BAB VII - Repository | UNHAS

advertisement
58
BAB V
PEMBAHASAN
5.1
Fasies Metamorfisme Daerah Penelitian
Fasies metamorfisme didasarkan atas dominasi mineral penyusunnya yang
ditentukan pada salah satu mineral penyusun yang tetap pada kondisi metamorfisme
tertentu. Dengan kata lain terbentuk pada kondisi tekanan dan temperatur
metamorfisme tertentu yang bekerja selama proses metamorfisme (Eskola, 1915
dalam Mason, 1990).
Hubungan antara keberadaan fasies metamorf berdasarkan kondisi tekanan
dan temperatur pembentukannya tidak memiliki batasan yang jelas. Hal ini
disebabkan karena sulitnya menentukan besarnya tekanan dan juga temperatur yang
telah bekerja secara pasti. Pembuatan skema fasies metamorf ditentukan oleh mineral
penyusun batuan yang memiliki persentase yang lebih besar, sebagaimana halnya
dengan batuan sedimen dan batuan beku. Penamaan fasies metamorf didasarkan atas
stabilitas batuan metamorf yang dimiliki (seperti greenschist dan eklogit) dan pada
beberapa bagian akan diketahui setelah mineral-mineral penyusunnya telah
diketahui.
Klasifikasi fasies metamorf adalah penyajian proses metamorfisme sebagai
suatu proses dalam satu bagian kondisi tekanan dan temperatur yang telah
dikemukakan oleh Bucher and Frey (1994) yang menguraikan hubungan antara
kondisi tekanan dan temperatur pada proses metamorfisme, reaksi-reaksi
58
59
metamorfisme dan kumpulan mineral penyusunnya, sehingga dikenal 6 jenis fasies
metamorfisme, yang meliputi: fasies subgreenschist, fasies greenschist, fasies
amfibolit, fasies granulit, fasies sekis biru, dan fasies eklogit untuk metamorfisme
regional. Sedangkan pada metamorfisme kontak dijumpai fasies albit epidot hornfles,
fasies hornblende hornfles, fasies piroksin hornfles dan fasies sanidinit.
Salah satu klasifikasi fasies metamorfisme adalah yang dikemukakan oleh
Bucher and Frey, (1994) (Tabel 5.1). Klasifikasi ini terdiri atas 6 jenis fasies
metamorfisme, yang meliputi fasies sub sekis hijau, fasies sekis hijau, fasies
amfibolit, fasies granulit, fasies sekis biru, dan fasies eklogit.
Tabel 5.1 Urutan-urutan fasies metamorfisme beserta kumpulan mineral pencirinya
(Bucher and Frey, 1994).
Fasies
Subgreenschist
Diagnostic minerals and assemblages
Laumontite, prehnite + pumpellyite, prehnite + actinolite, pumpellyite
+ actinolite, pyrophyllite
Greenschist
Actinolite + chlorite + epidote + albite ± kuarsa
Chloritoid
Amfibolit
Hornblende + plagioclase
Staurolite
Granulite
Orthopyroxene + clinopyroxene + plagioclase, sapphirine, osumilite,
kornerupine
no staurolite, no muscovite
Blueschist
Glaucophane, lawsonite, jadeitic pyroxene, aragonite
Mg-Fe-carpholite
no biotite
Eclogit
Omphacite + garnet
no plagioclase
Fasies metamorfisme daerah penelitian ditentukan atas dasar dominasi
kumpulan
mineral-mineral
penyusun
dari
batuan
metamorf,
yang
dapat
mengindikasikan temperatur dan tekanan pembentukannya. Berdasarkan hal tersebut,
60
serta mengacu pada klasifikasi fasies metamorfisme yang digunakan, yaitu
klasifikasi yang dikemukakan oleh (Bucher dan Frey, 1994), maka fasies
metamorfisme yang berkembang pada daerah penelitian termasuk dalam fasies sekis
hijau, sekis biru dan eklogit. (Gambar 5.1)
5.1.1 Fasies Sekis Hijau
Berdasarkan atas hasil analisis petrografi yang dilakukan pada nomor sampel
ST BM 01, ST BM 07, ST BM 10 dan ST BM 12 litologi sekis yang terdapat pada
daerah penelitian terdiri atas kumpulan mineral-mineral yang mengindikasikan fasies
sekis hijau (Bucher and Frey, 1994) (Tabel 5.2), yaitu terdiri atas mineral klorit,
aktinolit dan kuarsa serta mineral penyerta lainnya seperti epidot, glaukopan,
muskovit, biotit, phengit dan garnet.
