173 BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan

advertisement
BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasar pada hasil penelitian dan analisis data mengenai struktural,
keterjalinan unsur-unsur, nilai pendidikan, dan relevansi dalam kumpulan cerkak
Lelakone Si lan Man karya Suparto Brata dengan materi pembelajaran bahasa
Jawa di SMA, maka dapat di simpulan sebagai berikut.
1. Analisis Unsur-unsur Pembangun Cerkak Lelakone Si lan Man Karya
Suparto Brata
Empat cerkak dalam kumpulan cerkak Lelakone Si lan Man karya
Suparto Brata memiliki unsur pembangun yang lengkap. Unsur pembangun
karya sastra yang menjadi kajian meliputi: penokohan, alur, latar, sudut
pandang, amanat, dan tema. Berikut temuan yang diperoleh dari analisis
struktur/unsur pembangun dalam cerkak:
a. Penokohan
Pengelompokan tokoh yang terdapat dalam empat cerkak dari
kumpulan cerkak bertajuk Lelakone Si lan Man karya Suparto Brata, yaitu:
(1) Tokoh protagonis; (2) Tokoh antagonis; (3) Tokoh tritagonis. Tokoh
protagonis antara lain: pada cerkak 1 Nyadran ada 1 tokoh protagonis, yaitu
‘Aku’. Pada cerkak 2 Dibayangi Tali Gantungan ada 2 tokoh, yaitu ‘Aku’
dan ‘Henky’. Pada cerkak 3 Janjian Karo Peri ada 1 tokoh, yaitu ‘Jasmana’.
Pada cerkak 4 Wong Wadon 01 ada 1 tokoh, yaitu ‘Darnini’. Tokoh
antagonis meliputi: pada cerkak 1 Nyadran terdapat 1 tokoh yaitu 'Kuntarti',
pada cerkak 2 Dibayangi Tali Gantungan terdapat 1 tokoh, yaitu ‘Tamrin’,
pada cerkak 3 Janjian Karo Peri yaitu 'Aku', pada cerkak 4 Wong Wadon 01
ada 1 tokoh, yaitu ‘Sentanu’. Tokoh tritagonis meliputi: pada cerkak 1
Nyadran terdapat 1 tokoh yaitu 'Pak Rakhman', pada cerkak 2 Dibayangi
Tali Gantungan terdapat 2 tokoh, yaitu ‘Siregar dan istri tokoh 'Aku’, pada
cerkak 3 Janjian Karo Peri yaitu keempat saudaranya 'Jasmana', pada
cerkak 4 Wong Wadon 01 ada 1 tokoh, yaitu ‘Sitipeni’.
173
174
b. Alur
Analisis alur yang terdapat dalam keempat cerkak Lelakone Si lan
Man karya Suparto Brata, yaitu terdapat tahapan alur pengenalan situasi
cerita (exposition), pengungkapan peristiwa (complication), menuju pada
adanya konflik (rising action), puncak konflik (turning point), dan
penyelesaian (ending). Hasil analisis alur keempat cerkak adalah sebagai
berikut: (1) alur pada cerkak 1 Nyadran menggunakan alur campuran karena
tahap penyelesaian (ending) terdapat pada pertengahan cerita dan pada
akhirnya cerita; (2) alur yang terdapat dalam cerkak 2 Dibayangi Tali
Gantungan tergolong dalam alur maju/progresi karena cerita runtut mulai
pengenalan sampai kepada penyelesaian dan tanpa flashback; (3) alur yang
digunakan dalam cerkak 3 Janjian Karo Peri, yaitu alur maju/ progresi,
Paragraf awal hingga akhir peristiwa-peristiwa yang dituliskan runtut; (4)
alur yang digunakan pada cerkak 4 Wong Wadon 01 juga menggunakan alur
maju. Dikarenakan paragraf awal hingga akhir runtut, diawali sebab-akibat
dan penyelesainnya. Analisis dari keempat cerkak di atas, dapat ditarik
kesimpulan bahwa alur yang digunakan dalam keempat cerkak tersebut
sebagian besar adalah alur maju/lurus/progresif, kecuali pada cerkak 1
Nyadran yang menggunakan alur campuran.
c. Setting/Latar
Analisis latar yang terdapat dalam keempat cerkak Lelakone Si lan
Man karya Suparto Brata adalah unsur latar terdapat tiga unsur, yaitu latar
tempat, latar waktu, dan latar sosial. Latar tempat keempat cerkak tersebut
bervariasi. Cerkak dengan 7 latar tempat terdapat pada cerkak 1 dan cerkak
dengan 3 latar tempat terdapat pada cerkak 2, cerkak 3 dan cerkak 4.
