pengaruh globalisasi terhadap kesatuan dan persatuan bangsa

advertisement
PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP
KESATUAN DAN PERSATUAN BANGSA
Disusun Oleh :
Aliva Yuliana Premono
11.02.8136
D3-Manajemen Informatika
Kelompok : A
Dosen :
Drs. M. Khalis Purwanto, MM
STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
2011/2012
ABSTRAKSI
Globalisasi yang diciptakan manusia yang semakin canggih dan keinginan untuk memperoleh
kehidupan yang lebih baik secara efektif dan efisien telah mampu diwujudkan dengan iptek yang
berkembang dewasa ini. Dengan adanya teknologi yang canggih seperti ini, masyarakat dapat
melakukan aktifitas dan mencapai tujuan hidup mereka lebih mudah dan efisien. Tetapi globalisasi juga
membawa beberapa dampak bagi masyarakat. Tentunya ada kelebihan dan kekurangan dari
perkembangan jaman sekarang ini. Khususnya pengaruh terhadap persatuan dan kesatuan bangsa
Indonesia. Bahkan apabila globalisasi berdampak sangat buruk terhadap persatuan dan kesatuan
bangsa, ini dapat mengakibatkan bencana besar bagi Negara kita, karena akan terjadi perselisihan dan
perceraian akibat lunturnya rasa nasionalisme.
LATAR BELAKANG MASALAH
Pada dasarnya globalisasi merupakan karakteristik hubungan antara produk bumi yang
melampaui batas-batas konvensional seperti bangsa dan negara. Globalisasi yang mempengaruhi
kehidupan antar bangsa dan negara di dunia bukan hanya tantangan, tetapi juga sekaligus
merupakan
peluang.
Tantangan
merupakan
fenomena
yang
semakin
ektensif
yang
mengakibatkan batas-batas politik, ekonomi antar bangsa menjadi samar dan hubungan antar
bangsa menjadi begitu transparan. Globalisasi memiliki implementasi yang luas terhadap
penghidupan dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Ditinjau dari prespektif kebangsaan,
globalisasi menimbulkan kesadaran bahwa kita merupakan warga dari suatu masyarakat global
dan mengambil manfaat darinya, namun disisi lain, makin tumbuh pula dorongan untuk tumbuh
lebih melestarikan dan memperkuat jati diri bangsa. Di era globalisasi, bangsa-bangsa bersatu
secara mengglobal, tetapi bersamaan dengan itu muncul pula rasa kebangsaan yang berlebihan
(cauvinisme) masing-masing bangsa. Hal inilah yang menyebabkan globalisasi merupakan era
tekhnologi informasi, komunikasi dan transportasi. Globalisasi tentunya membawa dampak bagi
kehidupan suatu Negara termasuk Indonesia. Dampak globalisasi tersebut meliputi dampak
positif dan negative diberbagai bidang kehidupan politik, ekonomi, ideology sosial budaya dan
lain lain akan berdampak pada nilai nilai nasionalisme terhadap bangsa.
RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan Globalisasi?
2. Apa pengaruh globalisasi?
3. Apa dampak globalisasi terhadap nilai-nilai nasionalisme?
4. Bagaimana cara memupuk rasa nasionalisme di tengah pengaruh globalisasi?
5. Bagaimana posisi iptek dalam pembangunan nasional?
6. Apa dampak iptek dan globalisasi terhadap pembangunan bangsa?
7. Bagaimana peranan agama dalam pengembangan iptek nasional?
8. Bagaimana hubungan agama dan pengembangan iptek dewasa ini?
PENDEKATAN HISTORIS
Pembahasan historis Pancasila dibatasi pada tinjauan terhadap perkembangan rumusan
Pancasila sejak tanggal 29 Mei 1945 sampai dengan keluarnya Instruksi Presiden RI No.12
Tahun 1968. Pembatasan ini didasarkan pada dua pengandaian, yakni:
1. Telah tentang dasar negara Indonesia merdeka baru dimulai pada tanggal 29 Mei 1945,
saat dilaksanakan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (BPUPKI);
2. Sesudah Instruksi Presiden No.12 Tahun 1968 tersebut, kerancuan pendapat tentang
rumusan Pancasila dapat dianggap tidak ada lagi.
Tinjauan historis Pancasila dalam kurun waktu tersebut sekiranya cukup untuk memperoleh
gambaran yang memadai tentang proses dan dinamika Pancasila hingga menjadi Pancasila
otentik. Hal itu perlu dilakukan mengingat bahwa dalam membahas Pancasila, kita terikat pada
rumusan Pancasila yang otentik dan pola hubungan sila-silanya yang selalu merupakan satu
kebulatan yang utuh.
Sidang BPUPKI – 29 Mei 1945 dan 1 Juni 1945
Dalam pidatonya pada Sidang BPUPKI Mr. Muh. Yamin menyampaikan gambaran pertama
tentang dasar negara Indonesia merdeka sebagai berikut: 1) Peri Kebangsaan; 2) Peri
Kemanusiaan; 3) Peri Ketuhanan; 4) Peri Kerakyatan; 5) Kesejahteraan Rakyat. Ketika itu ia
tidak memberikan nama terhadap lima (5) azas yang diusulkannya sebagai dasar negara.
Pada tanggal 1 Juni 1945, dalam Sidang BPUPKI yang sama, Ir. Soekarno juga
mengemukakan rumusannya tentang lima (5) dasar negara yang perumusanya dan sistematika
yaitu : 1) Kebangsaan Indonesia; 2) Internasionalisme; 3) Mufakat atau Demokrasi; 4)
Kesejahteraan Sosial; 5) Ketuhanan Yang Berkebudayaan.
Piagam Jakarta 22 Juni 1945
Rumusan lima dasar negara (Pancasila) tersebut kemudian dikembangkan oleh Panitia 9
yang beranggotakan sembilan orang tokoh nasional, yakni para wakil dari golongan Islam dan
Nasionalisme. Mereka adalah: Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Mr. A.A. Maramis,
Abikusno Tjokrosoejoso, Abdulkahar Muzakir, H.A. Salim, Mr. Achmad Subardjo, K.H.
Wachid Hasjim, Mr. Muhammad Yamin. Rumusan sistematis dasar negara oleh Panitia 9 itu
tercantum dalam suatu naskah Mukadimah yang kemudian dikenal sebagai Piagam Jakarta,
yaitu: 1) Ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemelukknya;
2) Menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab; 3) Persatuan Indonesia; 4) Kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; 5) Mewujudkan
suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dalam sidang BPUPKI tanggal 14 Juli 1945, “Piagam Jakarta” diterima sebagai rancangan
Mukadimah hukum dasar (konstitusi) Negara Republik Indonesia. Rancangan tersebut
khususnya sistematika dasar negara (Pancasila), pada tanggal 18 Agustus disempurnakan dan
disahkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) menjadi: 1) Ketuhanan Yang
Maha Esa; 2) Kemanusiaan yang adil dan beradab; 3) Persatuan Indonesia; 4) Kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan; 5) Keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia; sebagaimana tercantum dalam alinea keempat Pembukaan UUD
1945.
Konstitusi RIS (1949) dan UUD Sementara (1950)
Dalam kedua konstitusi yang pernah menggantikan UUD 1945 tersebut, Pancasila
dirumuskan secara lebih singkat menjadi: 1) Pengakuan Ketuhanan Yang Maha Esa; 2)
Perikemanusiaan; 3) Kebangsaan; 4) Kerakyatan; 5) Keadilan sosial.
Sementara itu di tengah masyarakat terjadi kecenderungan menyingkat rumusan Pancasila
dengan alasan praktis/ pragmatis atau untuk lebih mudah mengingatnya dengan variasi sebagai
berikut: 1) Ketuhanan; 2) Kemanusiaan; 3) Kebangsaan; 4) Kerakyatan atau Kedaulatan Rakyat;
5) Keadilan sosial. Keanekaragaman rumusan dan atau sistematika Pancasila itu bahkan tetap
berlangsung sesudah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang secara implisit tentu mengandung
pengertian bahwa rumusan Pancasila harus sesuai dengan yang tercantum dalam Pembukaan
UUD 1945.
Instruksi Presiden RI No.12 Tahun 1968
Rumusan yang beraneka ragam itu selain membuktikan bahwa jiwa Pancasila tetap
terkandung dalam setiap konstitusi yang pernah berlaku di Indonesia, juga memungkinkan
terjadinya penafsiran individual yang membahayakan kelestariannya sebagai dasar negara,
ideologi, ajaran tentang nilai-nilai budaya dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Menyadari
bahaya tersebut, pada tanggal 13 April 1968, pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden RI
No.12 Tahun 1968 yang menyeragamkan tata urutan Pancasila seperti yang tercantum dalam
Pembukaan UUD 1945.
