analisis pengaruh nilai tukar

advertisement
ANALISIS PENGARUH NILAI TUKAR RUPIAH, INFLASI, SBI,
DAN INDEKS DOW JONES TERHADAP PERGERAKAN
INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG)
DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI)
TESIS
Oleh
DEDY PRATIKNO
077018030/EP
S
C
N
PA
A
S
K O L A
H
E
A S A R JA
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
Dedy Pratikno : Analisis Pengaruh Nilai Tukar Rupiah, Inflasi, SBI, Dan Indeks Dow Jones Terhadap Pergerakan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Di Bursa Efek Indonesia (BEI), 2009
ANALISIS PENGARUH NILAI TUKAR RUPIAH, INFLASI, SBI,
DAN INDEKS DOW JONES TERHADAP PERGERAKAN
INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG)
DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI)
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains
dalam Studi Ekonomi Pembangunan pada Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara
Oleh
DEDY PRATIKNO
077018030/EP
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
Judul Tesis
:
ANALISIS PENGARUH NILAI TUKAR RUPIAH,
INFLASI, SBI, DAN INDEKS DOW JONES
TERHADAP PERGERAKAN INDEKS HARGA
SAHAM GABUNGAN (IHSG) DI BURSA EFEK
INDONESIA (BEI)
Nama Mahasiswa
:
Dedy Pratikno
Nomor Pokok
:
077018030
Program Studi
:
Ekonomi Pembangunan
Menyetujui
Komisi Pembimbing
(Dr. Dede Ruslan, M.Si)
Ketua
(Wahyu Ario Pratomo, SE, M.Ec)
Anggota
Ketua Program Studi
Direktur,
(Dr. Murni Daulay, M.Si)
(Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B., M.Sc)
Tanggal lulus: 09 September 2009
Telah diuji pada
Tanggal 09 September 2009
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua
: Dr. Dede Ruslan, MSi
Anggota
: 1. Wahyu Ario Pratomo, SE, M.Ec
2. Dr. Murni Daulay, M.Si
3. Dr. Jonni Manurung, MS
4. Drs. Rahmad Sumanjaya, M.Si
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh nilai tukar, SBI, inflasi dan
indeks Dow Jones terhadap pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia. Data yang
dipakai adalah data sekunder yaitu data SBI, Kurs, Inflasi, Indeks Dow Jones dan
IHSG bulan Januari 2004 sampai dengan Februari 2009 (62 observasi). Penentuan
jumlah observasi didasarkan atas kondisi fluktuasi yang terjadi dalam waktu
penelitian yaitu Januari 2004 sampai dengan Februari 2009. Model yang digunakan
dalam penelitian ini adalah model ekonometrika dengan metode Ordinary Least
Square.
Hasil analisa data diketahui model yang digunakan dalam mengestimasi
faktor yang mempengaruhi IHSG sudah baik, karena model terbebas dari pelanggaran
asumsi klasik, juga karena variasi kemampuan variabel-variabel penjelas dalam
menjelaskan IHSG tergolong tinggi. Dengan tingkat R2 = 0.768 dapat disimpulkan
bahwa dari segi uji kesesuaian (Test of goodness of fit) cukup baik, dan hanya 0.232
persen dari determinan yang mempengaruhi IHSG dijelaskan oleh variabel lain yang
tidak dimasukkan dalam model penelitian. Secara serempak (simultan) variabelvariabel eksplanatori yang digunakan sangat signifikan pada α = 5% terhadap IHSG.
Dari koefisien masing-masing variabel, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat
pengaruh variabel kurs, SBI dan inflasi sangat signifikan mempengaruhi IHSG.
Kata Kunci: Nilai Tukar, SBI, Inflasi, IHSG, Dow Jones.
ABSTRACT
The purpose of the research is to analysis the stock of exchange rate. SBI, the
inflation and indeks Dow Jones for the movement IHSG in BEI (Bursa Efek
Indonesia).
The collection file has from the secuder file, they are SBI, Kurs, Inflation,
Indeks Dow Jones and IHSG in January 2004 until February 2009 (62 observation).
The appoinment value of observation base fluctuation event at the research. The
model used in the research are econometrica model and multiple method regression.
The result of analysis file know that the model used to estimated factor
influenced IHSG is good, because the model is free asumsi classic transregression,
and also capacity varety of variable the explaner to explain IHSG high group. With
the layer R2 =0.768, it can concluse of the Test of Goodness of fit enough high, only
0.232 percent of determined influeneed IHSG had explain by the other variable
theren’t in observation model. The inflation IHSG had explain by the other variable
theren’t in observation model. The inflation variable is a bigger variables influenced
is lower and negative for IHSG with together (simultan) the explanatory variable
used is very significance at α =5% for IHSG. Every coefisien variable, so we can
concluse that the lavel kurs influence variable, SBI and inflation is very significance
influenced IHSG.
Keywords: Exchange Rate, SBI, Inflation, IHSG, Dow Jones.
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kepada Allah SWT, yang telah memberikan hikmat dan
hidayah kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul
“Analisis Pengaruh Nilai Tukar Rupiah, Inflasi, SBI, dan Indeks Dow Jones
terhadap Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek
Indonesia (BEI)” sebagai tugas akhir pada Program Magister Ekonomi
Pembangunan, Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang tulus kepada
semua pihak yang telah memberikan bimbingan, dukungan, dan bantuan selama
proses penyelesaian tesis ini. Secara khusus, penulis haturkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dede Ruslan, M.Si, sebagai Pembimbing I, dan Wahyu Ario Pratomo, SE,
M.Ec sebagai Pembimbing II, yang banyak memberikan arahan, bimbingan dan
dorongan pemikiran hingga tesis ini dapat selesai.
2. Dr. Ibu Murni Daulay, M.Si, selaku Ketua Program Studi Ekonomi Pembangunan
Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara yang dengan arif dan bijaksana
dapat mengarahkan kami sehingga mampu menyelesaikan pendidikan pada
Program Magister Ekonomi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas
Sumatera Utara.
3. Ibu Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B., M.Sc, selaku Direktur Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara, beserta seluruh staf pengajar dan pegawai, khususnya
pada Program Magister Ekonomi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas
Sumatera Utara, yang telah memberikan pengajaran dan bimbingan selama proses
perkuliahan hingga penulis mampu menyelesaikan studi ini.
4. Rekan-rekan mahasiswa Program Magister Ekonomi Pembangunan Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara angkatan 13 yang telah sama-sama
berjuang dengan penulis, dalam menyelesaikan studi dan telah memberikan
banyak bantuan dan dukungan yang luar biasa.
5. Kedua orang tuaku Ayahanda Soerachman dan Ibunda Patoni, Istriku Sriani, SPd,
anakku Dafi Ahza Fauzi, serta seluruh keluarga besarku yang ada di Tegal dan
Palembang yang selama ini turut memberikan dorongan moril dan materil hingga
penulis mampu menyelesaikan tesis ini dengan baik.
Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu
penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun agar nantinya dapat
menjadi lebih baik dan sempurna. Akhirnya penulis memohon agar Allah SWT
memberikan limpahan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis dan semua pihak
yang telah memberikan bantuannya selama ini.
Medan,
September 2009
Penulis,
Dedy Pratikno
NIM. 077018030
RIWAYAT HIDUP
Nama
: Dedy Pratikno
Tempat dan Tanggal Lahir
: Tegal, Jateng, 07 September 1971
Jenis Kelamin
: Laki-Laki
Agama
: Islam
Status Perkawinan
: Menikah
Nama Orang Tua
Ayah
: Soerachman
Ibu
: Patoni
Alamat Rumah
: Jl. Mustafa Gang. Mandor Perumahan Citra Pelangi
No. B3 Glugur Darat Medan
Pendidikan
1. Tahun 1978-1984
: SDN No. 4 Margadana Tegal
2. Tahun 1984-1987
: SMP Plus I Tegal
3. Tahun 1987-1990
: SMAN I Tegal
4. Tahun 1991-1996
: STIE YKPN Yogyakarta, Jurusan Akuntansi
5. Tahun 2007-2009
: Sekolah Pascasarjana Program Studi Ekonomi
Pembangunan USU-Medan.
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ......................................................................................................... i
ABSTRACT.......................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii
RIWAYAT HIDUP ............................................................................................ v
DAFTAR ISI ...................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL .............................................................................................. ix
DAFTAR GAMBAR ................................. ........................................................ x
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xi
BAB I. PENDAHULUAN................................................................................. 1
1.1. Latar Belakang Penelitian ................................................................ 1
1.2. Perumusan Masalah ........................................................................ 8
1.3. Tujuan Penelitian ............................................................................ 8
1.4. Manfaat Penelitian .......................................................................... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................... 10
2.1. Indeks Harga Saham Gabungan ...................................................... 10
2.2. Perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan................................... 11
2.3. Pergerakan Harga Saham (Volatilitas)............................................. 12
2.4. Teori Pergerakan Harga Saham ....................................................... 16
2.4.1. Teori Random Walk................................................................ 16
2.4.2. Teori Elliott Wave .................................................................. 16
2.5. Capital Asset Pricing Model (CAPM) ............................................ 19
2.6. Nilai Tukar ...................................................................................... 29
2.7. Inflasi ............................................................................................... 32
2.8. Arbitrage Pricing Theory (APT) ..................................................... 34
2.9. Sertifikat Bank Indonesia (SBI) ....................................................... 37
2.10. Indeks Dow Jones .......................................................................... 39
2.11. Penelitian Terdahulu ...................................................................... 40
2.13. Kerangka Pemikiran....................................................................... 43
2.14. Hipotesis Penelitian........................................................................ 43
BAB III METODE PENELITIAN .................................................................. 45
3.1. Objek Penelitian ............................................................................... 45
3.2. Jenis dan Sumber Data .................................................................... 45
3.3. Metode Analisis ............................................................................... 45
3.4. Model Analisis ................................................................................. 46
3.5. Uji Kesesuaian (Test Goodness of Fit)............................................. 47
3.6. Uji Penyimpangan Asumsi Klasik ................................................... 48
3.7. Definisi Operasional ........................................................................ 50
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.............................. 51
4.1. Deskripsi Variabel Penelitian........................................................... 51
4.1.1. Perkembangan Nilai Tukar................................................... 51
4.1.2. Perkembangan SBI.............................................................. 52
4.1.3. Perkembangan Inflasi.......................................................... 54
4.1.4. Perkembangan Indeks Dow Jones....................................... 56
4.1.5. Perkembangan IHSG........................................................... 57
4.2. Hasil Analisis Data dan Pembahasan................................................ 59
4.2.1. Deskripsi Data..................................................................... 59
4.2.2. Analisis Regresi................................................................... 60
4.3. Uji Statistik Hasil Estimasi Model Penelitian.................................. 62
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 71
5.1. Kesimpulan .................................................................................. 71
5.2. Saran.............................................................................................. 72
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 73
DAFTAR TABEL
Nomor
Judul
Halaman
2.1.
Tinjauan Penelitian Terdahulu .......................................................
42
4.1.
Rangkuman Statistik Deskriptif ....................................................
59
4.2.
Hasil Uji Multikolinieritas. ............................................................
61
4.3.
Hasil Uji Autokorelasi. ..................................................................
62
DAFTAR GAMBAR
Nomor
Judul
Halaman
1.1.
Pergerakan IHSG Januari 2007 s/d Januari 2009........................
3
2.1.
Kurva Permintaan dan Penawaran Saham ..................................
12
2.2.
Pola Dasar Pergerakan Elliott Wave ...........................................
17
2.3.
Skema Kerangka Penelitian ........................................................
43
4.1.
Perkembangan Kurs Januari 2004 s/d Februari 2009 .................
51
4.2.
Perkembangan SBI Januari 2004 s/d Februari 2009 ...................
53
4.3.
Perkembangan Inflasi Januari 2004 s/d Februari 2009 ...............
55
4.4.
Perkembangan Dow Jones Januari 2004 s/d Februari 2009........
56
4.5.
Perkembangan IHSG Januari 2004 s/d Februari 2009................
58
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
Judul
Halaman
1.
Tabulasi Data Variabel................................................................
76
2.
Lampiran Regresi Berganda .......................................................
79
3.
Uji Multikolinearitas ...................................................................
80
4.
Uji Multikolinearitas ...................................................................
81
5.
Uji Multikolinearitas ...................................................................
82
6.
Uji Durbin-Watson......................................................................
83
7.
Persentase Titik Distribusi t (t-tabel) ..........................................
84
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang Penelitian
Pembiayaan dari sebuah perusahaan diperoleh dari dua sumber yaitu sumber
dari dalam perusahaan (internal) berupa laba dan dari luar perusahaan (eksternal)
berupa hutang dan penerbitan sekuritas oleh perusahaan. Jika hutang melebihi batas
maksimum yang diindikasikan dengan tingginya debt to equity ratio (perbandingan
antara hutang dan modal sendiri), maka biaya modal perusahaan tidak lagi minimum.
Akibatnya hutang menjadi tidak efektif lagi sebagai sumber pembiayaan perusahaan.
Alternatif lain yang dapat dilakukan perusahaan untuk mendapatkan sumber
pembiayaan adalah menerbitkan sekuritas yang berupa surat tanda hutang (obligasi)
dan surat tanda kepemilikan (saham) melalui pasar modal. Sumber pendanaan melalui
saham dianggap paling murah sebagai sumber dana karena mempunyai risiko paling
kecil dibandingkan sumber lainnya.
Pada periode sebelum 1990, pasar modal di Indonesia belum berkembang
karena pada umumnya perusahaan menerima dana dari bank terutama bank
pemerintah. Terbukti dari perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
sampai akhir tahun 1988 baru 24 perusahaan. Pasar modal di Indonesia baru
berkembang setelah pemerintah mengeluarkan Pakto 1988 dan Pakdes 1988 yang
berisi tentang kebijakan-kebijakan untuk mendorong perkembangan pasar modal.
Pada akhir 1989, sebanyak 56 perusahaan yang mencatatkan saham di BEI dan terus
meningkat dari tahun ke tahun hingga menjadi 330 perusahaan pada akhir 2005
(Sa’adah dan Panjaitan, 2006).
Pertambahan perusahaan yang mencatatkan saham (emiten) dan pertumbuhan
ekonomi nasional sangat mendukung aktivitas di bursa saham. Pergerakan indeks
saham dapat dilihat lewat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada tahun 1985,
IHSG hanya mencapai 66,53 poin dan terus meningkat sampai dengan akhir tahun
1996 yang mencapai 637,43 poin. Bahkan pada tahun 1988, peningkatan IHSG
mencapai 269,48 persen. Hal ini dapat terjadi karena pada tahun tersebut pemerintah
mengeluarkan kebijakan-kebijakan penting untuk mendorong pertumbuhan pasar
modal di Indonesia. Peningkatan kegiatan di bursa saham memberikan prospek yang
positif terhadap perekonomian nasional sehingga IHSG dapat dijadikan salah satu
indikator positif ekonomi yang penting di Indonesia. Sejalan dengan kejatuhan Dow
Jones harga saham-saham di BEI juga berguguran sebagaimana terlihat dari
penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG yang pada awal 2008
memasuki masa keemasan pada level 2.830, akibat kepanikan investor indeks juga
turun ke level 1.174 pada 30 Oktober 2008 atau telah terkoreksi 59 persen.
Pada Gambar 1.1 diketahui pola pergerakan antara Indeks Hangseng, Indeks
Dow Jones dan IHSG. Pola pergerakan ketiga indeks saham tersebut menggambarkan
adanya integrasi pasar keuangan global.
3000
2745
2643 2688
2500
1999
2000
1757
2084
2721
2627
2447
2359
2348
2139
2444
2304
2194
2304
2349
2165
1832
1830
1740
1332
1500
1256
1241
1255
1000
500
0
Jan-07
Feb-07
Mar-07
Apr-07
May-07
Jun-07
Jul-07
Aug-07
Sep-07
Oct-07
Nov-07
Dec-07
Jan-08
Feb-08
Mar-08
Apr-08
May-08
Jun-08
Jul-08
Aug-08
Sep-08
Oct-08
Nov-08
Dec-08
Jan-09
Gambar 1.1. Pergerakan IHSG Januari 2007 s/d Januari 2009
Reaksi turunnya indeks Dow Jones Amerika akan menurunkan IHSG dari
2.745 poin pada Desember 2007 juga menurun menjadi 1.1332 poin pada Januari
2009 atau menurun sebesar 48 persen.
Jogiyanto (2000) menyatakan bahwa lemahnya fondasi perekonomian
Indonesia yang menyebabkan krisis moneter di Indonesia berakibat lebih parah dan
lebih lama dibandingkan dengan negara ASEAN. Ketidakseimbangan antara jumlah
permintaan dan penawaran dolar Amerika dalam jumlah yang relatif besar
menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika terus melemah. Hal ini
diperparah lagi pada akhir tahun 1997 dengan adanya penutupan 38 bank yang
tentunya mempengaruhi pasar modal. Chalimah (1996) menyatakan bahwa dampak
dari penutupan bank ini adalah sangat besar karena bank sebagai sektor tersendiri
dalam pasar modal dan proporsi nilai yang disumbangkan perbankan terhadap IHSG
cukup besar.
