II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA

advertisement
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1. Bawang Merah
Bawang merah dikenal dengan nama ilmiah Allium ascalonicum L.
Bawang Merah berasal dari wilayah yang sama dengan bawang putih yaitu
kawasan Asia Tengah yaitu di sekitar India, Pakistan sampai Palestina. Jika
dibandingkan dengan jenis bawang lainnya, bawang merah di Indonesia lebih
populer dan banyak dibudidayakan.
Pada umumnya, bawang merah dimanfaatkan sebagai bumbu penyedap
rasa masakan. Bawang merah mengandung minyak atsiri yang dapat menciptakan
aroma yang khas dan memberikan cita rasa pada masakan. Selain itu, minyak asiri
ini juga berfungsi sebagai pengawet karena bersifat bakterisida dan fungisida
untuk bakteri dan cendawan tertentu (Rahayu dan Berlian, 1994).
2.1.2 Kentang
Kentang (Solanum tuberosum L.) berasal dari wilayah pegunungan Andes
di Peru dan Bolivia. Suku Inka telah memanfaatkan kentang sekurang-kurangnya
sejak 2000 tahun sebelum kedatangan penjajah Spanyol. Pendugaan umur dengan
menggunakan C14 terhadap butiran pati yang ditemukan dalam penggalian
arkaelogi menunjukkan bahwa kentang telah dimanfaatkan sekurang-kurangnya
sejak 8000 tahun yang lalu (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).
Kentang termasuk jenis tanaman sayuran semusim, berumur pendek, dan
berbentuk perdu atau semak. Kentang termasuk tanaman semusim karena hanya
satu kali berproduksi dan setelah itu mati. Umur tanaman ini relatif pendek, hanya
90-180 hari (Samadi, 2007). Kentang merupakan salah satu tanaman sumber
karbohidrat. Kentang bermanfaaat untuk meningkatkan energi di dalam tubuh
manusia. Energi ini kemudian membuat manusia dapat bergerak, berpikir dan
melakukan berbagai aktivitas lainnya. Selain itu, karbohidrat juga berperan
penting untuk meningkatkan proses metabolisme tubuh.
11
2.1.3 Teori Perdagangan Internasional
Perdagangan memiliki peranan yang sangat penting dalam memenuhi
kebutuhan manusia karena dapat menyalurkan barang hasil produksi dari
produsen ke konsumen. Perdagangan antarnegara atau yang lebih dikenal dengan
perdangan internasional sudah terjadi sejak zaman dulu namun dalam skala yang
masih relatif kecil.
Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh
penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan
bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antar perorangan (individu
dengan individu), antara individu dengan pemerintah suatu negara atau
pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain. Perdagangan
internasional yang tercermin dari kegiatan ekspor dan impor suatu negara menjadi
salah satu komponen dalam pembentukan PDB (Produk Domestik Bruto) dari sisi
pengeluaran negara. Peningkatan ekspor bersih suatu negara menjadi faktor utama
untuk meningkatkan PDB suatu negara (Oktaviani dan Novianti, 2009).
Dalam perdagangan internasional terdapat beberapa teori, dimulai dari
merkantilisme. Teori merkantilisme adalah suatu teori yang berpendapat bahwa
perdagangan internasional akan terjadi apabila terdapat kesempatan memperoleh
surplus neraca transaksi berjalan (current account). Oleh karena itu, kegiatan
ekspor-impor diletakkan sebagai lokomotif utama yang dipacu melalui
peningkatan industri dalam negeri. Teori ini pada akhirnya mengetengahkan
pemikiran bahwa kegiatan ekspor harus lebih besar dibandingkan impor (Halwani,
2002).
Teori merkantilisme ini mendapat beberapa kritikan diantaranya dari
Adam Smith. Smith, datang dengan teori keunggulan mutlak (absolut advantage)
yang menerangkan bagaimana perdagangan internasional dapat menguntungkan
kedua belah pihak. Teori ini berpendapat setiap negara akan memperoleh manfaat
perdagangan internasional (gain from trade) karena melakukan spesialisasi
produksi dan mengekspor barang jika negara tersebut memiliki keunggulan
mutlak (absolute advantage), serta mengimpor barang jika negara tersebut
memiliki ketidakunggulan mutlak (absolute disadvantage) (Hadi, 2001).
12
David Ricardo menyempurnakan teori keunggulan absolut
yang
dikemukakan oleh Adam Smith dengan teori keunggulan komparatif (The Law of
Comparative Advantage). Teori ini berpendapat bahwa walaupun suatu negara
tidak memiliki keunggulan absolut dalam memproduksi dua jenis komoditas jika
dibandingkan negara lain, namun perdagangan yang saling menguntungkan masih
dapat berlangsung, selama rasio harga antarnegara masih berbeda jika
dibandingkan tidak ada perdagangan.
Teori David Ricardo ini didasarkan pada nilai tenaga kerja atau theory of
labour value yang menyatakan bahwa nilai atau harga suatu produk ditentukan
oleh jumlah jam kerja yang diperlukan untuk memproduksinya. Oleh karena itu,
suatu negara akan memperoleh manfaat dari perdagangan internasional jika
melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang dimana negara tersebut
dapat berproduksi relatif lebih efisien serta mengimpor barang dimana negara
tersebut berproduksi relatif kurang/tidak efisien (Hady, 2001).