PENDEKATAN YURIDIS
Meskipun nama “Pancasila” tidak secara eksplisit disebutkan dalam UUD 1945 sebagai
dasar negara, tetapi pada alinea keempat Pembukaan UUD 1945 itu secara jelas disebutkan
bahwa dasar negara Indonesia adalah keseluruhan nilai yang dikandung Pancasila.
Dengan demikian tepatlah pernyataan Dardji Darmodihardjo (1984) bahwa secara yuridiskonstitusional, “Pancasila adalah Dasar Negara yang dipergunakan sebagai dasar mengaturmenyelenggarakan pemerintahan negara. … Mengingat bahwa Pancasila adalah Dasar Negara,
maka mengamalkan dan mengamankan Pancasila sebagai Dasar Negara mempunyai sifat
imperatif/ memaksa, artinya setiap warga negara Indonesia harus tunduk-taat kepadanya. Siapa
saja yang melanggar Pancasila sebagai Dasar Negara, ia harus ditindak menurut hukum, yakni
hukum yang berlaku di Negara Indonesia.”
Pernyataan tersebut sesuai dengan posisi Pancasila sebagai sumber tertinggi tertib hukum
atau sumber dari segala sumber hukum. Dengan demikian, segala hukum di Indonesia harus
bersumber pada Pancasila, sehingga dalam konteks sebagai negara yang berdasarkan hukum
(Rechtsstaat), Negara dan Pemerintah Indonesia „tunduk‟ kepada Pancasila sebagai „kekuasaan‟
tertinggi.
Dalam kedudukan tersebut, Pancasila juga menjadi pedoman untuk menafsirkan UUD 1945
dan atau penjabarannya melalui peraturan-peraturan operasional lain di bawahnya, termasuk
kebijaksanaan-kebijaksanaan dan tindakan-tindakan pemerintah di bidang pembangunan, dengan
peran serta aktif seluruh warga negara.
Oleh karena itu dapatlah dimengerti bahwa seluruh undang-undang, peraturan-peraturan
operasional dan atau hukum lain yang mengikutinya bukan hanya tidak boleh bertentangan
dengan Pancasila, sebagaimana dimaksudkan oleh Kirdi Dipoyudo (1979:107): “… tetapi sejauh
mungkin juga selaras dengan Pancasila dan dijiwai olehnya …” sedemikian rupa sehingga
seluruh hukum itu merupakan jaminan terhadap penjabaran, pelaksanaan, penerapan Pancasila.
Demikianlah tinjauan historis dan yuridis-konstitusional secara singkat yang memberikan
pengertian bahwa Pancasila yang otentik (resmi/ sah) adalah Pancasila sebagaimana tercantum
dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945. Pelaksanaan dan pengamanannya sebagai dasar
negara bersifat imperatif/ memaksa, karena pelanggaran terhadapnya dapt dikenai tindakan
berdasarkan hukum positif yang pada dasarnya merupakan jaminan penjabaran, pelaksanaan dan
penerapan Pancasila.
Pemilihan Pancasila sebagai dasar negara oleh the founding fathers Republik Indonesia patut
disyukuri oleh segenap rakyat Indonesia karena ia bersumber pada nilai-nilai budaya dan
pandangan hidup bangsa Indonesia sendiri atau yang dengan terminologi von Savigny disebut
sebagai jiwa bangsa (volkgeist). Namun hal itu tidak akan berarti apa-apa bila Pancasila tidak
dilaksanakan dalam keseharian hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sedemkian rupa
dengan meletakkan Pancasila secara proporsional sebagai dasar negara, ideologi, ajaran tentang
nilai-nilai budaya bangsa dan pandangan hidup bangsa.
PENDEKATAN SOSIOLOGIS
Pancasila sebagai pedoman hidup masyarakat Indonesia yang telah mendarah daging dalam
diri seluruh rakyat Indonesia sejak jaman kemerdekaan hingga kini. Pengamalan Pancasila
beserta sila-silanya sebagai landasan moral bertingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat
setiap warga negaranya dan sebagai ciri khas hidup masyarakat Indonesia.
Pancasila adalah hasil perjuangan bangsa Indonesia, sebagai dasar Negara Indonesia
pancasila sangat dijunjung tinggi oleh warga Negara Indonesia sebagai bentuk penghormatan
atas perjuangan para pahlawan kemerdekaan bangsa. Pancasila mampu mengakomodir semua
perbedaan yang ada dalam kehidupan masyarakat Indoensia sehingga mampu menjadi satu dan
menciptakan kehidupan yang harmonis, damai dan sejahtera.
Dalam masyarakat Indonesia Pancasila merupakan pokok perilaku yang mengajarkan tata
kelakuan hidup antar warga Negara sehingga mampu menciptakan pola hubungan social yang
baik dan berguna antar warga Negara. Jadi oleh pandangan warga Negara Indonesia pancasila
sangat penting dan menjadi jati diri bangsa dalam menghadapi perubahan jaman dan kesulitankesulitan hidup bermasyarakat dan bernegara.
PEMBAHASAN
Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal
batas wilayah.
Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan,
kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu
titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh
dunia. (Menurut Edison A. Jamli dkk.Kewarganegaraan.2005) Menurut pendapat Krsna
(Pengaruh
Globalisasi
Terhadap
Berkembang.internet.public
Pluralisme
jurnal.september
Kebudayaan
2005).
Sebagai
Manusia
proses,
di
Negara
globalisasi
berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan
waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan
komunikasi pada skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti
bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain- lain.
Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi.
Dewasa ini, perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan
berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia.Oleh karena itu
globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya. Kehadiran globalisasi tentunya
membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut
meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di
berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya
dan lain- lain akan mempengaruhi nilai- nilai nasionalisme terhadap bangsa.
Sebagai proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar
bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat
dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua bidang
kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan
lain- lain. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam
globalisasi. Dalam zaman modern ini, nasionalisme lebih merujuk kepada amalan politik
maupun kesatriaan dan ketentaraan yang berlandaskan nasionalisme secara etnik serta
keagamaan. Secara teori, nasionalisme dapat dilihat sebagai sebagian paham negara atau gerakan
yang populer berdasarkan pendapat warga negara, etnis, budaya, keagamaan, dan ideologi
dengan terminologinya masing-masing. Pengkategorian tersebut lazimnya berkaitan dan
kebanyakan teori nasionalisme mencampuradukkan beberapa atau semua elemen tersebut. Selain
itu, nasionalisme juga disebutkan sebagai prinsip, rasa dan usaha yang patriotik serta dengan
segala daya siap pula untuk mempertahankannya. Sedangkan semangat nasionalisme diartikan
sebagai suasana bathin yang melekat dalam diri setiap individu sebagai pribadi maupun sebagian
bagian dari bangsa dan negara, yang diimplementasikan dalam bentuk kesadaran dan perilaku
yang cinta tanah air, kerja keras untuk membangun, membina dan memelihara kehidupan yang
harmonis dalam rangka memupuk dan memelihara persatuan dan kesatuan, serta rela berkorban
harta, benda bahkan raga dan jiwa dalam membela bangsa dan negara.
Peningkatan kesadaran masyarakat akan nilai-nilai luhur budaya bangsa adalah sarana
untuk membangkitkan semangat nasionalisme, yang dapat dilakukan dengan senantiasa
memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa dan bernegara dalam kehidupan bermasyarakat.
Kehendak bangsa untuk bersatu dalam wadah negara kesatuan Republik Indonesia merupakan
sarat utama dalam mewujudkan nasionalisme nasional. Dengan demikian, tidak pada tempatnya
untuk mempersoalkan perbedaan suku, agama, ras, budaya dan golongan. Kehendak untuk
bersatu sebagai suatu bangsa memiliki konsekuensi siap mengorbankan kepentingan pribadi
demi menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan kesatuan. Tanpa adanya pengorbanan, mustahil
persatuan dan kesatuan dapat terwujud. Malah sebaliknya akan dapat menimbulkan perpecahan.
Inilah yang telah dibuktikan bangsa Indonesia dalam merebut dan mempertahankan
kemerdekaan.
Namun, kondisi saat ini berdasarkan sinyalemen sejumlah kalangan, bahwa semangat
nasionalisme mengalami kemunduran, hal ini perlu direfleksi secara mendalam. Apalagi
sinyalemen itu muncul ditengah keterpurukan dan krisis yang seolah tiada ujungnya.
Melemahnya rasa nasionalisme/kebangsaan akibat kohesi sosial melemah dan ikatan primordial
menguat, sehingga kekitaan yang sifatnya inklusif menjadi kekamian yang eksklusif, hal ini
merupakan dampak solidaritas kebangsaan digeser solidaritas primordial. Adanya disorientasi
nilai solidaritas (poros horizontal) akibat kurangnya kepedulian social dan adanya kepedulian
individu dan kelompok. Globalisasi memiliki dampak negatif yang luar biasa bila kita tidak
mengantisipasi secara bersama sebagai warga Negara Indonesia.