Tabel 5.2 Kumpulan mineral penyusun fasies sekis hijau pada daerah penelitian
dan persentasenya berdasarkan hasil pengamatan petrografis.
Nama Mineral
Persentase per stasiun (%)
ST BM01
ST BM07
ST BM 10
ST BM12
Actinolite
15
-
-
10
Chlorite
35
-
-
-
Kuarsa
15
-
35
5
Epidote
25
30
20
25
Glaucophane
10
-
-
-
Muscovite
-
60
25
25
Phengite
-
5
-
-
Biotite
-
5
5
-
Garnet
-
-
15
35
Berdasarkan pengamatan di lapangan dengan nomor sampel ST BM01,
litologi yang dijumpai berupa sekis hijau yang memiliki ciri fisik berupa warna hijau
keabu-abuan bila dalam kondisi segar, dan memperlihatkan warna kehitaman jika
61
dalam keadaan lapuk, tekstur lepidoblastik, struktur berfoliasi (schistose) dengan
jurus foliasi antara N10oE dan kemiringan foliasi 35o, komposisi mineral klorit,
nama batuan Sekis Klorit (Travis, 1955) (foto 5.1)
Kenampakan petrografis sekis klorit dengan nomor sayatan ST BM01, pada
kenampakan nikol sejajar memperlihatkan warna kuning kecoklatan, warna
interferensi putih kecoklatan, tekstur lepidoblastik, bentuk mineral hypidioblastik xenoblastik, ukuran mineral < 0.2 – 0.7 mm, struktur schistose, tersusun oleh mineral
klorit (35%), epidot (25%), aktinolit (15%), kuarsa (15%) dan glaukopan (10%).
Nama batuan : Sekis Klorit – Epidot (Travis, 1955) (foto 5.2).
Foto 5.1. Kenampakan singkapan sekis klorit yang memperlihatkan struktur
foliasi pada salo pangkejene difoto relatif ke arah N 320oE pada stasiun
BM01.
62
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
A
A
B
B
C
C
D
D
E
E
F
F
G
G
H
H
1
Foto 5.2
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Mikrofotograf sekis klorit – epidot STBM01 dengan komposisi mineral
klorit (Chl), aktinolit (Act), kuarsa (Qtz), epidot (Ep) dan glaukopan
(Gln) dengan perbesaran 10x pada kenampakan nikol silang.
Kenampakan lapangan dari sekis hijau STBM07, dalam keadaan segar
memperlihatkan warna hijau keabu - abuan, lapuk berwarna abu – abu kecoklatan,
tekstur lepidoblastik, struktur berfoliasi (schistose) dengan jurus foliasi N350oE dan
kemiringan foliasi 63o, komposisi mineral muskovit dan biotit, nama batuan Sekis
Muskovit (Travis, 1955). (foto 5.3).
Kenampakan petrografis dari sekis muskovit dengan nomor sayatan
STBM07, pada kenampakan nikol sejajar memperlihatkan warna kuning kecoklatan,
warna interferensi hijau keabu – abuan, tekstur lepidoblastik, bentuk mineral
hypidioblastik - xenoblastik, ukuran mineral < 0.25 – 1 mm, struktur schistose,
tersusun oleh mineral muskovit (60%), epidot (30%), phengit (5%) dan biotit (5%).
Nama batuan : Sekis Muskovit – Epidot (Travis, 1955) (foto 5.4).
63
Foto 5.3. Kenampakan singkapan sekis muskovit yang memperlihatkan struktur
foliasi pada salo Pateteyang difoto relatif ke arah N80oE pada stasiun
BM07.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
A
A
B
B
C
C
D
D
E
E
F
F
G
G
H
H
1
Foto 5.4
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Mikrofotograf sekis muskovit – epidot ST BM07 dengan komposisi
mineral muskovit (Ms), phengit (Phg), epidot (Ep) dan biotit (Bt)
dengan perbesaran 10x pada kenampakan nikol silang.
64
Kenampakan lapangan sekis hijau ST BM10, dalam keadaan segar
memperlihatkan warna hijau keabu-abuan, lapuk warna kecoklatan, tekstur
nematoblastik, struktur berfoliasi jurus foliasi N 340o E dan kemiringan foliasi
antara 60o-67o,
komposisi mineral muskovit dan garnet, nama batuan: Sekis
Muskovit (Travis, 1955) (foto 5.5).