Sebagian besar latar terjadi di rumah tokoh protagonis, hanya saja pada
cerkak 1 tidak terdapat latar rumah. Latar waktu dari keempat cerkak
tersebut rata-rata terjadi pada waktu pagi hingga malam hari. Selanjutnya,
pada cerkak 1 terdapat latar waktu yang menunjukkan bulan dan tahun,
yaitu bulan Ruwah tahun 1893 Jawa atau 1962 Masehi dan bulan Ruwah
tahun 1896 Jawa atau 1964 Masehi. Latar sosial yang membelakangi
175
keempat cerkak menjelaskan adat istiadat Jawa dan kehidupan masyarakat
sekarang. Masyarakat yang tinggal di taun 1900-an dan masyarakat yang
tinggal di taun 2000-an serta tingkat perekonomian menengah ke bawah dan
menengah ke atas. Pekerjaan yang dilakukan dengan para pekerja di
pelabuhan, kehidupan pejabat maupun bukan pejabat yang melakukan KKN
(Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme).
d. Sudut Pandang atau Point of View
Analisis sudut pandang atau point of view, yaitu pada cerkak 1
Nyadran adalah orang pertama, pelaku utama (teknik akuan) yaitu
pengarang sebagai orang pertama dan menyatakan pelaku utama tokoh
protagonis sebagai “aku”, teknik ini disebut teknik akuan. Teknik akuan
juga dipakai pada cerkak 2 Dibayangi Tali Gantungan. Pada cerkak 3
Janjian Karo Peri, yaitu penggunaan nama untuk menceritakan tokoh
protagonis, yaitu dengan nama tokoh “Jasmana”, sedangkan pada tokoh
antagonis pengarang menyebutkan dengan “aku”. Hal ini menunjukkan
bahwa pengarang menggunakan teknik akuan yang merupakan pengarang
sebagai orang pertama. Terakhir, sudut pandang/point of view pada cerkak 4
Wong Wadon 01 menunjukkan bahwa pengarang sebagai orang ketiga.
Tokoh protagonis “Darnini” dengan nama dan menyebutkan ayah “Darnini”
dengan “dia”, serta pengarang menunjukkan seolah-olah tahu seluk beluk
cerita dan tokoh-tokohnya, hal ini menunjukkan bahwa sudut pandang/point
of view pada cerkak 4 Wong Wadon 01 adalah teknik omniscient narrative,
pengarang serba tahu dan memasuki berbagai peran secara bebas.
Kesimpulan dari data di atas menerangkan bahwa penggunaan jenis sudut
pandang yang terdapat dalam keempat cerkak tersebut. Dari tiga jenis sudut
pandang, jenis sudut pandang yang digunakan pada keempat cerkak tersebut
adalah sudut pandang pengarang sebagai orang pertama atau teknik akuan
terdapat pada tiga cerkak pertama dan pengarang serba tahu atau teknik
omniscient narrative terdapat cerkak terakhir. Hal tersebut menunjukkan
bahwa cerkak yang dianalisis/dijadikan objek pada penelitian ini, pengarang
176
lebih sering dalam menggunakan sudut pandang pengarang sebagai orang
pertama daripada pengarang serba tahu.
e. Amanat
Amanat/pesan yang terkandung dalam keempat cerkak Lelakone Si
lan Man karya Suparto Brata ini adalah sebagai berikut: pada cerkak 1
Nyadran, yaitu: (1) kebudayaan yang dipegang teguh seseorang dan
dilaksanakannya dengan ikhlas, akan selalu menimbulkan efek positif dan;
(2) lawan batu dengan air, artinya lawanlah emosi dengan kesabaran dan
mengalah, karena mengalah sebenarnya berarti menang. Pada cerkak 2
Dibayangi Tali Gantungan adalah jika kita sudah berusaha secara maksimal
tetapi hasilnya tidak sesuai harapan maka yang harus dilakukan adalah
dengan sabar dan pasrah kepada yang Kuasa. Pada cerkak 3 Janjian Karo
Peri, yaitu menjalani hidup memang tidak mudah, apa pun yang terjadi
memang harus diterima dengan ikhlas dan tabah. Pada cerkak 4 Wong
Wadon 01, yaitu (1) jangan budayakan KKN (Korupsi, Kolusi, dan
Nepotisme) dalam kehidupan bermasyarakat karena akan sangat merugikan
kehidupan sosial dan (2) hargailah kaum perempuan sebagaimana kaum
laki-laki, jangan membeda-bedakan status dan derajat di antara keduanya
dalam kehidupan sosial. Dapat disimpulan bahwa amanat yang terkandung
dalam keempat cerkak tersebut dapat dipetik dari perilaku tokoh dan jalan
cerita yang menunjukkan antara sifat baik dan buruk. Amanat yang dapat
dipetik juga menunjukkan akibat dari perbuatan buruk tokoh dalam cerita.