Teori Heckscher-Ohlin menyatakan perbedaan opportunity cost suatu
produk antara satu negara dengan negara lain dapat terjadi karena adanya
perbedaan jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki (endowment factor)
masing-masing negara. Oleh karena itu, menurut teori ini sebuah negara akan
mengekspor komoditas yang produksinya lebih banyak menyerap faktor produksi
yang relatif melimpah dan murah di negara tersebut, dan mengimpor komoditas
yang produksinya memerlukan sumberdaya yang relatif terbatas dan mahal di
negara tersebut.
Pada gambar 2.1, secara teoritis dapat dilihat dimana negara 1 adalah
negara pengekspor dan negara 2 adalah negara pengimpor. Negara 1 (eksportir)
akan mengekspor suatu komoditi ke negara 2. Saat sebelum terjadi perdagangan,
harga di negara 1 terletak pada P1 karena itu terjadi kelebihan penawaran (excess
supply) sebesar garis BE. Adanya kelebihan penawaran dengan harga yang
tergolong rendah memberikan kesempatan kepada negara 1 untuk menjual
kelebihan produksinya ke negara 2.
Negara 2 sebagai negara pengimpor (importir) mengalami kekurangan
supply (penawaran) karena konsumsi domestiknya melebihi produksinya sehingga
terjadi kelebihan permintaan (excess demand) sebesar garis B’E’. Harga yang
13
terbentuk menjadi lebih tinggi yaitu sebesar P3. Hal ini menyebabkan terjadinya
perdagangan antarnegara. Kedua negara melakukan perdagangan melalui pasar
internasional sehingga terjadi keseimbangan pada e*, dan harga yang terbentuk di
pasar internasional berada pada P2.
Panel A
Px/Py
Px/Py
Pasar di Negara 1
untuk Komoditas X
SX
P3
A’’
Panel B
Hubungan
Perdagangan
Internasional dalam
Komoditas X
Ekspor
B
E
Pasar di
Negara 2
untuk
Komoditas X
SX
S
A’
e*
P2
Panel C
Px/Py
E’
B’
B*
Impor
P1
A*
A
DX
0
X
DX
D
X
0
X
Sumber: Salvatore, 1997
Gambar 2.1 Keseimbangan Parsial dalam Perdagangan Internasional
keterangan:
Px/Py
= Harga relatif komoditas X
P1
= Harga domestik komoditas X di negara 1, sebagai negara eksportir
sebelum terjadi perdagangan internasional
P2
= Harga yang terjadi di pasar internasional setelah terjadi perdagangan
internasional
P3
= Harga domestik komoditas X di negara 2, sebagai negara importir
sebelum terjadi perdagangan internasional
BE
= Besarnya excess supply di negara 1 atau jumlah yang diekspor
B’E’
= Besarnya excess demand di negara 2 atau jumlah yang diimpor
2.1.4 Teori Permintaan
Menurut (Putong, 2002), permintaan adalah banyaknya jumlah barang
yang diminta pada suatu pasar tertentu, pada tingkat pendapatan tertentu, dan
dalam periode tertentu. Jumlah komoditas total yang ingin dibeli oleh semua
14
rumah tangga disebut jumlah yang diminta (quantity demanded) untuk komoditas
tersebut (Lipsey, 2005). Banyaknya komoditas yang akan dibeli semua rumah
tangga pada periode waktu tertentu dipengaruhi oleh variabel penting berikut ini
yaitu: harga komoditas itu sendiri, rata-rata penghasilan rumah tangga, harga
komoditas yang berkaitan, selera, distribusi pendapatan diantara rumah tangga,
dan besarnya populasi.
P
P1
a
P2
b
P3
c
D
Q = f(P)
Q1 Q2 Q3
Sumber: Lipsey, 1995
Gambar 2.2. Kurva Permintaan
keterangan:
P
= harga komoditas
Q
= jumlah komoditas yang diminta
Gambar 1, menunjukkan bagaimana hubungan antara harga dengan jumlah
komoditas yang diminta. Suatu hipotesis ekonomi dasar menyatakan bahwa harga
suatu komoditas akan berhubungan negatif dengan kuantitas yang akan diminta,
dengan faktor lain tetap sama (ceteris paribus). Hal ini berarti, semakin rendah
harga suatu komoditas maka jumlah yang akan diminta untuk komoditas tersebut
akan semakin besar, dan semakin tinggi harga suatu komoditas maka jumlah yang
akan diminta untuk komoditas tersebut akan semakin kecil. Gambar 1,
menunjukkan gambaran umum kurva permintaan yaitu jumlah yang diminta pada
Q dengan tingkat harga pada P. Titik – titik a, b, dan c merupakan titik-titik
kombinasi antara harga komoditas dan jumlah yang diminta. Kemiringan yang
semakin menurun pada kurva menunjukkan hubungan berbanding terbalik antara
harga dengan jumlah komoditas yang diminta.
