu untuk
aktivitas normal imago wereng batang cokelat adalah 10-32 oC pada betina
makroptera dan 9-30 oC pada jantan makroptera. Kisaran suhu untuk aktivitas
normal instar IV dan V wereng batang cokelat adalah pada suhu 12-31oC.
Sementara itu, menurut Khan et al. (1991) siklus hidup larva instar IV penggerek
batang padi pada suhu tinggi (29-35 oC) dapat dengan cepat berubah menjadi
larva stadia V pada kondisi lingkungan dan makanan yang cukup. Laju
perkembangan pupa Chilo suppressalis meningkat secara linear dari kisaran suhu
15-30 oC, tetapi akan menurun jika suhu melebihi 35 oC. Pada kondisi tersebut
pupa akan mengalami kematian atau menghasilkan ngengat yang bentuk fisiknya
berubah.
Kelembaban
Kelembaban dapat mempengaruhi perkembangbiakan, pertumbuhan, dan
keaktifan serangga baik secara langsung maupun tidak langsung. Kemampuan
serangga bertahan terhadap keadaan kelembaban udara sekitarnya sangat berbeda
menurut jenisnya. Dalam hal ini kisaran toleransi terhadap kelembaban udara
berbeda untuk setiap spesies maupun stadia perkembangannya, tetapi kisaran
toleransi ini tidak jelas seperti pada suhu. Namun bagi serangga pada umumnya
kisaran toleransi terhadap kelembaban udara yang optimum terletak di dekat titik
maksimum, antara 73-100% (Andrewartha & Birch 1974).
Kelembaban udara dapat meningkatkan fekunditas dan fertilitas serangga.
Sebagai contoh, hasil penelitian IRRI tentang kelembaban relatif udara pada
wereng batang cokelat di Filipina menunjukkan bahwa hama tersebut akan
tertekan perkembangannya pada kelembaban 50-60%, dan sangat sesuai pada
kelembaban 80% (Mochida et al. 1986). Selanjutnya, Leather dan Awmack
8
(1998) menjelaskan bahwa laju oviposisi ngengat Helicoverpa armigera akan
meningkat seiring dengan meningkatnya kelembaban dan persentase telur yang
menetas lebih tinggi pada kondisi kelembaban rendah. Akan tetapi hal tersebut
tidak berpengaruh pada kualitas generasi berikutnya, hanya pada jumlah telur
yang menetas.
Hujan
Hujan mempunyai arti penting dalam kehidupan serangga, dan dapat
memberikan pengaruh secara langsung maupun tidak langsung pada pertumbuhan
serangga. Dampak secara langsung misalnya, hujan deras dapat mencuci kutudaun
dari tanaman inangnya, sedangkan dampak secara tidak langsung, dapat
meningkatkan kelembaban udara sehingga mendukung pertumbuhan populasi
hama (Dale 1994). Kelimpahan populasi serangga sangat berpengaruh pada
variasi musim hujan. Kurangnya hari hujan dapat menimbulkan kekeringan dan
kematian pada serangga, tetapi jika curah hujan tinggi, maka populasi hama
tersebut akan menurun akibat tercuci oleh hujan (Speight et al. 1999;
Koesmaryono 1985; Mochida et al. 1986).
Dampak Perubahan Iklim terhadap Serangga
Selama dekade belakangan ini, keragaman dan perubahan iklim telah
menimbulkan dampak yang sangat besar terhadap keanekaragaman hayati dan
fungsi ekosistem. Dampak yang paling besar pengaruhnya adalah pada ekosistem
pertanian yang menyebabkan terjadinya perubahan populasi dan status hama dan
penyakit akibat peningkatan suhu dan perubahan curah hujan (Holzkamper et al.
2011). Lebih lanjut Moraal et al. (2011) menjelaskan bahwa berdasarkan analisis
data perkembangan hama tahun 1946-2006, diketahui bahwa hampir semua
populasi hama hutan menunjukkan perubahan sebagai akibat dari perubahan
dalam pengelolaan hutan, pergeseran komposisi hutan, perubahan iklim dan
kedatangan hama baru.