Kenampakan petrografis dari sayatan ST BM10, pada kenampakan nikol
sejajar memperlihatkan warna kuning kecoklatan, pada nikol silang memperlihatkan
warna abu-abu kecoklatan - kehijauan, tekstur lepidoblastik, bentuk mineral
hypidioblastik - xenoblastik, ukuran mineral < 0.25 – 1mm, struktur schistose,
tersusun oleh kuarsa (35%), muskovit (25%), epidot (20%), garnet (15%) dan biotit
(5%). Nama Batuan: Sekis Kuarsa – Muskovit (Travis, 1955) (foto 5.6).
Foto 5.5. Kenampakan singkapan sekis klorit yang memperlihatkan struktur
foliasi pada salo Pateteyang difoto relatif ke arah N220oE pada stasiun
BM10.
65
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
A
A
B
B
C
C
D
D
E
E
F
F
G
G
H
H
1
Foto 5.6
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Mikrofotograf sekis kuarsa – muskovit STBM10 dengan komposisi
mineral muskovit (Ms), kuarsa (Qz), biotit (Bt), garnet (Grt) dan
epidot (Ep) pada kenampakan nikol silang dengan perbesaran 50 kali.
Kenampakan lapangan sekis mika ST BM12, dalam keadaan segar
memperlihatkan warna abu – abu kehijauan, lapuk berwarna abu – abu kecoklatan,
tekstur lepidoblastik, struktur berfoliasi (schistose) dengan jurus foliasi N 350o E dan
kemiringan foliasi 63o, komposisi mineral muskovit, nama batuan Sekis Muskovit
(Travis, 1955). (foto 5.7).
Kenampakan petrografis sekis muskovit dengan nomor sayatan ST BM12,
pada kenampakan nikol sejajar memperlihatkan warna kuning kecoklatan, warna
interferensi hijau keabu – abuan, tekstur lepidoblastik, bentuk mineral hypidioblastik
- xenoblastik, ukuran mineral < 0.1 – 3 mm, struktur schistose, tersusun oleh mineral
garnet (35%), muskovit (25%), epidot (25%), aktinolit (10%), dan kuarsa (5%).
Nama batuan: Sekis Garnet – Muskovit (Travis, 1955) (foto 5.8).
66
Foto 5.7. Kenampakan singkapan sekis muskovit yang memperlihatkan struktur
foliasi pada salo Pateteyang difoto relatif ke arah N 200oE pada stasiun
BM12.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
A
A
B
B
C
C
D
D
E
E
F
F
G
G
H
H
1
Foto 5.8
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Mikrofotograf sekis garnet – muskovit STBM12 dengan komposisi
mineral garnet (Grt), aktinolit (Act), epidot (Ep) muskovit (Ms) dan
kuarsa (Qz) dengan perbesaran 10x pada kenampakan nikol silang.
67
5.1.2 Fasies Sekis Biru
Berdasarkan atas hasil analisis petrografi yang dilakukan pada nomor sampel
ST BM13, ST BM14 dan ST BM16. Litologi sekis yang terdapat pada daerah
penelitian terdiri atas kumpulan mineral-mineral yang mengindikasikan fasies sekis
biru (Bucher and Frey, 1994) (Tabel 5.3), yaitu terdiri atas mineral glaukopan, jadeit
dan lawsonit, serta mineral penyerta lainnya seperti staurolit dan gernet.
Tabel 5.3
Kumpulan mineral penyusun fasies sekis biru pada
daerah penelitian dan persentasenya berdasarkan hasil
pengamatan petrografis.
Nama Mineral
Persentase per stasiun (%)
ST BM13
ST BM14
ST BM16
Glaucophane
20
15
35
Jadeit
40
25
-
Lawsonite
30
20
15
-
-
30
10
40
20
Staurolit
Garnet
Kenampakan lapangan sekis muskovit STBM13, dalam keadaan segar
memperlihatkan warna abu-abu, lapuk warna abu-abu kecoklatan, tekstur
nematoblastik, struktur berfoliasi jurus foliasi antara N340oE dan kemiringan foliasi
60o, komposisi mineral glaukopan nama batuan: Sekis Glaukopan (Travis, 1955)
(foto 5.9).