Rata-rata pendapatan rumah tangga akan berpengaruh terhadap permintaan
masyarakat. Kenaikan pendapatan rata-rata rumah tangga akan menggeser kurva
15
permintaan untuk kebanyakan komoditas ke arah kanan. Ini menunjukkan akan
lebih banyak komoditas itu yang akan diminta pada setiap tingkat harga yang
mungkin.
Faktor lain yang mempengaruhi permintaan suatu komoditas adalah harga
barang lain yang memiliki keterkaitan dengan komoditas tersebut. Keterkaitan
antara dua jenis komoditas dapat bersifat substitusi (pengganti) dan bersifat
komplemen (pelengkap). Jika harga komoditas substitusi suatu barang meningkat,
maka harga barang tersebut menjadi relatif lebih murah. Hal ini kemudian
meningkatkan permintaan akan barang tersebut. Namun, jika harga komoditas
pelengkap suatu barang meningkat yang mengakibatkan penurunan permintaan,
akan berdampak pada penurunan permintaan barang tersebut. Selera berpengaruh
besar terhadap keinginan orang untuk membeli. Perubahan selera memang bisa
lama sekali. Namun cepat atau lambat, perubahan selera terhadap suatu komoditas
akan menggeser kurva permintaan ke arah kanan. Artinya, lebih banyak
komoditas yang akan dibeli pada tiap tingkat harga.
Perubahan distribusi pendapatan akan menggeser kurva-kurva permintaan
untuk komoditas yang dibeli. Jika masyarakat memperoleh tambahan pendapatan
maka kurva permintaan akan bergeser ke kanan. Sebaliknya, jika masyarakat
mengalami penurunan pendapatan maka kurva permintaannya akan bergeser ke
kiri. Distribusi pendapatan yang dimaksud adalah jika suatu pendapatan total
yang konstan didistribusikan kembali kepada sejumlah penduduk yang
mengakibatkan perubahan permintaan.
Kenaikan jumlah penduduk juga memengaruhi permintaan suatu komoditi.
Kenaikan jumlah penduduk akan menggeser kurva-kurva permintaan untuk
komoditas ke arah kanan, yang menunjukkan bahwa
akan lebih banyak
komoditas yang dibeli pada setiap tingkat harga.
2.1.5 Pergerakan dan Pergeseran Kurva Permintaan
Perubahan permintaan dapat terjadi karena dua sebab utama. Sebab utama
tersebut yaitu perubaan yang disebabkan oleh perubahan harga komoditas itu
sendiri dan perubahan yang disebabkan oleh faktor lain selain harga komoditas itu
sendiri. Perubahan faktor lain selain harga yang dimaksud dapat berupa perubahan
16
jumlah penduduk, pendapatan, selera, distribusi pendapatan, dan harga komoditas
lain yang terkait.
Perubahan pada harga barang itu sendiri akan langsung memengaruhi
jumlah barang yang diminta. Perubahan yang terjadi akan menyebabkan
pergerakan pada kurva permintaan. Perubahan ini hanya terjadi dalam satu kurva.
Jumlah barang yang diminta akan mengalami perubahan apabila terjadi perubahan
harga barang itu sendiri. Kenaikan harga dari P2 ke P1 akan menyebabkan jumlah
barang yang diminta berkurang dari Q2 ke Q1. Keseimbangan permintaan berubah
yaitu pergerakan dari titik B ke titik A.
P
P1
A
P2
C
B
D
D1
D0
Q
Q1
Q2 Q3
Q4
Sumber: Lipsey, 1995
Gambar 2.3. Pergerakan dan Pergeseran Kurva Permintaan
keterangan:
P
= harga komoditas
Q
= jumlah komoditas yang diminta
Jika perubahan permintaan disebabkan faktor lain selain harga barang itu
sendiri akan menyebabkan pergeseran pada kurva permintaan. Suatu pergeseran
kurva permintaan ke kanan dapat disebabkan oleh kenaikan pendapatan, kenaikan
jumlah penduduk, kenaikan distribusi pendapatan,
perubahan selera menjadi
lebih menyukai komoditi, penurunan pada harga komoditi komplementer, dan
kenaikan pada komoditi subtitusi. Pergeseran kurva permintaan ke kiri terjadi
17
karena kondisi sebaliknya. Pergeseran kurva permintaan ke kanan ditunjukkan
oleh pergeseran kurva permintaan dari D0 ke D1.
2.1.6 Konsep Gravity Model
Model gravitasi (gravity model) digunakan untuk menerka perdagangan
berdasarkan jarak antarnegara dan interaksi antarnegara. Model ini terbentuk
berdasarkan kinerja hukum Gravitasi Newton. Model ini pertama kali diterapkan
oleh Jan Tinbergen (1962) dan Poyhonen (1963)
untuk menganalisis aliran
perdagangan antarnegara Eropa. Selanjutnya Bergstrand (1985) dalam Napitupulu
(2007) menerapkan persamaan gravitasi dari keseimbangan model perdagangan
dunia. Tidak hanya digunakan untuk menganalisis perdagangan secara agregat,
gravity model juga diterapkan terhadap aliran perdagangan suatu komoditas.