Perubahan iklim menurut Patterson et al. (1999) dapat mempengaruhi
distribusi dan derajat infestasi serangga hama melalui dampak secara langsung
pada siklus hidup serangga dan secara tidak langsung melalui pengaruh iklim pada
tanaman inang, predator, parasitoid dan patogen serangga. Dampak terhadap
9
siklus hidup serangga termasuk di antaranya: lama hidup, fekunditas, diapause,
penyebaran, kematian dan adaptasi genetik. Lebih lanjut Hulle et al. (2010)
menyebutkan bahwa dampak secara langsung pemanasan global terhadap
serangga adalah terjadinya perubahan fisiologi serangga sehingga dapat
mempengaruhi interaksi antar spesies. Selain itu, dampak secara tidak langsung
yang ditimbulkan adalah terjadinya perubahan habitat serangga.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Chen dan McCarl (2001) diketahui
bahwa salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya ledakan populasi dan
migrasi hama merupakan pengaruh dari menurunnya efektivitas pestisida sebagai
dampak dari perubahan iklim. Perubahan iklim tersebut dapat berupa peningkatan
suhu dan durasi curah hujan yang tidak menentu. Disamping itu, Cannon (1998)
menjelaskan bahwa
serangga hama umumnya akan menjadi lebih berlimpah
populasinya seiring dengan meningkatnya suhu melalui sejumlah proses yang
saling terkait, termasuk di antaranya perubahan siklus hidup serangga.
Sebagai contoh, suhu merupakan faktor utama yang menentukan dalam
penyebaran hama kutudaun (aphid). Peningkatan suhu sebesar 2 oC di Inggris
dapat menyebabkan peningkatan populasi sebesar 18-23 ekor/individu aphid
dalam satu siklus hidup sehingga berpotensi dalam meningkatkan ukuran populasi
(Cannon 1998; Hulle et al. 2010). Disamping dapat meningkatkan jumlah
populasi hama, sebagian besar ledakan populasi serangga hama disebabkan oleh
adanya perubahan iklim dan peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer (Gray
2008). Selain itu, perubahan iklim juga dapat meningkatkan fragmentasi habitat
dan menyebabkan kepunahan organisme dalam skala kecil maupun besar
(Cormont et al. 2011).
Bioekologi Wereng Batang Cokelat (Nilaparvata lugens Stal)
Wereng batang cokelat (WBC) termasuk ordo Hemiptera, subordo
Auchenorrhynca, dan famili Delphacidae. Hama ini menyerang tanaman padi
sebagai tanaman inang utama dan inang lainnya dari famili Graminae. Hama
WBC mudah beradaptasi dengan lingkungannya dan termasuk mudah beradaptasi
dengan varietas tahan. Menurut Baehaki (1985) WBC merupakan hama bertipe
strategi-r dengan ciri: 1) populasi hama dapat menemukan habitatnya dengan
cepat, 2) berkembang biak dengan cepat dan mampu mempergunakan sumber
10
makanan dengan baik sebelum serangga lain ikut berkompetisi, 3) mempunyai
sifat menyebar dengan cepat ke habitat baru sebelum habitat lama tidak berguna
lagi, dan 4) hama ini mempunyai potensi biotik yang tinggi, dapat memanfaatkan
makanan yang banyak dalam waktu singkat sehingga terjadi ledakan populasi dan
mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit.
Telur WBC biasanya diletakkan secara berkelompok dalam jaringan
tanaman, terutama pada pelepah daun. Jumlah dan letak telur sangat bervariasi.
Apabila kepadatan populasi tinggi, telur dapat ditemukan pada bagian atas
tanaman (Baco 1984). Satu kelompok terdiri atas 3-21 butir telur. Bentuknya
lonjong agak melngkung berdiameter 0.067-0.133 mm dengan panjang antara
0.83-1.00 mm. satu ekor WBC betina tidak meletakkan telur hanya pada satu
rumpun, tetapi pada beberapa rumpun dengan berpindah-pindah (Baehaki 1987).
Di daerah tropis masa inkubasi telur berkisar antara 7-11 hari, stadia nimfa antara
10-15 hari. Pra-oviposisi 3-4 hari baik untuk brakhiptera maupun makroptera
(Dale 1994; Pathak & Khan 1994). Telur menetas antara 7-11 hari dengan ratarata 9 hari (Baehaki 1987). Nimfa dan serangga dewasa biasanya terdapat pada
pangkal batang tanaman padi di atas permukaan air. tetapi apabila populasi sangat
tinggi dapat ditemukan juga pada daun bendera dan pangkal malai (Subroto et al.
1992).
Pada umumnya persentase telur pada musim kemarau lebih rendah
dibandingkan dengan musim hujan. Hal tersebut diduga karena tingginya faktor
mortalitas terutama parasit dan predatornya (Subroto et al. 1992). Nilaparvata
lugens mempunyai 5 instar pada stadia nimfanya. Masing-masing instar ini dapat
dibedakan berdasarkan bentuk dari mesonotum dan metanotumnya serta panjang
tubuhnya (Baco 1984).