Para pendiri bangsa Indonesia sangat menyadari bahwa bangsa Indonesia ini terbentuk
berlandaskan persamaan nasib, persamaan sejarah, persamaan perjuangan, serta persamaan cita
cita yaitu hidup dalam kebebasan, aman, serta adil dan makmur dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia, yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, berwawasan
nasional, bukan berwawasan suku, ras, dan bukan pula berwawasan agama atau golongan. Dalam
konteks inilah semangat nasionalisme yang menghargai perbedaan, kemajemukan dan
keanekaragaman harus dijunjung tinggi dan ditanamkan kepada seluruh komponen bangsa,
termasuk kepada seluruh individu warga negara Indonesia, baik generasi sekarang, terlebih lagi
kepada generasi penerus bangsa Indonesia, agar mereka menyadari hakikat bangsa Indonesia
yang besar ini.
Namun demikian krisis multidimensi yang berkepanjangan membawa dampak perubahan
tantanan kehidupan sosial bangsa Indonesia, mengakibatkan perubahan perilaku, moral, dan
etika masyarakat tertentu dengan merasa paling benar dan menyalahkan masa lalu. Euforia
reformasi yang berkepanjangan, cenderung menjadi liar, tanpa memperhatikan norma dan etika
dalam kehidupan bermasyarakat, sebagaimana telah diwariskan oleh nenek moyang kita jauh
sebelum generasi saat ini lahir. Arah reformasi telah berbelok, tidak lagi sesuai dengan tujuan
semula, sebagaimana slogan awal reformasi yaitu kebebasan, demokraktisasi, hak azasi manusia
serta supremasi hukum, bahkan telah menampilkan potret kelabu dengan telah mengakibatkan
rendahnya semangat nasionalisme warga negara.
Transformasi dan reformasi secara menyeluruh di segala bidang telah membawa
perubahan pola hidup masyarakat Indonesia, yang menuntut kemampuan beradaptasi dalam
menerima perubahan yang sangat cepat, namun tetap berpegang teguh pada norma atau kaidah
kadiah tertentu yang diyakini tepat untuk dijadikan sebagai falsafah pandangan hidup, pedoman
bersikap, bertingkah laku, dan berbuat dalam mengarungi dinamika kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara. Dengan demikian implementasi semangat nasionalisme warga negara
saat ini paling tepat dianalisis berdasarkan berbagai aspek dinamis kehidupan, yaitu ideologi,
politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan termasuk kearifan lokal dari
masyarakat Aceh yang telah keluar dari kemelut dan meretas hidup baru yang lebih damai.
Perlu diketahui, bahwasanya upaya memupuk nasionalisme agar tidak rentan, mudah
pudar dan bahkan terkikis habis dari “dada bangsa Indonesia” tentu perlu keseriusan dan
optimisme dalam implementasinya dengan langkah awal menanamkan semangat merah putih
lebih dulu, baru kecakapan intelektualitas dan kecendikiawanan yang tinggi untuk
melengkapinya. Walaupun pengaruh globalisasi “mendera” dan “melarutkan” apa saja yang ada
dimuka bumi ini, tentu tidak boleh melarutkan dan menyapu semangat nasionalisme bangsa
Indonesia.
Ciri-ciri yang menandakan semakin berkembangya globalisasi di dunia :
Adanya sikap saling ketergantungan antara satu negara dengan negara lain terutama di
bidang ekonomi.
Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup.
Berkembangnya barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet
menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya.
Peningkatan interaksi kultural (kebudayaan) melalui perkembangan media massa
(terutama televisi, film, musik, berita, dan olahraga internasional). Saat ini, kita
mendapatkan gagasan dan pengalaman baru mengenai halhal tentang beranekaragamnya
budaya, misalnya dalam hal pakaian dan makanan.
Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara
termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh
negatif.
Pengaruh Globalisasi
Kalau bicara pengaruh maka akan kita bahas yang baik dan yang buruk dari adanya
globalisasi.
Berikut pengaruh baik dari adanya globalisasi.
Kemajuan di bidang komunikasi dan transportasi.
Meningkatnya perekonomian masyarakat dalam suatu negara.
Meluasnya pasar untuk produk dalam negeri.
Dapat memperoleh lebih banyak modal dan teknologi yang lebih baik.
Menyediakan dana tambahan untuk pembangunan ekonomi.
Sedangkan pengaruh buruk dari adanya globalisasi antara lain:
Gaya hidup bebas, narkoba, dan kekerasan menjadi mudah masuk dalam kehidupan
masyarakat Indonesia.
Masyarakat cenderung mementingkan diri sendiri.
Karena banyaknya barang yang dijual, maka masyarakat menjadi konsumtif.
Contoh Pengaruh Globalisasi
Tanpa disadari budaya asing yang masuk ke Indonesia telah memengaruhi perilaku
masyarakat Indonesia. Berikut ini contoh pengaruh globalisasi di lingkungan sekitar.
a. Gaya Hidup
Gaya hidup tradisional di zaman globalisasi ini sudah semakin berkurang dan bahkan
cenderung untuk ditinggalkan oleh masyarakat sekarang ini. Masyarakat cenderung memilih
menerapkan gaya hidup modern daripada gaya hidup tradisional. Alasan mengapa masyarakat
memilih gaya hidup modern adalah karena semuanya serba mudah, cepat, dan ekonomis. Selama
ini, kita sudah terbiasa dengan prinsip “biar lambat asal selamat”. Prinsip tersebut
melambangkan bahwa kita belum mampu menghargai waktu yang tepat dan optimal. Akibat
globalisasi, gaya hidup masyarakat sudah mulai berubah. Mereka sudah tahu betapa pentingnya
waktu. Apabila kita membuang - buang waktu, maka akan mengalami kerugian, sebab waktu
tidak bisa diputar kembali. Globalisasi juga berdampak buruk terhadap gaya hidup masyarakat.
Contohnya ada sebagian masyarakat kita meniru gaya hidup bangsa lain yang tidak sesuai
dengan kepribadian bangsa kita, seperti mabuk - mabukan, suka berpesta pora, berperilaku kasar
serta kurang menghormati orang yang lebih tua. Gaya hidup seperti itu harus kita jauhi karena
tidak sesuai dengan norma - norma yang berlaku di masyarakat.
b. Makanan
Makanan pokok bangsa Indonesia sebagian besar adalah nasi. Namun, ada juga yang
berasal dari jagung maupun sagu. Makanan pokok tersebut sebelum disajikan harus diolah
terlebih dahulu, dan proses pengolahannya membutuhkan waktu yang lama. Dengan adanya
globalisasi kebanyakan orang mulai cenderung beralih mengonsumsi makanan yang cepat saji.
Cepat saji maksudnya adalah makanan yang singkat dalam penyajiannya dan tidak menunggu
proses pemasakan yang lama. Makanan cepat saji biasa disebut fast food. Makanan cepat saji
sekarang banyak dan mudah sekali ditemui. Di samping itu juga ada makanan yang
pembungkusnya menggunakan aluminium foil, biasanya makanan untuk anak - anak. Selain
makanan juga ada minuman dalam kaleng, sehingga mudah dan dapat langsung diminum.
Contoh makanan yang ada karena globalisasi: pizza, spagheti, burger, hot dog, hamburger, sushi,
steak, puyunghai, dan donat. Contoh minuman: banyak bermunculan minuman isotonik.
Dengan adanya makanan cepat saji yang berasal dari luar negeri membuat orang merasa
bangga jika bisa memakannya. Karena jika memakannya berarti disebut orang yang modern dan
tidak ketinggalan zaman. Makanan cepat saji tidak semuanya aman untuk kesehatan. Jika ingin
menikmati makanan atau minuman cepat saji, pilihlah jenis makanan atau minuman yang benar benar aman untuk kesehatan. Tanyakan pada orang tuamu tentang aman tidaknya makanan atau
minuman itu untuk kesehatan. Apakah kamu suka makanan atau minuman cepat saji?
c. Pakaian
Pakaian merupakan bahan yang kita gunakan untuk menutup aurat dan melindungi badan.
Pakaian juga berfungsi untuk kesopanan. Pakaian yang dipakai pada zaman dahulu dengan
zaman sekarang berbeda. Pada zaman dahulu pakaian sangat sederhana yang penting bisa
digunakan untuk menutup aurat, melindungi tubuh, serta menjaga kesopanan. Pakaian digunakan
sebagai trend, modelnya bermacam - macam. Negara yang dianggap trend center pakaian adalah
Prancis (Paris). Mode dari Paris banyak ditiru oleh negara - negara di dunia. Misalnya model
atau bentuk pakaian sekarang ini kebanyakan pakaian minim dan terbuka, yang dianggap tidak
sesuai dengan kebudayaan bangsa Indonesia. Contoh lain adalah baju jas yang merupakan
budaya bangsa barat sudah digunakan oleh sebagian masyarakat kita pada acara - acara resmi
atau resepsi. Begitu pula dengan celana jeans dan T-shirt. Masyarakat kita sudah terbiasa
menggunakannya dalam kehidupan sehari - hari.
d. Komunikasi
Komunikasi juga merupakan contoh pengaruh dari globalisasi. Komunikasi adalah suatu
hubungan seseorang dengan orang lain. Komunikasi dapat dilakukan dengan dua orang atau
lebih. Dahulu komunikasi antara wilayah menggunakan jasa pos yaitu surat yang
sampainya bisa mencapai satu sampai dua hari, kemudian berkembang dengan telepon rumah.