Napitupulu (2007) menjelaskan bahwa pemikiran mendasar yang menjadi
argumen pemakaian gravity model adalah negara yang lebih besar dan kaya akan
lebih banyak melakukan perdagangan internasional dibandingkan dengan negara
yang kecil dan miskin. Perumusan Teori Gravitasi Newton dalam fisika yaitu:
Fij = G X
“interaksi antar dua objek adalah sebanding dengan massanya dan berbanding
terbalik dengan jarak masing-masing”
Jika persamaan tersebut diaplikasikan dalam perdagangan internasional maka,
F
= Volume aliran perdagangan
M
= Ukuran ekonomi untuk kedua negara
D
= Jarak ekonomi kedua negara
G
= konstanta
Dengan menggunakan persamaan logaritma, persamaan diatas kemudian diubah
kedalam bentuk linear dan menjadi bentuk umum dari Gravity Model untuk
analisis ekonometrika, dimana konstanta G menjadi bagian dari
dan GDP
0,
menggambarkan ukuran ekonomi untuk kedua negara.
Log (Aliran Perdagangan Bilateral) =
0
+
1
log (GDP negara 1) +
negara 2) +
3 log
(Jarak) +
Secara umum persamaan gravity model adalah sebagai berikut:
Log Xij =
0+
1 log
Yj +
2 log
Pj +
3 log
Dij +
ij
2
log (GDP
18
keterangan:
Xij
= Volume komoditas yang diperdagangkan dari negara i ke negara j
Yj
= GDP negara j
Pj
= Jumlah populasi negara j
Dij
= Jarak antarnegara i dengan negara j
Pada penerapannya dalam perdagangan antarnegara, bentuk model ini
disusun oleh tiga jenis variabel utama, yang terdapat pada setiap gravity model
untuk aliran perdagangan bilateral yaitu:
1. Variabel yang mewakili total total permintaan potensial negara pengimpor
2. Variabel yang mewakili total penawaran potensial negara pengekspor
3. Variabel yang mewakili pendukung atau penghambat aliran perdagangan
Selanjutnya akan dijelaskan lebih lanjut mengenai pengaruh variabelvariabel yang terdapat pada model gravitasi atau gravity model, diantaranya:
2.1.6.1 Gross Domestik Product (GDP)
Gross Domestik Product adalah jumlah barang dan jasa yang diproduksi di
dalam suatu negara selama periode ekonomi tertentu. GDP dapat juga digunakan
untuk mengukur pendapatan setiap orang dalam perekonomian dan pengeluaran
total terhadap output barang dan jasa perekonomian. Dalam model gravitasi,
semakin besar GDP yang dihasilkan suatu negara mengindikasikan semakin besar
pula kemampuan negara tersebut untuk melakukan perdagangan. Sehingga, GDP
baik yang dimiliki negara pengekspor maupun pengimpor akan memengaruhi
voleme perdagangan antar kedua negara.
2.1.6.2 Populasi
Jumlah penduduk atau populasi suatu negara akan memengaruhi besarnya
kebutuhan negara tersebut terhadap komoditas perdagangan. Hal ini dapat
ditunjukkan dengan peningkatan permintaan seiring dengan peningkatan jumlah
penduduk disuatu negara, ceteris paribus. Peningkatan jumlah penduduk akan
memengaruhi dari dua sisi yaitu sisi permintaan dan sisi penawaran.
Dari sisi permintaan peningkatan jumlah penduduk menunjukkan
kebutuhan
yang
semakin
meningkat
terhadap
komoditas
perdagangan.
Peningkatan kebutuhan ini tercermin dari peningkatan permintaan pada negara
19
tujuan ekspor yang menyebabkan terjadinya pergeseran kurva permintaan kearah
kanan dan terjadinya ekses demand di pasar internasional. Hal tersebut kemudian
berdampak pada peningkatan harga komoditi tersebut dan akan mendorong negara
pengekspor untuk melakukan perdagangan atau ekspor.
Sementara itu, dari sisi penawaran peningkatan jumlah penduduk
mengakibatkan peningkatan kebutuhan akan komoditas tersebut di pasar
domestik. Hal ini akan menyebabkan pengurangan jumlah ekspor komoditas yang
berakibat terjadinya excess demand (jika permintaan awal tetap) di pasar
internasional. Setelah itu, akan terjadi peningkatan harga, ceteris paribus. Namun,
dampak lain yang dapat ditimbulkan akibat kenaikan jumlah penduduk dari sisi
penawaran yaitu peningkatan faktor produksi karena penambahan sumberdaya
tenaga kerja.
2.1.6.3 Nilai Tukar
Menurut Mankiw (2003), nilai tukar adalah tingkat harga yang disepakati
penduduk kedua negara untuk saling melakukan perdagangan. Kebijakan
perdagangan internasional suatu negara akan dipengaruhi oleh peningkatan
maupun penurunan nilai tukar. Nilai tukar dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu
nilai tukar nominal dan nilai tukar riil. Nilai tukar nominal merupakan harga
relatif mata uang dua negara sedangkan nilai tukar riil merupakan harga relatif
dari barang-barang diantara dua negara.