Serangga muda yang menetas dari telur disebut nimfa dan makanannya
serupa dengan induknya. Nimfa WBC mengalami lima kali pergantian kulit dan
rata-rata waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan stadium nimfa adalah
12.8 hari (Baco 1984). Lamanya waktu untuk menyelesaikan stadium nimfa
beragam, tergantung dari bentuk dewasa yang akan muncul. Nimfa dapat
berkembang menjadi dua
bentuk wereng dewasa. Bentuk pertama adalah
makroptera (bersayap panjang) yaitu WBC yang mempunyai sayap depan dan
11
sayap belakang normal. Bentuk kedua adalah brakhiptera (bersayap kerdil) yaitu
WBC dewasa yang mempunyai sayap depan dan sayap belakang tumbuh tidak
normal, terutama sayap belakang sangat rudimenter (Baehaki 1987).
Adanya dua bentuk sayap pada imago WBC menunjukkan bahwa WBC
brakhiptera
berfungsi
untuk
berkembang
biak
di
tempat
asal
perkembangbiakannya (breeding site) dan tetap tinggal di tempat itu. Fungsi
wereng makroptera adalah untuk migrasi ke tempat yang jauh dari tempat
perkembangbiakan semula, mencari tempat baru, dan pada generasi pertama akan
membentuk wereng brakhiptera. Munculnya betina makroptera pada setiap
kombinasi populasi terjadi pada generasi kedua pada saat kepadatan cukup tinggi
dan rusaknya tanaman. Imago makroptera lebih banyak muncul pada tanaman tua
daripada tanaman muda, dan kemunculan makroptera lebih banyak pada tanaman
setengah rusak daripada tanaman sehat (Baehaki & Widiarta 2009).
Dinamika Populasi Wereng Batang Cokelat
Studi sebaran spasial dan pengambilan sampel beruntun yang dilakukan
oleh Untung et al. (1988) menemukan bahwa distribusi spasial WBC pada awal
pertumbuhan tanaman padi adalah secara acak (random). Setelah mengalami
perkembangan populasi, bentuk distribusinya menjadi mengelompok, atau
mengikuti distribusi binomial negatif. Hasil penelitian Baehaki dan Widiarta
(2009) di Sukamandi menunjukkan bahwa, populasi WBC yang datang pertama
kali ke pertanaman adalah bentuk makroptera sebagai wereng imigran. Satu
pasang wereng makroptera, pada generasi pertama dapat menghasilkan wereng
dewasa 174.5 ekor dan pada generasi kedua mencapai 3,700 ekor. Cepatnya
perkembangan populasi WBC disebabkan oleh tingginya fekunditas yang
mencapai 805-908 telur/betina pada generasi ketiga.
Setelah telur menetas, WBC berkembang biak secara eksponensial untuk
satu atau dua generasi pada tanaman padi fase vegetatif, tergantung pada saat
migrasinya. Apabila migrasi terjadi pada umur 2 atau 3 minggu setelah tanam,
maka WBC dapat berkembang biak sebanyak dua generasi. Puncak populasi
nimfa generasi pertama (G1) dan kedua (G2) berturut-turut muncul pada umur 5-6
minggu setelah tanam dan 10-11 minggu setelah tanam. Apabila migrasi terjadi
setelah tanaman berumur 5-6 minggu setelah tanam, puncak generasi nimfa hanya
12
dijumpai satu kali, yaitu pada umur 9-10 minggu setelah tanam. Pada keadaan
lain kepadatan populasi tertinggi terjadi pada fase pembungaan tanaman padi
yaitu pada umur 9-11 minggu setelah tanam. Apabila kepadatan populasi
mencapai 300-500 ekor per rumpun, tanaman akan segera mati kekeringan
(hopper burn) (Ditlin 1986).
Bioekologi Penggerek Batang Padi
Spesies penggerek batang padi yang paling dominan dan selalu muncul pada
setiap musim tanam di Pantai Utara Jawa Barat adalah penggerek batang padi
kuning dan putih. Kedua spesies hama tersebut berkembang secara terus-menerus
sepanjang tahun. Dominasi kedua spesies hama tersebut sering berubah-ubah,
misalnya tahun 1995 di kawasan Pantai Utara Jawa Barat populasi penggerek
batang padi putih rendah sekali, sedangkan populasi penggerek batang padi
kuning meningkat 30%. Sejak saat itu penggerek batang padi kuning lebih
mendominasi dengan populasi lebih dari 90%. Gejala kerusakan tanaman padi
yang disebabkan oleh penggerek batang padi kuning hampir sama dengan yang
disebabkan oleh penggerek batang padi putih (Suharto & Usyati 2009).
