edisi 286 - Kajian Banjar

advertisement
Manusia terlahir di dunia dalam keadaan yang
lemah tidak menget ahui apapun. Allah
mengingatkan kondisi kita kala itu dalam salah satu
ayat-Nya. Allah berfirman yang artinya,
“Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu
kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan
Dia memberi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati
agar kalian bersyukur.” [Q.S. An Nahl:78].
Nikmat ini kemudian Allah dukung dengan
kesehatan jasmani dan rohani. Allah berikan pula
berbagai sarana pembelajaran seperti pendengaran,
penglihatan, dan hati. Sehingga, manusia bisa
belajar dari sekitarnya.
Jadi, sifat asal manusia adalah bodoh tidak
mengetahui apapun. Tidak mengerti untuk apa ia
diciptakan, bagaimana ia hidup, dan mau kemana
tujuan hidupnya. Allah berfirman:
“Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat
bodoh.” [Q.S. Al Ahzab:72]. Karenanya, banyak
orang yang tidak mengetahui kemaslahatan dan
kebaikan sekalipun untuk dirinya sendiri di dunia,
apalagi di akhirat.
Oleh sebab itulah Allah Yang Maha Bijaksana
menurunkan kitab-kitab-Nya dan mengutus para
rasul-Nya untuk membimbing dan mengarahkan
manusia. Hal ini untuk mengajarkan kepada mereka
kemaslahatan sekaligus kemadharatan bagi manusia
agar selamat dan berbahagia dalam menjalani
kehidupan ini. Allah berfirman:
“Allah mengajarkan kepada manusia perkara yang
tidak ia ketahui.” [Q.S. Al Alaq:5].
Pengajaran Allah ini tentunya bisa didapatkan
dengan usaha. Yakni, berusaha mengoptimalkan
pemanfaatan nikmat sarana yang telah Allah
karuniakan kepada manusia. Allah berfirman,
“ Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi,
lalu mereka mempunyai kalbu yang dengan itu mereka
dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan
itu mereka dapat mendengar? karena sesungguhnya
bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, adalah
kalbu yang di dalam dada.” [Q.S. Al Hajj:46].
Kita bisa menggunakan mata untuk melihat
tanda-tanda keagungan-Nya, telinga untuk
mendengar ayat-ayat-Nya, serta kalbu untuk
merenungi, memahami, dan menyakininya. Baik
ayat kauniyah maupun syar’iyah. Ayat kauniyah
berupa alam semesta dan ayat syar’iyah berupa
firman-Nya berikut penjelasaan rasul-Nya.
Inilah ilmu yang hakiki. Yaitu bagaimana
mengenal Allah, nama dan sifat-Nya, hak-hak-Nya
atas hamba, mengenal Rasul-Nya, bimbingan dan
petuah beliau serta mengenal agama-Nya.
Diterangkan oleh Syaikh Abdurrahman As Sa’di
dalam Bahjatul Qulub Al Abrar, bahwa ilmu yang
bermanfaat adalah ilmu yang membersihkan kalbu
dan ruh. Ilmu yang berbuah kebahagian dunia dan
akhirat. Yaitu ilmu yang dibawa oleh Rasulullah `
baik berupa hadits, tafsir, dan fiqih atau
pemahaman. Termasuk pula ilmu yang bermanfaat
adalah ilmu yang bisa mendukung hal tersebut
seperti bahasa arab dan yang lainnya. Sementara
Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim
menjelaskan bahwa pembelajaran yang paling
sempurna adalah fokus dalam menimba ilmu
warisan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Konsentrasi
dalam memahami maksud beliau dalam perintah,
larangan, dan semua sabda beliau. Kemudian
tunduk patuh mengikutinya tanpa mendahulukan
perkataan siapa pun atas sabda beliau.
Manusia tidak bisa tidak pasti membutuhkan
ilmu ini, sejauh mana kebutuhannya terhadap
keselamatan dan kebahagiaan hidup, sejauh itu pula
kebutuhannya terhadap ilmu. Sehingga ilmu
merupakan kebutuhan paling asasi melebihi
kebutuhan sesorang terhadap makan dan minum.