Namun, sekarang ini di era globalisasi jika akan berkomunikasi baik satu arah maupun dua arah
dengan orang lain yang berbeda wilayah sangat mudah, cepat, dan murah. Sarana yang
digunakan misalnya telepon kabel, telepon seluler, internet, e-mail, dan faksimile. Dengan
adanya alat komunikasi yang canggih kita dapat melakukan hubungan dengan siapa saja di dunia
ini. Sekarang ini banyak ditemui warung-warung internet, maka orang akan mudah mencari
segala macam informasi yang ada di seluruh dunia. Adanya telepon genggam merupakan alat
komunikasi yang praktis, canggih, dan mudah dibawa ke mana saja.
Pengaruh positif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme
1. Dilihat dari globalisasi politik, pemerintahan dijalankan secara terbuka dan
demokratis. Karena pemerintahan adalah bagian dari suatu negara, jika
pemerintahan djalankan secara jujur, bersih dan dinamis tentunya akan mendapat
tanggapan positif dari rakyat. Tanggapan positif tersebut berupa rasa nasionalisme
terhadap negara menjadi meningkat.
2. Dari aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional, meningkatkan
kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut
akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan
nasional bangsa.
3. Dari globalisasi sosial budaya kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti
etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek dari bangsa lain yang sudah maju
untuk meningkatkan kemajuan bangsa yang pada akhirnya memajukan bangsa
dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap bangsa.
Pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme
1. Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat
membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan
berubah arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut
terjadi akibatnya rasa nasionalisme bangsa akan hilang
2. Dari globalisasi aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam
negeri karena banyaknya produk luar negeri (seperti Mc Donald, Coca Cola,
Pizza Hut,dll.) membanjiri di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap
produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme
masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.
3. Masyarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri
sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat
yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.
4. Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan
miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal tersebut
dapat menimbulkan pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat
mengganggu kehidupan nasional bangsa.
5. Munculnya
sikap
individualisme
yang
menimbulkan
ketidakpedulian
antarperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak
akan peduli dengan kehidupan bangsa.
Pengaruh- pengaruh di atas memang tidak secara langsung berpengaruh terhadap
nasionalisme. Akan tetapi secara keseluruhan dapat menimbulkan rasa nasionalisme terhadap
bangsa menjadi berkurang atau hilang. Sebab globalisasi mampu membuka cakrawala
masyarakat secara global. Apa yang di luar negeri dianggap baik memberi aspirasi kepada
masyarakat kita untuk diterapkan di negara kita. Jika terjadi maka akan menimbulkan dilematis.
Bila dipenuhi belum tentu sesuai di Indonesia. Bila tidak dipenuhi akan dianggap tidak aspiratif
dan dapat bertindak anarkis sehingga mengganggu stabilitas nasional, ketahanan nasional bahkan
persatuan dan kesatuan bangsa.
Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme di Kalangan Generasi Muda
Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan muda.
Pengaruh globalisasi terhadap anak muda juga begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah
membuat banyak anak muda kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini
ditunjukkan dengan gejala- gejala yang muncul dalam kehidupan sehari- hari anak muda
sekarang.
Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja kita yang berdandan seperti selebritis yang
cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang
memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Pada hal cara berpakaian tersebut
jelas- jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka dicat
beraneka warna. Pendek kata orang lebih suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi
identitasnya. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan
pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa.
Teknologi internet merupakan teknologi yang memberikan informasi tanpa batas dan
dapat diakses oleh siapa saja. Apa lagi bagi anak muda internet sudah menjadi santapan mereka
sehari- hari. Jika digunakan secara semestinya tentu kita memperoleh manfaat yang berguna.
Tetapi jika tidak, kita akan mendapat kerugian. Dan sekarang ini, banyak pelajar dan mahasiswa
yang menggunakan tidak semestinya. Misal untuk membuka situs-situs porno. Bukan hanya
internet saja, ada lagi pegangan wajib mereka yaitu handphone. Rasa sosial terhadap masyarakat
menjadi tidak ada karena mereka lebih memilih sibuk dengan menggunakan handphone.
Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak kenal sopan santun dan
cenderung cuek tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut
kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka. Contoh riilnya
adanya geng motor anak muda yang melakukan tindakan kekerasan yang menganggu
ketentraman dan kenyamanan masyarakat.
Jika pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan, mau apa jadinya genersi muda tersebut? Moral
generasi bangsa menjadi rusak, timbul tindakan anarkis antara golongan muda. Hubungannya
dengan nilai nasionalisme akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa
sendiri dan rasa peduli terhadap masyarakat. Padahal generasi muda adalah penerus masa depan
bangsa. Apa akibatnya jika penerus bangsa tidak memiliki rasa nasionalisme?
Berdasarkan analisa dan uraian di atas pengaruh negatif globalisasi lebih banyak daripada
pengaruh positifnya. Oleh karena itu diperlukan langkah untuk mengantisipasi pengaruh negatif
globalisasi terhadap nilai nasionalisme.
Memupuk Nasionalisme di tengah-tengah Gelombang Pengaruh Globalisasi
Upaya memupuk nasionalisme agar tidak rentan, mudah pudar dan bahkan terkikis
habis dari “dada bangsa Indonesia” tentu perlu keseriusan dan optimisme. Ada sasanti di
beberapa lembaga pendidikan yang mungkin pernah kita dengar atau dilihat, bahwa dalam
rangka kaderisasi calon-calon pemimpin bangsa, hendaknya terus dimantapkan “dwi
warnapurwa – cendekia wusana”. Secara sepintas inti maksudnya adalah untuk menciptakan
kader-kader pemimpin bangsa ini, agar memiliki rasa dan jiwa nasionalisme yang tinggi dan
serta berpikir cerdas dan patriotik. Merah putih lebih dulu, baru kecakapan intelektualitas dan
kecendikiawanan yang tinggi untuk melengkapinya. Tidak kita inginkan dimasa datang
banyak pemimpin kita cakap dan cerdas tetapi tidak memiliki jiwa kejuangan atau mentalnya
lemah. Walaupun pengaruh globalisasi “mendera” dan “melarutkan” apa saja yang ada
dimuka bumi ini, tentu tidak boleh larut dan tersapu semua nilai-nilai nasionalisme dan
patriotisme tersebut. Oleh sebab itu yang perlu dipupuk pada dasarnya adalah jati diri Bangsa
Indonesia. Beberapa esensi jatidiri antara lain :
a. Bangsa Indonesia Sebagai Bangsa Pejuang dan Anti Penjajah.
Sebagaimana tercatat dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, telah menjadi
pelajaran dan melegitimasi citra Bangsa Indonesia, dimata dunia, bahwa Bangsa
Indonesia akan tetap dikenal sebagai bangsa yang anti penjajah dan rela berkorban bagi
kejayaan bangsanya. Semangat ini dipupuk terus dengan penerusan implementasi nilainilai, melalui wahana pendidikan di berbagai strata bagi generasi penerus bangsa dan
menanamkan sikap anti penjajah bagi generasi muda, karena di pundak merekalah masa
depan bangsa ini akan kita wariskan.
b. Bangsa Indonesia Cinta damai dan Lebih Cinta Kemerdekaan.
Dengan politik luar negeri yang bebas dan aktif, senantiasa terus menggalang
persatuan dunia menuju pada tata kehidupan dunia yang lebih damai dan sejahtera. Itulah
jati diri Bangsa Indonesia sebagai lambang Nasionalisme dan sekaligus Internasionalisme
sebagai bangsa yang aktif dan turut serta untuk menciptakan perdamaian dunia yang
abadi. Di dalam situasi seperti sekarang ini dimana dunia sedang “terancam perang” di
berbagai belahan benua, maka di pandang perlu Indonesia tampil dan memelopori usahausaha perdamaian melalui berbagai forum Internasional bersama-sama bangsa lain yang
sejalan.
c. Sebagai Bangsa Indonesia yang Berbudaya Luhur ramah dan bersahabat.