Nilai tukar riil diantara kedua negara dihitung dari nilai tukar nominal dan
tingkat harga di kedua negara. Jika nilai tukar riil tinggi, barang-barang luar
negeri relatif lebih murah dan barang-barang domestik relatif lebih mahal.
Begitupun sebaliknya, jika nilai tukar riil rendah, maka barang-barang luar negeri
relatif lebih mahal dan barang-barang domestik relatif lebih murah.
Nilai tukar riil = Nilai Tukar Nominal X Rasio Tingkat Harga
Adapun hubungan antara nilai tukar riil dengan ekspor neto dapat
dirumuskan sebagai berikut (Mankiw, 2003):
NX = NX ( )
dimana : NX = Ekspor neto
= Kurs Riil
20
Gambar dibawah menunjukkan hubungan antara kurs riil dengan ekspor
neto: semakin rendah kurs, semakin murah harga barang domestik relatif terhadap
barang-barang luar negeri, hal ini akan menyebabkan ekspor domestik semakin
besar.
Kurs Riil (€)
e1
e2
NX (e)
Ekspor Neto (NX)
NX1 NX2
Sumber: Mankiw, 2003.
Gambar 2.4 Hubungan Kurs Riil dengan Ekspor Neto
keterangan:
e
= kurs riil
NX
= Ekspor bersih (net ekspor)
2.1.6.4 Jarak Antara Pengekspor dengan Pengimpor
Jarak merupakan faktor geografi yang menjadi variabel utama gravity
model untuk aliran perdagangan. Jarak, dalam kaitannya dengan perdagangan
akan memberikan pengaruh dalam masalah biaya angkut (transportasi) komoditas
yang diperdagangkan antarnegara. Hal ini kemudian berdampak pada biaya
transaksi dari perdagangan suatu komoditas. Jarak yang digunakan dalam
penelitian ini adalah jarak ekonomi. Jarak ekonomi yang digunakan dalam
penelitian ini merupakan jarak geografis antar ibukota negara yaitu antar ibukota
negara Indonesia dengan negara asal impor yang dikalikan dengan total GDP
negara asal impor yang telah dibagi dengan GDP masing-masing negara asal.
Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
Jarak Ekonomi = Jarak Geografis X
21
Penggunaan jarak ekonomi ini disebabkan jarak geografis antar ibukota
negara Indonesia dengan negara asal impor tidak berubah atau konstan. Oleh
karena itu, kondisi tersebut tidak dapat digunakan dalam melihat faktor jarak
terhadap aliran ekspor jika hanya menggunakan jarak geografis saja, akan tetapi
dapat dilihat dari share GDP-nya yang menunjukkan kecenderungan perdagangan
diantara kedua negara.
Analisis untuk menjelaskan biaya transportasi dalam memengaruhi
perdagangan dapat dilakukan dengan metode analisis keseimbangan parsial.
Metode analisis keseimbangan parsial menganalisis biaya dengan satuan absolut
(nominal uang), dengan asumsi kurs mata uang dua negara yang melakukan
perdagangan selalu konstan, demikian juga indikator ekonomi lainnya kecuali
tingkat konsumsi yang ditolerir dapat berubah.
Pada Gambar 2.5 sumbu vertikal mengukur harga komoditas Z dalam satuan
dolar yang berlaku dikedua negara. Setiap pergerakan ke sebelah kiri dari pusat
sumbu mengukur peningkatan kuantitas komoditi Z untuk negara 1. Sebelum
adanya perdagangan internasional, Negara 1 akan berproduksi sebanyak 50Z dan
dengan harga sebesar $5. Sedangkan Negara 2 akan memproduksi komoditas Z
sebanyak 50 unit dengan harga sebesar $11.
Pz ($)
Sz
Negara 2
13
Sz
11
Negara 1
9
Ekspor
7
.
5
Impor
.
D
3
D
Z
Z
100
70
50
30
0
30 50
70
100
Sumber : Salvatore, 1997
Gambar 2.5 Analisis Keseimbagan Parsial Atas Biaya Transportasi
22
Setelah perdagangan internasional berlangsung diantara kedua negara
tersebut maka akan menyebabkan ekspor dan impor diantara negara yang
bersangkutan. Negara 1 akan mengekspor komoditi Z ke negara 2 ketika harga
mulai mengalami kenaikan di negara 1. Kenaikan harga ini mendorong Negara 1
untuk memproduksi komoditi Z dan kemudian kelebihan produksinya akan
diekspor ke Negara 2. Di Negara 2 harga dari komoditas Z mulai menurun. Tanpa
adanya biaya transportasi maka harga yang berlaku di kedua negara adalah sama
yaitu $8 dengan jumlah komoditas Z yang diperdagangkan antarnegara sebanyak
60 unit.
Lain halnya ketika terjadi perdagangan internasional dengan adanya biaya
transportasi, misalkan $1 per unit, maka harga di Negara 2 akan melampaui harga
di Negara 1 sebesar $1. Pada Gambar 2.5, hal tersebut terjadi apabila harga
sebesar $7 di Negara 1 dan harga $9 di Negara 2. Pada harga $7 maka Negara 1
akan meningkatkan produksi domestik pada komoditi Z hingga 70 unit,
diantaranya konsumsi domestik 30 unit dan 40 unit sisanya diekspor ke Negara 2.