Pembaca dapat menarik pesan positif dan mengesampingkan faktor negatif
dari cerkak.
f. Tema
Tema dari cerkak 1 Nyadran yaitu sebuah jalan takdir yang tidak
disangka-sangka telah mempersatukan dua manusia dalam ikatan keluarga.
Tema cerkak 2 Dibayangi Tali Gantungan adalah usaha seseorang dalam
mencari rejeki dapat diperoleh dari jalan mana saja. Ada yang diperoleh dari
jalan yang benar dan halal, ada juga yang memperolehnya dari jalan yang
salah dan tentunya hasilnya haram. Tema cerkak 3 Janjian Karo Peri adalah
177
meminta kekayaan dengan cara memuja setan akan berakhir buruk. Tema
cerkak 4 Wong Wadon 01 adalah pergaulan bebas, budaya KKN, aborsi, dan
hak asasi wanita. Dapat disimpulkan bahwa tema keempat cerkak, adalah
hal-hal yang sering terjadi di kehidupan bermasyarakat.
2. Keterjalinan Antarunsur Pembangun Keempat Cerkak dalam Cerkak
Lelakone Si lan Man Karya Suparto Brata
Keterjalinan unsur-unsur keempat cerkak Lelakone Si lan Man karya
Suparto Brata dapat diketahui melalui kesesuaian antara keterjalinan unsur
penokohan dengan alur dari keempat cerkak dalam cerkak Lelakone Si lan Man
karya Suparto Brata ditunjukkan oleh tokoh protagonis dan antagonis keempat
cerkak tersebut, keterjalinan unsur penokohan dengan tema, alur dengan tema,
alur dengan latar, dan penokohan dengan dialog. Keterjalinan antara unsur alur
dengan tema dalam cerkak Lelakone Si lan Man karya Suparto Brata dalam
keempat cerkak yang dianalisis berkaitan semua dengan kebiasaan buruk
masyarakat di Indonesia. Keempat cerkak yang dianalisis memiliki alur yang
berhubungan dengan latar/setting cerita. Dalam garis besar, pada suatu tahapan
alur cerita, memiliki kemungkinan besar terdapat suatu latar yang mendasari
peristiwa yang terjadi dalam cerita. Antarunsur pembangun memiliki
keterjalinan yang kemudian menjadikan suatu cerita yang utuh dan padu.
3. Nilai-nilai Pendidikan Empat Cerkak dalam Cerkak Lelakone Si lan Man
Karya Suparto Brata
Nilai-nilai pendidikan empat cerkak dalam cerkak Lelakone Si lan Man
karya Suparto Brata ada empat nilai, yaitu nilai religius, nilai moral, nilai
sosial, dan nilai budaya. Nilai religius yang baik terdapat pada cerkak 1
Nyadran dan cerkak 2 Dibayangi Tali Gantungan. Pada cerkak 1 Nyadran,
nilai religi ditunjukkan oleh tokoh protagonis dan tokoh antagonis yang
melakukan nyadran/ziarah makam leluhur, yang biasa dilakukan masyarakat di
Indonesia, terutama etnis Jawa Islam, pasti selalu diiringi dengan doa-doa yang
dipanjatkan dengan bahasa Arab. Pada cerkak 2 Dibayangi Tali Gantungan
ditunjukkan oleh tokoh ‘Aku’ yang mempunyai istri yang baik dan saleh, yang
menuntunnya untuk sabar, berdoa, dan menyerahkan semua perkaranya kepada
178
Tuhan. Kemudian, nilai religius yang buruk dan tidak patut dijadikan contoh
ditunjukkan pada cerkak 3 Janjian Karo Peri dan cerkak 4 Wong Wadon 01.
