BAB 3 Metodologi Penelitian 3.1 Pendekatan Penelitian Penelitian

advertisement
BAB 3
Metodologi Penelitian
3.1
Pendekatan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kegiatan promosi
oleh Public Relations terhadap citra Garuda Indonesia sebagai perusahaan
profesional. Oleh sebab itu, penelitian ini menggunakan metode pendekatan
kuantitatif. Menurut Sugiyono, metode penelitian kuantitatif dapat diartikan
sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme,
digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan
data
menggunakan
instrumen
penelitian,
analisis
data
bersifat
kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah
ditetapkan (Sugiyono, 2013:8).
Dalam penelitian kuantitatif, akan selalu ada asumsi mengenai
hubungan sebab akibat dari beberapa variabel. Namun, peneliti dapat
memfokuskan kepada beberapa variabel saja untuk diteliti dan disebut
sebagai paradigma penelitian. Sugiyono mengatakan, paradigma adalah pola
pikir yang menunjukan hubungan antara variabel yang akan diteliti yang
sekaligus mencerinkan jenis dan jumlah rumusan masalah yang perlu dijawab
melalui penelitian, teori yang digunakan untuk merumuskan hipotesis, dan
teknik analisis statistik yang akan digunakan (Sugiyono, 2013:42).
Dibawah ini akan digambarkan bentuk paradigma sederhana yang
terdiri dari dua variabel. Paradigma penelitian ini terdiri atas suatu variabel
independen dan dependen (Sugiyono,2013:42). Hal ini dapat digambarkan
seperti gambar 3.1 berikut:
Gambar 3.1 Paradigma Sederhana
31
32
Bentuk paradigma diatas, memperlihatkan dua variabel yang akan
diuji. Yaitu variabel Kegiatan promosi oleh public relations (X) dan juga
variabel Citra Garuda Indonesia (Y). penelitian ini akan mengukur apakah
ada hubungan dan pengaruh diantara kedua variabel diatas.
3.2.
Tipe Jenis Penelitian
Jenis atau tipe penelitian adalah jenis penelitian Eksplanatif, karena
merupakan penelitian yang berusaha menjelaskan korelasi antara suatu gejala
sosial satu (variabel X) dengan gejala sosial lain (variabel Y), sekaligus
menjawab mengapa itu terjadi melalui pengujian hipotesis (Berger, dalam
Kriyantono,2006:384).
Penelitian
ini
menggunakan
jenis
penelitian
eksplanatif karena ingin mengetahui hubungan dan pengaruh kegiatan
promosi oleh Public Relations terhadap citra Garuda Indonesia sebagai
perusahaan professional.
Untuk waktu penelitian atau Time Horizon dalam penelitian ini adalah
menggunakan data Cross Sectional, yaitu sekumpulan data untuk meneliti
suatu fenomena tertentu dalam satu kurun waktu saja. Pada penelitian ini
dilakukan satu kali penyebaran kuesioner terhadadap responden pada bulan
April 2014. Berikut adalah tabel yang menunjukan desain penelitian dalam
penelitian ini:
Tabel 3.1 Desain Penelitian
Tujuan
Desain Penelitian
Jenis
Metode
Unit Analisis
Time Horizon
Penelitian
Penelitian
T1
Eksplanatif
Survey
Individu→ Pelanggan
Cross-Sectional
T2
Eksplanatif
Survey
Individu→ Pelanggan
Cross-Sectional
(Sumber : Penulis 2014)
33
Keterangan:
T-1 : Untuk mengetahui seberapa erat hubungan antara kegiatan
promosi oleh public relations dengan citra Garuda Indonesia
sebagai perusahaan profesional.
T-2 : Untuk mengetahui seberapa erat pengaruh antara kegiatan
promosi oleh public relations terhadap citra Garuda Indonesia
sebagai perusahaan profesional.
3.3.