Untuk meredam melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika
pemerintah menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang pada bulan
Juli 1998 menyentuh angka 70,81 persen pertahun. Bahkan suku bunga Pasar Uang
Antar Bank (PUAB) pada bulan Agustus 1998 sebesar 81,01 persen pertahun.
Demikian juga bunga deposito berjangka menunjukkan peningkatan hingga pada
akhir Juli 1998 mencapai 59,92 persen. Karena suku bunga terus meningkat maka ada
kecenderungan investor akan mengalihkan modalnya ke deposito dan tentunya
berakibat negatif terhadap pasar modal. Akibat lebih jauh lagi adalah harga saham
di pasar modal mengalami penuruan yang sangat drastis. Keadaan ini diperburuk lagi
bahwa 90 persen emiten secara teknis sudah bangkrut. Hal ini terlihat dari IHSG yang
terus menurun dari tahun 1994 sampai tahun 1998.
Pada periode setelah krisis, IHSG kembali mulai mengalami peningkatan.
Tahun 1999 IHSG mencapai 676,92 poin dan terus meningkat pada tahun-tahun
berikutnya. Bahkan pada tahun 2005 IHSG dapat mencapai 1.029,61 poin. Hal ini
dapat terjadi karena pada tahun 1999 Indonesia mulai membangun kembali
perekonomian nasional yang terpuruk akibat krisis. Pemerintah berusaha memulihkan
kondisi pasar modal dengan mengembalikan kepercayaan para investor baik domestik
maupun asing agar mau menanamkan modalnya kembali.
Berbagai informasi yang masuk di pasar modal maupun kejadian-kejadian
yang tidak berhubungan dengan pasar modal dapat mempengaruhi volatilitas atau
naik turunnya harga saham. Pergerakan IHSG dipengaruhi oleh berbagai faktor baik
internal maupun eksternal. Pengaruh-pengaruh eksternal seperti pergerakan tingkat
suku bunga begitu juga dengan pergerakan indeks saham luar negeri dipercaya telah
menjadi faktor dominan yang mempengaruhi IHSG. Sedangkan faktor internal lebih
dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa dalam negeri seperti ekspektasi rasional investor
serta pengaruh dari pergerakan variabel-variabel ekonomi makro lainnya seperti nilai
tukar rupiah terhadap dolar Amerika, tingkat inflasi, suku bunga (Deposite Rate),
suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan jumlah uang beredar (money suply).
Tingkat pertumbuhan ekonomi yang berlangsung cukup tinggi, tidaklah
secara otomatis mengakibatkan membaiknya situasi pasar modal. Tidak mungkin atau
mustahil untuk melihat sebuah persamaan di mana indeks harga saham menjadi
fungsi dari pertumbuhan ekonomi, rendahnya tingkat suku bunga, tingkat inflasi dan
posisi pembayaran. Karena itu dibutuhkan penjelasan yang tidak bersifat persamaan
atau bersifat ekonometris, namun tetap mengandung nalar, dalam pengertian masih
dapat dijelaskan hubungan-hubungan tersebut dalam konsep ilmu ekonomi.
Pertanyaan-pertanyaan yang langsung timbul adalah menyangkut segi-segi yang sulit
dikategorikan sebagai konsep ekonomi atau ilmu ekonomi. Maksudnya bagaimana
menempatkan regulasi, perlindungan hukum dan pengaturan transaksi dalam
kaitannya dengan perkembangan bursa. Jadi, bila IHSG merosot terus-menerus,
sementara pertumbuhan ekonomi berlangsung cukup tinggi dan tingkat inflasi serta
tingkat suku bunga deposito menurun, maka memerlukan faktor penjelas yang
mungkin sekali berada di luar masalah ekonomi.
Seiring dengan kenaikan inflasi yang bergerak pada kisaran yang lebih tinggi
dan juga adanya kecenderungan Bank Indonesia untuk menurunkan tingkat suku
bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI), maka dengan penurunan suku bunga
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) tersebut akan mendorong pertumbuhan uang beredar,
hal itu diikuti pula dengan melemahnya nilai tukar rupiah, maka harga barang juga
akan mengalami kenaikan, karena belum bisa lepas dari inflasi dan juga krisis
ekonomi yang masih terjadi. Namun untuk perkembangan Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) cenderung mengalami kenaikan, karena adanya minat dari investor
untuk menanamkan modalnya di bursa efek. Bila suku bunga cukup tinggi (lebih
tinggi dari capital gain dan deviden per tahun yang bisa diperoleh dari lantai bursa)
orang akan memilih menyimpan uangnya di bank. Sebaliknya, bila suku bunga sudah
melemah, maka orang akan beralih ke lantai bursa.
Bila suku bunga SBI cukup tinggi (lebih tinggi dari capital gain dan deviden
per tahun yang bisa diperoleh dari lantai bursa) orang akan memilih menyimpan
uangnya di bank dan IHSG turun. Sebaliknya, bila suku bunga sudah melemah, maka
orang akan beralih ke lantai bursa (Yuniarta, 2008).
Faktor domestik yang mempengaruhi IHSG berupa faktor fundamental yaitu
inflasi, pendapatan nasional, jumlah uang yang beredar, suku bunga, maupun nilai
tukar rupiah. Berbagai faktor fundamental tersebut dianggap dapat berpengaruh
terhadap ekspektasi investor yang akhirnya berpengaruh pada pergerakan indeks
(Pasaribu, Tobing, Manurung, 2008).
Kenaikan harga barang yang terjadi hanya sekali saja, meskipun dalam
persentase yang cukup besar, bukanlah merupakan inflasi (Nopirin, 2000). Atau dapat
dikatakan, kenaikan harga barang yang hanya sementara dan sporadis tidak dapat
dikatakan akan menyebabkan inflasi.
Inflasi adalah keadaan di mana terjadi kelebihan permintaan (Excess Demand)
terhadap barang-barang dalam perekonomian secara keseluruhan. Inflasi sebagai
suatu kenaikan harga yang terus-menerus dari barang dan jasa secara umum (bukan
satu macam barang saja dan sesaat). Menurut definisi ini, kenaikan harga yang
sporadis bukan dikatakan sebagai inflasi.
Inflasi dapat mempengaruhi distribusi pendapatan, alokasi faktor produksi
serta produk nasional. Efek terhadap distribusi pendapatan disebut dengan equity
effect, sedangkan efek terhadap alokasi faktor produksi dan pendapatan nasional
masing-masing disebut dengan efficiency dan output effects (Nopirin, 2000).
Bagaimana bursa merespon terhadap shock dari bursa lain, apabila terjadi
shock di Amerika Serikat maka bursa-bursa regional tidak akan terlalu meresponnya.
Hanya di Singapura, Hong Kong, Jepang dan Taiwan dan New Zealand yang akan
langsung merespon, dan respon pun tidak cukup besar. Sebaliknya jika shock
di Singapura, Australia atau Hong Kong, secara cepat shock tersebut akan
ditransmisikan ke hampir semua bursa saham di Asia Pasifik, termasuk BEI.
Berdasarkan penjelasan di atas penulis tertarik untuk membuat penelitian
tentang faktor yang mempengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) di Indonesia.
1.2.
Perumusan Masalah
Dari uraian latar belakang penelitian di atas maka dapat dirumuskan pokok-
pokok permasalahan yang akan dilakukan pembahasan pada penelitian ini, yaitu:
1. Apakah nilai tukar berpengaruh terhadap pergerakan IHSG di Bursa Efek
Indonesia?
2. Apakah SBI berpengaruh terhadap pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia?
3. Apakah inflasi berpengaruh terhadap pergerakan IHSG di Bursa Efek
Indonesia?
4. Apakah Indeks Dow Jones berpengaruh terhadap pergerakan IHSG di Bursa
Efek Indonesia?
1.3.
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian yang akan dilakukan ini adalah:
1. Untuk menganalisis pengaruh nilai tukar terhadap pergerakan IHSG di Bursa
Efek Indonesia.
2. Untuk menganalisis pengaruh SBI terhadap pergerakan IHSG di Bursa Efek
Indonesia.
3. Untuk menganalisis pengaruh inflasi terhadap pergerakan IHSG di Bursa Efek
Indonesia.
4. Untuk menganalisis pengaruh Indeks Dow Jones terhadap pergerakan IHSG
di Bursa Efek Indonesia.
1.4.
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dalam penyusunan tesis ini adalah sebagai
berikut:
1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang keadaan saham
perusahaan publik terutama pengaruh signifikan tingkat suku bunga SBI, nilai
tukar rupiah, inflasi, terhadap IHSG. Selain itu juga dapat memberikan informasi
dan masukan yang dibutuhkan oleh pemegang saham, kreditur dan pihak-pihak
terkait lainnya.
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bahan
studi atau tambahan khasanah ilmu pengetahuan dalam disiplin ilmu ekonomi.
3. Sebagai bahan tambahan dan informasi bagi masyarakat dan mahasiswa yang
ingin melakukan penelitian selanjutnya.
4. Sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah dan pihak-pihak yang terkait dalam
mengambil kebijakan mengenai kebijakan yang akan ditempuh sehubungan
dengan pergerakan IHSG di BEI.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Indeks Harga Saham Gabungan
Indeks harga adalah suatu angka yang digunakan untuk melihat perubahan
mengenai harga dalam waktu dan tempat yang sama ataupun berlainan. Indeks adalah
ukuran statistik yang biasanya digunakan menyatakan perubahan-perubahan
perbandingan nilai suatu variabel tunggal atau nilai sekelompok variabel. Menurut
Jogiyanto (2000), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebenarnya merupakan
angka indeks harga saham yang sudah disusun dan dihitung sehingga menghasilkan
trend, di mana angka indeks adalah angka yang diolah sedemikian rupa sehingga
dapat digunakan membandingkan kejadian yang dapat berupa perubahan harga saham
dari waktu ke waktu. Dalam perhitungan angka indeks ini digunakan waktu dasar
(base period) dan waktu yang sedang berjalan (given/parent period).
Adapun jenis-jenis Indeks Harga Saham Gabungan adalah:
1. Seluruh saham, adalah suatu nilai yang digunakan untuk mengukur kinerja
gabungan seluruh saham yang tercatat di suatu bursa efek.
2. Kelompok saham, adalah suatu nilai yang digunakan untuk mengukur kinerja
kelompok saham yang tercatat di suatu bursa efek.
a. Indek LQ 45 adalah indeks atas 45 emiten yang tercatat di Bursa Efek Jakarta,
dengan tolak ukur likuiditas dan nilai kapitalisasi pasar.
b. Indeks JII (Jakarta Islamic Index) indeks yang digunakan sebagai tolak ukur
(bencmark) untuk mengukur kinerja suatu investasi pada saham dengan basis
syariah.
3. Jenis usaha (sektoral) adalah suatu nilai untuk mengukur kinerja kelompok
saham yang sudah diklasifikasikan ke dalam 9 sektor yaitu sektor pertanian,
pertambangan, industri dasar dan kimia, industri barang konsumsi, properti dan
real estate, transportasi dan infrastruktur, keuangan, perdagangan, jasa dan
investasi.
2.2.
Perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan
Perhitungan
harga
saham
gabungan
dilakukan
untuk
mengetahui
perkembangan rata-rata seluruh saham yang tercatat di bursa. Untuk menghitung
indeks harga saham gabungan, digunakan formula sebagai berikut:
IHSG =
Nilai Pasar = Jumlah saham tercatat x Harga terakhir
Χ100
Nilai Dasar = Jumlah saham tercatat x Harga perdana
Keterangan:
IHSG
=
Nilai Pasar =
Indeks Harga Saham Gabungan hari ke-1
Rata-rata tertimbang nilai pasar (jumlah lembar tercatat
di bursa dikali dengan harga pasar per lembarnya) dari saham
umum dan saham preferen pada hari ke-t
Nilai Dasar =
Sama dengan nilai pasar tetapi dimulai dari tanggal 10 Agustus
1982.
Untuk mengeliminir pengaruh faktor-faktor yang bukan harga saham, nilai
dasar selalu disesuaikan bila terjadi corporate action seperti split saham, dividen
saham, saham bonus, penawaran terbatas dan sebagainya. Dengan demikian indeks
akan benar-benar mencerminkan pergerakan saham saja.
2.3.
Pergerakan Harga Saham (Volatilitas)
Penilaian kinerja saham perusahaan dari luar perusahaan dilakukan oleh pasar
melalui pola perilaku pergerakan harga saham dari waktu ke waktu. Harga saham
(market price) merupakan nilai pasar (market value) dari setiap lembar saham
perusahaan. Pergerakan harga saham ditentukan oleh dinamika penawaran (supply)
dan permintaan (demand).
Harga Saham (P)
So
E1
P1
Po
Eo
D1
Do
Qo
Kuantitas Saham (Q)
Sumber: Satiningsih dkk, 2005 dalam Bodie, Kane dan Marcus, 2002
Gambar 2.1. Kurva Permintaan dan Penawaran Saham
Gambar 2.1 menunjukkan ilustrasi pergerakan IHSG dengan menggunakan
kurva permintaan dan penawaran saham. Pada suatu periode tertentu, penawaran
suatu saham adalah tetap sehingga kurvanya vertikal seperti ditunjukkan oleh kurva
So. Permintaan pasar (market demand) merupakan permintaan agregat dari seluruh
investor, sehingga kurvanya relatif horizontal seperti ditunjukkan oleh kurva Do.
Keseimbangan harga terjadi saat kurva penawaran dan permintaan agregat
berpotongan yang terjadi pada titik Eo. Karena kurva penawaran bersifat tetap maka
pergerakan harga saham diakibatkan oleh pergerakan (pergeseran) kurva permintaan.
Ketika kurva permintaan naik dari Do menjadi D1, maka keseimbangan baru terjadi
pada harga yang lebih tinggi (harga naik) yaitu P1. Jadi perilaku harga suatu saham
merupakan cermin permintaan agregat dari para investor.
Oleh karena pergerakan harga saham disebabkan oleh pergerakan kurva
demand, maka faktor-faktor penggeser demand seperti harga saham-saham lainnya,
pendapatan investor dan jumlah investor saham menjadi faktor-faktor yang
mempengaruhi perubahan harga saham.
Investor
dalam
membentuk
portofolio
aset-aset
investasinya
akan
mempertimbangkan risiko dan tingkat keuntungan. Apabila seorang investor
membentuk suatu portofolio maka investor akan mendapat keuntungan sebesar ratarata terbobot dari masing-masing tingkat keuntungan aset, dengan risiko portofolio
yang lebih kecil dari risiko terbobot dari masing-masing risiko aset. Besarnya tingkat
keuntungan dan risiko portofolio tergantung dari jumlah aset yang membentuk
portofolio tersebut. Risiko portofolio tergantung dari korelasi tingkat keuntungan
antar aset, sedangkan rata-rata tingkat keuntungan portofolio tidak tergantung dari
korelasi tingkat keuntungan antar aset. Sifat portofolio ini menguntungkan bagi
investor karena investor dapat melakukan diversifikasi untuk mengurangi risiko
portofolionya (Bodie, Kane dan Marcus, 2002).
Secara umum pergerakan harga saham dipengaruhi oleh faktor internal
(lingkungan mikro) dan faktor eksternal (lingkungan makro).
Lingkungan mikro yang mempengaruhi volatilitas harga saham antara lain:
a. Pengumuman tentang pemasaran, produksi, penjualan seperti pengiklanan, rincian
kontrak, produk baru, perubahan harga, penarikan produk baru, laporan produksi,
laporan keamanan produk, dan laporan penjualan.
b. Pengumuman pendanaan (financing announcement), seperti pengumuman yang
berhubungan dengan ekuitas dan hutang, sekuritas yang hybrid, leasing,
kesepakatan kredit, pemecahan saham, pembelian saham, joint venture, dan
lainnya.
c. Pengumuman badan direksi manajemen (manajement-board of director
announcement), seperti perubahan dan penggantian direktur, manajemen, dan
stuktur organisasi.
d. Pengumuman penggabungan pengambilalihan diversifikasi, seperti laporan
merger, investasi ekuitas, laporan take over oleh pengakuisisi dan diakuisisi,
laporan divestasi dan lainnya.
e. Pengumuman investasi (investment announcement), seperti melakukan ekspansi
pabrik, pengembangan riset dan pengembangan, penutupan usaha dan lainnya.
f. Pengumuman ketenagakerjaan (labor announcement), seperti negosiasi baru,
kontrak baru, pemogokan dan lainnya.
g. Pengumuman laporan keuangan perusahaan, seperti peramalan laba sebelum akhir
tahun fiskal dan setelah akhir tahun fiskal, earning per share (EPS) dan dividen
per share (DPS), price earnings ratio, book ratio, net profit margin, return on
assets (ROA), ROE, dan lain-lain.