Sedangkan pada saat harga $9 di Negara 2, produksi komoditi Z turun menjadi 30
unit dan tingkat konsumsi domestiknya naik menjadi 70 unit, sisa 40 unit
kekurangan diimpor dari negara 1. Oleh karena itu, dengan adanya biaya
transportasi maka akan menyebabkan penurunan dalam produksi dan berdampak
pada penurunan volume perdagangan.
2.1.7 Panel Data
Data empiris dalam suatu kasus ekonomi terdiri dari berbagai macam tipe,
yaitu data berkala (time series), data tampang lintang (cross section), dan data
penel yang merupakan gabungan antara data berkala dan data tampang lintang
(Setiawan dan Kusrini, 2010). Juanda (2009) menjelaskan ada beberapa
keuntungan menggunakan data panel dalam model regresi dibandingkan hanya
dengan time series atau hanya data cross section, yaitu:
1. Data panel akan memberikan informasi yang lebih lengkap, lebih beragam
kurang berkorelasi antar variabel, derajat bebas lebih besar dan lebih efisien.
2. Studi data panel lebih memuaskan untuk menentukan perubahan dinamis
dibandingkan dengan studi berulang dari cross section.
23
3. Membantu studi untuk menganalisis perilaku yang lebih kompleks, misalnya
fenomena skala ekonomi dan perubahan teknologi.
4. Dapat meminimumkan bias yang dihasilkan oleh agregasi individu atau
perusahaan karena unit data lebih banyak.
Menurut Syahrial dalam Yuliastuti (2010), dikenal tiga macam pendekatan
dalam analisis model panel data yang terdiri dari:
Pendekatan yang paling sederhana dalam pengolahan data panel adalah
dengan menggunakan metode kuadrat terkecil biasa yang diterapkan dalam data
yang berbentuk pool . Misalkan terdapat persamaan berikut ini:
Yit =
+
j
it
j+
untuk i = 1,2, ...,N dan t = 1,2,...T
it
Dimana N adalah jumlah unit cross section (individu) dan T adalah jumlah
periode waktunya. Dengan mengasumsi komponen error dalam pengolahan
kuadrat terkecil biasa, maka proses estimasi secara terpisah dapat dilakukan untuk
setiap unit cross section. Untuk periode t = 1, akan diperoleh persamaan regresi
cross section sebagai berikut:
Yi1 =
+
j
it
j+
untuk i = 1,2,.....N
i1
yang akan berimplikasi diperolehnya persamaan sebanyak T persamaan yang
sama dan begitu pun sebaliknya akan diperoleh persamaan deret waktu (time
series) sebanyak N persamaan untuk setiap T observasi. Namun untuk
mendapatkan parameter
dan
yang konstan dan efisien, akan data diperoleh
dalam bentuk regresi yang lebih besar dengan melibatkan sebanyak NT observasi.
1) Pendekatan Efek Tetap (Fixed Effect)
Kesulitan terbesar dalam pendekatan metode kuadrat terecil biasa adalah
asumsi intersep dan slope dari persamaan regresi yang dianggap konstan baik
antar daerah maupun antar waktu yang mungkin tidak beralasan. Generelasi
secara umum yang sering dilakukan adalah dengan memasukkan variabel boneka
(dummy variabel) untuk mengizinkan terjadinya perbedaan nilai parameter yang
berbeda-beda baik lintas unit cross section maupun time series.
Pendekatan dengan memasukkan variabel dummy ini dikenal dengan
sebutan model efek tetap (fixed effect) atau Least Square Dummy Variabel atau
disebut juga (Covariance Model). Pendekatan tersebut dapat dituliskan dalam
persamaan sebagai berikut:
24
Yit =
i+
j
it
j+
∑
t+
eit
keterangan:
Yit
= variabel terikat diwaktu t untuk unit cross section i
i
= intersep yang berubah-ubah antar cross section unit
j
it
= variabel bebas j di waktu t untuk unit
j
= parameter untuk variabel ke j
i
= komponen error diwaktu t untuk unit cross section i
eit
2) Pendekatan Efek Acak (Random Effect)
Memasukkan variabel dummy dalam efek tetap dapat menimbulkan
konsekuensi (trade off) yaitu akan dapat mengurangi derajat kebebasan (degree of
freedom) yang akhirnya akan mengurangi efisiensi dari parameter yang
diestimasi. Pendekatan yang dapat digunakan untuk mengatasi hal ini adalah
model efek acak (random effect). Dalam model ini, parameter-parameter yang
berbeda antar daerah maupun antar waktu dimasukkan kedalam error.
Model efek acak ini dijelaskan dengan persamaan berikut:
Yit =
it =
+
j
it
j+
it
ui + vt + wit
dimana:
ui ~ N(0,
vt
~
N(0,
wit ~ N(0,
u
2
) = komponen cross section error
2
v )
= komponen time series error
2
w )
= komponen error kombinasi
Dalam model ini, diasumsikan bahwa error secara individual juga tidak
saling berkorelasi begitu juga dengan error kombinasinya. Penggunaan model
efek acak ini, dapat menghemat pemakaian derajat kebebasan dan tidak
mengurangi jumlahnya seperti yang akan dilakukan pada model efek tetap. Hal ini
berimplikasi parameter yang merupakan hasil estimasi akan menjadi semakin
efisien. Keputusan penggunaan model efek tetap ataupun efek acak ditentukan
dengan menggunakan spesifikasi yang dikembangkan oleh Hausmann. Spesifikasi
ini akan memberikan penilaian dengan menggunakan chi square statistic sehingga
keputusan pemilihan model akan dilakukan secara statistik.