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah survey. Survey
adalah metode riset dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen
pengumpulan datanya. Tujuannya adalah untuk memperoleh informasi
tentang sejumlah responden yang dianggap mewakili populasi tertentu
(Kriyantono, 2006:59). Secara umum, metode survey terbagi menjadi dua
jenis, yaitu deskriprif dan eksplanatif. Pada penelitian ini, digunakan metode
survey eksplanatif (analitik). Jenis survey ini diggunakan bila periset ingin
mengetahui mengapa situasi atau kondisi tertentu terjadi atau apa yang
memengaruhi terjadinya sesuatu.
Survey eksplanatif terbagi menjadi dua sifat, yaitu komparatif dan
asosiatif. Penelitian ini menggunakan survey eksplanatif yang bermaksud
untuk menjelaskan hubungan (korelasi) antara variabel (Kriyantono,2006:60).
3.4.
Variabel Penelitan
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu variabel
bebas (Independent Variable) dan variabel tak bebas (Dependent Variable).
Menurut Kriyantono (2006:21), variabel pengaruh adalah variabel yang
diduga sebagai penyebab atau pendahulu dari variabel lainnya. Sedangkan
variabel tak bebas adalah variabel yang diduga sebagai akibat atau yang
dipengaruhi oleh variabel yang mendahuluinya.
34
Terkait dengan judul penelitian yang diangkat oleh penulis, yaitu
Pengaruh kegiatan promosi oleh Public Relations terhadap Citra Garuda
Indonesia sebagai perusahaan profesional, Penulis menggunakan dua (2)
variabel untuk kerangka konsep pemikiran ini, yaitu:
1.
Variabel bebas (Independent Variable)
Variabel Independent (X) atau disebut stimulus dimana
variabel ini memberikan rangsangan sehingga terjadi akibat
dari stimulus tersebut. Juga dikatakan predictor karena
variabel ini digunakan untuk memprediksi variabel akibat atau
sering kali peneliti menyebutnya sebagai variabel bebas, yaitu
variabel yang menjadi sebab adanya perubahan atau timbulnya
variabel dependen (Triswanto,2010:75). Variabel bebas dalam
penelitian ini adalah kegiatan promosi oleh Public Relations.
2.
Variabel tak bebas (Dependent Variable)
Variabel dependent (Y) atau variabel output, kriterium,
konsekuen, atau disebut sebagai variabel terikat dimana
variabel ini dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya
variabel bebas
(Triswanto,2010:76). Dalam penelitian ini,
variabel terikatnya adalah Citra Garuda Indonesia sebagai
perusahaan profesional.
3.5. Populasi dan Sampel
Sugiyono menyebutkan, populasi sebagai wilayah generalisasi yang
terdiri dari objek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik
tertentu yang ditetapkan oleh periset untuk dipelajari, kemudian ditarik suatu
kesimpulan (Sugiyono, 2013:215). Sedangkan teknik sampel yang digunakan
adalah nonprobability sampling dengan fokus pada Accidental Sampling
dimana cara ini merupakan teknik pengambilan sampel tidak melalui teknik
random (acak). Disini semua anggota populasi belum tentu memiliki peluang
35
yang sama untuk dipilih menjadi sampel, disebabkan pertimbanganpertimbangan tertentu oleh periset (Kriyantono,2006:158).
Accidental Sampling (Sampling Kebetulan) adalah teknik memilih
siapa saja yang kebetulan dijumpai untuk menjadi sampel. Teknik ini
digunakan karena periset merasa kesulitan untuk menemui responden atau
karena topik
yang diriset adalah persoalan umum dimana semua orang
mengetahuinya.
(Kriyantono,2006:160).
Penelitian
ini
menyebarkan
kuesioner di PT.Gada Jaya Perkasa, dengan responden pelanggan Garuda
Indonesia atau setidaknya dia pernah menggunakan maskapai Garuda
Indonesia. Dipilihnya PT.Gada Jaya Perkasa karena, PT.Gada Jaya Perkasa
merupakan perusahaan yang memiliki bidang usaha dibidang travel, sehingga
dapat digeneralisasikan bahwa pelanggan travel akan mengerti mengenai
informasi terbaru atau setidaknya informasi umum mengenai maskapai
penerbangan yang ada sebagai pembanding dalam keputusan pembelian.