Pada cerkak 3 Janjian Karo Peri, nilai religi ditunjukkan oleh tokoh protagonis
yang menyekutukan Tuhan dengan makhluk lain yang dalam agama itu
dilarang. Pada cerkak 4 Wong Wadon 01, nilai religius ditunjukkan oleh
‘Darnini’ yang melakukan hubungan di luar nikah/zina dengan ‘Saleh’ yang
dalam agama sangat dilarang. Nilai moral yang dapat dipetik dari keempat
cerkak dalam cerkak Lelakone Si lan Man juga terdiri dari nilai moral yang
baik dan yang buruk. Keempat cerkak tersebut semuanya mengemban nilai
moral yang baik, antara lain: (1) mengalah saat keadaan sedang
memanas/perang emosi agar menyelesaikan masalah dengan kepala dingin; (2)
mengingatkan orang lain agar pasrah kepada Tuhan apabila usaha sudah tidak
ada hasilnya; (3) selamatkan orang yang akan mengakhiri hidupnya meskipun
hujan deras, harus tetap diselamatkan; dan (4) perjuangkan hak asasi
perempuan. Akan tetapi, pada cerkak 3 Janjian Karo Peri dan cerkak 4 Wong
Wadon 01 selain mengemban nilai moral yang baik, juga mengemban nilai
moral yang buruk. Nilai moral buruk tersebut, yaitu ‘Jasmana’ (JKP) yang
dendam kepada saudaranya sendiri dan ‘Darnini’ (WW01) yang hamil di luar
nikah. Nilai sosial keempat cerkak di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa
nilai sosial keempat cerkak terdapat nilai sosial yang baik dan benar, juga ada
yang buruk. Nilai sosial yang baik tersebut terdapat pada cerkak 1 Nyadran,
cerkak 2 Dibayangi Tali Gantungan, dan cerkak 3 Janjian Karo Peri, yaitu: (1)
tidak memandang saudara atau bukan, apabila ada teman atau tetangga yang
meninggal, kita harus selalu membantunya; (2) apabila menemukan orang yang
meminta bantuan kepada kita, asalkan kita masih mampu, kita wajib
membantunya; (3) tak peduli hujan deras, tak peduli malam hari, kalau kita
tahu teman kita berencana bunuh diri, kita wajib menghentikannya. Nilai sosial
yang buruk terdapat pada cerkak 4 Wong Wadon 01, yaitu memanfaatkan
pangkat sosial dan memanfaatkan kehidupan sosial masyarakatnya untuk
memperoleh kepentingan pribadi. Nilai budaya yang baik ditunjukkan pada
cerkak 1 Nyadran yang menjunjung tinggi tradisi ziarah atau mengunjungi
179
makam leluhur. Sedangkan, nilai budaya yang buruk ditunjukkan pada cerkak
2 Dibayangi Tali Gantungan, cerkak 3 Janjian Karo Peri, dan cerkak 4 Wong
Wadon 01 yang membudayakan suap, KKN, musyrik, aborsi, dan pelanggaran
hak asasi wanita.
4. Relevansi Empat Cerkak dalam Cerkak Lelakone Si lan Man Karya
Suparto Brata dengan Materi Pembelajaran Cerkak di SMA
Pembelajaran bahasa Jawa di SMA yang dijabarkan dalam silabus
mulok Bahasa Jawa KD yang telah dijelaskan sebelumnya, relevan dengan
empat cerkak dalam cerkak Lelakone Si lan Man Karya Suparto Brata dengan
materi pembelajaran cerkak di SMA. Karena melalui pendapat ahli dan hasil
wawancara dengan narasumber terkait relevan atau tidaknya cerkak yang
diteliti bila dijadikan bahan/materi pembelajaran di SMA. Sesuai dengan urian
di atas peneliti menyimpulkan kalau kumpulan cerkak Lelakone Si lan Man
karya Suparto Brata relevan dengan materi (cerkak) pembelajaran bahasa Jawa
di SMA. Artinya objek tersebut layak dijadikan bahan/materi pembelajaran
(cerkak) untuk menunjang KD pada pembelajaran bahasa Jawa di SMA.
B. Implikasi
Penelitian bertajuk “Analisis Struktural dan Nilai Pendidikan Kumpulan
Cerkak Lelakone Si lan Man karya Suparto Brata serta Relevansinya dengan
Materi Pembelajaran Bahasa Jawa di Sekolah Menengah Atas (SMA)” ini
memiliki implikasi dalam tiga aspek: teoretis, praktis, dan pedagogis.