Kenampakan petrografis dari sekis biru STBM13, pada kenampakan nikol
sejajar memperlihatkan berwarna abu-abu kecoklatan, tekstur nematoblastik, warna
interferensi hijau kecoklatan, bentuk mineral hypidioblastik, ukuran mineral 0.03 –
0.6 mm, struktur schistose, tersusun oleh mineral jadeit (40%), lawsonit (30%),
68
glaukopan (20%) dan garnet (10%) dan Nama Batuan: Sekis Jadeit – Lawsonit
(Travis, 1955) (foto 5.10)
Foto 5.9. Kenampakan singkapan sekis glaukopan yang memperlihatkan struktur
foliasi pada salo Pateteyang difoto relatif ke arah N170oE pada stasiun
BM13.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
A
A
B
B
C
C
D
D
E
E
F
F
G
G
H
H
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Foto 5.10 Mikrofotograf sekis jadeit – lawsonit STBM13 dengan komposisi
mineral glaukopan (Gln), lawsonit (Lws), garnet (Grt), dan jadeit (Jdt)
dengan perbesaran 50x pada kenampakan nikol silang.
69
Kenampakan lapangan
sekis biru STBM14, dalam keadaan segar
memperlihatkan warna abu-abu kebiruan, lapuk berwarna abu-abu kecoklatan,
tekstur nematoblastik, struktur berfoliasi jurus foliasi N340oE dan kemiringan foliasi
64o,
komposisi
mineral
glaukopan,
nama
batuan:
Sekis
Glaukopan
(Travis, 1955) (foto 5.11).
Kenampakan petrografis dari sekis biru STBM14, pada kenampakan nikol
sejajar memperlihatkan warna kuning kecoklatan, tekstur nematoblastik, warna
interferensi hijau kecoklatan, bentuk mineral hipidioblastik, ukuran mineral 0.05 – 3
mm, struktur schistose, tersusun oleh mineral garnet (40%), jadeit (25%), lawsonit
(20%) dan glaukopan (15%) Nama Batuan: Sekis Garnet – Jadeit (Travis, 1955)
(foto 5.12).
Foto 5.11. Kenampakan singkapan sekis glaukophan yang memperlihatkan
struktur foliasi pada salo Pateteyang difoto relatif ke arah N 190oE
pada stasiun BM14.
70
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
A
A
B
B
C
C
D
D
E
E
F
F
G
G
H
H
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Foto 5.12 Mikrofotograf sekis garnet – jadeit STBM14 dengan komposisi
mineral glaukopan (Gln), lawsonit (Lws), garnet (Grt) dan jadeit (Jdt)
dengan perbesaran 50x pada kenampakan nikol silang.
Kenampakan lapangan sekis glaukopan STBM16, dalam keadaan segar
memperlihatkan warna abu-abu kebiruan, lapuk warna abu-abu kecoklatan, tekstur
nematoblastik, struktur berfoliasi jurus foliasi N340oE dan kemiringan foliasi 64o,
komposisi mineral glaukopan nama batuan: Sekis Glaukopan (Travis, 1955) (foto
5.13).
Kenampakan petrografis dari sekis glaukopan STBM16, pada kenampakan
nikol sejajar memperlihatkan warna kuning kecoklatan, tekstur nematoblastik, warna
interferensi hijau kecoklatan, bentuk mineral hipidioblastik, ukuran mineral 0.05 –
0,4 mm, struktur schistose, tersusun oleh mineral glaukopan (35%), staurolit (30%),
garnet (20%) dan lawsonit (15%.) Nama Batuan: Sekis Glaukopan – Staurolit
(Travis, 1955) (foto 5.14).
71
Foto 5.13. Kenampakan singkapan sekis glaukopan yang memperlihatkan
struktur foliasi pada salo Pateteyang difoto relatif ke arah N 200oE
pada stasiun BM16.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
A
A
B
B
C
C
D
D
E
E
F
F
G
G
H
H
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Foto 5.14 Mikrofotograf sekis glaukopan – staurolit STBM16 dengan komposisi
mineral glaukopan (Gln), staurolit (Str), garnet (Grt) dan lawsonit
(Lws), dengan perbesaran 10x pada kenampakan nikol silang.