Populasi dalam penelitian ini dilihat berdasarkan tingkat penjualan tiket
Garuda Indonesia di PT.Gada Jaya Perkasa pada periode Maret 2014 yaitu
sebesar 724 tiket. Dengan demikian, peneliti mengasumsikan tingkat
penjualan dalam bulan April tidak berbeda jauh dengan tingkat penjualan
dalam bulan Maret 2014, maka peneliti menjadikan angka penjualan tiket
dalam bulan Maret 2014 sebagai jumlah populasi dalam penelitian ini
Sementara untuk menentukan sampel, penelitian ini menggunakan
rumus slovin.
Rumus Slovin:
Untuk mengetahui ukuran sampel dari populasi yang diketahui jumlahnya,
rumusnya adalah :
36
dibulatkan menjadi 88 responden
Keterangan :
n
: Ukuran sampel
N
: Ukuran populasi
e
: Persentase ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan
sampel yang masih dapat diinginkan sekitar 2%.
Batasan kesalahan yang ditolerir ini bagi setiap populasi tidak sama.
Ada yang 1%, 2%, 3%, 4%, 5% atau 10%. (Umar, 2002:134) dalam
Kriyantono (2006:164)
3.6.
Teknik Pengumpulan Data
Menurut Triswanto, Teknik bisa diartikan sebagai cara melakukan
sesuatu. Bagaimana cara mengumpulkan data dan bagaimana cara
penganalisisan data (Triswanto, 2010:21). Dalam penelitian ini, teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah :
1)
Data Primer :
a.
Kuesioner (angket)
Kuesioner atau biasa disebut angket berisi
daftar pertanyaan yang harus diisi oleh responden guna
mengumpulkan data.
b.
Wawancara
Wawancara dilakukan kepada beberapa Public
Relations officer Garuda Indonesia guna mengetahui
strategi yang diterapkan di perusahaan tersebut.
c.
Riset lapangan (Field Research)
37
Penelitian ini mengamati objek penelitian
secara langsung. Peneliti mengamati kinerja dan
kegiatan Public Relations Garuda Indonesia selama 3
bulan dan juga beberapa kali mendatangi travel untuk
menyebarkan kuesioner.
2)
Data Sekunder
a.
Studi Kepustakaan (Library Research)
Untuk menambah informasi dan pengetahuan
dalam melakukan penelitian ini, penulis membaca,
mempelajari, dan mencari referensi dari buku, jurnal,
maupun blog yang terkait dengan pembahasan. Studi
kepustakaan ini dilakukan untuk menambah teori-teori
dan menambah pemahaman untuk menulis penelitian
ini.
b.
Website
resmi
Garuda
Indonesia
www.garuda-
indonesia.com
c.
3.7.
Annual report dan data internal perusahaan
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang dapat
digunakan periset untuk mengumpulkan data . Dalam riset kuantitatif dikenal
metode pengumpulan data kuesioner (angket), wawancara (biasanya
berstruktur) dan dokumentasi. (Kriyantono,2006:95)
3.7.1. Instrumen Riset
Instrument pengumpulan data atau disebut saja sebagai
instrument riset adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh
periset dalam kegiatan mengumpulkan data agar kegiatan itu menjadi
38
sistematis
dan
dipermudah
olehnya
(Arikunto,
dalam
Kriyantono,2006:96)
Penellitian ini menggunakan instrumen riset Kuesioner
(angket). Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh
responden (Kriyantono,2006:97). Uma Sekaran dalam Sugiyono
(2013:142) mengemukakan beberapa prinsip dalam penulisan angket
sebagai teknik pengumpulan data, yaitu : prinsip penulisan,
pengukuran, dan penampilan fisik. Yang dimaksud diatas adalah,
setiap pertanyaan atau pernyataan harus mewakili variabel-variabel
yang
diteliti.