Lingkungan ekonomi makro yang mempengaruhi volatilitas harga saham antara lain:
a. Pengumuman dari pemerintah, seperti perubahan suku bunga tabungan dan
deposito, kurs valuta asing, inflasi, serta berbagai regulasi dan deregulasi
ekonomi yang dikeluarkan pemerintah.
b. Pengumuman hukum (legal announcements), seperti tuntutan karyawan terhadap
perusahaan atau terhadap manajernya dan tuntutan perusahaan terhadap
manajernya.
c. Pengumuman industri sekuritas (securities announcements), seperti laporan
pertemuan tahunan, insider trading, volume/harga saham perdagangan,
pembatasan/penundaan trading.
d. Gejolak sosial politik dalam negeri dan fluktuasi nilai tukar juga merupakan
faktor yang berpengaruh signifikan pada terjadinya volatilitas harga saham
di bursa efek suatu negara.
e. Berbagai issue baik dari dalam dan luar negeri, seperti issue lingkungan hidup,
hak asasi manusia, kerusuhan massal, yang berpengaruh terhadap perilaku
investor.
2.4.
Teori Pergerakan Harga Saham
Teori yang digunakan untuk menjelaskan perubahan harga saham secara acak
adalah teori random walk dan teori yang menjelaskan pola perubahan harga saham
adalah teori Elliott wave.
2.4.1. Teori Random Walk
Istilah random walk merupakan istilah yang pertama kali muncul dalam
koresponden di nature yang membahas mengenai bagaimana strategi optimal untuk
mencari orang mabuk yang ditinggalkan di tengah lapangan. Caranya adalah dengan
memulai mencari ditempat pertama kali orang mabuk itu ditempatkan sebab orang
tersebut akan berjalan dengan arah yang tidak tertebak dan acak (Miller, 1998).
Teori ini menyatakan bahwa perubahan harga suatu saham atau keseluruhan
pasar yang telah terjadi tidak dapat digunakan untuk memprediksi gerakan dimasa
yang akan datang. Perubahan harga saham tidak tergantung satu sama lain dan
mempunyai distribusi probabilitas yang sama (Miller, 1998).
Dengan kata lain teori ini menyatakan bahwa harga saham bergerak ke arah
yang acak dan tidak dapat diperkirakan. Jadi, seorang investor tidak mungkin
memperoleh return melebihi return pasar tanpa menanggung risiko lebih.
2.4.2. Teori Elliott Wave
The Wave Principle merupakan penelitian dari Elliott bahwa perilaku sosial
atau massa mempunyai trend yang mengikuti pola-pola tertentu. Penelitiannya
menemukan bahwa perubahan harga di bursa saham mempunyai suatu struktur
tertentu. Elliott mengemukakan bahwa pergerakan harga saham mempunyai pola atau
gelombang yang bersifat repetitif. Hal yang perlu dicatat adalah walaupun bersifat
repetitif tetapi pola tersebut belum tentu berulang dengan waktu dan ketinggian
gelombang yang sama.
5
A
4
B
3
C
2
1
Sumber: Murphy, 1999 dalam Bodie, Kane dan Marcus, 2002
Gambar 2.2. Pola Dasar Pergerakan Elliott Wave
Pola-pola tersebut dapat diartikan sebagai berikut:
1. Gelombang 1
Harga saham mula-mula bergerak naik membuat beberapa investor merasa bahwa
harga saham tersebut murah. Adanya pembelian saham tersebut membuat harga
saham naik.
2. Gelombang 2
Pada saat ini harga saham tersebut sudah dinilai terlalu tinggi sehingga investor
mulai merealisasikan keuntungannya dengan menjual saham tersebut. Hal ini
mengakibatkan tekanan terhadap harga saham sehingga turun. Namun penurunan
harga saham ini tidak sampai membuat through gelombang 2 serendah through
gelombang 1 karena investor menilai harga saham tersebut menjadi murah lagi.
3. Gelombang 3
Gelombang ini biasanya gelombang yang paling lama dan kuat sebab didorong
oleh lebih banyak investor yang bergabung atau meningkatkan posisi yang
mengambil keuntungan dari trend menanjak sehingga perdagangan menjadi
ramai. Harga saham saat ini naik sampai melewati harga tertinggi pada
gelombang 1.
4. Gelombang 4
Investor mulai merealisasikan keuntungannya sebab harga saham sudah terlalu
tinggi. Koreksi berpola segitiga-segitiga umumnya dikenal dalam gelombang ini,
di mana dalam pola koreksi ini volatilitas harga saham cenderung menurun.
Namun gelombang ini lemah sebab masih banyak investor yang menginginkan
saham tersebut.
5. Gelombang 5
Pada gelombang ini sebagian investor sudah memegang saham ini dan sebagian
besar merupakan investor yang irasional. Akan tetapi tidak sekuat pada
gelombang 3 sebab investor akan berpartisipasi hanya sebagian kecil saja jika
dibandingkan dengan gelombang 3. Investor yang mengetahui hal ini akan mulai
mengadakan transaksi short-selling. Pada saat ini saham dapat bergerak kembali
ke gelombang 1, atau mulai mengkoreksi diri.
6. Gelombang ABC
Saat ini saham akan mengkoreksi dengan melakukan gerakan turun, naik dan
turun. Volatilitas pada periode ini biasanya berkurang dibandingkan dengan
kelima gelombang sebelumnya, karena pasar sedang mengevaluasi ulang dan
sedang dalam tahap istirahat.
Berdasarkan teori random walk dan teori Elliot Wave yang telah dijelaskan
di atas maka diduga pergerakan IHSG sangat erat kaitannya dengan kedua teori
tersebut. Pergerakan IHSG memang tidak bisa diprediksi secara tepat, namun secara
umum pergerakan IHSG akan berfluktuasi mengikuti pola Elliot seperti yang telah
dijelaskan pada Gambar 2.1.
2.5.
Capital Asset Pricing Model (CAPM)
Financial Accounting Standar Board (FASB) mendefinisikan nilai tukar
sebagai rasio antara satu unit mata uang dan jumlah mata uang lainnya yang dapat
ditukar pada suatu waktu tertentu. Gain atau loss transaksi mata uang asing akan
dimasukkan dalam laba bersih pada periode terjadinya transaksi nilai tukar. Dalam
usaha untuk menentukan apakah kerugian dari nilai tukar berpengaruh terhadap
reaksi pasar modal maka digunakan harga saham sebagai proxy.
Bodie et al. (2005) menjelaskan bahwa Capital Asset Pricing Model (CAPM)
merupakan hasil utama dari ekonomi keuangan modern. Capital Asset Pricing Model
(CAPM) memberikan prediksi yang tepat antara hubungan risiko sebuah aset dan
tingkat harapan pengembalian (expected return). Walaupun Capital Asset Pricing
Model belum dapat dibuktikan secara empiris, Capital Asset Pricing Model sudah
luas digunakan karena Capital Asset Pricing Model akurasi yang cukup pada aplikasi
penting.
Capital Asset Pricing Model (CAPM) mencoba untuk menjelaskan hubungan
antara risk dan return. Dalam penilaian mengenai risiko biasanya saham biasa
digolongkan sebagai investasi yang berisiko. Risiko sendiri berarti kemungkinan
penyimpangan perolehan aktual dari perolehan yang diharapkan (possibility),
sedangkan derajat risiko (degree of risk) adalah jumlah dari kemungkinan fluktuasi
(amount of potential fluctuation).
Risiko ada dua macam, yaitu risiko sistematis dan risiko tidak sistematis.
Risiko sistematis adalah risiko yang dialami oleh semua investasi tanpa terkecuali.
Oleh karena itu risiko ini dinamakan juga risiko pasar (market risk). Namun demikian
besar kecilnya risiko sistematis tiap investasi, termasuk juga saham, sangat berbeda.
Sedang risiko tidak sistematis adalah risiko yang hanya dialami oleh investasi
tersebut, yang bisa disebabkan oleh faktor manajemen, ciri khusus jenis industri, jenis
persaingan usaha dan sebagainya.
Untuk mengatasi risiko ini maka biasanya investor mengkombinasikan
investasinya dalam berbagai macam asset, yang dinamakan portofolio. Markowitz
dalam Bodie et al. (2005) mengembangkan suatu bentuk diversifikasi yang efisien,
yang bisa menurunkan risiko tanpa menurunkan return portofolio. Markowitz
menyarankan agar portofolio seharusnya adalah pengkombinasian asset-asset yang
berkorelasi kurang dari positif sempurna agar dapat mengurangi risiko.
Sharpe dalam Bodie et al. (2005) menyempurnakan model portofolio
Markowitz ditambah dengan asumsi: (1) adanya tingkat bebas risiko; (3) investasi
bisa dipecah-pecah dalam bentuk yang sekecil mungkin; (3) adanya kebebasan short
sales (4) semua aktiva bisa diperjualbelikan. Dengan demikian maka portofolio yang
efisien suatu garis pasar modal (capital market line) yang intersepnya adalah tingkat
bebas risiko (rf). Untuk mengambarkan trade-off antara risiko dan return untuk
seluruh surat berharga, baik yang efisien maupun yang tidak, maka ukuran yang
dipakai bukanlah varian, tetapi adalah risiko sistematisnya (β). Hubungan antara
risiko sistematis dengan return tersebut apabila digambarkan dalam suatu model akan
membentuk Capital Asset Pricing Model (CAPM).
Model tersebut bisa dituliskan:
E(Ri) = Rf + [E(Rm)-Rf]βi
2.1
Di mana:
E(Ri)
= return yang diharapkan dari surat berharga
i
= fungsi dari risiko sistematis (tingkat bunga).
E(Rm)-Rf] dinamakan dengan harga risiko atau premi risiko, yaitu selisih
antara return pasar saham yang diharapkan (E(Rm)) dengan tingkat bebas risiko (Rf)
yang diukur dari SBI. Namun demikian dalam kenyataannya akan senantiasa terdapat
surat-surat berharga yang returnnya di luar yang diharapkan CAPM. Penyebabnya
antara lain: (1) adanya biaya transaksi; (2) adanya pajak capital gain yang membuat
para investor enggan menjual surat-surat berharga yang ternilai rendah oleh CAPM
(undervalued); (3) adanya ketidaksempurnaan informasi pasar. Oleh karena itulah
dalam kenyataannya CAPM lebih merupakan sebuah band daripada sebuah garis.
Demikian pula apabila unsur tingkat bebas risiko (Rf) dihilangkan dari model, karena
dalam kenyataan tidak mungkin investor bisa meminjam dan meminjamkan pada
tingkat yang sama, maka akan membentuk Zero Beta CAPM, dengan model sebagai
berikut:
E(Ri) = E(Rz) + [E(Rm)-E(Rz)]βi
2.2
Di mana:
Rz = asset yang tidak berkorelasi dengan portofolio pasar ini misalnya adalah
obligasi pemerintah yang berjangka panjang, yang mempunyai return riil yang tetap
(suku bunga Sertifikat Bank Indonesia), mudah diperjualbelikan, dan bisa dipecahpecah dalam satuan yang kecil-kecil.
Saham berisiko dapat dikombinasi dalam sebuah portofolio menjadi investasi
yang lebih rendah risiko daripada saham biasa tunggal. Diversifikasi akan
mengurangi risiko sistematis (systematic risk), tetapi tidak dapat mengurangi risiko
yang tidak sistematis (unsystematic risk). Unsystematic risk adalah bagian dari risiko
yang tidak umum dalam sebuah perusahaan yang dapat dipisahkan. Systematic
risksystematic risk. adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan yang berhubungan
dengan seluruh pergerakan pasar saham dan tidak dapat dihindari. Informasi
keuangan mengenai sebuah perusahaan dapat membantu dalam menentukan jumlah.
Investor biasanya menghindari risiko, investor menginginkan perolehan
tambahan (additional returns) untuk menanggung risiko tambahan (additional risks).
Oleh karena itu saham berisiko tinggi (High-risk securities) harus mempunyai harga
yang menghasilkan perolehan lebih tinggi daripada perolehan yang diharapkan dari
saham berisiko lebih rendah. Persamaan risiko dan perolehan (Equation Risk and
Return) adalah:
Rs = Rf + Rp
2.3
Rs = Expected Return on a given risky security
Rf = Risk-free rate
Rp = Risk premium (nilai tukar)
Bila nilai β = 1 artinya adanya hubungan yang sempurna dengan kinerja
seluruh pasar seperti yang diukur indek pasar (market index), contohnya nilai yang
diukur oleh Dow-Jones Industrials dan Standard and Poor’s 500-stock-index.
Hubungan ini dapat digambarkan dalam contoh pada gambar. β adalah ukuran dari
hubungan paralel dari sebuah saham biasa dengan seluruh tren dalam pasar saham.
Bila β > 1.00 artinya saham cenderung naik dan turun lebih tinggi daripada pasar. β <
1.00 artinya saham cenderung naik dan turun lebih rendah daripada indek pasar
secara umum (general market index). Perubahan persamaan risiko dan perolehan
(Equation Risk and Return) dengan memasukan faktor β dinyatakan sebagai:
Rs = Rf + βs (Rm – Rf)
2.4
Rs = Expected Return on a given risky security
Rf = Risk-free rate
Rm = Expected return on the stock market as a whole
βs = Stock’s beta, yang dihitung berdasarkan waktu tertentu
CAPM bertahan bahwa harga saham tidak akan dipengaruhi oleh
unsystematic risk, dan saham yang menawarkan risiko yang relatif lebih tinggi
(higher βs) akan dihargai relatif lebih daripada saham yang menawarkan risiko lebih
rendah (lower βs). Riset empiris mendukung argumen mengenai βs sebagai prediktor
yang baik untuk memprediksi nilai saham di masa yang akan datang (future stock
prices).
Prediksi nilai saham juga dipengaruhi oleh adanya inflasi. Dampak inflasi
terhadap harga saham dapat dijelaskan dengan membedakan variabel riil dengan
variabel nominal (Manurung, 2009). Hubungan variabel nominal dengan variabel riil
dari penilaian saham dapat dirumuskan sebagai berikut:
g = (1 + g R )(1 + π ) − 1
2.5
k = (1 + k R )(1 + π ) − 1
ROE = (1 + ROE R )(1 + π ) − 1
D1 = (1 + π ) D R
b=
(1 + b R xROE R )(1 + π ) − 1
(1 + ROE R )(1 + π ) − 1
2.6
Di mana:
[......]R
= nilai riil variabel
π
= tingkat inflasi
Misalkan ekpektasi pertumbuhan pendapatan tanpa dampak inflasi [b] adalah
4 persen. Diketahui E1=Rp 1 per lembar, ROER= 10 persen, bR 0.01 dan kR=10
persen. Harga Saham [P0], ekspektasi hasil dividen riil [DIR/P0, dan tingkat apresiasi
modal riil [GR] masing-masing adalah Rp 10, 0.6 persen, dan 4 persen [(1-0,4)/(1,100,04), (1-0,4)x1/10, dan 0,4 x10]. Jika penerimaan dan dividen tidak dipengaruhi
inflasi dan ekspektasi inflasi 6 persen maka tingkat pertumbuhan dividen nominal [g],
ekspektasi hasil dividen nominal [D1/P0], ekspektasi ROE dan tingkat laba ditahan
niminal [b] masing-masing adalah 10,24 persen,6,36 persen, 16,56 persen, dan
0,6169 [1,04,x1,06-1, 0,06x1,06,1,10 x 1,06-1,dan 0,1024/0,166].
Semua asumsi di atas mengimplikasikan bahwa semua investor akan memilih
portofolio berisiko dengan cara duplikasi aset atau portofolio pasar (M) yang
mencakup semua aset yang diperdagangkan. Tidak hanya portofolio pasar pada batas
efisien tetapi juga alokasi modal efisien pada garis alokasi modal semua untuk
investor. Akibatnya garis pasar modal (capital market line) merupakan garis di mana
tingkat bunga bebas risiko melalui portofolio pasar (M). Premi risiko pada portofolio
pasar proporsional terhadap risiko dan derajat keengganan terhadap risiko (degree of
risk aversion), yaitu:
E(rM) – rf = A σ M2 x0,01
2.7
Di mana:
E(rM)
= ekspektasi imbal hasil pasar sebagai ukuran tingkat diskonto
rf
= tingkat bunga modal berisiko
A
= rata-rata derajat keengganan terhadap risiko
σ M2 0,01
= kontanta varians imbal hasil pasar
Premi risiko dari aset individu proposional terhadap premi risiko pasar dan
koefisien risiko beta sekuritas terhadap portofolio pasar, yaitu : βi
=
Cov (ri , rm )
σ M2
Kemudian untuk premi risiko:
E ( ri ) − r f =
Cov (ri , rm
σ
)
2
M
[E ( r
M
]
[
) − r f = β i E ( rM − r f
]
2.8
Premi risiko dibagi varians merupakan harga pasar risiko dari portofolio pasar
persamaan di atas merupakan aset modal pasar, yaitu:
[
E (ri ) = r f + β i E ( rM ) − r f
]
2.9
Untuk menilai satu sekuritas digunakan koefisien αi, yaitu perbedaan
ekspektasi imbal hasil dengan nilai imbal hasil berdasarkan penetapan harga aset
modal, yaitu:
α i = E (ri ) − [r f + β i ( E (rM ) − r f ]
2.10
Nilai αi yang lebih besar menjelaskan saham lebih baik untuk dipegang. Jika
hubungan ekspektasi imbal hasil – beta untuk setiap aset yang dipegang pada setiap
kombinasi aset, dan portofolio mempunyai bobot wk untuk saham k[1,2,...,n] maka
penetapan harga aset modal adalah:
[
E (rM ) = r f + β M E ( rM ) − r f
βM =
Cov ( rM , rM )
σ M2
σ M2
= 2 =1
σM
]
2.11
2.12
Persamaan ini disebut garis sekuritas pasar, yaitu hubungan antara risiko β
pasar dengan ekspektasi imbal hasil pasar.Misalkan saham A mempunyai ekspektasi
imbal hasil 15 persen dan risiko βA adalah 1,20. Saham B mempunyai ekspektasi
imbal hasil 16 persen dan risiko βB adalah 1,50. Ekspektasi imbal hasil pasar 14
persen dan rf =7 persen. Menurut penetapan harga aset modal nilai αA adalah negatif
0,40 dan nilai αB adalah negatif 1,50 persen. Oleh sebab itu, memegang saham B.