Keluhuran budaya Indonesia terletak pada karakter dan citra bangsa yang ramah
dan bersahabat. Karena kita anti penjajah dan cinta perdamaian, maka memupuk
pesahabatan antar bangsa menjadi motivasi dan langkah-langkah kongkrit untuk
merealisasikan cita-cita perdamaian. Budaya demikian itu terus di pupuk, di kembangkan
dan dipromosikan ke semua bangsa di dunia ini, agar keberadaan Indonesia dan perannya
dapat mengangkat derajat dan martabat bangsa Indonesia. Budaya Nasional yang
merupakan akumulasi dari puncak-puncak budaya daerah, hendaknya terus dapat
dipelihara dan dijaga kelestariannya. Hanya bangsa yang bisa mempertahankan jati diri
dan budaya Nasionalnya yang akan bisa menjadi bangsa yang besar.
d. Kesetaraan dan Kemandirian Perlu Dipupuk Terus Untuk Mengejar Ketinggalan.
Martabat Bangsa Indonesia adalah ingin setara/sejajar dengan bangsa-bangsa lain,
oleh karena itu upaya untuk mengejar kemajuan dan kemandirian adalah suatu tekad dan
semangat yang tidak boleh terputus sekalipun menghadapi berbagai kendala. Persaingan
antar bangsa akan semakin terlihat pada persaingan kualitas sumber daya manusianya dan
bukan saja pada sumber daya alamnya.
Selain hal-hal normatif dan mendasar yang masih menuntut aktualisasi dan
representasi tersebut, terdapat juga komitmen dan tekad baru yang kini tampak sebagai
“trend” dan fenomena cemerlang untuk memelihara nasionalisme.
Pertama, keunggulan kompetitif sumber daya manusia (SDM). Sebenarnya tidak
kurang bibit unggul dan kader potensial dari putra-putri Indonesia yang kelak diharapkan
dapat menjadi patriot-patriot pembangunan dan mampu membawa Indonesia ke pintu
gerbang kegemilangan dan kejayaan. Berbagai sekolah unggulan dan lulusan pendidikan di
dalam maupun di luar negeri terbukti cukup apresiatif dan bahkan telah mampu menjuarai
berbagai olympiade sains dan teknologi. Putra-putri seperti inilah yang bisa membagi
kebanggaan. Tidak sedikit manager muda berbakat pada lembaga pemerintah ataupun swasta
dengan menampilkan kepiawaian manajemen. Hal ini tentu dapat memberikan semangat
kepada generasi baru yang akan datang lebih dapat memacu diri untuk berprestasi dan
bangga akan teman-teman sebangsanya.
Kedua, Pluralitas yang menghasilkan sinergisme. Kemajemukan bangsa Indonesia
yang kian hari kian terbentuk secara alami dan menuju pada sikap inklusif dari berbagai suku
agama, ras dan golongan, akan terus berkembang pesat dan bahkan tak mungkin dihambat.
Kecenderungan masa kini dan dimasa yang akan datang integrasi bangsa Indonesia tidak lagi
terfocus pada faktor suku, agama, ras dan golongan tersebut, tetapi lebih mengarah pada
integrasi dan sinergi yang lebih maju, yakni berkaitan dengan peran, fungsi dan profesi orang
per orang maupun dalam hubungan kelompok. Dimasa yang akan datang orang tidak lagi
bertanya “kamu dari mana, suku apa, dan agamanya apa ?” tetapi lebih banyak pada
pertanyaan “kamu memiliki kemampuan dan skill” apa atau keahlian dan profesi apa, yang
bisa di ajak bekerja sama untuk menghasilkan suatu karya. Disini akan tersirat sikap dan
sifat-sifat saling memberi dan saling menerima segala macam perbedaan yang pada
muaranya akan dapat melahirkan rasa bangga dan nasionalisme yang luas.
Ketiga, semangat tidak kenal menyerah dan tahan uji. Ada berbagai ungkapan dan
perasaan sebagian besar bangsa Indonesia yang tetap tahan uji dan cukup membanggakan.
Berbagai musibah bencana dan malapetaka terus datang silih berganti, seperti yang kita
rasakan datangnya “tsunami”, tanah longsor, bencana banjir, flu burung, demam berdarah,
busung lapar dan lain sebagainya namun tetap membuat kita tawakal dan berusaha untuk
mengatasi secara bergotong royong baik antara Pemerintah dan lembaga resmi/tidak resmi
maupun solidaritas antar masyarakat sendiri.
Begitu pula tatkala menghadapi “ancaman” negara lain dalam bentuk pelanggaran
perbatasan, penyerobotan pulau, bahkan penghinaan oleh kelompok bangsa tertentu, ternyata
kita tahan uji dan bahkan mampu membangkitkan semangat Nasionalisme yang tinggi untuk
menghadapi semuanya.
Keempat, semangat demokrasi menjadi pilihan bersama. Era demokratisasi, sudah
membangkitkan tekad dan semangat baru bagi bangsa Indonesia untuk menata kembali
kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih bermartabat. Negara demokrasi sebagai
pilihan tepat karena dari sinilah akan lahir bingkai-bingkai sehat, dimana orang-orang
bersepakat dan bersama-sama dalam menentukan pilihan bersama. Dengan demikian tata
kehidupan berdemokrasi inilah yang akan menjadi semangat baru dan semangat bersama
generasi penerus bangsa Indonesia yang sekaligus akan menjadi semangat nasionalisme yang
kental dalam era yang baru.
Kelima, semangat desentralisasi dan otonomi daerah. Kebijakan Pemerintah dalam
upaya desentralisasi kekuasaan kepada daerah-daerah dan memberikan otonomi yang luas
kepada tiap-tiap daerah, akan melahirkan semangat kebebasan dan semangat kemandirian
untuk membangun daerahnya masing-masing. Ada kompetisi didalamnya, tetapi juga
tuntutan kreativitas di masing-masing daerah untuk lebih maju dan semakin dapat
mensejahterakan masyarakatnya.
Disentralisasi tidak boleh mengarah pada federalisme apalagi memecah belah
integrasi Nasional. Otonomi daerah juga tidak boleh mengarah kepada disintegrasi bangsa.
Oleh karena itu rambu-rambu untuk tetap dapat menjaga utuhnya NKRI harus difahami
bersama dan didasari oleh semangat demokrasi, integralistik dan wawasan kebangsaan
Indonesia yang lebih mendalam.
Antisipasi Pengaruh Negatif Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme
Langkah- langkah untuk mengantisipasi dampak negatif globalisasi terhadap nilai- nilai
nasionalisme antara lain yaitu :
1. Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk
dalam negeri.
2. Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya.
3. Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik- baiknya.
4. Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenarbenarnya dan seadil- adilnya.
5. Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya
bangsa.
Dengan adanya langkah- langkah antisipasi tersebut diharapkan mampu menangkis pengaruh
globalisasi yang dapat mengubah nilai nasionalisme terhadap bangsa. Sehingga kita tidak akan
kehilangan kepribadian bangsa.
Globalisasi sebagai fenomena kontemporer mustahil akan meniadakan pluralisme
kebudayaan dan peradaban. Sebaliknya, dalam perwujudan yang ekstrem, globalisasi justru akan
menjadi pembangkit nasionalisme yang timbul karena kesadaran sebagai salah satu elemen
budaya yang khas. Dalam hubungan ini akan berlaku hukum "serangan balik", yaitu bahwa
tarikan ke arah globalisasi yang ekstrem akan menimbulkan gerak balik ke arah berlawanan,
berupa reaksi penentangan yang cenderung menggejala sebagai akibat dominasi pengaruh
budaya asing terhadap budaya lokal.
Sebagai kesimpulan secara umum bahwa Nasionalisme bangsa Indonesia belum memudar,
sekalipun saat ini didera oleh pengaruh globalisasi dan liberalisasi serta proses demokratisasi.
Tantangan baru ini harus dihadapi dengan serius dan optimisme, bilamana tidak di pupuk
kembali dan tidak mendapat dorongan semangat baru oleh para pemimpin bangsa ini, maka tidak
mustahil faham tentang kebangsaan ini akan tersapu oleh peradaban baru yang sangat
bertentangan
dengan
nilai-nilai
luhur
sosio-kultural
bangsa
kita.
Hanya tekad dan semangat yang disertai usaha yang serius melalui wahana pendidikan akan
dapat diharapkan mampu melestarikan semangat nasionalisme. Tidak salah kiranya bahwa
perhatian para pemimpin, tokoh masyarakat, serta seluruh komponen kekuatan bangsa untuk
bersama-sama membenahi sistem pendidikan nasional, agar mampu menghasilkan lulusan/hasil
didik sebagai generasi penerus bangsa yang dapat membawa kemajuan dan kejayaan di era
Indonesia baru. Pada sisi lain sosialisasi nilai-nilai Intrinsik nasionalisme melalui berbagai
lembaga dan masyarakat harus terus diupayakan. Karena generasi bangsa ini terus diperbarui
oleh generasi baru yang menuntut pemahaman yang hakiki.