Bahasa
yang
digunakan
dalam
angket
harus
menyesuaikan tingkat pendidikan responden, tipe dan bentuk
pertanyaan harus dipikirkan, tidak boleh memiliki dua arti, jangan
terlalu panjang. Terakhir, penampilan fisik angket harus baik, tidak
buram dan kotor.
3.7.2. Skala Pengukuran
Skala pengukuran yang akan digunakan dalam penelitian ini
adalah skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap,
pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang
fenomena sosial (Sugiyono,2013:95)
Yang dimaksud dengan sikap menurut Thurstone ialah “1)
pengaruh atau penolakan, 2) penilaian, 3) suka atau tidak suka 4)
kepositifan atau kenegatifan terhadap suatu obyek psikologis”.
Biasanya sikap dalam skala Likert diekspresikan mulai dari yang
paling negatif, netral sampai ke yang paling positif dalam bentuk sbb:
sangat tidak setuju, tidak setuju, tidak tahu (netral), setuju, dan sangat
setuju. ". Skala Likert dapat dikategorikan sebagai skala interval.
Besarnya kelas interval untuk setiap kategori tersebut dapat dihitung
dengan rumus sebagai berikut ini: (Supranto, 2008:74)
39
Kelas Interval :
Kelas Interval = 0,8
Dari hasil di atas, jarak kelas interval senilai 0,8 dapat dikelompokkan
menjadi:
Tabel 3.3 Kelas Interval
Sumber : Statistika untuk Penelitian (Sugiyono,2009)
3.8.
Teknik Analisis Data
1.
Analisis Kuantitatif
Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis
Bivariat, yaitu analisis yang dilakukan untuk melihat
hubungan dua variabel. Kedua variabel tersebut merupakan
variabel pokok, yaitu variabel pengaruh (bebas) dan variabel
terpengaruh (terikat). Kemungkinan yang terjadi dari analisis
ini adalah: (Kriyantono, 2006:168)
•
Simetris
Ada hubungan tetapi sifat hubungan adalah
simetris, yaitu tidak saling mempengaruhi. Perubahan
40
pada variabel satu tidak disebabkan oleh variabel
lainnya.
•
Dua variabel mempunyai hubungan dan saling
memengaruhi (timbal balik)
•
Asimetris
Sebuah variabel memengaruhi variabel yang
lain atau sebuah variabel berubah disebabkan variabel
lain.
2.
Analisis hubungan (Asosiatif)
Menurut Kriyantono (2006:172) Analisis hubungan
adalah analisis yang menggunakan uji statistik inferensial
dengan tujuan untuk melihat derajat hubungan diantara dia
atau lebih dari dua variabel. Kekuatan hubungan yang
menunjukan derajat hubungan ini disebut koefisien asosiasi
(korelasi).
3.8.1. Uji Validitas
Suatu skala pengukuran dikatakan valid apabila skala tersebut
digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sarwono,
2007: 100). Misalnya skala nominal yang bersifat non-parametrik
digunakan untuk mengukur variabel nominal bukan untuk mengukur
variabel interval yang bersifat parametrik. Menurut Kenneth Bailey,
ada 3 (tiga) tipe validitas pengukuran yang harus diketahui, yaitu:
(Siregar,2013:46)
1.
Validitas Isi (Content Validity)
Validitas isi berkaitan dengan kemampuan
suatu instrumen mengukur isi (konsep) yang harus
diukur. Ini berarti bahwa suatu alat ukur mampu
mengungkap isi suatu konsep atau variabel yang
hendak diukur. Menurut Kenneth Hopkin penentuan
41
validitas isi terutama berkaitan dengan proses analisis
logis, dengan dasar ini dia berpendapat bahwa validitas
isi berbeda dengan validitas rupa yang kurang
menggunakan analisis logis yang sistematis, lebih
lanjut dia menyatakan bahwa sebuah instrument yang
punya validitas isi biasanya juga mempunyai validitas
rupa, sedang keadaan sebaliknya belum tentu benar.
2.
Validitas Konstruk (Construct Validity)
Konstruk adalah kerangka dari suatu konsep,
validitas konstruk adalah validitas yang berkaitan
dengan kesanggupan suatu alat ukur dalam mengukur
pengertian suatu konsep yang diukurnya.