Penetapan harga aset modal juga dapat digunakan untuk mengevaluasi satu proyek
perusahaan, yaitu membandingkan nilai penetapan harga aset modal dengan IRR.
Misalkan proyek perusahaan B mempunyai IRR sebesar 17,00 persen.
Menurut penetapan harga aset modal, proyek investasi perusahaan B memerlukan
imbal hasil 17,50 persen.Dengan kata lain nilai penetapan harga aset modal lebih
tinggi dari IRR sehingga proyek investasi perusahaan B ditolak. Nilai penetapan
harga aset modal merupakan tingkat diskonto (k) yang digunakan pada model
pertumbuhan, yaitu: 17,50 persen Pada tingkat k = 17,50 persen nilai sekarang dari
proyek investasi perusahaan B adalah negatif. Jika tingkat diskonto yang digunakan
17 persen maka nilai sekarang dari proyek investasi perusahaan B adalah nol, artinya
jika k = IRR maka nilai sekarang dari suatu proyek investasi sama dengan nol.
CAPM dikritik sebagai penyebab masalah kompetisi di Amerika Serikat.
Manajer di sebuah perusahaan di Amerika Serikat yang menggunakan CAPM
terpaksa membuat investasi yang aman dalam jangka pendek dan perolehannya dapat
diprediksi dalam jangka pendek daripada investasi yang aman dan perolehan dalam
jangka panjang. Para peneliti telah menggunakan CAPM untuk menguji hipotesa
yang berhubungan dengan hipotesa pasar efisien.
Markowitz dalam Bodie et al. (2005) mengusulkan sebuah model untuk
menjelaskan korelasi di antara return sekuritas. Model ini mengasumsikan bahwa
return dari sekuritas ke-i tergantung pada sebuah faktor yang mendasari, nilai yang
diwakili oleh indeks, dalam notasi matematika dinyatakan sebagai:
ri = ai + Bi.F + ui
2.13
ri = return sekuritas i (IHSG)
Bi = Beta dari sekuritas i
F = indeks (belum tentu indeks pasar)
ui = error term
(walaupun selanjutnya markowitz mengusulkan bahwa persamaan itu seharusnya
tidak linier, karena ada faktor lain yang mendasarinya) lalu pada tahun 1963, William
Sharpe menguji persamaan tersebut sebagai penjelasan bagaimana return sekuritas
cenderung naik dan turun seiring dengan naik turunnya indeks umum pasar, secara
spesifik Sharpe menggunakan persamaan sebagai berikut:
rit
= ai + Bi.rmt + uit
2.14
rit
= return dari aset i pada periode t
rmt
= return dari indeks pasar pada periode t
ai
= komponen non-pasar dari return aset i
Bi
= rasio kovarian dari return aset i dan return indeks pasar terhadap
varians return indeks pasar
uit
= zero mean random error term
Model ini disebut model pasar indeks tunggal (single index market model)
atau sering disebut market model. Dilihat di sini pada model markowitz, indeksnya
belum tentu indeks pasar, tetapi pada market model digunakan indeks pasar.
2.6.
Nilai Tukar
Nilai tukar Rupiah atau disebut juga kurs Rupiah adalah perbandingan nilai
atau harga mata uang Rupiah dengan mata uang lain. Perdagangan antar negara
di mana masing-masing negara mempunyai alat tukarnya sendiri mengharuskan
adanya angka perbandingan nilai suatu mata uang dengan mata uang lainnya, yang
disebut kurs valuta asing atau kurs (Salvatore, 2008).
Nilai tukar terbagi atas nilai tukar nominal dan nlai tukar riil. Nilai tukar
nominal (nominal exchange rate) adalah nilai yang digunakan seseorang saat
menukar mata uang suatu negara dengan mata uang negara lain. Sedangkan nilai riil
(real exchange rate) adalah nilai yang digunakan seseorang saat menukar barang dan
jasa dari suatu negara dengan barang dan jasa dari negara lain (Mankiw, 2006).
Nilai tukar yang melonjak-lonjak secara drastis tak terkendali akan
menyebabkan kesulitan pada dunia usaha dalam merencanakan usahanya terutama
bagi mereka yang mendatangkan bahan baku dari luar negeri atau menjual barangnya
ke pasar ekspor oleh karena itu pengelolaan nilai mata uang yang relatif stabil
menjadi salah satu faktor moneter yang mendukung perekonomian secara makro
(Pohan, 2008).
Menurut Sukirno (2002) besarnya jumlah mata uang tertentu yang diperlukan
untuk memperoleh satu unit valuta asing disebut dengan kurs mata uang asing. Nilai
tukar adalah nilai mata uang suatu negara diukur dari nilai satu unit mata mata uang
terhadap mata uang negara lain. Apabila kondisi ekonomi suatu negara mengalami
perubahan, maka biasanya diikuti oleh perubahan nilai tukar secara substansional.
Masalah mata uang muncul saat suatu negara mengadakan transaksi dengan negara
lain, di mana masing-masing negara menggunakan mata uang yang berbeda. Jadi nilai
tukar merupakan harga yang harus dibayar oleh mata uang suatu negara untuk
memperoleh mata uang negara lain.
Nilai tukar dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti tingkat suku bunga dalam
negeri, tingkat inflasi, dan intervensi bank central terhadap pasar uang. Nilai tukar
yang lazim disebut kurs, mempunyai peran penting dalam rangka stabilitas moneter
dan dalam mendukung kegiatan ekonomi. Nilai tukar yang stabil diperlukan untuk
tercapainya iklim usaha yang kondusif bagi peningkatan dunia usaha. Untuk menjaga
stabilitas nilai tukar, bank central pada waktu-waktu tertentu melakukan intervensi
di pasar-pasar valuta asing, khususnya pada saat terjadi gejolak yang berlebihan. Para
ekonom membedakan kurs menjadi dua yaitu kurs nominal dan kurs riil. Kurs
nominal (nominal exchange rate) adalah harga relatif dari mata uang dua negara.
Sebagai contoh, jika antara dolar Amerika Serikat dan yen Jepang adalah 120 yen per
dolar, maka orang Amerika Serikat bisa menukar 1 dolar untuk 120 yen di pasar
uang. Sebaliknya orang Jepang yang ingin memiliki dolar akan membayar 120 yen
untuk setiap dolar yang dibeli. Ketika orang-orang mengacu pada “kurs” di antara
kedua negara, mereka biasanya mengartikan kurs nominal (Mankiw, 2006).
Kurs riil (real exchange rate) adalah harga relatif dari barang-barang di antara
dua negara. Kurs riil menyatakan tingkat di mana kita bisa memperdagangkan
barang-barang dari suatu negara untuk barang-barang dari negara lain. Nilai Tukar
(exchange rate) atau kurs adalah harga satu mata uang suatu negara terhadap mata
uang negara lain. Nilai tukar nominal (nominal exchange rate) adalah harga relatif
dari mata uang dua negara (Mankiw, 2006). Nilai tukar riil adalah nilai tukar nominal
yang sudah dikoreksi dengan harga relatif yaitu harga-harga di dalam negeri
dibandingkan dengan harga-harga di luar negeri. Nilai tukar dapat dihitung dengan
menggunakan rumus di bawah ini:
Q=S
P
P*
(2.15)
di mana Q dalah nilai tukar riil, S adalah nilai tukar nominal, P adalah tingkat
harga domestik dan P* adalah tingkat harga di luar negeri.
Kurs inilah sebagai salah satu indikator yang mempengaruhi aktivitas di pasar
saham maupun pasar uang karena investor cenderung akan berhati-hati untuk
melakukan investasi. Menurunnya kurs Rupiah terhadap mata uang asing khususnya
Dolar AS memiliki pengaruh negatif terhadap ekonomi dan pasar modal (Sitinjak dan
Kurniasari, 2003). Turunnya kurs menurunkan kemampuan nilai tukar Rupiah
terhadap mata uang asing salah satu dampaknya terhadap impor.
2.7.
Inflasi
Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk naik secara umum dan
terus menerus Sukirno (2002). Akan tetapi bila kenaikan harga hanya dari satu atau
dua barang saja tidak disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas atau
menyebabkan kenaikan sebagian besar dari harga barang-barang lain (Boediono,
2000). Kenaikan harga-harga barang itu tidaklah harus dengan persentase yang sama.
Inflasi merupakan kenaikan harga secara terus-menerus dan kenaikan harga
yang terjadi pada seluruh kelompok barang dan jasa (Pohan, 2008). Bahkan mungkin
dapat terjadi kenaikan tersebut tidak bersamaan. Yang penting kenaikan harga umum
barang secara terus-menerus selama suatu periode tertentu. Kenaikan harga barang
yang terjadi hanya sekali saja, meskipun dalam persentase yang cukup besar dan
terus-menerus, bukanlah merupakan inflasi (Nopirin, 2000). Kenaikan sejumlah
bentuk barang yang hanya sementara dan sporadis tidak dapat dikatakan akan
menyebabkan inflasi.
Dari kutipan di atas diketahui bahwa inflasi adalah keadaan di mana terjadi
kelebihan permintaan (Excess Demand) terhadap barang-barang dalam perekonomian
secara keseluruhan. Inflasi sebagai suatu kenaikan harga yang terus-menerus dari
barang dan jasa secara umum (bukan satu macam barang saja dan sesaat). Menurut
definisi ini, kenaikan harga yang sporadis bukan dikatakan sebagai inflasi.
Inflasi dapat mempengaruhi distribusi pendapatan, alokasi faktor produksi
serta produk nasional. Efek terhadap distribusi pendapatan disebut dengan equity
effect, sedangkan efek terhadap alokasi faktor produksi dan pendapatan nasional
masing-masing disebut dengan efficiency dan output effects (Nopirin, 2000).
1. Efek terhadap Pendapatan (Equity Effect). Efek terhadap pendapatan sifatnya
tidak merata, ada yang dirugikan tetapi ada pula yang diuntungkan dengan adanya
inflasi. Seseorang yang memperoleh pendapatan tetap akan dirugikan oleh adanya
inflasi. Demikian juga orang yang menumpuk kekayaannya dalam bentuk uang
kas akan menderita kerugian karena adanya inflasi. Sebaliknya, pihak-pihak yang
mendapatkan keuntungan dengan adanya inflasi adalah mereka yang memperoleh
kenaikan pendapatan dengan prosentase yang lebih besar dari laju inflasi, atau
mereka yang mempunyai kekayaan bukan uang di mana nilainya naik dengan
prosentase lebih besar dari pada laju inflasi. Dengan demikian inflasi dapat
menyebabkan terjadinya perubahan dalam pola pembagian pendapatan dan
kekayaan masyarakat.
2. Efek terhadap Efisiensi (Efficiency Effects). Inflasi dapat pula mengubah pola
alokasi faktor-faktor produksi. Perubahan ini dapat terjadi melalui kenaikan
permintaan akan berbagai macam barang yang kemudian dapat mendorong
terjadinya perubahan dalam produksi beberapa barang tertentu. Dengan adanya
inflasi permintaan akan barang tertentu mengalami kenaikan yang lebih besar dari
barang lain, yang kemudian mendorong terjadinya kenaikan produksi barang
tertentu.
3. Efek terhadap Output (Output Effects). Inflasi mungkin dapat menyebabkan
terjadinya kenaikan produksi. Alasannya dalam keadaan inflasi biasanya kenaikan
harga barang mendahului kenaikan upah sehingga keuntungan pengusaha naik.
Kenaikan keuntungan ini akan mendorong kenaikan produksi. Namun apabila laju
inflasi ini cukup tinggi (hyper inflation) dapat mempunyai akibat sebaliknya,
yakni penurunan output. Dalam keadaan inflasi yang tinggi, nilai uang riil turun
dengan drastis, masyarakat cenderung tidak mempunyai uang kas, transaksi
mengarah ke barter, yang biasanya diikuti dengan turunnya produksi barang.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan langsung antara
inflasi dan output. Inflasi bisa dibarengi dengan kenaikan output, tetapi bisa juga
dibarengi dengan penurunan output.
2.8.
Arbitrage Pricing Theory (APT)
Ross (1976) merumuskan model keseimbangan yang disebut Arbitrage
Pricing Theory (APT), yang menyatakan bahwa dua kesempatan investasi yang
mempunyai sifat yang identik sama tidak dapat dijual dengan harga yang berbeda.
Dalam hal ini hukum yang dianut oleh APT adalah hukum satu harga (the law of one
price). Suatu aktiva yang memiliki karakteristik sama (identik sama) jika dijual
dengan harga yang berbeda, maka akan terdapat kesempatan untuk melakukan
arbitrage dengan membeli aktiva yang berharga murah dan pada saat yang sama
menjualnya dengan harga yang lebih tinggi sehingga memperoleh laba tanpa risiko
(Husnan, 2000).
Dalam perekonomian suatu negara terdapat empat pasar yang telah dikenal
yaitu: pasar modal, pasar uang, pasar valuta asing maupun pasar barang. Dari
keempat pasar tersebut yang saling terkait erat serta yang mencerminkan hukum satu
harga (the law of one price) umumnya tiga pasar yaitu: pasar modal, pasar uang, dan
pasar valuta asing. Ketiga pasar mempunyai keseimbangan dan identik sama sehingga
tidak dapat dijual dengan harga yang berbeda. Jika tidak terjadi keseimbangan dari
pasar-pasar tersebut, maka akan terjadi proses arbitrage dari pasar yang satu ke pasar
yang lain sebagaimana diuraikan di atas.
Terkait dengan pasar modal, model APT dinyatakan bahwa tingkat
keuntungan dari saham yang diperdagangkan di pasar modal terdiri dari dua
komponen, yaitu: tingkat keuntungan normal atau tingkat keuntungan yang
diharapkan dan tingkat keuntungan yang tidak pasti atau berisiko (Husnan, 2000).
Tingkat keuntungan yang diharapkan merupakan bagian dari tingkat keuntungan
sesungguhnya yang diharapkan oleh investor. Tingkat keuntungan ini sangat
dipengaruhi oleh informasi yang dimiliki oleh investor. Sedangkan tingkat
keuntungan yang tidak pasti atau berbagai tingkat keuntungan yang bersumber dari
informasi yang bersifat tidak diharapkan. Investor dalam menjalankan aktivitasnya
menghadapi dua macam risiko, yaitu: risiko sistematis dan risiko tidak sistematis.
Kedua risiko tersebut mempengaruhi tingkat keuntungan yang diharapkan investor.
Risiko tidak sistematis dari satu perusahaan tidak berkorelasi dengan perusahaan
lainnya. Sebaliknya, risiko sistematis akan berkorelasi terhadap setiap perusahaan
(saham). Hal ini disebabkan karena faktor-faktor yang mempengaruhi risiko
sistematis adalah sama, misalnya: tingkat inflasi, tingkat bunga dan variabel-variabel
lainnya atau sering disebut dengan variabel makroekonomi. Oleh karena itu
perubahan variabel makroekonomi akan berdampak pada seluruh perusahaan
(saham). Namun demikian perlu diperhatikan bahwa kemungkinan terdapat
perbedaan besar kecilnya perubahan variabel makroekonomi terhadap harga saham.
Model faktor mendasarkan diri pada anggapan bahwa adanya hubungan linear
antara harga suatu saham dengan harga seluruh saham yang ada di bursa yang
diwakili oleh indeks pasar. Atas dasar anggapan itu, maka tingkat keuntungan suatu
saham akan berkorelasi dengan perubahan harga pasar (Bailey, 1999). Sebagai proses
penghasil imbalan, model faktor berusaha untuk mencakup kekuatan-kekuatan
perekonomian utama yang secara sistematis menggerakkan atau mempengaruhi harga
semua saham. Secara implisit, dalam susunan model faktor terdapat asumsi bahwa
imbalan antara dua saham akan berkorelasi, yaitu bergerak bersama-sama melalui
reaksi yang sama terhadap satu atau lebih faktor yang ditentukan oleh model. Model
faktor dapat memberikan informasi yang diperlukan untuk menghitung imbalan
harapan, varian, maupun kovarian dari setiap saham. Hasilnya, model faktor adalah
alat yang bermanfaat untuk manajemen portofolio (Bailey, 1999).
