BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Bone defect atau kerusakan (cacat) tulang dapat terjadi karena benturan fisik akibat kecelakaan, kangker tulang, dan cacat bawaan lahir (Kalita et al, 2003). Untuk kasus defect yang besar dibutuhkan suatu media yang mampu menambal/melengkapi jaringan tulang yang hilang tersebut dengan bentuk, ukuran, porositas, dan kekuatan mekanis yang sesuai dengan tulang yang hilang (Bose et al, 2012). Salah satu contoh kasus yang terjadi adalah rekonstruksi mandibular yang dilakukan oleh Michael Goldwasser selaku Ahli bedah di Carle dan professor of surgery dari University of Illinois, pada tanggal 10 Juni 2003, di Urbana, Illinois, USA (Jamison, 2003). Gambar 1.1. dan Gambar 1.2. Gambar 1.1. Tes scaffold pada rahang Gambar 1.2. Penempatan scaffold pada hasil print 3D (Jamison, rahang (Jamison, 2003) 2003). Media yang digunakan untuk rekonstruksi pada kasus defect besar dinamakan scaffold/bone scaffold (Abdellal dan Darwish, 2011), meskipun begitu, 1 2 autograft masih merupakan “gold standard” yang digunakan untuk rekonstruksi tulang (Bucholz, 2002). Metode autograft menggunakan tulang yang didapatkan dari tubuh pasien itu sendiri. Penggunaan metode autograft memberikan keuntungan yaitu tidak menimbulkan masalah secara biologis. Akan tetapi karena bentuk dan ukuran media yang dibutuhkan besar dan khusus, rekonstruksi dengan menggunakan metode autograft sulit untuk dilakukan. Selain itu penggunaan metode ini, pasien akan menerima resiko mengalami morbiditas, meningkatkan resiko infeksi, resiko kehilangan darah, adanya tambahan waktu anestesi, serta adanya tuntutan biaya perawatan yang lebih tinggi. (Turgeman, 2008). Oleh karena hal tersebut banyak dikembangkan metode berbasis artificial bone scaffold. Gambar 1.3. Gambar scaffold yang digunakan dalam rekonstruksi mandibular (Jamison, 2003) Faktor kunci yang harus dimiliki sebuah artificial bone scaffold adalah (i) menggunakan material yang biokompatibel terhadap jaringan sekitar, (ii) memiliki makro pori (ukuran pori > 100µm) dan mikro pori (ukuran pori < 20µm); (iii) memiliki porositas terbuka yang saling interkoneksi, untuk pertumbuhan tulang; (iv) memiliki kekuatan mekanis yang cukup dan kinetika degradasi yang 3 terkontrol, serta (v) memiliki kekuatan awal yang cukup, untuk safe handling pada saat proses sterilisasi (Bose et al, 2012). Hydroxyapatite (HA; Ca10(PO4)6(OH)2) merupakan salah satu material yang bersifat biokompatibel yang biasa digunakan sebagai material bone scaffold. Selain bersifat biokompatibel HA juga memiliki sifat-sifat lain yang diperlukan sebagai material pengganti tulang seperti non-toxic, non-inflammatory, nonimmunogenic, dan bioactive (Murugan dan Ramakrishna, 2004). HA juga memiliki struktur kristal yang sama dengan material anorganik dari tulang itu sendiri (Aoki, 1991; Barakat et al, 2008; dan Cunningham et al, 2011). Meskipun begitu, HA merupakan material yang memiliki kekuatan mekanis yang buruk dan memiliki ketahanan yang rendah terhadap crack-growth propagation (Kalita dan Ferguson, 2006). Penambahan sintering aditif merupakan metode yang sederhana untuk meningkatkan densifikasi dan kekuatan mekanis dari HA ini (Oktar et al, 2007). Salah satu material aditif yang telah diteliti adalah MgO (Magnesium oksida) (Oktar et al, 2007; Kalita dan Ferguson, 2006). Selain mampu meningkatkan kekuatan mekanis dari HA, MgO juga berpengaruh terhadap sifat bioaktivitas dari HA, proses mineralisasi jaringan tulang, proses kristalisasi apatit, destabilisasi HA, dan konversi termal HA menjadi β-tricalcium phosphate (Song et al, 2011). Penelitian yang dilakukan terbatas pada penggunaan MgO sebagai bahan aditif. Untuk mendapatkan bone scaffold dengan bentuk, ukuran, porositas yang menyerupai tulang yang digantikan, dibutuhkanlah metode Solid freeform fabrication (SFF), seperti three-dimensional printing (3DP), robocasting, fused 4 deposition dan stereolithography. Metode ini berbasis computer-aided design yang menghasilkan struktur dengan pola yang telah ditentukan dengan ukuran dan geometri pori yang dikendalikan. Metode ini mampu mengubah hasil scan rontgen tulang yang hilang menjadi bentuk tulang 3D dengan cara mendeposisikan material yang digunakan (Simon, 2007). Penelitian ini akan dibuat HA bone scaffold dengan struktur beraturan, menggunakan Bovine Hydroxyapatite (BHA) sebagai bahan dasar, dengan material penambah berupa Magnesium Oksida (MgO), dengan tujuan untuk memperbaiki kekuatan mekaniknya. HA bone scaffold ini akan dibuat dengan menggunakan metode indirect fused deposition modeling (FDM), dengan tujuan untuk mendapatkan bone scaffold dengan struktur 3D yang beraturan, ukuran pori yang seragam, dan dapat dibuat meniru bentuk jaringan keras yang mengalami kerusakan. 