72
5.1.3
Fasies Eklogit
Berdasarkan atas hasil analisis petrografi yang dilakukan pada nomor sampel
STBM17. Litologi sekis yang terdapat pada daerah penelitian terdiri atas kumpulan
mineral-mineral yang mengindikasikan fasies eklogit (Bucher and Frey, 1994) (Tabel
5.4), yaitu terdiri atas mineral garnet dan ompasit, serta mineral penyerta lainnya
seperti glaukopan, rutil, jadeit, dan klorit.
Tabel 5.4
Kumpulan mineral penyusun fasies eklogit pada daerah
penelitian dan persentasenya berdasarkan hasil
pengamatan petrografis.
Nama Mineral
Persentase per stasiun (%)
ST BM 17
Garnet
40
Glaucophane
20
Jadeit
10
Rutil
10
Klorit
5
Omphasite
15
Kenampakan lapangan dari batuan metamorf STBM17, dalam keadaan segar
memperlihatkan warna hijau kebiruan, lapuk berwarna kehitaman, tekstur
porfiroblastik, struktur non – foliasi, dijumpai dalam bentuk blok – blok eklogit.
Komposisi mineral garnet, ompasit dan glaukopan, nama batuan Eklogit (Travis,
1955). Dalam keadaan segar dijumpai pada bagian hilir sungai Pateteyang, dan pada
bagian tengah salo Pateteyang (foto 5.15).
Kenampakan petrografis dari eklogit dengan nomor sayatan ST BM17, pada
kenampakan nikol sejajar memperlihatkan warna kuning kecoklatan, warna
interferensi hijau kebiruan, tekstur granoblastik, bentuk mineral hypidioblastik,
ukuran mineral < 0.03 – 2 mm, struktur porfiroblastik, tersusun oleh mineral garnet
73
(35%), ompasit (20%), glaukopan (20%), jadeit (10%), rutil (10%) dan klorit (5%).
Nama Batuan : Eklogit (Travis, 1955) (foto 5.16).
Foto 5.15. Kenampakan blok-blok eklogit yang tersingkap pada salo Pateteyang
yang difoto relatif ke arah N 300oE pada stasiun BM17.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
A
A
B
B
C
C
D
D
E
E
F
F
G
G
H
H
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Foto 5.16. Mikrofotograf eklogit STBM17, dengan komposisi mineral ompasit
(Omp), glaukopan (Gln), jadeit (Jdt), rutil (Rtl) dan klorit (Chl) pada
kenampakan nikol sejajar dengan perbesaran 50 kali.
Gambar 5.1 Peta Sebaran Fasies
74
75
5.2
Hubungan Fasies Metamorfisme Terhadap Temperatur dan Tekanan
Berdasarkan hasil analisis petrografi pada sayatan nomor sampel ST BM01,
STBM07, STBM10 dan STBM12, dapat diinterpretasikan bahwa sayatan – sayatan
batuan tersebut menujukkan fasies metamorfisme greenschist (metabasic rock) yang
yang dipengaruhi oleh temperatur sekitar 350oC – 510oC pada tekanan sekitar 2 - 9
kbar. Untuk sayatan nomor sampel STBM13, STBM14 dan STBM16, menunjukkan
bahwa sayatan batuan ini termasuk dalam fasies metamorfisme blueschist
(metabasic rock) yang dipengaruhi oleh temperatur sekitar 250oC – 470oC pada
tekanan sekitar 6-17 kbar. Sedangkan untuk sayatan dengan nomor sampel ST
BM17, dapat diinterpretasikan bahwa sayatan menujukkan fasies metamorfisme
eclogite (metabasic rock) yang dipengaruhi oleh temperatur sekitar 550oC – 900oC
pada tekanan sekitar 13-17 kbar (Gambar 5.2). (Yardley, 1989 dalam Graha,1987).
Tabel 5.5 Fasies batuan metamorf pada daerah salo Pateteyang beserta kumpulan mineral
pencirinya.
Fasies
Sekis hijau
Kumpulan Mineral Penciri
Aktinolit + klorit + epidot + kuarsa
Glaukopan, muskovit, phengit, biotit dan garnet
Sekis biru
Glaukopan, lawsonit, jadeit
Staurolit, garnet
Eklogit
Ompasit + garnet
Glaukopan, jadeit, rutil, klorit
Berdasarkan kumpulan mineral - mineral yang menyusun batuan metamorf
ini, maka dapat diinterpretasikan bahwa batuan ini termasuk dalam metamorfisme
regional yang dipengaruhi oleh tekanan dan temperatur yang bekerja secara bersamasama sehingga memungkinkan terbentuknya penjajaran mineral (foliasi) yang jelas
76
pada batuan (tabel 5.5). Berdasarkan pada identifikasi mineral-mineral yang ada pada
batuan metamorf lokasi penelitian, didapatkan mineral-mineral klorit, mika, aktinolit,
glaukopan, epidot, omphasit dan garnet yang menunjukkan bahwa mineral tersebut
terbentuk pada zona mesozone hingga katazone dengan suhu pembentukan 350oC –
1200oC.