25
2.1.8 Penelitian Terdahulu
2.1.8.1 Penelitian Mengenai Model Gravitasi dan Data Panel
Berbagai penelitian terdahulu yang terkait aliran perdagangan dengan
menggunakan model gravitasi dan data panel telah banyak dilakukan. Penelitian
tersebut dilakukan dengan berbagai jenis data dan jenis komoditas yang berbeda.
Soelaksono (2010) melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi aliran perdagangan ekspor komoditas perkebunan Indonesia.
Terdapat lima jenis komoditas yang diteliti yaitu karet, kelapa sawit, kopi, teh,
dan biji kakao. Dari kelima jenis komoditas yang diteliti tersebut, secara umum
menunjukkan pola kecenderungan volume ekspor yang berfluktuatif.
Dalam penelitian tersebut, faktor-faktor aliran perdagangan untuk kelima
komoditas perkebunan Indonesia diestimasi dengan menggunakan model efek
tetap (fixed effect). Dari semua variabel independen yang digunakan, terdapat dua
variabel yang memiliki pengaruh untuk seluruh model persamaaan komoditas
yaitu jarak dan dummy (adanya krisis global), sehingga secara umum pengaruh
besarnya jarak antara pengekspor dengan negara tujuan impor serta adanya krisis
global tidak menyebabkan turunnya permintaan ekspor komoditas perkebunan
Indonesia karena komoditas tersebut merupakan kebutuhan primer yang harus
dipenuhi.
Selain itu variabel-variabel lainnya yang digunakan dalam model memiliki
pengaruh yang beragam pada masing-masing komoditas. Komoditas karet
dipengaruhi oleh variabel PDB, jarak, nilai tukar, dan adanya krisis global.
Komoditas kelapa sawit dipengaruhi oleh variabel populasi, jarak, dan adanya
krisis. Komoditas kopi dipengaruhi oleh variabel harga komoditas, populasi,
jarak, dan adanya krisis global. Komoditas teh dipengaruhi oleh variabel Produk
Domestik Bruto, jarak, nilai tukar, dan adanya krisis global. Komoditas biji kakao
dipengaruhi oleh harga komoditas, jarak dan adanya krisis global.
Alam et al. (2009) meneliti tentang aliran impor Bangladesh dengan
menggunakan pendekatan model gravitasi. Penelitian tersebut bertujuan untuk
menganalisis impor Bangladesh sebagai salah satu faktor yang paling signifikan
dalam neraca perdagangan negara tersebut. Data yang digunakan adalah data
panel dari tahun 1985 – 2003, dan data cross section yang digunakan adalah
26
negara-negara mitra dagang terbesar: Cina, Singapura, Jepang, Hongkong, Korea
Selatan, Amerika Serikat, dan Malaysia.
Hasil penelitian menunjukkan pengaruh impor terhadap produksi
Bangladesh sangat kecil, hal ini disebabkan kebanyakan impor negara ini adalah
impor barang konsumsi dan bukan barang modal. Selain itu, populasi Bangladesh
memiliki dampak yang signifikan terhadap impor yang artinya Bangladesh tidak
mampu memenuhi peningkatan permintaan domestik akan barang konsumsi.
Selain itu, hal ini juga menunjukkan PDB negara-negara mitra dagang yang lebih
besar bila dibandingkan dengan Bangladesh.
Yuliastuti (2010) melakukan penelitian yang berjudul analisis aliran
perdagangan ekspor rumput laut Indonesia periode 1999-2008. Penelitian ini
menggunakan data panel, yaitu kombinasi antara data time series selama periode
1999-2008 dan data cross section sepuluh negara tujuan ekspor rumput laut
Indonesia yang kemudian dianalisis dengan menggunakan model gravitasi.
Hasil pengolahan regresi data panel menunjukkan bahwa metode yang
terbaik dalam estimasi model adalah metode fixed effect. Selain itu, berdasarkan
uji t-statistik pada taraf nyata lima persen, diketahui bahwa harga komoditi
rumput laut Indonesia di negara tujuan ekspor, populasi penduduk negara
importir, GDP riil negara pengimpor berpengaruh signifikan terhadap aliran
perdagangan ekspor rumput laut Indonesia. Faktor yang paling mempengaruhi
positif adalah populasi penduduk negara tujuan ekspor dan yang negatif adalah
jarak ekonomi Indonesia dan negara tujuan ekspor.
2.1.8.2 Penelitian Mengenai Impor
Tresnawan (2006) melakukan penelitian terkait dengan analisis tren dan
faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan impor kentang di Indonesia. Data
sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistika Indonesia kemudian
dianalisis dengan menggunakan analisis tren dan analisis regresi data panel.