Karena makan dan minum dibutuhkan tubuh sekali
atau dua kali dalam sehari. Sedangkan ilmu
dibutuhkan oleh jiwa dan raga sepanjang tarikan
nafasnya, seiring denyut nadinya, dan sejalan detak
jantungnya. Seorang yang kekurangan makan dan
minum hanya bermadharat terhadap raganya di
dunia. Sedangkan kosongnya seseorang dari ilmu
akan menghancurkan jiwa raganya di dunia sekaligus
di akhirat. Demikian makna penjelasan Imam
Ahmad, sebagaimana dinukilkan dari Syudzurat Adz
Dzahab.
Oleh sebab itulah, Allah Yang Maha Pengasih lagi
Maha Penyayang mensyariatkan hamba-Nya untuk
menuntut ilmu demi keselamatan hamba di dunia
dan di akhirat. Marilah kita perhatikan bahwa Allah
telah memerintahkan untuk berilmu terlebih dahulu
sebelum segala sesuatu. Allah berfirman:
kedua perintah untuk beramal. Hal ini
m e n u n j u k k a n b a h w a ke d u d u k a a n i l m u
didahulukan daripada amal, sekaligus menunjukkan
pula bahwa ilmu adalah syarat keabsahan ucapan dan
amalan. Artinya jika kita berucap atau beramal tanpa
didasari ilmu maka tidak sah. Demikian
sebagaimana disebutkan dalam Hasyiah Tsalatsatul
Ushul. Berdalil dengan ayat ini pula Imam Al Bukhari
membuat bab khusus dalam kitab Shahih beliau,
‘Bab mengilmui dahulu sebelum berucap dan
beramal.’
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga
bersabda dalam hadits Anas bin Malik z:
”Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim.”
[H.R. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al Albani
dalam Shahih At-Targhib]. Imam Ahmad
rahimahullah menjelaskan bahwa wajib atas setiap
orang untuk menuntut ilmu yang bisa menegakkan
agama. Yaitu ilmu yang tidak ada kelonggaran untuk
tidak mengetahuinya, tentang shalatnya, puasanya
dan yang semacamnya.
Syaikh Muhammad At Tamimi menjelaskan,
“Ketahuilah bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban.
Ilmu adalah obat bagi hati yang sakit. Ketahuilah pula
bahwa perkara terpenting bagi hamba adalah mengetahui
agamanya, yang mana mengilmui dan mengamalkannya
adalah sebab masuk ke dalam surga. Sebaliknya,
kebodohan dan masa bodoh terhadap agama adalah sebab
terjerumusnya seseorang ke dalam neraka. Semoga Allah
menyelamatkan kita dari neraka.” [Hasyiah Tsalatsatul
Ushul]. Jelas bagi kita dari ayat dan hadits serta
penjelasan para ulama di atas bahwa menuntut ilmu
agama ini adalah wajib atas setiap individu.
“Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada
Ilah (sesembahan) yang benar untuk diibadahi selain Allah
dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa)
orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” [Q.S.
Muhammad:19].
Ya, kita diciptakan Allah dengan segala fasilitas
tentu mempunyai tujuan, bukan sia-sia. Tetapi untuk
memurnikan peribadahan kepada-Nya semata,
untuk memakmurkan bumi dengan ketaatan, serta
meninggikan kalimat-Nya setinggi-tingginya. Semua
ini bisa terwujud dengan berilmu terlebih dahulu
sebelum segala melakukan sesuatu. Inilah jalan
kebahagiaan dan keselamatan.
Dalam ayat ini Allah memerintahkan dua
perkara kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Yang pertama perintah berilmu kemudian yang
Allahu a’lam. [Farhan].
Http://tashfiyah.net/2011/06/muslim-wajibbelajar/
PERHATIAN : JANGAN DIBACA SAAT KHATIB SEDANG BERKHUTBAH !!!
Download