3.
Validitas Kriteria (Criterion Validity)
Adalah
validasi
suatu
instrument
dengan
membandingkannya dengan instrument pengukuran
lainnya yang sudah valid dan reliable dengan cara
mengkorelasikannya. Bila korelasinya signifikan maka
instrumen tersebut mempunyai validitas kriteria.
Setelah didapat hasilnya maka nilai validitas akan berada
dalam rentang 0-1. Perhitungan ini akan dilakukan dengan bantuan
software SPSS (Statistical Product and Service Solution) versi 20 for
Windows. Untuk menentukan nomor-nomor item yang valid dan yang
gugur, perlu dikonsultasikan dengan tabel r product moment. Kriteria
penilaian uji validitas tersebut adalah sebagai berikut:
a.
Apabila r hitung > r tabel (pada taraf signifikansi
10%), maka dapat dikatakan item kuesioner tersebut
valid.
b.
Apabila r hitung < r tabel (pada taraf signifikansi
10%), maka dapat dikatakan item kuesioner tersebut
tidak valid.
42
Untuk menguji validitas alat ukur, terlebih dahulu dicari harga
mengkorelasikan setiap butir alat ukur dengan skor total yang
merupakan jumlah tiap skor butir. Untuk menghitung validitas alat
ukur digunakan rumus Pearson Product Moment:
Keterangan:
rxy
: rhitung
X
: Skor variabel item X (jawaban responden)
Y
: Skor total dari variabel (jawaban responden)
n
: Jumlah responden
3.8.2. Uji Realibilitas
Reliabilitas yang berasal dari kata reliability berarti sejauh
mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Suatu hasil pengukuran
hanya dapat dipercaya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan
pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama, diperoleh hasil
pengukuran yang relatif sama, selama aspek yang diukur dalam diri
subjek memang belum berubah (Djaali, 2008,p.55). Dengan kata lain,
reliabilitas menunjukkan konsistensi suatu alat pengukur di dalam
mengukur gejala yang sama.
Pemeriksaan reliabilitas dapat dilakukan dengan dua cara,
yang pertama adalah pemeriksaan reliabilitas eksternal. Reliabilitas
ini diperoleh dengan menguji coba ulang kuesioner pada responden
yang sama, kemudian hasil dari uji coba yang pertama dikorelasikan
dengan hasil uji coba yang kedua sehingga teknik ini juga disebut
sebagai teknik single test double trial. Cara ini memakan biaya dan
waktu
yang
tidak
sedikit.
Untuk
mengatasinya,
dilakukan
pemeriksaan reliabilitas internal. Pada penelitian, uji reliabilitas
dilakukan dengan menggunakan pendekatan internal consistency
43
reliability
yang
menggunakan
Cronbach
Alpha
untuk
mengidentifikasikan seberapa baik item-item dalam kuisioner
berhubungan antara satu dengan yang lainnya.
Teknik ini menggunakan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
= koefisien reliabilitas instrument (Cronbach Alpha)
k
= banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal
= total varians butir
= total varians
Setelah memasukkan nilai varians untuk tiap x dan y yang
telah dihitung ke dalam rumus Cronbach Alpha, maka nilai reliabilitas
harus berada dalam rentang 0-1. Instrumen dikatakan reliabel jika
nilai r alpha lebih besar dari 0,6 (Usman dan Purnomo, 2008:201).
Tabel 3.4 Tingkat Reabilitas Metode Cronbach Alpha
Sumber : Statistika untuk Penelitian (Sugiyono,2009)
3.8.3. Uji Normalitas
Penggunaan rumus korelasi Pearson Product Moment yang
penulis gunakan untuk melihat hubungan antara variable dependent
44
dengan variabel independent, memiliki beberapa persyaratan yang
harus dipenuhi. Menurut Usman dan Purnomo (2008:109), asumsi
atau persyaratan yang harus dipenuhi tersebut adalah:
a.