Model multi faktor mengasumsikan bahwa proses penentuan harga saham
melibatkan beberapa faktor. Artinya terdapat beberapa kemungkinan bahwa lebih dari
satu faktor penyebab (pervasive factor) dalam perekonomian yang mempengaruhi
harga saham. Situasi ekonomi mempengaruhi hampir semua perusahaan. Jadi
perubahan dari perekonomian yang diramalkan memiliki dampak yang besar terhadap
harga sebagian besar saham.
Sebagai contoh ada dua sumber risiko ekonomi makro yaitu GDP dan tingkat
bunga yang tidak dapat dipastikan kondisinya terhadap harga saham. Menurut Bodie,
Kane dan Marcus (2006), secara sederhana model multi faktor persamaannya dapat
dinyatakan sebagai berikut:
Ri = E(ri ) + βiGDPGDP + βiIRIR + ei
(2.16)
Dua faktor pada sisi kanan persamaan atas faktor sistematis di dalam
perekonomian. Sebagaimana model faktor tunggal, kedua faktor makro ini
mempunyai nilai ekspektasi nol: menunjukkan perubahan pada variabel ini yang
sebelumnya tidak diantisipasi. Koefisien pada setiap faktor pada persamaan di atas
mengukur sensitivitas imbal hasil saham atas faktor tersebut. Untuk alasan ini,
koefisien sering kali disebut sebagai sensitivitas faktor (factor sensitivity),
pembebanan faktor (factor loading), atau beta faktor (factor beta). Dan ei
mencerminkan pengaruh faktor spesifik perusahaan.
2.9.
Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
Salah satu instrumen pasar uang yang digunakan oleh Bank Indonesia untuk
mengendalikan likuiditas perekonomian adalah Sertifikat Bank Indonesia atau SBI.
SBI adalah instrumen keuangan jangka pendek yang dijadikan tolak ukur oleh bank-
bank pemerintah, swasta nasional dan swasta asing dalam menentukan tingkat suku
bunga tabungan, deposito dan pinjaman kepada masing-masing nasabahnya.
Dalam kondisi normal fungsi utama SBI adalah menjaga uang yang beredar
berada dalam jumlah yang optimal. Namun sejak krisis moneter melanda Indonesia
tahun 1997, SBI juga digunakan oleh Bank Sentral untuk mencegah meningkatnya
permintaan dana oleh masyarakat dan kalangan pengusaha swasta nasional untuk
keperluan transaksi dan berjaga-jaga. Pada kondisi tersebut, meningkatnya
permintaan uang oleh masyarakat dan kalangan pengusaha nasional tidak sepenuhnya
digunakan untuk keperluan dimaksud, namun digunakan untuk berspekulasi membeli
dollar guna memperoleh keuntungan yang spekulatif.
SBI pada dasarnya adalah merupakan instrumen jangka pendek yang bebas
risiko. Karakteristik utama SBI adalah:
1. Pemberian Bunga
Bunga pada SBI dikenal sebagai tingkat diskonto, karena SBI dijual dengan harga
diskon sebesar tingkat diskontonya, atau dengan kata lain bunga SBI diberikan
di awal.
2. Penerbitan
SBI diterbitkan berdasarkan atas unjuk, yaitu yang terakhir membawa SBI pada
saat jatuh tempo maka dialah yang berhak mencairkannya.
3. Suku bunga
Suku bunga SBI ditentukan berdasarkan lelang yang dilakukan setiap hari Rabu
sore pukul 18.00. Penentuan suku bunga ini dilakukan berdasarkan lelang antara
money broker yang ditunjuk oleh Bank Indonesia. Money broker yang menawar
pada tingkat suku bunga yang rendah akan diprioritaskan untuk mendapatkan SBI
terlebih dahulu.
2.10.
Indeks Dow Jones
Dow Jones Industrial Average (DJIA) adalah salah satu indek pasar saham
yang didirikan oleh editor The Wall Street Journal dan pendiri Dow Jones &
Company Charles Dow. Dow membuat indeks ini sebagai suatu cara untuk mengukur
performa komponen industri di pasar saham Amerika. Saat ini DJIA merupakan
indeks pasar AS tertua yang masih berjalan.
Sekarang, bursa saham ini terdiri dari 30 perusahaan terbesar di Amerika
Serikat yang sudah secara luas go public. Untuk mengkompensasi efek pemecahan
saham dan penyesuaian lainnya, sekarang ini menggunakan weighted average. bukan
rata-rata aktual dari harga saham komponennya.
Adapun perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam indeks Dow Jones
adalah: 3M (konglomerat, manufaktur), Alcoa (aluminium), Altria Group American
International Group American Express, Boeing, Caterpillar, Citigroup, Coca-Cola,
DuPont, Exxon Mobil, General Electric, General Motors, Hewlett-Packard, Home
Depot, Honeywell International, Intel, International Business Machines, J.P. Morgan
Chase, Johnson & Johnson, McDonald's, Merck & Co, Microsoft, Pfizer, Procter and
Gamble, SBC Communications, United Technologies, Verizon, Wal-Mart, Walt
Disney Company.
Indeks Dow Jones merupakan rata-rata indeks saham terbesar di dunia oleh
karena itu pergerakan indeks Dow Jones dapat mempengaruhi hampir seluruh indeks
saham dunia termasuk IHSG. Pengaruh indeks Dow Jones terhadap IHSG
diperkirakan positif dalam arti kenaikan indeks Dow Jones akan mengakibatkan
naiknya IHSG di Bursa Efek Indonesia hal ini disebabkan oleh adanya sentimen
positif dari para investor terhadap kondisi ekonomi dunia.
2.11.
Penelitian Terdahulu
Kajian yang berhubungan dengan Indeks Harga Saham sudah banyak diteliti
oleh peneliti-peneliti terdahulu. Rahayu, telah membuat suatu analisis yang pengaruh
nilai tukar dan suku bunga terhadap Indeks Harga Saham Gabungan di BEI. Hasil
yang didapati adalah secara bersama-sama variabel nilai tukar dan SBI berpengaruh
signifikan terhadap IHSG.
Haryanto dan Riyatno (2007) telah melakukan kajian mengenai pengaruh
suku bunga SBI dan nilai kurs terhadap risiko sistematik saham perusahaan di BEI.
Hasilnya adalah SBI dan nilai kurs terbukti mempengaruhi risiko sistematis saham,
namun tidak signifikan pada dua karakteristik industri yang berbeda.
Mansyur (2005) telah meneliti pengaruh indeks bursa global terhadap IHSG
di BEI selama periode 2000-2000, hasil yang didapati adalah indeks-indeks bursa
global secara bersama-sama memberi pengaruh yang signifikan terhadap IHSG
di BEI.
Tandelilin (1997) juga telah melakukan penelitian mengenai faktor-faktor
yang mempengaruhi risiko sistemik beberapa saham di Indonesia dengan
menggunakan variabel inflasi, suku bunga dan perubahan GDP. Hasil yang didapati
adalah secara bersama-sama variabel-variabel tersebut tidak berpengaruh signifikan
namun tingkat suku bunga secara parsial berpengaruh signifikan terhadap risiko
saham.
Handayani, (2007). Pengaruh tingkat bunga SBI, nilai kurs dollar AS, dan
tingkat inflasi terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) (studi di Bursa
Efek Jakarta). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tingkat
bunga SBI, nilai kurs dollar AS, dan tingkat inflasi terhadap naik turunnya indeks
harga saham dan untuk mengetahui variabel yang dominan berpengaruh terhadap
Indeks Harga Saham Gabungan. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa Tingkat
bunga SBI, nilai kurs Dollar AS dan Tingkat inflasi secara serempak berpengaruh
tehadap Indeks Harga Saham Gabungan. Tingkat bunga SBI berpengaruh negatif
terhadap Indeks Harga Saham Gabungan, sedangkan Nilai Kurs Dollar AS dan
Tingkat Inflasi berpengaruh positif terhadap Indeks Harga Saham Gabungan. Dari
ketiga variabel independen, variabel tingkat bunga SBI adalah Variabel yang paling
dominan berpengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan
Secara lebih jelas penelitian penelitian yang telah disebutkan di atas dapat
dilihat pada tabel penelitian di bawah ini.
Tabel 2.1. Tinjauan Penelitian Terdahulu
No.
Peneliti
Penelitian Terdahulu
Variabel
Variabel
Judul
Dependen Independen
Analisis Pengaruh IHSG
Nilai Tukar,
Nilai Tukar dan
SBI
Suku Bunga
terhadap IHSG
di BEI
1
Theresia
Puji
Rahayu
(2002)
2
M.Y. Dedy
Haryanto
dan
Riyatno
(2007)
Pengaruh Suku
Bunga SBI dan
Nilai Kurs
terhadap Risiko
Sistematik Saham
Perusahaan di BEI
Risiko
Saham
SBI dan Kurs
3
Moh.
Mansyur
(2005)
Indek Kospi,
Hang Seng,
Nikkei,
TAIEX, Dow
Jones FTSE,
ASX
4
Tandelilin
(1997)
Pengaruh Indek
IHSG
Bursa Global
terhadap Indek
Harga Saham
Gabungan
(IHSG) Pada
Bursa Efek Jakarta
(BEI) Peiode
Tahun 2000-2002
Determinant of
Risiko
Systematic Risk:
Saham
The Experience of
Some Indonesia
Common Stock
Sumber: Data diolah, 2009
Tingkat
inflasi, suku
bunga, dan
perubahan
GDP
Hasil/Temuan
Variabel-variabel
independen secara
bersama-sama
bepengaruh
signifikan terhadap
variabel dependen
SBI dan Kurs
terbukti
mempengaruhi risiko
sistematis saham
namun hasilnya tidak
signifikan pada dua
karakteristik yang
berbeda
Ketujuh indek
tersebut secara
bersama-sama
berpengaruh
signifikan terhadap
IHSG di BEI
Secara bersamasama variabelvariabel tersebut
tidak berpengaruh
signifikan terhadap
risiko sistematik
namun tingkat suku
bunga secara parsial
terbukti berpengaruh
signifikan terhadap
risiko sistematis
2.12.
Kerangka Pemikiran
Berdasarkan landasan teoritis dan hasil penelitian terdahulu, maka kerangka
pemikiran dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Nilai Tukar
SBI
Indek Harga Saham
Gabungan
Inflasi
Indek Dow Jones
Gambar 2.3. Skema Kerangka Penelitian
2.13.
Hipotesis Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah dan kajian empiris yang telah dilakukan
sebelumnya, dapat ditarik hipotesis, yaitu:
1. Nilai tukar berpengaruh positif terhadap pergerakan IHSG di Bursa Efek
Indonesia, ceteris paribus.
2. SBI berpengaruh negatif terhadap pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia,
ceteris paribus.
3. Inflasi berpengaruh positif terhadap pergerakan IHSG di Bursa Efek
Indonesia, ceteris paribus.
4. Indeks Dow Jones berpengaruh positif terhadap pergerakan IHSG di Bursa
Efek Indonesia, ceteris paribus.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.
Objek Penelitian
Objek penelitian ini difokuskan pada faktor-faktor yang diduga dapat
mempengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan, dan faktor-faktor tersebut
yaitu nilai tukar rupiah, inflasi, suku bunga SBI, indeks Dow Jones. Jangka waktu
penelitian yang digunakan selama 62 bulan, mulai bulan Januari 2004 sampai bulan
Februari 2009.
3.2.
Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan jenis data runtun waktu
(time series) selama kurun waktu 62 bulan dari Januari 2004 sampai bulan Februari
2009. Data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari beberapa sumber antara
lain: data nilai tukar rupiah, tingkat suku bunga SBI, indeks Dow Jones, bersumber
dari Bank Indonesia (BI), data pergerakan IHSG dan inflasi bersumber dari Bursa
Efek Indonesia (BEI).
3.3.
Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan Metode
Ordinary Least Square (OLS). Hal ini digunakan untuk melihat elastisitas Variabel
Independen (nilai tukar, SBI, inflasi, indeks Dow Jones) terhadap Variabel Dependen
(indeks harga saham gabungan/IHSG). Dan sebagai alat analisis untuk mengolah data
adalah dengan menggunakan program Eviews versi 5,1. Metode ini banyak
digunakan karena:
1. Pengestimasian parameter dengan menggunakan metode ini akan
menghasilkan parameter yang bersifat optimum.
2. Perhitungan dengan menggunakan metode ini cukup mudah jika
dibandingkan dengan metode ekonometrika yang lain dan metode ini tidak
membutuhkan banyak data.
3. Metode Kuadrat Terkecil ini banyak digunakan secara luas dalam
hubungan ekonomi dan banyak menghasilkan keputusan ekonomi yang
baik. Dengan demikian metode ini banyak digunakan pada waktu
mengestimasi hubungan dalam metode Ekonometrika.
4. Teknik-teknik dalam metode kuadrat terkecil sangat mudah dipahami.
5. Metode Kuadrat Terkecil adalah komponen yang penting dalam
ekonometrika.
3.4.
Model Analisis
Untuk melihat seberapa besar pengaruh nilai tukar rupiah, inflasi, tingkat suku
bunga SBI, indeks Dow Jones terhadap pergerakan IHSG di BEI selama kurun waktu
bulan Januari 2004 sampai bulan Februari 2009, dianalisa dengan menggunakan
metode Ordinary Least Square (OLS). Untuk itu fungsi persamaan yang digunakan
dalam penelitian ini adalah:
IHSG = f (KURS, Inflasi, Asing, SBI, Indeks Dow Jones)............................3.1
Kemudian fungsi tersebut dispesifikasikan ke dalam model ekonometrika
dalam bentuk linear, sebagai berikut:
IHSGt = α0+ b1KURS + b2INF + b3SBI + b4 DJ + e ...........................3.2
Di mana:
IHSG
= Indek Harga Saham Gabungan (basis point/bsp)
KURS
= Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar US (Rp/$)
INF
= Inflasi (persen)
SBI
= Suku Bung Sertifikat Bank Indonesia 1 bulan (persen)
DJ
= Indek Dow Jones (basis point/bsp)
a
= Konstanta
b1, b2, b3, b4 = Koefisien Regresi
e
3.5.
= Error Term
Uji Kesesuaian (Test Goodness of Fit)
Estimasi terhadap model dilakukan dengan menggunakan metode yang
tersedia pada program statistik Eviews versi 5.1. Koefisien yang dihasilkan dapat
dilihat pada out put regresi berdasarkan data yang dianalisis untuk kemudian
diinterpretasikan serta dilihat siginifikansi tiap-tiap variabel yang diteliti.
a. R² (koefisien determinasi) bertujuan untuk mengetahui kekuatan variabel
bebas (independent variable) menjelaskan variabel terikat (dependent
variable).
b. Uji parsial (t-test), dimaksudkan untuk mengetahui signifikansi statistik
koefisien regresi secara parsial. Jika thit > ttabel, maka H0 ditolak dan H1
diterima.
c. Uji serempak (F-test), dimaksudkan untuk mengetahui signifikansi statistik
koefisien regresi secara serempak. Jika Fhit > Ftabel, maka H0 ditolak dan H1
diterima.
3.6.
Uji Penyimpangan Asumsi Klasik
Setelah dilakukan pengujian regresi, maka dilakukan evaluasi. Evaluasi ini
dimaksudkan untuk mengetahui apakah penggunaan model regresi linier berganda
dalam menganalisis telah memenuhi asumsi klasik yang dipersyaratkan.
Asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini, sebagai berikut:
a. Uji Multikolinieritas
Multikolnieritas digunakan untuk menunjukkan adanya hubungan linear
di antara variabel-veriabel dalam model regresi. Interprestasi dari persamaan
regresi linier secara emplisit bergantung bahwa variabel-variabel beda dalam
persamaan tidak saling berkorelasi. Bila variabel-variabel bebas berkorelasi
dengan sempurna, maka disebut multikolinieritas sempurna. Multikolinieritas
dapat dideteksi dengan besaran-besaran regresi yang didapat yaitu:
1. Variasi besar (dari taksiran OLS).
2. Interval kepercayaan lebar (karena variasi besar, maka standar error besar
sehingga interval kepercayaan lebar).
3. Uji-t tidak signifikan. Suatu variabel bebas secara substansi maupun secara
statistik jika dibuat regresi sederhana bias tidak signifikan karena variasi besar
akibat kolinieritas. Bila standar error terlalu besar pula kemungkinan taksiran
koefisien regresi tidak signifikan.
4. R² tinggi tetapi tidak banyak variabel yang signifikan dari t-test.
5. Terkadang nilai taksiran koefisien yang didapat akan mempunyai nilai yang
tidak sesuai dengan substansi sehingga dapat menyesatkan interprestasi.
b. Uji Autokorelasi
Uji Autokorelasi dimaksudkan untuk mengetahui apakah terjadi korelasi
antara residual (anggota) pada serangkaian observasi tertentu dalam suatu
periode tertentu. Dalam model regresi linier berganda juga harus bebas dari
autokorelasi. Ada berbagai metode yang digunakan untuk menguji ada
tidaknya gejala autokorelasi. Dalam penelitian ini digunakan metode Uji
Durbin Watson. Menurut Durbin Watson, besarnya koefisien Durbin Watson
adalah antara 0-4. Kalau koefisien Durbin Watson sekitar 2, maka dapat
dikatakan tidak ada korelasi, kalau besarnya mendekati 0, maka terdapat
autokorelasi positif dan jika besarnya mendekati 4 (empat) maka terdapat
autokorelasi negatif (Gujarati, 2006).