Posisi Iptek dalam Pembangunan Nasional
Memasuki Pembangunan Jangka Panjang ke II, bangsa Indonesia makin menyadari akan
pentingnya peran iptek bagi keberhasilan program pembangunan bangsanya. Hal ini tampak
nyata dengan dimasukkannya iptek sebagai salah satu asas pembangunan pada GBHN 199319982. Sepuluh tahun sebelumnya, iptek belum dimasukkan sebagai asas pembangunan walau
bukan berarti tidak penting. Secara umum GBHN 1993-1998 itu juga mengakui bahwa selama
PJP I, "pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi telah berhasil memajukan tingkat
kecerdasan masyarakat, mengembangkan kemampuan bangsa serta ikut mendorong proses
pembaharuan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara.
Iptek juga telah menjadi salah satu bidang pembangunan dalam PJP II ini yang
sasarannya adalah "tercapainya kemampuan nasional dalam pemanfaatan, pengembangan dan
penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan bagi peningkatan kesejahteraan,
kemajuan peradaban, serta ketangguhan dan daya saing bangsa yang diperlukan untuk memacu
pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan menuju masyarakat yang
berkualitas, maju, mandiri serta sejahtera.
Dalam arah PJP II, juga disebutkan bahwa
"pembangunan iptek memegang peranan penting serta akan sangat mempengaruhi
perkembangan dalam masa PJP II. Penguasaan iptek akan mempengaruhi keberhasilan
membangun masyarakat maju dan mandiri. Pembangunan iptek diarahkan agar pemanfaatan,
pengembangan, dan penguasaannya dapat mempercepat peningkatan kecerdasan dan
kemampuan bangsa, mempercepat proses pembaharuan, meningkatkan produktivitas dan
efisiensi, memperluas lapangan kerja, meningkatkan kualitas, harkat dan martabat bangsa, serta
meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Kutipan-kutipan dari GBHN di atas menunjukkan bagaimana posisi pembangunan iptek
dalam kerangka Pembangunan Nasional Tahap II. Dapat disimpulkan bahwa pada PJP II, ini
bangsa Indonesia makin menyadari betapa pentingnya iptek itu bagi pembangunan nasional.
Bahkan dikatakan bahwa keberhasilan pembangunan nasional akan dipengaruhi oleh penguasaan
bangsa ini atas iptek itu. Kalau kita dapat menguasai iptek dengan baik, maka akan makin
berhasillah pembangunan kita sedangkan kalau penguasaan iptek kita rendah, maka
pembangunan nasional kita pun akan kurang berhasil.
Dalam kebijakan PELITA VI, dinyatakan bahwa iptek diperlukan di hampir semua sektor
pembangunan: industri, pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, transportasi, dan
bioteknologi.
Dampak Iptek dan Globalisasi pada Pembangunan Bangsa
Seperti juga pada bidang lain, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai
dampak positif dan negatif. Penilaian positif maupun negatif ini, tentu saja, bersifat subyektif,
tergantung kepada siapa yang menilainya. Yang dinilai negatif oleh bangsa Indonesia belum
tentu juga dinilai negatif oleh bangsa Amerika, misalnya.
Dampak positif kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dirasakan, misalnya,
dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi. Ditemukannya teknologi pesawat terbang
telah membuat manusia dapat pergi ke seluruh dunia dalam waktu singkat. Perjalanan haji yang
dulu dilakukan selama beberapa minggu melalui laut kini, dengan makin lancarnya transportasi
udara, dapat dilakukan hanya dalam waktu delapan jam saja. Kemajuan di bidang televisi satelit
telah memungkinkan kita melihat Olimpiade Atlanta langsung tanpa harus keluar rumah.
Penemuan telepon genggam telah memungkinkan kita untuk menghubungi seseorang di mana
saja ia berada atau dari mana saja kita berada. Kemajuan di bidang penyimpanan data telah
memungkinkan kita memiliki seluruh jilid Ensiklopedia Britanica dalam satu keping Compact
Disk yang beratnya kurang dari satu ons. Kemajuan di bidang komputer telah menciptakan
jaringan internet yang memungkinkan kita mendapatkan informasi dari perpustakaan di seluruh
dunia tanpa harus keluar dari kamar. Kemajuan di bidang komunikasi juga telah membuat
perdagangan internasional menjadi semakin mudah dan cepat. Sekarang ini, lewat bursa saham,
orang dapat dengan mudah memiliki perusahaan di negara lain.
Singkat kata, kemajuan di bidang teknologi komunikasi dan informasi ini telah membuat
dunia terasa kecil dan batas antar negara menjadi hilang. Inilah yang disebut sebagai globalisasi,
suatu proses di mana orang tidak lagi berfikir hanya sebagai warga kampung, kota, atau negara,
melainkan juga sebagai warga dunia.
Dari sisi positifnya, proses ini membuat orang tidak lagi hanya berwawasan lokal. Dalam
usahanya memecahkan persoalan, ia akan melihat ke seluruh dunia guna menemukan solusi.
Dalam mencari pekerjaan atau ilmu pun, ia tidak lagi membatasi diri pada pekerjaan atau
lembaga pendidikan di kampungnya, kotanya, propinsinya, atau negaranya saja. Seluruh
permukaan bumi ini dapat menjadi kemungkinan tempat ia bekerja atau mencari ilmu.
Dari sudut jati diri bangsa, proses ini dapat dianggap membawa dampak negatif. Hal ini
karena inovasi-inovasi di bidang iptek itu kebanyakan terjadi di negara lain yang mempunyai
nilai-nilai sosial, politik, dan budaya yang belum tentu sama dengan nilai bangsa kita. Kendati
teknologinya itu sendiri dapat dianggap sebagai netral atau bebas nilai, penerapan dan pembawa
ilmu pengetahuan dan teknologi itu tidak dapat dikatakan selalu bebas nilai. Sebagai contoh,
kemajuan teknologi parabola telah memungkinkan kita melihat siaran televisi Perancis tanpa ada
sensor. Adegan seks dan pamer dada wanita, yang di RCTI tidak mungkin keluar, dapat dilihat
anak-anak kita tanpa terpotong gunting sensor lewat parabola itu. Banjirnya film asing di TV
nasional (yang terpaksa diputar karena produksi nasional belum ada dan harganya lebih murah
daripada memproduksi sendiri) juga dapat mempengaruhi nilai budaya para pemirsanya.
Telenovela dan film Barat yang amat populer di TV swasta kita, secara tidak terasa, dapat
mempengaruhi para pemirsanya bahwa perselingkuhan dalam kehidupan suami istri itu adalah
hal yang biasa, bahwa kekerasan merupakan salah satu pemecahan masalah. Film detektif
bahkan dapat menjadi 'guru' bagi para maling.
Globalisasi cara berfikir, yang menjadi salah satu dampak kemajuan teknologi informasi
dan komunikasi, dapat membuat orang tidak lagi mengacu pada nilai-nilai tradisional bangsanya
belaka. Kemudahan memperoleh informasi akan membuat ia dapat mempelajari nilai-nilai yang
ada pada masyarakat dan bangsa lain, baik yang menyangkut nilai sosial, ekonomi, budaya,
maupun politik. Sebagai bangsa yang sedang membangun jati-dirinya, proses globalisasi ini
jelas merupakan tantangan yang harus diatasi dalam upaya pembentukan manusia Indonesia
yang dicita-citakan.
Hal ini tampaknya juga disadari oleh para wakil rakyat yang menyusun GBHN 1993
1998.
Mengenai dampak negatif globalisasi bagi pembangunan nasional kita, GBHN
menyatakan: "Perkembangan, perubahan, dan gejolak internasional pada akhir Pembangunan
Jangka Panjang Pertama ditandai oleh gejala baru, yaitu globalisasi yang dapat mempengaruhi
stabilitas nasional dan ketahanan nasional yang pada gilirannya akan berdampak pada
pelaksanaan pembangunan nasional di masa yang akan datang.
Tantangan di bidang ekonomi adalah munculnya pengelompokan antar-negara yang
cenderung meningkatkan proteksionisme dan diskriminasi pasar yang dapat menghambat
pemasaran hasil produksi dalam negeri dan mendorong persaingan yang tidak sehat. Ancaman
di bidang politik dan pertahanan keamanan adalah kemungkinan timbulnya rongrongan terhadap
ideologi Pancasila, Wawasan Nusantara, dan Ketahanan Nasional, khususnya persatuan dan
kesatuan bangsa yang dapat mengganggu kelancaran jalannya pembangunan nasional. Ancaman
di bidang sosial budaya adalah masuknya nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai lujur
budaya bangsa.
Peranan Agama dalam Pengembangan Iptek Nasional
Dalam membahas peranan agama dalam pengembangan iptek nasional ini, saya tidak
akan berbicara secara teoritik umum. Mengingat iptek yang kita bicarakan adalah iptek dalam
konteks nasional, maka peranan yang dimainkan oleh agama dalam hal ini pun berada dalam
konteks nasional pula. Dengan demikian, pertanyaan yang ingin saya jawab dalam bagian ini
adalah: Bagaimanakah peran yang diharapkan oleh bangsa Indonesia dari agama dalam
kaitannya dengan pengembangan iptek nasional?