Variabel yang dihubungkan mempunyai data yang
berdistribusi normal.
b.
Variabel yang dihubungkan mempunyai data linier.
c.
Variabel yang dihubungkan mempunyai data yang
dipilih secara acak (random).
d.
Variabel yang dihubungkan mempunyai pasangan sama
dari subjek sama pula (variasi skor variabel yang
dihubungkan harus sama).
e.
Variabel yang dihubungkan mempunyai data interval
atau rasio.
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model
regresi, variabel dependent dan variabel independent berdistribusi
normal atau berdistribusi tidak normal.Model regresi yang baik adalah
distribusi data normal atau mendekati normal. Menurut Priyatno
(2012) uji ini digunakan untuk menguji data yang berskala interval
dan ratio. Karena skala data yang penulis gunakan adalah skala
interval, maka untuk menguji normalitas data kali ini, digunakan
metode uji statistik Kolmogorov-Smirnov. Distribusi data dapat dilihat
dengan membandingkan nilai signifikansi hasil perhitungan yang di
dapat dengan taraf signifikansi yang telah ditentukan sebelumnya
dengan kriteria sebagai berikut (Sarwono, 2012:96):
a.
Jika nilai sig < taraf signifikansi 10% (0,1), maka
distribusi data dikatakan tidak normal.
b.
Jika nilai sig > taraf signifikansi 10% (0,1), maka
distribusi data dikatakan normal.
45
3.9.
Analisis Korelasi dan Regresi
3.9.1. Koefisien Korelasi
Sebelum dilakukan pengujian regresi, dilakukan uji korelasi
terlebih dahulu untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan yang
signifikan antara variabel dependent dengan variabel independent.
Teknik analisis korelasi Pearson Product Moment termasuk teknik
statistik parametrik yang menggunakan data interval dan ratio dengan
persyaratan tertentu (Kuncoro dan Riduwan, 2007: 61-62).
Menurut Umar (2004:314) nilai koefisien korelasi berkisar
antara 1 sampai +1, yang criteria pemanfaatannya sebagai berikut:
1.
Jika, nilai r >0, artinya telah terjadi hubungan yang
korelasi positif, yaitu makin besar nilai variabel X
makin besar pula nilai variabel Y atau makin kecil X
makin kecil pula nilai variabel Y.
2.
Jika, nilai r < 0, arnya telah terjadi hubungan yang
korelasi negatif, yaitu makin besar nilai variabel X
makin kecil nilai variabel Y atau makin kecil nilai
variabel X maka makin besar pula nilai variabel Y.
3.
Jika, nilai r=0, artinya tidak ada hubungan sama sekali
antara variabel X dan variabel Y.
4.
Jika, nilai r= 1 atau r = -1, maka dapat dikatakan telah
terjaadi di hubungan linier hubungan linier hubungan
linier sempurna berupa garis lurus , sedangkan untuk r
yang makin mengaran untuk r yang makin mengarah
angka 0 (nol) maka garis akan makin tidak lurus.
Menurut Nugroho (2005:36) batas-batas nilai koefisien
korelasi adalah:
46
a.
0,0 sampai dengan 0,20 berarti korelasinya sangat
lemah
b.
0,21 sampai dengan 0,40 berarti korelasinya lemah
c.
0,41 sampai dengan 0,70 berarti korelasinya kuat
d.
0,71 sampai dengan 0,90 berarti korelasinya sangat
kuat
e.
0,91 sampai dengan 0,99 berarti korelasinya sangat
kuat sekali
f.
Untuk
1,00 berarti korelasinya sempurna
mengukur
validitas
kuesioner
adalah
dengan
menghitung korelasi (r-corrected item-total correlation) yang
kemudian hasilnya akan dibandingkan dengan r-tabel (r-kritis) yang
ada pada taraf signifikansi 0,1 dengan memakai rumus korelasi
product moment, sebagai berikut:
Rumus Korelasi Sederhana:
Keterangan:
Rxy = Koefisien Korelasi
X = Skor Item X
Y = Skor Item Y
n = banyaknya sampel dalam penelitian
47
3.9.2. Koefisien Determinasi (R)
Koefisien determinasi digunakan untuk menghitung besarnya
peranan atau pengaruh variabel bebas terhadap variabel tergantung
(Sarwono,
2012:205).