3.7.
Definisi Operasional
Berdasarkan pada masalah dan hipotesis yang akan diuji, maka variabelvariabel yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Variabel IHSG adalah nilai indeks gabungan seluruh saham yang tercatat di Bursa
Efek Indonesia. Satuannya adalah basis point.
2. Variabel nilai tukar, adalah rasio perbandingan antara mata uang rupiah terhadap
dolar Amerika. Satuannya adalah Rp/$.
3. Suku bunga SBI 1 bulanan, adalah harga suatu surat berharga yang dikeluarkan
oleh Bank Indonesia dengan return bulanan yang digunakan untuk menarik/
menambah jumlah uang beredar. Satuannya adalah prosen.
4. Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk naik secara umum dan terus
menerus. Inflasi diukur dalam persen (persen).
5. Indeks Dow Jones adalah rata-rata indek saham yang ada di Amerika Serikat.
Satuannya adalah basis point.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1.
Deskripsi Variabel Penelitian
4.1.1. Perkembangan Nilai Tukar
Nilai tukar merupakan satuan nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS yang
berarti nilai yang mencerminkan harga mata uang Dollar AS dalam satuan Rupiah,
data mulai Januari 2004 sampai dengan Februari 2009. Berikut penjelasan
perkembangan nilai tukar:
12000
11500
11000
10500
10000
9500
9000
8500
8000
2004
2005
2006
2007
2008
KURS
Gambar 4.1. Perkembangan Kurs Januari 2004 s/d Februari 2009
Berdasarkan Gambar 4.1 di atas diketahui bahwa perkembangan kurs dari
Januari 2004 sampai dengan Februari 2009. Nilai kurs yang paling tinggi terjadi pada
awal tahun 2004 pada posisi di atas Rp. 8.000 per dollar sedangkan nilai kurs yang
paling rendah terjadi pada awal tahun 2008 terdepresisi ke level Rp. 10.500 per
dollar. Peningkatan kurs terjadi karena adanya kapital inflow yang masuk ke
Indonesia dan sebaliknya. Titik kurs yang paling tertinggi terjadi pada awal tahun
2004 yang hanya mencapai di bawah Rp 8.400 per dollar Amerika Serikat. Apresiasi
tersebut terjadi akibat adanya berbagai faktor yang terjadi khususnya terhadap
menguatnya kondisi makro ekonomi Indonesia dan pasca pemilu yang aman dan
damai sehingga direspon oleh kalangan ekonomi dengan positif. Kuatnya
fundamental ekonomi Indonesia mendorong masyarakat untuk memegang rupiah
dibandingkan dengan dollar Amerika Serikat. Sedangkan depresiasi rupiah yang
paling tertinggi terjadi pada akhir tahun 2008 dan awal 2009 hingga mencapai titik
terendah yaitu di atas Rp.11.500 per US dollar. Depresiasi tersebut terjadi akibat
krisis keuangan global yang melanda Amerika Serikat dan dunia sehingga
menurunkan berbagai indikator ekonomi Indonesia seperti pasar saham dan turunnya
ekspor-impor Indonesia. Banyak investor yang menarik uangnya dari sektor
keuangan ke sektor riil sehingga dapat menurunkan kurs rupiah sebagai salah satu
sumber pasar keuangan.
4.1.2. Perkembangan SBI
SBI, adalah biaya yang harus dibayar oleh peminjam atas pinjaman yang
diterima dan merupakan imbalan bagi pemberi pinjaman atas investasinya. SBI dalam
penelitian ini diukur dalam persen data mulai bulan Januari 2004 sampai dengan
Februari 2009. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa sektor perbankan telah
mengidap berbagai kelemahan tercermin pada besarnya jumlah kredit macet pada
sejumlah bank dengan terjadinya krisis yang telah mengakibatkan pemerintah
mengambil kebijakan ketat, di samping serbuan rush berulang-ulang sektor
perbankan menjadi semakin terpuruk karena disintermediasi perbankan sudah terjadi
sejak akhir 1997 dan kualitas aktiva produktif juga semakin buruk. Berikut
perkembangan SBI tahun 2004 s/d tahun 2009.
13
12
11
10
9
8
7
2003
2004
2005
2006
2007
2008
SBI
Gambar 4.2. Perkembangan SBI Januari 2004 s/d Februari 2009
Berdasarkan Gambar 4.3 di atas diketahui bahwa nilai SBI pada tahun 2004
merupakan titik terendah berada pada kisaran 7,5 persen sedangkan pada akhir tahun
2005 dan awal tahun 2006 SBI mencapai level tertinggi mencapai di atas 12 persen,
kemudian menurun kembali pada akhir tahun 2007 dan kembali meningkat di awal
tahun 2008.
Peningkatan SBI disebabkan pemerintah mengendalikan jumlah uang beredar
dan inflasi yang terjadi. Dalam kondisi reses jumlah inflasi yang tinggi mendorong
permintaan mayarakat akan uang semakin banyak dan jumlah uang beredar juga
makin banyak beredar di masyarakat, untuk itu perlu peningkatan terhadap sertifikat
Suku Bunga Bank Indonesia sehingga jumlah uang beredar akan semakin menurun.
Naiknya sertifikat Suku Bunga Bank Indonesia pada pertengahan tahun 2005 sampai
awal tahun 2006 hingga di atas 12 persen disebabkan kondisi ekonomi yang terjadi
inflasi. Penurunan SBI dimaksudkan untuk menumbuhkan sektor riil melalui
pinjaman investasi dengan bunga yang rendah hal tersebut terjadi sepanjang tahun
2004 yang hanya di bawah 8 persen. Penurunan terhadap sertifikat Suku Bunga Bank
Indonesia akibat pulihnya kondisi makro ekonomi sehingga untuk mendukung
pergerakan investasi diperlukan pinjaman dengan bunga yang lebih rendah sehingga
sektor riil dapat berjalan dengan baik.
4.1.3. Perkembangan Inflasi
Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk naik secara umum dan
terus-menerus. Akan tetapi bila kenaikan harga hanya dari satu atau dua barang saja
tidak disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas atau menyebabkan
kenaikan sebagian besar dari harga barang-barang lain. Inflasi diukur dalam persen
(persen) data mulai Januari 2004 s/d Februari 2009. Berikut data inflasinya:
20
18
16
14
12
10
8
6
4
2003
2004
2005
2006
2007
2008
INF
Gambar 4.3. Perkembangan Inflasi Januari 2004 s/d Februari 2009
Berdasarkan Gambar 4.3 diketahui bahwa inflasi yang terjadi dari Januari
2004 sampai dengan Februari 2009. Pada periode tersebut inflasi terendah terjadi
pada awal tahun 2004 sedangkan inflasi tertinggi terjadi pada tahun 2005 akhir dan
awal tahun 2006. Naiknya inflasi disebabkan adanya kenaikan jumlah uang beredar,
turunnya suku bunga dan permintaan masyarakat akan barang juga meningkat. Inflasi
yang paling tinggi terjadi pada tahun 2006 hingga mencapai level di atas 18 persen
pertahun. Tingginya inflasi tersebut disebabkan adanya adanya peningkatan dari
permintaan masyarakat akan barang sehingga nilai uang akan menurun, pergerakan
harga-harga yang secara terus-menerus mendorong terjadinya inflasi. Turunnya
inflasi juga terjadi akibat membaiknya kondisi ekonomi khususnya awal tahun 2004,
di mana tidak terjadi penyebab naiknya inflasi seperti pasokan kebutuhan pokok
masyarakat yang terpenuhi dan daya beli yang tidak signifikan mengalami
peningkatan, oleh sebab itu rendahnya inflasi dapat dikatakan sebagai efek
membaiknya kondisi ekonomi baik dalam permintaan maupun penawaran barang
yang relatif seimbang.
4.1.4. Perkembangan Indeks Dow Jones
Indeks Dow Jones merupakan indeks harga saham terbesar di Eropa yaitu
indeks harga saham Amerika, data mulai Januari 2004 sampai dengan Februari 2009.
Indeks Dow Jones merupakan indeks harga saham terbesar di Eropa yaitu indeks
harga saham Amerika, data mulai Januari 2004 sampai dengan Februari 2009.
14000
13000
12000
11000
10000
9000
8000
7000
6000
2003
2004
2005
2006
2007
2008
DJ
Gambar 4.4. Perkembangan Dow Jones Januari 2004 s/d Februari 2009
Berdasarkan Gambar 4.4 diketahui perkembangan indeks Dow Jones yang
terjadi dari Januari 2004 sampai dengan Februari 2009. Pada periode tersebut indeks
Dow Jones pada awal tahun 2004 sampai akhir tahun 2007 mengalami peningkatan
yang cukup signifikan. Naiknya indeks Dow Jones disebabkan adanya peningkatan
terhadap fundamental makro ekonomi Amerika Serikat dan dunia sehingga dapat
meningkatkan indikator ekonomi Amerika Serikat seperti naiknya PDB, turunnya
pengangguran, naiknya kepercayaan investor terhadap perusahaan dan neraca
pembayaran yang terus surplus. Kemudian setelah krisis Subprime Morgage terjadi
menyebabkan indeks Dow Jones mengalami penurunan secara signifikan.
Peningkatan indeks Dow Jones pada tahun 2004 disebabkan kondisi ekonomi
Amerika dan dunia yang membaik sedangkan penurunan indeks Dow Jones terjadi
karena kondisi krisis global yang menyebabkan krisis kepercayaan finansial
di Amerika dan di dunia. Kirisis subprime morgage mendorong turunnya kepercayaan
masyarakat terhadap perusahaan Amerika Serikat sehingga saham-saham hampir
semuanya mengalami penurunan.
4.1.5. Perkembangan IHSG
IHSG adalah indeks rata-rata saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia
(BEI) berdasarkan bulan, yaitu IHSG data mulai Januari 2004 sampai dengan
Februari 2009. Berikut data perkembangan IHSG:
3000
2500
2000
1500
1000
500
0
2003
2004
2005
2006
2007
2008
IHSG
Gambar 4.5. Perkembangan IHSG Januari 2004 s/d Februari 2009
Berdasarkan Gambar 4.5 diketahui perkembangan IHSG yang terjadi dari
Januari 2004 sampai dengan Februari 2009. Pada periode tersebut IHSG pada awal
tahun 2004 sampai akhir tahun 2007 mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Kemudian setelah krisis Subprime Morgage terjadi menyebabkan indeks Hang Seng
mengalami penurunan signifikan. Peningkatan IHSG pada tahun 2004 disebabkan
kondisi ekonomi Amerika dan dunia yang membaik sedangkan penurunan IHSG
terjadi karena kondisi krisis global yang menyebabkan krisis kepercayaan finansial
di Amerika dan di dunia. Efek turunnya pasar keuangan dunia menyebabkan IHSG
terus tertekan hingga level yang paling terendah mencapai di bawah 1200 yang
sebelumnya pada level tertinggi yaitu pada awal tahun 2008 hampir mencapai 2800
point.
4.2.
Hasil Analisis Data dan Pembahasan
4.2.1. Deskripsi data
Data dalam penelitian ini didapatkan sumber data sekunder atau jenis data
time series dari Januari 2004 sampai dengan Februari 2009. Deskripsi data dilakukan
pada variabel-variabel yang akan diuji, yaitu kurs, SBI, inflasi dan indeks Dow Jones
serta IHSG. Berikut hasil deskripsi datanya:
Tabel 4.1. Rangkuman Statistik Deskriptif
Mean
Median
Mode
Std. Deviation
Variance
Range
Minimum
Maximum
Sum
Kurs
9396.2950
9206.3950
8386.00(a)
668.45406
446830.828
3466.75
8386.00
11852.75
582570.29
SBI
9.1003
8.5000
8.25
1.78441
3.184
5.51
7.24
12.75
564.22
Inflasi
9.2874
7.4000
6.29(a)
3.92489
15.405
13.78
4.60
18.38
575.82
Dow Jones
11226.6356
10929.1350
7062.93(a)
1415.38903
2003326.107
6867.08
7062.93
13930.01
696051.41
IHSG
1520.3445
1326.4850
732.40(a)
615.44637
378774.233
2013.43
732.40
2745.83
94261.36
Sumber: Lampiran Eviews
Berdasarkan Tabel 4.1 diketahui bahwa nilai-nilai deskripsi seperti mean,
standar deviasi, median, variance, range, maksimum dan minimum. Nilai rata-rata
kurs sebesar Rp 9396,29, SBI sebesar 9,1 persen, inflasi 9,29 persen, indeks dow
jones 11226 poin dan IHSG rata-rata 1520,34 point. Jumlah variabel selama
observasi untuk kurs 582570.29, SBI 564.22, inflasi sebesar 575,82, Dow Jones
sebesar 696051,41 dan IHSG sbesar 94261,36. Nilai deskripsi data menggambarkan
secara umum karakteristik variabel yang akan diteliti.
4.2.2. Analisis Regresi
Analisis regresi digunakan untuk mengetahui pengaruh dari variabel-variabel
independen (kurs, SBI, inflasi, indeks dow jones) terhadap variabel dependen
(IHSG).
4.2.2.1. Uji asumsi klasik
Asumsi klasik yang diuji dalam penelitian ini meliputi uji autokorelasi dengan
menggunakan Durbin Watson (DW) test, multikolinieritas dengan uji nilai VIF dan
membandingkan nilai-nilai R2 setiap variabel. Berikut perincian pengujian tersebut:
a. Multikolinieritas
Uji multikolinieritas adalah bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat
korelasi yang cukup besar antar sesama variabel bebas (X). Korelasi yang terlalu
tinggi antar sesama X akan berpengaruh pada menurunnya korelasi secara simultan
terhadap variabel Y. Untuk mendeteksi terjadinya multikolinieritas digunakan uji
Klein yaitu dengan perbandingan nilai R2 model, dengan nilai R2 regresi dari masingmasing variabel independen. Selain itu dapat juga menggunakan nilai Variance
Inflating Factor (VIF) masing-masing variabel independen pada model, dengan
kriteria data penelitian bebas dari masalah heterokedastisitas jika nilai Variance
Inflating Factor (VIF) < 10.
Tabel 4.2. Hasil Uji Multikolinieritas
Variabel
R2
IHSG
0,769
Kurs
0,350
SBI
0,737
Inflasi
0,750
Dow jones
0,393
Sumber: Output Eviews Least Square Method
VIF
1.539
3.805
3.998
1.647
Kesimpulan
Bebas
Multikolinearitas
Kriteria yang digunakan adalah jika nilai R2 variabel-variabel independen
lebih kecil dari nilai R2 model, maka data bebas dari masalah multikolinieritas. Dari
Tabel 4.2, ketika variabel-variabel independen diregresikan maka nilai R2 lebih kecil
dari nilai R2 model yaitu (0,769 > 0,350; 0,769 > 0,737, 0,769 > 0,750, 0,769 >
0,393). Nilai Variance Inflating Factor (VIF) juga menunjukkan semua variabel
independen lebih kecil dari 10 (1,539 < 10; 3,805 < 10; 3,998 < 10; 1,647 < 10;
1,418 < 10), sehingga dapat dikatakan bahwa data penelitian bebas dari masalah
multikolinieritas.
b. Autokorelasi
Hasil pengujian autokorelasi menggunakan analisis Durbin Watsons (DW)
dengan nilai DW hitung sebesar 1.755. Untuk mengintepretasikan hasil analisis ini
dilakukan dengan mencari nilai DW tabel dengan N=62 dan k=5, di mana N=62
didapatkan dari jumlah responden yang diuji dalam penelitian ini, dan k=5 adalah
banyaknya jumlah prediktor atau variabel bebas. Berdasarkan pada tabel DW
didapatkan nilai DU= 1,710, dan nilai DL= 1,336. Seperti pada Tabel 4.3 berikut:
Tabel 4.3. Hasil Uji Autokorelasi
DW tabel
DW hitung
DL
1,336
Kesimpulan
DU
1,710
1,755
Tidak ada autokorelasi
Sumber: Output Eviews Least Square Method
Diketahui dari Tabel 4.3 tersebut, bahwa nilai DW hitung sebesar 1,755 lebih
besar daripada nilai DU pada DW tabel, sehingga dengan kriteria du<dw<4-du, maka
terletak pada daerah tanpa kesimpulan. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan
bahwa model yang diuji ini terbebas dari persoalan autokorelasi.
4.3.
Uji Statistik Hasil Estimasi Model Penelitian
Estimasi untuk mengetahui pengaruh variabel bebas (independent variable)
terhadap variabel
terikat (dependent variable) dilakukan dengan menggunakan
model regresi berganda.