Ada beberapa kemungkinan hubungan antara agama dan iptek: (a) berseberangan atau
bertentangan, (b) bertentangan tapi dapat hidup berdampingan secara damai, (c) tidak
bertentangan satu sama lain, (d) saling mendukung satu sama lain, agama mendasari
pengembangan iptek atau iptek mendasari penghayatan agama.
Pola hubungan pertama adalah pola hubungan yang negatif, saling tolak. Apa yang
dianggap benar oleh agama dianggap tidak benar oleh ilmu pengetahuan dan teknologi.
Demikian pula sebaliknya. Dalam pola hubungan seperti ini, pengembangan iptek akan
menjauhkan orang dari keyakinan akan kebenaran agama dan pendalaman agama dapat
menjauhkan orang dari keyakinan akan kebenaran ilmu pengetahuan. Orang yang ingin
menekuni ajaran agama akan cenderung untuk menjauhi ilmu pengetahuan dan teknologi yang
dikembangkan oleh manusia. Pola hubungan pertama ini pernah terjadi di zaman Galileio
Galilei. Ketika Galileo berpendapat bahwa bumi mengitari matahari sedangkan gereja
berpendapat bahwa matahari lah yang mengitari bumi, maka Galileo dipersalahkan dan
dikalahkan. Ia dihukum karena dianggap menyesatkan masyarakat.
Pola hubungan ke dua adalah perkembangan dari pola hubungan pertama. Ketika
kebenaran iptek yang bertentangan dengan kebenaran agama makin tidak dapat disangkal
sementara keyakinan akan kebenaran agama masih kuat di hati, jalan satu-satunya adalah
menerima kebenaran keduanya dengan anggapan bahwa masing-masing mempunyai wilayah
kebenaran yang berbeda. Kebenaran agama dipisahkan sama sekali dari kebenaran ilmu
pengetahuan. Konflik antara agama dan ilmu, apabila terjadi, akan diselesaikan dengan
menganggapnya berada pada wilayah yang berbeda. Dalam pola hubungan seperti ini,
pengembangan iptek tidak dikaitkan dengan penghayatan dan pengamalan agama seseorang
karena keduanya berada pada wilayah yang berbeda. Baik secara individu maupun komunal,
pengembangan yang satu tidak mempengaruhi pengembangan yang lain. Pola hubungan seperti
ini dapat terjadi dalam masyarakat sekuler yang sudah terbiasa untuk memisahkan urusan agama
dari urusan negara/masyarakat.
Pola ke tiga adalah pola hubungan netral. Dalam pola hubungan ini, kebenaran ajaran
agama tidak bertentangan dengan kebenaran ilmu pengetahuan tetapi juga tidak saling
mempengaruhi. Kendati ajaran agama tidak bertentangan dengan iptek, ajaran agama tidak
dikaitkan dengan iptek sama sekali. Dalam masyarakat di mana pola hubungan seperti ini
terjadi, penghayatan agama tidak mendorong orang untuk mengembangkan iptek dan
pengembangan iptek tidak mendorong orang untuk mendalami dan menghayati ajaran agama.
Keadaan seperti ini dapat terjadi dalam masyarakat sekuler. Karena masyarakatnya sudah
terbiasa dengan pemisahan agama dan negara/masyarakat, maka. ketika agama bersinggungan
dengan ilmu, persinggungan itu tidak banyak mempunyai dampak karena tampak terasa aneh
kalau dikaitkan. Mungkin secara individu dampak itu ada, tetapi secara komunal pola hubungan
ini cenderung untuk tidak menimbulkan dampak apa-apa.
Pola hubungan yang ke empat adalah pola hubungan yang positif. Terjadinya pola
hubungan seperti ini mensyaratkan tidak adanya pertentangan antara ajaran agama dan ilmu
pengetahuan serta kehidupan masyarakat yang tidak sekuler. Secara teori, pola hubungan ini
dapat terjadi dalam tiga wujud: ajaran agama mendukung pengembangan iptek tapi
pengembangan iptek tidak mendukung ajaran agama, pengembangan iptek mendukung ajaran
agama tapi ajaran agama tidak mendukung pengembangan iptek, dan ajaran agama mendukung
pengembangan iptek dan demikian pula sebaliknya.
Dalam wujud pertama, pendalaman dan penghayatan ajaran agama akan mendukung
pengembangan iptek walau pengembangan iptek tidak akan mendorong orang untuk mendalami
ajaran agama. Sebaliknya, dalam wujud ke dua, pengembangan iptek akan mendorong orang
untuk mendalami dan menghayati ajaran agama walaupun tidak sebaliknya terjadi. Pada wujud
ke tiga, pengembangan iptek akan mendorong orang untuk lebih mendalami dan menghayati
ajaran agama dan pendalaman serta penghayatan ajaran agama akan mendorong orang untuk
mengembangkan iptek.
Pertanyaan selanjutnya adalah "pola hubungan yang manakah yang dikehendaki oleh
bangsa Indonesia terjadi di negara kita ini?" Untuk menjawab pertanyaan di atas, maka kita
perlu melihat kembali GBHN sebagai cermin keinginan bangsa Indonesia tentang apa yang
mereka harapkan terjadi di Indonesia dalam masa 5 atau 25 tahun mendatang.
Kalau kita simak pernyataan eksplisit GBHN 1993-1998 tentang kaitan pengembangan
iptek dan agama, akan kita lihat bahwa pola hubungan yang diharapkan adalah pola hubungan ke
tiga, pola hubungan netral. Ajaran agama dan iptek tidak bertentangan satu sama lain tetapi
tidak saling mempengaruhi. Pada Bab II, G. 3. GBHN 1993-1998, yang telah dikutip di muka,
dinyatakan bahwa pengembangan iptek hendaknya mengindahkan nilai-nilai agama dan budaya
bangsa. Artinya, pengembangan iptek tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai agama dan
budaya bangsa. Tidak boleh bertentangan tidak berarti harus mendukung. Kesan hubungan
netral antara agama dan iptek ini juga muncul kalau kita membaca GBHN dalam bidang
pembangunan Agama dan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tak ada satu kalimat
pun dalam pernyataan itu yang secara eksplisit menjelaskan bagaimana kaitan agama dengan
iptek. Pengembangan agama tidak ada hubungannya dengan pengembangan iptek.
Akan tetapi, kalau kita baca GBHN itu secara implisit dalam kaitan antara pembangunan
bidang agama dan bidang iptek, maka kita akan memperoleh kesan yang berbeda. Salah satu
asas pembangunan nasional adalah Asas Keimanan dan Ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha
Esa yang berarti "... bahwa segala usaha dan kegiatan pembangunan nasional dijiwai,
digerakkan, dan dikendalikan oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
sebagai nilai luhur yang menjadi landasan spiritual, moral,dan etik dalam rangka pembangunan
nasional sebagai pengamalan Pancasila"
Di bagian lain dinyatakan bahwa pembangunan bidang agama dan kepercayaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa diarahkan, antara lain, untuk memperkuat landasan spiritual, moral, dan
etik bagi pembangunan nasional.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa, secara implisit, bangsa Indonesia menghendaki agar
agama dapat berperan sebagai jiwa, penggerak, dan pengendali ataupun sebagai landasan
spiritual, moral, dan etik bagi pembangunan nasional, termasuk pembangunan bidang iptek
tentunya. Dalam kaitannya dengan pengembangan iptek nasional, agama diharapkan dapat
menjiwai, menggerakkan, dan mengendalikan pengembangan iptek nasional tersebut.
Hubungan Agama dan Pengembangan Iptek Dewasa Ini
Pertanyaan berikutnya adalah "apakah peranan agama terhadap pengembangan iptek
seperti yang diharapkan itu telah terjadi?" Dari pengamatan selama ini, saya rasa peranan seperti
itu belum terjadi. Pola hubungan antara agama dan iptek di Indonesia saat ini baru pada taraf
tidak saling mengganggu. Pengembangan iptek dan pengembangan kehidupan beragama
diusahakan agar tidak saling tabrak pagar masing-masing. Pengembangan agama diharapkan
tidak menghambat pengembangan iptek sedang pengembangan iptek diharapkan tidak
mengganggu pengembangan kehidupan beragama. Konflik yang timbul antara keduanya
diselesaikan dengan kebijaksanaan.
Sebagai contoh, beberapa waktu yang lalu ada polemik di surat kabar tentang tayangan
televisi swasta yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai agama (misalnya, penonjolan aurat
wanita, cerita perselingkuhan, dsb.). Fihak yang berkeberatan mengatakan bahwa hal itu dapat
merusak mental masyarakat. Tetapi, fihak yang tidak berkeberaan dengan acara seperti itu
mengatakan bahwa 'kalau anda tidak senang dengan acara itu, matikan saja televisinya.'