Penggerek Batang Padi Kuning
Telur yang dihasilkan imago betina diletakkan berkelompok berkisar antara
50-150 butir/kelompok, ditutupi rambut halus berwarna cokelat kekuningan. Telur
diletakkan pada malam hari antara pukul 19.00-21.00 selama 3-5 malam sejak
malam pertama (Dale 1994). Telur diletakkan pada daun, pelepah daun dan
kadang-kadang pada pangkal batang (Pathak & Khan 1994). Keperidian satu ekor
betina adalah 100-600 butir tiap betina, stadium telur antara 6-7 hari. Pada saat
telur menetas, larva keluar melalui 2-3 lubang yang dibuat pada bagian bawah
telur menembus permukaan daun (Kanno 1984).
Larva yang baru muncul (instar 1) biasanya bergerak menuju bagian ujung
daun dan menggantung dengan benang halus atau membuat tabung kecil, terayun
oleh angin dan jatuh ke bagian tanaman lain atau permukaan air (Balitpa 2009b).
Larvanya berwarna putih kekuningan sampai kehijauan dengan panjang
maksimum 25 mm. Stadium larva antara 28-35 hari, dan terdiri atas 5-7 instar
(Dale 1994). Selama hidupnya larva dapat berpindah dari satu tunas ke tunas
lainnya dengan cara membuat gulungan ujung daun, menjatuhkan diri ke
13
permukaan air dan memencar ke rumpun yang lain. Larva instar akhir tinggal di
dalam batang sampai stadium pupa (Balitpa 2009b).
Sebelum menjadi pupa, larva membuat lubang keluar pada pangkal batang
dekat permukaan air atau tanah, yang ditutupi membran tipis untuk jalan keluar
setelah menjadi imago. Pupa berwarna kekuning-kuningan atau agak putih.
Kokon berupa selaput benang berwarna putih dengan panjang 12-15 mm. Lama
stadium pupa antara 6-23 hari (Pathak & Khan 1994). Ngengat jantan mempunyai
bintik-bintik gelap pada sayap depan, sedangkan ngengat betina berwarna kuning
dengan bintik hitam di bagian tengah sayap depan. Panjang ngengat jantan 14 mm
dan betina 17 mm. Ngengat aktif pada malam hari dan tertarik cahaya, imago
dapat terbang dengan jangkauan mencapai 6-10 km. Lama hidup ngengat antara
5-10 hari dengan siklus hidup 39-58 hari (Khan et al. 1991; Balitpa 2009b).
Karakteristik penggerek batang padi kuning adalah kelompok telur
diletakkan pada daun bagian ujung, hanya seekor larva dalam satu tunas, pupa
berada di dalam pangkal tunas di bawah permukaan tanah, tanaman inang utama
adalah padi dan tanaman padi liar. Perubahan kepadatan populasi penggerek
batang padi kuning di lapangan sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim (curah
hujan, suhu, kelembaban), varietas padi yang ditanam, dan musuh alami yaitu
parasitoid, predator, dan patogen (Dale 1994; Balitpa 2009b).
Penggerek Batang Padi Putih
Telur yang diletakkan penggerek batang padi putih berkisar antara 70-260
butir/kelompok, diletakkan dipermukaan atas daun atau pelepah, mirip telur
penggerek batang padi kuning. Kelompok telur ditutupi rambut halus, berwarna
cokelat kekuning-kuningan, stadium telur 4-9 hari. Larvanya mirip dengan
penggerek batang padi kuning, panjang maksimal 21 mm, berwarna putih
kekuningan. Larva yang sudah berkembang penuh pada saat menjelang musim
hujan berakhir dan setelah panen akan mengalami diapause pada batang padi tua
dan tunggul padi. Lamanya diapause tergantung pada lamanya musim kemarau.
Setelah turun hujan mencapai 10 mm dan saat tanah lembab, larva yang
berdiapause akan menjadi pupa dan selanjutnya menjadi ngengat. Stadium larva
19-31 hari, saat diapause dapat berlangsung 3 bulan (Dale 1994).