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah: 1. Bagaimanakah pengaruh variasi komposisi MgO berbanding BHA (Bovine Hydroxyapatite) terhadap kekuatan tekan, densitas, kemurnian fasa, serta kandungan gugus fungsi pada komposit BHA-MgO? 2. Seberapa besarkah nilai kekuatan tekan bone scaffold yang dihasilkan melalui metode indirect fused deposition modeling? 5 3. Bagaimanakah struktur morfologi terutama ukuran pori dan nilai porositas dari bone scaffold yang dihasilkan melalui metode indirect fused deposition modeling? 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pembuatan bone scaffold komposit BHA-MgO dengan struktur 3D yang terkondisi, ukuran pori yang seragam, dan memiliki pori-pori yang saling terhubung. Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah untuk menjawab rumusan masalah, yaitu untuk: 1. Mempelajari pengaruh variasi komposisi MgO terhadap BHA (Bovine Hydroxyapatite) terhadap kekuatan tekan, densitas, kemurnian fasa, serta kandungan gugus fungsi pada komposit BHA-MgO. 2. Mengetahui seberapa besar nilai kekuatan tekan bone scaffold yang dihasilkan melalui metode indirect fused deposition modeling. 3. Mengkaji struktur morfologi, terutama mengenai ukuran pori dan nilai porositas dari bone scaffold yang dihasilkan melalui metode indirect fused deposition modeling. 1.4. Keaslian Penelitian Penggunaan metode fused deposition modeling telah banyak dilakukan dalam aplikasi pembuatan bone scaffold. Simon et al (2007) meneliti pengaruh scaffold yang dibuat dari bahan hydroxyapatite melalui metode direct ink writing, terhadap respon tulang. Penelitian tersebut dihasilkan scaffold yang memiliki makro pori akan memberikan respon tulang yang optimum. Kalita et al (2006) 6 telah memfabrikasi scaffold dari bahan tricalcium phosphate yang di-doping dengan Mg/Zn melalui metode fused deposition modeling. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa scaffold yang di-doping dengan Mg memiliki kekuatan tekan lebih tinggi dibandingkan dengan scaffold yang di-doping dengan Zn. Sedangkan Oktar et al (2007) meneliti pengaruh doping MgO, SiO2, Al2O3, dan ZrO2, terhadap benda uji silindris dari bahan bovine hydroxyapatite (BHA). Hasil penelitian tersebut hampir sama dengan hasil penelitian Kalita et al (2006), yaitu penambahan MgO akan dihasilkan benda uji dengan kekuatan tekan tertinggi. Keaslian dari penelitian ini adalah penggunaan bahan bovine hydroxyapatite (BHA) yang disintesis langsung dari tulang sapi lokal. Material ini kemudian dicampur dengan bahan aditif untuk meningkatkan kekuatan tekannya, adapun bahan yang digunakan sebagai bahan aditif adalah Magnesium Oksida (MgO). Konsentrasi MgO yang digunakan bervariasi dari 0-5% berat. Campuran dari kedua bahan ini dinamakan komposit. Material komposit inilah yang akan digunakan sebagai material untuk membuat scaffold melalui metode indirect fused deposition modeling. Pada penelitian ini dipelajari variasi komposisi material MgO terhadap scaffold yang dihasilkan melalui metode indirect fused deposition modeling sebagai material aditif. Pada penelitian ini juga dilakukan pengkajian terhadap parameter akibat variasi komposisi dan penggunaan material cetakan berupa plastik PLA. Serta perbandingan kekuatan tekan dari 3 desain bone scaffold yang diajukan. Pengkajian variasi komposisi MgO terhadap scaffold yang dibuat melalui metode indirect fused deposition modeling dan pengkajian parameter yang timbul akibat variasi dan penggunaan material cetakan ini serta 7 perbandingan kekuatan tekan dari 3 desain bone scaffold belum pernah dipublikasikan sebelumnya. 1.5. Manfaat Penelitian Dengan mengetahui metode dan parameter terkait pembuatan bone scaffold melalui metode indirect fused deposition modeling ini, diharapkan mampu menjadi referensi yang baik dalam pembuatan bone scaffold dengan struktur 3D yang terkondisi, memiliki ukuran pori yang seragam, interkonektifitas pori yang saling terhubung, tingkat porositas yang baik serta kekuatan mekanis yang tinggi. Bone scaffold yang dihasilkan dengan menggunakan bahan baku alami ini lebih ekonomis dibandingkan dengan menggunakan bahan baku sintetis, dan menghasilkan bone scaffold yang lebih murah. Sehingga kedepannya bone scaffold ini diharapkan mampu menggantikan bone scaffold impor yang beredar di pasaran Indonesia.