Perusahaan televisi swasta adalah perusahaan yang harus memikirkan keuntungan dan ia akan
berusaha menayangkan film yang digemari masyarakat. Kalau masyarakatnya senang film sex
dan sadis, maka film itu pulalah yang akan memperoleh rating tinggi dan diminati oleh
pemasang iklan. Ini adalah pemikiran yang sekuler, yang memisahkan urusan dagang dari
agama. Tugas pengusaha adalah mencari untung sebanyak-banyaknya, sedang mendidik
kehidupan beragama masyarakat adalah tugas guru agama dan ulama. Kasarnya, tugas setan
memang menggoda manusia sedang mengingatkan manusia adalah tugas nabi.
Polemik ini diselesaikan dengan penerapan sensor intern dari perusahaan televisi swasta.
Kini adegan ciuman bibir antara lelaki perempuan, yang biasa kita lihat di bioskop, tidak akan
kita temukan di televisi. Film "Basic Instinct" yang ditayangkan di televisi beberapa waktu yang
lalu telah dipotong sedemikian rupa sehingga steril dari adegan sex yang panas.
Ada pula konflik antara ajaran agama dan ajaran ilmu pengetahuan yang diselesaikan
dengan cara menganggapnya "tidak ada atau sudah selesai" padahal ada dan belum diselesaikan.
Sebagai contoh adalah teori tentang asal usul manusia yang diajarkan di sekolah. Guru biologi
mengajarkan bahwa menurut sejarahnya, manusia itu berasa dari suatu jenis tertentu yang
kemudian pecah menjadi dua cabang: yang satu mengikuti garis pongid yang akhirnya menjadi
kera modern, yang lain mengikuti garis manusia yang berkembang mulai dari manusia kera
purba sampai ke manusia modern. Guru agama Islam mengajarkan bahwa, berdasarkan dalil
dalil naqli, manusia itu diciptakan oleh Allah s.w.t. dalam bentuknya seperti sekarang. (Lihat
buku teks Biologi SMU untuk kelas tiga dan bandingkan dengan buku teks Pendidikan Agama
Islam di SMU).
Ini adalah pertentangan teori yang klasik, antara teori evolusi dan teori ciptaan, yang
pernah melanda Amerika Serikat beberapa tahun yang lalu. Di dunia ilmu pengetahuan, konflik
itu tetap berlangsung sampai sekarang walaupun kelompok pendukung teori ciptaan ini
jumlahnya makin sedikit jika dibandingkan dengan mereka yang mempercayai teori evolusi. Di
bidang ilmu, konflik antara teori yang satu dengan yang lain adalah wajar dan merupakan rahmat
(Konflik semacam inilah yang menimbulkan paradigma baru dalam ilmu pengetahuan dan
menghasilkan teori-teori baru. Akan tetapi, jika konflik semacam ini diajarkan di sekolah tanpa
diselesaikan, maka kebingungan lah yang akan menjadi akibatnya. Di Amerika, konflik ini
diselesaikan dengan melarang diajarkannya teori ciptaan di seluruh sekolah negeri.
Di Indonesia, konflik di sekolah ini tidak diselesaikan dan dianggap tidak ada. Pelajaran
Biologi hanya mengajarkan teori evolusi dalam bidang biologi dan pura-pura tidak tahu bahwa
ajaran agama Islam, Kristen, dan Katolik menganut faham creationism (manusia diciptakan).
Sebaliknya, Pendidikan Agama Islam mengajarkan teori ciptaan dan menyalahkan teori evolusi
tanpa menjelaskan dimana letak kesalahan teori evolusi itu (padahal, sampai saat ini, teori
evolusi ini masih menjadi tulang punggung ilmu hayat (biologi). Secara teoritis, keadaan seperti
ini akan menghasilkan lulusan SMA yang bingung di bidang asal usul manusia.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan :
Dengan adanya globalisasi banyak sekali dampak-dampak yang ditimbulkan. Dalam
nilai-nilai Nasionalisme pun sangat berpengaruh, terutama dikalangan generasi muda
kita. Pengaruh Globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kita kehilangan
kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Dengan adanya langkah- langkah antisipasi
yang telah diuraikan pada bagian isi, diharapkan mampu menangkis pengaruh globalisasi
yang dapat mengubah nilai nasionalisme terhadap bangsa. Sehingga kita tidak akan
kehilangan kepribadian.
bahwa dewasa ini iptek menempati posisi yang amat penting dalam pembangunan
nasional jangka panjang ke dua di Indonesia ini. Penguasaan iptek bahkan dikaitkan
dengan keberhasilan pembangunan nasional. Namun, bangsa Indonesia juga menyadari
bahwa pengembangan iptek, di samping membawa dampak positif, juga dapat membawa
dampak negatif bagi nilai agama dan budaya yang sudah dimiliki oleh bangsa Indonesia.
Sebagai bangsa yang telah memilih untuk tidak menganut faham sekuler, agama
mempunyai kedudukan yang penting juga dalam masyarakat Indonesia. Oleh karena
itulah diharapkan agar pengembangan iptek di Indonesia tidak akan bertabrakan dengan
nilai-nilai agama dan budaya luhur bangsa. Kendati pola hubungan yang diharapkan
terjadi antara agama dan iptek secara eksplisit adalah pola hubungan netral yang saling
tidak mengganggu, secara implisit diharapkan bahwa pengembangan iptek itu dijiwai,
digerakkan, dan dikendalikan oleh nilai-nilai agama. Ini merupakan tugas yang tidak
mudah karena, untuk itu, kita harus menguasai prinsip dan pola pikir keduanya (iptek dan
agama). Saat ini baru sebagian kecil saja ummat yang menguasai hal itu dan yang sedikit
itu masih belum sempat menulis buku teks yang memadukan kedua hal (agama dan iptek)
itu. Dari uraian di atas, ternyata kita baru pada langkah awal dan masih jauh jalan yang
harus kita tempuh.
Globalisasi pada kehidupan pada jaman sekarang ini tidak selalu membawa dampak yang
positif atau baik bagi masyarakat khususnya pada persatuan dan kesatuan bangsa
indonesia, selalu ada dampak negatif yang mengiringi perubahan jaman yang semakin
modern ini terutama bagi persatuan dan kesatuan masyarakat. Dampak negatif itu
diantaranya adalah :
1. Pola hidup yang cenderung ke barat-baratan
2. Hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri
3. Menyebabkan adanya kesenjangan ekonomi, yang berakibat pertentangan antara
kaya dan miskin
4. Munculnya sikap individualisme
Dan bila itu sampai terjadi maka rasa persatuan dan kesatuan masyarakat akan semakin
renggang akibat dampak tersebut yang telah merubah perilaku atau sikap setiap anggota
masyarakat menjadi individualis, acuh tak acuh dan tidak adanya rasa kepedulian terhadap
sesama anggota masyarakat. Masa depan bangsalah yang terkena dampak terbesar karena bila
masyarakat tidak memiliki rasa persatuan dan kesatuan terhadap bangsa.dan tidak akan tercapai
dan pembangunan nasionalnya untuk menyejahterakan warga negaranya pun akan tersendat dan
tidak berjalan maksimal dan sebagaimana mestinya sesuai dengan rencana yang telah dibuat
semula yang juga menjadi cita – cita bersama seluruh warga Negara Indonesia ini.
Saran :
Sebaiknya kita dapat berfikir lebih cerdas agar tidak terjerumus dalam dampak negatif
globalisasi yang sangat memanjakan dan memudahkan kita untuk melakukan segala hal, dan kita
harus dapat membentengi diri agar dapat memilah/menyaring budaya luar yang masuk ke dalam
negeri kita dan mencintai produk dalam negeri daripada produk dari luar negeri. Dengan adanya
langkah- langkah tersebut diharapkan mampu menangkis pengaruh globalisasi yang dapat
mengubah nilai nasionalisme terhadap bangsa. Sehingga kita tidak akan kehilangan kepribadian
bangsa.
Referensi
1. Jamli, Edison dkk.Kewarganegaraan.2005.Jakarta: Bumi Akasara
2. Krsna @Yahoo.com. Pengaruh Globalisasi Terhadap Pluralisme Kebudayaan Manusia di
Negara Berkembang.2005.internet:Public Jurnal
3. http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=7124
4. http://www.tniad.mil.id/1artikel.php?pil=2&dn=20080711010639
5. Prawirohartono, Slamet dkk. 1989. Buku Pelajaran Biologi SMA, Jilid 3-A, Semester 5,
berdasarkan kurikulum 1984. Jakarta: Penerbit Eralngga.
6. Watt, W. Montgomery. 1974. The Majesty that was Islam. London: Sidgwick &
Jackson.
7. Kaelan, Drs.1996. Pendidikan Pancasila Yuridis Kenegaraan.Yogyakarta : Paradigma
8. Setijo, Pandji.2010. Pendidikan Pancasila Perspektif Sejarah Perjuangan Bangsa.
Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia
Download