Secara teoretis, kumpulan cerkak Lelakone Si lan Man karya Suparto
Brata memiliki unsur pembangun yang lengkap dan jelas. Struktur pembangun
naskah tersebut meliputi penokohan, alur, latar/setting, sudut pandang, amanat,
dan tema yang terdapat di dalamnya memiliki keterkaitan yang kuat. Pendekatan
struktural yang dilakukan penulis bertujuan untuk mendapatkan secara detail
informasi dan agar unsur pembangun tersebut dapat memberikan gambaran yang
jelas mengenai informasi dalam naskah. Selain analisis struktur, dikaji juga nilai
pendidikan dalam kumpulan cerkak Lelakone Si lan Man” karya Suparto Brata
yang nantinya dapat dijadikan acuan untuk mengimplementasikan nilai-nilai
180
tersebut dalam keseharian pembaca. Bagi pembaca cerkak ini dapat mengambil
pelajaran dari kisah-kisah yang diceritakan di dalamnya. Secara ringkas simpulan
yang dapat diambil dari keempat cerkak ini adalah budaya orang Indonesia masih
sangat mempengaruhi gaya pengkisahan suatu karya sastra, hal tersebut
dipengaruhi oleh wawasan lingkungan sosial pengarang yang sarat akan
pengkarakteran kehidupan sosial di Indonesia baik yang positif atau negatif.
Analisis dan temuan yang dilakukan penulis tentunya berdasar pada teori yang
sesuai dengan bidang kajian, agar hasil yang diperoleh memiliki kualitas yang
baik, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Secara praktis, kumpulan cerkak “ Lelakone Si lan Man”
dapat
dijadikan koleksi cerkak atau bisa digunakan sebagai literasi berbahasa Jawa yang
sekarang jarang ditemukan dan jarang yang menciptakan karya sastra berbahasa
Jawa untuk anak-anak, remaja, maupun umum/dewasa. Secara pedagogis,
kumpulan cerkak “ Lelakone Si lan Man” dapat dijadikan sebagai alternatif materi
pembelajaran cerkak. Pada kurikulum Sekolah Menengah SMA kelas X terdapat
kompetensi dasar yang membahas mengenai cerkak. Pada tingkat pendidikan
menengah atas, cerkak ini dapat dijadikan sebagai alternatif bahan pembelajaran
yang sesuai dengan umur peserta didik. Melalui struktur naskah yang lengkap
disertai nilai pendidikan karakter, kumpulan cerkak Lelakone Si lan Man ini telah
sesuai dan memenuhi indikator materi pembelajaran yang didalamnya
mengharuskan ada nilai pendidikan karakter.
181
C. Saran
Berdasar pada hasil analisis data dan penelitian ini, penulis dapat
memberikan saran-saran sebagai berikut.
1. Bagi Guru
Kumpulan cerkak “ Lelakone Si lan Man”
terbukti memiliki
struktur pembangun yang lengkap dan jelas serta memuat nilai pendidikan
yang saat ini sangat dibutuhkan di dunia pendidikan. Selain hal tersebut
cerkak ini juga telah memenuhi kriteria untuk digunakan sebagai alternatif
bahan ajar untuk digunakan guru dalam pembelajaran bahasa Jawa.
2. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini yang menunjukkan bahwa kumpulan cerkak
Lelakone Si lan Man” memenuhi kriteria untuk digunakan sebagai alternatif
bahan ajar untuk pembelajaran bahasa Jawa tingkat SMA bisa dimanfaatkan
sekolah-sekolah menengah atas yang membutuhkan untuk pemilihan
kebijakan penggunaan bahan ajar yang baik, berisi, dan sesuai dengan peserta
didik SMA.
3. Bagi Peneliti Lain
Melalui hasil penelitian ini diharapkan dapat memicu peneliti lain
agar bisa memulai atau melanjutkan penelitian yang berobjek pada karya
sastra, khususnya cerkak. Pendekatan yang dilakukan dalam penlitian ini
adalah pendekatan struktural. Penulis berharap, untuk peneliti lain agar bisa
lebih kreatif dalam penelitian mereka dengan pendekatan dan bidang kajian
yang berbeda. Agar nantinya didapatkan hasil yang lebih beragam.
Download