Hasil perhitungan analisis regresi ganda dengan menggunakan program
Eviews Versi 5.1 (lampiran hasil regresi) dapat dilihat seperti data berikut:
Y = 7513,37 + 0,460Kurs - 129,35SBI + 49,58INF + 0,483DJ
Std Error
(0.073)
(42.873)
(19,97)
( 0.035)
t-statistic
(6.327)
(-3.017)
(2.481)
(13.584)
R2 = 0.768
F-Statistic = 47.316
R2 = 0.752
Prob-Stat = 0.00000
Berdasarkan hasil estimasi di atas dapat menunjukkan bahwa R2 = 0.768
yang bermakna bahwa variabel independen kurs, SBI, inflasi dan indeks Dow Jones
mampu menjelaskan variasi IHSG sebesar 76,8 persen dan sisanya sebesar 23.2
persen dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam modal estimasi.
Dari hasil uji simultan (serempak) yang dilakukan melihat signifikansi secara
bersama-sama variabel bebas dalam mempengaruhi variabel terikat (dependent
variable). Dari estimasi tersebut diperoleh nilai F-Statistik sebesar 47.316 yang
berarti secara bersama-sama (SBI, inflasi dan indeks dow jones) dapat mempengaruhi
IHSG dengan tingkat keyakinan 95 persen.
Sebagaimana yang telah dirumuskan pada bab sebelumnya, bahwa pengujian
secara partial dilakukan dengan membandingkan nilai t- hitung dengan nilai t-tabel.
Selain itu juga dilihat berdasarkan nilai signifikansi (sig) pada hasil estimasi.
Berdasarkan hasil estimasi diperoleh nilai t-hitung variabel probabilitas pada
kurs sebesar 0,000 < α 0.05 sehingga kurs berpengaruh signifikan terhadap IHSG.
Kemudian untuk SBI walaupun nilainya negatif, namun nilai probabilitas sebesar
0,0038 < α 0.05 sehingga SBI masih berpengaruh signifikan terhadap IHSG,
kemudian inflasi nilai probabilitas sebesar 0,016 < α 0.05 sehingga inflasi
berpengaruh signifikan terhadap IHSG. Untuk indeks Dow Jones masih signifikan
di mana probabilitas 0,000 < α 0.05. Berdasarkan hasil uji kesesuaian data diketahui
bahwa semua variabel memiliki pengaruh yang nyata terhadap IHSG.
Berdasarkan hasil regresi diketahui bahwa:
1. Koefisien regresi untuk kurs sebesar 0,460 mengandung arti bahwa peningkatan
terhadap 1 Rp/US$ nilai kurs maka IHSG juga akan meningkat sebesar 0,460
basis point, ceteris paribus. Hasil elastisitas kurs terhadap IHSG diperoleh sebagai
berikut:
∂Y ∂IHSG Kurs
=
x
∂X ∂Kurs IHSG
9396,29
0,46 x
= 0,46 x 6,18 = 2,8
1520,35
Elastisitas Kurs =
2,8 > 1 berarti elastis.
Berdasarkan hasil koefisien regresi diketahui nilai positif yang mengandung
arti bahwa setiap peningkatan kurs maka IHSG juga akan meningkat, kemudian
hasil elastisitas menunjukkan nilai elastis, artinya persentase peningkatan
terhadap kurs akan menghasilkan persentase penambahan terhadap IHSG yang
lebih besar.
Adanya pengaruh antara kurs dan Indeks Harga Saham Gabungan sesuai
dengan penelitian sebelumnya yang berasal dari Octavia (2007) yang menyatakan
secara parsial ada pengaruh yang sangat signifikan antara Nilai Tukar Rupiah/
US$ terhadap Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Jakarta periode
2003-2005. Hal ini ditunjukkan dari besarnya nilai t hitung lebih besar dari ttabel
(6,327 > 2,034) dan signifikansi sebesar 0,000. Jadi terbukti bahwa kurs memiliki
pengaruh yang nyata terhadap IHSG. Meskipun hasil tersebut bertolak belakang
dengan Gupta (2000) yang menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan kausalitas
antara tingkat bunga, nilai tukar, dan harga saham. Namun hasil penelitian ini
sesuai dengan penelitian Sitinjak dan Kurniasari (2003) dan mereka
menyimpulkan bahwa kurs berpengaruh signifikan negatif dan SBI berpengaruh
signifikan positif terhadap pasar saham. Persamaan ataupun perbedaan hasil
penelitian tersebut dimungkinkan karena Gupta (2000) menggunakan data
sebelum terjadinya krisis moneter di Indonesia (1993-1997), sedangkan Sitinjak
dan Kurniasari (2003) serta penelitian ini menggunakan data setelah krisis
moneter/sedang dalam masa pemulihan krisis moneter (1999-Sekarang).
Sehingga antara pasar uang dan pasar modal di Indonesia saling mempengaruhi
satu dengan yang lainnya. Setelah diuji secara parsial, Nilai Tukar Rupiah/US$
mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap IHSG karena nilai thitung
> ttabel (6,327 > 2,034) dan nilai signifikansinya lebih kecil dari 0,05 yaitu
sebesar 0,000. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Ajayi dan Mougoue
(1996) yang menunjukkan adanya hubungan dinamis antara harga saham dan
nilai tukar di 8 (delapan) negara maju (Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang,
Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat). Demikian juga penelitian Sudjono
(2002), memiliki pendapat yang senada bahwa variabel ekonomi makro yang
direfleksikan dengan nilai rupiah mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
indeks harga saham. Hal ini dapat dijelaskan bahwa terjadinya apresiasi kurs
rupiah terhadap dolar akan memberikan dampak terhadap perkembangan
pemasaran produk Indonesia di luar negeri, terutama dalam hal persaingan harga.
Apabila hal ini terjadi, secara tidak langsung akan memberikan pengaruh terhadap
neraca perdagangan, yang selanjutnya akan berpengaruh pula kepada neraca
pembayaran
Indonesia.
Memburuknya
neraca
pembayaran
tentu
akan
berpengaruh terhadap cadangan devisa. Berkurangnya cadangan devisa akan
mengurangi kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia, yang
selanjutnya menimbulkan dampak negatif terhadap perdagangan saham di pasar
modal sehingga terjadi capital outflow. Kemudian bila terjadi penurunan kurs
yang berlebihan, akan berdampak pula pada perusahaan-perusahaan go public
yang menggantungkan faktor produksi terhadap barang-barang impor. Besarnya
belanja impor dari perusahaan seperti ini bisa mempertinggi biaya produksi, serta
menurunnya laba perusahaan. Selanjutnya dapat ditebak, harga saham perusahaan
itu akan anjlok. Begitu pula sebaliknya, jika nilai rupiah meningkat maka
besarnya belanja impor dari perusahaan seperti ini bisa menurunkan biaya
produksi, serta meningkatkan laba perusahaan.
2. Koefisien regresi untuk SBI sebesar -129,350 mengandung arti bahwa
peningkatan terhadap 1 persen nilai SBI maka IHSG akan mengalami penurunan
sebesar 129,350 persen, ceteris paribus. Hasil elastisitas SBI terhadap IHSG
diperoleh sebagai berikut:
∂Y ∂IHSG SBI
=
x
∂X
∂SBI IHSG
9396,29
129,35 x
= 129,35 x 1032,56 = 133.561,55
9,10
Elastisitas SBI =
133.561,55 > 1 berarti elastis.
Berdasarkan hasil koefisien regresi diketahui nilai positif yang mengandung
arti bahwa setiap peningkatan SBI maka IHSG juga akan meningkat, kemudian
hasil elastisitas menunjukkan nilai elastis, artinya persentase peningkatan
terhadap SBI akan menghasilkan persentase penambahan terhadap IHSG yang
lebih besar.
Kesimpulan ini mempertegas penelitian Lee (1992) serta Sitinjak dan
Kurniasari (2003) yang menyimpulkan bahwa Tingkat Bunga berpengaruh
signifikan terhadap indeks harga saham. Berdasarkan hasil tersebut berarti
kenaikan tingkat suku bunga dapat meningkatkan beban perusahaan (emiten)
untuk memenuhi kewajiban/utang kepada bank sehingga dapat menurunkan laba
perusahaan dan akhirnya harga saham pun turun. Kenaikan ini juga potensial
mendorong investor mengalihkan dananya ke pasar uang atau tabungan maupun
deposito sehingga investasi di lantai bursa turun dan selanjutnya dapat
menurunkan harga saham. Sedangkan sebaliknya, jika tingkat suku bunga turun,
maka beban perusahaan pun menurun sehingga dapat meningkatkan laba
perusahaan yang akhirnya dapat meningkatkan pembagian jumlah dividen kas
kepada investor, kemudian harga saham perusahaan pun meningkat.
3. Koefisien regresi untuk inflasi sebesar 49,580 mengandung arti bahwa
peningkatan terhadap 1persen nilai inflasi maka IHSG juga akan meningkat
sebesar 49,580 point Ceteris paribus. Hasil elastisitas inflasi terhadap IHSG
diperoleh sebagai berikut:
∂Y ∂IHSG Inflasi
=
x
∂X ∂Inflasi IHSG
9396,29
49,58 x
= 49,58 x 1011,41 = 50.145,71
9,29
Elastisita s Inflasi =
50.145,71> 1 berarti elastis.
Berdasarkan hasil koefisien regresi diketahui nilai positif yang mengandung
arti bahwa setiap peningkatan inflasi maka IHSG juga akan meningkat, kemudian
hasil elastisitas menunjukkan nilai elastis, artinya persentase peningkatan
terhadap inflasi akan menghasilkan persentase penambahan terhadap IHSG yang
lebih besar.
Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Handayani (2007) yang menyatakan
bahwa tingkat inflasi berpengaruh positif terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan. Naiknya inflasi disebabkan adanya kenaikkan jumlah uang beredar,
turunnya suku bunga dan permintaan masyarakat akan barang juga meningkat.
Inflasi yang paling tinggi terjadi pada tahun 2006 hingga mencapai level di atas
18 persen pertahun. Tingginya inflasi tersebut disebabkan adanya adanya
peningkatan dari permintaan masyarakat akan barang sehigga nilai uang akan
menurun, di mana pergerakan harga-harga yang secara terus-menerus mendorong
terjadinya inflasi. Turunnya inflasi juga terjadi akibat membaiknya kondisi
ekonomi khususnya awal tahun 2004, di mana tidak terjadi penyebab naiknya
inflasi seperti pasokan kebutuhan pokok masyarakat yang terpenuhi dan daya beli
yang tidak signifikan mengalami peningkatan, oleh sebab itu rendahnya inflasi
dapat dikatakan sebagai efek membaiknya kondisi ekonomi baik dalam
permintaan maupun penawaran barang yang relatif seimbang.
4. Koefisien regresi untuk indeks Dow Jones sebesar 0,483 mengandung arti bahwa
peningkatan terhadap 1 point nilai Dow Jones maka IHSG juga akan meningkat
sebesar 0,483 point, ceteris paribus. Hasil elastisitas Dow Jones terhadap IHSG
diperoleh sebagai berikut:
Dow Jones
∂Y
∂IHSG
=
x
∂X ∂Dow Jones
IHSG
9396,29
0,48 x
= 0,48 x 0,84 = 0,40
11226,64
Elastisitas Dow Jones =
0,40 < 1 berarti inelastis.
Berdasarkan hasil koefisien regresi diketahui nilai positif yang mengandung
arti bahwa setiap peningkatan Dow Jones maka IHSG juga akan meningkat,
kemudian hasil elastisitas menunjukkan nilai elastis, artinya persentase
peningkatan terhadap Dow Jones akan menghasilkan persentase penambahan
terhadap IHSG yang lebih kecil.
Peningkatan indeks Dow Jones pada tahun 2004 disebabkan kondisi ekonomi
Amerika dan dunia yang membaik sedangkan penurunan indeks Dow Jones
terjadi karena kondisi krisis global yang menyebabkan krisis kepercayaan
finansial di Amerika dan di dunia. Krisis subprime morgage mendorong turunnya
kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan Amerika Serikat sehingga sahamsaham hampir semuanya mengalami penurunan.
Berdasarkan nilai elastisitas diketahui bahwa total elastisitas sebesar
173.710,46 (Kurs=2,8, SBI=123.561,55, Inflasi=50.145,71,Dow Jones=0,40).
Berdasarkan nilai tersebut diketahui bahwa nilai total elastisitas untuk kurs, SBI,
inflasi dan Dow Jones mempunyai tingkat elastisitas di atas 1 (173.710,46 >1),
yang digolongkan bersifat elastis. Hal tersebut menunjukkan bahwa setiap
peningkatan terhadap variabel independen akan meningkatkan variabel dependen
yang lebih besar lagi.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan pada Bab-bab
sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Model yang digunakan dalam mengestimasi faktor yang mempengaruhi IHSG
sudah baik, karena model terbebas dari pelanggaran asumsi klasik, juga karena
variasi kemampuan variabel-variabel penjelas dalam menjelaskan IHSG
tergolong tinggi. Dengan tingkat R2 = 0.768 dapat disimpulkan bahwa dari segi
uji kesesuaian (Test of goodness of fit) cukup baik, dan hanya 0.232 persen dari
determinan yang mempengaruhi IHSG dijelaskan oleh variabel lain yang tidak
dimasukkan dalam model penelitian.
2. Secara serempak (simultan) variabel-variabel eksplanatori yang digunakan
sangat signifikan pada α = 5 persen terhadap IHSG. Dari koefisien masingmasing variabel, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat pengaruh variabel
kurs, SBI dan inflasi sangat signifikan mempengaruhi IHSG.
3. Berdasarkan nilai elastisitas diketahui bahwa total elastisitas sebesar 173.710,46
(Kurs=2,8, SBI=123.561,55, Inflasi=50.145,71,Dow Jones=0,40). Berdasarkan
nilai tersebut diketahui bahwa nilai total elastisitas untuk kurs, SBI, inflasi dan
Dow Jones mempunyai tingkat elastisitas di atas 1 (173.710,46 >1), yang
digolongkan bersifat elastis.
5.2.
Saran
1. Sebaiknya
otoritas
moneter
dalam
mengendalikan
kestabilan
IHSG
memprioritaskan pada kebijakan SBI, di mana besarnya SBI akan memperkuat
pengendalian dan stabilitas pasar saham di bursa efek.
2. Kebijakan yang diperlukan dalam meningkatkan IHSG harus didasarkan atas
aspek eksternal ekonomi atau aspek asing yaitu berasal dari indeks Dow Jones,
di mana Indeks Dow Jones sebagai variabel yang paling kecil pengaruhnya
terhadap IHSG.
3. Penggunaan kebijakan pengendalian stabilitas IHSG ke arah peningkatan
sebaiknya dilakukan dengan memprioritaskan kondisi ekonomi domestik dan
aspek ekonomi asing.
DAFTAR PUSTAKA
Bailey, M.J. 1999. The Welfare Cost of Inflationary Finance. Journal of Political
Economic. 64. Hal. 93-110.
Bodie, Z., Kane, A., and Marcus, A. J. 2002. Essentials Investment. McGraw-Hill:
New York.
________. 2005. Investments. Buku 1. Edisi 6. Cetakan Pertama. Salemba Empat:
Jakarta.
Boediono. 2000. Ekonomi Moneter. Edisi 3. BPFE: Yogyakarta.
Chalimah. 1996. Pengaruh Informasi Laporan Keuangan Perusahaan yang
Dipublikasikan terhadap Fluktuasi Harga (Ancangan Strategi Investasi Saham
di Pasar Modal Indonesia). Thesis. Magister Management UNDIP: Semarang.
Dolado, J.J dan H. Lutkepohl. 1996. Making Wald Tests for Cointegrated VAR
Systems. Econometric Reviews, 15, Hal. 369-386.
Eduardus Tandelilin. 2001. Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. Edisi
Pertama. BPFE: Yogyakarta.
Flanner, M.J dan James, C.M. 1984. The Effect of Interest Rate Changes on the
Common Stock Returns of Financial Institutions. Journal of Finance, No: 39,
Hal. 1141-53.
Gudono & Ninik Nurhayati. 2001. The Association Between Market-Determined and
Accounting-Determined Risk Measure: Evidence firm Indoneisa, Jurnal Riset
Akuntansi, Manajemen dan Ekonomi, 1 Agustus, Hal. 171-176.
Gujarati, Damodar R. 2006. Dasar-Dasar Ekonometrika. Jilid 1. Alih Bahasa Julius
Mulyadi. Erlangga: Jakarta.
Handayani. 2007. Pengaruh Tingkat Bunga SBI, Nilai Kurs Dollar AS, dan Tingkat
Inflasi terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) (Studi di Bursa
Efek Jakarta), Tahun XVIX No. 1, Januari-Juni 2008, Hal. 55-67.
Haryanto, M.Y Dedi, Riyatno. 2007. Pengaruh Suku Bunga, Sertifikat Bank
Indonesia, dan Nilai Kurs terhadap Resiko Sistemis Saham Perusahaan
di BEJ. Jurnal Keuangan dan Bisnis, Hal. 24-40.
Suad Husnan. 2000. Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas di Pasar
Modal, UPP-AMP YKPN: Yogyakarta.
Jogiyanto, Hartono. 2000. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. BPFE:
Yogyakarta.
Jorion, P. 1990. The Exchange Rate Exposure of US Multinational. Journal of
Usiness, Vol. 63 No: 3, Hal. 331-345.
Khoo, A. 1994. Estimation of Oreign Exchange Exposure: an Aplicaton to Mining
Companies in Australia. Journal of International Money and Finance, 13 (3),
Hal. 342-363.