Berdasarkan hasil pengolahan data impor kentang periode 2001-2003 dari lima
negara pengimpor terbesar ke Indonesia, diperoleh
Indonesia
cenderung
fluktuatif.
Secara
umum
tren impor kentang di
didapatkan
model
tren
eksponensial. Penelitian ini juga menyimpulkan faktor-faktor yang mempengaruhi
27
nilai impor kentang di Indonesia pada taraf satu persen yaitu nilai tukar rupiah,
harga impor, Produk Domestik Bruto, dan lag nilai impor bulan sebelumnya.
Jumini (2008) melakukan penelitian dengan judul analisis faktor-faktor
yang mempengaruhi permintaan bawang putih impor di Indonesia. Hasil
penelitian dengan menggunakan analisis regresi berganda menunjukkan, dari
delapan variabel yang di uji, ada empat variabel yang berpengaruh terhadap
permintaan bawang putih impor. Keempat variabel tersebut yaitu harga bawang
putih lokal (pada taraf nyata lima persen), konsumsi bawang putih lokal (taraf
nyata 10 persen), produksi bawang putih dalam negeri (taraf nyata lima persen)
dan harga bawang putih impor (taraf nyata 15 persen).
2.1.9 Relevansi dengan Penelitian Sebelumnya
Penelitian
sebelumnya
membahas
tren
dan
faktor-faktor
yang
mempengaruhi permintaan kentang di Indonesia dengan menggunakan analisis
tren dan analisis regresi data panel. Penelitian ini membahas faktor-faktor yang
memengaruhi aliran perdagangan impor bawang merah dan kentang Indonesia
dengan menggunakan model gravitasi. Tahun pengamatan dalam penelitian
sebelumnya sejak tahun 2001 hingga 2003. Penelitian ini menggunakan sepuluh
tahun pengamatan sejak tahun 2001 hingga 2010.
2.2 Kerangka Pemikiran
Peningkatan permintaan impor bawang merah dan kentang Indonesia
cenderung mengalami kenaikan sejak tahun 2006 hingga 2010. Peningkatan impor
ini akan berdampak pada pengurangan neraca perdagangan Indonesia secara
umum. Selain itu, peningkatan impor ini akan memengaruhi produksi dalam
negeri karena dampaknya terhadap harga produk domestik.
Impor jika tidak dikendalikan akan menyebabkan turunnya harga bawang
merah dan kentang lokal produksi petani Indonesia. Hal ini kemudian akan
mengurangi minat produksi petani Indonesia yang akan mengalami kerugian
akibat turunnya harga. Selain itu, harga bawang merah dan kentang impor juga
masih lebih rendah dibandingkan harga produk lokalnya. Akibatnya, konsumsi
produk impor akan lebih tinggi dibandingkan produk domestiknya. Kondisi ini
pada akhirnya akan mengurangi daya saing petani Indonesia di pasar nasional.
28
Tingginya
Permintaan
Impor
Tingginya
Permintaan
Impor
Bawang
Merah
Kentang
Bawang
Merah
dandan
Kentang
Penurunan Neraca Perdagangan
Hortikultura
Penurunan Pertumbuhan Ekonomi
Indonesia
Penurunan Kesejahteraan Petani
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Aliran
Perdagangan Impor Komoditas Sayuran Indonesia:
Kecenderungan Volume
Impor
1. Harga Komoditas di negara asal
2. GDP riil Indonesia dan negara asal impor
3. Populasi Indonesia dan negara asal impor
4. Nilai tukar riil Rupiah terhadap Dollar
5. Jarak Ekonomi Indonesia dengan negara
asal impor
Analisis Regresi Data Panel
(Gravity Model)
Rekomendasi Kebijakan dalam Hal Impor
Bawang Merah dan Kentang Indonesia
Gambar 2.6 Kerangka Pemikiran Operasional
keterangan:
= bagian yang dianalisis
= bagian yang tidak dianalisis
Analisis Deskriptif
29
2.3 Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:
1. Harga komoditas bawang merah dan kentang impor Indonesia di negaranegara asal impor mempunyai pengaruh negatif terhadap aliran
perdagangan impor komoditas bawang merah dan kentang Indonesia.
2. GDP riil negara asal impor mempunyai pengaruh positif terhadap aliran
perdagangan impor komoditas bawang merah dan kentang Indonesia.
3. GDP riil negara Indonesia mempunyai pengaruh positif terhadap aliran
perdagangan impor komoditas bawang merah dan kentang Indonesia.
4. Populasi negara Indonesia mempunyai pengaruh positif terhadap aliran
perdagangan impor komoditas bawang merah dan kentang Indonesia.
5. Populasi negara asal impor mempunyai pengaruh positif terhadap aliran
perdagangan impor komoditas bawang merah dan kentang Indonesia
6. Nilai tukar riil mata uang rupiah terhadap dolar Amerika mempunyai
pengaruh positif terhadap aliran perdagangan impor komoditas bawang
merah dan kentang Indonesia.
7. Jarak ekonomi antara negara Indonesia dengan negara asal impor
mempunyai pengaruh negatif terhadap aliran perdangan impor komoditas
bawang merah dan kentang Indonesia.
Download