14
Imago keluar dari pupa dalam periode waktu yang relatif bersamaan dan
meletakkan telur di persemaian. Imago berwarna putih dengan panjang betina 13
mm dan jantan 11 mm, imago tertarik cahaya. Imago aktif di lapangan selama
musim hujan. Tiga dari lima generasi dihasilkan selama musim tanam padi dan
tergantung pada durasi penanaman, jenis varietas, waktu panen dan penanaman
padi. Generasi pertama dari menyebabkan kerusakan pada persemaian dan
tanaman yang baru ditransplanting. Generasi kedua dan tiga menyebabkan
kerusakan pada fase vegetatif dan generatif (Dale 1994).
Karakteristik penggerek batang padi putih antara lain: kelompok telur, larva,
dan pupa mirip penggerek batang padi kuning. Larva mampu berdiapause selama
musim kemarau di dalam pangkal batang. Masa terbang ngengat pada awal musim
hujan terjadi hampir bersamaan. Dinamika populasi penggerek batang padi putih
sangat dipengaruhi oleh perubahan lingkungan terutama faktor iklim (curah
hujan), irigasi, dan musuh alami (Balitpa 2009b). Hama ini hidup pada dataran
rendah hingga ketinggian 200 m dari permukaan laut. Serangannya tidak terjadi
pada daerah dengan intensitas curah hujan tinggi, karena larva tidak dapat hidup
pada kondisi basah ekstrim (Dale 1994).
Dinamika Populasi Penggerek Batang Padi
Perkembangan populasi penggerek batang padi mengalami perubahan
dengan adanya perubahan pola tanam padi. Perubahan pola tanam padi erat
kaitannya dengan faktor iklim, khususnya curah hujan. Selain faktor iklim, faktorfaktor yang dapat memicu terjadinya peningkatan populasi penggerek batang
adalah terjadinya perubahan biologi hama, dari yang tadinya berdiapause menjadi
tidak berdiapause (Balitpa 2009b). Disamping itu, ledakan penggerek batang padi
juga berhubungan dengan komposisi musuh alami di ekosistem padi misalnya
parasitoid (Rauf 2000). Lebih lanjut Khan et al. (1991) menjelaskan bahwa
perkembangan populasi penggerek batang padi dipengaruhi oleh umur tanaman,
varietas tanaman dan kesuburan tanah. Ngengat penggerek batang padi lebih
menyukai tanaman muda untuk meletakkan telur daripada tanaman tua. Tanaman
padi yang dipupuk dengan nitrogen dosis tinggi ditemukan telur penggerek batang
lebih banyak dan perkembangan larva menjadi lebih baik daripada tanaman yang
tidak dipupuk.
15
Pemodelan Perkembangan Organisme Pengganggu Tumbuhan
Penerapan pengelolaan hama secara terpadu mencakup upaya secara
preemtif dan responsif. Upaya preemtif adalah upaya pengendalian yang
didasarkan pada informasi dan pengalaman status organisme pengganggu
tumbuhan (OPT) waktu sebelumnya. Upaya ini mencakup penentuan pola tanam,
penentuan varietas, penentuan waktu tanam, keserentakan tanam, pemupukan,
pengairan, pengaturan jarak tanam, penyiangan, penggunaan agen hayati dan
teknik budidaya lainnya untuk menciptakan tanaman sehat. Upaya responsif
adalah upaya pengendalian yang didasarkan pada informasi status OPT dan faktor
yang berpengaruh pada musim yang sedang berlangsung, serta pertimbangan
biaya manfaat dari tindakan yang perlu dilakukan. Upaya ini antara lain seperti
penggunaan musuh alami, pestisida nabati, pengendalian mekanis, atraktan dan
pestisida kimia (Baehaki & Widiarta 2009).
Untuk melaksanakan tindakan tersebut di atas diperlukan informasi
ekologis, terutama tentang perkembangan populasi atau serangan OPT dan musuh
alaminya,
perkembangan
tanaman
inang,
dan
faktor-faktor
lain
yang
mempengaruhi perkembangan OPT. Informasi tersebut artinya merupakan
pemahaman terhadap agroekosistem yang akan dikelola dengan melakukan
analisis terhadap data historis dan ekologis atau analisis ekosistem. Hasil analisis
ekosistem tersebut dapat disusun dalam suatu model prediksi kejadian serangan
OPT atau model peramalan OPT, yang selanjutnya hasil aplikasi model peramalan
berupa informasi peramalan OPT pada suatu daerah atau lokasi dapat dijadikan
input dalam merencanakan agroekosistem atau merencanakan usahatani.
Download