Tabel 5.6 Pembagian zona pada proses metamorfisme regional berdasarkan tekanan dan
temperaturnya (Bucher & Frey, 1994).
Zona
Epizone
(zona teratas)
Mesozone
(zona sedang)
Katazone
(zona bawah)
Tekanan
Hidrostatik
Terarah (stress)
Kadang-kadang
Rendah
dapat sangat tinggi
Rendah – Sedang
Sangat tinggi
Sangat tinggi
Rendah
Temperatur
Rendah – Sedang
350oC.
Sedang
o
(350 C – 500oC)
Sangat tinggi
(500oC – 1200oC)
Gambar 5.2. Gambar yang memperlihatkan hubungan antara temperatur dan
tekanan pada pembentukan fasies metamorfisme daerah Sungai
Pateteyang.
77
5.3
Tatanan Tektonik dan Metamorfisme Daerah Penelitian
Pada zaman Trias terjadi proses subduksi dimana lempeng oseanik menunjam
di bawah lempeng kontinen. Pada zona konvergen ini, merupakan awal mula
terjadinya proses metamorfisme, yang dimulai dengan pembentukan fasies sekis
hijau pada temperatur sekitar 350oC – 510oC pada tekanan sekitar 2 - 9 Kbar
membentuk kumpulan mineral aktinolit, klorit, kuarsa, epidot, glaukophan,
muskovit, phengit, biotit dan garnet. Proses subduksi terus berlanjut mengakibatkan
terjadinya peningkatan tekanan sekitar 6 – 17 Kbar pada suhu sekitar 250oC – 470oC
membentuk fasies sekis biru dengan kumpulan mineral glaukophan, lausonit,
staurolit, jadeit dan garnet. Oleh karena lempeng oseanik terus bergerak masuk
mendekati lapisan astenosfer, dimana pada daerah ini terjadi peningkatan suhu pada
fasies sekis biru yaitu sekitar 500oC – 900oC dan membentuk fasies eklogit, yang
dicirikan oleh kumpulan mineral garnet, glaukopan, jadeit, rutil, klorit, dan ompasit.
Pada zaman Miosen Atas terjadi proses tektonik berupa overthrusting, yang
mengakibatkan
terjadinya
pengangkatan
batuan
metamorf
ke
permukaan
diindikasikan oleh adanya proses prograde pada batuan metamorf fasies sekis hijau,
yang dicirikan oleh hadirnya mineral glaukopan pada stasiun BM01 yang
kemungkinan terbentuk akibat peningkatan temperatur pada daerah zona sesar.
Sedangkan pada batuan fasies eklogit ini menunjukkan batuan metamorf
tekanan tinggi yang diikuti oleh retrogresif secara intensif. Retrogradasi ini direkam
pada mineral ompasit disekitar garnet porfiroblast, hal ini menegaskan penurunan
stabilitas dari fasies eklogit yang dicirikan oleh kehadiran mineral hydrous yang
mengalami reaksi rim dalam garnet (klorit, phengit, epidot dan glaukopan). Vein
78
mineral tekanan rendah berupa klorit memotong garnet, juga ditemukan rutil dalam
inklusi garnet yang mengindikasikan terjadinya proses retrogradasi. Reaksi
replecement ini dapat dilihat oleh reaksi sebagai berikut (Gao et al. 1999 dalam
Maulana, 2009):
Reaksi Retgrogradasi
Glaukopan
+
Ompasit
+ Garnet
+ H2O
(Na2Mg3Al2(Si8O22) (OH)2 + (CaMg) (NaAl) (Si2O6)2 + Fe3Al2 (SiO4)3 + H2O
Barroisite
+ Albit +
Klorit
(Ca,Na)Mg3AlFe+3Si7AlO22 (OH)2 + NaAlSi3O8 + (Mg,Fe+2)5 Al (Si3Al) O10 (OH)8
Download