Koefisien
determinasi
dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
KD = r2 x 100%
KD = Koefisien Determinasi
r
= Koefisien korelasi Pearson
Nilai penting dalam keluaran ini ialah: nilai R Square, besaran
R square berkisar 0 – 1 yang berarti semakin kecil besarnya R square,
maka hubungan kedua variabel semakin lemah. Sebaliknya jika R
square semakin mendekati 1, maka hubungan kedua variabel semakin
kuat. Sedangkan sisa dari besaran R square adalah dipengaruhi oleh
faktor lain diluar model regresi.
3.9.3 Analisis kausalitatif dengan regresi sederhana
Tujuannya untuk mengetahui pengaruh kegiatan promosi oleh
public relations terhadap citra Garuda Indonesia sebagai perusahaan
profesional. Untuk analisis regresi, maka rumus yang digunakan
adalah
regresi
linear
sederhana,
dimana
sederhananya adalah sebagai berikut:
Y = a + bx
Dimana:
y = variabel terikat yaitu citra Garuda Indonesia
persamaan
regresi
48
x = variabel bebas yaitu kegiatan promosi oleh public relations
a = nilai konstanta atau tetap yaitu apabila tidak ada kegiatan promosi
oleh public relations (x=0), maka nilai yang dihasilkan konstan atau
tetap
b = koefisien regresi yaitu tambahan nilai pada variabel Y sebagai
akibat bertambahnya nilai X sebanyak 1 unit
Koefisien a dapat diperoleh dengan rumus:
a = Y- bX , dimana Y=
dan X=
Sedangkan untuk rumus koefisien regresinya adalah sebagai berikut
b=
3.10.
Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah
penelitian (Sugiyono,2007:51). Dikatakan sementara, karena jawaban yang
diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada
fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi, hipotesis
juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah
penelitian, belum termasuk jawaban empirik.
Menurut Sutrisno Hadi dalam Triswanto (2010:73), ada dua kategori
penelitian yang memiliki implokasi terhadap hipotesis, yaitu :
•
Pertama, penelitian komparatif dimana sasaran utamanya
membandingkan dua kelompok atau lebih, dua peristiwa atau
lebih, dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya
perbedaan antara kelompok-kelompok atau peristiwa-peristiwa
yang dibandingkan.
•
Kedua, penelitian korelatif memiliki sasaran untuk mengkaji
ada tidaknya korelasi antara peristiwa dengan peristiwa yang
49
lain, suatu peristiwa dengan peristiwa lain, suatu gejala dengan
gejala lainnya.
Dalam penelitian ini, hipotesis yang digunakan adalah hipotesis
untuk penelitian korelatif, karena akan menguji hubungan dan pengaruh
kegiatan promosi oleh public relations terhadap citra Garuda Indonesia
sebagai perusahaan profesional. Sehingga untuk menjawab rumusan maslaah
dalam penelitian ini, hipotesisnya adalah:
H01: Tidak terdapat hubungan antara kegiatan promosi oleh Public Relations
dengan citra Garuda Indonesia
Ha1: Terdapat hubungan antara kegiatan promosi oleh public relations
dengan citra Garuda Indonesia
H02: Tidak terdapat pengaruh antara kegiatan promosi oleh public relations
terhadap citra Garuda Indonesia.
Ha2: Terdapat pengaruh antara kegiatan promosi public relations terhadap
citra Garuda Indonesia
50
3.11.
Operasional Konsep
1.
Variabel (X) Kegiatan Promosi Oleh Public Relations
Tabel 3.5 Operasional Variabel (X)
(Sumber : Penulis 2014)
51
2.
Variabel (Y) Citra Garuda Indonesia Sebagai Perusahaan
Profesional
Tabel 3.6 Operasional Variabel Y
Sumber : Penulis 2014
52
Download