Koutsoyianis, A. 1985. Theory of Econometrics, Second Edition, MacMillan
Publishers Ltd: Hongkong.
Pasaribu, Pananda, Wilson L Tobing, Adler Haymans Manurung. 2008. Pengaruh
Variabel Makro Ekonomi terhadap IHSG. Jurnal. Universitas Indonesia.
Manurung, Jonni J., Manurung, Adler H. 2009. Ekonomi Keuangan dan Kebijakan
Moneter. Cetakan Pertama. Salemba Empat: Jakarta.
Mansyur, Moh. 2005. Pengaruh Indek Bursa Global terhadap Indek Harga Saham
Gabungan (IHSG) pada Bursa Efek Jakarta (BEJ) Periode 2000-2002.
Fakultas Ekonomi Univ. Padjajaran: Bandung.
Mankiw, Gregory N. 2006. Principles of Economics, Pengantar Ekonomi Makro.
Edisi Ketiga. Alih Bahasa Chriswan Sungkono. Salemba Empat: Jakarta.
Miller, K.D., dan Reuer, J.J. 1998. Firm Strategy and Economic Exposure of Foreign
Exchange Movements. Journal of International Business Studies. Vol: 29,
No.3, Hal. 493-513.
Natarsyah, Syahib. 2000. Analisis Pengaruh Beberapa Faktor Fundamental dari
Risiko Sistematik terhadap Harga Saham: Kasus Industri Barang Konsumsi
yang Go Publik di Pasar Modal Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Bisnis
Indonesia 15 (Juli). Hal. 294-312.
Nopirin. 2000. Ekonomi Moneter. Buku II. Edisi ke 1. Cetakan Kesepuluh. BPFE
UGM: Yogyakarta.
Pohan, Aulia. 2008. Potret Kebijakan Moneter Indonesia. Cetakan Pertama. PT. Raja
Grafindo: Jakarta.
Ross, Stephen A. 1976. The Arbitrage Theory of Capital Asset Pricing. Journal of
Economic Theory, Vol. 13; pp. 341 – 360.
Sa’adah, Siti dan Yunia Panjaitan. 2006. Interaksi Dinamis Antara Harga Saham
dengan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat. Jurnal Ekonomi
dan Bisnis. pp:46-62.
Salvatore, Dominick. 2008. Theory and Problem f Micro Economic Theory, 3rd
Edition. Alih Bahasa oleh Rudi Sitompul. Erlangga: Jakarta.
Satiningsih, Antik Darmayanti dan Teddy Oswari. 2005. Pergerakan Harga Saham
dan Pengukuran Pengembalian Risiko Saham BUMN. Universitas
Gunadharma: Jakarta.
Sitinjak, Elyzabeth Lucky Maretha dan Widuri Kurniasari. 2003. Indikator-indikator
Pasar Saham dan Pasar Uang yang Saling Berkaitan Ditinjau dari Pasar
Saham Sedang Bullish dan Bearish. Jurnal Riset Ekonomi dan Manajemen.
Vol. 3 No. 3.
Sukirno, Sadono. 2002. Teori Makro Ekonomi. Cetakan Keempat Belas. Rajawali
Press: Jakarta.
Sweenet, R. J., dan Warga, A.D. 1986. The Pricing of Interest Rate Risk: Evidence
From the Stock Market. Journal of Finance, June 41, 393-410.
Tandelilin, Eduadus. 2001. Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. Edisi
Pertama. BPFE: Yogyakarta.
Theresia Puji Rahayu. 2002. Analisis Pengaruh Nilai Tukar dan Suku Bunga terhadap
IHSG di BEI. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia 15 (Juli), Hal. 294312.2002.
Widjaja, Emilia. 2004. Analisis Pengaruh Inflasi terhadap Tingkat Risiko Saham
(Studi Kasus pada Saham-Saham Kategori LQ 45 Tahun 2001-2002),
ATMAJAYA, Tahun XVIX No.1, Januari-Juni 2004, Hal. 55-67.
Yunus Yuniarta. 2008. Analisis Pengaruh Laju Inflasi, Tingkat Suku Bunga, Jumlah
Uang Beredar, Kurs Valas, Volume Rata-Rata Transaksi dan Sibor terhadap
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Skripsi. FE UMS: Surakarta.
Lampiran 1
Tabulasi Data Variabel
No
Obs
Kurs X1
SBI X2
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
Jan, 2003
Feb, 2003
Mar, 2003
Apr, 2003
May, 2003
Jun, 2003
Jul, 2003
Aug, 2003
Sep, 2003
Oct, 2003
Nov, 2003
Dec, 2003
Jan, 2004
Feb, 2004
Mar, 2004
Apr, 2004
May, 2004
Jun, 2004
Jul, 2004
Aug, 2004
Sep, 2004
Oct, 2004
Nov, 2004
Dec, 2004
Jan, 2005
Feb, 2005
Mar, 2005
Apr, 2005
May, 2005
Jun, 2005
Jul, 2005
8896.86
8895.05
8930.25
8810.60
8433.71
8229.05
8335.78
8503.10
8462.33
8440.61
8495.53
8487.90
8386.00
8425.28
8568.82
8608.25
8965.32
9382.38
9036.86
9235.43
9180.30
9096.24
9031.47
9223.17
9204.15
9244.94
9370.52
9534.84
9479.80
9616.45
9799.29
12.94
12.68
11.97
11.29
10.88
10.18
9.18
9.06
8.75
8.43
8.38
8.34
8.15
7.70
7.33
7.25
7.24
7.25
7.29
7.31
7.31
7.30
7.30
7.29
7.30
7.27
7.31
7.51
7.81
8.05
8.50
Inflasi X3
8.68
7.60
7.27
7.62
7.15
6.98
6.27
6.51
6.44
6.48
5.53
5.16
4.82
4.60
5.11
5.92
6.47
6.83
7.20
6.67
6.27
6.22
6.18
6.40
7.32
7.15
8.81
8.12
7.40
7.42
7.84
Dow jones X4
8053.81
7891.08
7992.13
8480.09
8850.26
8985.44
9233.80
9415.82
9275.06
9801.12
9782.46
10453.92
10488.07
10583.92
10352.70
10225.57
10188.45
10435.48
10139.71
10173.92
10080.27
10027.47
10428.02
10783.01
10489.94
10766.23
10503.76
10192.51
10467.48
10274.97
10640.91
IHSG Y
388.44
399.22
398.00
450.86
494.78
505.50
507.98
529.67
597.65
625.55
617.08
691.90
752.93
761.08
735.68
783.41
732.52
732.4
756.98
754.7
820.13
860.49
977.77
1000.23
1045.44
1073.83
1080.17
1029.61
1088.17
1122.38
1182.30
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
Aug, 2005
Sep, 2005
Oct, 2005
Nov, 2005
Dec, 2005
Jan, 2006
Feb, 2006
Mar, 2006
Apr, 2006
May, 2006
Jun, 2006
Jul, 2006
Aug, 2006
Sep, 2006
Oct, 2006
Nov, 2006
Dec, 2006
Jan, 2007
Feb, 2007
Mar, 2007
Apr, 2007
May, 2007
Jun, 2007
Jul, 2007
Aug, 2007
Sep, 2007
Oct, 2007
Nov, 2007
Dec, 2007
Jan, 2008
Feb, 2008
Mar, 2008
Apr, 2008
May, 2008
9986.18
10232.57
10093.39
10039.53
9857.32
9493.00
9253.15
9171.57
8936.94
8984.86
9362.73
9125.48
9094.25
9143.33
9187.18
9134.59
9086.80
9066.50
9067.80
9163.95
9097.55
8844.33
8983.65
9067.14
9366.68
9309.90
9106.18
9264.93
9333.60
9406.35
9181.15
9184.94
9208.64
9290.80
9.50
10.00
11.00
12.25
12.75
12.75
12.75
12.75
12.75
12.50
12.50
12.25
11.75
11.25
10.75
10.25
9.75
9.50
9.25
9.00
9.00
8.75
8.50
8.25
8.25
8.25
8.25
8.25
8.00
8.00
8.00
8.00
8.00
8.25
8.33
9.06
17.89
18.38
17.11
17.03
17.92
15.74
15.40
15.60
15.53
15.15
14.90
14.55
6.29
5.27
6.60
6.26
6.30
6.52
6.29
6.01
5.77
6.06
6.51
6.95
6.88
6.71
6.59
7.36
7.40
8.17
8.96
10.38
10481.60
10568.70
10440.07
10805.87
10717.50
10864.86
10993.41
11109.32
11367.14
11168.31
11150.22
11185.68
11381.15
11679.07
12080.73
12221.93
12463.15
12621.69
12268.63
12354.35
13062.91
13627.64
13408.62
13211.99
13357.74
13895.63
13930.01
13371.72
13264.82
12650.36
12266.39
12262.89
12820.13
12638.32
1050.09
1079.28
1066.22
1096.64
1162.64
1232.32
1230.66
1322.97
1464.41
1330.00
1310.26
1351.65
1431.26
1534.61
1582.63
1718.96
1805.52
1757.26
1740.97
1830.92
1999.17
2084.32
2139.28
2348.67
2194.34
2359.21
2643.49
2688.33
2745.83
2627.25
2721.94
2447.30
2304.52
2444.35
66
67
68
69
70
71
72
73
74
Jun, 2008
Jul, 2008
Aug, 2008
Sep, 2008
Oct, 2008
Nov, 2008
Dec, 2008
Jan, 2009
Feb, 2009
9295.71
9163.45
9149.25
9342.43
10048.35
11711.15
11324.84
11165.89
11852.75
8.50
8.75
9.00
9.25
9.50
9.50
9.25
8.75
8.25
11.03
11.90
11.85
12.14
11.77
11.68
11.06
9.17
8.60
11350.01
11378.02
11543.55
10850.66
9325.01
8829.04
8776.39
8000.86
7062.93
2349.11
2304.51
2165.94
1832.51
1256.70
1241.54
1355.41
1332.67
1285.48
Lampiran 2
Lampiran Regresi Berganda
Dependent Variable: Y
Method: Least Squares
Date: 06/08/09 Time: 10:43
Sample: 2004:01 2009:02
Included observations: 62
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
kurs
sbi
inf
dj
7513.365
0.460469
-129.3500
49.57957
0.483107
948.5227
0.072778
42.87321
19.97888
0.035563
7.921122
6.327051
-3.017036
2.481599
13.58460
0.0000
0.0000
0.0038
0.0161
0.0000
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
Durbin-Watson stat
0.768543
0.752300
306.3044
5347875.
-440.2915
1.755466
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
F-statistic
Prob(F-statistic)
1520.345
615.4464
14.36424
14.53579
47.31642
0.000000
Lampiran 3
Uji Multikolinearitas
Persamaan 1 : Y = β1+β2lX1+β3 X2+β4X + µ
Output persamaan 1
Dependent Variable: Y
Method: Least Squares
Date: 06/08/09 Time: 10:43
Sample: 2004:01 2009:02
Included observations: 62
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
X1
X2
X3
X4
7513.365
0.460469
-129.3500
49.57957
0.483107
948.5227
0.072778
42.87321
19.97888
0.035563
7.921122
6.327051
-3.017036
2.481599
13.58460
0.0000
0.0000
0.0038
0.0161
0.0000
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
Durbin-Watson stat
0.768543
0.752300
306.3044
5347875.
-440.2915
1.755466
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
F-statistic
Prob(F-statistic)
1520.345
615.4464
14.36424
14.53579
47.31642
0.000000
Persamaan 2 : X1 = β1 +β2X2 +β3 X3 +β4X4 + µ
Output persamaan 2
Dependent Variable: X1
Method: Least Squares
Date: 06/08/09 Time: 10:47
Sample: 2004:01 2009:02
Included observations: 62
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
X2
X3
X4
12015.32
-0.275474
26.70378
-0.255155
662.9970
77.35232
35.87518
0.054721
18.12274
-0.003561
0.744353
-4.662826
0.0000
0.9972
0.4597
0.0000
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
Durbin-Watson stat
0.350115
0.316501
552.6378
17713696
-477.4183
1.782201
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
F-statistic
Prob(F-statistic)
9396.295
668.4541
15.52962
15.66686
10.41554
0.000014
Lampiran 4
Persamaan 3 : X2 = β1 +β2X1 +β3 X3 +β4X4 + µ
Output persamaan 3
Dependent Variable: X2
Method: Least Squares
Date: 06/08/09 Time: 10:48
Sample: 2004:01 2009:02
Included observations: 62
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
X1
X3
X4
2.540181
-7.94E-07
0.398177
0.000256
2.885799
0.000223
0.031789
0.000104
0.880235
-0.003561
12.52578
2.466796
0.3824
0.9972
0.0000
0.0166
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
Durbin-Watson stat
0.737205
0.723612
0.938109
51.04279
-81.94562
1.643219
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
F-statistic
Prob(F-statistic)
9.100323
1.784407
2.772439
2.909674
54.23483
0.000000
Persamaan 4 : X3 = β1 +β2X1 +β3 X2 +β4X4 + µ
Output persamaan 4
Dependent Variable: X3
Method: Least Squares
Date: 06/08/09 Time: 10:54
Sample: 2004:01 2009:02
Included observations: 62
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
X1
X2
X4
-4.859415
0.000354
1.833607
-0.000523
6.201199
0.000476
0.146387
0.000223
-0.783625
0.744353
12.52578
-2.339913
0.4364
0.4597
0.0000
0.0228
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
Durbin-Watson stat
0.749862
0.736924
2.013112
235.0521
-129.2870
1.610147
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
F-statistic
Prob(F-statistic)
9.287419
3.924891
4.299582
4.436816
57.95746
0.000000
Lampiran 5
Persamaan 4 : X4 = β1 +β2X1 +β3 X2 +β4X3 + µ
Output persamaan 5
Dependent Variable: X4
Method: Least Squares
Date: 06/08/09 Time: 10:55
Sample: 2004:01 2009:02
Included observations: 62
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
X1
X2
X3
19419.07
-1.068581
371.4872
-164.9955
2400.718
0.229170
150.5950
70.51350
8.088858
-4.662826
2.466796
-2.339913
0.0000
0.0000
0.0166
0.0228
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
Durbin-Watson stat
0.392941
0.361541
1130.947
74184416
-521.8170
1.780621
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
F-statistic
Prob(F-statistic)
11226.64
1415.389
16.96184
17.09907
12.51418
0.000002
Lampiran 6
Uji Durbin-Watson
Dependent Variable: Y
Method: Least Squares
Date: 06/08/09 Time: 10:43
Sample: 2004:01 2009:02
Included observations: 62
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
kurs
sbi
inf
dj
7513.365
0.460469
-129.3500
49.57957
0.483107
948.5227
0.072778
42.87321
19.97888
0.035563
7.921122
6.327051
-3.017036
2.481599
13.58460
0.0000
0.0000
0.0038
0.0161
0.0000
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
Durbin-Watson stat
0.768543
0.752300
306.3044
5347875.
-440.2915
1.755466
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
F-statistic
Prob(F-statistic)
1520.345
615.4464
14.36424
14.53579
47.31642
0.000000
Lampiran 7
Persentase Titik Distribusi t (t-tabel)
N
0,40
0,25
0,10
0,05
0,025
1
1,000
3,078
2
0,816
1,886
3
0,765
1,638
4
0,741
1,533
5
0,727
1,476
6
0,718
1,440
7
0,711
1,415
8
0,706
1,397
9
0,703
1,383
10
0,700
1,372
11
0,697
1,363
12
0,695
1,356
13
0,694
1,350
14
0,692
1,345
15
0,691
1,341
16
0,690
1,337
17
0,689
1,330
18
0,688
1,328
19
0,688
1,325
20
0,687
1,323
21
0,686
1,321
22
0,686
1,319
23
0,685
1,318
24
0,685
1,316
25
0,684
1,315
26
0,684
1,314
27
0,684
1,313
28
0,683
1,311
29
0,683
1,310
30
0,683
1,296
40
0,681
1,289
62
0,679
1,282
120
0,677
1,280
125
0,674
1,275
Sumber : Sugiyono, 2003
6,314
2,920
2,353
2,132
2,015
1,943
1,895
1,860
1,833
1,812
1,796
1,782
1,771
1,761
1,753
1,746
1,740
1,734
1,729
1,725
1,721
1,717
1,714
1,711
1,708
1,706
1,703
1,701
1,699
1,679
1,684
1,671
1,658
1,645
12,706
4,303
3,182
2,776
2,571
2,447
2,365
2,306
2,262
2,228
2,201
2,179
2,160
2,145
2,132
2,120
2,110
2,101
2,093
2,086
2,080
2,074
2,069
2,064
2,060
2,056
2,052
2,048
2,045
2,042
2,021
2,000
1,980
1,960
31,821
6,965
4,541
3,747
3,365
3,143
2,998
2,896
2,821
2,764
2,718
2,681
2,650
2,624
2,602
2,583
2,567
2,552
2,539
2,528
2,518
2,508
2,500
2,492
2,485
2,479
2,473
2,467
2,462
2,457
2,423
2,390
2,358
2,326
Download